MAKALAH AKUNTANSI PERBANKAN
“TENTANG AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BIAYA BANK”
Disusun oleh:
Kelompok 7:
Rian Febriandi (1910062201010)
Uli Budi Yanti (1910062201010)
Lokal:
5A1
Dosen pembimbing:
Rio Baviga ,S.E.,M.S.AK
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SAKTI ALAM KERINCI
TAHUN AJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. kami ucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. terutama dosen
bidang studi yang telah memberi tugas untuk membuat makalah ini sehingga saya dapat
mengetahui tentang AKUNTANSI PERBANKAN.
Kami harapkan makalah ini dapat berguna bagi pembaca guna melengkapi sumber yang
ada. dan kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu kami mohon
kritik dan sarannya dari pembaca agar kedepan kami bisa membuat yang lebih baik.
Sungai Penuh, 27 Oktober 2021
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................3
BAB 1.....................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.....................................................................................................................................4
1.1LATAR BELAKANG..............................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................................4
BAB II.....................................................................................................................................................5
ISI...........................................................................................................................................................5
2.1. Pendapatan bank.............................................................................................................5
2.2. Biaya bank.....................................................................................................................10
BAB III..................................................................................................................................................12
PENUTUP.............................................................................................................................................12
Kesimpulan...........................................................................................................................12
Daftar Pustaka.....................................................................................................................................13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut UU RI No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, perbankan adalah segala sesuatu yang
menyangkut tentang bank yang mana mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan
proses dalam melaksanakan usahanya. Sedangkan bank adalah suatu badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam
rangka untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Pengakuan pendapatan dan biaya merupakan suatu hal yang penting untuk menentukan kapan
suatu penghasilan diakui sebagai pendapatan dan biaya diakui sebagai beban. Analisis akuntansi
pendapatan dan biaya merupakan suatu analisis yang dilakukan terhadap pengakuan,
pengukuran, dan penyajian pendapatan dan beban ini sangat penting artinya untuk mendapatkan
laba rugi yang wajar. Dalam dunia perbankan resiko kegagalan biasanya disebabkan oleh
kegagalan dalam menangani portofolio kredit ataupun kesalahan manajemen perusahaan yang
berakibat pada kesulitan keuangan.
1.2 Rumusan masalah
2. Apa yang dimaksud dengan pendapatan dan jenis-jenis pendapatan bank?
3. Apa yang dimaksud dengan biaya dan jenis-jenis biaya bank?
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pendapatan Bank
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999:233) dalam buku Standart Akuntansi menyebutkan
bahwa pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas
normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas
yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Pendapatan bank lazimnya dicatat berdasarkan metode accrual, di mana akan dibukukan sebagai
pendapatan pada saat jauh waktu bukannya pada saat uang diterima.
Pendapatan dalam bank terdiri dari beberapa komponen seperti pendapatan bunga, pendapatan
provisi kredit, pendapatan komisi, dan pendaptan lainnya sebagai akibat dari transaksi bank baik
yang merupakan kegiatan utama ataupun bukan.
Terkait dengan pengakuan pendapatan, PSAK No.31 mengatur mengenai pengakuan pendapatan
bank. Dasar yang digunakan dalam pengakuan pendapatan bank merupakan hal yang
fundamental dalam hubungannya dengan pengukuran tingkat rentabilitas (atau keuntungan)
suatu bank.
Kegiatan utama bank adalah memupuk dana yang pada umumnya adalah berbungan dan
menanamkannya dalam aktiva produktif. Seperti pada industri lainnya, selalu terdapat
kemungkinan perbedaan waktu antara perolehan pendapatan dan terjadinya beban atas
penggunaan sumber daya untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Oleh karena itu, pengkaitan
(matcing) antara pendapatan dan beban bank tidak mudah dilakukan, sehingga dalam pengakuan
pendapatan perlu diperhatikan sifat dari keunikan usaha bank tersebut. Pendapatan bunga diakui
secara akurat (accrual basis) kecuali pendapatan bunga dari aktiva produktif non-perfoming.
Pendapatan dari aktiva yang non-perfoming hanya diakui apabila pendapatan tersebut benar-
benar diterima (cash basis).
1. Jenis-jenis Pendapatan Bank
Pendapatan bank dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:
a) Pendapatan Operasional
1) Pendapatan Bunga Debitur
Pendapatan bunga dari aktiva non-perfoming, tidak diakui sebagai pendapatan periode berjalan
sejak aktiva tersebut dinyatakan non-perfoming. Dengan demikian, bank tidak perlu melakukan
penyesuaian terhadap pendapatan bunga yang telah diakui sebelum aktiva produktif tersebut
dinyatakan non-perfoming. Bunga dari aktiva non-perfoming yang tidak diauki sebagai
pendapatan akan dicatat dalam rekening administrative karena merupakan peristiwa kontinjensi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam hal terjadi pelunasan yang berkaitan dengan aktiva produktif
non-perfoming, pelunasan tungakan bunga tersebut terlebih dahulu diperlakukan sebagai
pelunasan tunggakan pokoknya
Sebagai contoh, apabila pendapatan bunga debitur perfoming selama bulan juli dihitung sebesar
Rp. 100 juta, sedangkam debitur non-perfoming sebesar Rp. 23 juta akan dibukukakn dengan
ayat jurnal sebagai berikut.
