MAKALAH PERPAJAKAN INTERNASIONAL
BAB 1 PENGETAHUAN TENTANG PAJAK INTERNASIONAL
Dosen Pengampu :
Lidwina Mersilian Manoe, SST.Pa., M.Ak.
Oleh:
Luh Putu Rani
2017051029
6I
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI
JURUSAN EKONOMI DAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2023
PENGETAHUAN TENTANG PAJAK INTERNASIONAL
1. Pengertian Hukum Pajak Internasional
Hukum Pajak Internasional adalah keseluruhan peraturan dan kaidah- kaidah hukum
antarnegara seperti traktat, konvensi, dan lain sebagainya (mencakup juga perjanjian bilateral
perpajakan) yang berdasarkan prinsip-prinsip hukum pajak telah lazim diterima baik oleh
negara-negara di dunia, maupun kaidah-kaidah nasional untuk mengatur soal-soal perpajakan
yang mempunyai objek hukum perselisihan khususnya dalam bidang perpajakan, dalam mana
dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing, baik mengenai subjeknya maupun objeknya.
2. Pembagian Hukum Pajak Internasional
Seligman, Essay in Taxation, cetakan ke-10 (1925), dalam buku Prof. Dr. Rochmat
Soemitro, S.H. yang berjudul Hukum Pajak Internasional Indonesia: Perkembangan dan
Pengaruhnya (1977: 8), menguraikan bahwa menurut negara-negara Anglo-Saxon, hukum
pajak internasional dibagi sebagai berikut:
1. Hukum pajak nasional yang mengatur hukum pajak luar negeri (national external tax
law), merupakan bagian dari hukum pajak nasional yang memuat ketentuan ketentuan
mengenai pengenaan pajak yang mempunyai daya kerja sampai di luar batas-batas
negara karena terdapat unsur-unsur asing, baik mengenai objeknya (sumber ada di luar
negeri) maupun mengenak subjeknya (subjek ada di luar negeri)
2. Hukum pajak luar negeri (foreign tax law), adalah keseluruhan perundang-undangan
dan peraturan pajak dari negara-negara yang ada di seluruh dunia.
3. Hukum pajak internasional (international tax law). International tax law dibedakan
dalam artian sempit dan arti luas.
Hukum pajak internasional dalam arti sempit merupakan keseluruhan kaidah pajak
yang berdasarkan hukum antarnegara seperti traktat-traktat, konvensi, dan lain
sebagainya, dan berdasarkan prinsip-prinsip hukum pajak yang telah lazim diterima
baik oleh negara-negara di dunia, mempunyai tujuan mengatur soal perpajakan antara
negara yang saling mempunyai kepentingan. Hukum pajak internasional dalam arti
sempit ini semata-semata berdasarkan sumber-sumber asing.
Sedangkan hukum pajak internasional dalam arti luas adalah keseluruhan kaidah baik
yang berdasarkan traktat-traktat, konvensi-konvensi, dan prinsip hukum pajak yang
diterima baik oleh negara-negara di dunia, maupun kaidah-kaidah nasional yang
mempunyai objek pengenaan pajak dalam mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur
asing, hal mana mungkin dapat menimbulkan bentrokan hukum antara dua
negara atau lebih.
3. Sumber-sumber Hukum Pajak Internasional
Adapun beberapa sumber hukum pajak Internasional adalah sebagai berikut:
1. Hukum Pajak Nasional (Unilateral)
Yakni hukum pajak nasionak yang mengandung unsur asing antara lain:
a. Pasal 2 UU PPh: Peraturan Perpajakan Nasional tentang Subjek Pajak Luar Negeri
dan Bentuk Usaha Terap (BUT);
b. Pasal 3 UU PPh: Peraturan Perpajakan Nasional tentang Tidak Termasuk Subjek
Pajak, yakni badan perwakilan negara asing dan organisasi-organisasi internasional
serta pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional;
c. Pasal 5 (2) UU PPh: Peraturan Perpajakan Nasional tentang Termasuk Subjek Pajak
Bentuk Usaha Tetap
d. Pasal 18 UU PPh: Peraturan Perpajakan Nasional tentang Hubung an Istimewa.
