Anda di halaman 1dari 5

Gangguan Koagulasi I. Kelainan Vaskular kelainan ini merupakan gangguan hemostasis dan koagulasi yang dipengaruhi oleh vascular.

. Kelainan ini biasanya datang dengan perdarahan kulit dan sering mengenai membran mukosa. Perdarahan dapat diklasifikasikan menjadi purpura alergik dan purpura non alergik. a. Purpura Non Alergik, yaitu pada penyakit-penyakit ini tidak terdapat alergi sejati tetapi terjadi berbagai bentuk vaskulitis. Yang paling sering ditemukan adalah Lupus Eritomatosus sistemik. Kelainan ini merupakan penyakit vascular-kolagen, yaitu pasien membentuk autoantibody.

Vaskulitis/peradangan pembuluh darah terjadi dan merusak integritas pembuluh darah dan mengakibatkan purpura. i. Purpura vascular yang dominan autosomal, telangiektasia hemoragik herediter atau penyakit Oslar-Weber-Rendu, terdapat epistaksis dan perdarahan saluran cerna yang intermiten dan hebat. ii. Sindrom Ehlers-Danlos, daya suatu penyakit herediter lain meliputi yang

penurunan

pengembangan

jaringan

perivaskuler

menyebabkan perdarahan hebat b. Purpura Alergik atau purpura anafilaktoid, diduga diakibatkan oleh kerusakan imunologik pada pembuluh darah, ditandai perdarahan petekiae pada bagian tubuh yang tergantung dan juga mengenai bokong. Mekanisme penyakit ini tidak diketahui dengan baik. Gejalanya sering didahului oleh keadaan infeksi. Glomerulonefritis merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi. Pengobatannya bersifat suportif dan dengan menghindari aspirin serta senyawa-senyawanya.

II. Trombositosis dan Trombositopenia Trombosit yang melekat pada kolagen yang terpajan pada pembuluh yang cedera, mengkerut dan melepaskan ADP serta factor 3 trombosit, penting untuk mengawali pembekuan. Gangguan atau kelainan jumlah trombosit dapat

menggagnggu proses koagulasi darah. Keadaan yang ditandai dengan trombosit

lebih

dari

400.000/mm3

dan

dapat

primer

maupun

sekunder

dinamakan

Trombositosis atau Trombositemia. Trombositosis primer terjadi proliferasi abnormal megakariosit, dengan jumlah trombosit lebih dari satu juta. Tanda- tanda lain juga ditemukan seperti gangguan mieloproliferatif lain, seperti polisitemia vera atau leukemia granulositik kronis, yng terjadi proliferasi abnormal megakariosit., bersama sel-sel lain di sumsum tulang. Untuk menyingkirkan gangguan ini diperlukan pemeriksaan sitogenik. Trombositosis sekunder terjadi sebagai akibat adanya penyebab-penyabab lain, baik sementara setelah stress atau olahraga dengan pelepasan trombosit dari sumber cadangan (lien) , meningkatnya permintaan sumsum tulang seperti pada perdarahan, anemia hemolitik, anemia defisiensi besi. Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah trombosit kurang dari 100.000/mm3. Jumlah yang rendah merupakan akibat berkurang atau meningkatnya penghancuran trombosit. Namun, umumnya tidak ada manifestasi klinis hingga jumlahnya berkurang dan lebih lanjut dipengaruhi oleh keadaan-keadaan lain yang mendasari atau menyertai, seperti leukemia atau penyakit hati. bertambah Ekimosis yang

dan perdarahan yang memanjang akibat trauma ringan terjadi pada

kadar trombosit kurang dari 50.000/mm3 . Petekie merupakan manifestasi utama, dengan jumlah trombosit kurang dari 30.000/mm 3 . Trombosit kurang dari 20.000/mm3 terjadi perdarahan mukosa, jaringan dalam, intracranial. Dan

memerlukan tindakan segera untuk mencegah perdarahan dan kematian. Penurunan produksi trombosit dibuktikan adanya aspirasi dan biopsi sumsum tulang, dijumpai pada segala kondisi yang mengganggu atau menghambat fungsi sumsum tulang ( anemia aplastik, mielofibrosis, leukemia akut, karsinoma metastatik lain ). Keadaan trombositopenia dengan produksi trombosit normal biasanya disebabkan oleh penghancuran atau penyimpanan yang berlebihan. Sesgala yang menyebabkian splenomegali dapat diserta trombositopenia ( sirosis hati, limfoma dan penyakit-penyakit mieloproliferatif ). Lien secara normal menyimpan sepertiga trombosit yang dihasilkan, dengan splenomegali ini dapat meningkat sampai 80%, dan mengurangi sumber sirkulasi yang tersedia.

III. Hemofilia Merupakan gangguan koagulasi herediter atau paling sering dijumpai bermanifestasi sebagai episode perdarahan intermiten. Hemofilia disebabkan oleh mutasi gen factor VIII atau factor IX, dikelompokkan Hemofili A dan Hemofili B. Kedua gen tersebut terletak dikromosom X. Sehingga termasuk penyakit resesif. Anak Laki-Laki dan perempuan memiliki kemungkinan 50% untuk menderita penyakit hemofili. Dua jenis hemofili yang secara klinis identik adalah ( 1 ) Hemofili klasik atau Hemofili A yang ditemukan adanya defisiensi atau tidak adanya aktivatotr factor antihemofilia VIII , dan ( 2 ) Penyakit Christmas atau Hemofili B yang ditemukan adanya defisiensi atau tidak adanya factor IX. Hemofili diklasifikasikan menjadi : Berat, kadar activator < 1% Sedang, kadar activator 1% - 5% Ringan, kadar activator 5% atau lebih.

