Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Instalasi Care Unit adalah suatu bagian dari Rumah Sakit yang mandiri (Instalasi
dibawah Direktur Pelayanan), dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus yang
ditujuankan untuk Observasi, perawatan dan terapi-terapi pasien yang menderita penyakit,
cedera, atau penyulit-penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa
dengan prognosis dubia.
Pada saat ini, ICU modern tidak terbatas pada menangani pasien pasca bedah atau
ventilasi mekanis saja, namun telah menjadi cabang ilmu sendiri yaitu, Intensif Care
Medicine. Ruang lingkup pelayanannya meliputi dukungan fungsi organ-organ vital seperti
pernapasan, kardiovaskuler, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainnya baik pada pasien
anak maupun dewasa.
Rumah Sakit sebagai salah satu penyedia pelayanan kesehatan yang mempunyai
fungsi rujukan harus dapat memberikan pelayanan ICU yang profesional dan berkualitas
dengan mengedepankan keselamatan pasien. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah
pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan
sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta yang penyelenggaraannya sesuai
dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
Selain itu dukungan sarana, prasarana serta peralatan juga diperlukan dalam rangka
meningkatkan pelayanan ICU. Oleh karena itu, mengingat diperlukannya tenaga-tenaga
khusus, terbatasnya sarana dan prasarana, serta mahalnya peralatan, maka demi efisiensi,
keberadaan ICU perlu dikonsentrasikan untuk menciptakan Pelayanan ICU yang
profesional dan berkualitas dengan mengedepankan keselamatan pasien, perlu pengaturan
pengorganisian dalam suatu standart baku yang menjadi acuan pelaksanaan tugas sehari-
hari.

TUJUAN UMUM
1. Memberikan acuan pelaksanaan pelayanan Instalasi Care Unit (ICU) di RS. H.L.
MANAMBAI ABDUL KADIR.
2. Meningkatkan kualitas pelayan dan keselamatan pasien ICU di RS. H.L. MANAMBAI
ABDUL KADIR.
3. Menjadi acuan pengembangan pelayanan Instalasi Care Unit (ICU) di RS. H.L.
MANAMBAI ABDUL KADIR.
4. Sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan bagi Instalasi Care Unit (ICU) dalam
memberikan pelayanan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Intensive Care Unit
(ICU) di RS. H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR.

1
TUJUAN KHUSUS
1. Tercapainya kegiatan Instalasi Intensive dalam pelayanan pada pasien kritis.
2. Sebagai pertimbangan dalam peningkatan kepuasan pasien
3. Terpenuhinya perencanaan dasar pengobatan dan perawatan yang harus diberikan
kepada pasien secara paripurna dan terselenggara dengan baik
4. Tersedianya informasi data kesehatan secara lengkap, cermat dan akurat

2
BAB II
GAMBARAN UMUM
RUMAH SAKIT H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR

A. SEJARAH
Rumah Sakit H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR merupakan Rumah Sakit milik
Provinsi Nusa Tengara Barat. dengan luas lahan 50.000 m2 dan luas bangunan 14.295 m2.
Rumah Sakit H.L. Manambai Abdul Kadir mulai dioperasikan bulan Oktober 2012 dan
diresmikan tanggal 17 Desember 2012 oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat dengan status
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat yang
tertuang dalam Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat tentang Organisasi dan Tata Kerja
Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi di Sumbawa
Nomor : 24 Tahun 2010.
RS. H.L. Manambai Abdul Kadir menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD), berdasarkan SK Gubernur Provinsi No 440-470/XII/2016

B. TUGAS POKOK DAN FUNGSI RS. H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR


1. Tugas
Berdasarkan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 22 Tahun 2015
Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Gubernur Nomor 22 Tahun 2008 Tentang
Rincian Tugas, Fungsi Dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda Dan Lembaga Teknis
Daerah Provinsi Nusa Tenggra Barat, Rumah Sakit H. L. Manambai Abdulkadir
mempunyai tugas membantu Gubernur dalam menyelenggarakan tugas umum
pemerintahan dan memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna sesuai
standar Pelayanan Rumah Sakit Kelas C. Dalam melaksanakan tugas pokok Rumah Sakit
H. L. Manambai Abdulkadir, menyelenggarakan fungsi :
a. Pelayanan pengobatan, pemuan kesehatan dan rujukan sesuai dengan standar
pelayanan rumah sakit kelas C;

b. Pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan


dalam pemberian pelayanan kesehatan;

c. Pengkoordinasian dan pembinaan rumah sakit umum;

d. Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan tugas sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya.

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.

2. Fungsi
Direktur Rumah Sakit H. L. Manambai Abdulkadir memiliki tugas memimpin,
mengendalikan dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas Rumah Sakit serta
mengkoordinasikan pelaksanaan tugas Rumah Sakit dengan Pemerintah Provinsi NTB
sesuai ketentuan dan kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur NTB berdasarkan
3
ketentuan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas pokok direktur Rumah Sakit
H. L. Manambai Abdulkadir, menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
a. Perumusan dan melaksanakan kebijakan teknis di Bidang Pelayanan Kesehatan;
b. Penyusunan rencana, program kerja, kegiatan, laporan kinerja dan pertanggung
jawaban pelaksanaan tugas;
c. Memimpin dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas;
d. Pemberian saran, pendapat dan pertimbangan kepada atasan;
e. Pendistribusian tugas, memberikan petunjuk dan arahan kepada bawahan;
f. Penyelenggaraan pelayanan medik dan pelayanan penujang medik;
g. Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan;
h. Penyelenggaraan pelayanan rujukan;
i. Penyelenggaraan pelayanan sarana dan prasarana penunjang pelayanan kesehatan;
j. Penyelenggaraan penunjang pelayanan logistik medis dan non medis;
k. Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan;
l. Penyelenggaraan dan memfasilitasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan Sumber
Daya Manusia;
m. Penyelenggaraan kehumasan dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM
RS);
n. Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Rumah Sakit;
o. Pembinaan, mengawasi dan meni kinerja bawahan termasuk memberikan DP3;
p. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi, yang
diberikan oleh pimpinan;
q. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

4
BAB III
VISI, MISI, FALSAFAH, NILAI-NILAI DASAR DAN TUJUAN RUMAH SAKIT

A. Visi Dan Misi


Untuk dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Gubernur NTB telah
menetapkan visi dan misi RS H.L Manambai Abdulkadir sebagai berikut :
1. Visi
“Menjadi Rumah Sakit Pusat Rujukan sepulau Sumbawa”.
2. Misi

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkeadilan, terjangkau dan berkualitas

b. Menjadikan Rumah Sakit sebagai wahana Riset, Penelitian dan pengembangan IPTEK

c. Mewujudkan standarisasi Rumah Sakit

B. Moto
“Melayani Sepenuh Hati”

C. Falsafah
“Dengan landasan kemanusiaan, motivasi, jujur dan integritas yang tinggi akan
mampu meningkatkan mutu pelayanan”.

D. Nilai-Nilai Dasar Rumah Sakit


Cepat Memberikan pelayanan secepat mungkin
Tepat Memberikan pelayananan sesuai kebutuhan
Ramah Memberikpelayananan dengan senyum,
salam dan bersahabat
Pro-aktif Memberikan pelayanan dengan
tanggap/empati dan peduli
Konsisten Melayani sesuai standar pelayanan

BAB V
STRUKTUR ORGANISASI ICU RS. H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR

A. GAMBARAN UMUM
ICU/ICCU RS. H.L. Manambai Abdulkadir adalah ICU yang tergolong dalam kategori
pelayanan Primer. namun untuk beberapa kriteria ICU sekunder pun terdapat di ICU/ICCU
H.L.Manambai Abdul kadir.
Tidak seperti Unit organisasi ICU lainnya, ICU/ICCU RS. H/.L. Manambai
Abdulkadir berada dibawah garis struktur Pelayanan Rawat Inap, dimana seharusnya ICU
berada dibawah garis organisasi Instalasi Intensif. Masih banyak hal yang perlu kami benahi
selaku Unit Intensif. Baik dari sisi SDM, sarana, prasarana, serta administratif lainnya.

5
B. VISI RUANGAN
Instalasi rawat intensive yang terdepan dengan mengedepankan pelayanan prima.

C. MISI
1. Meningkatkan kualitas pelayanan dengan prinsip keselamatan pasien/ patient savety dan
keselamatan kerja di ICU yang terstandar dan beretika.
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang profesional melalui Pendidikan,
Pelatihan, dan Penelitian yang kontinue.
3. Menyediakan fasilitas peralatan canggih sesuai kebutuhan.
4. Pengelolaan administrasi yang tepat, cepat, dan akurat.

