0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
282 tayangan18 halaman

Makalah Auditing Kelompok 2

Makalah ini membahas kegiatan audit dan kontrol di bank syariah, yang memiliki landasan positif dari regulasi OJK dan BI serta landasan normatif dari prinsip-prinsip Islam. Audit syariah bertujuan memastikan kepatuhan terhadap syariah dan transparansi dalam operasional bank. Selain itu, makalah ini juga membahas perbedaan antara audit di bank syariah dan bank konvensional.

Diunggah oleh

rezkiwulandari722
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
282 tayangan18 halaman

Makalah Auditing Kelompok 2

Makalah ini membahas kegiatan audit dan kontrol di bank syariah, yang memiliki landasan positif dari regulasi OJK dan BI serta landasan normatif dari prinsip-prinsip Islam. Audit syariah bertujuan memastikan kepatuhan terhadap syariah dan transparansi dalam operasional bank. Selain itu, makalah ini juga membahas perbedaan antara audit di bank syariah dan bank konvensional.

Diunggah oleh

rezkiwulandari722
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

AUDITING PERBANKAN SYARIAH

“Landasan Positif dan Normatif Kegiatan Audit dan Kontrol Di Bank


Syariah”

Dosen Pengampu:
Miswar Rohansyah, S.E., M.SA.,AK

Disusun Oleh Kelompok 2:

Azra Fitriana /2022050102003


Mutma Mulya Alam /2022050102036
Rezki Wulandari /2022050102038

PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KENDARI

2025
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena berkat
rahmat dan karunia-nya kami dapat menyelesaiakan makalah ini dengan tepat
waktu. Dalam proses penyelesaian makalah ini, dengan tulus kami mengucapkan
terimakasih kepada kepada Miswar Rohansyah, S.E., M.SA.,AK. ini merupakan
salah satu tugas mata kuliah “Auditing Perbankan Syariah”

Kami menyadari bahwa didalam penyusunan makalah ini belum


sempurna, baik dari segi materi maupun tata bahasa yang kami gunakan. Oleh
karena itu, kami mengharapkan saran dan krtitik dari semua pihak yang bersifat
konstruktif untuk penyusunan makalah.

Kendari, 04 April 2025

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................... ii

Daftar Isi ..................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

A. Latar Belakang ......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................... 1

C. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3

A . Pengertian audit ...................................................................................... 3

B. Sumber-Sumber Hukum Perbankan .......................................................... 4

C. Fungsi dan Tujuan Perbankan ................................................................... 5

BAB III PENUTUP ..................................................................................... 10

A. Kesimpulan .............................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan audit dan kontrol di bank syariah memiliki landasan yang kuat,
baik secara positif maupun normatif, yang saling melengkapi untuk
memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah sekaligus menjaga
transparansi dan akuntabilitas. Landasan positif berasal dari regulasi formal
yang diterapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI),
serta Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).
DSN berperan memastikan bahwa produk dan operasional bank syariah sesuai
dengan prinsip syariah melalui fatwa-fatwa yang dikeluarkannya. Selain itu,
standar audit internasional seperti Accounting and Auditing Organization for
Islamic Financial Institutions (AAOIFI) menjadi acuan dalam pelaksanaan
audit di lembaga keuangan syariah. Auditor syariah juga diwajibkan memiliki
kompetensi khusus yang dibuktikan melalui Sertifikasi Akuntansi Syariah
(SAS) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), guna memastikan pelaksanaan
audit sesuai dengan mekanisme dan standar yang berlaku[2][3].

Secara normatif, kegiatan audit dan kontrol di bank syariah berakar pada
prinsip-prinsip Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. QS. Al-
Hujurat: 6 menekankan pentingnya verifikasi informasi agar tidak terjadi
kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian. Hadits Rasulullah SAW juga
mendorong pelaksanaan audit dengan integritas, seperti perintah untuk
menyampaikan kebenaran meskipun pahit dan mengubah kemungkaran sesuai
kemampuan. Prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, kehati-hatian
(*prudential principle*), serta pengendalian diri (*self-control*) menjadi
panduan utama dalam memastikan operasional bank sesuai dengan nilai-nilai
Islam. Dalam konteks pengendalian diri, setiap karyawan bank syariah
diharapkan memiliki kesadaran bahwa semua perbuatannya diawasi oleh Allah
SWT dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, sebagaimana
dinyatakan dalam QS. Qaaf: 16-18 dan QS. Al-An’aam: 59[1][3].

