0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan22 halaman

Rugi Daya Jaringan Distribusi PLN Belawan

Dokumen tersebut membahas tentang sistem distribusi energi listrik, yang mendistribusikan energi listrik dari gardu induk ke konsumen melalui jaringan tegangan menengah dan rendah. Dokumen tersebut juga membahas tentang permasalahan rugi daya pada sistem distribusi PT PLN ULP Belawan yang perlu diteliti lebih lanjut.

Diunggah oleh

natanaelsinurat18
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan22 halaman

Rugi Daya Jaringan Distribusi PLN Belawan

Dokumen tersebut membahas tentang sistem distribusi energi listrik, yang mendistribusikan energi listrik dari gardu induk ke konsumen melalui jaringan tegangan menengah dan rendah. Dokumen tersebut juga membahas tentang permasalahan rugi daya pada sistem distribusi PT PLN ULP Belawan yang perlu diteliti lebih lanjut.

Diunggah oleh

natanaelsinurat18
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi listrik adalah salah satu kebutuhan pokok masyarakat pada zaman
modern. Hampir seluruh peralatan-peralatan yang digunakan untuk membantu
kehidupan manusia menggunakan energi listrik. Konsumen energi listrik bukan
saja merupakan kalangan rumah tangga tetapi juga kalangan industri, komersial,
maupun pelayanan umum dan jasa. Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik
diperlukan sistem yang baik untuk menyalurkan energi listrik dari penyedia
sampai ke konsumen energi listrik. Secara umum sistem tenaga listrik diawali dari
unit pembangkit energi listrik, kemudian disalurkan melalui sistem transmisi
tegangan tinggi dan kemudian melalui sistem distribusi disalurkan kepada
konsumen. Sistem distribusi berhubungan langsung dengan konsumen, sehingga
disinilah dituntut kendala dalam sistem yang harus diperhatikan oleh penyedia
energi listrik.
Energi yang disalurkan harus memenuhi tuntutan yang diminta yaitu adanya
kuantitas dan kualitas daya yang baik, kontinyunitas pelayanan, serta tegangan,
faktor daya, dan frekuensi sistem yang berkualitas.
Sistem ketenaga listrikan terdapat banyak kasus yang diadapi, baik dalam
segi teknis maupun non teknis. Gangguan-gangguan tersebut bermula dari area
pembangkit listrik, penyaluran transmisi hingga penyaluran distribusi. Gangguan
ini sudah pasti merugikan konsumen bahkan pihak penyuplai listrik PT. PLN
(Persero) secara global akan mendapat kerugian yang sangat besar.
Permasalahan yang diadapi PLN saat ini khususnya untuk bidang
distribusi adalah besarnya rugi energi, baik secara teknis ataupun non teknis. Rugi
energi listrik merupakan persoalan krusial, rugi – rugi adalah selisih antara energi
listrik yang dibangkitkan dengan jumlah energi listrik yang telah dipakai
pelanggan. Rugi daya listrik distribusi meliputi jaringan tegangan menengah

1
hingga jaringan tegangan rendah yang terdiri dari rugi teknis dan non teknis
(20kV / 380V). Rugi energi menjadi pembahasan penting pada saat ini karna
terkait dengan kualitas daya yang akan dihantarkan kepada pelanggan serta
membuka potensi pendapatan bagi perusahaan karena susut yang terjadi akan
mengurangi potensi penjualan daya oleh perusahaan. Ketersedian energi listrik
merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi kehidupan saat ini. Kebutuhan
energi listrik sangat dominan bagi manusia, dimulai dari kebutuhan di dalam
rumah tangga, bisnis, pemerintahan, industri rumah tangga hingga industri besar
serta seluruh aspek kehidupan lainnya, ini berarti bahwa ketersediaan energi
listrik kini sangat penting dan sangat berpengaruh dalam meningkatkan laju
pertumbuhan kualitas social ekonomi masyarakat secara umum sehingga
Permintaan listrik di Indonesia meningkat secara terus-menerus, Namun pasokan
listrik Indonesia yang dihasilkan oleh Pembangkit belum dapat memenuhi
kebutuhan listrik seluruh rakyat Indonesia.
Terbatasnya kapasitas Pembangkit listrik yang ada saat ini tentu saja tidak
mampu mengikuti laju kebutuhan konsumsi listrik kita, Apalagi bila
penggunaannya boros. Konsumsi listrik yang boros berdampak pada
berkurangnya pasokan listrik sehingga terjadi pemadaman bergilir. Selain itu,
tidak banyak yang menyadari bahwa saat ini pasokan listrik di Indonesia belum
tersebar merata. Misalnya masih ada sekitar 45 persen penduduk Indonesia yang
belum menikmati listrik. Ironisnya, mereka yang punya akses listrik, melakukan
gaya hidup boros tanpa menyadari bahwa listrik adalah komoditas yang
seharusnya dibagi rata dengan banyak orang di seluruh Indonesia sehingga
Tuntutan-tuntutan tersebut harus dipenuhi oleh penyedia tenaga listrik, yang
dalam hal ini adalah PLN.

Pada PT. PLN (Persero) ULP Belawan sebagai penyuplai energi listrik
pada wilayah Pelabuhan Belawan (Kec. Medan Belawan) dan sekitarnya sering
mengalami masalah losses, yaitu adanya energi yang hilang baik secara teknis
maupun non teknis. Pada saat ini untuk mengurangi losses yang ada, PLN
(Persero) ULP Belawan telah terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan diberbagai
area Medan Belawan. Dengan adanya sistem yang terinterkoneksi perlu dilakukan
pengkajian tentang susut daya saat isolated dan interkoneksi, agar dapat

2
memetakan bagaimana efektifitas sistem interkoneksi dalam penurunan susut daya
jaringan tegangan menengah. Sehingga untuk fokus melihat angka susut daya
lebih efektif yaitu dengan memisahkan susut antara teknis dan non teknis. Oleh
karena itu, Saya tertarik untuk meneliti pada bagian Rugi Daya pada Jaringan
Distribusi Sekunder pada PT. PLN (Persero) ULP Belawan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana cara menghitung rugi daya pada jaringan distribusi sekunder
pada PT. PLN (PERSERO) ULP BELAWAN?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui rugi daya pada jaringan distribusi sekunder PT. PLN
(PERSERO) ULP BELAWAN

1.4 Manfaat Penelitian


Dari pemecahan masalah di atas maka manfaat yang dapat di petik adalah :
1. Dari segi praktis
a. Bagi PT. PLN (Persero) ULP Belawan, dengan adanya penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi penelitian terkait
tentang Rugi Daya Jaringan Distribusi Sekunder.
b. Bagi peneliti, dengan adanya penelitian ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan baru mengenai Rugi Daya Jaringan Distribusi Sekunder.
2. Dari segi teoritis
a. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi
media bagi civitas akademik khususnya Teknik Elektro untuk penelitian-
penelitian berikutnya.
b. Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan ilmu pengetahuan tentang
“Rugi Daya Jaringan Distribusi Sekunder” dalam sistem tenaga listrik dan
juga dapat dijadikan penunjang praktikum di Teknik Elektro khususnya
efesiensi sistem distribusi listrik.

1.5 Batasan Penelitian


1. Analisis ini dilakukan di PT. PLN (Persero) ULP Belawan.

3
2. Yang akan dibahas adalah Rugi Daya jaringan distribusi sekunder pada
PT. PLN (Persero) ULP Belawan.
1.6 Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menguraikan latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan penelitan, manfaat penelitian yang dilakukan dan sistematika penulisan.
2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini menguraikan teori pendukung yang berhubungan dengan penelitian.
3. BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini menguraikan tentang waktu dan tempat penelitian, bahan penelitihan,
alat penelitian, diagram skema penelitian, gambar rangkaian trafo dan metodologi
penelitian yang memuat langka-langka dalam proses penelitian.
4. BAB IV HASIL PENELITIAN
Pada bab ini menguraikan hasil analisis penelitian, perhitungan serta penjelasan
yang berkaitan dengan judul penelitian.
5. BAB V KESIMPULAN
Pada bab ini memuat kesimpulan yang berkaitan dengan penelitian, serta memuat
saran yang diperlukan dari penulis.
6. DAFTAR PUSTAKA
Bab ini mengenai kumpulan sumber penulisan, dalam menentukan teori yang
berkaitan dengan penelitian.
7. LAMPIRAN
Lampiran berisikan hasil dokumentasi, hasil penelitian dan instrumen yang
digunakan dalam penelitian.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Distribusi

