Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini dalam peraturan persaingan global, kesehatan kerja
menjadi sebuah inspirasi bagi dunia industri untuk meningkatkan derajat
kesehatan para pekerja. Tidak hanya para pekerja yang bekerja di industri
besar akan tetapi industry kecilpun sudah mulai ambil ancang-ancang untuk
memfokuskan dirinya dalam memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku di
dalam ilmu kesehatan kerja.Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan
hidup dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja.
Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh
perusahaan. Sedangkan pengertian keselamatan dan kesehatan kerja secara
keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting bagi kita untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat mengurangi atau bebas dari kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa
maupun kerugian materi bagi pekerja tetapi juga dapat merusak lingkungan
yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat.
Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubungannya dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang
meliputi: metode bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin
dapat menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan dari kesehatan
sesorang.
Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka para pihak diharapkan
dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan
aman jika apapun yang dilakukan oleh pekerja tersebut, risiko yang mungkin
muncul dapat dihindari. Perkerjaan dikatakan nyaman jika para pekerja yang
bersangkutan dapat melakukan pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah,
sehingga tidak mudah capek dan tidak akan menyebabkan kecelakaan.
Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah diatur
sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang harapkan. Begitu
banyak faktor dilapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan
kerja seperti faktor manusia, lingkungan dan psikologi. Untuk itu upaya
dilakukan agar pekerja lebih memahami pentingnya keselamatan dan
kesehatan dalam bekerja dengan mengetahui peran maupun fungsi dari
instrumentasi keselamatan dan kesehatan kerja.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?
2. Apa yang dimaksud dengan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja?
3. Bagaimana Upaya Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?
4. Bagimana memahami Instrumentasi pada Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3)?
C. Tujuan
1. Apa yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?
2. Apa yang dimaksud dengan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja?
3. Bagaimana Upaya Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?
4. Bagimana memahami Instrumentasi pada Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3)?
D.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Keselamatan Kerja Dan Kesehatan Kerja
1. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan
peralatan, tempat kerja dan lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan.
Keselamatan kerja menjadi aspek yang sangat penting, mengingat resiko
bahayanya dalam penerapan teknologi. Keselamatan kerja merupakan tugas
semua orang yang bekerja, setiap tenaga kerja dan juga masyarakat pada
umumnya.
Keselamatan kerja adalah membuat kondisi kerja yang aman dengan
dilengkapi alat-alat pengaman, penerangan yang baik, menjaga lantai dan
tangga bebas dari air, minyak, nyamuk dan memelihara fasilitas air yang
baik.Menurut Malthis dan Jackson (2002), keselamatan kerja menunjuk pada
perlindungan kesejahteraan fisik dengan dengan tujuan mencegah terjadinya
kecelakaan atau cedera terkait dengan pekerjaan. Muhammad Sabir (2009)
mendefinisikan, keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan
dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan
tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.
Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi dan distribusi, baik
barang maupun jasa. Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja sebagai
berikut:
1. Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja yang dijelaskan
sebelumnya.
2. Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.
3. Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan
kesehatan kerja.
4. Teliti dalam bekerja.

2. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar
tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental
maupun social. Selain itu, kesehatan kerja menunjuk pada kondisi fisik, mental
dan stabilitas emosi secara umum dengan tujuan memelihara kesejahteraan
individu secara menyeluruh (Malthis dan Jackson, 2002).
Kesehatan kerja di perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu
kesehatan beserta prakteknya dengan mengadakan penilaian kepada faktor-
faktor penyebab penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui
pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif dan bila
perlu pencegahan kepada lingkungan tersebut, agar pekerja dan masyarakat
sekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta dimungkinkan
untuk mengecap derajat kesehatan setinggi-tinginya (Muhammad Sabir, 2009).
Roy Erickson (2009) mendefinisikan kesehatan kerja sebagai suatu kondisi
kesehatan yang bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani maupun sosial, dengan
usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan
yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.
Kesehatan dalam ruang lingkup keselamatan dan kesehatan kerja tidak
hanya diartikan sebagai suatu keadaan bebas dari penyakit. Menurut Undang-
undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, Bab I Pasal 2, keadaan sehat
diartikan sebagai kesempurnaan yang meliputi keadaan jasmani, rohani dan
kemasyarakatan, dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan
kelemahan-kelemahan lainnya.
Pemantauan kesehatan kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1. Mengurangi timbulnya penyakit.
Pada umumnya perusahaan sulit mengembangkan strategi untuk
mengurangi timbulnya penyakit-penyakit, karena hubungan sebab-akibat
antara lingkungan fisik dengan penyakit-penyakit yang berhubungan
dengan pekerjaan sering kabur. Padahal, penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan jauh lebih merugikan, baik bagi
perusahaan maupun pekerja.
2. Penyimpanan catatan tentang lingkungan kerja.
Mewajibkan perusahaan untuk setidak-tidaknya melakukan
pemeriksaan terhadap kadar bahan kimia yang terdapat dalam lingkungan
pekerjaan dan menyimpan catatan mengenai informasi yang terinci
tersebut. Catatan ini juga harus mencantumkan informasi tentang penyakit-
penyakit yang dapat ditimbulkan dan jarak yang aman dan pengaruh
berbahaya bahan-bahan tersebut.
3. Memantau kontak langsung.
Pendekatan yang pertama dalam mengendalikan penyakit-penyakit
yang berhubungan dengan pekerjaan adalah dengan membebaskan tempat
kerja dari bahan-bahan kimia atau racun. Satu pendekatan alternatifnya
adalah dengan memantau dan membatasi kontak langsung terhadap zat-zat
berbahaya.
4. Penyaringan genetik.
Penyaringan genetik adalah pendekatan untuk mengendalikan
penyakit-penyakit yang paling ekstrem, sehingga sangat kontroversial.
Dengan menggunakan uji genetik untuk menyaring individu-individu yang
rentan terhadap penyakit-penyakit tertentu, perusahaan dapat mengurangi
kemungkinan untuk menghadapi klaim kompensasi dan masalah-masalah
yang terkait dengan hal itu.
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia, kesehatan kerja bertujuan untuk:
1. Memberi bantuan kepada tenaga kerja.
2. Melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang timbul dari
pekerjaan dan lingkungan kerja.
3. Meningkatkan kesehatan.
4. Memberi pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi

B. Kecelakaan Kerja dan Penyakit Kerja


1. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan seseorang atau kelompok
dalam rangka melaksanakan kerja di lingkungan perusahaan, yang terjadi
secara tiba-tiba, tidak diduga sebelumnya, tidak diharapkan terjadi,
menimbulkan kerugian ringan sampai yang paling berat, dan bias
menghentikan kegiatan pabrik secara total. Penyebab kecelakaan kerja dapat
dikategorikan menjadi dua:
1. Kecelakaan yang disebabkan oleh tindakan manusia yang tidak
melakukan tindakan penyelamatan. Contohnya, pakaian kerja, penggunaan
peralatan pelindung diri, falsafah perusahaan, dan lain-lain.
2. Kecelakaan yang disebabkan oleh keadaan lingkungan kerja yang tidak
aman. Contohnya, penerangan, sirkulasi udara, temperatur, kebisingan,
getaran, penggunaan indikator warna, tanda peringatan, sistem upah,
jadwal kerja, dan lain-lain.
Keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja, yaitu
kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah
kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan
sebagai suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas. Ada 4 (faktor)
penyebabnya, yaitu:
a. Faktor manusianya.
b. Faktor material/ bahan/ peralatan.
c. Faktor bahaya/ sumber bahaya
d. Faktor yang dihadapi (pemeliharaan/ perawatan mesin-mesin)
Disamping ada sebabnya, maka suatu kejadian juga akan membawa
akibat. Akibat dari kecelakaan industri ini dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu:
1. Kerugian yang bersifat ekonomis, yaitu:
a. Kerusakan/ kehancuran mesin, peralatan, bahan dan bangunan
b. Biaya pengobatan dan perawatan korban
c. Tunjangan kecelakaan
d. Hilangnya waktu kerja
e. Menurunnya jumlah maupun mutu produksi
2. Kerugian yang bersifat non ekonomis
Pada umumnya berupa penderitaan manusia yaitu tenaga kerja
yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian, luka/ cidera berat, maupun
luka ringan.