D. MOTTO
“Melayani Sepenuh Hati”

E. FALSAFAH
“Dengan landasan kemanusiaan, motivasi, jujur dan integritas yang tinggi akan mampu
meningkatkan mutu pelayanan”.
F. TUJUAN
1. Terwujudnya pelayanan Intensive Care Unit (ICU) yang cepat, tanggap, beretika dan
berkualitas.
2. Terwujudnya keselamatan kerja di ruang Intensive Care Unit (ICU).
3. Menurunkan angka kejadian Infeksi Nosokomial pada perawatan pasien di Intensive
Care Unit (ICU).

G. KLASIFIKASI PELAYANAN ICU


Dalam menyelenggarakan pelayanan, pelayanan ICU di rumah sakit dibagi dalam 3
klasifikasi pelayanan, yaitu:
1. Pelayanan ICU Primer (Rumah Sakit Kelas C)
2. Pelayanan ICU Sekunder (Rumah Sakit Kelas B)
3. Pelayanan ICU Tersier (Rumah Sakit Kelas C)
ICU RS. H.L. Manambai Abdulkadir menyelenggarakan pelayanan primer sesuai dengan
status rumah sakit, yang bertipe C.

H. MANAJEMEN UNIT
Dokter intensivis berpartisipasi aktif dalam aktivitas-aktivitas manajemen unit yang
dierplukan untuk memberi pelayanan-pelayanan ICU yang efisien, tepat waktu, dan
konsisten. Aktivitas-aktivitas tersebut meliputi antara lain:
1. Triase, alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien
2. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan unit
3. Partsipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjutan termasuk
supervisi koleksi data.

6
4. Berinteraksi seperlunya dengan bagian-bagian lain, untuk menjamin kelancaran
pelayanan di ICU
Untuk keperluan ini, dokter intensivis secara fisik harus berada di ICU atau rumah sakit dan
bebas dari tugas-tugas lainnya. Di unit Intensive Care RS. H.L. Manambai Abdulkadir,
kriteria tersebut telah terlaksana.

I. SARANA DAN PRASARANA


1. Lokasi
ICU RS. H.L. Manambai Abdulkadir berdekatan dengan kamar bedah dan kamar pulih,
laboratorium, ruang radiologi, dan akses ke IGD mudah walaupun tidak berdekatan.
2. Desain
Ketentuan bangunan ICU dalah sebagai berikut:
a. Terisolasi
b. Mempunyai standar tertentu terhadap;
1) Bahaya api (di ICU RS. H.L. Manambai Abdulkadir terdapat 2 APAR serta jadwal
K3)
2) Ventilasi (sistem ventilasi ICU RS. H.L. Manambai Abdulkadir tertutup, dengan
difasilitasi AC)
3) AC
4) Exhaust Fan
5) Pipa air
6) Komunikasi (Airphone rusak)
7) Bakteriologis (belum tersedia)
8) Tabel monitor
c. Lantai mudah dibersihkan, keras, dan datar.
3. Area-area di ICU dibagi menjadi
a. Area pasien
1) Terdapat unit terbuka (ICU RS. H.L. Manambai Abdulkadir memiliki 5 bed)
2) Terdapat unit tertutup (RS. H.L. Manambai Abdulkadir memiliki 2 bed yang
dieruntukkan untuk ICCU)
3) Jarak antara tempat tidur 2 meter.
4) Unit terbuka memiliki 1 tempat cuci tangan tiap 2 bed
5) Unit tertutup 1 ruangan 1 tempat tidur 1 wastafel
6) Harus ada sejumlah outlet yang cukup sesuai dengan level ICU. Outlet tersebut
terdiri dari outlet udara tekan, pompa hisap, dan minimal 16 stop kontak untuk tiap
tempat tidur.
7) Pencahayaan cukup dan adekuat
b. Area kerja
1) Ruang yang cukup untuk staf dan dapat menjaga kontak visual perawat dengan
pasien
2) Ruang yang cukup untuk memonitor pasien, peralatan resusitasi, dan penyimpanan
obat serta alat (termasuk lemari pendingin)

7
3) Ruang yang cukup untuk mesin X-ray mobile, dan dilengkapi dengan viewer
4) Ruang untuk telpon dan sistem komunikasi lain, komputer, dan koleksi data, juga
tempat untuk penyimpanan alat tulis dan terdapat ruang yang cukup untuk
resepsionis dan petugas administrasi
c. Lingkungan
Ruangan terkontrol suhu dan kelembababannya sesuai dengan luas ruangannya. Suhu
220C – 25 0C, kelembaban 50% – 70%
d. Ruang Isolasi (ICU Sekunder)
Dilengkapi dengan tempat cuci tangan dan tempat ganti baju sendiri
e. Ruang peralatan dan barang bersih (ICU Sekunder)
f. Ruang tempat pembuangan alat atau bahan kotor (ICU Sekunder)
Ruang untuk membersihkan alat-alat, pemeriksaan urine, pengosongan dan
pembersihan pispot dan botol urine. Design unit menjamin tidak ada kontaminasi.
g. Ruang perawat (ICU Sekunder)
h. Ruang staf dokter (ICU sekunder)
i. Ruang tunggu keluarga pasien (ICU Sekunder)
j. Laboratorium (terpusa t untuk ICU Primer dan laboratorium 24 jam untuk ICU
Sekunder dan Tersier)
4. Peralatan
Peralatan yang memadai baik kuantitas maupun kualitas sangat membantu kelancaran
pelayanan. Uraian peralatan berdasarkan klasifikasi pelayanan ICU dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
Berikut ini adalah ketrentuan umum mengenai peralatan:
a. Jumlah dn macam peralatan berfariasi tergantung tipe, ukuran dan fungsi ICU dan
harus sesuaiddengan beban kerja ICU, dissuaikan dengan standar yang berlaku.
b. Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat.
c. Peralatan dasar meliputi;
1) Ventilasi mekanik
2) Alat ventilasi manualo dan alat penunjang jalan napas.
3) Alat hisap
4) Peralatan akses vaskuler
5) Peralatan monitor invasife dan non invasife
6) Defibrilator dan alat pacu jantung
7) Alat pengatur suhu pasien
8) Peralatan drain thorak
9) Pompa infuse dan pompa syringpump
10) Peralatan portable untuk transportasi
11) Tempat tidur khusus
12) Lampu tindakan
13) Kontinous renal replacecement therapy

8
d. Peralatan lain (seperti peralatan haemodialisa, dll) untuk prosedur diagnostik dan atau
terapi khusus hendaknya tersedia bila secara klinis ada indikasi dan untuk mendukung
fungsi ICU
e. Protokol dan pelatihan kerja untuk staf medik dan para medik perlu tersedia untuk
penggunaan alat-alat termasuk langkah-langkah untuk mengatasi apabila terjadi
malfungsi
Peralatan beradasarkan klasifikasi pelayanan ICU
Peralatan ICU ICU ICU
Primer Sekunder Tersier
Ventilasi Mekanik Sederhana Canggih Canggih
Alat hisap + + +
Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan + + +
nafas
Peralatan akses vaskuler + + +
Peralatan monitor :
 Invasif :
- Monitor tekanan darah invasif - + +
- Tekanan vena sentral + + +
- Tekanan baji arteri pulmonalis (Swan - - +
Ganz)
 Non invasif :
- Tekanan darah + + +
- EKG dan laju jantung + + +
- Saturasi oksigen (pulse oxymeter) + + +
- + +
- Kapnograf
Suhu + + +
EEG + + +
Defibrilator dan alat pacu jantung + + +
Alat pengatur suhu pasien + + +
Peralatan drain toraks + + +
Pompa infus dan pompa syringe - + +
Bronchoscopy - + +
Echokardiografi - + +
Peralatan portable untuk transportasi + + +
Tempat tidur khusus + + +
Lampu untuk tindakan + + +
Hemodialisis - + +
CRRT - + +

Peralatan monitoring (termasuk peralatan portable) yang diganakan untuk transportasi


pasien):
a. Tanda bahaya kegagalan pasokan gas.
b. Tanda bahaya kegagalan pasokan oksigen.
Alat yang secra otomatis teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan pasokan
oksigen, yang selalu terpasang diventilasi mekanik
c. Pemantauan konsentrasi oksigen.
Dipelukan untuk mengukur konsentrasi oksigen yang dikeluarkan oleh ventilasi
mekanik atau sistem pernapasan.
d. Tanda bahaya kegagalan ventilasi mekanik atau diskonsentrasi sistem pernapasan.
Pada penggunaan ventilasi mekanik otomatis, harus ada lat yang apat mendeteksi
kegagalan siste pernafasan atau ventilasi mekanik secaara terus menerus.

