0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan20 halaman

Materi MNJ Resiko

Paragraf pertama membahas tentang pendahuluan asuransi sebagai perlindungan terhadap risiko kerugian. Paragraf berikutnya membahas tentang jenis-jenis pertanggungan risiko dalam asuransi yaitu pertanggungan kerugian dan pertanggungan sejumlah uang. Paragraf terakhir menjelaskan unsur-unsur hukum dalam kontrak asuransi.

Diunggah oleh

dhito alfeisha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan20 halaman

Materi MNJ Resiko

Paragraf pertama membahas tentang pendahuluan asuransi sebagai perlindungan terhadap risiko kerugian. Paragraf berikutnya membahas tentang jenis-jenis pertanggungan risiko dalam asuransi yaitu pertanggungan kerugian dan pertanggungan sejumlah uang. Paragraf terakhir menjelaskan unsur-unsur hukum dalam kontrak asuransi.

Diunggah oleh

dhito alfeisha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Asuransi merupakan salah satu buah peradaban manusia dan merupakan suatu hasil
evaluasi kebutuhan manusia yang sangat hakiki ialah kebutuhan akan rasa aman dan terlindungi,
terhadap kemungkinan menderita kerugian. Salah satu masalah yang ditakuti manusia adalah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan kehilangan terhadap barang yang akan dikirim salah
satunya denga melalui jalur laut. Terlebih dengan meningkatnya frekuensi pengangkutan barang-
barang di dalam dan dari/ ke luar negeri, maka pertanggungan atas barang-barang yang diangkut
tersebut merupakan suatu kebutuhan yang semakin diperlukan. Dengan adanya kemungkinan
terjadinya kecelakaan atau kehilangan barang maka dengan mengalihkan atau melimpahkan
risiko tersebut kepada pihak lain atau badan usaha lain yaitu dengan asuransi.

Perkembangan atas permasalahan yang ada dan bermunculan sekarang ini, maka banyak
perusahaan asuransi yang menawarkan berbagai macam produk keuntungan yang bermacam-
macam, keuntungan yang diperoleh dari produk asuransi tersebut menimbulkan pertanggungan
resiko yang berbeda pula.

Hak dan kewajiban dari pihak penanggung dan tertanggung dalam perjanjian asuransi
dicantumkan dalam polis. Perjanjian atau kontrak asuransi ini merupakan suatu perjanjian timbal
balik, yang berarti bahwa masing-masing pihak berjanji akan melakukan sesuatu bagi pihak lain.

Berkaitan dengan asuransi sebagai suatu perjanjian Pasal 255 KUHD menyatakan bahwa
asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis dimana menurut Pasal
258 ayat (1) KUHD, polis merupakan satu-satunya alat bukti tertulis untuk membuktikan bahwa
asuransi telah terjadi. Di samping itu, polis juga memuat kesepakatan mengenai syarat-syarat dan
janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban untuk mencapai tujuan
asuransi. Tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap asuransi  bukan berarti tidak ada
kekecewaan masyarakat terhadap perusahaan asuransi.

Menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak di Indonesia terdapat bermacam-macam


pertanggungan resiko dilihat berdasarkan jenis pertanggungan. Pada umumnya asuransi
dibedakan menjadi :

1. Pertanggungan kerugian
Pertanggungan kerugian adalah perjanjian pertanggungan yang didalam pengertian yang
murni harus mengandung tujuan bahwa kerugian yang sungguh-sungguh diderita oleh pihak
tertanggung akan diganti oleh pihak penanggung, oleh karena didalamnya terdapat suatu
penggantian kerugian.

2. Pertanggungan sejumlah uang.


Pertanggungan sejumlah uang adalah merupakan pertanggungan dimana penggantian
kerugian yang diberikan oleh penanggung sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu
ganti rugi, oleh karena orang yang menerima ganti rugi itu tidak menerima ganti rugi yang
sungguh-sungguh sesuai dengan kerugian yang dideritanya. Ganti rugi yang diterima itu
sebenarnya adalah hasil penentuan sejumlah uang tertentu yang telah disepakati oleh pihak-
pihak (Emmy Pangaribuan Simanjuntak, 1980 : 8-9).
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Asuransi


Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau
bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa,
properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian
yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau
sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu
sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.
Menurut ketentuan pasal 246 KUHD, asuransi atau pertanggungan adalah
perjanjian dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan
menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena kerugian, kerusakan
atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari suatu
evenemen (peristiwa tidak pasti).
Pengertian asuransi terdapat pula pada Pasal 861 The Civil and Commercial Code
yang berbunyi :
“A contract of insurance is one in which a person agress to make compensation
or to pay a sum of money in case of continget loss or any other future event specified in
the contract, and another person agreess to pay therefor a sum of many, called
premium”.
Dari pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur asuransi seperti yang
terdapat pada Pasal 246 KUHD atau Art 7.17.1.1 NBW juga terpenuhi, unsur-unsur yang
dimaksud adalah :
1. Perjanjian
2. Kewajiban tertanggung membayar premi
3. Kewajiban penanggung memberikan ganti kerugian atau membayar sejumlah uang.
4. Adanya peristiwa yang belum pasti terjadi.

Unsur-unsur yuridis asuransi dari suatu asuransi adalah :


1. Adanya pihak tertanggung
2. Adanya pihak penanggung
3. Adanya kontrak asuransi
4. Adanya kerugian, kerusakan atau kehilangan yang diderita tertanggung
5. Adanya peristiwa tertentu yang mungkin akan terjadi
6. Adanya uang premi yang dibayarkan oleh penanggung kepada tertanggung.