Distribusi adalah semua bagian yang termasuk dalam peralatan sistem


tenaga listrik yang mendistribusikan tenaga listrik dari gardu induk hingga ke
kWh meter pada konsumen melalui system jaringan tegangan menengah dan
sistem jaringan tegangan rendah. Sistem tenaga listrik dikatakan sebagai
kumpulan atau gabungan yang terdiri dari komponen-komponen atau alat-alat
listrik seperti generator, transformator, saluran transmisi, saluran distribusi dan
beban yang saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan sehingga
membentuk suatu sistem.
Dalam kelistrikan, sering kali timbul persoalan-persoalan teknis, dimana tenaga
listrik pada umumnya dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu yang jauh dari
kumpulan pelanggan, sedangkan pemakai tenaga listrik atau pelanggan tenaga
listrik tersebar disegala penjuru tempat. Dengan demikian maka penyaluran
tenaga listrik dari pusat tenaga listrik sampai ke tempat pelanggan memerlukan
berbagai penanganan teknis. Pada jaringan distribusi biasanya menggunakan
tegangan yang lebih rendah dari tegangan transmisi (Suhadi, dkk, 2008:11).
Hal ini karena daya yang didistribusikan oleh masing-masing jaringan
distribusi biasanya relatif kecil dibanding dengan daya yang disalurkan saluran
transmisi, dan juga menyesuaikan dengan tegangan pelanggan atau pengguna
energi listrik. Level tegangan jaringan distribusi yang sering digunakan ada dua
macam, yaitu 20kV untuk jaringan tegangan menengah(JTM) dan 220V untuk
jaringan tegangan rendah (JTR). Dengan demikian diperlukan gardu induk yang
berisi trafo penurun tegangan untuk menurunkan tegangan dari saluran transmisi
ketegangan distribusi 20kV. Diperlukan juga trafo distribusi untuk menurunkan
tegangan dari 20kV ke 220V sesuai tegangan pelanggan. Pada jaringan distribusi
terdapat beberapa struktur jaringan yaitu Jaringan Distribusi Radial, Jaringan

5
Distribusi Lingkaran (Loop), Jaringan Distribusi Spinde, Jaringan Distribusi
Kluster. (Made Suartika & I wayan, 2010: 177).
Sistem distribusi tenaga listrik dapat diartikan sebagai system sarana
penyampaian tenaga listrik dari sumber kepusat beban. Sementara untuk system
instalasi listrik adalah cara pemasangan atau penyaluran tenaga listrik atau
peralatan listrik untuk semua barang yang memerlukan tenaga listrik, dimana
pemasangan nya harus sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan didalam
Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL).
Secara umum, baik buruknya system penyaluran dan distribusi tenaga listrik
terutama adalah ditinjau dari ha-hal berikut ini :
1. Kontinyuitas pelayanan yang baik, tidak sering terjadi pemutusan, baik karena
gangguan maupun hal-hal yang direncanakan.
2. Kualitas daya yang baik, antara lain meliputi Kapasitas daya yang memenuhi,
Tegangan yang selalu konstan dan nominal , Frekuensi yang selalu konstan
(untuk system AC).
3. Perluasan dan penyebaran daerah beban yang dilayani seimbang.
4. Fleksibel dalam pengembangan dan perluasan daerah beban.
5. Kondisi dan Situasi Lingkungan.
6. Pertimbangan Ekonomis.

Saluran Distribusi energi listrik 20kV di busbar gardu induk, disalurkan


melalui feeder-feeder (penyulang) distribusi ke gardu hubung atau dapat langsung
di hubungkan ke konsumen. Dari gardu hubung, energi listrik disalurkan ke
gardu-gardu distribusi. Dimana gardu distribusi merupakan gardu tempat
mengubah tegangan primer menjadi tegangan sekunder dan selanjutnya disalurkan
kesetiap titik pelanggan. Gardu Distribusi berfungsi melayani konsumen dimana
tegangan 20kV diturunkan tegangan nya menjadi 380/220 volt pada trafo-trafo
distribusi, untuk kemudian disalurkan pada konsumen melalui jaringan tegangan
rendah (jaringan distribusi sekunder).

6
Gambar 2.1 Diagram satu garis sistem distribusi tenaga listrik.

Dalam Penyaluran tenaga listrik dari gardu-gardu induk sampai kepada


konsumen diperlukan suatu sistem jaringan distribusi, dimana pada jaringan
distribusi tersebut timbul jatuh tegangan dan rugi daya, sedangkan pada
transformator distribusi juga timbul rugi daya, bahwa perubahan tegangan suplai
di izinkan antara +5% dan -5%, sedangkan menurut Wardani (1996), bahwa batas
toleransi variasi tegangan adalah +5% dan -10% dari tegangan nominal.

Demi kemudahan dan penyederhanaan dalam sistem tenaga listrik maka


diadakan pembagian dan pembatasan-pembatasan sebagai berikut.

