Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PENYEHATAN UDARA Pengukuran Debu

Oleh : DEWI ROSYANA C ZAHROTUN NUR S DANI ASIH PURWATI LILIS SURYANI WIWIT SAPUTRI UMMU FATHIYAH ARI SUSIA DEWANTI ARIF SIGIT S PUJI FERIANTO P17433212001 P17433212002 P17433212005 P17433212007 P17433212009 P17433212010 P17433212011 P17433212016 P17433212018

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PROGRAM STUDI D IV KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO 2012
BAB I PENDAHULUAN

A. Acara Pemeriksaan debu B. Tujuan Untuk mengetahui kadar debu di lingkungan kerja C. Metode Mengukur kadar debu menggunakan HVAS (High Volume Air Sampler). D. Tinjauan Teori 1. Pengertian a. Pencemaran Udara Adalah keadaan dimana ke dalam udara atmosfir oleh suatu sumber, baik melalui aktivitas manusia maupun alamiah dibebaskan satu atau beberapa bahan atau zat-zat dalam kuantitas maupun batas waktu tertentu yang secara karakteristik dapat atau memiliki kecenderungan dapat menimbulkan ketimpangan susunan udara atmosfir secara ekologis sehingga mampu menimbulkan gangguan-gangguan bagi kehidupan satu atau kelompok organisme maupun benda-benda. b. Debu adalah partikel padat yang terbentuk karena adanya kekuatan alami atau mekanik seperti penghalusan (grinding), penghancuran (crushing), peledakan (blasting), pengayakan (shaking) dan atau pengeboran (drilling) 2. Sumber-sumber debu a. Sumber alamiah Adalah sumber pencemaran debu karena proses alam Contoh : letusan gunung merapi, debu yang diterbangkan karena proses alam, angin, kebakaran hutan, gempa bumi. b. Sumber non alamiah / buatan Adalah sumber pencemaran debu karena ulah atau perbuatan manusia Contoh : industri, lalu lintas, pembakaran hutan 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi debu di udara a. Kelembaban yang rendah

b. Suhu udara c. Angin d. Sinar matahari e. Curah hujan 4. Pengaruh / efek dari fisiologis debu Terhadap adanya debu di dalam alat pernapasan, maka tubuh dapat memberikan reaksi, yaitu : a. Pada debu-debu yang menerapkan pada lokasi saluran pernapasan atas akan memberikan reaksi iritasi (scr ringan) dengan akibat penyakit yang dapat ditimbulkan berupa Pharyngitis. b. Untuk debu-debu yang sudah berada dalam jaringan paru-paru maka disini kemungkinan dapat difagositir oleh makrofaag atau mengalami filtrasi lewat dinding di veoler masuk dalam saluran Limphe dan selanjutnya diselesaikan dalam Reticulo endothelial system pada kalenjer-kalenjer getah bening. c. Debu dapat menyebabkan penyakit Pneumoconiosis (nama umum untuk suatu penyakit paru-paru di mana tertimbunnya debu-debu. 5. NAB dan peraturan yang dipergunakan Nilai Ambang Batas (NAB) adalah kadar tertinggi suatu zat dimana seorang dalam suatu lingkungan masih sanggup berada tanpa menunjukkan suatu respons berupa penyakit atau gangguan-gangguan terhadap kesehatan sehari-hari untuk jangka waktu 8 Jam/hari serta 40 Jam seminggunya. NAB debu pada permukiman adalah 350 adalah 450 mg/m3. Peraturan yang dipergunakan : a. UU No. 4 tahun 1982 tentang pengelolaan lingkungan hidup. b. Kep. Men No. 02 / MEN KLH / 1998 tentang pedoman penerapan baku mutu lingkungan. c. Kepres No. 23 tahun 1990 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup. d. UU No. 23 tahun 1992 Pasal 22 ayat 3 meliputi pengamanan dan kualitas udara.
mg

/m3 dan untuk daerah industri

BAB II PELAKSANAAN A. Alat 1. Tripod 2. HVAS set 3. Pinset 4. Desikator 5. Timbangan Analitik B. Bahan 1. Kertas Saring C. Cara Kerja 1. Persiapan a. b. Filter yang diperlukan disimpan di dalam desikator selama 24 jam agar mendapatkan kondisi stabil Filter kosong pada ditimbang sampai diperoleh berat konstan, minimal tiga kali penimbangan, sehingga diketahui berat filter sebelum pengambilan contoh, catat berat filter blanko dan filter contoh masing-masing dengan berat B1 (mg) dan W1 (mg). Masing-masing filter tersebut ditaruh di dalam holder setelah diberi nomor (kode). Filter dimasukkan ke dalam HVAS holder dengan menggunakan pinset dan tutup bagian atas holder. c. Pompa pengisap udara dikalibrasi dengan kecepatan laju aliran udara 10 l/menit dengan menggunakan flowmeter (flowmeter harus dikalibrasi oleh laboratorium kalibrasi yang terakreditasi). 2. Pengambilan sample a. b. HVAS dihubungkan dengan pompa pengisap udara dengan menggunakan selang silikon atau teflon. LVS diletakkan pada titik pengukuran (di dekat tenaga kerja terpapar debu) dengan menggunakan tripod kira-kira setinggi zona pernafasan tenaga kerja

c. d.

Pompa pengisap udara dihidupkan dan lakukan pengambilan sampel dengan kecepatan laju aliran udara (flowrate) 25 cfm Lama pengambilan sampel dapat dilakukan selama beberapa menit hingga satu jam (tergantung pada kebutuhan, tujuan dan kondisi di lokasi pengukuran)

e.

