0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
570 tayangan16 halaman

ISIM NASAB (B. Arab)

Makalah ini membahas tentang isim-isim yang dibaca nashab (mansubat al-asma) yang terdiri dari empat jenis yaitu maf'ul bih, maf'ul ma'ah, maf'ul liajlih dan khabar kana. Maf'ul bih adalah objek dari suatu pekerjaan fa'il, sedangkan maf'ul ma'ah dan liajlih berkaitan dengan hal dan sebab akibat.

Diunggah oleh

Nobody
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
570 tayangan16 halaman

ISIM NASAB (B. Arab)

Makalah ini membahas tentang isim-isim yang dibaca nashab (mansubat al-asma) yang terdiri dari empat jenis yaitu maf'ul bih, maf'ul ma'ah, maf'ul liajlih dan khabar kana. Maf'ul bih adalah objek dari suatu pekerjaan fa'il, sedangkan maf'ul ma'ah dan liajlih berkaitan dengan hal dan sebab akibat.

Diunggah oleh

Nobody
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISIM-ISIM YANG DI NASHABKAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Al-Qira’ah (Aghradh al-khassah)

Dosen Pengampu :

Drs. Puli Taslim Nst, MA

Disusun Oleh:

1. Puja : 22010007
2. Riyadotul Jannah : 22010029
3. Sri Wahyu Khairani : 22010028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
MANDAILING NATAL
T. A 2023
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat kasih dan
karunianya kami menyusunkan makalah ini sesuai waktu yang ditentukan. Selanjutnya
solawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw
yang kita nantikan syafaatnya kelak diyaumul qiyamat.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Al-Qira’ah (Aghradh al-Khassah)”.
Selanjutnya, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen pengampu yang selalu
sabar dalam menghadapi kami yang fakir dengan ilmu pengetahuan ini, terima kasih juga
kepada kawan-kawan yang selalu memberikan motivasi, semoga kebaikan yang kita lakukan
diberkahi oleh Allah SWT amin.

Cukup sekian yang bisa penulis sampaikan dalam kata pengantar ini semoga makalah ini
memberikan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
peningkatan pengetahuan bagi kita.

Panyabungan, 13 September 2023

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Quran turun dengan bahasa Arab dikarenakan Rasulullah Saw dan
para Mukhatab pertamanya menggunakan bahasa tersebut. ”Dan Jikalau kami
jadikan Al Quran itu
i tu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah
te ntulah mereka
mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-
ayat -ayatnya?” apakah (patut Al
Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?”
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, kata terbagi menjadi tiga yaitu Isim,
Fi’il, dan Huruf. Namun pada makalah ini akan dibahas tentang isim. Isim
adalah kata yang bermakna
bermakna namun tidak terikat dengan waktu. Fi’il adalah kata
kerja. Dan Huruf adalah kata penghubung.

B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan
makalah ini adalah “Isim yang dibaca nasab”.
nasab”.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Mansubat Al-Asma’ (Isim-Isim Yang Dibaca Nashab)


Yang dimaksud dengan mansubat al-asma’
al-asma’ adalah kalimat isim yang
keadaannya beri’rab nashab
nashab.. Jadi jika ada kalimat isim yang kedudukannya
menjadi salah satu dari mansubat al-asma’
al-asma’ ini, maka kalimat isim tersebut pasti
beri’rab nahsob. mansubat al-asma’
al-asma’ ada 14 macam, yaitu:
1) dua maf’ul ‫ظ‬.
2) khabar ‫ن‬ dan saudara-saudaranya.
3) isim ‫ن‬‫إ‬. Dan saudara-saudaranya.
4) maf’ul bih
bih..
5) maf’ul ma’ah
ma’ah..
6) maf’ul liajlih
liajlih..
7) masdar.
8) haal.

9) tamyiz.
10) zaraf.
11) Mustasna
Mustasna..
12. isim .
13) munada
munada..
14) isim yang ikut pada isim yang dibaca nashab (Tawabi’
(Tawabi’)

Dan pada pertemuan ini penulis hanya membahasa tentang (Maful’bih,


Maf’ul ma’ah, Maful liajlih dan isim inna dan khabar kana )

A. Maf’ul Bih (Objek)


Ciri-Ciri Maf’ul B ih
a. Cocok bermakna “kepada”
b. Sebagai objek dari pekerjaannya fa’il
c. Berada setelah fi’il muta’addi
d. Berupa isim zahir / d}amir / fi’il yang di dahului ‫ن‬‫أ‬ / kata yang didahului
‫ن‬‫أ‬
contoh: ‫ن‬‫ا‬
‫ا‬ ‫خخ‬  (sungguh kami menciptakan manusia)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’
al-asma’ (isim
isim--isim yang dibaca nashab
nashab)) adalah
maf’ul bih
bih.. Secara sederhana, maf’ul bih adalah objek dari suatu pekerjaan.
Menurut istilah, maf’ul bih adalah isim yang dibaca nashab yang menjadi
sasaran / objek dari pekerjaan fa’il (pelaku) . contoh: ‫ز‬
‫ز‬ 
‫ض‬
‫ض‬ (saya

memukul zaid).