1. Daerah I : Bagian pembangkitan (generation)

2. Daerah II : Bagian penyaluran (transmission) bertegangan tinggi (70


kV–500 kV)

3. Daerah III : Bagian distribusi primer bertegangan menengah (6 kV


atau 20 kV)

7
4. Daerah IV : Bagian bertegangan rendah didalam bangunan pada
konsumen tegangan rendah
Pendistribusian tenaga listrik dari gardu-gardu induk sampai kepada
konsumen diperlukan suatu jenis jaringan distribusi. Menurut Wardoyo dkk
(2018: 3) sistem jaringan distribusi dapat dibedakan atas dua yaitu :

2.1.1 Sistem Jaringan distribusi Primer


Jaringan distribusi primer adalah jaringan distribusi yang terletak diantara
gardu induk (GI) dengan gardu distribusi, yang mempunyai tegangan sistem lebih
besar dari tegangan yang dipakai oleh konsumen atau beban. Jaringan distribusi
primer ini sering disebut dengan jaringan tegangan menengah (JTM). Standar
tegangan untuk jaringan distribusi primer ini adalah 6 KV, 10 KV, dan 20 KV
(sesuai standar PLN). Jaringan distribusi primer ini umumnya terdiri dari jaringan
tiga fasa yang jumlah kawat nya tiga atau empat kawat. Untuk menyalurkan
tenaga listrik pada jaringan distribusi primer digunakan kawat udara, saluran
kabel udara atau sistem kabel tanah, dimana penggunanya disesuaikan dengan
tingkat kendalan yang dibutuhkan. Saluran distribusi primer ini dibentangkan
sepanjang daerah yang di suplai tenaga listrik sampai pada pusat beban ujung
akhir.
Sistem jaringan distribusi primer dikenal beberapa macam tipe jaringan
distribusi primer, dimana masing-masing system mempunyai karakteristik-
karakteristik yang berbeda-beda serta mempunyai keuntungan dan kerugian yang
tergantung pada kebutuhan. Dasar pemilihan suatu sistem tergantung dari tingkat
kepentingan konsumen/pusat beban itu sendiri, yaitu meliputi :
a. Kontinuitas pelayanan yang baik
b. Kualitas daya listrik yang baik
c. Luas dan penyebaran daerah beban yang dilayani seimbang
d. Fleksibelitas dalam pengembangan dan perluasan daerah beban
e. Kondisi dan situasi lingkungan, dan
f. Pertimbangan ekonomis

8
2.1.2 Sistem Jaringan distribusi Sekunder
Jaringan distribusi sekunder adalah jaringan distribusi yang berfungsi
untuk menyalurkan tenaga listrik dari gardu distribusi sampai ke pusat beban atau
konsumen. Jaringan distribusi sekunder ini sering disebut dengan jaringan
tegangan rendah (JTR). Standar tegangan untuk jaringan distribusi sekunder ini
adalah 220/380 V.
Berdasarkan pembatasan-pembatasan tersebut, maka diketahui bahwa porsi materi
sistem distribusi adalah Daerah III dan IV. Dengan demikian ruang lingkup
jaringan Distribusi adalah :

1. Jaringan Tegangan Menengah


Pada pendistribusian tenaga listrik ke konsumen di suatu kawasan,
penggunaan system tegangan menengah sebagai jaringan utama adalah
upaya utama menghindarkan rugi-rugi penyaluran (losses) dengan kwalitas
persyaratan tegangan yang harus dipenuhi oleh PT. PLN (Persero) selaku
pemegang kuasa usaha utama sebagai mana yang diatur dalam UU
Ketenaga Listrikan No. 30 tahun 2009. Kontruksi JTM dengan tegangan
20kV wajib memenuhi kriteria keamanan ketenaga listrikan, termasuk
didalamnya adalah jarak aman minimal antara Fase dengan lingkungan dan
anatar Fase dengan tanah, bila jaringan tersebut menggunakan saluran
udara atau kabel bawah tanah tegangan menengah serta kemudian dalm hal
pengoperasian atau Pemeliharaan jaringan Dalam Keadaan Bertegangan
(PDKB) pada jaringan utama. Hal ini dimaksudkan sebagai usaha menjaga
keandalan kontinyuitas pelayanan konsumen.
Lingkup Jaringan Tegangan Menengah pada sistem distribusi
dimulai dari terminal keluar (out-going) pemutus tenaga dari transformator
penurun tegangan Gardu Induk atau transformator penaik tegangan pada
Pembangkit untuk sistem distribusi skala kecil, hingga peralatan
pemisah/proteksi sisi masuk (in-coming) transformator distribusi 20 kV –
230/400V.
Konstruksi jaringan Tenaga Listrik Tegangan Menengah dapat
dikelompokkan menjadi 3 macam konstruksi sebagai berikut :