1
Selain itu, pengendalian menyatu (*built-in control*) juga diterapkan
melalui sistem seperti dual control, maker-checker approval, segregasi tugas,
dan verifikasi untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah secara
sistematis. Audit internal dilakukan oleh auditor independen untuk menilai
efektivitas pengendalian diri dan pengendalian menyatu yang telah diterapkan.
Audit eksternal oleh pihak luar seperti BI atau akuntan publik juga dilakukan
untuk memastikan laporan keuangan disajikan secara wajar tanpa salah saji
material serta memeriksa aspek-aspek kepatuhan terhadap syariah dalam
operasional bank[1][3]. Dengan kombinasi landasan positif dan normatif ini,
kegiatan audit dan kontrol di bank syariah bertujuan menjaga integritas sistem
keuangan sekaligus memastikan kesesuaian operasionalnya dengan prinsip-
prinsip Islam.

B. Rumusan Masalah
A. Pengertian audit
B. Landasan Positif dan Normatif Kegiatan Audit dan Kontrol Bank
Syariah
C. Perbedaan Antara Kegiatan Audit dan Pengawasan di Bank Syariah
dan Bank Konvensional
C. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui dan memahami rumusan masalah yang akan kami bahas.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Audit
Describe auditing adalah suatu set prosedur yang sesuai dengan norma
pemeriksaan akuntan yang memberikan informasi sehingga agunan dapat
menyatakan satu pendapat tentang apakah laporan keuangan yang diperiksa
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. 1 Audit
adalah faktor penting untuk menjamin akuntabilitas perusahaan, hal ini untuk
mengeksplorasi audit Syari'ah yang selanjutnya memungkinkan praktisi dan
pengguna menggunakan pengetahuan yang diperoleh baik dalam audit
konvensional serta perspektif Islam. 2
Auditing seharusnya dilakukan oleh orang yang independen dan
kompeten".3 Sedangkan pengertian auditing adalah suatu proses sistematik
untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai
pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan
untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut
dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya
kepada pemakai yang berkepentingan".4 Secara umum Audit Syariah adalah
untuk melihat dan mengawasi, mengontrol dan melaporkan transaksi, sesuai
aturan
dan hukum Islam yang bermanfaat, benar, tepat waktu dan laporan yang adil
untuk pengambilan keputusan.

1
Denny Arifin Alkatiri and SE Dr. Hj. Liza Laila Nurwulan, “Pengaruh Kompetensi, Independensi
Auditor Dan Penerapan Edp Audit Terhadap Pertimbangan Materialitas Salah Saji Dalam Laporan
Keuangan (Survey Pada Auditor Yang Bekerja Pada Kantor Akuntan Publik (KAP) Di Wilayah Kota
Bandung)” (other, Universitas Pasundan Bandung, 2022),
2
Anggeraini Hevi, “Pengaruh Opini Auditor Independen Dan Pengungkapan Sustainability Report
Terhadap Dana Syirkah Temporer Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2016-2020”
(Undergraduate, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2022),
3
Arlia Sugiarmini And Luh Kade Datrini, “Pengaruh Skeptisme Profesional, Independensi,
Kompetensi, Etika, Dan Role Stress Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Bpk Ri Perwakilan
Provinsi Bali,” Krisna: Kumpulan Riset Akuntansi 9, No. 1 (July 31, 2017): 1–14.
4
Akbar Bagas Irfandiansyah, Yulinartati Yulinartati, And Didik Eko Pramono, “Determinan Kualitas
Hasil Audit Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso,” Jurnal Akuntansi Profesi 10, No. 2
(2019): 130–38,