9
e. Volume dan tekanan ventilasi mekanik.
Volume yang keluar dari ventilasi mekanik harus terpantau. Tekanan jalan napas dan
tekanan sirkuit pernafasan harus terpantau terus menerus dan pata mendeteksi tekanan
yang berlebihan.
f. Suhu alat pelembab (humidifier)
Pada tanda bahaya, bila terjadi peningkatan suhu udara inspirasi
g. Elektrocardiograf
Terpasang pada setiap pasien dan dipantau terus menerus.
h. Pulse oximeter.
Harus tersedia untuk setiap pasien di ICU.
i. Emboli udara
Apabila pasien sedang menjalani haemodialisis, plasmaferesis, atau alat perfusi, harus
ada pemantauan untuk emboli udara.
j. Bila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan untuk mengukur variabel fisiologis
lain seperti tekanan intra arterial, dan tekanan arteri pulmonalis, curah jantung,
tekanan inspirasi dan aliran jalan napas, tekanan intrakranial, suhu, trnasmisi neuro-
muskular, kadar CO2 ekspirasi.

10
1. KETENAGAAN ICU
NO JENIS STRATA/KLASIFIKASI PELAYANAN
PRIMER SEKUNDER TERSIER
TENAGA
1 Kepala - Dokter spesialis - Dokter Intensivis. - Dokter Intensivis.
ICU anasteologi. - Dokter spesialis - Dokter spesialis lain
- Dokter spesialis lain anasteologi (jika yang terlatih ICU
yang terlatih ICU (jika belum ada dokter (jika belum ada
belum ada dokter intensive). dokter spesialis
spesialis anasteologi). anasteologi).

2 Tim - Dokter spesialis - Dokter Spesialis - Dokter Spesialis


Medis sebagai konsulan (Yang Dapat (Yang Dapat
(yang dapat dihubungi Memberikan Memberikan
setiap diperlukan). Pelayanan Setiap Kali Pelayanan Setiap Kali
- Dokter jaga 24 jam Diperlukan). Diperlukan).
dengan kemampuan - Dokter Jaga 24 Jam
resusitasi jantung paru Dengan Kemampuan - Dokter Jaga 24 Jam
yang bersertifikat ALS/ACLS, dan Dengan
bantuan hidup dasar FCCS. Kemampuan
dan bantuan hidup ALS/ACLS, dan
lanjut. FCCS.
3 Perawat Perawat terlatih yang Minimal 50% dari Minimal 75% dari
bersertifikat bantuan jumlah seluruh perawat jumlah seluruh perawat
hidup dasar dan bantuan di ICU merupakan ICU merupakan
hidup lanjut. perawat terlatih dan perawat terlatih dan
bersertifikat ICU. bersertikikat ICU.

11
4 Tenaga Tenaga administrasi di - Tenaga administrasi - Tenaga
non ICU harus mempunyai di ICU harus administrasi di
kesehatan kemampuan mempunyai ICU harus
mengoperasikan kemampuan mempunyai
komputer yang mengoperasikan kemampuan
berhubungan dengan komouter yang mengooperasika
masalah administrasi berhbungna dengan n
masalah administrasi. kcomputeryang
berhubungan
dengan masalah
administrasi.
- Tenaga Kefarmasian
Tenaga
- Tenaga pekarya. labotratorium.
- Tenaga kebersihan.
- Tenaga rekam medis
- Tenaga untuk
kepentingan ilmiah
dan penelitian

Sumber : Keputusan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor1778, tahun 2010.

12
13
NO JABATAN STRATA/KLASIFIKASI PELAYANAN
PRIMER SEKUNDER TERSIER
PERAWAT
1 Kepala - Ners - Ners. - Minimal Ners atau
Ruangan - Pengalaman sebagai - Pengalaman sebagai S2 Keperawatan.
ketua TIM ICU ketua TIM ICU - Sebagai katim ICU
minimal 3 tahun. minimal 3 tahun. minimal 3tahun.
- memiliki sertifikat - Memiliki sertifikat - Memiliki sertifikat
manajemen manajemen manajemen
keperawatan keperawatan. keperawatan, serta
- mempunyai STR, - mempunyai STR, sertifikat ICU.
SIK. SIK. - mempunyai STR,
SIK.
2 Ketua Tim - Minimal D3 - Minimal D3 - Minimal D3
keperawatan, dengan keperawatan, dengan keperawatan,
pengalaman kerja di pengalaman kerja di dengan
ICU minimal 3 ICU minimal 3 tahun. pengalaman kerja
tahun. - Memiliki sertifikat di ICU minimal 3
- Memiliki sertifikat ICU dan sertifikat tahun.
ICU dan sertifikat pelatihan tambahan. - Memiliki sertifikat
pelatihan tambahan. - mempunyai STR, ICU dan sertifikat
- mempunyai STR, SIK. pelatihan
SIK. tambahan.
- mempunyai STR,
SIK.
3 Perawat - Minimal D3 - Minimal D3 - Minimal D3
Pelaksana keperawatan. keperawatan. keperawatan.
- dengan pengalaman - dengan pengalaman - dengan
kerja di klinik kerja di klinik pengalaman kerja
minimal 2 tahun di minimal 2 tahun di di klinik minimal 2
lingkup lingkup keperawatan. tahun di lingkup
keperawatan. - Memiliki sertifikat keperawatan.
- Memiliki sertifikat ICU. - Memiliki sertifikat
ICU. - mempunyai STR, ICU.
- mempunyai STR, SIK. - mempunyai STR,
SIK. SIK.

Sumber : Standar Pelayanan Keperawatan ICU di Rumah Sakit, tahun 2011.

H. PENCATATAN DAN PELAPORAN


1. Catatan ICU diverifikasi dan ditandatangani oleh dokter yang melakukan pelayanan di
ICU dan bertanggung jawab atas semua yang dicatat tersebut.

14
2. Pencatatan menggunakan status khusus ICU yang meliputi pencatatan lengkap terhadap
diagnosis yang menyebabkan dirawat di ICU, data-data vital, pemantauan fungsi organ
khusus (jantung,ginjal, paru, dan sebagainya) secara berkala, jenis dan jumlah asupan
nutrisi dan cairan, catatan pemberian obat, seta jumlah cairan tubuh yang keluar dari
pasien.
3. Balance cairan dilakukan minimal tiap shift dan balance 24 jam, atau balance permintaan
khusus dari dokter untuk pasien-pasien tertentu.
4. Pencatatan ventilasi mekanis dicatatat saat pasien baru terpasang ventilasi mekanis, dan
tiap ada perubahan setinggan ventilasi mekanis.
5. Vital sign dicatat tiap jam.
6. Pengkajian ulang dilakukan minimal 1x per shif, dalam bentuk SOAP yang dicatat
dalam CPPT oleh seluruh PPA (Dokter, perawat, gizi, farmasi) yg menangani pasien
7. Pelaporan pelayanan Icu terdiri dari jenis indikasi pasien masuk serta jumlahnya, sistem
skoring prognosis, penggunaan alat bantu (ventilasi mekanis, hemodialisis, dan
sebagainya), lama raeat, dan keluaran (hidup atau meninggal) dari ICU.

I. Kemampuan pelayanan
Sesuai dengan klasifikasi ICU RS.H.L. Manambai Abdulkadir yang tergolong ICU
Primer, adapun kemampuan pelayanan yang dapat diberikan, yaitu:
1. Resusitasi jantung paru
2. Pengelolaan jalan napas
3. Terapi oksigen
4. Pemasangan kateter vena sentral
5. Pemantauna EKG, pus oksimetri dan tekanan darah non invansif
6. Pelaksanaan terapi titrasi
7. Pemberian nutrisi enteral dan para enteral
8. Pemeriksaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruh
9. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat-alat portabel selama transportasi pasien
gawat.
10. Kemampuan melakukan fisioterapi dada.
11. Melakukan prosedur Isolasi (R. Isolasi belum terstandar, dan tergolong kemampuan
pelayanan ICU sekunder).

J. MONITORING DAN EVALUASI


Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan guna mewujudkan
pelayanan icu yang aman, bermutu dan mengutamakan keselamatan pasien. Monitoring dan
evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk menentukan faktor-faktor yang potensial
berpengaruh agar dapat diupayakan penyelesaian yang efektif. Indikator pelayanan ICU
yang digunakan adalah sistem skoring prognosis dan keluaran dari ICU. Sistem skoring
prognosis dibuat dalam 24 jam pasien masuk ke ICU. Contoh sistem skoring prognosis yang
dapat digunakan adalah APACHE II, SAPS II, dan MODS. Rerata nilai skoring prognosis
dalam periode tertentu dibandingkan dengan keluaran aktualnya. Pencapaian yang

15
diharapkan adalah angka mortalitas yang sama atau lebih rendah dari angka mortalitas
terhadap rerata nilai skoring prognosis.

K. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
Rumah Sakit dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat yang dilakukan secara
berjenjang melalui standarisasi, sertifikasi, lisensi, akreditasi, dan penegakan hukum.
Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud diarahkan untuk :
1. Pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat.
2. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
3. Keselamatan pasien.
4. Pengembangan jangkauan pelayanan.
5. Peningkatan kemampuan kemandirian Rumah Sakit.

Pengawasan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dapat dilakukan secara eksternal mapun


internal. Pengawasan internal rumah sakit terdiri dari:
1. Pengawasan tekhnis medis:
Upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan ,medis yang diberikan
kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi
medis melalui komite medik rumah sakit.
2. Pengawasan tekhnis Rumah sakit
Pengukuran kinerja berkala meliputi kinerja pelayanan dan kinerja keuangan yang
dilakukan oleh satuan pemeriksaan internal. Apabila ditemukan pelanggaran dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan sehingga menyebabkan kerugian pada pihak lain,
pemerintah maupun pemerintah daerah dapat memberikan sanksi hukum dan administrasi
berupa teguran, teguran tertulis, denda atau pencabutan izin sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

16
BAB VI
URAIAN JABATAN

A. KEPALA INTENSIVE CARE UNIT (ICU)

1. Kualifikasi Minimal
a. Terdidik dan bersertifikat sebagai seorang spesialis Intensive Care Medicine (KIC,
Konsultan Intensive Care) melalui program pelatihan dan pendidikan yang diakui
oleh perhimpunan profesi terkait.
b. Menunjang kualitas pelayanan ICU dan menggunakan sumberdaya ICU secara
efisien.
c. Mendarmabaktikan lebih dari 50% waktu profesinya dalam pelayanan ICU.
d. Bersedia berpartisipasi dalam suatu unit yang memberikan pelayanan 24 jam, 7 hari
seminggu.
e. Mampu melakukan prosedur critical care, antara lain;
1) Sampel darah arteri
2) Memasang mempertahankan jalan napas termasuk intubasi tracheal, tracheostomy
perkutan dan ventiliasi mekanis.
3) Mengambil kateter intravaskuler untuk monitoring invansif maupun terapi
invansif (missal: Continuos Renal ReplacmentTherapy (CRRT)) dan peralatan
monitoring, termasuk:
a) Kateter arteri
b) Kateter vena perifer
c) Kateter vena sentral (CVP)
d) Kateter arteri pulmonalis.
4) Pemasangan kabel pacu jantung transvenouse temporer.
5) Melakukan diagnostic non-invansif fungsi kardiovaskuler dengan
echocardiografi.
6) Pipa thoracostomy.

2. Peran Utama :
a. pengelolaan pasien
mampu berperan sebagai pemimpin tim dalam memberikan pelayanan di ICU,
menggabungkan dan melakukan titrasi layanan pada apasien berpenyakit kompleks
atau cedera termasuk gagal organ multi system. Dalam mengelola pasien, dokter
intensivis dapat mengelola sendiri atau berkolaborasi dengan dokter lain.
Seorang dokter intensivis mampu mengelola pasien sakit kritis dalam kondisi seprti;
1) hemodinamik tidak stabil
2) gangguan atau gagal napas, dengan atau tanpa memerlukan tunjangan ventilasi
mekanis..
3) gangguan neurologis akut, termasuk mengatasi hipertensi intracranial.
4) Gangguan atau gagal ginjal akut.

17
5) Gangguan endokrin dan/ atau metabolic akut yang mengancam nyawa.
6) Kelebihan dosis obat, reaksi obat, atau keracunan obat.
7) Gangguan koagulasi.
8) Infeksi serius yang mengancam nyawa.
9) Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi.
b. Manajemen Unit
Dokter intensivis berpartisipasi aktif dalam aktivitas-aktivitas manajemen unit yyang
diperlukan untuk memberi pelayanan-pelayanan ICU yang efisien, tepat waktu dan
konsisten. Aktivitas-aktivitas tersebut meliputi antara lain:
1) Triage, alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien.
2) Supervise terhadap kebijakan-kebijakan unit.
3) Partisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjutan
termasuk supervise koleksi data.
4) Berinteraksi seperlunya dengan bagian-bagian lain untuk menjamin kelancaran
pelayanan untuk di ICU.
Untuk keperluan ini, dokter intensivis secara fisik harus berada di ICU atau rumah
sakit dan bebas dari tugas-tugas lain.
c. Berfungsi membantu Kepala bidang pelayanan untuk tercapainya pelayanan bermutu
di bidang pelayanan penyakit kritis

3. Uraian Tugas
1) Melaksanakan tugas harian kepada pasien kritis yang ada di ICU.
2) Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi sistem pelayanan intensive care di
RS. H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR.
3) Membuat program untuk meningkatkan dan menjaga mutu petugas ICU RS. H.L.
MANAMBAI ABDUL KADIR sehingga terjamin nya pelayanan Intensive Care yang
professional.
4) Membuat usulan dan menjamin keberadaan alat dan obat yang menunjang
terlaksananya pelayanan ICU yang terus menuerus.
5) Bekerjasama dengan bagian lain dalam memberi pelayanan berkesinambungan
terhadap pasien.

4. Kewenangan
1) Menetapkan program kerja Pelayanan Intensive Care Unit.
2) Menetapkan metode kerja yang sesuai pada unit kerja Pelayanan Intensive Care Unit
guna melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien

5. Kordinasi
1) Instalasi Gawat Darurat
2) Instalasi Rawat Inap
3) Instalasi Bedah
4) Instalasi Pemeliharaan Sarana

18
5) Instalasi penunjang
6) Unit lain di Instalasi Rawat Jalan

B. KEPALA RUANGAN ICU

1. Pengertian
Seorang tenaga Keperawatan profesional yang diberi tanggung jawab dan wewenang
dalam mengelola pelayanan Keperawatan dan fungsi manajemen di suatu ruangan ICU
dan bertanggung jawab kepada Kepala Instalasi.
2. Persyaratan
a. Spesifikasi Jabatan : Minimal golongan III/a, dengan pendidikan diutamakan
berpendidikan minimal S1 Keperawatan + Ners.
b. Kursus /Pelatihan : Mempunyai sertifikat ICU dan atau BTLS, ATLS, ACLS.
c. Pengalaman Kerja : Sebagai perawat primer
d. Kondisi Fisik : Sehat jasmani dan rohani
e. Mempunyai kemampuan manajerial.
f. Mempunyai prestasi dan dedikasi
g. Penilaian SKP yg baik
h. Komunikasi baik
3. Tanggung Jawab
Dalam melaksanakan tugasnya Karu bertanggung jawab kepada Kepala seksi
keperawatan terhadap hal – hal :
a. Kebenaran dan ketepatan rencana kebutuhan tenaga keperawatan
b. Kebenaran dan ketepatan program pengembangan pelayanan keperawatan.
c. Keobyektifan dan kebenaran penilaian kinerja tenaga keperawatan
d. Kelancaran kegiatan orientasi tenaga perawat baru
e. Kebenaran dan ketepatan protap pelayanan perawatan
f. Kebenaran dan ketepatan laporan berkala pelaksanaan pelayanan keperawatan
g. Kebenaran dan ketepatan kebutuhan dan penggunaan alat
h. Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan program bimbingan mahasiswa Institusi
Pendidikan Keperawatan.

Kepala Ruangan juga memiliki tanggung jawab terhadap kepala ICU terhadap hal-hal
dibawah ini :
1. Menjamin terlaksanya kegiatan pemberian asuhan keperawatan kritis di ICU yang baik
dan profesional.
2. Membantu melaksanakan program yang telah di tetapkan.
3. Menjaga dan melaporkan jika ada kerusakan/kehilangan terhadap alat dan barang yang
ada di ICU.

19
4. Wewenang :
Dalam menjalankan tugasnya, Karu mempunyai wewenang sebagai berikut :
a. Mengatur kegiatan pemberian pelayanan asuhan keperawatan kritis di ICU di ICU.
b. Memberikan petunjuk dan bimbingan pelaksanaan tugas staf keperawatan dalam
memberikan layanan asuhan keperawatan
c. Mengatur dan mengevaluasi staf keperawatan di ICU.
d. Melakukan koordinasi kegiatan pelayanan penunjang yang dilakukan oleh unit
kerja atau profesi lain di bangsal.
e. Menandatangani surat dan dokumen yang ditetapkan menjadi wewenang kepala
ruang.
f. Menghadiri rapat berkala dengan Kepala Instalasi/Kasi Keperawatan dan tataran
manajemen RS. H.L. Manambai Abdulkadir.
g. Mengatur jadwal dan komposisi tim.

