Anda di halaman 1dari 8

Akuntansi Sosial dan Lingkungan

AL 21, 22, 23, 24 : Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial & Lingkungan

Disusun Oleh: Kelompok : 7 Kelas : A Windri Hastomo A. N. Yulia Putri R. Iswara H. Monica Rani L. Vidyawati Agustina Indra 08.60.0157 08.60.0161 08.60.0184 08.60.0189 08.60.0219 08.60.0220

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata 2011

AL 21: Akuntansi CSR


Pada pasal 74 UUPT dinyatakan bahwa kewjiban melaksanakan CSR hanya berlaku bagi PT yang menjalankan kegiatan usaha yang berkaitan dengan sumber daya alam. Pada pasal 66 justru mewajibkan semua PT memasukkan pelaksanaan CSR dalam laporan thunan direksi. Ini berarti, mulai 2008 dan selanjutnya semua PT wajib memiliki dan melaksanakan program-program CSR serta melaporkannya dalam laporan tahunan. Investasi dalam program-program CSR tentu akan menyerap sumber daya ekonomi PT dalam jumlah yang besar. Permasalahannya hingga akhir Desember 2007 belum ada ketentuan akuntansi atau standar akuntansi CSR dari pemerintahatau IAI yang mengatur tentang pengakuan, pengukuran, pencatatan dan pelaporan informasi CSR. Dan belum adanya ketentuan/ standar akuntansi tersebut disebabkan masih simpang siurnya pemahaman pemerintah dan IAI terkait esensi akuntansi CSR. Akuntansi CSR Gray Et al (1987) mendefinisikan akuntansi sosial sebagai proses pengkomunikasian dampak-dampak sosial dan lingkungan dari tindakan ekonomi-ekonomi perusahaan untuk kelompok-kelompok kepentingan tertentu dalam masyarakat. Menurut Elkington (1997) akuntansi sosial bertujuan menilai dampakdampak dari suatu ccorporasi terhadap masyarakat, baik di dalam/ di luar perusahaan. Ruang lingkup akuntansi sosial mencakup :
1.

Identifikasi sasaran dan nilainilai sosial perusahaan Identifikasi siapa saja stakeholder perusahaan Menentukan indikator untuk mengukur kinerja sosial dan targettarget yang mau dicapai Mengukur kinerja, melakukan pencatatan, dan mempersiapkan akunakun dengan menggunakan prinsip kualitatif akuntansi seperti relevansi, reliabilitas, understandability, objectivitas dan konsistensi.

2.
3.

4.

5. 6. 7.

Mencatat opini stakeholder agar bisa menyajikan baseline komparasi di masa depan. Menyertakan akun dalam audit independen Mempublikasi akun dalam laporan keuangan.

Sementara menurut Schaltegger et al (1996) mendefinisikan akuntansi lingkungan sebagai suatu sub area dalam akuntansi yang berhubungan dengan aktivitas, metode dan sistem pencatatan, analisis, dan laporan informasi lingkungan terkait dengan dampak dampak finansial dan ekologis dari suatu sistem ekonomi koorporasi. Bila digabungkan, esensi akuntansi CSR adalah suatu proses pengukuran, pencatatan, pelaporan dan pengungkapan informasi terkait efek-efek sosial dan lingkungan dari tindakantindakan ekonomi perusahaan bagi kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat atau yang menjadi stakeholder perusahaan. Ada dua dimensi utama dalam akuntansi CSR yaitu (1) melaporkan dan mengungkap costs dan benefits dari aktivitas ekonomi perusahaan yang secara langsung berdampak pada profitabilitas bottom-line (laba); (2) melaporkan costs dan benefits dari aktivitas ekonomi perusahaan yang berdampak langsung pada individu, masyarakat dan lingkungan. Asumsi yang mendasari akuntansi CSR adalah perusahaan tidak hanya memiliki tanggungjawab ekonomi memaksimalkan laba (profit) tetapi juga mempunyai tanggungjawab moral dan etis untuk meningkatkan nilai masyarakat (people) dan lingkungan (planet) tiga dimensi tujuan (tripple bottom line accounting).