Pengambilan contoh dilakukan minimal 3 kali dalam 8 jam kerja yaitu pada awal, pertengahan dan akhir shift kerja. f) Setelah selesai pengambilan contoh, debu pada bagian luar holder dibersihkan untuk menghindari kontaminasi. g) Filter dipindahkan dengan menggunakan pinset ke kaset filter dan dimasukkan ke dalam desikator selama 24 jam. 3.4.3 Penimbangan a) Filter blanko sebagai pembanding dan filter contoh ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik yang sama sehingga diperoleh berat filter blanko dan filter contoh masing-masing B2 (mg) dan W2 (mg). b) Catat hasil penimbangan berat filter blanko dan filter contoh sebelum pengukuran (lihat3.4.1.b) dan sesudah pengukuran pada formulir seperti pada Lampiran A.Masukan dalam rumus
(W2 W1 ) ( B2 B1 ) x 10 3 Q xt

Kadar debu =

Keterangan : W1 = Berat Filter sebelum pemaparan (mg) W2 = Berat Filter sesudah pemaparan (mg) B1 = Berat filter blangko sebelum pemaparan (mg) B2 = Berat filter blangko sesudah pemaparan (mg) Q t = Kecepatan alir (m3/menit) = Waktu Pemaparan (menit)

Satuan kadar debu adalah gr/m3

BAB III HASIL Setelah dilakukan pemaparan, didapatkan hasil sebagai berikut: Diketahui : B1 = 0,8227 gr + 0,8238 gr + 0,8237 gr 3 = 0,8234 gr = 823,4 mg B2 = 0,8283 gr + 0,8283 gr + 0,8288 gr 3 = 0,8284 gr = 828,4 mg W1 = 0,8032 gr + 0,8054 gr + 0,8065 gr 3 = 0,8050 gr = 805 mg W2 = 0,8143 gr + 0,8139 gr + 0,8141 gr 3 = 0,8141 gr = 814,1 mg Q t = 25 cfm = 0,708 m3/menit = 15 menit
(W2 W1 ) ( B2 B1 ) x 10 3 Q xt
(814,1 805) ( 828,4 823,4 ) x 10 3 0,708 x15
9,1 5 4,1

Kadar debu = =

3 = 10,62 x 10

3 = 10,62 x 10

= 386

m3

Kadar debu sebesar 386

m3

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan didapatkan hasil pengukuran kadar debu di lingkungan kampus 7 JKL Purwokerto adalah 386 mg/m3, suhu 270C, kecepatan angin 0,5 m/s. Untuk kadar debu di lingkungan kampus 7 JKL Purwokerto diperbolehkan dengan peraturan Kepmenkes 829 Tahun 1999 di kawasan pemukiman debu dengan tentang Standar pencemaran debu

diameter kurang dari 10 mg maksimum 150g/m 3.Debu maksimum 350 mm 3/m2 per hari. Kadar debu lingkungan Kampus JKL Purwokerto dibawah nilai ambang batas persyaratan kawasan pemukiman. Lokasi sampling yang diukur berada parkiran dekat kantin, saat melakukan pengukuran tidak ada aktifitas kendaraan lewat di jalan kampus dan tidak ada aktifitas mahasiswa kuliah. Lokasi sampling berada di dataran tinggi daerah Baturaden ,sedangkan kawasan industri dan jalan raya yang berpotensi menjadi sumber pencemar udara jauh dari lokasi sampling. Kecepatan angin yang terukur di wilayah samping juga kecil yaitu 0,5 m/s. Kedua hal ini meyebabkan kemungkinan adanya pencemar yang berasal dari tempat lain ke wilayah sampling menjadi kecil sehingga pencemar yang ada di wilayah sampling hanya berasal dari sumber yang berada di wilayah sampling saat sampling di laksanakan sehingga kadar pencemar di wilayah sampling menjadi rendah

BAB IV KESIMPULAN & SARAN

KESIMPULAN 1. Purwokerto rendah yaitu 386 mg/m 2. ada aktifitas mahasiswa 3. sampling. SARAN 1. Mengurangi sampah rumah tangga dan industri. Tindakan ini memang tidak mudah dilakukan. Sosialisasi mengenai program ini sudah berlangsung puluhan tahun namun nampaknya masih jauh dari harapan. Sampah yang semakin banyak dan tidak didaur ulang akan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dimana TPA memiliki banyak kandungan methan yang tinggi. 2. Lakukan hemat energi.Melakukan hemat energi misalnya dengan mengurangi penggunaan lampu yang tidak diperlukan, pemakaian televisi yang terus menerus agak dikurangi dll. Hemat energi akan juga menghemat penggunaan batubara di PLTU. 3. Kurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang meningkatkan efek rumah kaca. Mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia seperti CFC untuk AC dan penggunaan bahan kimia lainnya juga diharapkan akan mengurangi efek rumah kaca.
3

Kadar

debu

di

lingkungan

JKL

Pada saat pengukuran sampling tidak

Kawasan industri dan jalan raya yang berpotensi menjadi sumber pencemar udara jauh dari lokasi

4. Kembangkan energi alternative. Mengembangkan energi alternatif sangat penting. Energi yang berasal dari angin, sinar matahari, air dll sebenarnya sangat potensial digunakan di Indonesia.. Masih banyak cara-cara lain yang ditempuh untuk mengurangi efek rumah kaca seperti, kebijakan penggunaan bensin, pengurangan daerah-daerah tandus dll. Cara-cara yang sederhana hingga yang rumit harus dilakukan namun dengan cara simultan dari mulai perencanaan hingga evaluasi terhadap seluruh kebijakan lingkungan hidup di Indonesia. Tindakan ini dapat dilakukan misalnya penyadaran terhadap kalangan siswa didik melalui pendidikan lingkungan hingga implementasi pada kebijakan nasional mengenai pendidikan lingkungan.