0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan49 halaman

Strategi Pembelajaran Matematika Efektif

Diunggah oleh

Lukas rizky
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan49 halaman

Strategi Pembelajaran Matematika Efektif

Diunggah oleh

Lukas rizky
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode-metode tertentu
sehingga seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah
laku sesuai dengan kebutuhan. Menurut UU No 20 Tahun 2003 (Nurliani Siregar,
2018) tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3 yang menyatakan bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
karakter serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dan tujuan pendidikan nasional tidak saja hanya mencetak
sumber daya manusia yang cerdas, akan tetapi mampu mencetak kepribadian yang
berkarakter, berakhlak, kreatif, memiliki visi – visi dan bertanggung jawab atas
tugas.
Menurut Angriani (Nur Wahyudi, 2019) Pendidikan juga merupakan salah
satu kebutuhan hidup yang prosesnya berlangsung seumur hidup dan dalam
pelaksanaannya dapat terwujud melalui tiga jalur yaitu pendidikan informal,
pendidikan nonformal, dan pendidikan formal. Berdasarkan pengertian tersebut,
pendidikan pada hakekatnya suatua kegiatan secara sadar dan sengaja, serta penuh
tanggung jawab yang dilakukan oleh guru kepada siswa sehingga timbul interaksi
dari keduanya agar siswa mencapai tujuan yang dicita-citakan dan berlangsung
terus menerus. Bangsa Indonesia menaruh harapan besar kepada guru dalam
perkembangan masa depan bangsa karena dari sanalah generasi penerus dibentuk.
Menurut Suryani (Asdar dkk., 2021) mengatakan bahwa matematika adalah
ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai
peran penting dalam berbagai bidang pendidikan dan memajukan daya pikir
manusia. Menurut Novtiar (Adinda Salsabilah., 2023) Matematika juga dapat
disebut sebagai aktivitas kehidpan manusia yang artinya disetiap aktifitas
manusia pasti menggunakan ilmu matematika, mulai dari ibu rumah tangga,
pedagang, pelajar dan semua pekerjaan melakukan aktivitas matematika sesuai
dengan kebutuhannya.

1
2

Menurut Rahmah (Jazim Ahmad dkk., 2022) bahwa Matematika adalah salah
satu bidang studi yang diajarakan disekolah, baik Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Umum. Seorang guru yang akan
mengajarkan matematika kepada siswanya, mengetahui dan memahami objek
yang akan diajarkannya yaitu matematika. Berbagai upaya telah dilakukan
pemerintah untuk mencapai tujuan pendidik yang terbaik. Sebagai salah satu
bidang penelitian yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan formal, matematika
merupakan bagian penting dari peningkatan mutu pendidikan.
Matematika berfungsi dalam mengembangkan kemampuan menghitung,
mengukur, dan memecahkan masalah. Matematika juga penting dan berguna
dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk kepribadian siswa menjadi lebih
baik. Menurut Ayudita Ardila (Maria Tamara dkk., 2022). Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan, matematika adalah pengetahuan yang berguna untuk
mengembangkan pengetahuan siswa terhadap pelajaran matematika dan dapat
membentuk kepribadian siswa menjadi lebih baik.
Untuk itu pemberian pembelajaran matematika dirasa akan sangat berguna
untuk diterapkan dalam berbagai keperluan. Namun kenyataannya matematika
masih kurang menarik dan kurang diminati siswa dikarenakan matematika
merupakan pelajaran yang membosankan dan matematematika sering dianggap
sebagai mata pelajaran yang paling sulit bahkan menakutkan bagi siswa sehingga
perlu adanya suatu pendekatan yang dapat memunculkan daya tarik siswa
dibidang matematika sehingga kualitas pendidikan di Indonesia meningkat seiring
dengan zaman. peran matematika dalam kehidupan sehari – hari sangat penting
karena penguasaan matematika sangat dibutuhkan oleh siswa sebagai bekal
dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dan
perkembangan zaman sekarang ini.
Hal yang perlu dimiliki oleh siswa dalam menguasai matematika adalah salah
satunya hasil belajar siswa. Tingkah laku siswa ketika mengikut proses
pembelajaran dapat mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadap
pembelajaran itu atau sebaliknya, ia merasa tidak tertarik dengan pembelajaran itu
sendiri. Masalah bagi setiap manusia, dengan belajar manusia memperoleh
3

keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap dan bertambahlah ilmu


pengetahuan. Jadi, hasil belajar dapat menunjukkan hasil nyata yang dicapai siswa
dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di sekolah yang
diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester. Untuk mengetahui sampai
di mana hasil yang dicapai oleh siswa dalam belajar, maka harus dilakukan
evaluasi untuk dapat mengetahui seberapa besar pendekatan pembelajaran
terhadap keberhasilan belajar siswa. Hasil belajar matematika yang tinggi
menunjukkan bahwa proses belajar matematika tersebut efektif.
Jika suatu hasil belajar matematika siswa cenderung baik, maka dengan begitu
memberi pengertian bahwa prosescbelajar mengajar telah berjalan dengan baik,
begitu juga sebaliknya jika suatu hasil belajar matematika siswa cenderung buruk,
maka dengan begitu memberi pengertian bahwa proses belajar-mengajar telah
terdapat kendala.Selain itu hasil belajar ialah pengalaman yang telah didapatkan
siswa setelah siswa menerima pembelajaran.
Sesuai dengan pernyataan Febryananda (Fauhah & Brillian, 2021) bahwa hasil
belajar adalah penguasaan yang sudah didapat seseorang atau siswa selepas siswa
menyerap pengalaman belajar. Sedangkan menurut Rusman (Fauhah & Brillian
2021), hasil belajar merupakan sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang
mencakup ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik. Belajar tidak hanya
penguasaan konsep teori pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan,
persepsi, kesenangan, minat-bakat, penyesuaian sosial, jenis-jenis keterampilan,
cita-cita, keinginan, dan harapan.
Statistik adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara
pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
berdasarkan kumpulan data yang dilakukan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti dengan
guru bidang studi matematika kelas VII di SMP 8 Pematang siantar pada tanggal
24 Mei 2023, diperoleh informasi bahwa guru masih banyak menggunakan proses
pembelajaran yang masih berpusat pada guru dikarnakan belum ada yang pernah
menggunakan pendekatan matematika realistik (RME) dalam proses
pembelajaran, sehingga pada saat diberikan latihan sebagian siswa enggan
4

memikirkan jawaban tersebut dan hanya menunggu jawaban dari temannya,


tidak kreatif dan tidak aktif dalam mengembangkan masalah yang diberikan
sehingga hasil belajar matematika siswa pada materi statistika yang diperoleh
siswa terdapat hasil belajarnya masih ada yang tuntas dan tidak tuntas. Rata-rata
nilai hasil belajar siswa adalah 50,5 nilai ini lebih rendah dibanding KKM yakni
70.
Berdasarkan data ini dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada materi
statistika masih rendah. Maka untuk itu peneliti memberikan tes awal yang sesuai
pada permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari yang dituangkan
kedalam soal cerita kepada siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar.

Gambar 1.1 Soal Tes dan Hasil Jawaban Siswa Kelas VII.7
5

Berdasarkan hasil jawaban siswa diatas maka dapat dilihat bahwa siswa tidak
memahami materi statistika dengan baik dan materi tersebut masuk kedalam
materi yang belum dipahami dan kurang dimengerti oleh siswa kelas VII di SMP
Negeri 8 Pematang Siantar, sehingga siswa tidak mampu menyelesaikan masalah
seusai dengan indikator hasil belajar pada ranah kognitif, efektif dan
psikomotorik. Hal ini dapat diilihat bahwa pada soal nomor 2 dan 3 siswa tidak
fokus dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga terjadi kesalahan dalam melihat
gambar yang ada dan tidak dapat menentukan jawaban dari soal dengan tepat;
Selanjutnya Pada soal nomor 4 siswa hanya mampu menuliskan data yang
diketahui dari soal dan tidak memiliki keterampilan dalam menuliskan seluruh
unsur yang diketahui dari permasalahan dalam soal sehingga hasil atau jawaban
yang dituliskan tidak tepat. Sehingga indikator hasil belajar pada ranah kognitif,
efektif dan psikomotorik belum tercapai.
Dan berdasarkan pada hasil tes yang dilakukan peneliti terhadap 32 siswa
yang diuji di Kelas VII.7 SMP Negeri 8 Pematang Siantar diperoleh hasil yaitu
terdapat sebanyak 22 siswa (68,75%) termasuk kategori sangat rendah karena
tidak mampu memenuhi indikator hasil belajar pada ranah kognitif, efektif, dan
psikomotorik, dan sebanyak 10 siswa (31,25%) termasuk kategori sedang karena
tidak mampu memenuhi indikator hasil belajar pada ranah kognitif dan efektif.
Berdasarkan indikator hasil belajar siswa, siswa lebih dominan tidak mampu
menyelesaikan soal dengan baik karena tidak menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam mengatasi permasalahan pada soal pengolahan dan penyajian
data.
Kondisi ini menuntun guru untuk melakukan perbaikan dalam proses
pembelajaran. Maka seorang guru harus menggunakan strategi belajar yang tepat
sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar. Menurut Suprihatiningrum (2016)
strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai rancangan prosedural yang memuat
tindakan yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan. Penjelasan diatas diperkuat oleh Slameto (2013) menjelaskan bahwa
penggunaan strategi belajar yang tepat dapat menciptakan kondisi belajar yang
efisien, sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar. Untuk meningkatkan hasil
6

