1.
Defenisi Drama
Pengertian drama menurut KBBI memiliki beberapa pengertian. Pertama,
drama diartikan sebagai komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat
menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau
dialog yang dipentaskan. Kedua, cerita atau kisah terutama yang melibatkan
konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga,
kejadian yang menyedihkan.
Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu draomai yang berarti berbuat, bertindak,
dan sebagainya. Kata drama dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan.
Secara umum, pengertian drama merupakan suatu karya sastra yang ditulis dalam
bentuk dialog dan dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah
drama dapat dikenal dengan istilah teater. Drama juga dapat dikatakan sebagai
cerita yang diperagakan di panggung dan berdasarkan sebuah naskah.
Pada umumnya, drama memiliki 2 arti, yaitu drama dalam arti luas serta drama
dalam arti sempit. Dalam arti luas adalah semua bentuk tontonan atau pertunjukkan
yang mengandung cerita yang ditontonkan atau dipertunjukkan di depan khalayak
umum. Sedangkan pengertian drama dalam arti sempit ialah sebuah kisah hidup
manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan di atas panggung.
JAKA TARUB DAN 7 BIDADARI
Babak 1
Adegan 1
Dahulu kala di sebuah desa terpencil, ada seorang pemuda yang sangat tampan. Ia
tinggal bersama Ibunya karena sang ayah telah meninggal sejak pemuda itu masih
kecil. Nama pemuda itu adalah Jaka Tarub. Kehidupan yang serba sederhana bahkan
terkadang kekurangan telah Jaka Tarub dan Ibunya jalani dengan sepenuh hati.
Setiap hari Jak Tarub dan Ibunya bertani di sawah untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari.
Ibu Jaka Tarub: “Uhuk.. uhuk..” (batuk)
Jaka Tarub: “Ibu kenapa?”
Ibu Jaka Tarub: “Ibu tidak apa-apa nak. Hanya batuk biasa saja”
Jaka Tarub:“Kalau begitu biar saya saja yang menyelesaikan pekerjaan Ibu hari ini”
Ibu Jaka Tarub:“Terima kasih nak, ibu merasa masih kuat melakukannya nak"
Jaka Tarub: “Tidak apa-apa ibu, biar jaka saja yang mengerjakannya"
Ibu Jaka Tarub: “Ibu beruntung memiliki anak seperti kamu nak”
Sinar matahari sudah mulai turun menandakan malam akan segera tiba. Jaka Tarub
dan Ibunya memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya disawah dan pulang ke
rumah.
Ibu Jaka Tarub: “Nak hari sudah hampir petang, kita akhiri pekerjaan hari ini ya”.
Jaka Tarub: “Hmm... baik bu”
Setelah sampai di rumah, Jaka Tarub dan Ibunya beristirahat dan duduk bersama.
Seperti keluarga pada umumnya, Jaka Tarub dan Ibunya melakukan perbincangan
ringan layaknya Ibu dan anak.
Ibu Jaka Tarub: “Nak, ada yang ingin Ibu katakan padamu”
Jaka Tarub : “Ada apa bu?”
Ibu Jaka Tarub: “Nak, Ibu lihat kamu sudah dewasa, sudah pantas untuk meminang
gadis. Lekaslah menikah, Ibu ingin menimang cucu sebelum Ibu pergi. Ada seorang
gadis yang mencintaimu nak kamu sangat pantas jika menikah dengannya.”
Jaka Tarub: “Siapa gadis itu bu, Laras?aku tidak mencintainya bu, lagi pula Jaka
belum ingin menikah bu”
Ibu Jaka Tarub: “Tapi jika ibu sudah tiada nanti, siapa yang akan mengurusmu?”
Jaka Tarub: “Jangan berbicara seperti itu bu”
Ibu Jaka Tarub: “Ibu hanya merasa semakin lelah nak…”
Jaka tarub: “Ada yang berbeda dari ibuk hari ini” (termenung dan berfikir)
Adegan 2
Keesokan harinya, Jaka Tarub mendapati Ibunya yang tengah melakukan aktivitas
yang biasanya dilakukan oleh Jaka Tarub di rumah.
