Disusun Oleh :
1. NURUL FIKRI PUSPITASARI
2. KURNIAWATI
Kelas : X MIPA 1
SMA NEGERI 1 WADASLINTANG
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah Tuhan seluruh alam, shalawat beserta salam semoga
tercurahkan kepada Nabi Muhamad SAW. Karena atas karunia dan hidayah-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Guru Mata
Pealjaran Biologi yang telah membimbing dan mencurahkan ilmu kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini, walaupun dalam proses penyusunannya penulis
mengalami berbagai kesulitan. Makalah ini akan membahas tentang Reptilia.
Tetapi sangat dimungkinkan dalam penyusunannya masih banyak kekurangan, baik
dalam penyajian materi maupun dalam penulisan, untuk itu kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan, demi lebih baiknya karya yang
selanjutnya.
Penulis berharap, mudah-mudahan makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
Amiin.
Wadaslintang, Januari 2020
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan.................................................................................. 2
D. Manfaat Pembahasan................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Karakteristik............................................................................................. 3
B. Kelas......................................................................................................... 10
C. Manfaat bagi Manusia.............................................................................. 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................... 16
B. Saran......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 17
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang
cukup besar dan paling dikenal. Tubuh dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas:
kepala, badan, dan ekor. Kepala dengan rangka dalam, cranium, di dalamnya terdapat
otak, karena mempunyai cranium. Vertebrata terbagi menjadi enam kelas, yaitu kelas
Cyclostomata, kelas Pisces, Kelas Amfibi, kelas Reptilia, kelas Aves, dan kelas
Mamalia.
Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan
kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru.
Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh
tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan
tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau
melakukan pergantian kulit baik secara total maupun sebagain. Pengelupasan secara
total misalnya pada anggota sub-ordo ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota
sub-ordo lacertilia. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya hampir tidak
pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada Reptil memiliki sedikit
sekali kelenjar kulit
Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi
pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali
seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi
tungkai umumnya memiliki 5 jari atau Pentadactylus dan setiap jarinya bercakar.
Rangkanya pada Reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-
paru.
Kelas Reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya:
Tuatara), Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya:
Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator,
Senyulong, dan Caiman).
1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimanakah karakteristik reptilia?
2. Ada berapa kelas reptilia yang anda ketahui?
3. Apa saja manfaat reptilia bagi manusia?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik dari reptilia
2. Mahasiswa dapat menyebutkan kelas pada reptilia
3. Mahasiswa dapat mengetahui manfaat reptilia dengan manusia
D. Manfaat Pembahasan
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami reptilia, baik karakteristik, morfologi,
jenis dan peranannya.
2. Sebagai tugas akhir mahasiswa.
2
BAB II
REPTILIA
A. Karakteristik Reptilia
Reptilia (dalam bahasa latin, reptil = melata) memiliki kulit bersisik yang
terbuat dari zat tanduk (keratin). Sisik berfungsi mencegah kekeringan. Ciri lain yang
dimiliki oleh sebagian besar reptil adalah anggota tubuh berjari lima, bernapas dengan
paru-paru, jantung beruang tiga atau empat, menggunakan energi lingkungan untuk
mengatur suhu tubuhnya sehingga tergolong hewan eksoterm, fertilisasi secara internal,
menghasilkan telur sehingga tergolong ovipar dengan telur amniotik bercangkang.
Reptilia merupakan kelompok vertebrata yang beradaptasi untuk hidup di darat
yang lingkungannya kering. Adanya sisik dan kulit yang menanduk mencegah
hilangnya kelembaban tubuh dan membantu hewan untuk hidup di permukaan yang
kasar. Nama kelas Reptilia menunjukkan cara berjalan (latin: retum=melata). Reptilia
tersebar baik di daerah teropis maupun daerah subtropics. Pada daerah-daerah yang
mendekati kutub dan tempat-tempat yang lebih tinggi jumlah dan jenisnya makin
sedikit. Reptile menempati macam-macam habitat. Phyton misalnya terdapat di daerah-
daerah tropis, hanya terdapat di rawa-rawa, sungai atau sepanjang pantai. Penyu
terbesar teradapat dilaut dan kura-kura darat raksasa terdapat di kepulauan. Kadal dan
ular umumnya terrestrial, tetapii ada yang menempati karang-karang atau pohon.