9
a. Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM)
Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) adalah sebagai
konstruksi termurah untuk penyaluran tenaga listrik pada daya yang
sama. Konstruksi ini banyak digunakan untuk konsumen jaringan
Tegangan Menengah yang digunakan di indonesia.
Ciri utama jaringan ini adalah penggunaan penghantar telanjang
dan ditopang dengan isolator pada tiang besi /beton. Penggunaan
penghantar telanjang, dengan sendirinya harus diperhatikan faktor yang
terkait dengan keselamatan ketenaga listrikan seperti jarak aman
minimum yang harus dipenuhi penghantar bertegangan 20kV tersebut
antar Fhase atau dengan bangunan atau dengan tanaman atau dengan
jangkauan manusia.

Gambar 2.2 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM)

b. Saluran Kabel Udara Tegangan Menengah (SKUTM)


Untuk lebih meningkatkan keamanan dan keandalan penyaluran
tenaga listrik, penggunaan penghantar telanjang atau penghantar
berisolasi setengah pada konstruksi jaringan saluran udara tegangan
menengah 20 kV, dapat juga digantikan dengan konstruksi penghantar
berisolasi penuh yang dipilin

10
Isolasi penghantar tiap Fhase tidak perlu dilindungi dengan
pelindung mekanis. Berat kabel pilin menjadi pertimbangan terhadap
pemilihan kekuatan beban kerja tiang beton penopangnya.

c. Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah (SKTM)


Konstruksi SKTM ini adalah konstruksi yang aman dan andal
untuk mendistribusikan tenaga listrik Tegangan Menengah, tetapi relatif
lebih mahal untuk penyaluran daya yang sama. Keadaan ini
dimungkinkan dengan konstruksi isolasi penghantar per Fhase dan
pelindung mekanis yang dipersyaratkan.
Penggunaan SKTM sebagai jaringan utama pendistribusian tenaga
listrik adalah sebagai upaya utama peningkatan kwalitas
pendistribusian. Dibandingkan dengan SUTM, penggunaan SKTM
akan memperkecil resiko kegagalan operasi akibat factor eksternal atau
meningkatkan keamanan ketenaga listrikan. Penerapan instalasi SKTM
seringkali tidak dapat lepas dari instalasi Saluran Udara Tegangan
Menengah sebagai satu kesatuan sistem distribusi sehingga masalah
transisi konstruksi diantaranya tetap harus dijadikan perhatian.

2. Gardu Distribusi (GD)


Pengertian umum Gardu Distribusi tenaga listrik yang paling
dikenal adalah suatu bangunan gardu listrik berisi atau terdiri dari instalasi
Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Menengah (PHB-TM),
Transformator Distribusi (TD) dan Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan
Rendah (PHB-TR) untuk memasok kebutuhan tenaga listrik bagi para
pelanggan dengan Tegangan Menengah (TM20kV) maupun Tegangan
Rendah (TR220/380V). Secara garis besar gardu distribusi dibedakan atas :
a. Jenis Pemasangannya :
1) Gardu pasangan luar : Gardu Portal, Gardu Cantol
2) Gardu pasangan dalam : Gardu Beton, Gardu Kios
b. Jenis Konstruksinya :
1) Gardu Beton (bangunan sipil : batu, beton)

11
2) Gardu Tiang : Gardu Portal dan Gardu Cantol
3) Gardu Kios
c. Jenis Penggunaannya :
1) Gardu Pelanggan Umum
2) Gardu Pelanggan Khusus
Khusus nya pengertian Gardu Hubung adalah gardu yang ditunjukkan
untuk memudahkan manuver pembebanan dari satu penyulang ke penyulang lain
yang dapat dilengkapi/tidak dilengkapi RTU (Remote Terminal Unit). Untuk
fasilitas ini lazimnya dilengkapi fasilitas DC Supply dari Trafo Distribusi
pemakaian sendiri atau Trafo distribusi untuk umum yang diletakkan dalam satu
kesatuan. Berikut macam-macam gardu distribusi :
a. Gardu Tiang
1) Gardu Portal
Umumnya konfigurasi Gardu Tiang yang dicatu dari SUTM
dengan peralatan pengaman. Pengaman Lebur Cut-Out (FCO) sebagai
pengaman hubung singkat transformator dengan elemen pelebur dan
Lightning Arrester (LA) sebagai sarana pencegah naiknya tegangan
pada transformator akibat surja petir. Menggunakan Tiang : beton,
besi, kayu.

