Anda di halaman 1dari 33

17/11/2010

BOBBY FISHER, SE

INTERNATIONAL
TAXATION

LECTURER: BOBBY FISHER

 Fields Of Expertise:
 Business,Government and International Economic.
 Risk Management and Taxation.

 Contact:
 Email : abitaqi@gmail.com
 Phone : +62 813 1874 0003

 Blog : //abitaqi.posterous.com

1
17/11/2010

LINGKUP PERPAJAKAN INTERNASIONAL

INTERNATIONAL
TAXATION

DAFTAR REFERENSI

 Darussalam, John Hutagaol, Danny Septriadi,


Konsep dan Aplikasi Perpajakan Internasional,
2010.
 Agus Setiawan, Perpajakan Internasional,
2006.
 Gunadi, Perpajakan Internasional, 1997

 Soemitro, Hukum Pajak Internasional Indonesia


Perkembangan dan Pengaruhnya.

2
17/11/2010

LATAR BELAKANG PERPAJAKAN INTERNASIONAL

 Indonesia adalah bagian dari dunia internasional.


...di era globalisasi Indonesia perlu menjalin hubungan
dengan negara lain, mengadakan transaksi-transaksi lintas
batas yang saling menguntungkan dan mengizinkan entitas
asing untuk melakukan kegiatan ekonomi dan memperoleh
penghasilan di Indonesia.
 Penghasilan entitas asing di dalam negeri bisa menjadi
sumber pendapatan pajak bagi Indonesia.
...menurut benefit theory of taxation, pemajakan ini bisa
dilakukan karena terdapat hubungan (economic
attachment) antara Indonesia sebagai negara sumber
(source state) dengan aktivitas yang memberikan
penghasilan tersebut.

LATAR BELAKANG PERPAJAKAN INTERNASIONAL

 Penghasilan entitas asing di Indonesia bisa menjadi sumber


pendapatan perpajakan bagi negara domisili entitas asing
tersebut.
...negara yang menjadi domisili entitas asing (residence state)
juga berhak atas pajak penghasilan yang bersumber dari luar
negara-nya karena terdapat keterkaitan antara negara dengan
subjek pajak dalam negeri-nya (personal attachment).
 Maka diperlukan adanya perjanjian perpajakan internasional
yang mengatur pemajakan penghasilan entitas asing di
dalam negeri dan penghasilan entitas dalam negeri dari luar
negeri.
...tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya pemajakan
berganda yang memberatkan wajib pajak masing-masing negara.

3
17/11/2010

TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL


 Hukum internasional merupakan suatu sistem hukum yang
mengatur hubungan antara negara-negara seiring dengan
kelahiran masyarakat internasional yang didasarkan atas
negara-negara nasional.
 Sumber hukum internasional menurut Mahkamah
Internasional adalah:
 Perjanjian internasional yang bersifat khusus maupun umum.
 Kebiasaan internasional sebagai bukti dari suatu kebiasaan
umum yang telah diterima sebagai hukum.
 Prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab.
 Keputusan pengadilan dari ajaran para akademisi yang paling
terkemuka di berbagai negara sebaga referensi untuk
menetapkan kaidah hukum.

TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL


 Konvensi internasional memiliki kekuatan hukum yang
mengikat antar negara yang ikut menandatanganinya,
hal ini karena:
 Konvensi internasional merupakan bagian dari hukum yang
lebih tinggi daripada hukum nasional karena menyangkut
kepentingan lebih banyak masyarakat internasional.
 Konvensi internasional merupakan kehendak negara itu
sendiri pada hukum internasional dan juga merupakan
kehendak bersama.
 Kenyataan sosial bahwa perikatan hukum itu mutlak demi
terpenuhinya kebutuhan bangsa untuk hidup
bermasyarakat.

4
17/11/2010

TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL


 Indonesia mengadakan tax treaty bukanlah
semata-mata karena keinginan nasional, namun
juga ada azas timbal-balik dan keinginan yang
sama dari negara-negara yang mengadakan
perjanjian tersebut.
 Hukum Internasional, baik diatur secara khusus
maupun tidak, apabila telah disepakati dunia
internasional maka Indonesia harus tunduk dan
patuh akan hal tersebut, tidak terkecuali dalam
hal perpajakan.

DEFINISI HUKUM PAJAK INTERNASIONAL


 Definisi hukum pajak internasional dapat diuraikan sebagai
berikut:
 Hukum yang lebih luas baik ruang lingkup, kewenangan dan
kedudukannya dibandingkan hukum pajak nasional.
 Hukum yang mengatur perjanjian perpajakan seluruh negara
yang saling terkait satu dan lainnya dengan negara domisili.
 Hukum pajak nasional adalah merupakan bagian dari hukum
pajak internasional, dimana ketentuan hukum pajak nasional bila
telah diatur dalam hukum pajak internasional tentang hal
tersebut, maka ketentuan hukum pajak internasional yang
digunakan.
 Hukum pajak internasional merupakan keseluruhan hukum pajak
nasional di berbagai negara, dimana hukum tersebut juga
diberlakukan pada hukum pajak nasional.

5
17/11/2010

PEMBAGIAN HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

 Menurut negara-negara yang menganut sistem


Anglo-Saxon, hukum pajak internasional dibagi
menjadi:
 Hukum pajak nasional mengatur hukum pajak luar
negeri (national external tax law)
...merupakan bagian dari hukum pajak nasional yang
memuat ketentuan-ketentuan mengenai pengenaan
pajak yang mempunyai daya kerja sampai di luar batas-
batas negara karena terdapat unsur asing, baik
mengenai objeknya maupun subjeknya (yang berada di
luar negeri).