belajar tidak hanya mengandalkan guru yang pintar akan tetapi diperlukan juga
suatu strategi pembelajaran, pendekatan pembelajaran, model ataupun alat peraga
dalam pembelajaran.
Hal ini juga dijelaskan oleh Annurrahman (2012) bahwa penggunaan model
pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap
pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas,
memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga
memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik. Salah satu
pendekatan yang diduga dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut adalah
peneliti menawarkan suatu pendekatan yang mengaitkan materi dengan kehidupan
nyata yaitu Pendekatan Matematika Realistik.
Pendekatan Matematika Realistik (PMR) adalah pendekatan pengajaran yang
bertitik tolak dari hal – hal yang real bagi siswa, menekan keterampilan process of
doing mathematics, beridiskusi dan berkolaborasi, serta berargumentasi dengan
teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (student inveniting
sebagai kebalikan dari teacher telling) dan pada akhirnya mengggunakan
matematika untuk menyelesaikan masalah, baik secara individu maupun
kelompok (Isro’ Atus, 2017).
Pendekatan matematika realistik merupakan pendekatan yang menuntut siswa-
siswi untuk mengkontruksi pengetahuan dengan kemampuannya sendiri melalui
aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan
soal, siswa-siswi membangun model dari situasi soal kemudian menyusun model
matematika untuk menyelesaikan hingga mendapatkan pengetahuan formal
matematika. Menurut Gravemeijer (Ramadhani & Caswita, 2017)
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sita & Muhammad
As’ad (2020) terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh
yang signifikan terhadap pendekatan pembelajaran pendidikan matematika
realistik terhadap hasil belajar siswa Sekolah Dasar. Dengan rata-rata hasil belajar
siswa yang diajarkan dengan pendidikan matematika realistik lebih tinggi yaitu
70,333 dan nilai rata – rata kelompok kontrol sebesar 59,241. Dan pada penelitian
yang dilaksanakan oleh Hermanto & Titin Fatimah (2021) terdapat hasil
7

penelitian yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan terhadap


pembelajaran matematika ralistik terhadap hasil belajar siswa SMA Plus Darul
Hikmah. Dengan rata – rata hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendidikan
matematika realistik lebih tinggi yaitu 85 dan nilai rata – rata kelompok kontrol
sebesar 75,83.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik Terhadap Hasil Belajar
Siswa Pada Materi Statistika Kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar”.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, yang menjadi identifikasi masalah adalah:
1. Rendahnya hasil belajar Kognitif siswa
2. Materi Statistika dianggap sulit oleh siswa
3. Penggunaan pembelajaran yang masih menggunakan pembelajaran yang
berpusat pada guru.
1.3 Batasan Masalah
Merujuk pada latar belakang dan identifikasi masalah yang dipaparkan,
maka masalah yang dipilih dibatasi pada Pendekatan Matematika Realistik
Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Statistika Kelas VII
SMP Negeri 8 Pematang Siantar.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka
rumusan masalah yang dapat diperoleh peneliti yaitu: Bagaimanakah pengaruh
pendekatan matematika realistik terhadap hasil belajar matematika siswa pada
materi statistika kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar?
1.5 Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya pengaruh pendekatan
matematika realistik terhadap hasil belajar matematika siswa pada materi
statistika kelas VII SMP Negerin 8 Pematang Siantar.
8

1.6 Manfaat Masalah


1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi atau
rujukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang pengaruh
pendekatan matematika realistik terhadap hasil belajar matematika siswa pada
materi statistika kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar.
1.6.2 Manfaat Praktis
1. Bagi siswa
a. Menjadi pemicu dalam meningkatkan hasil belajar khususnya
terhadap pelajaran matematika.
b. Siswa menjadi lebih optimis dan bersemangat dalam belajar
c. Menumbuhkan sikap bahwa belajar matematika bukanlah hal
yang menakutkan dan membosankan, melainkan belajar
matematika juga bisa dengan cara yang menyenangkan
d. Memudahkan siswa dalam memahami materi yang akan
disampaikan
2. Bagi Guru
a. Membangun kreatifitas guru dalam melakukan proses
pembelajaran yang lebih baik di dalam kelas
b. Mengembangkan pengetahuan guru dalam menentukan metode
pembelajaran yang tepat bagi siswa
3. Bagi Peneliti
a. Sebagai bekal untuk menjadi guru dimasa depan.
b. Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.
1.7 Luaran
Hasil penelitian ini akan dipublikasikan di jurnal yang ber – ISSN.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Belajar dan Mengajar
Kata atau istilah belajar bukanlah sesuatu yang baru, sudah sangat dikenal
secara luas, namun dalam pembahasan belajar ini masing – masing ahli memiliki
pemahaman dan defenisi yang berbeda – beda, walaupun secara praktis masing –
masing kita sudah sangat memahami apa yang dimaksud degan belajar tersebut.
Oleh karena itu, untuk menghindari pemahaman yang beragama tersebut, berikut
akan dikemukakan berbagai define belajar menurut para ahli.
Menurut teori Behavioristik (Budiningsi, 2008) belajar adalah perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam
hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan menurut Suprihatiningrum
(Aprilia Rina, 2019) belajar merupakan suatu proses perubahan kegiatan dan
reaksi terhadap lingkungan.
Pengertian belajar juga didefenisikan oleh Winkel (Saragih, 2012)
Menyatakan bahwa belajar merupakan aktivitas mental/psikis yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan –
perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
Selanjutnya menurut Yamin (Aprilia Rina, 2019) belajar adalah sebuah proses
berkegiatan untuk menciptakan pandangan – pandangan baru mengenai berbagai
hal yang selanjutnya diharapkan menuntun siswa pada sebuah pembacaan hidup
yang bermakna.
Pengertian mengajar menurut Khoirul (2011) mengajar adalah suatu proses
memberikan pelajaran kepada peserta didik dengan cara melatih dan memberikan
petunjuk agar mereka memperoleh sejumlah pengalaman, sedangkan menurut
Wina (2006) mengajar adalah memperlihatkan sesuatu kepada seseorang melalui
tanda atau simbol.
Dari beberapa kutipan tersebut disimpulkan bahwa belajar merupakan
proses perubahan tingkah laku melalui kegiatan yang dilakukan seseorang sebagai

9
10

pengalaman dalam interaksi dengan lingkungannya untuk mengetahui dan


memahami sesuatu. Perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah perubahan
kemampuan siswa dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang belum pernah
mengalami menjadi mengalami. Sedangkan mengajar dapat disimpulkan sebagai
suatu proses yang memberikan pelajaran sebaik – baiknya kepada seseorang agar
mereka memperoleh sebuah pengalaman sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
setiap individu tersebut.
2.2 Pengertian Matematika
Istilah matematika secara etimologi, berasal dari bahasa latin yaitu
manthanein atau mathemata yang berarti belajar atau hal yang dipelajari (things
that are learned). Dalam bahasa Belanda disebut sebagai wiskunde atau ilmu
pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Sedangkan menurut bahasa
Yunani matematika berasal dari kata mathein yang artinya kepandaian,
pengetahuan atau intelegensi.
Menurut Sudjono (Isro’ Atus, 2017) mengemukakan beberaoa pengertian
matematika. Diantaranya matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan
yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu matematika merupakan
ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan
dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam
menyampaikan berbagai ide dan kesimpulan.
Matematika secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur,
perubahan dan ruang tak lebih resmi, orang mungkin mengatakan bahwa
matematika adalah penelitian bilangan dan angka. Dalam pandangan formalitas,
matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak
menggunakan logika simbolik dan notasi matematika, pandangan lain tergambar
dalam filosofi matematika. Berpijak dari uraian tersebut, secara umum definisi
matematika dapat dideskripsikan sebagai berikut diantaranya:
1. Matematika sebagai struktur yang terorganisasi
Agak berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika
merupakan suatu banunan struktur, ia terdiri atas beberapa komponen
yang meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif, dan
dalil/teorema (termasuk didalamnya teorema lemma atau teorema
pengantar/kecil dan corollary/sifat)
11

2. Matematika sebagai alat (tool)


Matematika juga sering dipandang sebagai alat dalam mencari solusi
berbagai masalah dalam kehidupan sehari – hari.
3. Matematika sebagai pola pikir deduktif
Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif.
Artinya suatu teoru atau pernyataan dalam matematika dapat diterima
kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif.
4. Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking)
Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar paling tidak
karena beberapa hal seperti matematika memuat cara pembuktian yang sah
(valid), rumus – rumus atau aturan yang umum atau sifat penalaran
matematika yang sistematid.
5. Matematika sebagai bahasa artifisial
Symbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam matematika.
Bahasa matematika adalah bahasa symbol yang bersifat artifisial, yang
baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.
6. Matematika sebagai seni yang kreatif
Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide – ide dan
pola – pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula
disebut sebagai seni, khususnya seni berpikir yang kreatif.
Dari beberapa pendapat tentang pengertian matematika diatas, penulis
mecoba membuat kesimpulan bahwa matematika adalah ilmu yang berkaitan
dengan logika dan ilmu pasti yang juga berasal dari pemikiran manusia sehinggal
muncul pengetahuan yang kreatif berupa simbol – simbol secara terstruktur dapat
diorganisasikan dalam bentuk dalil.
Jadi matematika merupakan ilmu yang memotivasi pikiran manusia untuk
berpikir secara logis, sistematis dan kreatif. Matematika juga merupakan ilmu
yang berkaitan dengan lembang – lambang, angka dan perhitungan yang disusun
secara rinci dengan aturan tertentu yang menghasilkan suatu arti yang dapat
digunakan untuk menarik ksimpulan dan menemukan suatu solusi penyelesaian
masalah.
2.3 Pengertian Pendekatan
Pendekatan adalah suatu proses yang mendeskrepsikan asas dari apa yang
sedang dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah dalam segala aspek kehidupan
masyarakat. Pendekatan ini dapat berupa vista, filosofi, atau keyakinan yang
dijamin keabsahannya (Basir, 2017). Sehingga dapat diartikan bahwa pendekatan
adalah suatu tindakan yang yang bertujuan sebagai jalan pemecahan terhadap
suatu masalah yang dapat dinilai atau diselesaikan melalui pengamatan terhadap
12

