Anda di halaman 1dari 5

PERAN MAGMATIK DALAM PEMBENTUKAN MINERAL

Pada umumnya jenis endapan logam terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan oleh aktifitas magma. Pembentukan mineralisasi tersebut dapat terjadi pada batuan beku yang terbentuk maupun pada batuan samping karena terpengaruh proses magmatisme tersebut.

Selama terjadinya proses pergerakan magma naik ke permukaan (proses intrusi) maka akan diikuti pula oleh proses diferensiasi, asimilasi dan kristalisasi yang berlangsung seiring dengan perubahan suhu pada tubuh magma yang kemudian diikuti oleh proses pembekuan magma tersebut. Jenis batuan yang terbentuk akan dicirikan oleh komposisi mineral penyusunnya sesuai dengan komposisi magma serta temperatur pembekuannya. Karena proses diferensiasi magma yang terjadi, maka jenis dan komposisi mineral yang terbentuk bisa terdiri dari berbagai macam mineral logam maupun non logam (Batemen,1950).

Proses pembentukan cebakan mineral logam karena diferensiasi magma secara umum terbagi atas tiga stadium (Alan M. Bateman,.1950), yaitu :

1.

Stadium Likwidomagmatis

Stadium ini merupakan awal pembentukan mineral-mineral logam (titanmagnet, kromit, dan petlandite) maupun non logam (olivin, piroksin, hornblende, biotit) yang terbentuk pada suhu > 6000C (gambar 3.7). Stadium ini dicirikan oleh terjadinya pemisahan unsur-unsur kurang volatil berupa mineral-mineral silikat. Karena penurunan temperatur yang berlangsung terus-menerus, maka terbentuklah mineral-mineral yang dicirikan oleh unsur-unsur yang lebih volatil berupa mineral sodium dan potasium pada kondisi tekanan yang semakin besar. Cebakan mineral yang terbentuk pada stadium ini disebut cebakan magmatis.

2.

Stadium Pegmatitis-Pneumatolitis

Terjadi pemisahan yang luar biasa dari unsur-unsur volatil larutan magma sisa pada kondisi tekanan yang cukup besar. Larutan magma sisa ini sebagian menerobos batuan yang telah ada melalui rekahan yang membentuk cebakan pegmatitis (berupa dike, sill, dan stockwork). Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan temperatur antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga pembekuan berjalan dengan lambat. Mineralmineral pegmatit antara lain : logam-logam ringan (Li-silikat, Be-silikat (BeAl-silikat),

Al-rich silikat, logam-logam berat (Sn, Au, W, dan Mo), batuan mulia (ruby, sapphire, beryl, topaz, turmalin rose, rose quartz, smoky quartz, rock crystal). Pada penuruan temperatur selanjutnya (4500C), volume unsur volatil semakin menurun dan akan membentuk cebakan pneumatolitis. Cebakan mineral ini terbentuk akibat proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontak-metamorfisme, karena adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua dengan magma yang lebih muda. Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan temperatur tinggi dari magma kontak dengan batuan dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak yang terbentuk antara lain : wolastonit (CaSiO3), kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit, turmalin, dan diopsit.

3.

