0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan11 halaman

Panduan Terapi Oksigenasi dan Keperawatan

oksigenasi Lp

Diunggah oleh

Rimba Adha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan11 halaman

Panduan Terapi Oksigenasi dan Keperawatan

oksigenasi Lp

Diunggah oleh

Rimba Adha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

OKSIGENASI

A. KONSEP GANGGUAN KEBUTUHAN DASAR


1. Definisi
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh.
Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali
bernapas (Tarwanto, 2010).
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia atau
fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat
dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon
dioksida, energi, dan air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal
pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel
(Mubarak, 2007).
Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa oksigenasi adalah pemenuhan akan
kebutuhan oksigen (O²). Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar
manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk
mempertahankan hidupnya, dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel. Tujuan terapi
oksigen adalah memberikan transport oksigen yang adekuat dalam darah sambil
menurunkan upaya bernafas dan mengurangi stres pada miokardium.
Tujuan terapi oksigenasi :
1. Mengembalikan PO2 arterial pada batas normal.
2. Mengoreksi kondisi hipoksia dan oksigenasi.
3. Mengembalikan frekuensi pernapasan dalam batas normal.

2. Etiologi
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami Oksigenasi
menurut SDKI (2017) adalah :
a. Spasme jalan napas
b. Hipersekresi jalan napas
c. Disfungsi neuromuskuler
d. Benda asing dalam jalan napas
e. Adanya jalan napas buatan
f. Sekresi yang tertahan
g. Hiperplasia dinding jalan napas
h. Proses infeksi
i. Respon alergi
j. Efek agen farmakologis (misal: anestesi)
k. Penyebab situasional
Situasional:
a. merokok pasif
b. merokok aktif
c. terpajan polutan
3.Patofisiologi & Phatway
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan trasportasi. Proses
ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan keluar dari dan ke
paru-paru), apabila pada proses ini terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat
tersalur dengan baik dan sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda
asing yang menimbulkan pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari
alveoli ke jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidak efektifan pertukaran
gas. Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada transportasi
seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan kontraktilitas miokard
juga dapat mempengaruhi pertukaran gas (Brunner & Suddarth, 2008).

4. Manifestasi Klinis
Menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI, 2017) manifestasi
klinis dari gangguan oksigenasi, yaitu:
1. Gejala dan Tanda Mayor
a. Subjektif
1. Tidak ada
b. Objektif
1. Batuk tidak efektif
2. Tidak mampu batuk
3. Sputum berlebih
4. Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
5. Mekonium di jalan napas
2. Gejala dan Tanda Minor
a. Subjektif
1. Dispnea
2. Sulit bicara
3. Ortopnea
b. Objektif
1. Gelisah
2. Sianosis
3. Bunyi napas menurun
4. Frekuensi napas berubah

5. Penatalaksanaan ( Medis & Keperawatan )


a. Latihan nafas dalam
Untuk memperbaiki ventilasi alveoli/ memelihara pertukaran gas, mencegah
elektasis meningkatkan efisiensi batuk dan mengurasi stress
b. Latihan batuk efektif
Bertujuan membersihkan laring, trakea, dan bronkeolus dari secret/ benda asing
di jalan napas
c. Pemberian 02
Dengan memberikan O2 kedalaman paru untuk mencegah hipoksia menggunakan
alat bantu 02, kanul nasal, dan masker
d. Fisioterapi dada
Dengan cara postural drainase, dopping dan vibrating pada pasien dengan
gangguan system napas.
e. Penghisapan lender
Dilakukan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan secret/lender sendiri.
f. Teknik pemberian nebulizer
Memberikan campuran zat aevoid dalam partikel udara dengan tekanan udara,
untuk memberikan obat melalui spontan.

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan fungsi paru
Mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas
2. Pemeriksaan gas darah arteri
Memberikan difusi gas melalui membrane kapiler alveolar
3. Oksimetri
Mengukur saturasi oksigen kapiler
4. Pemeriksaan sinar x dada
Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur dan proses abnormal
5. Endoskopi
Melihat lokasi kemerahan dan adanya lesi
6. CT-Scan
Mengidentifikasi adanya masa abnormal
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan data-data. Tahap pengkajian terdiri atas:
pengumpulan data, analisa data, merumuskan masalah, Analisa masalah.
a. Data subjektif
Pasien mengatakan sesak nafas, Pasien mengeluh lemas dan nyeri di
bagian perut.
b. Data objektif
Sesak nafas, Nafsu makan 1/2 porsi tidak habis serta minum sedikit.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif b.d obstruksi jalan nafas d.d sesak nafas.
b. Ganggun rasa nyaman b.d cairan pleura d.d mengeluh nyeri.
c. Defisit perawatan diri mandi b.d kelemahan d.d minat melakukan
perawatan diri kurang.
d. Ganguang mobilitas fisik b.d sulit gerak d.d rentang gerak menurun.