Jaka Tarub: “Tumben ibu yang menyiapkan semuanya hari ini”
Ibu Jaka Tarub: “Sudahlah, tidak apa-apa. Ibu ingin kamu tidak terlalu kelelahan saat
bekerja”
Jaka Tarub: “Terimakasih bu”
Ibu Jaka Tarub: “Ya, sama-sama nak. Sepertinya hari ini ibu tidak bisa pergi bertani
denganmu”
Jaka Tarub: “Ya sudah, biar saya saja buk. Ibu istirahat saja di rumah. Ya sudah, ibu
Saya pergi dulu bu”
Jaka Tarub : “Iya nak. Hati-hati ya”
Setelah berpamitan dengan Ibunya, Jaka Tarib segera pergi menuju ke sawah.
Walaupun sendirian, hal itu tak menyurutkan semangat Jaka Tarub untuk bekerja.
Semua yang ia lakukan tak lain hanya untuk Ibunya yang sedang lemah di rumah.
Saat perjalanan menuju ke sawah ada wanita yang mengikutinya dan bersembunyi
di balik semak semak.
Laras: “Andai saja dia jadi suamiku. Aku pasti bahagia, tapi apakah dia juga
mencintaiku? Ah sudahlah dia pasti mencintaiku.” (senyum meringis)
Seperti biasanya, Jaka Tarub pulang dari sawah ketika hari mulai petang dengan
membawa hasil panennya.
Jaka Tarub: “Hmm hari sudah semakin sore, sudah saatnya aku puulng lagi pula ibu
sedang sendirian di rumah"
Adegan 3
Saat Jaka Tarub sampai di rumah, ia sangat terkejut melihat ibunya yang terbaring
sakit di kamar. saat itu, juga ada Laras yang tengah menangis di samping ibu Jaka
tarub
Jaka Tarub: “Assalamualaikum bu, hah ada apa ini ?”.
Laras : ”Ibumu kang jaka”.
Jaka Tarub : ”Ada apa dengan ibu Laras”.
Laras : “Lihatlah sendiri kang Jaka”
Jaka Tarub :“Ibuuuuuuuuuuu!!” (menghampiri ibunya), ibu.. ibu kenapa bu.........Ibu
Ibu jaka Tarub: “Maafkan semua kesalahan ibu nak. Ibu harus pergi. Ini permintaan
terakhir ibu, carilah pendamping hidupmu, agar ada yang mengurusmu nanti jaka”
Jaka Tarub: “Jangan tinggalkan Jaka buuuuuuuuu” (menangis).
Laras: (berdiri di belakang ibu dan Jaka Tarub)
Laras : “(Kesempatan emas ini, Ibu Jaka Tarub menginginkan Jaka Tarub memiliki
istri, Jaka Tarub kan tidak punya calon untuk dijadikan istri, pasti Jaka tarub memilih
aku sebagai istrinya)” katanya dalam hati
Jaka Tarub menyesal telah membiarkan ibunya yang lemah di rumah sendirian.
Seharusnya dia menjaga ibunya karena saat itu yang dia miliki hanyalah sang ibu. Ia
kemudian menyendiri dan terlihat selalu murung. Hingga suatu hari Jaka Tarub pergi
ke hutan untuk menghilangkan beban pikirannya.
Adegan 4
(Di Kahyangan) hiduplah 7 bidadari yang hidup dengan bahagia. Mereka selalu
menghabiskan waktu dengan bermain dan bersantai bersama. salah satunya adalah
pergi ke mayapada atau yang biasa di sebut oleh manusia dengan bumi. Mereka
pergi ke bumi untuk mandi di sungai yang sangat menyejukkan.
Nawang Wulan: “huaaaaap.... hari ini begitu cerah, matahari membangunkanku dari
mimpi”.
Nawang Sari: “Benar seeklai adik,rasanya aku ingin pergi ke mayapada untuk mandi
di sungainya yang sangat sejuk itu”. (sambil memejamkan mata)
Nawang Wulan: “Benar sekali itu kakak, aku juga ingin mandi di sungai ”.
