MAKALAH
PENGANTAR STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
Tentang
INVASI DAN KOLONIALISASI BANGSA-BANGSA EROPA KE
KAWASAN DUNIA ISLAM (AFRIKA & ASIA) DAN KEMERDEKAAN
NEGARA-NEGARA ISLAM MODERN (ALJAZAIR & LIBYA)
Disusun oleh kelompok 12 :
1. Nada Nazhira : 2212020137
2. Mita Yusnevi : 2212020121
3. Rahma Novilya : 2212020114
Dosen Pengampu :
Dr. Zainal, M. Ag
PRODI BIMBINGAN KONSELING ISLAM C
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG
2023/2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena atas kelimpahan
rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan kami dapat menyelesaikan makalah ini
yg berjudul “ Invasi dan Kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa ke Kawasan dunia
islan(Afrika&Asia) dan kemerdekaan negara-negara islam
modern(Aljazair&Libya)” dengan tepat waktu.
Kami mengucapkan Terima kasih kepada pihak-pihak yg telah membantu
serta mendukung kami dalam menyelesaikan makalah ini. Terima kasih juga kepada
dosen yg telah membimbing mata kuliah Pengantar Studi Sejarah Peradaban Islam,
yaitu bapak Dr. Zainal, M. Ag yg bersedia memberikan arahan kepada kami
khususnya daalam pembuatan makalah ini. Kami berharap dengan terselesaikannya
makalah ini dapat membantu dan bermanfaaf bagi pembaca nya.
Padang, 14 Juni 2023
Kelompok 12
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ...................................................................................................... 3
BAB I .................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .............................................................................................. 4
A. Latar Belakang ............................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 4
C. Tujuan Penulisan.......................................................................................... 4
BAB II ................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ................................................................................................. 5
A. Invasi Kolonialisasi Bangsa-bangsa Eropa ke Kawasan Dunia Islam ........... 5
Afrika ............................................................................................................... 5
ASIA ................................................................................................................ 8
B. Kemerdekaan Negara-negara Islam Modern ............................................... 10
Aljazair .......................................................................................................... 10
Libya .............................................................................................................. 13
BAB III ............................................................................................................. 15
PENUTUP ........................................................................................................ 15
A. KESIMPULAN ......................................................................................... 15
B. SARAN ..................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 16
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan orientasi baru Eropa dapat mengembangkan ilmu
pengetahuan dalam banyak seginya .Penemuan‐penemuan baru yang
dihasilkan itu, tentunya, meningkatkan taraf hidup ekonomi Eropa, terutama
setelahditemukannya Tanjung Harapan dan benua Amerika. Eropa
mempunyai modal untuk menanamkan pengaruhnya bahkan kemudian
mencaplok daerah‐daerah Islam demi mencapai kepentingan‐
kepentingannya. Dengan kondisi kedua pihak yang tidak seimbang inilah,
Eropa mempunyai peluang yang baik untuk mendominasi dunia Islam.
Dunia Islam pada abad kesembilan belas dihadapkan kepada
tantangan berat dengan bercokolnya dominasi Eropa baik dalam hal
ekonomi maupun politik. Yang demikian ini, boleh dikatakan, hampir
menyeluruh di dunia Islam, walaupun situasinya tidak selalu sama antara
yang satu dengan yang lain. 1
B. Rumusan Masalah
1. Invasi dan Kolonialisasi Bangsa-bangsa Eropa ke Kawasan Dunia Islam
(Afrika dan Asia)
2. Kemerdekaan Negara-negara Islam Modern (Aljazair dan Libya)
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui bagaimana Invasi dan Kolonialisasi Bangsa-bangsa Eropa
ke Kawasan Dunia Islam (Afrika dan Asia)
2. Mengetahui bagaimana Kemerdekaan Negara-negara Islam Modern
(Aljazair dan Libya)
1
Maulana Yusuf “Dunia Islam Abad 19 : Penetrasi Kolonial Barat”, Jurnal Kajian Hukum Islam
dan Sosial Kemasyarakatan, Vol. 11 No. 1, Juni 2011
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Invasi Kolonialisasi Bangsa-bangsa Eropa ke Kawasan Dunia
Islam
1. Afrika
Kemunduran Islam di Afrika bermula dari jatuhnya benteng
pertahanan Islam di Ceuta, seberang Pulau Gibraltar kepada Portugis
pada abad ke lima belas; kemudian menyusullah bangsa Eropa yang lain
mengikuti jejaknya, seperti Inggris, Belanda, dan Perancis. Kedatangan
mereka ini selanjutnya menimbulkan rasa curiga antara yang satu
dengan yang lain. Dalam pada itu, Inggris mengirimkan ekspedisinya
pada abad ke delapan belas untuk menyingkap lebih jauh tentang benua
ini. Sebenarnya di permulaan abad ke Sembilan belas, menurut
Mahmud, Afrika Utara, dari Maroko sampai Tripoli masih berada dalam
kekuasaan kerajaan Usmani, sekalipun penguasa lokal sudah lebih
independen. Akan tetapi kemudian, seperti Algeria dikuasai Perancis
setelah Abdul Qodir dari Mascara sebagai dey‐nya dapat dikalahkan
pada 1830; penaklukan ini terus diperluas sehingga pada 1870 seluruh
Algeria telah jatuh ke tangannya. 2
Berbeda dengan Algeria, Tunisia hanya menjadi daerah protektorat
Perancis dengan Treaty di Bando (12 Mei 1881). Keadaan ini
mendapatkan protes keras dari Usmani, demikian juga dari Italia dan
Inggris; akan tetapi dengan adanya support Jerman tidak ada sesuatu
yang terjadi. 3
2
Mahmud Sayyid Fayyaz, A Short History of Islam, (Karachi‐London Dacca, Oxford University
Press: 1960), hal 591
3
Ibid, hal 592
5
Secara umum Dunia Islam Afrika Hitam (sekaligus menunjuk warna
kulit mereka)mewakili salah satu keragaman budaya Islam yang
mengagumkan sesuai dengan strukturkesukuan bangsa di benua ini.
Keragaman suku di kawasan ini telah memberi arti tersendiri yang
mencerminkan warna keragaman dalam kesatuannya, terutama
dibanding kawasan-kawasan duniamlainnya. Masyarakat-masyarakat
suku yang relatif memiliki kualitas ketenangan seiring denganalam yang
membawakannya, merupakan satu hal yang bisa membentuk ciri khas
bagi dunia yangsatu ini1. Islamisasi yang damai yang dibawakan para
Sufi telah memberi citra pada pengukuhanakan kesan kedamaian yang
cukup mendalam, hingga bentangan Islam yang cukup luas danberagam
di benua ini. Dunia Afrika Hitam telah mempunyai kontak dengan Islam
sejak masa Rasulullah sawdan mereka mempunyai beberapa anggota
masyarakat Islam tertua yang pernah ada, khusunya diEthiopia. Wilayah
ini merupakan tempat dimana Islam tumbuh paling cepat selama
berabad-abad, yang di awali sejak hijrah pertama kaum muslimin dalam
mencari perlindungan kepada Negusatau raja Kristen dan orang-orang
warna kulit hitam pertama kali mengenal dari dekat dengansendirinya
pada Dunia Islam. Sampai sekarang-pun masih juga ditemukan
beberapa masyarakatIslam terbaru karena berbagai alasan mereka baru
mengenal Islam khususnya untuk daerah- daerah pedalamannya. Di
samping Ethiopia, Sudan juga merupakan jalur utama islamisasi
wilayah ini. Penaklukan orang-orang Arab terhadap daerah orang-orang
Nubia dan Funj, merupakan penaklukkan pertama terhadap etnik kulit
hitam. Selanjutnya secara bertahap mereka di islamisasi oleh kelompok
sufi pada abad ke 142. Proses islamisasi dan arabisasi berjalan bersama-
sama, hingga sampai sekarang Bahasa Arab merupakan sebagai bahas
resmi mereka. Oleh karenanya, iamewakili sebuah keragaman tersendiri
bagi kawasan Afrika Hitam secara umum, akibat adanya kenyataan ini.
Wilayah kultural Islam lainnya yang memiliki sejarah Islam yang cukup
panjang adalahZanzibar dan Somalia. Diberitakan bahwa
6
berkembangnya masyarakat Mogadishu berawal daripara imigran dari
al-Ahsha, sementara Zanzibar menerima gelombang imigrasi yang
cukup besardari Shiraz dan pelabuhan-pelabuhan di Teluk Persia pada
abad-abad pertama sejarah Islam.
Pola kehidupan budaya Islam di Afrika Barat merupakan sebuah
bentuk ciptaan dari unit-unitkultur lokal, dimana mereka menguasai dan
memainkan peranan politik regional. Masih di beberapa daerah tertentu
di Afrika Barat, seperti Senegal merupakan daerah yang memiliki corak
kultur yang hampir sama. Mereka menerima penetrasi Islam sekitar
abad ke-19 Mberkat tersebarnya orde-orde sufi di antaranya orde
Tijjaniyah asal Maroko serta anak cabangorde Qodiriyyah yang
dibawakan oleh gerakan Murid pengembangnya yakni Ahmad Bamba.
Islam telah meresap ke dalam jiwa masyarakat, sekalipun belum
menyebabkan suatuproses yang merata. Banyak praktek-praktek tradisi
lokal yang muncul, selama itu tidakbertentangan dengan nilai-nilai
syari’ah nampak terus berlanjut dan dipelihara. Sedangkan
syari’ahsendiri domain penerapannya sebagian besar sudah berlaku
dalam hukum keluarga dan segalasesuatu yang yang berkaitan dengan
hubungan-hubungan antar pribadi, seperti pernikahan, waris,
perdagangan dan sebagainya. Sekalipun ada banyak keragaman budaya
lokal di kawasan dunia Afrika Hitam ini, namunmasih ada suatu maskot
yang cukup kuat mendominasi secara universal dalam kehidupan
budayamereka, seperti halnya yang terlihat dalam kualitas tingkah laku
dan karakter yang seringkalimereka tunjukkan. Begitu juga dalam hal
arsitektur dan dekorasi Islam, serta makanan yangmemiliki suatu
kesaragaman yang sangat menakjubkan.4
4
Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik,
(Depok, PT Raja Grafindo, 2009) hal 211
7
2. ASIA
Asia Tengah hubungan diplomatik dan komersial antara Rusia dan
AsiaTengah pada abad ke enam belas dan tujuh belas telah
berkembangdengan baik. Pada abad berikutnya, Rusia (sebagai rute dari
produk Eropa Barat untuk memasuki Bukhara) dan Turkistan
(sebagaitempat lalu lintas dari produk‐produk India dan Afganistan
untuk diekspor ke Rusia) merupakan dua rute perdagangan penting yang
menghubungkan Rusia dan Asia Tengah. Selanjutnya, pada abad
kesembilan belas, disaat hubungan dagang antara Rusia dan Turkistan
melaju dengan cepatnya, datang Inggris menjadi saingannya. Hal itu
tentu saja menggusarkan Rusia, sehingga dikirimkanlah komisi‐komisi
untuk mendapatkan informasi dengan detail tentang Khiva,dan
khususnya, Bukhara. Kemudian, secara bertahap daerah‐daerah berikut
berada di bawah kekuasaan Rusia yaitu Taskent pada1865, Samarkand
pada 1868, Bukhara pada 1873, Khiva pada 1873,Merv pada 1874, dan
Turkistan. Dengan jatuhnya kota‐kota itu dalam kolonialisme
protektornya, Rusia mendapatkan keuntungan finansialdan dapat
melarang pemerintah atau Amir untuk menjalin hubungandengan
negara‐negara lain.
Portugal bisa bertahan sampai dengan abad ke 17 dan selalu
berseteru dengan penguasa lokal seperti Mataram, Banten, Makasar, dan
Ternate. Namun sejak awal abad 17, Belanda berhasil menanamkan
pengaruhnya di berbagai pusat perdagangan di Asia Tenggara dansecara
perlahan menggusur dominasi Portugal. Setelah berhasilmengusir
Portugal, Belanda kemudian menguasai jalur perdagangan melalui selat
Malaka. Belanda juga berhasil menegakkan kekuasaannya di wilayah
timur seperti Ternate, Banjarmasin, dan Makasar. Dengan semakin
kuatnya pengaruh Belanda secara ekonomimaupun politik militer,
kepentingan perdagangannya berorientasi kepada eksploitasi ekonomi.
Para penguasa lokal dipaksa untuk menyerahkan upeti atau setoran hasil
bumi dan pertanian. Guna meningkatkan hasil pertanian, Belanda
8
bahkan menunjuk pengawas untuk proyek‐proyek penanaman rempah‐
rempah.
Sejak 1795, Belanda telah diduduki Perancis dan dijadikan republik.
Inggris semakin mendesak kedudukan Belanda di Selat Melaka dan
Sumatera dengan penguasaan beberapa wilayah ditangan Inggris.
Bahkan sejak 1786, Pulau Pinang dan sekitarnya telah jatuh dalam
genggaman Inggris. Disusul kemudian pengambil alihan Jawa pada
1811. Hubungan Inggris dan Belanda kemudian diatur dalamPerjanjian
London 1824 yang membagi kepentingan dua penjajah itudi Asia
Tenggara. Inggris tetap menguasai Semenanjung Malaka,sedangkan
Belanda menguasai Sumatera, Jawa, dan wilayah lain kepulauan
nusantara.Setelah dikembalikan oleh Inggris ke tangan Belanda dengan
imbalan Malaka pada 1816, timbulah berbagai perlawanan dari rakyat,
seperti tampak pada perang Patimura pada 1817, Diponegoro tahun
1825‐30, Padri pada tahun 1827‐1837, dan Aceh 1873‐1904 yang
masing‐masing dapat dipatahkan dengan keunggulan senjata dan
tentaranya.
Sejak pertengahan abad ke 19 pemerintah kolonial membuka
sekolah dasar dan beberapa sekolah kejuruan. Pada 1848 dibuka sekolah
Pamongpraja bagi anak pribumi.127 Para alumninya kemudian
mendudukiposisi sebagai pegawai di tingkat bawah birokrasi kolonial.
Walupun demikian, dengan semakin banyaknya pribumi yang
mengenyam pendidikan pada akhirnya menjadi bumerang bagi
pemerintah kolonial.Inggris juga mengikuti jejak Belanda dalam
menanamkanpengaruh dan campur tangan langsung di Semenanjung
Malaka. Disamping juga melakukan perjanjian dengan Kerajaan Siam
sehingga memudahkan untuk mengawasi wilayah itu. Hal ini ditandai
dengan menunjuk residen Inggris di Perak yang harus diperhatikan oleh
sultan dalam urusan keuangan sampai akhirnya Perak, Selangor,Pahang,
dan Negeri Sembilan dibentuk sebagai Negara FederasiMelayu pada
9
1896.128 Menjelang Perang Dunia I, Negeri Federasi danNegeri
Melayu yang tidak masuk dalam federasi seperti Kedah,Kelantan,
Perlis, Trengganu, dan Johor diawasi secara langsung oleh penasihat
Inggris.Wilayah Kalimantan juga mengalami nasib yang tidak berbeda
dengan daerah sekitarnya. Sabah dijadikan sebagai Perusahaan Sewaan
Borneo Utara. Disusul kemudian Brunei dijadikan sebagai protektorat
semu oleh Inggris pada 1888 dengan diangkatnya presiden Inggris di
sana. Akibatnya, Brunei sebagai pusat kekuatan Islam diKalimantan
semakin dipersempit wilayahnya dan kehilangan kedudukan politik
mereka. 5
B. Kemerdekaan Negara-negara Islam Modern
1. Aljazair
Aljazair merupakan salah satu wilayah dari kawasan Afrika Utara.
Aljazair terletak di belahan Afrika Utara yang berbatasan dengan laut
Mediterania. Karena letak geografis ini, Aljazair menjadi sumber daya
alam yang sangat berlimpah dibanding dengan kawasan Afrika Utara
yang lainnya.Funisia dan Romawi merupakan bangsa asing yang pernah
menguasai Aljazair. Funisia menguasai Aljazair pada tahun 1000 SM,
sementara Romawi 146 SM. Setelah itu terjadi ekspansi oleh orang-
orang Arab pada tahun 682, oleh Bani Umayyah dan berhasil
menaklukkan Spanyol dengan bantuan suku Berber, setelah itu
masuklah ajaran agama Islam ke Aljazair hingga saat ini.
Aljazair dikuasai oleh Dinasti al-Muwahhidun pada tahun 1152 di
Maroko yang dipimpin oleh Abdul Mu’min bin Ali yang lahir di
Tlemcen dari suku Zahata di Aljazair. Abdul Mu’min dalam
kepemimpinannya memfokuskan kepada dua hal yaitu pertama
menyebarluaskan tradisi ajaran Islam Muwahidiyyah ke seluruh kabilah
5
Maulana Yusuf, “Dunia Islam Abad 19 : Penetrasi Kolonial Barat “, Jurnal Kajian Islam dan
Sosial Kemasyarakatan, Vol. 11 No. 1, Juni 2011
10
di Maghrib dan menghapuskan seluruh ajaran yang telah disebarkan
Murabbitun. Pada tahun 1525 Aljazair dikuasai oleh Turki Utsmani
melalui Khayruddin dan Aruj yang diberi julukan Barbarossa, dua
saudara yang membebaskan Aljazair dari cengkaraman Spanyol.
Perjuangan tersebut membuat Aljazair Menjadi bagian dari Turki
Utsmani dan dijadikan sebagai pusat bagi pemerintahan
Aljazair.Sebelum datangnya Turki Utsmani negara ini dipimpin dari
golongan kepala suku, para pemimpin lokal dan pemimpin tarekat.
Pada awal masa Islamisasi di Aljazair yang mengenal Islam lebih
dulu hanya para kaum elit dan berkembang atas peranan para
Maraboutisme. Maraboutisme yang ada di Aljazair berasal dari
Andalusia di semenanjung Iberia yang membentuk organisasi dalam
memperkuat gerakan Islam. Marabout sangat besar peranannya dalam
bidang penyebaran agama, ilmu pengetahuan, bidang politik dan bidang
sosial ekonomi. Seiring berjalannya waktu penduduk Aljazair
mayoritasnya menganut agama Islam. Aljazair sering disebut juga
dengan Maghrib atau Berber.7 Negara Maghribi atau Maghrib
merupakan sebutan bagi negara-negara yang berada dibagian utara
benua Afrika, para pedaganglah yang pertama kali menyebut nama
Maghrib. Maghrib meliputi bagian barat jika dilihat dari Jazirah Arab
termasuk Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania dan Sahara
Barat. Berber merupakan suku asli yang keberadaanya sudah ada sejak
masa Romawi. Penduduk Berber merupakan suku asli di kawasan
Afrika Utara.Berber merupakan sekumpulan orang-orang yang tinggal
dikawasan Afrika Utara yang kehidupannya berpindah-pindah. Mereka
merupakan penduduk asli yang ada di Afrika Utara sebelum dan sesudah
datangnya agama Islam.Penduduk Berber merupakan ciri dari penduduk
asli yang berada di Aljazair.
Dinasti Rustamiyah yang saat itu dipimpin oleh Abdurrahman ibn
Rustam telah berhasil menguasai Aljazair. Keberadaan dinasti ini
11
merupakan bentuk dari protes terhadap dominasi Arab yang sunni.
Dinasti Rustamiyah berakhir dengan jatuhnya Tahart Dinasti Fatimiyah
tahun 777-909 M.19 .Dinasti Aghlabiyah merupakan salah satu dinasti
yang pernah berkuasa di Aljazair setelah Dinasti Rustam. Dinasti
Aghlabiyah berdiri di Aljazair tahun 800-909 M, yang didirikan oleh
Ibrahim Ibn al-Aglab. Tujuan dinasti ini untuk menghapuskan
kekuasaan Rustamiyah yang beraliran Khawarij.Kekuasaan Dinasti
Aghlabiyah meluas sampai ke timur Aljazair sehingga ajaran Islam
dengan mudah menyebar luas.Dinasti Fatimiyyah didirikan oleh
Ubaidillah al-Mahdi tahun 1171 di Afrika Utara kemudian menyebar ke
Mesir dan Syria. Meskipun kekuasaannya berada di Mesir, dinasti ini
pengaruhnya sampai ke Aljazair. Dinasti Fatimiyyah merupakan dinasti
yang beraliran Syi’ah Ismailliyah. Dinasti ini di nisbatkan nasabhnya
kepada keturunan Nabi yaitu ke nasab Fatimah binti Rasulullah,
sehingga mereka menamai dinastinya dengan nama Dinasti Fatimiyyah.
Seiring berjalannya waktu perluasan wilayah yang dilakukan Turki
Utsmani dengan pasukan militer yang sangat kuat bermaksud untuk
menaklukan daerah Laut Tengah saat itu yang menjadi Sultan yaitu
Sulaiman Al-Qanuni 1520-1566 dibawah kepemimpinan militer
Khairuddin Barbarosa mengambil alih Aljazair pada tahun 1529.
Aljazair pun dengan resmi telah menjadi provinsi Kesultanan Utsmani
yang berkuasa selama empat abad. Aljazair tumbuh pada masa
penaklukan Turki, otonomi administratif yang diperluas dari Istanbul
dan di integrasi kaum penguasa Turki dengan kepemimpinan Berber dan
Arab lokal.
Kemunduran mulai terasa setelah wafatnya Sultan Sulaiman al-
Qanuni yang digantikan oleh Sultan Salim II 1566.36 Terjadinya
berbagai peperangan yang berujung dengan kekalahan sehingga
membuat kerugian bagi pihak Utsmani.Melemahnya kekuasaan
Utsmani dikarenakan terjadinya perubahan situasi politik yang
12
berdampak pada perubahan ekonomi dan bangkitnya imperialis bangsa
Eropa. Banyak yang mempengaruhi Turki Utsmani, hal ini membuat
terjadinya kemunduran. Melemahnya Utsmani karena sebagian
pemimpin tidak siap sepenuhnya dalam menguasai Utsmani dan semua
daerah kekuasannya. Wilayah-wilayah yang cukup luas membuat sulit
untuk diawasi. Awal dari sinilah proses awal kemunduran Turki Utsmani
terjadi dan membawa Aljazair dalam kekuasaan kolonial Prancis selama
132 tahun.6
2. Libya
Invasi dan kolonialisasi oleh bangsa-bangsa Eropa ke kawasan
Dunia Islam adalah sebuah fenomena yang berlangsung selama
berabad-abad. Proses ini dimulai pada abad ke-7 dengan penaklukan
Arab terhadap wilayah-wilayah di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Namun, dalam konteks kolonialisasi modern, fokus akan diberikan pada
periode yang dimulai pada akhir abad ke-18 dan berlanjut hingga
pertengahan abad ke-20.
Pada abad ke-19, bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis,
Italia, dan Spanyol melakukan ekspansi ke berbagai wilayah di dunia,
termasuk kawasan Dunia Islam. Mereka menggunakan berbagai alasan
untuk melancarkan invasi dan kolonisasi, seperti motivasi ekonomi,
politik, dan misi peradaban. Kawasan-kawasan yang terkena dampak
termasuk wilayah-wilayah di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia.
Salah satu contoh kolonialisasi di kawasan Dunia Islam adalah
kolonisasi Perancis di Aljazair. Perancis menduduki Aljazair pada tahun
1830 dan menjadikannya koloni Prancis hingga tahun 1962. Kolonisasi
ini menyebabkan perlawanan yang gigih dari masyarakat Aljazair dan
perjuangan panjang untuk meraih kemerdekaan.
