Anda di halaman 1dari 70

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kecelakaan kerja masih menjadi permasalahan di Indonesia. Menurut data

ILO secara global, diperkirakan sekitar 337 juta kecelakaan kerja terjadi tiap
tahunnya yang mengakibatkan sekitar 2,3 juta pekerja kehilangan nyawa. Selain
itu, data PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) memperlihatkan bahwa
sekitar 0,7 persen pekerja Indonesia mengalami kecelakaan kerja yang
mengakibatkan kerugian nasional mencapai Rp 50 triliun (ILO, 2011).
Angka kecelakaan kerja di Indonesia yang tercatat berdasarkan Laporan
Kemenakertrans yang dikutip oleh Rosidi, dkk. (2011) menyebutkan pada tahun
2009 terdapat 96.314 kasus dan tahun 2010 65000 kasus. Dikutip dari laporan
Kemenakertrans (2012) tahun 2011 terdapat 99.491 kasus kecelakaan kerja.
Berdasarkan data World Safety (Suma’mur, 2009), setiap tahun terjadi 270
juta kecelakaan kerja, dengan korban meninggal sebanyak 350.000 orang
pertahunnya. Kehilangan hari kerja karena kecelakaan tersebut sebanyak 4 atau
lebih hari kerja. Insidensi penyakit akibat kerja tercatat 160 juta kasus setiap
tahunnya. Kematian oleh kecelakaan dan penyakit akibat kerja perharinya 5000
orang, atau sekitar 4% Gross Domestic Product (GDP) atau US$ 1.25 1.353 juta
hilang oleh karena membiayai cidera, penyakit dan kematian.
Terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja tentu saja menjadikan
masalah yang besar bagi kelangsungan sebuah perusahaan. Kerugian yang diderita
tidak hanya berupa kerugian materi, namun lebih dari itu adalah timbulnya korban
jiwa. Kehilangan sumber daya manusia merupakan kerugian yang sangat besar
karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh
teknologi apapun. Kerugian yang berlangsung dari timbulnya kecelakaan dan

2

penyakit akibat kerja adalah biaya pengobatan dan kompensansi. Biaya tidak
langsung adalah kerusakan alat-alat produksi, penataan manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja yang baik, penghentian alat produksi, dan hilangnya waktu
kerja (Helliyanti, 2009).
Menurut Santoso (2004), kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak
diduga dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah
diatur. Kecelakaan terjadi tanpa disangka-sangka dalam sekejap mata, dan setiap
kejadian terdapat empat faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai, yakni:
lingkungan, bahaya, peralatan dan manusia.
Pada Undang-Undang RI No. 13 tahun 2003 dinyatakan dalam
mempekerjakan tenaga kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup
kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja.
Berbagai upaya dilakukan perusahaan sebagai tempat kerja untuk melindungi
pekerjanya dari bahaya kecelakaan kerja. Perilaku tidak aman merupakan salah
satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja, hal ini menjadi penting untuk
menghindari terjadinya kematian maupun kerugian yang ditimbulkan.
Teori Bird menyatakan bahwa nearmiss yang terus berulang dan
kebanyakan disebabkan karena unsafe act atau unsafe behavior dapat
meningkatkan risiko kecelakaan kerja yang lebih serius. Hal ini didukung oleh
National Safety Council (NSC) (2011) melakukan riset yang menghasilkan fakta
penyebab kecelakaan kerja 88% adalah adanya unsafe behavior, 10% karena
unsafe condition dan 2% tidak diketahui penyebabnya. DuPont (2005) juga
menemukan kecelakaan kerja yang selama ini terjadi diakibatkan unsafe act
sebesar 96% dan unsafe condition sebesar 4%. Unsafe behavior merupakan

3

perilaku kelalaian oleh manusia yang sering kali mengakibatkan terjadinya
kecelakaan di tempat kerja (Cooper, 2009).
Mencegah kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan fokus mengurangi
unsafe behavior. Identifikasi unsafe act atau unsafe behavior dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Salah satunya dengan melakukan pendekatan perilaku yaitu
Behavior Based Safety (BBS). Menurut Cooper (2009), Behavior Based Safety
(BBS) adalah sebuah proses yang menciptakan kemitraan keamanan antara
manajemen dan tenaga kerja dengan fokus yang berkelanjutan terhadap perhatian
dan tindakan setiap orang, dan orang lain, serta perilaku selamat.
Penelitian oleh Yusnita Handayani (2011) menunjukkan adanya aktivasi
program BBS di PT Denso Indonesia berhasil menurunkan frekuensi unsafe
behavior dan meningkatkan frekuensi safe behavior pada pekerja di bagian
radiator. Angka kecelakaan kerja PT Denso Indonesia juga mengalami penurunan
sebesar 66,67–88,89%, sehingga aktivasi BBS di perusahaan dapat dijadikan salah
satu solusi untuk mencegah dan mengurangi kejadian kecelakaan kerja.
PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS) merupakan salah satu produsen
plat baja terkemuka di Indonesia yang cara memproduksinya dengan cara di roll.
PT. GDS mampu memproduksi plat baja hingga total 350.000 ton per tahun. Plat
baja produksi PT. GDS tidak hanya dipasok ke pasar domestik, namun juga
diekspor keluar Negeri di antaranya Asia, Timur Tengah, Eropa, Australia, dan
Kanada. PT. GDS terus berkembang karena produk baja mereka bisa dikatakan
bagus. Hal tersebut disebabkan karena PT. GDS mengambil bahan baku dari
China dan Rusia dengan kualitas baja yang sangat padat dan bagus.
PT. GDS tentunya memiliki aktivitas kerja yang berat dan berisiko tinggi
terhadap kecelakaan kerja. Aktivitas kerja yang dimaksud misalnya, pengelasan,

GDS tahun 2013-2015 Periode Kecelakaan Kerja Tahun 2013 11 kasus Tahun 2014 11 kasus Tahun 2015 (sampai dengan bulan Agustus) 10 kasus Sumber: PT. Selain itu juga dibentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). sedangkan jumlah angka kecelakaan kerja yang telah terjadi sampai pada bulan Agustus tahun 2015 sebanyak 10 kecelakaan. GDS terhadap kegiatan keselamatan kesehatan kerja (K3). GDS telah melaksanakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Menurut rekapitulasi divisi Energi & K3L di lapangan. maka dibentuklah divisi Energi & K3L. dan lain-lain berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja seperti terluka. pada tahun 2014 sebanyak 11 kecelakaan. penyebab kecelakaan kerja tersebut rata-rata disebabkan oleh . GDS. pengangkutan plat. pemotongan slab. terjepit.GDS.4 menggerinda. PT. Dapat dilihat bahwa terjadinya peningkatan angka kejadian kecelakaan kerja pada pekerja di PT. terkena gram. sebagai upaya dan komitmen PT. Oleh karena itu.1 Kecelakaan Kerja di PT. terjatuh. Tabel 1. dan dibuatlah kebijakan mengenai K3 di perusahaan. hingga ledakan dan kebakaran. jumlah angka kecelakaan kerja yang telah terjadi pada tahun 2013 sebanyak 11 kecelakaan. Dan pada tahun 2014. terpeleset. GDS (2015) Menurut analisis kecelakaan kerja oleh divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) PT.

penyebab dari kecelakaan kerja tersebut adanya unsafe condition seperti kondisi lingkungan yang kurang rapi dan bersih. Selain unsafe action. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk.1 Tujuan Residensi Tujuan Umum Menggambarkan kecelakaan kerja yang terjadi di PT. 1. tertimpa alat kerja. Mengetahui incidence rate dan severity rate di PT.3.3. (GDS) periode tahun 2013-2015. (GDS) periode tahun 2013-2015. rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1.4 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja di PT. (GDS)? 2.4. GDS. terjepit plat. 2. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas. kurangnya kewaspadaan akan bahaya seperti terkena gram dari gerinda. periode tahun 2014. sudah sepatutnya PT. Seberapa banyak incidence rate dan severity rate di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. 1. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.2 Tujuan Khusus 1. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.3 1.1 Manfaat Residensi Bagi Mahasiswa . GDS memfokuskan terhadap perbaikan unsafe action dalam upaya mengurangi jumlah angka kecelakaan kerja dan juga dalam rangka meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di PT. Oleh karena itu. Faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja di PT. (GDS) periode tahun 2014? 1. 1.5 adanya unsafe action yang dilakukan pekerja seperti tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Gunawan Dianjaya Steel.1 Bagi Perusahaan/Institusi 1.4.4. 1. (GDS) periode tahun 2014. Mempelajari tingkat incidence rate dan severity rate di PT. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang lebih aplikatif dalam bidang kesehatan masyarakat. (GDS) periode tahun 2013-2015.2 Bagi Program Studi S2 K3 Terbinanya suatu jejaring kerjasama antara institusi tempat Residensi dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara substansi akademik dengan kompetensi yang dibutuhkan di tempat kerja. 3.6 1. 4. . 1. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Tbk terkait masalah Kesehatan dan Keselamatan kerja. 2. Mahasiswa dapat berhadapan langsung dengan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan dan keselamtan kerja di lingkungan kerja. 3. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. Pengembangan kemitraan antara FKM Unair dengan PT. untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang K3. 4. 5. Memperoleh masukan tentang pemecahan masalah yang ada dengan PT. Memberikan gambaran tentang faktor penyebab kecelakaan kerja di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Mahasiswa menjalin hubungan langsung dengan personal di dunia kerja dan dunia usaha sebagai bekal jejaring sosial di kemudian hari. 2. Mahasiswa mendapatkan pengalaman bekerja dalam memecahkan suatu permasalahan. Mahasiswa mendapatkan pengalaman merencanakan dalam tim untuk dan memobilisasi sumber daya untuk intervensi.

orang atau radiasi yang mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya” (Mayendra. atau kerugian lainnya (Standar AS/NZS 4801:2001). kimia. Pengertian ini digunakan juga untuk kejadian yang dapat menyebabkan merusak lingkungan (OHSAS 18001:2007). Environment (PEME) yang saling berinteraksi dan bersamasama menghasilkan suatu produk atau jasa. kecelakaan terjadi karena adanya kontak dengan suatu sumber energi seperti mekanis. Hubungan . kesakitan.7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Menurut Heinrich.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah semua kejadian yang tidak direncanakan yang menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera. (1980). Pengertian Kecelakaan Kerja menurut Sumakmur (1989) adalah suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan perusahaan. Material. Sementara itu. bahan. kinetik. kecelakaan Kerja didefinisikan sebagai kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera atau kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau kejadian yang dapat menyebabkan kematian. Equipment. Sedangkan menurut Frank Bird dalam Ramli (2010). kerusakan. 2009). Dalam proses terjadinya kecelakaan terkait 4 (empat) unsur produksi yaitu People. alat atau lingkungan. Petersen dan Roos. fisis yang dapat mengakibatkan cedera pada manusia. “Kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek. menurut OHSAS 18001:2007.

yakni kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau unsafe condition misalnya panas. pencahayaan kurang. ngantuk. Tindakan tidak aman atau unsafe action. d. Dalam ini kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: a. . tidak terencana tidak dikehendaki dan menimbulkan kerugian baik jiwa maupun harta yang disebabkan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan yaitu ketika pulang dan pergi ke tempat kerja melalui rute yang biasa dilewati. Cedera. Menurut hasil penelitian yang ada.1 Teori Kecelakaan Kerja Teori Domino Heinrich Heinrich (1941) meneliti penyebab kecelakaan. Kondisi kerja. kelelahan. e. dan sebagainya. 2. petir dan sebagainya. Kelalaian manusia.8 kerja disini berarti bahwa kecelakaan terjadi karena akibat dari pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. 85 % dari kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia. silau.2 2.2. memudahkan rangkaian berikutnya. b. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kecelakaan akibat kerja adalah suatu peristiwa yang tidak terduga. Kecelakaan. Munculnya teori Heinrich menandai era perkembangan manajemen modern. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja dan pada umumnya disertai kerugian. misalnya karena kelengahan. kecelakaan yang mengakibatkan cidera/luka atau kecacatan bahkan kematian. yakni perilaku pekerja itu sendiri yang tidak memenuhi keselamatan. c. tindakkan berbahaya yang disertai bahaya mekanik dan fisik lain.

Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. Menurut penelitian yang dilakukannya. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman (unsafe action) sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan.9 Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. Dengan penjelasannya ini. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama.2 Teori Loss Causation Model Pada awalnya Heinrich dalam teori dominonya mengemukakan bahwa penyebab kecelakaan didasarkan atas kesalahan manusia (Human Error) sebanyak .1 Teori Domino Heinrich Menurut Heinrich. Jika satu kartu jatuh. Sumber: Ramli (2010) Gambar 2. 2. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan.2. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah dikenal sebelumnya. jika satu bangunan roboh.

dan 2% merupakan takdir Tuhan.10 88% kasus kecelakaan disebabkan oleh unsafe action. bahwa kecelakaan disebabkan oleh banyak faktor yang mendukung untuk terjadinya kecelakaan.2 Teori Loss Causation Model Berdasarkan gambar 2. 10% disebabkan oleh unsafe condition. c) Inadequate Compliance – with Standards . standar yang tidak jelas atau standar yang tidak baik. Namun teori tersebut dikembangkan oleh Frank Bird Jr yang dalam bukunya berjudul Practical Loss Control Leadership. Sumber: Bird and Germain (1990) Gambar 2.2 diatas menyebutkan bahwa kecelakaan disebabkan atas beberapa faktor berikut: 1) Manajemen yang kurang terkendali (Lack of Control) Kurangnya pengawasan dari pihak manajemen terhadap berjalannya penerapan aspek-aspek keselamatan kerja di lapangan. seperti: a) Inadequate Programe Hal ini dikarenakan program yang tidak bervariasi yang berhubungan dengan ruang lingkup. b) Inadequate Programe Standards Tidak spesifiknya standard.

contohnya: pengetahuan yang kurang. b) Kurang pendidikan 1) Kurang pengalaman. dan motivasi yang kurang untuk bekerja sesuai dengan peraturan. 2) Penyebab Dasar (Basic Causes) Adalah faktor dasar yang menyebabkan kecelakaan atau faktor utama dari terjadinya kecelakaan. 2) Salah pengertian terhadap suatu perintah. Penyebab immediate causes ini meliputi faktor unsafe action dan unsafe condition. stres. seperti: standar mutu pekerjaan yang tidak memadai. Faktor dasar tersebut dibagi menjadi dua faktor dasar (basic factor). Tindakan tidak aman dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut: a) Ketidakseimbangan fisik tenaga kerja. pemakaian yang tidak normal dan lain-lain. . 4) Kepekaan panca indera terhadap sesuatu. 2) Cacat fisik. b) Job Factor (Faktor Pekerjaan) Adalah faktor yang berasal dari pengawasan pihak manajemen terhadap jalannya program keselamatan dan kesehatan kerja. 3) Cacat sementara. a) Human Factor (Faktor Manusia). a) Tindakan tidak aman (unsafe action) Tindakan tidak aman (unsafe action) adalah tindakan yang dapat membahayakan pekerja itu sendiri maupun orang lain yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Adalah faktor yang berasal dari dalam diri setiap manusia sendiri. 3) Penyebab Langsung (Immediate Causes) Suatu kejadian yang secara cepat memicu rerjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. seperti: 1) Posisi tubuh yang menyebabkan mudah lelah. kemampuan yang kurang. 3) Kurang terampil.11 Kurangnya pemenuhan standar merupakan penyebab yang sering terjadi. desain dan maintenance yang tidak baik.

4) Peristiwa Kecelakaan (Incident) Terjadinya kontak dengan sumber energi (energi kinetik. f) Mengangkut beban yang berlebihan. beban berlebih. harta benda. e) Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) tidak benar. 7) Kondisi suhu yang membahayakan. 3) Pengamanan gedung yang kurang standar. 6) Pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau berlebihan. radiasi. 4) Terpapar bising. kontak sumber energi berbahaya. Kondisi tidak aman dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut: 1) Peralatan yang sudah tidak layak pakai. Dalam Loss Caution Model terlihat bahwa kehilangan (loss) apa saja terjadi karena akibat dari ketidakseimbangan yang dialami oleh sesuatu. 2) Ada api di tempat kerja. 8) Sifat pekerjaan yang mengandung potensi bahaya.12 4) Salah mengartikan SOP (Standard Operational Procedure) sehingga mengakibatkan kesalahan pemakaian alat kerja. kimia. akustik. Ketidakseimbangan terjadi karena ada sesuatu kejadian yang tidak normal . dan lain-lain) yang melebihi nilai ambang batas kemampuan badan. elektrik. panas. 5) Kerugian (Loss) Kehilangan manusia. c) Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan. 5) Terpapar radiasi. Misalnya. atau lingkungan yang tidak aman dan membahayakan. proses produksi dan image pada perusahaan. material. Biaya yang ditanggung dari kejadian kecelakaan seperti fenomena gunung es. b) Kondisi tidak aman (unsafe condition) Kondisi tidak aman (unsafe condition) adalah kondisi di lingkungan kerja baik alat. g) Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja. d) Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya.

maka potensi karyawan/pekerja cidera sangat bisa terjadi. Suatu perusahaan dengan tingkat kejadian hampir celaka (nearmiss) tinggi.3 dasarnya yang datang dari kontrol yang lemah. akan sangat berpotensi mengalami kecelakaan yang berakibat pada kerusakan alat (property damage). Dalam teori yang dikemukakan oleh Frank E. Sumber: Bird and Germain (1990) Gambar 2. Piramida Kecelakaan Piramida kecelakaan adalah segitiga yang menggambarkan tingkatan jumlah kecelakaan yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih parah. Dan begitu juga dengan kejadian yang berakibat cidera ringan pada karyawan/pekerja.13 karena adanya sebab-langsung. kemudian kalau ditelusuri ada sebab-sebab 2. jika statistik menunjukkan karyawan/pekerja banyak yang mengalami cidera ringan. Bird Jr. maka kecelakaan yang berakibat fatal sangat mungkin bisa terjadi. ini bahwasanya satu kecelakaan serius/fatal akan diawali oleh beberapa kecelakaan sebelumnya.3 Piramida Kecelakaan . Saat tingkat kerusakan alat akibat kecelakaan menunjukkan angka yang tinggi.

1 Incidence Rate Incidence rate digunakan untuk menginformasikan mengenai presentase jumlah kecelakaan yang terjadi ditempat kerja. 1996). maka diperlukan adanya standarisasi data (Syukri Sahab. peralatan dan tekhnologi yang digunakan. Keluaran yang diukur adalah data kecelakaan. skala operasi dan sebagainya. seperti jumlah pekerja. Rumus: 2.14 2. maka perlu diperhitungkan juga perbedaan yang mugkin disebabkan oleh lainnya jumlah tenaga kerja yang bekerja diantara perusahaan tersebut.4 Perhitungan Tingkat Kecelakaan Untuk mengetahui dan membandingkan jumlah kecelakaan pada suatu perusahaan terhadap perusahaan lainnya dalam jenis indrustri yang sama. 2. Dalam hal ini dilakukan dengan menghitung angka frekuensi kecelakaan yaitu banyaknya kecelakaan untuk setiap jam-manusia (Suma’mur. maka perlu adanya metode pengukuran kinerja di bidang keselamatan dan kesehatan kerja.4. Agar bia dibandingkan satu sama lain. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh beberapa variabel. Agar bisa dilakukan perbandingan.2 Rasio Keparahan Cidera (Severity Rate) . 1997).4.

Sesuai dengan sifat dan skala resiko K3 organisasi. 7. dan dipelihara. OHSAS 18001 mensyaratkan ditetapkannya kebijakan K3 dalam organisasi oleh manajemen puncak. kebijakan merupakan roh dari sebuah sistem. Didokumentasikan. Tersedia bagi pihak lain yang terkait.5 Kebijakan dan Undang-Undang Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan ketentuan perundangan dan memiliki landasan hukum yang wajib dipatuhi semua pihak. Ditinjau ulang secara berkala untuk memastikan bahwa masih relevan dan sesuai dengan organisasi. Dikomunikasikan kepada seluruh pekerja. 5. pengusaha atau pihak yang terkait lainnya. 3. Mencakup komitmen untuk peningkatan berkelanjutan. Termasuk adanya komitmen untuk sekurangnya memenuhi perundangan 4. 1. K3 yang berlaku. 2) Undang-undang No. 2. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Ada beberapa peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. diimplementasikan. Rumus: 2. 6. . Kriteria kebijakan K3 adalah sebagai berikut. beberapa diantaranya: 1) Undang-undang No.15 Indikator hilangnya hari kerja akibat kecelakaan kerja untuk per sejuta jam kerja orang. Mutu dan lain-lain. baik pekerja. Kebijakan merupakan persyaratan utama dalam semua sistem manajemen seperti Manajemen Lingkungan. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Oleh karena itu.

Surabaya.1 Lokasi Residensi Residensi ini dilaksanakan di PT.16 BAB 3 METODE KEGIATAN RESIDENSI 3.2 Kegiatan Residensi Pelaksanaan residensi berlangsung pada tanggal 03 Agustus 2015 – 31 Agustus 2015. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Jalan Margomulyo.1 Rincian Kegiatan Residensi Berdasarkan Waktu (Tahapan Minggu) AGUSTUS SEPTEMBER KEGIATAN I Persiapan Pelaksanaan Residensi Supervisi Pembimbing Pembuatan Laporan II III IV I II III IV . 3. Adapun kegiatan residensi yang dilakukan adalah: Tabel 3. Tandes 29 A.

Minggu ke- 1. 13.2 Rincian Pelaksanaan Kegiatan Residensi Tanggal Log Book 3 Agustus 2015 .Diskusi penentuan tema residensi dengan pembimbing lapangan 2.Pengenalan area produksi . 8. 12. 3 . Surabaya. 10 Agustus 2015 Kunjungan ke gas cutting slab 11 Agustus 2015 Kunjungan ke gas cutting plate 12 Agustus 2015 Kunjungan ke reheating furnace 13 Agustus 2015 Kunjungan ke descaler 14 Agustus 2015 Ijin ke kampus 18 Agustus 2015 Kunjungan ke gudang hasil produksi 19 Agustus 2015 Kunjungan ke diving shear 20 Agustus 2015 Kunjungan ke cooling bed 21 Agustus 2015 Kunjungan ke TPS limbah 7. Tabel 3. 7 Agustus 2015 Kunjungan ke gudang bahan baku slab 6. adalah: No. 14. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. 1 4 Agustus 2015 Pembuatan activity plan residensi 3. 10. 5 Agustus 2015 Pembuatan activity plan residensi 4.17 Seminar/ujian Perbaikan laporan Adapun rincian pelaksanaan kegiatan residensi yang dilakukan di PT. mekanik 5.Pemaparan profil perusahaan . Libur 11. 6 Agustus 2015 Kunjungan ke workshop. 2 9.