Secara umum reptilia memiliki karakteristik sebagai berikut :
Tubuh ditutupi kulit kering bertanduk (tidak licin), biasanya dilengkapi sisik atau
kuku, dan kelenjar dipermuakaan hanya sedikit.
Memiliki dua pasang anggota badan, masing-masing dengan lima jari yang pada
bagian ujungnya terdapat cakar dan dapat digunakan untuk berlari, merayap atau
memanjat. Anggota badan menyerupai dayung pada penyu, memendek pada kadal,
dan tidak ada anggota badan pada beberapa jenis kadal dan semua jenis ular.
Kerangka terdiri dari tulang keras, tengkorak dilengkapi rongga oksipital
Jantung terdiri dari empat ruang yang belum terpisah sempurna, dua serambi dan
vertikel yang sebagian saling terpisah, satu pasang berkas aorta, sel darah merah
oval bikonkaf dengan inti.
Resppirasi dengan paru-paru, pada kura-kura air dilengkapi dengan respirasi kloaka.
3
Terdapat 12 pasang saraf cranial.
Suhu tubuh berubah-ubah bergantung suhu lingkungan (poikilothermis).
Fertilisasi internal, menggunakan organ kopulasi, telurnya besar mengandung
kuning telur yang terbungkus cangkang licin atau berkulit, biasanya telur ditetaskan
tetapi pada beberapa jenis ular dan kadal embrio berkembang didalam tubuh betina.
Hewan Reptilia lebih maju dibanding amphibi karena memiliki diantaranya:
Penutup tubuh yang kering dan bersisik sebagai adaptasi terhadap kehidupan di
darat.
Anggota tubuh memungkinkan hewan untuk berlari.
Pemisahan darah bersih dan kotor di jantung.
Skeleton terdiri dari tulang sejati.
Telur dilengkapi dengan membrane dan cangkang sebagai pelindung embrio
sehingga memungkinkan untuk berkembang di darat.
1. Ukuran
Fosil Reptilia ditemukan dalam ukuran yang bervariasi, dari kecil sampai
berukuran besar. Dari Reptilia yang ada pada masa sekarang, anaconda di Amerika
Serikat dapat tumbuh sampai 990 cm, komodo (varanus komodoensis) memiliki
panjang tubuh 285 cm. Beberapa jenis kura-kura darat dari pulau Galapagos
mencapai panjang 120 cm. Buaya yang ditemukan tahun 1821 di Luzzon Philipina
mencapai panjang 610 cm. Ular Laptotyphlops dari Siria berukuran seperti jarum
renda, dan ada pula kadal Lepidoblepharis dari Panama yang panjangnya 5 cm.
sebagian besar di Amerika Utara berukuran 20 120 cm, dan kadal dengan panjang di
bawah 30 cm.
2. Struktur Eksternal
Morfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah, leher, tubuh, dan ekor,
angggota tubuh berukuran pendek dengan sejumlah jari yang pada bagian ujungnya
dilengkapi cakar dan begitupun ada juga sebagaian subordo yang lain yang tidak
memiliki jari. Mulutnya yang panjang dilengkapi dengan gigi. Buaya mialnya di
dekat ujung moncong terdapat dua lubang hidung. Mata berukuran besar dan
terletak lateral, dengan kelopak atas dan bawah, serta membrane nictatin transparan
yang dapat bergerak di bawah kelopak mata, telinga berukuran kecil terletak
dibelakang mata. Anus terletak longitudinal dibelakang pangkal kaki belakang.
4
3. Sistem Pernapasan
Secara umum reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Tetapi pada
beberapa reptilia, pengambilan oksigen dibantu oleh lapisan kulit disekitar kloaka.
