Makalah Auditing Kelompok 2
Makalah Auditing Kelompok 2
Dosen Pengampu:
Miswar Rohansyah, S.E., M.SA.,AK
PERBANKAN SYARIAH
2025
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena berkat
rahmat dan karunia-nya kami dapat menyelesaiakan makalah ini dengan tepat
waktu. Dalam proses penyelesaian makalah ini, dengan tulus kami mengucapkan
terimakasih kepada kepada Miswar Rohansyah, S.E., M.SA.,AK. ini merupakan
salah satu tugas mata kuliah “Auditing Perbankan Syariah”
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
A. Kesimpulan .............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan audit dan kontrol di bank syariah memiliki landasan yang kuat,
baik secara positif maupun normatif, yang saling melengkapi untuk
memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah sekaligus menjaga
transparansi dan akuntabilitas. Landasan positif berasal dari regulasi formal
yang diterapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI),
serta Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).
DSN berperan memastikan bahwa produk dan operasional bank syariah sesuai
dengan prinsip syariah melalui fatwa-fatwa yang dikeluarkannya. Selain itu,
standar audit internasional seperti Accounting and Auditing Organization for
Islamic Financial Institutions (AAOIFI) menjadi acuan dalam pelaksanaan
audit di lembaga keuangan syariah. Auditor syariah juga diwajibkan memiliki
kompetensi khusus yang dibuktikan melalui Sertifikasi Akuntansi Syariah
(SAS) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), guna memastikan pelaksanaan
audit sesuai dengan mekanisme dan standar yang berlaku[2][3].
Secara normatif, kegiatan audit dan kontrol di bank syariah berakar pada
prinsip-prinsip Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. QS. Al-
Hujurat: 6 menekankan pentingnya verifikasi informasi agar tidak terjadi
kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian. Hadits Rasulullah SAW juga
mendorong pelaksanaan audit dengan integritas, seperti perintah untuk
menyampaikan kebenaran meskipun pahit dan mengubah kemungkaran sesuai
kemampuan. Prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, kehati-hatian
(*prudential principle*), serta pengendalian diri (*self-control*) menjadi
panduan utama dalam memastikan operasional bank sesuai dengan nilai-nilai
Islam. Dalam konteks pengendalian diri, setiap karyawan bank syariah
diharapkan memiliki kesadaran bahwa semua perbuatannya diawasi oleh Allah
SWT dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, sebagaimana
dinyatakan dalam QS. Qaaf: 16-18 dan QS. Al-An’aam: 59[1][3].
1
Selain itu, pengendalian menyatu (*built-in control*) juga diterapkan
melalui sistem seperti dual control, maker-checker approval, segregasi tugas,
dan verifikasi untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah secara
sistematis. Audit internal dilakukan oleh auditor independen untuk menilai
efektivitas pengendalian diri dan pengendalian menyatu yang telah diterapkan.
Audit eksternal oleh pihak luar seperti BI atau akuntan publik juga dilakukan
untuk memastikan laporan keuangan disajikan secara wajar tanpa salah saji
material serta memeriksa aspek-aspek kepatuhan terhadap syariah dalam
operasional bank[1][3]. Dengan kombinasi landasan positif dan normatif ini,
kegiatan audit dan kontrol di bank syariah bertujuan menjaga integritas sistem
keuangan sekaligus memastikan kesesuaian operasionalnya dengan prinsip-
prinsip Islam.
B. Rumusan Masalah
A. Pengertian audit
B. Landasan Positif dan Normatif Kegiatan Audit dan Kontrol Bank
Syariah
C. Perbedaan Antara Kegiatan Audit dan Pengawasan di Bank Syariah
dan Bank Konvensional
C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui dan memahami rumusan masalah yang akan kami bahas.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Audit
Describe auditing adalah suatu set prosedur yang sesuai dengan norma
pemeriksaan akuntan yang memberikan informasi sehingga agunan dapat
menyatakan satu pendapat tentang apakah laporan keuangan yang diperiksa
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. 1 Audit
adalah faktor penting untuk menjamin akuntabilitas perusahaan, hal ini untuk
mengeksplorasi audit Syari'ah yang selanjutnya memungkinkan praktisi dan
pengguna menggunakan pengetahuan yang diperoleh baik dalam audit
konvensional serta perspektif Islam. 2
Auditing seharusnya dilakukan oleh orang yang independen dan
kompeten".3 Sedangkan pengertian auditing adalah suatu proses sistematik
untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai
pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan
untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut
dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya
kepada pemakai yang berkepentingan".4 Secara umum Audit Syariah adalah
untuk melihat dan mengawasi, mengontrol dan melaporkan transaksi, sesuai
aturan
dan hukum Islam yang bermanfaat, benar, tepat waktu dan laporan yang adil
untuk pengambilan keputusan.
1
Denny Arifin Alkatiri and SE Dr. Hj. Liza Laila Nurwulan, “Pengaruh Kompetensi, Independensi
Auditor Dan Penerapan Edp Audit Terhadap Pertimbangan Materialitas Salah Saji Dalam Laporan
Keuangan (Survey Pada Auditor Yang Bekerja Pada Kantor Akuntan Publik (KAP) Di Wilayah Kota
Bandung)” (other, Universitas Pasundan Bandung, 2022),
2
Anggeraini Hevi, “Pengaruh Opini Auditor Independen Dan Pengungkapan Sustainability Report
Terhadap Dana Syirkah Temporer Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2016-2020”
(Undergraduate, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2022),
3
Arlia Sugiarmini And Luh Kade Datrini, “Pengaruh Skeptisme Profesional, Independensi,
Kompetensi, Etika, Dan Role Stress Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Bpk Ri Perwakilan
Provinsi Bali,” Krisna: Kumpulan Riset Akuntansi 9, No. 1 (July 31, 2017): 1–14.
4
Akbar Bagas Irfandiansyah, Yulinartati Yulinartati, And Didik Eko Pramono, “Determinan Kualitas
Hasil Audit Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso,” Jurnal Akuntansi Profesi 10, No. 2
(2019): 130–38,
3
Bukan tugas yang mudah untuk melakukan audit syariah di dalam
kondisi kapitalistik dan sistem keuangan konvensional yang kompetitif.
Masalah ini lebih diperparah oleh penurunan nilai-nilai moral, sosial dan
ekonomi Islam di negara- negara Muslim termasuk Malaysia dan Indonesia, di
bawah tekanan progresif penjajahan dan dominasi budaya dunia barat selama
beberapa abad lalu. Hal ini menyebabkan diabaikannya nilai sosial-ekonomi
Islam oleh beberapa kalangan dari Lembaga Keuangan Syariah. Auditing
syariah lebih luas cangkupannya dari auditing konvensional, dimana
auditingsyariah selain mengacu pada standar audit nasional dan internasional
juga mengacu pada prinsip-prinsip syariah.
Dalam audit syariah bisa menerapkan aturan audit nasional dan
internasional selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Berdasarkan
AAOIFI-GSIFI menjelaskan bahwa audit syariah adalah laporan internal
syariah yang bersifat independen atau bagian dari audit internal yang
melakukan pengujian dan pengevaluasian melalui pendekatan aturan syariah,
fatwa- fatwa, instruksi dan lain sebagainya yang diterbitkan fatwa IFI dan
lembaga supervisi Syariah. Rahman menjelaskan auditing dalam Islam adalah:
1. Proses menghitung, memeriksa dan memonitor (proses sistematis)
2. Tindakan seseorang (pekerjaan duniawi atau amal ibadah)
3. Lengkap dan sesuai syariah
4. Untuk mendapat reward dari Allah di akhirat
Dapat disimpulkan pengertian audit syariah adalah salah satu unsur
melalui pendekatan administratif dengan menggunakan sudut pandang
keterwakilan. Oleh karena itu, auditor merupakan wakil dari para pemegang
saham yang menginginkan pekerjaan (investasi) mereka sesuai dengan
hukumhukum syariat Islam.
