BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Penting
Pengertian penting dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1996:364) yaitu “Penting adalah utama, pokok, sangat berharga atau
mempunyai posisi yang menentukan”,
Sehingga prosedur keselamatan dan kesehatan kerja dijadikan
sebagai hal yang utama yang harus dipahami dalam melaksanakan
tugas di kapal.
B. Pengertian Keselamatan Kerja
“Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan
mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan
tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan”.
Sasaran keselamatan kerja adalah segala tempat kerja, baik di darat, di
dalam tanah, dipermukaan air, maupun di udara. Tempat-tempat kerja
yang demikian itu tersebar pada segenapa kegiatan ekonomi, seperti
pertanian, industry, pertambangan, perhubungan pekerjaan umum, jasa
dan lain-lain. https://artikelarunalshukum.wordpress.com (diakses 13
September 2019).
Menurut Mangkunegara (2001:118), tujuan keselamatan dan
kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
6
1. Setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja
baik secara fisik, sosial dan psikologis.
2. Setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya
dan seefektif mungkin.
3. Semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
4. Adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi
pegawai.
5. Meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja.
6. Terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
lingkungan atau kondisi kerja.
Setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
Menurut Rivai (2006:77), tujuan dan pentingnya keselamatan kerja
meliputi :
1. Meningkatnya produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja
yang hilang.
2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih berkomitmen.
3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.
4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih
rendah karena menurunnya pengajuan klaim.
5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari
meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikan.
7
6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra
perusahaan.
Perusahaan yang dapat menurunkan tingkat dan beratnya
kecelakaan-kecelakaan kerja, penyakit dan hal-hal yang berkaitan
dengan stres serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan kerja para
pekerjanya, maka perusahaan tersebut akan semakin efektif (Rivai,
2006). Usaha-usaha yang diperlukan dalam meningkatkan keselamatan
dan kesehatan kerja menurut Mangkunegara A.A (2001:87) adalah
sebagai berikut :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kebakaran dan peledakan.
2. Memberikan peralatan perlindungan diri untuk pegawai yang bekerja
pada lingkungan yang berbahaya.
3. Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penerangan yang
cukup dan menyejukkan serta mencegah kebisingan.
4. Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit.
5. Memelihara kebersihan, ketertiban dan keserasian lingkungan kerja.
Menciptakan suasana kerja yang menggairahkan semangat kerja
pegawai. Untuk mengatasi bahaya-bahaya tersebut di atas maka
diadakanlah:
1. undang – undang keselamatan kerja,
2. undang – undang perburuhan,
3. safety of life at sea ( solas ).
Dalam Solas 1974 Consolidated 2001 Chapter IX Regulation 1 ,
Internasional Safety Manajemen beserta amandemen-amandemennya
mengenai keselamatan kerja.
8
Dari pemahaman di atas maka penulis dapat menyimpulkan
bahwa keselamatan adalah suatu bentuk yang nyata yang dapat
dirasakan oleh setiap orang yang pada hakekatnya adalah merasakan
aman dan sehat dengan konsekwensinya adalah melakukan tindakan-
tindakan sesuai dengan yang telah ditentukan atau menurut aturan-
aturan yang berlaku.
Tujuan daripada keselamatan di sini adalah tidak lain daripada
untuk menghindari terjadinya kecelakaan dan kerugian – kerugian yang
ditimbulkan olehnya.
Dalam bukunya ISM Code, Yang Di Jelaskan Biro Klasifikasi
Indonesia Mengenai “Certification Program To The International Safety
Management Code“ menyatakan tujuan atau sasaran utama dari ISM
Code adalah pembebasan terhadap kecelakaan dan diikuti oleh
perlindungan lingkungan. Sistem manajemen keselamatan, berusaha
menghindari perbaikan – perbaikan dan memindahkan kerusakan yang
terjadi. Tekanannya adalah pada pengorganisasian untuk mencegah
kecelakaan sebelum terjadi.
Diperusahaan dituntut untuk menghadapi bagaimana
menghilangkan atau mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh
kekeliruan pelaksana, yang secara langsung atau tidak menyebabkan
kecelakaan dan pencemaran.
Cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan pelayaran adalah
membuat sistem manajemen yang mampu untuk menciptakan kerjasama
9
yang baik dan erat antara manajemen darat dan di kapal. Untuk
mengoperasikan dengan aman, sistem manajemen yang dimaksud
harus ditunjang oleh pelaksana sumber daya manusia (SDM) yang
berpengetahuan, memiliki keterampilan serta sarana penunjang yang
cukup. Keputusan yang dimaksud tersebut harus menjamin bahwa setiap
tindakan yang akan mempengaruhi keselamatan dan pencemaran,
sudah diperhitungkan semua konsekwensi yang akan timbul.
Yang dimaksud dengan manajemen disini adalah proses kegiatan
perusahaan pelayaran yang menggambarkan pelaksanaan peraturan
yang berlaku, baik di kantor, di terminal maupun di kapal. Proses yang
dimaksud adalah bagian dari kehidupan perusahaan supaya mampu
berkompetisi memperebutkan pasar. Karena organisasi perusahaan
yang buruk dari suatu perusahaan bila dikaitkan dengan keselamatan
operasi dan pencegahan pencemaran, akan mendatangkan kerugian.
Karena, hilangnya nyawa manusia , rusak dan hilangnya harta benda
serta rusaknya lingkungan hidup.
Menurut Ishikawa, Biro Klasifikasi Indonesia, Transparancy No.EL
1-22 bahwa penyebab berkurangnya keselamatan terjadi karena :
1. Manusia
2. Mesin
3. Metoda
4. Peralatan
10
Berdasarkan nilai penting dari suatu keselamatan, operasi kapal
dapat dibagi menjadi :
1. Tugas rutin, yaitu segala kegiatan kapal yang telah terencana dalam
prakteknya tidak lepas dari sistem manajemen keselamatan.
2. Prosedur yang kritis, yaitu tindakan oleh kapal dalam menghadapi
suatu kegiatan yang bersifat kritis dan dalam pelaksanaannya
mencapai tujuan keselamatan.
Dengan kata lain, segala yang dilakukan dalam melakukan
sesuatu adalah bagaimana cara untuk dapat menghindari bahaya
dengan didukung oleh skill daripada SDM serta sarana dan prasarana
yang telah tersedia dan menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab,
baik itu buruh / ABK terhadap dirinya dan kelurganya, buruh / ABK
terhadap perusahaan, dan perusahaan terhadap buruh / ABK. Serta,
perusahaan terhadap negara.
C. Pengertian Kesehatan Kerja
Menurut Soekodjo Notoadmodjo (2003:114),
“Kesehatan kerja adalah merupakan aplikasi kesehatan
masyarakat didalam suatu tempat kerja dan yang menjadi pasien
dari kesehatan kerja adalah masyarakat pekerja dan masyarakat
sekitar tempat kerja”.
Pedoman kesehatan kerja adalah penyakit dan kecelakaan akibat
kerja dapat dicegah, maka upaya pokok kesehatan kerja adalah
pencegahan kecelakaan akibat kerja. Selain itu tempat kerja (misalnya
11
perusahaan) juga mengupayakan untuk mencegah timbulnya penyakit
yang diakibatkan oleh limbah yang dihasilkan.
Fokus kesehatan kerja tidak hanya upaya promotif (contohnya
penyuluhan kesehatan) dan preventif (contohnya menggunakan helm
pelindung , sarung tangan pada pekerja konstruksi) saja tetapi juga
upaya kuratif namun dalam batas pelayanan dasar (primary care).
Dari uraian singkat diatas maka dapat disimpulkan bahwa
kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat
atau aplikasi kesehatan masyarakat didalam suatu masyarakat pekerja
dan masyarakat lingkungannya.
Kesehatan kerja adalah terjemahan dari "Occupational Health"
yang berarti lapangan kesehatan yang mengurusi masalah-masalah
kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat pekerja. Menyeluruh
dalam arti usaha-usaha preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif,
higiene, penyesuaian faktor manusia terhadap pekerjaannya dan
sebagainya.
Tujuan kesehatan kerja adalah memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental, dan sosial bagi masyarakat
pekerja dan masyarakat lingkungan tempat kerja, melalui usaha-usaha
promotif, preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit atau
gangguan-gangguan kesehatan akibat kerja atau lingkungan kerja.
Tujuan kesehatan kerja dapat diuraikan sebagai berikut :
12
1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan-
kecelakaan akibat kerja.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.
3. Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktivitas tenaga
kerja.
4. Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan semangat kerja.
5. Perlindungan bagi masyarakat sekitar lingkungan kerja agar
terhindar dari bahaya-bahaya pencemaran yang ditimbulkan oleh
perusahaan
6. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin
ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan.
D. Pengertian Kapal
Kamus besar bahas indonesia mendefinisikan kapal sebagai
kendaraan pengangkut penumpanng dan barang di laut (sungai dsb).
Menurut pasal 309 ayat (1) KUHD,
“Kapal adalah semua alat berlayar, apapun nama dan sifatnya”.
Termasuk didalamnya adalah: kapal karam, mesin pengeruk
lumpur, mesin penyedot pasir, dan alat pengangkut terapung
lainnya. Meskipun benda-benda tersebut tidak dapat bergerak
dengan kekuatannya sendiri, namun dapat digolongkan kedalam
“alat berlayar” karena dapat terapung atau mengapung dan
bergerak di air”.
Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran:
“Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu,
yang digerakkan dnegan tenaga angin, tenaga mekanik, energi
13
lainnya, ditarik atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya
dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat
apungdan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah”.
Kapal yang digunakan baik untuk keperluan transportasi antar
pulau maupun untuk keperluan eksploitasi hasil laut, harus memenuhi
peryaratankelaik lautan, sehingga menjamin keselamatan kapal selama
pelayarannya di laut. Adapun Kelaik Lautan kapal adalah keadaan kapal
yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan
pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, garis muat, pemuatan,
kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang, status hukum
kapal, manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari
kapal, dan manajemen keamanan kapal untuk berlayar di perairan
tertentu.
14