Nawang Sari: “Jika seperti itu ayo kita ke kakak yang lain untuk membicarkan hal
ini”. (Taman Kayangan)
Nawang Merah menghampiri Nawang Windu, Nawang Kucai, Nawang Daun yang
sedang bersantai ditaman kayangan sambil bercengkrama.
Nawang Merah : “kakak,,”
Nawang Windu, Nawang Kucai, Nawang Daun : “ya adikku, ada apa. Hmm...... Harum
sekali kamu pagi ini.
Nawang Merah: “heheheh iya kak,. kak ayo kita ke mayapada, aku ingin mandi di
danau, aku rindu“.
Nawang Windu : “wah... ide bagus itu, kebetulan kita sudah lama tidak ke mayapada
sejak musim dingin ini.
Nawang Kucai: “Ya sudah nanti kakak akan bicara dengan kak ayu dulu ya”.
Dengan hati yang senang, Nawang Merah menghampiri Nawang Sari & Nawang
Wulan untuk memberitahu kalau mereka akan ke mayapada.
Nawang Merah:“ish bau... kalian jorok dech kok belum mandi sih. Entar ibu marah
loh kalau kita pergi tapi badan masih bau.”
Nawang Wulan : “emang kita mau kemana ?
Nawang Merah : “kita akan ke mayapada,, kita akan mandi di sungai“.
Nawang Sari: “wah rasanya bagai menusuk ke dada, dinginnya akan meraba
darahku. Wahhh...rasaya itu ?” (sambil menghayal)
Nawang Wulan : “kamu kebiasaan deh,, menghayal kamu sampai keujung tanduk,
tidak tau artinya tapi asal menyebutkan.
Nawang Merah : “Sudah sudah ayo kita ke kak Nawang Putih”.
Bidadari-bidadari tersebut segera menemui kakak pertama mereka yang saat itu,
sedang di kolam kahyangan.
Nawang Daun : “kakak.. adik bidadari ingin kebumi, mereka ingin mandi di sungai”.
Nawang Windu :“ayo kita ke bumi yuk kak,, kami rindu ingin mandi di sungai kak,,”
Nawang Merah, Nawang Sari, Nawang Wulan : “iya kak, ayo kita pergi sekarang kak’.
Nawang Putih : “iya tunggu sebentar, kakak minta izin dulu sama ayah Kalau ayah
mengijinkan kita akan pergi hari ini”.
Nawang Daun : “iya kak ayo minta izin sekarang kak, sebelum matahari terbenam”.
Para bidadari akhirnya pergi meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke
mayapada.
Nawang Putih : “Ayah, Ibu, saya dan adik-adik mohon izin untuk pergi ke mayapada,
mereka rindu ingin mandi di sungai”.
Raja Ajisaka: “Pergilah nak, tapi ingat pada saat terompet kerajaan berbunyi kalian
semua harus segera kembali ke istana”
Nawang Daun: “Iya ayah, kami semua mengerti”
Nawang Kucai: “Kami akan segera kembali ketika terompet kerajaan berbunyi”
Ratu Sekar Dewi : “Berhati-hatilah nak”
7 Bidadari : “Baik bu”
Babak 2
Adegan 1
Suatu ketika Jaka Tarub sedang dihutan untuk menghilangkan kepenatan sambil
berburu makan siang, tanpa disengaja Jaka Tarub mendengar sayup-sayup suara
wanita yang sedang bercanda.
Jaka Tarub: “sepertinya aku mendengar suara canda wanita, Hmm, dimana ya
(Dengan mengendap-ngendap Jaka Tarub mecari)
Jaka Tarub: “Wah.. wah.. ada 7 wanita cantik ternyata. Mungkin salah diantara
mereka adalah jodohku”
Jaka Tarub berjalan mendekat menuju danau. Di tepi danau itu, Jaka Tarub
menemukan selendang-selendang yang tergeletak dan berserakan. Jaka tarub
menduga bahwa selendang itu adalah milik wanita yang sedang mandi di danau.