Pada reptilia umumnya udara luar masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus,
dan akhirnya ke paru-paru. Sistem pernafasan pada reptilia lebih maju dari
Amphibi.
Paru-paru Reptil berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang
rusuk. Perhatikan Gambar 7.20 Paru paru Reptil hanya terdiri dari beberapa
lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas. Paru paru
kadal, kura-kura, dan buaya lebih kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang
membuat paru-parunya bertekstur seperti spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal,
misalnya bunglon Afrika, mempunyai pundi-pundi hawa atau kantung udara
cadangan sehingga memungkinkan hewan tersebut melayang di udara.
Reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Gas O2 dalam udara masuk
melalui lubang hidung => rongga mulut => anak tekak => trakea yang panjang
=> bronkiolus dalam paru-paru. Dari paru-paru, O2 diangkut darah menuju
seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju
jantung untuk dikeluarkan melalui paru-paru => bronkiolus => trakea yang
panjang => anak tekak => rongga mulut => lubang hidung. Pada Reptilia yang
hidup di air, lubang hidung dapat ditutup ketika menyelam.
4. Sistem Pencernaan
System pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran pencernaan dan kelnejar
pencernaan. Pada umumnya reptile adalah karnivora (pemakan daging). Saluran
pencernaannya terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan
kelenjar pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati.
a. Rongga Mulut. Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah. Pada masing-
masing rahang terdapat gigi-gigi yang berbentuk kerucut. Gigi menempel pada
gusi dan sedikit melengkung kea rah rongga mulut. Dan khusus pada ular
berbisa akan tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada
rongga mulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian. Pada
5
umumnya retil tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai
penangkap mangsa.
b. Pada rongga mulut terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung
bercabang dua. Pada reptilian pemakan insekta memiliki lidah yang dapat
dijulurkan, sedangkan pada buaya dan kura-kura lidahnya relative kecil dan
tidak dapat dijulurkan. Lidah ular berbentuk pembuluh yang terbungkus oleh
selaput dan terletak di bagian rahang bawah. Memiliki kelenjar mukoid yang
sekretnya berfungsi agar rongga mulut tetap basah dan dapat dengan mudah
menelan mangsanya.Pada ular Kelenjar labia bermodifikasi menjadi kelenjar
poison yang bermuara di kantung yang terletak di daerah gigi taring dan
dikeluarkan melalui gigi tersebut.
c. Kerongkongan (esophagus) merupakan saluran di belakang rongga mulut yang
menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak
terjadi proses pencernaan.
d. Lambung (ventrikulus) merupakan tempat penampungan makanan dan
pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang
esophagus. Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian
fundus pylorus makanan dicerna secara mekanik dan kimia.
e. Intestinum terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus.
Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum,
kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan
bentuk tubuhnya.
f. Kelenjar pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang dihasilkan
oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut vesica fellea. Hati tediri dari
dua lobus yaitu sinister dan dexter yang berwarna coklat kemerahan. Kantong
empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak
diantara lambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna
kekuning-kuningan.
5. Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka
merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil
6
metabolisme.Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat
yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna putih.
6. Sistem Peredaran Darah
Sistem sirkulasi reptil lebih maju dibandingkan dengan katak. Perhatikan
Gambar 5.20. Jantung terdiri dari empat ruangan yaitu ventrikel kanan, ventrikel
kiri, atrium kanan, dan atrium kiri serta sebuah sinus venosus. Antara ventrikel
kanan dan kiri terdapat sekat yang belum sempurna sehingga terjadi percampuran
darah yang kaya O2 dalam ventrikel kiri dengan darah yang kaya CO2 dalam
ventrikel kanan.
Khusus pada jantung buaya, pada sekat antar ventrikel terdapat lubang
kecil yang disebut foramen panizzae yang berfungsi sebagai berikut.
a. Memungkinkan distribusi oksigen yang cukup ke alat pencernaan.
b. Memelihara keseimbangan tekanan cairan di dalam jantung pada waktu
menyelam.