Perdarahan spontan dapat terjadi bila kadar activator kurang dari 1% . Akn tetapi, pada kadar 5% atau lebih , perdarahan umumnya terjadi karena trauma atau prosedur pembedahan. Manifestasi klinis meliputi perdarahan jaringan lunak, otot dan sendi ( terutama sendi yang menopang berat badan ) di sebut hemartrosis. Pengobatan hemofili menganjurkan pemberian infuse profilatik yang dimulai dari usia 1 hingga 2 tahun pada anak-anak yang mengalami defisiensi berat untuk mencegah penyakit sendi kronis. Pengobatan ditujukan untuk meningkatkan factor atau aktivitas yang berkurang ke tingkat normal. Dan dengan demikian mencegah komplikasi. IV. Penyakit Von WilleBrand Adalah gangguan koagulasi herediter yang paling sering terjadi. Dikenal

dengan berbagai subtype, dan tipe yang paling sring adalah tipe I. Kecuali tipe II dan tipe III yang autosomal resesif, semua tipe diturunkan secara dominan autosomal, sama-sama terjadi pada laki-laki dan perempuan. Paada penyakit von

willebrand terjadi penurunan aktivitas factor VIIIVWF dan factor VIIIAHG . Faktor von willebrand disintesis dalam sel-sel endotel dan megakariosit serta disimpan dalam

organel penyimpanan. Faktor von willebrand mempermudah adhesi trombosit pada komponen-komponen didalam subendotel vascular dibawah keadaan aliran tinggi dan bertekanan. Pada penyakit Von willebrand trombosit tidak melekat pada kolagen karena adanya defisiensi atau kelainan pada factor von willebrand. Pemeriksaan

diagnostic meliputi asai untuk von willebrand, menunjukkan kadar yang subnormal. Waktu perdarahan yang memanjang dalam keadaan adanya defisiensi factor VIII dan kelainan agregasi trombosit jika diberikan ristosetin (antibiotic yang

menyebabkan agregasi trombosit) bersifat diagnostic untuk penyakit von willebrand. Pengobatan penyakit von willebrand bervariasi bergantung pada tipe dan derajat perdarahan. Pilihan pengobatan meliputi kriopresipitat, konsetrat factor VIII, desmopresin (DDAVP), plasma beku seagar dan estrogen. Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan ketersediaan factor von willebrand. Jika menggunakan kriopresipitat, sebaiknya diperoleh dari donor yang sudah diseleksi secara seksama dan diperiksa berulang menurut Medical and Scientific Council of America. DDAVP untuk pegobatan tipe I dan II A. DDAVP digunakan untuk mengontro perdarahan ringan secara profilaktik digunakan sebelum prosedur pembedahan.

V. Koagulasi Intravaskular Diseminata ( Disseminated Intravascular Coagulation) Yang dinamakan dengan Koagulasi Intravaskular Diseminata adalah suatu sindrom kompleks yang terdiri atas banyak segi, yang system homeostatic dan fisiologi normal mempertahankan darah tetap cair berubah menjadi suatu system patologik yang menyebabkan terbentuknya trombi fibrin difus, menyumbat mikrovaskular tubuh. System fibrinolitik diaktivasi oleh trombin di dalam sirkulasi, yang memecah fibrinogen menjadi fibrin monomer. Trombin ini juga mengaktifkan faktor-faktor yang nantinya akan merubah plasminogen menjadi plasmin aktif. DIC bukanlah merupakan suatu penyakit, namun lebih kepada proses penyakit yang mendasarinya. Masuknya zat atau aktivitas prokoagulan ke dalam sirkulasi darah mengawali sindrom tersebut dan dapat terjadi pada segala kondisi ang

tromboplastin jaringannya dibebaskan akibat destruksi jaringan, dengan inisiasi jalur pembekuan ekstrinsik. Karena plasenta merupakan sumber yang kaya akan tromboplastin jaringan, maka salah satu penyebab tersering dari DIC adalah solusio plasenta (dimana plasenta lepas secara dini). Manifestasi kliniknya bergantung pada luas dan lamanya pembentukan trombi fibrin, organ-organ yang terlibat, dan nekrosis serta perdarahan yang ditimbulkan. Organ-organ yang paling sering terlibat adalah ginjal, kulit, otak, hipofisis, paru, dan adrenal, serta mukosa saluran cerna. Seringkali juga dijumpai petekie dan ekimosis. Manifestasi lain merupakan syok, oliguria atau anuria, kejang dan koma, mual dan muntah, diare, nyeri abdomen, nyeri punggung, dispnea, dan sianosis. Tes diagnostik bias menunjukkan PT, PTT, TT yang memanjang dan peningkatan produk-produk pemecahan fibrin. Kadar fibrinogen dan jumlah trombosit menurun. Sediaan apus darah perifer dapat menunjukkan fragmentasi eritrosit sekunder dengan bentuk yang beraneka ragam akibat kerusakan oleh serabut fibrin. Penanganannya ditujukan pada perbaikan mekanisme yang mendasarinya, yang mungkin memerlukan penggunaan antibiotik, agen-agen kemoterapeutik, dukungan kardiovaskuler, serta pada keadaan retensio plasenta, isi uterus harus dikeluarkan. Penggantian faktor plasma dengan plasma dan kriopresipitat, serta transfusi trombosit dan eritrosit mungkin diperlukan. Heparin dosis rendah telah berhasil digunakan bersama dengan agen kemoterapeutik pada pengobatan leukemia promielositik, untuk mencegah DIC akibat pelepasan tromboplastin oleh granula leukosit. Dapat terjadi juga keadaan hiperkoagulasi yang disertai dengan peningkatan insiden trombosis.