Jaka tarub memilih dan mencuri salah satu selendang kemudian
menyembunyikannya. (Terompet Kerajaan dari kahyangan berbunyi)
Nawang Putih : “Cepat adik-adikku, saatnya kita kembali ke kahyangan. Ayah sudah
memanggil kita untuk pulang”.
Nawang Wulan: “Tapi kak, selendang merahku tidak ada. Aku tidak bisa pulang
tanpa selendang itu” (Bidadari yang lain sibuk mencari selendang Nawang Wulan)
Nawang Windu: “Bagaimana ini..? padahal selendang adik Nawang Wulan tadi ada di
sebelah selendangku”
Nawang Merah: “Aku sudah mencoba mencari selendang adik Nawang Wulan, tapi
tak kunjungku temukan juga”
Nawang Sari: “Ya, aku juga sudah mencoba mencarinya, apa yang harus kita
lakukan kakak?”
Nawang Putih: “Kita tidak bisa terus-terusan berada di mayapada. Kita harus pulang
kekahyangan sekarang juga. Maafkan kami adik Nawang Wulan, mungkin sudah
takdir adik untuk tinggal di mayapada"
Nawang Wulan : “Tapi kak, bagaimana dengan aku disini?”.
Nawang Daun: ”Kami harus segera pergi Nawang Wulan, lihatlah hari sudah
beranjak gelap dan ini akan membahayakan kami semua”.
Nawang Putih : “Itu benar Nawang Wulan Kami tidak bisa berbuat apa-apa Nawang
Wulan. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal adik Nawang wulan”.
Nawang Wulan: “Kakaaaaaaaaaak!!” (menangis).
Keenam bidadari itu, meninggalkan Nawang Wulan sendirian. Sedangkan Nawang
Wulan belum menemukan selendangnya. Ia merasa sedih dan kesepian di tepi
danau. Saat mendengar Nawang Wulan menangis, Jaka Tarub datang menghampiri
Nawang wulan.
Jaka Tarub: “Mengapa engkau menangis gadis cantik?”
Nawang Wulan: “Selendang merahku hilang. Aku tidak bisa kembali ke kahyangan
tanpa selendang itu.
Jaka Tarub: “Kahyangan? Jadi kau adalah seorang bidadari?”.
.Nawang Wulan :(diam karena takut untuk menjawab).
Jaka Tarub : “Tidak usah takut begitu, aku tak akan melukaimu bidadari cantik.
Daripada tinggal di hutan ini sendirian, bagaimana jika kau ikut ke rumahku? Kau
bisa tinggal di rumahku untuk sementara”.
Nawang Wulan: ”Benarkah?”.
Jaka Tarub:“Ya, kau bisa tinggal selama apapun kau mau. Pakailah ini” (memberikan
sebuah selendang)
Nawang Wulan : “Terima kasih”
Jaka Tarub: “Oh ya, siapa namamu?”
Nawang Wulan : “Aku Nawang Wulan”.
Jaka Tarub: “Nama yang bagus. Aku Jaka Tarub. Ayo ikuti aku”
Nawang Wulan merasa sangat senang dan akhirnya ia mengikuti Jaka Tarub menuju
rumah Jaka Tarub. Semua itu dilakukan oleh nawang wulan karena saat ini, tak ada
lagi orang selain Jaka tarub yang mau membantunya karena selendangnya telah
hilang dan di tinggal oleh saudaranya kembali ke kayangan.
Adegan 2
(Di kahyangan) Kakak-kakak Nawang Wulan merasa takut untuk menghadap ayah
dan ibunya karena mereka tahu bahwa ayah dan ibu akan marah jika mengetahui
mereka pulang tanpa Nawang Wulan.
Raja Ajisaka: “Kemana adik kalian Nawang Wulan?”
6 Bidadari: (saling menatap 1 sama lain karena ketakutan)
Ratu Sekar Dewi : “Kemana dia..? Kenapa kalian pulang tanpa adik kalian?”.
