0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
623 tayangan173 halaman

Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau

Skripsi ini membahas tentang unsur-unsur sejarah yang terdapat dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri menurut masyarakat Melayu Riau berdasarkan pendekatan tradisi lisan. Tujuannya adalah mendeskripsikan cerita silsilah Kerajaan Indragiri dan unsur-unsur sejarah yang ditampilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan tradisi lisan yang menampilkan unsur ruang, w

Diunggah oleh

ilham yusardi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
623 tayangan173 halaman

Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau

Skripsi ini membahas tentang unsur-unsur sejarah yang terdapat dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri menurut masyarakat Melayu Riau berdasarkan pendekatan tradisi lisan. Tujuannya adalah mendeskripsikan cerita silsilah Kerajaan Indragiri dan unsur-unsur sejarah yang ditampilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan tradisi lisan yang menampilkan unsur ruang, w

Diunggah oleh

ilham yusardi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNSUR SEJARAH DALAM CERITA SILSILAH KERAJAAN

INDRAGIRI PADA MASYARAKAT MELAYU RIAU

SKRIPSI

Oleh:

HENDRA ZEBUA
160702018

PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNSUR SEJARAH DALAM CERITA SILSILAH KERAJAAN
INDRAGIRI PADA MASYARAKAT MELAYU RIAU

Oleh:

Hendra Zebua

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan


Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau. Dalam skripsi ini membahas menganai
cerita silsilah Kerajaan Indragiri dimulai dari awal mula berdirinya Kerajaan
Indragiri hingga pada masa keruntuhan dan bergabung dengan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Adapun yang menjadi pokok pembahasan dalam skripsi ini
mengenai bagaimana cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada masyarakat Melayu
Riau ditinjau dari tradisi lisan dan bagaimana unsur sejarah yang ditampilkan
dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri. Tujuan dari penelitian ini untuk
mendeskripsikan cerita silsilah Kerajaan Indragiri dan unsur sejarah yang
ditampilkan dalam cerita tersebut. Pendekatan yang digunakan untuk mengupas
permasalahan ini adalah pendekatan tradisi lisan sebagai sejarah. Penelitian ini
merupakan penelitian lapangan dengan metode kualitatif yang mendeskripsikan
data berupa cerita silsilah Kerajaan Indragiri dan unsur-unsur sejarah yang
terdapat dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri. Adapun hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan sebuah tradisi
lisan yang diceritakan secara turun-temurun pada masyarakat Melayu khususnya
di Kabupaten Indragiri serta dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri ditampilkan
unsur sejarah meliputi unsur ruang, unsur waktu, unsur kebenaran sejarah, dan
unsur kausalitas sejarah dan perubahan.

Kata kunci: Tradisi Lisan, Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri, Unsur-Unsur


Sejarah.

i
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR

Puji syukur pengkaji ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat

dan rahmat-Nya yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, dan hikmat

kebijaksanaan kepada penulis. Sehingga dapat menyelesaikan skripsi untuk

memperoleh gelar Sarjana Strata 1 pada Program Studi Sastra Melayu, Fakultas

Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Adapaun judul yang diangkat dalam

Skripsi ini adalah: “Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Pada

Masyarakat Melayu Riau: Tinjauan Tradisi Lisan”.

Pengkaji berharap skripsi ini dapat menjadi bahan informasi bagi para

pembaca. Dalam skripsi ini terdiri atas lima bab. Bab I Pendahuluan mencakup

latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat

penelitian. Bab II Tinjauan Pustaka mencakup kajian relevan, landasan teori. Bab

III Metode Penelitian meliputi metode dasar, sumber data, lokasi penelitian,

metode pengumpulan data, dan metode analisis data. Bab IV yang mencakup hasil

dan pembahsan. Bab V kesimpulan dan saran.

Pengkaji menyadari bahwa skripsi masih terdapat kesalahan. Namun

pengkaji telah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu dengan kerendahan

hati pengkaji mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat

menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata pengkaji mengupakan terima kasih.

Medan, 08 Agustus 2020


Penulis,

Hendra Zebua
160702018

iii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam proses penulisan skripsi ini tidak luput dari berbagai hambatan.

Namun dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu

pengkaji mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Ayahanda Alm. Tolona Zebua dan Ibunda Mince Liani Br.

Panggabean yang senantiasa memberikan dukungan dan doa kepada

penulis hingga saat ini serta tiada kata yang dapat mewakili rasa

sayang penulis untuk ayah dan ibu sekalian.

2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya,

Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Rozanna Mulyani, M.A selaku Ketua Program Studi Sastra

Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Dra. Mardiah Mawar Kembaren, M.A., Ph.D. selaku Dosen

Pembimbing dan Sekretaris Program Studi Sastra Melayu, Fakultas

Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas

bimbingan, saran, dan dukungan yang diberikan kepada penulis

dengan penuh kesabaran.

5. Bapak Prof. Wan Syaifuddin, M.A., Ph.D. Selaku Dosen Penguji Saya

Ucapkan Terima Kasih atas masukan dan arahannya.

6. Bapak Drs. Baharuddin, M.Hum. Selaku Dosen Penguji saya ucapkan

terima kasih atas masukan dan arahannya.

7. Bapak dan Ibu Dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera

Utara yang telah memberikan ilmu dan pengajaran kepada penulis.

iv
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8. Abangda Prayogo dan Kak Tridayani selaku pegawai administrasi di

Program Studi Sastra Melayu yang telah mendukung kelancaran

administrasi.

9. Segenap civitas akademika Fakultas Ilmu Budaya, Universitas

Sumatera Utara, segenap pegawai perpustakaan Universitas Sumatera

Utara atas seluruh bantuan demi kelancaran studi penulis.

10. Kepada kakak Yuneva Zebua, Deni Wati Zebua dan kakanda Edi

Prinando Zebua yang telah memberikan dukungan moral dan materi

kepada penulis.

11. Buat Abg Akhmad Rapiudin S.KM. Terima kasih atas segalanya yang

telah memberikan banyak pengajaran dan dukungan selama ini.

12. Abangda Gilang Putra Andika S.E. Terima kasih atas dukungan dan

bantuannya selama ini.

13. Buat Abg dr. Fernandi Agustian terima kasih atas dukunganya selama

ini.

14. Para informan saya Ibu Raja Tom Fatmah, Bapak Saharan, Bapak

Guntur dan Kakanda Raja Herman Maulana penulis ucapkan terima

kasih atas informasi yang telah diberikan mengenai Kerajaan Indragiri.

15. Teruntuk teman-teman seperjuangan stambuk 2016 Sastra Melayu

yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis ucapkan terima kasih

atas kerja sama dan motivasinya selama ini.

16. Sahabat baik ku Desi Wandasai, Lusiana Winda Ningsi, Rani Hamidah

yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.

v
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
17. Kepada seluruh teman organisasi Lembaga Kesenian USU, Meja

Pintar, Kerabat Melayu, dan Forum Cinta Sejarah Lokal penulis

ucapkan terima kasih.

18. Buat teman-teman Asmarindu Joyada Tamba S.KM, Marwan Efendi

Nasution, Adek Saputra, Septiadi Siagian, Ramdan Zebua, Muhammad

Raviqas Liadi, Muhamad Irfan Hamid, Andrian Prayoga, dan Ahmad

Haris Hutasuhut penulis ucapkan terima kasih atas dukungan dan

motivasi selama ini.

19. Kepada keluarga besar Abdul Manaf dkk, dan Talented Reborn :

Abdul Manaf, Sulina Salim, Suhana Salim, Yolanda Safitri, Nurul

Safira, Qodri Azwansyah, Diana Lestari, dan Ariffin.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan rahmat-Nya atas segala

kebaikan, keiklasan, dan bantuan semua pihak. Akhir kata, meskipun

skripsi ini jauh dari kata sempurna. Namun sekecil apapun semoga

bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, 08 Agustus 2020

Penulis,

Hendra Zebua
1602012018

vi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

SURAT PERNYATAAN

ABSTRAK ............................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii

UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................................... iv

DAFTAR ISI ............................................................................................................ vii

DAFTAR TABEL ................................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1

1.2 Batasan Masalah .................................................................................................. 5

1.3 Rumusan Masalah ............................................................................................... 5

1.4 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 5

1.5 Manfaat Penelitian .............................................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 8

2.1 Kajian Relevan .................................................................................................... 8

2.2 Landasan Teori ..................................................................................................... 10

2.2.1 Teori Tradisi Lisan ..................................................................................... 11

2.2.2 Sastra Sejarah ............................................................................................ 15

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................... 17

vii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.1 Metode Dasar ...................................................................................................... 17

3.2 Sumber Data ........................................................................................................ 17

3.3 Instrumen Penelitian ........................................................................................... 18

3.4 Lokasi Penelitian ................................................................................................. 18

3.5 Metode Pengumpulan Data ................................................................................. 19

3.6 Metode Analisis Data .......................................................................................... 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................ 22

4.1 Deskripsi Wilayah Indragiri ................................................................................ 22

4.4.1 Letak Geogerafis ....................................................................................... 22

4.4.2 Jumlah Penduduk ...................................................................................... 24

4.4.3 Keadaan Masyarakat ................................................................................. 25

4.4.3.1 Keadaan Sosial ............................................................................. 25

4.4.3.2 Keadaan Ekonomi ......................................................................... 26

4.4.3.3 Keadaan Budaya ........................................................................... 26

4.4.4 Mata Pencaharian ...................................................................................... 27

4.2 Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri......................................................................... 28

4.3 Keterangan Cerita Kerajaan Indragiri Berdasarkan Tradisi Lisan ...................... 70

4.4 Daftar Silsilah Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri .... 80

4.5 Daftar Kepemimpinan Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah Kerajaan

Indragiri .............................................................................................................. 84

4.6 Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri .................................... 89

4.6.1 Unsur Ruang ............................................................................................. 89

4.6.2 Unsur Waktu ............................................................................................. 96

viii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.6.3 Unsur Kebenaran Sejarah .......................................................................... 110

4.6.4 Unsur Kausalitas Sejarah Dan Perubahan .................................................. 123

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 130

5.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 130

5.2 Saran .................................................................................................................... 131

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 132

LAMPIRAN ............................................................................................................. 134

Lampiran I Data Informan ................................................................................ 134

Lampiran II Surat Izin Penelitian ........................................................................ 135

Lampiran III Dokumentasi ................................................................................... 146

Lampiran IV Biodata Pengkaji ............................................................................. 157

ix
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR TABEL

Tabel I : Jumlah Desa Dan Kelurahan Dan Kecamatan Di Kabupaten

Indragiri Hulu ...................................................................................... 23

Tabel II : Daftar Keterangan Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Berdasarkan

Tradisi lisan ......................................................................................... 78

Tabel III : Daftar Kepemimpinan Raja Indragiri .................................................. 84

Tabel IV : Penyerangan Pada Kerajaan Indragiri .................................................. 104

Tabel V : Priodisasi Waktu Pada Kerajaan Indragiri ........................................... 106

Tabel VI : Kejadian Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri .............................. 122

Tabel VII : Sebab Akibat Di Kerajaan Indragiri ...................................................... 128

x
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR GAMBAR

Gambar I : Peta Kabupaten Indragiri Hulu ................................................... 23

Gambar II : Komplek Pemakaman Raja Indragiri Di Desa Kota Lama .......... 115

Gambar III : Komplek Pemakaman Raja Indragiri Di Japura Tampak Luar ... 116

Gambar IV : Komplek Pemakaman Raja Indragiri Di Japura Tampak Dalam. 117

Gambar V : Replika Istana Kerajaan Indragiri ............................................... 118

Gambar VI : Masjid Raya Rengat .................................................................... 118

Gambar VII : Komplek Pemakaman Raja Indragiri Di Rengat ........................ 119

Gambar VIII : Rumah Tinggi Indragiri ............................................................... 119

Gambar IX : Petunjuk Arah Istana Raja Muda Peranap ................................... 120

Gambar X : Tapak Istana Raja Muda Peranap ................................................ 121

Gamabr XI : Masjid Raja Puah Peranap Tampak Sebagian ............................ 121

Gambar XII : Masjid Raja Puah Peranap Tampak Penuh ................................. 122

Gambar XIII : Cap Mohar Sultan Abdullah Kedudukan Peranap ...................... 127

xi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara multikultural yang memiliki pesona sastra dan

budaya yang banyak tersebar dari ujung timur sampai ke ujung barat. Salah satu

negara yang kaya akan kebudayaan membuat ciri khas tersendiri bagi bangsa

Indonesia. Masyarakat multikultural menjadi salah satu faktor Indonesia dapat

dikatakan sebagai pusat peradaban dan kebudayaan khususnya di Asia. Peradaban

ini banyak memiliki pengaruh besar di wilayah Indonesia sendiri. Sastra dan

budaya merupakan hasil dari cipta manusia yang multikultural dalam

melangsungkan kehidupan. Hasil dari cipta manusia tersebut memiliki nilai-nilai

serta sistem kebiasaan yang dapat dijadikan pedoman dalam melangsungkan

kehidupaan sehari-hari (Tantawi 2016:20).

Wellek dan Warren (2016:122), meyatakan sastra merupakan wujud gagasan

seseorang melalui pandangan dan perasaan terhadap lingkungan sosial yang ada

disekeliling dengan menggunakan bahasa yang indah. Sejatinya sastra dan budaya

dapat dipahami oleh masyarakat itu sendiri dengan menggunakan bahasa. Sastra

juga menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tumbuh dan berkembang di

tengah-tengah masyarakat secara lisan maupun tulisan. Selain itu sastra dapat

merujuk pada sebuah fenomena maupun peristiwa yang terjadi di masa lalu yang

bersifat sejarah. Salah satu etnik yang memiliki pengaruh besar di bidang sastra

dan budaya adalah etnik Melayu. Banyak hasil sastra dan budaya yang lahir dari

etnik Melayu sendiri dan berkembang secara turun-temurun. Hasil karya tersebut

tidak terlepas dari kedudukan etnik Melayu yang dahulunya adalah bangsa yang

1
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
besar dan kuat. Pada dasarnya sastra dan budaya Melayu tumbuh dan berkembang

di wilayah kerajaan serta tempat tinggal masyarakat Melayu itu sendiri.

Menurut Hussein (1984:74), kata Melayu merupakan sebuah istilah yang

agak luas dan sedikit kabur. Istilah yang digunakan sangat luas di mana ke semua

ini merangkum keseluruhan yang ada di nusantara pada zaman dahulu.

Berdasarkan asal usul kata atau secara etimologi istilah Melayu berasal dari

perkataan sanskrit malaya yang berarti bukit ataupun tanah tinggi. Menurut

catatan china istilah Mo-Lo-Yeu dicatat dalam manuskrip China sekitar tahun 644-

645 M. Semasa Dinasti Tang disana tertulis bahwa Mo-Lo-Yeu mengirim utusan

ke China untuk membawa hasil bumi untuk kaisar. Istilah Melayu mungkin

berasal nama anak sebuah sungai disekitaran pantai timur Sumatera yang bernama

sungai Melayu. Di hulu sungai Batang Hari disana terletak kerajaan Melayu yang

berdiri sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 6-7 M dari perkataan

sanskrit malaya yang berarti bukit atau tanah tinggi (Lukman Sinar 1994:2).

Pada umumnya etnik Melayu tinggal dan mendirikan rumah di sepanjang

aliran sungai dan pinggiran laut. Konsep ini memberikan filosofis tersendiri bagi

etnik Melayu dimana air dan alam merupakan sumber kehidupan. Selain itu

sungai dan laut bukan pemisah melaikan pemersatu dengan wilayah lainnya. Salah

satu pinggiran sungai yang terdapat penduduk asli Melayu adalah sungai Indragiri.

Dahulu di sungai Indragiri terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan

Indragiri yang terdapat di Riau tepatnya di Kabupaten Indragiri Hulu dan

Kabupaten Indragiri Hilir. Kejayaan kerajaan di Riau tidak lepas dari keruntuhan

Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 13 M yang diserang oleh Kerajaan Cola dan

ekspansi dari Kerajaan Majapahit. Sehingga membuat kerajaan kecil di Riau

2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdaulat dan berdiri sendiri. Kerajaan ini dahulunya berpusat di Kecamatan

Keritang. Istilah keritang berasal dari “akar itang” yang diucapkan dengan lafal

“Keritang”. Sementara Itang adalah sejenis akar tumbuhan yang banyak terdapat

disepanjang anak Sungai Gangsal bagian hulu yang sekarang masuk ke dalam

Kabupaten Indragiri Hulu. Wilayah Keritang menjadi tempat awal berdirinya

Kerajaan Indragiri karena disebabkan keruntuhan kerajaan Sriwijaya yang

berpusat di Palembang (Wawancara dengan Raja Tom Fatmah, tanggal 3 Agustus

2019).

Perkembangan Kerajaan Indragiri mulai dari berdiri hingga keruntuhanya

telah terjadi serangakaian peristiwa yang unik dan menarik. Peristiwa tersebuat

akhirnya menjadi sebuah cerita yang berkembang di masyarakat Kabupaten

Indragiri Hulu hingga saat ini tentang Kerajaan Indragiri. Peristiwa unik itu pun

akhirnya kini menjadi sebuah cerita yang bersifat sejarah. Sebuah peristiwa dapat

dikatakan bagian dari sejarah jika telah memenuhi syarat tertentu diantaranya:

terjadi dalam kurun waktu cukup lama, bersifat unik, memiliki momentum atau

arti yang penting, dan memiliki objektifitas yang kuat serta adanya peningalan

dari sebuah peristiwa di masa lalu (Tanjung 2014:12).

Cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan cerita yang bersifat lisan dan

berkembang di masyarakat Melayu Riau sejak lama khusunya di Kabupaten

Indragiri Hulu. Sehingga proses penceritaan yang tersebar di masyarakat banyak

mengandung serangkaian peristiwa dan nilai budaya di Kerajaan Indragiri. Selain

itu cerita tersebut juga banyak mengandung unsur sejarah terutama pada bagain

empat pokok unsur sejarah yaitu; unsur ruang, unsur waktu, unsur kebenaran

sejarah, dan unsur kausalitas sejarah dan perubahanya. Semua unsur tersebut akan

3
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menciptakan sebuah pemahaman mengenai cerita dan keberadaan serta identitas

dari sebuah di Kerajaan Indragiri.

Adapun metode yang digunakan untuk mengungkap unsur sejarah dalam

cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada masyarakat Melayu Riau yaitu metode

kualitatif dengan menggunakan tinjauan tradisi lisan sebagai sejarah yang

dianggap tepat. Kesaksian berupa pesan yang disampaikan secara turun-temurun

dari generari ke generasi bersifat lisan yang dapat berupa ucapan, maupun

nyanyian sehingga banyak mengandung pesan atas sebuah peristiwa yang terjadi.

Sebagai bagian dari pelaku sejarah manusia memiliki ingatan yang kuat akan

sebuah kejadian dan peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan menjadi sebuah

tradisi. Vansina (2014:43), menyatakan tradisi lisan sebagai pesan-pesan verba

berupa kalimat laporan-laporan dari masa lalu yang melampaui masa kini dan

disebarkan dari mulut ke mulut hingga generasi ke generasi. Melalui adanya

pembahasan tentang kajian ini diharapkan mampu mengungkap kembali khazanah

historiografi Melayu khusunya di Kerajaan Indragiri. Sastra juga memberikan

pemahaman yang identitas mengenai sebuah unsur sejarah yang ada didalamnya.

Sesuai pemaparan di atas yang menjadi dasar pengkaji tertarik untuk

melakukan penelitian tentang Unsur sejarah dalam cerita silsilah Kerajaan

Indragiri pada masyarakat Melayu Riau, dikarenakan Kerajaan Indragiri

merupakan salah satu kerajaan Melayu yang ada di Riau serta belum banyak

diketahui oleh masyarakat luas. Selain itu cerita silsilah Kerajaan Indragiri hanya

sebatas ingatan saja. Dahulu kerajaan ini adalah salah satu pusat peradaban Etnis

Melayu di daerah Riau khsusunya di Kabupaten Indragiri Hulu, Sehingga dengan

dasar itu penulis tertarik untuk mengangkat kembali khazanah cerita Kerajaan

4
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri yang kaya akan nilai sastra dan budaya yang telah dikenal sejak dahulu.

Melalui wujud cerita yang akan diteliti maka banyak informasi dapat terutama

unsur sejarah yang akan terungkap dalam cerita tersebut. Selain itu Penulis juga

akan mendeskripsikan bagaimana keadaan Kerajaan Indragiri dari awal berdiri

hingga runtuh dan bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1.2 Batasan Masalah

Melalui pemaparan yang telah ditulis pada latar belakang, maka pengkaji

memberikan batasan masalah agar kajian ini terfokus dan terarah. Sehingga

batasan masalah berpusat pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada masyarakat

Melayu Riau tinjauan tradisi lisan. Berdasarkan cerita tersebut akan di ungkap

unsur sejarah yang ditampilkan dalam cerita asal usul dam silsilah dari Kerajaan

Indragiri pada masyarakat Melayu Riau.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan yang telah diuraikan di atas, sehingga dapat diketahui bahwa

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang berkembang di

masyarakat Melayu Riau?

2. Bagaimana unsur sejarah yang ditampilkan dalam cerita silsilah

Kerajaan Indragiri ditinjau dari pendekatan tradisi lisan?

1.4 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan,

maka penelitian ini memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan dari penelitian ini

adalah sebagai berikut:

5
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Untuk mengetahui bagaimana cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang

berkembang di masyarakat Melayu Riau.

2. Untuk Mendeskripsikan unsur sejarah yang ditampilkan dalam cerita

silsilah Kerajaan Indragiri ditinjau dari pendekatan tradisi lisan.

1.5 Manfaat Penelitian

Menurut Sugiyono (2017:54), manfaat penelitian terbagi atas dua manfaat

teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teroritis merupakan sebuah manfaat yang

berkaitan terhadap pengembangan pengetahuan akademik melalui sebuah

penelitian sedangkan manfaat praktis merupakan manfaat yang secara langsung

diberikan dari hasil penelitian dan dapat digunakan oleh masyarakat. Adapun

manfaat yang diberikan dalam penelitian ini baik secara teoritis maupun praktis

dapat diketahui sebagai berikut:

1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Pada kajian ini dapat dijadikan patokan dalam penelitian selajutnya

tentang Kerajaan Indragiri.

2. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi

terhadap pengembangan ilmu kesusastraan Melayu melalui unsur

sejarah dalam cerita Kerajaan Indragiri.

3. Memberikan manfaat sebagai media informasi tentang Kerajaan

Indragiri dan pendekatan tradisi lisan khususnya bagi para akademisi

dalam penelitian selanjutnya.

6
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1.5.2 Manfaat Praktis

1. Menjadikan kajian tradisi lisan lebih diminati lagi dalam membahas

penelitian tentang kesusastraan Melayu.

2. Sebagai upaya dalam pengembangan sastra Melayu serta publikasi

pada kerajaan Melayu yang telah hilang.

3. Meperkenalkan kembali khazanah kerajaan Melayu yaitu Kerajaan

Indragiri ke publik serta menumbuhkan minat cinta terhadap sastra,

budaya, dan sejarah pada masyarakat khususnya di Kabupaten

Indragiri.

7
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Relevan


Kajian relevan merupakan bentuk referensi yang mendukung data yang

sedang diteliti. Kepustakaan yang relevan juga memuat berbagai informasi

pendukung serta data terkait. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

kajian pustaka merupakan terbitan berseri, terutama berisi artikel tentang tinjauan

dan ulasan buku terbaru. Informasi dapat diperoleh melalui buku, artikel, jurnal

serta laporan ilmiah lainnya. Sesuai dengan penelitian yang berjudul Unsur

Sejarah Dalam Cerita Silslah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau.

Sejauh pemahaman dan pengetahuan penulis masih terbatas yang melakukan

penelitian ini. Berikut ini beberapa penelitian yang relevan diantaranya.

Kembaren (2011), dalam disertasi yang berjudul “Hikayat Keturunan Raja

Negeri Deli: Kelahiran Sebuah Legenda Sejarah”. Pada penelitian tersebut

menganalisis sebuah kisah keturunan raja negeri Deli dalam sebuah teks

kesusastraan Melayu lama yang memfokuskan pada faktor dan ciri-ciri asas

kelahiran (silsilah) Gocah Pahlawan sebagai tokoh legenda dari Kesultanan Deli.

La Sudu (2012), dalam tesisi yang berjudul “Tradisi Lisan Kabhanti

Gambusu Pada Masyarakat Muna Di Sulawesi Tenggara Tinjauan Pewarisan”.

Penelitian ini membahas tentang sebuah tradisi lisan kabhanti gambus yang

berkembang di Sulawesi Tenggara. Tradisi lisan kabhanti yang berasal dari

masyarakat Muna memiliki arti menyindir, memantum, sindir atau sering juga

disebut sebagai senandung. Dalam penelitian La Sudu mengenai kabhanti Muna

adalah sebuah perbuatan dengan cara menyindir atau memantum dalam bahasa

8
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Muna. Penelitian tradisi lisan ini memiliki beberapa bagian yaitu kabhanti

kantola, kabhanti watulea, kabhanti gambus, dan kabhanti modero. Penelitian ini

memfokuskan pada proses penyampaian kabhanti gambus yaitu sebuah pantun

yang dinyayikan dengan iringan irama gambus serta botol kosong yang dipukul

dengan sendok atau paku sehingga memiliki pesan tersendiri bagi pendengarnya

secara lisan.

Silaban (2018), dalam skripsi yang berjudul “Tradisi Marhaminjon Di

Daerah Bonandolok Sijamapolang Kajian Tradisi Lisan”. Dalam penelitian ini

pembahasan berfokus pada proses ritual pengambilan getah kemenyan dan nilai

kearifan lokal marhaminjon di desa Bonandolok dengan kajian tradisi lisan.

Masyarakat mempercayai pohon kemenyan dahulunya adalah wujud wanita cantik

boru Nangniaga yang tinggal bersama orang tuanya. Namun dikarenakan orang

tua boru Nangniaga ini terlilit hutang dangan bangsa Kolonial lalu orang tua boru

Nangniaga berinisiatif untuk menjodohkannya. Tetapi wanita cantik ini tidak

ingin menikah dengan bangsa Kolonial tersebut lalu pergi kehutan. Dalam

kepercayaan masyarakat setempat bahwa pohon kemenyan tersebut merupakan

wujud dari wanita cantik boru Nangniaga yang lari kehutan sehingga disebut

sebagai marhaminjon.

Penelitian yang dilakukan oleh Sari (2018), yang berjudul “Kisah Silsilah

Kerajaan Tamiang Kajian Tradisi Lisan”. Penelitian ini memusatkan pembahasan

tentang kisah silsilah dan struktur kerajaan Tamiang yang dibahas dengan kajian

tradisi lisan. Selain itu dalam penelitian Sari juga membahas tentang unsur sejarah

yang ditampilkan dalam kisah kerajaan Tamiang. Kerajaan Tamiang berada di

wilayah Aceh Tamiang provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdasarkan keempat kajian di atas tidak terdapat kesamaan menyeluruh

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh pengkaji. Kajian pertama dilakukan

oleh Kembaren (2011) Hikayat Keturunan Raja Negeri Deli: Kelahiran Sebuah

Legenda Sejarah”. Kedua La Sudu (2012), membahas tentang tradisi lisan

kabhanti gambus pada masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara tinjauan

pewarisan. Kajian ketiga dilakukan Silaban (2018), membahas tentang tradisi

marhaminjon di daerah Bonandolok Sijamapolang kajian tradisi lisan. Kajian

keempat yang dilakukan Sari (2018), membahas tentang kisah silsilah Kerajaan

Tamiang kajian tradisi lisan. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan yaitu

berfokus pada unsur sejarah dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada

masyarakat Melayu Riau. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan

terletak pada lokasi penelitian dan objek penelitian. Persamaan penelitian yang

akan dilakukan dengan ketiga penelitian di atas yaitu sama-sama menggunakan

kajian tradisi lisan. Sehingga penelitian yang berjudul Unsur Sejarah Dalam Cerita

Silsilah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau dapat dilakukan karena

masalah yang akan diteliti bukan duplikasi dari kajian sebelumnya.

2.2 Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan teori yang tradisi lisan yang dikembangkan oleh

seorang cendikiawan bernama Jan Vansina dalam bukunya yang berjudul “Tradisi

Lisan Sebagai Sejarah”. Buku ini merupakan hasil terjemahan oleh Astrid Reza,

dkk dari buku aslinya yang berjudul Oral Tradition As History dicetak pada tahun

1985 dan dicetak dalam bahasa Indonesia pada tahun 2014.

10
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.2.1 Tradisi Lisan

Secara etimologi kata tradisi berasal dari bahasa Latin yaitu tradition yang

memiliki arti kabar atau penerusan. Tradisi lisan diartikan sebagai sebuah

tindakan atau perilaku yang berkembang di masyarakat dan disampaikan dari

generasi ke generasi melalui lisan. Perkambangan ilmu tradisi lisan mulai dikenal

luas serta mulai diminati sebagai salah satu cara untuk mengungkap sebuah cerita

yang beredar di masa lalu. Melalui metode baru yang dikembangkan Jan Vansina

berjudul Living With Africa. Kajian ini terus berkambang dan semakin luas.

Dalam penelusuran Vansina semakin kuat dengan adanya buku yang terbit pada

tahun 1961 yang berjudul De La Tradition Orale: Essai De Method Historique

buku dalam bahasa Prancis. Tradisi lisan yang dikembangkan oleh Jan Vansina

diyakini sebagai sebuah teori baru yang dapat digunakan dalam penelitian. Jan

Vansina megawali sebuah penelitian yang dimulai sejak awal di Afrika selama 5

tahun pada masyrakat Bakuba di Congo Afrika Tengah sejak akhir tahun 1952

hingga pada tahun 1965 terbitnya buku dalam bahasa Ingris yang berjudul Oral

Tradition: A Study In Historical Methodology.

Penelitian yang dilakukan Jan Vansina disebuah wilayah Afrika

merupakan daerah yang memiliki ragam kultural pada masyarakatnya. Secara

garis besar dalam wilayah yang kaya akan multikultural Vansina berfikir banyak

mengandung tradisi. Tradisi yang berkembang di masyarakat semakin hari

semakin berkurang. Namun Jan Vansina semakin berkeinginan untuk

mengungkap dan melakukan sebuah penelitian. Disisi lain kondisi ini hampir

sama keadaanya di Indonesia yang memiliki keberagaman kultural. Demikian

juga tradisi lisan berkembang di wilayah Indonesia melalui lisan masyarakatnya.

11
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Selain itu perilaku masyarakat juga sangat berpengaruh pada keadaan tradisi

disebuah wilayah. Historiografi Indonesia yang banyak mengadung tradisi

disetiap etniknya membuat para sejarawan Indonesia mengacu pada buku Jan

Vansina dikarenakan hegemoni berpendapat bahwa “Tidak ada dokumen tertulis

tidak ada sejarah” (Purwanto dalam Vansina, 2014).

Vansina (2014:43), menyatakan tradisi lisan sebagai pesan-pesan verba

berupa kalimat laporan-laporan dari masa lalu yang melampaui masa kini dan

disebarkan dari mulut ke mulut hingga generasi ke generasi. Penyampaian

biasanya dapat berupa kesaksian yang bersifat masa lalu terhadap sebuah

peristiwa maupun tindakan perilaku. Melalui tradisi hal yang ingin disampaikan

berupa pesan yang bersifat murni. Selain itu Sibarani (2014:32), menyatakan

tradisi lisan cakupan segala hal yang berhubungan dengan sastra, bahasa, sejarah,

biografi, dan berbagai pengetahuan serta jenis kesenian lain yang disampaikan

dari mulut ke mulut. Cerita maupun kisah yang disampaikan berupa pesan sejarah

terhadap sebuah peristiwa.

Syaifuddin (2016:71), berpendapat mengenai tradisi lisan adalah sebuah

istilah yang merangkumi tradisi-tradisi yang terdapat dalam suatu budaya yang

diwariskan melalui jalan lisan, baik dari segi waktu, yaitu dari sutu generasi ke

generasi yang lebih muda ataupun dari segi ruang, yaitu dari seorang anggota

masyarakat kepada yang lain dalam rentang dan tempat serta waktu yang sama

dan akan tetap hidup serta berdampingan dengan aspek adat istiadat dan seni

bahasa.

12
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Takari (2013:2), juga menyatakan mengenai tradisi lisan mencakup semua

unsur kebudayaan manusia, baik itu sistem religi, bahasa, teknologi, ekonomi,

seni, organisasi, dan pendidikan yang masih di jalan oleh masyarakat. Tradisi

lisan juga dapat berbentuk sebuah gagasan, kegiatan yang masih tetap dilakukan

oleh masyarakat sehuingga dalam kegiatan tersebut disampaikan secara turun-

temurun dari generasi ke generasi.

Vansina memberikan keterangan serta jenis sejarah terkait tradisi yang

disampaikan melalui cerita diantaranya sebagai berikut:

1. Gosip bersejarah: Merupakan berbagai macam berita dan desas-desus

yang beredar di masyarakat serta dikomunikasikan melalui lisan

penutur atas sebuah kejadian dan peristiwa sehingga tidak hilang

kebaruannya yang memudar.

2. Tradisi pribadi: Merupakan sebuah kenangan yang menjadi tradisi

keluarga serta diceritakan oleh satu orang ke orang lainnya bahkan

setalah kematian akan menjadi sebuah kenangan yang pernah

diketahui.

3. Keterangan kelompok (group account): Merupakan sebuah tipikal

tradisi lisan yang memberikan sebuah indentitas atau tanda pada

sebuah kelompok tertentu berupa suku, ras, desa, maupun kerajaan

yang memiliki kekuatan dimana didalamnya memiliki cerita yang

bersifat murni.

4. Tradisi mengenai asal usul dan kejadian: Merupakan sebuah kisah atau

mitos yang lahir dari masyarakat setempat melalui keterangan

13
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mengenai sebuah pertanyaan, legenda, asal usul sebuah tempat, dan

cerita kelahiran maupun kematian.

5. Keterangan-keterangan kumulatif: Berupa daftar keterangan atau

silsilah yang terus diperbaharui yang diceritakan dalam bentuk

kronologis lokal dengan penyampaian secara lisan.

Selain itu penyampian tradisi lisan disampikan dari generasi ke generasi

dan tergantung pada sebarapa kuat ingatan masyarakat tersebut. Tradisi lisan

sangat banyak mengandung unsur sejarah yang bersifat murni. Landasan tersebut

berpijakan pada nilai budaya pada masyarakat yang menceritakan sebuah

peristiwa unik dan abadi. Vansina (2014:195), menyatakan ada empat unsur

sejarah yang berpusat pada tradisi lisan dalam mengungkap sebuah peristiwa yang

dikemas dalam bentuk cerita, diantaranya sebagai berikut:

1. Unsur ruang: Merupakan sebuah gagasan relatif yang saling berkaitan

antara satu titik dengan titik lainnya. Keterkaitan ruang sangat erat

hubunganya dengan sebuah proses penciptaan, sebuah tempat yang

bernilai spesial. Dalam pemikiran lainya ruang mempengaruhi

pandangan seseorang mengenai kejadian di masa lalu.

2. Unsur waktu: Waktu menjadi bagian yang mememang harus ada dalam

suatu kejadian. Masa yang begitu panjang menjadikan karakteristik

waktu sama dengan ruang. Dalam pembagianya seperti hari, bulan, dan

tahun menjadi pengerak dari waktu ke waktu.

3. Unsur kebenaran sejarah: Sebuah gagasan yang spesifik terhadap

kebudayaan. Kebanaran dibuktikan dalam pengulangan yang terus

14
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dinyatakan sebagai hal yang benar oleh nenek moyang (Vansina,

2014:202).

4. Unsur kausaitas sejarah dan perubahan: Merupakan sebuah rangkaian

peritiwa yang terjadi, dimana hal ini memiliki keterkaitan terhadap

fenomena waktu dan situasi. Pengaruh yang terjadi di masa lalu

menyababkan sebuah perubahan berikutnya terhadap kualitas sejarah.

2.2.2 Sastra Sejarah

Sastra sejarah merupakan sebuah karya sastra yang banyak

mengandung unsur sejarah. Sastra sejarah dapat disebut juga sebagai

historiografi tradisional. Karya sastra yang banyak mengandung unsur

sejarah didalamnya disampaikan melalui lisan secara turun temurun. Sastra

sejarah merupakan salah satu bentuk kesusastraan Melayu tradisional yang

berisikan berbagai unsur sejarah. Hubungan antara sastra dan sejarah

saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan dalam

cerita yang tertuang dalam karya sastra bersifat tradisional tidak lepas dari

kejadian-kejadian di masa lalu (Wibowo 2013:90).

Menurut Jalila dan Ahmad (1993:24), sastra sejarah adalah segala

sesuatu yang merangkumi cerita dan terdapat berbagai unsur sejarah

didalamnya. Karya sastra tersusun atas unsur-unsur yang membangun

cerita tersebut sama hal nya dengan cerita yang memuat mengenai cerita di

zaman dahulu dan berfokus pada cerita yang bersifat istana sentris. Karya

sastra Melayu lama bersifat lisan khususnya pada kalangan kerajaan sangat

benyak mengandung unsur sejarah dan peristiwa atau kejadian di masa

lalu. Tokoh maupun alur saling berkaitan antara satu dnegan yang lainnya.

15
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya sastra sejarah tidak boleh ditulis hanya berlandaskan imajinasi

saja melainkan penulis yang mendapatkan cerita berdasarkan keterangan

lisan harus mampu mengkombinasi dnegan kejadian sebenearnya

berdasarkan fakta-fakta sejarah. Sastra sejarah juga mengenal colligation,

plot, dan sturuktur sejarah (Kuntowijoyo 2008:147). Adapun yang menjadi

perhatian khusus dalam mengkaji sebuah karya sastra yang bersifat sejarah

adalah sturuktur pembangun cerita tersebut tidak lepas dari cerita fiksi

lainnya. Namun, hal yang membedannya ialah sastra sejarah merupakan

bagian cerita yang bersifat faktual dan bagain dari cerita serta kejadian-

kejadian di masa lalu.

Dalam sastra sejarah pendekatan ini merupakan bagaian dari

kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terperinci untuk

mengungkap dan mendeskripsikan sebuah masa lalu melalui sebuah cerita

yang kaya akan aspek seni, sastra dan sejarah. Penelitian yang dilakukan

khusunya pada bidang sastra sejarah haruslah berfokus pada studi

dokumentasi baik berupa bangunan, makam, istana, maupun masyarakat

yang mengekalkan cerita secara lisan yang diwariskan secara turun

temurun. Kegiatan pengkajian dalam sastra sejarah merujuk pada sumber

primer dan sumber sekunder yang menjadi acuan dalam mendapatkan

informasi yang bersifat faktual. Sastra sejarah juga kaya akan nilai-nilai

sejarah dan kearifan lokal yang dapat dijadikan pedoman hidup yang

terkandung dalam cerita lisan maupun tulisan masyarakat khususnya pada

masyrakat Melayu (Latif 2009:45).

16
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Dasar

Pada pengembangannya penelitian, metode dasar sangat diperlukan agar

dapat mengembangkan penelitian secara luas. Metode dasar yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian

kualitatif merupakan penelitian yang bersifat murni artinya semua sumber data

diolah menjadi bahan serta dibahas secara ilmiah. Metode kualitatif sering disebut

juga sebagai metode penelitian naturalistik karena pada penelitianya bersifat

alamiah. Penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa

yang dialami oleh subjek peneliti misalnya perilaku, persepsi, motifasi, tindakan

dan lain-lain secara holistik dengan tujuan untuk memahami, mencari makna

dibalik data untuk menemukan kebenaran baik kebenaran empiris dan logis

(Moleong 2006:6).

3.2 Sumber Data

Sumber data menjadi bagian penting dalam penelitian. Menurut Moleong

(2006:157), sumber data dalam penelitian kualitatif adalah berupa kata-kata, dan

tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen, keterangan atau

artefak lainya. Dalam penelitian ini sumber yang digunakan terdiri dari dua

macam, yaitu sumber data primer sebagai data yang utama dan sumber data

sekunder sebagai data tambahan.

17
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah cerita silsilah Kerajaan

Indragiri yang berkembang pada masyarakat Melayu Riau. Dimana

cerita secara langsung diperoleh dari narasumber atau informan terkait.

2. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah berupa laporan

penelitian, jurnal terkait, buku, arsip maupun dokumen yang

mendukung dalam penelitian ini. Moleong (2006:159), menyatakan

dokumen dan foto menjadi bagian data pelengkap dalam penelitian

kualitatif agar data yang diperoleh bersifat relevan.

3.3 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah serangkaian alat yang diperlukan dan

dipergunakan untuk mengumpulkan data. Hal ini memfokuskan pada ke semua

alat yang akan digunakan pada saat melakukan penelitian bertujuan untuk

mengumpulkan data, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, menganalisis, dan

menyajikan data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan

masalah. Berikut ini adalah alat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya:

1. Alat rekaman: digunakan untuk merekam semua cerita yang dituturkan

oleh informan dan sebagai media untuk mengambil gambar terhadap hal

yang mendukung objek penelitian.

2. Buku catatan dan pulpen: digunakan untuk mencatat segala sesuatu yang

dianggap penting dalam penelitian.

3.4 Lokasi Penelitian

Dalam hal ini lokasi penelitian yang dilakukan bertempat di Kecamatan

Rengat Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Jika ditinjau lokasi lebih

18
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mendalam maka lokasi berada pada dua kecamatan yang berdampingan dengan

Kecamatan Rengat Barat (Pematang Reba), dan Kecamatan Kuala Cinako yang

dilintasi oleh sungai Indragiri. Adapun alasan mendasar memilih lokasi tersebut

dikarenakan wilayah merupakan wilayah Melayu yang kental akan tradisi lisan,

sejarah, sastra dan kebudayan Melayu serta di lokasi tersebut adalah pusat dari

Kerajaan Indragiri pada masa lalu. Banyak peninggalan sejarah seperti replika

istana Indragiri, pemakaman para raja, dan rumah tinggi dari Kerajaan Indragiri.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode yang dilakukan peneliti dalam penelitian yaitu metode lapangan atau

yang sering disebut sebagai Field Research. Dimana dalam memperoleh informasi

peneliti secara langsung mengadakan pengamatan sehingga memperoleh

informasi yang lengkap dan jelas. Adapun pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara berikut ini:

1. Metode observasi

Observasi diartikan sebagai segala pengamatan dan pencatatan yang

tersusun secara sistematis terhadap gejala yang terlihat pada objek penelitian

tersebut. Endraswara (2008:29), menyatakan observasi merupakan bagian utama

dalam aktivitas pengetahuan yang bertujuan untuk merasakan dan memahami

fenomena yang ada. Dalam pengumpulan data ini, peneliti melakukan observasi

terhadap wilayah Kerajaan Indragiri, pemakaman raja dan lingkungan masyarakat

yang bertempat tingal di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi

Riau yang mendukung cerita tentang Kerajaan Indragiri.

19
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Metode wawancara tak struktur

Menurut Sugiyono (2017-25), Wawancara tak struktur adalah

wawancara yang dilakukan peneliti dengan tidak menggunakan panduan atau

pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis maupun terperinci

dalam mengumpulkan datanya sebanyak mungkin. Dalam pelaksanaanya

wawancara tak struktur peneliti dapat bertanya seputar hal yang tidak

berhubungan ke arah yang akan diteliti namun lebih ke pendekatan terhadap

informan yang mengetahui tentang objek penelitian.

3. Metode dokumentasi data

Dokumentasi dapat berupa sebuah cara untuk mencari beberapa hal

yang menarik seperti naskah, buku, transkip, prasasti, catatan, majalah, dan surat

kabar terkait. Sugiyono (2017:140), menyatakan bahwa salah satu pelangkap dari

sebuah penelitian yaitu adanya sebuah dokumentasi yang menggunakan metode

wawancara serta megetahui lokasi dalam penelitian yang bersifat kualitatif

sehingga data yang diperoleh bersifat akurat dan dipercaya. Sebuah dokumentasi

data dapat dilakukan dengan kunjungan terhadap tempat yang berkaitan langsung

dengan Kerajaan Indragiri, pemakaman, maupun replika istana dari kerajaan

tersebut.

3.6. Metode Analisis Data

Proses analisis data penelitian kualitatif terjadi ketika penelitian berlangsung.

Dimana analisis data terjadi ketika sebalum penelitian berlangsung, ketika

penelitian berlangsung, dan kita selesai penelitian. Hal ini dikarenakan proses

analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat menyeluruh dari sebelum-hingga

20
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sesudah penelitian dilakukan. Afrizal (2016:175-176), berpendapat analisis

penelitian kualitatif merupakan sebuah proses yang bersifat sistematis untuk

menentukan bagian yang saling berkaitan antar bagian lainya secara menyeluruh

dari data yang telah dikumpulkan untuk bertujuan menghasilkan klasifikasi

maupun tipologi baru dalam menganalisis data. Berikut ini langkah-langkah yang

dilakukan dalam menganalisis data penelitian cerita Kerajaan Indragiri adalah

sebagai berikut:

1. Menyalin kembali cerita tentang silsilah Kerajaan Indragiri berdasarkan

penelitian di lapangan.

2. Memberikan penomoran pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri.

3. Memahami data secara keseluruhan.

4. Mengkelompokkan data berdasarkan rekaman dan catatan dilapangan.

5. Menganalisis data berdasarkan bagian teori yang digunakan.

6. Membuat kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan.

21
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah Indragiri Hulu

Deskripsi atau gambaran yang akan diuriakan terhadap wilayah Kabupaten

Indragiri Hulu dimulai dari letak geogerafis, jumlah penduduk, keadaan penduduk

berupa sosial, ekonomi, budaya, serta mata pencaharian di Kabupaten Indragiri

Hulu.

4.4.1 Letak Geografis

Kabupaten Indragiri Hulu merupakan salah satu dari 12 Kabupaten-Kota di

Provinsi Riau. Ibu kota kabupaten ini adalah kota Rengat. Menurut Undang-

Undang No 53 Tahun 1999, wilayah Kabupaten Indragiri memiliki luas 8.195,26

km² atau 819.826 hektar. Secara astronomis letak Kabupaten Indragiri Hulu

berada pada posisi koordinat 0 1 Lintang Utara - 10 Lintang Selatan dan 101

10 Bujur Timur - 102 Bujur Barat (BPS Kabupaten Indragiri Hulu 2019).

Kabupaten Indragiri Hulu berada pada posisi yang sangat strategis sebagai jalur

lintas timur sumatera dengan posisi Kabupaten Indragiri Hulu berbatasan dengan

kabupaten dan provinsi disebelahnya:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan.

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hilir.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kuantan Singingi.

22
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 1 Peta Kabupaten Indragiri Hulu.
(https://wwwpeta+kabupaten+indragiri+hulu.com) diakses pada 10 Maret 2020.

Secara administrasi, Kabupaten Indragiri Hulu terdiri dari 14 kecamatan,

178 desa dan 16 kelurahan. Jumlah desa dan kelurahan berdasarkan pengamatan

dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Daftar Tabel I Jumlah Desa Dan Kelurahan Berdasarkan Kecamatan Di

Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2019.

No. Kecamatan Desa Kelurahan Jumlah

1. Batang Cinaku 10 - 10

2. Batang Gangsal 20 - 20

3. Batang Peranap 10 - 10

4. Kelayang 16 1 17

5. Kuala Cinaku 10 - 10

6. Lirik 17 - 17

23
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
7. Lubuk Batu Jaya 9 - 9

8. Pasir Punyu 8 5 13

9. Peranap 10 2 12

10. Rakit Kulim 19 - 19

11. Rengat 10 6 16

12. Rengat Barat 17 1 18

13 Seberida 10 1 11

14. Sungai Lala 12 - 12

Jumlah 178 16 194

Sumber: BPS Kabupaten Indragiri Hulu (2019).

4.4.2 Jumlah Penduduk

Pada Kabupaten Indragiri Hulu jumlah penduduk berdasarkan hasil

pengamatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Indargiri Hulu pada tahun 2019

rata-rata meningkat. Jumlah penduduk Kabupaten Indragiri Hulu meningkat dari

425,897 jiwa pada tahun 2017 menjadi 433,933 jiwa pada tahun 2018 menjadi

441,789 jiwa pada tahun 2019. Tingkat pertumbuhan penduduk pada Kabupaten

Indragiri Hulu tidak memiliki kenaikan yang sangat besar setiap tahunya

diperkirakan memiliki kenaikan sekitar 100 ribu penduduk di Kabupaten Indragiri

Hulu. Wilayah Indragiri Hulu dengan luas sekitar 8.195,26 km² dapat memenuhi

kebutuhan tempat tinggal masyarakat dengan lahan yang masih tersedia.

24
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4.3 Keadaan Masyarakat

Keadaan masyarakat menjadi salah satu ukuran apakah kabupaten

memiliki perkembangan dan kemajuan diberbagai bidang. Pada Kabupaten

Indragiri Hulu keadaan masyarakatnya dapat dilihat sebagai berikut berdasarkan

hasil pengamatan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu pada tahun

2019 sebagai berikut:

4.4.3.1 Keadaan Sosial

Keadaan sosial pada masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu tergolong

sangat beragam. Dari segi suku yang bertempat tingal di Kabupaten Indragiri

Hulu memiliki keunikan tersendiri. Suku asli dari kabupaten Indragiri Hulu ialah

suku Talang Mamak meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak sekitar 20 %, suku

yang mendiami selanjutnya adalah suku Melayu sekitar 40 % tersebar merata

disetiap wilayah kabupaten Indragiri Hulu terutama sangat banyak di kota Rengat

sebab sesuai dengan lokasi tempat beradanya pusat pemerintahan terakhir

Kerajaan Indragiri, berikutnya adalah suku Jawa sekitar 8 %, suku Banjar sekitar

7 %, suku Batak sekitar 5 %, suku Minang sekitar 15 % dan etnis Tionghoa

sekitar 5 % (Sensus Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2019).

Keberagaman suku yang bertempat tinggal di Kabupaten Indragiri Hulu

menambah keharmonisan dalam bermasyarakat. Selain itu masyarakat Melayu

juga sangat toleransi dan terbuka terhadap pendatang yang ingin tinggal di

Kabupaten Indragiri Hulu.

25
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4.3.2 Keadaan Ekonomi

Pada masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu keadaan ekonomi masyarakat

berdasarkan pengamatan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu

pada tahun 2019 sifatnya beragam, artinya keadaan ekoniomi masyarakat

Kabupaten Indragiri Hulu tidak seluruhnya sejahtera tergantung pada pendapatan

dari setiap masyarakatnya. Dari segi sektor pekerjaan petani merupakan pekerjaan

yang mendominasi selain itu ada juga yang berkebun baik berupa kebun sawit

maupun kebun karet, masyarakat kebanyakan bergantung pada hasil pertanian

mereka demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbeda dengan para pegawai

maupun pekerjaan lainnya yang sudah memiliki nominal tetap untuk diterima

perbulannya.

4.4.3.3 Keadaan Budaya

Di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu yang beragam masyarakat banyak

memiliki budaya yang terwariskan secara turun-temurun. Sesuai dengan suku

yang paling banyak ialah suku Melayu sekitar 40 % dan suku Talang Mamak 20

%. Banyak diketahui memiliki beragam kebudayaan. Dari segi peninggalan

kebudayaan banyak terdapat situs makam raja-raja Indragiri, rumah tinggi, serta

cerita mengenai Kerajaan Indragiri itu sendiri. Selain itu terdapat sebuah tradisi

kebudayaan yang diadakan setiap tahunnya yaitu tradisi pacu jalur, pengobatan

balai terbang, tari-tarian, bahasa, pantun serta makan khas dari Kabupaten

Indragiri Hulu. Masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu terkenal dengan

masyarakatnya yang berbudaya, dengan mengedepankan ciri khas kebudayaan

Melayu menjadi petanda bahwa masyarakat Melayu sangat ramah.

26
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4.4 Mata Pencaharian

Masyarakat Indragiri Hulu memiiliki mata pencaharian yang beragam.

Berdasarkan hasil perhitungan Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu

dengan jumlah penduduk di tahun 2019 mencapai 441.789 orang terdiri dari

226.505 perempuan dan 215.284 laki-laki. Masing masing penduduk Kabupaten

Indragiri Hulu dari rentang usia prodiktif bekerja mereka tersebar diberbagai

sektor mata pencaharian. Pertanian menjadi mata pencaharian terbesar pada

masyarakat Malayu Indragiri Hulu hasil pertanian tersebut berupa bahan pangan

maupun kebutuhan pokok lainnya disusul perkebunan berupa kelapa sawit dan

karet lalu berdagang, pegawai negeri sipil dan industri lainnya.

27
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2 Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri

Cerita silsilah kerajaan Indragiri merupakan cerita yang berasal dari

masyarakat kabupaten Indragiri Hulu tepatnya di Provinsi Riau. Cerita tersebut

adalah cerita yang disampikan secara lisan yang dihimpun dari berbagai informan

(Raja Tom Fatma, Saharan, Raja Herman Maulana Dan Guntur) sehingga

membentuk sebuah satu cerita yang utuh mengenai cerita silsilah Kerajaan

Indragiri. Pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri berikut diberikan penomoran

disetiap paragraf hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahami

setiap analisis yang ada. Berikut ini adalah cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang

telah pengkaji rangkum:

CERITA SILSILAH KERAJAAN INDRAGIRI

Kerajaan Indragiri dikisahkan dalam cerita yang sangat panjang. Dahulu

kala cerita ini bermula dari seseorang nan masyur dan gagah perkasa dari negeri

Malaka. Kerajaan Indragiri bermula dari seorang Raja Malaka ke empat (IV)

bernama Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk

bergelar Sultan Muhammad Syah. Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar

Sultan Muhammad Syah adalah pemimpin yang bijaksana dan gagah perkasa di

Kerajaan Malaka. Selain itu Sultan Muhammad Syah telah memeluk agama Islam

dengan bimbingan Said Abdul Aziz yang datang dari Jeddah-Arab Saudi. Pada

masa pemerintahan Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar Sultan Mahammad

Syah wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka ke empat (IV) tesebar dari Malaka

hingga wilayah Indonesia tepatnya di wilayah Indragiri, provinsi Riau saat ini.

Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri pada tahun 1298 M dengan raja pertama

28
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yaitu Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin

Inayatsyah. Dahulunya pusat kerajaan berada di wilayah Keritang. Sultan Malaka

ke empat mempunyai seorang putra mahkota yang bernama Raja Kecik Mambang

alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah dan saudara kandung

bernama Raja Ibrahim alias Raja Abu Sahid yang menjadi Sultan Malaka ke lima

(V) sekitar tahun 1343 sampai 1344 M serta Raja Kasim gelar Sultan

Musyafarsyah yang menjadi Sultan Malaka ke enam (VI) sekitar tahun 1344

sampai 1384 M. Raja Merlang I diketahui memiliki seorang putra bernama Raja

Iskandar Pahlawan alias Nara Singa I. Pada masa kepemimpinan sultan Malaka ke

empat, sultan menobatkan Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar

Sultan Alauddin Inayatsyah untuk memimpin wilayah taklukannya di daerah

Keritang (Indragiri) sebagai cikal bakal Kerajaan Indragiri. Namun Raja Merlang

I tidak berada di lokasi kerajaan untuk memimpin kerajaanya. (1)

Dalam mengurus persoalan kerajaan Raja Merlang I memberikan kuasa

kepada dua orang Datuk yang dipercayai untuk mengurus Kerajaan Indragiri yang

cikal bakalnya dari wilayah Keritang. Kedua Datuk tersebut yaitu Datuk Patih

selaku perdana mentri dan Datuk Temenggung Kuning selaku mentri kerajaan

serta para pembesar kerajaan lainnya. Tak lama kemudian Raja Merlang I jatuh

sakit lalu wafat mendahului ayahnya Sultan Malaka empat (IV) pada tahun 1337

M dan dimakamkan di Malaka. Setelah Raja Merlang I wafat kepemimpinan

dilanjutkan oleh putra mahkota Raja Iskandar Pahlawan alias Nara Singa I sekitar

tahun 1337 sampai dengan 1400 M dan masih tetap tinggal di Malaka dan urusan

kerajaan masih tetap dilanjutkan oleh para Datuk beserta anggota kerajaan.

Pergantian kepemimpinan setelah beberapa bulan Raja Merlang I mangkat secara

29
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
perlahan Sultan Iskandar Pahlawan alias Raja Nara Singa I mengikuti jejak

kepemimpinan ayahnya. Sultan Iskandar Pahlawan alias Nara Singa I pada

akhirnya menikah dengan Raja Emas Jauhari anak dari Raja Kasim bergelar

Sultan Musyafarsyah Sultan Malaka ke enam (VI). (2)

Dari pernikahaan Sultan Iskandar Pahlawan dengan Raja Emas Jauhari

dikaruniai seorang putra yang pertama bernama Raja Merlang II bergelar Sultan

Jamalluddin Inayatsyah dan dari pernikahan Sultan Iskandar Pahlawan dengan

Raden Rara Ayu Dewi Sri dari Kerajaan Galuh Pajajaran, dikaruniai seorang putra

bernama Raja Tubun. Seiring berjalanya waktu anak Sultan Iskandar Pahlawan

tumbuh besar dan memiliki jiwa yang perkasa seperti ayahandanya. Tak lama

kemudian Raja Iskandar Pahlawan mangkat dikarenakan sakit keras yang beliau

derita dan dimakamkan di Malaka. Selanjutnya, Raja Merlang II gelar Sultan

Jamalluddin Inayatsyah menggantikan ayahnya menjadi raja Indragiri ke tiga (III)

pada tahun 1400 sampai dengan 1474 M. Raja Merlang II menikah dengan

seorang putri anak dari Raja Abdullah bergelar Sultan Mansyursyah yang menjadi

sultan Malaka ke tujuh (VII) yang bernama Raja Putri Bakal. Dikisahkan Putri

Bakal adalah seorang putri yang sangat cantik. Pada masa kepemimpinan Raja

Abdullah bergelar Sultan Mansyursyah Melaka memiliki hubungan yang dekat

dengan Kerajaan Majapahit sehingga Sultan Melaka ke tujuh (VII) sudah

menganggap seperti saudara sendiri disamping adanya hubungan kerjasama antara

Kerajaan Malaka dengan Kerajaan Majapahit pada masa itu. (3)

Sampai pada tahun 1410 M Raja Merlang II gelar Sultan Jamalluddin

Inayatsyah belum memiliki keturunan, hal ini membuat kecemasan para anggota

kerajaan termaksuk Raja Abdullah bergelar Sultan Mansyursyah ayah dari Raja

30
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Putri Bakal. Akhirnya Sultan Malaka ke tujuh (VII) berencana untuk datang

berkunjung ke Kerajaan Majapahit untuk bertemu dengan Hayam Wuruk bersama

dengan anak dan menantunya dengan maksud meminta bimbingan serta

pencerahan atas masalah yang sedang dihadapi sultan saat itu. Akhirnya, sultan

beserta rombongan pergi berlayar menuju pulau Jawa dengan didampingi oleh

beberapa kapal dan dan sampai disana. Pihak Kerajaan Majapahit menerima

dengan baik kehadiran dari rombongan Kerajaan Malaka. Raja Abdullah pun

menyampaikan maksud tujuan mereka datang ke Majapahit. Akhirnya, Hayam

Wuruk mengizinkan mereka dan memberikan pencerahan serta masukan demi

kebaikan dalam Kerajaan Malaka, selain itu Hayam Wuruk juga memberikan

nasehat kepada Raja Merlang II dan Raja Putri Bakal untuk tetap sabar dan tetap

berdoa kepada yang kuasa, kemudian Sultan dan rombongan beranjak pulang ke

tanah Malaka. (4)

Tak lama kemudian Raja Putri Bakal mengandung lalu melahirkan seorang

putra mahkota dan diberi nama Raja Nara Singa II bergelar Paduka Maulana Sri

Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam. Dikarenakan rasa bahagia

yang begitu besar di Kerajaan Malaka atas lahirnya putra mahkota Raja Merlang

II dan Putri Bakal yang telah dinantikan bertahun-tahun dengan harapan kelak

akan menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin Kerajaan Indragiri yang

berpusat di Keritang. Dengan rasa bahagia Raja Merlang II dan segenap

pemimpin Kerajaan Malaka mewartakan bahwa Raja Nara Singa II yang bergelar

Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam

ditetapkan sebagai raja Indragiri yang ke empat (IV) meski pun umur beliau masih

muda. Pada Raja Tubun saudara sepupu dari Raja Merlang II mempunyai

31
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
keturunan seorang putra bernama Raja Isap. Raja Merlang II diketahui pernah

pergi bersama rombongan Sultan Mansyur Syah Malaka untuk meminang Putri

Raden Galuh Candera Kirana putri dari bahtera Majapahit kepergian itu diketahui

pula oleh pembesar Kerajaan Melaka bernama Tun Bajasura serta sembilan orang

hulubalang yang mahir bersenjata bernama Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang

Lekiu, Hang Ali, Hang Iskandar, Hang Hasan, Hang Husin, Hang Tuah, dan Hang

Lekir. Di sekitar tahun 1473 M Raja Merlang II gelar Sultan Jamalluddin

Inayatsyah mangkat dimakamkan di atas bukit Kampung Raja Pogoh-Johor

makamnya bersebelahan dengan Sultan Alauddinsyah. (5)

Dari ketiga masa kepemimpinan Raja Indragiri bertempat di Keritang yang

silih berganti secara turun-temurun dan banyak menimbulkan konfik serta tekanan

yang membuat kerajaan harus miliki raja yang bertempat tinggal di Kerjaan

Indragiri. Berdasarkan cerita, bahwa ketiga raja yang memimpin terlebih dahulu

di Kerajaan Indragiri tak satu pun dari mereka berada di lokasi kerajaan hingga

akhirnya mangkat dan wafat lalu dimakamkan di tanah Malaka. Urusan kerajaan

di atur oleh para Datuk dan petinggi kerajaan lainnya. Hingga pada akhirnya

terjadi kesimpangsiuran dan ke tidak sepahaman antara Datuk Patih dengan Datuk

Temenggung Kuning dalam menjalankan tugas yang mereka terima. (6)

Disisi lain terjadi juga penyerangan dari kerajaan luar seperti Kerajaan

Singosari, Kerajaan Mongolia serta Bangsa Portugis serta kerajaan di luar

Sumatera yang berpusat di muara Sungai Indragiri serta tekanan dari Kerajaan

Melaka yang meminta untuk Raja Nara Singa II memberikan upeti terhadap

Kerajaan Malaka atas hasil bumi Indragiri. Pada saat itu terjadi juga kericuhan di

wilayah perbatasan antara Keritang dan Jambi dengan datangnya para pengungsi

32
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dari wilayah Jambi sehingga suku Talang Mamak sebagai suku asli dari wilayah

Keritang meminta agar hal ini cepat teratasi dikarenakan serangan dari Kerajaan

Singosari dalam melakukan ekspansi di wilayah Jambi. Secara diam-diam

ternyata adik sepupu Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam yaitu

Raja Isap melakukan penyerangan ke Indragiri untuk merebut tahta Kerajaan

Indragiri yang telah di pangku oleh abang sepupunnya sendiri. Raja Isap memiliki

sifat yang congkak, angkuh, tidak menunjukkan pembawaan dan sifat sebagai

anak keturunan bangsawan lebih-lebih dalam hal berdagang, suka mengicuh dan

menipu orang. Akhirnya Raja Isap diusir dari negeri Indragiri oleh rakyat dibantu

oleh Tun Kecik Datuk Bendahara dan Tun Ali. Raja Isap pindah ke Daik dan

menjadi menantu oleh Raja Terengganu serta memiliki banyak anak. (7)

Kericuhan itu pun terus terjadi di Kerajaan Indragiri hingga akhirnya

Datuk Patih berfikir bahwa raja harus di jemput untuk memimpin di kerajaan.

Hari terus berganti minggu, minggu beganti bulan, bulan berganti tahun dan

korban semakin banyak berjatuhan, di wilayah Malaka pun terjadi keseteruan

karena perebutan tahta kekuasaan. Pada suatu hari Datuk Patih mangajak Datuk

Temenggung Kuning untuk berunding di Bukit Bertingkah membicarakan maksud

untuk menjemput Raja Nara Singa II ke Malaka. Namun keinginan Datuk

Perpatih tak sepaham dengan Datuk Tumenggung Kuning dimana Datuk

Tumenggung merasa keberatan atas penjemputan raja dan dikenal dengan syair

berikut ini: (8)

Dari pertemuan di Bukit Bertingkah

Dekat keloyang demikian warkah

Kedua datuk saling bermusyawarah

33
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Walau akhirnya tiada searah

Bertikai patih dengan tumenggung

Maksut tuk patih tiada di dukung

Tumenggung mengambil jalan menikung

Niat tuk patih tetap berlangsung

(Sumber: Saharan).

Lalu akhirnya Datuk Patih membulatkan tekat untuk menjemput Raja Nara

Singa II yang dijunjung agung akan kebijaksanaannya secara diam-diam yaitu

Raja Nara Singa II gelar Paduka Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah

Fil Alam dan ditulis dalam syair berikut ini: (9)

Datuk patih mengambil keputusan

Tetap untuk melakukan penjemputan

Kekota malaka arah tujuan

Rakit kulim kenderaan dinamakan

(Sumber: Saharan).

Diceritakan rakit kulim adalah nama perahu yang digunakan Datuk Patih

untuk menjemput sang Raja Nara Singa II. Rakit kulim adalah tiga perahu yang

dirakit menjadi satu dan terbuat dari kayu kulim yang terkenal sangat berat serta

tidak dapat mengapung di atas air. Tetapi dengan kekuatan serta ilmu yang

dimiliki Datuk Patih kayu kulim dapat mengapung dan dijadikan sebuah rakit.

Dalam perjalanannya Datuk Patih tidak berjalan sendirian melainkan ditemani

adiknya yang bernama Tun Kecik untuk mengarungi aliran sungai Indragiri yang

keruh menuju Kerajaan Melaka. Setibanya di Malaka rakit pun dikait di tepi

muara sungai Duyung lalu Tun Kecik mewartakan ke pada penjaga maksud dan

34
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
tujuan mereka datang ke negeri Melaka yaitu untuk menjemput Raja Nara Singa II

nama masyurnya. Kisah ini pun tertuang dalam syair yang dibunyikan oleh Raja

Nara Singa II, perhatikan syair berikut ini: (10)

Narasinga II lalu bertanya

Rakit berasal dari mana

Siapa saja orang di dalamnya,serta apa tujuan mereka.

Datuk patih mengangkat sembah

Pada Nara Singa II pemegang daulah

Mengharap baginda mengangkat titah

Lalu berujar sepenuh madah,

Nan patah mintak di tumbuhkan

Nan hilang minta di gantikan

Nan tenggelam minta di timbulkan

Nan usang patut di baharukan

Narasinga II menjawab pasti

Segala permintaan rakyat Indragiri

Akan beta junjung tinggi segala abdi

Berangkatlah kita ke Indragiri

(Sumber: Saharan).

Akhirnya Raja Nara Singa II pun setuju laku pergi meninggalkan tanah

Melaka di waktu subuh bersamaan dengan Tun Kecik dan Datuk Patih turun dari

istana menuju Durian Daun nama tempatnya lalu naik ke rakit kulim dan pergi ke

Indragiri menyusuri derasnya arus laut dan setibanya di sungai Indragiri Datuk

Patih, Tun Kecik dan Raja Nara Singa II kembali mengikuti arah sungai yang

35
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menuju ke hulu. Ketika Nara Sianga II menginjakkan kaki di rakit kulim ditaburi

dengan bertih buah kunyit lalu kakinya ditepung tawari serta langkah kakinya

diiringi dengan payung kuning berlambangkan naga bermain geliga. Namun

semasa itu Nara Singa II telah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama

Tun Gumala akan tetapi kisah cinta Tun Gemala dengan Nara Singa II tersebut tak

bersambut baik. Tun Gemala dikawinkan dengan Sultan Malaka dan membuat

Nara Singa II merasa sangat sedih. Dengan dasar kesedihan itulah Nara Singa II

membulatkan tekat untuk menuruti permintaan suku Langkah Lama disebut juga

suku Talang Mamak yang bermukim di Talang Jerinjing, Talang Peringi, Talang

Gadabu, Talang Sungai Limau, Talang Parit, Talang Ekuk, Talang Tujuh Buah

Tangga, dan Talang Akar di dekat Sungai Gangsal untuk menetap menjadi raja di

Kerajaan Indragiri bertempat di Keritang. Raja Nara Singa II pun akhirnya tiba di

Indragiri Hulu dengan rakit kulim tempat yang dituju bersama Datuk Patih serta

Tun Kecik adalah Gunung Tujuh namanya. Disana telah di tunggu oleh Bia Sri

Mayang Urai, Bia Sri Mayang Raya dan Raja Dang Purnama yang memiliki sifat

sopan serta rendah hati atau tidak congkak mereka semua adalah anak dari Dang

Sri Bunian. Dikisahkan bahwa Dang Sri Bunian adalah anak dari seorang Raja

Bunian atau makhluk halus yang mendiami wilayah Gunung Tujuh dan dinikahi

oleh Raja Tubun. Sesampainya Raja Nara Singa II disana salah satu anak dari

Dang Sri Bunian yaitu Raja Dang Purnama terpanah akan sosok Raja Nara Singa

II yang gagah dengan penuh pesona. Ketika Nara Singa II sampai di Indragiri

pemangku kerajaan melakukan penobatan sultan kepada Nara Singa II Kolam

Loyang nama tempatnya. Disana Nara Singa II dimandikan dan dikelilingi oleh

warga sambil mengeluh-eluhkan daulat tuanku- daulat tuanku- daulat tuanku

36
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sebanyak tiga kali dengan sebuah obor ditangan mereka masing-masing.

Penobatan itu juga diiringi oleh sebuah gendang nobat namanya, dimana terdapat

dua buah gendang peningkah dan sebuah suling napiri yang berbentuk naga konon

menjadi lambang kebesaran Kerajaan Indragiri. Dahulu kala diceritakan bahwa

suling napiri dan gendang nobat disimpan oleh pemangku kerajaan. Namun,

akhirnya suling dan gendang tersebut hilang tenggelam di muara sungai Indragiri

di daerah laut Tanjung Datuk dekat perbatasan Kerajaan Indragiri dan Riau-

Lingga, benda tersebut dibuang oleh Sultan Zainal Abidin Indragiri lalu

tenggelam dikarenakan sultan berat hati menyerahkan tahta kerajaan kepada Raja

Hasan gelar Sultan Salehuddin dan akhirnya Sultan Zainal Abidin pergi dan

tinggal menetap di Terengganu. Pada masa Kerajaan Indragiri jika raja mangkat

dari tahta yang akandiwariskan maka putra mahkota yang akan dinobatkan

menjadi sultan haruslah melakukan ritual ini. Setelah penobatan selesai, Raja Nara

Singa II pun melihat Dang Purnama lalu Dang Purnama mengutarakan isi hati

dengan syair yang terpanah akan sosok Raja Nara Singa II berikut ini syair Dang

Purnama: (11)

Dang purnama tiada kuasa

Untuk menutupi kekaguman hatinya

Meski melihat baru kali pertama

Rasanya ninda telah jatuh cinta.

Bagaimana tidak ninda jatuh cinta

Kepada Raja Nara singa II perwira perkasa

Rupa ada marwahpun ada

Elok pula budi lakunya.

37
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Apa yang dipakai serba kena

Dipandang serasi dengan orangnya

Demikian bawaan baginda Raja

Mata memandang teduh jadinya.

Demikian indah pakaian baginda

Baju kebesaran warna kesumba

Bertahta emas bintang gejora

Bersulam rebung berpancar mega.

Berseluar panjang delima jingga

Berkain samping bergaris saga

Belah mumbang tanjaknya sutra

Keris bersarung logam mulia

Keris dipakai sianak jantan

Pemagar diri pembela badan

Sikaf pembrani tak pilih lawan

Pengganti rusuk penambah keberanian

Melenggang masuk singa pahlawan

Muda belia kacak rupawan

Hati purnama telah tertawan

Kepada Raja Nara singa II rasa diserahkan

(Sumber: Saharan).

Sebaliknya Raja Nara Singa II pun terkagum atas kecantikan Raja Dang

Purnama yang diutarakan lewat bait syair untuk menggambarkan isi hatinya,

perhatikan syair berikut ini: (12)

38
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ketika tertangkap oleh pandangan

Raja Nara singa II terpukau dalam igauan

Antara mimpi dengan kenyataan

Keindahan cipta kekuasaan Tuhan

Rambut berjurai panjang terurai

Sepadan perawakan tinggi semampai

Gerak beratur lemah gemulai

Bagai bidadari dalam mahligai

Lagu sepantun pakaian sesuai

Baju biduanda mutiara bersimpai

Bersunting ratna intan berantai

Berselendang kasa beralur cindai

Tersusun duku panca seloka

Menghiasi dada dang purnama

Berselang ratnadatu berlaga

Bertajuk mara berjulang geliga

Bersunting melur semerbak mewangi

Bercindai kasa meningkam puri

Intan permata bertahta dijari

Memikat Raja Nara Singa sepenuh berahi

Ketika rindu datang menyerang

Apa dibuat serba tak tenang

Berucap sendiri gila lah bayang

Membayangkan purnama bantal ditimang.

39
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dendam sahaya berdapat dapat

Kepada purnama niat dah bulat

Hidup mawaddah dalam munakahat

Membina mahligai mengikut syariat

Ketika hari senja temaram

Diufuk barat mata hari tenggelam

Utusan tiba menjelang malam

Ke gunung tujuh cinta bersulam

Bulan mengambang di kota malaka

Lenyap cahaya di telan purnama

Putus cinta berganti asmara

Di gunung tujuh bertemu jodohnya

(Sumber: Saharan).

Dalam cerita Raja Nara Singa II akhirnya menampatkan hatinya dan

menikah dengan Raja Dang Purnama atau nama sanjunganya Kelopak Pandan

Kuning anak dari Dang Sri Bunian. Konon katanya perkawinan Nara Singa II

dengan Dang Purnama dihadiri oleh Raja Pagaruyung dan orang-orang

pembesarnya. Dari hasil pernikahan tersebut Raja Nara Singa II dikaruniai dua

orang anak laki-laki. Anak laki-laki pertama Ussulluddin Hasansyah dan yang

kedua Raja Ahmad gelar Sultan Mohamadsyah. Dimana kelak para putra raja

tersebut mampu mewarisi tahta kerajaan. Pada masa pemerintahan Raja Nara

Singa II pusat Kerajaan Indragiri dipindahkan dari Keritang ke Pematang Tua atau

yang lebih dikenal sekarang dengan sebutan Pekan Tua sekitar tahun 1508 M.

Adapun hal yang menjadi alasan terjadinya perpindahan tersebut dikarenakan di

40
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
wilayah Keritang dianggap tidak aman lagi bagi Raja Nara Sianga II karena sudah

banyak yang mengetahui tempat tersebut dari pihak luar kerajaan. Pada bulan

berikutnya Raja Nara Singa II akhirnya melakukan perjalan bersama Para Datuk

dan pengawalnya untuk melihat tempat yang cocok dijadikan lokasi kerajaan.

Maka dipilihlah Pekan Tua dan dibangun tempat yang baru disana dengan sebutan

Puri Tujuh. Namun pada masa pemerintahan Raja Nara Singa II di wilayah Pekan

Tua. Suasana tak begitu baik, terjadi serangan dari kerajaan lain dibagian muara

sungai Indragiri. Ditengah-tengah semangat raja untuk membangun negeri di

Pekan Tua. Namun terjadi hal yang tak dinginkan. Raja Dang Purnama jatuh sakit

dan tak diketahui sakitnya karena apa lalu meninggal dan dimakamkan di Kota

Raja Pematang Tua atau Pekan Tua. (13)

Raja Nara Singa II pun sangat terpukul dan sedih atas kepergian kekasih

hati yang sangat di cintai. Raja begitu gunda-gulana hingga berbulan-bulan

lamanya tetapi akhirnya raja sadar bahwa Raja Dang Purnama tak akan bisa

kembali lagi bersamanya. Melihat raja yang begitu sedih para pemangku kerajaan

mencoba memberi pencerahan serta nasehat agar raja tetap semangat dalam

menjalankan hari-harinya meski pun Raja Dang Purnama sudah tiada. Para Datuk

dan pemangku adat lainya mengingatkan kepada raja bahwa masih ada putra

mahkota yang menemani raja saat ini. Dari rasa kepedihan yang begitu dalam

Raja Nara Singa II mencoba bangkit dan bersemangat kembali lagi. Akhirnya

untuk menghilangkan rasa kesedihanya raja melakukan perjalanan atau yang

disebut dengan ekspansi ke arah hulu sungai. Waktu Raja Nara Singa II

menemukan wilayah hutan yang letaknya cukup tinggi serta dikelilingi oleh

pohon dan terdapat sungai serta danau didepanya. Raja Nara Singa II memiliki

41
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
seorang mufti serta menjadi penasehat kerajaan yang bernama Syeh Abdurrauf

Singkil yang berasal dari Aceh untuk menyebarkan agama Islam. (14)

Pada bulan berikutnya proses pembangunan Kerajaan Indragiri pun

belangsung secara bertahap. Disela-sela pembangunan kerajaan para Datuk dan

pemangku kerajaan bermusyawarah bersama Raja Nara Singa II untuk

membicarakan tentang tempat tinggal rakyatnya. Sadar akan serangan, Raja Nara

Singa II terlebih dahulu membangun benteng pertahanan lalu dibangun sebuah

istana yang bercorak Melayu dengan ukiran yang indah. Setelah semua selesai

dibangun lalu raja memberikan perintah kepada Datuk untuk menyampaikan

pesan dan mengajak semua warna untuk tinggal di Pekan Tua dan pindah secara

bersama-sama dengan raja di negeri yang baru yaitu negeri Menduyan atau Kota

Lama nama tempatnya. Mendengar perintah tersebut maka Datuk pun

memerintahkan askarnya untuk memberitahukan rakyat agar segera pindah.

Secara perlahan rakyat mulai pindah dan berduyun-durun menyusuri sungai serta

daratan yang dipandu oleh para askar kerajaan menuju Kota Lama. Dengan cara

berduyun-duyun warga pindah ke Kota Lama maka negeri itu disebut negeri

Menduyan dengan asal kata yaitu Menduyun-duyun. Kata Menduyan pun

dijadikan sebagai nama sebuah danau yang berada di depan komplek makam Raja

Nara Singa II saat ini. (15)

Di negeri Menduyan Raja Nara Singa II berserta dua putra mahkota serta

pemangku kerajaan terus membangun dan melakukan perluasan wilayah.

Kerajaan tersebut mengalami puncak kejayaan pada masa Raja Nara Singa II.

Kerajaan menjadi aman dan rakyat pun merasakan kemakmuran dengan hasil

bumi serta hasil perikanan yang ada di sungai Indragiri serta lautnya. Raja Nara

42
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Singa II tidak melupakan asal dari mana nenek moyang meraka beraja, kerajaan

tetap menjalin kerjasama dan ikut membantu jika Kerajaan Malaka dalam

kesusahan. Kejayaan Kerajaan Indragiri pun diperkuat dengan adanya kerajasama

dengan kerajaan lain seperti Kerajaan di pulau Jawa, Kerajaan Samudra Pasai, dan

Kerajaan Malaka serta kerajaan lainnya. Kerajaan Indragiri terkenal dengan hasil

rempah seperti merica dan lada serta hasil pertanian lainnya, maka banyak dari

kerajaan lain ingin menjalin kerjasama dengan Kerajaan Indragiri. (16)

Pada masa itu dikasahkan bahwa Kerajaan Malaka mengalami serangan

dari bangsa Portugis yang ingin merebut wilayah selat Malaka serta daratanya

karena terkenal dengan hasil bumi dan rempah-rempahnya. Banyak askar kerajaan

yang terbunuh pada peperangan tersebut. Sultan Malaka pun meminta bantuan

kepada Kerajaan Indragiri untuk membantu mereka dalam menghadapi bangsa

Portugis. Raja Nara Singa II menggerakkan seluruh askar untuk membantu Sultan

Melaka namun Kerajaan Indragiri juga ikut diserang oleh bangsa Portugis sekitar

tahun 1512 M. Akhirnya Kerajaan Malaka pun menang dalam pertempuran

tersebut dengan bantuan seorang askarnya yang kuat dari Sulawesi tepatnya dari

Kerajaan Bone, pertempuran tersebut berhasil menangkap panglima perang dari

bangsa Portugis dan menjadi tahanan Kerajaan Indragiri bernama Verdicho

Marloce. Dengan kekuatan seorang askar bernama Adi Sumpu Muhammad

dengan gelar Jukes Besi yang dikenal dengan kekuatannya dan tidak mempan

dengan benda tajam apa pun, maka sebelum Raja Nara Singa II megangkat

diangkatlah panglima Jukes Besi menjadi panglima kerajaan. Di tahun 1532 M

Raja Nara Singa II sebelum mangkat dikarenakan sakit berpesan untuk

dimakamkan di tanah perjuannya di negeri Menduyan yang disebut sekarang

43
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dengan Kota Lama. Semasa hidupnya Raja Nara Singa II selalu ikut dalam

pertempuran hingga beliau diberi nama sanjungan ke darat menjadi singa ke laut

menjadi naga dan disebut juga mambang buih raja di laut. (17)

Tahta Kerajaan Indragiri pun diwarikan kepada putra mahkota yang

bernama Sultan Ussulluddin Hasansyah yang menjadi sultan Indragiri yang ke

lima (V) memerintah mulai dari tahun 1532 sampai 1557 M. Ketika Sultan

Ussulluddin Hasansyah memerintah beliau tetap menjalankan dan mengikuti jejak

ayahnya yang bijaksana dalam memerintah Kerajaan Indragiri. Di masa Sultan

Ussulluddin Hasansyah naik tahta kerja sama kerajaan semakin di perluas

terutama pada kerajaan yang bercorak Islam Seperti Kerajaan Banten, Kerajaan

Demak, dan Kerajaan Pagaruyung. Sultan Ussulluddin Hasansyah diketahui

memiliki mufti kerajaan yang bernama Syeh Ahmad. Kemudian Sultan Ussulludin

Hasansyah mangkat sekitar tahun 1557 M dan dimakamkan di dekat makam

ayahnya Raja Nara Singa II di negeri Menduyan, karena Sultan Ussulludin

Hasansyah pada masa itu tidak memiliki keturunan sebagai pewaris tahta maka

adik kandungnya yang bernama Raja Ahmad bergelar Sultan Mohammadsyah

naik tahta menjadi sultan Indragiri ke enam (VI) pada tahaun 1557 sampai 1599

M. (18)

Raja Ahmad begelar Sultan Mohammadsyah dikisahkan menikah dengan

seorang putri yang cantik bernama Tun Emas Bungsu dengan nama sanjungan

puan Ancak Raja, Tun Emas Bungsu merupakan anak dari Datuk bendahara

paduka Raja Tun Mat Ali Malaka. Dari hasil pernikahan Raja Ahmad dengan Tun

Emas dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Raja Jamalluddin bergelar Sultan

Jamalluddin Keramatsyah, namun Raja Ahmad tiba-tiba jatuh sakit lalu mangkat

44
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dan tidak diketahui sebabnya. Setalah Raja Ahmad mangkat maka tahta Kerajaan

Indragiri dilanjutkan oleh putra mahkota yaitu Raja Jamalluddin yang bergelar

Sultan Jamalluddin Keramatsyah menjadi sultan Indragiri ke tujuh (VII) pada

tahun 1599 sampai dengan 1658 M. Raja Jamalluddin yang bergelar Sultan

Jamalluddin Keramatsyah memiliki tiga orang putra yang pertama bernama Sultan

Jamalluddin Sulaimansyah, kedua bernama Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah, dan

yang ketiga Sultan Mansyursyah. Ketika Sultan Jamalluddin Kramatsyah naik

tahta Kerajaan Indragiri pernah diserang oleh Kerajaan Aceh pada tahun 1623 M

yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh, serangan ini

bertujuan untuk memutuskan hubungan perdagangan lada antara Kerajaan

Indragiri dengan Kerajaan Minangkabau. Kerajaan Aceh merasa tersaingi dalam

perdagangan lada tersebut. Namun akhirnya Kerajaan Aceh tidak berhasil

menguasai karena Kerajaan Indragiri mendapat bantuan askar dari Kerajaan Riau

Lingga dan Kerajaan Jambi. Pada akhir tahun 1658 M Raja Jamalluddin yang

bergelar Sultan Jamalluddin Kramatsyah sultan Indragiri ke tujuh jatuh sakit lalu

mangkat sekitar tahun 1658 M. (19)

Pada masa itu terjadi kegaduhan dikalangan istana terutama pada ketiga

anak sultan yang bersikeras ingin menjadi raja. Para Datuk dan penasehat kerajaan

lainnya mulai kebingungan. Namun berdasarkan hukum adat istiadat Melayu yang

telah diterapkan oleh leluhur mereka maka kelanjutan tahta pemerintahan jatuh ke

tangan Sultan Jamalludin Sulaimansyah sebagai anak tertua dari tiga anak sultan

Indragiri ke tujuh. Sultan Jamalluddin Sulaimansyah diangkat menjadi raja

Indragiri ke delapan (VIII) memerintah di negeri Menduyan sekitar tahun 1658 M,

Pada masa Sultan Jamalluddin Sulaimansyah hubungan antara Kerajaan Indragiri

45
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dan Belanda terbuka dengan perjanjian kesepakatan dagang pada tahun 1664 M

berkedudukan di Kuala Cinaku. Tak lama kemudian Allah berkehandak lain

Sultan Jamalluddin Sulaimansyah mangkat pada tahun 1669 M dan diketahui

Sultan Jamalluddin Sulaimansyah memiliki keturunan bernama Raja Ali Mangku

Bumi atau yang dikenal dengan Sultan Zainal Abidin. Di masa Sultan Jamalluddin

Sulaimansyah diangkatlah Raja Ahmad Alamsyah Putra atau yang dikenal dengan

Raja Kesedangan sebagai pengawas kerajaan. Dikabarkan Raja Kesedangan

berasal dari Negeri Serdang, selain jadi pengawas kerajaan Raja Kesedangan

merupakan orang yang paham akan ilmu agama Islam atau yang sering disebut

sebagai mufti. (20)

Selanjutnya, tahta diserahkan kepada adik kadung ke II Sultan Jamalluddin

yaitu Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah yang naik tahta menjadi Raja Indragiri ke

sembilan (IX) dengan masa pemerintahan dimulai sekitar tahun 1669 sampai

dengan 1676 M. Diceritakan bahwa Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah memiliki

dua orang putra makota yang kelak manjadi penerus tahta bernama Sultan

Ussulluddin Ahmadsyah sebagai putra mahkota yang gagah perkasa dan mahir

dalam berperang yang diharapkan mampu menjadi tunas baru dalam melanjutkan

kepemimpinan di Kerajaan Indragiri bertempat di negeri Menduyan dan

saudaranya bernama Raja Qahar. Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah mangkat

karena mati berperang demi mempertahankan wilayah kekuasaan Kerajaan

Indragiri di perbatasan Keritang dan hingga saat ini makamnya diketahui raib

tidak diketahui. (21)

Setelah mangkatnya Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah maka yang naik

tahta diwariskan kepada putra mahkota yang bernama Sultan Ussulluddin

46
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ahmadsyah menjadi sultan Indragiri ke sepuluh (X) yang memerintah pada tahun

1676 sampai dengan 1687 M. Sultan Ussulluddin Ahmadsyah mempunyai

seorang anak yang menjadi putra mahkota bernama Sultan Abdul Jalilsyah dengan

harapan mampu mewarisi tongkat kepemimpinan raja di tangan pemerintahanya.

Sekitar tahun 1679 M kantor dagang Belanda yang berpusat di Kuala Cinaku

mendapat serangan dari pasukan askar Banten kurang lebih seratusan askar

dibawah kepemimpinan pangeran Arya Surya dan Ratu Bagus. Penyerangan ini

terjadi karena tidak suka pihak Kerajaan Banten atas berdirinya loji bangsa

Belanda di tanah nusantara. Diketahui Sultan Ussulluddin Ahmadsyah memiliki

jiwa yang keras sehingga berdampak pada sistem pemerintahan yang menekan

rakyat untuk patuh dan tunduk dengan perintah sultan. Ketika beranjak dewasa

Sultan Abdul Jalilsyah diberikan perintah untuk menangkap sebuah hewan buas di

hutan dan membawanya ke istana sultan bermasud untuk menguji sang anak,

Sultan Abdul Jalilsyah tidak mendapatkannya lalu Sultan Ussulluddin Ahmadsyah

marah dan seketika ia jatuh lalu mangkat pada tahun 1687 M. Para Datuk mengira

bahawa sang raja meninggal karena diguna-guna oleh kelangan luar kerajaan. (22)

Musyawarah mufakat para pemangku Kerajaan Indragiri pun bersambut

maka Sultan Abdul Jalilsyah dinobatkan sebagai pewaris tahta untuk melanjutkan

menjadi Raja Indragiri yang ke sebelas (XI) pada tahun 1687 M, kemudian Sultan

Abdul Jalilsyah menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Malaka yang cantik

dan sopan tingkahlakunya. Putri tersebut adalah anak dari Sultan Mahmudsyah

yang mangkat di julang Malaka. Putri tersebut bernama Raja Mah dari negeri

Malaka. Selain karena hubungan percintaan Sultan Abdul Jalilsyah menikah

dengan Raja Mah beralasan meningkatkan hubungan kerjasama yang semakin

47
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
baik dengan kerajaan lain. Dikisahkan dalam pernikahan Sultan Abdul Jalilsyah

dengan Raja Mah tidak memiliki keturun, meski pun sudah banyak hal yang

dilakukan oleh para anggota kerajaan untuk mencarikan obat yang mujarab agar

sang putri dapat memiliki keturunan dimana kelak dapat melanjutkan perjuangan

membangun negeri dan mempertahankan marwah raja. Pada akhirnya sultan

Abdul Jalilsyah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Namun kendali pemerintahan

tetap berada di tangan Sultan Abdul Jalilsyah hingga suatu ketika raja jatuh sakit

kemudian mangkat sekitar tahun 1700 M. Di masa sakitnya tersebut sultan dengan

kesadaran yang begitu kuat dan beriman kepada Allah SWT Sultan Abdul

Jalilsyah mengatakan kepada penasehat kerajaan bahawa segala sesuatu tidak ada

yang kekal dan abadi baik kekayaan, kedudukan, harta, tahta tidak dapat untuk

dimiliki, terkecuali amal kebaikan serta ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.