Stadium Hidrotermal

Keadaan larutan magma sisa sangat encer, tekanan gas menurun dengan cepat dan setelah temperatur mencapai titik kritis air (3720C), mulailah terbentuk cebakan hidrotermal. Proses pembentukan mineral pada stadium ini berlangsung terus hingga mencapai tahap akhir pembekuan semua larutan magma sisa (1000C 500C). Pada tahap inilah merupakan tahapan yang paling banyak berpengaruh pada proses alterasi batuan (Tabel 3.1). Hal ini disebabkan karena kondisi dari larutan magma sisa yang sangat encer sehingga dapat mencapai atau memasuki rekahan ataupun pori-pori batuan yang akan merubah komposisi dari batuan yang dimasukinya. Larutan ini antara lain mengandung oksida-oksida dan atau sulfidasulfida dari pada logam Au, Ag, Pb, Zn, Sb, Hg dan Fe. Mineral ini sangat lazim terdapat bersama-sama dengan endapan mineral lain. Mineral kuarsa biasanya hadir dengan warna keruh sampai bening, kompak dengan bentuk cukup baik sampai sempurna, kadang-kadang merupakan pseudomorf dari mineral fluorit dan barit. Pengendapan mineral hidrotermal dapat melalui larutan biasa atau koloid. Bentuk jebakan hidrotermal sering mengikuti bentuk rongga yang diisinya yang kadang diikuti oleh proses subtitusi atau replacement, sering memperlihatkan ciriciri sebagai berikut: sisa/relict mineral lama, sisa struktur lama, gejala/proses pseudomorfis, bentuk yang tidak teratur dan lain-lain.

Proses alterasi pada batuan dan mineral dapat diartikan sebagai proses yang mengakibatkan terjadinya mineral baru pada tubuh batuan yang merupakan hasil ubahan dari mineral yang telah ada sebelumnya yang diakibatkan terjadinya reaksi

antar batuan dengan larutan magma. Proses perubahan ini diakibatkan oleh reaksi kimia antara ion- ion bebas terhadap batuan samping. Maka, alterasi hidrotermal dapat diartikan sebagai proses perubahan sifat fisika dan kimia mineral atau batuan yang diakibatkan oleh pengaruh larutan hidrotermal. Wall Rock Alteration (Alterasi Batuan Samping) adalah ubahan batuan samping sebagai akibat kegiatan fluida hidrotermal yang dapat menghasilkan endapan mineral bijih. Ubahan batuan samping dapat menyebabkan rekristalisasi, perubahan dalam hal permeabilitas, perubahan warna batuan (bleaching, menjadi lebih gelap, ada zonasi akibat variasi warna). Hasil bentukannya berupa mineral bijih dan mineral penyerta (gangue minerals). Hasil proses ubahan tergantung kepada : 1. Karakter batuan

2. Karakter fluida yang berinteraksi (invading fluid), mencakup pH, Eh, komposisi kation/anion, dll 3. Temperatur dan tekanan pada saat terjadi reaksi.

Pada fase kesetimbangan tertentu, reaksi hidrotermal akan menghasilkan suatu kumpulan mineral tertentu atau himpunan mineral (Guilbert dan Park, 1986, dalam Nur I., Unpublished). Area yang memperlihatkan penyebaran kesamaan himpunan mineral dapat disatukan sebagai satu zona ubahan/alterasi yang mencirikan tipe ubahan tertentu (Creasey, 1966, dalam Evans, 1993). Selain kelompok mineral ubahan tersebut, terkadang disertai atau tidak oleh mineralisasi bijih dengan tekstur dan pola mineralisasi yang bervariasi (Boyle, 1970 dalam Evans, 1993). Hubungan antara zona ubahan dan mineralisasi bijih dapat terlihat dengan jelas, samar-samar atau kadang tidak nampak sama sekali. Mineralisasi adalah proses pembentukan mineral baru pada tubuh batuan yang diakibatkan oleh proses magmatik atau proses lainnya, namun mineral yang dihasilkan pada proses mineralisasi bukan merupakan mineral yang telah ada sebelumnya. Proses mineralisasi dan alterasi yang pada umumnya tidak lepas dari kontrol larutan hidrotermal yang nantinya akan menghasilkan atau memperlihatkan kenampakan- kenampakan tertentu ataupun memperlihatkan ciri khusus dari tubuh bijih atau mineral yang dihasilkan dari kedua proses tersebut, hal ini biasa disebut dengan tekstur khusus. Pembentukan mineral bijih atau mineral bisa terjadi melalui proses tertentu, seperti open space filling. Open space filling merupakan suatu proses pengisian ruangruang kosong pada batuan oleh larutan silikat atau larutan encer berupa larutan hidrotermal. Proses open space filling ini meliputi ;

