Anda di halaman 1dari 18

PAJAK INTERNASIONAL

KELOMPOK:
1. Thika
2. Iin
3. Festi

PENGERTIAN
Bapak Sriadi Kepala Seksi Perjanjian Perpajakan Eropa

Pajak Internasional adalah kesepakatan perpajakan yang berlaku di antara

negara yang mempunyai Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan


pelaksanaannya dilakukan dengan niat baik sesuai dengan Konversi Wina
(Pacta Sunservanda).

TUJUAN
Memajukan perdagangan antar negara,
Mendorong laju investasi di masing-masing negara,
Pemerintah

berusaha

untuk

meminimalkan

pajak

yang

perdagangan dan investasi tersebut.

Penghindaran pajak berganda internasional

menghambat

PRINSIP PRINSIP
Capital Export Neutrality

Beban pajak yang dibayar haruslah sama. Sehingga tidak


ada perbedaan apabila kita berinvestasi di dalam atau di
Luar Negeri.
Darimanapun investasi berasal, dikenakan pajak yang

Capital Import Neutrality

sama. Sehingga baik investor dari Dalam Negeri atau Luar


Negeri akan dikenakan tarif pajak yang sama bila
berinvestasi di suatu negara.

Setiap negara, mempunyai bagian pajak atas penghasilan


yang sama. Sehingga bila ada pajak Luar Negeri yang tidak
National Neutrality
bisa

dikreditkan

pengurangan laba.

boleh

dikurangkan

sebagai

biaya

PEMAJAKAN TRANSAKSI LINTAS


NEGARA
Pemajakan terhadap wajib pajak dalam negeri (WPDN) atas
penghasilan dari luar negeri, dan

Pemajakan terhadap wajib pajak luar negeri (WPLN) atas

penghasilan dari dalam negeri (domestik).

KONSEP JURIDICAL vs ECONOMIC


DOUBLE TAXATION
Double Taxation
Pengenaan pajak lebih dari satu kali atas penghasilan ekonomi yang sama.
Contoh:
Karyawan swasta menerima gaji (perusahaan melakukan pemotongan PPh Pasal 21).
Membeli barang dari gari (pengenaan PPN atas barang yang dibeli).

Konsep yuridis
Pengenaan pajak lebih dari satu kali oleh yurisdiksi yang sama atas penghasilan
yang secara yuridis sama jenisnya.

Sumber Hukum Perpajakan


Internasional
Pendapat dari Prof. Dr. P. J. A. Adriani mengenai Hukum Pajak

Internasional adalah suatu kesatuan hukum yang mengupas suatu persoalan


yang diatur dalam Undang-Undang Nasional mengenai pemajakan terhadap
orang-orang

luar

negeri,

peraturan-peraturan

nasional

untuk

menghindarkan pajak ganda dan traktat-traktat

Pendapat dari Prof. Mr. H. J. Hofstra ialah bahwa Hukum Pajak

Internasional merupakan keseluruhan peraturan hukum yang membatasi


wewenang suatu negara untuk memungut pajak dari hal-hal internasional.

Sumber-sumber pajak internasional yang hanya


terkait dengan Negara Indonesia

Kaedah hukum pajak nasional / unilateral yang mengandung


unsur asing
Kaedah kaedah yang berasal dari traktat :

Prinsip Non Diskriminasi


Ketentuan non diskriminasi dimaksudkan untuk memberikan
perlindungan di bidang perpajakan bagi warganegara dari
suatu negara treaty partner yang melakukan kegiatan di negara
treaty partner lainnya. Perlindungan yang dimaksud adalah
warga negara dari negara treaty partner lainnya dibandingkan
warga negara di negara itu dalam keadaan atau kondisi yang

sama (the same circumstances).

Konsep Anti-tax Avoidance


Mekanisme kerja anti-avoidance rules (peraturan-peraturan) yang dibuat untuk
mengantisipasi skema-skema penghindaran pajak (tax avoidance)) di Indonesia,
khususnya yang terdapat dalam UU PPh pasca amandemen ke-IV. Peraturan-peraturan
tersebut berlaku bagi WP Badan dan/atau WP Orang Pribadi

Perlu diketahui bahwa UU PPh tidak mengenal general anti-avoidance rules. Antiavoidance rules yang terdapat dalam Pasal 18 UU PPh mengatur jenis-jenis penghindaran
pajak yang spesifik dan tertuju pada Wajib Pajak tertentu yang melakukan penghindaran
pajak tersebut. Dengan kata lain, pengaturannya tidak bersifat sebagai pasal-pasal
pengaman (safeguard articles) dalam mengantisipasi abuse of law saja.

Lanjutan....
Pengaturan anti- avoidance rules dilakukan untuk mencegah
terjadinya dislokasi antara penghasilan dan biaya, sehingga
mencegah pula terjadinya base erosion. Keberadaan antiavoidance rules yang lebih baik dan lebih ketat dari pengaturan
yang sekarang diperlukan oleh Indonesia, karena walaupun
telah mengalami penurunan di tahun 2009, tarif PPh Badan di

Indonesia masih tergolong tinggi.