Accrual Basis
D : pendapatan debitur YMH diterima Rp.100.000.000
K : pendapatan bunga debitur Rp.100.000.000
Pada saat menerima hasil bunga akan dibukukan dengan ayat jurnal sebagai berikut :
D : Kas Rp.100.000.000
K : Bunga debitur YMH diterima Rp.100.000.000
Cash Basis
D : Rek. Administrasi Rupiah-Tunggakan bunga Rp.23.000.000
Pada saat menerima hasil bunga akan dibukukan dengan ayat jurnal berikut ini.
D : Kas Rp.23.000.000
K : pendapatan bunga debitur Rp.23.000.000
2) Komisi dan Provisi
Provisi kredit merupakan sumber pendapatn bank yang akan diterima dan diakui sebagai
pendapatan pada saat kredit disetujui oleh bank. Biasanya provisi kredit langsung dibayarkan
oleh nasabah yang bersangkutan.
Komisi merupakan pendapatan bank yang sedang digiatkan belakangan ini. Komisi ini
merupakan beban yang diperhitungkan kepada nasabah bank yang mempergunakan jasa bank.
Komisi juga lazimnya dibukukan langsung sebagai pendapatan pada saat bank menjual jasa
kepada para nasabahnya.
SKAPI mengatur mengenai pengakuan pendapatan komisi dan provisi. Komisi dan provisi yang
berkaitan langsung dengan kegiatan perkreditan diperlakukan sebagai pendapatan atau beban
yang ditangguhkan dan diamortisasikan secara sistematis selama jangka waktu komitmen kredit.
Apabila komitmen tersebut diselesaikan sebelum jangka waktu maka sisa komisi dan provisi
diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat penyelesaian komitmen tersebut.
Komisi dan provisi yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan perkreditan namun terkait
dengan jangka waktu diperlakukan sebagai pendapatan atau beban yang ditangguhkan dan
diamortisasi secra sistematis selama jangka waktunya. Pendapatan atau beban komisi tersebut
disajikan sebagai bagian dari pendapatan dan beban operasional lainnya dalam tubuh laporan
laba-rugi.
Komisi dan provisi yang tidak berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan jangka waktu diakui
sebagai pendapatan atau beban pada saat terjadinya transaksi. Pendapatan atau beban komisi ini
disajikan sebagai pendapatan dan beban operasional lainnya dalam tubuh laporan laba-rugi.[2]
Sebagai contoh Bank Omega menyetujui kredit untuk PT. CVD sebesar Rp. 200 juta selama
jangka waktu 5 tahun. Provisi kredit ditetapkan sebesar 0,6 % dari pagu kredit. Ayat jurnalnya
yaitu:
D : Kas Rp.1.200.000
K : provisi kredit diterima dimuka Rp.1.200.000
Transaksi ini berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan terikat dengan jangka waktu. Oleh
karena itu perlu dialokasikan setiap bulan selama lima tahun mendatang. Provisi kredit ini akan
dialokasikan menjadi pendapatan dan akan disajikan dalam laporan laba-rugi. Alokasi pada
bulan pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Alokasi bulan pertama = 1/60 x Rp.1.200.000 = Rp.20.000
Ayat jurnalnya berikut:
D : provisi kredir diterima dimuka Rp.20.000
K : pendapatan provisi kredit Rp.20.000
3) Pendapatan Atas Transaksi Valuta Asing
Pendapatan yang timbul dari transaksi valuta asing lazimnya berasal dari selisih kurs. Selisih
kurs akan dimasukkan kedalam pos pendapatan dalam laporan laba rugi. Dan diakui sebagai
pendapatan atau biaya pada periode berjalan.
Seringkali suatu bank memiliki aktiva atau kewajiban dalam valuta asing dalm jumlah yang
besar berupaya untuk menghindari adanya kerugian akibat sellih kurs. Upaya ini biasanya
disebut sebagai Hedging. Contoh hedging diantaranya: forward dan swap.