(menghampiri ke 6 bidadari dan bertanya dengan lembut)
Nawang Putih: “Maafkan kami ayah, ibu.. Nawang Wulan tidak bisa kembali ke
kahyangan karena selendangnya hilang”.
Nawang Daun : “Iya ibu, selendang adik Nawang Wulan tak kunjung kami temukan
meskipun sudah kami cari”.
Raja Ajisaka: “Ayah kecewa pada kalian karena tidak bisa menjaga adik kalian”
(bicara dengan nada keras)
6 Bidadari : “Maafkan kami ayah..”
Ratu Sekar Dewi: “Sudahlah… jangan menyalahkan mereka. Mungkin sudah takdir
Nawang Wulan untuk tinggal di mayapada”. (sedih)
Raja Ajisaka: “Apa yang harus kita lakukan untuk Nawang Wulan patih
hadiyawarman?”
Patih : “Hamba setuju dengan perkataan Ratu Sekar Dewi, Raja.. Mungkin sudah
takdir Nawang Wulan untuk tinggal di mayapada. Jadi kita tidak perlu melakukan
apa-apa. Berharaplah semoga hal buruk tidak terjadi pada Nawang Wulan”
Raja Ajisaka: “Baiklah kalau begitu”.
Adegan 3
Hari demi hari dijalani oleh Nawang Wulan bersama Jaka Tarub. Dengan berjalannya
waktu, Mereka semakin dekat dan saling mengenal satu sama lain. Hingga sebuah
rasa muncul diantara mereka dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Namun, ada beberapa pihak yang tidak suka dengan pernikahan mereka. Yang tak
lain adalah Laras dan Arya. Mereka berencana untuk menghancurkan pernikahan
Nawang Wulan dan Jaka Tarub.
Laras: “Aku benci dengan pernikahan mereka”.
Arya : “Aku pun sama halnya dengan kamu”.
Laras: “Kita harus menghancurkan pernikahan mereka”.
Arya : “Tapi apa rencana mu?”.
Laras: “Kamu harus membantu aku untuk mendapatkan Jaka”.
Arya : “Baik, aku akan membantumu, tapi apa imbalannya untukku?”.
Laras: “Sebagai imbalannya aku akan membantumu untuk mendapatkan Nawang
Wulan”
Arya : “Baiklah, aku setuju”.
Mereka berdua pun terus berusaha untuk mengancurkan pernikahan Nawang Wulan
dan Jaka Tarub, mereka berusaha menghasut Jaka Tarub dan Nawang Wulan.
Laras: “Nawang Wulan apakah kau tidak mersa bahwa Jaaka Tarub mencintai
seorang wanita selain kau ?”.
Nawang Wulan : ”Tidak mungkin,Jaka tarub hanya mencintaiku. Memang wanita
siapa yang kau masut itu Laras ?”.
Laras: “ Nawang Wulan wanita iku adalah aku”
Nawang Wulan : “Hemh..,jangan tinggi hati kau Laras, Jaka tarub hanya
mencintaiku” (Nawang Wulan beranjak pergi meninggalkan Laras).
Nawang Wulan langsung menuju rumah dan menemui Jaka Tarub yang baru saja
pulang dari ladang untuk meminta keterangan tentang apa yang telah dibicarakan
Laras.
Nawang Wulan: “Jaka Tarub”(dengan nada membentak)
Jaka Tarub:”Ada apa nawang wulan ?”.
Nawang Wulan : ”Apakah kau mencintai seorang wanita Jaka Tarub ?”.
Jaka Tarub:”Kau bicara apa Nawang Wulan ? ”.
Nawang Wulan : “Apakah kau mencintaiku Jaka Tarub ?”.
Jaka Tarub: “Iya Nawang Wulan aku mencintaimu,aku telah lama mencintaimu sejak
awal kita bertemu, memangnya mengapa kamu bertanya seperti itu ?”.
Nawang Wulan : “Tapi Laras bilang bahwa kau telah mencintainya”.