PEMBAGIAN HUKUM PAJAK INTERNASIONAL


 Hukum pajak luar negeri (foreign tax law)
...adalah keseluruhan perundang-undangan dan
peraturan-peraturan pajak dari negara-negara yang ada
di seluruh dunia.
 Hukum pajak internasional (internasional tax law)
...adalah keseluruhan kaedah baik yang berdasarkan
traktat-traktat, konvensi-konvensi dan prinsip hukum
pajak yang diterima baik oleh negara-negara di dunia,
maupun kaedah nasional yang objeknya memiliki
unsur-unsur asing, hal mana yang mungkin dapat
menimbulkan bentrokan hukum diantara dua negara
atau lebih.

6
17/11/2010

SUMBER FORMAL HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

 Sumber-sumber formal dari hukum pajak


internasional adalah:
 Asas-asas yang terdapat dalam hukum antar
negara (asas-asas ini dapat disimpulkan dari
peraturan-peraturan dalam hukum antar negara,
baik yang tertulis maupun yang tidak).
 Peraturan-peraturan unilateral (sepihak) dari setiap
negara yang maksudnya tidak ditujukan kepada
negara lain, seperti pencegahan pengenaan pajak
berganda.

SUMBER FORMAL HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

 traktat (perjanjian) dengan negara lain, diantaranya:


 Untuk meniadakan/menghindarkan pajak berganda.
 Untuk mengatur perlakuan fiskal terhadap entitas asing.
 Untuk mengatur soal pemecahan laba di dalam hal suatu
entitas yang mempunyai cabang-cabang/sumber-sumber di
negara asing.
 Untuk saling memberi bantuan dalam pengenaan pajak
lengkap dengan pemungutannya, termasuk juga usaha untuk
memberantas penghindaran pajak melalui cara saling
memberi keterangan-keterangan tentang adanya subjek pajak
dengan segala detailnya yang diperlukan untuk penetapan
pajaknya.
 Untuk menetapkan tarif-tarif bea cukai.

7
17/11/2010

PERJANJIAN INTERNASIONAL
 Perjanjian internasional menurut UU 24/2000
adalah perjanjian dalam bentuk dan nama
tertentu, yang diatur dalam hukum internasional
yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan
hak dan kewajiban di bidang hukum publik.
 Perjanjian internasional dapat dilakukan melalui
penandatanganan, pengesahan, pertukaran
dokumen perjanjian/nota diplomatik, cara-cara
lain sebagaimana disepakati para pihak dalam
perjanjian internasional.

PEMBUATAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

 Pembuatan perjanjian internasional harus


memenuhi syarat sebagai berikut:
 Perjanjian internasional harus berdasarkan
kesepakatan dan dilaksanakan dengan itikad baik.
 Perjanjian internasional harus berpedoman pada
kepentingan nasional dan berdasarkan prinsip-
prinsip kesetaraan, saling menguntungkan dan
memperhatikan baik hukum nasional maupun
hukum internasional yang berlaku.

8
17/11/2010

PERSETUJUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL


 Menurut Pasal 11 UUD 1945, Presiden dengan persetujuan DPR
menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan
negara lain.
 Menurut Pasal 10 UU 24/2000, pengesahan perjanjian internasional
dilakukan dengan undang-undang apabila berkenaan dengan
masalah politik, keamanan, pertahanan negara, perdamaian,
perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah NKRI, kedaulatan
atau hak berdaulat negara, hak asasi manusia dan lingkungan
hidup, pembentukan kaidah hukum baru, pinjaman dan/atau hibah
luar negeri dan selain materi tersebut pengesahan dilakukan dengan
Keputusan Presiden (Keppres).
 P3B merupakan perjanjian dengan negara lain namun karena
materinya bersifat prosedural dan perlu penerapan dalam waktu
singkat maka disahkan melalui Keppres.

PENGAKHIRAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

 Perjanjian internasional berakhir yaitu apabila:


 Terdapat kesepakatan para pihak melalui prosedur yang
ditetapkan dalam perjanjian.
 Tujuan perjanjian tersebut telah tercapai.
 Terdapat perubahan mendasar yang mempengaruhi
pelaksanaan perjanjian.
 Salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar
ketentuan perjanjian.
 Dibuat perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama.
 Muncul norma-norma baru dalam hukum internasional.
 Objek perjanjian hilang.
 Terdapat hal-hal yang merugikan kepentingan nasional.

9
17/11/2010

JENIS PERJANJIAN INTERNASIONAL


 Jenis perjanjian internasional menurut para pihak yang
membuat perikatan, adalah:
 Perjanjian bilateral, yaitu perjanjian di antara dua negara.
 Perjanjian multilateral, yaitu perjanjian di antara banyak negara.
 Jenis perjanjian internasional menurut kontrak perjanjian
dan keterikatan negara-negara dalam perjanjian, adalah:
 Kontrak perjanjian (treaty contract) suatu perjanjian hukum yang
mengakibatkan hak dan kewajiban di antara para pihak.
 Perjanjian-perjanjian yang menimbulkan hukum (law making
treaty) adalah perjanjian hukum yang meletakkan ketentuan dan
kaidah hukum bagi masyarakat internasional sebagai
keseluruhan.

PERJANJIAN PERPAJAKAN INTERNASIONAL

 Perjanjian perpajakan internasional adalah suatu


perbuatan hukum mengikat negara-negara
internasional pada bidang perpajakan.
 Perjanjian perpajakan internasional dapat
berbentuk:
 Persetujuan penghindaran pajak berganda atau tax
treaty (P3B), yaitu perjanjian perpajakan bilateral yang
mengatur mengenai pembagian hak perpajakan atas
penghasilan yang diperoleh atau diterima oleh
penduduk salah satu negara atau kedua negara (both
contracting states).