cara pandang, filsafat dan lainnya. Pendekatan pembelajaran dapat dikatakan


sebagai suatu tindakan yang menjadi jalan keluar atau solusi dalam menyelesaikan
suatu permasalahan dalam kegiatan proses pembelajaran dengan melibatkan
penilaian dari berbagai cara pandang, filsafat, dan lainnya.
Berbagai interaksi telah terjadi dalam berlangsungnya kegiatan proses
pembelajaran yang memiliki tujuan. Ketika kegiatan proses pembelajaran sedang
berjalan atau sedang dilaksanakan, guru atau pendidik harus tulus dalam sikap dan
tindakannya serta berkenan memedulikan siswa-siswinya melalui semua
resikonya. Segala hambatan dan masalah yang dapat timbul dan menghambat
jalannya kegiatan proses pembelajaran, walau adapun berdasar mulai tingkah laku
siswa-siswi walaupun yang berdasar mulai krusial diri siswa-siswi, guru atau
pendidik harus dan tidak boleh menghilangkan dan tidak membiarkannya. Karena
keberhasilan kegiatan proses pembelajaran bertambah berlebihan ditetapkan oleh
pembimbing atau pelatih dalam memimpin proses kegiatan pembelajaran didalam
kelas (Basir, 2017).
Guru atau pendidik perlu cerdas menentukan pendekatan yang berakal dan
cerdas, tidak sekehendak hati yang dapat merepotkan siswa-siswi. Pemahaman
pembimbing atau pendidik tentang siswa-siswi menentukan sikap dan
tindakannya. Tidak setiap guru atau pendidik selalu memiliki sudut pandang yang
sama ketika mengevaluasi peserta didik.
Hal ini mempengaruhi pendekatan yang dilakukan guru atau pendidik
terhadap peserta didik. Melalui diterapkannya kurikulum 2013 revisi (K-13),
pendekatan pembelajaran menjadi salah satu hal yang banyak dimainkan dalam
pekerjaan proses pembelajaran (Ginting, 2022). Salah satu pendekatan
pembelajaran yang diterapkan khususnya pada pelajaran matematika adalah
pendekatan matematika realistik. Pendekatan matematika realistik yakni sebuah
pendekatan belajar matematika yang menempatkan permasalahan matematika
dalam kehidupan sehari-hari sehingga mempermudah siswa-siswi menerima
materi dan memberikan pengalaman langsung dengan pengalaman mereka sendiri.
13

2.4 Pendekatan Matematika Realistik


2.4.1 Pengertian Pendekatan Matematika Realistik
Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran matematika di Belanda. Kata “Realistik” sering disalahartikan
sebagai “real-world” yaitu dunia nyata. Banyak yang menganggap bahwa
pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran
matematika yang harus selalu dikaitkan dengan masalah sehari-hari.
Penggunaan kata “realistik” sebenarnya berasal dari bahasa Belanda “zich
realiseren” yang berarti “untuk dibayangkan” atau “to imagine”. Menurut
Van den Heuvel-Panhuizen, penggunaan kata “realistik” tersebut tidak
sekedar menunjukkan adanya suatu koneksi dengan dunia nyata (real-world)
tetapi lebih mengacu pada fokus pendidikan matematika realistik dalam
menempatkan penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan
(imagineable) oleh siswa-siswi (Wijaya,2011).
Menurut Sumianto (2018) bahwa pendekatan matematika realistik
merupakan suatu rancangan yang membelajarkan siswa-siswi secara riil,
maksudnya dalam membelajarkan siswa-siswi dapat menggunakan media dan
alat peraga secara nyata maupun masalah nyata. Menurut Soedjadi (Salamun,
2020) Pendekatan realistik matematik atau biasa disebut pembelajaran
matematika realistik (PMR). pada dasarnya merupakan pemanfaatan realitas
dan lingkungan yang dipahami siswa-siswi untuk memperlancar proses
pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan secara
lebih baik di masa yang lalu.
Pendekatan matematika realistik merupakan salah satu pembelajaran
matematika yang beriorentasi pada siswa-siswi, disini aktivitas manusia dan
matematika haruslah dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan
sehari-hari siswa-siswi (nyata). Dalam pembelajaran matematika realistik ini
ditekankan bahwa siswa-siswi bukan hanya sekedar penerima yang pasif
terhadap materi matematika yang disajikan akan tetapi siswa-siswi perlu
diberi kesempatan untuk berpikir dan menemukan matematika tersebut
melalui praktik yang mereka alami sendiri. Dengan menerapkan pendekatan
14

tersebut siswa-siswi akan lebih mudah dalam memahami materi yang


diajarkan (Ahmad, Vahlia, & Setiawan, 2022).
2.4.2 Karakteristik Pendekatan Matematika Realistik
Beberapa karakteristik pendekatan matematika realistik menurut
Suryanto (2007) Adalah sebagai Berikut:
1. Masalah kontekstual yang realistic (realistic contextual problems)
yag digunakan untuk memperkenalkan ide dan konsep matematika
kepada siswa – siswi.
2. Siswa – siswi menemukan kembali ide, konsep dan prinsip atau
model matematika melalui pemecahan masalah kontekstual yang
realistik dengan bantuan guru atau temannya.
3. Siswa – siswi diarahkan untuk mendiskusikan penyelesaian
terhadap masalah yang mereka temukan ( yang biasanya ada yang
berbeda, baik cara menemukannya maupun hasilnya)
4. Siswa – siswi merefleksikan (memikirkan kembali) apa yang telah
dikerjakan dan apa yang telah dihasilkan, baik hasil kerja mandiri
maupun hasil kerja diskusi
5. Siswa – siswi dibantu untuk mengaitkan beberapa isi pelajaran
matematika yang memang ada hubungannya.
6. Siswa – siswi diajak mengembangkan, memperluas, atau
meningkatkan hasil dari pekerjaannya agar menemukan konsep
atau prinsip matematika yang lebih rumit.
7. Matematika dianggap sebagai kegiatan bukan sebagai produk jadi
atau hasil yang siap dipakai. Mempelajari matematika sebagai
kegiatan paling cocok dilakukan melalui learning by doing (belajar
dengan mengerjakan).
Beberapa hal yang perlu dicatat dari karakteristik pendekatan
matematika realistic diatas adalah bahwa pembelajaran matematika realistik
itu:
1. Termasuk “cara belajar siswa – siswi aktif” karena pembelajaran
matematika dilakukan melalui “belajar dengan mengerjakan”.
2. Termasuk pembelajaran yang berpusat pada siswa – siswi karena
mereka memecahkan masalah dari dunia mereka sesuai dengan
potensi mereka, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilisator.
15

3. Termasuk pembelajaran dengan penemuan terbimbing karena siswa


– siswi dikondisikan untuk menemukan atau menemukan kembali
konsep dan prinsip matematika.
4. Termasuk pembelajaran kontekstual karena titik awal pembelajaran
matematika adalah masalah kontekstual, yaitu masalah yang
diambil dari dunia siswa – siswi.
5. Termasuk pembelajaran konstruktivisme karena siswa – siswi
diarahkan untuk menemukan sendiri matematika mereka dengan
memcahkan masalah dan diskusi.
Dua catatan terakhir diatas mengisyaratkan bahwa secara prinsip pada
pendekatan matematika realistic merupakan hasil gabungan dari pendekatan
konstruktivisme dan kontekstual dalam arti memberi kesempatan kepada
siswa – siswi untuk membentuk (mengkonstruksi) sendiri pemahaman
mereka tentang ide dan konsep matematika, melalui penyelesaian masalah
dunia nyata atau konstekstual (Hartono, 2007).
2.4.3 Langkah – Langkah Pendekatan Matematika Realistik
Menurut peneliti berdasarkan pendapat Zulkardi (2002) langkah –
langkah pembelajaran matematika realistic dapat dijelaskan sebagai berikut
ini:
1. Persiapan, selain menyiapkan masalah kontekstual, guru harus
benar – benar memahami masalah dan memiliki berbagai macam
strategi yang mungkin akan ditempuh siswa – siswi dalam
menyelesaikannya.
2. Pembukaan, pada bagian ini siswa – siswi diperkenalkan dengan
strategi pembelajaran yang dipakai dan diperkanlkan kepada
masalah dari dunia nyata. Kemudian siswa – siswi diminta untuk
memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka sendiri.
3. Proses pembelajaran, siswa – siswa mencoba berbagai strategi
untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat
dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok. Kemudian
setiap siswa – siswi atau kelompok mempresentasikan hasil
16

kerjanya di depan siswa – siswi atau kelompok lain agar siswa –


siswi atau kelompok lain memeberi tanggapan terhadap hasil kerja
siswa – siswi atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya
diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa –
siswi untuk mendapatkan strategi terbaik serta menemukan aturan
atau prinsip yang bersifat lebih umum.
4. Penutup, sekolah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik
melalui diskusi kelas, siswa – siswi diajak menarik kesimpulan dari
pelajaran saat itu. Pada akhir pembelajaran siswa – siswi harus
mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika formal.
2.5 Hasil Belajar
Hasil belajar ialah pengalaman yang telah didapatkan siswa setelah
menerima pembelajaran. Sesuai dengan pernyataan Febryananda (2019) bahwa
hasil belajar adalah penguasaan yang sudah di dapat seseorang atau siswa selepas
siswa menyerap pengalaman belajar. Sedangkan menurut Rusman (2014) hasil
belajar merupakan sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup
ranah kognitif, efektif dan psikomotorik. Belajar tidak hanya penguasaan konsep
teori pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan persepsi, kesenangan, minat
– bakat, penyesuaian social, jenis – jenis keterampilan, cita – cita, keinginan dan
harapan.
Hal ini juga sejalan dengan pendapat Sudjana (Dani Firmansyah, 2015) hasil
belajar merupakan kemampuan – kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa
setelah proses belajarnya. Menurut Dani Firmansyah, (2015) hasil belajar
matematika adalah hasil akhir yang dimiliki atau diperoleh siswa setelah ia
mengalami proses belajar matematika yang ditandai dengan skala nilai berupa
huruf atau simbol atau angka, dan hal ini biasa dijadikan tolak ukur berhasil atau
tidaknya siswa tersebut dalam pembelajaran matematika. Hasil belajar siswa –
siswi juga dapat dinyatakan dalam nilai yang merupakan hasil tes yang diberikan
oleh guru sehabis kegiatan pembelajaran selesai (Sugiharti, 2013).
Hasil belajar erat kaitannya dengan pada belajar atau proses belajar. Hasil
belajar juga dapat dikategorikan kedalam tiga metrik yaitu sebagai berikut ini:
17