Jaka Tarub: ”LARAS!!!, Nawang Wulan dengarkan aku, aku telah lama mencintaimu,
jika kamu masih tidak percaya aku siap untuk menikah denganmu. Apakah engkau
mau menikah denganku ?”
Nawang Wulan :“Ya aku bersedia menikah denganmu Jaka tarub”.
Usaha Laras dan Arya untuk memisahkan Jaka Tarub dan Nawang Wulan gagal.Jaka
tarub dan Nawang wulan akhitnya menikah. Setelah pernikahan Nawang Wulan dan
Jaka Tarub sudah cukup lama, mereka dikaruniai anak kembar dengan jenis kelamin
yang berbeda. Satu perempuan dan satu laki-laki yang diberi nama Nawang Asih
dan Jaka Tengil.
Adegan 4
Setelah Nawang Asih dan Jaka Tengil beranjak dewasa. Permasalahan antara Jaka
Tarub dan Nawang Wulan mulai muncul. Sedangkan Arya dan kedua temannya yaitu
Banyu dan Indra terus menghasut Jaka Tarub untuk mencari tau lebih dalam tentang
Nawang wulan.
Arya : “Jaka, apakah kamu tidak curiga pada istrimu?”.
Jaka Tarub : “Apa maksudmu?”
Arya : “Bukankah selama ini istrimu Nawang Wulan selalu melarangmu untuk tidak
membuka bakul yang ia gunakan untuk menanak nasi?”.
Jaka Tarub: “Iya, itu memang benar. Tapi apa masalahnya?”.
Indra: “Apa kamu tidak curiga kenapa beras di lumbung mu masih utuh, seolah-olah
tidak pernah digunakan”
Banyu: “Jaka tidak akan pernah curiga teman-teman, karena dia sudah merasa
bahagia mendapatkan istri secantik Nawang Wulan”.
Jaka Tarub: (diam merenungi perkataan teman-temannya).
Pada saat Jaka Tarub pulang ke rumah ia melihat istrinya sedang memasak.
Jaka Tarub: “Assalamu’alaikum”.
Nawang Wulan : “Wa’alaikumsalam. Akang sudah pulang rupanya”.
Jaka Tarub : “Iya, ada apa memangnya Dinda?”.
Nawang Wulan: “Bolehkah aku meminta tolong?.
Jaka Tarub: “Meminta tolong untuk apa dinda?”
Nawang Wulan :“Tolong jagakan api ini karena aku sedang memasak nasi”.
Jaka Tarub: “Memangnya dinda mau pergi kemana?”.
Nawang Wulan: “Aku hendak pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, kang”.
Jaka Tarub : “Baiklah, dinda”.
Nawang Wulan : “Tapi ingat, akang tidak boleh membuka tutup kukusan ini. Akang
harus ingat dengan janji akang”.
Jaka Tarub : “Tenang saja Dinda. Akang tidak akan lupa dengan janji akang”.
Setelah Nawang Wulan pergi. Jaka Tarub ingat dengan perkataan teman-temannya.
Karena hatinya dipenuh dengan rasa penasaran. Jaka Tarub akhirnya membuka
tutup kukusan yang ada didepannya.
Jaka Tarub : “Hah, ternyata selama ini dinda Nawang Wulan hanya memasak dengan
setangkai padi. Pantas saja selama ini padi di lumbung masih banyak”.
Nawang Wulan tiba-tiba datang dari sungai setelah selesai mencuci pakaian.
Nawang Wulan : “Sedang apakah kau akang?” (bertanya dengan nada keras).
Jaka Tarub: “A… a… akang tidak sedang apa-apa dinda” (dengan terbata-bata).
Akang harus pergi ke ladang, ada pekerjaan yang harus akang selesaikan”.
Setelah Jaka pergi Nawang Wulan pun membuka isi kukusannya. Pada saat itu juga
Nawang Wulan curiga pada Jaka Tarub karena setangkai padi masih tergolek
didalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan itu hingga
kesaktiannya hilang. Sejak saat itulah Nawang Wulan mulai menumbuk dan menapi
beras untuk dimasak,seperti wanita pada umumnya. Karena tumpukan padinya terus
berkurang, suatu hari NawangWulan menemukan selendang bidadarinya yang
terselip diantara tumpukan padi. Dan akhirnya Nawang wulan tau siapa yang selama
ini menyembunyikan selendangnya.
