ISIM NASAB (B. Arab)
ISIM NASAB (B. Arab)
Dosen Pengampu :
Disusun Oleh:
1. Puja : 22010007
2. Riyadotul Jannah : 22010029
3. Sri Wahyu Khairani : 22010028
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat kasih dan
karunianya kami menyusunkan makalah ini sesuai waktu yang ditentukan. Selanjutnya
solawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw
yang kita nantikan syafaatnya kelak diyaumul qiyamat.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Al-Qira’ah (Aghradh al-Khassah)”.
Selanjutnya, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen pengampu yang selalu
sabar dalam menghadapi kami yang fakir dengan ilmu pengetahuan ini, terima kasih juga
kepada kawan-kawan yang selalu memberikan motivasi, semoga kebaikan yang kita lakukan
diberkahi oleh Allah SWT amin.
Cukup sekian yang bisa penulis sampaikan dalam kata pengantar ini semoga makalah ini
memberikan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
peningkatan pengetahuan bagi kita.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Quran turun dengan bahasa Arab dikarenakan Rasulullah Saw dan
para Mukhatab pertamanya menggunakan bahasa tersebut. ”Dan Jikalau kami
jadikan Al Quran itu
i tu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah
te ntulah mereka
mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-
ayat -ayatnya?” apakah (patut Al
Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?”
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, kata terbagi menjadi tiga yaitu Isim,
Fi’il, dan Huruf. Namun pada makalah ini akan dibahas tentang isim. Isim
adalah kata yang bermakna
bermakna namun tidak terikat dengan waktu. Fi’il adalah kata
kerja. Dan Huruf adalah kata penghubung.
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan
makalah ini adalah “Isim yang dibaca nasab”.
nasab”.
1
BAB II
PEMBAHASAN
9) tamyiz.
10) zaraf.
11) Mustasna
Mustasna..
12. isim .
13) munada
munada..
14) isim yang ikut pada isim yang dibaca nashab (Tawabi’
(Tawabi’)
memukul zaid).
2
بض : fi’il / kata kerja (sebagai amil) : mabni fathah
ت : fa’il / pelaku : i’rabnya
i’rab nya rafa’ secara
mahalli
ازز : maf’ul bih / objek (sebagai ma’mul): i’rab
i’rabnya
nya nashab
Jadi, از
ز i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih
bih..
3
ك Kamu satu laki-laki ك
Kamu dua laki-laki /
perempuan
Kalian laki-laki
ك Kamu satu perempuan ك
Kalian perempuan
Saya
kami
D}AMIR MU
MUNF
NF A SI L ARTINYA CONTOH
هإإ (hanya
هإإ Dia satu laki-laki kepadanya satu laki-laki
dia menolong)
Dia dua laki-laki /
إإ
perempuan
إإ
إ
إ Mereka laki-laki
إإ
إإ
Dia satu perempuan
إإ
إإ
Mereka perempuan
إإ
كإإ Kamu satu laki-laki كإإ
Kamu dua laki-laki /
إإ
إإ
perempuan
إ
إ Kalian laki-laki
إإ
كإإ Kamu satu perempuan كإإ
إإ
Kalian perempuan
إإ
يإإ Saya يإإ
إإ
kami
إإ
2. Maf’ul bih ghoiru sarih (tidak jelas), yaitu ada tiga macam:
a. Berupa kalimat yang dita’wil (dirubah) masdar setelah adanya huruf
yang menta’wil
menta’wil masdar (seperti نأ).). Contoh: أ (saya
tahu bahwa kamu bersungguh-sungguh). Susunan أ
أ adalah
4
maf’ul bih berupa kalimat yang dita’wil
di ta’wil masdar karena ada huruf
masdarnya, yaitu نأ . ta
ta’’wil dari أ
أ adalah كد
اا
(kesungguhanmu).
Jadi, أ
أ I’rab
rabnya
nya adalah nashab secara mahalli
mahalli.. Artinya أ
أ
beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih
bih..
Keterangan
1. Pada dasarnya maf’ul bih berada setelah fi’il dan fa’il. Contoh: ز
ز
ض
ض
(saya memukul zaid). از
ز kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim
zahir. Lafaz از
ز sebagai maf’ul berada setelah fi’
fi’il (ب)ض dan fa
fa’’il ()ت
akan tetapi adakalnya:
a. Maf’ul berada setelah fi’il tapi sebelum fa’il (fi’il + maf’ul + fa’il), yaitu
dalam tiga keadaan:
1) Jika fa’ilnya bersambung dengan isim d}amir yang kembali kepada
maf’ul bih
bih.. Contoh: غغ
سس مأ
أ (anaknya memulyakan sa’
sa’id).