3
Bukan tugas yang mudah untuk melakukan audit syariah di dalam
kondisi kapitalistik dan sistem keuangan konvensional yang kompetitif.
Masalah ini lebih diperparah oleh penurunan nilai-nilai moral, sosial dan
ekonomi Islam di negara- negara Muslim termasuk Malaysia dan Indonesia, di
bawah tekanan progresif penjajahan dan dominasi budaya dunia barat selama
beberapa abad lalu. Hal ini menyebabkan diabaikannya nilai sosial-ekonomi
Islam oleh beberapa kalangan dari Lembaga Keuangan Syariah. Auditing
syariah lebih luas cangkupannya dari auditing konvensional, dimana
auditingsyariah selain mengacu pada standar audit nasional dan internasional
juga mengacu pada prinsip-prinsip syariah.
Dalam audit syariah bisa menerapkan aturan audit nasional dan
internasional selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Berdasarkan
AAOIFI-GSIFI menjelaskan bahwa audit syariah adalah laporan internal
syariah yang bersifat independen atau bagian dari audit internal yang
melakukan pengujian dan pengevaluasian melalui pendekatan aturan syariah,
fatwa- fatwa, instruksi dan lain sebagainya yang diterbitkan fatwa IFI dan
lembaga supervisi Syariah. Rahman menjelaskan auditing dalam Islam adalah:
1. Proses menghitung, memeriksa dan memonitor (proses sistematis)
2. Tindakan seseorang (pekerjaan duniawi atau amal ibadah)
3. Lengkap dan sesuai syariah
4. Untuk mendapat reward dari Allah di akhirat
Dapat disimpulkan pengertian audit syariah adalah salah satu unsur
melalui pendekatan administratif dengan menggunakan sudut pandang
keterwakilan. Oleh karena itu, auditor merupakan wakil dari para pemegang
saham yang menginginkan pekerjaan (investasi) mereka sesuai dengan
hukumhukum syariat Islam.
B. Landasan Positif dan Normatif Kegiatan Audit dan Kontrol Bank
Syariah
Landasan hukum positif antara lain dapat diacu pada peraturan
perundangan yang menempatkan BI sebagai otoritas pengawas bank. Bank
Indonesia adalah lembaga yang diberi otoritas oleh pemerintah dalam
pengawasan perbankan di Indonesia (termasuk perbankan syariah). Hal ini

4
dijelaskan dalam Pasal 29 (1) (UU.No.7/1992 sebagaimana diubah dengan)
UU No.10 Th.1998 tentang Perbankan yang berbunyi Pembinaan dan
pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia. 5 Adapun dalam Pasal 8 UU
No.3/2004 tentang Perubahan atas UUNo.23 Th.1999 tentang Bank Indonesia
dinyatakan bahwa Bank Indonesia mempunyai tiga tugas, yaitu a) menetapkan
dan melaksanakan kebijakan moneter; b) mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran; dan c) mengatur dan mengawasi bank.
Landasan syariah dari pelaksanaan audit syariah antara lain dapat dirujuk
pada penafsiran atas QS. Al Hujurat [49]: 6 yang terjemahan artinya adalah
sebagai berikut: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." Ayat ini
menunjukkan pentingnya pemeriksaan secara teliti atas sebuah informasi
karena bisa menjadi penyebab terjadinya musibah atau bencana. Dalam
konteks audit syariah, pemeriksaan laporan keuangan dan informasi keuangan
lainnya juga menjadi sangat penting, mengingat keduanya dapat menjadi
sumber malapetaka ekonomi berupa krisis dan sebagainya jika tidak dikelola
secara maksimal
C. Perbedaan Antara Kegiatan Audit dan Pengawasan di Bank
Syariah dan Bank Konvensional
1. Kegiatan Audit dan pengawasan dibank syariah
Audit syariah dapat dimaknai sebagai suatu proses untuk
memastikan bahwa aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh institusi
keuangan Islam tidak melanggar syariah atau pengujian kepatuhan
syariah secara menyeluruh terhadap aktivitas bank syariah.Tujuan
audit syariah adalah untuk memastikan kesesuaian seluruh operasional
bank dengan prinsip dan aturan syariah yang digunakan sebagai
pedoman bagi Manajemen dalam mengoperasikan bank syariah.

5
Muhammad (2012). Hand Out Mata Kuliah Lembaga Perekonomian Islam. Yogyakarta:
Magister Studi Islam, Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam
Indonesia.