Bilamana Terdapat Ketidakwajaran dalam Perpajakan
e. Pasal 24 UU PPh Peraturan Perpajakan Nasional tentang Kredi Pajak Luar Negeri
f. Pasal 26 UU PPh: Peraturan Perpajakan Nasional tentang Pemotongan Pajak atas
Subjek Pajak Luar Negeri yang memperoleh penghasilan dari Indonesia;
g. Pasal 32A UU PPh: Peraturan Perpajakan Nasional yang mengatur P3B tentang
pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan pemerintah negara lain
dalam rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak.
2. Traktat-traktat
Yakni perjanjian antara dua negara atau lebih, bisa bersifat bilateral atau multilateral
dan konvensi:
a. Untuk menghindari pajak berganda
b. Untuk mengatur perlakuan fiskal terhadap orang-orang asing
c. Untuk mengatur soal pemecahan laba Badan Usaha Tetap (BUT)
d. Untuk memberikan bantuan dalam pengenaan dan/atau pemungutan pajak serta
usaha untuk memberantas penyeludupan pajak
e. Untuk menetapkan tarif bea cukai/douane
3. Putusan Hakim (Nasional Maupun Internasional) tentang Pajak-Pajak Internasional
Putusan Hakim ini dapat diwujudkan dengan adanya putusan pengadilan pajak yang
menyangkut tentang perpajakan internasional, atau Putusan Pengadilan Internasional
Den Haag yang memuat soal-soal perpajakan.
4. Kedudukan Tax Treaty di Hadapan UU Pajak Penghasilan dan Relaksasi Tax
Treaty dengan PPh
Dengan tujuan menghilangkan pengenaan pajak berganda internasional dan mencegah
terjadinya penghindaran pajak (tax avoidance), diperlukan suatu perjanjian perpajakan dengan
negara lain. Undang-Undang PPh telah memberikan mandat kepada pemerintah untuk
melakukan perjanjian dengan negara lain. Dalam penjelasan Pasal 32A UU PPh yang mengatur
hal ini dijelaskan bahwa perjanjian perpajakan berlaku sebagai perangkat hukum yang berlaku
khusus (lex specialis). Dengan demikian, ketentuan dalam UU Pajak Penghasilan tidak berlaku
jika di dalam perjanjian perpajakan P3B diatur lain.
Pasal 32A UU PPh: Dalam rangka peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan
dengan negara lain diperlukan suatu perangkat hukum yang berlaku khusus (lex specialis) yang
mengatur hak-hak pemajakan dari masing-masing negara guna memberikan kepastian hukum
dan menghindarkan pengenaan pajak berganda serta mencegah pengelakan pajak. Adapun
bentuk dan materinya mengacu pada konvensi internasional dan ketentuan lainnya serta
ketentuan perpajakan nasional masing-masing negara.
5. Aspek Perpajakan Internasional dalam Undang-undang PPh
Salah satu jenis pajak yang berlaku di Indonesia dan memiliki peranan penting dalam
penerimaan negara adalah Pajak Penghasilan (PPh) yang pertama kali diberlakukan pada tahun
1984 berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1983 yang diubah terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun
2008. Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif di mana jenis pajak ini bisa dikenakan apabila
syarat subjektif dan objektif terpenuhi bagi orang atau badan.
Pada umumnya hampir semua orang atau badan di Indonesia akan memenuhi syarat
subjektif, dan jika orang atau badan ini memperoleh penghasilan maka syarat objektif juga
terpenuhi. Jika subjek pajak yang dikenakan PPh adalah WNI yang penghasilannya berasal dari
Indonesia juga. maka tidak ada aspek pajak internasional dalam kasus ini. Namun demikian,
karena definisi subjek pajak tidak dikaitkan dengan kewarganegaraan, maka terdapat
kemungkinan ada warga negara asing atau badan asing yang dikenakan kewajiban Pajak
Penghasilan di Indonesia. Dalam kasus seperti ini, Pajak Penghasilan sudah menyentuh aspek
pajak internasional. Hal tersebut diatas merupakan aspek yang pertama.