5. URAIAN TUGAS
a. Malaksanakan fungsi perencanaan, meliputi;
1) Menunjuk perawat primer dan mendeskripsikan tugasnya masing-masing.
2) Merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawatan serta tenaga lain sesuai
kebutuhan.
3) Merencanakan jumlah enis pealatan perawatan yang diperlukan sesuai
kebutuhan.
4) Merencanakan dan menentukan enis kegiatan/asuhan keperawatan yang akan
diselenggarakan sesuai kebutuhan pasien.
5) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan :
a) Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan
b) Membimbing penerimaan proses keperawatan
c) Menilai asuhan keperawatan
d) Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah
e) Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga pasien yang baru
masuk.
6) Membuat rencana kegiatan Bulanan ICU.

b. Melaksanakan fungsi penggerakkan dan pelaksanaan, meliputi;


1. Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan
pelayanan ruang rawat.
2. Menyusun dan mengatur jadwal dinas tenaga perawatan
dan tenaga lain sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan atau peraturan yang
berlaku.
3. Mengadakan pertemuan berkala dengan perawat
pelaksana dan tenaga lain yang berada diwilayah tanggung jawabnya.
4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dibidang
prawatan antara lain melalui pertemuan ilmiah.

20
5. Mengenal jenis dan kegunaan barang/peralatan serta
mengusahakan pengadaan sesuai kebutuhan pasien agar tercapai pelayanan
optimal.
6. Menyusun permintaan rutin meliput kebutuhan bulanan
alat, obat dan bahan lain yang diperlukan diruang rawat.
7. Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan
peralatan agar selalu dalam keadaan siap pakai.
8. Mempertanggungawabkan pelaksanaan inventarisasi
peralatan.
9. Memelihara dan mengembangkan sistem pencatatan
dan pelaporan asuhan keperawatan dan kegiatan lain yang dilakukan secara
tepat dan benar, untuk tindakan keperawatan selanjutnya.
10. Membuat laporan harian dan laporan bulanan.

c. Pengarahan :
1. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada
perawat primer
2. Memberikan reward & punishment kepada perawat atau tenaga lain dalam
melaksanakan tugasnya.
3. Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
4. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan
aksep klien atau yang berhubungan dengna kepegawaian.
5. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan
tugasnya
6. Melaksanakan program orientasi kepada pasien dan keluarganya, meliputi
penjelasan tentang peraturan rumah sakit, tata tertib ruangan, fasilitas, tata
tertib ruangan serta kegiatan rutin sehari-hari diruangan.
7. Memberi reward and punishment, pengarahan dan motivasi kepada tenaga
perawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan sesuai ketentuan/standar.
8. Melaksanakan program orientasi kepada tenaga perawatan baru atau tenaga
lain yang akan bekera diruang rawat.

d. Pengawasan :
1. Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat primer mengenai
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
2. Melalui supervisi
- pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui
laporan langsung secara lisan dan memperbaiki/mengawasi kelemahan-
kelemahan yang ada saat ini

21
- pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir, membaca dan
memeriksa rencana keperawatan, serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar
laporan dari perawat primer

e. Evaluasi
1. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan
dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama pada bulan
sebelumnya.
2. Audit keperawatan

C. KORDINATOR PERAWAT (PERAWAT PRIMER)

1. Pengertian
Seorang tenaga keperawatan profesional yang membantu tugas Kepala Ruang dalam
menyelenggarakan asuhan keperawatan di ICU.
2. Persyaratan
a. Pendidikan : diutamakan berpendidikan S1 Keperawatan Ners.
b. Kursus/Pelatihan : mempunyai salah satua atau beberapa sertifikat (Managemen
Bangsal,BTLS, BTCLS, bersertifikat ICU).
c. Pengalaman kerja : Sebagai ketua tim selama 1-2 tahun
d. Kondisi fisik : Sehat Jasmani dan rohani
b. Mempunyai kemampuan managerial
c. Mempunyai prestasi dan dedikasi
d. Penilaian SKP baik
3. Kedudukan
Di dalam melaksanakan tugasnya, Perawat Primer (PP) bertanggung jawab langsung
kepada Kepala Ruang Rawat.
4. Tanggung Jawab
a. Membantu Kepala Ruangan dalam melaksanakan kebijakan – kebijakan kepala
instalasi ICU.
b. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada tenaga keperawatan dan non
keperawatan
c. Mengupayakan dan memperhatikan mutu pelayanan yang optimal di ruang
perawatan.
5. Uraian Tugas
a. Perencanaan:
1) Mengikuti serah terima pasien di-shift sebelumnya
2) Mengidentifikasikan tingkat ketergantungan klien yang dibantu perawat primer

22
3) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis
yang dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang
tindakan yang akan dilakukan terhadap klien
4) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan:
- membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan

- membimbing penerapan proses keperawatan

- menilai asuhan keperawatan

- mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah

- memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk

5) Membantu mengusulkan pengembangan niat pendidikan dan latihan diri


6) Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan
7) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit
b. Pengorganisasian:
1) Membantu membuat rincian tugas perawat primer dan perawat associate secara
jelas
2) Membantu membuat rencana kendali kepala ruangan yang membawahkan
perawat associate
3) Membantu mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses
dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari, dan lain-lain
4) Membantu mengatur dan mengendalikan logistik ruangan dan kebutuhan Bahan
Medis Habis Pakai (BMHP) ruangan ICU.
5) Membantu mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktek
6) Menerima pendelegasian tugas saat kepala ruang tidak berada di tempat kepada
perawat primer
7) Mengetahui kondisi klien dan menilai tingkat kebutuhan pasien
8) Mengembangkan kemampuan anggota
9) Membantu menyelenggarakan konferensi
c. Pengarahan
Berkoordinasi dengan Kepala Ruang dalam hal:
1) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada perawat bawahannya
2) Memberikan pujian kepada perawat yang mengerjakan tugas dengan baik.
3) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
4) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan aksep
klien .
5) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya.
6) Meningkatkan kolaborasi.
d. Pengawasan:

23
Berkoordinasi dengan Kepala Ruang dalam hal:
1) Komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat primer mengenai
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
2) Supervisi
a) pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui
laporan langsung secara lisan dan memperbaiki/mengawasi kelemahan-
kelemahan yang ada saat ini
b) pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir, membaca dan
memeriksa rencana keperawatan, serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar
laporan dari perawat primer
6. Evaluasi
a. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana
keperawatan yang telah disusun bersama
b. Audit keperawatan

D. PERAWAT ASSOSIATE

1. Pengertian
Seorang tenaga keperawatan yang diberi wewenang dan tanggung jawab terhadap
pelayanan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan
bertanggung jawab kepada perawat primer / keordinator ruangan/ Ka. Tim / Ka. Shift.
2. Kriteria Persyaratan
a. Pendidikan D3, yang disahkan oleh Pemerintah yang berwenang.
b. Mengikuti kursus BCLS/BTLS.
c. Mempunyai keterampilan di bidang
keperawatan.
d. Mampu melakukan asuhan
keperawatan dan prosedur keperawatan sesuai dengan standar keperawtaan.
e. Mampu mendokumentasikan hasil
pelakasanaan asuhan keperawatan.
f. Dapat bekerjasama dengan atasan
dan anggota tim lainnya.
g. Sehat jasmani dan rohani.
3. Uraian tugas

a. Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung berdasarkan proses


keperawatan :
1) Menyusun rencana perawatan sesuai dengan masalah klien
2) Melaksanakan tindakan perawatan sesuai dengan rencana
3) Mengevaluasi tindakan perawatan yang telah diberikan

24
4) Mencatat atau melaporkan semua tindakan perawatan dan respons klien pada
catatan perawatan

b. Melaksanakan program medis dengan penuh tanggung jawab


1) Pemberian obat
2) Melaksanakan instruksi dokter
3) Mengisi lembar observasi

c. Memastikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual dari klien
1) Memelihara kebersihan klien dan lingkungan
2) Mengurangi penderitaan klien dengan memberi rasa aman, nyaman dan
ketenagaan
3) Pendekatan dan komunikasi terapeutik
4) Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan
keperawatan dan pengobatan atau diagnosis
5) Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan kemampuannya

d. Memberikan pertolongan segera pada klien kritis.

e. Membantu kepala ruangan dalam penatalaksanaan ruangan secara administratif.