Nawang Wulan : “Ternyata selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan
selendangku. Karena isi lumbung terus berkurang pada akhirnya aku bias
menemukannya kembali.Ini pastisudah menjadi kehendak yang diatas” (Nawang
Wulan bergumam).
Adegan 5
Setelah Nawang Wulan mengetahui bahwa selendangnya dicuri oleh Jaka Tarub,
Nawang Wulan pun memutuskan untuk kembali ke kahyangan dan meninggalkan
Jaka Tarub serta kedua anaknya.
Nawang Wulan : “Jaka Tarub, teganya kau telah membohongiku selama ini. Ternyata
kau yang mencuri selendangku Jaka Tarub”.
Jaka Tarub: ”Maafkan Aku adinda Nawang Wulan,aku mengau salah”.
Nawang Wulan : “Memang kau telah salah Jaka Tarub,tinggallah di bumi tanpa aku,
aku sudah tidak bisa hidup di bumi ini lagi”.
Jaka Tarub: “Tapi dinda bagaimana dengan anak kita Jaka Tengil dan Nawang Asih?”.
Nawang Wulan : “Uruslah mereka dengan baik”.
Jaka Tarub : “Tapi dinda aku tidak sanggup menjaga mereka berdua seorang
diri”Nawang Wulan : “Aku percaya kau bisa menjaga kedua anak kita”.
Nawang Asih : “Ibu, jangan tinggalkan Asih sendiri” (menangis sambil memeluk
Ibunya)
Jaka Tengil : “Iya bu, jangan tinggalkan kami sendiri”.
Nawang Wulan : “Kalian kan tidak sendiri, ada ayah kalian disini”.
Jaka Tengil dan Nawang Asih: “Tapi bu, kami ingin ibu bersama kami disini”.
Jaka Tarub : “Apa dinda tega meninggalkan Asih dan Tengil sendiri tanpa dinda disisi
mereka ?”.
Nawang Wulan : “Tapi disini bukan tempatku. Tempatku adalah di kahyangan, bukan
disini Jaka Tarub” (menangisi kedua anaknya).
dengan penuh rasa keterpaksaan jaka dan kedua anaknya mengikhlaskan Nawang
Wulan untuk kembali pulang ke kayangan. mereka juga mengantarkan kepergian
Nawang Wulan.
Nawang Asih : “Ibuuuuuuuuuuuu…” (menangis dan menggengam tangan Nawang
Wulan)
Jaka Tengil : “Ibuuuuuuuu.. jangan tinggalkan Tengil bu”.
Nawang Wulan : “Ibu tidak akan pergi jauh dari kalian, ibu akan mengawasi kalian
darikahyangan”.
Jaka Tarub : “Hati-hati dinda”.
Babak 3
Adegan 1
Setelah pulang ke kayangan, Nawang wulan tidak kebahagiaan yang selama ini ia
rasakan, ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Sekarang yang
dirasakan oleh Nawang Wulan hanyalah sebuah penderitaan. Nawang wulan dan
keluarganya di kayangan diserbu oleh segerombolan jin jahat pimpinan raja yang
sangat bengis dan sombong yaitu Raja Bintara. Raja Bintara sudah lama ingin
mempersunting Nawang Wulan dan ke 6 kakaknya. Keinginan yang tentu saja
ditolak mentah-mentah oleh ke 7 bidadari maupun kedua orang tua mereka.
Raja Bintara : “Mana ke 7 calon istriku?”.
Raja Ajisaka : “Apa maksudmu?”.
Raja Bintara : “Mana Nawang Wulan dan ke 6 saudarinya?”.
Ratu Sekar Dewi : “Apa maksudmu berbicara seperti itu?”.
Raja Bintara : “Dulu saat kau meminta bantuanku untuk membangun kembali
kahyangan ini kau berjanji untuk menikahkan ke tuju putrimu denganku.Ingatalah itu
Aji Saka”.