18

15.
16.
17.

4

18.

24 Agustus 2015

Pengecekan APAR

25 Agustus 2015

Pengecekan Hydrant

26 Agustus 2015

Safety Patrol

27 Agustus 2015

Safety Patrol

Lanjutan
No. Minggu ke-

Tanggal

Log Book

19.

4

28 Agustus 2015

Pembuatan laporan

20.

5

31 Agustus 2015

Pembuatan laporan

3.3

Metode Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan residensi dilakukan dengan mengumpulkan seluruh data yang

dibutuhkan untuk memberikan gambaran secara jelas untuk mengungkapkan
suatu masalah yang ada di lapangan sehingga dapat diidentifikasi dan dicari
penyelesaiannya. Ruang lingkupnya meliputi penilaian risiko kesehatan dan
keselamatan kerja dengan menggunakan IBPR (Identifikasi Bahaya, Penilaian
dan Pengendalian Risiko).
IBPR adalah bentuk metode penilaian dan pengendalian risiko yang
dimiliki oleh PT. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. yang bertujuan untuk
memastikan semua risiko yang mungkin terjadi dapat teridentifikasi, dapat
dikelola, dikendalikan secara tepat dan termitigasi. Selain itu, terdapat
penghitungan tingkat incidence rate dan severity rate di PT. Gunawan Dianjaya
Steel (GDS) Tbk. tahun 2014. Hasil dari penghitungan tersebut berupa angka,
tidak menunjukkan tingkat keparahan.
3.4

Teknik Pengumpulan Data

19

Adapun Teknik Pengumpulan Data yang dilakukan di PT. Gunawan
Dianjaya Steel Tbk. Surabaya, Adalah :

1. Observasi Lapangan
Objek yang diobservasi adalah implementasi K3 di seluruh area produksi
pembuatan Plate di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Surabaya.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan bagian K3 dari PT. Gunawan Dianjaya Steel
Tbk. Surabaya dan pekerja mengenai masalah K3 (Kesehatan dan
Keselamatan Kerja), dan operasional kerja.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan cara mempelajari dokumen dan catatancacatan perusahaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan
keselamatan kerja pada bagian K3, prosedur kerja operasional yang
berhubungan dengan bahaya di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.
Surabaya.
3.5

Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan peneliti

untuk membantu peneliti memperoleh data yang dibutuhkan (Arikunto,2010).
Instrumen pengumpulan data ini meliputi :
a. Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data-data sekunder
yang ada di lokasi penelitian yang terkait yaitu dengan melihat catatan atau
data-data yang terkait dalam penelitian. Pada umumnya data yang
tercantum dalam berbagai jenis dokumen itu merupakan satu-satunya alat
untuk mempelajari permasalahan tertentu antara lain tidak dapat
diobservasi lagi dan tidak dapat diingat lagi.

20

3.6

Teknik Penyajian dan Analisis Data
Peserta residensi dalam menyusun laporan ini menggunakan analisis

deskriptif, data tersebut diperoleh dan dianalisis dengan dasar teori yang ada,
sehingga memberikan suatu gambaran yang cukup jelas. Selanjutnya diteliti
kemudian diambil suatu kesimpulan dari hasil analisis tersebut, dan atas
kesimpulan tersebut dianjurkan saran untuk perbaikan yang diharapkan menjadi
bahan dan pertimbangan bagi perusahaan.

BAB 4
HASIL KEGIATAN RESIDENSI
4.1

Gambaran Umum PT. Gunawan Dianjaya Steel, Tbk.

Plat baja produksi GDS tidak hanya dipasok ke pasar domestik.1989 tanggal 11 Desember 1989. Anggaran Dasar Perusahaan beberapa kali mengalami perubahan. GDS mampu memproduksi plat baja hingga total 350.Th. Timur Tengah. SH No. dan . GDS terus berupaya untuk mewujudkan komitmen atas pertumbuhan melalui inovasi berkelanjutan.HT. SH. Sesuai Anggaran Dasar Perusahaan. Tbk. Eropa. GDS senantiasa siap menghadapi tantangan industri baja di lingkup global. GDS memulai kegiatan produksi komersial sejak akhir tahun 1993 guna melayanipasar ekspor dan domestik. Pendirian perusahaan tercatat dalam akta notaris Jamilah Nahdi. Australia. Akta tersebut masih belum mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Didukung teknologi four high rolling terkini dan sumber daya manusia berkualitas.01. Perubahan terakhir tercatat pada Akta Notaris Dian Silviyana Khusnarini. C-2.11174. GDS merupakan salah satu industri rolling mill plat baja yang terkemuka di kawasan ASEAN. namun juga diekspor keluar Negeri di antaranya Asia. Hingga kini. (GDS) didirikan pada tahun 1989 di Surabaya. Pada tahun 2004 status GDS mengalami perubahan menjadi Penanaman Modal Asing sesuai dengan Surat Persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal dengan No.01.21 PT Gunawan Dianjaya Steel. 6 tanggal 8 April 1989 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan surat keputusan No. 52 tanggal 26 Juni 2014. mengenai perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi. ruang lingkup kegiatan perusahaan adalah bidang industri penggilingan pelat baja canai panas (Hot Roll Steel Plate). 15/V/PMA/2004 tanggal 26 Februari 2004. Terletak di atas lahan seluas kurang lebih 20 hektar.000 ton per tahun. Sejak didirikan. No.

Hal tersebut disebabkan karena GDS mengambil bahan baku dari China dan Rusia dengan kualitas baja yang sangat padat dan bagus. f. GDS terus berkembang karena produk baja mereka bisa dikatakan bagus. Training Ahli K3 dan SMK3 kepada karyawan dan manajemen.1 Visi Visi dan Misi Perusahaan “Menjadi industri rolling mill plat baja canai panas terkemuka di lingkungan negara-negara ASEAN yang senantiasa memegang komitmen atas mutu produk dan waktu serah (delivery time)”. antara lain: a.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan . Pada tahun 2014 Perusahaan telah mengikutsertakan sejumlah karyawannya untuk mengikuti pelatihan. Training mengenai manajemen dan audit energi.22 Kanada. Training mengenai manajemen lingkungan hidup. c. seminar. b. Seminar pengembangan di bidang IT. Seminar Perpajakan terbaru. Misi “Melalui pengelolaan perseroan yang transparan dan akuntabel disertai dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan teknologi produksi yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan efisien”. e. dan sosialisasi peraturanperaturan yang diadakan lembaga swasta maupun pemerintah. 4. Sosialisasi Peraturan OJK dan BEI.1. d. 4.

1 Struktur Organisasi PT. setara dengan Corporate Secretary dan Internal Audit. Sedangkan untuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) terletah dibawah arahan langsung dari direktur. dan langsung dibawah naungan Direktur perusahaan. Divisi ini terletak dibawah divisi QA/QC General Manager.23 Sumber: PT. GDS Pendidikan 2014 2013 Sa Sarjana 54 56 A Ahli Madya 8 8 Se Sekolah Menengah Umum 356 349 Se Sekolah Menengah Pertama 48 48 Se Sekolah Dasar 20 20 Ju Jumlah 486 481 Sumber: PT. pada tahun 2013 sebanyak 481 karyawan. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.3 Komposisi Karyawan Tabel 4. GDS tahun 2014 Pada struktur organisasi PT. yang diketuai oleh Purnomo.1. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. GDS Jumlah total karyawan yang dimiliki PT. 4. GDS (2014) Gambar 4. Sedangkan pada tahun 2014 terjadi peningkatan jumlah karyawan sebanyak 5 karyawan. sehingga jumlahnya menjadi 486 karyawan. Dari jumlah karyawan pada tahun 2014 tersebut. tingkat . Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) termasuk dalam divisi Energi & K3L.1 Tingkat Pendidikan Karyawan PT..

1.24 pendidikan karyawan paling banyak pada tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) sejumlah 356 karyawan. 4. sedangkan tingkat pendidikan paling sedikit yaitu Alih Madya sebanyak 8 karyawan.4 Struktur Organisasi Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) PT. Selain komposisi tersebut. . Sumber: PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Perseroan juga menggunakan tenaga kerja kontrak (outsourcing) sebanyak 48 karyawan. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.2 Struktur P2K3 PT. GDS (2014) Gambar 4.

tim P3K dan tim Evakuasi dan Pemulihan. Pada umumnya berisi pernyataan kebijakan. instruksi. terdapat sekretaris yang berada langsung setelah ketua dan wakil ketua P2K3. Selain anggota. dimana tim tanggap darurat tersebut terdiri dari beberapa karyawan yang tersebar pada masing-masing divisi. pemasok. Tbk Surabaya Kebijakan K3 dari suatu organisasi adalah merupakan pernyataan yang menyebarluaskan kepada umum dan ditandatangani oleh manajemen senior sebagai bukti pernyataan komitmennya dan kehendaknya untuk bertanggung jawab terhadap K3. pelanggan bahwa K3 adalah bagian yang tak terpisahkan dari seluruh operasi. Tim tanggap darurat dibagi menjadi 3 kelompok. Kemudian terdapat 12 anggota didalam P2K3.1. 4. Kebijakan keselamatan kerja merupakan pernyataan tentang cita-cita. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjelaskan kepada karyawan. pejabat eksekutif dan memberikan garis-garis besar kegiatan. Kebijakan dibuat dan disetujui pada level teratas oleh direktur utama. didalam P2K3 juga memiliki tim tanggap darurat.25 Pada struktur P2K3 PT. diatas. pekerja. .5 Kebijakan K3 PT. Gunawan Dianjaya Steel. tamu. yaitu tim pemadam kebakaran. Komitmen ini selanjutnya diperkuat dengan manajemen yang secara aktif ikut serta dalam peninjauan ulang dan peningkatan kinerja K3 secara berkesinambungan. keragaman dan pengecualian. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. tujuan dan prinsip-prinsip yang mengatur organisasi perusahaan. penjelasan untuk situasi yang kompleks atau kritis dan bentuk-bentuk penerapan atau pelaporan.

dan dipelihara kesinambungannya. Berikut penjelasan: 1.1. Mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan melakukan penilaian dan pengendalian risiko untuk mengkaji operasional organisasi secara sistematis. Gunawan Dianjaya Steel Surabaya adalah sebagai berikut: 1. diterapkan. Penetapan Kebijakan K3 dan Sasaran dan Program K3 .26 Kebijakan K3 PT.6 Prosedur Tanggung Jawab Manajemen Dalam peraturan perusahaan telah di atur tentang tanggung jawab manajemen terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan K3. 2. Direktur Utama menunjuk Manager Quality Control sebagai Wakil Manajemen atau Management Representative. Mematuhi peraturan perundangan dan persyaratan lain baik penilaian internasional yang relevan dengan operasional organisasi. 4. Penunjukan Wakil Manajemen a. Tugas dan wewenang Wakil Manajemen adalah: c. b. 2. Memastikan bahwa sistem manajemen K3 disusun.

c. kebijakan K3. Setiap perubahan baik struktur organisasi. sasaran dan Program K3 maupun dokumen K3 harus dikomunikasikan kepada Wakil Manajemen sehingga integritas dari sistem dapat dijaga. 3.27 a. sesuai kebutuhan. Realisasi dari perbaikan K3 direkam dan disimpan oleh Sekretaris P2K3 dan dilaporkan kepada Wakil Manajemen dalam rapat tinjauan manajemen atau sebelum rapat dilaksanakan. b. e. Wakil manajemen mengkomunikasikan Kebijakan K3 dan sasaran dan Program K3 melalui poster maupun metode lain. 2) Kinerja pemasok yang dilakukan oleh Departemen Pembelian. Perusahaan menetapkan paling sedikit sebuah sasaran dan Program K3 yang terukur dan konsisten dengan Kebijakan K3 tersebut. f. Komunikasi Internal dan Rapat Tinjauan Manajemen . d. Direktur Utama menetapkan dan mengesahkan kebijakan K3. Salah satu dasar penetapan sasaran dan Program K3 adalah hasil analisis terhadap data dari: 1) Tingkat insiden K3 dari aktivitas yang ada di area Kantor/Perusahaan. Kesesuaian isi kebijakan mutu dengan tujuan perusahaan ditinjau pada saat rapat tinjauan manajemen dan dapat direvisi jika diperlukan. Safety Prosedur Pelatihan Tenaga Kerja.