Gambar 2.3 Gardu Portal dan Bagan satu garis


Untuk Gardu Tiang pada sistem jaringan lingkaran terbuka (open-
loop), seperti pada sistem distribusi dengan saluran kabel bawah tanah,

12
konfigurasi peralatan adalah π section dimana transformator distribusi
dapat di catu dari arah berbeda yaitu posisi Incoming-Outgoing atau
dapat sebaliknya.

2) Gardu Cantol
Pada Gardu Distribusi tipe cantol, transformator yang terpasang
adalah transformator dengan daya 100 kVA 3 Fhase atau 1 Fhase.
Transformator yang dipasang adalah jenis CSP (Completely Self
Protected Transformer) yaitu peralatan swiching dan proteksinya
sudah terpasang lengkap dalam tangki transformator.

Gambar 2.4 Gardu Tipe Cantol

Perlengkapan pelindungan transformator tambahan LA (Lightning Arrester)


dipasang terpisah dengan penghantar pembumiannya yang dihubung langsung
dengan body transformator.

13
2.2. Rugi-rugi Pada Sistem Tenaga Listrik
2.2.1. Umum
Rugi (losses) dalam sistem kelistrikan merupakan sesuatu yang sudah pasti
terjadi, pada dasarnya rugi daya adalah selisih jumlah energi listrik yang
dibandingkan dengan jumlah energi listrik yang sampai ke konsumen. Losses
adalah turunan nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan
kegiatan utama entitas. Dimana seluruh transaksi kejadian lainnya yang
mempengaruhi entitas selama periode tertentu, kecuali yang berasal dari biaya
atau pemberian kepada pemilik (prive).

2.2.2. Jenis Rugi-rugi pada Sistem Distribusi


Setiap peralatan listrik yang digunakan tidak selamanya bekerja dengan
sempurna. Semakin lama waktu pemakaian maka akan berkurangnya efisiensi dari
peralatan tersebut tersebut sehingga akan mengakibatkan rugi-rugi yang semakin
besar pula (Hadi, Abdul, 1994:4)
Pada sistem distribusi listrik listrik arus daya (losses) dibedakan menjadi
beberapa jenis. Menurut Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) No.217-
LK/DIR/2005 (2005:2) tentang Pedoman Penyusunan Laporan Naraca Energi
(kWh), “Jenis susut (rugi daya)energi listrik dapat dibedakan menjadi dua,yaitu :
a. Rugi-rugi pada sistem tenaga listrik berdasarkan tempat terjadinya dibagi
menjadi dua, yaitu :
1) Rugi-rugi sistem transmisi yaitu rugi-rugi transformator step up (trafo
tegangan tinggi) saluran transmisi, dan transformator di gardu induk.

2) Rugi-rugi sistem distribusi yaitu rugi-rugi pada feeder utama (penyulang


utama) serta jaringan, transformator distribusi, peralatran distribusi, dan
pengukuran.

b. Rugi-rugi pada sistem tenaga listrik berdasarkan sifatnya terbagi menjadi :


1) Rugi-rugi Non Teknis
Rugi-rugi non teknis muncul akibat adanya masalah pada penyaluran
sistem tenaga listrik. Untuk mengantisipasi rugi non teknis yang sering terjadi

14
seperti pencurian dan penyambungan listrik secara ilegal maka PLN harus
melakukan Langkah seperti melakukan pemeriksaan kesetiap pelanggan dan
melakukan Tindakan pemutusan aliran listrik serta melaporkan ke pihak
berwajib jika terbukti adanya tindak pencurian dan penyambungan listrik
secara ilegal.

2) Rugi-rugi Teknis
Rugi-rugi teknis (susut teknis) muncul akibat sifat daya hantar
material/peralatan listrik itu sendiri yang sangat bergantung dari kualitas bahan
dari material/peralatan listrik tersebut, jika pada jaringan maka akan sangat
bergantung pada konfigurasi jaringan nya.