10
17/11/2010

PERJANJIAN PERPAJAKAN INTERNASIONAL

 Cara penerapan (mode of application), yaitu


apabila beberapa pasal dalam P3B memerlukan
aturan pelaksanaan yang lebih jelas mengenai
ketentuan-ketentuan tersebut, misalnya mengenai
dividen dan bunga.
 Tata cara persetujuan bersama, yaitu apabila
terdapat perbedaan penafsiran atau penerapan
yang bertentangan dengan P3B di antara kedua
negara maka diperlukan adanya mutual agreement
procedures (MAP).

KEDUDUKAN TAX TREATY (P3B) DENGAN UU PAJAK DI INDONESIA

 P3B hanya mencakup pada UU PPh dan tidak


mencakup UU PPN.
 P3B memiliki kedudukan yang setara dengan UU PPh
dan dalam penerapannya berfungsi melengkapi.
 Perjanjian dianggap sah dan dapat dijalankan oleh
penduduk antar negara, apabila disahkan atau
dikuatkan (diratifikasi) oleh lembaga berwenang di
negaranya, dalam hal ini di Indonesia dilakukan oleh
Presiden bersama DPR.
 Sepanjang diatur dalam P3B, maka perpajakan
terhadap penduduk asing mengikuti ketentuan dalam
P3B.

11
17/11/2010

PAJAK INTERNASIONAL
 Pajak adalah kontribusi moneter yang dapat
dipaksakan berdasarkan undang-undang dari
suatu entitas ekonomi kepada pemerintah untuk
membiayai belanja negara tanpa disertai prestasi
langsung.
 Pajak internasional adalah aspek internasional
dari undang-undang tentang pajak penghasilan
dari masing-masing negara yang tertuang dalam
persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B)
dan pelaksanaannya dilakukan dengan niat baik
sesuai dengan hukum internasional.

RUANG LINGKUP PAJAK INTERNASIONAL

 Aspek internasional dari undang-undang


tentang pajak penghasilan dari masing-masing
negara meliputi:
 Pemajakan atas penghasilan subjek pajak dalam
negeri dari suatu negara yang diperoleh dari negara
lain (taxation of foreign income).
 Pemajakan oleh suatu negara atas penghasilan
subjek pajak luar negeri yang diperoleh di negara
tersebut (taxation of non resident).

12
17/11/2010

OBJEK PPH DALAM KONTEKS INTERNASIONAL

 Penghasilan yang diperoleh dari transaksi lintas batas


negara dari perdagangan barang dan jasa.
 Penghasilan yang diperoleh dari transaksi lintas batas
negara dari suatu perusahaan yang menjalankan
kegiatan usahanya di lebih dari satu negara
(multinational company)
 Penghasilan yang diperoleh dari investasi lintas batas
negara yang dilakukan oleh individu, sekelompok
individu atau perusahaan.
 Penghasilan yang diperoleh oleh orang pribadi yang
melakukan pekerjaan di luar negeri, baik sebagai
karyawan maupun sebagai seorang profesional.

INTERNATIONAL TAX REGIME


 Terdapat dua norma dasar sistem perpajakan
internasional yang menjadi acuan dari kebijakan
perpajakan internasional yang dituangkan ke dalam
undang-undang perpajakan suatu negara:
 single tax principle: ...memandang bahwa penghasilan
seharusnya dikenakan pajak sekali saja, tidak lebih dan
tidak kurang.
 benefit principle: ...memandang bahwa penghasilan dari
kegiatan bisnis (active bisnis income) seharusnya
dikenakan pajak di negara sumber penghasilan, sedangkan
penghasilan dari kegiatan investasi pasif (passive
investment income) seharusnya dikenakan pajak di negara
domisili.

13
17/11/2010

ASAS PERPAJAKAN INTERNASIONAL


 Asas domisili (residence state).
Suatu negara mengenakan pajak atas penghasilan subjek
pajak yang merupakan penduduk (resident) dan/atau
berdomisili (bertempat tinggal tetap) atau berkedudukan di
negara itu.
 Asas sumber (source state).
Suatu negara mengenakan pajak atas objek pajak yang
diperoleh di negara tersebut tanpa memandang domisili
subjek pajak.
 Asas kewarganegaraan.
Suatu negara mengenakan pajak atas penghasilan yang
diperoleh di seluruh dunia (world wide income) apabila
penduduk tersebut merupakan warga negaranya.

PEMAJAKAN BERGANDA
 Pemajakan berganda (double taxation) adalah
perlakuan pajak apabila masing-masing negara
mengenakan pajak atas penghasilan yang sama.
 Pemajakan berganda secara yuridis (juridicial double
taxation) adalah pemajakan atas penghasilan yang
sama oleh dua negara yang berbeda pada suatu
periode tertentu.
 Pemajakan berganda secara ekonomis (economic
double taxation) adalah pemajakan atas penghasilan
yang sama yang diperoleh oleh dua subjek pajak yang
berbeda dalam periode yang sama.

14
17/11/2010

PENDEKATAN PENGATURAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA

 Pendekatan unilateral
...memandang bahwa suatu negara memiliki hak atau kewenangan
untuk menetapkan jumlah pajak terutang masyarakat atau badan
internasional yang memperoleh pendapatan di dalam negeri atau
pengkreditan pajak yang telah dibayar oleh penduduk negara tersebut
di negara lain sebagai pengurang untuk menghindari pajak berganda.
 Pendekatan bilateral
...memandang bahwa suatu negara dalam menentukan perpajakan
harus mempertimbangkan tax treaty dan peraturan perpajakan
domestik tidak berlaku bilamana terdapat tax treaty.
 Pendekatan multilateral
...bahwa suatu negara tunduk pada hukum internasional sehingga pada
praktiknya setiap kedutaan asing, organisasi internasional dimana
negara tersebut menjadi anggotanya dan penduduk asing yang bekerja
untuk organisasi tersebut bukan subjek pajak negara tersebut dan
perpajakannya dilakukan di negara mereka berdomisili.

PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA SECARA UNILATERAL

 Masing-masing negara dapat berusaha secara


unilateral berdasarkan ketentuan domestik
untuk menghilangkan dampak pemajakan
berganda tersebut, diantaranya:
 Mengecualikan penghasilan yang berasal dari luar
negeri sebagai objek pajak penghasilan (exemption
method).
 Memperhitungkan pajak yang telah dipotong di luar
negeri sebagai unsur pengurang pajak yang
terutang (credit method).

15
17/11/2010

PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA BILATERAL


 Penghindaran pajak berganda secara unilateral dirasakan
belum cukup untuk menghilangkan risiko pemajakan
berganda sehingga perlu diatur penghindaran pajak
berganda secara bilateral melalui P3B.
 Konteks P3B umumnya mengatur penghindaran pajak
berganda secara yuridis.
 Namun terkait transfer pricing yang dimaksudkan untuk
penghindaran pajak berganda secara ekonomis juga dapat
diatur dalam P3B.
 Pemajakan berganda apabila dibiarkan akan berdampak
pada hambatan perdagangan dan lalu lintas investasi lintas
batas negara.

TUJUAN P3B
 Tujuan utama adalah untuk meniadakan atau
mengurangi pemajakan berganda, mencegah
penghindaran pajak dan penyelundupan pajak.
 Tujuan lainnya adalah:
 Menjaga persaingan yang adil antara subjek pajak
dalam negeri dan subjek pajak luar negeri dengan cara
mengenakan beban yang sama terhadap penghasilan
yang sama berdasarkan tingkat kemampuan
membayar pajak (ability to pay) yang sama tanpa
memperhatikan di negara mana sumber penghasilan
tersebut berasal.

16
17/11/2010

TUJUAN P3B
 Meningkatkan daya saing dan pertumbuhan
ekonomi melalui kebijakan fiskal.
 Membagi hak pemajakan antara negara domisili
dan negara sumber secara adil atas penghasilan
yang berasal dari transaksi lintas batas negara.
 Menjamin adanya netralitas dalam perpajakan
internasional, baik yang bersifat pemajakan atas
aliran investasi yang masuk ke suatu negara
maupun pemajakan atas investasi yang keluar dari
suatu negara.

NETRALITAS DALAM PEMAJAKAN INVESTASI


 Netralitas dalam pemajakan atas aliran investasi keluar
(capital export neutrality) dimaksudkan agar suatu negara
mengenakan beban pajak yang sama terhadap subjek pajak
dalam negeri yang melakukan investasi di negaranya
(domestic investment) sendiri maupun ketika subjek pajak
dalam negeri tersebut melakukan investasi di negara lain
(foreign investment) dalam suatu periode yang sama.
 Netralitas dalam pemajakan atas aliran investasi masuk
(capital import neutrality) dimaksudkan agar suatu negara
mengenakan beban pajak yang sama atas penghasilan yang
bersumber di negara-nya tanpa membedakan negara yang
menerima penghasilan tersebut.

17
17/11/2010

SEBAB TIMBULNYA PAJAK BERGANDA


 Konflik antara suatu negara dan negara lainnya untuk
menjadi negara sumber dari suatu penghasilan tertentu
(source-source conflict).
 Konflik antara negara domisili dan negara sumber
untuk mengenakan pajak atas suatu penghasilan
tertentu (source-residence conflict).
 Konflik antara suatu negara dan negara lainnya untuk
menjadi negara domisili bagi subjek pajak tertentu
(residence-residence conflict).
 Konflik antara negara domisili dan negara sumber atas
karakterisasi suatu jenis penghasilan tertentu
(characterization of income conflict).

SOURCE – SOURCE CONFLICT


 Pemajakan berganda terjadi ketika masing-masing negara merasa
dirinya yang berhak menjadi negara sumber atas suatu jenis
penghasilan tertentu.
 Contoh: ...Promotor negara us bermaksud mengadakan pertunjukan
musik di negara id dengan mengundang artis dari negara JP dan
atas pertunjukan tersebut promotor US membayar sejumlah honor
kepada artis JP. Dalam kasus ini otoritas pajak ID sebagai negara
tempat artis JP mengadakan pertunjukan (place of performance )
tentu saja dapat mengklaim bahwa negara ID memiliki hak
pemajakan atas honor tersebut, akan tetapi otoritas pajak negara
US, berdasarkan ketentuan domestik juga dapat mengklaim bahwa
penghasilan tersebut dikenakan pajak di negara US, karena biaya
honor artis JP tersebut menjadi dibebankan di negara US (borne rule
principle).

18
17/11/2010

RESIDENCE – SOURCE CONFLICT


 Pemajakan berganda terjadi ketika penghasilan yang sama
dikenakan pajak dua kali. Pertama oleh negara di mana
penghasilan tersebut bersumber, kemudian oleh negara
dimana subjek pajak yang menerima penghasilan tersebut
berdomisili.
 Contoh: ...Tn. BFR merupakan subjek pajak dalam negeri ID
yang memiliki 50% saham singapore ltd (SGPR). SGPR
membayar dividen kepada Tn. BFR, berdasarkan ketentuan
Pasal 10 dari P3B antara ID dan SG. Otoritas pajak SG
berhak untuk mengenakan pajak maksimum 10% dari
dividen yang dibayarkan karena penghasilan dividen
tersebut bersumber dari SG. Kemudian otoritas pajak ID
yang menganut konsep world wide income juga akan
mengenakan pajak atas penghasilan dividen yang sama.

