Materi MNJ Resiko
Materi MNJ Resiko
PENDAHULUAN
Asuransi merupakan salah satu buah peradaban manusia dan merupakan suatu hasil
evaluasi kebutuhan manusia yang sangat hakiki ialah kebutuhan akan rasa aman dan terlindungi,
terhadap kemungkinan menderita kerugian. Salah satu masalah yang ditakuti manusia adalah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan kehilangan terhadap barang yang akan dikirim salah
satunya denga melalui jalur laut. Terlebih dengan meningkatnya frekuensi pengangkutan barang-
barang di dalam dan dari/ ke luar negeri, maka pertanggungan atas barang-barang yang diangkut
tersebut merupakan suatu kebutuhan yang semakin diperlukan. Dengan adanya kemungkinan
terjadinya kecelakaan atau kehilangan barang maka dengan mengalihkan atau melimpahkan
risiko tersebut kepada pihak lain atau badan usaha lain yaitu dengan asuransi.
Perkembangan atas permasalahan yang ada dan bermunculan sekarang ini, maka banyak
perusahaan asuransi yang menawarkan berbagai macam produk keuntungan yang bermacam-
macam, keuntungan yang diperoleh dari produk asuransi tersebut menimbulkan pertanggungan
resiko yang berbeda pula.
Hak dan kewajiban dari pihak penanggung dan tertanggung dalam perjanjian asuransi
dicantumkan dalam polis. Perjanjian atau kontrak asuransi ini merupakan suatu perjanjian timbal
balik, yang berarti bahwa masing-masing pihak berjanji akan melakukan sesuatu bagi pihak lain.
Berkaitan dengan asuransi sebagai suatu perjanjian Pasal 255 KUHD menyatakan bahwa
asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis dimana menurut Pasal
258 ayat (1) KUHD, polis merupakan satu-satunya alat bukti tertulis untuk membuktikan bahwa
asuransi telah terjadi. Di samping itu, polis juga memuat kesepakatan mengenai syarat-syarat dan
janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban untuk mencapai tujuan
asuransi. Tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap asuransi bukan berarti tidak ada
kekecewaan masyarakat terhadap perusahaan asuransi.
1. Pertanggungan kerugian
Pertanggungan kerugian adalah perjanjian pertanggungan yang didalam pengertian yang
murni harus mengandung tujuan bahwa kerugian yang sungguh-sungguh diderita oleh pihak
tertanggung akan diganti oleh pihak penanggung, oleh karena didalamnya terdapat suatu
penggantian kerugian.
PEMBAHASAN
Mengenai unsur peristiwa yang belum pasti terjadi dalam The Civil and
Commercial Code tertuang melalui kalimat in case of contingent loss or any other future
event specified in the contract. Apabila dibandingkan dengan rumusan asuransi pada
Pasal 246 KUHD yang lebih menekankan kepada golongan asuransi kerugian (terbukti
dari kalimat, karena suatu kerugian kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan), Pasal 861 The Civil and Commercial Code meliputi baik asuransi kerugian
maupun asuransi jumlah.
Menurut undang-undang no. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian (UU
asuransi), asuransi atau tertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih
dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima
premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu
peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan
atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
1. Berdasarkan definisi tersebut, maka dalam asuransi terkandung empat unsur :
a. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi kepada
pihak penanggung, sekaliggus atau secara berangsur-angsur (asuransi kerugian)
b. Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang
(santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur
apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tak tertentu (asuransi sejumlah
uang).
c. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).
d. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa
yang tak tertentu.
Dari definisi diatas, maka asuransi merupakan suatu bentuk perjanjian dimana
harus dipenuhi syarat sebagaimanan dalam pasal 1320 KUH Perdata, namun karakteristik
bahwa asuransi adalah persetujuan yang bersifat untung-untungan sebagaimana
dinyatakan dalam pasal 1774 KUH Perdata.
Dikatakan suatu persetujuan untung-untungan (kans-overeenkomst) karena
suransi dianggap suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung rugi, baik bagi semua
pihak maupun bagi sementara pihak, bergantung kepada suatu kejadian yang belum tentu.
Beberapa hal penting mengenai asuransi :
1. Merupakan suatu perjanjian yang harus memenuhi Pasal 1320 KUH Perdata.
2. Perjanjian tersebut bersifat adhesif adalah isi perjanjian tersebut sudah ditentukan
oleh Perusahaan Asuransi (Kontrak standar). Namun demikian, hal ini tidak sejalan
dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tertanggal 20 April
tentang perlindungan konsumen.
