Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau
Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau
SKRIPSI
Oleh:
HENDRA ZEBUA
160702018
MEDAN
2020
Oleh:
Hendra Zebua
ABSTRAK
i
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji syukur pengkaji ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat
memperoleh gelar Sarjana Strata 1 pada Program Studi Sastra Melayu, Fakultas
Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Adapaun judul yang diangkat dalam
Skripsi ini adalah: “Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri Pada
Pengkaji berharap skripsi ini dapat menjadi bahan informasi bagi para
pembaca. Dalam skripsi ini terdiri atas lima bab. Bab I Pendahuluan mencakup
latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat
penelitian. Bab II Tinjauan Pustaka mencakup kajian relevan, landasan teori. Bab
III Metode Penelitian meliputi metode dasar, sumber data, lokasi penelitian,
metode pengumpulan data, dan metode analisis data. Bab IV yang mencakup hasil
pengkaji telah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu dengan kerendahan
hati pengkaji mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat
Hendra Zebua
160702018
iii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam proses penulisan skripsi ini tidak luput dari berbagai hambatan.
Namun dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis hingga saat ini serta tiada kata yang dapat mewakili rasa
2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya,
3. Ibu Dr. Rozanna Mulyani, M.A selaku Ketua Program Studi Sastra
5. Bapak Prof. Wan Syaifuddin, M.A., Ph.D. Selaku Dosen Penguji Saya
iv
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8. Abangda Prayogo dan Kak Tridayani selaku pegawai administrasi di
administrasi.
10. Kepada kakak Yuneva Zebua, Deni Wati Zebua dan kakanda Edi
kepada penulis.
11. Buat Abg Akhmad Rapiudin S.KM. Terima kasih atas segalanya yang
12. Abangda Gilang Putra Andika S.E. Terima kasih atas dukungan dan
13. Buat Abg dr. Fernandi Agustian terima kasih atas dukunganya selama
ini.
14. Para informan saya Ibu Raja Tom Fatmah, Bapak Saharan, Bapak
yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis ucapkan terima kasih
16. Sahabat baik ku Desi Wandasai, Lusiana Winda Ningsi, Rani Hamidah
v
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
17. Kepada seluruh teman organisasi Lembaga Kesenian USU, Meja
19. Kepada keluarga besar Abdul Manaf dkk, dan Talented Reborn :
skripsi ini jauh dari kata sempurna. Namun sekecil apapun semoga
Penulis,
Hendra Zebua
1602012018
vi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN
ABSTRAK ............................................................................................................... i
vii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.1 Metode Dasar ...................................................................................................... 17
4.4 Daftar Silsilah Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri .... 80
Indragiri .............................................................................................................. 84
viii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.6.3 Unsur Kebenaran Sejarah .......................................................................... 110
ix
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR TABEL
x
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR GAMBAR
Gambar II : Komplek Pemakaman Raja Indragiri Di Desa Kota Lama .......... 115
Gambar III : Komplek Pemakaman Raja Indragiri Di Japura Tampak Luar ... 116
Gambar XII : Masjid Raja Puah Peranap Tampak Penuh ................................. 122
Gambar XIII : Cap Mohar Sultan Abdullah Kedudukan Peranap ...................... 127
xi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB I
PENDAHULUAN
budaya yang banyak tersebar dari ujung timur sampai ke ujung barat. Salah satu
negara yang kaya akan kebudayaan membuat ciri khas tersendiri bagi bangsa
ini banyak memiliki pengaruh besar di wilayah Indonesia sendiri. Sastra dan
seseorang melalui pandangan dan perasaan terhadap lingkungan sosial yang ada
disekeliling dengan menggunakan bahasa yang indah. Sejatinya sastra dan budaya
dapat dipahami oleh masyarakat itu sendiri dengan menggunakan bahasa. Sastra
juga menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tumbuh dan berkembang di
tengah-tengah masyarakat secara lisan maupun tulisan. Selain itu sastra dapat
merujuk pada sebuah fenomena maupun peristiwa yang terjadi di masa lalu yang
bersifat sejarah. Salah satu etnik yang memiliki pengaruh besar di bidang sastra
dan budaya adalah etnik Melayu. Banyak hasil sastra dan budaya yang lahir dari
etnik Melayu sendiri dan berkembang secara turun-temurun. Hasil karya tersebut
tidak terlepas dari kedudukan etnik Melayu yang dahulunya adalah bangsa yang
1
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
besar dan kuat. Pada dasarnya sastra dan budaya Melayu tumbuh dan berkembang
agak luas dan sedikit kabur. Istilah yang digunakan sangat luas di mana ke semua
Berdasarkan asal usul kata atau secara etimologi istilah Melayu berasal dari
perkataan sanskrit malaya yang berarti bukit ataupun tanah tinggi. Menurut
catatan china istilah Mo-Lo-Yeu dicatat dalam manuskrip China sekitar tahun 644-
645 M. Semasa Dinasti Tang disana tertulis bahwa Mo-Lo-Yeu mengirim utusan
ke China untuk membawa hasil bumi untuk kaisar. Istilah Melayu mungkin
berasal nama anak sebuah sungai disekitaran pantai timur Sumatera yang bernama
sungai Melayu. Di hulu sungai Batang Hari disana terletak kerajaan Melayu yang
berdiri sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 6-7 M dari perkataan
sanskrit malaya yang berarti bukit atau tanah tinggi (Lukman Sinar 1994:2).
aliran sungai dan pinggiran laut. Konsep ini memberikan filosofis tersendiri bagi
etnik Melayu dimana air dan alam merupakan sumber kehidupan. Selain itu
sungai dan laut bukan pemisah melaikan pemersatu dengan wilayah lainnya. Salah
satu pinggiran sungai yang terdapat penduduk asli Melayu adalah sungai Indragiri.
Kabupaten Indragiri Hilir. Kejayaan kerajaan di Riau tidak lepas dari keruntuhan
Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 13 M yang diserang oleh Kerajaan Cola dan
2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdaulat dan berdiri sendiri. Kerajaan ini dahulunya berpusat di Kecamatan
Keritang. Istilah keritang berasal dari “akar itang” yang diucapkan dengan lafal
“Keritang”. Sementara Itang adalah sejenis akar tumbuhan yang banyak terdapat
disepanjang anak Sungai Gangsal bagian hulu yang sekarang masuk ke dalam
2019).
telah terjadi serangakaian peristiwa yang unik dan menarik. Peristiwa tersebuat
Indragiri Hulu hingga saat ini tentang Kerajaan Indragiri. Peristiwa unik itu pun
akhirnya kini menjadi sebuah cerita yang bersifat sejarah. Sebuah peristiwa dapat
dikatakan bagian dari sejarah jika telah memenuhi syarat tertentu diantaranya:
terjadi dalam kurun waktu cukup lama, bersifat unik, memiliki momentum atau
arti yang penting, dan memiliki objektifitas yang kuat serta adanya peningalan
Cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan cerita yang bersifat lisan dan
itu cerita tersebut juga banyak mengandung unsur sejarah terutama pada bagain
empat pokok unsur sejarah yaitu; unsur ruang, unsur waktu, unsur kebenaran
sejarah, dan unsur kausalitas sejarah dan perubahanya. Semua unsur tersebut akan
3
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menciptakan sebuah pemahaman mengenai cerita dan keberadaan serta identitas
cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada masyarakat Melayu Riau yaitu metode
dari generari ke generasi bersifat lisan yang dapat berupa ucapan, maupun
nyanyian sehingga banyak mengandung pesan atas sebuah peristiwa yang terjadi.
Sebagai bagian dari pelaku sejarah manusia memiliki ingatan yang kuat akan
sebuah kejadian dan peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan menjadi sebuah
berupa kalimat laporan-laporan dari masa lalu yang melampaui masa kini dan
pemahaman yang identitas mengenai sebuah unsur sejarah yang ada didalamnya.
merupakan salah satu kerajaan Melayu yang ada di Riau serta belum banyak
diketahui oleh masyarakat luas. Selain itu cerita silsilah Kerajaan Indragiri hanya
sebatas ingatan saja. Dahulu kerajaan ini adalah salah satu pusat peradaban Etnis
dasar itu penulis tertarik untuk mengangkat kembali khazanah cerita Kerajaan
4
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri yang kaya akan nilai sastra dan budaya yang telah dikenal sejak dahulu.
Melalui wujud cerita yang akan diteliti maka banyak informasi dapat terutama
unsur sejarah yang akan terungkap dalam cerita tersebut. Selain itu Penulis juga
Melalui pemaparan yang telah ditulis pada latar belakang, maka pengkaji
memberikan batasan masalah agar kajian ini terfokus dan terarah. Sehingga
batasan masalah berpusat pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada masyarakat
Melayu Riau tinjauan tradisi lisan. Berdasarkan cerita tersebut akan di ungkap
unsur sejarah yang ditampilkan dalam cerita asal usul dam silsilah dari Kerajaan
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan,
maka penelitian ini memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan dari penelitian ini
5
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Untuk mengetahui bagaimana cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang
teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teroritis merupakan sebuah manfaat yang
diberikan dari hasil penelitian dan dapat digunakan oleh masyarakat. Adapun
manfaat yang diberikan dalam penelitian ini baik secara teoritis maupun praktis
6
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1.5.2 Manfaat Praktis
Indragiri.
7
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
pendukung serta data terkait. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
kajian pustaka merupakan terbitan berseri, terutama berisi artikel tentang tinjauan
dan ulasan buku terbaru. Informasi dapat diperoleh melalui buku, artikel, jurnal
serta laporan ilmiah lainnya. Sesuai dengan penelitian yang berjudul Unsur
Sejarah Dalam Cerita Silslah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau.
menganalisis sebuah kisah keturunan raja negeri Deli dalam sebuah teks
kesusastraan Melayu lama yang memfokuskan pada faktor dan ciri-ciri asas
kelahiran (silsilah) Gocah Pahlawan sebagai tokoh legenda dari Kesultanan Deli.
Penelitian ini membahas tentang sebuah tradisi lisan kabhanti gambus yang
masyarakat Muna memiliki arti menyindir, memantum, sindir atau sering juga
adalah sebuah perbuatan dengan cara menyindir atau memantum dalam bahasa
8
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Muna. Penelitian tradisi lisan ini memiliki beberapa bagian yaitu kabhanti
kantola, kabhanti watulea, kabhanti gambus, dan kabhanti modero. Penelitian ini
yang dinyayikan dengan iringan irama gambus serta botol kosong yang dipukul
dengan sendok atau paku sehingga memiliki pesan tersendiri bagi pendengarnya
secara lisan.
pembahasan berfokus pada proses ritual pengambilan getah kemenyan dan nilai
boru Nangniaga yang tinggal bersama orang tuanya. Namun dikarenakan orang
tua boru Nangniaga ini terlilit hutang dangan bangsa Kolonial lalu orang tua boru
ingin menikah dengan bangsa Kolonial tersebut lalu pergi kehutan. Dalam
wujud dari wanita cantik boru Nangniaga yang lari kehutan sehingga disebut
sebagai marhaminjon.
Penelitian yang dilakukan oleh Sari (2018), yang berjudul “Kisah Silsilah
tentang kisah silsilah dan struktur kerajaan Tamiang yang dibahas dengan kajian
tradisi lisan. Selain itu dalam penelitian Sari juga membahas tentang unsur sejarah
9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdasarkan keempat kajian di atas tidak terdapat kesamaan menyeluruh
dengan penelitian yang akan dilakukan oleh pengkaji. Kajian pertama dilakukan
oleh Kembaren (2011) Hikayat Keturunan Raja Negeri Deli: Kelahiran Sebuah
keempat yang dilakukan Sari (2018), membahas tentang kisah silsilah Kerajaan
Tamiang kajian tradisi lisan. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan yaitu
berfokus pada unsur sejarah dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri pada
terletak pada lokasi penelitian dan objek penelitian. Persamaan penelitian yang
kajian tradisi lisan. Sehingga penelitian yang berjudul Unsur Sejarah Dalam Cerita
Silsilah Kerajaan Indragiri Pada Masyarakat Melayu Riau dapat dilakukan karena
Penelitian ini menggunakan teori yang tradisi lisan yang dikembangkan oleh
seorang cendikiawan bernama Jan Vansina dalam bukunya yang berjudul “Tradisi
Lisan Sebagai Sejarah”. Buku ini merupakan hasil terjemahan oleh Astrid Reza,
dkk dari buku aslinya yang berjudul Oral Tradition As History dicetak pada tahun
10
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.2.1 Tradisi Lisan
Secara etimologi kata tradisi berasal dari bahasa Latin yaitu tradition yang
memiliki arti kabar atau penerusan. Tradisi lisan diartikan sebagai sebuah
generasi ke generasi melalui lisan. Perkambangan ilmu tradisi lisan mulai dikenal
luas serta mulai diminati sebagai salah satu cara untuk mengungkap sebuah cerita
yang beredar di masa lalu. Melalui metode baru yang dikembangkan Jan Vansina
berjudul Living With Africa. Kajian ini terus berkambang dan semakin luas.
Dalam penelusuran Vansina semakin kuat dengan adanya buku yang terbit pada
buku dalam bahasa Prancis. Tradisi lisan yang dikembangkan oleh Jan Vansina
diyakini sebagai sebuah teori baru yang dapat digunakan dalam penelitian. Jan
Vansina megawali sebuah penelitian yang dimulai sejak awal di Afrika selama 5
tahun pada masyrakat Bakuba di Congo Afrika Tengah sejak akhir tahun 1952
hingga pada tahun 1965 terbitnya buku dalam bahasa Ingris yang berjudul Oral
garis besar dalam wilayah yang kaya akan multikultural Vansina berfikir banyak
mengungkap dan melakukan sebuah penelitian. Disisi lain kondisi ini hampir
11
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Selain itu perilaku masyarakat juga sangat berpengaruh pada keadaan tradisi
disetiap etniknya membuat para sejarawan Indonesia mengacu pada buku Jan
berupa kalimat laporan-laporan dari masa lalu yang melampaui masa kini dan
biasanya dapat berupa kesaksian yang bersifat masa lalu terhadap sebuah
peristiwa maupun tindakan perilaku. Melalui tradisi hal yang ingin disampaikan
berupa pesan yang bersifat murni. Selain itu Sibarani (2014:32), menyatakan
tradisi lisan cakupan segala hal yang berhubungan dengan sastra, bahasa, sejarah,
biografi, dan berbagai pengetahuan serta jenis kesenian lain yang disampaikan
dari mulut ke mulut. Cerita maupun kisah yang disampaikan berupa pesan sejarah
istilah yang merangkumi tradisi-tradisi yang terdapat dalam suatu budaya yang
diwariskan melalui jalan lisan, baik dari segi waktu, yaitu dari sutu generasi ke
generasi yang lebih muda ataupun dari segi ruang, yaitu dari seorang anggota
masyarakat kepada yang lain dalam rentang dan tempat serta waktu yang sama
dan akan tetap hidup serta berdampingan dengan aspek adat istiadat dan seni
bahasa.
12
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Takari (2013:2), juga menyatakan mengenai tradisi lisan mencakup semua
unsur kebudayaan manusia, baik itu sistem religi, bahasa, teknologi, ekonomi,
seni, organisasi, dan pendidikan yang masih di jalan oleh masyarakat. Tradisi
lisan juga dapat berbentuk sebuah gagasan, kegiatan yang masih tetap dilakukan
diketahui.
bersifat murni.