AL 22: Akuntansi Lingkungan Dalam Perspektif Korporasi


Tanggungjawab terhadap isu-isu lingkungan dalam praktik bisnis selain merupakan suatu kewajiban moral, etika dan legal, juga merupakan suatu strategi investasi jangka panjang korporasi untuk meningkatkan reputasi atau goodwill. Meningkatnya goodwill akan berakibat pada meningkatnya kinerja dan nilai perusahaan secara berkelanjutan. Akuntansi Lingkungan International Organization for Standardization (ISO 14001) secara luas mendefinisikan bahwa manajemen lingkungan menunjukkan tingkat respon korporasi terhadap isu-isu lingkungan dalam menelaah posisi lingkungan mereka, mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi utnuk memperbaiki posisi tersebut, dan mengubah sistem-sistem manajemen untuk menjamin pembaruan-pembaruan dalam menajemen lingkungan yang efektif secara berkelanjutan. Sistem Manajemen Lingkungan adalah suatu kerangka kerja yang dapat diintegrasikan ke dalam proses-proses bisnis yang ada untuk mengenal, mengukur, mengelola dan

mengontrol dampak-dampak lingkungan secara efektif, dan oleh karenanya merupakan risiko-risiko lingkungan. Fungsi manajemen lingkungan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Telaah dan pengembangan kebijakan lingkungan. Pengembangan target-target dan sasaran-sasaran lingkungan. Penilaian siklus hidup produk. Kepatuhan terhadap regulasi. Penilaian dampak lingkungan. Minimalisasi sampah atau limbah. Program-progranm pencegahan polusi. Riset, pengembangan dan investasi dalam teknologi-teknologi yang ramah lingkungan. Pelaporan terhadap isu-isu dan kinerja lingkungan. Fungsi manajemen lingkungan akan mempengaruhi desain sistem informasi akuntansi (SIA) dan peran akuntan dalam korporasi. Desain SIA dan peran akuntan dalam membantu korporasi seharusnya lebih sensitif terhadap isu-isu lingkungan. Empat level pendekatan (the four-tier) untuk menghitung biaya lingkungan (envinronmental costs) dalam penilaian investasi :
1)

Tier 0 adalah usual costs biaya-biaya langsung dan tidak langsung yang biasanya berkaitan dengan proyek investasi. Contohnya capital, penerimaan, material, dsb. Tier 1 adalah hidden costs biaya-biaya konvensional yang biasanya terdapat dalam biaya-biaya umum dan overhead. Tier 2 adalah liability costs biaya-biaya kewajiban kontingen yang timbul dalam kondisi-kondisi tertentu. Tier 3 adalah less tangible costs costs dan benefits kualitatif dari manajemen lingkungan yang diperbarui yang selanjutnya dinilai secara financial dan gains dan loss dari goodwill, pemasok, pelanggan, karyawan, harga, biaya pemasok, dsb. Tiga kategori biaya lingkungan yaitu :

2)

3)

4)

1. 2.

Biaya-biaya yang dikeluarkan karena diwajibkan undang-undang atau regulasi (regulatory costs). Contohnya biaya monitoring, pelaporan, manajemen limbah, dsb. Biaya yang dikeluarkan secara permanen karena kesadaran sendiri untuk mengelola lingkungan secara lebih baik dan bertanggung jawab (upfront costs). Contohnya biaya untuk persiapan dan survey tempat, riset dan pengembangan, dsb.

3.

Biaya yang dikeluarkan secara sukarela (voluntary costs). Contohnya biaya untuk pelaporan tahunan terhadap tanggung jawab dan kinerja lingkungan, daur ulang dan penggunaan kembali limbah, dsb. Perlakuan akuntansi terhadap biaya lingkungan dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1.

pengorbanan sumber-sumber ekonomi untuk biaya lingkungan yang memiliki manfaat ekonomik bagi perusahaan untuk periode-periode selanjutnya sehingga harus diperlakukan sebagai pengeluaran investasi (asset) diamortisasi. dalam neraca dan perlu

2.

pengorbanan sumber-sumber ekonomi untuk biaya lingkungan yang tidak memiliki manfaat ekonomik bagi perusahaan untuk periode-periode selanjutnya harus diperlakukan sebagai pengeluaran beban (expense) periodik dan dikelompokkan sebagai biaya umum dalam laporan laba-rugi.

AL 23: Akuntansi Tanggungjawab Sosial Dan Lingkungan Korporasi


Karena upaya pencapaian peringkat kinerja pada Lingkungan Hidup erat kaitannya dengan seberapa besar pengorbanan aset-aset ekonomik yang dilakukan perusahaan, maka ini menjadi problema yang penting yang dihadapi perusahaan-perusahaan adalah bagaimana perlakuan akntansi terhadap pengorbanan aset-aset ekonomik tersebut. Dalam UU No. 23/1997 tentang Lingkungan Hidup belum mengaturnya. SAK yang diterbitkan IAI hingga 2004 juga belum mengaturnya. Problem tersebut mengakibatkan perusahaan kesulitan dalam mengungkapkan (disclosure) informasi biaya tanggungjawab lingkungan kepada otoritas dan stakeholedrs. Perlakuan Akuntansi Pengorbanan yang bertujuan untuk memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkungan yang diwajibkan oleh otoritas secara periodik sehingga menjadi beban periodik bagi perusahaan. Namun di sisi lain, pengorbanan untuk TJSL merupakan pengeluaran investasi karena dari pengorbanan tersebut perusahaan akan mendapatkan sejumlah manfaat sosial dan ekonomik atau keuntungan di waktu-waktu mendatang. Manfaat sosial dan ekonomik yang akan diraih adalah perusahaan akan dihargai pemerintah dan masyarakat sebagai warga negara yang baik, sehingga reputasi atau goodwill perusahaan akan meningkat. Karena dinilai

ramah lingkungan maka kepercayaan investor, kreditor, pelanggan atau konsumen dan masyarakat terhadap perusahaan juga akan meningkat sehingga berimplikasi positif kepada kinerja keuangan perusahaan. Sebagai pengeluaran investasi, maka pengorbanan tersebut dicatat dalam kelompok asset neraca dan harus diamortisasi secara periodik. Pelaporan dan pengungkapan Pelaporan atau pengungkapan biaya TJSL dapat dilakukan perusahaan dengan cara menyajikannya secara integral ke dalam laporan keuangan triwulan, semester dan tahunan. Hal ini dimaksudkan agar otoritas, pemegang saham, kreditor dan stakeholders lainnya dapa mengetahui secara pasti tentang komitmen dan tanggungjawab sosial dan lingkungan yang telah dilakukan perusahaan. Selain itu, perusahaan-perusahaan perlu mengungkapkan secara rinci tentang aksi-aksi dan pengorbanan aset-aset ekonomik yang telah dilakukan dalam laporan keuangan. Manfaatnya, mereka justru akan mengapresiasinya secara positif karena tahu bahwa perusahaan memiliki komitmen yang tinggi terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Meskipun dalam jangka pendek perusahaan akan menderita penurunan kinerja laba namun dalam jangka menengah dan panjang perusahaan justru akan meraih keuntungan yang berkelanjutan. Dilaporkan bahwa perusahaan yang menyajikan laporan keuangan yang ramah lingkungan secara berkelanjuatan memiliki kinerja keuangan dan kinerja nilai pasar yang jauh lebih baik dibanding perusahaan yang menyajikan laporan keuangan secara konvensional.