Pengertian dan Tujuan Penghindaran


Pajak Berganda
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
Adalah perjanjian internasional di bidang perpajakan antar
kedua negara guna menghindari pemajakan ganda agar tidak
menghambat perekonomian kedua negara dengan prinsip saling
menguntungkan antar kedua negara dan dilaksanakan oleh penduduk
antar kedua negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut.
Tujuan P3B adalah sebagai berikut:
a. Tidak terjadi pemajakan berganda yang memberatkan iklim dunia
usaha;
b. Peningkatan investasi modal dari luar negeri ke dalam negeri;
c. Peningkatan sumber daya manusia;
d. Pertukaran informasi guna mencegah pengelakan pajak;
e. Kedudukan yang setara dalam hal pemajakan antar kedua negara.

Azas utama yang dijadikan landasan untuk mengenakan


pajak adalah:
a. Azas domisili atau azas kependudukan;
b. Azas Sumber;
c. Azas Nasionalitas atau azas kewarganegaraan.

Metode hak pemajakan di berbagai negara, untuk


menghindari pemajakan berganda, antara lain:
a. Metode Pemajakan Unilateral
b. Metode Pemajakan Bilateral
c. Metode Pemajakan Multilateral

Metode Penghindaran Pajak Berganda adalah:


a. Pembebasan / Pengecualian;
b. Kredit Pajak;
c. Metode Lainnya.
Model Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda:
a. Model OECD
b. Model UN (United Nation);
c. Model Indonesia.

HOLDING COMPANY DAN


PENGHINDARAN PAJAK

Holding company atau perusahaan induk biasa dipakai perusahaan multinasional dalam
berinvestasi di banyak anak perusahaan. Selain karena bisnis, penghindaran pajak dapat
dilakukan dengan memilih holding company di lokasi yang tepat. Bank Indonesia

merencanakan kewajiban holding company di Indonesia untuk bank asing

Lantas, permasalahan dan penghindaran pajak apa yang dapat terjadi?

Tax treaty atau Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dapat mempermudah dan
mendorong investasi asing di Indonesia dengan menghilangkan perpajakan berganda
(double taxation) dan membagi hak pemajakan untuk jenis penghasilan tertentu antara
dua negara. Tapi Tax Treaty juga memberi kesempatan bagi investor menggunakan

holding company di negara mitra P3B untuk investasi di Indonesia dan meraih
keuntungan pajak.

Holding company di negara mitra P3B dapat digunakan untuk memiliki

saham perusahaan di Indonesia. Menurut tax treaty, pajak penghasilan


atas penjualan saham berupa capital gain atas pengalihan saham dapat
tidak terutang di Indonesia dan terutang di negara mitra P3B. Namun

beberapa negara mitra P3B, yang menjadi lokasi holding company, tak
mengenakan pajak penghasilan capital gain dari penjualan saham
(double non taxation). Ini bisa dilakukan perusahan multinasional
dengan beberapa lapisan holding company.
Permasalahan ini menjadi sorotan di India atas kasus Vodafone.
Pemegang saham dengan menggunakan holding company di Mauritius
berusaha mendapatkan keuntungan dari tax treaty yang berujung pada
double non taxation.

Otoritas pajak India berusaha mengenakan pajak atas capital gain itu.

Kasus Vodafone berujung pada sengketa pajak yang dimenangkan wajib


pajak, namun menyadarkan Pemerintah India atas masalah double non
taxation. Mereka memperkuat peraturan terkait penghindaran pajak.
Keuntungan tambahan dari holding company adalah adanya participation
exemption di negara mitra P3B. Alhasil, dividen yang diterima holding

company hanya dikenakan di Indonesia sesuai tax treaty.


Holding company dalam perusahaan multinasional juga dapat berfungsi
sebagai shared service center yang memberikan layanan jasa
manajemen, tresuri atau jasa pendukung lainnya.

Indonesia memiliki peraturan untuk mengatasi penghindaran pajak seperti di


pasal 18 UU PPh. Pemerintah menerbitkan Peraturan Dirjen Pajak No. 61 dan
62/ 2009 untuk memperketat pemberian keuntungan tax treaty. Namun tidak

mengatur rinci persyaratan, seperti penghasilan yang kena pajak di negara mitra
P3B dengan tarif 0%, jumlah pegawai dan alih daya holding company.
Meski pemerintah memasukkan ketentuan tax haven dalam SPV sebagai

holding company untuk memperoleh saham perusahaan di Indonesia, sampai


sekarang tak ada kejelasan definisi tax haven.
Kesimpulannya: lebih menguntungkan mendirikan holding company di negara

mitra P3B untuk berinvestasi di Indonesia karena adanya pembebasan pajak


hingga double non-taxation. Selain membuat peraturan anti avoidance rule yang
Iebih kuat, pemerintah perlu juga membuat peraturan yang lebih baik bagi

holding company di Indonesia.