4. Tradisi mengenai asal usul dan kejadian: Merupakan sebuah kisah atau
13
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mengenai sebuah pertanyaan, legenda, asal usul sebuah tempat, dan
dan tergantung pada sebarapa kuat ingatan masyarakat tersebut. Tradisi lisan
sangat banyak mengandung unsur sejarah yang bersifat murni. Landasan tersebut
peristiwa unik dan abadi. Vansina (2014:195), menyatakan ada empat unsur
sejarah yang berpusat pada tradisi lisan dalam mengungkap sebuah peristiwa yang
antara satu titik dengan titik lainnya. Keterkaitan ruang sangat erat
2. Unsur waktu: Waktu menjadi bagian yang mememang harus ada dalam
waktu sama dengan ruang. Dalam pembagianya seperti hari, bulan, dan
14
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dinyatakan sebagai hal yang benar oleh nenek moyang (Vansina,
2014:202).
saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan dalam
cerita yang tertuang dalam karya sastra bersifat tradisional tidak lepas dari
cerita tersebut sama hal nya dengan cerita yang memuat mengenai cerita di
zaman dahulu dan berfokus pada cerita yang bersifat istana sentris. Karya
sastra Melayu lama bersifat lisan khususnya pada kalangan kerajaan sangat
lalu. Tokoh maupun alur saling berkaitan antara satu dnegan yang lainnya.
15
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya sastra sejarah tidak boleh ditulis hanya berlandaskan imajinasi
perhatian khusus dalam mengkaji sebuah karya sastra yang bersifat sejarah
adalah sturuktur pembangun cerita tersebut tidak lepas dari cerita fiksi
bagian cerita yang bersifat faktual dan bagain dari cerita serta kejadian-
yang kaya akan aspek seni, sastra dan sejarah. Penelitian yang dilakukan
informasi yang bersifat faktual. Sastra sejarah juga kaya akan nilai-nilai
sejarah dan kearifan lokal yang dapat dijadikan pedoman hidup yang
16
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB III
METODE PENELITIAN
dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian
kualitatif merupakan penelitian yang bersifat murni artinya semua sumber data
diolah menjadi bahan serta dibahas secara ilmiah. Metode kualitatif sering disebut
yang dialami oleh subjek peneliti misalnya perilaku, persepsi, motifasi, tindakan
dan lain-lain secara holistik dengan tujuan untuk memahami, mencari makna
dibalik data untuk menemukan kebenaran baik kebenaran empiris dan logis
(Moleong 2006:6).
(2006:157), sumber data dalam penelitian kualitatif adalah berupa kata-kata, dan
artefak lainya. Dalam penelitian ini sumber yang digunakan terdiri dari dua
macam, yaitu sumber data primer sebagai data yang utama dan sumber data
17
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah cerita silsilah Kerajaan
alat yang akan digunakan pada saat melakukan penelitian bertujuan untuk
masalah. Berikut ini adalah alat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya:
oleh informan dan sebagai media untuk mengambil gambar terhadap hal
2. Buku catatan dan pulpen: digunakan untuk mencatat segala sesuatu yang
Rengat Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Jika ditinjau lokasi lebih
18
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mendalam maka lokasi berada pada dua kecamatan yang berdampingan dengan
Kecamatan Rengat Barat (Pematang Reba), dan Kecamatan Kuala Cinako yang
dilintasi oleh sungai Indragiri. Adapun alasan mendasar memilih lokasi tersebut
dikarenakan wilayah merupakan wilayah Melayu yang kental akan tradisi lisan,
sejarah, sastra dan kebudayan Melayu serta di lokasi tersebut adalah pusat dari
Kerajaan Indragiri pada masa lalu. Banyak peninggalan sejarah seperti replika
istana Indragiri, pemakaman para raja, dan rumah tinggi dari Kerajaan Indragiri.
Metode yang dilakukan peneliti dalam penelitian yaitu metode lapangan atau
yang sering disebut sebagai Field Research. Dimana dalam memperoleh informasi
informasi yang lengkap dan jelas. Adapun pengumpulan data yang dilakukan
1. Metode observasi
tersusun secara sistematis terhadap gejala yang terlihat pada objek penelitian
fenomena yang ada. Dalam pengumpulan data ini, peneliti melakukan observasi
19
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Metode wawancara tak struktur
wawancara tak struktur peneliti dapat bertanya seputar hal yang tidak
yang menarik seperti naskah, buku, transkip, prasasti, catatan, majalah, dan surat
kabar terkait. Sugiyono (2017:140), menyatakan bahwa salah satu pelangkap dari
sehingga data yang diperoleh bersifat akurat dan dipercaya. Sebuah dokumentasi
data dapat dilakukan dengan kunjungan terhadap tempat yang berkaitan langsung
tersebut.
penelitian berlangsung, dan kita selesai penelitian. Hal ini dikarenakan proses
20
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sesudah penelitian dilakukan. Afrizal (2016:175-176), berpendapat analisis
menentukan bagian yang saling berkaitan antar bagian lainya secara menyeluruh
maupun tipologi baru dalam menganalisis data. Berikut ini langkah-langkah yang
sebagai berikut:
penelitian di lapangan.
21
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB IV
Indragiri Hulu dimulai dari letak geogerafis, jumlah penduduk, keadaan penduduk
Hulu.
Provinsi Riau. Ibu kota kabupaten ini adalah kota Rengat. Menurut Undang-
km² atau 819.826 hektar. Secara astronomis letak Kabupaten Indragiri Hulu
berada pada posisi koordinat 0 1 Lintang Utara - 10 Lintang Selatan dan 101
10 Bujur Timur - 102 Bujur Barat (BPS Kabupaten Indragiri Hulu 2019).
Kabupaten Indragiri Hulu berada pada posisi yang sangat strategis sebagai jalur
lintas timur sumatera dengan posisi Kabupaten Indragiri Hulu berbatasan dengan
22
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 1 Peta Kabupaten Indragiri Hulu.
(https://wwwpeta+kabupaten+indragiri+hulu.com) diakses pada 10 Maret 2020.
178 desa dan 16 kelurahan. Jumlah desa dan kelurahan berdasarkan pengamatan
1. Batang Cinaku 10 - 10
2. Batang Gangsal 20 - 20
3. Batang Peranap 10 - 10
4. Kelayang 16 1 17
5. Kuala Cinaku 10 - 10
6. Lirik 17 - 17
23
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
7. Lubuk Batu Jaya 9 - 9
8. Pasir Punyu 8 5 13
9. Peranap 10 2 12
11. Rengat 10 6 16
13 Seberida 10 1 11
pengamatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Indargiri Hulu pada tahun 2019
425,897 jiwa pada tahun 2017 menjadi 433,933 jiwa pada tahun 2018 menjadi
441,789 jiwa pada tahun 2019. Tingkat pertumbuhan penduduk pada Kabupaten
Indragiri Hulu tidak memiliki kenaikan yang sangat besar setiap tahunya
Hulu. Wilayah Indragiri Hulu dengan luas sekitar 8.195,26 km² dapat memenuhi
24
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4.3 Keadaan Masyarakat
hasil pengamatan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu pada tahun
sangat beragam. Dari segi suku yang bertempat tingal di Kabupaten Indragiri
Hulu memiliki keunikan tersendiri. Suku asli dari kabupaten Indragiri Hulu ialah
suku Talang Mamak meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak sekitar 20 %, suku
disetiap wilayah kabupaten Indragiri Hulu terutama sangat banyak di kota Rengat
Kerajaan Indragiri, berikutnya adalah suku Jawa sekitar 8 %, suku Banjar sekitar
sekitar 5 % (Sensus Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2019).
juga sangat toleransi dan terbuka terhadap pendatang yang ingin tinggal di
25
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4.3.2 Keadaan Ekonomi
dari setiap masyarakatnya. Dari segi sektor pekerjaan petani merupakan pekerjaan
yang mendominasi selain itu ada juga yang berkebun baik berupa kebun sawit
maupun pekerjaan lainnya yang sudah memiliki nominal tetap untuk diterima
perbulannya.
yang paling banyak ialah suku Melayu sekitar 40 % dan suku Talang Mamak 20
kebudayaan banyak terdapat situs makam raja-raja Indragiri, rumah tinggi, serta
cerita mengenai Kerajaan Indragiri itu sendiri. Selain itu terdapat sebuah tradisi
kebudayaan yang diadakan setiap tahunnya yaitu tradisi pacu jalur, pengobatan
balai terbang, tari-tarian, bahasa, pantun serta makan khas dari Kabupaten
26
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4.4 Mata Pencaharian
dengan jumlah penduduk di tahun 2019 mencapai 441.789 orang terdiri dari
Indragiri Hulu dari rentang usia prodiktif bekerja mereka tersebar diberbagai
masyarakat Malayu Indragiri Hulu hasil pertanian tersebut berupa bahan pangan
maupun kebutuhan pokok lainnya disusul perkebunan berupa kelapa sawit dan
27
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2 Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri
adalah cerita yang disampikan secara lisan yang dihimpun dari berbagai informan
(Raja Tom Fatma, Saharan, Raja Herman Maulana Dan Guntur) sehingga
membentuk sebuah satu cerita yang utuh mengenai cerita silsilah Kerajaan
disetiap paragraf hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahami
setiap analisis yang ada. Berikut ini adalah cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang
kala cerita ini bermula dari seseorang nan masyur dan gagah perkasa dari negeri
Malaka. Kerajaan Indragiri bermula dari seorang Raja Malaka ke empat (IV)
bernama Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk
bergelar Sultan Muhammad Syah. Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar
Sultan Muhammad Syah adalah pemimpin yang bijaksana dan gagah perkasa di
Kerajaan Malaka. Selain itu Sultan Muhammad Syah telah memeluk agama Islam
dengan bimbingan Said Abdul Aziz yang datang dari Jeddah-Arab Saudi. Pada
masa pemerintahan Raja Kecik Besar Malikul Muluk bergelar Sultan Mahammad
Syah wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka ke empat (IV) tesebar dari Malaka
hingga wilayah Indonesia tepatnya di wilayah Indragiri, provinsi Riau saat ini.
Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri pada tahun 1298 M dengan raja pertama
28
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yaitu Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin
ke empat mempunyai seorang putra mahkota yang bernama Raja Kecik Mambang
alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin Inayatsyah dan saudara kandung
bernama Raja Ibrahim alias Raja Abu Sahid yang menjadi Sultan Malaka ke lima
(V) sekitar tahun 1343 sampai 1344 M serta Raja Kasim gelar Sultan
Musyafarsyah yang menjadi Sultan Malaka ke enam (VI) sekitar tahun 1344
sampai 1384 M. Raja Merlang I diketahui memiliki seorang putra bernama Raja
Iskandar Pahlawan alias Nara Singa I. Pada masa kepemimpinan sultan Malaka ke
empat, sultan menobatkan Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar
Keritang (Indragiri) sebagai cikal bakal Kerajaan Indragiri. Namun Raja Merlang
kepada dua orang Datuk yang dipercayai untuk mengurus Kerajaan Indragiri yang
cikal bakalnya dari wilayah Keritang. Kedua Datuk tersebut yaitu Datuk Patih
selaku perdana mentri dan Datuk Temenggung Kuning selaku mentri kerajaan
serta para pembesar kerajaan lainnya. Tak lama kemudian Raja Merlang I jatuh
sakit lalu wafat mendahului ayahnya Sultan Malaka empat (IV) pada tahun 1337
dilanjutkan oleh putra mahkota Raja Iskandar Pahlawan alias Nara Singa I sekitar
tahun 1337 sampai dengan 1400 M dan masih tetap tinggal di Malaka dan urusan
kerajaan masih tetap dilanjutkan oleh para Datuk beserta anggota kerajaan.
29
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
perlahan Sultan Iskandar Pahlawan alias Raja Nara Singa I mengikuti jejak
akhirnya menikah dengan Raja Emas Jauhari anak dari Raja Kasim bergelar
dikaruniai seorang putra yang pertama bernama Raja Merlang II bergelar Sultan
Raden Rara Ayu Dewi Sri dari Kerajaan Galuh Pajajaran, dikaruniai seorang putra
bernama Raja Tubun. Seiring berjalanya waktu anak Sultan Iskandar Pahlawan
tumbuh besar dan memiliki jiwa yang perkasa seperti ayahandanya. Tak lama
kemudian Raja Iskandar Pahlawan mangkat dikarenakan sakit keras yang beliau
pada tahun 1400 sampai dengan 1474 M. Raja Merlang II menikah dengan
seorang putri anak dari Raja Abdullah bergelar Sultan Mansyursyah yang menjadi
sultan Malaka ke tujuh (VII) yang bernama Raja Putri Bakal. Dikisahkan Putri
Bakal adalah seorang putri yang sangat cantik. Pada masa kepemimpinan Raja
Inayatsyah belum memiliki keturunan, hal ini membuat kecemasan para anggota
kerajaan termaksuk Raja Abdullah bergelar Sultan Mansyursyah ayah dari Raja
30
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Putri Bakal. Akhirnya Sultan Malaka ke tujuh (VII) berencana untuk datang
pencerahan atas masalah yang sedang dihadapi sultan saat itu. Akhirnya, sultan
beserta rombongan pergi berlayar menuju pulau Jawa dengan didampingi oleh
beberapa kapal dan dan sampai disana. Pihak Kerajaan Majapahit menerima
dengan baik kehadiran dari rombongan Kerajaan Malaka. Raja Abdullah pun
kebaikan dalam Kerajaan Malaka, selain itu Hayam Wuruk juga memberikan
nasehat kepada Raja Merlang II dan Raja Putri Bakal untuk tetap sabar dan tetap
berdoa kepada yang kuasa, kemudian Sultan dan rombongan beranjak pulang ke
Tak lama kemudian Raja Putri Bakal mengandung lalu melahirkan seorang
putra mahkota dan diberi nama Raja Nara Singa II bergelar Paduka Maulana Sri
yang begitu besar di Kerajaan Malaka atas lahirnya putra mahkota Raja Merlang
II dan Putri Bakal yang telah dinantikan bertahun-tahun dengan harapan kelak
pemimpin Kerajaan Malaka mewartakan bahwa Raja Nara Singa II yang bergelar
ditetapkan sebagai raja Indragiri yang ke empat (IV) meski pun umur beliau masih
muda. Pada Raja Tubun saudara sepupu dari Raja Merlang II mempunyai
31
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
keturunan seorang putra bernama Raja Isap. Raja Merlang II diketahui pernah
pergi bersama rombongan Sultan Mansyur Syah Malaka untuk meminang Putri
Raden Galuh Candera Kirana putri dari bahtera Majapahit kepergian itu diketahui
pula oleh pembesar Kerajaan Melaka bernama Tun Bajasura serta sembilan orang
hulubalang yang mahir bersenjata bernama Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang
Lekiu, Hang Ali, Hang Iskandar, Hang Hasan, Hang Husin, Hang Tuah, dan Hang
silih berganti secara turun-temurun dan banyak menimbulkan konfik serta tekanan
yang membuat kerajaan harus miliki raja yang bertempat tinggal di Kerjaan
Indragiri. Berdasarkan cerita, bahwa ketiga raja yang memimpin terlebih dahulu
di Kerajaan Indragiri tak satu pun dari mereka berada di lokasi kerajaan hingga
akhirnya mangkat dan wafat lalu dimakamkan di tanah Malaka. Urusan kerajaan
di atur oleh para Datuk dan petinggi kerajaan lainnya. Hingga pada akhirnya
terjadi kesimpangsiuran dan ke tidak sepahaman antara Datuk Patih dengan Datuk
Disisi lain terjadi juga penyerangan dari kerajaan luar seperti Kerajaan
Sumatera yang berpusat di muara Sungai Indragiri serta tekanan dari Kerajaan
Melaka yang meminta untuk Raja Nara Singa II memberikan upeti terhadap
Kerajaan Malaka atas hasil bumi Indragiri. Pada saat itu terjadi juga kericuhan di
wilayah perbatasan antara Keritang dan Jambi dengan datangnya para pengungsi
32
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dari wilayah Jambi sehingga suku Talang Mamak sebagai suku asli dari wilayah
Keritang meminta agar hal ini cepat teratasi dikarenakan serangan dari Kerajaan
ternyata adik sepupu Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam yaitu
Indragiri yang telah di pangku oleh abang sepupunnya sendiri. Raja Isap memiliki
sifat yang congkak, angkuh, tidak menunjukkan pembawaan dan sifat sebagai
anak keturunan bangsawan lebih-lebih dalam hal berdagang, suka mengicuh dan
menipu orang. Akhirnya Raja Isap diusir dari negeri Indragiri oleh rakyat dibantu
oleh Tun Kecik Datuk Bendahara dan Tun Ali. Raja Isap pindah ke Daik dan
menjadi menantu oleh Raja Terengganu serta memiliki banyak anak. (7)
Datuk Patih berfikir bahwa raja harus di jemput untuk memimpin di kerajaan.