Aspek pajak internasional kedua juga akan terjadi bila seorang WNI atau badan Indonesia
menerima atau memperoleh penghasilan dari luar negeri. Hal ini disebabkan karena Pajak
Penghasilan Indonesia menerapkan prinsip worldwide income sehingga penghasilan dari luar
negeri juga merupakan objek Pajak Penghasilan Indonesia. Aspek yang ketiga juga akan terjadi
pada Bentuk Usaha Tetap, bila orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, maka
penghasilan sudah menyentuh aspek pajak internasional.
6. Tujuan Pokok Pajak Internasional
Tujuan pokok pajak internasional adalah untuk mengumpulkan pendapatan bagi
pemerintah suatu negara dari warga negaranya yang berada di luar negeri atau dari warga
negara negara lain yang memiliki penghasilan atau kekayaan di dalam wilayah negara
tersebut. Selain itu, tujuan pajak internasional juga meliputi:
a. Mencegah penghindaran pajak atau evasi pajak oleh warga negara atau
perusahaan yang beroperasi di luar negeri.
b. Mendorong kerjasama internasional dalam pengumpulan pajak dan pencegahan
penghindaran pajak.
c. Menjamin bahwa pajak yang dikenakan kepada warga negara atau perusahaan
asing sama dengan pajak yang dikenakan kepada warga negara atau perusahaan
domestik.
d. Meningkatkan efisiensi sistem perpajakan internasional dan mengurangi biaya
administrasi.
e. Mendorong investasi asing dan perdagangan internasional dengan memberikan
perlindungan hukum dan kepastian dalam hal perpajakan.
7. Isu dan Konsep Pajak Berganda
Isu pajak berganda terjadi ketika seseorang atau perusahaan dikenakan pajak oleh lebih dari
satu negara untuk penghasilan yang sama. Hal ini biasanya terjadi pada perusahaan
multinasional atau individu yang memiliki penghasilan dari beberapa negara. Isu ini menjadi
semakin penting karena globalisasi dan perluasan bisnis lintas negara semakin meluas. Konsep
pajak berganda berkaitan dengan pengenaan pajak pada penghasilan yang sama oleh lebih dari
satu negara. Konsep ini dapat terjadi ketika tidak ada kesepakatan perpajakan antara dua negara
yang memungkinkan penghindaran pajak berganda, atau ketika dua negara memiliki peraturan
perpajakan yang berbeda dalam menentukan dasar pengenaan pajak. Konsep ini juga terkait
dengan hubungan antara peraturan perpajakan nasional dan internasional, serta kesulitan dalam
menentukan batas-batas wilayah perpajakan di era digital yang sangat terhubung.
Pajak berganda dapat mengakibatkan beban pajak yang berlebihan pada individu atau
perusahaan, serta menghambat investasi dan perdagangan internasional. Oleh karena itu,
penyelesaian pajak berganda menjadi penting dan biasanya dilakukan melalui kesepakatan
perpajakan bilateral atau multilateral antara negara-negara yang bersangkutan. Selain itu,
terdapat juga upaya internasional untuk mengembangkan prinsip-prinsip dan standar yang
dapat membantu mengurangi dampak pajak berganda. (Cornelia & Wijaya, 2022)
REFRENSI
Chairil Anwar Pohan. 2018. Pedoman Lengkap Pajak Internasional (Konsep, Strategi, dan
Penerapan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Cornelia, Y., & Wijaya, S. (2022). Perpajakan UMKM : Isu Pajak Berganda. Jurnal Info
Artha, 6(1), 76–88.
Hariani, Aprilia. 2022. “Mengenal Pajak Internasional dan Penerapan di Indonesia”. Diakses
dari https://www.pajak.com/pajak/mengenal-pajak-internasional-dan-penerapan-di-
indonesia/#:~:text=Selain%20itu%2C%20pajak%20internasional%20juga,diberlakuk
an%20untuk%20kedua%20negara%20yang. Pada 28 Maret 2023.