Sistem sirkulasi darah pada reptil termasuk sistem sirkulasi darah
ganda. Darah dari vena yang kaya CO2 masuk ke jantung melalui sinus venosus ke
bagian atrium kanan lalu ke ventrikel kanan. Kemudian, darah dipompa menuju
paru-paru. Darah dari paru-paru yang kaya O2 masuk ke atrium kiri, dilanjutkan ke
ventrikel kiri. Darah dari ventrikel kiri dipompa keluar melalui aorta menuju ke
seluruh tubuh.
7. Sistem Reproduksi
Jantan
a. Memiliki alat kelamin khusus : hemipenis
b. Sepasang testis
c. Memiliki epididimis
d. Memiliki vas deferens
Betina
1. Memiliki sepasang ovarium
2. Memiliki saluran telur (oviduk)
3. Berakhir pada saluran kloaka
7
Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan
yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil
bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter
dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk
betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam
telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium. Ovum kemudian
bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan menghasilkan sperma di
dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan
dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas
deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang
dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung
tangan karet. Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu
hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.
Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada
saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang
tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam
lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang
hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning
telur yang berlimpah.
Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta
berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun
mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.
8. Sistem Indera
Reptil memiliki alat indera dengan kepekaan yang berbeda- beda,
bergantung pada spesiesnya. Beberapa reptil juga memiliki indera khas yang tidak
dimiliki oleh reptil lainnya. Namun, secara umum indera yang dimiliki oleh reptil
adalah indera penglihatan, pendengaran dan kemoreseptor khusus.
1. Indera penglihatan
Secara umum, reptil memiliki struktur mata yang sama dengan vertebrata
lainnya. Ada yang memiliki kelopak mata, ada pula yang tidak. Akomodasi pada
semua reptil kecuali ular diatur oleh lensa yang dikelilingi dengan cincin otot
8
sehingga lensa dapat memipih dan membesar. Sementara pada ular, untuk
akomodasi lensa mata dapat diarahkan maju- mundur.
Mata pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaput
transparan. Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia. Sensor yang
ditangkap adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya dan panas.
Sebagian besar ular juga memiliki mata median yang berada di atas
kepalanya. Mata median merupakan hasil envaginasi dari dienchephalon. Mata
median ini tidak membentuk gambaran retina. Fungsinya adalah untuk
mengamati durasi dari fotoperiodisme lingkungan dan memasukkan
pengaruhnya terhadap ritme biologis. Mata median ini diduga juga berguna
untuk menakar kadar radiasi sinar matahari yang memapar tubuh ular.
Pada bunglon, mata lateralnya dapat berputar 360o. Selain itu, kedua
mata lateralnya dapat bergerak ke arah yang berbeda. Sehingga, hewan ini dapat
melihat ke dua arah sekaligus.
2. Indera Pendengaran
Reptil tidak memiliki daun telinga. Pada kadal, gendang telinganya
nampak jelas terlihat dari luar, berada tepat di belakang rahang. Buaya memiliki
gendang telinga yang berada di dalam lubang telinga, tepatnya berada di ujung
saluran telinga. Gendang telinga ini berfungsi untuk menggetarkan tulang-
tulang pendengaran. Akan tetapi, hampir semua jenis ular tidak memiliki
gendang telinga. Sehingga, sinyal- sinyal getaran diterima dari lingkungan
melalui rahang bawah.
3. Kemoreseptor khusus
1) Organ Vomeronasal
Organ ini fungsinya ekuiivalen dengan indera pembau pada manusia. Karena
hidung ular hanya memiliki epitel respirasi, maka fungsi penciumannya
digantikan oleh organ ini. Organ vomeronasal atau organ Jacobson
berhubungan dengan bulbus olfaktorius dan berfungsi sebagai pendeteksi
kimia adanya mangsa maupun pemangsa. Lidah berfungsi sebagai
poembawa sinyal kimia berupa gas dari lingkungan ke dalam organ ini.
9
2) Organ perasa
Lidah pada reptil memiliki sedikit kuncup kecap. Sehingga, ia bisa
merasakan mangsanya.
3) Pit Organ
Pit organ merupakan detektor panas pada ular. pit organ ini berupa lubang-
lubang di depan wajah ular yang di dalamnya terdapat membran
thermoreseptor. Pada gambar berikut, organ pit ditunjukkan dengan panah
warna merah. Sementara, panah berwarna hitam menunjukkan lubang
hidungnya.
B. Kelas
1. Ordo Testudinata (Chelonia)
Species pada ordo ini memiliki tubuh bulat pipih dan umumnya relative besar,
terbungkus oleh perisai. Perisai sebelah dorsal cembung yang disebut carapace, dan
perisai sebelah ventral datar yang disebut plastron. Kedua bagian perisai itu
digabungkan pada bagian lateral bawah, dibungkus oleh kulit dengan lapisan zat
tanduk tebal. Tidak mempunyai gigi, tetapi rahang berkulit tanduk sebagai gantinya.
Tulang kuadrat pada cranium mempunyai hubungan bebas dengan rahang bawah,
sehingga rahang bawah mudah digerakkan. Tulang belakng toraks dan tulang costae
(rusuk) biasanya menjadi satu dengan perisai. Termasuk hewan ovipar. Telurnya
diletakkan dalam lubang pasir atau tanah. Ekstremitas sebagai alat gerak baik di
darat maupun di air.
Ordo Testudinata terbagi atas dua family yaitu:
a. Familia : Chelonidae
Species : penyu hijau (Chelonia mydas) tubuhnya besar bahkan ada yang
berdiameter 1 meter.
b. Familia : Tryonychidae Species : Geochelone gigantean.
Klasifikasi Kura kura Aldabra (Geochelone gigantea)
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Class : Reptilia
Ordo : Testudines
10
Subordo : Cryptodira
Famili : Testudinidae
Genus : Geochelone
Species : Geochelone gigantean
Ciri Morfologi Geochelone gigantea :
a. Memiliki cangkang cembung, pada tulang belakang tergabung ke sebuah piring
kurus yang etrdapat di bawah kulit yang terpaut sehingga terbentuklah cangkang
yang keras.
b. Hidung yang menyerupai hidung babi. Memiliki selaput yang berfungsi
melindungi hidung dari benda asing.
c. Aktif pada pagi hari, dan menghabiskan waktunya tetap tenang. Menghabiskan
waktu untuk tidur dan makan.
d. Perkembangbiakannya mulai pada bulan Februari sampai Mei.
e. Perkembangbiakannya ovovivipar.
f. Memiliki leher yang panjang untuk menggapai daun yang terdapat di ranting
pohon dengan ketinggian 1 meter, sebagi makanan utamanya.
g. Habitat di tempat yang berumput, semak belukar, dan di rawa-rawa di pinggiran
pantai Aldabran, Zanzidar di Samudra Hindia.
2. Ordo Squamata
Ordo ini memiliki tubuh yang ditutupi sisik epidermis bertanduk yang secara
periodic mengelupas sebagiansebagian atau keseluruhan. Osteoderm biasanya tidak
ada tapi pada beberapa jenis Squamata terdapat pada kepala dan tempat lain. Kepala
pada dasarnya tipe diapsid, arcade bawah tidak sempurna atau tidak ada dan arkade
atas juga sering demikian. Tidak memiliki tulang kuadratojugal (penghubung tulang
kuadrat dan jugal) sehingga memungkinkan terjadinya gerakan kinesis (pergerakkan
tengkorak akibat posisi tulang kuadrat). Lubang hidung berpasangan. Sering
memiliki mata pineal pada kelompok kadal tapi pada kelompok ular tidak
ditemukan. Memiliki lubang kloaka transversal dan pada yang jantan terdapat dua
hemipenis. Organ Jacobson berkembang baik dan terpisah sempurna dari rongga
hidung. Ordo ini terbagi atas dua sub ordo yaitu Sauri/Lacertalia dan
Serpentes/Ophidia.