AL 24: Penyusunan Standar Akuntansi Lingkungan: Peluang dan Kendala


Dalam setahun terakhir, penerbitan Standar Akuntansi Lingkungan semakin gencar. Saat ini Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI sedang mempelajari secara serius kerangka konseptual akuntansi lingkungan dan mempersiapkan untuk penyusunan draft Standar Akuntansi Lingkungan (SAL). Permintaan stakeholders dan respon positif dari IAI tersebut sangat baik. Pertama, selama beberapa dekade terakhir masalah lingkungan telah menjadi problema nasional yang kronis dan seius. Selama ini sering mencuat ke publik masalah-masalah seperti tidak adanya

tolak ukur yang jelas untuk menilai asset lingkugan dan sumber daya alam, tidak tercatatnya nilai asset lingkungan dan sumber daya alam dalam neraca keuangan negara (APBN). Kedua, permintaan stakeholder masih percaya pada eksistensi dan kompetensi dari profesi akuntansi yang selama beberapa tahun terakhir terpuruk akibat sejumlah mega skandal manipulasi laporan keuangan korporasi yang melibatkan para akuntan. Kendala Utama Ada 3 kendala yag akan menjadi penghambat utama bagi upaya DSAK-IAI untuk merealisasikan penyusunan SAL. Pertama, IASB dalam IFRS belum mengatur standar akuntansi tentang lingkungan. Meskipun sejumlah negara Uni Eropa telah mengusulkan kepada IASC untuk memasukkan isu-isu lingkungan dalam agenda pengembangan IAS sejak tahun 1998, namun hingga saat ini usulan tersebut belum juga direalisasikan karena sejumlah alasan yang kompleks. Hal ini menyulitkan DSAK-IAI dalam penyusunan draft SAL karena tidak adanya rujukan yang resmi dan berlaku umum. Seperti diketahui sampai saat ini sebagian besar PSAK disusun DSAK-IAI dengan berpedoman standar-standar akuntansi yang ada dalam IAS. Karena belum adanya rujukan yang jelas, maka tentu saja waktu yang dibutuhkan DSAK-IAI untuk penyusunan draft SAL cukup lama. Pro dan kontar, bahkan resistensi dari pihak-pihak yang berbeda kepentingan tentu akan meyertai dan mempengaruhi proses penyusunan SAL sehingga keputusan untuk menyetujui atau membatalkan draft PSAK tentang lingkungan akan memerlukan waktu yang ada. Kedua, masalah pemenuhan kriteria pengakuan dan pengukuran yang berterima umum terhadap objek lingkungan sebagai suatu item dalam laporan keuangan. Masalah ini diakui menjadi salah satu faktor penghambat utama yang menyebabkan IASB hingga saat ii belum dapat menerbitkan standar akuntansi tentang lingkungan. Dinyatakan dalam SFAC No.5 (FSAB 1984) suatu item dan informasi tersebut dapat diakui sebagai elemen laporan keuangan jika memenuhi 4 kriteria pengakuan fundamental berikut:
1. 2.

Definitions, item tersebut memenuhi definisi suatu elemen laporan keuangan, Measurability, item tersebut memiliki atribut yang relevan yang diukur dengan kehandalan yang tinggi, Relevance, item tersebut mampu membuat suatu perbedaan dalam keputusan pengguna, Reliability, informasi atas item tersebut disajikan secara jujur, dapat diverifikasi, dan netral atau tidak memihak.

3. 4.

Ketiga, isu lingkungan sering dijadikan sebagai komoditas ekonomi, politik, hukum, sosial dan lainnya yang dipertentangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang berbeda kepentingan tersebut tentu akan berjuang keras untuk memasukkan agenda kepentigannya masing-masing agar terakomodasi dalam proses penyusunan SAL. Ualitas dari SAL yang dihasilkan belum tentu juga akan memuaskan semua pihak sehingga bisa saja terjadi resistensi dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya tidak terakomodasi dalam SAL. Perlu kerja keras Meskipun akan menghadapi sejumlah kendala serius, namun permintaan dari stakeholders perlu segera ditindaklanjuti oleh IAI dengan kerja keras. IAI juga perlu segera membentuk tim Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) untuk lingkungan yang tersiri dari para pakar yang kompeten dan pihak-pihak yang mempresentasikan kepentingan stakeholders untuk mempersiapkan penyusunan draft SAL.