Hari terus berganti minggu, minggu beganti bulan, bulan berganti tahun dan
karena perebutan tahta kekuasaan. Pada suatu hari Datuk Patih mangajak Datuk
Tumenggung merasa keberatan atas penjemputan raja dan dikenal dengan syair
33
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Walau akhirnya tiada searah
(Sumber: Saharan).
Lalu akhirnya Datuk Patih membulatkan tekat untuk menjemput Raja Nara
Raja Nara Singa II gelar Paduka Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah
(Sumber: Saharan).
Diceritakan rakit kulim adalah nama perahu yang digunakan Datuk Patih
untuk menjemput sang Raja Nara Singa II. Rakit kulim adalah tiga perahu yang
dirakit menjadi satu dan terbuat dari kayu kulim yang terkenal sangat berat serta
tidak dapat mengapung di atas air. Tetapi dengan kekuatan serta ilmu yang
dimiliki Datuk Patih kayu kulim dapat mengapung dan dijadikan sebuah rakit.
adiknya yang bernama Tun Kecik untuk mengarungi aliran sungai Indragiri yang
keruh menuju Kerajaan Melaka. Setibanya di Malaka rakit pun dikait di tepi
muara sungai Duyung lalu Tun Kecik mewartakan ke pada penjaga maksud dan
34
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
tujuan mereka datang ke negeri Melaka yaitu untuk menjemput Raja Nara Singa II
nama masyurnya. Kisah ini pun tertuang dalam syair yang dibunyikan oleh Raja
(Sumber: Saharan).
Akhirnya Raja Nara Singa II pun setuju laku pergi meninggalkan tanah
Melaka di waktu subuh bersamaan dengan Tun Kecik dan Datuk Patih turun dari
istana menuju Durian Daun nama tempatnya lalu naik ke rakit kulim dan pergi ke
Indragiri menyusuri derasnya arus laut dan setibanya di sungai Indragiri Datuk
Patih, Tun Kecik dan Raja Nara Singa II kembali mengikuti arah sungai yang
35
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menuju ke hulu. Ketika Nara Sianga II menginjakkan kaki di rakit kulim ditaburi
dengan bertih buah kunyit lalu kakinya ditepung tawari serta langkah kakinya
semasa itu Nara Singa II telah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama
Tun Gumala akan tetapi kisah cinta Tun Gemala dengan Nara Singa II tersebut tak
bersambut baik. Tun Gemala dikawinkan dengan Sultan Malaka dan membuat
Nara Singa II merasa sangat sedih. Dengan dasar kesedihan itulah Nara Singa II
membulatkan tekat untuk menuruti permintaan suku Langkah Lama disebut juga
suku Talang Mamak yang bermukim di Talang Jerinjing, Talang Peringi, Talang
Gadabu, Talang Sungai Limau, Talang Parit, Talang Ekuk, Talang Tujuh Buah
Tangga, dan Talang Akar di dekat Sungai Gangsal untuk menetap menjadi raja di
Kerajaan Indragiri bertempat di Keritang. Raja Nara Singa II pun akhirnya tiba di
Indragiri Hulu dengan rakit kulim tempat yang dituju bersama Datuk Patih serta
Tun Kecik adalah Gunung Tujuh namanya. Disana telah di tunggu oleh Bia Sri
Mayang Urai, Bia Sri Mayang Raya dan Raja Dang Purnama yang memiliki sifat
sopan serta rendah hati atau tidak congkak mereka semua adalah anak dari Dang
Sri Bunian. Dikisahkan bahwa Dang Sri Bunian adalah anak dari seorang Raja
Bunian atau makhluk halus yang mendiami wilayah Gunung Tujuh dan dinikahi
oleh Raja Tubun. Sesampainya Raja Nara Singa II disana salah satu anak dari
Dang Sri Bunian yaitu Raja Dang Purnama terpanah akan sosok Raja Nara Singa
II yang gagah dengan penuh pesona. Ketika Nara Singa II sampai di Indragiri
Loyang nama tempatnya. Disana Nara Singa II dimandikan dan dikelilingi oleh
36
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sebanyak tiga kali dengan sebuah obor ditangan mereka masing-masing.
Penobatan itu juga diiringi oleh sebuah gendang nobat namanya, dimana terdapat
dua buah gendang peningkah dan sebuah suling napiri yang berbentuk naga konon
suling napiri dan gendang nobat disimpan oleh pemangku kerajaan. Namun,
akhirnya suling dan gendang tersebut hilang tenggelam di muara sungai Indragiri
di daerah laut Tanjung Datuk dekat perbatasan Kerajaan Indragiri dan Riau-
Lingga, benda tersebut dibuang oleh Sultan Zainal Abidin Indragiri lalu
tenggelam dikarenakan sultan berat hati menyerahkan tahta kerajaan kepada Raja
Hasan gelar Sultan Salehuddin dan akhirnya Sultan Zainal Abidin pergi dan
tinggal menetap di Terengganu. Pada masa Kerajaan Indragiri jika raja mangkat
dari tahta yang akandiwariskan maka putra mahkota yang akan dinobatkan
menjadi sultan haruslah melakukan ritual ini. Setelah penobatan selesai, Raja Nara
Singa II pun melihat Dang Purnama lalu Dang Purnama mengutarakan isi hati
dengan syair yang terpanah akan sosok Raja Nara Singa II berikut ini syair Dang
Purnama: (11)
37
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Apa yang dipakai serba kena
(Sumber: Saharan).
Sebaliknya Raja Nara Singa II pun terkagum atas kecantikan Raja Dang
Purnama yang diutarakan lewat bait syair untuk menggambarkan isi hatinya,
38
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ketika tertangkap oleh pandangan
39
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dendam sahaya berdapat dapat
(Sumber: Saharan).
menikah dengan Raja Dang Purnama atau nama sanjunganya Kelopak Pandan
Kuning anak dari Dang Sri Bunian. Konon katanya perkawinan Nara Singa II
pembesarnya. Dari hasil pernikahan tersebut Raja Nara Singa II dikaruniai dua
orang anak laki-laki. Anak laki-laki pertama Ussulluddin Hasansyah dan yang
kedua Raja Ahmad gelar Sultan Mohamadsyah. Dimana kelak para putra raja
tersebut mampu mewarisi tahta kerajaan. Pada masa pemerintahan Raja Nara
Singa II pusat Kerajaan Indragiri dipindahkan dari Keritang ke Pematang Tua atau
yang lebih dikenal sekarang dengan sebutan Pekan Tua sekitar tahun 1508 M.
40
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
wilayah Keritang dianggap tidak aman lagi bagi Raja Nara Sianga II karena sudah
banyak yang mengetahui tempat tersebut dari pihak luar kerajaan. Pada bulan
berikutnya Raja Nara Singa II akhirnya melakukan perjalan bersama Para Datuk
dan pengawalnya untuk melihat tempat yang cocok dijadikan lokasi kerajaan.
Maka dipilihlah Pekan Tua dan dibangun tempat yang baru disana dengan sebutan
Puri Tujuh. Namun pada masa pemerintahan Raja Nara Singa II di wilayah Pekan
Tua. Suasana tak begitu baik, terjadi serangan dari kerajaan lain dibagian muara
Pekan Tua. Namun terjadi hal yang tak dinginkan. Raja Dang Purnama jatuh sakit
dan tak diketahui sakitnya karena apa lalu meninggal dan dimakamkan di Kota
Raja Nara Singa II pun sangat terpukul dan sedih atas kepergian kekasih
lamanya tetapi akhirnya raja sadar bahwa Raja Dang Purnama tak akan bisa
kembali lagi bersamanya. Melihat raja yang begitu sedih para pemangku kerajaan
mencoba memberi pencerahan serta nasehat agar raja tetap semangat dalam
menjalankan hari-harinya meski pun Raja Dang Purnama sudah tiada. Para Datuk
dan pemangku adat lainya mengingatkan kepada raja bahwa masih ada putra
mahkota yang menemani raja saat ini. Dari rasa kepedihan yang begitu dalam
Raja Nara Singa II mencoba bangkit dan bersemangat kembali lagi. Akhirnya
disebut dengan ekspansi ke arah hulu sungai. Waktu Raja Nara Singa II
menemukan wilayah hutan yang letaknya cukup tinggi serta dikelilingi oleh
pohon dan terdapat sungai serta danau didepanya. Raja Nara Singa II memiliki
41
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
seorang mufti serta menjadi penasehat kerajaan yang bernama Syeh Abdurrauf
Singkil yang berasal dari Aceh untuk menyebarkan agama Islam. (14)
membicarakan tentang tempat tinggal rakyatnya. Sadar akan serangan, Raja Nara
istana yang bercorak Melayu dengan ukiran yang indah. Setelah semua selesai
pesan dan mengajak semua warna untuk tinggal di Pekan Tua dan pindah secara
bersama-sama dengan raja di negeri yang baru yaitu negeri Menduyan atau Kota
Secara perlahan rakyat mulai pindah dan berduyun-durun menyusuri sungai serta
daratan yang dipandu oleh para askar kerajaan menuju Kota Lama. Dengan cara
berduyun-duyun warga pindah ke Kota Lama maka negeri itu disebut negeri
dijadikan sebagai nama sebuah danau yang berada di depan komplek makam Raja
Di negeri Menduyan Raja Nara Singa II berserta dua putra mahkota serta
Kerajaan tersebut mengalami puncak kejayaan pada masa Raja Nara Singa II.
Kerajaan menjadi aman dan rakyat pun merasakan kemakmuran dengan hasil
bumi serta hasil perikanan yang ada di sungai Indragiri serta lautnya. Raja Nara
42
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Singa II tidak melupakan asal dari mana nenek moyang meraka beraja, kerajaan
tetap menjalin kerjasama dan ikut membantu jika Kerajaan Malaka dalam
dengan kerajaan lain seperti Kerajaan di pulau Jawa, Kerajaan Samudra Pasai, dan
Kerajaan Malaka serta kerajaan lainnya. Kerajaan Indragiri terkenal dengan hasil
rempah seperti merica dan lada serta hasil pertanian lainnya, maka banyak dari
dari bangsa Portugis yang ingin merebut wilayah selat Malaka serta daratanya
karena terkenal dengan hasil bumi dan rempah-rempahnya. Banyak askar kerajaan
yang terbunuh pada peperangan tersebut. Sultan Malaka pun meminta bantuan
Portugis. Raja Nara Singa II menggerakkan seluruh askar untuk membantu Sultan
Melaka namun Kerajaan Indragiri juga ikut diserang oleh bangsa Portugis sekitar
tersebut dengan bantuan seorang askarnya yang kuat dari Sulawesi tepatnya dari
dengan gelar Jukes Besi yang dikenal dengan kekuatannya dan tidak mempan
dengan benda tajam apa pun, maka sebelum Raja Nara Singa II megangkat
43
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dengan Kota Lama. Semasa hidupnya Raja Nara Singa II selalu ikut dalam
pertempuran hingga beliau diberi nama sanjungan ke darat menjadi singa ke laut
menjadi naga dan disebut juga mambang buih raja di laut. (17)
lima (V) memerintah mulai dari tahun 1532 sampai 1557 M. Ketika Sultan
terutama pada kerajaan yang bercorak Islam Seperti Kerajaan Banten, Kerajaan
memiliki mufti kerajaan yang bernama Syeh Ahmad. Kemudian Sultan Ussulludin
Hasansyah pada masa itu tidak memiliki keturunan sebagai pewaris tahta maka
naik tahta menjadi sultan Indragiri ke enam (VI) pada tahaun 1557 sampai 1599
M. (18)
seorang putri yang cantik bernama Tun Emas Bungsu dengan nama sanjungan
puan Ancak Raja, Tun Emas Bungsu merupakan anak dari Datuk bendahara
paduka Raja Tun Mat Ali Malaka. Dari hasil pernikahan Raja Ahmad dengan Tun
Emas dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Raja Jamalluddin bergelar Sultan
Jamalluddin Keramatsyah, namun Raja Ahmad tiba-tiba jatuh sakit lalu mangkat
44
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dan tidak diketahui sebabnya. Setalah Raja Ahmad mangkat maka tahta Kerajaan
Indragiri dilanjutkan oleh putra mahkota yaitu Raja Jamalluddin yang bergelar
tahun 1599 sampai dengan 1658 M. Raja Jamalluddin yang bergelar Sultan
Jamalluddin Keramatsyah memiliki tiga orang putra yang pertama bernama Sultan
tahta Kerajaan Indragiri pernah diserang oleh Kerajaan Aceh pada tahun 1623 M
yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh, serangan ini
menguasai karena Kerajaan Indragiri mendapat bantuan askar dari Kerajaan Riau
Lingga dan Kerajaan Jambi. Pada akhir tahun 1658 M Raja Jamalluddin yang
bergelar Sultan Jamalluddin Kramatsyah sultan Indragiri ke tujuh jatuh sakit lalu
Pada masa itu terjadi kegaduhan dikalangan istana terutama pada ketiga
anak sultan yang bersikeras ingin menjadi raja. Para Datuk dan penasehat kerajaan
lainnya mulai kebingungan. Namun berdasarkan hukum adat istiadat Melayu yang
telah diterapkan oleh leluhur mereka maka kelanjutan tahta pemerintahan jatuh ke
tangan Sultan Jamalludin Sulaimansyah sebagai anak tertua dari tiga anak sultan
45
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dan Belanda terbuka dengan perjanjian kesepakatan dagang pada tahun 1664 M
Bumi atau yang dikenal dengan Sultan Zainal Abidin. Di masa Sultan Jamalluddin
Sulaimansyah diangkatlah Raja Ahmad Alamsyah Putra atau yang dikenal dengan
berasal dari Negeri Serdang, selain jadi pengawas kerajaan Raja Kesedangan
merupakan orang yang paham akan ilmu agama Islam atau yang sering disebut
yaitu Sultan Jamalluddin Mudoyatsyah yang naik tahta menjadi Raja Indragiri ke
sembilan (IX) dengan masa pemerintahan dimulai sekitar tahun 1669 sampai
dua orang putra makota yang kelak manjadi penerus tahta bernama Sultan
Ussulluddin Ahmadsyah sebagai putra mahkota yang gagah perkasa dan mahir
dalam berperang yang diharapkan mampu menjadi tunas baru dalam melanjutkan
Indragiri di perbatasan Keritang dan hingga saat ini makamnya diketahui raib
46
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ahmadsyah menjadi sultan Indragiri ke sepuluh (X) yang memerintah pada tahun
seorang anak yang menjadi putra mahkota bernama Sultan Abdul Jalilsyah dengan
Sekitar tahun 1679 M kantor dagang Belanda yang berpusat di Kuala Cinaku
mendapat serangan dari pasukan askar Banten kurang lebih seratusan askar
dibawah kepemimpinan pangeran Arya Surya dan Ratu Bagus. Penyerangan ini
terjadi karena tidak suka pihak Kerajaan Banten atas berdirinya loji bangsa
jiwa yang keras sehingga berdampak pada sistem pemerintahan yang menekan
rakyat untuk patuh dan tunduk dengan perintah sultan. Ketika beranjak dewasa
Sultan Abdul Jalilsyah diberikan perintah untuk menangkap sebuah hewan buas di
hutan dan membawanya ke istana sultan bermasud untuk menguji sang anak,
marah dan seketika ia jatuh lalu mangkat pada tahun 1687 M. Para Datuk mengira
bahawa sang raja meninggal karena diguna-guna oleh kelangan luar kerajaan. (22)
maka Sultan Abdul Jalilsyah dinobatkan sebagai pewaris tahta untuk melanjutkan
menjadi Raja Indragiri yang ke sebelas (XI) pada tahun 1687 M, kemudian Sultan
Abdul Jalilsyah menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Malaka yang cantik
dan sopan tingkahlakunya. Putri tersebut adalah anak dari Sultan Mahmudsyah
yang mangkat di julang Malaka. Putri tersebut bernama Raja Mah dari negeri
47
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
baik dengan kerajaan lain. Dikisahkan dalam pernikahan Sultan Abdul Jalilsyah
dengan Raja Mah tidak memiliki keturun, meski pun sudah banyak hal yang
dilakukan oleh para anggota kerajaan untuk mencarikan obat yang mujarab agar
sang putri dapat memiliki keturunan dimana kelak dapat melanjutkan perjuangan
Abdul Jalilsyah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Namun kendali pemerintahan
tetap berada di tangan Sultan Abdul Jalilsyah hingga suatu ketika raja jatuh sakit
kemudian mangkat sekitar tahun 1700 M. Di masa sakitnya tersebut sultan dengan
kesadaran yang begitu kuat dan beriman kepada Allah SWT Sultan Abdul
Jalilsyah mengatakan kepada penasehat kerajaan bahawa segala sesuatu tidak ada
yang kekal dan abadi baik kekayaan, kedudukan, harta, tahta tidak dapat untuk
dimiliki, terkecuali amal kebaikan serta ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.