2
‫ب‬‫ض‬ : fi’il / kata kerja (sebagai amil) : mabni fathah
‫ت‬ : fa’il / pelaku : i’rabnya
i’rab nya rafa’ secara
mahalli
‫ا‬‫زز‬ : maf’ul bih / objek (sebagai ma’mul): i’rab
i’rabnya
nya nashab
Jadi, ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬ i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih
bih..

Tanda nashab nya adalah fathah karena ‫ا‬‫ز‬


nashabnya ‫ز‬ adalah isim mufrad. Lafaz ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬
disebut nahsob karena menjadi objek / sasaran dari pekerjaan fa’il, yaitu saya
memukul (  ‫)ض‬
Ada dua pembagian isim maf’ul, yaitu:
1. Maf’ul bih sarih (jelas)
Yaitu maf’ul bih yang jelas (tidak berupa ta’wil masdar, jumlah, jar
majrur). Maf’ul bih sarih ini ada dua macam, yaitu:
a. Isim zahir (isim
( isim asli dan bukan kata ganti). Contoh: ‫اا‬  ‫ي‬‫ا‬‫ا‬‫و‬

‫أأ‬ 
 ‫سس‬ (sesuatu yang mewajibkan mandi ada 6 hal). Jadi, 
‫اا‬
i’rabnya
i’rab nya nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim
zahir. Tanda i’rab nya adalah fathah karena 
i’rabnya ‫اا‬ adalah isim mufrad.
b. Isim d}amir (kata ganti). Contoh:  (saya telah menolongmu).
Jadi, ‫ك‬ I’rab
rabnya mahalli.. Artinya ‫ك‬ beri’rab
nya adalah nashab secara mahalli
nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih
bih.. Secara lafaz, ‫ك‬
adalah mabni karena ‫ك‬ adalah termasuk dari isim mabni
mabni,, yaitu isim
d}amir.
Maf’ul bih isim d}amir ini ada dua macam, muttas}il dan munfas}il.
Rinciannya sebagai berikut:
1) D}amir muttasil (bersambung). Contoh:  (saya telah
menolongmu). Jadi, ‫ك‬ I’rab
rabnya
nya adalah nashab secara mahalli
mahalli..
Artinya ‫ك‬ beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul
bih.. Secara lafaz,
bih ‫ك‬ adalah mabni karena ‫ك‬ adalah termasuk dari
isim mabni
mabni,, yaitu isim d}amir.
Rincian maf’ul bih d}amir muttasil adalah sebagai berikut:

D}AMIR MUTASHIL ARTINYA CONTOH


‫ه‬ (dia menolong dia
‫ه‬ Dia satu laki-laki
satu laki-laki)
Dia dua laki-laki /
 perempuan

 Mereka laki-laki 
 Dia satu perempuan 
 Mereka perempuan 

3
‫ك‬ Kamu satu laki-laki ‫ك‬ 
Kamu dua laki-laki /
 perempuan

 Kalian laki-laki 
‫ك‬ Kamu satu perempuan ‫ك‬ 
 Kalian perempuan 
 Saya 
 kami 

2) D}amir munfasil (berpisah). Contoh:  ‫ك‬‫إإ‬ (hanya kepada-MU


kami menyembah). Jadi, ‫ك‬‫إإ‬ I’rab rabnya
nya adalah nashab secara
mahalli.. Artinya ‫ك‬ beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai
mahalli
bih.. Secara lafaz, ‫ك‬‫إإ‬ adalah mabni karena ‫ك‬‫إإ‬ adalah
maf’ul bih
termsuk dari isim mabni
mabni,, yaitu isim d}amir.
Rincian maf’ul bih d}amir munfasil adalah sebagai berikut:

D}AMIR MU
MUNF
NF A SI L ARTINYA CONTOH
 ‫ه‬‫إ‬‫إ‬ (hanya
‫ه‬‫إإ‬ Dia satu laki-laki kepadanya satu laki-laki
dia menolong)
Dia dua laki-laki /
‫إإ‬
 perempuan
 