Nawang Putih : “Raja Bintara camkan ini kami tidak akan pernah mau menikah
denganmu”(dengan nada membentak)
7 Bidadari : “Itu benar Raja Bintara”.
Ratu Sekar Dewi : “Lagi pula saya sebagai ibu tidak akan mengijinkan ke 7 putri ku
untuk menikah denganmu”.
Raja Bintara : “Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan pada kalian”.
Nawang Merah : “Kami tidak takut dengan ancaman mu Bintara!”.
Raja Bintara : “Jangan salahakan aku jika terjadi sesuatu pada putri kalian” (menarik
tangan Nawang Wulan).
Raja Ajisaka : “Lepaskan putriku!”.
Raja Bintara : “Tidak, putrimu akan aku jadikan istri.. ha…ha..ha..”.
Raja Aji Saka : “Akan kau bawa kemana putriku Nawang Wulan Bintara”..
Raja Bintara : (tidak menjawab dan langsung ppergi meninggalkan Raja Aji Saka).
Raja Bintara langsung pergi menuju ke kerajaannya dan memaksa Nawang Wulan
untuk ikut dengannnya. Hal ini membuat Raja Aji Sak panik namun dengan cekatan
patih hadiyawarman mengejar Raja Bintara.
Raja Ajisaka : “Patih Hadiyawarman, bawa putriku kembali”.
Patih hadiyawarman : “Baik Raja Aji Saka saya dan pasukan akan mengalahkan
mereka dan membawa putri nawang Wulan kembali”.
Adegan 2
Saat masih di tengah perjalanan menuju ke istananya dari belakang Patih
Hadiyawarman sudah melepas senjata menyerang Raja Bintara beserta Pasukan.
Raja Bintara juga tak ingin kalah, ia dan pasukan membalas serangan Patih
hadiyawarman sehinngga pertarungan tak dapat terelakkan.
Patih hadiyawarman : “ Serang mereka jangan sampai Bintara dan Pasukannya
berhasil meloloskn diri !”(nada menggebu gebu).
Raja Bintara : “Celaka kitadi serang, prajurit serang balik hadiyawarman”.
Raja Aji Saka : “Ya cepat kalahkan mereka”.
Raja Bintara : “Prajurit, seraaaaaaaaang!”.
Na’as Raja Bintara Patih hadiyawarmann memiliki pasukan yang kuat dan berani
sehingga ia dan jinnya dapat dikalahkan.
Patih Hadiningrat :“Musnahlah kau Bintara,bawa segera pasukanmu pergi atau akan
ku hancurkan sisa kekuatanmu ini”.
Patih Hadiningrat : “ Pergilah kau dari kerajaan kahyangan ini Bintara.jangan kau
ganggu kami dan berhentilah berharap untuk menikahi ke tujuh putriku”.
Setelah selesainya peperangan itu Nawang Wulan kembali ke mayapada untuk
menemui kedua anaknya.
Jaka Tengil dan Nawang Asih: “Ibuuuuuuuu”.
Nawang Wulan : “Iya anakku”.
Nawang Asih : “Apakah ibu kembali lagi?”.
Nawang Wulan : “Tidak anakku”.
Jaka Tengil : “Kenapa bu?”.
Nawang Wulan : “Karena rumah ibu bukan disini nak”.
Jaka Tarub : “Apakah dinda akan kembali lagi ke kahyangan?”.
Nawang Wulan : “Iya kang”.
Jaka Tarub : “Lalu bagaimana kalau kami merindukanmu dinda?”.
Nawang Wulan : “Kenanglah aku ketika kalian melihat bulan. Maka aku akan
menghiburkalian dari atas sana”
Nawang Wulan pun kembali ke kahyangan, meninggalkan Jaka Tarub dan kedua
anaknya.Sejak saat itu Jaka Tarub dan kedua anaknya selalu menatap rembulan di
malam hari untuk mengenang Nawang Wulan dan untuk mengobati rasa rindunya
kepada Nawang Wulan.