Mengenai unsur peristiwa yang belum pasti terjadi dalam The Civil and
Commercial Code tertuang melalui kalimat in case of contingent loss or any other future
event specified in the contract. Apabila dibandingkan dengan rumusan asuransi pada
Pasal 246 KUHD yang lebih menekankan kepada golongan asuransi kerugian (terbukti
dari kalimat, karena suatu kerugian kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan), Pasal 861 The Civil and Commercial Code meliputi baik asuransi kerugian
maupun asuransi jumlah.
Menurut undang-undang no. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian (UU
asuransi), asuransi atau tertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih
dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima
premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu
peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan
atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
1. Berdasarkan definisi tersebut, maka dalam asuransi terkandung empat unsur :
a. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi kepada
pihak penanggung, sekaliggus atau secara berangsur-angsur (asuransi kerugian)
b. Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang
(santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur
apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tak tertentu (asuransi sejumlah
uang).
c. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).
d. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa
yang tak tertentu.

Dari definisi diatas, maka asuransi merupakan suatu bentuk perjanjian dimana
harus dipenuhi syarat sebagaimanan dalam pasal 1320 KUH Perdata, namun karakteristik
bahwa asuransi adalah persetujuan yang bersifat untung-untungan sebagaimana
dinyatakan dalam pasal 1774 KUH Perdata.
Dikatakan suatu persetujuan untung-untungan (kans-overeenkomst) karena
suransi dianggap suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung rugi, baik bagi semua
pihak maupun bagi sementara pihak, bergantung kepada suatu kejadian yang belum tentu.
Beberapa hal penting mengenai asuransi :
1. Merupakan suatu perjanjian yang harus memenuhi Pasal 1320 KUH Perdata.
2. Perjanjian tersebut bersifat adhesif adalah isi perjanjian tersebut sudah ditentukan
oleh Perusahaan Asuransi (Kontrak standar). Namun demikian, hal ini tidak sejalan
dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tertanggal 20 April
tentang perlindungan konsumen.
3. Terdapat 2 (dua) pihak didalamnya yaitu penanggung dan tertanggung namun dapat
juga diperjanjikan bahwa tertanggung berbeda pihak dengan yang akan menerima
tanggungan.
4. Adanya premi sebagai yang merupakan bukti bahwa tertanggung setuju untuk
diadakan perjanjian asuransi.
5. Adanya perjanjian asuransi mengakibatkan kedua belah pihak terikat untuk
melaksanakan kewajibannya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang harus ada pada Asuransi
adalah :
a. Subyek hukum (penanggung dan tertanggung)
b. Persetujuan bebas antara penanggung dan tertanggung
c. Benda asuransi dan kepentingan tertanggungan
d. Tujuan yang ingin dicapai
e. Resiko dan premi
f. Evenemen (peristiwa yang tidak pasti) dan ganti kerugian.
g. Syarat-syarat yang berlaku
h. Polis asuransi.

2.2 Asas Kontrak Asuransi


Setiap perjanjian, termasuk perjanjian asuransi harus memenuhi syarat-syarat
umum sebagai berikut :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan diri.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal.

Syarat khusus bagi perjanjian asuransi harus memenuhi ketentuan-ketentuan


dalam buku I Bab IX KUH Dagang, ialah :
a. Asas indemnitas / principle oleh indemnity
b. Asas kepentingan / principle of insurable interest.
c. Asas kejujuran yang sempurna

Ada beberapa prinsip-prinsip pokok asuransi yang sangat penting yang harus
dipenuhi baik oleh tertanggung maupun penanggung agar kontrak/perjanjian asuransi
berlaku (tidak batal). Adapun prinsip-prinsip pokok asuransi tersebut sebagai berikut :
a. Utmost good faith
Utmost good faith bisa diberikan arti bahwa para pihak memiliki iktikad baik
untuk saling menguntungkan dan saling melindungi secara jujur. Utmost good faith
adalah suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua fakta
yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta
maupun tidak. Artinya adalah : si penanggung harus dengan jujur menerangkan
dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat/kondisi dari asuransi dan si
tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas objek atau
kepentingan yang dipertanggungkan.
KUH Perdata khusus untuk perjanjian asuransi, masih dibutuhkan penekanan atas
iktikad baik sebagaimana diminta oleh Pasal 251 KUH Dagang. Pasal 251 : “Setiap
keterangan yang keliru atau tidak benar, ataupun setiap tidak memberitahukan hal-
hal yang diketahui oleh si tertanggung, betapapun iktikad baik ada apanya, yang
demikian sifatnya sehingga seandainya si penanggung telah mengetahui keadaan
yang sebenarnya, perjanjian itu tidak akan ditutup atau tidak ditutup dengan syarat-
syarat yang sama, mengakibatkan batalnya pertanggungan”.
Iktikad baik yang sempurna dapat diartikan bahwa masing-masing pihak dalam
suatu perjanjian yang akan disepakati, menurut hukum mempunyai kewajiban untuk
memberikan keterangan atau informasi yang selengkap-lengkapnya, yang akan dapat
mempengaruhi keputusan pihak yang lain untuk memasuki perjanjian atau tidak, baik
ketenangan yang demikian itu diminta atau tidak.
Sedangkan pasal 251 KUH Dagang secara sepihak hanya memberi kewajiban
untuk memberikan keterangan dan informasi yang benar kepada pihak kedua yaitu
tertanggung atau pengambil asuransi saja. Sedangkan pihak penanggung sebaliknya
mendapat perlindungan terhadap pelanggaran asas iktikad baik yang sempurna dari
tertanggung.