2. Penyakit Kerja
Penyakit kerja adalah kondisi abnormal atau penyakit yang
disebabkan oleh kerentanan terhadap faktor lingkungan yang terkait dengan
pekerjaan. Hal ini meliputi penyakit akut dan kronis yang disebakan oleh
pernafasan, penyerapan, pencernaan, atau kontak langsung dengan bahan
kimia beracun atau pengantar yang berbahaya. Masalah kesehatan karyawan
sangat beragam dan kadang tidak tampak. Penyakit ini dapat berkisar mulai
dari penyakit ringan seperti flu, hingga penyakit yang serius yang berkaitan
dengan pekerjaannya (Malthis dan Jackson, 2002).
Schuler dan Jackson (1999) menjelaskan bahwa dalam jangka
panjang, bahaya-bahaya di lingkungan tempat kerja dikaitkan dengan kanker
kelenjar tiroid, hati, paru-paru, otak dan ginjal; penyakit paru-paru putih,
cokelat, dan hitam; leukimia; bronkitis; emphysema dan lymphoma; anemia
plastik dan kerusakan sistem saraf pusat; dan kelainan-kelainan reproduksi
(misal kemandulan, kerusakan genetic, keguguran dan cacat pada waktu
lahir).
Menurut Bennet Silalahi (1995) perusahaan mengenal dua kategori
penyakit yang diderita tenaga kerja, yaitu:
1. Penyakit umum
Merupakan penyakit yang mungkin dapat diderita oleh semua
orang, dan hal ini adalah tanggung jawab semua anggota masyarakat,
karena itu harus melakukan pemeriksaan sebelum masuk kerja.
2. Penyakit akibat kerja
Dapat timbul setelah karyawan yang tadinya terbukti sehat
memulai pekerjaannya. Faktor penyebab bisa terjadi dari golongan fisik,
golongan kimia, golongan biologis, golongan fisiologis dan golongan
psikologis.
C. Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja para tenaga kerja harus
diprioritaskan atau diutamakan dan diperhitungkan agar tenaga kerja merasa ada
jaminan atas pekerjaan yang mereka lakukan, baik yang beresiko maupun tidak.
Menurut Shafiqah Adia (2010), jaminan keselamatan dan kesehatan dapat
membuat para tenaga kerja merasa nyaman dan aman dalam melakukan suatu
pekerjaan, sehingga dapat memperkecil atau bahkan mewujudkan kondisi nihil
kecelakaan dan penyakit kerja.
Dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja perlu adanya Instrumen
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang merupakan sebuah komponen wajib yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar, merupakan
hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan, perlindungan tersebut sangat diperlukan
untuk meminimalkan bahaya akibat kecelakaan kerja.

D. Instrumentasi Dalam Keselamatan Dan Kesehatan Kerja


Instrumentasi merupakan sistem dan susunan peralatan yang dipakai di
dalam suatu proses kontrol untuk mengatur jalannya proses agar diperoleh hasil
sesuai dengan yang diharapkan. Dalam suatu pabrik kimia, pemakaian instrumen
merupakan suatu hal yang sangat penting karena dengan adanya rangkaian
instrumen tersebut maka operasi semua peralatan yang ada di dalam pabrik dapat
dimonitor dan dikontrol dengan cermat, mudah dan efisien, sehingga operasi
selalu berada dalam kondisi yang diharapkan.
Fungsi instrumentasi adalah sebagai penunjuk ( indicator ), pencatat (
recorder ) , pengontrol ( regulator ), dan pemberi tanda bahaya ( alarm ). Peralatan
instrumentasi biasanya bekerja dengan tenaga mekanis atau tenaga listrik dan
pengontrolannya dapat dilakukan secara manual maupun otomatis. Penggunaan
instrumen pada suatu peralatan proses tergantung pada pertimbangan ekonomis
dan sistem peralatan itu sendiri. Pada pemakaian alat-alat instrumen juga harus
ditentukan apakah alat-alat tersebut dipasang diatas papan instrumen dekat
peralatan proses (kontrol manual) atau disatukan di dalam suatu ruang kontrol
pusat ( control room ) yang dihubungkan dengan ruang peralatan (kontrol
otomatis).
Variabel-variabel proses yang biasanya dikontrol atau diukur oleh
instrumen adalah:
1) Variabel utama, seperti temperatur, tekanan, dan aliran level cairan.
2) Variabel tambahan, seperti densitas, viskositas, panas spesifik,
konduktivitas, pH, humudity , titik embun, komposisi kimia, dan variabel
lainnya.