(23)

Di masa itu terjadi kegaduhan dan kegoncangan yang cukup besar karena

dari kalangan kerajaan mengetahui bahwa tiada lagi pemimpin di Kerajaan

Indragiri sebab Sultan Abdul Jalilsyah tidak memiliki putra mahkota. Siasat serta

adu domba terjadi dikalangan istana kerajaan disertai dengan aksi kecil sebagai

wujud dari tidak percaya atas kalangan istana kerajaan sendiri. Peritiwa ini

dikenal sebagai kegaduhan cukup mendalam, niat lain yang muncul dari

kegaduhan ini adalah munculnya siasat dari kalangan selir raja untuk menguasai

tahta di Kerajaan Indragiri pada masa itu. (24)

Akhirnya para pemangku Kerajaan Indragiri melakukan sidang akbar yang

dihadiri oleh para petinggi kerajaan yang dipimpin langsung oleh seorang Datuk

Bendahara kerajaan bernama Raja Usman Fadilah bergelar Datuk Bendahara

48
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Darah Putih atau yang sering disebut Tun Ali Mangku Bumi Indragiri beliau

terkanal dengan sosok yang bijaksana dalam menjalankan jabatan yang beliau

terima dari raja. Hasil dari sidang musyawarah mufakat tersebut maka diputuskan

bahwa yang layak menglanjutkan kepemimpinan dengan landasan bulat air karena

pembulu, bulat kata karena mufakat dan bersendikan berbunyi adat bersendi

syarak, syarak bersendikan kitabullah, syarak mengatakan, adat memakna.

Keputusan itu menetapkan Sultan Mansyursyah paman sepupu ayahanda Sultan

Ussulluddin Ahmadsyah dan Raja Qahar menjadi raja. (25)

Maka diwartakanlah Sultan Mansyursyah naik tahta menjadi raja Indragiri

ke dua belas (XII) sekitar tahun 1700 M memimpin negeri Menduyan saat itu.

Sultan Mansyursyah dikisahkan mempunyai seorang putra mahkota yang

diberinama Sultan Modamadsyah dan harapan baru diberikan kepada putra

mahkota tersebut untuk melanjutkan kepemimpinan dengan karisma dan bijaksana

serta berperang untuk membela Kerajaan Indragiri dari serangan pihak luar.

Kemudian sekitar tahun 1704 M Sultan Mansyursyah mangkat dikarenakan sakit.

Sementara kepemimpinan diwariskan kepada putra mahkota yang bernama Sultan

Modamadsyah menjadi raja Indragiri ke tiga belas (XIII) yang memerintah pada

tahun 1704 M. Sultan Indragiri ke tiga belas memiliki seorang putra mahkota

yang bernama Sultan Musyafarsyah begitulah nama masyurnya. Lebih kurang tiga

tahun saja Sultan Indragiri ke tiga belas menduduki tahta kepemimpinan Kerajaan

Indragiri lalu magkat dikarenakan sakit keras yang diderita dan menghembuskan

nafas terakhir pada tahun 1707 M, selanjutnya tahta Kerajaan Indragiri dilanjutkan

oleh putra mahkota bernama Sultan Musyafarsyah menjadi sultan Indragiri ke

empat belas (XIV) dan mulai memerintah pada tahun 1707 M. (26)

49
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Musyafarsyah yang menjadi Sultan Indragiri ke empat belas

memiliki keturunan yang pertama bernama Raja Hasan Gelar Sultan Salehuddin

Keramatsyah dan anak kedua bernama Raja Bergobak. Anak permaisuri dan “Raja

Abdullah Malikul Mubin” Ibu kandungnya adalah anak kandung Raja Ali

Mangku Bumi Indragiri, lebih kurang delapan tahun lamanya menjalankan roda

pemerintahan menjadi Indragiri kemudian pada tahun 1715 M Sultan

Musyafarsyah meninggal dunia serta meninggalkan duka yang sangat mendalam

bagi kalangan kerajaan. Diceritakan saat itu Sultan Musyafarsyah wafat

dikarenakan dibunuh oleh Raja Ali Mangku Bumi atau nama lain Sultan Zainal

Abidin, adapun alasan Sultan Zainal Abdin membunuhnya Sultan Musyafarsyah

telah karena membunuh adik Raja Ali Mangku Bumi bergelar Sultan Zainal

Abidin. Kejadian ini terjadi ketika Sultan Musyafarsyah menyuruh adik Sultan

Zainal Abidin untuk mengambil tepak sirih ke istana dan sewaktu itu bertepatan

kembalinya pemaisuri Sultan Musyafarsyah dan meletakkan tanjak di atas kepala

adik Sultan Zainal Abidin, selain itu kedua tangan adik Sultan Zainal Abidin telah

penuh dengan tepak sirih serta arah tanjak yang terlihat kebetulan disengaja disisi

kiri keadaan itu diartikan Sultan Musyafarsyah bahwa adik Sultan Zainal Abidin

tersebut telah berkasih-kasih dengan pemaisurinya lalu ditikam adiknya dengan

keris dan akhirnya mati. Mengetahui adiknya telah mati terbunuh oleh Sultan

Musyafarsyah. Sultan Zainal Abidin lalu marah dan membunuh Sultan

Musyafarsyah sewaktu Sultan mandi dalam kolam berbentuk peringi. (27)

Setelah mangkatnya Sultan Musyafarsyah terjadi perebutan kekuasaan

untuk menjadi raja saat itu. Perebutan tahta ini dilakukan antara saudara kandung

seibu dan saudara kandung lain ibu. Hingga akhirnya diangkatlah anak dari Sultan

50
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jamalluddin Sulaimansyah yang bernama Raja Ali Mangku Bumi bergelar Sultan

Zainal Abidin menjadi sultan ke lima belas (XV) kala itu, maka dengan

diangkatnya Raja Ali Mangku Bumi mendapatkan gelar manjadi Sultan Zainal

Abidin yang memerintah pada tahun 1715 M. Dikisahkan sekitar dua puluh tahun

lamanya Sultan Zainal Abidin Indragiri memerintah kemudian mangkat sekitar

tahun 1735 M dan di makamkan di Kuala Terengganu tepatnya dekat Masjid

Putih atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Tua Terengganu. Dikisahkan Raja

Ali Mangku Bumi atau yang dikenal dengan Sultan Zainal Abidin dari Indragiri

dan menetap di Kuala Terengganu dikarenakan kalah dalam peperangan dengan

Raja Bergombak yang berhasil merebut kembali tahta Kerajaan Indragiri atas

garis keturunan dari ayahnya Sultan Musyafarsyah. Kepergian Raja Ali Mangku

Bumi ke wilayah Terengganu diiringi pula oleh Datuk Perdana dan Datuk

Laksamana untuk menghantarkanya. (28)

Atas keberhasilan Raja Bergombak dalam merebut tahta Kerajaan

Indragiri yang awalnya dipegang oleh Raja Ali Mangku Bumi waktu itu, maka

Raja Bergombak menetapkan abangnya Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin

Keramatsyah menjadi sultan yang dipertuan besar Indragiri I dan Raja Bergombak

dinobatkan menjadi Raja Muda Indragiri I maka keturunan dari Raja Bergombak

disebut sebagai yang dipertuan muda. Raja bergombak memiliki keturunan

seorang putra bernama Raja Putera. Raja Hasan Gelar Sultan Salehuddin

Keramatsyah pun diangkat menjadi Raja Indragiri ke enam belas (XVI) naik tahta

pada tahun 1735 sampai dengan 1765 M. Para leluhur memberikan pengakuan

secara turun-temurun bahwa Raja Hasan Gelar Sultan Salehuddin Keramatsyah

mempunyai enam orang anak masing-masing bernama Raja Kecik Besar bergelar

51
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Sunan, Raja, Raja Ibrahim yang dahulunya menjadi panglima perang

sebelum menjadi raja Indragiri ke delapan belas, Tengku Puan Tengah, Tengku

Puan Muda, dan Raja Halimah atau yang dikenal dengan Tengku Puan Bungsu.

Pada masa kepemimpinan Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Kramatsyah

yang bertempat di negeri Menduyan atau dikenal dengan Kota Lama, ada

beberapa peristiwa pencapaian yang dilakukan masa kepemimpinan Raja Hasan

bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah yaitu adanya jabatan yang dipertuan

muda atau raja muda bagi pemimpin Kerajaan Indragiri, dikembangkannya

kembali undang-undang adat Kerajaan Indragiri yang dua pada saat itu dimana

undang-undang pertama adat Kerajaan Indragiri dibuat oleh Raja Nara Singa II

bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah

Filalam, adanya pengangkatan Syeh Ali Al-Idrus dari Hadramaut-Yaman sebagai

mufti Kerajaan Indragiri, adanya pengangkatan Penghulu Tiga Lorong sebagai

abdi kerajaan terdiri dari yang tua raja mahkota di Batu Rijal Kampung-Hulu,

Lela di raja di Batu Rijal Kampung-Hilir, dan dana Lela di Pematang serta adanya

penyerahan daerah batin (batin enam suku) atau pengelolaan daerah untuk

wilayah Kerajaan Indragiri terdiri dari Igal, Manda, Pelanduk, Bantaian, Pulau

Palas, dan Batang Tuaka. (29)

Pada masa Raja Hasan bergelar Sultan Salehhuddin Keramatsyah

memimpin juga terjadi peperangan yang sangat besar saat itu, disebabkan karena

datangnya Raja Bayang dari Minangkabau sekitar tahun 1755 M dengan

didampingi oleh Raja Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis dengan iringan

balatentara yang gagah perkasa. Kedatangan Raja Bayang bertujuan untuk

meminang Raja Halimah atau dikenal dengan Tengku Puan Bungsu yang tersohor

52
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
akan kecantikannya hingga ke negeri seberang. Namun, Raja Hasan bergelar

Sultan Salehuddin Keramatsyah menolak, sebab perilaku mereka sungguh sangat

tercela. Ketika pagi hari menjelang Raja Bayang datang untuk bertemu dengan

Sultan Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah dengan sifat angkuhnya

meminta untuk anaknya Raja Halimah atau dikenal dengan Tengku Puan Bungsu

ia peristri. Namun, sayangnya Sultan Hasan bergelar Sultan Salehuddin

Keramatsyah menolak permintaan itu. Penolakan ini berujung pada penyerangan

antar Raja Bayang dan pasukannya dengan pasukan Sultan Hasan bergelar Sultan

Salehuddin Kramatsyah. Namun, dengan kekuatan Raja Bayang dan pasukannya

Kerajaan Indragiri tertaklukkan, Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin

Keramatsyah dan pasukan pun menyingkir kesebuah daerah bernama Gaung tak

jauh dari istana Kerajaan Indragiri. (30)

Disanalah Sultan menyusun rencana bersama dengan Datuk dan

mentrinya, lalu mentri berkata kepada sultan bahwa ada seorang pangeran

bernama Pangeran Suta di Jambi yang sangat kuat. Tak perlu berfikir lama sultan

memerintahkan untuk memanggil Pangeran Suta tersebut untuk membantu

mereka. Datuk Tumenggung pun berlayar dari Gaung ke Jambi. Namun, Pangeran

Suta tidak berada di lokasi melainkan di Malaka untuk mengusir geran lanun.

Datuk Tumenggung akhirnya pergi ke Malaka lalu bertemu dengan Pangeran Suta

sambil menyampaikan maksud tujuannya. Pangeran Suta bersedia untuk

membantu Kerajaan Indragiri dalam mengusir Raja Bayang dan pasukannya

hingga akhirnya perang pun dimenangkan oleh Kerajaan Indragiri yang dibantu

oleh Pangeran Suta sekitar tahun 1755 M. (31)

53
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ketika itu Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah memimpin

Kerajaan Indragiri telah melakukan perpindahan secara bertahap pusat Kerajaan

Indragiri ke wilayah Japura, namun tidak secara menyeluruh. Di ceritakan bahwa

anak perempuan raja Indragiri ke enam belas yaitu Raja Halimah bergelar Tengku

Puan Bungsu menikah dengan seorang Raja Muda ke empat negeri Johor, Pahang,

Riau bernama Raja Haji Fisabilillah dan menetap di Daik sekitar tahun 1778

sampai 1784 M dan memiliki dua orang putri bernama Raja Buntit dan Raja

Tengah atau dikenal dengan Tengku Tengah. Melalui cerita yang beredar bahwa

Raja Buntit diperistri oleh Raja Sulaiman ayahnya Raja Arung Lingga dari pada

Sultan Riau Lingga, sedangkan Tengku Tengah menjadi pemaisuri dari yang

dipertuan besar Sultan Selangor ke II yaitu Raja Ibrahim Syah ayahnya ialah

Sultan Salehuddin bergelar Raja Lemu. Diceritakan bahwa Raja Haji Fasabillillah

dahulunya ikut dalam pertempuran melawan pemberontak yang ingin menyerang

negeri Melaka. Namun, akhirnya Raja Haji Fasabillillah mangkat dalam medan

pertempuran di Teluk Ketapang nama tempatnya. Pada tahun 1765 M Raja Hasan

bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah mangkat di Tambak tepatnya Desa

Sungai Raya, Kecamatan Rengat, Indragiri Hulu. (32)

Berdasarkan kisah pengakuan masyarakat yang diceritakan oleh leluhur

mereka bahwa di raja ke tujuh belas ini pusat Kerajaan Indragiri berpindah ke

Raja Pura atau yang disebut sekarang dengan Japura. Sultan yang naik tahta

menjadi raja Indragiri ke tujuh belas (XVII) adalah putra mahkota dari Raja Hasan

bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah yaitu Raja Kecik Besar Gelar Sultan

Sunan yang memerintah sekitar tahun 1765 M. Adapun alasan Sultan Sunan

memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Japura karena pada zaman itu terjadi

54
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
banjir yang sangat besar disekitaran Kerajaan Indragiri yang ada di Kota Lama.

Air tersebut berasal dari aliran sungai Indragiri. Selain itu Japura dianggap

sebagai tanah yang tinggi. Semenjak itulah kota raja negeri Menduyan berganti

nama menjadi Kota Lama artinya Kota Tua atau Kota Tinggal. Pada masa

kepemimpinan Sultan Sunan Kerajaan Indragiri pernah mengirim bantuan askar

untuk melawan bangsa Belanda yang dipimpin oleh Raja Haji Bin Daeng Celaka

untuk membantu Kerajaan Riau, Johor, Pahang berperang di Teluk Ketapang.

Selain itu askar Kerajaan Indragiri ditambah lagi dengan bantuan pasukan Melayu

dari Kerajaan Sulu. Dahulunya Kerajaan Indragiri telah menjalin kerjasama yang

baik dengan berbagai kerajaan di luar Sumatera salah satunya adalah Kerajaan

Sulu yang berkedudukan di Filipina yang luas kedaulatannya hingga ke wilayah

Sabah. Pada masa Raja Kecik Besar bergelar Sultan Sunan naik tahta diangkalah

Raja Putera yang bergelar Raja Putera Singkat Tangan menjadi raja muda ke II

Kerajaan Indragiri anak dari Raja Gombak, keturunan dari Raja Putera Singkat

tangan bernama Raja Moehammad. Diceritakan Raja Kecik Besar Gelar Sultan

Sunan mempunyai dua orang anak yang pertama bernama Raja Mun bergelar

Sultan Mun Bungsu dan yang kedua Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut

Keramat Gangsal. Disisi lain pada masa kepemimpinan Raja Kecik Besar bergelar

Sultan Sunan memiliki panglima perang yaitu Sultan Ibrahim. Sultan Ibrahim

adalah adik kandung dari Sultan Sunan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah

yang kala itu menjadi panglima perang di Kerajaan Indragiri dan pernah

memimpin perang 17 Juni 1784 M di Teluk Ketapang, tidak diketahui alasan yang

persis namun pada 1784 M Sultan Sunan mundur dari jabatannya sebagai raja

Indragiri dan menyerahkan jabatan kepada Sultan Ibrahim. Kemunduran Sultan

55
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sunan dari jabatanya dikarenakan telah terjadi sebuah peristiwa dimana Sultan

Ibrahim mendapati adanya tidak beresan dikalangan keluarga kerajaan, dalam hal

ini Raja Muda Putera Singkat Tangan sebuah perbuatan yang dianggap

bertentangan dengan ajaran agama Islam, sehingga dari kejadian ini Sultan Sunan

dianggap tidak tegas dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Kejadian itu

pun berujung terjadinya perpecahan dan peperangan dikalangan keluarga kerajaan

dimana pihak Raja Muda berpihak di Japura sedangkan Sultan Ibrahim berpihak

di kota lama. Akhirnya pertengkaran pun dimenangkan oleh pihak Sultan Ibrahim

dan pihak Raja Muda menyingkir ke Pelalawan, maka dengan kejadian itulah

Sultan Sunan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah memberikan tahta

kepemimpinana kepada Sultan Ibrahim hingga akhirnya Sultan Sunan pergi ke

Daik Lingga untuk menemui adik bungsungya yaitu Raja Halimah dan mangkat

disana tepatnya di dekat Masjid Daik Lingga Riau. (33)

Sekitaran tahun 1784 M Sultan Ibrahim naik tahta menjadi sultan Indragiri

ke delapan belas (XVIII) dengan bergelar Al Watiq Billah Paduka Sri Sultan

Ibrahim Baharuddin Alam Syah, dalam kisahnya Sultan Ibrahim memiliki tujuh

orang anak masing-masing bernama, Raja Said bergelar Sultan Said

Mudoyatsyah, Tengku Puan Tengah, Raja Hasan, Raja Hitam (perempuan), Raja

Lembut (perempuan), Tengku Puan Muda, dan Raja Abdul Rahman yang dikenal

dengan Tengku Bungsu ke semua anak Sultan Ibrahim tersebut lahir pada tahun

yang berbeda namun tidak diketahui secara pasti. Dikisahkan bahwa Sultan

Ibrahim pernah mengikuti perang yang cukup besar melawan kekuasaan Belanda

untuk merebut tanah Melaka yang dikenal dengan sebutan perang Teluk

Ketapang, ketika Sultan Ibrahim memimpin beliau mengangkat Raja Moehammad

56
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
anak dari Raja Putera Singkat Tangan menjadi raja muda ke III Kerajaan Indragiri

menggantikan ayahnya sebab pada masa itu telah terjadi kekosongan raja muda

atau yang dipertuan muda. Diketahui bahwa Raja Moehammad memiliki anak

bernama Raja Mansyur. Sekitar tiga puluh tahun lamanya Sultan Ibrahim

membangun tempat baru di Japura, maka ia memindahkan pusat kerajaan ke Kota

Rengat. Namun, tidak diketahui alasan yang pasti mengapa pusat kerajaan

dipindahkan ke Rengat. Sekitaran tahun 1815 M Sultan Ibrahim memanggil anak

dari Sultan Sunan dan mengembalikan garis tahta kepada Raja Mun bergelar

Sultan Mun Bungsu sebelum beliau mangkat sekitar tahun 1815 M sultan Ibrahim

berpesan untuk dimakamkan di negeri yang ia buka, lalu Sultan Ibrahim mangkat

dan dimakamkan di Masjid Raya tepatnya di Kampung Besar kota Rengat

sekarang. (34)

Setalah wafatnya Sultan Ibrahim maka resmilah Raja Mun gelar Sultan

Mun Bungsu menjadi raja Indragiri ke sembilan belas (XIX) pada tahun 1815 M,

ketika Raja Mun bergelar Sultan Mun Bungsu memerintah diceritakan bahwa

dahulunya Sultan Mun Bungsu pernah pergi untuk bertapa ke Daik Lingga. Pada

waktu itu Sultan Mun Bungsu bertapa dan pada malam ke tujuh sultan

menghentakkan tumit kanannya ke salah satu batu yang ada di puncak Gunung

Daik dan ketika turun dan sampai di lereng gunung Daik seketika gunung tersebut

runtuh sebelah. Selama masa Sultan Mun Bungsu memimpin Kerajaan Indragiri

berkedudukan di Rengat, maka salah satu keturunan dari Sultan Ibrahim yaitu

Raja Said bergelar Sultan Said Modayatsyah telah memulai sedikit demi sedikit

kericuhan untuk merebut tahta Kerajaan Indragiri. Namun semua upaya tersebut

belum berhasil dilakukan. Masyarakat Indragiri mempercayai bahwa dahulunya

57
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Mun Bungsu memiliki kesaktian yang sangat hebat, disisi lain Sultan Mun

Bungsu memiliki jiwa yang baik, mencintai warganya serta taat ilmu agama.

Hingga akhirnya sekitar tahun 1827 M Sultan Mun Bungsu mangat dan

dimakamkan di dekat Masjid Raya kota Rengat. (35)

Pada masa kekosongan tahta yang ditingkalkan Raja Mun bergelar Sultan

Mun Bungsu maka para Datuk tidak dapat memaksa keinginan sultan, maka

berdasarkan musyawarah mufakat ditetapkan Raja Umar bergelar Sultan

Berjanggut Keramatsyah Gangsal menjadi raja Indragiri ke dua puluh (XX)

sekitar tahun 1827 M. Keputusan ini diambil karena raja memiliki jiwa pemimpin

yang kuat serta arif dan bijaksana selain itu Raja Umar merupakan adik kandung

dari Sultan Mun Bungsu. Dikisahkan bahawa pada negeri Indragiri lahirlah

seorang anak dari Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut Keramat Gangsal yang

pertama bernama Tengku Nong maka bahagialah seluruh masyarakat di negeri

yang Raja Umar pimpin. Namun tak diketahui sebabnya Tengku Nong wafat di

usia muda. Selang beberapa tahun kemudian lahir seorang anak perempuan yang

diberi nama Tengku Ampuan Besar Sadiah anak dari Raja Umar. Tengku Ampuan

Besar Sadiah diceritakan pula memiliki watak baik dan suka menolong serta taat

beragama. Di sisi lain Raja Said bergelar Sultan Said Modayatsyah semakin

merasa tidak dihargai dan melancarkan serangan ke Kerajaan Indragiri yang

bertempat di kota Japura masa itu. Namun, Raja Umar tetap memiliki kekuatan

yang kuat untuk menghalau serangan dari Raja Said bergelar Sultan Said

Modayatsyah tersebut. Sultan Said merasa bahwa dirinyalah yang pantas menjadi

raja sebab mengingat karena ayahnya adalah sultan Indragiri ke delapan belas.

Padahal beliau tidak memahami alasan mengapa ayahnya diangkat menjadi sultan

58
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kala itu di Kerajaan Indragiri. Niat ingin menguasai itu pun akhirnya tidak dapat

terlaksana karena pihak kerajaan tidak mendukung, akhirnya Raja Said semakin

nekat hingga sampai berujung peperangan tepatnya di Pematang Reba sekarang

nama tempatnya. Merasa Sultan Said Mudoyatsyah tidak mampu menghadapi

Raja Umar dan para pasukannya, maka Sultan Said membuat siasat kembali untuk

bekerjasama untuk meminta bantuan kepada adik bungsunya yaitu Raja Abdul

Rahman. Dikisahkan bahwa Raja Abdul Rahman menikah dengan Raja

Maimunah anak dari Raja Ahmad dikenal dengan Tengku Haji Tua yang

dipertuan muda Riau-Johor-Pahang ke empat (IV). Raja Abdul Rahman memiliki

keturunan diantaranya Sultan Abdullah, Tengku Sulaman, Tengku Muhammad

Yusuf, dan Tengku Embih (perempuan). Melalui kerjasama dengan adiknya,

terjadi pepecahan diantara hubungan keluarga kerajaan, akhirnya Raja Said

bergelar Sultan Said Mudoyatsyah berhasil merebut tahta Kerajaan Indragiri

sekitaran tahun 1838 M. Pada masa Raja Said diangkatlah Raja Mansyur anak dari

Raja Moehammad menjadi yang dipertuan muda atau raja muda Indragiri ke IV.

Raja Moehammad memiliki keturunan bernama Raja Ali atau yang lebih dikanal

dengan Tjik Alie. Raja Ali memiliki anak bernama Raja Jumahat Singkat Tangan

yang menjadi dipertuan muda ke VI Kerajaan Indragiri. Lalu nasib Raja Umar

bergelar Sultan Berjanggut Keramatsyah Gangsal ditangkap dan diasingkan di

Kecamatan Batang Gangsal hingga akhir hayatnya dan dimakamkan disana

tepatnya di Desa Napal, maka terhitunglah sebelas tahun masa kepemimpinana

Raja Umar masa itu. (36)

Ketika itu seluruh masyarakat Kerajaan Indragiri merasa khawatir dengan

sikap Raja Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah secara terpaksa mau tidak mau

59
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
maka para Datuk Temenggung dan pemangku kerajaan lainnya mengangkat

Sultan Said Mudoyatsyah anak Sultan Ibrahim menjadi raja Indragiri ke dua puluh

satu (XXI) sekitar tahun 1838 M dengan gelar nobatnya Raja Said adalah Alwatiq

Billah Paduka Sri Sultan Said Jamaluddin Mudoyatsyah. Mendengar kabar bahwa

Sultan Said merebut kekuasaan dari Raja Umar maka Raja Muda Jumahat

Singakat Tangan marah dan memberikan perlawanan terhadap Sultan Said

Mudoyatsyah sehingga menjadi pertikaian yang sangat besar. Belangsung selama

beberapa bulan waktu itu Raja Said meminta bantuan ke pada Belanda yang

berpusat di Riau berkedudukan di Tanjung Pinang dengan dasar ini sehingga

Belanda melihat peluang untuk membuat kedudukan di negeri Indragiri kembali

dan mengajak Kerajaan Riau Lingga dengan wakil Raja Muda Riau Abdul

Rahman maka masuklah Belanda ke negeri Indragiri. Disisi lain Belanda berhasil

mendamiakan perseteruan antara Sultan Said Mudoyatsyah dengan Raja Muda

Jumahat Singkat Tangan yang dikenal dengan Tractaat Van Vrede En Vriendscap

yaitu sebuah perjanjian yang mengikat antara kedua belah pihak tersebut pada

tanggal 27 September 1838 M. Dengan masuknya pengaruh Belanda maka

seluruh kegiatan perdagangan Kerajaan Indragiri di monopoli oleh Belanda.

Sultan Said Mudoyatsyah memiliki sorang mufti kerajaan bernama Syeh Ibrahim

yang berasal dari Hadramaut Yaman yang bertugas menyebarkan agama Islam

dan bertugas menjadi penasehat kerajaan. Di negeri Indragiri Raja Said gelar

Sultan Said Mudoyatsysah menikah dengan saudaranya bernama Raja Pasir anak

dari pasangan suami istri Raja Haji Fisabilillah dengan Encik Uning. Encik Uning

merupakan istri ke delapan dari Raja Haji Fisabilillah sebagai raja muda Riau,

Johor, Pahang ke empat, selain itu Encik Uning berkedudukan negeri Indragiri.

60
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dari hasil perkawinan Raja Said gelar Sultan Said Mudoyatsysah dengan Raja

Pasir dikaruniai empat orang anak yang pertama bernama Raja Muhammad Ali

bergelar Raja Kecik Besar, namun sayang mangkat di usia muda. Kedua Raja

Ismail gelar Sultan Ismailsyah. Ketiga Tengku Dalam (perempuan), dan yang

keempat Raja Husin atau yang dikenal dengan Tengku Bujang bergelar Sultan

Husin Inayat Syah. Raja Said gelar Sultan Said Mudoyatsyah sakit keras dan tak

kunjung sembuh, kalangan kerajaan menganggap bahwa itu adalah celaka dari

Allah atas perbuatanya selama ini, hingga akhirnya sakit secara perlahaan pada

tahun 1876 M mangkat dan dimakamkan di Raja Pura atau disebut juga Japura.

(37)

Setelah wafatnya Sultan Said Mudoyatsyah maka tahta dilanjutkan oleh

putra mahkota Raja Said yaitu Raja Ismail gelar Sultan Ismailsyah menjadi Raja

Indragiri ke dua puluh dua (XXII) sekir tahun 1876 M. Di ceritakan bahwa Raja

Ismail tidak cukup lama memangku tahta kurang lebih hanya dua minggu saja

memangku jawabatan raja Indragiri lalu mangkat karena sakit yang di derita. Raja

Ismail dimakamkan tepatnya di komplek makam raja-raja Indragiri di Raja Pura

atau yang lebih dikenal dengan Japura pada tahun 1876 M. (38)

Sesudah mangkatnya Raja Ismail maka naik tahtalah Sultan Abdullah

menjadi sultan Indragiri ke dua puluh tiga (XXIII) sekitar tahun 1876 M. Sultan

Abdullah merupakan anak dari Raja Abdul Rahman adik bungsu dari Raja Said

Mudayatsyah. Pada masa pemerintahan Sultan Abdullah banyak terjadi peristiwa

salah satunya adalah peristiwa pencopotan paksa jabatan raja Indragiri oleh

Belanda terhadap Sultan Abdullah. Hal ini didasari karena Sultan Abdullah

terkenal tidak mendukung kebijakan Belanda untuk berada di negeri Indragiri.