9) Tujuan sasaran dan kinerja K3. 6) Adanya pelaporan. 8) Evaluasi kebijakan K3.28 a. b. Agenda rapat dapat meliputi. c. 5) Hasil kajian kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Jika rapat memutuskan untuk melakukan tindakan perbaikan atau peningkatan. dilaksanakan minimal 2 kali setahun dengan dipimpin oleh salah satu Direktur yang hadir. 2) Perubahan produk dan kegiatan produksi yang berpengaruh pada K3. epidemiologi. Tinjauan manajemen. 3) Perubahan struktur organisasi perusahaan. sebagai bagian dari komunikasi internal. 10) Hasil temuan audit K3. tetapi tidak terbatas. termasuk . maka rencana perbaikan tersebut harus dicatat di dalam notulen dan selanjutnya dituangkan ke dalam formulir CAR (Corrective Action Request) sesuai jenisnya. pada: 1) Tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar. 7) Adanya saran dan pekerja/buruh. 4) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Anggota. Terdapat beberapa program K3 yang dijalankan oleh divisi K3L di PT. Rapat K3. . karyawan lama yang pindah tugas atau dipromosikan. tamu. AK3. wakil manajemen dan wakil dari subkontraktor (jika dibutuhkan) dan hasilnya dicatat sebagai risalah rapat. dll. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.7 Program K3 di PT. subkontraktor dan pihak lain yang berkepentingan. Waka. Untuk penjelasan kegiatan komunikasi. Induksi K3. Contoh: HSE meeting.Shift.Sie. 2. partisipasi & konsultasi terdiri dari beberapa proses. Rapat K3 dilakukan dengan melibatkan Manajer. safety talk. pertemuan sasaran K3. seperti yang dijelaskan dibawah ini. Ka. 4. Ka. Surabaya yaitu kegiatan komunikasi.29 11) Evaluasi efektivitas penerapan SMK3 dan kebutuhan pengembangan SMK3.Sie. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. partisipasi & konsultasi dan kegiatan investigasi dan pelaporan insiden. Rapat tinjauan manajemen dilakukan sesuai prosedur tinjauan manajemen. Rapat Tinjauan Manajemen. untuk menjadi dasar dalam implementasi K3. 1. 3. Induksi K3 akan diberikan kepada karyawan baru.

6. Setiap perubahan Sistem Manajemen K3 yang akan berpengaruh di tempat kerja dikomunikasikan dan dikonsultasikan ke seluruh pegawai dan pihak eksternal yang terkait. 7. Setiap telepon. Papan Pengumuman K3. 5. Surat.30 4. Dilakukan oleh sekretaris P2K3 bila diperlukan dan sesuai kebutuhan serta kondisi yang ada untuk memfasilitasi agar proses operasional dapat berjalan lancar dan efektif. email. Email. Semua kegiatan komunikasi dan konsultasi akan didokumentasikan oleh perusahaan dengan menggunakan formulir konsultasi dan . Dilakukan oleh sekretaris P2K3 dengan cara melakukan kunjungan ke dinas K3 mengupdate dan memperbaharui jika terdapat peraturan perundangan yang terbaru atau dengan cara mengakses website dinas kementerian. atau surat yang terkait dengan K3 diserahkan ke document controller untuk didata dan didistribusikan sesuai keperluan serta ditindaklanjuti. Faximile. Papan pengumuman akan dipasang ditempat yang strategis agar mudah dibaca oleh seluruh pihak yang berkepentingan. Pertemuan dengan masyarakat sekitar dan pihak eksternal lainnya yang terkait. Telepon. faximile. Akses ke dinas setempat.

jika tidak tercover dengan formulir lainnya. dan ketidaksesuaian lain. bisa secara lisan dulu agar dapat ditangani segera. sakit akibat kerja. 1. Jika dalam pelaksanaan komunikasi atau konsultasi ditemukan suatu hal yang dapat memperbaiki kinerja K3 maka akan diajukan ke pihak manajemen untuk dijadikan sebagai agenda dalam rapat tinjauan manajemen. . tetapi dicatat dalam form Konsultasi & Komunikasi Log Book. Pelaporan Kecelakaan.31 dokumentasi. tidak harus dilaporkan tertulis. Pelaporan dilakukan secepatnya. b. Insiden & Ketidaksesuaian a. berikut rincian prosedut tersebut. Semua karyawan yang terlibat dalam kegiatan perusahaan wajib lapor kepada atasannya/wakilnya jika melihat kecelakaan. Pelaporan secara tertulis menggunakan form Laporan Investigasi Kecelakaan dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Insiden. Sakit. c. Kegiatan investigasi dan pelaporan insiden kecelakaan yang terjadi didalam dan diluar perusahaan PT GDS telah disusun dalam bentuk standar operasional prosedur yang telah disusun pada saat adanya komitmen perusahaan dalam keikut sertaan dalam program pemerintah yakni pada program Sistem Manajemen K3 (SMK3).

Insiden & Ketidaksesuaian a. 2) Teknik analisa data untuk mengetahui penyebab langsung. 6) Investigasi dilakukan oleh Wakil manajemen dan pihak yang terkait. Metode Investigasi mencakup: 1) Teknik pengumpulan data. 3) Tindakan perbaikan segera yang harus diambil. 2. Penanganan Kecelakaan. Investigasi Kecelakaan. b. insiden dan ketidaksesuaian harus diinvestigasi untuk mengetahui penyebabnya. Pencatatan stok obat-obatan P3K untuk memantau insiden dari penggunaan obat-obatan P3K. 5) Monitoring keefektifan tindakan perbaikan yang diambil. c. . penyebab dasar (faktor personal & pekerjaan) dan kontrol manajemen. Sekretaris P2K3 wajib mengambil tindakan begitu mendapat laporan atau melihat kecelakaan. insiden. Semua kecelakaan. Sakit.32 2) Kecelakaan ringan harus segera dilaporkan. e. sakit. atau ketidaksesuaian. Insiden & Ketidaksesuaian d. Sakit. 4) Rekomendasi perbaikan yang bersifat pencegahan.

2 Laporan ini akan dibuat oleh Sekretaris P2K3. d. mensirkulasi dan mendistribusikan sesuai dengan instruksi yang tertera dalam lembar bentuk laporan. Laporan-laporan kecelakaan.33 3. Laporan kejadian kecelakaan harus dibuat dalam bentuk/format K. investigasi dan analisis akan dirangkum dalam laporan bulanan keselamatan dan kerugian yang dibuat oleh Ketua K3. 5) Kejadian dengan potensi kecelakaan berat (nyaris celaka). Laporan Tertulis a. dan didiskusikan dalam rapat Safety .Surabaya. Pelaporan kepada DISNAKER hanya dibuat untuk kecelakaan yang terjadi pada karyawan perusahaan. Kepala Bagian terkait dan aslinya diserahkan kepada JAMSOSTEK Cab. b. Kepala Bagian terkait akan meninjau ulang laporan. sesegera mungkin dan tidak boleh lebih dari 24 jam setelah kejadian. 2) Kecelakaan tidak ada hari hilang. 4) Kebakaran. c. 3) Kerusakan harta benda dan kerugian. Laporan investigasi kecelakaan diminta: 1) Kecelakaan menyebabkan hari hilang. Laporan ini akan didistribusikan kepada seluruh Kepala Bagian/Ketua Regu Committee/P2K3.

Investigasi dan Tindakan Perbaikan a. . 3) Kepala Bagian/Ketua Regu terkait akan melakukan tahap awal investigasi segera setelah kecelakaan atau kejadian. dimana apabila dianggap penting. untuk investigasi. 4) Inspeksi tempat kecelakaan atau insiden harus dilakukan saat itu juga.34 4. diambil foto untuk dokumentasi investigasi. Bilamana seseorang yang cidera yang dapat menjadi cidera berat atau potensi cidera berat. Kecelakaan dan Insiden Berat 1) Kepala Bagian/Ketua Regu akan mempertimbangkan dengan segera setiap kecelakaan atau kejadian yang berat. Hasil dari tahap investigasi ini harus dicatat dengan baik. 2) Kepala Bagian/Ketua Regu terkait harus menjaga bukti fisik. sepanjang diminta. Ini akan mencakup wawancara terhadap orang yang langsung terlibat dan suatu tinjauan ulang secara cermat serta mendiskusikan laporanlaporan tertulis mereka. prosedur dibawah ini harus dimulai untuk investigasi dan tindakan perbaikan. Setelah dilakukan tindakan emergensi yang tepat dan pelaporan diselesaikan. tempat kejadian harus diamankan sampai ada pemberitahuan dari yang berwenang atau manajemen perusahaan. Wawancara ini secara pribadi dan harus dilakukan secara kekeluargaan dan pengertian.

Kepala Bagian terkait harus melakukan investigasi di tempat kejadian. 8) Bila dianggap perlu. Bilamana perlu dia akan diantar oleh anggota manajemen. 6) Kepala Bagian terkait yang menerima laporan investigasi kecelakaan. c) Menganalisa informasi yang ada untuk menentukan faktorfaktor yang memberikan kontribusi terjadinya kecelakaan. ad-hoc team investigasi kecelakaan juga akan dibentuk. Salinan dokumentasi investigasi. bersamaan dengan laporan investigasi kecelakaan harus diserahkan oleh Ketua Regu terkait kepada atasannya dengan tembusan kepada Ketua K3 sesegera mungkin. bersama dengan Ketua K3 menentukan siapa yang harus dilibatkan dalam tim investigasi dan dalam menentukan tindakan perbaikan. .35 5) Kepala Bagian/Ketua Regu terkait harus juga mengevaluasi penyebab kejadian dan menyiapkan tindakan perbaikan untuk mencegah terulang kembali kejadian yang sama. Team bertanggung jawab untuk: a) Mengevaluasi laporan dan dokumen terkait. b) Melakukan wawancara dan atau inspeksi. 7) Untuk seluruh kecelakaan yang sangat berat (meninggal. kerusakan harta benda yang berat. kebakaran).