اس
س kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz ا
سس
sebagai maf’ul bih berada setalah fi’il (مأ)أ akan tetapi berada
sebelum fa’il (مغ) karena fa
fa’’ilnya bersambung dengan isim d}amir
5
yang kembali kepada maf’ul ( غغ ). D}amir ه
kembali kepada
maf’ul bih (اس
)س
2) Jika fa’ilnya berupa isim zahir dan maf’ul bih berupa isim d}amir
muttasil. contoh: ز
ض
ض (zaid memukulku). kedudukannya
sebagai maf’ul bih berupa isim d}amir. Lafaz sebagai maf’ul bih
berada setelah fi’il (ب)ض tapi berada sebelum fafa’’il ( زز ) karena
maf’ul bih berupa isim d}amir muttasil ( ) sedangkan fa fa’’ilnya berupa
isim zahir ( ز
ز )
3) Jika fa’ilnya berupa lafaz yang dikecualikan ( Mustasna
Mustasna).
). Contoh:
خخ إ
سس مأ
أ. (tidak ada yang memulyakan sa’ sa’id kecuali kholid).
اس
س kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz ا سس
sebagai maf’ul bih berada setealah fi’il ( مأ أ) tapi sebelum fa
fa’’il ( خ
)خ,) ,
karena fa’ilnya ( )خخ berupa lafaz yang dikecualikan.
b. Maf’ul berada sebelum fi’il dan fa’il (maf’ul + fi’il + fa’il ). Yaitu dalam
beberapa keadaan, yaitu:
1) Maf’ul bih berupa isim syarat (isim yang butuh pada jawab). Contoh:
ف (barang siapa yang Allah sesatkan, maka dia
tidak akan mendapatkan petunjuk). kedudukannya maf’ul bih
berupa isim zahir. Lafaz sebagai maf’ul bih berada sebelum fi’ fi’il
() dan fa’
fa’il (), karena maf’ul bih berupa isim syarat ()
2) Maf’ul bih berupa isim isim nahi (pertanyaan). Contoh: ا
ا يف
نو (maka ayat yang mana yang kamu kalian ingkari?). يأ
kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz يأ sebagai
maf’ul bih berada sebelum fi’il (نو) dan fa fa’’il (d}amir yang
tersimpan, yaitu ), karena maf’ul bih berupa isim nahi (يأ)
3) Maf’ul bih berupa atau yang bermakna berita (bukan
pertanyaan). Contoh: (banyak kitab yang saya punya).
kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz
sebagai maf’ul berada sebelum fi’il () dan fa fa’’il (ت), ), karena berupa
.
4) Berupa maf’ul bih yang dinashab kan oleh jawab أ
dinashabkan أ . contoh:
اا ف
ف
ف (maka janganlah memaksa anak yatim). اا kedudukannya
sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz
اا berada sebelum fi’ fi’il
() dan fa’ d}amir yang tersimpan, yaitu
fa’il ((d}amir )أأ
5) Maf’ul bih yang didahulukan karena tujuan mengkhususkan. Contoh:
كإإ (hanya kepadaMU kami menyembah). كإإ kedudukannya
sebagai maf’ul bih berupa isim d}amir. Lafaz كإإ berada sebelum fi’
fi’il
6
( ) dan fa’
fa’il (isim d}amir yang tersimpan, yaitu ), karena
bertujuan menghususkan maf’ul bih
2. Pada dasarnya fi’il dari maf’ul bih disebutkan. Contoh: ز
ز
ض
ض (saya
memukul zaid). از
ز kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir.
Lafaz از
ز sebagai maf’ul bih disebutkan dalam perkataan.
Akan tetapi adakalnya maf’ul bih tidak disebut dalam suatu perkataan.
Contoh:
خخ
قق
رر
أأ اذ (apa yang Allah turunkan padamu? Mereka
berkata, kebaikan). اخخ kedudukannya sebagai maf’il bih berupa isim zahir.
Fi’il dari maf’ul bih dibuang. Asalnya adalah خ
خ لأأ . lafaz لأأ adalah
fi’il yang tidak disebutkan
B. Maf’ul Ma’ah
Ciri-Ciri Maf’ul Ma’ah
a. Cocok bermakna “bersama”
b. Berada setelah wawu ma’ah (wawu yang bermakna bersama)
c. Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Contoh: شا
وا اا (pemimpin itu datang bersama bala tentaranya)
Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’
al-asma’ adalah maf’ul ma’ah
ma’ah.. Secara istilah, maf’ul
ma’ah adalah isim yang dibaca nashab yang berada setelah wawu ma’iyah
(yaitu و yang menunjukkan arti bersama).