1) menyiapkan data klien baru, pulang, atau meninggal
2) sensus harian atau formulir
3) rujukan harian atau formulir

f. Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada di ruangan menurut fungsinya agar siap
pakai

g. Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan keindahan


ruangan

h. Melaksanakan tugas dinas pagi, sore, malam, atau hari libur secara bergantian sesuai
jadwal tugas

i. Memberi penyuluhan kesehatan sehubungan dengan penyakitnya (PKMRS)

j. Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik secara lisan maupun tulisan

k. Membuat laporan harian klien.

E. KETUA TIM PERAWAT JAGA

1. Pengertian

Seorang Perawat senior dalam satu shift jaga yang bertugas mengepalai perawat jaga
dalam shift tersebut. Ketua tim jaga yang bertugas diluar jam kerja dapat dianggap
sebagai mewakili kepala ruangan sehingga segala hal yang berhubungan dengan
keperawatan pasien dalam shift jaga tersebut menjadi tangggung jawabnya

2. Kriteria :

a. Pegawai Negeri/ pegawai kontrak senior

25
b. S1 keperawatan atau D3/D4 keperawatan yang disahkan oleh pemerintah yang
berwenang.
c. Pengalaman kerja : sebagai perawat asosiate selama 1-2 tahun.
d. Mengikuti kursus BCLS/BTLS, ACLS/ATLS, pelatihan ICU.
e. Mempunyai ketrampilan di bidang keperawatan.
f. Mampu melakukan asuhan keperawatan dan prosedur keperawatan sesuai dengan
standar keperawtaan.
g. Mampu mendokumentasikan hasil pelakasanaan asuhan keperawatan.
h. Dapat bekerjasama dengan atasan dan anggota tim lainnya.
i. Sehat jasmani dan rohani.

3. Uraian Tugas

a. Menjamin terlaksananya pelayanan keperawatan yang baik dan professional selama


masa tugas jaga

b. Memberi laporan kepada kapala ruangan jika ada masalah selama masa jaga.

c. Melakanakan tugas seperti perawat asosiate.

4. Wewenang

a. Memberi teguran kepada perawat di bawahnya selama masa tugas


jaga jika tidak menjalankan fungsi keperawatan.

b. Memberi masukan penilaian kepada perawat prImer atau kepala


ruangan terhadap kinerja perawat di bawahnya.

F. KOORDINATOR DOKTER / DOKTERPENANGGUNG JAWAB RUANGAN

1. Pengertian

Dokter

2. Prasyarat :

a. Dokter pegawai negeri senior

b. Masa kerja 2-3 tahun

c. Pernah mengikuti kursus ACLS, ATLS, FCCS/ Basic Course, USLS tingkat dasar,
Neonatus Live Suport, Pediatric Live Suport, Triage, BLS/ACLS instructure course,
PONED/PONEK, Airway Management.

d. Berdedikasi baik

e. Mampu bekerjasama dengan atasan dan anggota tim yang lain

f. Sehat jasmani dan rohani

26
g. Memiliki jiwa kepepimpinan

h. Memiliki SIP

3. Uraian Tugas :

a. Mengkordinir dokter umum termasuk penjadwalan jaga, libur, dll

b. Menginventaris permasalahan medis yang terjadi dalam lingkungan ICU

c. Menginventaris kebutuhan dokter umum ICU termasuk didalamnya pelatihan/kursus,

d. Mewakili kepala istalasi jika berhalangan

e. Menjamin terlaksananya pelayanan medis intensive sesuai prosedur yang berlaku.

f. Melaksanakan kebijakan kepala instalasi Intensive.

g. Bertanggung jawab terhadap dokter kepala Instalasi intensive

4. Wewenang:

a. Melakukan peneguran kepada doker umum yang melakukan tindak kesalahan

b. Memberikan masukan peniaian kepada dokter umum jaga.

G. Dokter Jaga ICU

1. Pengertian

Dokter umum yang memiliki wewenang menangani pasien.

2. Prasyarat

a. Dokter umum memiliki masa kerja 1-2 tahun

b. Memiliki sertifikat ACLS, ATLS, FCCS/Basic Course, Triage, Air way


Management, ICU.

c. Berdedikasi baik

d. Berorientasi pasien

e. Memiliki SIP

3. Uraian Tugas

a. Menilai kondisi kegawatan awal pasien

b. Melakukan tindakan yang bertujuan menyelamatkan nyawa, mencegah morbiditas


atau kecacatan.

c. Meminta pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

d. Melakukan pengobatan awal yang bersifat mendesak

e. Dari pemeriksaan keseluruhan menyimpulkan masalah pasien

f. Menentukan kondisi penderita stabil atau belum untuk keperlluan penderita sudah
dapat di pindahkan dari ICU.

27
g. Melakukan serah terima penderita yang baik dengan dokter penanggung jawab
berikutnya.

h. Melakukan konsul semua penderita merah pada dokter penanggung jawab ICU dan
penderita kuning yang dianggap perlu.

i. Melaksanakan semua kebijaksanaan ICU.

4. Wewenang

a. Melakukan tatalaksana semua penderita ICU

b. Melakukan Disposisi penderita ICU

H. ADMINISTRASI ICU

1. Pengertian

Petugas yang berfungsi memsukan data pasien dalam SIMRS, data umum ICU.

2. Prasyarat :

a. Lulusan minimal SMA sederajat

b. Berdedikasi baik

c. Dapat menggunakan computer (MS World, Excel)

d. Mengikuti BLS awam

3. Uraian Tugas.

1. Memasukan data penderita ICU ke SIMRS atau buku register.

2. Memasukan data umum penderita ICU

3. Mengecek dan menyiapkan kelengkapan berkas pasien keluar-masuk ICU.

4. Mengecek dan menyiapkan kesiapan jaminan pasien.

5. Mengecek dan menyiapkan berkas klaim BPJS.

6. Mengecek dan mengamprah kebutuhan BMHP dan kebutuhan rumah tangga


sepengetahuan KARU.

7. Mengembalikan Rekam Medis pasien.

8. Membuat rincian biaya dan mengecek kesmik.

I. CLEANING SERVICE ICU

1. Mengumpulkan sampah yang telah dipisahkan antara sampah infeksius, Sampah


non infeksius (Rumah tangga maupun B3), serta sampah benda tajam.

2. Melakukan pembersihan ruang ICU

28
3. Melakukan pembersihan area penunggu pasien

4. Melakukan pembersihan terhadap bak sampah

5. Mengganti plastik sampah pada tiap bak sampah

6. Mengganti gorden berkala

J. SATPAM/PETUGAS KEAMANAN ICU

1. Melakukan pengamanan

2. Membantu mengontrol pengunjung

3. Bertugas sebagai pemadam api

29
BAB VII

TATA HUBUNGAN KERJA

A. HUBUNGAN KERJA INTERNAL

Hubungan antara Kepala instalasi dengan penanggung jawab ruang adalah Kepala
instalasi merupakan atasan langsung dari penanggung jawab ruang. Pola garis komandonya
jelas, dan memiliki kewenangan dan tugas yang ditetapkan. Sekaligus Kepala instalasi
merupakan atasan tidak langsung dari Intensive Care Unit di bawah komando penanggung
jawab ruang. Instruksi langsung baik verbal maupun tertulis dapat langsung diberikan
kepada penanggung jawab untuk dapat ditindaklanjuti. Penanggung jawab ruang
bertanggung jawab kepada Kepala instalasi sesuai wilayah kewenangan dan tugasnya.
Hubungan antara Kepala instalasi dengan koordinator dokter adalah atasan langsung
dari kordinator dokter umum. Pola komando jelas dan memiliki kewenangan dan tugas yang
ditetapkan. Kepala instalasi merupakan atasan tidak langsung dari dokter umum ICU di
bawah komando koordinator dokter. Koordinator dokter bertanggung jawab kepada Kepala
instalasi sesuai wilayah kewenangan dan tugasnya.
Hubungan antar staf pelaksana Di antara staf pelaksana, masing-masing penanggung
jawab bidang saling berkolaborasi dalam lingkup tanggung jawab masing-masing. Tidak
menutup kemungkinan untuk saling memberikan masukan dan saran tentang aktifitas bidang
yang satu dengan lainnya. Sinergi ini dapat dilakukan dengan mediasi penanggung jawab
ruang jika diperlukan.

