0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan4 halaman

Monolog - HP

Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga yang mengalami berbagai panggilan telepon yang menyesatkan sepanjang pagi hingga akhirnya menyadari bahwa suaminya lah yang sebenarnya mengerjainya lewat telepon dengan berpura-pura menjadi orang lain. Ia pun menjadi trauma dan bersumpah tidak akan lagi tergantung pada teknologi seperti ponsel atau media sosial.

Diunggah oleh

mmuthiaazzahra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan4 halaman

Monolog - HP

Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga yang mengalami berbagai panggilan telepon yang menyesatkan sepanjang pagi hingga akhirnya menyadari bahwa suaminya lah yang sebenarnya mengerjainya lewat telepon dengan berpura-pura menjadi orang lain. Ia pun menjadi trauma dan bersumpah tidak akan lagi tergantung pada teknologi seperti ponsel atau media sosial.

Diunggah oleh

mmuthiaazzahra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HP

Karya : Putu Wijaya

SEBUAH KURSI. TERDENGAR SUARA PANGGILAN HP. DERINGNYA LAGU


INDONESIA RAYA.

X BERLARI MENCARI DI HP. TIDAK KETEMU.

Tunggu dulu! Di mana sih kamu? Di mana kamu? Ya! Ya! Tungguuu! Tapi di mana kamu ?

PANGGILAN BERHENTI.

(MENGUMPAT) Gelo sia! Begini kalau kita tergantung teknologi! Jadi idiot!

PANGGILAN LAGI.

Yaaa! Tungguu! Terlalu, siapa sih nelepon pagi-pagi begini. Nggak tahu aturan! Minggu kan
waktunya istirahat! Taksaannn! Bangun! Itu kali teman kamu yang teleponnya suka nyasar ke
Mama! Jangan molor terus! Bantuin kek Mama beres-beres rumah.

HP BUNYI LAGI.

Nah itu ngeyel terus! Berisik!

X MENCAR LAGI. TIDAK KETEMU.

Taksannn, mana HP Mama? Makanya jangan suka pakai punya orangtua. Kamu kan punya
sendiri!. Di mana ya, cepat, berisik tahu! Ah peduli amat. Peduli amat!

MULAI MENGELAP KURSI.

Kursi Da Vinci pun kalau tidak tiap hari digosok ….

HP BERDIRING LAGI.

Ya Allah!

X KELABAKAN, PANIK, TAPI KEMUDIAN MERABA KANTONG BAJU DASTERNYA


DAN MENEMUKAN HP.

Oooo, Alhamdulillah, di sini rupanya dikau!


(MENGELUARKAN HP) Halo, (SUARA DIBUAT SOPAN DAN MERDU) ya, halo maaf
siapa ini ya? O salah sambung, Pak. Apa? O, ya, betul ini rumah Pak Rony. Masih tidur, Pak.
Bukan, saya bukan pembantunya, saya istrinya. Betul anak saya namanya Taksan, Bahasa Jepang
artinya banyak, Pak. Lengkapnya Taksan Harta. Apa? Ditangkap? Kenapa? Ya Allah, membawa
narkoba 8 kilo? Sekarang di mana ? Di Jalan Kucing Garong? Mau diproses? Tebusan? Supaya
jangan diproses? Berapa duit, Pak? Dua ratus juta? Masa Allah! Aduh, saya bukan orang kaya,
Pak.

Keliru. Itu kali Pak Roni tetangga saya. Beliau memang konglomerat, tapi tidak punya anak. Ya
betul nama anak saya Taksan. Jangan, jangan, ampun jangan disiksa sampai menjerit-jerit begitu.
Jangan, Pak, jangan, jangan disakiti, Pak. Ampun! Apa? Tebusan? Saya tak punya duit, Pak?
Lagian ini Minggu. Paling ATM, Pak. Tapi maksimum pengambilan 10 juta, tadi sudah saya
transfer 5 juta bayar uang kuliah Taksan. Ooo, 5 juta Bapak mau? Tapi nanti saya bokek. Dua
juta saja, ya, Pak?! Baik, terima kasih, Pak. Tapi saya panggil dulu tetangga saya, Pak Kapten,
untuk mengawal. Dia masih punya pistol untuk jaga-jaga. Taksan juga saya bangunin sekarang
untuk nyopir. Ya, Taksan masih tidur, semalaman main gim. Ya anak saya itu Taksaannn!
Persisnya posisi Bapak dimana? Halo, halo, haloo! Paaak! (DIPUTUS)

Rasain lu! Pagi-pagi sudah mau bikin dosa! Masuk neraka lu!