5
Hal-hal yang dilakukan pada audit bank syariah meliputi:6
a. pengungkapan kewajaran penyajian laporan keuangan dan unsur
kepatuhan syariah,
b. memeriksa akunting dalam aspek produk, baik sumber dana
ataupun pembiayaan,
c. pemeriksaan distribusi profit
d. pengakuan pendapatan cash basis secara riil
e. pengakuan beban secara accrual basis
f. dalam hubungan dengan bank koresponden depositori, pengakuan
pendapatan dengan bagi hasil.
g. pemeriksaan atas sumber dan penggunaan zakat
h. ada tidaknya transaksi yang mengandung unsur-unsur yang tidak
sesuai dengan syariah
Hal-hal di atas adalah unsur-unsur yang harus ada dalam audit
syariah, meskipun demikian prosedur audit yang telah ada tetap
memiliki peran dalam audit pada perbankan syariah. Prosedur audit
secara umum antara lain 7:
a. prosedur analitis/mempelajari dan membandingkan data yang
memiliki hubungan
b. menginspeksi/pemeriksaan dokumen,catatan dan pemeriksaan
fisik atas Sumber-sumber berwujud,
c. mengkonfirmasi/pengajuan pertanyaan pada pihak intern atau
ekstern untuk Mendapat informasi
d. menghitung dan menelusur dokumen
e. mencocokkan ke dokumen.

AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic


Financial Institutions) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya
mengeluarkan dan mensahkan standar audit yang berlaku pada lembaga
keuangan syariah termasuk bank yang kemudian banyak diacu di berbagai

6
M. Syafi’i Antonio (2001). Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktek. Jakarta: Gena Insani Press
Bekerjasama dengan Tazkia Cendekia
7
Al Haryono Jusup (2001). Auditing. Yogyakarta: STIE YKPN

6
negara. Standar Auditing AAOIFI untuk audit pada lembaga keuangan
syariah sendiri mencakup lima standar, yaitu tujuan dan prinsip (objective
and principles of auditing), laporan auditor (auditor’s report), ketentuan
keterlibatan audit (terms of audit engagement), lembaga pengawas syariah
(shari’a supervisory board), tinjauan syariah (shari’a review).8 Adapun
penjelasan singkat dari kelima standar tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama terkait tujuan dan prinsip. Tujuan dari sebuah audit


laporan keuangan yaitu untuk memungkinkan auditor menyampaikan
opini atas laporan keuangan tertentu dalam semua hal yang material dan
sesuai dengan aturan dan prinsip Islam, AAOIFI, standar akuntansi
nasional yang relevan, serta praktek di negeri yang mengoperasikan
lembaga keuangan. Adapun prinsip etika profesi meliputi, kebenaran,
integritas, dapat dipercaya, keadilan dan kewajaran, kejujuran,
independen,objekivitas, kemampuan professional, bekerja hati-
hati,menjaga kerahasiaan, perilaku professional dan menguasai standar
teknis.

Kedua terkait laporan auditor. Elemen dasar dari laporan auditor


(judul, alamat, paragraf pembukaan atau pengenalan, cakupan paragraf
(gambaran dari audit), acuan ASIFI dan standar nasional yang relevan atau
praktek, Uraian pekerjaan yang dilakukan auditor, Paragraf opini berisi
sebuah ungkapan opini tentang laporan keuangan, Tanggal Laporan,
Alamat Auditor dan Tanda Tangan Auditor). Terkait ruang lingkup
paragraf,laporan auditor harus menggambarkan cakupan audit dengan
menyatakan bahwa audit telah dilaksanakan sesuai ASIFI dan standar
nasional yang relevan atau praktek telah sesuai dan tidak melanggar aturan
dan prinsip Syariah. Ruang lingkup mengacu pada kemampuan auditor
untuk melaksanakan prosedur audit yang dianggap penting dalam hal itu.
Hal ini meyakinkan para pembaca bahwa audit telah berjalan sesuai
ketetapan standar maupun praktek. Disamping itu juga telah sesuai dengan
8
Rifaat Ahmed Abdel-Karim (1999), ‘Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial
Institutions’, Proceedings of the Second Harvard University Forum on Islamic Finance: Islamic
Finance into the 21 Century, (Cambridge, Massachusetts: Center for Middle Eastern Studies,
Harvard University, 1999), pp.239-241.

