0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan25 halaman

(REFERAT) Evisceration

Dokumen ini adalah referat tentang teknik operasi eviscerasi yang ditulis oleh Muhammad Abraar Roffa sebagai tugas dalam kepaniteraan klinik senior di Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh. Eviscerasi adalah prosedur bedah untuk mengangkat isi bola mata yang tidak dapat diselamatkan, dengan tujuan meredakan rasa sakit dan mempersiapkan rongga mata untuk implan prostetik. Referat ini mencakup definisi, indikasi, kontraindikasi, serta teknik dan perawatan pasca operasi eviscerasi.

Diunggah oleh

Abraar Roffa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan25 halaman

(REFERAT) Evisceration

Dokumen ini adalah referat tentang teknik operasi eviscerasi yang ditulis oleh Muhammad Abraar Roffa sebagai tugas dalam kepaniteraan klinik senior di Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh. Eviscerasi adalah prosedur bedah untuk mengangkat isi bola mata yang tidak dapat diselamatkan, dengan tujuan meredakan rasa sakit dan mempersiapkan rongga mata untuk implan prostetik. Referat ini mencakup definisi, indikasi, kontraindikasi, serta teknik dan perawatan pasca operasi eviscerasi.

Diunggah oleh

Abraar Roffa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Referat

TEKNIK OPRASI EVISCERASI

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani


Kepaniteraan Klinik Senior Pada Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen

Oleh:

Muhammad Abraar Roffa, S.Ked


2306112082

Preseptor:
dr. Mila Karmila, M.Ked (Oph), Sp. M

DEPARTEMEN/SMF ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. FAUZIAH
BIREUEN
2025
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia serta izin-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Teknik Oprasi
Eviscerasi” sebagai salah satu tugas dalam menjalani Kepanitraan Klinik Senior
(KKS) Ilmu Anestesi Rumah Sakit Umum Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara.
Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW,
keluarga, dan para sahabatnya karena melalui perantaranya penulis dapat
menikmati hidup di dalam Islam yang penuh pengetahuan ini.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih banyak
kepada dr. Mila Karmila, M.Ked (Oph), Sp. M sebagai pembimbing yang telah
meluangkan waktunya memberi arahan kepada penulis selama mengikuti KKS di
bagian/SMF Ilmu Kesehatan Mata Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah
Bireuen.
Penulis menyadari bahwa usulan penelitian referat ini masih jauh dari kata
sempurna baik dari segi isi maupun penulisan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran dan masukan yang membangun demi kesempurnaan referat
ini. Akhir kata, penulis berharap semoga referat ini dapat berguna dan bermanfaat
bagi semua pihak.

Bireuen, September 2025

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI............................................................................................................v
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................2
2.1 Definisi dan Sejarah Eviscerasi ................................................................2
2.1.1 Definisi............................................................................................2
2.1.2 Sejarah ............................................................................................2
2.2 Indikasi dan Kontraindikasi........................................................................3
2.2.1 Indikasi............................................................................................3
2.2.2 Kontraindikasi..................................................................................3
2.3 Anatomi yang relevan.................................................................................4
2.4 Persiapan Pre-opratif..................................................................................5
2.4.1 Evaluasi Pasien................................................................................5
2.1.6 Pemeriksaan penunjang...................................................................6
2.1.7 pemilihan jenis Anestesi..................................................................6
2.5 Teknik Oprasi Eviscerasi............................................................................7
2.5.1 Macam Teknik Oprasi Eviscerasi.....................................................7
2.5.2 Prosedur Teknik Oprasi Eviscerasi Dengan DFG dan 4 Petal.........7
2.6 Perawatan Pasca Oprasi............................................................................12
2.7 Komplikasi ..............................................................................................13
2.8 Prognosis..................................................................................................15
BAB 3 KESIMPULAN......................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................17

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

Trauma mata yang parah, infeksi intraokular, atau tumor ganas sering kali
menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan secara permanen dan rasa sakit yang
tak tertahankan. Kondisi patologis ini memerlukan pemahaman mendalam yang
dapat ditemukan dalam buku-buku patologi oftalmik.(4) Dalam situasi ini,
intervensi bedah menjadi satu-satunya pilihan untuk mengurangi rasa sakit,
mencegah komplikasi lebih lanjut, dan memperbaiki tampilan kosmetik.(3)
Eviscerasi adalah salah satu prosedur bedah mata yang secara efektif menangani
kondisi-kondisi ini.(2) