Anda di halaman 1dari 3

Analisis Sistem Pusat Permukiman

Permukiman adalah bagian permukaan bumi yang dihuni manusia yang meliputi segala
prasarana dan sarana yang menunjang kehidupan penduduk yang menjadi satu kesatuan
dengan tempat tinggal yang bersangkutan. Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan permukiman adalah faktor fisik, sosial, budaya, ekonomi,
politik dan lain sebagainya. Faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan permukiman adalah
keadaan tanah, hidrologi, iklim, morfologi dan sumber daya lain, faktor fisik mempengaruhi
bentuk, kecepatan dan perluasan permukiman. Faktor sosial adalah karakter demografinya,
struktur dan organisasi sosial, dan relasi sosial di antara penduduk yang menghuni permukiman
tersebut. Faktor budaya yang mempengaruhi adalah tradisi setempat, pengetahuan IPTEK.
Faktor ekonomi adalah daya beli masyarakat, mata pencaharian, transportasi dan komunikasi.
Faktor politik adalah pemerintah dan kebijakan setempat.
Dasar teori dari sistem pusat permukiman yaitu central place theory serta konsep dasar
range of goods dan thresshold (ambang penduduk). Analisis sistem pusat permukiman pada
dasarnya ada dua elemen, yaitu daerah perkotaan dan daerah pedesaan dimana keduanya
mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda. Pada daerah pedesaan pola permukimannya
dipengaruhi oleh pertanian, permukiman yang rapat cenderung berkembang di daerah yang
memiliki tanah subur. Sedangkan pada daerah perkotaan, persaingan dalam menggunakan
ruang lebih intensif dari pedesaan.
Analisis yang digunakan dalam analisis sistem pusat permukiman ada dua tipe, yaitu
analisis sistem permukiman (settlement system analysis), dan spatial linkages analysis.
Penganalisisan dalam hal ini ada dua jalan, yaitu dengan skalogram dan analisis indeks
sentralitas Marshall. Keduanya saling melengkapi dan digunakan untuk menentukan hierarki
kota atau pusat dari sistem ini.
y Analisis Skalogram Guttman
Skalogram digunakan untuk menganalisis pusat-pusat permukiman, khususnya hirarki
atau orde pusat-pusat permukiman. Subyek dalam hal ini diganti dengan pusat permukiman
(settlement), sedangkan obyek diganti dengan fungsi pelayanan atau kegiatan yang sifatnya
juga mempunyai tingkatan (hierarki).
Analisis skalogram biasanya kemudian diberikan tambahan bobot untuk menghasilkan
analisis yang lebih baik. Dengan beberapa tambahan analisis, misalnya aturan Marshall, atau
algoritma Reed-Muench, tabel skalogram menjadi indikasi awal analisis jangkauan pelayanan
setiap fungsi dan pusat permukiman yang dihasilkan.
Tahapan dalam analisis skalogram yaitu:
o Identifikasi semua kawasan perkotaan yang ada
o Perhitungan jumlah penduduk di setiap kawasan perkotaan
o Identifikasi fungsi-fungsi perkotaan yang ada di setiap kawasan perkotaan
o Proses tabulasi dan pengurutan, sehingga keluar tabel hirarki pusat permukiman
Nilai atau tingkat kelayakan nilai pada analisis ini yaitu 0,9 1. tingkat kesalahan ini dapat
dihitung dengan rumus:
Untuk menentukan kelayakan skalogram maka digunakan formula:
Rumus perhitungan :

Total jenis fasilitas jumlah kesalahan
Total jenis fasilitas

COR : koefisien reliabilitas
Total jenis fasilitas : jumlah seluruh fasilitas dlm tangga hirarki pusat pelayanan
Jumlah kesalahan : penyimpangan jumlah luar atau dalam tangga hirarki
Nilai COR yang ideal antara 0,9 1

y Analisis Indeks Sentralitas Marshall
Analisis indeks sentralitas Marshall digunakan dengan memberikan bobot pada fasilitas
yang ada dan dengan analisis ini dapat ditentukan hierarki dari masing-masing kota.Untuk
menentukan nilai sentralitas atau bobot dapat dihitung dari persamaan berikut:
Jumlah Kelas = 1+ 3,3 log n


C : Bobot dari atribut suatu fasilitas
t : Nilai sentralitas gabungan
T : Jumlah total atribut fasilitas
Setelah mengetahui nilai sentralitas, kita dapat menentukan indeks sentralitas dengan
mengalikannya dengan jumlah fasilitas yang ada. Berdasarkan range (interval) inilah yang
kemudian dapat ditentukan hierarki (tingkatan) dari masing-masing kota.
Sumber :
Sumaatmadja, Nursid. 1988. Studi Geografi Pendekatan dan Analisa Keruangan. Bandung :
Alumni.