61
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Abdullah menyadari bahwa Belanda telah memonopoli perdagangan

Kerajaan Indragiri. Selain itu cerita yang beredar di masyarakat Kerajaan Indragiri

bahwa dahulunya Sultan Said Mudoyatsyah telah mengikat perjanjian politik

dengan Belanda untuk tidak ada yang boleh menjadi sultan selain keturunan dari

Sultan Said Mudoyatsyah. Sultan Abdullah dikabarkan menikah dan memiliki

keturunan, Sultan Abdullah menikah dengan Tengku Dalam anak ke tiga dari

Sultan Said Mudoyatsyah. Adapun keturunan dari Sultan Abdullah yang pertama

Raja Ibrahim yang menjadi putra mahkota, kedua Tengku Begab, ketiga Tengku

Muhammad Saleh bergelar Tengku Togok, keempat Tengku Muhammad, kelima

Tengku Adji, keenam Tengku Mahmud, ketujuh Tengku Isa, kedelapan Raja

Neng (perempuan), kesembilan Raja Cantik (perempuan). (39)

Kelanjutan dari roda kepemimpinan Kerajaan Indragiri setalah masa

dimana pencopotan paksa jabatan Sultan Abdullah sebagai Raja Indragiri ke dua

puluh tiga. Maka naiklah Tengku Husin alias Tengku Bujang bergelar Sultan

Husinsyah menjadi raja ke dua puluh empat (XXIV) sekitar tahun 1877 M.

Diceritakan bahwa Sultan Husinsyah menikah dengan Tengku Ampuan Besar

Sadiah dan memiliki keturunan diantaranya Tengku Atan sebagai anak pertama,

Raja Embeh (Tengku Puan Besar) anak kedua, Raja Uteh (Tengku Puan Besar)

anak ketiga, Raja Buntet anak keempat, dan Raja Maryam (Tengku Puan Bungsu)

anak kelima. Dalam kalangan kerajaan Sultan Husinsyah memiliki istri lain atau

yang dikenal dengan perempuan gundik bernama Kopik Lembut dari pernikahan

tersebut Sultan Husinsyah memiliki seorang putra bernama Tengku Isa. Diketahui

juga bahwa Sultan Husinsyah memiliki perempuan gundik lain bernama Raja

Buntit yang diperistrinnya. (40)

62
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pada masa kepemimpinan Sultan Husinsyah Datuk Muhammad Arif

diangakat sebagai Datuk Perdana Menteri Kerajaan Indragiri. Datuk Arifin

dikabarkan memiliki seorang istri yang bernama Maharani Batubara atau yang

dikenal dengan Tok Yang. Berdasarkan keterangan bahwa Datuk Muhammad

Arifin lahir pada tahun 1855 M dan wafat pada tahun 1910 M di Pulau Penyengat

makamnya berada pada bagian luar komplek makam yang dipertuan muda Riau

Lingga ke VII Raja Abdul Rahman masa 1832 M sampai dengan 1844 M.

Sedangkan istrinya Maharani Batubara atau yang dikenal dengan Tok Yang

dimakamkan dekat Masjid Raya Rengat tepatnya pada komplek makam Raja-Raja

Indragiri. Namun pada masa itu Kerajaan Indragiri terus semakin tertekan dengan

monopoli dagang yang dilakukan Belanda, hingga ada seorang kerabat anak

Sultan Abdullah dari Kerajaan Indragiri bernama Raja Begab. Raja Begab sangat

dibenci Belanda karena pada masa itu Raja Begab sering melempari kapal-kapal

Belanda yang berlabuh maupun yang sedang lewat di sungai Indragiri. Selain itu

Raja Begab dikabarkan pernah menangkap dan membunuh dua orang bangsa

Belanda yang ada di negeri Indragiri. Ke semua itu dilakukan karena Raja Begab

tidak menyukai kepemimpinan Belanda yang ada di tanah Indragiri. Sekitaran

tahun 1883 M Sultan Husinyash mangkat dan dimakamkan di komplek

pemakaman Raja-Raja Indragiri di Raja Pura atau Japura. (41)

Dari masa itu, terjadi kekosongan pemimpin kerajaan sebab anak pertama

Sultan Husinsyah yaitu Tengku Atan tidak dapat melanjutkan naik tahta. Cerita

yang beredar kabarnya Tengku Atan mengalami cacat sejak lahir sementara adik-

adiknya adalah perempuan dan dianggap tak bisa melanjutkan kepemimpinan.

Kesempatan ini dipakai Sultan Abdullah untuk naik tahta kembali. Namun

63
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ternyata Raja Embok keturunan dari Raja Ali Mangkubumi juga ingin naik

sebagai Raja Indragiri saat itu untuk menggantikan Sultan Husinsyah yang telah

mangkat. Maka terjadilah pertikaian dan perang yang panjang. Masing-masing

dari kedua belah pihak tersebut memiliki pendukung yang saling berpihak pada

pilihannya. Pertikaian yang panjang tersebut membuat para Datuk dan pemangku

adat lainnya berfikir jika tidak cepat diselaikan maka takutnya nanti akan menjadi

semakin besar. Sehingga pada tahun 1883 atau 1884 M Sultan Abdullah naik tahta

kembali menjadi raja Indragiri ke dua puluh lima (XXV) secara adat resmi yang

telah disepakati oleh pemangku Kerajaan Indragiri. Kenaikan Sultan Abdullah

kembali ternyata tidak di dukung oleh pemerintah Belanda yang berkedudukan di

negeri Indragiri. Hal ini disebabkan karena Sultan Abdullah dikenal sebagai anti

Belanda. Sehingga Sultan Abdullah diberikan hak atas wilayah Peranap dan

sekitaran Hulu untuk dihuni. (42)

Maka, kejadian itu memicu semakin bencinya Sultan Abdullah kepada

Belanda. Belanda pun mengambil siasat agar Sultan Abdullah tidak sepenuhnya

memegang kendali tahta kemimpinan dengan cara memilih dan menaikan Tengku

Isa sebegai raja Indragiri, sebab Belanda merasa khawatir kepada kepemimpinan

Sultan Abdullah akan memblokade perdagangan Belanda dari Indragiri menuju

luar. Pengangkatan Tengku Isa dinobatkan secara adat di Riau Lingga dengan

dibawah naungan Belanda masa itu. Maka resmilah Tengku Isa bergelar Sultan

Isa Modayatsyah menjadi raja Indragiri ke dua puluh lima (XXV) juga sekitar

tahun 1883 atau 1884 M. Dengan adanya kedua raja yang memimpin masa itu.

Maka timbullah perpecahan yang sangat besar. Selain itu setiap raja saling

memperkuat kekuasaan dan melancarkan jalur perdagangannya masing-masing

64
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
namun Belada tetap berpihak pada Sultan Isa. Keberpihakan ini semata-mata

hanya demi melancarkan akses perekonomian pemerintah Belanda. Sultan Isa

yang berkedudukan di Rengat menjalankan roda pemerintahan dengan baik pula.

Namun Sultan Isa tetap tidak menggangu pemerintahan yang dijalankan oleh

Sultan Abdullah waktu itu, hingga pada sekitaran tahun 1888 M Sultan Abdullah

mangkat dimakamkan di Peranap. Setelah mangkatnya Sultan Abdullah maka

tahta dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sultan Ibrahim. Keturunan dari Sultan

Ibrahim yang pertama Raja Moehammad alias Tengku Sulong, kedua Tengku Cik,

ketiga Tengku Atah, dan kelima Tengku Bagung. (43)

Berdasarkan cerita yang disampaikan masyarakat bahwa pada masa itu

telah terjadi perjanjian yang mengatur atas hak dan kekuasaan. Peritiwa ini

didasari karena perang dingin yang berkelanjutan antara pihak Sultan Isa dengan

pihal Sultan Abdullah masa itu. Maka Belanda pun turut campur tangan

mendamikan kedua belah pihak ini antara Sultan Isa dengan Sultan Ibrahim. Pada

bulan Agustus tahun 1890 M di kota Rengat dilakukan perdamian yang berisikan

Tengku Isa bergelar Sultan Isa Modayatsyah sebagai yang dipertuan besar

Indragiri berkedudukan di Rengat dan Raja Ibrahim sebagai sultan muda Indragiri

mempunyai kekuasaan wilayah bagian Hulu Indragiri meliputi Kota Baru,

Kelayang, Morong, Japura, dan Kampung Orang Laut. Pada masa Sultan Isa naik

tahta diangkatlah enam mentri Kerajaan Indragiri dan pada masa Sultan Isa pula

yang memiliki perbedaan sebab adanya jabatan sultan muda masa itu. Keenam

mentri itu masing-masing bernama Tengku Begab, Tengku Muhammad Saleh,

Tengku Mahmud, Tengku Isa, Tengku Sulaiman dan Tengku Muhammad Yusuf

yang memiliki tugas masing-masing. Semua urusan kerajaan diserahkan kepada

65
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menteri kerajaan oleh Sultan Isa. Di balik kepemimpinan itu seluruhnya

berkuasalah Sultan Isa atas negeri Indragiri. Diangkat juga Raja Muhammad

Yusuf sebagai yang dipertuan muda ke VII Kerajaan Indragiri. Raja Muhammad

Yusuf memiliki keturunan bernama Raja Begab. (44)

Tengku Isa bergelar Sultan Isa Modayatsyah menikah dengan Tengku

Embih dan terdengarlah ke penjuru negeri atas kelahiran putra putri Sultan

tersebut bernama Tengku Mahmud dan Tengku Puteri. Kelahiran anak Sultan Isa

Modayatsyah pun disambut baik oleh masyarakat kerajaan namun sayang ketika

besar tengku putri dikabarkan wafat di tanah Mekah. Sultan Isa terkenal dengan

karisma yang dimilikinya dalam menjalankan kepemimpinan demi

mensejahtrakan masyarakat yang ia pimpin, jiwa kepemimpinan itu pun

diturunkan kepada anak pertamanya yaitu Tengku Mahmud. Atas kesepakatan

bersama dan ketentuan dari pihak kerajaan maka Tengku Mahmud pun

disekolahkan ke Batavia. Tengku Mahmud akhirnya berangkat ke Batavia dengan

restu ayahandanya yaitu Sultan Isa dan ibunya Tengku Embih. Keberangkatan

Tengku Mahmud menggunakan kapal yang telah disediakan, dan didampingi oleh

petinggi dari pihak Belanda di pelabuhan Indragiri masa itu. (45)

Kegiatan kerajaan berjalan dengan baik semua hasil bumi dari Indragiri di

masa kepemimpinan Sultan Isa berjalan dengan lancer begitu juga dengan Sultan

Ibrahim yang ikut berkerja sama demi kesejahteraan di wilayahnya. Sekitaran

tahun 1902 M Sultan Isa pun jatuh sakit, hingga akhirnya mangkat namun

sebelum Sultan Isa mangkat ia berpesan bahwa hendak dimakamkan di dekat

Masjid Raya Rengat bersama dengan leluhurnya. Setelah mangkatnya Sultan Isa

Modayatsyah, maka para pemangku kerajaan baik Mentri, Datuk, serta petinggi

66
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
lainnya bermusyawarah mufakat untuk menentukan keberlanjutan tahta yang akan

memanggku tahta Kerajaan Indragiri. Berhubung karena Tengku Mahmud masih

berusia muda dan dalam tahap pendidikan di Batavia maka diangkatlah Raja

Uwok anak dari Raja Ombak keturunan dari Raja Begab untuk menjadi sultan

muda di Kerajaan Indragiri serta diangkat secara adat untuk memangku jabatan di

Kerajaan Indragiri Pada tahun 1902 M. serta melanjutkan tahta sembari menunggu

siapnya Tengku Mahmud dalam pendidikan di Batavia. Raja Uwok merupakan

keturunan dari Raja Muda Jumahat Singkat Tangan yang dipertuan muda pada

masa Sultan Said Mudayatsyah sekitar tahun 1838-1876 M. Raja Muda Jumahat

Singkat Tangan memiliki keturunan bernama Raja Muhammad Yusuf serta

keturunan dari Raja Muhammad Yusuf ialah Raja Ombak, Raja Ali, Raja Cik,

Raja Mendak, Raja Saleha, dan Raja Ismail. Dan Raja Ombak sebagai anak

pertama dari Raja Muhammad Yusuf memiliki keturunan bernama Raja Uwok

yang memangku sultan muda Indragiri terakhir di tahun 1902 M. Di masa Raja

Uwok naik tahta kerja sama dengan kerajaan luar tetap terjalin begitu juga dengan

Belanda yang berkedudukan di Rengat. Pada Tahun 1912 M Raja Uwok mangkat

dan dimakamkan di dekat jalan Nara Singa Kota Rengat tak jauh dari Masjid Raya

Rengat. (46)

Setelah mangkatnya sultan muda Indragiri yaitu Raja Uwok, maka naik

tahtalah Tengku Mahmud sebagai raja Indragiri ke dua puluh enam (XXVI) pada

tahun 1912 M dengan bergelar Sultan Mahmudsyah. Sultan Mahmudsyah juga

merupakan seorang Mayor Honorair Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sultan

Mahmudsyah diceritakan memiliki dua istri. Pemaisuri pertama bernama Encik

Ara yang memiliki putra bernama Tengku Moehammad. Setelah wafatnya Encik

67
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ara Sultan Mahmudsyah menikah dengan Raja Saedah. Dari pernikahan dengan

Raja Saidah, Sultan Mahmudsyah memiliki lima orang anak pertama bernama

Tengku Muhammad Bay, kedua tengku Muhammad Yusuf, ketiga Tengku Arief,

keempat Tengku Mahari, dan kelima Tengku Zohor. Ketika Sultan Mahmudsyah

memimpin diangkatlah Encik Alie sebagai Datuk Bendahara Kerajaan Indragiri.

Encik Ali merupakan saudara kandung dari istri Sultan Mahmudsyah yaitu Encik

Ara. Encik Ali juga merupakan pejabat Bupati pertama Indragiri pada masa 1945

sampai 1947 M. (47)

Diketahui juga berdasarkan cerita masyarakat bahwa Sultan muda II

kedudukan di Peranap yaitu Sultan Muhammad anak dari Sultan Ibrahim Indragiri

ikut serta mewakili dari pihak Kerajaan Indragiri dalam perhelatan atau

pengangkatan Raden Mas Anta Seno bergelar Sri Susuhunan Pakubuwono ke XI

putra dari Raden Mas Sayyidin Malikul Kusmo Pakubuwono X dan ibunya

bernama Ratu Mandayaretno yang diadakan di Kasunanan Surakarta. Melalui

hadirnya Sultan Muhammad ikatan kerjasama dengan pihak luar telah berjalan

dengan baik khususnya antara Kerajaan Indragiri dengan Kasunanan Surakarta.

Pada masa Sultan Mahmmud naik tahta sultan menerima anugerah bintang

persahabatan seratus tahun persahabatan Kerajaan Indragiri dengan Kerajaan

Belanda. Selain itu Sultan Mahmudsyah memiliki seorang mufti kerajaan

sekaligus penasehat spiritual bernama Syeh Abdurrahman Siddiq Albanjari. Syeh

tersebut merupakan orang pandai dalam ilmu agama Islam sehingga Sultan

Mahmmudsyah mangkatnya menjadi musfti Kerajaan Indragiri. Syeh

Abdurrahman Siddiq Albanjari berasal dari Banjarmasin Syeh tersebut juga

dikenal dengan gelar Datuk Kelampayan. (48)

68
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Syeh Abdurrahman Siddiq Albanjari sebelum datang ke Indragiri untuk

menyiarkan agama Islam beliau sebelumnya singgah ke Bangka Belitung sekitar

lima belas tahun lamanya dan memiliki peninggalan disana, lalu Syeh tersebut

datang ke negeri Indragiri dan disambut baik oleh Sultan Mahmmud. Berdasarkan

cerita Sultan Mahmmud hingga turun sejajar bersama dengan Syeh Abdurrahman

Siddiq Albanjari untuk menyambut kedatangannya. Setiap keputusan Sultan

Mahmmudsyah selalu bertanya terlebih dahulu kepada Syeh guna mendapat

pencerahan dan kebaikan dari Allah, Syeh Abdurrahman Siddiq Albanjari

tersebut wafat dan dimakamkan di Sepat Kabupaten Indragiri Hilir dahulunya

merupakan satu wilayah berdaulat di Kerajaan Indragiri. (49)

Berakhirnya Kerajaan Indragiri terjadi pada masa Sultan Mahmmudsyah

yang menjadi raja terakhir di Kerajaan Indragiri. Pada masa itu ketika Indonesia

telah merdeka namun Kerajaan Indragiri belum bergabung ke Negara Kesatuan

Republik Indonesia, hal ini disebabkan karena pada masa tersebut kekuasaan

Belanda masih tersisah di negeri Indragiri. Namun, ketika terjadi agresi militer I

pada 15 Juli 1947 M sampai 5 Agustus 1947 M oleh Belanda ketika Van Mook

mengeluarkan ultimatumnya yang di latar belakangi oleh pelanggaran Belanda

terhadap perjanjian Linggarjati. Mulai dari sinilah terjadi peristiwa penyerangan

besar-besaran terhadap Indonesia khususnya Sumatera Timur dan Pulau Jawa.

Namun beberapa tahun kemudian Belanda melancarkan aksi agresi militer II pada

19 Desember 1948 M hingga beruntut panjang di tahun 1949 M tepatnya pada

peristiwa 5 Januari 1949 M. Pada masa itu Indragiri mendapat serangan dari

Belanda berlanjutan dari agresi militer II. Kota Rengat diserang habis-habisan

masyarakatnya dibunuh karena pada masa itu di Indragiri tepatnya Air Molek

69
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
merupakan basis militer Indonesia yang terkuat dan memuat pasokkan

persenjataan. Sehingga Belanda memfokuskan serangannya terhadap wilayah

Indragiri. Sultan Mahmmud pun tak dapat berbuat banyak atas kejadian ini,

masyarakat banyak yang berlindung di istana Indragiri dan banyak juga yang mati

terbunuh. Hingga akhirnya peristiwa ini dikenang sebagai peristiwa Rengat

berdarah 5 Januari 1949 M. hingga pada akhirnya pada tanggal 19 Desember 1949

M Kerajaan Indragiri bergabung dengan NKRI, maka habis sudah masa

kepemimpinan Sultan Mahmmudsyah dan ditanggal 17 Maret 1963 M Sultan

Mahmmud wafat dan dimakamkan di Masjid Raya kota Rengat. (50)

4.3 Keterangan Cerita Kerajaan Indragiri Berdasarkan Tradisi Lisan

Cerita tentang silsilah Kerajaan Indragiri merupakan sebuah cerita yang

berjenis tradisi lisan. Penyampaian cerita yang diwariskan dari generasi ke

generasi memberikan hasil berupa pesan-pesan lisan yang didasarkan pada pesan

terdahulu yang dapat mencapai satu generasi bahkan lebih. Proses penyampaian

cerita maupun pesan melalui mulut ke mulut selama beberapa kurun waktu sampai

pesan tersebut melekat pada ingatan seseorang dan sampai pada waktunya

menghilang sendiri. Ketika manusia bercerita maka sebuah pesan dapat dihasilkan

dari perkataan tersebut dan ketika dalam proses penceritaan selanjutnya dapat

menyampaikan pesan baru kepada orang lain (Vansina 2014: 2).

Kerajaan Indragiri merupakan sebuah kerajaan yang besar dan pernah

mencapai kejayaan dimasanya. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri banyak

mengandung pesan-pesan dari masa lalu kepada generasi di masa kini. Hal ini

dikarenakan cerita silsilah Kerajaan Indragiri terus diceritakan hingga menjadi

70
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sebuah tradisi dalam masyarakat khususnya pada masyarakat Melayu Riau

tepatnya di Kabupaten Indragiri Hulu. Pada umumnya sebuah kesaksian dapat

disampaikan secara lisan dan dapat menjadi sebuah tradisi dalam masyarakat

khususnya pada kebudayaan yang bersifat lisan. Masyarakat yang memiliki

kebuabuayaan lisan akan mengingat peristiwa-peristiwa di masa lalu hanya

diingat saja dan diceritakan dari generasi ke generasi sehingga terjadi sebuah

penyampaian pesan didalamnya. Pesan yang disampaikan dapat berupa kata-kata,

tembang lagu, maupun sebuah syair. Dalam susunan kata-kata yang diucapkan

merupakan sebuah gambaran peristiwa yang terjadi di masa lalu dan dikumpulkan

menjadi sebuah cerita atau pun sebuah kisah.

Cerita silsilah Kerajaan Indragiri adalah sebuah tradisi lisan pada

masyarakat Melayu Riau khususnya di Kabupaten Indragiri Hulu. Cerita ini

disampaikan secara turun-temurun dalam rangkaian sebuah peristiwa-peristiwa di

masa lalu tentang Kerajaan Indragiri mulai dari berdiri hingga keruntuhannya.

Dari sebuah cerita asal usul raja dalam sebuah kerajaan akan menciptakan sebuah

silsilah. Dalam cerita silsilah akan menekankan pada unsur-unsur sejarah dalam

cerita seperti asal usul berdiri sebuah kerajaan, permulaan raja yang memerintah,

peradabannya, bahkan hingga peristiwa masuknya agama khusunya Islam dan

pengaruh yang diberikan dalam kerajaan tersebut.

Cerita kerajaan dapat merujuk pada sebuah silsilah yang saling

berhubungan antara kelompok masyarakat dengan kelompok lainya sehingga

membentuk satu kesatuan (Vansina 2014:9). Dalam cerita silsilah Kerajaan

Indragiri akan menggambarkan hubungan kekuasaan raja-raja yang silih berganti

memimpin pada Kerajaan Indragiri. Berdasarkan cerita tersebut akan muncul

71
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kisah yang mendukung kebenaran dan alasan mengapa seseorang diangkat

menjadi raja dan berkuasa atas negeri serta hal-hal yang terjadi sewaktu raja

berkuasa. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan cerita yang bersifat lisan

karena diceritakan dari mulut ke mulut dan akan muncul ketika seseorang ingin

menceritakannya, sehingga muncul ciri-ciri kelisanannya.

Pudentia (1999:32), memberikan pandangan mengenai hakikat tradisi

lisan sebagai berikut: Tradisi lisan mencakup segala hal yang berhubungan

dengan sastra, bahasa, sejarah, biografi, dan berbagai pengetahuan serta jenis

kesenian lainnya yang disampikan dari mulut ke mulut. Sehingga dapat diketahui

bahwa tradisi lisan tidak hanya mencakup teka-teki, cerita rakyat, nyanyian

rakyat, pribahasa, mitologi, legenda dan lain sebagainya. Namun tradisi lisan

berkaitan terhadap sistem kognitif kebudayaan seperti: sejarah hukum dan

pengobatan. Tradisi lisan merupakan segala bentuk wacana yang diungkapkan

atau disampaikan secara turun-temurun. Umumnya tradisi lisan tumbuh dan

berkembang dalam masyarakat yang mengekalkan kebudayaan, dimana

kebudayaan tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat. Dalam tradisi

lisan ada beberapa sumber yang menjadi acuan dalam menceritakan kejadian di

masa lalu. Syamsuddin (1999:56), berpendapat ada dua macam sumber lisan

yaitu: pertama sejarah lisan berupa ingatan lisan dan kedua tradisi lisan berupa

narasi dan deskripsi dari orang-orang dan peristiwa di masa lalu yang disampaikan

dari mulut ke mulut selama beberapa generasi.

Berdasarkan penelitian cerita silsilah Kerajaan Indragiri telah ada sejak

lama pada masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten Indragiri. Cerita silsilah

Kerajaan Indragiri terdapat 50 paragraf yang tersusun secara berurutan

72
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
berdasarkan hasil penuturan dari narasumber yang tinggal di Kabupaten Indragiri

Hulu. Masing-masing paragraf dalam cerita tersebut diberi penomoran agar

memudahkan dalam menganalisis dan memberikan keterangan pengutipan.

Sumber cerita yang diperlihatkan bahwa cerita silsialah Kerajaan Indragiri

merupakan bagian dari sebuah tradisi lisan. Hal ini dikarenakan proses

penceritaan hanya berfokus pada ingatan saja. Maka dalam cerita sebagai

pewarisannya, hanya dapat di dengar dengan keadaan tertentu. Artinya, cerita ini

hanya akan muncul ketika diceritakan saja. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri

memiliki kekurangan dokumen tertulis yang mempertahankan cerita dalam

berbagai versi. Oleh karena itu penelitian ini mencatat cerita silsilah Kerajaan

Indragiri sebagai sebuah tradisi lisan. Dalam keterangan sebuah tradisi jika dicatat

dalam catatan maka tradisi tersebut tidak akan mati. Namun, sebaliknya jika

tradisi tersebut diceritakan dalam beberapa waktu dikemudian hari akan dicatat

kembali. Pada bagian itu catatan tradisi memiliki fungsi sebagai sumber tradisi

lisan dan informasi (Vansina, 2014:48).

Cerita silsilah Kerajaan Indragiri dapat dikategorikan sebagai tradisi lisan

yang mengandung unsur sejarah. Unsur-unsur tersebut terkandung dalam berbagai

peristiwa yang terjadi di dalam cerita. Hal ini merujuk pada jenis-jenis tradisi lisan

yang dikemukakan oleh Vansina (2014:37). Jenis pertama adalah gosip bersejarah

artinya segala macam peristiwa atau berita yang terjadi menjadi gosip bagi

penduduk setempat. Namun karena gosip ini bersifat sejarah maka dalam

masyarakat setempat cerita tersebut tidak akan hilang meskipun kebaharuannya

telah memudar. Salah satu dari bagian gosip sejarah berupa kabar kelahiran

seorang anak yang menjadi berita dalam masyarakat khususnya pada Kerajaan

73
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri zaman dahulu. Dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri, seorang

pemaisuri melahirkan seorang anak dan hal ini akan menjadi sebuah berita bagi

masyarakat. Hingga dikemudian hari maka orang akan mengetahui bahwa anak

tersebut lahir dari seorang pemaisuri kerajaan. Suatu wilayah yang dibangun pada

titik-titik tertentu mungkin akan ditinggalkan penghuninnya akan tetapi orang

akan tetap mengingat nama wilayah dan alasan mengapa wilayah tersebut

ditinggalkan. Begitu juga pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang dahulunya

wilayah tersebut dibangun oleh keturunan dari Raja Melaka ke empat (IV) yaitu

Raja Kecik Besar Malikul Muluk atau nama lainnya Sri Baginda Malikul Muluk

bergelar Sultan Muhammad Syah yang memiliki keturunan bernama Raja Kecik

Mambang alias Raja Merlang I yang mendirikan sebuah Kerajaan Indragiri

berpusat di Keritang. Hingga akhirnya wilayah tersebut ditinggalkan karena

adanya serangan dari berbagai pihak seperti Kerajaan Singosari dan bangsa

Portugis.

Jenis kedua tradisi pribadi merupakan sebuah kenangan dalam tradisi

keluarga. Cara penyampaian tradisi pribadi lebih cenderung bersifat bercanda atau

gosip. Namun perbedaannya dengan gosip ialah cerita dari tradisi pribadi

dianggap tidak begitu penting. Sebab cerita tersebut akan menghilang dengan

cepat dan hanya bertahan selama atau atau dua generasi saja setelah kematian dari

pihak-pihak terkait tetapi tidak menutup kemungkinan cerita tersebut dapat terus

disampaikan dengan kemampuan ingatan keluarga (Vansina, 2014:27). Dalam

cerita silsilah Kerajaan Indragiri tidak terdapat tradisi pribadi yang bersifat

mendetail. Namun, ada beberapa yang dapat ditampilkan berdasarkan hasil

ingatan pihak terkait yang masih dapat dituturkan. Salah satunya masyarakat di

74
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kabupaten Indragiri Hulu mempercayai bahwa dahulunya Sultan Mun Bungsu

memiliki kesaktian yang sangat luar biasa serta Sultan Mun Bungsu merupakan

sultan yang paling taat dalam ilmu agama Islam.

Jenis ketiga keterangan kelompok (group account) merupakan sebuah

cerita yang secara resmi dituturkan kepada banyak orang atau kelompok yang

bersifat formal. Keterangan yang berisikan tantang cerita seseorang tersebut

merupakan milik dari satu kelompok tertentu. Ketika berurusan dengan sejarah

dari kerajaan maka cerita atau keterangan kelompok muncul dari para pejabat

kerajaan maupun petinggi kerajaan lainnya yang mengingat akan adanya

hubungan yang saling berkaitan dengan hal-hal kerajaan berupa penerusan, hak-

hak raja, dan dewannya serta hal yang didahulukan dengan kewajiban untuk

memenuhi sebuah persyaratan dari jabatan yang akan diterima (Vansina,

2014:28). Pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri keterangan ini diketahui bahwa

Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah adalah penerus tahta

Kerajaan Indragiri. Namun karena pada masa itu terjadi perebutan tanta dan

ditetapkan Raja Ali Mangku Bumi menjadi pemimpin di Kerajaan Indragiri lalu

selang beberapa tahun keturunan asli dari sultan Indragiri merubut paksa yang

seharusnya adalah hak mereka yaitu Raja Bergombak adik dari Raja Hasan

bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah akhirnya berhasil. Lalu ditetapkanlah

Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah selaku putra mahkota

menjadi sultan yang dipertuan besar Indragiri I dan adiknya Raja Bergombak

dinonatkan menjadi Raja Muda Indragiri I serta berikan hak-hak atas kekuasaan

atas wilayah Indragiri.

75
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jenis keempat tradisi mengenai asal usul dan kejadian adalah sebuah

keterangan yang bersumber dari spekulasi oleh para orang bijak setempat atas

pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang asal usul sebuat tempat, penciptaan

manusia, dan kemunculan masyarakat dan lingkungannya (Vansina 2014:32).

Dalam waktu tertentu sering kali kontruksi logis digunakan dalam banyak kasus

ditaruh dalam bentuk silsilah baik dari kelahiran, pernikahan, beranak cucu hingga

kematiannya. Pemahaman ini memberikan pandangan bahwa manusia saling

berhubungan satu dengan yang lain. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang

bermula dari seorang Raja Malaka ke empat (IV) bernama Raja Kecik Besar

Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad

Syah yang berdaulat atas wilayah Indragiri dan menjadi bagian dari Kerajaan

Malaka. Dimana dahulunya Sultan Muhammad Syah mendirikan pusat Kerajaan

Indragiri di Keritang dengan masyarakatnya adalah suku pedalaman atau yang

sering disebut sebagai suku Talang Mamak yang berkembang dengan pengaruh

suku Melayu dan menjadi keturunan bangsa Melayu. Hingga akhirnya suku

tersebut meminta agar raja berada ditempat untuk memimpin kerajaan yang

akhirnya terwujud di masa kepemimpinan Raja Nara Singa II gelar Paduka

Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam dan memindahkan pusat

kerajaan dari Keritang ke Pekan Tua lalu pindah lagi ke negeri Menduyan hal ini

terjadi karena proses perpindahan dan nama dari tempat yang ditinggalkan

tersebut. Keritang yang berasal dari akar itang yang banyak terdapat di wilayah

tersebut, Pekan Tua tempat Raja Nara Singa II membangun negeri, dan negeri

Menduyan berasal dari proses perpindahan masyarakat dari Pekan Tua ke negeri

76
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Menduyan sebab masyarakatnya berduyun-duyun sehingga sekarang dikenal

sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Indragiri Hulu.