6
Syaiful Anam, “Sejarah Peradaban Islam di Aljazair”, Jurnal Kajian Pendidikan Islam dan Studi
Islam, Vol 3. No 1. 2020
13
Libya, sebagai bagian dari wilayah Afrika Utara, juga mengalami
pengaruh kolonialisasi Eropa. Pada tahun 1911, Italia menduduki Libya
dan menjadikannya koloni Italia. Kepemimpinan Italia di Libya disertai
dengan penindasan dan eksplorasi ekonomi yang berat. Perlawanan
rakyat Libya terhadap penjajahan Italia dipimpin oleh tokoh-tokoh
seperti Omar Mukhtar, yang melancarkan perjuangan gerilya melawan
pasukan Italia. Namun, Italia berhasil memadamkan perlawanan ini, dan
Libya tetap menjadi koloni Italia hingga Perang Dunia II.
Setelah Perang Dunia II, ketika semangat dekolonisasi melanda
dunia, perjuangan untuk kemerdekaan Libya semakin kuat. Pada tahun
1951, Libya mendapatkan kemerdekaannya sebagai Kerajaan Libya di
bawah Raja Idris. Namun, pada tahun 1969, Muammar Gaddafi
melakukan kudeta dan menggulingkan Raja Idris, menjadikan Libya
sebagai negara republik dengan nama resmi Jamahiriya Arab Libya.
Meskipun Libya merdeka dari penjajahan Eropa, negara ini masih
menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal. Pada tahun 2011,
pemerintahan Gaddafi digulingkan oleh pemberontakan dalam suatu
konflik yang melibatkan campur tangan internasional, termasuk
intervensi militer dari NATO. Pasca-konflik, Libya menghadapi
ketidakstabilan politik dan keamanan yang berkepanjangan, dengan
kekuatan-kekuatan lokal dan internasional yang bersaing untuk
mempengaruhi masa depan negara tersebut.7
7
Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik,
(Depok, PT Raja Grafindo, 2009) hal 225
14
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dapat diambil kesimpulan bahwa Invasi dan kolonialisasi oleh bangsa-
bangsa Eropa ke kawasan Dunia Islam (Afrika dan Asia) memiliki dampak yang
sangat besar bagi bangsa-bangsa tersebut. Selama abad ke-19 dan awal abad ke-
20, bangsa Eropa mengambil alih kekuasaan dan pengaruh dunia Islam, dan
banyak negara di bawah kendali mereka kehilangan kemerdekaan dan martabat.
Invasi dan kolonialisasi oleh bangsa-bangsa Eropa ke kawasan Dunia Islam
(Afrika dan Asia) memiliki dampak yang sangat besar bagi bangsa-bangsa
tersebut. Selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, bangsa Eropa mengambil alih
kekuasaan dan pengaruh dunia Islam, dan banyak negara di bawah kendali
mereka kehilangan kemerdekaan dan martabat.
Walaupun demikian, pascamerdeka, negara-negara Islam masih menghadapi
berbagai tantangan dan masalah, seperti kemiskinan, kemunduran ekonomi,
ketidakstabilan politik, dan masalah sosial. Oleh karena itu, bangsa Islam tetap
harus bersatu dan berjuang atas nama kebebasan, kesetaraan, dan kemakmuran
untuk memajukan masyarakat dan mencapai tujuan-tujuan yang lebih besar
dalam lingkup global.
B. SARAN
Dalam pembuatan makalah ini, kami menyadari bahwa masih terdapat
kesalahan dan kekurangan dalam hasil makalah yang telah kami buat. Dalam
makalah ini juga terdapat kekurangan materi serta sumber rujukan sehingga
kami berharap pembaca memberikan kritik dan juga saran yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini dan dimasa yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama bagi kami sendiri.
15
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, Studi Kawasan Dunia Islam Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-
Politik, Depok;PT Raja Grafindo, 2009
Yusuf, Maulana, “Dunia Islam Abad 19 : Penetrasi Kolonial Barat”, Jurnal Kajian
Hukum Islam dan Sosial Kemasyarakatan, Vol. 11 No. 1, Juni 2011
Sayyid Fayyaz, Mahmud, A Short History of Islam, Karachi‐London Dacca;
Oxford University Press: 1960
Anam,Syaiful, “Sejarah Peradaban Islam di Aljazair”, Jurnal Kajian Pendidikan
Islam dan Studi Islam, Vol 3. No 1. 2020
16