B. Landasan Positif dan Normatif Kegiatan Audit dan Kontrol Bank
Syariah
Landasan hukum positif antara lain dapat diacu pada peraturan
perundangan yang menempatkan BI sebagai otoritas pengawas bank. Bank
Indonesia adalah lembaga yang diberi otoritas oleh pemerintah dalam
pengawasan perbankan di Indonesia (termasuk perbankan syariah). Hal ini
4
dijelaskan dalam Pasal 29 (1) (UU.No.7/1992 sebagaimana diubah dengan)
UU No.10 Th.1998 tentang Perbankan yang berbunyi Pembinaan dan
pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia. 5 Adapun dalam Pasal 8 UU
No.3/2004 tentang Perubahan atas UUNo.23 Th.1999 tentang Bank Indonesia
dinyatakan bahwa Bank Indonesia mempunyai tiga tugas, yaitu a) menetapkan
dan melaksanakan kebijakan moneter; b) mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran; dan c) mengatur dan mengawasi bank.
Landasan syariah dari pelaksanaan audit syariah antara lain dapat dirujuk
pada penafsiran atas QS. Al Hujurat [49]: 6 yang terjemahan artinya adalah
sebagai berikut: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." Ayat ini
menunjukkan pentingnya pemeriksaan secara teliti atas sebuah informasi
karena bisa menjadi penyebab terjadinya musibah atau bencana. Dalam
konteks audit syariah, pemeriksaan laporan keuangan dan informasi keuangan
lainnya juga menjadi sangat penting, mengingat keduanya dapat menjadi
sumber malapetaka ekonomi berupa krisis dan sebagainya jika tidak dikelola
secara maksimal
C. Perbedaan Antara Kegiatan Audit dan Pengawasan di Bank
Syariah dan Bank Konvensional
1. Kegiatan Audit dan pengawasan dibank syariah
Audit syariah dapat dimaknai sebagai suatu proses untuk
memastikan bahwa aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh institusi
keuangan Islam tidak melanggar syariah atau pengujian kepatuhan
syariah secara menyeluruh terhadap aktivitas bank syariah.Tujuan
audit syariah adalah untuk memastikan kesesuaian seluruh operasional
bank dengan prinsip dan aturan syariah yang digunakan sebagai
pedoman bagi Manajemen dalam mengoperasikan bank syariah.
5
Muhammad (2012). Hand Out Mata Kuliah Lembaga Perekonomian Islam. Yogyakarta:
Magister Studi Islam, Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam
Indonesia.
5
Hal-hal yang dilakukan pada audit bank syariah meliputi:6
a. pengungkapan kewajaran penyajian laporan keuangan dan unsur
kepatuhan syariah,
b. memeriksa akunting dalam aspek produk, baik sumber dana
ataupun pembiayaan,
c. pemeriksaan distribusi profit
d. pengakuan pendapatan cash basis secara riil
e. pengakuan beban secara accrual basis
f. dalam hubungan dengan bank koresponden depositori, pengakuan
pendapatan dengan bagi hasil.
g. pemeriksaan atas sumber dan penggunaan zakat
h. ada tidaknya transaksi yang mengandung unsur-unsur yang tidak
sesuai dengan syariah
Hal-hal di atas adalah unsur-unsur yang harus ada dalam audit
syariah, meskipun demikian prosedur audit yang telah ada tetap
memiliki peran dalam audit pada perbankan syariah. Prosedur audit
secara umum antara lain 7:
a. prosedur analitis/mempelajari dan membandingkan data yang
memiliki hubungan
b. menginspeksi/pemeriksaan dokumen,catatan dan pemeriksaan
fisik atas Sumber-sumber berwujud,
c. mengkonfirmasi/pengajuan pertanyaan pada pihak intern atau
ekstern untuk Mendapat informasi
d. menghitung dan menelusur dokumen
e. mencocokkan ke dokumen.
