Monolog Cinta Negeri
Aku jatuh cinta pada negeri ini. Namun selayaknya makhluk yang jatuh cinta, terus terang, aku
belum mampu memberikan apa-apa. Aku hanya meminta, terus merongrong negeri ini. Serupa
dahulu, aku hanya menghujat, memaki, bahkan lebih mendewakan negara lain, baik dari segi
sosial dan budaya, apalagi ekonominya. Visualisasi mewah negeri-negeri seberang lewat
televisi, begitu indah. Tuhan, kini aku menyesal.
Jika kau tahu Katak di bawah tempurung, kurasa sebutan itu pantas disematkan padaku.
Hingga kini bahkan, kepada kerabat, aku meminta untuk menamparkan kala aku lupa akan
negeri ini. Jika ditanya tahu atau tidak, bukan tak tahu. Namun lebih kepada aku tak peduli
dengan budaya di luar kampungku, di daerah yang kuanggap kurang perhatian pemerintah.
Tuhan, aku salah lagi.
Benar, saat itu aku bodoh, apabila berkesempatan hidup layak di negera lain, atau menikah
dengan lelaki asing, berpikir suatu saat akan melepaskan status Warga Negera Indonesia
(WNI). Pikiran tolol itu membuatku terlena hingga aku terlupa. Padahal, dari hasil kekayaan
bumi Indonesia, aku dibesarkan hingga kini aku mampu meresapi makna dari tiap sila
Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, juga makna Bhinneka Tunggal Ika. Mohon ampun,
Tuhan.
Kini, aku sangat mencintai negeri ini. Darahku berdesir setiap mendengar lagu-lagu perjuangan,
terlebih Indonesia Raya dan memaknai sila-sila Pancasila. Namun ternyata tak semuanya
sepertiku. Masih banyak yang ingin merobek Pancasila dan menciderai nilai luhur Bhinneka
Tunggal Ika, juga melarang menghormati Merah Putih.
Tuhan... kadang aku bertanya sendiri, apa yang ada di kepala mereka? Mengapa begitu
susahnya bertoleransi? Mengapa tak bisa saling menghormati? Indonesia ini luas, dari Sabang
hingga Marauke bersama pulau-pulaunya, bukan hanya selebar daun kelor. Jauh di lubuk
hatiku, aku sedih. Aku tak ingin rakyat ini melupakan sejarah, memperkosa bumi pertiwinya,
kemudian menghancurkan dirinya sendiri.
Jika mampu menangis, kurasa para pendiri bangsa meraung-raung melihat anak cucunya
melakukan kebodohan. Mereka akan bertanya, "Duhai Putera puteri bangsa, Mengapa
sedemikian sulit mencintai negeri yang sudah kami wariskan? Mengapa terlena dengan negeri
orang hingga membiarkan budaya negerimu terkikis?"
Aku tahu, cinta terhadap negeri tumpah darahku ini tak sebanding dengan para pendahulu.
Mereka bersusah payah merebut kemerdekaan, menjunjung harkat dan martabat bangsa. Maka
dari itu Tuhan, komohon, jangan jauhkan aku dari rasa syukur sebab berkebangsaan Indonesia.
*
Sebelum terlambat Tuhan, izinkan aku bermunajat, di usia yang pelan-pelan akan menginjak
satu abad, kembalikan rasa memiliki negeri ini kepada kami agar kami tak mudah diprovokasi,
sehingga terus berbuat kebodohan. Jadikanlah kami sebagai bangsa kuat, yang mampu
menjunjung tinggi sosial dan kebudayaan, Indonesia, hingga seabad setelah merdeka.
Selamat ulang tahun negeriku. Kini aku mencintaimu tanpa pikir-pikir, merawatmu tanpa jeda,
membangunmu lewat tiap goresan pena.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "[Bulan Kemerdekaan RTC] Monolog
Cinta Negeri", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/audazaschkya25071988/57b35c9b737e61a624bb9f3c/bulan-
kemerdekaan-rtc-monolog-cinta-negeri
Kreator: Auda Zaschkya
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com