Selain itu fungsi lain dari instrumentasi dalam keselamatan dan kesehatan
kerja yaitu:

1. Sebagai alat Ukur, yaitu untuk memonitor kondisi operasi, melalui


pengukuran variabel proses yang mempengaruhi jalannya operasi, seperti
tekanan, temperatur, jumlah aliran, level dan lain-lain.
2. Sebagai alat Kontrol, untuk mengendalikan jalannya operasi agar variabel
proses selalu sesuai dengan harga yang diinginkan.
3. Sebagai alat Safety, untuk mencegah kerusakan pada peralatan dan mencegah
kecelakaan pada operator.
4. Sebagai alat analisa, untuk menganalisa produk, apakah sudah memenuhi
spesifikasi tertentu seperti yang diinginkan. Pengukuran berarti
membandingkan sesuatu yang telah ditentukan sebagai standard dengan
sesuatu yang belum diketahui untuk mendapatkan besaran kwantitatif dari
sesuatu yang diukur tersebut. Dengan demikian teknik pengukuran adalah
cara-cara guna mendapatkan hasil pengukuran yang setepat-tepatnya atau
mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul pada pengukuran.

1. Instrumentasi Sebagai Alat Pelindung Diri


Dasar hukum dari alat pelindung diri ini adalah Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1970 Bab IX Pasal 13 tentang Kewajiban Bila Memasuki Tempat kerja
yang berbunyi: Barangsiapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan
mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan
diri yang diwajibkan.
Penggunaan APD merupakan pilihan terakhir atau last resort dalam
pencegahan kecelakaan. Hal ini disebabkan karena alat pelindung diri bukan
untuk mencegah kecelakaan (reduce likelihood) namau hanya sekedar
mengurangi efek atau keparahan kecelakaan (reduce consequences).

Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu kewajiban di mana biasanya


pekerja atau buruh bangunan yang bekerja di sebuah proyek atau bangunan yang
bekerja disebuah proyek atau pembangunan sebuah gedung, diwajibkan
menggunakannya. Alat pelindung Diri (APD) berperan penting terhadap
kesehatan dan keselamatan kerja. Menurut Tarwaka (2014:288) jenis-jenis
alat pelindung diri, antara lain:

1. Alat Pelindung Kepala (Headwear)

Alat pelindung kepala atau headwear digunakan untuk melindungi


rambut yang terjerat mesin berputar dan untuk melindungi kepala dari
bahaya terbentur benda tajam atau keras, bahaya kejatuhan benda atau
terpukul benda yang melayang, percikan bahan kimia korosif, panas sinar
matahari dan lain sebagainya (Tarwaka, 2014: 288). Jenis-jenis alat
pelindung kepala, yaitu:

1) Topi Pelindung (Safety Helmets)


Topi pelindung atau safety helmets digunakan untuk melindungi
kepala dari benda-benda keras yang terjatuh, benturan kepala, terjatuh dan
terkena arus listrik (Tarwaka, 2014: 288). Topi pelindung harus dipakai
oeleh setiap tenaga kerja yang mungkin tertimpa pada bagian kepala oleh
benda jatuh, melayang dan benda-benda yang bergerak. Topi pelindung
harus cukup keras dan kokoh, tetapi ringan.

Topi pelindung diklasifikasikan menjadi 3 kelas, yaitu: (1) kelas A,


yaitu topi atau helm pengaman yang digunakan untuk melindungi kepala
dari kekuatan benturan benda-benda yang jatuh dan dari sengatan
listrik yang diakibatkan kontak dengan konduktor listrik tegangan rendah
atau terbatas; (2) kelas B, yaitu topi atau helm pengaman yang digunakan
untuk melindungi kepala dari kekuatan benturan benda-benda yang jatuh
dan dari sengatan listrik yang akibat kontak dengan konduktor listrik
tegangan tinggi; dan (3) kelas C, yaitu topi atau helm pengamann yang
digunakan untuk melindungi kepala dari kekuatan benturan benda-benda
yang jatuh, tanpa pengama terhadap listrik (B. Boedi Rijanto, 2011:291).

2) Tutup Kepala

Tutup kepala digunakan untuk melindungi kepala dari kebakaran,


korosi dan suhu panas atau dingin. Tutup kepala biasanya terbuat dari
asbestos, kain tahan api atau korosi, kulit dan kain tahan air (Tarwaka,
2014: 288).

3) Topi (Hats atau Cap)

Topi merupakan alat pelindung diri yang digunakan untuk


melindungi kepala atau rambut dari kotoran atau debu dan mesin
yang berputar. Topi biasanya terbuat dari bahan kain dari katun (Tarwaka,
2014: 289).

Gambar 2.1. Alat Pelindung Kepala (Headwear)

2. Alat Pelindung Mata (Eyes Protection)

Alat pelindung mata atau eyes protection adalah alat yang berfungsi
untuk melindungi mata dari percikan bahan kimia korosif, debu dan
partikel-partikel kecil yang melayang di udara, gas atau uap yang dapat
menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang elektromagnetik, panas radiasi
sinar matahari, pukulan benda keras dan lain sebagainya (Tarwaka, 2014:
289). Jenis-jenis alat pelindung mata, yaitu:

1) Kacamata (Speactacles)
Kacamata atau speactacles digunakan untuk melindungi
mata dari partikel-partikel kecil, debu dan radiasi gelombang
elektromagnetik (Tarwaka,

2014: 289). Pemakaian kacamata merupakan salah satu masalah tersulit


dalam pencegahan kecelakaan yang menimpa mata, para pekerja tidak
memakai kacamata karena merasa tidak nyaman dan mengurangi
kenikmatan ketika bekerja, sehingga diperlukan upaya-upaya dalam
pembinaan kedisiplinan melalui pendidikan dan penggairahan, agar para
tenaga kerja mau memakai kacamata ketika bekerja (Anizar, 2009: 92).

2) Goggles

Googles merupakan alat yang berfungsi untuk melindungi mata


dari gas, debu, uap dan percikan larutan bahan kimia. Googles biasanya
terbuat dari plastik yang transparan dengan lensa berlapis kobait untuk
melindungi dar bahaya radiasi gelombang elektromagnetik mengion
(Tarwaka, 2014: 289).
Gambar 2.2. Alat Pelindung Mata (Eyes Protection)

3. Alat pelindung Telinga (Ear Protection)


Alat pelindung telinga atau ear protection merupakan alat yang
digunakan untuk mengurangi intensitas suara yang masuk ke dalam
telinga (Tarwaka, 2014:

290). Jenis-jenis alat pelelindung telinga, yaitu:

1) Sumbatan Telinga (Ear Plug)

Sumbat telinga dikatakan baik apabila dapat menahan frekuensi


tertentu saja, sedangkan frekuensi untuk berbicara biasa atau komunikasi
tidak terganggu. Sumbat telinga biasanya terbuat dari bahan karet, plastik
keras, plastik lunak dan lilin kapas (B. Boedi Rijanto, 2011: 292). Ukuran
dan bentuk saluran setiap individu dan bahkan untuk kedua telinga dari
orang yang sama adalah berbeda, sehingga ear plug harus dipilih sesuai
dengan ukuran dan bentuk saluran telinga pemakainya. Pada umumnya
diameter saluran telinga antara 5-11 mm dan liang telinga berbentuk
lonjong dan tidak lurus (Tarwaka, 2014: 290).