Forward adalah pembelian atau penjualan valuta asing secara berjangka. Hutang dan piutang
valuta asing dicatat sebesar kurs tunai yang berlaku pada saat itu (spot rate), sedangkan hutang
atau piutang rupiah dicatat sebesar kurs masa depan (forward rate), yaitu kurs pertukaran mata
uang asing dihari kemudian yang ditentukan berdasarkan perjanjian. Akibat perbedaan kurs yang
berbeda dapat menimbulkan selisih kurs baik diskonto maupun premium yang harus
diamortisasi secara proporsional sesuai dengan jangka waktu transasksi valuta berjangka.Laba
atau rugi kurs yang timbul sebagai akibat perbedaan kurs tunai tanggal neraca dan kurs tunai
pada saat terjadinya transaksi valuta harus diakui pada periode ybs. Sehingga akan terjadi dua
macam laba atau rugi akibat transaksi berjangka dalam valuta asing ini, yaitu diskonto dan
pengakuan laba-rugi karena perbedaan neraca dan transaksi berjangka tersebut.
Swap adalah gadai valuta asing. Terdiri dari transaksi swap suku bunga dalam rangka pendanaan
(selisih kurs disajikan sbg penambah atau pengurang beban dana dan diamortisasikan secara
proporsional selama jangka waktu kontrak) dan transaksi swap suku bunga dalam rangka trading
(selisih kurs diakui sbg laba atau rugi pada akhir masa kontrak).
4) Pendapatan Operasional Lainnya
Selain pendapatan operasional, juga terdapat pendatan non-operasional yaitu pendapatan yang
timbul bukan dari kegiatan utama bisnis bank. Contohnya yaitu penerimaan deviden dari anak
perusahaan atau penyertaan saham, laba rugi penjualan surat berharga pasar modal, dan lainnya.
Contoh pendapatan lain yang timbul dari penjualan surat berharga. Apabila Bank Omega
memiliki 100 lembar saham PT. BBC sebesar Rp. 100.000 per lembar dan telah dibeli sebesar
Rp. 9.800.000 untuk seluruh saham tersebut. Kemudian saham tersebut dijual Rp. 98.500 per
lembar secara tunai. Perhitungan keuntungan dari penjualan saham dan ayat jurnal untuk
membukukan transaksi tersebut :
Harga perolehan saham......................... Rp. 9.800.000
Harga jual:
Rp. 98.500 X 100...................... Rp. 9.850.000
Keuntungan ........................................ Rp. 50.000
Keuntungan sebesar Rp. 50.000 harus disajikan dalam pendapatan operasional lainnya dalam
tubuh laba-rugi bank
D : Kas...............................................Rp. 9.800.000
K : keuntungan dari penjualan
Surat berharga............................... Rp. 50.000
K : Surat berharga.............................. Rp. 9.850.000
5) Pendapatan Non-Operasional
Yang termasuk dalam kelompok pendapatn non-operasional adalah rupa-rupa pendapatan yang
berasal dari aktivitas luar bank. Contohnya adalah pendapattan dari penjualan aktiva tetap,
penyewaan fasilitas gedung yang dimiliki bank, dan lainnya. Pendapatan ini harus diakui sebagai
pendapatn pada periode berjalan.
Sebagai contoh, Bank Omega memilik sebuah mobil dengan harga perolehan sebesar Rp. 35 juta
dan telah disusutkan sebesar Rp. 30 juta dijual tunai seharga Rp. 7 juta. Perhitungan keuntungan
ini akan dibukukan dengan ayat jurnal berikut :
D : Kas.................................................... Rp. 7.000.000
D : akumulasi penyusutan kendaraan........... Rp. 30.000.000
K : Kendaraan.......................................... Rp. 35.000.000
K : keuntungan dari penjualan aktiva
Tetap................................................... Rp. 2.000.000
6) Pendapatan Luar Biasa
Disamping pendapatan operasional rutin dan non-operasional, bank kadangkala dihadapkan
dengan sualu keuntungan yang diterima secara tiba-tiba atau tidak pemah diramalkan semula.
Keuntungan ini merupakan suatu windfall profit, dan harus digolongkan sebagai keuntungan atau
pendapatan luar biasa.
Pendapatan luar biasa harus dipisahkan dari hasil usaha sehari-hari danditunjukkan secara
terpisah dalam perhitungan laba-rugi disertai pengungkapan mengenai sifat dan jumlahnya.
Dengan demikian pedu batasan atau definisi mengenai pos atau transaksi apa saja yang dapat
digolongkanyang sifatnya luar biasa.
Yang dimaksud dengan pos luar biasa adalah pos yang memenuhi kedua kriteria sebagai berikut :
a. Sersifat tidak normal (tidak biasa) Kejadian atau transaksi yang bersangkutan memilih
tingkat abnormalitas yang linggi dan tidak berhubungan dengan aklifitas perusahaan
seharihari.
b. Tidak Sering Terjadi.Kejadian atau transaksi yang bersangkutan tidak dihubungkan akan
terulang lagi di masa yang akan datang.