Jenis kelima keterangan-keterangan kumulatif artinya keterangan-

keterangan yang berupa daftar atau silsilah yang harus terus diperbaiki guna

menyempurnakan daftar yang telah ada berdasarkan asil temuan yang baru. Hal

ini dikarenakan kelahiran seorang bayi pada kalangan kerajaan akan membuat

daftar nama baru dalam silsilah yang harus ditambah untuk mencerminkan

hubungan yang saling berkaitan. Vansina (2014:37), menyatakan bahwa

penyebaran daftar atau silsilah memiliki dinamika yang sangat jelas berbeda dari

cerita-cerita yang lain. Sebab daftar atau silsilah bisanya dituliskan dalam bentuk

tarombo, bagan atau pohon keluarga (struktur). Cerita silsislah Kerajaan Indragiri

bertujuan untuk membuktikan keberadaan dan wewenang dari raja yang

memerintah saat itu dan membenarkan mengapa seseorang bisa menjadi raja.

Keterangan ini menunjukkan bahwa Raja Nara Singa II gelar Paduka Maulana Sri

Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam berkuasa atas negeri Indragiri sebab

Raja Nara Sianga II merupakan keturuanan dari Kesultan Malaka yang berdaulat

atas wilayah Indragiri.

Cerita yang telah mentradisi dalam masyarakat Melayu di Kabupaten

Indragiri Hulu terjadi karana peristiwa tersebut diceritakan secara turun-temurun

dan diteruskan dari mulut ke mulut hingga generasi ke generasi. Cerita silsilah

Kerajaan Indragiri merupakan kumpulan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di

masa lalu dan diceritakan berulang kali melalui lisan dan tersimpan dalam

ingatan. Jika dilihat dari tahun berdirinya Kerajaan Indragiri yang dimulai dari

tahun 1298 M hingga saat ini maka diperkirakan 722 tahun berlalu. Mengingat

77
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
masa itu Kerajaan Indragiri telah melampaui masa kini dan masih bisa

diperdengarkan sehingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi lisan adalah salah satu

sumber yang terdiri dari informasi yang ada dalam ingatan manusia. Sepanjang

waktu baik tradisi lisan berada di dalam ingatan dan hanya akan muncul kembali

ketika saat dibutuhkan oleh desakan keadaan baik masa kini atau pun di masa

depan (Vansina, 2014:231).

Kerajaan Indragiri merupakan kerajaan Melayu yang besar di zaman

dahulu. Cerita yang masih dituturkan berusia sangat panjang bahkan melampaui

batas usia manusia. kejadian dalam cerita yang telah terjadi bertahun-tahun yang

lalu namun masyarakat Melayu Indragiri masih mampu menuturkannya. Hal ini

dapat dibuktikan dari kekuatan ingatan sang penutur dalam menceritakan cerita

silsilah Kerajaan Indragiri dengan usia cerita yang berumur 722 tahun bahkan

sang penutur ketika itu belum lahir. Cerita dari silsilah Kerajaan Indragiri

merupakan sumber sejarah bagi masyarakat Melayu di Kabupaten Indragiri Hulu

karena berisikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Daftar Tabel II Keterangan Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri

Berdasarkan Tradisi Lisan

NO Bagian Tradisi Lisan Berhubungan

1. Gosip Bersejarah Kabar kelahiran.

Pembukaan desa atau wilayah.

2. Tradisi Pribadi Kesaktian tokoh atau raja.

78
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Keunikan tokoh atau raja.

3. Keterangan Kelompok Musyawarah.

Hak-hak raja.

4. Tradisi Mengenai Asal- Kemunculan masyarakat.

Usul Dan Kejadian


Asal usul sebuah tempat.

5. Keterangan-Keterangan Pohon keluarga atau silsilah.

Kumulatif
Hak penerus raja.

79
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4 Daftar Silsilah Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah Kerajaan
Indragiri

80
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
81
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
82
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Keterangan:

= Warna hijau menunjukkan keterangan yang menjadi Sultan

Malaka.

= Warna kuning menunjukkan keterangan yang mejadi raja di

Kerajaan Indragiri.

= Warna pink menunjukkan keterangan yang menjadi Permaisuri

raja.

= Warna merah menunjukkan keterangan yang Dipertuan Muda

(YDM) Kerajaan Indragiri.

= Warna biru langit menunjukkan keterangan perempuan gundik

raja.

= Warna abu-abu menunjukkan keterangan Tidak menjadi raja di

Kerajaan Indragiri.

= Warna orange menunjukkan keterangan permaisuri Ke-II raja.

= Warna biru kuning menunjukkan keterangan Sultan muda

berkedudukan di Peranap.

= Panah arah satu menunjukkan keterangan seorang anak raja.

= Panah arah dua menunjukkan keterangan Menikah dengan raja.

= Panah arah dua ke atas menunjukkan keterangan menikah

dengan perempuan gindik.

83
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.5 Daftar Kepemimpinan Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah

Kerajaan Indragiri

Daftar Tabel III Kepemimpinan Raja Indragiri

No. Nama Tahun Keterangan

1. Raja Kecik Mambang/Raja Merlang I ± 1298-1337 M ± 39 tahun


bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah. berkedudukan di Malaka
namun sistem
(Raja Indragiri ke I)
pemerintahan berada di
Keritang
2. Raja Iskandar Pahlawan ± 1337-1400 M ± 63 tahun

/Nara Singa I. berkedudukan di Malaka

(Raja Indragiri ke II) namun sistem

pemerintahan berada di

Keritang

3. Raja Merlang II bergelar Sultan ± 1400-1473 M ± 73 tahun

Jamaluddin Inayatsyah. berkedudukan di Malaka

(Raja Indragiri ke III) namun sistem

pemerintahan berada di

Keritang

4. Raja Nara Singa II bergelar Paduka ± 1473-1532 M ± 59 tahun

Maulana Sri Sultan Alauddin berkedudukan di

Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam. Keritang lalu pindah ke

(Raja Indragiri ke IV) Pekan Tua dan pindah

lagi ke negeri

84
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Menduyan/Kota Lama

lalu menetap disana

5. Raja Ussulluddin Hasansyah ± 1532-1557 M ± 25 tahun

(Raja Indragiri ke V) berkedudukan di negeri

Menduyan/Kota Lama

6. Raja Ahmad bergelar Sultan ± 1557-1599 M ± 42 tahun

Mohamadsyah. berkedudukan di negeri

(Raja Indragiri ke VI) Menduyan/Kota Lama

7. Raja Jamalluddin bergelar Sultan ± 1599-1658 M ± 59 tahun

Jamalluddin Keramatsyah. berkedudukan di negeri

(Raja Indragiri ke VII) Menduyan/Kota Lama

8. Sultan Jamalluddin Sulaimansyah. ± 1658-1669 M ± 11 tahun

(Raja Indragiri ke VIII) berkedudukan di negeri

Menduyan/Kota Lama

9. Sultan Jamalluddin Modayatsyah. ± 1669-1676 M ± 7 tahun berkedudukan

(Raja Indragiri ke IX) di negeri

Menduyan/Kota Lama

10. Sultan Ussulluddin Ahmadsyah. ± 1676-1687 M ± 11 tahun

(Raja Indragiri ke X) berkedudukan di negeri

Menduyan/Kota Lama

11. Sultan Abdul Jalilsyah. ± 1687-1700 M ± 13 tahun

(Raja Indragiri ke XI) berkedudukan di negeri

Menduyan/Kota Lama

85
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
12. Sultan Mansyursyah. ± 1700-1704 M ± 4 tahun berkedudukan

(Raja Indragiri ke XII) di negeri

Menduyan/Kota Lama

13. Sultan Modamadsyah. ± 1704-1707 M ± 3 tahun berkedudukan

(Raja Indragiri ke XIII) di negeri

Menduyan/Kota Lama

14. Sultan Musyafarsyah. ± 1707-1715 M ± 8 tahun berkedudukan

(Raja Indragiri ke XIV) di negeri

Menduyan/Kota Lama

15. Raja Ali Mangku Bumi/Sultan Zainal ± 1715-1735 M ± 20 tahun

Abidin. berkedudukan di negeri

(Raja Indragiri ke XV) Menduyan/Kota Lama

16. Raja Hasan bergelar Sultan ± 1735-1765 M ± 30 tahun


Salehuddin Kramatsyah.
berkedudukan di negeri
(Raja Indragiri ke XVI)
menduyan namun

ditahun terakhir

merupakan masa

peralihan (pindah ke

Japura)

17. Raja Kecik Besar Bergelar Sultan ± 1765-1784 M ± 19 tahun


Sunan.
berkedudukan di Raja
(Raja Indragiri ke XVII)
Pura/Japura

18. Raja Ibrahim bergelar Al Watiq Billah ± 1784-1815 M ± 31 tahun


Paduka Sri Sultan Ibrahim
berkedudukan di Raja

86
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Baharuddin Alam Syah. Pura/Japura namun
(Raja Indragiri ke XVIII)
ditahun terakhir

merupakan masa

peralihan (pindah ke

Rengat)

19. Raja Mun bergelar Sultan Mun ± 1815-1827 M ± 12 tahun


Bungsu.
berkedudukan di Rengat
(Raja Indragiri ke XIX)

20. Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut ± 1827-1838 M ± 11 tahun


Kramat Gangsal.
berkedudukan di Rengat
(Raja Indragiri ke XX)

21. Raja Said bergelar Sultan Said ± 1838-1876 M ± 38 tahun


Mudoyatsyah.
berkedudukan di Rengat
(Raja Indragiri ke XXI)

22. Raja Ismail bergelar Sultan ± 1876 M ± 1 minggu


Ismailsyah.
berkedudukan di Rengat
(Raja Indragiri ke XXII)
23. Sultan Abdullah/Tengku Long ± 1876-1877 M ± 1 tahun berkedudukan
bergelar Sultan Abdullah Inayatsyah
di Rengat
(Raja Indragiri ke XXIII)

24. Raja Husin bergelar Sultan Husin ± 1877-1883 M ± 6 tahun berkedudukan


Syah.
di Rengat
(Raja Indragiri ke XXIV)

25. Sultan Abdullah/Tengku Long ± 1883/1884- ± 5-4 tahun


Bergelar Sultan Abdullah Inayatsyah 1888 M
berkedudukan di

87
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
(Raja Indragiri ke XXV) Peranap

Tengku Isa bergelar Sultan Isa ± 1883/1884-


Modayatsyah. 1902 M ± 19-18 tahun
1883/1884-1902 M
berkedudukan di
(Raja Indragiri ke XXV)
Peranap

26 Tengku Mahmud Syah bergelar Sultan ± 1912-1963 M ± 51 tahun


Mahmud Syah.
berkedudukan di Rengat
(Raja Indragiri ke XXVI)

88
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.6 Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri

Cerita mengenai silsilah Kerajaan Indragiri meruapakan bagian dari cerita

yang bersifat lisan dan masih hidup dalam masyarakat Melayu Indragiri Hulu.

Keberadaan cerita silsilah Kerajaaan Indragiri disampaiakan secara turun-temurun

dari generasi ke generasi melalui lisan penuturnya. Cerita tersebut mengandung

beberapa unsur yang menjadi sebuah pembentuk cerita bersifat sejarah secara

keseluruhan hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk menjadi

bahan cerita sejarah dari Kerajaan Indragiri. Beberapa unsur tersebut terdiri dari

empat unsur yaitu unsur ruang, unsur waktu, unsur kebenaran sejarah, unsur

kausalitas sejarah dan perubahan. Berikut ini uraian dari unsur sejarah dalam

cerita silsilah Kerajaan Indragiri.

4.6.1 Unsur Ruang

Unsur ruang menjadi salah satu unsur utama yang digunakan sebagai

sebuah sumber untuk menentukan sebuah kebenaran dalam cerita. Keterkaitan

ruang sebagai sebuah unsur selalu berpedoman pada tempat penciptaan yaitu

sebuah tempat yang memiliki nilai temporer dan juga spesial (Vansina, 2014:195).

Unsur ruang juga memiliki pandangan dimana sebuah kejadian di masa lampau

dapat dikaitan sebagai peristiwa di zaman sekarang. Dalam cerita silsilah Kerajaan

Indragiri terdapaat beberapa bagian unsur ruang yang mencakup keseluruhan

sebuah peristiwa diantaranya sebuah tempat penciptaan, petunjuk arah, tempat

saksral atau keramat, dan jarak diantara ruang.

Ruang merupakan bagaian dari sebuah gagasan relatif yang secara tak

langsung menyatakan sebuah titik dalam kaitanya dengan titik yang lainnya. Pada

89
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang menjadi titi awal sebagai tempat penciptaan

dari masyarakat Melayu Indragiri berawal dari nama tempat yaitu Keritang.

Dalam hal ini Keritang adalah sebuah titik awal tempat beradanya masyarakat

Melayu Indragiri. Keterkaitan antara unsur ruang yang diberikan dari wilayah

Keritang memiliki hubungan yang erat dnegan Kerajaan Malaka atau negeri

Malaka yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Indragiri. Masyarakat

Melayu Indragiri mempercayai bahwa nenek moyang mereka berasal dari negeri

Malaka yang berdaulat hingga ke wilayah Indragiri. Hal tersebut dapat di lihat

dalam penggalan cerita berikut ini:

Kerajaan Indragiri dikisahkan dalam cerita yang sangat


panjang. Dahulu kala cerita ini bermula dari seseorang nan masyur
dan gagah perkasa dari negeri Malaka. Kerajaan Indragiri bermula
dari seorang Raja Malaka ke empat (IV) bernama Raja Kecik Besar
Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan
Muhammad Syah. Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar
Sultan Muhammad Syah adalah pemimpin yang bijaksana dan
gagah perkasa di Kerajaan Malaka. Selain itu Sultan Muhammad
Syah telah memeluk agama Islam dengan bimbingan Said Abdul
Aziz yang datang dari Jeddah-Arab Saudi. Pada masa pemerintahan
Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar Sultan Mahammad Syah
wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka ke empat (IV) tesebar dari
Malaka hingga wilayah Indonesia tepatnya di wilayah Indragiri,
provinsi Riau saat ini. Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri pada
tahun 1298 M dengan raja pertama yaitu Raja Kecik Mambang
alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah.
Dahulunya pusat kerajaan berada di wilayah Keritang. (1)
Berdasarkan penggalan cerita di atas dapat dikatahui bahwa yang wilayah

Keritang merupakan awal tempat berdirinya Kerajaan Indragiri yang memiliki

hubungan erat dengan Kerajaan Malaka. Titik awal pertama sekali diyakini bahwa

keturunan dari Kerajaan Indragiri adalah keturunan asli dari Kerajaan Malaka

yaitu pada raja Malaka ke IV bernama Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri

Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad Syah. Raja Kecik Besar

90
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad Syah yang memiliki keturunan

bernama Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin

Inayatsyah dan keturunannya dirajakan atas wilayah Indragiri.

Cerita Kerajaan Indragiri memiliki titik awal yang menunjukkan arah

perjalanan seseorang. Pada masyarakat Melayu biasanya petunjuk arah yang

digunakan ialah arah mata angin, arah aliran sungai, tanda-tanda alam (burung)

dan lain sebagainya. Sudut pandang masyarakat Melayu mengenai petunjuk arah

dalam sebuah unsur ruang berbeda-beda sesuai dengan hal yang mempengaruhi

cara pandang mengenai kejadian di masa lalu. Arah perjalanan dari setiap tokoh

dalam cerita berbeda-beda. Dalam hal ini sebagai petunjuk arah untuk menjadi

titik awal orientasi yang berkaitan dengan penciptaan. Adapun petunjuk arah

dalam perjalanan tokoh dari cerita Kerajaan Indragiri ialah sebuah aliran sungai

yang digunakan sebagi penanda. Berikut ini adalah penggalan cerita mengenai

petunjuk arah:

Rakit kulim adalah tiga perahu yang dirakit menjadi satu dan
terbuat dari kayu kulim yang terkenal sangat berat serta tidak dapat
mengapung di atas air. Tetapi dengan kekuatan serta ilmu yang
dimiliki Datuk Perpatih kayu kulim dapat mengapung dan
dijadikan sebuah rakit. Dalam perjalanannya Datuk Patih tidak
berjalan sendirian melainkan ditemani adiknya yang bernama Tun
Kecik untuk mengarungi aliran sungai Indragiri yang keruh menuju
Kerajaan Melaka. (10)
Nara Singa II pun pergi meninggalkan tanah Melaka di waktu
subuh bersamaan dengan Tun Kecik dan Datuk Patih turun dari
istana menuju Durian Daun nama tempatnya lalu naik ke rakit
kulim dan pergi ke Indragiri menyusuri derasnya arus laut dan
setibanya di sungai Indragiri Datuk Patih, Tun Kecik dan Raja Nara
Singa II kembali mengikuti arah sungai yang menuju ke hulu. (11)
Petunjuk arah sebagai titik awal yang diikuti oleh Datuk Patih dan Tun

Kecik untuk menjemput Raja Nara Singa II ialah aliran sungai. Melalui arah aliran

91
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sungai Datuk Patih dan Tun Kecik pergi menjemput Raja Nara Singa II hingga

setibanya di negeri Indragiri. Aliran sungai Indragiri menjadi penanda arah untuk

sampai ke muara sungai Indragiri lalu lanjut berlayar melawati derasnya arah laut

menuju negeri Malaka tempat Raja Nara Singa II berada.

Konsep ruang akan mengacu pada alam semesta yang merujuk pada

sebuah aspek geografis suatu wilayah. Pada sebuah wilayah akan dihuni oleh

masyarakat serta dibangun rumah tinggal bagi mereka khususnya masyarakat

Melayu. Segala jenis kegiatan dari masyarakat tersebut berorientasi pada wilayah

dan lingkungan mikrokosmos sehingga acuan pada ruang yang memiliki makna

tidaklah bersifat sebuah kebetulan. Melalui konsep ruang akan menimbulkan

makna dan keyakinan tersendiri bagi masyarakat atas sebuah kejadian di masa

lalu. Dalam masyarakat Melayu khususnya berada di Indragiri pada cerita silsilah

Kerajaan Indragiri memiliki makna yang tidak sebuah kebetulan. Masyarakat

tersebut menganggap tempat-tempat tertentu yang bersifat sakral dan dapat

memberikan sebuah dampak keburukan dan kebaikan bagi suatu wilayah maupun

bagi masyarakatnya. Berikut ini penggalan cerita mengenai tempat sakral dalam

cerita silsilah Kerajaan Indragirii:

Ketika Nara Singa II sampai di Indragiri pemangku kerajaan


melakukan penobatan sultan kepada Nara Singa II Kolam Loyang
nama tempatnya. Disana Nara Singa II dimandikan dan dikelilingi
oleh warga sambil berteriak dan mengeluh-eluhkan daulat tuanku-
daulat tuanku- daulat tuanku sebanyak tiga kali dengan sebuah obor
di tangan mereka masing-masing. Penobatan itu juga diiringi oleh
sebuah gendang nobat namanya, dimana terdapat dua buah
gendang peningkah dan sebuah suling napiri yang berbentuk naga
konon menjadi lambang kebesaran Kerajaan Indragiri. (11)
Dengan masyarakatnya yang berduyun-duyun pindah ke Kota
Lama maka negeri itu disebut negeri Menduyan dengan asal kata
yaitu Menduyun-duyun. Kata Menduyan pun dijadikan sebagai

92
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
nama sebuah danau yang berada di depan komplek makam Raja
Nara Singa II saat ini. (15)
Di tahun 1532 M Raja Nara Singa II sebelum mangkat
dikarenakan sakit berpesan untuk dimakamkan ditanah perjuannya
yaitu di negeri Menduyan yang disebut sekarang dengan Kota
Lama. (17)
Keyakinan masyarakat Indragiri yang mempercayai bahwa tempat yang

dianggap sakral atau keramat. Hal ini merujuk pada tempat-tempat tertentu seperti

wilayah Kolam Loyang yang dahulunya menjadi tempat pemandian dan

penobatan bagi sultan yang akan naik tahta dikerajaan Indragiri dan diiringi oleh

gendang nobat dan suling napiri pada masa lalu. Selain itu wilayah negeri

Menduyan atau yang dikenal dengan Kota Lama juga menjadi tempat yang

dianggap sakral dan keramat karena disana merupakan tempat Raja Nara Singa II

membangun negeri Indragiri hingga akhirnya mangkat lalu dimakamkan di negeri

Menduyan atau yang disebut juga Kota Lama. Pada negeri Menduyan juga

terdapat sebuah danau yang diberi nama sebagai Danau Menduyan yang berasal

dari peristiwa masa lalu yaitu perpindahan masyarakat Melayu yang dipimpin

oleh Raja Nara Sianga II dari pekan tua ke negeri Menduyan dengan berduyun-

duyun.

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa keterkaitan antara alam

dengan wilayah-wilayah yang dianggap sakral bagi masyarakat Melayu sangat

kuat. Tempat yang dianggap keramat lainnya yaitu sebuah kuburan bagi raja-raja

Indragiri. Di mana kuburan tersebut snagat dimuliakan bahkan sampai ada yang

melakukan ritual-ritual tertentu. Ada juga beberapa makam raja Indragiri yang

raib atau tidak ditemukan da ada juga yang ditemukan berdasarkan pengakuan

dari pihak keluarga terkait. Namun ada juga beberapa yang dikisahkan meminta

93
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dimakamkan dimana ia berasal. Berikut ini adalah penggalan cerita dari tempat

(makam) yang dianggab sakral:

Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah mangkat


di Tambak tepatnya Desa Sungai Raya, Kecamatan Rengat,
Indragiri Hulu. (32)
Sultan Ibrahim memanggil anak dari Sultan Sunan dan
mengembalikan garis tahta kepada Raja Mun bergelar Sultan Mun
Bungsu sebelum beliau mangkat sekitar tahun 1815 M sultan
Ibrahim berpesan untuk dimakamkan di negeri yang ia buka, lalu
Sultan Ibrahim mangkat dan dimakamkan di Masjid Raya tepatnya
di Kampung Besar kota Rengat sekarang. (34)
Hingga akhirnya sekitar tahun 1827 M Sultan Mun Bungsu
mangat dan dimakamkan di dekat Masjid Raya kota Rengat. (35)
Raja Said gelar Sultan Said Mudoyatsyah sakit keras dan tak
kunjung sembuh, kalangan kerajaan menganggap bahwa itu adalah
celaka dari Allah atas perbuatanya selama ini, hingga akhirnya
sakit secara perlahaan pada tahun 1876 M mangkat dan
dimakamkan di Raja Pura atau disebut juga Japura. (37)

Unsur ruang yang mecakup bagian tempat-tempat sakral yang dipercayai

oleh masyarakat Indragiri sebagai tempat yang memiliki kekuatan gaib.

Kepercayaan ini tumbuh dan berkembang seiring berjalanya waktu yang

dahulunya diyakini sebagai tempat raja-raja Indragiri membangun negeri. Makam

maupun tempat yang dianggap sakral menjadi bagian dari masyrakat Melayu

khususnya masyarakat Melayu yang tinggal di wilayah Indragiri.

Di dalam unsur ruang memiliki sebuah keterkaitan yang dinamakan jarak

antar ruang yang satu dengan yang lainnya. Jarak ini merujuk pada sebuah

keterkaitan yang bersifat majemuk artinya kaitan antar ruang cerita saling

membentuk sebuah alur yang searah. Semua kaitan tersebut terjadi dalam satu

peristiwa yang melibatkan ruang didalamnya. Dalam cerita silsislah Kerajaan

Indragiri, Kerajaan Malaka merupakan bagian dari ruang penciptaan dari Kerajaan

94
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri. Ruang penciptaan tersebut memberikan jarak dengan ruang peristiwa

dari berdirinya Kerajaan Indragiri. Jarak juga berperan penting dalam merangkai

peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerita silsilah Kerjaaan Indragiri yang

melibatkan keterkaitan antar ruang. Pada masyarakat lisan jarak tidak diukur

melainkkan dinyatakan dalam bentuk istilah-istilah kualitatif atau bentuk jarak

pendek yang digunakan akal fikiran seperti berjarak antar hari, melewati gunung

X atau perjalanan lainya (Vansina 2014:198).

Pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri tidak ditemukan kalimat yang

menunjukan secara langsung mengenai jarak dalam istilah kualitatif. Hal ini dapat

dipahami karena cerita silsilah Kerajaan Indragiri diperoleh dari hasil dinamika

ingatan dan tidak adanya sumber tertulis yang menyatakan secara terperinci

mengenai cerita silsilah Kerajaan Indragiri seperti naskah, kronik dan sumber

lainnya. Selain itu pola pemikiran manusia zaman dahulu dengan manusia zaman

sekarang juga sangat jauh berbeda sehingga menyebabkan bahasa yang digunakan

juga berbeda dalam menuturkan cerita Kerajaan Indragiri. Berikut ini merupakan

penggalan cerita yang menunjukan keterkaitan antar ruang dalam cerita silsilah

Kerajaan Indragiri:

Akhirnya, sultan beserta rombongan pergi berlayar menuju


pulau Jawa dengan didampingi oleh beberapa kapal sesampainya.
Pihak Kerajaan Majapahit menerima dengan baik kehadiran dari
rombongan Kerajaan Malaka. Raja Abdullah pun menyampaikan
maksud tujuan mereka datang ke Majapahit. Hayam Wuruk
mengizinkan mereka dan memberikan pencerahan serta masukan
demi kebaikan dalam Kerajaan Malaka, selain itu Hayam Wuruk
juga memberikan nasehat kepada Raja Merlang II dan Raja Putri
Bakal untuk tetap sabar dan tetap berdoa kepada yang kuasa
kemudian Sultan dan rombongan beranjak pulang ke tanah Malaka.
(4)
Hari terus berganti minggu, minggu beganti bulan, bulan
berganti tahun dan korban semakin banyak berjatuhan, di wilayah

95
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Malaka pun terjadi keseteruan karena perebutan tahta kekuasaan.
Pada suatu hari Datuk Patih mangajak Datuk Temenggung Kuning
untuk berunding di Bukit Bertingkah membicarakan maksud untuk
menjemput Raja Nara Singa II ke Malaka. Namun keinginan Datuk
Patih tak sepaham dengan Datuk Temenggung Kuning. (8)
Akhirnya untuk menghilangkan rasa kesedihanya raja
melakukan perjalanan atau yang disebut dengan ekspansi ke arah
hulu sungai. Waktu Raja Nara Singa II menemukan wilayah hutan
yang letaknya cukup tinggi serta dikelilingi oleh pohon dan
terdapat sungai serta danau didepanya. (14)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat digambarkan dalam cerita silsilah

Kerajaan Indragiri dimulai dari titik awal penciptaan yang bermula dari Kerajaan

Malaka yang membuat penciptaan baru atas terbentuknya Kerajaan Indragiri yang

berkedudukan di Keritang. Kemudian titik penciptaan tersebut membutuhkan

petunjuk arah yang menjadi sebuah acuan dalam perjalaan setiap tokoh cerita

petunjuk tersebut berupa arus sungai dan lain-lain. Dalam proses perjalanan

didapati sebuah tempat yang dianggap sakral atau keramat seperti gunung,

makam, sungaI dan lain sebagainya. Terakhir ialah jarak antar ruang dalam

hitungan hari maupun jarak antara suatu masa.

4.6.2 Unsur Waktu

Dalam sejarah waktu memiliki peranan yang sangat penting untuk

menjukkan urutan maupun kapan sebuah peristiwa terjadi. Dalam kejadian dapat

dilihat dari waktu yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Sebuah

peristiwa dapat diurutkan menjadi sebuah kronologi yang akan menggambarkan

sebuah peristiwa yang terjadi. Melalui waktu kita dapat mengetahu kapan sebuah

peristiwa itu terjadi. Dalam masyarakat Melayu pola perhitungan waktu tidak

selalu berpatokan pada jam atau pun kalender dalam sebuah cerita yang bersifat

lisan. Namun dapat berupa sebuah keadaan atau situasi yang sedang terjadi

maupun petanda alam yang sedang dilihat lalu disampaikan secara turun temurun.

96
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Hal inilah yang menyebabkan sangat sulit untuk mengukur waktu dalam sebuah

tradisi dalam masyarakat Melayu umumnya.

Pada masyarakat Melayu yang bertempat tinggal di Indragiri memiliki

sebuah cerita yang bersifat tradisi yaitu cerita silsilah Kerajaan Indragiri. Cerita

yang disampaikan secara turun temurun telah melewati waktu yang sanggat

panjang mulai dari tahap awal penciptaan hingga akhir. Cerita silsilah Kerajaan

Indragiri telah diketahui tahun dari awal berdirinya hingga keruntuhan Kerajaan

Indragiri tersebut. Diketahui awal mula Kerajaan Indragiri berdiri berasal dari

keturunan Kerajaan Malaka ke IV yaitu Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri

Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad Syah yang memiliki

keturunan bernama Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan

Alauddin Inayatsyah yang menjadi raja pertama di Kerajaan Indragiri. Berikut ini

adalah kutipan cerita silsilah Kerajaan Indragiri. Perhatikan peggalan cerita

berikut ini:

Pada masa pemerintahan Raja Kecik Besar Malikul Muluk


bergelar Sultan Mahammad Syah wilayah kekuasaan Kerajaan
Malaka ke empat (IV) tesebar dari Malaka hingga wilayah
Indonesia tepatnya di wilayah Indragiri, provinsi Riau saat ini.
Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri pada tahun 1298 M dengan
raja pertama bernama Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I
bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah. Dahulunya pusat kerajaan
berada di wilayah Keritang. (1)

Berdasarkan penggalan cerita di atas dapat diketahui bahwa masyarakat

Melayu yang tinggal di Indragiri telah menggunakan konsep waktu yang berupa

kekekalan sebagai masa penciptaan yang menceritakan tentang silsilah Kerajaan

Indragiri. Selain itu, cerita di atas memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu

di Indragiri bertempat tinggal awalnya yang diberi nama Keritang sebagai tempat

97
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
awal kepemimpinan raja pertama Indragiri yaitu Raja Kecik Mambang alias Raja

Merlang I bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah.