1. Cavity Filling, yaitu proses pengisian rekahan- rekahan atau celah batuan oleh larutan sisa yang pada umumnya bersifat encer dan panas walaupun ada kalanya bersifat meteoric dan dingin, sehingga akan menghasilkan endapanendapan mineral baik endapan mineral logam maupun mineral non logam. 2. Stockwork, merupakan suatu proses pengisian pada retakan- retakan akibat proses hidrotermal dan mineral bijih yang terbentuk tersebar secara merata, stockwork mengalami dua proses yaitu tahap pertama proses ini akan menghasilkan rongga- rongga pada batuan sehingga menyerupai suatu intrusi stock dan tahap kedua akan terjadi proses pengisian oleh larutan- larutan hidrotermal. Bentuk vein/ veinlet stockwork yaitu saling memotong satu dengan yang lain. Berdasarkan ukurannya vein (urat) terdiri atas 3 ukuran (Geological Handbook Manual of PT Avocet, 2003), yaitu; Stringer (lebar <2 mm), Veinlet (lebar 2-10mm), dan Vein (lebar >10mm). Sedangkan tipe vein/veinlet mineralisasi, terdiri atas 3 (tiga) bentuk, yaitu ; a. b. c. Single Vein, yaitu vein/ veinlet yang hanya terdiri dari vein tunggal. Sheeted Vein, yaitu beberapa vein/ veinlet yang berbentuk sejajar Stockwork Vein, yaitu beberapa vein/ veinlet yang saling memotong

Proses pengisian rekahan tidak lepas dari pengaruh cairan magma atau proses magmatisme, baik itu magma yang telah bercampur dengan air meteorik dan membentuk larutan hidrotermal ataupun dengan silikat yang kental. Adapun tekstur- tekstur khusus yang dihasilkan oleh proses- proses di atas, antara lain (Sutarto, 2001); Comb, yaitu tekstur khusus yang menyerupai sisir. Tekstur ini terbentuk akibat adanya pengisian celah- celah oleh larutan magma yang selanjutnya mengakibatkan pembentukan mineral sepanjang dinding bagian dalam rekahan yang selanjutnya kristal- kristal ini tumbuh ke bagian tengah dari rekahan sehingga bentuk atau morfologinya menyerupai sisir. Banded, merupakan tekstur yang memperlihatkan adanya kesan perlapisan pada tubuh bijih atau mineral dimana mineral atau bijih yang terbentuk bersifat homogen, hal ini terjadi akibat adanya pengisian rekahan oleh larutan magma dimana terjadi suatu proses pembekuan dan pengkristalan mineral- mineral secara bertahap, struktur ini juga berupa perpanjangan dari struktur comb dimana pertumbuhan mineral terjadi secara sempurna sehingga menutupi rekahan yang ada. Colloform, tekstur khusus yang menyerupai buah anggur.

Disseminated, tekstur khusus yang memperlihatkan adanya kenampakan mineral yang tersebar secara merata. Hal ini pada umumnya diakibatkan oleh proses differensiasi atau kristalisasi. Segregasi, tekstur khusus yang memperlihatkan adanya kumpulan mineral atau dengan kata lain terbentuk mineral yang terkonsentrasi pada suatu tempat pada tubuh batuan, proses ini biasanya diakibatkan oleh proses differensiasi gravitasi. Kombinasi, merupakan tekstur khusus yang terbentuk akibat perpaduan atau gabungan dari tekstur khusus yang berbeda. Crustification, maerupakan tekstur khusus yang memperlihatkan kesan perlapisan, tetapi mineralnya tidak homogen, biasanya merupakan perulangan dari beberapa mineral. Vug, kenamapakan tekstur khusus yang berbentuk seperti rongga- rongga atau lubang, biasanya terbentuk akibat pengkristalan mineral yang tidak sempurna. Cockade, tekstur khusus yang memperlihatkan adanya kenampakan mineral yang membungkus mineral lain.