Jadi, yang dalam menerapkan kedua kritena tersebut, harus dipertimbangkan faktor lingkungan
dari perusahaan dan frekuensi kejadian atau transaksi, seperti karakleristik industri dan
perusahaan yang bersangkutan, faktor geografis perusahaan, dan faktor lainnya seperti politis
dan lain sebagainya. Pengakuan pendapatan yang sifatnya luar biasa ini akan mengacu kepada
Prinsip Akuntansi Indonesia.
Kejadian yang selalu menjadi pertimbangan bank adalah perubahan kursvaluta asing terhadap
mata uang Rupiah. Kenaikan atau penurunan selisih kurs valuta asing tidak dapat dijadikan
sebagai keuntungan atau kerugian luar biasa bagi bank di Indonesia karena faham yang
diterapkan dalam kurs valuta asing adalah ngambang terkendali (floating rate).
Akan telapi, apabila terjadi selisih kurs yang naiksecara tiba-tiba, atau naik dengan jumlah yang
cukup besar seperti adanya devaluasi Rupiah terhadap valuta asing, maka kejadian ini dapat
digolongkan kedalam pos luar biasa (extraordinary item).Keuntungan yang timbul dari kenaikan
selisih kurs akibat dari devaluasi merupakan keuntungan atau pendapatan yang timbul dari
transaksi yang luar biasa.
1.2 Biaya Bank
1 PENGERTIAN
Yang dimaksud biaya adalah semua biaya yang secara langsung maupun tidak langsung telah
dimanfaatkan untuk menciptakan pendapatan dalam suatu periode tertentu.
Biaya yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat ekonomis untuk kegiatan periode berikutnya.
2. JENIS JENIS BIAYA BANK
a. Biaya Operasional, terdiri dari :
- Biaya Bunga
Biaya ini paling besar porsinya terhadap biaya bank keseluruhan. Biaya ini harus diantisipasikan
oleh bank pada penutupan tahun buku atau pada tanggal laporan.
Biaya Valuta Asing
Biaya dalam transaksi valuta asing biasanya muncul dari selisih kurs yang merugi. Munculnya
kerugian selisih kurs baik dari transaksi spot, forward, maupun swap akan dibebankan ke dalam
laporan laba rugi.
- Biaya Overhead
Dalam operasi bank sehari-hari diperlukan biaya untuk mengolah transaksi. Biaya ini
berhubungan langsung dengan periode terjadinya sehingga harus dicatat dan diakui sebagai
beban periode berjalan.
Biaya overhead yang terjadi di bank memiliki ciri-ciri :
Tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan jasa yang dihasilkan karena biaya
yang dikeluarkan untuk semua kegiatan bank
Menjadi biaya pada periode terjadinya
Tidak memberikan manfaat untuk masa yang akan datang
Contoh biaya overhead : biaya gaji pegawai, tunjangan-tunjangan, biaya penyusutan aktiva tetap,
biaya kegiatan kantor dll.
b. Biaya Non Operasional
Yaitu biayabiaya yang yang dikeluarkan yang tidak berkaitan dengan kegiatan utama bank
misalnya kerugian dari penjualan aktiva tetap.
c. Pos Luar Biasa
Biaya ini harus dipisahkan dari hasil usaha sehari-hari dan ditunjukkan secara terpisah dalam
perhitungan laba rugi disertai pengungkapan atas sifat dan jumlahnya.
Biaya luar biasa kejadiannya tidak normal dan tidak sering terjadi atau tidak terulang lagi di
masa yang akan datang.
Misal : peristiwa gempa bumi
d. Koreksi Masa Lalu
Koreksi yang dilakukan terhadap laba rugi periode lalu misalnya kesalahan perhitungan,
kelalaian mencatat suatu transaksi harus tetap diungkapkan
e.. Pajak Penghasilan
Pajak penghasilan dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba kena
pajak (taxable income) untuk diperhitungkan dengan tarif pajak
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendapatan adalah penambahan jumlah aktiva sebagai hasil operasi perusahaan secara bruto,
pendapatan diperoleh karena adanya penyerahan atau penjualan barang atau jasa atau aktiva
lainnya dalam satu periode. Sedangkan biaya merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh suatu
perusahaan dalam rangka menciptakan atau memperoleh pendapatan. Maksud dari biaya disini
adalah biaya yang secara langsung atau tidak langsung telah dimanfaatkan untuk menciptakan
pendapatan dalam suatu periode tertentu. Biaya yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat
ekonomis untuk kegiatan periode berikutnya.
Daftar pustaka
Lapoliwa, N. 2000. Akuntansi Perbankan : Akuntansi Transaksi Bank dalam Valuta Rupiah.
Jakarta: Institut Bankir Indonesia.
[1] Lapoliwa, N. Akuntansi Perbankan. Hlm. 264
[2] Ibid, hlm. 268