(23)
Di masa itu terjadi kegaduhan dan kegoncangan yang cukup besar karena
Indragiri sebab Sultan Abdul Jalilsyah tidak memiliki putra mahkota. Siasat serta
adu domba terjadi dikalangan istana kerajaan disertai dengan aksi kecil sebagai
wujud dari tidak percaya atas kalangan istana kerajaan sendiri. Peritiwa ini
dikenal sebagai kegaduhan cukup mendalam, niat lain yang muncul dari
kegaduhan ini adalah munculnya siasat dari kalangan selir raja untuk menguasai
dihadiri oleh para petinggi kerajaan yang dipimpin langsung oleh seorang Datuk
48
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Darah Putih atau yang sering disebut Tun Ali Mangku Bumi Indragiri beliau
terkanal dengan sosok yang bijaksana dalam menjalankan jabatan yang beliau
terima dari raja. Hasil dari sidang musyawarah mufakat tersebut maka diputuskan
bahwa yang layak menglanjutkan kepemimpinan dengan landasan bulat air karena
pembulu, bulat kata karena mufakat dan bersendikan berbunyi adat bersendi
ke dua belas (XII) sekitar tahun 1700 M memimpin negeri Menduyan saat itu.
serta berperang untuk membela Kerajaan Indragiri dari serangan pihak luar.
Modamadsyah menjadi raja Indragiri ke tiga belas (XIII) yang memerintah pada
tahun 1704 M. Sultan Indragiri ke tiga belas memiliki seorang putra mahkota
yang bernama Sultan Musyafarsyah begitulah nama masyurnya. Lebih kurang tiga
tahun saja Sultan Indragiri ke tiga belas menduduki tahta kepemimpinan Kerajaan
Indragiri lalu magkat dikarenakan sakit keras yang diderita dan menghembuskan
nafas terakhir pada tahun 1707 M, selanjutnya tahta Kerajaan Indragiri dilanjutkan
empat belas (XIV) dan mulai memerintah pada tahun 1707 M. (26)
49
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Musyafarsyah yang menjadi Sultan Indragiri ke empat belas
memiliki keturunan yang pertama bernama Raja Hasan Gelar Sultan Salehuddin
Keramatsyah dan anak kedua bernama Raja Bergobak. Anak permaisuri dan “Raja
Abdullah Malikul Mubin” Ibu kandungnya adalah anak kandung Raja Ali
Mangku Bumi Indragiri, lebih kurang delapan tahun lamanya menjalankan roda
dikarenakan dibunuh oleh Raja Ali Mangku Bumi atau nama lain Sultan Zainal
telah karena membunuh adik Raja Ali Mangku Bumi bergelar Sultan Zainal
Abidin. Kejadian ini terjadi ketika Sultan Musyafarsyah menyuruh adik Sultan
Zainal Abidin untuk mengambil tepak sirih ke istana dan sewaktu itu bertepatan
adik Sultan Zainal Abidin, selain itu kedua tangan adik Sultan Zainal Abidin telah
penuh dengan tepak sirih serta arah tanjak yang terlihat kebetulan disengaja disisi
kiri keadaan itu diartikan Sultan Musyafarsyah bahwa adik Sultan Zainal Abidin
keris dan akhirnya mati. Mengetahui adiknya telah mati terbunuh oleh Sultan
untuk menjadi raja saat itu. Perebutan tahta ini dilakukan antara saudara kandung
seibu dan saudara kandung lain ibu. Hingga akhirnya diangkatlah anak dari Sultan
50
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jamalluddin Sulaimansyah yang bernama Raja Ali Mangku Bumi bergelar Sultan
Zainal Abidin menjadi sultan ke lima belas (XV) kala itu, maka dengan
diangkatnya Raja Ali Mangku Bumi mendapatkan gelar manjadi Sultan Zainal
Abidin yang memerintah pada tahun 1715 M. Dikisahkan sekitar dua puluh tahun
Putih atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Tua Terengganu. Dikisahkan Raja
Ali Mangku Bumi atau yang dikenal dengan Sultan Zainal Abidin dari Indragiri
Raja Bergombak yang berhasil merebut kembali tahta Kerajaan Indragiri atas
garis keturunan dari ayahnya Sultan Musyafarsyah. Kepergian Raja Ali Mangku
Bumi ke wilayah Terengganu diiringi pula oleh Datuk Perdana dan Datuk
Indragiri yang awalnya dipegang oleh Raja Ali Mangku Bumi waktu itu, maka
Keramatsyah menjadi sultan yang dipertuan besar Indragiri I dan Raja Bergombak
dinobatkan menjadi Raja Muda Indragiri I maka keturunan dari Raja Bergombak
seorang putra bernama Raja Putera. Raja Hasan Gelar Sultan Salehuddin
Keramatsyah pun diangkat menjadi Raja Indragiri ke enam belas (XVI) naik tahta
pada tahun 1735 sampai dengan 1765 M. Para leluhur memberikan pengakuan
mempunyai enam orang anak masing-masing bernama Raja Kecik Besar bergelar
51
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Sunan, Raja, Raja Ibrahim yang dahulunya menjadi panglima perang
sebelum menjadi raja Indragiri ke delapan belas, Tengku Puan Tengah, Tengku
Puan Muda, dan Raja Halimah atau yang dikenal dengan Tengku Puan Bungsu.
yang bertempat di negeri Menduyan atau dikenal dengan Kota Lama, ada
kembali undang-undang adat Kerajaan Indragiri yang dua pada saat itu dimana
undang-undang pertama adat Kerajaan Indragiri dibuat oleh Raja Nara Singa II
abdi kerajaan terdiri dari yang tua raja mahkota di Batu Rijal Kampung-Hulu,
Lela di raja di Batu Rijal Kampung-Hilir, dan dana Lela di Pematang serta adanya
penyerahan daerah batin (batin enam suku) atau pengelolaan daerah untuk
wilayah Kerajaan Indragiri terdiri dari Igal, Manda, Pelanduk, Bantaian, Pulau
memimpin juga terjadi peperangan yang sangat besar saat itu, disebabkan karena
didampingi oleh Raja Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis dengan iringan
meminang Raja Halimah atau dikenal dengan Tengku Puan Bungsu yang tersohor
52
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
akan kecantikannya hingga ke negeri seberang. Namun, Raja Hasan bergelar
tercela. Ketika pagi hari menjelang Raja Bayang datang untuk bertemu dengan
meminta untuk anaknya Raja Halimah atau dikenal dengan Tengku Puan Bungsu
antar Raja Bayang dan pasukannya dengan pasukan Sultan Hasan bergelar Sultan
Keramatsyah dan pasukan pun menyingkir kesebuah daerah bernama Gaung tak
mentrinya, lalu mentri berkata kepada sultan bahwa ada seorang pangeran
bernama Pangeran Suta di Jambi yang sangat kuat. Tak perlu berfikir lama sultan
mereka. Datuk Tumenggung pun berlayar dari Gaung ke Jambi. Namun, Pangeran
Suta tidak berada di lokasi melainkan di Malaka untuk mengusir geran lanun.
Datuk Tumenggung akhirnya pergi ke Malaka lalu bertemu dengan Pangeran Suta
hingga akhirnya perang pun dimenangkan oleh Kerajaan Indragiri yang dibantu
53
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ketika itu Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah memimpin
anak perempuan raja Indragiri ke enam belas yaitu Raja Halimah bergelar Tengku
Puan Bungsu menikah dengan seorang Raja Muda ke empat negeri Johor, Pahang,
Riau bernama Raja Haji Fisabilillah dan menetap di Daik sekitar tahun 1778
sampai 1784 M dan memiliki dua orang putri bernama Raja Buntit dan Raja
Tengah atau dikenal dengan Tengku Tengah. Melalui cerita yang beredar bahwa
Raja Buntit diperistri oleh Raja Sulaiman ayahnya Raja Arung Lingga dari pada
Sultan Riau Lingga, sedangkan Tengku Tengah menjadi pemaisuri dari yang
dipertuan besar Sultan Selangor ke II yaitu Raja Ibrahim Syah ayahnya ialah
Sultan Salehuddin bergelar Raja Lemu. Diceritakan bahwa Raja Haji Fasabillillah
negeri Melaka. Namun, akhirnya Raja Haji Fasabillillah mangkat dalam medan
pertempuran di Teluk Ketapang nama tempatnya. Pada tahun 1765 M Raja Hasan
mereka bahwa di raja ke tujuh belas ini pusat Kerajaan Indragiri berpindah ke
Raja Pura atau yang disebut sekarang dengan Japura. Sultan yang naik tahta
menjadi raja Indragiri ke tujuh belas (XVII) adalah putra mahkota dari Raja Hasan
bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah yaitu Raja Kecik Besar Gelar Sultan
Sunan yang memerintah sekitar tahun 1765 M. Adapun alasan Sultan Sunan
memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Japura karena pada zaman itu terjadi
54
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
banjir yang sangat besar disekitaran Kerajaan Indragiri yang ada di Kota Lama.
Air tersebut berasal dari aliran sungai Indragiri. Selain itu Japura dianggap
sebagai tanah yang tinggi. Semenjak itulah kota raja negeri Menduyan berganti
nama menjadi Kota Lama artinya Kota Tua atau Kota Tinggal. Pada masa
untuk melawan bangsa Belanda yang dipimpin oleh Raja Haji Bin Daeng Celaka
Selain itu askar Kerajaan Indragiri ditambah lagi dengan bantuan pasukan Melayu
dari Kerajaan Sulu. Dahulunya Kerajaan Indragiri telah menjalin kerjasama yang
baik dengan berbagai kerajaan di luar Sumatera salah satunya adalah Kerajaan
Sabah. Pada masa Raja Kecik Besar bergelar Sultan Sunan naik tahta diangkalah
Raja Putera yang bergelar Raja Putera Singkat Tangan menjadi raja muda ke II
Kerajaan Indragiri anak dari Raja Gombak, keturunan dari Raja Putera Singkat
tangan bernama Raja Moehammad. Diceritakan Raja Kecik Besar Gelar Sultan
Sunan mempunyai dua orang anak yang pertama bernama Raja Mun bergelar
Sultan Mun Bungsu dan yang kedua Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut
Keramat Gangsal. Disisi lain pada masa kepemimpinan Raja Kecik Besar bergelar
Sultan Sunan memiliki panglima perang yaitu Sultan Ibrahim. Sultan Ibrahim
adalah adik kandung dari Sultan Sunan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah
yang kala itu menjadi panglima perang di Kerajaan Indragiri dan pernah
memimpin perang 17 Juni 1784 M di Teluk Ketapang, tidak diketahui alasan yang
persis namun pada 1784 M Sultan Sunan mundur dari jabatannya sebagai raja
55
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sunan dari jabatanya dikarenakan telah terjadi sebuah peristiwa dimana Sultan
Ibrahim mendapati adanya tidak beresan dikalangan keluarga kerajaan, dalam hal
ini Raja Muda Putera Singkat Tangan sebuah perbuatan yang dianggap
bertentangan dengan ajaran agama Islam, sehingga dari kejadian ini Sultan Sunan
dimana pihak Raja Muda berpihak di Japura sedangkan Sultan Ibrahim berpihak
di kota lama. Akhirnya pertengkaran pun dimenangkan oleh pihak Sultan Ibrahim
dan pihak Raja Muda menyingkir ke Pelalawan, maka dengan kejadian itulah
Daik Lingga untuk menemui adik bungsungya yaitu Raja Halimah dan mangkat
Sekitaran tahun 1784 M Sultan Ibrahim naik tahta menjadi sultan Indragiri
ke delapan belas (XVIII) dengan bergelar Al Watiq Billah Paduka Sri Sultan
Ibrahim Baharuddin Alam Syah, dalam kisahnya Sultan Ibrahim memiliki tujuh
Mudoyatsyah, Tengku Puan Tengah, Raja Hasan, Raja Hitam (perempuan), Raja
Lembut (perempuan), Tengku Puan Muda, dan Raja Abdul Rahman yang dikenal
dengan Tengku Bungsu ke semua anak Sultan Ibrahim tersebut lahir pada tahun
yang berbeda namun tidak diketahui secara pasti. Dikisahkan bahwa Sultan
Ibrahim pernah mengikuti perang yang cukup besar melawan kekuasaan Belanda
untuk merebut tanah Melaka yang dikenal dengan sebutan perang Teluk
56
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
anak dari Raja Putera Singkat Tangan menjadi raja muda ke III Kerajaan Indragiri
menggantikan ayahnya sebab pada masa itu telah terjadi kekosongan raja muda
atau yang dipertuan muda. Diketahui bahwa Raja Moehammad memiliki anak
bernama Raja Mansyur. Sekitar tiga puluh tahun lamanya Sultan Ibrahim
Rengat. Namun, tidak diketahui alasan yang pasti mengapa pusat kerajaan
dari Sultan Sunan dan mengembalikan garis tahta kepada Raja Mun bergelar
Sultan Mun Bungsu sebelum beliau mangkat sekitar tahun 1815 M sultan Ibrahim
berpesan untuk dimakamkan di negeri yang ia buka, lalu Sultan Ibrahim mangkat
sekarang. (34)
Setalah wafatnya Sultan Ibrahim maka resmilah Raja Mun gelar Sultan
Mun Bungsu menjadi raja Indragiri ke sembilan belas (XIX) pada tahun 1815 M,
ketika Raja Mun bergelar Sultan Mun Bungsu memerintah diceritakan bahwa
dahulunya Sultan Mun Bungsu pernah pergi untuk bertapa ke Daik Lingga. Pada
waktu itu Sultan Mun Bungsu bertapa dan pada malam ke tujuh sultan
menghentakkan tumit kanannya ke salah satu batu yang ada di puncak Gunung
Daik dan ketika turun dan sampai di lereng gunung Daik seketika gunung tersebut
runtuh sebelah. Selama masa Sultan Mun Bungsu memimpin Kerajaan Indragiri
berkedudukan di Rengat, maka salah satu keturunan dari Sultan Ibrahim yaitu
Raja Said bergelar Sultan Said Modayatsyah telah memulai sedikit demi sedikit
kericuhan untuk merebut tahta Kerajaan Indragiri. Namun semua upaya tersebut
57
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Mun Bungsu memiliki kesaktian yang sangat hebat, disisi lain Sultan Mun
Bungsu memiliki jiwa yang baik, mencintai warganya serta taat ilmu agama.
Hingga akhirnya sekitar tahun 1827 M Sultan Mun Bungsu mangat dan
Pada masa kekosongan tahta yang ditingkalkan Raja Mun bergelar Sultan
Mun Bungsu maka para Datuk tidak dapat memaksa keinginan sultan, maka
sekitar tahun 1827 M. Keputusan ini diambil karena raja memiliki jiwa pemimpin
yang kuat serta arif dan bijaksana selain itu Raja Umar merupakan adik kandung
dari Sultan Mun Bungsu. Dikisahkan bahawa pada negeri Indragiri lahirlah
seorang anak dari Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut Keramat Gangsal yang
yang Raja Umar pimpin. Namun tak diketahui sebabnya Tengku Nong wafat di
usia muda. Selang beberapa tahun kemudian lahir seorang anak perempuan yang
diberi nama Tengku Ampuan Besar Sadiah anak dari Raja Umar. Tengku Ampuan
Besar Sadiah diceritakan pula memiliki watak baik dan suka menolong serta taat
beragama. Di sisi lain Raja Said bergelar Sultan Said Modayatsyah semakin
bertempat di kota Japura masa itu. Namun, Raja Umar tetap memiliki kekuatan
yang kuat untuk menghalau serangan dari Raja Said bergelar Sultan Said
Modayatsyah tersebut. Sultan Said merasa bahwa dirinyalah yang pantas menjadi
raja sebab mengingat karena ayahnya adalah sultan Indragiri ke delapan belas.
Padahal beliau tidak memahami alasan mengapa ayahnya diangkat menjadi sultan
58
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kala itu di Kerajaan Indragiri. Niat ingin menguasai itu pun akhirnya tidak dapat
terlaksana karena pihak kerajaan tidak mendukung, akhirnya Raja Said semakin
Raja Umar dan para pasukannya, maka Sultan Said membuat siasat kembali untuk
bekerjasama untuk meminta bantuan kepada adik bungsunya yaitu Raja Abdul
Maimunah anak dari Raja Ahmad dikenal dengan Tengku Haji Tua yang
sekitaran tahun 1838 M. Pada masa Raja Said diangkatlah Raja Mansyur anak dari
Raja Moehammad menjadi yang dipertuan muda atau raja muda Indragiri ke IV.
Raja Moehammad memiliki keturunan bernama Raja Ali atau yang lebih dikanal
dengan Tjik Alie. Raja Ali memiliki anak bernama Raja Jumahat Singkat Tangan
yang menjadi dipertuan muda ke VI Kerajaan Indragiri. Lalu nasib Raja Umar
sikap Raja Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah secara terpaksa mau tidak mau
59
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
maka para Datuk Temenggung dan pemangku kerajaan lainnya mengangkat
Sultan Said Mudoyatsyah anak Sultan Ibrahim menjadi raja Indragiri ke dua puluh
satu (XXI) sekitar tahun 1838 M dengan gelar nobatnya Raja Said adalah Alwatiq
Billah Paduka Sri Sultan Said Jamaluddin Mudoyatsyah. Mendengar kabar bahwa
Sultan Said merebut kekuasaan dari Raja Umar maka Raja Muda Jumahat
beberapa bulan waktu itu Raja Said meminta bantuan ke pada Belanda yang
dan mengajak Kerajaan Riau Lingga dengan wakil Raja Muda Riau Abdul
Rahman maka masuklah Belanda ke negeri Indragiri. Disisi lain Belanda berhasil
Jumahat Singkat Tangan yang dikenal dengan Tractaat Van Vrede En Vriendscap
yaitu sebuah perjanjian yang mengikat antara kedua belah pihak tersebut pada
Sultan Said Mudoyatsyah memiliki sorang mufti kerajaan bernama Syeh Ibrahim
yang berasal dari Hadramaut Yaman yang bertugas menyebarkan agama Islam
dan bertugas menjadi penasehat kerajaan. Di negeri Indragiri Raja Said gelar
Sultan Said Mudoyatsysah menikah dengan saudaranya bernama Raja Pasir anak
dari pasangan suami istri Raja Haji Fisabilillah dengan Encik Uning. Encik Uning
merupakan istri ke delapan dari Raja Haji Fisabilillah sebagai raja muda Riau,
Johor, Pahang ke empat, selain itu Encik Uning berkedudukan negeri Indragiri.
60
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dari hasil perkawinan Raja Said gelar Sultan Said Mudoyatsysah dengan Raja
Pasir dikaruniai empat orang anak yang pertama bernama Raja Muhammad Ali
bergelar Raja Kecik Besar, namun sayang mangkat di usia muda. Kedua Raja
Ismail gelar Sultan Ismailsyah. Ketiga Tengku Dalam (perempuan), dan yang
keempat Raja Husin atau yang dikenal dengan Tengku Bujang bergelar Sultan
Husin Inayat Syah. Raja Said gelar Sultan Said Mudoyatsyah sakit keras dan tak
kunjung sembuh, kalangan kerajaan menganggap bahwa itu adalah celaka dari
Allah atas perbuatanya selama ini, hingga akhirnya sakit secara perlahaan pada
tahun 1876 M mangkat dan dimakamkan di Raja Pura atau disebut juga Japura.
(37)
putra mahkota Raja Said yaitu Raja Ismail gelar Sultan Ismailsyah menjadi Raja
Indragiri ke dua puluh dua (XXII) sekir tahun 1876 M. Di ceritakan bahwa Raja
Ismail tidak cukup lama memangku tahta kurang lebih hanya dua minggu saja
memangku jawabatan raja Indragiri lalu mangkat karena sakit yang di derita. Raja
atau yang lebih dikenal dengan Japura pada tahun 1876 M. (38)
menjadi sultan Indragiri ke dua puluh tiga (XXIII) sekitar tahun 1876 M. Sultan
Abdullah merupakan anak dari Raja Abdul Rahman adik bungsu dari Raja Said
salah satunya adalah peristiwa pencopotan paksa jabatan raja Indragiri oleh
Belanda terhadap Sultan Abdullah. Hal ini didasari karena Sultan Abdullah
61
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sultan Abdullah menyadari bahwa Belanda telah memonopoli perdagangan
Kerajaan Indragiri. Selain itu cerita yang beredar di masyarakat Kerajaan Indragiri
dengan Belanda untuk tidak ada yang boleh menjadi sultan selain keturunan dari
keturunan, Sultan Abdullah menikah dengan Tengku Dalam anak ke tiga dari
Sultan Said Mudoyatsyah. Adapun keturunan dari Sultan Abdullah yang pertama
Raja Ibrahim yang menjadi putra mahkota, kedua Tengku Begab, ketiga Tengku
Tengku Adji, keenam Tengku Mahmud, ketujuh Tengku Isa, kedelapan Raja
dimana pencopotan paksa jabatan Sultan Abdullah sebagai Raja Indragiri ke dua
puluh tiga. Maka naiklah Tengku Husin alias Tengku Bujang bergelar Sultan
Husinsyah menjadi raja ke dua puluh empat (XXIV) sekitar tahun 1877 M.
Sadiah dan memiliki keturunan diantaranya Tengku Atan sebagai anak pertama,
Raja Embeh (Tengku Puan Besar) anak kedua, Raja Uteh (Tengku Puan Besar)
anak ketiga, Raja Buntet anak keempat, dan Raja Maryam (Tengku Puan Bungsu)
anak kelima. Dalam kalangan kerajaan Sultan Husinsyah memiliki istri lain atau
yang dikenal dengan perempuan gundik bernama Kopik Lembut dari pernikahan
tersebut Sultan Husinsyah memiliki seorang putra bernama Tengku Isa. Diketahui
juga bahwa Sultan Husinsyah memiliki perempuan gundik lain bernama Raja
62
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pada masa kepemimpinan Sultan Husinsyah Datuk Muhammad Arif
dikabarkan memiliki seorang istri yang bernama Maharani Batubara atau yang
Arifin lahir pada tahun 1855 M dan wafat pada tahun 1910 M di Pulau Penyengat
makamnya berada pada bagian luar komplek makam yang dipertuan muda Riau
Lingga ke VII Raja Abdul Rahman masa 1832 M sampai dengan 1844 M.
Sedangkan istrinya Maharani Batubara atau yang dikenal dengan Tok Yang
dimakamkan dekat Masjid Raya Rengat tepatnya pada komplek makam Raja-Raja
Indragiri. Namun pada masa itu Kerajaan Indragiri terus semakin tertekan dengan
monopoli dagang yang dilakukan Belanda, hingga ada seorang kerabat anak
Sultan Abdullah dari Kerajaan Indragiri bernama Raja Begab. Raja Begab sangat
dibenci Belanda karena pada masa itu Raja Begab sering melempari kapal-kapal
Belanda yang berlabuh maupun yang sedang lewat di sungai Indragiri. Selain itu
Raja Begab dikabarkan pernah menangkap dan membunuh dua orang bangsa
Belanda yang ada di negeri Indragiri. Ke semua itu dilakukan karena Raja Begab
Dari masa itu, terjadi kekosongan pemimpin kerajaan sebab anak pertama
Sultan Husinsyah yaitu Tengku Atan tidak dapat melanjutkan naik tahta. Cerita
yang beredar kabarnya Tengku Atan mengalami cacat sejak lahir sementara adik-
Kesempatan ini dipakai Sultan Abdullah untuk naik tahta kembali. Namun
63
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ternyata Raja Embok keturunan dari Raja Ali Mangkubumi juga ingin naik
sebagai Raja Indragiri saat itu untuk menggantikan Sultan Husinsyah yang telah
dari kedua belah pihak tersebut memiliki pendukung yang saling berpihak pada
pilihannya. Pertikaian yang panjang tersebut membuat para Datuk dan pemangku
adat lainnya berfikir jika tidak cepat diselaikan maka takutnya nanti akan menjadi
semakin besar. Sehingga pada tahun 1883 atau 1884 M Sultan Abdullah naik tahta
kembali menjadi raja Indragiri ke dua puluh lima (XXV) secara adat resmi yang
negeri Indragiri. Hal ini disebabkan karena Sultan Abdullah dikenal sebagai anti
Belanda. Sehingga Sultan Abdullah diberikan hak atas wilayah Peranap dan
Belanda. Belanda pun mengambil siasat agar Sultan Abdullah tidak sepenuhnya
memegang kendali tahta kemimpinan dengan cara memilih dan menaikan Tengku
Isa sebegai raja Indragiri, sebab Belanda merasa khawatir kepada kepemimpinan
luar. Pengangkatan Tengku Isa dinobatkan secara adat di Riau Lingga dengan
dibawah naungan Belanda masa itu. Maka resmilah Tengku Isa bergelar Sultan
Isa Modayatsyah menjadi raja Indragiri ke dua puluh lima (XXV) juga sekitar
tahun 1883 atau 1884 M. Dengan adanya kedua raja yang memimpin masa itu.
Maka timbullah perpecahan yang sangat besar. Selain itu setiap raja saling
64
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
namun Belada tetap berpihak pada Sultan Isa. Keberpihakan ini semata-mata
Namun Sultan Isa tetap tidak menggangu pemerintahan yang dijalankan oleh
Sultan Abdullah waktu itu, hingga pada sekitaran tahun 1888 M Sultan Abdullah
tahta dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sultan Ibrahim. Keturunan dari Sultan
Ibrahim yang pertama Raja Moehammad alias Tengku Sulong, kedua Tengku Cik,
telah terjadi perjanjian yang mengatur atas hak dan kekuasaan. Peritiwa ini
didasari karena perang dingin yang berkelanjutan antara pihak Sultan Isa dengan
pihal Sultan Abdullah masa itu. Maka Belanda pun turut campur tangan
mendamikan kedua belah pihak ini antara Sultan Isa dengan Sultan Ibrahim. Pada
bulan Agustus tahun 1890 M di kota Rengat dilakukan perdamian yang berisikan
Tengku Isa bergelar Sultan Isa Modayatsyah sebagai yang dipertuan besar
Indragiri berkedudukan di Rengat dan Raja Ibrahim sebagai sultan muda Indragiri
Kelayang, Morong, Japura, dan Kampung Orang Laut. Pada masa Sultan Isa naik
tahta diangkatlah enam mentri Kerajaan Indragiri dan pada masa Sultan Isa pula
yang memiliki perbedaan sebab adanya jabatan sultan muda masa itu. Keenam
Tengku Mahmud, Tengku Isa, Tengku Sulaiman dan Tengku Muhammad Yusuf
65
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menteri kerajaan oleh Sultan Isa. Di balik kepemimpinan itu seluruhnya
berkuasalah Sultan Isa atas negeri Indragiri. Diangkat juga Raja Muhammad
Yusuf sebagai yang dipertuan muda ke VII Kerajaan Indragiri. Raja Muhammad
Embih dan terdengarlah ke penjuru negeri atas kelahiran putra putri Sultan
tersebut bernama Tengku Mahmud dan Tengku Puteri. Kelahiran anak Sultan Isa
Modayatsyah pun disambut baik oleh masyarakat kerajaan namun sayang ketika
besar tengku putri dikabarkan wafat di tanah Mekah. Sultan Isa terkenal dengan
bersama dan ketentuan dari pihak kerajaan maka Tengku Mahmud pun
restu ayahandanya yaitu Sultan Isa dan ibunya Tengku Embih. Keberangkatan
Tengku Mahmud menggunakan kapal yang telah disediakan, dan didampingi oleh
Kegiatan kerajaan berjalan dengan baik semua hasil bumi dari Indragiri di
masa kepemimpinan Sultan Isa berjalan dengan lancer begitu juga dengan Sultan
tahun 1902 M Sultan Isa pun jatuh sakit, hingga akhirnya mangkat namun
Masjid Raya Rengat bersama dengan leluhurnya. Setelah mangkatnya Sultan Isa
Modayatsyah, maka para pemangku kerajaan baik Mentri, Datuk, serta petinggi
66
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
lainnya bermusyawarah mufakat untuk menentukan keberlanjutan tahta yang akan
berusia muda dan dalam tahap pendidikan di Batavia maka diangkatlah Raja
Uwok anak dari Raja Ombak keturunan dari Raja Begab untuk menjadi sultan
muda di Kerajaan Indragiri serta diangkat secara adat untuk memangku jabatan di
Kerajaan Indragiri Pada tahun 1902 M. serta melanjutkan tahta sembari menunggu
keturunan dari Raja Muda Jumahat Singkat Tangan yang dipertuan muda pada
masa Sultan Said Mudayatsyah sekitar tahun 1838-1876 M. Raja Muda Jumahat
keturunan dari Raja Muhammad Yusuf ialah Raja Ombak, Raja Ali, Raja Cik,
Raja Mendak, Raja Saleha, dan Raja Ismail. Dan Raja Ombak sebagai anak
pertama dari Raja Muhammad Yusuf memiliki keturunan bernama Raja Uwok
yang memangku sultan muda Indragiri terakhir di tahun 1902 M. Di masa Raja
Uwok naik tahta kerja sama dengan kerajaan luar tetap terjalin begitu juga dengan
Belanda yang berkedudukan di Rengat. Pada Tahun 1912 M Raja Uwok mangkat
dan dimakamkan di dekat jalan Nara Singa Kota Rengat tak jauh dari Masjid Raya
Rengat. (46)
Setelah mangkatnya sultan muda Indragiri yaitu Raja Uwok, maka naik
tahtalah Tengku Mahmud sebagai raja Indragiri ke dua puluh enam (XXVI) pada
Ara yang memiliki putra bernama Tengku Moehammad. Setelah wafatnya Encik
67
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ara Sultan Mahmudsyah menikah dengan Raja Saedah. Dari pernikahan dengan
Raja Saidah, Sultan Mahmudsyah memiliki lima orang anak pertama bernama
Tengku Muhammad Bay, kedua tengku Muhammad Yusuf, ketiga Tengku Arief,
keempat Tengku Mahari, dan kelima Tengku Zohor. Ketika Sultan Mahmudsyah
Encik Ali merupakan saudara kandung dari istri Sultan Mahmudsyah yaitu Encik
Ara. Encik Ali juga merupakan pejabat Bupati pertama Indragiri pada masa 1945
kedudukan di Peranap yaitu Sultan Muhammad anak dari Sultan Ibrahim Indragiri
ikut serta mewakili dari pihak Kerajaan Indragiri dalam perhelatan atau
putra dari Raden Mas Sayyidin Malikul Kusmo Pakubuwono X dan ibunya
hadirnya Sultan Muhammad ikatan kerjasama dengan pihak luar telah berjalan
Pada masa Sultan Mahmmud naik tahta sultan menerima anugerah bintang
tersebut merupakan orang pandai dalam ilmu agama Islam sehingga Sultan
68
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Syeh Abdurrahman Siddiq Albanjari sebelum datang ke Indragiri untuk
lima belas tahun lamanya dan memiliki peninggalan disana, lalu Syeh tersebut
datang ke negeri Indragiri dan disambut baik oleh Sultan Mahmmud. Berdasarkan
cerita Sultan Mahmmud hingga turun sejajar bersama dengan Syeh Abdurrahman
yang menjadi raja terakhir di Kerajaan Indragiri. Pada masa itu ketika Indonesia
Republik Indonesia, hal ini disebabkan karena pada masa tersebut kekuasaan
Belanda masih tersisah di negeri Indragiri. Namun, ketika terjadi agresi militer I
pada 15 Juli 1947 M sampai 5 Agustus 1947 M oleh Belanda ketika Van Mook
Namun beberapa tahun kemudian Belanda melancarkan aksi agresi militer II pada
peristiwa 5 Januari 1949 M. Pada masa itu Indragiri mendapat serangan dari
Belanda berlanjutan dari agresi militer II. Kota Rengat diserang habis-habisan
masyarakatnya dibunuh karena pada masa itu di Indragiri tepatnya Air Molek
69
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
merupakan basis militer Indonesia yang terkuat dan memuat pasokkan
Indragiri. Sultan Mahmmud pun tak dapat berbuat banyak atas kejadian ini,
masyarakat banyak yang berlindung di istana Indragiri dan banyak juga yang mati
berdarah 5 Januari 1949 M. hingga pada akhirnya pada tanggal 19 Desember 1949
generasi memberikan hasil berupa pesan-pesan lisan yang didasarkan pada pesan
terdahulu yang dapat mencapai satu generasi bahkan lebih. Proses penyampaian
cerita maupun pesan melalui mulut ke mulut selama beberapa kurun waktu sampai
pesan tersebut melekat pada ingatan seseorang dan sampai pada waktunya
menghilang sendiri. Ketika manusia bercerita maka sebuah pesan dapat dihasilkan
dari perkataan tersebut dan ketika dalam proses penceritaan selanjutnya dapat
mengandung pesan-pesan dari masa lalu kepada generasi di masa kini. Hal ini
70
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sebuah tradisi dalam masyarakat khususnya pada masyarakat Melayu Riau
disampaikan secara lisan dan dapat menjadi sebuah tradisi dalam masyarakat
diingat saja dan diceritakan dari generasi ke generasi sehingga terjadi sebuah
tembang lagu, maupun sebuah syair. Dalam susunan kata-kata yang diucapkan
merupakan sebuah gambaran peristiwa yang terjadi di masa lalu dan dikumpulkan
masa lalu tentang Kerajaan Indragiri mulai dari berdiri hingga keruntuhannya.
Dari sebuah cerita asal usul raja dalam sebuah kerajaan akan menciptakan sebuah
silsilah. Dalam cerita silsilah akan menekankan pada unsur-unsur sejarah dalam
cerita seperti asal usul berdiri sebuah kerajaan, permulaan raja yang memerintah,
71
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kisah yang mendukung kebenaran dan alasan mengapa seseorang diangkat
menjadi raja dan berkuasa atas negeri serta hal-hal yang terjadi sewaktu raja
berkuasa. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri merupakan cerita yang bersifat lisan
karena diceritakan dari mulut ke mulut dan akan muncul ketika seseorang ingin
lisan sebagai berikut: Tradisi lisan mencakup segala hal yang berhubungan
dengan sastra, bahasa, sejarah, biografi, dan berbagai pengetahuan serta jenis
kesenian lainnya yang disampikan dari mulut ke mulut. Sehingga dapat diketahui
bahwa tradisi lisan tidak hanya mencakup teka-teki, cerita rakyat, nyanyian
rakyat, pribahasa, mitologi, legenda dan lain sebagainya. Namun tradisi lisan
kebudayaan tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat. Dalam tradisi
lisan ada beberapa sumber yang menjadi acuan dalam menceritakan kejadian di
masa lalu. Syamsuddin (1999:56), berpendapat ada dua macam sumber lisan
yaitu: pertama sejarah lisan berupa ingatan lisan dan kedua tradisi lisan berupa
narasi dan deskripsi dari orang-orang dan peristiwa di masa lalu yang disampaikan
lama pada masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten Indragiri. Cerita silsilah
72
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
berdasarkan hasil penuturan dari narasumber yang tinggal di Kabupaten Indragiri
merupakan bagian dari sebuah tradisi lisan. Hal ini dikarenakan proses
penceritaan hanya berfokus pada ingatan saja. Maka dalam cerita sebagai
pewarisannya, hanya dapat di dengar dengan keadaan tertentu. Artinya, cerita ini
hanya akan muncul ketika diceritakan saja. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri
berbagai versi. Oleh karena itu penelitian ini mencatat cerita silsilah Kerajaan
Indragiri sebagai sebuah tradisi lisan. Dalam keterangan sebuah tradisi jika dicatat
dalam catatan maka tradisi tersebut tidak akan mati. Namun, sebaliknya jika
tradisi tersebut diceritakan dalam beberapa waktu dikemudian hari akan dicatat
kembali. Pada bagian itu catatan tradisi memiliki fungsi sebagai sumber tradisi
peristiwa yang terjadi di dalam cerita. Hal ini merujuk pada jenis-jenis tradisi lisan
yang dikemukakan oleh Vansina (2014:37). Jenis pertama adalah gosip bersejarah
artinya segala macam peristiwa atau berita yang terjadi menjadi gosip bagi
penduduk setempat. Namun karena gosip ini bersifat sejarah maka dalam
telah memudar. Salah satu dari bagian gosip sejarah berupa kabar kelahiran
seorang anak yang menjadi berita dalam masyarakat khususnya pada Kerajaan
73
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri zaman dahulu. Dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri, seorang
pemaisuri melahirkan seorang anak dan hal ini akan menjadi sebuah berita bagi
masyarakat. Hingga dikemudian hari maka orang akan mengetahui bahwa anak
tersebut lahir dari seorang pemaisuri kerajaan. Suatu wilayah yang dibangun pada
akan tetap mengingat nama wilayah dan alasan mengapa wilayah tersebut
ditinggalkan. Begitu juga pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang dahulunya
wilayah tersebut dibangun oleh keturunan dari Raja Melaka ke empat (IV) yaitu
Raja Kecik Besar Malikul Muluk atau nama lainnya Sri Baginda Malikul Muluk
bergelar Sultan Muhammad Syah yang memiliki keturunan bernama Raja Kecik
adanya serangan dari berbagai pihak seperti Kerajaan Singosari dan bangsa
Portugis.
keluarga. Cara penyampaian tradisi pribadi lebih cenderung bersifat bercanda atau
gosip. Namun perbedaannya dengan gosip ialah cerita dari tradisi pribadi
dianggap tidak begitu penting. Sebab cerita tersebut akan menghilang dengan
cepat dan hanya bertahan selama atau atau dua generasi saja setelah kematian dari
pihak-pihak terkait tetapi tidak menutup kemungkinan cerita tersebut dapat terus
cerita silsilah Kerajaan Indragiri tidak terdapat tradisi pribadi yang bersifat
ingatan pihak terkait yang masih dapat dituturkan. Salah satunya masyarakat di
74
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kabupaten Indragiri Hulu mempercayai bahwa dahulunya Sultan Mun Bungsu
memiliki kesaktian yang sangat luar biasa serta Sultan Mun Bungsu merupakan
cerita yang secara resmi dituturkan kepada banyak orang atau kelompok yang
merupakan milik dari satu kelompok tertentu. Ketika berurusan dengan sejarah
dari kerajaan maka cerita atau keterangan kelompok muncul dari para pejabat
hubungan yang saling berkaitan dengan hal-hal kerajaan berupa penerusan, hak-
hak raja, dan dewannya serta hal yang didahulukan dengan kewajiban untuk
2014:28). Pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri keterangan ini diketahui bahwa
Kerajaan Indragiri. Namun karena pada masa itu terjadi perebutan tanta dan
ditetapkan Raja Ali Mangku Bumi menjadi pemimpin di Kerajaan Indragiri lalu
selang beberapa tahun keturunan asli dari sultan Indragiri merubut paksa yang
seharusnya adalah hak mereka yaitu Raja Bergombak adik dari Raja Hasan
menjadi sultan yang dipertuan besar Indragiri I dan adiknya Raja Bergombak
dinonatkan menjadi Raja Muda Indragiri I serta berikan hak-hak atas kekuasaan
75
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jenis keempat tradisi mengenai asal usul dan kejadian adalah sebuah
keterangan yang bersumber dari spekulasi oleh para orang bijak setempat atas
Dalam waktu tertentu sering kali kontruksi logis digunakan dalam banyak kasus
ditaruh dalam bentuk silsilah baik dari kelahiran, pernikahan, beranak cucu hingga
berhubungan satu dengan yang lain. Cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang
bermula dari seorang Raja Malaka ke empat (IV) bernama Raja Kecik Besar
Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad
Syah yang berdaulat atas wilayah Indragiri dan menjadi bagian dari Kerajaan
sering disebut sebagai suku Talang Mamak yang berkembang dengan pengaruh
suku Melayu dan menjadi keturunan bangsa Melayu. Hingga akhirnya suku
tersebut meminta agar raja berada ditempat untuk memimpin kerajaan yang
Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam dan memindahkan pusat
kerajaan dari Keritang ke Pekan Tua lalu pindah lagi ke negeri Menduyan hal ini
terjadi karena proses perpindahan dan nama dari tempat yang ditinggalkan
tersebut. Keritang yang berasal dari akar itang yang banyak terdapat di wilayah
tersebut, Pekan Tua tempat Raja Nara Singa II membangun negeri, dan negeri
Menduyan berasal dari proses perpindahan masyarakat dari Pekan Tua ke negeri
76
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Menduyan sebab masyarakatnya berduyun-duyun sehingga sekarang dikenal
keterangan yang berupa daftar atau silsilah yang harus terus diperbaiki guna
menyempurnakan daftar yang telah ada berdasarkan asil temuan yang baru. Hal
ini dikarenakan kelahiran seorang bayi pada kalangan kerajaan akan membuat
daftar nama baru dalam silsilah yang harus ditambah untuk mencerminkan
penyebaran daftar atau silsilah memiliki dinamika yang sangat jelas berbeda dari
cerita-cerita yang lain. Sebab daftar atau silsilah bisanya dituliskan dalam bentuk
tarombo, bagan atau pohon keluarga (struktur). Cerita silsislah Kerajaan Indragiri
memerintah saat itu dan membenarkan mengapa seseorang bisa menjadi raja.
Keterangan ini menunjukkan bahwa Raja Nara Singa II gelar Paduka Maulana Sri
Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam berkuasa atas negeri Indragiri sebab
Raja Nara Sianga II merupakan keturuanan dari Kesultan Malaka yang berdaulat
dan diteruskan dari mulut ke mulut hingga generasi ke generasi. Cerita silsilah
masa lalu dan diceritakan berulang kali melalui lisan dan tersimpan dalam
ingatan. Jika dilihat dari tahun berdirinya Kerajaan Indragiri yang dimulai dari
tahun 1298 M hingga saat ini maka diperkirakan 722 tahun berlalu. Mengingat
77
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
masa itu Kerajaan Indragiri telah melampaui masa kini dan masih bisa
diperdengarkan sehingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi lisan adalah salah satu
sumber yang terdiri dari informasi yang ada dalam ingatan manusia. Sepanjang
waktu baik tradisi lisan berada di dalam ingatan dan hanya akan muncul kembali
ketika saat dibutuhkan oleh desakan keadaan baik masa kini atau pun di masa
dahulu. Cerita yang masih dituturkan berusia sangat panjang bahkan melampaui
batas usia manusia. kejadian dalam cerita yang telah terjadi bertahun-tahun yang
lalu namun masyarakat Melayu Indragiri masih mampu menuturkannya. Hal ini
dapat dibuktikan dari kekuatan ingatan sang penutur dalam menceritakan cerita
silsilah Kerajaan Indragiri dengan usia cerita yang berumur 722 tahun bahkan
sang penutur ketika itu belum lahir. Cerita dari silsilah Kerajaan Indragiri
78
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Keunikan tokoh atau raja.
Hak-hak raja.
Kumulatif
Hak penerus raja.
79
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.4 Daftar Silsilah Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah Kerajaan
Indragiri
80
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
81
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
82
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Keterangan:
Malaka.
Kerajaan Indragiri.
raja.
raja.
Kerajaan Indragiri.
berkedudukan di Peranap.
83
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.5 Daftar Kepemimpinan Raja Indragiri Berdasarkan Cerita Silsilah
Kerajaan Indragiri
pemerintahan berada di
Keritang
pemerintahan berada di
Keritang
lagi ke negeri
84
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
85
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
12. Sultan Mansyursyah. ± 1700-1704 M ± 4 tahun berkedudukan
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
Menduyan/Kota Lama
ditahun terakhir
merupakan masa
peralihan (pindah ke
Japura)
86
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Baharuddin Alam Syah. Pura/Japura namun
(Raja Indragiri ke XVIII)
ditahun terakhir
merupakan masa
peralihan (pindah ke
Rengat)
87
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
(Raja Indragiri ke XXV) Peranap
88
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.6 Unsur Sejarah Dalam Cerita Silsilah Kerajaan Indragiri
yang bersifat lisan dan masih hidup dalam masyarakat Melayu Indragiri Hulu.
beberapa unsur yang menjadi sebuah pembentuk cerita bersifat sejarah secara
keseluruhan hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk menjadi
bahan cerita sejarah dari Kerajaan Indragiri. Beberapa unsur tersebut terdiri dari
empat unsur yaitu unsur ruang, unsur waktu, unsur kebenaran sejarah, unsur
kausalitas sejarah dan perubahan. Berikut ini uraian dari unsur sejarah dalam
Unsur ruang menjadi salah satu unsur utama yang digunakan sebagai
ruang sebagai sebuah unsur selalu berpedoman pada tempat penciptaan yaitu
sebuah tempat yang memiliki nilai temporer dan juga spesial (Vansina, 2014:195).
Unsur ruang juga memiliki pandangan dimana sebuah kejadian di masa lampau
dapat dikaitan sebagai peristiwa di zaman sekarang. Dalam cerita silsilah Kerajaan
Ruang merupakan bagaian dari sebuah gagasan relatif yang secara tak
langsung menyatakan sebuah titik dalam kaitanya dengan titik yang lainnya. Pada
89
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang menjadi titi awal sebagai tempat penciptaan
dari masyarakat Melayu Indragiri berawal dari nama tempat yaitu Keritang.