3) Perhitungan Rugi-rugi (Losses)


Mencari rugi-rugi pada sistem tenaga listrik yang digunakan secara umum
oleh PLN. Perhitungan rugi-rugi energi secara teoritis untuk mendapatkan nilai
rugi-rugi energi jaringan distribusi sebagai pembanding terhadap nilai rugi-rugi
hasil pengukuran lapangan.
a) Rugi-rugi daya (Losses)
Rugi-rugi daya merupakan rugi-rugi yang terjadi akibat adanya daya yang
hilang pada jaringan seperti daya aktif dan reaktif. Semakin panjang saluran
yang ada maka nilai tahanan dan reaktansi jaringan akan semakin besar,
sehingga rugi-rugi bertambah besar baik itu pada rugi-rugi daya aktif maupun
rugi-rugi daya reaktif.
Rugi-rugi daya adalah gangguan dalam sistem dimana sejumlah energi
yang hilang dalm proses pengaliran listrik mulai dari gardu induk sampai
dengan konsumen.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa rugi daya (losses) adalah suatu
bentuk kehilangan energi listrik yang berasal dari sejumlah energi listrik yang
disediakan PLN dengan sejumlah energi yang terjual ke konsumen dengan
mengganggu efisiensi sistem distribusi listrik.
Rugi daya yang terjadi pada sistem distribusi listrik disebabkan karena
karena penghantar dialiri beberapa hal. Rugi daya disebabkan karena saluran

15
distribusi mempunyai Tahanan, Induktansi dan Kapasitansi. Karena saluran
distribusi primer atau sekunder berjarak pendek maka kapasitas dapat
diabaikan.
Persamaan :
Ploses = I2 • R...............................................................(1)
Dimana : P = Rugi yang timbul pada konektor (Watt)
I2 = Arus yang mengalir melalui konektor (Ampere)
R = Tahanan konektor (Ohm)

b) Tahanan Saluran (R)


Penyaluran daya listrik pada jaringan distribusi sekunder dipengaruhi oleh
parameter resistansi, induktansi dan kapasitansi, ketiga parameter ini
mengakibatkan terjadinya jatuh tegangan dan susut daya. Menurut Stevenson,
William, 1994 (Nasir, MM. 2009) resistansi jenis masing-masing penghantar
tembaga = 0,0178 Ω mm2/m dan aluminium = 0,032 Ω mm2/m.

Persamaan :
R = P ........................................................................(2)

Dimana : R = Tahanan saluran (Ω)


Ρ = Hambatan jenis (Ω mm2/m)
L = Panjang saluran (m)
A = Luas penampang (m)

c) Perhitungan rugi-rugi daya (Losses) pada Feeder (Penyulang)


Persamaan rugi-rugi daya tiga fasa pada feeder (penyulang)

Persamaan :
∆P = 3 • I2 • R • ∆t ..............................................................(3)
Dimana : ∆P = Rugi daya
Aktif (Watt) I = Arus
Beban (Ampere) = Tahanan
Saluran (ohm)t = Waktu (jam)

16
d) Persentase rugi daya per-feeder
Besarnya rugi daya per-feeder terhadap total daya per-feeder, dapat
dirumuskan :

Persamaan :

%Rugi Daya per Feeder = x 100% ................................(4)

17
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian tentang “Rugi Daya Jaringan Distribusi Sekunder PT. PLN
(Persero) ULP Belawan Sumatera Utara” saya menggunakan jenis penelitian
kuantitatif dan kualitatif.
Kuantitatif adalah melakukan pengumpulan data berdasarkan pengukuran yang
dilakukan dalam penelitian ini yang mana hasil dari pengukuran itu diselesaikan
dalam bentuk matematis sedangkan jenis penelitian Kualitatif adalah melakukan
analisis penelitian berdasarkan data pengukuran Kuantitatif.

3.2 Waktu dan Tempat


3.2.1 Tempat Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian bertempat di PT. PLN (Persero) ULP
BELAWAN, Jl. Kol.Yos Sudarso, Kel.Belawan Bahari, Kec. Medan Belawan,
Sumatera Utara.

3.2.2 Waktu Penelitian


Waktu yang digunakan untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 18
Agustus 2022 sampai dengan tanggal 20 September 2022. Kurang lebih waktu
penelitian sampai 1 bulan hingga selesai.

3.3 Teknik Pengolahan Data


3.3.1 Data Sampel
Data sampel diperoleh dari berbagai literatur untuk mendukung penelitian
ini, agar data sampel dan data hasil penelitian yang akan diperoleh dapat
disikronkan satu sama lain.

3.3.2 Jenis dan Sumber Data


Adapun jenis dan sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu :

18
a. Data Primer dalam penelitian ini diperoleh dari beberapa penjelasan
informan (Petugas PT. PLN (Persero) ULP Belawan) yang mampu
menjelaskan mengenai rugi daya jaringan distribusi Sekunder
b. Data sekunder atau data pendukung dalam penelitian ini bersumber dari
beberapa literatur atau dokumen yang menjelaskan tentang rugi daya
jaringan distribusi Sekunder.