MELIHAT TAKSAN DATANG.

Udah, Taksan, nggak jadi. Mama bisa selesaikan sendiri secara jantan, Tidur aja dulu.

HP MEMANGGIL LAGI. X LANGSUNG MENGGERTAK.

Hei, teroris! Biar mampus lu diembat Pak Kapten! Pagi-pagi udah cuap-cuap! Setan lu!
Genderuwo?! Awas ya, gue lapor baru nyahok lu! (TERKEJUT. LALU MEMERIKSA SIAPA
YANG MENELEPON. BENGONG)

Ya Tuhan, maaf, Pak Menteri. Saya kira telepon gelap. Tadi ada orang mau menipu saya
mengatakan Taksan anak saya ditangkap. Padahal dia …. O begitu, Pak. Masih tidur, Pak. Perlu
saya bangunkan? Kalau begitu nanti saya sampaikan. Jadi, yang tanda tangan suami saya saja?
Baik. Jadi, bukan Bapak? Baik, Pak. Tapi sekali lagi minta ma … (DIPUTUS) Sialan! Nggak
kelurahan, nggak menteri, kelakuannya tai kucing semua. Duitnya mau, yang masuk bui, kita ….

SMS MASUK.

Pinjaman tanpa agunan, ah tai kucing! Cipoa semua! Nggak ada yang bener sekarang! Kenapa
sih yang beginian dibiarin, nggak diberantas aparat? Ini kan kriminal? Apa ada kongkalikong?
Sialan lu, goblok! Rayuan gombal gini kan kita semua udah nyahok! Cerdas dikit dong! Dasar
bandit! Iblis! Masuk neraka lu!
MENELEPON TEMANNYA.

(RAMAH TAMAH) Selamat pagi, Bu Kapten, posisi di mana? Jadi ke salon? Oh, OTW. Apa?
Habis keramas? Sunnah Nabi ni ye! (KETAWA) Pengantin baru! Ah, kalau di sini pelurunya
macet terus, Bu … (KETAWA LEBIH SERU) Apa? (KETAWA NGAKAK KERAS) Obat
kuat? Udah Seribu kali, Bu. Tangkur buaya kek, kuda laut kek, sampai darah ular kobra! Tapi
terus aja loyo seperti balon kempis! (KETAWA DIBUAT-BUAT) Betul, betul! (KETAWA
DIBUAT-BUAT) Betul! (KETAWA DIBUAT-BUAT TAMBAH KERAS) Ya, betul, betul,
betul. (KETAWA DIBUAT-BUAT LEBIH KERAS) Ya betul, setuju! (KETAWA DIBUAT-
BUAT PANJANG SAMPAI KESELEK) Maaf Bu, denger-denger Bu Kadir yang di pojok itu
ada main sama pembantunya! Ya, (BERBISIK) lesbi dong! (TAMBAH BERBISIK) Ya! Pak
Kadir kurang apa, coba! Ganteng, kaya, banyak ibu-ibu di kantornya jatuh
cinta. (BERBISIK) Katanya itunya… Apa? Ya! (KETAWA NGAKAK) Sampai Pak Kadir kurus
kering begitu! Betul, betul sekali, ya. (KETAWA LAGI, LALU SERIUS) Maaf, begini, kalau
bisa saya …. (PUTUS) Bu, Bu Kapten! Kalau tidak merepotkan …. (DIPUTUS LAGI) Sialan,
pasti dia kira mau pinjam duit. Dasar gom ….

MELEMPAR HP KE KURSI. LALU MENGELAP KURSI. BERSENANDUNG. HP BUNYI


LAGI.

(MENGGERTAK) Mat! Kamu gila! Bagaimana sih mau kamu? Janjinya bulan depan, sekarang
udah lima kali bulan depan! Itu duit organisasi, tahu?! Ibu sakit kek, Nenek mampus kek, mobil
belum laku kek, itu kan bukan urusan gue! Kecuali elu yang mampus! Pokoknya bulan depan
belum elu balikin juga, kagak tahu dah, gue kirim debt collector biar dipotong barang elu!
Ngarti?! (MEMATIKAN HP)

Sebel bisnis sama pribumi! Beda kalau sama ….

HP BUNYI LAGI. X TERKEJUR. MAU MEMATIKAN, TAK JADI.

(BICARA BERDESAH) John? Ini kamu?

MENJAUH. CARI POJOKAN AMAN.

(BERBISIK) Kenapa Minggu-minggu nelpon? Kan aku sudah bilang jangan. Minggu, dia ada di
rumah. Yes, I know, Aku juga kangen.

(LANGSUNG MEMBENTAK TELEPON) Salah! Salah sambung, Pak!, Salah sambung! S-


a-l-a-h-s-a-m-b-u-n-g!

PURA-PURA MEMATIKAN HUBUNGAN TELEPON. SUAMINYA LEWAT.

(MENEGUR SUAMINYA MESRA) Tidur aja dulu, Papa, kan hari Minggu, kasihan badan dan
otakmu diperes terus tiap hari untuk menghidupi keluarga. Mesin juga ada istirahatnya.
(BICARA DI TELEPON) Kan udah saya bilangin ini bukan rumah Pak Egi! Anda kok ngotot?!
Ya Tanya ke DPR sana, kenapa mesti ke mari?!

MELONGOK MEMERIKSA SUAMINYA SUDAH MASUK KAMAR.

(KEMBALI BERBISIK DI HP. MANJA. BERDESAH) John, kamu masih di


situ, darling? Nanti kalau dah aman aku pasti nelepon. Swear! Sama, aku juga kangen banget,
banget. Kapan kita bisa keemu, masak di dunia maya terus! Muachh, muachh, muachhhh!. Ssst!

SUAMINYA KEMBALI LEWAT.

Kenapa, Papa? Kok bolak-balik ke belakang? Capek ya, semalaman kerja keras! Mama juga.
Nanti tak masakin gulai sumsum domba, biar kembali perkasa! (KETAWA GENIT)

(BERBISIK DI HP) Ssstt! Dia ke kamar mandi lagi. Nanti kalau dia udah masuk kamar kita
sambung lagi. Sabar. Muaacchh. Muacchhh! Apa? Celana dalam? Pakai dong, masak
tidak (GELI GENIT) Apa? Warnanya? Untuk apa? Jorok ah! Pink!

SUAMINYA MUNCUL. X TERKEJUT.

Ya Allah, Papa bikin terkejut aja. Apa? Putih? Apa yang putih, Pa? Apa? Celana dalam
saya? (MEMERIKSA) Ya, Papa betul! Putih. Mama baru ingat yang pink udah diganti dengan
yang putih, habis yang pink basah kena itu. (KETAWA BINAL) Kenapa kok Papa tiba-tiba
menebak warna celana dalam Mama? Apa? (TERKEJUT) Apa? Ya Tuhan, ampunnn! Jadi itu
Papa? Yang tadi nelepon itu Papa? Jadi, si John yang di facebook itu Papa, pakai nama dan foto
samaran? (MENJATUHKAN DIRI DI KURSI) Ya ampun! Aku tertipu. (TERKEJUT.
MENOLEH KE SAMPING) Taksannn! Apa? Ya Tuhan! Petugas gelo yang yang minta tebusan
itu kamu?! Itu kamu?! Minta ampun. HP brengsek! (MEMBANTING HP KE LANTAI) Mulai
sekarang aku tidak mau main HP-HPan, main facebook, main twiter lagi!!

MENGINJAK-INJAK HP. TAPI HP MASIH BISA BERDERING. X MELEMPARKAN HP


KE PENONTON SAMBIL BERTERIAK MEMAKI.

Tai kucingggg!!!

X DUDUK ANTENG, MEMANDANG PENONTON.

Bayang-bayang itu membuat saya ogah main HP lagi dan masuk dunia maya! Biar aja dikatain
aja dikatain orang gaptek!

Anda mungkin juga menyukai