Dalam hal ini Keritang adalah sebuah titik awal tempat beradanya masyarakat
Melayu Indragiri. Keterkaitan antara unsur ruang yang diberikan dari wilayah
Keritang memiliki hubungan yang erat dnegan Kerajaan Malaka atau negeri
Melayu Indragiri mempercayai bahwa nenek moyang mereka berasal dari negeri
Malaka yang berdaulat hingga ke wilayah Indragiri. Hal tersebut dapat di lihat
hubungan erat dengan Kerajaan Malaka. Titik awal pertama sekali diyakini bahwa
keturunan dari Kerajaan Indragiri adalah keturunan asli dari Kerajaan Malaka
yaitu pada raja Malaka ke IV bernama Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri
Baginda Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad Syah. Raja Kecik Besar
90
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Malikul Muluk bergelar Sultan Muhammad Syah yang memiliki keturunan
bernama Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan Alauddin
digunakan ialah arah mata angin, arah aliran sungai, tanda-tanda alam (burung)
dan lain sebagainya. Sudut pandang masyarakat Melayu mengenai petunjuk arah
dalam sebuah unsur ruang berbeda-beda sesuai dengan hal yang mempengaruhi
cara pandang mengenai kejadian di masa lalu. Arah perjalanan dari setiap tokoh
dalam cerita berbeda-beda. Dalam hal ini sebagai petunjuk arah untuk menjadi
titik awal orientasi yang berkaitan dengan penciptaan. Adapun petunjuk arah
dalam perjalanan tokoh dari cerita Kerajaan Indragiri ialah sebuah aliran sungai
yang digunakan sebagi penanda. Berikut ini adalah penggalan cerita mengenai
petunjuk arah:
Rakit kulim adalah tiga perahu yang dirakit menjadi satu dan
terbuat dari kayu kulim yang terkenal sangat berat serta tidak dapat
mengapung di atas air. Tetapi dengan kekuatan serta ilmu yang
dimiliki Datuk Perpatih kayu kulim dapat mengapung dan
dijadikan sebuah rakit. Dalam perjalanannya Datuk Patih tidak
berjalan sendirian melainkan ditemani adiknya yang bernama Tun
Kecik untuk mengarungi aliran sungai Indragiri yang keruh menuju
Kerajaan Melaka. (10)
Nara Singa II pun pergi meninggalkan tanah Melaka di waktu
subuh bersamaan dengan Tun Kecik dan Datuk Patih turun dari
istana menuju Durian Daun nama tempatnya lalu naik ke rakit
kulim dan pergi ke Indragiri menyusuri derasnya arus laut dan
setibanya di sungai Indragiri Datuk Patih, Tun Kecik dan Raja Nara
Singa II kembali mengikuti arah sungai yang menuju ke hulu. (11)
Petunjuk arah sebagai titik awal yang diikuti oleh Datuk Patih dan Tun
Kecik untuk menjemput Raja Nara Singa II ialah aliran sungai. Melalui arah aliran
91
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sungai Datuk Patih dan Tun Kecik pergi menjemput Raja Nara Singa II hingga
setibanya di negeri Indragiri. Aliran sungai Indragiri menjadi penanda arah untuk
sampai ke muara sungai Indragiri lalu lanjut berlayar melawati derasnya arah laut
Konsep ruang akan mengacu pada alam semesta yang merujuk pada
sebuah aspek geografis suatu wilayah. Pada sebuah wilayah akan dihuni oleh
Melayu. Segala jenis kegiatan dari masyarakat tersebut berorientasi pada wilayah
dan lingkungan mikrokosmos sehingga acuan pada ruang yang memiliki makna
makna dan keyakinan tersendiri bagi masyarakat atas sebuah kejadian di masa
lalu. Dalam masyarakat Melayu khususnya berada di Indragiri pada cerita silsilah
memberikan sebuah dampak keburukan dan kebaikan bagi suatu wilayah maupun
bagi masyarakatnya. Berikut ini penggalan cerita mengenai tempat sakral dalam
92
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
nama sebuah danau yang berada di depan komplek makam Raja
Nara Singa II saat ini. (15)
Di tahun 1532 M Raja Nara Singa II sebelum mangkat
dikarenakan sakit berpesan untuk dimakamkan ditanah perjuannya
yaitu di negeri Menduyan yang disebut sekarang dengan Kota
Lama. (17)
Keyakinan masyarakat Indragiri yang mempercayai bahwa tempat yang
dianggap sakral atau keramat. Hal ini merujuk pada tempat-tempat tertentu seperti
penobatan bagi sultan yang akan naik tahta dikerajaan Indragiri dan diiringi oleh
gendang nobat dan suling napiri pada masa lalu. Selain itu wilayah negeri
Menduyan atau yang dikenal dengan Kota Lama juga menjadi tempat yang
dianggap sakral dan keramat karena disana merupakan tempat Raja Nara Singa II
Menduyan atau yang disebut juga Kota Lama. Pada negeri Menduyan juga
terdapat sebuah danau yang diberi nama sebagai Danau Menduyan yang berasal
dari peristiwa masa lalu yaitu perpindahan masyarakat Melayu yang dipimpin
oleh Raja Nara Sianga II dari pekan tua ke negeri Menduyan dengan berduyun-
duyun.
kuat. Tempat yang dianggap keramat lainnya yaitu sebuah kuburan bagi raja-raja
Indragiri. Di mana kuburan tersebut snagat dimuliakan bahkan sampai ada yang
melakukan ritual-ritual tertentu. Ada juga beberapa makam raja Indragiri yang
raib atau tidak ditemukan da ada juga yang ditemukan berdasarkan pengakuan
dari pihak keluarga terkait. Namun ada juga beberapa yang dikisahkan meminta
93
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dimakamkan dimana ia berasal. Berikut ini adalah penggalan cerita dari tempat
maupun tempat yang dianggap sakral menjadi bagian dari masyrakat Melayu
antar ruang yang satu dengan yang lainnya. Jarak ini merujuk pada sebuah
keterkaitan yang bersifat majemuk artinya kaitan antar ruang cerita saling
membentuk sebuah alur yang searah. Semua kaitan tersebut terjadi dalam satu
Indragiri, Kerajaan Malaka merupakan bagian dari ruang penciptaan dari Kerajaan
94
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri. Ruang penciptaan tersebut memberikan jarak dengan ruang peristiwa
dari berdirinya Kerajaan Indragiri. Jarak juga berperan penting dalam merangkai
melibatkan keterkaitan antar ruang. Pada masyarakat lisan jarak tidak diukur
pendek yang digunakan akal fikiran seperti berjarak antar hari, melewati gunung
menunjukan secara langsung mengenai jarak dalam istilah kualitatif. Hal ini dapat
dipahami karena cerita silsilah Kerajaan Indragiri diperoleh dari hasil dinamika
ingatan dan tidak adanya sumber tertulis yang menyatakan secara terperinci
mengenai cerita silsilah Kerajaan Indragiri seperti naskah, kronik dan sumber
lainnya. Selain itu pola pemikiran manusia zaman dahulu dengan manusia zaman
sekarang juga sangat jauh berbeda sehingga menyebabkan bahasa yang digunakan
juga berbeda dalam menuturkan cerita Kerajaan Indragiri. Berikut ini merupakan
penggalan cerita yang menunjukan keterkaitan antar ruang dalam cerita silsilah
Kerajaan Indragiri:
95
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Malaka pun terjadi keseteruan karena perebutan tahta kekuasaan.
Pada suatu hari Datuk Patih mangajak Datuk Temenggung Kuning
untuk berunding di Bukit Bertingkah membicarakan maksud untuk
menjemput Raja Nara Singa II ke Malaka. Namun keinginan Datuk
Patih tak sepaham dengan Datuk Temenggung Kuning. (8)
Akhirnya untuk menghilangkan rasa kesedihanya raja
melakukan perjalanan atau yang disebut dengan ekspansi ke arah
hulu sungai. Waktu Raja Nara Singa II menemukan wilayah hutan
yang letaknya cukup tinggi serta dikelilingi oleh pohon dan
terdapat sungai serta danau didepanya. (14)
Kerajaan Indragiri dimulai dari titik awal penciptaan yang bermula dari Kerajaan
Malaka yang membuat penciptaan baru atas terbentuknya Kerajaan Indragiri yang
petunjuk arah yang menjadi sebuah acuan dalam perjalaan setiap tokoh cerita
petunjuk tersebut berupa arus sungai dan lain-lain. Dalam proses perjalanan
didapati sebuah tempat yang dianggap sakral atau keramat seperti gunung,
makam, sungaI dan lain sebagainya. Terakhir ialah jarak antar ruang dalam
menjukkan urutan maupun kapan sebuah peristiwa terjadi. Dalam kejadian dapat
dilihat dari waktu yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Sebuah
sebuah peristiwa yang terjadi. Melalui waktu kita dapat mengetahu kapan sebuah
peristiwa itu terjadi. Dalam masyarakat Melayu pola perhitungan waktu tidak
selalu berpatokan pada jam atau pun kalender dalam sebuah cerita yang bersifat
lisan. Namun dapat berupa sebuah keadaan atau situasi yang sedang terjadi
maupun petanda alam yang sedang dilihat lalu disampaikan secara turun temurun.
96
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Hal inilah yang menyebabkan sangat sulit untuk mengukur waktu dalam sebuah
sebuah cerita yang bersifat tradisi yaitu cerita silsilah Kerajaan Indragiri. Cerita
yang disampaikan secara turun temurun telah melewati waktu yang sanggat
panjang mulai dari tahap awal penciptaan hingga akhir. Cerita silsilah Kerajaan
Indragiri telah diketahui tahun dari awal berdirinya hingga keruntuhan Kerajaan
Indragiri tersebut. Diketahui awal mula Kerajaan Indragiri berdiri berasal dari
keturunan Kerajaan Malaka ke IV yaitu Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri
keturunan bernama Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar Sultan
Alauddin Inayatsyah yang menjadi raja pertama di Kerajaan Indragiri. Berikut ini
berikut ini:
Melayu yang tinggal di Indragiri telah menggunakan konsep waktu yang berupa
di Indragiri bertempat tinggal awalnya yang diberi nama Keritang sebagai tempat
97
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
awal kepemimpinan raja pertama Indragiri yaitu Raja Kecik Mambang alias Raja
Pada cerita Kerajaan Indragiri perlu dipahami bahwa semua peristiwa yang
terjadi dalam cerita tidak datang secara tiba-tiba melainkan terjadi dalam suatu
sebuah konsep waktu secara umum dapat berupa sebuah kekekalan, waktu berupa
siklus, dan waktu berupa garis linear tetapi tidak ada kebudayaan yang hanya
menggunakan satu dari representasi waktu ini. Waktu juga menjadi penentu dan
oleh siklus dan linear. Waktu tersebut membentuk siklus yang saling berkaitan
satu dengan yang lain. Diketahui dalam cerita bahwa Kerajaan Indragiri berdiri
sekitar tahun 1298 M hal ini menunjukan waktu penciptaan dari kerajaan tersebut.
Seiring berjalannya waktu dan terjadinya serangkian kejadian sekitar tahun 1949
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) artinya pada tahun 1949 M adalah tahap
memiliki sifat waktu yang linear. Terjadinya sebuah peristiwa dikarenakan adanya
aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat dan membentuk sebuah alur waktu
tersendiri. Aktivitas masyarakat atau peristiwa yang terjadi dalam waktu selalu
dikaitkan dengan hal yang lebih baik dan hal yang buruk. Kegiatan aktivitas ini
membentuk perbandingan antara raja yang satu dengan raja yang lainnya dengan
98
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sebuah peritiwa yang terjadi di masa lalu. Seperti pada masa kepemimpinan raja
Nara Singa II bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah
Filalam yang menjadi raja pertama yang berada di Kerajaan Indragiri. Pada raja
melainkan berada di Kerajaan Malaka. Pada masa Raja Nara Singa II bertahta
Setelah silih berganti kepemimpinan hingga dua puluh enam raja bertahta
pada masa Tengku Mahmud Syah bergelar Sultan Mahmud Syah Kerajaan
menjadi bagian NKRI sekitar tahun 1949 M. Pada masa kepemimpinan raja yang
Indragiri dari luar maupun dalam. Penyerangan dari dalam berupa serangan yang
tidak sejalan antara anggota kerajaan sebab ingin menguasi wilayah maupun ingin
naik tahta dan hal ini sangat wajar terjadi dikalangan kerajaan. Sehingga banyak
99
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penyerangan terhadap Kerajaan Indragiri berikutnya terjadi ketika pasukan
Dari Kerajaan Banten menyerang kantor dagang milik bangsa belanda di Kerajaan
Indragiri sekitar tahun 1615 M. Tak lama kemudian penyerangan kembali terjadi
oleh Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1623
M. Pada masa itu kerajaan Indragiri sangat terkenal dengan hasil rempah-rempah
salah satunya lada. Pada masa itu Kerajaan Indragiri dipimpin oleh Raja
memperluas perdangan hingga ke bagian luar daerah Indragiri dan bagian dalam
rempah dari Kerajaan Indragiri sehingga membuat pihak Kerajaan Aceh marah
dan berniat untuk memutus jalur perdangan tersebut sebab merasa tersaingi.
Kerajaan Indragiri namun Kerajaan Aceh kalah sebab dalam serangan tersebut
Kerajaan Indragiri dibantu oleh askar Kerajaan Riau-Lingga dan Kerajaan Jambi.
100
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pada sekitar tahun 1755 M penyerangan terjadi kembali dialami oleh
Bayang yang datang dari Minangkabau untuk meminang Raja Halimah atau
dikenal dengan Tengku Puan Bungsu. Pasukan Raja Bayang menyerang Kerajaan
Indragiri dengan sangat keji sehingga membuat Raja Hasan bergelar Sultan
101
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
geran lanun. Datuk Temenggung akhirnya pergi ke Malaka lalu
bertemu dengan Pangeran Suta sambil menyampaikan maksud
tujuannya. Pangeran Suta bersedia untuk membantu Kerajaan
Indragiri dalam mengusir Raja Bayang dan pasukannya hingga
akhirnya perang pun dimenangkan oleh Kerajaan Indragiri yang
dibantu oleh Pangeran Suta sekitar tahun 1755 M. (31)
Tak lama berselang di masa raja umar bergelar Sultan Berjanggut
Kerajaan Indragiri untuk merebut kekuasaan. Pada masa itu Raja Said bergelar
Sultan Said Mudoyatsyah sangat bersikeras untuk merebut kekuasan dari Raja
Umar hingga berujung pada penyerangan di Pematang Reba namanya saat ini
sekitar tahun 1838 M. Penyerangan yang dilakukan oleh Sultan Said Modayatsyah
mendapat bantuan dari adik bungsunya yaitu Raja Abdul Rahman. Akhirnya Raja
Said bergelar Sultan Said Mudoyatsyah berhasil merebut tahta Kerajaan Indragiri
sekitaran tahun 1838 M. berikut adalah penggalan cerita penyerangan Sultan Said
Mudoyatsyah:
menyerang antara pihak Sultan Abdullah dengan Sultan Isa. Penyerangan ini
terjadi antara pihak dalam kerajaan disebabkan Sultan Abdullah tidak berpihak
102
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kepada Belanda atas pencopotan paksa kepemimpinannya di Kerajaan Indragiri
Indragiri masa itu yang di damaikan oleh pihak Belanda di Pematang Raba nama
1947 M sampai 5 Agustus 1947 M oleh Belanda ketika Van Mook yang
Pada masa tersebut Kerajaan Indragiri dipimpin oleh Tengku Mahmud Syah
aksi agresi militer II pada 19 Desember 1948 M hingga beruntut panjang ditahun
103
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1949 M tepatnya pada peristiwa 5 Januari 1949 M. Berikut penggalan cerita
104
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Muda.
pasukan.
Sultan Isa.
I.
II.
dimiliki dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri memiliki sifat waktu yang linear
artinya waktu akan terus bergerak ke sebuah akhir cerita. Inti dari akhir cerita
tersebut akan merujuk pada sebuah peristiwa besar yang terjadi dalam perjalanan
sebuah cerita dari awal hingga akhir. Melalui rangkaian peristiwa yang telah
dipaparkan dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri peristiwa yang terjadi di masa
lalu dapat diketahui berdasarkan raja yang berkuasa secara silih berganti. Secara
105
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Daftar Tabel V Priodisasi Pada Kerajaan Indragiri.
II.
Kerajaan Malaka.
ke-5.
106
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dinobatkan menjadi raja ke-6.
raja ke-8.
Sulaimansyah.
raja ke-9.
raja ke-10.
21. 1715 M Raja Ali Mangku Bumi bergelar Sultan Zainal Abidin
107
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
22. 1735 M Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah
Salehuddin Keramatsyah.
Keramat Gangsal.
108
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Terjadi perseteruan antara Raja Said bergelar Sultan
Vrede En Vriendscap.
33. 1883 atau 1884 M Sultan Abdullah atau yang dikenal degan sebutan
34. 1884 atau 1884 M Tengku Isa bergelar Sultan Isa Modayatsyah
hilir.