‫إإ‬
‫إ‬
‫إ‬ Mereka laki-laki  
‫إإ‬
‫إإ‬
 Dia satu perempuan  
‫إإ‬
‫إإ‬
 Mereka perempuan  
‫إإ‬
‫ك‬‫إإ‬ Kamu satu laki-laki  ‫ك‬‫إ‬‫إ‬
Kamu dua laki-laki /
‫إإ‬
  
‫إإ‬
perempuan
‫إ‬
‫إ‬ Kalian laki-laki  
‫إإ‬
‫ك‬‫إإ‬ Kamu satu perempuan  ‫ك‬‫إ‬‫إ‬
‫إإ‬
 Kalian perempuan  
‫إإ‬
‫ي‬‫إإ‬ Saya  ‫ي‬‫إ‬‫إ‬
‫إإ‬
 kami  
‫إإ‬

2. Maf’ul bih ghoiru sarih (tidak jelas), yaitu ada tiga macam:
a. Berupa kalimat yang dita’wil (dirubah) masdar setelah adanya huruf
yang menta’wil
menta’wil masdar (seperti ‫ن‬‫أ‬).). Contoh:  ‫أ‬  (saya
tahu bahwa kamu bersungguh-sungguh). Susunan  ‫أ‬
‫أ‬ adalah

4
maf’ul bih berupa kalimat yang dita’wil
di ta’wil masdar karena ada huruf
masdarnya, yaitu ‫ن‬‫أ‬ . ta
ta’’wil dari  ‫أ‬
‫أ‬ adalah ‫ك‬‫د‬
‫اا‬
(kesungguhanmu).
Jadi,  ‫أ‬
‫أ‬ I’rab
rabnya
nya adalah nashab secara mahalli
mahalli.. Artinya ‫أ‬
‫أ‬
 beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih
bih..

Akan tetapi secara lafaz, ‫ن‬‫أ‬ adalah huruf, hukumnya mabni


mabni.. ‫ك‬
hukumnya mabni karena isim d}amir.  I’rab
rabnya
nya adaah rafa
rafa’’
karena kedudukannya sebagai khabar ‫ن‬‫أ‬ .
b. Berupa jumlah (susunan kata) yang yang dita’wil
dita’wil mufrad. Contoh:
 
‫ظ‬
‫ظ‬ (saya menyangkamu bersungguh-sungguh). Lafaz 
adalah maf’ul bih berupa jumlah (berupa susunan fi’il dan fa’il). 
ini adalah jumlah yang dita’wil
dita’wil mufrad. Ta’wil  adalah 
(yang bersungguh-sungguh)
Jadi,  I’rab
rabnya
nya adalah nashab secara mahalli 
mahalli.. Artinya
beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul kedua dari ‫ظ‬ .
Akan tetapi secara lafaz,  I’rab
rabnya
nya adalah rafa
rafa’’ karena berupa
fi’il mud}ari’ yang tidak didahului oleh amil nashab dan amil jazm
c. Berupa jer majrur (huruf jer dan isim yang dijerkan). Contoh: ‫أأ‬

‫ك‬ (saya memegang tanganmu). ‫ك‬ adalah maf’ul bih berupa jer
majrur.
Jadi, ‫ك‬ I’rab
rabnya
nya adalah nashab secara mahalli
mahalli.. Artinya ‫ك‬
beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih
bih..
Akan tetapi secara lafaz, ‫ب‬ adalah mabni karena berupa isim d}amir.
‫ك‬ I’rabnya jer karena didahului oleh huruf jer (‫)ب‬
rabnya

Keterangan
1. Pada dasarnya maf’ul bih berada setelah fi’il dan fa’il. Contoh: ‫ز‬
‫ز‬ 
‫ض‬
‫ض‬
(saya memukul zaid). ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬ kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim
zahir. Lafaz ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬ sebagai maf’ul berada setelah fi’
fi’il (‫ب‬‫)ض‬ dan fa
fa’’il (‫)ت‬
akan tetapi adakalnya:
a. Maf’ul berada setelah fi’il tapi sebelum fa’il (fi’il + maf’ul + fa’il), yaitu
dalam tiga keadaan:
1) Jika fa’ilnya bersambung dengan isim d}amir yang kembali kepada
maf’ul bih
bih.. Contoh: ‫غغ‬ 
 ‫سس‬ ‫م‬‫أ‬
‫أ‬ (anaknya memulyakan sa’
sa’id).
‫ا‬‫س‬
‫س‬ kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz ‫ا‬
‫سس‬
sebagai maf’ul bih berada setalah fi’il (‫م‬‫أ‬‫)أ‬ akan tetapi berada
sebelum fa’il (‫م‬‫غ‬) karena fa
fa’’ilnya bersambung dengan isim d}amir

5
yang kembali kepada maf’ul ( ‫غغ‬ ). D}amir ‫ه‬
 kembali kepada
maf’ul bih (‫ا‬‫س‬
‫)س‬
2) Jika fa’ilnya berupa isim zahir dan maf’ul bih berupa isim d}amir
muttasil. contoh: ‫ز‬ 
‫ض‬
‫ض‬ (zaid memukulku).  kedudukannya
sebagai maf’ul bih berupa isim d}amir. Lafaz  sebagai maf’ul bih

berada setelah fi’il (‫ب‬‫)ض‬ tapi berada sebelum fafa’’il ( ‫زز‬ ) karena
maf’ul bih berupa isim d}amir muttasil ( ) sedangkan fa fa’’ilnya berupa
isim zahir ( ‫ز‬
‫ز‬ )
3) Jika fa’ilnya berupa lafaz yang dikecualikan ( Mustasna
Mustasna).
). Contoh: 
‫خخ‬ ‫إ‬ 
‫سس‬ ‫م‬‫أ‬
‫أ‬. (tidak ada yang memulyakan sa’ sa’id kecuali kholid).
‫ا‬‫س‬
‫س‬ kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz ‫ا‬ ‫سس‬
sebagai maf’ul bih berada setealah fi’il ( ‫م‬‫أ‬ ‫أ‬) tapi sebelum fa
fa’’il ( ‫خ‬
‫)خ‬,) ,
karena fa’ilnya ( ‫)خخ‬ berupa lafaz yang dikecualikan.
b. Maf’ul berada sebelum fi’il dan fa’il (maf’ul + fi’il + fa’il ). Yaitu dalam
beberapa keadaan, yaitu:
1) Maf’ul bih berupa isim syarat (isim yang butuh pada jawab). Contoh:
   ‫ف‬   (barang siapa yang Allah sesatkan, maka dia
tidak akan mendapatkan petunjuk).  kedudukannya maf’ul bih
berupa isim zahir. Lafaz  sebagai maf’ul bih berada sebelum fi’ fi’il
() dan fa’
fa’il (), karena maf’ul bih berupa isim syarat ()
2) Maf’ul bih berupa isim isim nahi (pertanyaan). Contoh: ‫ا‬
‫ا‬ ‫ي‬‫ف‬
‫ن‬‫و‬ (maka ayat yang mana yang kamu kalian ingkari?). ‫ي‬‫أ‬
kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz ‫ي‬‫أ‬ sebagai
maf’ul bih berada sebelum fi’il (‫ن‬‫و‬) dan fa fa’’il (d}amir yang
tersimpan, yaitu ), karena maf’ul bih berupa isim nahi (‫ي‬‫أ‬)
3) Maf’ul bih berupa  atau  yang bermakna berita (bukan
pertanyaan). Contoh:    (banyak kitab yang saya punya).
 kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz 
sebagai maf’ul berada sebelum fi’il () dan fa fa’’il (‫ت‬), ), karena berupa
 .
4) Berupa maf’ul bih yang dinashab kan oleh jawab ‫أ‬
dinashabkan ‫أ‬ . contoh: 
‫اا‬ ‫ف‬
‫ف‬
 ‫ف‬ (maka janganlah memaksa anak yatim).  ‫اا‬ kedudukannya
sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz 
‫اا‬ berada sebelum fi’ fi’il
() dan fa’ d}amir yang tersimpan, yaitu 
fa’il ((d}amir ‫)أأ‬
5) Maf’ul bih yang didahulukan karena tujuan mengkhususkan. Contoh:
 ‫ك‬‫إإ‬ (hanya kepadaMU kami menyembah). ‫ك‬‫إ‬‫إ‬ kedudukannya
sebagai maf’ul bih berupa isim d}amir. Lafaz ‫ك‬‫إ‬‫إ‬ berada sebelum fi’
fi’il