1. Efektivitas pembelajaran, yang dimana hal ini biasanya diukur dengan


tingkat keberhasilan kinerja siswa – siswi.
2. Efisiensi belajar yang diukur dari segi waktu dan pembelajaran, dan
3. Daya tarik/pesona belajar, diukur dari kecenderungan siswa – siswi
untuk mau belajar secara terus menerus.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah keberhasilan yang dicapau siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar.
2.5.1 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Hanadi (Rusman 2004) faktor – faktor yang memepengaruhi
hasil belajar yaitu antara lain:
1. Faktor Internal
a. Faktor fisiologi, umumnya seperti kondisi kesehatan yang sehat,
tidak capek, tidak cacat fisik dan semacamnya. Hal ini bisa
mempengaruhi siswa pada pembelajaran.
b. Faktor psikologis, pada dasarnya seluruh siswa mempunyai
mental berbeda – beda hal tersebut akan mempengaruhi hasil
belajar. Adapun faktor ini mencakup intelegensi (IQ), bakat,
minat, perhatian, motif, motivasi, kognitif, serta daya nalar.
2. Faktor Eksternal
a. Faktor lingkungan, akan berdampak pada hasil belajar, termasuk
fisik dan sosial. Lingkungan alam seperti suhu, kelembaban.
Belajar siang hari dalam ruangan dengan ventilasi udara kurang
bagus tentu berbeda dengan belajar pada saat pagi hari dimana
udara masih sejuk.
b. Faktor instrumental, keberadaan dan pengunaannya didesain
sesuai hasil belajar yang diinginkan dan diharapkan bisa berguna
seperti sebagai sarana agar tujuan belajar yang sudah
direncanakan tercapai. Faktor ini meliputi kurikulum, sarana, dan
guru.
Sedangkan menurut Slameto (Wijanarko, 2017) meliputi cara mengajar,
interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa.
18

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan, faktor – faktor yang


mempengaruhi hasil belajar yaitu yang pertama, faktor internal yaitu faktor
yang berasal dari dalam tubuh siswa itu sendiri, yang mana siswa harus sehat
jasmani dan rohani dan yang kedua yaitu faktor eksternal yang dimana faktor
yang berasal dari luar tubuh siswa itu sendiri yang mencakup lingkungan
tempat dia berada
2.5.2 Indikator Hasil Belajar
Menurut Bloom (dalam Thobroni, 2015) indikator hasil belajar
meliputi:
1. Kemampuan Kognitif
Anderson & Krothwahl (Nurtanto, 2015)
a. Remembering (mengingat (C1))
b. Understanding (memahami (C2))
c. Applying (menerapkan (C3))
d. Analysing (menganalisis (C4))
e. Evaluating (menilai (C5))
f. Creating (mencipta (C6))
2. Kemampuan Efektif
a. Receiving (sikap menerima)
b. Responding (merespon)
c. Valuating (nilai)
d. Organization (organisasi)
e. Characterization (kareakterisasi)
3. Kemampuan Psikomotor
Menurut Bloom (Sudjana, 2011) kemampuan psikomotorik
membentuk tingkat keterampilan menjadi enam tingkata ialah:
a. Gerakan refleksi (keahlian gerakan tidak sadar)
b. Keterampilan gerakan dasar.
c. Kemampuan perceptual, visual, auditif, motoris, dan sebagainya.
d. Kemampuan bidang fisik seperti kekebalan, keharmonisan,
ketepatan.
19

Berdasarkan uraian diatas maka dalam penelitian ini peneliti hanya


berfokus pada ranah kognitif yang dimiliki oleh siswa yaitu pada kemampuan
mengingat(C1), kemampuan memahami(C2), dan kemampuan
mengaplikasikan (C3) untuk mengukur sejauh mana pencapaian hasil belajar
siswa selama kegiatan pembelajaran
2.6 Kajian Materi
Statistik adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara – cara
pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
berdasarkan kumpulan data yang dilakukan. Sedangkan statistika adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang metode pengumpulan, pengolahan,
penafsiran, hingga penarikan kesimpulan dari sebuah data yang berbentuk angka –
angka.
Menurut Somantri (2006) Statistika adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang bagaimana cara mengumpulkan, mengolah, menganalisis,
hingga menginterpretasi data supaya dapat disajikan secara sebaik – baiknya.
Materi statistika ini sangat bermanfaat dalam berbagai hal. Materi ini dapat
digunakan untuk menyelesaikan masalah sehari – hari atau masalah pada
kehidupan nyata. Berikut ini ditujukkan materi statistika
2.6.1 Mengenal Data
Kata “data” berasal dari bahasa Inggris bersifat majemuk. Datum adalah
keterangan atau informasi yang diperoleh dari suatu obyek/kejadian atau
narasumber. Sedangkan data adalah adalah kumpulan dari datum. Ada dua
jenis data yaitu:
Data Kuantitatif: Data yang berupa angka atau bilangan.
Data Kualitatif: Data yang tidak berbentuk angka atau bilangan.
Contohnya seperti warna, mutu barang, ukuran suatu
benda dan sebagainya.
Data kuatitati dapat dibagi menjadi 2 yaitu data kontinu dan data
diskrit, yang mana untuk data kontinu adalah data yg diperoleh dengan cara
mengukur. Contohnya tinggi badan seorang anak dan lainnya, sedangkan
untuk data diskrit adalah data yang diperoleh dengan cara menghitung.
20

Contohnya jumlah anak dalam keluarga, jumlah siswa dalam kelas dan
sebagainya.
Data kualitatif juga dapat dibagi 2 yaitu data primer dan data sekunder
yang mana data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber
utamanya. Contohnya data mengapa siswa kelas 7 lebih menyukai game
online dengan melakukan wawancara, data makanan kesukaan siswa dengan
memberikan angket kepada siswa dan sebagainya. Sedangkan data sekunder
yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung (dari pihak lain). Contohnya
seperti data tentang nilai kurs rupiah yang di peroleh dari BPS (Badan Pusat
Statistika), data tentang banyaknya penduduk desa yang sakit yang diperoleh
dari informasi di keluarahan setempat dan sebagainya.
Adapun tiga cara untuk mengumpulkan data, yaitu:
1. Wawancara (interview) adalah cara mengumpulkan data dengan
mengajukan pertanyaan secara langsung kepada narasumber.
Contoh : data tentang keadaan dan kondisi satu keluarga yang
tinggal di daerah perkotaan yang sangat padat dan satu keluarga
yang tinggal di daerah pedesaan, maka kalian dapat mendatangi
kedua keluarga tersebut dan melakukan wawancara langsung
kepada anggota keluarga di masing – masing daerah tersebut
2. Kueisoner (Angket) adalah cara mengumpulkan data dengan
mengirim daftar pertanyaan kepada narasumber. Contoh: untuk
mengumpulkan data tentang acara televisi yang disukai dan yang
tidak disukai pada jam tertentu oleh masyarakat di wilayah RT 5,
kalian dapat membuat angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan
yang berkaitan dengan acara televisi yang yang disukai dan yang
tidak disukai pada jam tertentu
3. Observasi (pengamatan) adalah cara mengumpulkan data dengan
mengamati obyek atau kejadian Contoh: data tentang tinggi badan
dan berat badan siswa dalam satu kelas, kalian dapat melakukan
pengamatan dari kegiatan pengukuran tinggi dan berat badan
masing-masing siswa dalam satu kelas.
Setelah mengumpulkan data, maka data masih belum dapat
memberikan informasi yang lengkap, apabila belum disajikan dengan benar.
Agar data mempunyai makna, maka data harus diolah dan disajikan dalam
berbagai bentuk penyajian. Penyajian data adalah bentuk pengemasan suatu
21

data secara visual sedemikian sehingga data lebih mudah dipahami.


Tanpa ada penyajian yang tepat, sorang peneliti akan kesulitan untuk
menganalisis hasil akhir penelitian. Adapun macam – macam penyajian data
yaitu tabel dan diagram.
2.6.2 Menyajikan Data dalam Bentuk Tabel
Tabel adalah kumpulan data yang disusun berdasarkan baris dan kolom.
Baris dan kolom ini berfungsi untuk menunjukkan data terkait keduanya.
Dimana titik temu antara baris dan kolom adalah data yang dimaksud. Sebuah
tabel terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
1. Judul tabel yaitu yang mewakili keseluruhan isi tabel, terletak
dibagian atas tabel, biasanya memuat nomor tabel dan judul tebel
itu sendiri. Judul tabel biasanya dibuat secara singkat dan jelas
2. Judul kolom yaitu yang memuat keterangan – keterangan (termasuk
unit), dan biasanya dibuat secara ringkas dan apabila ada
penjumlahan data dalam baris dimuat pada kolom terakhir. Bila
jumlah kolom banyak dapat diberi nomor. Ditambahkan unit
ukuran (Rp, cm, %, dll).
3. Badan Tabel yaitu yang memuat data. Data dapat dikelompok –
kelompokkan. Penjumlahan data dalam kelompok dapat dimuat
pada baris paling bawah.
4. Kolom tabel, yaitu urutan deret tabel yang memanjang dari kiri ke
kanan dan memuat infomasi secara vertikal (dari atas ke bawah);
5. Baris tabel, yaitu urutan lajur tabel yang memanjang dari atas ke
bawah dan memuat informasi secara horizontal (dari kanan ke kiri);
6. Kaki Tabel yaitu keterangan-keterangan tambahan, sumber data
yaitu keterangan dari mana data itu dikutip atau diambil.
7. Keterangan dibawah (foot note) yaitu yang dapat disertakan untuk
memberi penjelasan mengenai judul, kepala kolom atau angka –
angka dalam tabel jika diperlukan.
Dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2.1 Bagian – Bagian Penyajian Data dengan Tabel


22

Ada berbagai bentuk tabel yang disusun berdasarkan katagori atau


pengelompokkan tertentu sebagai berikut:
1. Tabel Baris dan Kolom
Tabel baris kolom merupakan jenis tabel yang paling sederhana.
Pada tabel ini, hanya memuat keterangan dengan satu variabel
frekuensi
Perhatikan contoh berikut ini:
Tabel 2.1 Pertumbuhan kecambah dari hari ke – 1 sampai ke – 4
Hari ke – 1 Pertumbuhan (mm)
1 2mm
2 4mm
3 6mm
4 8mm
2. Tabel Kontingensi
Tabel kontingensi adalah jenis tabel yang memuat lebih dari satu
variabel frekuensi. Perhatikan contoh berikut ini:
Tabel 2.2 Jumlah siswa menurut jenis kelamin
Kelas Jenis Kelamin
Pria Wanita
VII.1 13 18
VII.2 15 16
VII.3 12 19
VII.4 11 19
VII.5 14 18
VII.6 15 17
VII.7 10 20
VII.8 12 17
VII.9 14 16
VII.10 15 17
3. Tabel Distribusi Frekuensi
Tabel distribusi frekuensi adalah jenis tabel yang digunakan untuk
data yang memiliki frekuensi dan sebaran. Jika data – data tersebut
dijadikan data tunggal, maka tidak akan efektif. Itulah sebabnya
perlu tabel distribusi frekuensi. Atau dengan kata lain tabel ini
digunakan untuk data yang dibagi menjadi beberapa kelompok.
Perhatikan contoh berikut ini:
23

Tabel 2.3 Nilai ulangan siswa kelas VII.3


Nilai Frekuensi
51 – 60 5
61 – 70 10
71 – 80 7
81 – 90 6
91 – 100 5
Jumlah 33
2.6.3 Mengolah dan Menyajikan Data dalam Bentuk Diagram
Selain disajikan dalam bentuk tabel sebagaimana yang dikemukakan
diatas, data juga dapat diolah dan disajikan dalam bentuk diagram, terdapat
macam – macam diagram yaitu antara lain:
1. Diagram Batang
Diagram batang adalah diagram yg berbentuk persegi panjang.
diagram ini biasanya digunakan untuk menggambarkan
perkembangan nilai objek dalam kurun waktu tertentu, atau dengan
kata lain diagram ini biasanya digunakan untuk menyajikan data
yang dapat dikatergorikan/dikelompokkan seperti nilai ulangan,
jenis pekerjaan, hobi dan lainnya serta juga data tahunan seperti
harga barang dari tahun ke tahun, besar keuntungan dari tahun ke
tahun, dll. Perhatikan contoh berikut ini.
Data nilai UAS pelajaran matematika kelas VII.7
69, 84, 64, 68, 67, 69, 79,74,69,68, 77, 64, 73, 68, 67, 45, 70, 40,
66, 74, 80, 69, 70, 70, 67, 68, 67, 70, 75, 68, 85, 65.
Tabel 2.4 Nilai UAS pelajaran matematika kelas VII.7
Nilai Uas Banyak Siswa
40 1
45 1
64 2
65 1
66 1
67 4
68 5
69 4
70 4
73 1
24

74 2
75 1
77 1
79 1
80 1
84 1
85 1
Jumlah Siswa 32

Nilai UAS
6
b 5
a
n 4
y 3
a 2
k
1
s 0
i 4045646566676869707374757779808485
s Nilai
w
a
Gambar 2.2 Nilai UAS Pelajaran Matematika Siswa Kelas VII.7
Untuk dapat lebih paham lagi perhatikan diagram jenis pekerjaan
berikut ini:

Gambar 2.3 Jenis – Jenis Pekerjaan dan Banyak Orangnya


25

2. Diagram Garis
Diagram garis biasanya digunakan untuk menyajikan data yang
berkelanjutan/kontinu, seperti jumlah penduduk setiap tahun.
jumlah produksi barang setiap tahun, perubahan iklim dan cuaca
pada rentang waktu tertentu, dan lain sebagainya.
Tabel 2.5 Nilai UAS pelajaran matematika kelas VII.7
Nilai Uas Banyak
Siswa
40 1
45 1
64 2
65 1
66 1
67 4
68 5
69 4
70 4
73 1
74 2
75 1
77 1
79 1
80 1
84 1
85 1
Jumlah Siswa 32

Gambar 2.4 Diagram Garis Nilai UAS Siswa


Untuk lebih dapat memahami lagi. Perhatikan contoh Kurs Rupiah
Terhadap Dollar AS tahun 2013
26

Tabel 2.6 Kurs (nilai tukar) rupiah terhadap dollar AS tahun 2013
Bulan Rupiah
Januari 9.800
Februari 9.900
Maret 10.000
April 10.100
Mei 10.300
Juni 10.200
Juli 10.000
Agustus 10.500
September 10.900
Oktober 11.000
November 11.400
Desember 11.700

Gambar 2.5 Kurs rupiah terhadap dollar AS


3. Diagram Lingkaran
Jika diagram batang dapat digunakan untuk membandingkan
sejumlah variabel, selama variabel ini bisa diukur paling sedikit
satu aspek, maka diagram lingkaran dapat digunakan bilamana
variabel-variabel dijumlahkan ke dalam suatu jumlah tertentu
sedemikian rupa sehingga setiap variabel dapat dinyatakan sebagai
persentase dari jumlah tersebut. Lingkaran yang memiliki jumlah
sudut 3600 dapat dibagi kedalam segmen-segmen untuk
menunjukkan nilai penting relatif dari setiap variabel. Untuk
melukiskan setiap segmen ini diperlukan perhitungan dengan
mengambil contoh sebagai berikut:
27

Tabel 2.7 Pengeluaran PT. FIKTIF tahun 2001


Jenis Pengeluaran Jumlah (juta
rupiah)
Upah dan Gaji 1900,8
Pajak 600,6
Bahan 350,5
Transportasi 240,5
Telekomunikasi 190,8
Hutang Bank 310,3
Lain-lain 120,5
Jumlah 3.714,0
Data dalam tabel 2.6 di atas jika disajikan dalam diagram lingkaran
akan tampak seperti Gambar 2.6. Untuk mendapatkan besarnya
segmen setiap variabel dalam lingkaran, maka digunakan besarnya
sudut yang dimiliki oleh masing-masing variabel yang dihitung
dengan cara berikut :
Diagram Lingkaran dalam drajat (0)
1900 , 8
 Upah Gaji = × 360° = 184,24 = 184°
3714 , 0
600 , 6
 Pajak = × 360° = 58,21 = 58°
3714 , 0
350 , 5
 Bahan = × 360° = 33,97 = 34°
3714 , 0
240 , 5
 Transportasi = × 360° = 23,31 =23°
3714 , 0
190 , 8
 Telekomunikasi = × 360° = 18,49 = 18°
3714 , 0
310 , 3
 Hutang bank = × 360° = 30,07 = 30°
3714 , 0
120 , 5
 Lain – lain = × 360° = 11,68 = 12°
3714 , 0
Diagram dalam bentuk persen (%)
1900 , 8
 Upah Gaji = × 100 % = 51,17 = 52%
3714 , 0
600 , 6
 Pajak = × 100 % = 16,17% = 17%
3714 , 0
28

350 , 5
 Bahan = × 100 % = 9,43 = 9%
3714 , 0
240 , 5
 Transportasi = × 100 % = 6,47 = 6%
3714 , 0
190 , 8
 Telekomunikasi = × 100 % = 5,13 = 5%
3714 , 0
310 , 3
 Hutang bank = × 100 % = 8,35 = 8%
3714 , 0
120 , 5
 Lain – lain = × 100 % = 3,24 = 3%
3714 , 0
Setelah mendapatkan data dalam bentuk derajat dan persen seperti
data diatas maka diagram lingkaran yang sesuai sebagai berikut:

Gambar 2.6 Pengeluaran PT. Fiktif tahun 2001


Salah satu keuntungan dari penggunaan diagram lingkaran adalah
kemudahan membandingkan satu variabel dengan variabel lainnya
ditinjau dari sisi persentase.
2.7 Penelitian yang Relevan
Sejauh ini, dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
terdapat berbagai penelitian yang membahas tentang pengaruh pembelajaran
matematika realistik terhadap hasil belajar siswa. Peneliti menggunakan penelitian
terdahulu berupa skripsi sebagai bahan acuan hasil penelitian. Berikut ini
beberapa peneliti terdahulu yang menjadi acuan peneliti:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Sita & Muhammad As’ad (2020)
dengan judul Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Terhadap
Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar dalam Jurnal Ilmiah
29

Pendidikan dan Pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa


terdapat pengaruh yang signifikan pendekatan pembelajaran
pendidikan matematika realistik terhadap hasil belajar siswa sekolah.
Dasar. Rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pendidikan
matematika realistik lebih tinggi yaitu 70,333 dan nilai ratarata
kelompok kontrol sebesar 59,241.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto & Titin Fatimah (2021)
dengan judul Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Terhadap
Hasil Belajar Siswa Kelas XI Tentang Operasi Hitung Matriks di SMA
Plus Darul Hikmah dalam jurnal Prosiding Seminar Nasional Integrasi
Matematika dan Nilai Islami. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
bahwa adanya pengaruh dari pendekatan Pembelajaran Matematika
Realistik (PMR) terhadap hasil belajar siswa kelas IX tentang operasi
hitung matriks di SMA Plus Darul Hikmah. Terdapat perbedaan hasil
belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol ditunjukkan dengan
nilai rata-rata yang diperoleh kelas eksperimen 85 dan kelas kontrol
75,83. Hasil uji paired sample t-tes menunjukkan bahwa nilai sig. (2-
tailed) adalah 0,025, karena 0,025 < 0,05 maka H 0 ditolak dan H a
diterima.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Indrayanto (2021) dengan judul
Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik Terhadap Hasil Belajar
Siswa Kelas IV SD dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Indonesia. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh Pendekatan
Matematika Realistik terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri
3 Bentek. Hasil analisis data dari pengujian uji-t (t-tes) diperoleh
thitung 2,248 sedangkan ttabel pada taraf signifikan 0,05 atau 5%
adalah 2,026. Maka diperoleh thitung > ttabel yaitu 2,248 > 2,026
sehingga Ha diterima atau Ho ditolak.
2.8 Kerangka Konseptual
Kegiatan awal yang dilakukan peneliti pada penelitian ini adalah dengan
melakukan observasi. Kegiatan observasi dilakukan dengan mengamati proses
pembelajaran dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Hasil
observasi tersebut diketahui bahwa rendahnya hasil belajar matematika kelas VII
SMP Negeri 8 Pematang Siantar.
Hasil observasi ini digunakan sebagai acuan dalam menentukan kelas
eksperimen (kelompok yang diberi perlakuan) serta menentukan sistem
pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas eksperimen. Alternatif
pembelajaran yang dapat dilakukan mampu mengatasi permasalahan tersebut
adalah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Realistik.
30

Dengan menggunakan pendekatan ini peneliti bermaksud untuk melatih


siswa agar lebih aktif lagi didalam kelas, agar saling memberikan informasi antar
siswa, dan melatih kepercayaan diri siswa, sehingga melalui Pendekatan
Matematika Realistik ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas
VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
31

Kondisi Awal

1. Pembelajaran yang berpusat


pada guru
2. Rendahnya Hasil Belajar Siswa

Tindakan

Pembelajaran di kelas eksperimen


menggunakan pendekatan
matematika realistik

Post Test

Angket

Analisis Data

Kesimpulan

Gambar 2.7 Bagan Kerangka Konseptual


2.9 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan Jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pernyataan (sugiyono,2019). Pertanyaan yang akan dijawab dari
penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh hasil belajar siswa yang menggunakan
pendekatan matematika realistik dalam materi data statistika kelas VII SMP
Negeri 8 Pematang Siantar? Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan
32

baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta – fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis ini juga
dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum
jawaban yang empiris dengan data (Sugiyono 2018). Berdasarkan latar belakang,
rumusan masalah dan kerangka konseptual sebelumnya, maka yang menjadi
hipotesis penelitian ini yaitu: “Terdapat pengaruh yang signifikan dari Pendekatan
Matematika Realistik terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP
Negeri 8 Pematang Siantar.”
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
3.1.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian
yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang
lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono,2019). Dengan demikian,
tujuan penelitian eksperimen sejalan dengan tujuan penelitian yang akan
digunakan oleh peneliti yaitu mencari pengaruh Pendekatan Matematika
Realistik terhadap hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, penelitian pengaruh
Pendekatan Matematika Realistik terhadap hasil belajar siswa pada materi
Statistika kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar Tahun Ajaran 2024/2025
merupakan penelitian eksperimen menggunakan pendekatan kuantitatif.
3.1.2 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan
pendekatan kuantitatif, dengan desain penelitian Pre-experimental Design
dengan bentuk One-Shot Case Study. One-Shot Case Study terdapat suatu
kelompok diberi treatment atau perlakuan, dan selanjutnya diobservasi
hasilnya. Treatment atau perlakuan pada penelitian ini adalah Pendekatan
Matematika Realistik sebagai variabel independen, dan Hasil Belajar adalah
sebagai variabel dependen. Observasi yang dilakukan setelah treatment yaitu
pemberian soal post-test kepada siswa. Adapun desain eksperimen yang
dilakukan dalam penelitian seperti di berikut :
Tabel 3.1 One-shot case study
Treatment Posttest
X O
Andra (2022)
Keterangan:
X : Pendekatan Matematika Realistik
O : Nilai Posttest (sesudah diberikan perlakuan)

32
33

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII SMP Negeri 8 Pematang
Siantar, Jl. Pane, Tomuan, Kec. Siantar Timur., Kota Pematang Siantar,
Sumatera Utara 21133. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun
ajaran 2024/2025.
3.2.2 Waktu Penelitian
Peneliti memperkirakan lamanya waktu yang diperlukan untuk
penelitian yaitu kurang lebih selama 1 bulan.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteritas tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi
bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain.
Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang
dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimilliki oleh
subyek atau obyek itu (Sugiyono, 2019). Populasi adalah keseluruhan obyek
yang menjadi sumber data penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar.
3.3.2 Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2019) Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Penentuan jumlah sampel pada
penelitian ini adalah dengan menggunakan Non Probability Sampling yaitu
sampel ini dipilih tidak secara acak. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan pada penelitian ini adalah Purposive Sample. Menurut Arikunto
(2014) Purposive Sample dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan
didasarkan atas random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan
tertentu.
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah siswa kelas VII-10
yang berjumlah 30 siswa. Pengambilan sampel ini didasarkan kembali pada
34

kesepakatan antara guru matematika dan peneliti atas dasar pertimbangan


kemampuan siswa yang dilihat dari hasil belajar mereka selama satu
semester, juga disesuaikan dengan waktu penelitian.
3.4 Variabel dan Defenisi Operasional Penelitian
3.4.1 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,
obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2019). Maka dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas (X) dan satu
variabel terikat (Y), yaitu:
1. Variabel Bebas (X)
Variabel ini sering disebet variabel stimulus, prediktor, antecedent.
Variabel bebas merupakan variabel yang memengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen
(terikat) (Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel
bebas adalah Pendekatan Matematika Realistik.
2. Variabel Terikat (Y)
Variabel ini sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen.
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2019).
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar
siswa.
3.4.2 Defenisi Operasional Penelitian
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik
Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Statistika Kelas VII
SMP Negeri 8 Pematang Siantar”. Istilah – istilah yang memerlukan
penjelasan adalah sebagai berikut:
1. Hasil Belajar
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan yang diperoleh
peserta didik setelah melalui kegiatan belajar. Peserta didik yang
berhasil dalam belajar ialah yang mampu mencapai tujuan – tujuan
35

pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional. Kemampuan yang


dimaksud adalah kemampuan peserta didik dalam memahami mata
pelajaran matematika khususnya pada materi pokok Perbandingan.
Jadi, upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam penelitian ini
berupa adanya peningkatan hasil belajar siswa dari yang sebelumnya
yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar dengan
menerapkan Pendekatan Matematika Realistik.
2. Pendekatan Matematika Realistik
Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaranmatematika di Belanda. Kata “Realistik” sering disalah
artikan sebagai “real-world” yaitu dunia nyata. Banyak yang
menganggap bahwa pendidikan matematika realistik merupakan suatu
pendekatan pembelajaran matematika yang harus selalu dikaitkan
dengan masalah sehari-hari. Penggunaan kata “realistik” sebenarnya
berasal dari bahasa Belanda “zich realiseren” yang berarti “untuk
dibayangkan” atau “to imagine”. Menurut Van den Heuvel-Panhuizen,
pengunaan kata “realistik” tersebut tidak sekedar menujukkan adanya
suatu koneksi dengan dunia nyata (real-world) tetapi lebih mengacu
pada fokus pendidikan matematika realistik dalam menempatkan
penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan
(imagineable) oleh siswa-siswi (Wijaya,2011).
3. Statistika
Statistik adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara – cara
pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan berdasarkan kumpulan data yang dilakukan. Sedangkan
statistika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang metode
pengumpulan, pengolahan, penafsiran, hingga penarikan kesimpulan
dari sebuah data yang berbentuk angka – angka. Menurut Somantri
(2006) Statistika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
bagaimana cara mengumpulkan, mengolah, menganalisis, hingga
menginterpretasi data supaya dapat disajikan secara sebaik – baiknya.
36

3.5 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti
dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih
baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah
(Arikunto, 2018). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
berbentuk tes. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan
untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok.
3.5.1 Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran merupakan perangkat yang digunakan dalam
proses pembelajaran, meliputi :
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) digunakan sebagai
panduan bagi peneliti dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
di kelas agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
2. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan panduan siswa yang
digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau
pemecahan masalah
3.5.2 Tes Tertulis
Tes adalah alat ukur yang diberikan untuk mendapatkan jawaban baik
secara lisan, tulisan maupun perbuatan (Sugiyono, 2017). Pengumpulan data
penelitian berupa hasil Post-test. Tes ini berbentuk soal pilihan berganda yang
terdiri dari 20 soal yang dibuat oleh peneliti. Penyusunan soal diawali dengan
membuat kisi-kisi soal, membuat naskah soal, membuat alternatif jawaban
dan pedoman penskoran. Dalam aspek kognitif Taksonomi Bloom dalam
(Zulkifli Matondang, 2019) terdapat enam kategori yang meliputi mengingat
(C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), menganalisis (C4),
mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6).