3. Terdapat 2 (dua) pihak didalamnya yaitu penanggung dan tertanggung namun dapat
juga diperjanjikan bahwa tertanggung berbeda pihak dengan yang akan menerima
tanggungan.
4. Adanya premi sebagai yang merupakan bukti bahwa tertanggung setuju untuk
diadakan perjanjian asuransi.
5. Adanya perjanjian asuransi mengakibatkan kedua belah pihak terikat untuk
melaksanakan kewajibannya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang harus ada pada Asuransi
adalah :
a. Subyek hukum (penanggung dan tertanggung)
b. Persetujuan bebas antara penanggung dan tertanggung
c. Benda asuransi dan kepentingan tertanggungan
d. Tujuan yang ingin dicapai
e. Resiko dan premi
f. Evenemen (peristiwa yang tidak pasti) dan ganti kerugian.
g. Syarat-syarat yang berlaku
h. Polis asuransi.
Ada beberapa prinsip-prinsip pokok asuransi yang sangat penting yang harus
dipenuhi baik oleh tertanggung maupun penanggung agar kontrak/perjanjian asuransi
berlaku (tidak batal). Adapun prinsip-prinsip pokok asuransi tersebut sebagai berikut :
a. Utmost good faith
Utmost good faith bisa diberikan arti bahwa para pihak memiliki iktikad baik
untuk saling menguntungkan dan saling melindungi secara jujur. Utmost good faith
adalah suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua fakta
yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta
maupun tidak. Artinya adalah : si penanggung harus dengan jujur menerangkan
dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat/kondisi dari asuransi dan si
tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas objek atau
kepentingan yang dipertanggungkan.
KUH Perdata khusus untuk perjanjian asuransi, masih dibutuhkan penekanan atas
iktikad baik sebagaimana diminta oleh Pasal 251 KUH Dagang. Pasal 251 : “Setiap
keterangan yang keliru atau tidak benar, ataupun setiap tidak memberitahukan hal-
hal yang diketahui oleh si tertanggung, betapapun iktikad baik ada apanya, yang
demikian sifatnya sehingga seandainya si penanggung telah mengetahui keadaan
yang sebenarnya, perjanjian itu tidak akan ditutup atau tidak ditutup dengan syarat-
syarat yang sama, mengakibatkan batalnya pertanggungan”.
Iktikad baik yang sempurna dapat diartikan bahwa masing-masing pihak dalam
suatu perjanjian yang akan disepakati, menurut hukum mempunyai kewajiban untuk
memberikan keterangan atau informasi yang selengkap-lengkapnya, yang akan dapat
mempengaruhi keputusan pihak yang lain untuk memasuki perjanjian atau tidak, baik
ketenangan yang demikian itu diminta atau tidak.
Sedangkan pasal 251 KUH Dagang secara sepihak hanya memberi kewajiban
untuk memberikan keterangan dan informasi yang benar kepada pihak kedua yaitu
tertanggung atau pengambil asuransi saja. Sedangkan pihak penanggung sebaliknya
mendapat perlindungan terhadap pelanggaran asas iktikad baik yang sempurna dari
tertanggung.
b. Insurable interest
Insurable interest, yaitu para pihak memiliki kepentingan, baik kepentingannya
sendiri maupun kepentingan keluarganya atau kepentingan lain. Insurable interest
hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan keuangan, antara
tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum.
Insurable interest (kepentingan yang dapat diasuransikan), yaitu setiap pihak yang
bermaksud mengadakan perjanjian asuransi harus mempunyai kepentingan yang
dapat diasuransikan, artinya tertanggung harus mempunyai keterlibatan sedemikian
rupa, dengan akibat dari suatu peristiwa yang belum pasti terjadi dan yang
bersangkutan menderita kerugian akibat dari peristiwa itu.
Pasal 250 Kitab Undang-undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa kepentingan
yang diasuransikan tersebut harus ada pada saat ditutupnya perjanjian asuransi. Syarat
tersebut tidak dipenuhi maka penanggung akan bebas dari kewajibannya untuk
membayar kerugian. Pasal 268 Kitab Undang-undang Hukum Dagang mensyaratkan
kepentingan yang dapat diasuransikan itu harus dapat dinilai dengan sejumlah uang.
c. Indemnity
Indemnity adalah suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan
kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi
keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD Pasal 252, 253
dan dipertegas dalam Pasal 278).