b. Insurable interest
Insurable interest, yaitu para pihak memiliki kepentingan, baik kepentingannya
sendiri maupun kepentingan keluarganya atau kepentingan lain. Insurable interest
hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan keuangan, antara
tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum.
Insurable interest (kepentingan yang dapat diasuransikan), yaitu setiap pihak yang
bermaksud mengadakan perjanjian asuransi harus mempunyai kepentingan yang
dapat diasuransikan, artinya tertanggung harus mempunyai keterlibatan sedemikian
rupa, dengan akibat dari suatu peristiwa yang belum pasti terjadi dan yang
bersangkutan menderita kerugian akibat dari peristiwa itu.
Pasal 250 Kitab Undang-undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa kepentingan
yang diasuransikan tersebut harus ada pada saat ditutupnya perjanjian asuransi. Syarat
tersebut tidak dipenuhi maka penanggung akan bebas dari kewajibannya untuk
membayar kerugian. Pasal 268 Kitab Undang-undang Hukum Dagang mensyaratkan
kepentingan yang dapat diasuransikan itu harus dapat dinilai dengan sejumlah uang.

c. Indemnity
Indemnity adalah suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan
kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi
keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD Pasal 252, 253
dan dipertegas dalam Pasal 278).
Satu asas utama dalam perjanjian asuransi karena merupakan asas yang mendasari
mekanisme kerja dan memberi arah tujuan dari perjanjian asuransi itu sendiri (khusus
untuk asuransi kerugian). Pengertian kerugian itu tidak boleh menyebabkan posisi
keuangan pihak tertanggung menjadi lebih diuntungkan dari posisi keuangan pihak
tertanggung menjadi lebih diuntungkan dari posisi sebelum menderita kerugian.
Asas indemnitas ini adalah landasan dasar sebagai mana dimaksud diatas pada
hakikatnya mengandung dua aspek, yaitu :
1. Aspek pertama ialah berhubungan dengan tujuan dari perjanjian harus ditujukan
kepada ganti kerugian, yang tidak boleh diarahkan bawah pihak tertanggung
karena pembayaran ganti rugi jelas akan menduduki posisi yang lebih
menguntungkan.
2. Aspek kedua ialah berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian asuransi sebagai
keseluruhan yang sah. Untuk keseluruhan atau sebagian tidak boleh bertentangan
dengan aspek pertama.
Yang ingin dicapai oleh asas indemnitas adalah keseimbangan antara risiko yang
dialihkan kepada penanggung dengan kerugian yang diderita oleh tertanggung
sebagai akibat dari terjadinya peristiwa yang secara wajar tidak diharapkan terjadinya.

d. Asas kepentingan yang dapat diasuransikan


Kepentingan yang dapat diasuransikan merupakan asas utama kedua dalam
perjanjian asuransi / pertanggungan. Setiap pihak yang bermaksud mengadakan
perjanjian asuransi, harus mempunyai kepentingan yang dapat diasuransikan,
maksudnya ialah bahwa pihak tertanggung mempunyai keterlibatan sedemikian rupa
dengan akibat dari suatu peristiwa yang belum pasti terjadinya dan yang bersangkutan
menjadi menderita kerugian.
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, mengenai kepentingan, mengaturnya
dalam dua pasal yaitu pasal 250 dan pasal 268.
Pasal 250 : “ Apabila seorang yang telah mengadakan suatu pertanggungan
untuk diri sendiri, atau apabila seorang yang untuknya telah diadakan suatu
pertanggungan, pada saat diadakannya pertanggungan itu tidak mempunyai suatu
kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan itu, maka si penanggung
tidaklah diwajibkan memberikan ganti rugi”. Pasal 250 KUH dagang mengatur
bahwa kepentingan itu harus ada pada saat perjanjian asuransi ditutup.
Pasal 268 : “Suatu pertanggungan dapat mengenai segala kepentingan yang
dapat dinilaikan dengan uang, dapat diancam oleh sesuatu bahaya, dan tidak
dikecualikan oleh undang-undang”.

e. Subrogation
Subrogation adalah suatu pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada
penanggung setelah klaim dibayar. Di dalam KUH Dagang, asas ini secara tegas
diatur di dalam Pasal 284 : “Seorang penanggung yang telah membayar kerugian
sesuatu barang yang dipertanggungkan, menggantikan si tertanggung dalam segala
hak yang diperolehnya terhadap orang-orang ketiga berhubung dengan menerbitkan
kerugian tersebut; dan si tertanggung itu adalah bertanggung jawab untuk setiap
perbuatan yang dapat merugikan hak si penanggung terhadap orang-orang ketiga
itu.”
Subrogasi hanya dapat ditegakkan apabila memenuhi dua syarat berikut :
1. Apabila tertanggung di samping mempunyai hak terhadap penanggung masih
mempunyai hak-hak terhadap pihak ketiga.
2. Hak tersebut timbul, karena terjadinya suatu kerugian. Hak subrogasi timbul
dengan sendirinya (ipso facto) sehingga tidak perlu ditentukan dalam polis
sebagai klausula subrogasi.
a. Contibution adalah hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya
yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap
tertanggung untuk ikut memberikan indemnity.
b. Proximate cause adalah suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan
rantain kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi
suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.