7
standar auditing nasional atau praktek mengikuti negara tempat auditor
berada, hal ini terlihat dalam alamat auditor.Laporan itu termasuk sebuah
pernyataan bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan untuk
memperoleh jaminan layak mengenai apakah laporan keuangan bebas dari
pernyataan salah yang material.

Laporan auditor harus menggambarkan, antara lain:

 pengujian, pada sebuah uji dasar, bukti yang mendukung sejumlah


laporan
keuangan dan pengungkapan.
 Menilai/menaksir prinsip akuntansi yang digunakan dalam
persiapan laporan keuangan.
 Menilai perkiraan signifikan yang dibuat oleh manajemen dalam
persiapan laporan keuangan.
 Mengevaluasi presentasi laporan keuangan secara keseluruhan.

Ketigaterkait ketentuan keterlibatan audit. Auditor dan klien harus


menyetujui ketentuan perjanjian. Istilah setuju perlu disampaikan dalam
surat penugasan audit sesuai kontrak. Isi dasar surat perjanjian adalah
dokumen surat penunjukan dan menegaskan tanggung jawab auditor untuk
klien dan bentuk setiap laporan yang akan diberikan oleh auditor.Keempat
berkaitan dengan shari’a supervisory board yang intinya berisi
penunjukan, komposisi dan laporan DPS.

Kelima berkaitan dengan tijuanuan Syariah (shari’a review). Shari’ah


reviewmerupakan sebuah pengujian yang luas dari kepatuhan Syariah
sebuah LKS, dalam seluruh kegiatannya. Pengujian ini meliputi
penunjukan, persetujuan, kebijakan, produk, transaksi, memorandum
(surat peringatan), dan anggaran dasar dari perserikatan, laporan keuangan,
laporan (khususnya audit internal dan pengawasan bank central),
sirkulasi,dll.Tujuan dari sebuah shari'a review adalah untuk memastikan
bahwa seluruh aktivitas yang diselenggarakan dalam LKS tidak
bertentangan dengan Syariah.DPS bertanggung jawab untuk membuat dan

8
mengungkapkan sebuah opini dari suatu Lembaga Keuangan Syariah
terhadap kepatuhannya pada Syariah.

Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa kerangka audit syariah


antara lain memenuhi unsur sebagai berikut:

 Audit syariah dilakukan dengan tujuan untuk menguji kepatuhan


perbankan syariah pada prinsip dan aturan syariah dalam produk
dan kegiatan usahanya sehingga auditor syariah dapat memberikan
opini yang jelas apakah bank syariah yang telah diaudit tersebut
shari'ah compliance atau tidak.
 Audit syariah diselenggarakan dengan acuan standar audit yang
telah ditetapkan oleh AAOIFI.
 audit syariah dilakukan oleh auditor bersertifikasi SAS (Sertifikasi
Akuntansi Syariah)
 hasil dari audit syariah berpengaruh kuat terhadap keberlangsungan
usaha perbankan Syariah dan kepercayaan seluruh pihak atas
keberadaan LKS.

Mengingat beragamnya kegiatan bank syariah ditambah dengan


kewajiban mentaati aturan syariah, maka proses pengawasan melalui
lembaga independen menjadi urgen dilakukan. Dalam konteks Indonesia,
tugas mengawasi aspek syariah dari operasional bank syariah ini menjadi
kewenangan Dewan Syariah Nasional atau disingkat DSN. DSN adalah
lembaga yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
mempunyai fungsi melaksanakan tugas-tugas MUI dalam menangani
masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas lembaga keuangan
Syariah. Salah satu tugas pokok DSN adalah mengkaji, menggali, dan
merumuskan nilai dan prinsipprinsip hukum Islam (Syariah) dalam bentuk
fatwa untuk dijadikan pedoman dalam kegiatan transaksi di lembaga
keuangan syariah. 9

9
Rifqi Muhammad (2008). Akuntansi Keuangan Syari’ah. Yogyakarta: P3EI Press.

9
DSN merupakan satu-satunya badan yang mempunyai kewenangan
mengeluarkan fatwa Syariahterhadap jenis-jenis kegiatan, produk, dan jasa
keuangan syariah, serta mengawasi penerapan fatwa dimaksud oleh
lembaga-lembaga keuangan di Indonesia.