2) Tutup Telinga (Ear Muff)

Alat pelindung telinga ini terdiri dari 2 buah tutup telinga dan
sebuah headband. Isi dari tutup telinga dapat berupa cairan atau busa
yang berfungsi untuk menyerap suara frekuensi yang tinggi. Alat ini dapat
mengurangi intensitas suara sampai 30 dB(A) dan dapat melindungi telinga
bagian luar dari benturan benda keras atau percikan bahan kimia (Tarwaka,
2014: 291). Ada 2 jenis tutup telinga yaitu atenuasinya pada frekuensi biasa
antara 25-30 dB dan atenuasinya pada frekuensi antara 35-45 dB. Pada
kondisi khusus dikombinasikan antara sumbat telinga dan tutup telinga,
sehingga diperoleh atenuasi yang lebih tinggi, tetapi tidak lebih dari 50
dB dikarenakan hantaran suara melalui tulang masih ada (B. Boedi Rijanto,
2011: 292).

Gambar 2.3. Alat Pelindung Telinga (Ear Protection)

4. Alat Pelindung Pernafasan (Respiratory Protection)


Alat pelindung pernafasan atau respiratory protection
merupakan alat yang digunakan untuk melindungi pernafasan dari risiko
paparan gas, uap, debu, udara yang terkontaminasi atau beracun, korosi
atau yang bersifat rangsangan (Tarwaka, 2014: 291). Jenis-jenis alat
pelindung pernafasan, antara lain:

1) Masker

Masker merupakan alat yang berfungsi untuk mengurangi paparan


debu atau partikel-partikel yang lebih besar masuk ke dalam saluran
pernafasan (Tarwaka, 2014: 292). Masker dibedakan menjadi 3 jenis,
yaitu: (1) masker penyaring debu yang digunakan untuk melindungi
pernafasan dari serbuk-serbuk logam, pengerindahan dan serbuk kasar
lainnya; (2) Masker berhidung yang dapat digunakan untuk menyaring
debu atau benda lain sampai ukuran 0,5 mikron. Apabila terjadi kesulitan
bernafas ketika menggunakan masker ini, maka hidung masker harus
diganti karena filter pada masker sudah tersumbat oleh debu dan (3)
masker bertabung yang digunakan untuk melindungi pernafasan dari gas
tertentu, bermacam-macam tabung dapat dipasangkan pada masker ini dan
dapat disesuaikan tabungnya untuk melindungi dari paparan gas tertentu.
Masker ini memiliki filter yang lebih baik daripada masker berhidung
(Anizar, 2009: 91).

2) Respirator

Respirator merupakan alat yang berfungsi untuk melindungi


pernafasan dari paparan debu, kabut, uap logam, asap dan gas-gas
berbahaya (Tarwaka, 2014:

292). Jenis respratori ada 2, yaitu: (1) Chemical respirator adalah catridge
respirator terkontaminasi gas dan uap dengan toksisitas rendah, yang
berisi adsorben dan karbon aktif, arang dan silica gel. Sedangkan, canister
digunakan untuk mengadsorbsi khlor dan gas atau uap organik; dan (2)
Mechanical filter respirator berguna untuk menangkap partikel-partikel
zat padat, debu, kabut, uap logam dan asap. Respirator ini biasanya
dilengkapi dengan filter yang berfungsi untuk menangkap dan kabut
dengan kadar kontaminasi udara tidak terlalu tinggi atau partikel yang
tidak terlalu kecil (Tarwaka, 2014: 292).
Gambar 2.4. Alat Pelindung Pernafasan (Respiratory Protection)

5. Alat Pelindung Tangan (Hand Protection)


Alat pelindung tangan atau hand protection merupakan
alat yang digunakan untuk melindungi tangan dan bagian lainnya dari
benda tajam atau goresan, bahan kimia, benda panas dan dingin, serta
kontak dengan arus listrik. Sarung tangan dari karet untuk melindungi
kontaminasi terhadap bahan kimia dan arus listrik; sarung tangan dari kulit
untuk melindungi terhadap benda tajam dan goresan; sarung tangan dari
kain atau katun untuk melindungi dari kontak panas atau dingin dan lain
sebagainya (Tarwaka, 2014: 293). Jenis-jenis alat pelindung tangan, antara
lain:

1) Sarung tangan atau gloves

2) Mitten atau sarung tangan dengan ibu jari terpisah, sedangkan jari
lainnya menjadi satu

3) Hand pad, yang digunakan untuk melindungi telapak tangan

4) Sleeve, yang digunakan untuk melindungi pergelangan tangan sampai

lengan, biasanya digabung dengan sarung tangan (B. Boedi Rijanto,

2011: 299).

Gambar 2.5. Alat Pelindung Tangan (Hand Protection)


6. Alat Pelindung Kaki (Feet Protection)
Menurut Tarwaka (2014: 294) alat pelindung kaki atau feet
protection merupakan alat yang berfungsi untuk melindungi kaki dan
bagian lainnya dari benda-benda keras, tajam, logam atau kaca, larutan
kimia, benda panas dan kontak dengan arus listrik. Sedangkan, menurut
Anizar (2009: 94) alat pelindung kaki atau sepatu pengaman harus dapat
melindungi para tenaga kerja dari kecelakaan- kecelakaan yang disebabkan
oleh beban berat yang menimpa kaki, paku-paku atau benda tajam lain
yang mungkin terinjak, logam pijar, asam-asam dan lain sebagainya. Alat
pelindung kaki menurut jenis pekerjaan yang dilakukan, dibedakan
menjadi 4, yaitu:

1) Sepatu Pengaman pada Pengecoran Baja (Foundry Leggings)


Sepatu jenis ini terbuat dari bahan kulit yang dilapisi krom atau
asbes dengan tinggi sekitar 35 cm. Dalam pemakaian sepatu ini, celana
dimasukkan kedalam sepatu, kemudian dikencangkan dengan tali
pengikat sepatu (Tarwaka, 2014: 294).

2) Sepatu Pengaman pada Pekerjaan yang Mengandung Bahaya


Peledakan

Sepatu jenis ini tidak boleh memakai paku-paku, karena dapat


menimbulkan percikan bunga api (Tarwaka, 2014: 294).

3) Sepatu Pengaman untuk pekerjaan yang Berhubungan dengan Listrik

Sepatu jenis ini terbuat dari bahan karet anti elektrostatik,

yang tahan terhadap tegangan listrik sebesar 10.000 volt selama 3

menit (Tarwaka, 2014:295).

4) Sepatu Pengaman pada Pekerjaan Bangunan Kontruksi


Sepatu jenis ini terbuat dari bahan kulit yang dilengkapi dengan
baja pada setiap ujung depan sepatu atau yang disebut dengan steel box
toe (Tarwaka, 2014:295).

Gambar 2.6. Alat Pelindung Kaki (Feet Protection)


7. Pakaian Pelindung Badan (Body protection)

Pakaian pelindung badan atau body protection merupakan alat yang


digunakan untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuh dari percikan api,
suhu panas atau dingin, cairan bahan kimia dan lain sebagainya. Pakaian
pelindung dapat berbetuk apron yang menutupi sebagian tubuh pemakai
dari daerah dada sampai lutut atau overall yaitu menutupi seluruh bagian
tubuh (Tarwaka, 2014:295). Pakaian kerja yang biasa tidak bisa
melindungi terhadap panas, asam-asam, bagian-bagian yang melayang dan
berbagai risiko lainnya, sehigga pakaian pelindung harus digunakan,
sehingga dapat menghindari dampak dari berbagai sumber bahaya yang
ada (Anizar, 2009: 98).
Gambar 2.7. Alat Pelindung Badan (Body Protection)