6
M. Syafi’i Antonio (2001). Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktek. Jakarta: Gena Insani Press
Bekerjasama dengan Tazkia Cendekia
7
Al Haryono Jusup (2001). Auditing. Yogyakarta: STIE YKPN
6
negara. Standar Auditing AAOIFI untuk audit pada lembaga keuangan
syariah sendiri mencakup lima standar, yaitu tujuan dan prinsip (objective
and principles of auditing), laporan auditor (auditor’s report), ketentuan
keterlibatan audit (terms of audit engagement), lembaga pengawas syariah
(shari’a supervisory board), tinjauan syariah (shari’a review).8 Adapun
penjelasan singkat dari kelima standar tersebut adalah sebagai berikut:
7
standar auditing nasional atau praktek mengikuti negara tempat auditor
berada, hal ini terlihat dalam alamat auditor.Laporan itu termasuk sebuah
pernyataan bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan untuk
memperoleh jaminan layak mengenai apakah laporan keuangan bebas dari
pernyataan salah yang material.
8
mengungkapkan sebuah opini dari suatu Lembaga Keuangan Syariah
terhadap kepatuhannya pada Syariah.
9
Rifqi Muhammad (2008). Akuntansi Keuangan Syari’ah. Yogyakarta: P3EI Press.
9
DSN merupakan satu-satunya badan yang mempunyai kewenangan
mengeluarkan fatwa Syariahterhadap jenis-jenis kegiatan, produk, dan jasa
keuangan syariah, serta mengawasi penerapan fatwa dimaksud oleh
lembaga-lembaga keuangan di Indonesia.
10
Rasyid Rizani (2012), ‘Penerapan Prinsip Syariah dalam Produk Perbankan Syariah’
ArtikelDirektorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung RI,
10
itu, keanggotaan Dewan Pengawas Syariahjuga harus mendapat
persetujuan BI.
11
Choirunnisak, Disfa Lidian Handayani, Choiriyah, Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis
Syariah Volume 6 Nomor 7 (2024) 5805 – 5815 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI:
10.47467/alkharaj.v6i7.3354 5805 | Volume 6 Nomor 7 2024 Analisis Kualitas Audit Syariah di
Indonesia
11
Dalam praktiknya, audit konvensional tidak hanya fokus pada aspek
keuangan tetapi juga mencakup penilaian terhadap kepatuhan bank
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Auditor harus
memastikan bahwa semua aktivitas bank dilakukan dengan transparansi
dan akuntabilitas yang tinggi. Dengan demikian, kegiatan audit dan
pengawasan di bank konvensional berperan penting dalam menjaga
integritas sistem keuangan serta melindungi kepentingan nasabah dan
pemangku kepentingan lainnya.
12
Nurul Azizah Surury1 , Muhammad Hamdan Ainulyaqin2, Studi Literatur: Pelaksanaan Audit
Syariah Pada Perbankan Syariah DOI: https://doi.org/10.54443/sinomika.v1i4.386, SINOMIKA
JOURNAL | VOLUME 1 NO.4 (2022) https://publish.ojs-indonesia.com/index.php/SINOMIKA
12
Dalam hal standar, audit konvensional mengikuti standar auditing yang
ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), sedangkan audit syariah
mengacu pada standar dari Accounting and Auditing Organization for
Islamic Financial Institutions (AAOIFI). Opini yang diberikan oleh auditor
syariah juga berbeda; selain menilai kewajaran laporan keuangan, opini
tersebut mencakup aspek kepatuhan syariah, sedangkan opini auditor
konvensional hanya berkaitan dengan kewajaran penyajian laporan
keuangan.
13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
14
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad (2012). Hand Out Mata Kuliah Lembaga Perekonomian Islam. Yogyakarta:
Rasyid Rizani (2012), ‘Penerapan Prinsip Syariah dalam Produk Perbankan Syariah’
ArtikelDirektorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung RI,
Rifaat Ahmed Abdel-Karim (1999), ‘Accounting and Auditing Standards for Islamic
Financial
Rifqi Muhammad (2008). Akuntansi Keuangan Syari’ah. Yogyakarta: P3EI Press.
15