Satu asas utama dalam perjanjian asuransi karena merupakan asas yang mendasari
mekanisme kerja dan memberi arah tujuan dari perjanjian asuransi itu sendiri (khusus
untuk asuransi kerugian). Pengertian kerugian itu tidak boleh menyebabkan posisi
keuangan pihak tertanggung menjadi lebih diuntungkan dari posisi keuangan pihak
tertanggung menjadi lebih diuntungkan dari posisi sebelum menderita kerugian.
Asas indemnitas ini adalah landasan dasar sebagai mana dimaksud diatas pada
hakikatnya mengandung dua aspek, yaitu :
1. Aspek pertama ialah berhubungan dengan tujuan dari perjanjian harus ditujukan
kepada ganti kerugian, yang tidak boleh diarahkan bawah pihak tertanggung
karena pembayaran ganti rugi jelas akan menduduki posisi yang lebih
menguntungkan.
2. Aspek kedua ialah berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian asuransi sebagai
keseluruhan yang sah. Untuk keseluruhan atau sebagian tidak boleh bertentangan
dengan aspek pertama.
Yang ingin dicapai oleh asas indemnitas adalah keseimbangan antara risiko yang
dialihkan kepada penanggung dengan kerugian yang diderita oleh tertanggung
sebagai akibat dari terjadinya peristiwa yang secara wajar tidak diharapkan terjadinya.
e. Subrogation
Subrogation adalah suatu pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada
penanggung setelah klaim dibayar. Di dalam KUH Dagang, asas ini secara tegas
diatur di dalam Pasal 284 : “Seorang penanggung yang telah membayar kerugian
sesuatu barang yang dipertanggungkan, menggantikan si tertanggung dalam segala
hak yang diperolehnya terhadap orang-orang ketiga berhubung dengan menerbitkan
kerugian tersebut; dan si tertanggung itu adalah bertanggung jawab untuk setiap
perbuatan yang dapat merugikan hak si penanggung terhadap orang-orang ketiga
itu.”
Subrogasi hanya dapat ditegakkan apabila memenuhi dua syarat berikut :
1. Apabila tertanggung di samping mempunyai hak terhadap penanggung masih
mempunyai hak-hak terhadap pihak ketiga.
2. Hak tersebut timbul, karena terjadinya suatu kerugian. Hak subrogasi timbul
dengan sendirinya (ipso facto) sehingga tidak perlu ditentukan dalam polis
sebagai klausula subrogasi.
a. Contibution adalah hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya
yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap
tertanggung untuk ikut memberikan indemnity.
b. Proximate cause adalah suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan
rantain kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi
suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.
2. Isi Polis
Menurut ketentuan Pasal 256 KUHD, setiap polis kecuali mengenai asuransi jiwa
harus memuat syarat-syarat khusus berikut ini :
a. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi
b. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau pihak ketiga
c. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan.
d. Jumlah yang diasuransikan (nilai pertanggungan)
e. Bahaya-bahaya/evenemen yang ditanggung oleh penanggung
f. Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan penanggung.
g. Premi asuransi.
h. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung dan segala
janji-janji khusus yang diadakan antara para pihak, antara lain mencantumkan
BANKER’S CLAUSE, jika terjadi peristiwa (evenemen) yang menimbulkan
kerugian penanggung dapat berhadapan dengan siapa pemilik atau pemegang
hak.
Beberapa dasar hukum yang menjadi dasar dalam isi polis, diantaranya :
Asuransi ganti rugi : Pasal 564 KUH Dagang
Asuransi Jiwa : Pasal 304 KUH Dagang
Asuransi kebakaran : Pasal 287 KUH Dagang
Asuransi Hasil Pertanian : Pasal 299 KUH Dagang
Asuransi Laut : Pasal 592 KUH Dagang
Asuransi Pertanggungan : Pasal 686 KUH Dagang
Untuk jenis asuransi tertentu, misalnya asuransi kebakaran Pasal 287 KUHD
menentukan bahwa dalam polisnya harus pula menyebutkan :
a. Letak barang tetap serta batas-batasnya.
b. Pemakaiannya
c. Sifat dan pemakaian gedung-gedung yang berbatasan, sepanjang berpengaruh
terhadap objek pertanggungan.
d. Harga barang-barang yang dipertanggungkan.
e. Letak dan pembatasan gedung-gedung dan tempat-tempat dimana barang-barang
bergerak yang dipertanggungkan itu berada.