Tugas utama Dewan SyariahNasional mengacu pada Keputusan DSN


No. 01 tahun 2000 tentang Pedoman Dasar Dewan SyariahNasional MUI,
antara lain meliputi: (1) menumbuhkembangkan penerapan nilai-nilai
syariahdalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan keuangan
khususnya; (2) mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan usaha; (3)
mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan syariah; dan (4)
mengawasi penerapan fatwa yang telah dikeluarkan. 10

DSN memiliki sifat yang menyeluruh dalam artian pengawasan yang


dilakukannya bersifat nasional. Sedangkan dalam prakteknya pengawasan
yang bersifat lebih lokal pada bank syariahsecara langsung perlu
dilakukan. Untuk mengawasi bank syariahsecara lebih langsung, maka
kepanjangan tangan DSN berupa Dewan Pengawas Syariah(DPS) pun
dibentuk. Pembentukan Dewan Pengawas Syariah antara lain didasari
pada kesadaran akan pentingnya menjaga kegiatan usaha bank syariahagar
senantiasa berjalan sesuai dengan nilai-nilai syariah.Selain itu,
pengawasan yang lebih melekat dinilai perlu dilakukan sehingga kinerja
bank syariah dapat terus dipantau agar sesuai dengan fatwa DSN. Dalam
kerangka inilah, maka dibentuk Dewan Pengawas Syariah sesuai
ketentuan penjelasan UU No.10 Tahun 1998 Pasal 6 huruf m.

Dewan Pengawas Syariah melaksanakan tugasnya mengawasi bank


syariahdengan sejumlah ketentuan, diantaranya wajib mengikuti fatwa dari
DSN dan statusnya sebagai dewan yang ditempatkan di bank syariahyang
keanggotaannya ditetapkan berdasarkan rekomendasi DSN yang bertugas
mengawasi penerapan prinsip syariahdalam kegiatan usaha bank. Selain

10
Rasyid Rizani (2012), ‘Penerapan Prinsip Syariah dalam Produk Perbankan Syariah’
ArtikelDirektorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung RI,

10
itu, keanggotaan Dewan Pengawas Syariahjuga harus mendapat
persetujuan BI.

2. Kegiatan Audit dan pengawasan di bank konvensional

Kegiatan audit dan pengawasan di bank konvensional merupakan


proses penting yang bertujuan untuk memastikan bahwa laporan keuangan
dan operasional bank sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku. Audit konvensional, yang berlandaskan pada rasionalisme
ekonomi, memiliki tujuan utama untuk memberikan opini mengenai
kewajaran laporan keuangan, termasuk posisi keuangan, hasil usaha,
perubahan ekuitas, dan arus kas. Dalam konteks ini, auditor independen
bertanggung jawab untuk menilai kesesuaian informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan dengan standar akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia. 11

Ruang lingkup audit konvensional mencakup berbagai aspek, seperti


penggolongan kualitas aktiva produktif dan kecukupan penyisihan
kerugian aktiva produktif. Proses audit dilakukan dengan cara
mengevaluasi sistem pengendalian internal bank, yang mencakup
pencatatan transaksi, pengolahan data keuangan, serta pelaporan yang
konsisten. Manajemen bank memiliki tanggung jawab untuk menerapkan
kebijakan akuntansi yang sehat dan menjaga pengendalian internal agar
laporan keuangan dapat dipercaya oleh pemangku kepentingan.

Pengawasan di bank konvensional juga melibatkan fungsi audit


internal yang independen. Sesuai dengan regulasi dari Otoritas Jasa
Keuangan (OJK), audit internal bertugas untuk mengevaluasi efektivitas
pengendalian internal dan manajemen risiko, serta memastikan bahwa
proses tata kelola bank berjalan dengan baik. Rencana audit tahunan harus
disusun berdasarkan penilaian risiko yang komprehensif dan disetujui oleh
Dewan Komisaris dan Komite Audit.