K. Kecelakaan sedang yang dilaporkan dalam bentuk Laporan Investigasi Kecelakaan. Investigasi selanjutnya. Kecelakaan ringan harus dilaporkan dengan bentuk No. Semua kecelakaan/insiden dan tindakan perbaikan akan ditinjau kembali oleh Safety Committee/P2K3.Bag. 5. Laporan investigasi kecelakaan akan ditinjau kembali oleh Ka. b. 6. tindakan perbaikan atau distribusi informasi yang terkait bisa diperoleh dari tinjauan ini.2. Kecelakaan Ringan a.36 d) Membuat dan merekomendasikan rencana tindakan praktis untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. 9) Setelah melakukan investigasi. suatu pertemuan peninjauan ulang akan dilakukan oleh Direktur untuk menentukan kualitas investigasi dan mengevaluasi tindakan perbaikan yang diusulkan dan menetapkan rencana tindakan yang paling tepat. Kecelakaan Sedang a. kejadiankejadian tersebut harus mendapat perhatian Kepala Bagian/Ketua Regu terkait dan harus didiskusikan dalam safety meeting bulanan. Pertemuan ini harus dihadiri Ketua K3.-nya dan Ketua K3. investigasi harus dilakukan secepatnya oleh Ketua Regu terkait. yang akan melakukan tindakan perbaikan dan atau pengendalian untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Ketua K3 . dan para Kepala Bagian terkait.

insiden atau sakit di Form Tindakan Koreksi & Pencegahan. Mengkaji apakah tindakan pencegahan sudah efektif atau belum. Tindakan Pencegahan a. c. Mencatat semua ketidaksesuaian yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.8 Alur Produksi Sumber: PT. Mengkomunikasikan insiden yang terjadi dan hasil investigasi untuk mencegah tidak terulang dan meningkatkan kewaspadaan pekerja. GDS Gambar 4.1. Menganalisa data untuk pencegahan dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi.3 Alur Produksi . b. 7. untuk mengidentifikasi trennya dan melaporkan ke P2K3 untuk tindakan selanjutnya. d.37 akan mengevaluasi laporan. 4.

pemotongan sesuai ukuran yang ditentukan. .3 diatas merupakan alur produksi dari perusahaan. kemudian diproses sehingga menjadi plate dan siap untuk dikirim kepada konsumen. a. Slab Cutting Slab Cutting merupakan pemotongan bahan baku hingga menjadi beberapa bagian. baja tersebut dipanaskan di dapur pemanas sampai suhu standar. Slab Slab atau bahan baku berupa baja tebal yang di datangkan dari luar negeri.4 Slab b. GDS Gambar 4. sesuai dengan kualitas dan ukurannya. GDS Gambar 4. Reheating Furnace Setelah terbagi menjadi beberapa potong.38 Pada gambar 4. Sumber: PT. Untuk penjelasan lebih jelasnya sebagai berikut. Sumber: PT. Yang memiliki reputasi internasonal.5 Slab Cutting c. Dimulai dari slab datang.

Descaler Slab yang membara dibersihkan dengan mesin pembersih kerak dengan cara disemprotkan air berkecepatan tinggi untuk menghilangkan kotoran dari prosees sebelumnya.6 Reheating Furnace d.39 Sumber: PT. Sumber: PT.7 Descaler e. . GDS Gambar 4. slab tersebut ditipiskan dengan mesin 4-High Roughing &Finishing Mill. 4-High Roughing &Finishing Mill Setelah dipanaskan. GDS Gambar 4.

40 Sumber: PT. Sumber: PT. digunakan mesin perata permukaan plat. Hot leveller Untuk memastikan kerataan dan mutu plat yang prima. Diving Shear Plat yang memanjang akibat tahap sebelumnya dipotong lebih pendek dengan mesin pembagi. GDS Gambar 4.9 Hot Leveller g.8 4-High Roughing & Finishing Mill f. GDS Gambar 4. .

GDS Gambar 4. GDS Gambar 4. . jika tebal plat lebih atau sama dengan 15mm maka digunakan flame cutting atau pemotongan dengan las campuran LPG dan oksigen.41 Sumber: PT. Namun bula ketebalan kurang dari 15 mm. Plate Cutting Plat di potong sesuai ukuran pemesanan.10 Diving Shear h. Sumber: PT.11 Cooling Bed i. Cooling bed Meja pendingin membantu mendinginkan secara alami alat yang panas hingga mencapai suhu lingkungan.

Sumber: PT.13 Storage l.12 Plate Cutting j. GDS Gambar 4. k. Sumber: PT. sesuai dengan nomer seri pemesanan dan warna sesuai dengn ketebalan. Stenciled Pemberian Label pada bagian atas plat besi. . Storage Plat yang telah dilabel sudah selesai dan disimpan di ruang penyimpanan dan siap dikirim ke pemesanan. Shipment Plat-plat baja yang berkualitas siap di kirim ke pemesan melalui jalur darat serta laut. GDS Gambar 4.42 digunakan machanized side shear atau pemotong samping dengan mesin pemotong.

Suhu Panas.2 Risiko Bahaya di PT. Terhimpit dan Debu Produksi a. Tabel 4. Bising dan Debu g. Risiko Sumber: PT. GDS AREA KERJA Gudang Bahan Baku RISIKO BAHAYA Terjepit. Risiko Terjepit Mesin Debu. Cooling Bed Suhu Panas. Bising dan Debu e.9 Risiko Bahaya Didalam proses produksi. Bising dan Debu f. Plate Cutting Risiko Ergonomi. Risiko LBP. GDS Dengan adanya tabel diatas.43 4. Peledakan Gudang Hasil Produksi Terjepit.1. Reheating Furnace Suhu Panas dan Debu c. . Terhimpit dan Debu Workshop Terpeleset¸ Terkena Gam. Descaler Suhu Panas dan Debu Lanjutan AREA KERJA d. maka perusahaan memiliki beberapa prosedur terkait dengan identifikasi dan penilaian bahaya dan risiko K3. Bising dan Debu b. Berikut penjelasan mengenai area kerja yang terdapat di perusahaan sekaligus risiko bahaya yang ada didalamnya. Slab Cutting Risiko Ergonomi. Diving Shear Suhu Panas. terdapat beberapa risiko bahaya yang memungkinkan timbulnya kecelakaan kerja apabila tidak dilakukan pengendalian bahaya tersebut. Untuk penjelasan dari prosedur tersebut sebagai berikut. 4-High Roughing & Finishing Mill RISIKO BAHAYA Suhu Panas.

44 Rincian Prosedur: 1. saat ada perubahan proses/peralatan maupun proses/peralatan baru. Alat. supplier. 2) Aktivitas seluruh personel baik karyawan maupun pihak luar 3) 4) 5) 6) (subkontraktor. Kondisi non rutin: bahaya yang berpotensi terjadi akibat adanya aktivitas tidak rutin atau sesekali dilakukan/terjadi. Tim melakukan identifikasi dengan melihat lapangan/ruangan/tempat kerja dan lingkungan sekitarnya. b. d. Identifikasi Bahaya K3 a. dan sebagainya) serta jenis material. genset. mesin dan sumber tenaga yang ada (aliran listrik. Sekretaris P2K3 membentuk tim di unit kerja masing-masing yang terdiri dari personil berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang K3 dan dipimpin kepala bagian & Manajer masing-masing. 8) Modifikasi proses atau proses baru. Identifikasi dilakukan juga diawal informasi proyek untuk diidentifikasi kemungkinan pengendalian K3 yang harus disiapkan. 9) Kerja lainnya yang mungkin menimbulkan bahaya K3. c. Kondisi rutin: bahaya yang aktual terjadi terjadi akibat aktivitas produk dan jasa yang rutin dilakukan. 7) Penanganan secara manual dan mekanis. Sumber daya yang akan dipergunakan. Masing-masing tim melakukan identifikasi bahaya K3 dengan memperhatikan: 1) Kondisi rutin dan non rutin untuk bahaya K3. & pengunjung). e. Lokasi/ruangan/kondisi tempat kerja. Tim melakukan tinjauan awal untuk mengidentifikasi semua bahaya K3 serta memperkirakan risiko K3 yang akan terjadi. kondisi . Pembentukan tim dilakukan di awal implementasi SMK3. Perilaku yang berbahaya dan berdampak pada lingkungan.

jika terdapat peraturan dan perundangan yang terkait dengan aktivitas perusahaan. h.45 f. Pengendalian Risiko a. Jenis tindakan dan skala waktu kontrol tergantung dari hasil penilaian dampak dan risiko. dilakukan kontrol untuk mengurangi risiko K3. Penilaian Risiko K3 a. b. kemudian diperkirakan dampaknya. Untuk bahaya K3 yang tidak terkait dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. b. Jenis pengendalian adalah sebagai berikut: 1) Desain & proses Melakukan perubahan desain atau proses kegiatan ke arah yang lebih aman untuk menghilangkan semua potensi bahaya dan sumber . Risiko K3 yang signifikan. g. maka dampak yang terjadi dikategorikan sehingga sebagai dampak yang signifikan. 3. diadakan penilaian dampak & risiko dengan mempertimbangkan faktor Kemungkinan (probability) dan faktor Keparahan (severity). Mengidentifikasi peraturan dan perundangan yang berlaku yang berkaitan dengan bahaya K3. Tim melakukan observasi dan wawancara kepada personil terkait dalam suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai kemungkinan risiko K3 yang akan terjadi. Setelah diperoleh data bahaya K3 yang terkait. Membuat daftar semua bahaya K3 yang telah teridentifikasi. 2.