2.3 Dasar Hukum Kontrak/Perjanjian Asuransi


Perjanjian asuransi adalah perjanjian untung-untungan/kans-Overenskom (Pasal
1774 KUH Perdata).
Suatu perjanjian untung-untungan adalah : suatu perbuatan yang hasilnya
mengenai untung ruginya baik bagi semua pihak maupun bagi salah satu pihak
tergantung pada suatu kejadian yang belum tentu.
a. Pasal 246 sampai dengan Pasal 308 Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
b. Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
c. Pasal 1774 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
d. Peraturan perundang-undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan
Kitab Undang-undang Hukum Perdata yaitu Undang-undang No. 2 Tahun 1992,
tentang Usaha Perasuransian.

2.4 Resiko dalam Asuransi


Adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kehendak tertanggung yang
menimbulkan kerugian bagi tertanggung, resiko mana menjadi objek jaminan asuransi.
 Resiko Murni (pure risk)
Kejadian yang masih tidak pasti bahwa suatu kerugian akan timbul, dimana jika
kejadian tersebut terjadi, maka timbullah kerugian itu.
 Resiko Spekulasi (speculative risk)
Kejadian yang terjadi menimbulkan 2 (dua) kemungkinan, akan menguntungkan
atau akan merugikan.
 Resiko Khusus
Resiko yang terbit dari tindakan individu dengan dampak hanya terhadap seorang
tertentu saja.
 Resiko Fundamental
Resiko yang bersumber dari masyarakat umum dan/atau yang mempengaruhi
masyarakat luas.
 Resiko Statis
Resiko yang tidak berubah dari masa ke masa.
 Resiko Dinamis
Resiko yang berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman.

2.5 Dasar Hukum Kontrak/Perjanjian Asuransi


Perjanjian asuransi adalah perjanjian untung-untungan/kans-Overenskom (Pasal
1774 KUH Perdata).
Suatu perjanjian untung-untungan adalah : suatu perbuatan yang hasilnya
mengenai untung ruginya baik bagi semua pihak maupun bagi salah satu pihak
tergantung pada suatu kejadian yang belum tentu.
a. Pasal 246 sampai dengan Pasal 308 Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
b. Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
c. Pasal 1774 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
d. Peraturan perundang-undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan
Kitab Undang-undang Hukum Perdata yaitu Undang-undang No. 2 Tahun 1992,
tentang Usaha Perasuransian.

2.6 Polis Asuransi


1. Fungsi Polis
Menurut ketentuan Pasal 225 KUHD perjanjian asuransi harus dibuat secara
tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis yang memuat kesepakatan, syarat-syarat
khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban para
pihak (penanggung dan tertanggung) dalam mencapai tujuan asuransi. Dengan
demikian, polis merupakan alat bukti tertulis tentang telah terjadinya perjanjian
asuransi antara tertanggung dan penanggung. Akan tetapi pada Pasal 257 dan Pasal
258 KUH Dagang yang dapat disimpulkan bahwa polis dalam perjanjian asuransi
tidak merupakan syarat multak tetapi hanya merupakan alat bukti.
Polis sebagai suatu akta yang formalitasnya diatur di dalam undang-undang,
mempunyai arti yang sangat penting pada perjanjian asuransi, baik pada tahap awal,
selama perjanjian berlaku dan dalam masa pelaksanaan perjanjian. Jadi polis tetap
mempunyai arti yang sangat penting di dalam perjanjian asuransi, meskipun bukan
merupakan syarat bagi sahnya perjanjian, karena polis merupakan satu-satunya alat
bukti bagi tertanggung terhadap penanggung. Undang-undang menentukan bahwa
polis dibuat dan ditandatangani oleh penanggung sebagaimana diatur pada pasal 256
ayat 3 ; “Polis tersebut harus ditandatangani oleh tiap-tiap penanggung”.
Meskipun kemudian sesuai dengan asas kebebasan berkontrak yang disimpulkan
dari pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata diperkenankan saja apabila para pihak
memperjanjikan bahwa perjanjian asueansi baru berlangsung setelah polis selesai atau
setelah diserahkan kepada tertanggung. Dalam hal yang demikian berarti polis
dijadikan sebagai syarat mutlak pada perjanjian asuransi yang bersangkutan.
Mengingat fungsinya sebagai alat bukti tertulis maka para pihak (khususnya
tertanggung) wajib memerhatikan kejelasan isi polis dimana sebaiknya tidak
mengandung kata-kata atau kalimat yang memungkinkan perbedaan interpretasi
sehingga dapat menimbulkan perselisihan (dispute).
Upaya pembuktian bahwa telah ditutupnya suatu perjanjian
asuransi/pertanggungan dalam hal belum dikeluarkannya polis oleh pihak
penanggung, satu-satunya dasar ialah pasal 258 ayat 1 dan 2. Pasal 258 :
“Untuk membuktikan hal ditutupnya perjanjian tersebut, diperlukan pembuktian
dengan tulisan; namun demikian bolehlah lain-lain alat pembuktian dipergunakan
juga manakala sudah ada suatu permulaan pembuktian dengan tulisan. Namun
demikian bolehlah ketetapan-ketetapan dan syarat-syarat khusus, apabila tentang itu
timbul suatu perselisihan, dalam jangka waktu antara penutupan perjanjian dan
penyerahan polisnya, dibuktikan dengan segala alat bukti; tetapi dengan pengertian
bahwa segala hal yang dalam beberapa macam pertanggungan oleh ketentuan-
ketentuan undang-undang, atas ancaman-ancaman batal, diharuskan dibuktikan
dengan tulisan”.
Dalam periode setelah penyerahan polis, alat bukti yang sangat penting ialah
tulisan atau surat serta permulaan pembuktian dengan surat. Dalam arti luas hal ini
yang dimaksud tentu saja polis dengan seluruh persyaratannya. Hal ini berlaku
mengenai diadakannya perjanjian pertanggungan maupun tentang janji-janji khusus.
Keduanya hanya dapat dibuktikan dengan alat bukti tertulis (perhatikan pasal 258
KUH Dagang).
Polis yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh penanggung sebenarnya hanyalah
mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna untuk kepentingan tertanggung atau
orang-orang yang memperoleh hak daripadanya dan hanya mempunyai kekuatan
terhadap penanggungan yang bersangkutan saja. Artinya penanggung dengan siapa
tertanggung mengadakan perjanjian asuransi/pertanggungan.

2. Isi Polis
Menurut ketentuan Pasal 256 KUHD, setiap polis kecuali mengenai asuransi jiwa
harus memuat syarat-syarat khusus berikut ini :
a. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi
b. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau pihak ketiga
c. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan.
d. Jumlah yang diasuransikan (nilai pertanggungan)
e. Bahaya-bahaya/evenemen yang ditanggung oleh penanggung
f. Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan penanggung.
g. Premi asuransi.
h. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung dan segala
janji-janji khusus yang diadakan antara para pihak, antara lain mencantumkan
BANKER’S CLAUSE, jika terjadi peristiwa (evenemen) yang menimbulkan
kerugian penanggung dapat berhadapan dengan siapa pemilik atau pemegang
hak.

Beberapa dasar hukum yang menjadi dasar dalam isi polis, diantaranya :
 Asuransi ganti rugi : Pasal 564 KUH Dagang
 Asuransi Jiwa : Pasal 304 KUH Dagang
 Asuransi kebakaran : Pasal 287 KUH Dagang
 Asuransi Hasil Pertanian : Pasal 299 KUH Dagang
 Asuransi Laut : Pasal 592 KUH Dagang
 Asuransi Pertanggungan : Pasal 686 KUH Dagang
Untuk jenis asuransi tertentu, misalnya asuransi kebakaran Pasal 287 KUHD
menentukan bahwa dalam polisnya harus pula menyebutkan :
a. Letak barang tetap serta batas-batasnya.
b. Pemakaiannya
c. Sifat dan pemakaian gedung-gedung yang berbatasan, sepanjang berpengaruh
terhadap objek pertanggungan.
d. Harga barang-barang yang dipertanggungkan.
e. Letak dan pembatasan gedung-gedung dan tempat-tempat dimana barang-barang
bergerak yang dipertanggungkan itu berada.

Untuk mengetahui perlindungan yang diberikan oleh suatu polis asuransi, perlu
diperhatikan tujuh aspek penutupannya, yaitu :
a. Bencana yang ditutup
b. Yang ditutup
c. Kerugian yang ditutup
d. Orang-orang yang ditutup
e. Lokasi-lokasi yang ditutup
f. Jangka waktu yang ditutup
g. Bahaya-bahaya yang dikecualikan.

Pada dasarnya setiap polis terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu :


1. Deklarasi
Deklarasi merupakan suatu pernyataan yang dibuat oleh calon
tertanggung, yang pada dasarnya memberikan keterangan mengenai beberapa
hal baik mengenai jati dirinya maupun yang mengenai obyek/barang yang
dipertanggungkan atau mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan
penutupan perjanjian asuransi / pertanggungan.
2. Klausula pertanggungan
Klausula pertanggungan merupakan bagian yang utama dari suatu polis.
Pada bagian klausula ini dengan jelas dianut ketentuan mengenai risiko apa
saja dari polis yang bersangkutan, yang ditanggung oleh penanggung, syarat-
syarat yang diminta dan ruang lingkup tanggung jawab penanggung.
Perjanjian asuransi memuat janji-janji khusus dirumuskan secara tegas
dalam polis. Jenis atau kesepakatan itu disebut klausula asuransi yang
maksudnya untuk menentukan batas-batas hak dan kewajiban para pihak,
tanggung jawab penanggung dalam pembaayaran ganti kerugian apabila
terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian. Jenis-jenis asuransi tersebut
ditentukan oleh sifat obyek asuransi itu, bahaya yang mengamcam dalam
setiap asuransi. Klausula-klausula yang dimaksud antara lain :
a. Klausula Premier Risque
Klusula ini menyatakan bahwa apabila pada asuransi di bawah
nilai benda terjadi kerugian, penanggung akan membayar ganti kerugian
seluruhnya sampai maksimum jumlah yang diasuransikan (Pasal 253 ayat
3 KUHD). Klausula ini bisa digunakan pada asuransi pembongkaran dan
pencurian, asuransi tanggung jawab.
b. Klausula All Risk
Klausula ini menentukan bahwa penanggung segala risiko atau
benda yang diasuransikan. Ini berarti penanggung akan mengganti semua
kerugian yang timbul akibat peristiwa apa pun, kecuali kerugian yang
timbul karena kesalahan tertanggung sendiri (Pasal 276 KUHD).
 Klausula Total Loss Only (TLO)
Klausula ini menentukan bahwa penanggung bahwa menanggung
kerugian yang merupakan kerugian keseluruhan/total atas benda yang
diasuransikan.
 Klausula Sudah Diketahui (All Seen)
Klausula yang digunakan pada asuransi kebakaran. Klausula ini
menentukan bahwa penanggung sudah mengetahui keadaan.
 Klausula Renunsiasi (Renunciation)
Menurut Klausula penanggung tidak akan menggugat tertanggung
dengan alasan Pasal 251 KUHD, kecuali jika hakim menetapkan
bahwa pasal tersebut harus diberlakukan secara jujur atau itikad baik
dan sesuai dengan kebiasaan. Berarti apabila timbul kerugian akibat
evenemen tertanggung tidak memberitahukan keadaan benda obyek
asuransi kepada penanggung, maka penanggung tidak akan
mengajukan Pasal 251 KUHD dan penanggung akan membayar klaim
ganti kerugian kepada tertanggung.
 Klausula Free Particular Average (FPA)
Bahwa penanggung dibebaskan dari kewajiban membayar ganti
kerugian yang timbul akibat peristiwa khusus di laut (Particular
Average) seperti ditentukan pada Pasal 709 KUHD dengan kata lain
penanggung menolak kerugian yang diklaim oleh tertanggung yang
sebenarnya timbul dari akibat peristiwa khusus yang sudah dibebaskan
klausula FPA.
 Klausula Riot, Strike & Civil Commetion (RSCC)
Riot (kerusuhan) adalah tindakan suatu kelompok orang, minimal
sebanyak 12 orang, yang dalam melaksanakan suatu tujuan bersama
menimbulkan suasana gangguan ketertiban umum dengan kegaduhan
dan menggunakan kekerasan serta pengrusakan harta benda orang lain,
yang belum dianggap sebagai huru-hara.
Strik (pemogokan) adalah tindakan pengrusakan yang disengaja
oleh sekelompok pekerja, minimal 12 orang pekerja atau separuh dari
jumlah pekerja (dalam hal jumlah selutruh pekerja kurang dari 24
orang), yang menolak bekerja sebagaimana biasanya dalam usaha
untuk memaksa majikan memenuhi tuntutan dari pekerja atau dalam
melakukan protes terhadap peraturan atau persyaratan kerja yang
diberlakukan oleh majikan.
Civil Commotion (huru-hara) adalah keadaan di suatu kota di
mana sejumlah besar massa secara bersama-sama atau dalam
kelompok-kelompok kecil menimbulkan suasana gang uan ketertiban
dan keamanan masyarakat dengan kegaduhan menggunakan kekerasan
serta rentetan pengrusakan sejumlah besar harta benda, sedimikian
rupa sehingga timbul ketakutan umum, yang ditandai dengan
berhentinya lebih dari separuh kegiatan normal pusat
perdagangan/pertokoan atau perkantoran atau sekolah atau transportasi
umum di kota tersebut selama 24 jam secar terus menerus yang dimulai
sebelum, sedang atau setelah kejadian tersebut.
 Banker’s Clause
Banker’s Clause atau Klausula Bank adalah suatu klausula yang
tercantum dalam Polis yang hanya dicantumkan atas permintaan pihak
Bank di mana dalam polis secara tegas dinyatakan bahwa Pihak Bank
adalah sebagai penerima ganti rugi atas peristiwa yang terjadi atas
obyek pertanggungan sebagaimana disebutkan dalam perjanjian
asuransi (polis). Klausula ini muncul sebagai akibat adanya hubungan
utang piutang antara Debitur dan Kreditur di mana obyek
pertanggungan adalah menjadi jaminan Bank, sehingga klausula bukan
merupakan standar yang pada umumnya tercantum dalam Polis.

3. Pengecualian-pengecualian
Dalam setiap polis dengan kondisi apapun juga selalu terdapat bagian
yang mengandung pasal-pasal mengenai pengecualian. Dengan tegas polis ini
menentukan terhadap hal-hal apa saja terdapat pengecualian, apakah bencana
atau bahayanya, ataukah mengenai bendanya atau mengenai kerugian tertentu
yang dikecualikan dari perjanjian pertanggungan yang dimaksud.

4. Kondisi-kondisi.
Pada bagian polis ini dijelaskan tentang apa yang menjadi hak dan
kewajiban para pihak baik penanggung atau tertanggung. Kondisi-kondisi
termaksud, biasanya mengenai :
 Pembayaran premi
 Pertanggungan-pertanggungan lain
 Perubahan risiko
 Kewajiban tertanggung bila terjadi peristiwa
 Laporan kerugian
 Ganti rugi
 Kerugian atas barang
 Ganti rugi pertanggungan rangkap
 Pertanggungan di bawah harga
 Laporan waktu
 Taksiran harga dalam kerugian
 Biaya yang diganti
 Pembayaran ganti rugi
 Sisa barang
 Sisa jumlah pertanggungan
 Subrogasi
 Gugurnya hak ganti rugi
 Penghentian pertanggungan
 Pengembalian premi
 Perselisihan
 Penutup

2.7 Hak dan Kewajiban Penanggung dan Tertanggung


a. Hak Penanggung
 Menerima premi
 Menerima mededelingsplicht yaitu (keterangan tentang keadaan benda yang
sebenarnya dari benda yang diasuransikan dari tertanggung).
 Hak-hak lain sebagai lawan dari kewajiban Penanggung

b. Kewajiban Penanggung
 Memberikan polis
 Memberikan ganti rugi terjadi peristiwa yang tidak boleh bertentangan dengan
asas indemtriteit (untuk asuransi ganti rugi).
 Memberikan pembayaran sejumlah uang berdasarkan kata sepakat (untuk
asuransi sejumlah uang)
 Mengembalikan premi restorno (mengembalikan sebagian atau seluruh premi
berhubungan sebagian/seluruh resiko tak jadi dipertanggungkan). Syarat premi
restorno :
a. Itikad baik
b. Peristiwa belum terjadi
c. Perjanjian seluruh / sebagian tak sah.