11
Choirunnisak, Disfa Lidian Handayani, Choiriyah, Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis
Syariah Volume 6 Nomor 7 (2024) 5805 – 5815 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI:
10.47467/alkharaj.v6i7.3354 5805 | Volume 6 Nomor 7 2024 Analisis Kualitas Audit Syariah di
Indonesia

11
Dalam praktiknya, audit konvensional tidak hanya fokus pada aspek
keuangan tetapi juga mencakup penilaian terhadap kepatuhan bank
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Auditor harus
memastikan bahwa semua aktivitas bank dilakukan dengan transparansi
dan akuntabilitas yang tinggi. Dengan demikian, kegiatan audit dan
pengawasan di bank konvensional berperan penting dalam menjaga
integritas sistem keuangan serta melindungi kepentingan nasabah dan
pemangku kepentingan lainnya.

Audit di bank konvensional umumnya berfokus pada kewajaran


laporan keuangan dan kepatuhan terhadap standar akuntansi yang berlaku.
Auditor konvensional bertugas untuk menilai apakah laporan keuangan
disajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi umum. Ruang
lingkup audit ini terbatas pada aspek keuangan dan aktivitas ekonomi
manajemen, tanpa mempertimbangkan aspek syariah. Dengan kata lain,
auditor konvensional tidak memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi
apakah transaksi yang dilakukan oleh bank melanggar prinsip-prinsip
syariah seperti riba, maysir (perjudian), dan ghoror (ketidakpastian). 12

Sebaliknya, audit di bank syariah tidak hanya menilai kewajaran


laporan keuangan tetapi juga memastikan bahwa seluruh operasional bank
sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Auditor syariah harus memiliki
pemahaman mendalam tentang hukum Islam dan bertanggung jawab untuk
mengawasi kepatuhan terhadap ketentuan syariah. Audit syariah mencakup
elemen-elemen seperti pengawasan terhadap aktivitas yang melibatkan
transaksi haram, penilaian terhadap distribusi keuntungan yang adil, serta
pemeriksaan penggunaan zakat. Selain itu, audit syariah dilakukan oleh
auditor yang bersertifikasi Akuntansi Syariah (SAS) dan sering melibatkan
Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang berfungsi untuk memastikan bahwa
semua aktivitas bank sesuai dengan ketentuan syariah.

12
Nurul Azizah Surury1 , Muhammad Hamdan Ainulyaqin2, Studi Literatur: Pelaksanaan Audit
Syariah Pada Perbankan Syariah DOI: https://doi.org/10.54443/sinomika.v1i4.386, SINOMIKA
JOURNAL | VOLUME 1 NO.4 (2022) https://publish.ojs-indonesia.com/index.php/SINOMIKA

12
Dalam hal standar, audit konvensional mengikuti standar auditing yang
ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), sedangkan audit syariah
mengacu pada standar dari Accounting and Auditing Organization for
Islamic Financial Institutions (AAOIFI). Opini yang diberikan oleh auditor
syariah juga berbeda; selain menilai kewajaran laporan keuangan, opini
tersebut mencakup aspek kepatuhan syariah, sedangkan opini auditor
konvensional hanya berkaitan dengan kewajaran penyajian laporan
keuangan.

Dengan demikian, perbedaan mendasar antara audit di bank syariah


dan audit di bank konvensional terletak pada fokus audit yang lebih luas
dalam konteks syariah, keterlibatan Dewan Pengawas Syariah, serta
perlunya sertifikasi khusus bagi auditor dalam menjalankan tugasnya.

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kegiatan audit dan pengawasan di bank syariah dan bank konvensional


memiliki perbedaan mendasar dalam pendekatan, tujuan, dan ruang
lingkupnya. Audit di bank syariah bertujuan tidak hanya untuk menilai
kewajaran laporan keuangan tetapi juga memastikan kepatuhan terhadap
prinsip-prinsip syariah, seperti larangan riba, maysir (perjudian), dan
ghoror (ketidakpastian). Landasan audit di bank syariah terdiri dari aspek
positif berupa regulasi formal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan
fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), serta aspek normatif yang berakar
pada prinsip-prinsip Islam. Auditor syariah memiliki tanggung jawab
tambahan untuk mengevaluasi kesesuaian operasional bank dengan hukum
Islam, menggunakan standar seperti Accounting and Auditing
Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI).