Untuk mengetahui perlindungan yang diberikan oleh suatu polis asuransi, perlu
diperhatikan tujuh aspek penutupannya, yaitu :
a. Bencana yang ditutup
b. Yang ditutup
c. Kerugian yang ditutup
d. Orang-orang yang ditutup
e. Lokasi-lokasi yang ditutup
f. Jangka waktu yang ditutup
g. Bahaya-bahaya yang dikecualikan.
3. Pengecualian-pengecualian
Dalam setiap polis dengan kondisi apapun juga selalu terdapat bagian
yang mengandung pasal-pasal mengenai pengecualian. Dengan tegas polis ini
menentukan terhadap hal-hal apa saja terdapat pengecualian, apakah bencana
atau bahayanya, ataukah mengenai bendanya atau mengenai kerugian tertentu
yang dikecualikan dari perjanjian pertanggungan yang dimaksud.
4. Kondisi-kondisi.
Pada bagian polis ini dijelaskan tentang apa yang menjadi hak dan
kewajiban para pihak baik penanggung atau tertanggung. Kondisi-kondisi
termaksud, biasanya mengenai :
Pembayaran premi
Pertanggungan-pertanggungan lain
Perubahan risiko
Kewajiban tertanggung bila terjadi peristiwa
Laporan kerugian
Ganti rugi
Kerugian atas barang
Ganti rugi pertanggungan rangkap
Pertanggungan di bawah harga
Laporan waktu
Taksiran harga dalam kerugian
Biaya yang diganti
Pembayaran ganti rugi
Sisa barang
Sisa jumlah pertanggungan
Subrogasi
Gugurnya hak ganti rugi
Penghentian pertanggungan
Pengembalian premi
Perselisihan
Penutup
b. Kewajiban Penanggung
Memberikan polis
Memberikan ganti rugi terjadi peristiwa yang tidak boleh bertentangan dengan
asas indemtriteit (untuk asuransi ganti rugi).
Memberikan pembayaran sejumlah uang berdasarkan kata sepakat (untuk
asuransi sejumlah uang)
Mengembalikan premi restorno (mengembalikan sebagian atau seluruh premi
berhubungan sebagian/seluruh resiko tak jadi dipertanggungkan). Syarat premi
restorno :
a. Itikad baik
b. Peristiwa belum terjadi
c. Perjanjian seluruh / sebagian tak sah.
c. Kewajiban Tertanggung
Membayar premi
Memberikan mededelingsplidat
Mencegah agar kerugian dapat diatasi.
d. Hak Tertanggung
Menerima polis
Mendapat ganti kerugian jika terjadi peristiwa yang belum tentu terjadi
Hak-hak lain sebagai lawan dari kewajiban tertanggung.
2.8 Batal dan Sanksi Asuransi
Suatu pertanggungan hakikatnya adalah suatu perjanjian maka ia dapat pula
diancam dengan risiko batal atau dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat sahnya
perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 PUH Perdata.
Selain itu KUHD mengatur tentang ancaman batal apabila dalam perjanjian
asuransi apabila :
1. Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila tertanggung tidak
memberitahukan hal-hal yang diketahuinya sehingga apabila hal itu disampaikan
kepada pebanggung akan berakibat tidak ditutupnya perjanjian asuransi tersebut
(Pasal 251 KUHD)
2. Memuat suatu kerugianyang sudah ada sebelum perjanjian asuransi ditandatangani
(Pasal 269 KUHD); memuat ketentuan bahwa tertanggung dengan pemberitahuan
melalui pengadilan membebaskan si penanggung dari segala kewajibannya yang akan
datang (Pasal 272 KUHD)
3. Terdapat suatu penipuan atau kecurangan si tertanggung (Pasal 282 KUHD)
4. Apabila obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak boleh
diperdagangkan dan atas sebuah kapal baik kapal Indonesia atau akal asing yang
digunakan untuk mengangkut obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-
undangan tidak boeh diperdagangkan (Pasal 599 KUHD).