Pembuatan prosedur dan IK dan dilaksanakan secara konsisten. dan lain-lain. b) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. rambu. lampu hemat energi. bimbingan c) d) e) f) fungsional. dan lain-lain.46 bahaya (jika mungkin) dengan mengganti unsur/proses yang lebih aman. sarung tangan. sosialisasi. Peralatan yang aman (safety equipment) dan hemat energi. produk. memasang denah evakuasi. Contoh: listrik 1. pengurangan maupun penggantian. induksi. dan lainlain. penggunaan kran otomatis. Contoh: tenaga manusia diganti peralatan untuk mengangkat beban berat. persetujuan penggunaan material yang aman. 5) Rencana tindak darurat Menyediakan fasilitas pencegahan. Memberi proteksi lokasi berbahaya: memasang pagar pengaman. maka . 4. Pemantauan Tindakan Pengendalian Risiko a. Penyelenggaraan inspeksi K3L. menentukan muster area. personel dan aktivitas baik berupa penambahan. Jika ada perubahan proses. mesin tenaga solat diganti dengan listrik/uap. 2) Engineering control Untuk mengurangi risiko dengan menggunakan unsur/materiil yang lebih aman. 4) Alat Pelindung Diri (APD) Wajib menggunakan APD sesuai potensi bahaya yang ada seperti: helm. 3) Administratif dan pengendalian prosedur a) Pengendalian secara administratif: ijin kerja. mesin. dan lain-lain. dan lain-lain. tanda B3. safety harness. dan lain-lain. dan lain-lain.

pada tahun 2013 sebanyak 11 kasus kecelakaan.00 2013 Finishing Tangan terjepit Koordinasi antara plate & roll tidak baik antara pekerja dengan . Kecelakaan Kerja tahun 2013 Tabel 4. b.3 Kecelakaan Kerja di PT. Identifikasi bahaya & risiko K3 secara periodik akan ditinjau kesesuaiannya oleh sekretaris P2K3 minimal 1 tahun sekali untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi terkini. harus disetujui oleh pimpinan/manajer yang terkait di masing-masing tingkat dalam organisasi perusahaan. GDS dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015.47 identifikasi bahaya & Risiko K3 akan ditinjau oleh masing-masing bagian dan Manajer untuk update/diperbaiki. 28 Januari 02. Hasil pengendalian dampak. c. Berikut perincian data mengenai jumlah kecelakaan dan penyebab kecelakaan kerja di PT. Kecelakaan kerja yang terjadi di PT.10 2013 Gas Cutting Terperosok & jatuh Tidak Plate (GCP) pada saat menggunakan I pembersihan plate safety shoes  kaki kiri memar & terkilir 2.2. d. 16 Januari 10.1 No. 4. sedangkan pada tahun 2014 jumlah angka kecelakaan kerja sama dengan tahun 2013 sebanyak 11 kasus kecelakaan. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. hal ini bisa saja terjadi peningkatan kecelakaan kerja. sasaran dan program K3. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.2 Kecelakaan Kerja di PT. Tahun 2013 Tanggal Jam Lokasi Keterangan Penyebab 1. 4. Hasil identifikasi dapat dijadikan dasar pertimbangan penyusunan tujuan. Pada tahun 2015 sampai bulan Agustus tercatat sebanyak 10 kasus kecelakaan.

saat memperbaiki memperbaiki helm  paha kanan helm sendiri 28 Agustus 09. 10 2013 Mei 00.00 Mekanik Terkena percikan Tidak waspada gram  mata kiri terhadap bahaya rekan pekerja yang sedang menggerinda Lanjutan No. Lokasi Keterangan Penyebab Civil Terkena cutter pada Unsafe action.48 operator crane 3.20 Gas Cutting Terkena percikan Tidak waspada Plate (GCP) gram  mata kiri terhadap II bahaya rekan pekerja yang sedang menggerinda 6. 23 2013 Mei 09. 12 Juli 2013 15.00 Mill Area Terjepit sling pada Komunikasi saat maintenance  tidak baik antar pekerja ibu jari tangan kiri 7.00 9.30 2013 Mekanik Terkena percikan Tidak waspada gram  mata kiri terhadap bahaya rekan pekerja yang sedang menggerinda 4. Tanggal Jam 8. 5 September 2013 09. 10. 30 Januari 08. 31 Maret 2013 Kamar Mandi Terpeleset  kaki Tidak ada checklist kanan bengkak kondisi kamar mandi 5.00 2013 Tangga Gunting 40 Terpeleset dan jatuh Manajemen pada saat turun kurang tangga perhatian terhadap tangga pabrik 7 November 2013 Kereta Work Tertimpa pipa pada Pipa terjatuh Roll Mill saat bongkar dan menimpa .

ujung as meleset  jari manis sebelah kiri Pekerja kurang waspada dan kurang terampil dalam bekerja Sumber: PT. karena pada saat itu pekerja tidak berkoordinasi baik dengan pekerja crane.00 Area workroll mill area pekerja  bagian bawah leher Gudang Spare part Kejatuhan As kuningan. Kecelakaan tersebut terjadi di lokasi Gas Cutting Plate (GCP) I jam 10. 30 November 2013 09.49 11. Pada kasus kecelakaan pada tanggal 30 Januari 2013. 10 Mei 2013 dan 12 Juli 2013. sehingga pada saat penurunan plat.00. Kecelakaan tersebut terjadi dikarenakan unsafe action pekerja sendiri. Pekerja terperosok dan terjatuh pada saat pembersihan sehingga mengakibatkan kaki kiri memar dan terkilir. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) pada tahun 2013 sebanyak 11 kasus kecelakaan. Kasus tersebut merupakan kesalahan dari pekerja sendiri atau unsafe action. Tangan pekerja terjepit antara plate & roll. GDS Jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di PT. Kecelakaan tersebut terjadi di lokasi finishing jam 02. kecelakaan tersebut dikarenakan terkena percikan gram sehingga mengakibatkan sakit pada mata. karena pada saat bekerja tidak menggunakan safety shoes sehingga mengakibatkan slip dan terjatuh pada saat bekerja. pada saat meletakkan as di atas roll.10. Untuk lokasi kecelakaan pada kasus tanggal 30 . posisi salah satu anggota tubuh pekerja masih berada dibawah dari plat yang sedang diturunkan. Kemudian kasus kecelakaan kedua terjadi pada tanggal 16 Januari 2013. Kasus kecelakaan pertama terjadi pada tanggal 16 Januari 2013.

Kecelakaan tersebut . Pada kasus kecelakaan tanggal 5 September 2013 jam 09. maka pekerja seharusnya menghubungi pihak manajemen agar menukar dengan helm baru yang layak pakai. Kemudian kasus kecelakaan terjadi pada tanggal 30 November 2013 di gudang spare part. Apabila helm dalam kondisi yang tidak layak pakai lagi karena rusak. Kecelakaan terjadi karena kurang kewaspadaan dan kurang komunikasinya pekerja tersebut pada saat meletakkan as diatas roll.50 Januari 2013 dan 12 Juli 2013 berlokasi di area mekanik. pada saat meletakkan as diatas roll. Kecelakaan tersebut dikarenakan kejatuhan as kuningan. tidak dengan memperbaiki sendiri yang ujungnya mengalami kecelakaan. Kecelakaan dikarenakan terjepit sling pada saat maintenance sehingga mengakibatkan tertimpanya ibu jari tangan kiri pekerja. sedangkan kasus pada tanggal 10 Mei 2013 berlokasi di Gas Cutting Plate (GCP) II. Kasus kecelakaan yang terjadi pada tanggal 23 Mei 2013 berlokasi di mill area. Karena pekerja tidak sadar dan waspada akan bahaya pada saat rekan pekerja sedang menggerinda atau mengelas.00 murni merupakan tindakan unsafe action dikarenakan terkena cutter pada saat memperbaiki helm. ternyata ujung as meleset sehingga mengenai jari manis sebelah kiri. Mereka berada di dekat rekan pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut. Ketiga kasus kecelakaan tersebut merupakan unsafe action dari pekerja. Kasus kecelakaan tersebut merupakan unsafe action dari pekerja karena kurang waspada dan kurang terampil dalam melakukan pekerjaan.

Seharusnya pada saat merencanakan membuat tangga. Komunikasi yang kurang lancar terhadap sesama rekan pekerja pun menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan terjepit alat kerja. Hal ini sekilas dapat ditarik kesimpulan merupakan unsafe condition karena kondisi lantai kamar mandi yang licin. Namun jika diperhatikan lebih lanjut. merupakan kurang perhatiannya manajemen terhadap tangga yang ada di lokasi kerja. Menurut hasil observasi penulis. merupakan kesalahan dari pihak manajemen (lack of control) yang lalai terhadap kondisi kamar mandi pekerja. bisa setiap hari atau setiap minggu. Hal ini sekilas merupakan unsafe condition. Kasus kecelakaan yang terjadi pada tanggal 28 Agustus 2013 berlokasi di tangga gunting 40 dikarenakan terpeleset dan jatuh pada saat menuruni anak tangga. anak tangganya kurang lebar dan jika ingin menuruni anak tangga kaki dalam posisi miring. pada lokasi tersebut. dan menunjuk salah satu pekerja sebagai penanggung jawab untuk mengecek sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Unsafe condition tersebut dikarenakan manajemen tidak melakukan pengecekan secara berkala terhadap kondisi kamar mandi pekerja. Kasus kecelakaan yang terjadi pada tanggal 31 Maret 2013 berlokasi di kamar mandi dikarenakan terpeleset. menurut . Seharusnya pihak manajemen membuat checklist pengecekan kondisi kamar mandi secara berkala.51 merupakan tindakan unsafe action karena kurang waspada dan kurang hati-hati pekerja terhadap pekerjaan yang dihadapi. Anak tangga yang kurang lebar tersebut dapat mengakibatkan kecelakaan di pekerja. Jadi pada kasus kecelakaan ini.

00 2014 Cooling Bed Terpeleset di lokasi Tidak kerja  tulang iga menggunakan kanan memar & safety shoes sesak nafas .2. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. periode tahun 2013. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. faktor penyebab yang paling menonjol adalah perilaku unsafe action dari pekerja yang berjumlah 8 kasus.00 2014 Depan gedung EAF Tertimpa alat kerja Tertimpa  jari kelingking kerja patah & jari manis retak alat 2.2 No. dan yang terakhir dikarenakan unsafe condition yang berjumlah 1 kasus. pipa terjatuh dan menimpa pada pekerja. Kasus kecelakaan pada tanggal 7 November 2013 berlokasi di kereta work roll mill area dikarenakan tertimpa pipa pada saat pembongkaran workroll mill area sehingga mengenai bagian bawah leher dari pekerja. 4. kemudian lack of control dari pihak manajemen yang berjumlah 2 kasus.4 Kecelakaan Kerja di PT. 12 Maret 16. dikarenakan para pekerja telah menggunakan alat pelindung diri (APD) yang baik dan prosedur kerja yang benar. tetapi pada saat pembongkaran. Dari sebelas kasus kecelakaan yang terjadi di PT. 10 Januari 15. Kecelakaan tersebut merupakan unsafe condition.52 pedoman pembuatan tangga yang ideal dengan lebar anak tangga yang cukup sehingga dapat naik atau turun tangga dengan nyaman. Kecelakaan Kerja tahun 2014 Tabel 4. Tahun 2014 Tanggal Jam Lokasi Keterangan Penyebab 1.

00 Gas Cutting Slab (GCS) Pinggang terkilir Posisi dan cara pada saat kerja yang pembersihan kurang baik 7.30 Terkena gram percikan Berada didekat pekerja yang sedang menggerinda Gas Cutting Terpeleset pada saat Tidak Plate (GCP) menarik kereta menggunakan III potong mundur  safety shoes kaki kiri terkena cutting torch yang sudah dinyalakan .00 2014 Gas Cutting Terpercik scale  Pekerja kurang Plate (GCP) mata kanan sakit.53 3. Tanggal 10. 4 Desember 2014 Gas Cutting Slab Terkena ledakan Kebocoran di selang oksigen selang oksigen mesin portable 9. 28 Agustus 10.00 2014 Kereta Transfer Terjepit plate pada saat penurunan dari crane  2 jari tangan kanan Koordinasi tidak baik dengan operator crane Keterangan Penyebab alat Lanjutan No. 3 September 2014 09. 6 Desember 2014 11. 5 Desember 20. 15 Maret 19. 23 April 2014 Finishing Kaki terkilir saat Kurang berjalan di finishing waspada terhadap lingkungan kerja 5.00 Furnace Terpeleset di area Tidak kerja  kaki kanan menggunakan dan kiri luka sobek safety shoes dan lecet 8. waspada dan II memerah & bengkak hati-hati 4. 6 September 2014 10.30 2014 Gedung EAF Terjepit alat kerja  Terjepit jari kelingking kanan kerja & kuku terkelupas 6. 12 Desember 2014 Jam Lokasi Mekanik 01.