3.4 Metodologi Penelitian


Adapun metodologi penelitian ini adalah peneliti lapangan dimana sebagian
besar data diperoleh dari pengamatan langsung atau dengan melakukan survei
langsung dengan objek selama melakukan studi kasus hingga penulisan laporan
ini, anatara lain adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Pengambilan Data


a. Riset Perpustakaan
Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari dan mengambil data
dari pengetahuan Pustaka yang bersifat documenter dari perusahaan
maupun Pustaka lainnya yang berkaitan dengan materi laporan.

b. Riset Lapangan
Metode ini dilakukan dengan cara mengamati objek langsung yang
diteliti dengan obsevasi. Penulisan secara langsung mengadakan
pengamatan serta melakukan pengujian, mengukur serta mencatat dan
menghitung data-data yang berkaitan dengan objek yang diteliti yang di
hadapi pada waktu di lapangan sebagai bahan untuk Menyusun laporan ini.

3.4.2 Metode Analisis


Metode analisis yang dilakukan penelitian adalah metode analisis
pengukuran atau kuantitatif untuk mempelajari data-data hasil penelitian. Penulis
menggunakan beberapa rumus yang berkaitan dengan objek yang diteliti sebagai
bahan utama penyusunan laporan ini.

19
3.5 Analisis Pengumpulan Data
Data yang berhasil dikumpulkan, baik primer (teori) maupun data sekunder
(data kasus), akan dianalisis secara kuantitatif kemudian disajikan dalam bentuk
deskriptif.

3.6 Prosedur Penelitian


Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, tentu harus mengikuti Langkah-
langkah yang terstruktur dan sistematis agar dalam menganalisis rugi daya pada
sistem distribusi sekunder dapat dikerjakan dengan baik dan benar, Adapun
prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Mengenali permasalahan yang terjadi

2. Pengambilan dan konstruksi sistem jaringan distribusi : data tersebut diambil


sebagai pendukung data penyebab terjadinya rugi daya, Adapun data yang
ingin diketahui dalam hal ini adalah :

a. Jenis, panjang dan luas Penampang/Penghantar

b. Dan kapasitas Gardu Distribusi

3. Menghitung besar rugi daya menggunakan rumus-rumus yang telah ditentukan

4. Menentukan penyebab-penyebab terjadinya rugi-rugi daya seperti contoh


kebocoran arus, kebocoran isolator, jarak penghantar dan lain sebagainya.
5. Merumuskan dan menyajikan solusi terhadap penyebab-penyebab rugi daya
yang terjadi diwilayah tersebut
6. Menulisan kesimpulan serta saran terhadap permasalahan yang diangkat pada
Tugas Akhir ini, contohnya memberikan solusi agar mengurangi terjadinya
rugi-rugi daya tersebut.
Tabel 3.1 Jenis & Ukuran Kabel penghantar

No Jenis Penghantar Ukuran Penghantar

35 mm2

1 A3C 70 mm2

90 mm2

20
2 A3CS 150 mm2

240 mm2

Pada Tabel 3.1 diatas memberi keterangan bahwa jenis penghantar beserta
ukuran kabel penghantar yang digunakan di PT. PLN (ULP) Belawan ada 2 jenis
yaitu A3C dan A3CS, dan jenis kabel penghantar yang selalu/sering digunakan
ialah jenis Penghatar A3CS seperti yang di jelaskan juga di Tabel 4.2.

Tabel 3.2 Merk & Kapasitas Trafo Distribusi

No Merk Trafo Kapasitas untuk Umum Kapasitas untuk Industri

1 Morawa 25 kVA 250 kVA

50 kVA 630 kVA


2 Trafindo
100 kVA 1000 kVA
3 Starlite
160 kVA 2000 kVA
4 B&D 200 kVA 5000 kVA

Menurut Tabel 3.2 diatas menjelaskan bahwa, ada 4 Jenis Merk Trafo yang
digunakan di PT. PLN (ULP) Belawan, yaitu : Merk Morawa, Trafindo, Starlite,
dan B&D, serta Trafo yang sering digunakan di daerah tersebut ialah Trafo dengan
Merk Morawa. Seperti yang di jelaskan juga di Tabel 4.1.

21
3.7 Flowchart Penelitian

Mulai

Mengidenfikasi masalah, tujuan


dan batasan penelitian

Studi literatur & Riset ke Lokasi

Penyusunan Data Riset

Pengolahan Data Riset

Tampilan Hasil

Resume

Selesai

Gambar 3.1 Flowchart Penelitian

22

Anda mungkin juga menyukai