THE LAWSUIT CASE OF CAMPO VOLANTIN FOOTBRIDGE
Santiago Calatrava VS Bilbao Government
(Gugatan Kasus Jembatan Campo Volantin Santiago Caltrava VS Pemerintah Bilbao)
Kronologi Kasus : Pada tahun 1997 jembatan dibuka untuk umum. Pada tahun 1997-
2007, kritik bermunculan terkait penggunaan jembatan ini. Banyak pejalan kaki yang
terpeleset dan terjatuh karena lantai kaca yang licin saat cuaca basah. Pemerintah sempat
melapisi dengan karpet karet. Namun, saat cuaca buruk akibat badai, karpet tersebut malah
membahayakan pejalan kaki karena sering terangkat oleh angin kencang. Pada 2007,
Pemerintah Kota Bilbao membangun proyek ekstensi jembatan baru yang dirancang oleh
Arata Isozaki. Calatrava menuntut pemerintah kota ke pengadilan atas dasar pelanggaran hak
cipta intelektual dan "perusakan" atas karya arsitekturnya. Dia menuntut ganti rugi sebesar
€250.000 dan perobohan jembatan tambahan yang baru. Jika jembatan yang baru tetap
dipertahankan, ia menuntut €3.000.000 sebagai ganti rugi "kerusakan moral." Kemudian
November 2007, Hakim menyetujui adanya "kerusakan moral" seperti yang diajukan
Calatrava, namun tetap memenangkan pemerintah kota; jembatan baru tidak dibongkar.
Calatrava mengajukan banding. Pada tahun 2009, pengadilan tinggi memenangkan Calatrava
dan membebankan denda €30.000 pada pemerintah kota Bilbao, lebih sedikit daripada
tuntutan awalnya.
Pahala Santiago Calatrava :
Memberi contoh pada pekerja kreatif lain bahwa karya yang telah dibuat patut
dihargai dan diperjuangkan.
Dosa Santiago Calatrava
Tidak memperhitungkan dengan cermat faktor
Keselamatan pengguna pada rancangannya dan lebih mementingkan faktor estetika.
Bersikap seolah keindahan bentuk rancangannya lebih penting daripada keselamatan
dan kepentingan publik yang menggunakan jembatannya.
Pahala Pemerintah Kota Bilbao
Mengambil inisiatif tindakan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan dan
kenyamanan publik (meskipun telat 10 tahun).
Dosa Pemerintah Kota Bilbao
Menyetujui bahkan membangun proyek tersebut dari awal, tanpa dengan cermat
memperhitungkan resiko operasional jangka panjang.
Tidak mengkonsultasikan solusi desain kepada desainer awal proyeknya.
Kode etik arsitek dan kaidah tata laku profesi arsitek ikatan arsitek indonesia edisi keempat :
1. Kaidah dasar satu kewajiban umum kaidah dasar dua kewajiban terhadap masyarakat
2. Para arsitek memiliki kewajiban kemasyarakatan untuk mendalami semangat dan inti
hukum-hukum serta peraturan terkait, dan bersikap mendahulukan kepentingan
masyarakat umum.
3. Kaidah dasar tiga kewajiban kepada pengguna jasa
4. Kaidah dasar empat kewajiban kepada profesi kaidah dasar lima kewajiban terhadap
sejawat
Kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kasus lain yang akan datang, bahwa:
Suatu proyek pembangunan harus diperhitungkan dengan sangat cermat dalam setiap
aspek terkait, termasuk resiko jangka panjang. Dan hal ini melibatkan tidak hanya
arsitek, namun juga pelaksana pembangunan dan klien yang membiayai.
Arsitek berhak memperjuangkan karya arsitektur yang telah ia buat
Sebagai hak intelektualnya, namun kepentingan publik tetap harus menjadi yang
utama.
Permasalahan yang muncul akibat desain hendaknya dikonsultasikan dengan
perancang aslinya terlebih dahulu, sebagai bentuk penghargaan (respek) terhadap
perancang tersebut.