RESIDENCE – RESIDENCE CONFLICT


 Pemajakan berganda terjadi jika dua atau lebih negara
saling klaim bahwa subjek pajak yang sama merupakan
subjek pajak dalam negeri dari masing-masing negara.
 Contoh: ...Mr. MLG adalah warga negara MY dan
mempunyai tempat tinggal tetap (permanent home) di
kota KL merupakan subjek pajak dalam negeri MY.
Pada April 2010, Mr. MLG mendapat penugasan kerja di
negara ID selama dua tahun yang dituangkan dalam
kontrak kerja. Maka dapat disimpulkan bahwa Mr. MLG
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di ID dan
berdasarkan Pasal 2 UU PPh ID, mr. MLG juga
merupakan subjek pajak dalam negeri.

19
17/11/2010

CHARACTERIZATION OF INCOME CONFLICT


 Pemajakan berganda terjadi jika salah satu negara yang
mengadakan P3B tidak setuju terhadap interpretasi yang diberikan
oleh negara partner-nya atas suatu definis tertentu yang tercantum
dalam P3B.
 Contoh: ...Mr. CHU merupakan subjek pajak dalam negeri JP (negara
domisili) yang melakukan konser untuk direkam di negara US dan
menerima penghasilan konser yang dihitung dari suatu persentase
tertentu dari hasil penjualan rekaman. US mengklasifikasikan
penghasilan yang diperoleh Mr. CHU sebagai “imbalan dari kegiatan
personal services”, sedangkan JP berpendapatan penghasilan
tersebut merupakan “royalti”. Jika JP dan US memiliki suatu P3B
dengan model OECD, maka berdasarkan pasal 12 (1), apabila
penghasilan tersebut dianggap royalti, maka hak pemajakannya
berada di negara domisili (shall be taxable only). Sebaliknya jika
penghasilan diklasifikasikan sebagai imbalan dari kegiatan personal
services, maka hak pemajakan juga diberikan kepada US.

PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA MULTILATERAL

 Penerapannya berdasarkan kepada hukum internasional diantaranya


adalah Konvensi Wina (18 April 1961) di mana negara-negara
anggota konvensi sepakat memberikan kekebalan perpajakan wakil-
wakil diplomatik masing-masing negara.
 Penerapan di Indonesia berdasarkan UU PPh Pasal 3 tentang
pengecualian subjek pajak:
 Badan perwakilan negara asing.
 Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-
pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan
kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-
sama mereka, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di
Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar
jabatan atau pekerjaan tersebut serta negara bersangkutan
memberikan perlakuan timbal balik.

20
17/11/2010

PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA MULTILATERAL

 Organisasi internasional yang ditetapkan dengan


keputusan menteri keuangan, dengan syarat:
 Indonesia menjadianggota organisasi tersebut.
 Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian
pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran
anggota.
 Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional
yang ditetapkan dengan KMK dengan syarat bukan
warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha
atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan di Indonesia.

METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA


 Pendekatan pembebasan pajak (tax exemption).
...memandang bahwa negara domisili membebaskan pajak atas penghasilan
yang bersumber dari luar negeri, penerapannya antara lain melalui:
 Metode pembebasan penuh (full exemption).
 Metode pembebasan dengan progresi (exemption with progression).
 Pendekatan kredit pajak (tax credit).
...memandang bahwa pajak penghasilan yang dibayarkan di negara sumber
dapat dijadikan kredit bagi pajak terutang dalam negeri di negara domisili,
penerapannya antara lain melalui:
 Metode kredit pajak penuh (full credit method).
 Metode kredit pajak dengan pembatasan (ordinary credit method).
 Metode kredit pajak fiktif (pseudo credit method).
 Metode pengurangan (deduction method).
...memandang bahwa jumlah pajak yang dibayarkan di negara sumber
diperlakukan sebagai biaya dalam rangka menghitung pajak terutang dalam
negeri di negara domisili.

21
17/11/2010

METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA

 Pembagian pajak (tax sharing)


...melalui pembagian jumlah nominal pajak terutang antara negara domisili
dengan negara sumber.
 Pembagian hak perpajakan (division of taxation power).
...melalui penentuan tarif pajak maksimum atas penghasilan luar negeri.
 Pengurangan tarif (reduction of rate).
...melalui pengurangan tarif pajak atas penghasilan luar negeri sampai
pada persentase tertentu.
 Pengurangan pajak (reduction of tax).
...mengurangi jumlah nominal pajak terutang atas penghasilan luar negeri.
 Perpajakan jumlah tetap (lumpsum/forfait taxation)
...melalui pengenaan pajak dalam jumlah nominal tetap atas penghasilan
luar negeri.

KASUS METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA

 PT Idetaqi Kreasi Indonesia adalah subjek pajak dalam


negeri ID (negara domisili). Tahun 2008, selain
memperoleh penghasilan di ID sebesar Rp 600.000,
juga memperoleh penghasilan dari SG (negara sumber)
sebesar ≈ Rp 100.000, tarif pajak penghasilan untuk
masing-masing negara adalah:
 ID mengenakan tarif flat sebesar 30%.
 SG mengenakan tarif sebagai berikut:
 Asumsi I, mengenakan tarif flat sebesar 28%.
 Asumsi II, mengenakan tarif flat sebesar 35%.
 Dalam kasus ini ID menerapkan sistem world wide
income atas subjek pajak dalam negeri.

22
17/11/2010

KASUS METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA


Tabel 1.1
Total Beban Pajak PT Idetaqi Kreasi Indonesia (IDKI)
Tanpa Metode Penghindaran Pajak Berganda

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 100.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 700.000) Rp 210.000 Rp 210.000

6 Total Beban Pajak Rp 238.000 Rp 245.000


% Pajak dari Penghasilan 34,00% 35,00%

KASUS METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA

 Pada asumsi I (Tabel 1.1) penghasilan luar negeri IDKI


di SG dikenakan pajak sebesar 28% di SG dan 30% di
ID, dengan demikian total jumlah beban pajak IDKI atas
penghasilan di SG sebesar Rp 58.000 (58%).
 Pada asumsi II (Tabel 1.1) penghasilan luar negeri IDKI
di SG dikenakan pajak sebesar 35% di SG dan 30% di
ID, dengan demikian total jumlah beban pajak IDKI atas
penghasilan di SG sebesar Rp 65.000 (65%).
 Pajak berganda sebesar 58% atau 65% ini tentunya
sangat memberatkan subjek pajak IDKI sehingga
diperlukan metode keringanan pajak untuk menghindari
pajak berganda.

23
17/11/2010

METODE FULL EXEMPTION


Tabel 1.2
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Full Exemption

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 100.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 600.000) Rp 180.000 Rp 180.000

6 Total Beban Pajak Rp 208.000 Rp 215.000


% Pajak dari Penghasilan 29,71% 30,71%

METODE EXEMPTION WITH PROGRESSION

 Metode ini menghitung kembali jumlah


penghasilan maupun kerugian dari luar negeri.
Pajak yang dibebaskan sebanding dengan
penghasilan luar negeri berbanding keseluruhan
penghasilan dikalikan dengan keseluruhan
penghasilan.
 Bilamana terdapat kerugian di luar negeri, maka
kerugian tersebut tetap diperhitungkan sehingga
akan mengurangi pajak terutang dalam negeri.
 Metode ini dapat diterapkan melalui pendekatan
tarif bawah, tarif atas dan tarif proposional.

24
17/11/2010

KASUS METODE EXEMPTION WITH PROGRESSION

 Jika ID sebagai negara domisili PT Idetaqi


Kreasi Indonesia mengenakan tarif progresif
sebagai berikut:
 Lapisan PKP sampai dengan Rp 50.000 dikenakan
tarif pajak 10%.
 Lapisan PKP di atas Rp 50.000 sampai dengan Rp
100.000 dikenakan tarif pajak 15%.
 Lapisan PKP di atas Rp 100.000 dikenakan tarif
pajak 30%

METODE EXEMPTION WITH PROGRESSION (BASIC)


Tabel 1.3
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Exemption with Progression (Basic Tarif)

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 200.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 20.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(10% x Rp 50.000) Rp 5.000 Rp 5.000
(15% x Rp 50.000) Rp 7.500 Rp 7.500
(30% x Rp 600.000) Rp 180.000 Rp 180.000
Jumlah Pajak Dalam Negeri Rp 192.500 Rp 192.500

6 Pembebasan Pajak
a. Asumsi I
(10% x Rp 50.000) Rp (5.000)
(15% x Rp 50.000) Rp (7.500)
b. Asumsi II
(10% x Rp 50.000) Rp (5.000)
(15% x Rp 50.000) Rp (7.500)

7 Total Beban Pajak Rp 208.000 Rp 215.000


% Pajak dari Penghasilan 29,71% 30,71%

25
17/11/2010

METODE EXEMPTION WITH PROGRESSION (TOP)


Tabel 1.4
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Exemption with Progression (Top Tarif)

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 200.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 20.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(10% x Rp 50.000) Rp 5.000 Rp 5.000
(15% x Rp 50.000) Rp 7.500 Rp 7.500
(30% x Rp 600.000) Rp 180.000 Rp 180.000
Jumlah Pajak Dalam Negeri Rp 192.500 Rp 192.500

6 Pembebasan Pajak
a. Asumsi I
(30% x Rp 100.000) Rp (30.000)
b. Asumsi II
(30% x Rp 100.000) Rp (30.000)

7 Total Beban Pajak Rp 190.500 Rp 197.500


% Pajak dari Penghasilan 27,21% 28,21%

METODE EXEMPTION WITH PROGRESSION (PROPORTIONAL)


Tabel 1.5
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Exemption with Progression (Proporsional)

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 200.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 20.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(10% x Rp 50.000) Rp 5.000 Rp 5.000
(15% x Rp 50.000) Rp 7.500 Rp 7.500
(30% x Rp 600.000) Rp 180.000 Rp 180.000
Jumlah Pajak Dalam Negeri Rp 192.500 Rp 192.500

6 Pembebasan Pajak
a. Asumsi I
(1/7 x Rp 100.000) Rp (14.286)
b. Asumsi II
(1/7 x Rp 100.000) Rp (14.286)

7 Total Beban Pajak Rp 206.214 Rp 213.214


% Pajak dari Penghasilan 29,46% 30,46%

26
17/11/2010

METODE FULL CREDIT


 Metode ini memberikan fasilitas keringanan
pajak kepada wajib pajak dalam negeri di
negara domisili untuk mengkreditkan seluruh
pajak yang dibayar di luar negeri.
 Jika tarif pajak di luar negeri lebih besar
dibandingkan tarif pajak di dalam negeri, dapat
dipastikan akan terjadi restitusi pajak, dalam
keadaan tersebut negara domisili ikut
membayar jumlah pajak terutang di luar negeri.

METODE FULL CREDIT


Tabel 1.6
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Full Credit

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 100.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 700.000) Rp 210.000 Rp 210.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
(sebesar pajak yang telah dipungut di SG) Rp (28.000)
b. Asumsi II
(sebesar pajak yang telah dipungut di SG) Rp (35.000)

7 Total Beban Pajak Rp 210.000 Rp 210.000


% Pajak dari Penghasilan 30,00% 30,00%

27
17/11/2010

TINJAUAN METODE ORDINARY CREDIT


 Metode ini membatasi pajak yang dibayar di luar
negeri yang dapat dikreditkan atau dapat
dijadikan pengurang pajak penghasilan terutang di
dalam negeri sebatas nilai terendah diantara:
 Pajak penghasilan luar negeri yang dihitung dengan
tarif dalam negeri.
 Penghasilan dari luar negeri berbanding total
penghasilan dikalikan total pajak penghasilan terutang.
 Pajak penghasilan yang terutang atau dibayar di luar
negeri.

METODE ORDINARY CREDIT


Tabel 1.7
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Ordinary Credit

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 100.000) Rp 35.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 700.000) Rp 210.000 Rp 210.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
(maksimal sebesar pajak yang telah dipungut di SG) Rp (28.000)
b. Asumsi II
(maksimal 1/7 x Rp 210.000) Rp (30.000)

7 Total Beban Pajak Rp 210.000 Rp 215.000


% Pajak dari Penghasilan 30,00% 30,71%

28
17/11/2010

PENGHITUNGAN KREDIT PAJAK DALAM METODE ORDINARY CREDIT

 Kompensasi kerugian di suatu negara sumber.


 Penghasilan sebelum kompensasi kerugian.
 Penghasilan setelah kompensasi kerugian.
 Tarif pajak yang berbeda terhadap jenis penghasilan
yang berbeda-beda dari suatu negara sumber.
 Menggabungkan seluruh jenis penghasilan.
 Mengakumulasikan masing-masing jenis penghasilan.
 Tarif pajak yang berbeda-beda terhadap penghasilan
yang sama di berbagai negara sumber.
 Menggabungkan penghasilan dari berbagai negara sumber.
 Mengakumulasikan penghasilan dari masing-masing negara
sumber.

PENGHASILAN SEBELUM KOMPENSASI KERUGIAN


Tabel 1.8
Total Beban Pajak PT IDKI (Case Rugi di SG Rp 50.000)
Metode Ordinary Credit - Penghasilan Sebelum Kompensasi Rugi

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
Rugi Tahun 2007 di SG Rp (50.000) Rp (50.000)
3 Jumlah Penghasilan Rp 650.000 Rp 650.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 50.000) Rp 14.000
b. Asumsi II (35% x Rp 50.000) Rp 17.500

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 650.000) Rp 195.000 Rp 195.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
(maksimal 50/700 x Rp 195.000) Rp (13.929)
b. Asumsi II
(maksimal 50/700 x Rp 195.000) Rp (13.929)

7 Total Beban Pajak Rp 195.071 Rp 198.571


% Pajak dari Penghasilan 30,01% 30,55%

*) (30% x Rp 50.000) Rp 15.000 Rp 15.000


**) (50/700 x Rp 195.000) Rp 13.929 Rp 13.929
***) (tarif luar negeri x Rp 50.000) Rp 14.000 Rp 17.500

29
17/11/2010

PENGHASILAN SETELAH KOMPENSASI KERUGIAN


Tabel 1.9
Total Beban Pajak PT IDKI (Case Rugi di SG Rp 50.000)
Metode Ordinary Credit - Penghasilan Setelah Kompensasi Rugi

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
Rugi Tahun 2007 di SG Rp (50.000) Rp (50.000)
3 Jumlah Penghasilan Rp 650.000 Rp 650.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 50.000) Rp 14.000
b. Asumsi II (35% x Rp 50.000) Rp 17.500

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 650.000) Rp 195.000 Rp 195.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
(maksimal 50/700 x Rp 195.000) Rp (14.000)
b. Asumsi II
(maksimal 50/700 x Rp 195.000) Rp (15.000)

7 Total Beban Pajak Rp 195.000 Rp 197.500


% Pajak dari Penghasilan 30,00% 30,38%

*) (30% x Rp 50.000) Rp 15.000 Rp 15.000


**) (50/650 x Rp 195.000) Rp 15.000 Rp 15.000
***) (tarif luar negeri x Rp 50.000) Rp 14.000 Rp 17.500

MENGGABUNGKAN SELURUH JENIS PENGHASILAN


Tabel 1.10
Total Beban Pajak PT IDKI (Case: Dividen Rp 50.000 Tax 25%/32%)
Metode Ordinary Credit - Menggabungkan Beberapa Jenis Penghasilan dan Tarif

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan Laba di SG Rp 100.000 Rp 100.000
Penghasilan Dividen di SG Rp 50.000 Rp 50.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 750.000 Rp 750.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I
Laba (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
Dividen (25% x Rp 50.000) Rp 12.500
b. Asumsi II
Laba (35% x Rp 100.000) Rp 35.000
Dividen (32% x Rp 50.000) Rp 16.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 750.000) Rp 225.000 Rp 225.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
(maksimal sebatas jumlah pajak yang dibayar di SG) Rp (40.500)
b. Asumsi II
(maksimal 30% x Rp 150.000) Rp (45.000)

7 Total Beban Pajak Rp 184.500 Rp 180.000


% Pajak dari Penghasilan 24,60% 24,00%

*) (30% x Rp 150.000) Rp 45.000 Rp 45.000


**) (150/750 x Rp 225.000) Rp 45.000 Rp 45.000
***) Jumlah Pajak Luar Negeri Rp 40.500 Rp 51.000

30
17/11/2010

MENGAKUMULASIKAN MASING-MASING JENIS PENGHASILAN


Tabel 1.11
Total Beban Pajak PT IDKI (Case: Dividen Rp 50.000 Tax 25%/32%)
Me tode Ordi na ry Cre di t - Me nga kumul a s i ka n Be be ra pa Je ni s Pe ngha s i l a n da n Ta ri f