Sebaliknya, audit di bank konvensional lebih terfokus pada kewajaran


laporan keuangan dan kepatuhan terhadap standar akuntansi yang berlaku
umum tanpa mempertimbangkan aspek syariah. Auditor konvensional
bertugas menilai efektivitas pengendalian internal dan manajemen risiko
berdasarkan regulasi keuangan formal. Dengan demikian, perbedaan
utama antara kedua jenis audit terletak pada fokus yang lebih luas dalam
konteks syariah di bank syariah dibandingkan dengan pendekatan
rasionalisme ekonomi di bank konvensional. Keseluruhan proses audit dan
pengawasan ini bertujuan untuk menjaga integritas sistem keuangan serta
membangun kepercayaan nasabah dan pemangku kepentingan lainnya
sesuai dengan karakteristik masing-masing lembaga keuangan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Al Haryono Jusup (2001). Auditing. Yogyakarta: STIE YKPN


Nurul Azizah Surury1 , Muhammad Hamdan Ainulyaqin. (2022) Studi Literatur:
Pelaksanaan Audit Syariah Pada Perbankan Syariah DOI:
https://doi.org/10.54443/sinomika.v1i4.386, SINOMIKA JOURNAL | VOLUME
1 NO.4 https://publish.ojs-indonesia.com/index.php/SINOMIKA
Akbar Bagas Irfandiansyah, Yulinartati Yulinartati, And Didik Eko Pramono, (2019)
“Determinan Kualitas Hasil Audit Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten
Bondowoso,” Jurnal Akuntansi Profesi 10, No. 2: 130–38,
Anggeraini Hevi. (2022) “Pengaruh Opini Auditor Independen Dan Pengungkapan
Sustainability Report Terhadap Dana Syirkah Temporer Pada Bank Umum
Syariah Di Indonesia Periode 2016-2020” (Undergraduate, Universitas Islam
Negeri Raden Intan Lampung),
Arlia Sugiarmini And Luh Kade Datrini. (2017) “Pengaruh Skeptisme Profesional,
Independensi, Kompetensi, Etika, Dan Role Stress Auditor Terhadap Kualitas
Audit Pada Kantor Bpk Ri Perwakilan Provinsi Bali,” Krisna: Kumpulan Riset
Akuntansi 9, No. 1 (July 31, 2017): 1–14.
Choirunnisak, Disfa Lidian Handayani, Choiriyah. (2024). Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi,
Keuangan & Bisnis Syariah Volume 6 Nomor 7 (2024) 5805 – 5815 P-ISSN
2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10.47467/alkharaj.v6i7.3354 5805 | Volume
6 Nomor 7 2024 Analisis Kualitas Audit Syariah di Indonesia
Denny Arifin Alkatiri and SE Dr. Hj. Liza Laila Nurwulan, “Pengaruh Kompetensi,
Independensi Auditor Dan Penerapan Edp Audit Terhadap Pertimbangan
Materialitas Salah Saji Dalam Laporan Keuangan (Survey Pada Auditor Yang
Bekerja Pada Kantor Akuntan Publik (KAP) Di Wilayah Kota Bandung)” (other,
Universitas Pasundan Bandung, 2022),
Institutions’, Proceedings of the Second Harvard University Forum on Islamic Finance:
Islamic Finance into the 21 Century, (Cambridge, Massachusetts: Center for
Middle Eastern Studies, Harvard University, 1999), pp.239-241.
M. Syafi’i Antonio (2001). Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktek. Jakarta: Gena Insani
Press
Magister Studi Islam, Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas
Islam Indonesia

Muhammad (2012). Hand Out Mata Kuliah Lembaga Perekonomian Islam. Yogyakarta:

Rasyid Rizani (2012), ‘Penerapan Prinsip Syariah dalam Produk Perbankan Syariah’
ArtikelDirektorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung RI,
Rifaat Ahmed Abdel-Karim (1999), ‘Accounting and Auditing Standards for Islamic
Financial
Rifqi Muhammad (2008). Akuntansi Keuangan Syari’ah. Yogyakarta: P3EI Press.

15

Anda mungkin juga menyukai