11
a. Sub Ordo Sauria/Lacertalia
Sub ordo ini memiliki tubuh berbentuk silindris, mempunyai dua pasang
extremitas. Cingulum anterior (pectoral girdle) dan cingulum posterior (pelvic
girdle) tumbuh baik. Chameleo chameleon Makanannya berupa insecta atau
Invertebrata lainnya, ada yang herbivore. Terdapat di daerah tropis.
Sub ordo ini terbagi atas 4 familia, yaitu:
Familia : Lacertidae Species : cicak (Hemidacty frenatus)
Familia : Geckonocidae Species : tokek (Gecko monarchis)
Familia : henoermatidae Species : kadal (Mouboya multifasciata)
Familia : varanidae Species : komodo (Varanus komodoensis) biawak
(Voronus salvator).
Biawak
Komodo
Klasifikasi Varanus komodoensis
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Class : Reptilia
Ordo : Squamata
Sub ordo : Lacertalia
Famili : Varanidae
Genus : Varanus
Spesies : Varanus komodoensis
Ciri Morfologi Varanus komodoensis :
Panjang badannya sampai 3 mater dengan berat badannya mencapai 140
kg. Ekornya panjang, gemuk agak pipih, sedangkan kepalanya bermoncong
tidak runcing. . Ekor binatang ini merupakan alat yang ampuh untuk meroboh
kan mangsanya dalam sekali serangan.
Lidahnya panjang, bercabang dua diujungnya dan berwarna kuning kemerah-
merahan.
Seluruh tubuhnya kulit kera, berwarna hitam keabu-abuan. Kulit binatang ini
bercorak khusus, kecuali pada biawak yang muda, kulitnya berkembang-
kembang berwarna hitam kekuning-kuningan
12
b. Sub ordo 2 Serpentes/ophidae (ular)
Tubuh tidak memiliki extremitas, walaupun sisanya ditemukan pada spesies
tertentu. Mandibula (rahang bawah) terikat seluruhnya dengan ligament;gigi
bulat panjang. Diantara spesies yang berbisa memiliki gigi taring, taring atas
berfungsi alat penyuntik bisa. Anggota sub ordo kurang lebih 2500 spesies.
Contoh : Lampropeltis bovlii (ular Weling)
Naya tripudont (ular cobra)
Phyton molurus (ular Sawah)
Klasifikasi Phyton molurus :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Class : Reptilia
Ordo : Squamata
Sub ordo : Serpentes
Famili : Pythonidae
Genus : Python
Spesies : Python molurus
Ciri Morfologi Python molurus:
Warnanya kuning cerah dengan sebagian warna putih di bagian bawah
tubuhnya.
Phyton Morulus bisa mencapai 17 sampai 18 kaki dan dapat mencapai
berat lebih dari 200 pon.
Memiliki mata yang sempurna yang digunakan untuk melihat mangsa. Memiliki
sisik disepanjang sisi tubuhnya.
Memiliki lidah yang panjang tetapi kecil digunakan sebagai
indra pembau.Umumnya mencari makan pada malam hari.
3. Ordo Crocodilia/Loricata
Tubuh panjang, kepala besar dan runcing, rahang kuat dan gigi tumpul. Kaki
pendek dengan jari-jari berselaput tebal, ekor panjang, kulit tebal, jantung terbagi
atas 4 ruangan terpisah. Ovipar, telinga berlubang kecil. Contoh : Crocodylus
americanus
Alligator
13
Klasifikasi Crocodylus porosus :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Class : Reptilia
Ordo : Crocoduylia
Famili : Crocodylidae
Genus : Crocodylus
Species : Crocodylus porosus
Ciri Morfologi Crocodylus porosus :
Merupakan reptil yang paling besar (Schneider, 1801). Beratnya mencapai 1.000-
1.200 kg. Pada buaya jantan dewasa dapat mencapai 6-7 m. Buaya betina lebih kecil
dan pada umumnya berkisar 3 m.