Pada cerita Kerajaan Indragiri perlu dipahami bahwa semua peristiwa yang

terjadi dalam cerita tidak datang secara tiba-tiba melainkan terjadi dalam suatu

rangkian waktu yang saling berkaitan. Vansina (2014:200), menyatakan bahawa

sebuah konsep waktu secara umum dapat berupa sebuah kekekalan, waktu berupa

siklus, dan waktu berupa garis linear tetapi tidak ada kebudayaan yang hanya

menggunakan satu dari representasi waktu ini. Waktu juga menjadi penentu dan

dapat dijadikan patokan dalam mengetahui kapan sebuah peristiwa terjadi.

Cerita silsilah Kerajaan Indragiri memiliki konsep waktu yang didominasi

oleh siklus dan linear. Waktu tersebut membentuk siklus yang saling berkaitan

satu dengan yang lain. Diketahui dalam cerita bahwa Kerajaan Indragiri berdiri

sekitar tahun 1298 M hal ini menunjukan waktu penciptaan dari kerajaan tersebut.

Seiring berjalannya waktu dan terjadinya serangkian kejadian sekitar tahun 1949

M Kerajaan Indragiri mengalami keruntuhan dan bergabung dengan Negara

Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) artinya pada tahun 1949 M adalah tahap

akhir dari perjalanan Kerajaan Indragiri.

Serangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri

memiliki sifat waktu yang linear. Terjadinya sebuah peristiwa dikarenakan adanya

aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat dan membentuk sebuah alur waktu

tersendiri. Aktivitas masyarakat atau peristiwa yang terjadi dalam waktu selalu

dikaitkan dengan hal yang lebih baik dan hal yang buruk. Kegiatan aktivitas ini

tergambar dalam waktu masa kepemimpinan raja-raja di Kerajaan Indragiri, yang

membentuk perbandingan antara raja yang satu dengan raja yang lainnya dengan

98
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sebuah peritiwa yang terjadi di masa lalu. Seperti pada masa kepemimpinan raja

Nara Singa II bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah

Filalam yang menjadi raja pertama yang berada di Kerajaan Indragiri. Pada raja

sebelumnya tidak berada di Kerajaan Indragiri untuk memimpin pemerintahan

melainkan berada di Kerajaan Malaka. Pada masa Raja Nara Singa II bertahta

Kerajaan Indragiri mencapai puncak kejayaanya di masa lalu.

Setelah silih berganti kepemimpinan hingga dua puluh enam raja bertahta

pada masa Tengku Mahmud Syah bergelar Sultan Mahmud Syah Kerajaan

Indragiri mulai mengalami kemunduruan dengan masuknya Kerajaan Indragiri

menjadi bagian NKRI sekitar tahun 1949 M. Pada masa kepemimpinan raja yang

silih berganti tersebut banyak terjadi penyerangan-penyerangan terhadap Kerajaan

Indragiri dari luar maupun dalam. Penyerangan dari dalam berupa serangan yang

tidak sejalan antara anggota kerajaan sebab ingin menguasi wilayah maupun ingin

naik tahta dan hal ini sangat wajar terjadi dikalangan kerajaan. Sehingga banyak

menimbulkan korban jiwa yang berjatuhan dari hasil penyerangan tersebut.

Berikut ini adalah penyerangan yang terjadi di Kerajaan Indragiri

berdasarkan sumber cerita yang dihimpun melalui pendekatan tradisi lisan:

penyerangan terhadap Kerajaan Indragiri pertama sekali terjadi pada masa

kepemimpinan Raja Nara singa II bergelar Paduka Maulana Sri Sultan

Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam sekitar tahun 1512 M dan penyerangan

tersebut dipimpin oleh seorang panglima Portugis bernama Verdicho Marloce

yang berhasil di tangkap oleh askar Kerajaan Indragiri. Penyerangan tersebut

berhasil dimenangkan oleh pasukan Kerajaan Indragiri dan Kerajaan Malaka.

99
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penyerangan terhadap Kerajaan Indragiri berikutnya terjadi ketika pasukan

Dari Kerajaan Banten menyerang kantor dagang milik bangsa belanda di Kerajaan

Indragiri sekitar tahun 1615 M. Tak lama kemudian penyerangan kembali terjadi

oleh Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1623

M. Pada masa itu kerajaan Indragiri sangat terkenal dengan hasil rempah-rempah

salah satunya lada. Pada masa itu Kerajaan Indragiri dipimpin oleh Raja

Jamalluddin yang bergelar Sultan Jamalluddin Keramatsyah yang berhasil

memperluas perdangan hingga ke bagian luar daerah Indragiri dan bagian dalam

Indragiri. Pada masa lalu Kerajaan Minangkabau menjadi pembeli rempah-

rempah dari Kerajaan Indragiri sehingga membuat pihak Kerajaan Aceh marah

dan berniat untuk memutus jalur perdangan tersebut sebab merasa tersaingi.

Hingga akhirnya penyerangan pun terjadi pasukan Kerajaan Aceh menyerang

Kerajaan Indragiri namun Kerajaan Aceh kalah sebab dalam serangan tersebut

Kerajaan Indragiri dibantu oleh askar Kerajaan Riau-Lingga dan Kerajaan Jambi.

Perhatikan penggalan cerita berikut ini:

Selanjutnya Kerajaan Indragiri pernah diserang oleh


Kerajaan Aceh pada tahun 1623 M yang dipimpin oleh Sultan
Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh, serangan ini bertujuan untuk
memutuskan hubungan perdagangan lada antara Kerajaan Indragiri
dengan Kerajaan Minangkabau. Kerajaan Aceh merasa tersaingi
dalam perdagangan lada tersebut. Namun akhirnya Kerajaan Aceh
tidak berhasil menguasai karena Kerajaan Indragiri mendapat
bantuan askar dari Kerajaan Riau-Lingga dan Kerajaan Jambi. Pada
akhir tahun 1658 M Raja Jamalluddin yang bergelar Sultan
Jamalluddin Keramatsyah raja Indragiri ke tujuh jatuh sakit lalu
mangkat sekitar tahun 1658 M. (19)
Sekitar tahun 1679 M kantor dagang Belanda yang berpusat
di Kuala Cinaku mendapat serangan dari pasukan askar Banten
kurang lebih seratusan askar dibawah kepemimpinan pangeran
Arya Surya dan Ratu Bagus. Penyerangan ini terjadi karena tidak
suka pihak Kerajaan Banten atas berdirinya loji bangsa Belanda di
tanah nusantara. (22)

100
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pada sekitar tahun 1755 M penyerangan terjadi kembali dialami oleh

Kerajaan Indragiri. Penyerangan ini terjadi karena ditolaknya pinangan Raja

Bayang yang datang dari Minangkabau untuk meminang Raja Halimah atau

dikenal dengan Tengku Puan Bungsu. Pasukan Raja Bayang menyerang Kerajaan

Indragiri dengan sangat keji sehingga membuat Raja Hasan bergelar Sultan

Salehhuddin Keramatsyah marah dan meminta bantuan kepada Pangeran Suta

untuk melawan Raja Bayang beserta pasukannya. Lalu akhirnya penyerangan

tersebut dimenangkan oleh Kerajaan Indragiri atas bantuan Pangeran Suta.

Perhatikan penggalan cerita berikut ini:

Pada masa Raja Hasan bergelar Sultan Salehhuddin


Keramatsyah memimpin juga terjadi peperangan yang sangat besar
saat itu, disebabkan karena datangnya Raja Bayang dari
Minangkabau sekitar tahun 1755 M dengan didampingi oleh Raja
Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis dengan iringan balatentara
yang gagah perkasa. Kedatangan Raja Bayang bertujuan untuk
meminang Raja Halimah atau dikenal dengan Tengku Puan Bungsu
yang tersohor akan kecantikannya hingga ke negeri seberang.
Namun Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah
menolak, sebab perilaku mereka sungguh sangat tercela. Ketika
pagi hari menjelang Raja Bayang datang untuk bertemu dengan
Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah dengan sifat
angkuhnya meminta untuk anaknya Raja Halimah atau dikenal
dengan Tengku Puan Bungsu ia peristri. Namun sayangnya Raja
Hasan bergelar Sultan Salehuddin Kramatsyah menolak permintaan
itu. Penolakan ini berujung pada peperangan antara Raja Bayang
dan pasukannya dengan pasukan Raja Hasan bergelar Sultan
Salehuddin Keramatsyah. Namun dengan kekuatan Raja Bayang
dan pasukannya Kerajaan Indragiri tertaklukkan, Raja Hasan
bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah dan pasukan pun
menyingkir kesebuah daerah bernama Gaung tak jauh dari istana
Kerajaan Indragiri. (30)
Disanalah Sultan menyusun rencana bersama dengan
Datuk dan mentrinya, lalu mentri berkata kepada Raja bahwa ada
seorang pangeran bernama Pangeran Suta di Jambi yang sangat
kuat. Tak perlu berfikir lama sultan memerintahkan untuk
memanggil Pangeran Suta tersebut untuk membantu mereka. Datuk
Temenggung pun berlayar dari Gaung ke Jambi, namun Pangeran
Suta tidak berada di lokasi melainkan di Malaka untuk mengusir

101
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
geran lanun. Datuk Temenggung akhirnya pergi ke Malaka lalu
bertemu dengan Pangeran Suta sambil menyampaikan maksud
tujuannya. Pangeran Suta bersedia untuk membantu Kerajaan
Indragiri dalam mengusir Raja Bayang dan pasukannya hingga
akhirnya perang pun dimenangkan oleh Kerajaan Indragiri yang
dibantu oleh Pangeran Suta sekitar tahun 1755 M. (31)
Tak lama berselang di masa raja umar bergelar Sultan Berjanggut

Keramatsyah Gangsal naik tahta telah terjadi kegaduhan di dalam kalangan

Kerajaan Indragiri untuk merebut kekuasaan. Pada masa itu Raja Said bergelar

Sultan Said Mudoyatsyah sangat bersikeras untuk merebut kekuasan dari Raja

Umar hingga berujung pada penyerangan di Pematang Reba namanya saat ini

sekitar tahun 1838 M. Penyerangan yang dilakukan oleh Sultan Said Modayatsyah

mendapat bantuan dari adik bungsunya yaitu Raja Abdul Rahman. Akhirnya Raja

Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah berhasil merebut tahta Kerajaan Indragiri

sekitaran tahun 1838 M. berikut adalah penggalan cerita penyerangan Sultan Said

Mudoyatsyah:

Di sisi lain Raja Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah


semakin merasa tidak dihargai dan melancarkan serangan ke
Kerajaan Indragiri yang bertempat di kota Japura masa itu. Namun
Raja Umar tetap memiliki kekuatan yang kuat untuk menghalau
serangan dari Sultan Said tersebut. (36)
Akhirnya Sultan Said Mudoyatsyah semakin nekat hingga
sampai berujung peperangan tepatnya di Pematang Reba sekarang
namanya. Merasa Sultan Said Mudoyatsyah tidak mampu
menghadapi Raja Umar dan para pasukannya, maka Sultan Said
membuat siasat kembali untuk bekerjasama untuk meminta bantuan
kepada adik bungsunya yaitu Raja Abdul Rahman. (36)
Raja Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah berhasil merebut
tahta Kerajaan Indragiri sekitaran tahun 1838 M. (36)
Pada tahun 1890 M pihak dalam Kerajaan Indragiri saling serang

menyerang antara pihak Sultan Abdullah dengan Sultan Isa. Penyerangan ini

terjadi antara pihak dalam kerajaan disebabkan Sultan Abdullah tidak berpihak

102
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kepada Belanda atas pencopotan paksa kepemimpinannya di Kerajaan Indragiri

sehingga berujung pada pengangkatan dua sultan yang memimpin di Kerajaan

Indragiri masa itu yang di damaikan oleh pihak Belanda di Pematang Raba nama

tempatnya. Berikut penggalan cerita pemyerangan antara dua sultan tersebut:

Selain itu setiap raja saling memperkuat kekuasaan dan


melancarkan jalur perdagangannya masing-masing namun Belada
tetap berpihak pada Sultan Isa. Berpihakan ini semata-mata hanya
demi melancarkan akses perekonomian pemerintah Belanda. Sultan
Isa yang berkedudukan di Rengat menjalankan roda pemerintahan
dengan baik pula. Namun Sultan Isa tetap tidak menggangu
pemerintahan yang dijalankan oleh Sultan Abdullah waktu itu,
hingga pada sekitaran tahun 1888 M Sultan Abdullah mangkat
dimakamkan di Peranap. Setelah mangkatnya Sultan Abdullah
maka tahta dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sultan Ibrahim.
Keturunan dari Sultan Ibrahim yang pertama Raja Moehammad
alias Tengku Sulong, kedua Tengku Cik, ketiga Tengku Atah, dan
kelima Tengku Bagung. (43)
Berdasarkan cerita sejarah yang disampaikan bahwa pada masa
itu telah terjadi perjanjian yang mengatur atas hak dan kekuasaan.
Peritiwa ini didasari karena perang dingin yang berkelanjutan
antara pihak Sultan Isa dengan pihal Sultan Abdullah masa itu.
Maka Belanda pun turut campur tangan mendamikan kedua belah
pihak ini antara Sultan Isa dengan Sultan Ibrahim. Pada bulan
Agustus tahun 1890 M di kota Rengat dilakukan perdamian yang
berisikan Tengku Isa atau Sultan Isa Modayatsyah sebagai yang
dipertuan besar Indragiri berkedudukan di Rengat, Raja Ibrahim
sebagai sultan muda Indragiri mempunyai kekuasaan bagian Hulu
Indragiri meliputi Kota Baru, Kelayang, Morong, Japura, dan
Kampung Orang Laut. (44)
Penyerangan berikutnya terjadi ketika masa agresi militer I pada 15 Juli

1947 M sampai 5 Agustus 1947 M oleh Belanda ketika Van Mook yang

berdampak pada kepemimpinan di setiap kerajaan khususnya Kerajaan Indragiri.

Pada masa tersebut Kerajaan Indragiri dipimpin oleh Tengku Mahmud Syah

bergelar Sultan Mahmud Syah. Beberapa tahun kemudian Belanda melancarkan

aksi agresi militer II pada 19 Desember 1948 M hingga beruntut panjang ditahun

103
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1949 M tepatnya pada peristiwa 5 Januari 1949 M. Berikut penggalan cerita

penyerangan yang terjadi di masa Sultan Mahmud Syah:

Berakhirnya Kerajaan Indragiri terjadi pada masa Sultan


Mahmudsyah yang menjadi raja terakhir di Kerajaan Indragiri.
Pada masa itu ketika Indonesia telah merdeka. Namun Kerajaan
Indragiri belum bergabung ke Negara Kesatuan Republik
Indonesia, hal ini disebabkan karena pada masa tersebut kekuasaan
Belanda masih tersisah di negeri Indragiri. Namun ketika terjadi
agresi militer I pada 15 Juli 1947 M sampai 5 Agustus 1947 M oleh
Belanda ketika Van Mook mengeluarkan ultimatumnya yang di
latar belakangi oleh pelanggaran Belanda terhadap perjanjian
Linggarjati. Mulai dari sinilah terjadi peristiwa penyerangan besar-
besaran terhadap Indonesia khususnya Sumatera Timur dan Pulau
Jawa. Namun beberapa tahun kemudian Belanda melancarkan aksi
agresi militer II pada 19 Desember 1948 M hingga beruntut
panjang ditahun 1949 M tepatnya pada peristiwa 5 Januari 1949
M. Pada masa itu Indragiri mendapat serangan dari Belanda
keberlanjutan dari agresi militer II. Kota Rengat di serang habis-
habisan masyarakatnya dibunuh karena pada masa itu Indragiri
tepatnya Air Molek merupakan basis militer Indonesia yang terkuat
dan memuat pasokkan persenjataan. Sehingga Belanda
memfokuskan serangannya terhadap wilayah Indragiri. Sultan
Mahmud pun tak dapat berbuat banyak atas kejadian ini,
masyarakat banyak yang berlindung di istana Indragiri dan banyak
juga yang mati terbunuh. Hingga akhirnya peristiwa ini dikenang
sebagai peristiwa Rengat berdarah 5 Januari 1949 M. hingga pada
akhirnya pada tanggal 19 Desember 1949 M Kerajaan Indragiri
bergabung dengan NKRI, maka habis sudah masa kepemimpinan
Sultan Mahmudsyah dan di tanggal 17 Maret 1963 M Sultan
Mahmud wafat dan dimakamkan di Masjid Raya kota Rengat. (50)

Secara keseluruhan tahun penyerangan yang terjadi di Kerajaan Indragiri

dapat diketahui berdasarkan tabel berikut ini:

Daftar Tabel IV Penyerangan Pada Kerajaan Indragiri.

No. Tahun Keterangan

1. 1512 M Kerajaan Indragiri diserang oleh bangsa Portugis

2. 1623 M Diserang oleh Kerajaan Aceh atas perintah Sultan Iskandar

104
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Muda.

3. 1679 M Serangan dari pasukan askar Banten yang dipimpin oleh

Pangeran Arya Surya dan Ratu Bagus.

4. 1755 M Diserang oleh Kerajaan Minangkabau Raja Bayang beserta

pasukan.

5. 1838 M Penyerangan terjadi dikalangan kerajaan atas perintah

Sultan Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah.

6. 1890 M Terjadi saling serang antara pihak Sultan Abdullah dengan

Sultan Isa.

7. 1947 M Diserang oleh pasukan Belanda atas dampak agresi militer

I.

8. 1948-1949 M Diserang oleh pasukan Belanda atas dampak agresi militer

II.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa alur waktu yang

dimiliki dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri memiliki sifat waktu yang linear

artinya waktu akan terus bergerak ke sebuah akhir cerita. Inti dari akhir cerita

tersebut akan merujuk pada sebuah peristiwa besar yang terjadi dalam perjalanan

sebuah cerita dari awal hingga akhir. Melalui rangkaian peristiwa yang telah

dipaparkan dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri peristiwa yang terjadi di masa

lalu dapat diketahui berdasarkan raja yang berkuasa secara silih berganti. Secara

keseluruhan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita silsilah Kerajaan

Indragiri dapat digambarkan sebagai berikut:

105
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Daftar Tabel V Priodisasi Pada Kerajaan Indragiri.

No. Unsur Waktu Keterangan Sumber Cerita

1. 1298 M Berdirinya Kerajaan Indragiri dengan raja ke-1

bernama Raja Kecik Mambang atau Raja Merlang I

bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah.

2. 1337 M Raja Iskandar Pahlawan atau Raja Nara Singa I

dinobatkan menjadi raja ke-2.

3. 1400 M Raja Merlang II Bergelar Sultan Jamaluddin

Inayatsyah dinobatkan menjadi raja ke-3.

4. 1410 M Kepergian rombongan Raja Abdullah, Raja Merlang

II, dan Putri Bakal ke Majapahit.

5. 1473 M Penobatan Raja Nara Singa II bergelar Paduka

Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan

Zirullah Filalam menjadi raja ke-4 dan menjadi raja

pertama yang berada di Kerajaan Indragiri.

6. 1508 M Perpindahan pusat Kerajaan Indragiri dari Keritang ke

Pekan Tua pada masa kepemimpinan Raja Nara Singa

II.

7. 1512 M Penyerangan bangsa portugis ke Kerajaan Indrgiri dan

Kerajaan Malaka.

8. 1532 M Raja Ussulluddin Hasansyah dinobatkan menjadi raja

ke-5.

9. 1557 M Raja Ahmad bergelar Sultan Mohamadsyah

106
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dinobatkan menjadi raja ke-6.

10 1599 M Raja Jamalluddin bergelar Sultan Jamalluddin

Keramatsyah dinobatkan menjadi raja ke-7.

11. 1623 M Kerajaan Indragiri diserang oleh pasukan Kerajaan

Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda.

12. 1658 M Sultan Jamalluddin Sulaimansyah dinobatkan menjadi

raja ke-8.

13 1664 M Perjanjian dagang antara Belanda dengan kerajaan

Indragiri yang diketahui oleh Sultan Jamalluddin

Sulaimansyah.

14. 1669 M Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah dinobatkan menjadi

raja ke-9.

15. 1676 M Sultan Ussulluddin Ahmadsyah dinobatkan menjadi

raja ke-10.

16. 1679 M Kerajaan Indragiri diserang oleh pasukan dari

Kerajaan Banten yang bertujuan menghancurkan

kantor dagang yang berpusat di Kuala Cinaku.

17. 1687 M Sultan Abdul Jalilsyah dinobatkan menjadi raja ke-11.

18. 1700 M Sultan Mansyursyah dinobatkan menjadi raja ke-12.

19. 1704 M Sultan Modamadsyah dinobatkan menjadi raja ke-13.

20. 1707 M Sultan Musyafarsyah dinobatkan menjadi raja ke-14.

21. 1715 M Raja Ali Mangku Bumi bergelar Sultan Zainal Abidin

dinobatkan menjadi raja ke-15.

107
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
22. 1735 M Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah

dinobatkan menjadi raja ke-16.

23. 1755 M Penyerangan Raja Bayang dan pasukannya ke

Kerajaan Indragiri yang berniat memperistri Raja

Halimah yang lebih dikenal dengan nama Tengku

Puan Bungsu anak dari Raja Hasan bergelar Sultan

Salehuddin Keramatsyah.

24. 1765 M Raja Kecik Besar bergelar Sultan Sunan dinobatkan

menjadi raja ke-17 dan sekaligus dilakukan

perpindahan pusat kerajaan dari Kota Lama ke Japura.

25. 1784 M Perang di Teluk Ketapang yang dipimpin oleh Sultan

Ibrahim dan menjadi tahun kemunduran bagi Raja

Kecik Besar bergelar Sultan Sunan.

26. 1784 M Sultan Ibrahim diangkat menjadi raja ke-18.

27. 1815 M Raja Mun bergelar Sultan Mun Bungsu dinobatkan

menjadi raja ke-19.

28. 1827 M Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut Keramat

Gangsal dinobatkan menjadi raja ke-20.

29 1838 M Terjadi perebutan tahta yang dilakukan oleh Raja Said

bergelar Sultan Said Mudoyatsyah terhadap

kepemimpinan Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut

Keramat Gangsal.

Raja Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah

dinobatkan menjadi raja ke-21.

108
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Terjadi perseteruan antara Raja Said bergelar Sultan

Said Mudoyatsyah dengan Raja Muda Jumahat Singat

Tangan yang dikenal dengan perjanjian Tractaat Van

Vrede En Vriendscap.

30. 1876 M Raja Ismail bergelar Sultan Ismailsyah dinobatkan

menjadi raja ke-22.

31. 1876 M Sultan Abdullah atau yang dikenal degan sebutan

Tengku Long bergelar Sultan Abdullah Inayatsyah

dinobatkan menjadi raja ke-23.

32. 1877 M Raja Husin bergelar Sultan Husin Syah dinobatkan

menjadi raja ke-24.

33. 1883 atau 1884 M Sultan Abdullah atau yang dikenal degan sebutan

Tengku Long bergelar Sultan Abdullah Inayatsyah

dinobatkan menjadi raja ke-24.

34. 1884 atau 1884 M Tengku Isa bergelar Sultan Isa Modayatsyah

dinobatkan menjadi raja ke-25.

35. 1890 M Terjadi perdamaian antara Tengku Isa bergelar Sultan

Isa Modayatsyah dengan Sultan Ibrahim anak dari

Sultan Abdullah atau yang dikenal degan sebutan

Tengku Long bergelar Sultan Abdullah Inayatsyah

yang berisikan perjanjian pembagian wilayah hulu dan

hilir.

36. 1902 M Diangakatnya Raja Uwok menjadi pemangku sultan di

Kerajaan Indragiri dan dinobatkan secara adat.

109
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
37. 1912 M Tengku Mahmud Syah bergelar Sultan Mahmud Syah

dinobatkan menjadi raja ke-26.

38. 15 Juli 1947 Terjadi penyerangan Agresi Militer I di nusantara

sampai 5 Agustus yang berdampak pada penyerangan besar-besaran di

1947 M wilayah Sumatera Timur khususnya di Kerajaan

Indragiri.

49. 1948 sampai 5 Terjadi penyerangan Agresi Militer II di nusantara dan

Januari 1949 M pada 5 Januari 1949 terjadi penyerangan besar-besaran

oleh bangsa Belanda di Kerajaan Indragiri yang

dikenal dengan Rengat berdarah.

40. 19 Desember Bergabungan Kerajaan Indragiri ke Negara Kesatuan

1949 M Republik Indonesia (NKRI).

4.6.3 Unsur Kebenaran Sejarah

Membahas mengenai kebenaran sejarah akan sangat erat kaitannya dengan

masyarakat Melayu dari sebuah kebenaran sejarah yang dibahas. Dalam

masyarakat Melayu umumnya sangat meyakini sebuah kebenaran atas sejarah

leluhurnya. Begitu juga pada kebenaran dari cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang

tidak akan lepas dari masyarakat Melayu yang berada di wilayah Indragiri sendiri.

Meraka sangat meyakini dan membenarkan bahwa cerita tentang Kerajaan

Indragiri memang benar-benar terjadi sebagai bukti dari masa lalu leluhur mereka.

Sebuah cerita akan diyakini kebenarannya jika sudah melawati masa yang cukup

panjang dan diceritakan secara generasi ke generasi.

110
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Vansina (2014:203), menyatakan bahwa kebenaran sejarah (historical

truth) akan selalu berhubungan dengan sebuah gagasan yang bersifat spesifik bagi

sebuah kebudayaan. Dalam hal ini gagasan tersebut akan saling berkaitan dengan

kebudayaan Melayu dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri. Melalui sebuah

kebudayaan kebenaran akan dapat dibuktikan dengan sesuatu hal yang secara

berulang-ulang dilakukan dan diyakini secara bersama-sama oleh masyarakat

khususnya para leluhur. Artinya leluhur dipercayai sebagai saksi mata dalam

sebuah peristiwa di masa lalu dan diceritakan secara turun temurun kepada anak

cucu mereka sebelum meninggal. Dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh

seseorang akan dapat diyakini kebenaranya ketika tergantung pada siapa yang

menceritakannya. Hal ini akan dapat diyakini jika berhubungan dengan usia sang

pencerita artinya semakin tua umur sang pencerita maka semakin benar pula cerita

yang disampaikan. Begitu juga dengan jabatan dan kedudukan yang dapat

mempengaruhi keyakian sesorang ketia cerita disampaikan kepada masyarakat.

Dalam masyarakat Melayu yang berada disekitaran Kerajaan Indragiri

tepatnya di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu tidak ada indikasi yang menyatakan

bahwa peritiwa di masa lalu benar terjadi. Namun cerita silsilah Kerajaan

Indragiri dapat dibuktikan dengan adanya kebenaran sejarah jika melihat dari

sudut pandang sang pencerita. Narasumber atau sang pencerita yang berasal dari

keturunan Kerajaan Indragiri adalah seorang tokoh masyarakat berusia lebih muda

dari usia cerita tersebut. Jika melihat usia dan kedudukan sang pencerita yang

masih mampu menceritakan peristiwa yang terjadi berabad-abad yang lalu dan

mengingat bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar 1298 M hingga saat ini di

tahun 2020 maka terhitung sekitar 722 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa cerita

111
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
silsilah Kerajaan Indragiri telah diceritakan dari generasi ke generasi dan

tersimpan dalam ingatan.

Cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang selalu diceritakan secara terus

menerus diyakini bahwa cerita silsilah Kerajaan Indragiri tersebut telah

disampikan oleh leluhur mereka secara lisan kepada anak cucu mereka atas

peristiwa di zaman dahulu. Cerita tersebut awalnya berbentuk cerita sejarah lisan

dan kemudian berubah menjadi sebuah tradisi cerita lisan ketika ingin

disampaikan kepada orang lain. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri disampikan

secara terus menerus selama bertahun-tahun sehingga menimbulkan sisi cerita

lisan yang unik terhadap sang pendegar. Berdasarkan cerita bahwa raja pertama di

Kerajaan Indragiri adalah kerturunan dari Sultan Malaka ke IV. Perhatikan

penggalan cerita berikut ini:

Kerajaan Indragiri dikisahkan dalam cerita yang sangat


panjang. Dahulu kala cerita ini bermula dari seseorang nan masyur
dan gagah perkasa dari negeri Malaka. Kerajaan Indragiri bermula
dari seorang Raja Malaka ke empat (IV) bernama Raja Kecik Besar
Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan
Muhammad Syah. Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar
Sultan Muhammad Syah adalah pemimpin yang bijaksana dan
gagah perkasa di Kerajaan Malaka. Selain itu Sultan Muhammad
Syah telah memeluk agama Islam dengan bimbingan Said Abdul
Aziz yang datang dari Jeddah-Arab Saudi. Pada masa pemerintahan
Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar Sultan Mahammad Syah
wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka ke empat (IV) tesebar dari
Malaka hingga wilayah Indonesia tepatnya di wilayah Indragiri,
provinsi Riau saat ini. Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri pada
tahun 1298 M dengan raja pertama yaitu Raja Kecik Mambang
alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah.
Dahulunya pusat kerajaan berada di wilayah Keritang. Sultan
Malaka ke empat mempunyai seorang putra mahkota yang bernama
Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan
Alauddin Inayatsyah dan saudara kandung bernama Raja Ibrahim
alias Raja Abu Sahid yang menjadi Sultan Malaka ke lima (V)
sekitar tahun 1343 sampai 1344 M serta Raja Kasim gelar Sultan
Musyafarsyah yang menjadi Sultan Malaka ke enam (VI) sekitar

112
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
tahun 1344 sampai 1384 M. Raja Merlang I diketahui memiliki
seorang putra bernama Raja Iskandar Pahlawan alias Raja Nara
Singa I. Pada masa kepemimpinan sultan Malaka ke empat, sultan
menobatkan Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar
Sultan Alauddin Inayatsyah untuk memimpin wilayah taklukannya
di daerah Keritang (Indragiri) sebagai cikal bakal Kerajaan
Indragiri. (1)
Pengelompokan dalam sumber kebenaran tradisi lisan pada masyarakat

Melayu yang memiliki kebudayaan lisan sangat beragam salah satunya adalah

cerita yang berbentuk lisan. Widayat (2004:15), berpendapat cerita lisan adalah

sebuah cerita yang disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi dan

memiliki kebenaran di masyarakat. Cerita yang disampaikan secara lisan pada

umumnya bercerita mengenai sebuah kejadian di masa lalu yang dianggab benar

dari segi sejarah sebagai pandangan kolektif (folk history) dan melewati distorsi

waktu sehingga dapat jauh berbeda dari cerita aslinya.