7
شا
ا : maf’ul ma’ah (sebagai ma’mul) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
Jadi, شا
ا i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul
ma’ah.. Tanda i’rab
ma’ah nya adalah fathah karena ش
i’rabnya اا adalah isim mufrad.
Lafaz شا
ا beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah karena telah memenuhi 3
syarat diatas, yaitu:
1. شا
ا (prajurit) adalah fudlah. Artinya, tanpa lafaz fudlah tersebut (شا
)ا,
susunan اا (raja itu datang) sudah mempunyai pengertian yang
lengkap. Jadi, ketika ada perkataan اا (raja itu datang), maka
perkataan ini sudah mempunyai pengertian yang lengkap, yaitu bahwa
raja telah datang. Sedangkan شا
ا (lafaz fudlah) hanya sebagai tambahan
saja.
2. Sebelum wawu (و ) adalah berupa jumlahFi
jumlahFi’’liyah
liyah,, yaitu susunan fi’
fi’il ( )
dan fa’il (
)اا
3. Wawu (و ) bermakna ع (bersama). Pada contoh diatas, raja datang
bersama prajurit.
8
3. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-3, yaitu ketika wawu ( و ) tidak
bermakna ع (bersama):
وو ز (zaid datang dan burhan datang
setelahnya).
ن i’rab
rabnya
nya adalah rafa
rafa’’ karena athaf kepada isim yang dibaca rafa
rafa’’,
yaitu ز
ز . lafaz ن tidak beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah karena
wawu (و ) pada contoh ini tidak bermakna ع (bersama), karena ن dan
زز
tidak datang bersamaan. زز datang terlebih dahulu, kemudian ن
datang setelah ز
ز .
Keterangan
Amil yang menashab
menashabkan
kan maf’ul ma’ah adalah:
1. Berupa fi’il yang berada sebelum maf’ul ma’ah
ma’ah.. Contoh: ااو
اا
(raja itu datang bersama prajurit). ش
اا i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah
ma’ah.. Amil yang menashab
menashabkan
kan شا
ا
sebagai maf’ul ma’ah adalah (berupa fi’
fi’il)
2. Berupa isim yang menyerupai fi’il (isim masdar, isim fa’il, isim maf’ul, sifat
C. Maf’ul Liajlih
Ciri-Ciri Maf’ul Liajlih
a. Cocok bermakna “karena”
b. Sebagai alasan terjadinya pekerjaan
c. Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
d. Berupa masdar qalbi (pekerjaan hati)
Contoh: ت ض
اا
ااأ
أ ن (mereka menafkahkan hartanya karena
mengharap ridlo Allah)
Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’
al-asma’ (isim
isim--isim yang dibaca nashab
nashab)) maf’ul
liajlih.. Secara istilah, maf’ul liajlih adalah isim masdar yang dibaca nashab
liajlih
yang berfungsi untuk menjelaskan sebab / alasan suatu pekerjaan yang
dilakukan sebelumnya.
9
2. Harus berupa masdar qalbi (yaitu masdar yang menunjukkan pekerjaan
hati, jiwa atau perasaan).
3. Masdar qalbi dan fi’ilnya (sebagai amil) dilakukan dalam waktu yang
sama.
4. Masdar qalbi dan fi’ilnya (sebagai amil) mempunyai fa’il (pelaku) yang
sama.
5. Masdar qalbi yang sama waktu dan pelakunya dengan fi’il ini, harus
merupakan suatu alasan terjadinya suatu pekerjaan yang dilakukan.
Contoh maf’ul liajlih yang memenuhi syarat adalah: اا ا
اأ
أ ن
تض (mereka menafkahkan hartanya karena mengharap ridlo Allah).
ن : fi’il mud}ari’ (sebagai amil)
اا
: maf’ul liajlih (sebagai ma’mul) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
: fa’il berupa d}amir yang tersimpan dalam lafaz ن
Jadi, اا i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul
liajlih.. Tanda i’rab
liajlih nya adalah fathah karena
i’rabnya اا adalah isim mufrad.
Lafaz اا sebagai maf’ul liajlih ini beri’rab nahsob karena telah memenuhi 5
syarat, yaitu:
1.
اا adalah isim masdar. Fi
Fi’’il mad}i
mad}inya
nya adalah اا .
2. ا (mengharap) adalah pekerjaan hati (masdar
ا ( masdar qalbi
qalbi))
3. اا (mengharap; sebagai masdar qalbi
qalbi)) dan ن (menafkahkan;
sebagai fi’il / amil) dilakukan dalam waktu yang sama. Artinya, ketika
mereka menafkahkan hartanya, ketika itu pula mereka mengharap ridlo
Allah.
4. اا
(mengharap; sebagai masdar qalbi
qalbi)) dan ن (menafkahkan;
sebagai fi’il / amil) mempunyai fa’il (pelaku) yang sama, yaitu mereka.
Artinya, orang yang menafkahkan hartanya adalah mereka. Orang yang
berharap ridlo Allah juga mereka.
5. اا (mengharap;
(menafkahkan;
qalbi)) itu adalah alasan dari ن
sebagai masdar qalbi
sebagai fi’il / amil). Artinya, alasan mereka menafkahkan
hartanya adalah karena mengharap ridlo Allah.
1. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-2, yaitu masdar bukan masdar
qalbi::
qalbi ئ (saya datang karena untuk makan). Jadi, أ
أ dijerkan
10
dengan huruf jer ()ل karena أ
أ bukan pekerjaan hati, melainkan pekerjaan
tubuh yang tampak.
2. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-3, yaitu masdar dan fi’ilnya
dilakukan dalam waktu yang tidak sama: غ ا
ا ذ
ذ (majid
telah pergi karena untuk mencari ilmu besok). Jadi,
ط
ط dijerkan dengan
huruf jer ( )ل karena
ط
ط (masdar) dan
ذ ذ (fi’
fi’il) dilakukan dalam waktu
yang tidak sama. ذذ (pergi; sebagai fi’
fi’il / amil) dilakukan pada waktu
lampau / mad}i
mad}i.. Sedangkan ط
ط (mencari; sebagai fi’
fi’il / amil) dilakukan
pada waktu yang yang akan datang / istiqbal, yaitu besok ( اغ )
3. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-4, yaitu masdar dan fi’ilnya tidak
mempunyai fa’il (pelaku) yang sama: س
سا
ححأ (saya suka
padamu karena kamu memulyakan ustadz). Jadi, dijerkan dengan
huruf jer ( ل ) karena (masdar) dan حأ (fi’
fi’il) tidak mempunyai
fa’il yang sama. Pelaku dari حأ (suka; sebagai masdar) adalah saya ( ت
). Sedangkan pelaku dari (memulyakan; sebagai fi’ fi’il / amil) adalah
kamu ( ك )
D. Isim ن Dan Saudara-Saudaranya dan KHABAR ن ك dan saudara-
saudaranya
Pada pembahasan marfu’at al-
al-asma’, ن dan saudara-saudaranya sudah
dibahas panjang lebar. Amal ن dan saudara-saudaranya adalah merafa
merafa’’kan
mubtada’ sebagai isim
isimnya
nya dan menashab
menashabkan
kan khabarnya. Jadi yang termasuk
dari mansubat al-asma’
al-asma’ (isim
isim--isim yang dibaca nashab
nashab)) adalah khabar ن
dan saudara-saudaranya. Contoh: ؤ
ؤ س
اا ص (sholat
jamaah itu adalah sunnah muakkad)
: amil nawasikh
ةص : isim (asalnya mubtada
mubtada’’) : i’rab
i’rabnya
nya rafa’
س
س : khabar (asalnya khabar) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
Jadi,
سس i’rab
rabnnya
nnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai khabar
. Tanda i’rab nashabnya adalah fathah karena س
nashabnya س adalah isim mufrad.
11
نإ : amil nawasikh
سسا : isim نإ (asalnya mubtada
mubtada’’) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
ااو
: khabar نإ (asalnya khabar) : i’rab
i’rabnya
nya rafa’
Jadi,
سس ا i’rab nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai isim نإ .
rabnya
tanda i’rab nashab
nashabnyanya adalah fathah karena
سسا adalah isim mufrad
12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mansubat Al-Asma’ (Isim-Isim Yang Dibaca Nashab Yang dimaksud
dengan mansubat al-asma’
al-asma’ adalah kalimat isim yang keadaannya beri’rab nashab
nashab..
Jadi jika ada kalimat isim yang kedudukannya menjadi salah satu dari mansubat al-
asma’ ini, maka kalimat isim tersebut pasti ber i’rab nahsob.
13
DAFTAR ISI
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Agama Islam ....................................
.................................... 2
B. Dasar Pendidikan Islam............................................
Islam.........................................................
............. 2
C. Tujuan Pendidikan Islam..............................................
Islam.......................................................
......... 5
D. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................
.................................................................
...............................
......... 8
B. Saran...........................................
..................................................................
...........................................
.................... 8
DAFTAR PUSTAKA
ii
16