0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
854 tayangan12 halaman

Laporan Pendahuluan Afasia

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus afasia. Afasia adalah gangguan fungsi bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak. Laporan ini menjelaskan konsep dasar, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, dan penatalaksanaan afasia.

Diunggah oleh

Riskiy Paramita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
854 tayangan12 halaman

Laporan Pendahuluan Afasia

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus afasia. Afasia adalah gangguan fungsi bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak. Laporan ini menjelaskan konsep dasar, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, dan penatalaksanaan afasia.

Diunggah oleh

Riskiy Paramita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS AFASIA

Disusun Oleh :

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK 2023/2024


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS AFASIA

DI RUMAH SAKIT PROVINSI NTB

Disusun Oleh:

Laporan Pendahuluan / Asuhan Keperawatan Telah dikonsultasikan dan ACC.

Mengetahui :
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS AFASIA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
Afasia adalah gangguan fungsi bahasa yang disebapkan cedera atau
penyakit pusat otak. Ini termasuk gangguan kemapuan membaca dan menulis
dengan baik, demikian juga bercakap-cakap, mendengar berhitung, menyimpulkan
dan pemahaman terhadap sikap tubuh. Akhirnya digunakan gambaran afasia yang
diprsentasikan. Kira-kira 1-1,5 juta orang dewasa diamerika mengalami kecacatan
kronik afasia.(Smeltzer dan Bare, 2002).
Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovaskuler
hemisfer dominan, trauma kepala, atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe
afasia, biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua penderita afasia
memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan
menulis dalam derajat berbeda-beda.
Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah
kerusakan otak. Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam memproduksi
dan / atau memahami bahasa.
2. Etiologi
Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah
kerusakan otak. Kata afasia perkembangan (sering disebut sebagai disfasia)
digunakan bila anak mempunyai keterlambatan spesifik dalam memperoleh
kemampuan berbahasa. Dalam hal ini, perkembangan kemampuan berbahasa yang
tidak sebanding dengan perkembangan kognitif umumnya.
Stroke, tumor otak, cedera otak, demensi dan penyakit lainnya dapat
mengakibatkan gangguan berbahasa.
3. Manifestasi Klinis
1) Gangguan tonus otot, terjadi kelemahan umum
2) Gangguan penglihatan
3) Gangguan tingkat kesadaran
4) Disritmia/gangguan irama jantung
5) Emosi yang labil
6) Kesulitan menelan
7) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
8) Afasia (gangguan fungsi bahasa), mungkin afasia motorik (kesulitan untuk
mengungkapkan.
4. Patofisiologi
Afasia terjadi akibat kerusakan pada area pengaturan bahasa/bicara di otak
pada manusia, fungsi kemampuan bahasa mengalami lateralisasi ke hemisfer kiri
otak, pada orang afasia sebagian besar lesi terletak pada hemisfer kiri.
Area bronca 44 dan 45 broadman:bertanggung jawab atas pelaksanaan
motorik bicara, lesi pada area ini akan mengakibatkan kesulitan dalam artikulasi
tetapi penderita bisa memahami bahasa dan tulisan.
Afasia dapat terjadi sekunder terhadap cedera otak atau degenerasi dan
melibatkan belahan otak kiri ke tingkat yang lebih besar dari kanan. Kebanyakan
aphasias dan gangguan terkait akibat stroke, cedera kepala, tumor otak, atau
penyakit degeneratif.
5. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan kelancaran berbicara. Seseorang disebut berbicara , lancar bila
bicara spontannya lancar, tanpa tertegun-tegun untuk mencari Kata yang
diinginkan.
2) Kelancaran berbicara verbal merupakan refleksi dari efisiensi menemukan
kata.Efek yang ringan dapat dideteksi melalui tes kelancaran, menemukan kata
yaitu jumlah kata tertentu yang dapat diproduksi selama jangka waktu yang
terbatas. Misalnya menyebutkan sebanyak-banyaknya nama jenis hewan
selama jangka waktu satu menit, ulnu menyebutkan kata-kata yang mulai