Kasus kecelakaan yang terjadi pada tanggal 12 Maret 2014 berlokasi di cooling bed jam 16. Pekerja terpeleset di area kerja sehingga mengakibatkan . memerah dan bengkak. dimana alat potong tersebut sedang bekerja. Hal ini merupakan tindakan unsafe action dari pekerja. Hal ini merupakan salah satu perilaku unsafe action.00 berlokasi di Gas Cutting Plate (GCP) II. karena pekerja berada di dekat alat potong. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 23 April 2014 yang berlokasi di area finishing.54 Sumber: PT. GDS Jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di PT. sehingga percikan scale mengenai mata dari pekerja tersebut.00. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 15 Maret 2014 jam 19. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 3 September 2014 jam 09. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 6 September 2014 jam 10. karena pekerja kurang waspada terhadap lingkungan kerja. sikap dan cara kerja yang kurang baik sehingga mengakibatkan pinggang terkilir. Pinggang pekerja terkilir pada saat pembersihan. Pekerja terpeleset di lokasi kerja yang mengakibatkan tulang iga kanan memar dan sesak nafas. Pekerja terpercik scale sehingga mengakibatkan mata kanan sakit.00 berlokasi di area furnace. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) pada tahun 2014 sebanyak 11 kasus kecelakaan.00 berlokasi di Gas Cutting Slab. Pekerja kurang waspada dan hati-hati. dan berjalan di area cooling bed merupakan tindakan yang berbahaya mengingat risiko bahaya tinggi di area cooling bed. Ini merupakan perilaku unsafe action karena pekerja tidak menggunakan safety shoes pada saat bekerja. karena posisi. Ini merupakan suatu tindakan unsafe action. Kaki pekerja terkilir pada saat berjalan di area finishing.

Selain itu tingkat kewaspadaan dari pekerja sudah menurun karena jam kerja dini hari. Untuk lokasi kecelakaan berlokasi di area mekanik. Karena pekerja tidak sadar dan waspada akan bahaya pada saat rekan pekerja sedang menggerinda atau mengelas. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 12 Desember 2014 jam 01. . Kecelakaan ini karena tindakan unsafe action dari pekerja. komunikasi dari pekerja dengan operator crane dan juga kurang waspadanya pekerja terhadap risiko bahaya pada pekerjaan tersebut sehingga mengakibatkan terjepit plate. Pekerja kurang waspada terhadap lingkungan kerjanya. Mereka berada di dekat rekan pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut. dan pekerja tidak menggunakan safety shoes. Kasus kecelakaan tersebut dikarenakan tindakan unsafe action dari pekerja. Pekerja pada area tersebut sering dijumpai oleh penulis tidak menggunakan safety shoes. Lemahnya koordinasi. Pekerja terjepit plate pada saat penurunan dari crane sehingga melukai 2 jari tangan kanan. Kasus kecelakaan tersebut merupakan unsafe action dari pekerja. Pekerja terpeleset pada saat menarik kereta potong mundur sehingga kaki kiri terkena cutting torch yang sudah dinyalakan. kecelakaan tersebut dikarenakan terkena percikan gram sehingga mengakibatkan sakit pada mata.00 berlokasi di kereta transfer.30 berlokasi di Gas Cutting Plate (GCP) III.55 kaki kanan dan kiri luka sobek dan lecet. Kasus kecelakaan ini penyebabnya adalah unsafe action dari pekerja. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 5 Desember 2014 jam 20. Pada kasus kecelakaan tanggal 6 Desember 2014.

Gunawan Dianjaya Steel Tbk.00 berlokasi di depan gedung EAF.3 Kecelakaan Kerja tahun 2015 Tabel 4. karena pekerja telah bekerja sesuai dengan prosedur dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap.5 Kecelakaan Kerja di PT. namun terdapat kebocoran di selang oksigen dan akhirnya terjadilah ledakan.56 Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 10 Januari 2014 jam 15. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. 4.30 berlokasi di gedung EAF. Kasus kecelakaan ini penyebabnya adalah unsafe condition. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 28 Agustus 2014 jam 10. Pekerja terkena ledakan selang oksigen dari mesin portable. Dari sebelas kasus kecelakaan yang terjadi di PT. Pekerja terjepit alat kerja sehingga mengakibatkan jari kelingking kanan dan kuku terkelupas. Kecelakaan ini penyebabnya adalah unsafe condition. karena pekerja telah bekerja dengan sesuai prosedur dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Tahun 2015 . dan yang dikarenakan unsafe condition yang berjumlah 3 kasus. Kasus kecelakaan ini penyebabnya adalah unsafe condition. karena pekerja telah bekerja sesuai dengan prosedur dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2014 berlokasi di area Gas Cutting Slab. faktor penyebab yang paling menonjol adalah perilaku unsafe action dari pekerja yang berjumlah 8 kasus. Pekerja tertimpa alat kerja sehingga mengakibatkan jari kelingking patah dan jari manis retak.2. periode tahun 2014.

2 Januari 09. 22 2015 8. 2 Juli 2015 9.00 2015 Test House Tertimpa alat kerja. 20 Januari 2015 Mekanik Mata kena gram saat Pekerja tidak menggerinda sleeve menggunakan back up kacamata pengaman 3. 27 April 20.20 2015 Maintenanc e Kecelakaan karena Gerinda pecah gerinda  kepala dan telapak tangan 2.40 2015 Daerah Morgoil Selang bocor pada Selang bocor saat perbaikan  dan terkena semburan api terkena semburan api Operator crane terkena debu alat Lanjutan No. 11 Februari 11. Tanggal 7.00 Lokasi Area Listrik Keterangan Terpeleset di area Tidak kerja  pinggang menggunakan safety shoes kanan terkilir Gas Cutting Terjatuh pada saat Plate (GCP) ingin menaiki meja I potong  lutut kaki kanan Mekanik Penyebab Naik tempat kerja tidak sesuai dengan tempatnya Terkena percikan api Penggunaan pada saat APD yang pemotongan tidak tepat (menembus kacamata)  mata kiri .57 No. 8 April 19.30 Juli 20. 24 April 03.00 2015 Water Treatment tempat pompa Terkena dan tertimpa Terkena alat kerja  kerja mengenai kening 6. Alat terjatuh jatuh dan menimpa dan menimpa jari tangan kiri pekerja 5. 30 2015 Jam Mei 05. Tanggal Jam Lokasi Keterangan Penyebab 1.00 2015 Crane Mata kelilipan debu 4.30 09.

akhirnya mengakibatkan pinggang kanan terkilir. GDS Jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di PT. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 22 Mei 2015 berlokasi di area listrik. Kecelakaan tersebut dikarenakan pekerja terpeleset di area kerja sehingga mengakibatkan pinggang kanan terkilir. Kecelakaan tersebut karena mata terkena gram saat menggerinda sleeve back up. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 2 Juli 2015 berlokasi di Gas Cutting Plate (GCP) I. karena pekerja tidak menggunakan safety shoes di area kerja. Kecelakaan tersebut terjadi pada saat pekerja ingin menaiki meja potong namun kemudian terjatuh. Kecelakaan ini penyebabnya adalah unsafe action dari pekerja. karena pekerja tidak menggunakan kacamata pengaman pada saat menggerinda. sehingga mengakibatkan luka pada lutut kaki kanan. karena pekerja pada saat ingin menaiki meja potong tidak naik pada anak tangga . Kecelakaan ini merupakan tindakan unsafe action dari pekerja sendiri. Akibatnya mata terkena gram.58 10. Kecelakaan ini menurut analisis penulis penyebabnya adalah unsafe action dari pekerja. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) pada tahun 2015 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 10 kasus kecelakaan. sehingga mengakibatkan pada saat bekerja di area tersebut terjadi slip dan terpeleset. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 20 Januari 2015 berlokasi di area mekanik. 26 Agustus 10.00 2015 Mill Area Tertimpa balok kayu pada saat mengganti roll  lengan kanan memar Pekerja tidak mengecek kondisi balok kayu Sumber: PT.

59 yang telah disediakan. Maka dari itu percikan api dapat mengenai mata kiri pekerja. namun jika ditelaah lebih lanjut termasuk dalam unsafe action karena terjadinya keteledoran dari pekerja. namun kacamata tersebut hanya dipegang tidak digunakan. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 30 Juli 2015 berlokasi di area mekanik. Sebab pekerja beranggapan balok kayu tersebut dalam kondisi yang masih bagus karena selalu digunakan. Sekilas kecelakaan tersebut merupakan unsafe condition. namun ternyata balok kayu tersebut kondisinya pada saat akan kecelakaan sudah rapuh dan tidak kuat lagi. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 2 Januari 2015 berlokasi di area Maintenance. Kecelakaan tersebut dikarenakan pekerja tertimpa balok kayu pada saat mengganti roll yang mengakibatkan lengan kanan pekerja memar. Kecelakaan tersebut terjadi karena pada saat menggerinda. pekerja menggunakan kacamata pada saat pemotongan. Sehingga balok kayu tersebut terjatuh dan menimpa lengan kanan pekerja. Kecelakaan tersebut akibat terkena percikan api pada saat pemotongan yang mengenai mata kiri pekerja. namun pada tumpukan potongan-potongan plat disamping meja potong. karena pekerja telah melakukan prosedur kerja yang . gerinda pecah dan mengenai kepala dan telapak tangan. Pada saat kejadian. Kecelakaan ini disebabkan oleh tindakan unsafe action dari pekerja. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 26 Agustus 2015 berlokasi di Mill Area. Kecelakaan ini penyebabnya adalah unsafe condition.

Kecelakaan tersebut dikarenakan mata kelilipan debu. alat tersebut jatuh dan menimpa tangan pekerja.60 benar dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. namun pada saat melakukan pekerjaan gerinda tersebut pecah. Namun kipas tersebut dirasa penulis masih belum cukup maksimal dalam membersihkan debu. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 8 April 2015 berlokasi di area Test House. Karena ada kejadian seperti ini seharusnya menjadi evaluasi dari pihak manajemen dalam melakukan pendekatan pengendalian engineering secara optimal. Kecelakaan kerja . seperti adanya kipas angin (fan) di sekitar area kerja yang berpotensi menimbulkan debu. Kecelakaan tersebut terjadi karena pekerja tertimpa alat kerja dan menimpa jari tangan kiri dari pekerja. sehingga operator crane dapat kelilipan debu. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 24 April 2015 berlokasi di area Water Treatment tempat pompa. Sekilas kecelakaan ini merupakan unsafe condition. namun jika ditelaah lebih dalam lagi dikarenakan lack of control dari manajemen. Pengendalian engineering memang telah diterapkan untuk pengendalian terhadap debu. Karena dari pihak manajemen kurang melakukan pengendalian terhadap bahaya. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 11 Februari 2015 berlokasi di crane. karena pekerja telah melakukan prosedur kerja yang sesuai dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Kecelakaan kerja ini penyebabnya adalah unsafe condition. namun pada saat bekerja. Kecelakaan tersebut terjadi karena pekerja terkena dan tertimpa alat kerja yang mengenai kening pekerja.

dan yang terakhir dikarenakan unsafe condition yang berjumlah 4 kasus. selang tersebut bocor dan menimbulkan semburan api yang mengenai pekerja. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. Kecelakaan yang terjadi pada tanggal 27 April 2015 berlokasi di daerah Morgoil. kemudian lack of control dari pihak manajemen yang berjumlah 1 kasus. periode tahun 2015 sampai dengan bulan Agustus. karena pekerja telah melakukan prosedur kerja yang sesuai dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. karena pekerja telah melakukan prosedur kerja yang sesuai dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap.61 ini penyebabnya adalah unsafe condition. namun pada saat menyalakan diesel air. Dari sepuluh kasus kecelakaan yang terjadi di PT. Kecelakaan kerja ini penyebabnya adalah unsafe condition. faktor penyebab yang paling menonjol adalah perilaku unsafe action dari pekerja yang berjumlah 5 kasus. kepala terkena stang dan mengenai kening pekerja. . Kecelakaan tersebut terjadi karena selang bocor pada saat perbaikan dan pekerja terkena semburan api. namun pada saat perbaikan.

Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. Penyebab tertinggi kecelakaan kerja yang terjadi di PT.62 BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Kecelakaan Kerja di PT. disebabkan oleh unsafe action sebanyak 21 kasus kecelakaan. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. periode tahun 2013 sampai dengan bulan Agustus tahun 2015. Kemudian faktor .

menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya dan kurang terampil dalam pekerjaannya. Kemudian kasus kecelakaan yang sering terjadi yaitu terkena gram. Pekerja telah melakukan prosedur atau instruksi kerja yang sesuai dan . Dan faktor terakhir yaitu lack of control manajemen sebanyak 3 kasus kecelakaan. Kasus kecelakaan yang diakibatkan oleh unsafe action merupakan kesalahan dari pekerja sendiri. Unsafe action sendiri merupakan tindakan yang dapat membahayakan pekerja itu sendiri maupun orang lain yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Untuk kasus kecelakaan yang disebabkan oleh unsafe condition merupakan kondisi lingkungan yang tidak aman dan membahayakan pekerja. dikarenakan pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) di area kerja tempat pekerja menggerinda dan mengelas. Menurut teori Loss Causation Model pada faktor penyebab langsung (immediate causes) terdapat salah satu pemicu terjadinya kecelakaan yaitu faktor tindakan tidak aman (unsafe action).63 penyebab kecelakaan berikutnya unsafe condition sebanyak 8 kasus kecelakaan. Kasus kecelakaan yang terjadi dikarenakan unsafe action karena pemakaian alat pelindung diri (APD) yang tidak benar seperti terpeleset dan terjatuh di area kerja karena tidak menggunakan safety shoes. Beberapa penyebab dari unsafe action sendiri menurut teori tersebut dikarenakan pemakaian alat pelindung diri (APD) yang tidak benar. dikarenakan kurangnya kesadaran terhadap bahaya yang ada di sekitar dan juga tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat bekerja.

64 menggunakan alat pelindung diri (APD) pada saat melakukan pekerjaan. namun kondisi lingkungan yang membahayakan maka dapat menimbulkan kecelakaan. Dalam kasus kecelakaan ini pekerja telah melakukan prosedur kerja yang sesuai dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Sedangkan untuk kasus kecelakaan yang disebabkan oleh lack of control manajemen merupakan titik awal dari pemicu utama kecelakaan menurut teori loss causation model. Lack of control dikarenakan kurangnya pengawasan dari pihak manajemen terhadap berjalannya penerapan aspek-aspek keselamatan kerja di lingkungan kerja. Hal ini sesuai dengan kasus kecelakaan yang terjadi di PT. pengamanan gedung yang kurang standar dan sifat pekerjaan yang mengandung potensi bahaya. Menurut teori Loss Causation Model pada faktor penyebab langsung (immediate causes) terdapat salah satu pemicu terjadinya kecelakaan yaitu faktor kondisi tidak aman (unsafe condition). Unsafe condition menurut teori disebabkan karena peralatan yang sudah tidak layak pakai. Pada salah satu kasus kecelakaan yang terjadi dikarenakan lack of control yaitu pada tanggal 31 Maret 2013 berlokasi di kamar mandi disebabkan terpeleset. selang tersebut bocor dan menimbulkan semburan api yang mengenai pekerja. incident dan berakhir dengan loss. namun pada saat perbaikan. . immediate causes. GDS seperti selang bocor pada saat perbaikan dan pekerja terkena semburan api. Jika lack of control tidak dilakukan tindakan pencegahan. maka dampaknya akan mengenai basic causes.

penulis memberikan asumsi bekerja selama 8 jam/hari. karena data sudah direkapitulasi dan lengkap oleh pihak manajemen.1 Incidence Rate Untuk total jam kerja setahun. . Sedangkan pada tahun sebelumnya data masih belum direkapitulasi. Maka jumlah total jam kerja adalah 404 pekerja x 2400 jam/orang dan menghasilkan 969. dan 12 bulan/tahun. sehingga menghasilkan 2400 jam/orang. Sehingga penulis memfokuskan untuk melakukan perhitungan tingkat kecelakaan pada periode tahun 2014..2.000 jam/tahun. Kemudian population at risk yang berada di pabrik berjumlah sekitar 404 pekerja. Dengan begitu. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. 5.65 Manajemen tidak melakukan pengecekan secara berkala terhadap kondisi kamar mandi pekerja. kemudian 25 hari/bulan. dilakukan pada periode tahun 2014. Seharusnya pihak manajemen membuat checklist pengecekan kondisi kamar mandi secara berkala dan juga menunjuk penanggung jawab dari pekerja terkait pengecekan berkala tersebut. 5.2 Perhitungan Tingkat Kecelakaan Kerja Perhitungan tingkat kecelakaan kerja di PT. maka kecelakaan kerja dapat dihindari.

79 hari per sejuta jam kerja orang. 5.2 Severity Rate Untuk jumlah hari kerja yang hilang akibat dari kecelakaan kerja pada tahun 2014.34 kali kecelakaan dalam satu tahun. Salah satu persyaratan dalam zero accident yaitu . Nilai severity rate 58.34.79 hari per sejuta jam kerja orang ini mengindikasikan bahwa perusahaan tidak termasuk dalam kategori zero accident. Maksud dari nilai incidence rate ini adalah tingkat terjadinya insiden kecelakaan pada tahun 2014 sebesar 11. Jika dilihat bahwa tingkat terjadinya insiden kecelakaan sebesar 11. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak berhasil mencapai program zero accident. Hilangnya waktu kerja sebesar 58. pada tahun 2014 telah terjadi hilangnya waktu kerja sebesar 58.2.34 kali dalam satu tahun. maka setiap bulan hampir terjadi 1 (satu) kecelakaan. didapatkan dari data manajemen sebesar 57 hari. dikarenakan telah terjadi sekitar 11.79 mengindikasikan bahwa selama kurun waktu tersebut berarti.34 kali.66 Nilai incidence rate didapatkan 11.

sehingga perusahaan dapat termasuk kategori zero accident. Perusahaan dapat menerapkan pengecekan secara berkala terhadap kondisi area lingkungan kerja. Pemberian materi tentang pentingnya K3 bagi pekerja. maka penulis dapat memberikan rekomendasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk meminimalkan risiko terjadinya kecelakaan kerja. Maka dari itu pengawasan terhadap K3 di lingkungan kerja sangat penting untuk menghindari kecelakaan kerja dan tidak adanya hilang waktu kerja. Dalam pemberian materi harus kreatif. 5. 1. Berikut rekomendasinya. dan lain-lain. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk.. PER- 01/MEN/I/2007). Perusahaan dapat memberikan sosialisasi K3 di kalangan pekerja secara berkala.67 tidak terjadinya kehilangan hari kerja (Permenakertrans no. dengan tujuan agar mengingatkan kembali akan pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). agar kecelakaan kerja dapat dihindari. periode tahun 2013-2015. 3. Seperti contoh. mematuhi aturan keselamatan dalam perusahan. 2. seperti di kamar mandi. di tangga.3 Rekomendasi Berdasarkan gambaran kecelakaan kerja dan penghitungan dari tingkat kecelakaan kerja yang terjadi di PT. penggunaan APD yang baik dan benar. seperti dengan menggunakan video. Perusahaan dapat menerapkan safety briefing yang bisa diterapkan minimal satu minggu satu kali kepada koordinator masing-masing area kerja. . misal 1 bulan sekali.

Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk.1 Kesimpulan Dari hasil analisis yang penulis lakukan terhadap kecelakaan kerja yang terjadi di PT. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. Kecelakaan kerja yang terjadi di PT. maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut.68 BAB 6 PENUTUP 6. 1. tercatat sebanyak . periode tahun 2013-2015. periode tahun 2013 sampai dengan bulan Agustus 2015.

Sedangkan untuk tahun 2015 sampai dengan bulan Agustus. periode tahun 2013 sampai dengan bulan Agustus tahun 2015. Hasil dari analisis kecelakaan kerja yang terjadi di PT. penyebab kecelakaan kerja tertinggi disebabkan oleh unsafe action sebanyak 21 kasus kecelakaan. Dan untuk faktor lack of control manajemen yaitu ada beberapa lingkungan kerja yang kurang sesuai dengan standar. Maksud dari nilai incidence rate ini adalah tingkat terjadinya insiden kecelakaan pada tahun 2014 sebesar . 4. Faktor penyebab unsafe action dari pekerja diantaranya adalah kurang waspada akan bahaya yang ada di lingkungan sekitar. Nilai incidence rate didapatkan 11.69 32 kasus kecelakaan. dan tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam hal ini safety shoes sehingga mengakibatkan terjatuh di area kerja. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. Sedangkan faktor terakhir yaitu lack of control manajemen sebanyak 3 kasus kecelakaan. Kemudian faktor penyebab kecelakaan berikutnya unsafe condition sebanyak 8 kasus kecelakaan.34. Untuk tahun 2014 kecelakaan kerja sama dengan tahun 2013 yaitu 11 kasus kecelakaan. 2. Kecelakaan kerja yang terjadi pada tahun 2013 sebanyak 11 kasus kecelakaan. sebanyak 10 kasus kecelakaan kerja. 3. Sedangkan untuk faktor unsafe condition yaitu tertimpa alat kerja.

pada tahun 2014 telah terjadi hilangnya waktu kerja sebesar 58. mengingat perusahaan diharuskan untuk menerapkan zero accident. 2. Perusahaan harus lebih memberikan perhatian yang khusus kepada penegakan K3 di lingkungan kerja. 5. 4. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk. adalah sebagai berikut. Nilai severity rate 58. 6. Penggantian rambu-rambu peringatan bahaya yang ada di dalam pabrik karena rambu-rambu yang sudah ada sudah tidak layak lagi. 1. Perusahaan juga harus memperhatikan kebersihan dan kenyamanan lingkungan di area sekitar pabrik. . Angka ini cukup tinggi.2 Saran Saran yang penulis dapat berikan terkait dengan kecelakaan kerja yang terjadi di PT.79 mengindikasikan bahwa selama kurun waktu tersebut berarti. 3. Perusahaan harus tegas dalam menjalankan peraturan K3 di lingkungan kerja untuk membuktikan komitmen terhadap K3.79 hari per sejuta jam kerja orang.70 11.34 kali.