B. HUBUNGAN KERJA EKSTERNAL

30
BAB VIII
POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI PERSONIL

A. POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI


Pola ketenagaan dan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) di ICU (Intensive Care Unit)
JUMLAH
KET
NAMA
PENDIDIKAN SERTIFIKASI
JABATAN YANG
KEBUTUHAN
ADA
Dokter Spesialis Tenaga
Ka.Instalasi 1 1
Anatesiologi Kontrak
Koordinator
Medis/dokter Dokter Spesialis Tenaga
1 1
penanggung Anatesiologi Kontrak
Jawab
Dokter Jaga Dokter umum Dokter jaga
3 3
ICU Jaga rawat inap
Pelatihan BTLS,
Kepala Diluar
Ners. Pelatihan ICU 1 1
Ruangan perawat ICU
pemula.
Sertifikat BTLS,
Perawat
S1 Pelatihan ICU 2 2 -
Primer
Dasar.
Perawat Kurang dari
S1/DIII Kep. BTLS. 28 15
Ascociate kebutuhan
Untuk unit
Satpam SMA BLS awam 1 0
rawat inap
Belum masuk
Pengelola obat Apoteker - 4 0
unit ICU
Belum ada X-
Radiografer D III/ S I 4 0
Ray mobile
BCLS, BTLS
Perawat
DIII perawat dan Ambulance 0 0
Ambulan
Protokol
Administrasi
SMA BLS awam 1 1
ICU
Prakarya SMA BLS awam 4 0
Cleaning Sangat
Minimal SMA Pelatihan CS 4 1
service kurang

B. Kebutuhan Tenaga Dokter ICU


Kebutuhan minimal dokter umur didasarkan pada jumlah jam kerja maksimal menurut
perundangan ketenaga kerjaan adalah 42 jam perminggu. Maka perhitungan jumlah
minimal dokter jaga adalah :

7 (hari) x 24 (jam ) / 42 (jam) = 4 orang

31
C. Kebutuhan Tenaga Perawat
ICU harus memiliki perawat yang cukup dan sebagian besar terlatih. (diganti) menjadi:
Jumlah perawat pada ICU ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan ketersediaan
ventilasi mekanik.

Ada beberapa ketentuan yang dijadikan sebagai ruukan penentuan dan perhitungan
kebutuhan jumlah perawat di ICU, yaitu:

1. Menurut keberadaan alat ventilasi mekanik.

Sesuai dengan Keputusan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778,


tahun 2010, perbandingan perawat : pasien yang menggunakan ventilasi mekanik adalah
1:1. Artinya, 1 alat ventilasi mekanik membutuhkan 1 perawat khusus. Perbandingan
perawat : pasien non ventilasi mekanik adalah 1: 2. Artinya, 1 perawat dapat menangani
2 pasien tanpa bantuan ventilasi mekanik.

Berdasarkan data jumlah alat ventilasi mekanis di ruang ICU RS. H.L. Manambai
Abdulkadir tahun 2018 sebanyak 6 unit (4 unit terkalibrasi, 2 unit belum diperbaharui
kalibrasi unit), Maka dihitung kebutuhan jumlah perawat ICU RS. H.L. Manambai:

TOTAL KEBUTUHAN PERAWAT DI RUANG ICU =

TOTAL KEBUTUHAN PERAWAT


+ ICU per SHIFT=

Jumlah (Total Bed – Jumlah Ventilator )


ventilator + JADI,
2

= 4 + ( 8 – 5)
2

= 5,5 orang/ shift

2. Menurut Rasio-Perawat dan pasien sesuai dengan tingkatan ICU.

Sesuai dengan Standar Pelayanan Keperawatan ICU di Rumah Sakit tahun 2011, yang
dikeluarkan Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Tekhnisian Medik Dirjen Bina
Upaya Kesehatan, Kemenkes RI Tahun 2011, ada beberapa penentuan:

a. Rasio perawat dan pasien pelayanan ICU Primer adalah 1 perawat : 2-3 pasien.

b. Rasio perawat dan pasien pelayanan ICU Sekunder adalah 1 perawat : 1-2 pasien.

c. Rasio perawat dan pasien pelayanan ICU Tersier adalah 1-2 perawat : 1 pasien.

d. Rasio perawat dengan pasien disesuaikan dengan kompleksitas masalah pasien.

e.

3. Menurut DIKES tahun 2007, perhitungan tenaga pada ruang intensif


TOTAL KEBUTUHAN PERAWAT ICU per SHIFT=

+ 32
Rata-rata jum. Pasien per hari x Jumlah Jam perawatan 78
Loss day x 29
Jam efektif/hari
286

8x12 78
+ lossday x 13,71
7 286

= 4,5 = 5 orang/shift

D. Kebutuhan Tenaga Administrasi


Waktu kuantitas total waktu
Jenis Tindakan
per Tindakan tindakan per shift (menit)
Mengecek data entry pasien 10 9 90
print billing 2 9 18
menerima pembayaran/transfer biling 5 9 45
rekap laporan & operan 15 1 15
      168
Jumlah kebutuhan Petugas Administrasi ICU per shift adalah :

168 (beban kerja) = 0,35 atau 1

480 ( jam kerja)

Jumlah total Petugas Administrasi ICU adalah :

( jumlah Administrasi per shift) x 4 (jumlah shift) = 4 tenaga administrasi

BAB IX
INDIKATOR MUTU UNIT

Judul indikator Kepatuhan pengisian pengkajian ulang keperawatan


Definisi Operasional
Asessmen ulang adalah pengkajian yang dilakukan kembali pada
rentang waktu tertentu dalam ≥ enam (6) jam setelah MRS tiap
pasien.
Tujuan Tergambarnya pemahaman dan kedisiplinan tenaga keperawatan
dalam melakukan asessmen ulang sesuai rentang waktu, pada
pasien rawat inap di ICU/ICCU.
Dimensi Waktu Efektifitas dan keselamatan
Dasar Pemikiran Asessmen ulang rawat inap harus dilakukan minimal 1x/shift pada
pengkajian keperawatan untuk membantu penentuan masalah

33
keperawatan aktual, serta medis. Dari 20 rekam medik pasien
yang diambil sebagai sample, asessemnt keperawatan ulang pada
pasien rawat inap ICU setelah pasien MRS baru 20% yang
lengkap, sehingga diperlukan evalusi dan monitoring setiap hari
numerator Jumlah asessmen ulang keperawatan dalam ≥ enam (6) jam
setelah MRS
Denominator Jumlah pasien baru di ICU yang diambil sebagai sample
Formula Jumlah asessment ulang keperawatan yang lengkap dalam ≥ enam
pengukuran (6) jam setelah pasien MRS : jumlah pasien baru di ICU yang di
ambil sebagai sample x 100%
Metodelogi Conccurent
Cakupan data Purposif Sampling
Inklusi Pasien ICU yang rawat inap ≥ enam (6) jam setelah pasien MRS
Ekslusi Pasien ICU yang rawat inap ≤ enam (6) jam setelah MRS
Frekuensi Setiap hari, setiap pasien.
pengumpulan
Frekuensi analisa Data di analisa sederhana setiap bulan
data
Standar 100%
Metodeologi analisa Line Chart
data
Sumber data ICU/ICCU RS H.L.MANAMBAI ABDUL KADIR
PIC Nurul Fitriani Haris, S.kep., Ners
Publikasi Data Internal ICU dan Rumah sakit

BAB X
KEGIATAN ORIENTASI

A. Kegiatan Orientasi
Pemberlakuan Program Orientasi Pegawai Baru di RS. H.L. MANAMBAI ABDUL
KADIR Pembekalan tentang Rumah Sakit dikoordinir oleh bidang, Sub. Bag. Kepegawaian,
sedang kompetensi tehnis dilakukan oleh instalasi Intensive Care sesuai dengan jabatan
yang akan diterimanya. Metode orientasi dilakukan dengan pemberian materi, pengenalan
lapangan dan praktek lapangan (supervise). Lamanya orientasi disesuaikan dengan tugas
jabatannya. Selesai melakukan orientasi pegawai baru akan membuat laporan, Ka Instalasi
melakukan evaluasi menjadi dasar rekomendasi penempatan pegawai yang bersangkutan ke
tempat yang sesuai. Jadwal orientasi disampaikan pada tabel berikut :

TABEL 3.1.Jadwal Kegiatan Orientasi Pegawai Baru


RS. H.L. MANAMBAI ABDUL KADIR (Umum)

Hari Kerja ke-


No Materi Penanggung Jawab
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Pengenalan Personil V Ka. Intensive Care