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan Laba di SG Rp 100.000 Rp 100.000
Penghasilan Dividen di SG Rp 50.000 Rp 50.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 750.000 Rp 750.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I
Laba (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
Dividen (25% x Rp 50.000) Rp 12.500
b. Asumsi II
Laba (35% x Rp 100.000) Rp 35.000
Dividen (32% x Rp 50.000) Rp 16.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 750.000) Rp 225.000 Rp 225.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
jumlah angka terendah *) dan **) Rp (40.500)
b. Asumsi II
jumlah angka terendah *) dan **) Rp (45.000)

7 Total Beban Pajak Rp 184.500 Rp 180.000


% Pajak dari Penghasilan 24,60% 24,00%

*) Laba
(30% x Rp 100.000) Rp 30.000 Rp 30.000
(100/750 x Rp 225.000) Rp 30.000 Rp 30.000
Pajak Laba di SG Rp 28.000 Rp 35.000
**) Dividen
(30% x Rp 50.000) Rp 15.000 Rp 15.000
(50/750 x Rp 225.000) Rp 15.000 Rp 15.000
Pajak Dividen di SG Rp 12.500 Rp 16.000

MENGGABUNGKAN PENGHASILAN DARI BERBAGAI NEGARA SUMBER


Tabel 1.12
Total Beban Pajak PT IDKI (Case: MY Rp 100.000 Tax 25%/32%)
Metode Ordinary Credit - Menggabungkan Penghasilan Beberapa Negara dan Tarif

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
Penghasilan di MY Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 800.000 Rp 800.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I
SG (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
MY (25% x Rp 100.000) Rp 25.000
b. Asumsi II
SG (35% x Rp 100.000) Rp 35.000
MY (32% x Rp 100.000) Rp 32.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 800.000) Rp 240.000 Rp 240.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
(maksimal jumlah pajak yang dibayar di SG & MY) Rp (53.000)
b. Asumsi II
(maksimal 30% x Rp 200.000) Rp (60.000)

7 Total Beban Pajak Rp 187.000 Rp 180.000


% Pajak dari Penghasilan 23,38% 22,50%

*) (30% x Rp 200.000) Rp 60.000 Rp 60.000


**) (200/800 x Rp 240.000) Rp 60.000 Rp 60.000
***) Jumlah Pajak Luar Negeri Rp 53.000 Rp 67.000

31
17/11/2010

MENGAKUMULASIKAN PENGHASILAN DARI MASING-MASING NEGARA SUMBER

Tabel 1.13
Total Beban Pajak PT IDKI (Case: MY Rp 100.000 Tax 25%/32%)
Me tode Ordi na ry Cre di t - Me nga kumul a s i ka n Pe ngha s i l a n Be be ra pa Ne ga ra da n Ta ri f

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
Penghasilan di MY Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 800.000 Rp 800.000

4 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I
SG (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
MY (25% x Rp 100.000) Rp 25.000
b. Asumsi II
SG (35% x Rp 100.000) Rp 35.000
MY (32% x Rp 100.000) Rp 32.000

5 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


(30% x Rp 800.000) Rp 240.000 Rp 240.000

6 Kredit Pajak
a. Asumsi I
jumlah angka terendah *) dan **) Rp (53.000)
b. Asumsi II
jumlah angka terendah *) dan **) Rp (60.000)

7 Total Beban Pajak Rp 187.000 Rp 180.000


% Pajak dari Penghasilan 23,38% 22,50%

*) SG
(30% x Rp 100.000) Rp 30.000 Rp 30.000
(100/800 x Rp 240.000) Rp 30.000 Rp 30.000
Pajak di SG Rp 28.000 Rp 35.000
**) MY
(30% x Rp 100.000) Rp 30.000 Rp 30.000
(100/800 x Rp 240.000) Rp 30.000 Rp 30.000
Pajak di MY Rp 25.000 Rp 32.000

METODE PSEUDO CREDIT


 Metode ini memberikan keringanan pajak
untuk mendorong arus masuk investasi asing
ke dalam negeri di negara sumber, dimana
negara sumber mengenakan pajak fiktif
kepada investor yang dapat digunakan sebagai
kredit pajak di negara domisili investor.
 Indonesia tidak menggunakan metode ini dan
fasilitas keringanan pajak yang diberikan tetap
dari pembayaran pajak yang riil dan aktual.

32
17/11/2010

METODE DEDUCTION
Tabel 1.14
Total Beban Pajak PT IDKI
Metode Deduction

No Uraian Asumsi I Asumsi II


1 Penghasilan di ID Rp 600.000 Rp 600.000
2 Penghasilan di SG Rp 100.000 Rp 100.000
3 Jumlah Penghasilan Rp 700.000 Rp 700.000

4 Pajak Luar Negeri Sebagai Pengurang Penghasilan


a. Asumsi I (28% x Rp 100.000) Rp (28.000)
b. Asumsi II (35% x Rp 100.000) Rp (35.000)

5 PKP Setelah Deduksi Rp 672.000 Rp 665.000

6 Pajak Dalam Negeri (world wide income)


a. Asumsi I (30% x Rp 672.000) Rp 201.600
b. Asumsi II (30% x Rp 665.000) Rp 199.500

7 Pajak Luar Negeri


a. Asumsi I (28% x Rp 100.000) Rp 28.000
b. Asumsi II (35% x Rp 100.000) Rp 35.000

8 Total Beban Pajak Rp 229.600 Rp 234.500


% Pajak dari Penghasilan 32,80% 33,50%

end of slide.

TERIMA KASIH

33