8. Sabuk Pengaman Keselamatan (Safety Belt)


Sabuk pengaman keselamatan atau safety belt adalah alat pelindung
yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh dari
ketinggian, seperti pada pekerjaan mendaki, memanjat dan pada
pekerjaan kontruksi bangunan (Tarwaka, 2014: 295). Sabuk
pengaman keselamatan dipasang disekeliling pinggang dan
dihubungkan dengan tali tambatan ke tambatan. Sabuk pengaman
memiliki beberapa keuntungan, yaitu berguna untuk posisi kerja,
ringan dan lebih nyaman dikenakan oleh pekerja dibandingkan dengan
harness (B. Boedi Rijanto, 2011: 304)

Gambar 2.8. Sabuk Pengaman Keselamatan (Safety Belt)

2. Instrumentasi Sebagai Alat Ukur


1) Thermohigrometer (Pengukuran Iklim Kerja)
Fungsi
Untuk mengukur suhu dan kelembaban dalam suatu ruangan.
Cara penggunaan
Alat digantung dan biarkan dengan interval tertentu, lihat jarum yang
menunjuk skala kelembaban (jarum yang terdapat pada sisi dalam), serta
jarum yang menunjuk skala suhu (jarum yang terdapat pada sisi terluar).

Gambar 2.9. Thermohigrometer (Pengukuran Iklim Kerja)


2) Sling Psikrometer
Untuk mengukur Suhu Kering (SK) dan Suhu Basah (SB) dengan satuan
derajat Celciuc (0C).

Gambar 2.10. Sling Psikrometer


3) Globe Thermometer
Untuk mengukur Suhu Bola atau Suhu Globe (SG) dengan satuan derajat
Celcius (0C).
Gambar 2.11. Globe Thermometer

4) Lux Meter
Untuk mengatur pencahayaan pada saat membaca atau kegiatan lain sesuai
dengan fungsi ruangan

Gambar 2.12. Lux Meter


5) Pengukuran Radiasi Sinar UV-A Di Tempat Kerja (UV Radiometer)
Alat yang digunakan untuk mengukur radiasi sinar ultra violet
Gambar 2.13. UV Radiometer
6) Pengukuran Kebisingan (Sound Level Meter )
Untuk mengukur tingkat intensitas kebisingan di tempat kerja.

Gambar 2.14. Sound Level Meter

7) Pengukuran Getaran (Segmental Vibration/ Hand Arm Vibration)


Untuk mengukur getaran pada handle mesin atau bagian mesin yang sering
bersentuhan dengan tenaga kerja dan berpengaruh pada sebagian tubuh tenaga
kerja.

Gambar 2.15. Pengukuran Getaran


8) Pemeriksaan Kelelahan Tenaga Kerja (Reaction Timer)
Untuk mengukur tingkat kelelahan tenaga kerja berdasarkan waktu reaksi yang
diberikan ketika diberikan ketika mendapatkan rangsangan cahaya atau suara.
Gambar 2.16. Reaction Timer
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Anizar, 2009, Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri, Graha


Ilmu, Yogyakarta.
Hariandja, Mariot. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. PT Grasindo.
Jakarta
Malthis, Robert L. dan John H. Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Salemba Empat, Jakarta
Mondy, R. Wayne. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi 10 jilid 2.
Erlangga, Jakarta
Schuler, Randall S. dan Susan E. Jackson. 1999. Manajemen Sumber Daya
Manusia Menghadapi Abad Ke-21. Erlangga, Jakarta.
Syukri Sahab, 1997. Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Jakarta : Bina Sumber Daya Manusia.
Tarwaka, 2008. Manajemen Dan Implementasi K3 Di Tempat Kerja. Surakarta :
Harapan Press
Tarwaka, 2014, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Manajemen dan
Implementasi K3 di Tempat Kerja, Harapan Press, Surakarta.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Bab IX Pasal 13 tentang Kewajiban Bila
Memasuki Tempat kerja
Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja, edisi ketiga. PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta
Winardi, J. 2004. Manajemen Perilaku Organisasi, Edisi Revisi. Prenada Media,
Jakarta.
Winarsunu, Tulus, 2008, Psikologi Keselamatan Kerja, UPT Penerbitan
Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.