Cerita silsilah Kerajaan Indragiri tidak menutup kemungkinan telah

melawati distorsi waktu yang cukup panjang karena tidak adanya bukti kesaksian

yang dapat dipercaya. Sebab cerita ini telah disampaikan secara berulang-ulang

dari generasi ke generasi sebagai sebuah petunjuk dan kebenaran. Namun, cerita

disampaikan oleh sang pencerita haruslah menggambarkan sebuah cerita yang

dikenal oleh masyarakat meskipun versinya berbeda-beda. Hal ini dapat terlihat

pada alur, latar, tokoh, dan urutan episode cerita yang tetap sama (Van Gennep

dalam Vansina 2014:54). Sehingga sebuah cerita haruslah dituliskan secara

keseluruhan agar tidak banyak menimbulkan versi cerita dalam sebuah kebenaran

sejarah yang dapat dipercayai.

Sebuah peristiwa yang terjadi pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri sangat

erat kaitanya dengan ruang sebagai tempat penciptaan. Dimana peristiwa tersebut

113
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
akan terjadi dalam ruang lingkup alam nyata dan memiliki bukti wujudnya dalam

sebuah saksi sejarah. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri memiliki tempat-tempat

yang dianggap berkaitan dengan cerita Kerajaan Indragiri di masa lalu sebagai

saksi bisu dari peristiwa di masa lalu. Tempat yang diyakini oleh masyarakat

Melayu mengenai keberadaan Kerajaan Indragiri di masa lalu diantaranya

Kecamatan Keritang yang saat ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Indragiri

Hilir. Dahulunya tempat ini dipercayai oleh masyarakat sekitar sebgai tempat

pertama sekali pusat Kerajaan Indragiri ketika Raja Nara Singa II sampai

Indragiri. Namun disayangkan hingga saat ini belum dapat ditemukan dimana

letak istana Kerajaan Indragiri pada berkedudukan di Keritang. Wilayah Desa

Pekan Tua yang masuk ke dalam Kacamatan Kampas, Kabupaten Indragiri Hilir

juga merupakan tempat dari kedudukan kerajaan Indragiri setelah dipindahkan

dari wilayah Keritang. Hingga saat ini juga belum ditemukan dimana titik dari

istana Kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Desa Pekan Tua. Wilayah

berikutnya adalah Desa Kota Lama, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten

Indragiri Hulu yang menjadi tempat kedudukan dari istana Kerajaan Indragiri

pada zaman dahulu. Lokasi ini merupakan tempat yang dianggab cocok oleh Raja

Nara Singa II untuk menjalankan kepemimpinanya. Hal ini dapat dibuktikan

dengan adanya kompleks makam Raja Nara Sianga II dan para pembesar lainya

yang berada dalam satu wilayah dan diyakini menjadi tempat berkedudukanya

Kerajaan Indragiri di zaman dahulu.

114
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar II. Komplek pemakaman Raja Indragiri Desa Kota Lama

Sumber: Dokumen Kesultanan Indragiri

Komplek pemakaman raja Indragiri yang berada di Desa Kota Lama

merupakan kumpulan pemakaman yang menjadi saksi bisu keberada Kerajaan

Indragiri pada masa lalu. Di dalam kompleks pemakaman tersebut berisikan

kuburan para pembesar Kerajaan Indragiri salah satunya adalah makam Raja Nara

Singa II. Selain kompleks pemakaman raja Indragiri di Desa Kota Lama terdapat

juga sebuah danau yang bernama danau Menduyan yang menjadi bagian dari

Kerajaan Indragiri pada masa kepemimpinan Raja Nara Singa II. Masyarakat

Melayu sekitar mempercayai bahwa dahulunya wilayah tersebut bagian dari

Kerajaan Indragiri. Bukti lain yang memperkuat keberadaan dari peradaban masa

lalu di Kerajaan Indragiri dengan adanya ditemukan beberapa benda bersejarah

115
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
seperti guci, pecahan piring, dan pecahan guci yang ditemukan disekitaran area

kompleks pemakaman raja Indragiri.

Setalah dari Kota Lama maka pusat Kerajaan Indragiri pernah berpindah

ke wilayah Raja Pura atau yang sering disebut dengan Japura. Kompleks pemakan

tersebut berada tepat di Jalan Dermaga Pertamina, Desa Japura Laut, Kecamatan

Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu. Lokasi tersebut tidak begitu jauh dari Kota Lama

yang memiliki kompleks pemakaman juga. Masyarakat meyakini ada bebapa raja

Indragiri dan para pembesar lainnya yang dimakamkan di kompleks tersebut.

Salah satunya adalah makam dari Raja Hasan bergelar Sultan Salehudidin

Keramatsyah yang menjadi raja Indragiri ke enam belas. Masyarakat Melayu

sekitar juga mempercayai bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang keramat

sebab para nenek moyang dari Kerajaan Indragiri mereka dimakamkan di

kompleks pemakaman tersebut.

Gambar III. Komplek makam raja Indragiri di Japura tampak luar

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

116
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar IV. Komplek makam raja Indragiri di Japura tampak dalam

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

Terakhir Kerajaan Indragiri diketahui pindah ke wilayah Rengat tepatnya

di dekat Danau Raja yang bersebelahan dengan sungai Indragiri. Disanalah pusat

Kerajaan Indragiri terakhir dijalankan hingga pada akhir keruntuhannya. Pada

masa kepemimpinan Sultan Ibrahim bergelar Al Watiq Billah Paduka Sri Sultan

Ibrahim Baharuddin Alam Syah. pusat kerajaan dipindahkan dari Japura ke

Rengat. Pemindahan tersebut dilakukan karena banyaknya terjadi peristiwa-

peristiwa yang mengancam kedudukan Kerajaan Indragiri di wilayah Japura

sehingga harus dipindahkan. Kerajaan Indragiri yang berpusat di Rengat memiliki

bukti peninggalan yang menjadi sebuah unsur kebenaran sejarah dari Kerajaan

Indragiri yang diyakini oleh masyarakat Melayu sekitar sebagai peninggalan

117
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
leluhur mereka dan tetap di jaga hingga saat ini. Peninggalan tersebut diantaranya

sebagai berikut:

Gambar V. Replika istana Kerajaan Indragiri

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

Gamabar VI. Masjid Raya Rengat

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

118
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gamar VII. Komplek makam raja-raja Indragiri di Rengat

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar VIII. Rumah Tinggi Indragiri

Sumber: Dokumen Pribadi

119
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Selain dari beberapa bukti kebenaran di atas yang menunjukkan

keberadaan dari Kerajaan Indragiri di masa lalu terdapat juga beberapa bukti lain

yang dibenarkan oleh masyarakat Melayu sekitar mengenai kebenaran dari

Kerajaan Indragiri yaitu sebuah tapak istana Raja Muda Peranap dan berupa

peninggalan Masjid Raja Puah Peranap. Ke semua peninggalan tersebut

merupakan bagian dari Kerajaan Indragiri. Sebab, di zaman dahulu Kerajaan

Indragiri memiliki pecahan yang berkedudukan di Peranap di pimpin oleh Raja

Ibrahim yang menjadi Raja Muda I berkedudukan di Peranap

Gambar IX. Petunjuk arah istana raja muda Peranap

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

120
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gamabr X. Tapak istana raja muda Peranap

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

Gambar XI. Masjid raja puah Peranap tampak sebagian

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

121
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar XII. Masjid raja puah Peranap tampak penuh

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

Secara keseluruhan lokasi yang menjadi tempat terjadinya peristiwa cerita

silsilah Kerajaan Indragiri. Sehingga dipercayai oleh masyarakat Melayu sekitar

khususnya yang berada di dekat istana Kerajaan Indragiri pada masa lalu serta

dianggab menjadi sebuah kebenaran dan bukti sejarah dapat dilihat dari tabel

berikut:

Daftar Tabel VI Kejadian Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri

No. Tempat Dalam Cerita Keterangan

1. Wilayah Keritang. Titik awal dari berdirinya Kerajaan Indragiri

letak secara spesifik belum dapat diketahui.

2. Wilayah Pekan Tua. Di Desa Pekan Tua, Kacamatan Kampas,

122
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kabupaten Indragiri Hilir.

3. Wilayah Kota Lama. Di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten

Indragiri Hulu.

4. Wilayah Japura. Di Jalan Dermaga Pertamina, Desa Japura

Laut, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri

Hulu.

5. Wilayah Rengat. Di Desa Kampung Dagang, Rengat,

Kabupaten Indragiri Hulu.

4.6.4 Unsur Kausalitas Sejarah Dan Perubahan

Secara garis besar pengertian kausalitas merujuk pada sebuah pengertian

proses dari perubahan. Setiap peristiwa yang terjadi di masa lalu akan

menimbulkan sebuah peristiwa baru pada masa yang akan datang. Hal ini terjadi

karana adanya hubungan sebab akibat antara sebuah peristiwa. Hubungan yang

saling berkaitan ini tidak terlepas dari perkembangan waktu yang dapat dikaji.

Antara sebab akibat saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain yang

merujuk pada peristiwa yang terjadi antara sebelum dan sesudahnya sebuah

terjadi.

Zainuddin (1961:128), berpendapat bahwa masyarakat Melayu pada

umumnya peristiwa penyebaran tidak berpindah atau bermigrasi begitu saja suatu

wilayah ke wilayah lainnya. Melainkan masyarakat Melayu akan berpindah jika

meraka merasa tidak nyaman lagi. Hal ini terjadi karena pada dasarnya

masyarakat Melayu menyukai hidup secara damai, lemah lembut dan sangat

123
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menghargai persaudaraan sehingga dengan dasar tersebutlah masyarakat Melayu

memiliki jiwa keterbukaan yang sangat luas terhadap orang lain. Keterkaitan

antara peristiwa dalam masyarakat Melayu terjadi karena adanya sebuah ancaman

bagi keberlangsungan hidup mereka maka satu-satunya hal yang harus dilakukan

ialah berpindah tempat dengan kata lain peristiwa sangat berpengaruh terhadap

pola kehidupan masyarakat Melayu.

Dalam hal ini peristiwa sangatlah berkaitan dengan peritiwa yang

sebelumnya terjadi terhadap peritiwa selanjutnya. Kejadian maupun peritiwa di

masa lalu banyak meninggalkan rekam jejak yang dapat digunakan sebagai

rekontruksi sejarah yang tertuang dalam sebuah cerita. Rekam jejak dari cerita

silsilah Kerajaan Indragiri banyak mengandung serangkaian peritiwa yang terus

menerus terjadi sehingga membentuk sebuah kausalitas atau perubahan.

Vansina (2014:204), menyatakan bahwa kausalitas merupakan bagian dari

sebuah proses perubahan secara berkala terhadap sebuah peristiwa terjadi yang

berkaitan dengan kebudayaan lisan. Dalam masyarakat Melayu yang erat dengan

kebudayaan lisan cenderung melihat bahwa fenomena-fenomena yang terjadi

merupakan bagian dari kejadian yang tercipta secara langsung dan mengalir

begitu saja. Namun kausalitas sejarah yang berkembang dnegan kebudayaan lisan

sering kali meniadakan perubahan yang berkala. Pada masyatakat Melayu

khususnya yang tinggal di sekitaran Kerajaan Indragiri menyadari peritiwa yang

terjadi tetapi hal ini dikaitkan dengan sebuah jalan kehiduapan atau yang disebut

dengan takdir. Dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri raja yang memimpin dan

silih berganti merupakan bagian dari takdir untuk dijalani oleh anggota kerajaan

hal ini dikarenakan adanya hubungan sebab akibat yang dalam cerita.

124
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sebuah cerita merupakan bagian dari rangkaian peristiwa dan kejadian

yang dihimpun menjadi satu. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri berisikan

rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Cerita Kerajaan Indragiri

yang sangat erat kaitanya dengan Kerajaan Malaka sehingga menjadi cikal bakal

terbentuknya Kerajaan Indragiri dari keturunan Sultan Malaka ke IV bernama

Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk bergelar

Sultan Muhammad Syah yang memiliki keturunan dan keturunan tersebut

dinobatkan menjadi raja pertama di Kerajaan Indragiri sehingga membentuk

sebuah kerajaan baru.

Kejadian berikutnya yang menunjukan kausalitas sejarah yang memiliki

hubungan sebab akibat dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri yaitu terjadinya

sebuah serangan dan ekspansi dari Kerajaan Singosari di wilayah perbatasan

Jambi sehingga banyaknya korban berjatuhan termaksud Suku Talang Mamak

yang mendiami wilayah tersebut. Akibat dari ekspansi tersebut membuat Suku

Talang Mamak mendesak dan semakin terancam sehingga meminta raja untuk

berada di daerah tersebut. Hingga akhirnya raja pun dijemput dengan sebuah rakit

yang bernama Rakit Kulim bersama dengan Datuk Patih menjemput Raja Nara

Singa II.

Selanjutnya Kerajaan Malaka pernah diserang oleh bangsa Portugis ketika

masa kepemimpinan Raja Nasa Singa II. Perang yang terjadi begitu panjang

banyak memakan koban jiwa terutama para askar Melayu dari Kerajaan Indragiri

maupun askar Kerajaan Malaka. Namun akibat dari serangan tersebut bangsa

Portugis mengalami kekalahan dengan berhasilnya di tangkap panglima perang

bangsa Portugis yang bernama Verdicho Marloce. Keberhasilan tersebut terjadi

125
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
karena adanya bantuan dari berbagai belah pihak terutama dari pasukan askar

Kerajaan Malaka dan dibantu oleh seorang askar dari Kerajaan Bone yang

bernama Adi Sumpu Muhammad bergelar Juksi Besi. Hingga akhirnya

diangkatlah Adi Sumpu Muhammad bergelar Juksi Besi menjadi sorang panglima

perang Kerajaan Indragiri ketika masa kepemimpinan Raja Nara Singa II.

Peristiwa berikutnya yang menunjukkan kausalitas sejarah dan

berhubungan sebab akibat yaitu berupa terjadinya pertikaian antara Sultan

Abdullah dengan bangsa Belanda yang berkedudukan di Indragiri. Hal ini terjadi

karena bangsa Belanda tidak menyukai kepemimpnan Sultan Abdullah masa itu

sehingga bangsa Belanda mencopot paksa jabatan Sultan Abdullah sebagai raja ke

23. Bangsa Belanda melakukan pencopotan didasari karena tidak suka Sultan

Abdullah atas monopoli dagang yang dilakukan bangsa Belanda di wilayah

Indragiri. Sehingga akhir dari pertikaian ini berujung pada perjanjian antara

bangsa Belanda dan Sultan Abdullah yang diberikan hak kuasa membangun atas

wilayah Peranap dan menjadi sultan muda disana beserta keturunanya yang

berakibat terbentukkan Kerajaan Peranap. Kejadian ini terlihat dengan adanya cap

mohar dari pihak sultan muda peranap dan tapak dari istana tersebut.

126
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar XIII. Cap Mohar Sultan Abdullah Kedudukan Peranap

Sumber: Dokumen Kerajaan Indragiri

Terakhir kausalitas sejarah yang merujuk terjadinya sebuah peristiwa yang

memiliki hubungan sebab akibat yaitu terjadinya serangan agresi militer I pada

tanggal 15 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947 M terhadap wilayah nusantara atas

pelanggaran Perjanjian Linggarjati yang dilakukan bangsa Belanda sehingga

mengakibatkan perseteruan di pulau Jawa dan berimbas sampai pada penyerangan

di Sumatera Timur khususnya di Kerajaan Indragiri. Dari berbagai serangan yang

dialami oleh Kerajaan Indargiri dan mengakibatkan runtuhnya kerajaan Indragiri

dan pada tahun 1949 M bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan keterangan di atas memperlihatkan adanya hubungan sebab

akibat yang saling mempengaruhi pada setiap peristiwa atau kejadian yang terjadi

di Kerajaan Indragiri pada masa lalu. Rangkaian peristiwa tersebut membawa

perubahan atau kausalitas yang sangat terasa pada masyarakat Melayu di Kerajaan

127
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri. Berikut ini adalah gambaran hubungan sebab akibat yang terjadi dalam

cerita silsilah Kerajaan Indragiri hingga sampai masa keruntuhannya.

Daftar Tabel VII Sebab Akibat Yang Terjadi Di Kerajaan Indragiri

No. Peristiwa

Sebab Akibat

1. Sultan Malaka memperluas Terbentuknya sebuah Kerajaan

wilayah kekuasannya hingga ke Indragiri dan anak pertama dari sultan

Indragiri dan membangun sebuah Malaka ke IV dinobatkan menjadi raja

kerajaan yang dinamakan pertama yang.

Kerajaan Indragiri.

2. Kerajaan Singosari melakukan Sehingga banyaknya korban jiwa yang

ekspansi besar-besaran ke wilayah terjadi akibat ekpansi tersebut dan

perbatasan Jambi dan Indragiri membuat masyarakat Melayu tua

(Suku Talang Mamak) mendesak

Datuk Patih dan Datuk Temenggung

Kuning agar raja berada di Indragiri.

3. Peristiwa penyerangan yang Bangsa Portugis mengalami

dilakukan bangsa Portugis kekalahan dengan berhasilnya

terhadap Kerajaan Malaka ditangkap panglima perang bangsa

berdampak pada pertikaian antara Portugis bernama Verdicho Marloce

bangsa Portugis dengan Kerajaan dan menjadi tahanan di Kerajaan

Indragiri karena pada Indragiri hingga wafat lalu

penyerangan tersebut Kerajaan dimakamkan di komplek makam raja

128
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Malaka mendapat bantuan dari Indragiri di Kota Lama.

Kerajaan Indragiri yang dipimpin

oleh Raja Nara Singa II.

4. Perseteruan Sultan Abdullah Sultan Abdullah dan keturunannya

dengan bangsa Belanda. diberi hak kekuasaan atas wilayah

Peranap berdasarkan perjanjian

perdamaian dengan bangsa Belanda

pada tahun 1890 M.

5. Terjadi serangan Agresi Militer I Pesisir pulau Jawa mendapat serangan

pada tahun 1947 M. dari bangsa Belanda.

6. Penyerangan Agresi Militer II Pesisir pulau sumatera mendapat

pada tahun 1949 M. serangan dari bangsa Belanda

khususnya di Kerajaan Indragiri

hingga dikenal dnegan peritiwa 5

Januari 1949 (Rengat berdarah). Pada

tanggal 19 Desember 1949 kerajaan

Indragiri bergabung dengan NKRI.

129
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai cerita kerajaan Indragiri ditinjau dari

tradisi lisan dan unsur sejarah yang terkandung dalam cerita tersebut dapat

disimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri dibahas secara terperinci dengan

mengungkap seluruh cerita yang bersumber dari masyarakat Melayu

khususnya disekitaran wilayah Kerajaan Indragiri yang terdiri dari 50

paragraf. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri berisikan kisah mengenai asal

mula berdirinya Kerajaan Indragiri sampai pada keruntuhan dan

bergabung menjadi bagian dari wilayah NKRI. Pada cerita silsilah

Kerajaan Indragiri terdapat 26 nama Raja yang memerintah secara silih

berganti.

2. Adapun unsur sejarah yang ditampilkan dalam cerita silsilah Kerajaan

Indragiri yaitu: 1. Unsur ruang, berkaitan dengan alam semesta yang

menjadi tempat terjadinya sebuah peristiwa 2. Unsur waktu, merupakan

bagian dari catatan masa kronologi peristiwa dalam sebuah cerita silsilah

Kerajaan Indragiri 3. Unsur kebenaran sejarah, unsur tersebut merupakan

sebuah keyakianan dan kepercayaan terhadap sebuah peristiwa yang

benar-benar terjadi di masa lalu 4. Unsur kausalitas dan perubahan, berupa

keterkaitan antara hubungan sebab akibat dalam sebuah peristiwa. Semua

peristiwa yang terjadi dalam Kerajaan Indragiri menimbulkan perubahan.

130
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.2 Saran

Melalui hasil penelitian mengenai unsur sejarah dalam cerita silsilah

Kerajaan Indragiri pada msayarakat Melayu Riau. Penulis ingin memberikan

saran kepada pembaca terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan. Adapun

saran tersebut sebagai berikut:

1. Dengan penelitian ini hendaknya masyarakat luas dapat mengetahui

keberadaan dari Kerajaan Indragiri serta cerita tentang silsilahnya.

2. Bagi para peneliti selanjutnya khususnya yang relevan dengan penelitian

ini, diharapkan agar lebih memperdalam penelitian tentang Kerajaan

Indragiri dari berbagai topik pembahasan dengan menggunakan

pendekatan tradisi lisan masyarakat Melayu Indragiri yang dapat dijadikan

sebuah sumber sejarah.

3. Kepada pemerintah dihapakan memberikan perhatian lebih terhadap

peninggalan bersejarah khususnya di Kerajaan Indragiri sebagai upaya dan

dukungan serta wujud pelestarian kebudayaan Melayu yang ada di

Indonesia.

4. Bagi para penelitian berikutnya agar dapat meneliti mengenai Kerajaan

Indragiri pada masa kedudukan Jepang dan masuknya bangsa China di

negeri Indragiri sehingga dapat mengungkap kembali khazanah sejarah

Kerajaan Indragiri.

131
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Afrizal. (2016). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Perss.


Endraswara, Suwardi. (2008). Metodologi Penelitian Sastra: Epistemology,
Model, Teori, Dan Aplikasi (Ed. Revisi). Yogyakarta: Media Perssindo.
Husein, Ismail. (1984). Antara Dunia Melayu Antara Dunia Indonesia. Kuala
Lumpur: University Kebangsaan Malaysia.
Jalila, Sharif dan Ahmad Haji, Jamila. (1993). Kesusastraan Melayu Tradisional.
Kuala Lumpu: Dewan Bahasa Dan Pustaka Kementerian Pendidikan
Malaysia.
Kembaren, Mardiah Mawar. (2011). Hikayat Keturunan Raja Negeri Deli:
Kelahiran Sebuah Legenda. Univeristas Sains Malaysia.
Kuntowijoyo. (2008). Penjelasan Sejarah. Jakarta: Tiara Wacana.
La Sudu. (2012). Tradisi Lisan Kabhanti Gambusu Pada Masyarakat Muna Di
Sulawesi Tenggara. Tesis Program Studi Ilmu Susastra Universitas
Indonesia.
Latif. Y. (2009). Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis
Sastra. Jakarta: Kompas
Lukman Sinar, Tengku. (1994). Jatidiri Melayu. Medan: Majelis Adat Dan
Budaya Melayu Indonesia.
Moleong, Lexy J. (2006). Metodelogi Penelitian Kualitatif (Ed: Revisi). Bandung:
Raja Rosdakarya.
Permata Sari, Sri. (2018). Kisah Silsilah Kerajaan Tamiang: Kajian Tradisi Lisan.
Skripsi Program Studi Sastra Melayu Universitas Sumatera Utara.
Pudentia MPSS. 1999. Makyong: Transformasi Seni Budaya Riau. Laporan
Penelitian. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)
Pusat Bahasa Dapartemen Pendidikan Nasional. (2007). Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Syaifuddin. Wan (2016). Pemikiran Kreatif Sastra Melayu Tradisi. Yogyakarta:
Gading Publishing.
Syamsuddin. (1999). Pengantar tradisi tradisional. Bandung: Perwira.
Sibarani, Robert. (2014). Kearifan Lokal (Hakikat, Peran, Dan Metode Tradisi
Lisan). Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
Silaban, Immanuel. (2018). Tradisi Marhaminjon Di Daerah Bonar Dolok Si
Jamapolang: Kajian Tradisi Lisan. Skripsi Program Studi Sastra Batak
Universitas Sumatera Utara.

132
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sugiyono, (2017). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, Dan R Dan D.
Bandung: Alfabeta.

Tejung, Yushar. (2014). Pendidikan Sejarah Suatu Pengantar. Medan: Unimed


Perss.

Takari, Muhammad. (2013). Tradisi Lisan Di Alam Melayu Arah Dan


Pewarisannya. Medan: USU Perss.
Tantawi, Isma. (2016). Dasar-Dasar Ilmu Budaya. Tangerang: Mahara
Publishing.
Vansina, Jan. (2014). Tradisi Lisan Sebagai Sejarah. (Astrid Reza Dkk,
Penerjemah. Yogyakarta: Ombak.
Wellek dan Warren. (2016). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Wibowo, A. (2012). Pendidikan Karakter Berbasis Satra. Yogyakrta: Pustaka
Pelajar
Widayat, Afendy. (2014). Pengantar Pengkajian Sastra. Diktat Pada Mata Kuliah
Pengantar Pengkajian Sastra. Jususan Pendidikan Bahasa Daerah, FBS,
UNY. Yogyakarta.
Zainuddin, H.M. (1961) Tarich Atjeh Dan Nusantara. Medan: Pustaka Iskandar
Muda.

Sumber Internet:
https://wwwpeta+kabupaten+indragiri+hulu.com diakses pada tanggal 10 Maret
2020.
https://inhukab.bps.go.id diakses pada tanggal 20 Maret 2020.
Sumber Dokumen Kerajaan Indragiri.

133
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN

Lampiran I: Daftar Informan

1. Nama : Raja Tom Fatmah

Umur : 81 Tahun

Alamat : Jalan Nara Singa, kecamatan rengat, kabupaten Indragiri

Hulu

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

2. Nama : Saharan

Umur : 54 Tahun

Alamat : Desa Kota lama, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten

Indragiri Hulu.

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil

3. Nama : Raja Herman Maulana

Umur :-

Alamat :-

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil

4. Nama : Guntur

Umur : 35 Tahun

Alamat : Desa Kota Lama, Komplek Pemakaman Raja Nara Singa

II

Pekerjaan : Penjaga Makam

134
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran II: Surat Izin penelitian

135
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
136
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
137
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
138
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
139
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
140
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
141
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
142
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
143
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
144
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
145
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran III: Dokumentasi

Wawancara dengan Raja Tom Fatmah pada tanggal 3 Agustus 2019

Wawancara dengan bapak Guntur pada tanggal 29 Februari 2020

146
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Wawancara dengan bapak Saharan pada tanggal 23 Februari 2020

Wawancara dengan bapak Saharan pada tanggal 23 Februari 2020

147
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Raja Nara Singa II Bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin
Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam 1473-1532 M

Makam Raja Ussulluddin Hasansyah (Putra Raja Nara Singa II) 1532-1557 M

148
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Andi Sumpu Muhammad bergelar Panglima Juksi Besi
(Panglima Raja Nara Singa II)

Makam Andi Sumpu Muhammad bergelar Panglima Juksi Besi


(Panglima Raja Nara Singa II)

149
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pecahan Kendi yang ditemukan disekitaran Komplek Makam Raja Nara Singa II

Pecahan Keramik yang ditemukan disekitaran Komplek Makam


Raja Nara Singa II

150
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Guci yang ditemukan disekitaran Komplek Makam
Raja Nara Singa II

Makam Panglima Perang Portugis Bernama Verdicho Marloce


(tahanan Raja Nara Singa II)

151
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Surat perjanjian perdamian Tractaat Van Vrede En Vrienschap 27 September
1883 antara Raja Said dengan Raja Jumahat

Peta Wilayah Kesultanan Indragiri Schetskaart Van Het Soetanaat Indragiri


Schetskaart Tjenako

152
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Surat penyerahan (Bergabung) Kerajaan Indragiri ke
Negara Kesatuan Republik Indonesia

153
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Raja Moehammad (Tengku Sulong) Sultan Muda II Kedudukan Peranap
1920-1956 M

Petunjuk arah makam Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah


1735-1765 M

154
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah 1735-1765 M

Tengku Mahmud Syah/Sultan Mahmud Syah. Raja ke 26


1912-1963 M

155
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam 3 Raja/Sultan:
Tengku Isa begelar Sultan Isa Mudoyat Syah Raja ke 25 (1883/1884-1902 M)
Raja Ibrahim/Sultan Muda I berkedudukan di Peranap
Tengku Mahmud Syah/Sultan Mahmud Syah. Raja ke 26 (1912-1963 M)

Raja Saidah (istri Sultan Mahmud Syah)

156
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran IV: Biodata Pengkaji

Hendra Zebua yang akrab dipanggil dengan

sapaan Ze lahir di Nias pada tanggal 11 Januari 1998.

Pengkaji merupakan anak ke empat dari pasangan Alm.

Tolona Zebua dan Ibu Mince Liani Br Panggabean.

Pengkaji menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di

SD 101953 Desa Pantai Cermin Kanan pada tahun 2009,

lanjut di tahun yang sama menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama di SMP

Negeri 1 Pantai Cemin pada tahun 2012 lalu menyelesaikan Sekolah Menengah

Atas di SMA Negeri 1 Pantai Cermin pada tahun 2015. Pada tahun 2015 pengkaji

mencoba melanjut di perguruan tinggi negeri namun gagal. Akhirnya, pada tahun

2016 pengkaji berhasil lulus menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama

di Sumatera Utara tepatnya pada program studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu

Budaya, Universitas Sumatera Utara dengan program Beasiswa Bidikmisi.

Selama perkuliahan pengkaji aktif diberbagai lembaga kemahasiswaan

yang bersifat intra maupun ekstra kampus. Organisasi intra kampus seperti HMJ.

Organisasi ekstra kampus yaitu Lembaga Kesenian Universitas Sumatera Utara,

Meja Pintar, dan Pecinta Sejarah Lokal.

157
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Anda mungkin juga menyukai