c. Kewajiban Tertanggung
 Membayar premi
 Memberikan mededelingsplidat
 Mencegah agar kerugian dapat diatasi.

d. Hak Tertanggung
 Menerima polis
 Mendapat ganti kerugian jika terjadi peristiwa yang belum tentu terjadi
 Hak-hak lain sebagai lawan dari kewajiban tertanggung.
2.8 Batal dan Sanksi Asuransi
Suatu pertanggungan hakikatnya adalah suatu perjanjian maka ia dapat pula
diancam dengan risiko batal atau dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat sahnya
perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 PUH Perdata.
Selain itu KUHD mengatur tentang ancaman batal apabila dalam perjanjian
asuransi apabila :
1. Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila tertanggung tidak
memberitahukan hal-hal yang diketahuinya sehingga apabila hal itu disampaikan
kepada pebanggung akan berakibat tidak ditutupnya perjanjian asuransi tersebut
(Pasal 251 KUHD)
2. Memuat suatu kerugianyang sudah ada sebelum perjanjian asuransi ditandatangani
(Pasal 269 KUHD); memuat ketentuan bahwa tertanggung dengan pemberitahuan
melalui pengadilan membebaskan si penanggung dari segala kewajibannya yang akan
datang (Pasal 272 KUHD)
3. Terdapat suatu penipuan atau kecurangan si tertanggung (Pasal 282 KUHD)
4. Apabila obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak boleh
diperdagangkan dan atas sebuah kapal baik kapal Indonesia atau akal asing yang
digunakan untuk mengangkut obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-
undangan tidak boeh diperdagangkan (Pasal 599 KUHD).

Di dalam praktik dijumpai banyak sekali perusahaan yang bergerak di bidang


perasuransian. Ini menunjukkan bisnis asuransi merupakan bisnis yang menguntungkan.
Akan tetapi, bisnis asuransi dapat juga merugikan masyarakat apabila perusahaan
asuransi dikelola secara tidak profesional.
Untuk itulah pemerintah telah menentukan sanksi bagi perusahaan asuransi yang
melakukan pelanggaran.
1. Sanksi Administratif
Setiap perusahaan perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah No, 73 tahun 1992 tertanggal 30 Oktober 1992 tentang Penyelenggaraan
Usaha Perasuransian (PP No 73/1992) serta peraturan pelaksanaannya yang
berkenaan dengan :
a. Perizinan usaha
b. Kesehatan keuangan
c. Penyelenggaraan usaha
d. Penyampaian laporan
e. Pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi atau tentang pemeriksaan
langsung.

Dikenakan sanksi peringatan, sanksi pembatasan kegiatanusaha dan sanksi


pencabutan izin usaha (Pasal 37 PP No 73/1992) Tanpa mengurangi ketentuan Pasal
37, maka terdapat :
1. Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasurransi yang tidak menyampaikan
laporan keuangan tahunan dan laporan operasional tahunan dan atau tidak
mengumumkan neraca dsan perhuitungan laba rugi, sesuai dengan jangka waktu
yang ditetapkan, dikenakan denda administratif Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)
untuk setiap hari keterlambatan.
2. Perusahaan Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang Reasuransi yang tidak
menyampaikan laporan operasional tahunan sesuai dengan jangka waktu yang
ditetapkan dikenakan denda administratif Rp. 5.00.000,- (lima ratsu ribu rupiah)
untuk setiuap hari keterlambatan (Pasal 38 PP No 73/1992).

2. Sanksi Pidana
Sanksi pidana dikenakan pada kejahatan perasuransian yang diatur dalam Pasal
21 UU Asuransi, berikut ini;
a. Terhadap pelaku utama
Orang yang menjalankan atau menyuruh menjalankan usaha perasuransian
tanpa izi usaha, menggelapkan premi asuransi, menggelapkan dengan cara
mengalihkan, menjaminkan, dan atau menggunakan tanpa hak kekayaan
Perasuransi Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan
Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan denda paling banyak Rp 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).
b. Terhadap pelaku pembantu
Orang yang menerima, menadah, membeli, atau mengagunkan atau
menjual kembali kekayaan perusahaan hasil penggelapan dengan cara tersebut
yang diketahuinya atau patutu diketahuinya bahwa barang-barang tersebut adalah
kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau
Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan
denda paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
c. Terhadap pemalsu dokumen
Orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan
pemalsuan atas dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan
Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi diancam dengan pidana penjara paling
lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh
juta rupiah).
Hal-hal lain yang perlu dikatahui dalam Asuransi :
a. Tarif Asuransi
Suatu harga satuan dari suatu kontrak Asuransi tertentu, untuk obyek
penanggungan tertentu, terhadap risiko tertentu, dan digunakan untuk masa
depan tertentu pula.
Alat untuk mengukur risiko yang realistis (eality of risk), yang berkisar
dan tertanggung kepada mutunya, makin besar kemungkinan rugi, makin
besar pula tarifnya.
b. Obyek Pertanggungan
Yaitu semua obyek (properti dan manusia) yang dapat dipertanggungkan
aturannya karena kemungkinan akan mengalami suatu risiko yang dapat
menimbulkan kerugian ditinjau dari segi keuangan. contoh :
 Rumah tinggal, gedung, pabrik, tempat usaha,dan lain-lain.
 Mobil, kapal, pesawat, dan lain-lain.
 Jiwa manusia, keehatan, dan lain-lain;
 Proyek pembangunan dan pemasangan mesian.
 Pengangkutan barang dan lain-lain.

c. SPPA (Surat Permintaan Penutupan Asuransi)


SPPA adalah formulir isian yang harus di isi oleh calon tertanggung dalam
rangka Penutupan Asuransi yang akan digunakan oleh penanggung untuk
mengevaluasi tingkat risiko dari obyek pertanggungan tersebut. Adapun data
yang di isi dalam SPPA adalah seputar obyek pertanggungan, kondisi sekitar
onyek pertanggungan, data tertanggung, data tertanggung, perincian obyek
tertanggung, tingkat bahaya, dan lain-lain.