6
(  ) dan fa’
fa’il (isim d}amir yang tersimpan, yaitu ), karena
bertujuan menghususkan maf’ul bih
2. Pada dasarnya fi’il dari maf’ul bih disebutkan. Contoh: ‫ز‬
‫ز‬ 
‫ض‬
‫ض‬ (saya
memukul zaid). ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬ kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir.
Lafaz ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬ sebagai maf’ul bih disebutkan dalam perkataan.
Akan tetapi adakalnya maf’ul bih tidak disebut dalam suatu perkataan.
Contoh: 
‫خخ‬ 
‫قق‬ 
‫رر‬ 
‫أأ‬ ‫ا‬‫ذ‬ (apa yang Allah turunkan padamu? Mereka
berkata, kebaikan). ‫ا‬‫خخ‬ kedudukannya sebagai maf’il bih berupa isim zahir.
Fi’il dari maf’ul bih dibuang. Asalnya adalah ‫خ‬
‫خ‬ ‫ل‬‫أأ‬ . lafaz ‫ل‬‫أ‬‫أ‬ adalah
fi’il yang tidak disebutkan

B. Maf’ul Ma’ah
Ciri-Ciri Maf’ul Ma’ah
a. Cocok bermakna “bersama”
b. Berada setelah wawu ma’ah (wawu yang bermakna bersama)
c. Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Contoh: ‫ش‬‫ا‬
‫وا‬  ‫اا‬  (pemimpin itu datang bersama bala tentaranya)


Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’
al-asma’ adalah maf’ul ma’ah
ma’ah.. Secara istilah, maf’ul
ma’ah adalah isim yang dibaca nashab yang berada setelah wawu ma’iyah
(yaitu ‫و‬ yang menunjukkan arti bersama).

Syarat-Syarat Maf’ul Ma’ah


Ma’ah
Kalimat isim yang berada setelah wawu ( ‫و‬ ) itu harus dinashab
dinashabkan
kan sebagai
maf’ul ma’ah jika memenuhi 3 syarat, yaitu:
1. Kalimat isim yang berada setelah wawu ( ‫و‬ ) itu harus merupakan fudlah
(yaitu kalimat tambahan, yang mana susunan kalimat sudah dianggap sah /
lengkap pengertiannya meskipun tanpa adanya kalimat tambahan tersebut)
2. Sebelum wawu ( ‫و‬ ) harus berupa jumlah, baik jumlahFi
jumlahFi’’liyah (susunan
fi’il dan fa’il) atau jumlahismiyah (susunan mubtada’ khabar ).
3. Wawu ( ‫و‬ ) yang berada sebelum kalimat isim itu harus bermakna ‫ع‬
(bersama).
Contoh maf’ul ma’ah yang sudah memenuhi 3 syarat adalah: ‫اا‬ 

‫ش‬‫ا‬
‫ا‬‫و‬ (raja itu datang bersama prajurit).
 : fi’il mad}i (sebagai amil) : mabni fathah
‫اا‬
 : fa’il : i’rab
i’rabnya
nya rafa’

‫و‬ : wawu ma’iyah : mabni

7
‫ش‬‫ا‬
‫ا‬ : maf’ul ma’ah (sebagai ma’mul) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
Jadi, ‫ش‬‫ا‬
‫ا‬ i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul
ma’ah.. Tanda i’rab
ma’ah nya adalah fathah karena ‫ش‬
i’rabnya ‫اا‬ adalah isim mufrad.
Lafaz ‫ش‬‫ا‬
‫ا‬ beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah karena telah memenuhi 3
syarat diatas, yaitu:

1. ‫ش‬‫ا‬
‫ا‬ (prajurit) adalah fudlah. Artinya, tanpa lafaz fudlah tersebut (‫ش‬‫ا‬
‫)ا‬,
susunan  ‫اا‬  (raja itu datang) sudah mempunyai pengertian yang
lengkap. Jadi, ketika ada perkataan  ‫اا‬  (raja itu datang), maka
perkataan ini sudah mempunyai pengertian yang lengkap, yaitu bahwa
raja telah datang. Sedangkan ‫ش‬‫ا‬
‫ا‬ (lafaz fudlah) hanya sebagai tambahan
saja.
2. Sebelum wawu (‫و‬ ) adalah berupa jumlahFi
jumlahFi’’liyah
liyah,, yaitu susunan fi’
fi’il ( )
dan fa’il (
‫)اا‬
3. Wawu (‫و‬ ) bermakna ‫ع‬ (bersama). Pada contoh diatas, raja datang
bersama prajurit.

Contoh Yang Tidak Memenuhi Syarat


Jika salah satu dari 3 syarat tersebut tidak terpenuhi, maka isim yang berada
setelah wawu (‫و‬ ) itu tidak beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah
ah.. Contoh:
1. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-1, yaitu ketika isim yang berada
setelah wawu (‫و‬ ) itu bukan fudlah, tapi umdah (yaitu kalimat pokok yang
harus ada dalam suatu susunan kalimat, dan susunan kalimat itu tidak
lengkap pengertiannya tanpa adanya kalimat pokok tersebut): ‫ز‬ ‫ب‬‫ر‬
‫س‬
‫س‬ ‫و‬ (zaid dan sa’
sa’id saling memukul).
‫سس‬ i’rab
 rabnya
nya adalah rafa
rafa’’ karena athof kepada isim yang dibaca rafa
rafa’’,
yaitu ‫ز‬
‫ز‬. Lafaz 
‫سس‬ tidak beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah karena
adalah umdah (kalimat pokok). Artinya, tanpa ada lafaz itu,
‫سس‬ susunan kalimat

maka ‫ز‬ ‫ب‬‫ر‬  (zaid saling memukul) tidak 
‫س‬
‫س‬
memiliki
pengertian yang lengkap, karena ‫ب‬‫ر‬ (saling memukul) itu seharusnya
mempunyai dua pelaku yang saling memukul.
2. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-2, yaitu ketika sebelum wawu ( ‫و‬ )
bukan jumlah, tapi mufrad: ‫اا‬ ‫ا‬
  ‫ز‬
‫ز‬ (zaid dan najib
sedang mengqasar
mengqasar / meringkas sholat).
 i’rab
rabnya
nya adalah rafa
rafa’’ karena athof kepada isim yang dibaca rafa
rafa’’,
yaitu ‫ز‬
‫ز‬ . lafaz  tidak beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah karena
sebelum wawu (‫و‬ ) bukan jumlah, tapi mufrad (‫ز‬
‫)ز‬

8
3. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-3, yaitu ketika wawu ( ‫و‬ ) tidak
bermakna ‫ع‬ (bersama):  
‫وو‬ ‫ز‬  (zaid datang dan burhan datang
setelahnya).
‫ن‬ i’rab
rabnya
nya adalah rafa
rafa’’ karena athaf kepada isim yang dibaca rafa
rafa’’,
yaitu ‫ز‬
‫ز‬ . lafaz ‫ن‬ tidak beri’rab nashab sebagai maf’ul ma
ma’’ah karena

wawu (‫و‬ ) pada contoh ini tidak bermakna ‫ع‬ (bersama), karena ‫ن‬ dan

‫زز‬
tidak datang bersamaan. ‫ز‬‫ز‬ datang terlebih dahulu, kemudian ‫ن‬
datang setelah ‫ز‬
‫ز‬ .

Keterangan
Amil yang menashab
menashabkan
kan maf’ul ma’ah adalah:
1. Berupa fi’il yang berada sebelum maf’ul ma’ah
ma’ah.. Contoh: ‫اا‬‫و‬ 
 ‫اا‬ 
(raja itu datang bersama prajurit). ‫ش‬
‫اا‬ i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah
ma’ah.. Amil yang menashab
menashabkan
kan ‫ش‬‫ا‬
‫ا‬
sebagai maf’ul ma’ah adalah  (berupa fi’
fi’il)
2. Berupa isim yang menyerupai fi’il (isim masdar, isim fa’il, isim maf’ul, sifat

mushabihat, S}ighat mubalaghah


mubalaghah), ), yang berada sebelum maf’ul ma’ahma’ah..
Contoh: ‫ز‬
‫ز‬ ‫ح‬ ‫أأ‬ (saya berhaji bersama zaid). ‫ا‬‫ز‬
‫ز‬ i’rab
rabnya
nya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah
ma’ah.. Amil yang menashab
menashabkan
kan
‫ا‬‫زز‬ ma’’ah adalah ‫ج‬‫ح‬ (berupa isim fa
sebagai maf’ul ma fa’’il) .

C. Maf’ul Liajlih
Ciri-Ciri Maf’ul Liajlih
a. Cocok bermakna “karena”
b. Sebagai alasan terjadinya pekerjaan
c. Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
d. Berupa masdar qalbi (pekerjaan hati)
Contoh:  ‫ت‬ ‫ض‬  
‫اا‬ 
‫اا‬‫أ‬
‫أ‬ ‫ن‬ (mereka menafkahkan hartanya karena
mengharap ridlo Allah)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’
al-asma’ (isim
isim--isim yang dibaca nashab
nashab)) maf’ul
liajlih.. Secara istilah, maf’ul liajlih adalah isim masdar yang dibaca nashab
liajlih
yang berfungsi untuk menjelaskan sebab / alasan suatu pekerjaan yang
dilakukan sebelumnya.

Syarat Maf’ul Liajlih Bisa Beri’rab


Beri’rab Nashab
Maf’ul liajlih harus beri’rab nashab jika memenuhi 5 syarat, yaitu:
1. Harus berupa isim masdar.

9
2. Harus berupa masdar qalbi (yaitu masdar yang menunjukkan pekerjaan
hati, jiwa atau perasaan).
3. Masdar qalbi dan fi’ilnya (sebagai amil) dilakukan dalam waktu yang
sama.
4. Masdar qalbi dan fi’ilnya (sebagai amil) mempunyai fa’il (pelaku) yang
sama.
5. Masdar qalbi yang sama waktu dan pelakunya dengan fi’il ini, harus
merupakan suatu alasan terjadinya suatu pekerjaan yang dilakukan.
Contoh maf’ul liajlih yang memenuhi syarat adalah: ‫اا‬ ‫ا‬
 ‫ا‬‫أ‬
‫أ‬ ‫ن‬
‫ت‬‫ض‬ (mereka menafkahkan hartanya karena mengharap ridlo Allah).
‫ن‬ : fi’il mud}ari’ (sebagai amil)
‫اا‬
 : maf’ul liajlih (sebagai ma’mul) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
 : fa’il berupa d}amir yang tersimpan dalam lafaz ‫ن‬
Jadi, ‫اا‬ i’rab
rabnya
nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul
liajlih.. Tanda i’rab
liajlih nya adalah fathah karena 
i’rabnya ‫اا‬ adalah isim mufrad.
Lafaz ‫اا‬ sebagai maf’ul liajlih ini beri’rab nahsob karena telah memenuhi 5
syarat, yaitu:
1. 
‫اا‬ adalah isim masdar. Fi
Fi’’il mad}i
mad}inya
nya adalah ‫اا‬ .

2. ‫ا‬ (mengharap) adalah pekerjaan hati (masdar
‫ا‬ ( masdar qalbi
qalbi))
3. ‫اا‬ (mengharap; sebagai masdar qalbi
 qalbi)) dan ‫ن‬ (menafkahkan;
sebagai fi’il / amil) dilakukan dalam waktu yang sama. Artinya, ketika
mereka menafkahkan hartanya, ketika itu pula mereka mengharap ridlo
Allah.
4. ‫اا‬
 (mengharap; sebagai masdar qalbi
qalbi)) dan ‫ن‬ (menafkahkan;
sebagai fi’il / amil) mempunyai fa’il (pelaku) yang sama, yaitu mereka.
Artinya, orang yang menafkahkan hartanya adalah mereka. Orang yang
berharap ridlo Allah juga mereka.

5. ‫اا‬ (mengharap;

(menafkahkan;
qalbi)) itu adalah alasan dari ‫ن‬
sebagai masdar qalbi
sebagai fi’il / amil). Artinya, alasan mereka menafkahkan
hartanya adalah karena mengharap ridlo Allah.

Maf’ul Liajlih Yang Tidak Memenuhi Syarat


Jika ada isim masdar (memenuhi syarat ke-1) yang menjelaskan alasan dari
suatu pekerjaan yang dilakukan (memenuhi syarat ke-5), akan tetapi tidak
memenuhi salah satu syarat yang lain, maka isim masdar tersebut harus
dii’rab
dii’rab jer dengan huruf jer yang berfaidah
berfaidah ta’lil (sebagai alasan, seperti ,‫ ف‬
 ). Contoh:
,

1. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-2, yaitu masdar bukan masdar
qalbi::
qalbi  ‫ئ‬ (saya datang karena untuk makan). Jadi, ‫أ‬
‫أ‬ dijerkan

10
dengan huruf jer (‫)ل‬ karena ‫أ‬
‫أ‬ bukan pekerjaan hati, melainkan pekerjaan
tubuh yang tampak.
2. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-3, yaitu masdar dan fi’ilnya
dilakukan dalam waktu yang tidak sama: ‫غ‬ ‫ا‬
‫ا‬   ‫ذ‬
‫ذ‬ (majid
telah pergi karena untuk mencari ilmu besok). Jadi, 
‫ط‬
‫ط‬ dijerkan dengan
huruf jer ( ‫)ل‬ karena 
‫ط‬
‫ط‬  (masdar) dan 
‫ذ‬ ‫ذ‬ (fi’
fi’il) dilakukan dalam waktu
yang tidak sama.  ‫ذذ‬ (pergi; sebagai fi’
fi’il / amil) dilakukan pada waktu
lampau / mad}i
mad}i.. Sedangkan ‫ط‬
‫ط‬ (mencari; sebagai fi’
fi’il / amil) dilakukan
pada waktu yang yang akan datang / istiqbal, yaitu besok ( ‫ا‬‫غ‬ )
3. Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-4, yaitu masdar dan fi’ilnya tidak
mempunyai fa’il (pelaku) yang sama: ‫س‬
‫س‬‫ا‬  
‫حح‬‫أ‬ (saya suka
padamu karena kamu memulyakan ustadz). Jadi,  dijerkan dengan
huruf jer ( ‫ل‬ ) karena  (masdar) dan ‫ح‬‫أ‬ (fi’
fi’il) tidak mempunyai
fa’il yang sama. Pelaku dari ‫ح‬‫أ‬ (suka; sebagai masdar) adalah saya ( ‫ت‬
). Sedangkan pelaku dari  (memulyakan; sebagai fi’ fi’il / amil) adalah
kamu ( ‫ك‬ )