Kepalanya cukup besar dan mempunyai sepasang tepi di sepanjang dari mata ke
tengah hidung. Sisiknya berbentuk oval dan biasanya lebih kecil daripada spesies
lain. Pada Buaya Muara berwarna kuning pucat dengan garis-garis hitam dengan
bintik-bintik yang ditemukan di tubuh dan ekor. Pada buaya dewasa berwarna lebih
gelap dengan warna abu-abu kehitaman. Pada permukaan bawah (ventral) berwarna
kuning atau putih, dan garis-garis dihadirkan pada sisi lebih bawah pada tubuh
tetapi tidak memperluas sampai bagian perut. Ekor berwarna abu-abu.
Mempunyai sepasang rahang yang berat dan kuat dengan jumlah gigi antara 64-68.
Pada permukaan atas (dorsal) tubuh terdapat seperti duri.
Pada setiap sela jari pada kakinya terdapat selaput
4. Ordo Rhynchocepholia
Yang masih hidup sampai sekarang mempunyai bentuk serupa kadal, berkulit
tanduk dan bersisik, bergranula, punggungnya berduri pendek. Tulang rahang
mudah digerakkan. Contoh yang masih hidup di Australia : Sphenodon punctatum
(Tuatara).
Klasifikasi Sphenodon punctatum :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Kelas : Reptilia
14
Ordo : Rhynchocepholia
Famili : Rhynchocepholidae
Genus : Sphenodon
Species : Sphenodon punctatum (Jasin. 1984 : 282)
C. Manfaat Bagi Manusia
Beberapa Reptlia bermanfaat dalam kehidupan manusia, antara lain sebagai
berikut:
a. Sebagai predator alami, contohnya ular memekan tikus, bengkarung memakan
serangga.
b. Sebagai bahan pangan, contohnya daging ular, daging kura-kura, dan telur penyu.
c. Minyak ular atau racun ular dimanfaatkan manusia sebagai bahan obat-obatan.
d. Beberapa reptilia juga merugikan, misalnya ular memangsa hewan ternak dan ular
berbisa dapat membunuh manusia.
Banyak jenis kadal dan ular yang menguntungkan manusia karena memakan
serangga dan rodentia. Kulit buaya, ular, dan biawak serta penyu yang diperdagangkan
sebagai bahan baku pembuatan tas, sepatu dll. Bagi sebgian orang daging ular di
jadikan makanan karena dipercaya memiliki khasiat sebagai obat. Bisa ular juga sebagai
penawar gigitan ular.
15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi
pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali
seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi
tungkai umumnya memiliki 5 jari atau Pentadactylus dan setiap jarinya bercakar.
Rangkanya pada Reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-
paru.
Kelas Reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya:
Tuatara), Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya:
Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator,
Senyulong, dan Caiman) dll.
Beberapa Reptlia bermanfaat dalam kehidupan manusia, antara lain sebagai
berikut:
1. Sebagai predator alami, contohnya ular memekan tikus, bengkarung memakan
serangga.
2. Sebagai bahan pangan, contohnya daging ular, daging kura-kura, dan telur penyu.
3. Minyak ular atau racun ular dimanfaatkan manusia sebagai bahan obat-obatan.
4. Beberapa reptilia juga merugikan, misalnya ular memangsa hewan ternak dan ular
berbisa dapat membunuh manusia.
B. Saran
Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah
ini jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan
pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan
kita dan bermanfaat. Amin.
16
DAFTAR PUSTAKA
Brotowijoyo.Djarubito Mukayat. 1994. Zoologi Dasar. Bandung: Erlangga
Kurniati, M.Pd. Tuti dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. Bandung. UIN SGDBandung
http://eri08tirtayasa.blogspot.com/2010/12/alat-indra-pada-reptil.html
http://iceteazegeg.wordpress.com/2009/04/18/sistem-pencernaan-
http://www.anakunhas.com/2011/03/sistem-ekskresi-pada-hewan-vertebrata-dan-
invertebrata.html
http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-pada-reptil.html
http://www.sentra-edukasi.com/2011/07/sistem-peredaran-darah-tertutup.html
17