2.9 Tinjauan tentang Tanggung Jawab Hukum Perusahaan Asuransi


1. Tanggung Jawab Hukum
Menurut kamus bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan wajib
menanggung segala sesuatu kalau ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan,
diperkarakan dan sebagainya (Novianto HP, 501). Definisi tentang hukum sangat sulit
untuk dibuat, karena tidak mungkin untuk mengadakan yang sesuai dengan
kenyataan. Hampir semua Sarjana Hukum memberikan pembatasan hukum yang
berlainan, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. E.M. Meyers mengemukakan hukum ialah semua aturan yang mengandung
pertimbangan kesusilaan, ditunjukan kepada tingkah laku manusia dalam
masyarakat dan yang menjadi pedoman bagi penguasapenguasa negara dalam
melakukan tugasnya.
b. Leon Duguit mengemukakan hukum ialah aturan tingkah laku para anggota
masyarakat, aturan yang daya penggunaanya pada saat tertentu diindahkan oleh
suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan yang jika
dilanggar menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yang melakukan
pelanggaran itu.
c. Immanuel Kant mengemukakan hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang
dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan
kehendak bebas dari orang yang lain, menuruti peraturan hukum tentang
kemerdekaan (C.S.T. Kansil, 1989 : 36).
Menurut kamus bahasa Indonesia, hukum adalah peraturan yang dibuat dan
disepakati baik secara tertulis maupun tidak tertulis, peraturan, undangundang yang
mengikat prilaku setiap masyarakat tertentu (Novianto HP, 221). Tanggung jawab
hukum dapat disimpulkan sebagai keadaan wajib menanggung segala sesuatu hal
berdasarkan peraturan yang dibuat dan disepakati baik secara tertulis maupun tidak
tertulis.

2. Perusahaan Asuransi
Perusahaan adalah istilah ekonomi yang dipakai dalam KUHD dan perundang-
undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang, tetapi dalam Kitab Undang-
undang Hukum Dagang sendiri tidak dijelaskan pengertian resmi istilah perusahaan
itu. Rumusan pengertian prusahaan terdapat dalam Pasal 1 Undang-undang No. 3
Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (UWPD), yang berbunyi sebagai
berikut: perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha
yang besifat tetap dan terus-menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan
dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
Pengertian asuransi dalam kamus bahasa Indonesia adalah pertanggungan jiwa
maupun benda (Novianto HP, 51).
Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang menentukan bahwa asuransi
adalah suatu persetujuan atau perjanjian dimana pihak yang menjamin (penanggung)
berjanji terhadap pihak yang dinjamin (tertanggung) untuk dengan menerima
sejumlah uang premi pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang
dijamin (tertanggung) akibat dari suatu peristiwa yang belum terang akan terjadinya.
Perusahaan asuransi diatur dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1992, yang dimaksud
perusahaan asuransi adalah perusahaan asuransi kerugian, perusahaan asuransi jiwa,
perusahaan reasuransi, perusahaan pialang asuransi, perusahaan pialang reasuransi,
agen asuransi, perusahaan penilai kerugian asuransi dan purusahaan konsultan
akturia. Undang-undang No. 2 Tahun 1992, perusahaan asuransi ada dua, yaitu:
a. Perusahaan asuransi kerugian, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
penanggulangan resiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab
hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.
b. Perusahaan asuransi jiwa, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
pertanggungan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang
yang dipertanggungkan.

Kesimpulannya bahwa perusahaan asuransi adalah suatu badan usaha yang


memberikan jaminan pertanggungan jiwa maupun benda atas peristiwa yang tidak.
Pengertian diatas antara definisi tanggung jawab hukum dan perusahan asuransi,
maka tanggung jawab hukum perusahaan asuransi adalah kewajiban yang harus
ditanggung sesuai dengan peraturan atau kesepakatan yang telah disepakati bersama
oleh suatu badan usaha yang memberikan jaminan pertanggungan jiwa maupun benda
atas peristiwa yang tidak pasti.
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
Menurut UU no 40 tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian, asuransi atau
pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak
penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi
untuk memberikan penggantian kepada pertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga
yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak
pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau
hidupnya seorang yang dipertanggungkan.
Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada
tertanggung yang menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi
karena bencana atau bahaya terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu
berupa:
 Kehilangan nilai pakai
 Kekurangan nilainya
 Kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung

Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung selama jangka
waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang
dipertanggungkan.
Pada dasarnya, asuransi dapat memberikan manfaat bagi pihak tertanggung,
antara lain dapat memberikan rasa aman dan perlindungan, sebagai pendistribusian biaya
dan manfaat yang lebih adil, polis asuransi dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh
kredit, sebagai tabungan dan sumber pendapatan sebagai alat penyebaran rsiko serta
dapat membantu meningkatkan kegiatan usaha
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Nina Nurani, S.H., M.Si., 2009. Cetakan IV. Hukum Bisnis : Suatu Pengantar. CV Insan
Mandiri : Bandung.

Dr. Sri Rejeki Hartono, S.H. 1995. Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi. Sinar Grafika :
Jakarta.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransiaan.

Anda mungkin juga menyukai