NASKAH MONOLOG MAUNG PANJALU
(Harimau Panjalu)
Karya : Agus Mubarok
HIdup..
Membanggakan kehidupan hanyalah membodohi diri sendiri. (tertawa)
Jutaan manusia dimuka bumi dibutakan oleh hingar binger kehidupan . menganggap bumi adalah tempat
miliknya. Apakah meraka tidak merasa malu berbuat semena-mena di tempat yang sudah jelas ada
pemiliknya. Ya, ada saatnya pemilik mengambil haknya. Kalian ? ya, tidak berarti apa-apa.
( adegan minum habis )
Setiap kejadian pasti ada maksudnya. Dan hidup, terkadang aku bertanya, apa alas an aku hidup ?
apa yang sebenarnya aku cari ? aku pernah membaca sebuah kutipan . ya, kurang lebih seperti ini.
Hidup itu sama seperti menggambar; mengisi kertas kosong dengan beribu warna. Hanya saja dalam
hidup , kita tidak memiliki penghapus untuk menghilangkan kesalahan – kesalahan.
Ya, aku tahu budaya yang sangat melekat disana. Dimana ada beberapa hal yang perlu di saksikan.
Haus….. haus…. Haus….. haus….
Dimana air ? dimana air? Yang katanya bumi ini, tanah air ini, tanah air Indonesia.
(huh…. Nampaknya aku terlalu banyak terlelap . dari pada kehausan lebih baik aku tidur saja.
Suara di mimpi : “ hai, anak muda .apakah kau kehausan? Aku akan memberimu air dengan
syarat yang tak boleh kau langar, kau boleh meminum sesukamu. Tapi kau tak boleh
berenang, kalua kau melanggar aturan aturan kau akan berubah menjadi hewan.
Lemparkan gayung di depanmu. “
Apakah aku mimpi ? haus… haus… ah…. Aku akan mencoba melempar gayung tersebut
kebelakang. Barangkali mimpiku menjadi kenyataan.Alhamdulillah ya Allah. akhirnya,ada air juga.
( minum ) hah… air ini segar sekali. Wah aku ingin berenang. Lagi pula aku sudah tidak mandi beberapa
pekan ini. (berenang)
Hah … mimpiku ternyata benar . aku tidak boleh berenang ?? hahaha…. Terserah itu hanya
mimpi dan mungkin hanya mitos.
Tolong …… tolong …. Kenapa tubuhku seperti ini ??
Sepertinya tubuhku berubah menjadi harimau. Tuhan ampunilah aku. Kembalikan tubuhku seperti
semula…. Tolong …. Tolong….
Kenapa tubuhku seperti ini ??
Aku bodoh, aku menyesal . saat tuhan memberiku balasan , ini salahku aku tak percaya kutukan ,
tak percaya larangan.