3. Rencana Keperawatan
No SDKI SLKI SIKI
1. Pola nafas tidak Setelah dilakukan intervensi Pemantauan Respirasi
efektif b.d obstruksi keperawatan selama 3 x 24 jam, SIKI 1.01014
maka pola napas membaik,
jalan nafas d.d sesak
dengan kriteria hasil:
nafas.
SDKI D.0005 1. Dispnea menurun Observasi
2. Penggunaan otot bantu
1. Monitor frekuensi,
napas menurun
irama, kedalaman dan
3. Pemanjangan fase ekspirasi
upaya napas
menurun
2. Monitor pola
4. Frekuensi napas membaik
napas (seperti
5. Kedalaman napas membaik
bradypnea, takipnea,
hiperventilasi,
kussmaul, Cheyne-
stokes, biot, ataksik)
3. Monitor
kemampuan batuk
efektif
4. Monitor adanya
produksi sputum
5. Monitor adanya
sumbatan jalan napas
6. Palpasi
kesimetrisan ekspansi
paru
7. Auskultasi bunyi
napas
8. Monitor saturasi
oksigen
9. Monitor nilai
analisa gas darah
10. Monitor hasil x-
ray thoraks

Terapeutik

1. Atur interval
pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan
hasil pemantauan.

Edukasi

1. Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan, jika perlu.

2. Ganguan rasa Setelah dilakukan intervensi Manajemen Nyeri


nyaman b.d cairan keperawatan selama 3 x 24 jam, SIKI 1.08238
maka status kenyamanan
pleura d.d mengeluh
meningkat, dengan kriteria Observasi
nyeri. SDKI D.0074 hasil:
1. Identifikasi lokasi,
1. Keluhan tidak nyaman karakteristik, durasi,
menurun frekuensi, kualitas,
2. Gelisah menurun intensitas nyeri
2. Identifikasi skala
nyeri
3. Idenfitikasi respon
nyeri non verbal
4. Identifikasi faktor
yang memperberat dan
memperingan nyeri
5. Identifikasi
pengetahuan dan
keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi
pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
7. Identifikasi
pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
8. Monitor
keberhasilan terapi
komplementer yang
sudah diberikan
9. Monitor efek
samping penggunaan
analgetik

Terapeutik

1. Berikan Teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi nyeri (mis:
TENS, hypnosis,
akupresur, terapi music,
biofeedback, terapi
pijat, aromaterapi,
Teknik imajinasi
terbimbing, kompres
hangat/dingin, terapi
bermain)
2. Kontrol lingkungan
yang memperberat rasa
nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
3. Fasilitasi istirahat
dan tidur
4. Pertimbangkan
jenis dan sumber nyeri
dalam pemilihan
strategi meredakan
nyeri.
Edukasi

1. Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
3. Anjurkan
memonitor nyeri secara
mandiri
4. Anjurkan
menggunakan analgesik
secara tepat
5. Ajarkan Teknik
farmakologis untuk
mengurangi nyeri

Kolaborasi

1. Kolaborasi
pemberian analgetik,
jika perlu

3. Defisit perawatan Setelah dilakukan intervensi Dukungan Perawatan


diri mandi b.d keperawatan selama 3 x 24 jam, Diri
maka perawatan diri meningkat,
kelemahan d.d minat
dengan kriteria hasil: SIKI 1.11348
melakukan
perawatan diri 1. Kemampuan mandi Observasi
kurang. meningkat
2. Kemampuan mengenakan 1. Identifikasi
SDKI D.0109 kebiasaan aktivitas
pakaian meningkat
3. Kemampuan makan perawatan diri sesuai
meningkat usia
4. Kemampuan ke toilet 2. Monitor tingkat
(BAB/BAK) meningkat kemandirian
5. Verbalisasi keinginan 3. Identifikasi
melakukan perawatan diri kebutuhan alat bantu
meningkat kebersihan diri,
6. Minat melakukan perawatan berpakaian, berhias, dan
diri meningkat makan
Terapeutik

1. Sediakan
lingkungan yang
terapeutik (mis: suasana
hangat, rileks, privasi)
2. Siapkan keperluan
pribadi (mis: parfum
sikat gigi, dan sabun
mandi)
3. Dampingi dalam
melakukan perawatan
diri sampai mandiri
4. Fasilitasi untuk
menerima keadaan
ketergantungan
5. Fasilitasi
kemandirian, bantu jika
tidak mampu
melakukan perawatan
diri
6. Jadwalkan rutinitas
perawatan diri

Edukasi

1. Anjurkan
melakukan perawatan
diri secara konsisten
sesuai kemampuan

4. Ganguang mobilitas Setelah dilakukan intervensi Dukungan Ambulasi


fisik b.d sulit gerak keperawatan selama 3 x 24 jam, SIKI 1.06171
maka mobilitas fisik meningkat,
d.d rentang gerak
dengan kriteria hasil: Observasi
menurun.
SDKI D.0054 1. Pergerakan ekstremitas 1. Identifikasi adanya
meningkat nyeri atau keluhan
2. Kekuatan otot meningkat fisik lainnya
3. Rentang gerak (ROM) 2. Identifikasi
meningkat toleransi fisik
melakukan ambulasi
3. Monitor frekuensi
jantung dan tekanan
darah sebelum
memulai ambulasi
4. Monitor kondisi
umum selama
melakukan ambulasi

Terapeutik

1. Fasilitasi aktivitas
ambulasi dengan alat
bantu (mis: tongkat,
kruk)
2. Fasilitasi
melakukan mobilisasi
fisik, jika perlu
3. Libatkan keluarga
untuk membantu
pasien dalam
meningkatkan
ambulasi

Edukasi

1. Jelaskan tujuan
dan prosedur ambulasi
2. Anjurkan
melakukan ambulasi
dini
3. Ajarkan ambulasi
sederhana yang harus
dilakukan (mis:
berjalan dari tempat
tidur ke kursi roda,
berjalan dari tempat
tidur ke kamar mandi,
berjalan sesuai
toleransi).
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan
oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah kesehatan yang dihadapi ke status
kesehatan yang lebih baik dan menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Ada
beberapa pelakasanaan atau implementasi tindakan keperawatan yang dapat dilakukan
yaitu Latihan nafas dalam, Latihan batuk efektif, pemberian oksigen, pemberian
posisi semi fowler, dan pemberian suction (Hidayat, 2015).
Adapun intervensi keperawatan yang telah di tentukan berdasarkan SIKI
(Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yaitu: pengaturan posisi. Implementasi
yang direncanakan telah diterapkan, pasien dapat menerapkan pengaturan posisi yang
merupakan suatu metode pengaturan posisi dengan benar, dimana klien dapat
menghemat energy sehingga tidak mudah lelah dan dapat bernapas secara maksimal.
Menurut hasil penelitian dari (Anggraeta Dheka Viananda, 2020) Asuhan
Keperawatan yang tepat perlu diberikan dalam mengatasi ketidakefektifan pola napas,
yaitu dengan memposisikan semi fowler atau setengah duduk. Pada posisi semi fowler
sebagai salah satu pilihan intervensi non farmakologis dalam mengatasi masalah
ketidakefektifan pola napas pada pasien efusi pleura. Dapat di simpulkan bahwa
pemberian posisi semi fowler sangat efektif dilakukan untuk mengurangi sesak napas
dan membuat pola napas pasien menjadi efektif kembali.

5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah di lakukan
intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang telah di
berikan. Evaluasi keperawatan adalah kegiatan terus menerus di lakukan untuk
menentukan apakah rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan
dilanjutkan, merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan (Manurung,
2011).
Evaluasi keperawatan dilakukan dengan metode SOAP (Subjektif, Objektif,
Analisis, and Planning), metode ini digunakan untuk mengetahui keefektifan dari
tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai tujuan dan kriteria hasil yang di
harapkan.

6. Dapus

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.

Nurdianasari, R. N. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Klien Efusi Pleura Dengan


Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Pola Nafas Diruang Teratai Rsud Bangil
Pasuruan (Doctoral dissertation, STIKes Insan Cendekia Medika Jombang).

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

ANGGRAENI, D. (2014). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. H DENGAN


OKSIGENASI et causa EFUSI PLEURA DI RUANG CEMPAKA RSUD
BANYUMAS (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PURWOKERTO).

Anda mungkin juga menyukai