109
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
37. 1912 M Tengku Mahmud Syah bergelar Sultan Mahmud Syah
Indragiri.
leluhurnya. Begitu juga pada kebenaran dari cerita silsilah Kerajaan Indragiri yang
tidak akan lepas dari masyarakat Melayu yang berada di wilayah Indragiri sendiri.
Indragiri memang benar-benar terjadi sebagai bukti dari masa lalu leluhur mereka.
Sebuah cerita akan diyakini kebenarannya jika sudah melawati masa yang cukup
110
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Vansina (2014:203), menyatakan bahwa kebenaran sejarah (historical
truth) akan selalu berhubungan dengan sebuah gagasan yang bersifat spesifik bagi
sebuah kebudayaan. Dalam hal ini gagasan tersebut akan saling berkaitan dengan
kebudayaan kebenaran akan dapat dibuktikan dengan sesuatu hal yang secara
khususnya para leluhur. Artinya leluhur dipercayai sebagai saksi mata dalam
sebuah peristiwa di masa lalu dan diceritakan secara turun temurun kepada anak
cucu mereka sebelum meninggal. Dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh
seseorang akan dapat diyakini kebenaranya ketika tergantung pada siapa yang
menceritakannya. Hal ini akan dapat diyakini jika berhubungan dengan usia sang
pencerita artinya semakin tua umur sang pencerita maka semakin benar pula cerita
yang disampaikan. Begitu juga dengan jabatan dan kedudukan yang dapat
tepatnya di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu tidak ada indikasi yang menyatakan
bahwa peritiwa di masa lalu benar terjadi. Namun cerita silsilah Kerajaan
Indragiri dapat dibuktikan dengan adanya kebenaran sejarah jika melihat dari
sudut pandang sang pencerita. Narasumber atau sang pencerita yang berasal dari
keturunan Kerajaan Indragiri adalah seorang tokoh masyarakat berusia lebih muda
dari usia cerita tersebut. Jika melihat usia dan kedudukan sang pencerita yang
masih mampu menceritakan peristiwa yang terjadi berabad-abad yang lalu dan
mengingat bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar 1298 M hingga saat ini di
tahun 2020 maka terhitung sekitar 722 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa cerita
111
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
silsilah Kerajaan Indragiri telah diceritakan dari generasi ke generasi dan
disampikan oleh leluhur mereka secara lisan kepada anak cucu mereka atas
peristiwa di zaman dahulu. Cerita tersebut awalnya berbentuk cerita sejarah lisan
dan kemudian berubah menjadi sebuah tradisi cerita lisan ketika ingin
lisan yang unik terhadap sang pendegar. Berdasarkan cerita bahwa raja pertama di
112
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
tahun 1344 sampai 1384 M. Raja Merlang I diketahui memiliki
seorang putra bernama Raja Iskandar Pahlawan alias Raja Nara
Singa I. Pada masa kepemimpinan sultan Malaka ke empat, sultan
menobatkan Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I bergelar
Sultan Alauddin Inayatsyah untuk memimpin wilayah taklukannya
di daerah Keritang (Indragiri) sebagai cikal bakal Kerajaan
Indragiri. (1)
Pengelompokan dalam sumber kebenaran tradisi lisan pada masyarakat
Melayu yang memiliki kebudayaan lisan sangat beragam salah satunya adalah
cerita yang berbentuk lisan. Widayat (2004:15), berpendapat cerita lisan adalah
sebuah cerita yang disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi dan
umumnya bercerita mengenai sebuah kejadian di masa lalu yang dianggab benar
dari segi sejarah sebagai pandangan kolektif (folk history) dan melewati distorsi
melawati distorsi waktu yang cukup panjang karena tidak adanya bukti kesaksian
yang dapat dipercaya. Sebab cerita ini telah disampaikan secara berulang-ulang
dari generasi ke generasi sebagai sebuah petunjuk dan kebenaran. Namun, cerita
dikenal oleh masyarakat meskipun versinya berbeda-beda. Hal ini dapat terlihat
pada alur, latar, tokoh, dan urutan episode cerita yang tetap sama (Van Gennep
keseluruhan agar tidak banyak menimbulkan versi cerita dalam sebuah kebenaran
Sebuah peristiwa yang terjadi pada cerita silsilah Kerajaan Indragiri sangat
erat kaitanya dengan ruang sebagai tempat penciptaan. Dimana peristiwa tersebut
113
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
akan terjadi dalam ruang lingkup alam nyata dan memiliki bukti wujudnya dalam
yang dianggap berkaitan dengan cerita Kerajaan Indragiri di masa lalu sebagai
saksi bisu dari peristiwa di masa lalu. Tempat yang diyakini oleh masyarakat
Kecamatan Keritang yang saat ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Indragiri
Hilir. Dahulunya tempat ini dipercayai oleh masyarakat sekitar sebgai tempat
pertama sekali pusat Kerajaan Indragiri ketika Raja Nara Singa II sampai
Indragiri. Namun disayangkan hingga saat ini belum dapat ditemukan dimana
Pekan Tua yang masuk ke dalam Kacamatan Kampas, Kabupaten Indragiri Hilir
dari wilayah Keritang. Hingga saat ini juga belum ditemukan dimana titik dari
Indragiri Hulu yang menjadi tempat kedudukan dari istana Kerajaan Indragiri
pada zaman dahulu. Lokasi ini merupakan tempat yang dianggab cocok oleh Raja
dengan adanya kompleks makam Raja Nara Sianga II dan para pembesar lainya
yang berada dalam satu wilayah dan diyakini menjadi tempat berkedudukanya
114
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar II. Komplek pemakaman Raja Indragiri Desa Kota Lama
kuburan para pembesar Kerajaan Indragiri salah satunya adalah makam Raja Nara
Singa II. Selain kompleks pemakaman raja Indragiri di Desa Kota Lama terdapat
juga sebuah danau yang bernama danau Menduyan yang menjadi bagian dari
Kerajaan Indragiri pada masa kepemimpinan Raja Nara Singa II. Masyarakat
Kerajaan Indragiri. Bukti lain yang memperkuat keberadaan dari peradaban masa
115
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
seperti guci, pecahan piring, dan pecahan guci yang ditemukan disekitaran area
Setalah dari Kota Lama maka pusat Kerajaan Indragiri pernah berpindah
ke wilayah Raja Pura atau yang sering disebut dengan Japura. Kompleks pemakan
tersebut berada tepat di Jalan Dermaga Pertamina, Desa Japura Laut, Kecamatan
Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu. Lokasi tersebut tidak begitu jauh dari Kota Lama
yang memiliki kompleks pemakaman juga. Masyarakat meyakini ada bebapa raja
Salah satunya adalah makam dari Raja Hasan bergelar Sultan Salehudidin
sekitar juga mempercayai bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang keramat
116
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar IV. Komplek makam raja Indragiri di Japura tampak dalam
di dekat Danau Raja yang bersebelahan dengan sungai Indragiri. Disanalah pusat
masa kepemimpinan Sultan Ibrahim bergelar Al Watiq Billah Paduka Sri Sultan
bukti peninggalan yang menjadi sebuah unsur kebenaran sejarah dari Kerajaan
117
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
leluhur mereka dan tetap di jaga hingga saat ini. Peninggalan tersebut diantaranya
sebagai berikut:
118
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gamar VII. Komplek makam raja-raja Indragiri di Rengat
119
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Selain dari beberapa bukti kebenaran di atas yang menunjukkan
keberadaan dari Kerajaan Indragiri di masa lalu terdapat juga beberapa bukti lain
Kerajaan Indragiri yaitu sebuah tapak istana Raja Muda Peranap dan berupa
120
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gamabr X. Tapak istana raja muda Peranap
121
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar XII. Masjid raja puah Peranap tampak penuh
khususnya yang berada di dekat istana Kerajaan Indragiri pada masa lalu serta
dianggab menjadi sebuah kebenaran dan bukti sejarah dapat dilihat dari tabel
berikut:
122
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kabupaten Indragiri Hilir.
Indragiri Hulu.
Hulu.
proses dari perubahan. Setiap peristiwa yang terjadi di masa lalu akan
menimbulkan sebuah peristiwa baru pada masa yang akan datang. Hal ini terjadi
karana adanya hubungan sebab akibat antara sebuah peristiwa. Hubungan yang
saling berkaitan ini tidak terlepas dari perkembangan waktu yang dapat dikaji.
Antara sebab akibat saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain yang
merujuk pada peristiwa yang terjadi antara sebelum dan sesudahnya sebuah
terjadi.
umumnya peristiwa penyebaran tidak berpindah atau bermigrasi begitu saja suatu
meraka merasa tidak nyaman lagi. Hal ini terjadi karena pada dasarnya
masyarakat Melayu menyukai hidup secara damai, lemah lembut dan sangat
123
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menghargai persaudaraan sehingga dengan dasar tersebutlah masyarakat Melayu
memiliki jiwa keterbukaan yang sangat luas terhadap orang lain. Keterkaitan
antara peristiwa dalam masyarakat Melayu terjadi karena adanya sebuah ancaman
bagi keberlangsungan hidup mereka maka satu-satunya hal yang harus dilakukan
ialah berpindah tempat dengan kata lain peristiwa sangat berpengaruh terhadap
masa lalu banyak meninggalkan rekam jejak yang dapat digunakan sebagai
rekontruksi sejarah yang tertuang dalam sebuah cerita. Rekam jejak dari cerita
sebuah proses perubahan secara berkala terhadap sebuah peristiwa terjadi yang
berkaitan dengan kebudayaan lisan. Dalam masyarakat Melayu yang erat dengan
merupakan bagian dari kejadian yang tercipta secara langsung dan mengalir
begitu saja. Namun kausalitas sejarah yang berkembang dnegan kebudayaan lisan
terjadi tetapi hal ini dikaitkan dengan sebuah jalan kehiduapan atau yang disebut
dengan takdir. Dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri raja yang memimpin dan
silih berganti merupakan bagian dari takdir untuk dijalani oleh anggota kerajaan
hal ini dikarenakan adanya hubungan sebab akibat yang dalam cerita.
124
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sebuah cerita merupakan bagian dari rangkaian peristiwa dan kejadian
yang sangat erat kaitanya dengan Kerajaan Malaka sehingga menjadi cikal bakal
Raja Kecik Besar Malikul Muluk alias Sri Baginda Malikul Muluk bergelar
hubungan sebab akibat dalam cerita silsilah Kerajaan Indragiri yaitu terjadinya
yang mendiami wilayah tersebut. Akibat dari ekspansi tersebut membuat Suku
Talang Mamak mendesak dan semakin terancam sehingga meminta raja untuk
berada di daerah tersebut. Hingga akhirnya raja pun dijemput dengan sebuah rakit
yang bernama Rakit Kulim bersama dengan Datuk Patih menjemput Raja Nara
Singa II.
masa kepemimpinan Raja Nasa Singa II. Perang yang terjadi begitu panjang
banyak memakan koban jiwa terutama para askar Melayu dari Kerajaan Indragiri
maupun askar Kerajaan Malaka. Namun akibat dari serangan tersebut bangsa
125
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
karena adanya bantuan dari berbagai belah pihak terutama dari pasukan askar
Kerajaan Malaka dan dibantu oleh seorang askar dari Kerajaan Bone yang
diangkatlah Adi Sumpu Muhammad bergelar Juksi Besi menjadi sorang panglima
perang Kerajaan Indragiri ketika masa kepemimpinan Raja Nara Singa II.
Abdullah dengan bangsa Belanda yang berkedudukan di Indragiri. Hal ini terjadi
karena bangsa Belanda tidak menyukai kepemimpnan Sultan Abdullah masa itu
sehingga bangsa Belanda mencopot paksa jabatan Sultan Abdullah sebagai raja ke
23. Bangsa Belanda melakukan pencopotan didasari karena tidak suka Sultan
Indragiri. Sehingga akhir dari pertikaian ini berujung pada perjanjian antara
bangsa Belanda dan Sultan Abdullah yang diberikan hak kuasa membangun atas
wilayah Peranap dan menjadi sultan muda disana beserta keturunanya yang
berakibat terbentukkan Kerajaan Peranap. Kejadian ini terlihat dengan adanya cap
mohar dari pihak sultan muda peranap dan tapak dari istana tersebut.
126
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar XIII. Cap Mohar Sultan Abdullah Kedudukan Peranap
memiliki hubungan sebab akibat yaitu terjadinya serangan agresi militer I pada
tanggal 15 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947 M terhadap wilayah nusantara atas
akibat yang saling mempengaruhi pada setiap peristiwa atau kejadian yang terjadi
perubahan atau kausalitas yang sangat terasa pada masyarakat Melayu di Kerajaan
127
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Indragiri. Berikut ini adalah gambaran hubungan sebab akibat yang terjadi dalam
No. Peristiwa
Sebab Akibat
Kerajaan Indragiri.
128
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Malaka mendapat bantuan dari Indragiri di Kota Lama.
129
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB V
5.1 Kesimpulan
tradisi lisan dan unsur sejarah yang terkandung dalam cerita tersebut dapat
berganti.
bagian dari catatan masa kronologi peristiwa dalam sebuah cerita silsilah
130
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.2 Saran
saran kepada pembaca terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan. Adapun
Indonesia.
Kerajaan Indragiri.
131
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
132
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sugiyono, (2017). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, Dan R Dan D.
Bandung: Alfabeta.
Sumber Internet:
https://wwwpeta+kabupaten+indragiri+hulu.com diakses pada tanggal 10 Maret
2020.
https://inhukab.bps.go.id diakses pada tanggal 20 Maret 2020.
Sumber Dokumen Kerajaan Indragiri.
133
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN
Umur : 81 Tahun
Hulu
2. Nama : Saharan
Umur : 54 Tahun
Indragiri Hulu.
Umur :-
Alamat :-
4. Nama : Guntur
Umur : 35 Tahun
II
134
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran II: Surat Izin penelitian
135
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
136
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
137
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
138
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
139
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
140
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
141
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
142
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
143
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
144
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
145
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran III: Dokumentasi
146
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Wawancara dengan bapak Saharan pada tanggal 23 Februari 2020
147
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Raja Nara Singa II Bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin
Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam 1473-1532 M
Makam Raja Ussulluddin Hasansyah (Putra Raja Nara Singa II) 1532-1557 M
148
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Andi Sumpu Muhammad bergelar Panglima Juksi Besi
(Panglima Raja Nara Singa II)
149
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pecahan Kendi yang ditemukan disekitaran Komplek Makam Raja Nara Singa II
150
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Guci yang ditemukan disekitaran Komplek Makam
Raja Nara Singa II
151
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Surat perjanjian perdamian Tractaat Van Vrede En Vrienschap 27 September
1883 antara Raja Said dengan Raja Jumahat
152
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Surat penyerahan (Bergabung) Kerajaan Indragiri ke
Negara Kesatuan Republik Indonesia
153
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Raja Moehammad (Tengku Sulong) Sultan Muda II Kedudukan Peranap
1920-1956 M
154
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah 1735-1765 M
155
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Makam 3 Raja/Sultan:
Tengku Isa begelar Sultan Isa Mudoyat Syah Raja ke 25 (1883/1884-1902 M)
Raja Ibrahim/Sultan Muda I berkedudukan di Peranap
Tengku Mahmud Syah/Sultan Mahmud Syah. Raja ke 26 (1912-1963 M)
156
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran IV: Biodata Pengkaji
Negeri 1 Pantai Cemin pada tahun 2012 lalu menyelesaikan Sekolah Menengah
Atas di SMA Negeri 1 Pantai Cermin pada tahun 2015. Pada tahun 2015 pengkaji
mencoba melanjut di perguruan tinggi negeri namun gagal. Akhirnya, pada tahun
2016 pengkaji berhasil lulus menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama
di Sumatera Utara tepatnya pada program studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu
yang bersifat intra maupun ekstra kampus. Organisasi intra kampus seperti HMJ.
157
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA