BAB ATHAF
ATHAF BAYAN
Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan
bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan).
Athaf Bayan adalah Tabi menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi
terungkap dengannya.
Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:
1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)
Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai
Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.
Penjelasan Definisi :
TABI :
adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi.
IDHAH :
Apabila Matbunya berupa Isim Marifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar
dan mengarah pada maksud Isim Marifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.
TAKHSHISH :
Apabila Matbunya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit
jangkauannya.
Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):
AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.
Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah MUHAMMADAN
-sekalipun berupa Isim Marifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi, maka ia tetap membutuhkan
tambahan keterangan dan penjelasan.
Contoh sebagai Takhshish (penghusus):
SAMITU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MAAANIY QOLIILATAL-
ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel
lafazhnya.
Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim
Nakirah KALIMATAN dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat
natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi
maka lafazh KALIMATAN tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya
kepenunjukannya.
Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi
TAUKID, Tabi ATHAF NASAQ dan Tabi BADAL.
Contoh Taukid :
JAAA AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.
Contoh Athaf Nasaq :
QOROTU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.
Contoh Badal :
QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.
Ketiga contoh Tabi diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu.
Adapun Tabi NAAT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari
qayyid lain. Naat dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof
Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu, yakni penerangan eksistensi hakikat
asalnya. Sedangkan pada Naat bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal
Matbunya (manutnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.
Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Naat dan Athaf Bayan :
Contoh Naat :
HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.
Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Naat sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbunya dengan
menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.
Contoh Athaf Bayan :
HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.
Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu AT-TAAJIRU.
JAMID :
Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Naat yang
umumnya berupa Isim Musytaq.
TANPA TAKWIL :
Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil
Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :
MARORTU BI ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.
Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.