Tabel 3.2 Kisi – kisi Instrumen Hasil Belajar


Kompetensi Indikator Bentuk SOAL Ranah
37

Dasar Soal Kognitif


3.5 3.5.1 Mengenal Pilihan 1,2 C1
Menganalisis data dalam Ganda (Mengingat)
hubungan kehidupan sehari-
antara data hari
dengan cara
penyajiannya 3.5.2 Memahami Pilihan 3,4,5, C2
(tabel, diagram cara Ganda (Memahami)
garis, diagram mengumpulkan
batang, dan data
diagram
lingkaran)
4.5 Menyajikan 4.5.1 Menyajikan Pilihan 6,9,12,15 C3
data dan data dalam bentuk Ganda (Menerapkan)
menafsirkan diagram batang
data dalam 4.5.2 Menyajikan Pilihan 7,10,13,16 C3
bentuk tabel, data dalam bentuk Ganda (Menerapkan)
diagram garis, diagram garis
diagram batang, 4.5.3 Menyajikan Pilihan 8,11,14,17,18, C3
dan diagram data dalam bentuk Ganda 19,20 (Menerapkan)
lingkaran diagram lingkaran
Tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal-soal berbentuk
pilihan berganda dan masing-masing soal akan dinilai benar dan salah dengan
skor benar mendapatkan nilai 1 dan skor nilai yang salah mendapatkan nilai 0
3.5.3 Angket
Lembar angket digunakan untuk melihat respon siswa. Peneliti
menggunakan angket ini untuk mengetahui keberhasilan penerapan
pendekatan pembelajaran saat dilakukannya penelitian. Pada
penelitian ini akan menggunkan angket dengan 30 pernyataan yang
harus diisi oleh siswa. Skala penilaian angket yaitu sangat setujuh,
setujuh, kurang setujuh dan tidak setujuh.
Tabel 3.3 Kisi – kisi Angket
Indikator Nomor Pertanyaan Skala
Positif Negative
Minat siswa dengan pembelajaran 16,17,18,21 20 Likert
menggunakan Pendekatan Matematika 22,23,24,25
Realistik 26,30
Keatifan siswa selama pembelajaran 10 1 Likert
Komunikasi siswa di dalam kelompok 4,5,7,9,19 8 Likert
Sikap tanggung jawab siswa di dalam 12 3 Likert
Kelompok
38

Perhatian siswa selama pembelajaran 27,29 2,28 Likert


Adanya motivasi siswa didalam kelas 14 6,11,13,1 Likert
5

Tabel 3.4 Pemberian Skor Tiap Item Pernyataan


Alternatif Jawaban Skor Pernyataan
Positif Negative
Sangat Setujuh 4 1
Setujuh 3 2
Tidak Setujuh 2 3
Sangat Tidak Setujuh 1 4
3.5.4 Uji Coba Instrumen
Instrument yang telah disusun diujicobakan terlebih dahulu untuk
mengetahui kesahihan dan kehandalan melulai prosedur, berikut beberapa uji
coba instrument, yaitu :
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrument. Suatu intrumen dikatakan valid apabila mampu
mengukur apa yang diinginkan. Sebelum instrument sikatakan valid apabila dapat
mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Untuk mengetahui
validitas instrument digunakan rumus product moment. Product momen
correlation adalah salah satu teknik untuk mencari kolerasi variabel. Untuk
mencari kolerasi product moment correlation digunakan uji validitas instrument
dengan tujuan untuk mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur,
sehingga hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Untuk menguji validitas tes
digunakan rumus sebagai berikut:

(Arikunto, 2016)
Keterangan :
r xy = Koefisien kolerasi
∑ XY = Jumlah nilai perbutir dikalikan nilai per siswa
∑ X = Jumlah nilai per butir
∑ Y = Jumlah nilai per siswa
n = Jumlah siswa
39

Kriteria pengujian validitas adalah setiap item valid apabila r xy > r tabel
(diperoleh dari nilai r product moment).
2. Uji Realibitas
Menurut Sundayana (Fatkhuriyah, 2022), Reliabilitas instrument penelitian
adalah suatu alat yang memberikan hasil yang tetap sama (kosisten, ajeg). Hasil
pengukuran itu harus tetap sama (relatif sama) jika pengukurannya diberikan pada
subjek yang sama meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda. Alat ukur yang
reliabilitasnya tinggi disebut alat ukur yang reliabel. Dala menguji reliabilitas
instrument penelitian ini, penulis menggunakan rumus Cronbach’s Alpha untuk
tipe soal uraia yaitu sebagai berikut :

( n−1
r 11 =
n
)¿
(Arikunto,2016)
Keterangan :
r 11 = reliabilitas yang dicari
n = jumlah varian skor tiap-tiap item
M = mean skor total
2
St = varians total
Adapun interprestasinya :
Tabel 3.5 Kriteria Soal Uji Reliabilitas
Soal Kriteria
0,81 – 1,00 Sangat Tinggi
0,61 – 0,80 Tinggi
0,41 – 0,60 Cukup
0,21 – 0,40 Lemah
0,00 – 0,20 Sangat Lemah
3. Uji Tingkat Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar.
Soal yang mudah tidak merangsang siswa untuk meningkatkan rasa ingin tahu
dalam memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan
siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi
karena di luar jangkauannnya. Untuk mencari tingkat indeks kesukaran (P)
dengan rumus :
B
P=
JS
(Arikunto, 2016)
40

Keterangan :
P : Indeks kesukaran
B : Jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar
JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Adapun kriteria untuk mengetahui indeks kesukaran item soal adalah:
Tabel 3.6 Kriteria untuk mengetahui Indeks Kesukaran (P)
Soal (P) Kriteria
0,71 – 1,00 Soal Mudah
0,31 – 0,70 Soal Sedang
0,00 – 0,30 Soal Sukar
Soal – soal yang dianggap baik, yaitu soal –soal sedang, adalah soal – soal
yang mempunyai indeks kesukaran 0,31 sampai dengan 0,70.
4. Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara
siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Rumus yang digunakan unrk mencari daya pembeda adalah :

DP=
∑ A −∑ B
NA NB
Keterangan :
DP : Indeks daya pembeda
∑ A : Jumlah jawaban benar pada kelompok atas
∑ B : Jumlah jawaban benar pada kelompok bawah
NA : Jumlah siswa kelompok atas
NB : Jumlah siswa kelompok bawah
Kriteria untuk mengetahui daya pembeda butir soal adalah :
Tabel 3.7 Kriteria Daya Pembeda Soal
Daya Pembeda Kriteria
0,71 – 1,00 Baik Sekali
0,41 – 0,70 Baik
0,21 – 0,40 Cukup
0,00 – 0,20 Jelek
Negatif (-) Sangat jelek
Butir-butir soal yang baik adalah butir – butir soal yang mempunyai indeks
diskriminasi 0,4 sampai dengan 0,7.
41

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan salah satu tahap kegiatan penelitian yang
bertujuan untuk memperoleh informasi dari sebuah populasi (Sadarang dkk.,
2021). Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan sesuai.
dengan prosedur. Untuk memperoleh data yang akurat dalam penelitian ini,
maka penelitian ini menggunakan 3 metode pengumpulan data yaitu observasi,
tes, dan dokumentasi (Oktaviyanti dkk., 2022)
a. Observasi
Observasi Untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan pembelajaran
dengan menggunakan media gambar. Observasi yang dilakukan peneliti
untuk mengamati dan mencatat secara sistematis tentang apa yang akan
diamati, kapan dan dimana tempatnya.
b. Tes
Tes unjuk kerja digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa.
Dalam penelitian ini, peneliti memberikan tes berupa pretest dan posttest
kemampaun komunikasi matematis berbentuk uraian. Tujuan dari
pemberian tes ini adalah untuk mengetahui kemampuan komunikasi
matematis siswa dan menjawab hipotesis peneliti yang teah dirumuskan
sebelumnya. Soal-soal yang dibuat berdasarkan indikator kemampuan
komunikasi.
c. Wawancara
Menurut Purnomo (2011) kegiatan wawancara dilakukan untuk
mendapatkan informasi yang mendalam tentang presepsi, pandangan,
wawasan, atau aspek kepribadian para peserta didik yang diberikan secara
lisan. Wawancara yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 8 Pematang
Siantar diajukan kepada salah satu guru mata pelajaran matematika kelas
VII.
d. Kuisioner (Angket)
Menurut (Sugiyono, 2017) Kusioner atau angket merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
42

Angket akan diberikan kepada siswa setelah siswa diberikan perlakuan


terhadap Pendekatan Matematika Relistik dan telah mengerjakan soal
Post-test. Angket diberikan peneliti pada kelas VII di SMP Negeri 8
Pematang Siantar.
3.7 Teknik Analisi Data
Teknik analisis data adalah kegiatan setelah data dari seluruh responden
atau sumber data lain terkumpul. Tujuan dari analasisi data ini ialah untuk
mendeskripsikan sebuah data sehingga dapat di pahami dan untuk menarik
kesimpulan mengenai karakteristik populasi berdasarkan data yang diperoleh dari
sampel, yang bisa dibuat dasar pendugaan dan pengujian hipotesis.
3.7.1 Uji Persyaratan Analisis Data
1. UJi Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang
diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data menggunakan
rumus chikuadrat (X2 ) :
(f 0−fh)²
X 2h=
fh
(Sugiyono, 2019)
Keterangan :
X² : Kuadrat Chi yang dicari
F0 : Frekuensi yang tampak sebagai hasil pengamatan
fh : Frekuensi yang diharapkan
Data berdistribusi normal jika chi-kuadrat hitung lebih kecil atau
sama dengan harga chi kuadrat table, maka distribusi data dinyatakan
normal, dan bila lebih besar dinyatakan tidak normal, yaitu X² hitung ≤ X²
tabel (1-α), dengan taraf pengujian α= 0,05.
2. Uji Linearitas
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui bahwa data tersebut
merupakan uji prasyarat untuk analisis regresi linear sederhana. Dalam
analisis linearitas data ini menggunakan analisis SPSS versi 25. Kriteria
pengujian hipotesis yaitu denga menggunakan (Sig.) dengan cara
membandingkan nilai Sig. dari Deviantion from Liniarity pada table
ANOVA dengan α yang dipilih (0,05) dengan kriteria apabila Sig. pada
43

Deviantion from Liniarity > α maka data linear , apabila Sig. Deviantion
from Liniarity < α maka data tidak linear.

3.7.2 Uji Hipotesis


1. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui
pengaruh pendekatan matematika reaslistik terhadap hasil belajar siswa.
Menurut Sugiyono (2018) bahwa analisis regresi sederhana didasarkan
pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen
dengan satu variabel dependen menggunakan rumus:
Y =a+bX
(Sugiyono, 2019)
Keterangan :
Y : Subjek dalam variabel dependen yang diprediksikan
a : Harga Y bila X = 0 (harga konstan)
b : Angka arah atau koefisien regresi yang menunjukkan angka
peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang
didasarkan pada variabel independen. Bila b (+) maka naik,
dan bila (-) maka terjadi penurunan.
X: Subjek pada variabel independen yang mempunyai nilai
tertentu.
Dimana :

Nilai α merupakan estimasi konstribusi yang diberikan oleh faktor


diluar X terhadap Y. Nilai b dapat diinterprestasikan sebagai berikut :
a. Apabila b > 0, maka terdapat pengaruh positif variabel (X)
terhadap variabel (Y).
b. Apabila b = 0, maka tidak terdapat pengaruh variabel (X)
terhadap variabel (Y).
44

c. Apabila b < 0, maka terdapat pengaruh negative variabel (X)


terhadap variabel (Y).
Koefisien determinasi merupakan koefisien yang menyatakan
seberapa persen besarnya variabel X terhadap variabel Y, maka rumus
yang digunakan yaitu :
KP = r²x 100%
Keterangan :
KP : Besarnya koefisien
r² : Koefisien korelasi
Adapun hipotesis pengujiannya sebagai berikut:
H 0 : μ1 ≠ μ2: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari
Pendekatan Matematika Realistik terhadap hasil
belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 8
Pematang Siantar.
H a : μ1=μ2: Terdapat pengaruh yang signifikan dari Pendekatan
Matematika Realistik terhadap hasil belajar
matematika siswa kelas VII SMP Negeri 8
Pematang Siantar.
Dasar pengambilan keputusan uji ini yaitu Jika nilai signifikan
Sig.> 0,05, maka H1 ditolak, dan Jika nilai signifikan Sig. < 0,05, maka
H1 diterima. Peneliti melakukan uji analisis regresi linear sederhana
menggunakan IBM SPSS Statistics 25. Berdasarkan output tabel
Coefficients, terdapat nilai Sig. di kolom make a match. Jika nilai Sig. <
0,05 maka H1 diterima, atau dapat disimpulkan bahwa sampel data
tersebut terdapat pengaruhnya. Dari persamaan regresi linier dapat dilihat
nilai 𝑎 diambil dari kolom Constan dan nilai 𝑏 diambil dari kolom
variabel X, kemudian masukkan dalam persamaan tersebut. Berdasarkan
output tabel Measures of Associaion pada perhitungan regresi linear
sederhana, terdapat nilai R square. Kemudian masukkan kedalam rumus
koefisien determinasi maka akan didapat besar pengaruhnya.
2. Uji – t
Uji t (t-test) melakukan pengujian terhadap koefisien regresi
secara parsial, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui signifikansi
45

peran secara parsial antara variabel independen terhadap variabel.


dependen dengan mengasumsikan bahwa variabel lain dianggap
konstanta dengan menggunakan rumus:
r √ n−2
t=
√ 1−r 2
(Sugiyono, 2019)
Keterangan :
t = distribusi t
r = koefisien korelasi parsial
2
r = koefisien determinasi
n = jumlah data
Hasil perhitungan uji t (t-test) ini dibandingkan dengan tabel-t
dengan menggunakan tingkat kesalahan 0,05. Kriteria yang digunakan
sebagai berikut:
a. Jika t hitung ≥ t tabel atau nilai sig.< α maka H 0 ditolak dan H 1
diterima
Jika t hitung ≤ t tabel atau nilai sig.> α maka H 0 ditolak dan H 1 diterima.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 8 Pematang Siantar pada
tanggal 04 Mei 2024 s/d 25Mei 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh Pendekatan Matematika Realistik terhadap hasil belajar matematika
siswa pada materi data statistika kelas VII SMP Negeri 8 Pematang Siantar.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII.
Sampel pada penelitian terdiri dari 1 kelas yaitu kelas VII-10 dengan jumlah 30
siswa.
Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan, dan tahap evaluasi.
a. Tahap Perencanaan
Dalam tahap ini, ada beberap hal tahap perencaan yang dilakukan oleh
peneliti adalah sebagai berikut:
1. Melakukan observasi ke sekolah tempat penelitian. Yang dimana observasi
ini bertujuan membantu Peneliti menentukan kelas yang akan dijadikan
sebagai sampel dengan menggunakan teknik purposive sample .
2. Membuat dan merangcang perangkat pembelajaran yang dibuat oleh
peneliti yang berupa RPP dan soal tes.
3. Melakukan uji instrumen pada soal dan Angket (kuesioner), yang
bertujuan untuk mengetahui tingkat kevalidtan soal dan Kuesioner tersebut
layak untuk diberikan. Instrumen tes dan kuesioner yang akan digunakan
divalidisi oleh validator. Adapun validator penelitian adalah Ibu Theresia
Monika Siahaan, S.Pd., M.Pd selaku dosen Universitas HKBP
Nommensen Pematangsiantar, Ibu Mesrita Siburian dan Ibu Karti Lariska
Bakkara, S.Si selaku guru matematika di SMP Negeri 7 Pematang Siantar.
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini penelliti melakukan penelitian terhadap satu kelas yaitu, kelas
VII-10 menggunakan Pendekatan Matematika Realistik. Tahap pelaksanaan ini
dilakukan selama 4 kali pertemuan.

46
47

c. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini penelliti melakukan penelitian terhadap satu kelas yaitu,
kelas VII-10 menggunakan Pendekatan Matematika Realistik. Tahap
pelaksanaan ini dilakukan selama 4 kali pertemuan.
d. Tahap Evaluasi
Tahap terakhir ini, data yang diperoleh dianalisis atau mengolah data dari
sampel yang diberikan perlakuan Pendekatan Matematika Realistik.
Tujuan dari penelitian ini dilaksanakan yaitu untuk mengetahui apakah
terdapat pengaruh pengaruh Pendekatan Matematika Realistik terhadap hasil
belajar matematika siswa pada materi statistika kelas VII SMP Negeri 8 Pematang
Siantar T.A 2024/2025. Data dalam penelitian ini adalah hasil tes hasil belajar
matematika siswa.
Materi matematika yang diajarkan pada penelitian ini adalah materi Data
Statistika. Setelah diberikan perlakuan berupa Pendekatan Matematika Realistik
kemudian diberikan angket siswa melaksanakan model tersebut yang akan diisi
siswa. Setelah itu, untuk melihat hasil belajar matematika maka diberikan tes
hasil belajar matematika yang sudah di uji coba terlebih dahulu di kelas VII-9.
Pada penelitian ini, peneliti memperoleh data dari hasil angket siswa
melaksanakan model dan tes hasil belajar matematika yang dilakukan pada kelas
VII-10. Angket yang digunakan untuk melihat apakah siswa telah melaksanakan
pembelajaran Pendekatan Matematika Realistik dengan baik, sedangkan tes hasil
belajar matematika adalah soal yang diberikan setelah melaksanakan
pembelajaran Pendekatan Matematika Realistik. Hasil angket dan hasil tes hasil
belajar matematika ini digunakan untuk mengetahui apakah Pendekatan
Matematika Realistik berpengaruh terhadap hasil belajar matematika kelas VII
pada pokok bahasan Data Statistika. Instrumen penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah angket pelaksanaan strategi untuk siswa terdiri dari 30
pernyataan dan tes hasil belajar matematika yang terdiri dari 20 butir soal pilihan
ganda. Peneliti melakukan uji coba terhadap angket pelaksanaan Pendekatan
Matematika Realistik dan tes hasil belajar yang akan digunakan melakukan
48

pengambilan data pada sampel. Setelah uji coba dilakukan selanjutnya


mengambil data skor angket.

Anda mungkin juga menyukai