34
Unit
2 Orientasi Ruangan V Ka. Intensive Care
Unit
3 Sosialisasi struktur V Ka. Intensive Care
falsafah, tujuan Unit
instalasi Intensif
4 Sosialisasi V Ka. Intensive Care
Organisasi Instalasi Unit
Intensif
5 Sosialisasi V Ka. Intensive Care
Landasan Peraturan Unit
Kebijakan RS
6 Sosialisasi V Ka. Intensive Care
Landasan Peraturan, Unit
kebijakan Instalasi
intensif
7 Sosialisasi uraian V Ka. Intensive Care
Jabatan Dan Tata Unit
Hubungan kerja
8 Sosialisasi SOP V Ka. Intensive Care
Unit

9 Sosialisasi fasilitas V Ka. Intensive Care


dan Peralatan Unit
Instalasi Intensif
10 Sosialisasi Program V Ka. Intensive Care
Kerja Unit
11 Sosialisasi V Ka. Intensive Care
Perencanaan dan Unit
Evaluasi Kerja
12 Sosialisasi Teknis V V V V V V Ka. Intensive Care
Kegiatan intensif Unit
sesuai dengan
jabatan

Tabel 3.2
Jadwal Kegiatan Orientasi Pegawai Baru Intensive Care Unit

MINGGU
KERJA Penanggung Jawab
NO MATERI
KE
1 2 3 4 5
1 Pengenalan Personil V Ka. Intensive Care Unit
2 Orientasi Ruangan V Ka. Intensive Care Unit
3 Persiapan Pasien V PP
4 Pengenalan Prosedur dan instruksi V PP

35
kerja
5 Pemeliharaan Alat IPS
V

a. Peningkatan Kompetensi
Peningkatan kompetensi tenaga Intensive Care Unit bisa dilakukan melalui
pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan dilaksanakan sesuai prioritas dan
ketersediaan anggaran. Pelaksanaan koordinasi pendidikan dan pelatihan dilaksanakan oleh
Bidang DIKLAT.
Pendidikan bagi petugas dibagian Intensive Care Unit dapat dilakukan melalui
program pendidikan Dokter Spesialis Anastesi, pelatihan Critical Nurse tingkat dasar
maupun Advance..
Pelatihan untuk peningkatan tenaga Intensive Care Unit bisa melalui Inhoues
Training dan eksternal course. Inhouse training, yaitu program pelatihan yang
diselenggarakan oleh rumah sakit. Pelatihan di Bidang Peningkatan SDM dikategorikan
dalam pelatihan manajemen, Perilaku, komputer, Pengendalian infeksi, Critical care, Medis,
Keperawatan, Penunjang, Bedah, dan Gawat Darurat.
Pelatihan yang dapat diikuti oleh SDM Intensive Care Unit adalah pelatihan
manajemen meliputi : Membangun team work, manajemen konflik, Komunikasi organisasi,
manajemen perubahan, Problem Solving, manajemen informasi, manajemen pelaporan,
manajemen arsip, manajemen Pengendalian, Infeksi rumah sakit dan Pengendalian bahaya
kebakaran. Untuk pelatihan komputer berupa pengentry data, internet, microsoft exel,
microsoft word, microsoft power point.

b. Penilaian Kinerja SDM


Penilaian kinerja dilakukan periode tahunan dan bulanan. Periode tahunan sesuai
dengan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1979 Tentang Data Pelaksanaan Pekerjaan
Pegawai Negeri Sipil (DP – 3). Penilaian periode bulanan dilakukan bersamaan dengan rapat
evaluasi bulanan ICU, dimana dalam rapat evaluasi tersebut akan dibahas tentang hambatan
pelayanan ICU dan hubungannya dengan sumber daya manusia ICU yang selanjutnya akan
dibuat catatan tambahan dalam penilaian tahunan SDM ICU. Dalam penilaian tersebut
setiap karyawan dinilai melalui index bersama angka 1 hingga 10. Unsur penilaian tersebut
meliputi Kepegunaan, produktivitas, presensi, beban kerja rutin, beban kerja tambahan dan
kinerja. Kinerja dinilai berdasarkan uraian tugas sesuai jabatannya.

c. Evaluasi Orientasi
Yang dimaksud dengan evaluasi pelaksanaan kegiatan adalah evaluasi dari jadwal
kegiatan . Jadwal tersebut akan dievaluasi setiap berapa bulan sekali (kurun waktu tertentu),
sehingga bila dari evaluasi dketahui ada pergeseran jadwal atau penyimpangan jadwal maka
dapat segera diperbaiki sehingga tidak mengganggu program secara keseluruhan. Karena itu,
yang ditulis dalam kerangka acuan adalah kapan (setiap kurun waktu berapa lama) evaluasi
pelaksanaan kegiatan dilakukan dan siapa yang melakukan.

36
Evaluasi dalam program orientasi merupakan hal yang sangat penting untuk
mendapatkan hasil kerja klinis yang professional. Kepala ruangan bertanggung jawab
terhadap proses adaptasi serta perkembangan para karyawan baru baik dalam kemampuan
dan perilkunya
Evaluasi perlu dilakukan setiap minggu atau dua kali dalam seminggu untuk kemajuan
yang dihasilkan selama periode 3 bulan.Batas waktu diperlukan untuk mendapatkan standar
minimal dari kapabilitasnya dari setiap karyawan baru yang masih dalam masa
orientasi.Evaluasi dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi (checklist) sesuai kebutuhan
dan dilpaorkan kepada yang berwenang.

BAB XI
PERTEMUAN / RAPAT

Pertemuan antara pimpinan Intensive Care Unit dengan tenaga dan staf pelaksana
Intensive Care Unit lainnya dilakukan secara rutin maupun berkala untuk melakukan evaluasi
dan membahas permasalahan yang ditemui terkait pelayanan dan operasional Intensive Care
Unit dan Instalasi terkait lainnya, maupun merencanakan kegiatan khusus lainnya.
Komunikasi organisasi secara formal dilakukan oleh pimpinan Rumah Sakit kepada staf
pejabat struktural dan fungsional. Komunikasi pimpinan dengan seluruh staf dilakukan melalui
apel pagi. Komunikasi internal di Intensive Care Unit diselenggarakan melalui rapat berkala.
Rapat berkala terdiri dari :
1. Rapat Rutin
Rapat Rutin Diselenggarakan pada :
Hari : Jum’at pada minggu pertama tiap bulan (untuk kepala intalasi, Kepala
Ruangan, Perawat Primer dan KATIM).
JUM’AT minggu ke 3 & 4(Untuk Semua Staf ICU)
Waktu : 14.00 s/d selesai
Tempat : Ruang Dokter/Ruang perawatan ICU.
Peserta : Seluruh SDM ICU.
Materi Rapat :
1. Mutu Pelayanan.
2. Perencanaan dan Upaya Peningkatan Kinerja SDM Gawat Darurat
Kelengkapan Rapat : undangan, daftar hadir, notulen
2. Rapat Isidentil
Rapat Isedentil diselenggarakan pada :
Hari : Sewaktu – waktu bila ada sesuatu yang perlu segera dibahas atau
diinformasikan

37
Waktu : Sesuai Undangan
Tempat : Sesuai Undangan

38
BAB XII
PELAPORAN

Pelaporan merupakan sistem atau metode yang dilakukan untuk melaporkan segala bentuk
kegiatan yang ada terkait dengan pemberian pelayanan di Intensive Care Unit.
A. JENIS LAPORAN
Adapun jenis laporan yang dikerjakan terdiri dari :
1. Laporan Harian
Laporan yang dibuat oleh staf Intensive Care Unit masing masing shift dalam bentuk
laporan setiap hari. Adapun hal – hal yang dilaporkan adalah :
a. Laporan jumlah pasien ICU sesuai prioritas dalam bentuk sensus harian
2. Laporan Bulanan
Laporan yang dibuat dalam bentuk tertulis dan sudah tersedia form khusus setiap
bulannya.Adapun hal-hal yang dilaporkan adalah :
a. Laporan Intern
1) Laporan jumlah pasien ICU sesuai prioritas
2) Laporan Penderita berdasarkan 10 penyakit dan keluhan terbanyak
3) Laporan jumlah kematian
4) Laporan Indikator mutu Unit
b. Laporan Eksternal
1) Laporan jumlah pasien Intensive Care Unit ke Instalasi Rekam Medis dan
Direktur
3. Laporan Tahunan
Laporan yang dibuat dalam bentuk tertulis setiap tahun. Adapun hal-hal yang dilaporkan
adalah :
a. Laporan jumlah pasien ICU
b. Laporan penderita berdasar 10 penyakit dan keluhan masuk terbanyak
c. Laporan jumlah kematian dan rujukan

39