D. Isim ‫ن‬ Dan Saudara-Saudaranya dan KHABAR ‫ن‬ ‫ك‬ dan saudara-
saudaranya
Pada pembahasan marfu’at al-
al-asma’, ‫ن‬ dan saudara-saudaranya sudah
dibahas panjang lebar. Amal ‫ن‬ dan saudara-saudaranya adalah merafa
merafa’’kan
mubtada’ sebagai isim
isimnya
nya dan menashab
menashabkan
kan khabarnya. Jadi yang termasuk
dari mansubat al-asma’
al-asma’ (isim
isim--isim yang dibaca nashab
nashab)) adalah khabar ‫ن‬
dan saudara-saudaranya. Contoh: ‫ؤ‬
‫ؤ‬ ‫س‬ 
‫اا‬ ‫ص‬  (sholat
jamaah itu adalah sunnah muakkad)
 : amil nawasikh
‫ة‬‫ص‬ : isim  (asalnya mubtada
mubtada’’) : i’rab
i’rabnya
nya rafa’
‫س‬
‫س‬ : khabar  (asalnya khabar) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
Jadi, 
‫سس‬ i’rab
rabnnya
nnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai khabar
. Tanda i’rab nashabnya adalah fathah karena ‫س‬
nashabnya ‫س‬ adalah isim mufrad.

Pada pembahasan marfu’at al-


al-asma’
asma’ juga telah dibahas ‫ن‬‫إ‬ dan saudara-
saudaranya. Amal ‫ن‬‫إ‬ dan saudara-saudaranya adalah menashab
menashabkan
kan mubtada
mubtada’’
sebagai isim
isimnya
nya dan merafa’
merafa’kan khabarnya. Jadi, yang termsuk mansubat al-
asma’ ((isim
isim--isim yang dibaca nashab
nashab)) adalah isim ‫ن‬‫إ‬ dan saudara-saudaranya.
Contoh: ‫ا‬‫و‬ 
‫سس‬‫ا‬ ‫ن‬‫إ‬ (sesungguhnya beristinja’
beristinja’ itu wajib)

11
‫ن‬‫إ‬ : amil nawasikh
‫سس‬‫ا‬ : isim ‫ن‬‫إ‬ (asalnya mubtada
 mubtada’’) : i’rab
i’rabnya
nya nashab
‫اا‬‫و‬
 : khabar ‫ن‬‫إ‬ (asalnya khabar) : i’rab
i’rabnya
nya rafa’
Jadi, 
‫سس‬ ‫ا‬ i’rab nya adalah nashab karena kedudukannya sebagai isim ‫ن‬‫إ‬ .
rabnya
tanda i’rab nashab
nashabnyanya adalah fathah karena 
‫سس‬‫ا‬ adalah isim mufrad

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mansubat Al-Asma’ (Isim-Isim Yang Dibaca Nashab Yang dimaksud
dengan mansubat al-asma’
al-asma’ adalah kalimat isim yang keadaannya beri’rab nashab
nashab..
Jadi jika ada kalimat isim yang kedudukannya menjadi salah satu dari mansubat al-
asma’ ini, maka kalimat isim tersebut pasti ber i’rab nahsob.

13
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................


...................................................................
...............................
......... i

DAFTAR ISI .............................................


...................................................................
............................................
........................
.. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................
............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .........................................................................
......................................................................... 1
C. Tujuan..................................................................
............................................................................................
.......................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Agama Islam ....................................
.................................... 2
B. Dasar Pendidikan Islam............................................
Islam.........................................................
............. 2
C. Tujuan Pendidikan Islam..............................................
Islam.......................................................
......... 5
D. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................
.................................................................
...............................
......... 8
B. Saran...........................................
..................................................................
...........................................
.................... 8
DAFTAR PUSTAKA

ii
16

Anda mungkin juga menyukai