2. Sanksi Pidana
Sanksi pidana dikenakan pada kejahatan perasuransian yang diatur dalam Pasal
21 UU Asuransi, berikut ini;
a. Terhadap pelaku utama
Orang yang menjalankan atau menyuruh menjalankan usaha perasuransian
tanpa izi usaha, menggelapkan premi asuransi, menggelapkan dengan cara
mengalihkan, menjaminkan, dan atau menggunakan tanpa hak kekayaan
Perasuransi Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan
Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan denda paling banyak Rp 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).
b. Terhadap pelaku pembantu
Orang yang menerima, menadah, membeli, atau mengagunkan atau
menjual kembali kekayaan perusahaan hasil penggelapan dengan cara tersebut
yang diketahuinya atau patutu diketahuinya bahwa barang-barang tersebut adalah
kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau
Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan
denda paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
c. Terhadap pemalsu dokumen
Orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan
pemalsuan atas dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan
Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi diancam dengan pidana penjara paling
lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh
juta rupiah).
Hal-hal lain yang perlu dikatahui dalam Asuransi :
a. Tarif Asuransi
Suatu harga satuan dari suatu kontrak Asuransi tertentu, untuk obyek
penanggungan tertentu, terhadap risiko tertentu, dan digunakan untuk masa
depan tertentu pula.
Alat untuk mengukur risiko yang realistis (eality of risk), yang berkisar
dan tertanggung kepada mutunya, makin besar kemungkinan rugi, makin
besar pula tarifnya.
b. Obyek Pertanggungan
Yaitu semua obyek (properti dan manusia) yang dapat dipertanggungkan
aturannya karena kemungkinan akan mengalami suatu risiko yang dapat
menimbulkan kerugian ditinjau dari segi keuangan. contoh :
Rumah tinggal, gedung, pabrik, tempat usaha,dan lain-lain.
Mobil, kapal, pesawat, dan lain-lain.
Jiwa manusia, keehatan, dan lain-lain;
Proyek pembangunan dan pemasangan mesian.
Pengangkutan barang dan lain-lain.
2. Perusahaan Asuransi
Perusahaan adalah istilah ekonomi yang dipakai dalam KUHD dan perundang-
undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang, tetapi dalam Kitab Undang-
undang Hukum Dagang sendiri tidak dijelaskan pengertian resmi istilah perusahaan
itu. Rumusan pengertian prusahaan terdapat dalam Pasal 1 Undang-undang No. 3
Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (UWPD), yang berbunyi sebagai
berikut: perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha
yang besifat tetap dan terus-menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan
dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
Pengertian asuransi dalam kamus bahasa Indonesia adalah pertanggungan jiwa
maupun benda (Novianto HP, 51).
Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang menentukan bahwa asuransi
adalah suatu persetujuan atau perjanjian dimana pihak yang menjamin (penanggung)
berjanji terhadap pihak yang dinjamin (tertanggung) untuk dengan menerima
sejumlah uang premi pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang
dijamin (tertanggung) akibat dari suatu peristiwa yang belum terang akan terjadinya.
Perusahaan asuransi diatur dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1992, yang dimaksud
perusahaan asuransi adalah perusahaan asuransi kerugian, perusahaan asuransi jiwa,
perusahaan reasuransi, perusahaan pialang asuransi, perusahaan pialang reasuransi,
agen asuransi, perusahaan penilai kerugian asuransi dan purusahaan konsultan
akturia. Undang-undang No. 2 Tahun 1992, perusahaan asuransi ada dua, yaitu:
a. Perusahaan asuransi kerugian, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
penanggulangan resiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab
hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.
b. Perusahaan asuransi jiwa, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
pertanggungan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang
yang dipertanggungkan.
PENUTUP
a. Kesimpulan
Menurut UU no 40 tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian, asuransi atau
pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak
penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi
untuk memberikan penggantian kepada pertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga
yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak
pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau
hidupnya seorang yang dipertanggungkan.
Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada
tertanggung yang menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi
karena bencana atau bahaya terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu
berupa:
Kehilangan nilai pakai
Kekurangan nilainya
Kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung
Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung selama jangka
waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang
dipertanggungkan.
Pada dasarnya, asuransi dapat memberikan manfaat bagi pihak tertanggung,
antara lain dapat memberikan rasa aman dan perlindungan, sebagai pendistribusian biaya
dan manfaat yang lebih adil, polis asuransi dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh
kredit, sebagai tabungan dan sumber pendapatan sebagai alat penyebaran rsiko serta
dapat membantu meningkatkan kegiatan usaha
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Nina Nurani, S.H., M.Si., 2009. Cetakan IV. Hukum Bisnis : Suatu Pengantar. CV Insan
Mandiri : Bandung.
Dr. Sri Rejeki Hartono, S.H. 1995. Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi. Sinar Grafika :
Jakarta.