dengan huruf tertentu, misalnya huruf S atau huruf B dalam satu menit.
Skor : Orang normal umumnya mampu menyebutkan 18 - 20 nama hewan
selama 60 detik, dengan variasi I 5 - 7. Usia merupakan faktor yang
berpengaruh secara bermakna dalam tugas ini. Orang normal yang berusia di
bawah 69 tahun akan mampu menyebutkan 20 nama hewan dengan simpang
baku 4,5.
Cara Pemeriksaan:
Pasien disuruh mengulang apa yang diucapkan oleh pemeriksa. Mula-mula
sederhana kemudian lebih sulit. Contoh:
a. Map
b. Bola
c. Kereta
d. Rumah Sakit
e. Sungai Barito
Pemeriksa harus memperhatikan apakah pada tes repetisi ini didapatkan
parafasia, salah tatabahasa, kelupaan dan penambahan. Orang normal
umumnya mampu mengulang kalimat yang mengandung 19 suku-kata.
3) Pemeriksaan Menamai Dan Menemukan Kata
Kemampuan menamai objek merupakan salah satu dasar fungsi
berbahasa. Hal ini sedikit-banyak terganggu pada semua penderita afasia.
Dengan demikian, semua tes yang digunakan untuk menilai afasia mencakup
penilaian terhadap kemampuan ini. Kesulitan menemukan kata erat kaitannya
dengan kemampuan menyebut nama (menamai) dan hal ini disebut anomia.
Penilaian harus mencakup kemampuan pasien menyebutkan nama
objek, bagian dari objek, bagian tubuh, warna, dan bila perlu gambar
geometrik, simbol matematik atau nama suatu tindakan. Dalam hal ini, perlu
digunakan aitem yang sering digunakan (misalnya sisir, arloji) dan yang jarang
ditemui atau digunakan (misalnya pedang). Banyak penderita afasia yang
masih mampu menamai objek yang sering ditemui atau digunakan dengan
cepat dan tepat, namun lamban dan tertegun, dengan sirkumlokusi (misalnya,
melukiskan kegunaannya) atau parafasia pada objek yang jarang dijumpainya.
4) Pemeriksaan Sistem Bahasa
Evaluasi sistem bahasa harus dilakukan secara sistematis. Perlu
diperhatikan bagaimana pasien berbicara spontan, komprehensi (pemahaman),
repetisi (mengulang) dan menamai (naming). Membaca dan menulis harus
dinilai pula setelah evaluasi bahasa lisan. Selain itu, perlu pula diperiksa sisi
otak mana yang dominan, dengan melihat penggunaan tangan (kidal atau
kandal).Dengan melakukan penilaian yang sistematis biasanya dalam waktu
yang singkat dapat diidentifikasi adanya afasia serta jenisnya. Pasien yang
afasia selalu agrafia dan sering aleksia, dengan demikian pengetesan membaca
dan menulis dapat dipersingkat. Namun demikian, pada pasien yang tidak
afasia, pemeriksaan membaca dan menulis harus dilakukan sepenuhnya,
karena aleksa atau agrafia atau keduanya dapat terjadi terpisah (tanpa afasia).
5) Pemeriksaan Penggunaan Tangan (Kidal Atau Kandal)
Penggunaan tangan dan sisi otak yang dominan mempunyai kaitan
yang erat Sebelum menilai bahasa perlu ditentukan sisi otak mana yang
dominan, dengan melihat penggunaan tangan. Mula-mula tanyakan kepadn p
irsion apakah ia kandal (right handed) atau kidal. Banyak orang kidal telah
illnjarkan sejak kecil untuk menulis dengan tangan kanan. Dengan ilcmikian,
mengobservasi cara menulis saja tidak cukup untuk menentukan npakah
seseorang kandal atau kidal. Suruh pasien memperagakan tangan mana yang
digunakannya untuk memegang pisau, melempar bola, dsb. Tanyakan pula
apakah ada juga kecenderungannya menggunakan tangan yang lainnya.
Spektrum penggunaan tangan bervariasi dari kandal yang kuat; kanan sedikit
lebih kuat dari kiri; kiri sedikit lebih kuat dan kanan dan kidal yang kuat. Ada
individu yang kecenderungan kandal dan kidalnya hampir sama (ambi-
dextrous)
6) Pemeriksaan berbicara – spontan
Langkah pertama dalam menilai berbahasa ialah mendengarkan
bagaimana pasien berbicara spontan atau bercerita. Dengan mendengnrknn
pasien berbicara spontan atau bercerita, kita dapat memperoleh data yang
sangat berharga mengenai kemampuan pasien berbahasa. Cara Ini tidak kalah
pentingnya dari tes-tes bahasa yang formal.
Kita dapat mengajak pasien berbicara spontan atau berceritera melalui
pertanyaan berikut : Coba ceritakan kenapa anda sampai dirawat di rumah
sakit. Coba ceritakan mengenai pekerjaan anda serta hobi anda.
Bila mendengarkan pasien berbicara spontan atau bercerita, perhatikan:
a) Apakah bicaranya pelo, cadel, tertegun-tegun, disprosodik (irama,
ritme, intonasi bicara terganggu). Pada afasia sering ada gangguan
ritme dan irama (disprosodi).
b) Apakah ada afasia, kesalahan sintaks, salah menggunakan
kata (parafasia, neologisme), dan perseverasi. Perseverasi sering
dijumpai pada afasia. Kadang afasia ditandai oleh kesulitan
menemukan nama, sedangkan modalitas lainnya relatif utuh. Pasien
mengalami kesulitan menamai sesuatu benda. Pada pasien demikian
kita dengar ungkapan seperti : "anu, itu, kau, kau tahu kan, ya anu itu".
Afasia amnestik ini sering merupakan sisa afasia yang hampir pulih,
pada afasia yang tersebut terdahulu, namun dapat juga dijumpai pada
berbagai gangguan otak yang difus. Afasia amnestik mempunyai nilai
lokalisasi yang kecil.
6. Penatalaksanaan
Meningkatkan harga diri positif. Pasien afasia harus diberi banyak
pengaman psikologis bila memungkinkan. Kesabaran dan pengertian dibutuhkan
sekali pada saat pasien belajar. Dan pasien diperlakukan sebagai orang dewasa.
Suatu tindakan dengan cara yang tidak terburu-buru, dikombinasi dengan
dorongan, kesabaran, dan keinginan untuk menyediakan waktu. Pembelajaran
ulang wicara dan keterampilan bahasa memerlukan waktu beberapa tahun.
Individu afasia mengalami defresi akibat ketidak mampuan bercakap-
cakap dengan orang lain. Tidak dapat berbicara melalui telpon atau menjawab
pertanyaan, atau mengungkapkan diri melalui percakapan menyebapkan marah,
frustasi, takut tentang masa depan, dan perasaan hilangnya harapan.
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi. Untuk meningkatkan
kemampuan komunikasi, pasien afasia perlu dipimpin dalam upaya-upaya mereka
untuk meningkatkan keterampilan komunikasi. Keterampilan mendengar dan juga
berbicara ditekankan pada program rehabilitas. Pasien juga dapat dibantu dengan
papan komunikasi, yang menampilkan gambar-gambar, sesuai kebutuhan yang
diminta dan diungkapkan. Papan ini dapat menerjemahkan kedalam bahasa yang
luas. Pasien harus dianjurkan untuk mengungkapkan kebutuhan pribadi dan
menggunakan papan tulis bila tidak mampu mengekspresiakan kebutuhan.
Meningkatkan Stimulasi Pendengaran. Pertama pasien dianjurka untuk
mendengar. Berbicara adalah berpikir keras, dan penekanannya adalah berfikir.
Pasien harus berpikir dan menyusun pesan-pesan yang masuk dan merumuskan
suatu respons. Mendengar membutuhkan upaya mental, namun pasien berjuang
melawan kebosanan dan membutuhkan waktu untuk mengatur jawaban.
Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada :
1) Dimulai seawal mungkin. Segera diberikan bila keadaan umum pasien
sudah memungkinkan pada fase akut penyakitnya.
2) Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan
pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik.
3) Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti isyarat).
4) Program terapi yang dibuat oieh terapis sangat individual dan tergantung
dari latar belakang pendidikan, status sosial dan kebiasaan pasien.
5) Program terapi berlandaskan pada penurnbuhan motivasi pasien untuk mau
belajar (re-learning) bahasanya yang hilang.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Mayor
- Ketidakmampuan untuk mengucapkan kata-kata tetapi dapat dimengerti orang
lain.
- Mengungkapkan kurang pengetahuan atau
keterampilan-keterampilan/permintaan informasi.
- Mengekspresikan suatu ketidakuratan persepsi status kesehatan melakukan
dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan.
- Jangka panjang atau kronik.
- Pengungkapan diri yang negative
- Ekspresi rasa bersalah/malu.
- Evaluasi diri karena tidak dapat menangani kejadian.
- Menjauhi rasionalisasi/menolak umpan balik positif dan membesarkan umpan
balik negative mengenai diri.
- Ragu untuk mencoba hal-hal/situasi baru.
- Melaporkan ketidakmampuan untuk menetapkan dan/atau mempertahankan
hubungan suportif yang stabil.
- Ketidakpuasan dengan jaringan sosial
b. Minor
- Napas Pendek.
- Memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (mis,ansietas,
depresi) mengakibatkan informasi atau kurang informasi.
- Sering kurang berhasil dalam kerja atau kejadian hidup lainnya.
- Penyelesaian diri berlebihan, bergantung pada pendapat orang lain.
- Buruknya penampilan tubuh (Kontak mata, postur, gerakan).
- Tidak asertif/pasif.
- Keragu-raguan.
- Mencari jaminan secara berlebihan.
- Isolasi sosial.
- Hubungan superficial.
- Menyalahi orang lain untuk masalah-masalah interpersonal.
- Menghindari orang lain.
- Kesulitan Interpersonal di tempat kerja.
- Orang lain melaporkan tentang pola interaksi yang bermasalah.
- Perasaan tentang tidak dimengerti.
- Perasaan tentang penolakan
2. Diagnosa Keperawatan
1) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan lesi area bicara otak
(Afasia)
2) Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat
kehilangan fungsi bicara
3) Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan bicara atau
penurunan fungsi
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
Kerusakan -Memperlihatkan - Identifikasi metoda - Sebagai data dasar
komunikas kemampuan yang alternatif yang dapat untuk melakukan
i verbal meningkat digunakan orang intervensi
untukmengekspresikan tersebut untuk selanjutnya
diri mengkomunikasikan - Dukungan dari
-Mengungkapkan kebutuhan- keluarga sangat
penurunan frustsi kebutuhan dasar. diperlukan untuk
dengan komunikasi - Anjurkan Keluarga kemajuan kesehatan
untuk membagi klien
perasaan-perasaan - Untuk
mengenai masalah- mempermudah klien
masalah dalam dalam berkomunikasi
berkomunikasi dikehidupan sehari-
- Klarifikasi bahasa
apa yang digunakan hari
di rumah. - Pada usia yang sama
- Upayakan untuk biasanya klien akan
melatih lebih mengerti
menggunakan
jender dan usia yang
sama dengan klien.
Harga diri - Memodifikasi harapan Bantu individu untuk Dengan menjelaskan
rendah diri yang berlebihan mengurangi tahapan pada klien tentang
dan tidak realistis ansietas yang ada penyakitnya di
- Mengungkapkan Tidak membiarkan harapkan klien dapat
penerimaan individu untuk menerima keadaan dan
keterbatasan mengisolasi diri mengurangi
- Mengidentifikasi aspek kecemasan
positif dari diri Membantu klien untuk
berkomunikasi dengan
sekitar untuk
membangkitkan harga
diri
Kerusakan - Menyatakan masalah - Berikan individu - Dengan memberikan
interaksi dengan sosialisasi hubungan suportif suport diharapkan
sosial - Mengidentifikasi - Bermain peran dapat meningkatkan
perilaku baru untuk situasi bermasalah. harga diri pasien
meningkatkan - Diskusikan - Untuk informasi
sosilaisasi efektif perasaan-perasaan cara mengatasi stres
- Melaporkan atau - Menyalurkan
bermain peran terhadap perasaan klien
penggunaan perilaku sehingga klien
pengganti kontstruktif merasa lega
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana intervensi untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap tahap implementasi dimulai setelah rencana
intervensi disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu klien
mencapai tujuan yang diharapkan.
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan rencana
keperawatan yang sudah di susun dalam tahap perencanaan. untuk kesuksesan
implementasi keperawatan supaya sesuai dengan rencana keperawatan, perawat
harus mempunyai keahlian kognitif, hubungan interpersonal, dan keterampilan
dalam melakukan tindakan.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan
keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat
pada tahap perencanaan. Evaluasi mengacu kepada penilaian, tahapan dan
perbaikan. Dalam evaluasi, perawat menilai reaksi klien terhadap intervensi yang
telah diberikan dan menetapkan apa yang menjadi sasaran dari rencana
keperawatan dapat diterima.
Perawat menetapkan kembali informasi baru yang diberikan kepada
klien untuk mengganti atau menghapus diagnosa keperawatan, tujuan atau
intervensi keperawatan. Evaluasi juga membantu perawat dalam menentukan
target dari suatu hasil yang ingin dicapai berdasarkan keputusan bersama antara
perawat dan klien.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E., Moorhouse, M.F dan Geissler, A.C.2000. Rencana Asuhan


Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawata
Pasien.Jakarta:EGC.
Herdman, T.H. 2011.NANDA Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-
2011. Jakarta: FKUI.
Herdman,T.H.2012. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan definisi dan
Klasifikasi 2012-2014.Jakarta :EGC.
Higler PA. BOIES. 1997. Buku Ajar Penyakit THT, Edisi 6. Alih Bahasa: Wijaya C.
BOIES Fundamental of Otolaryngology.Jakarta: EGC
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai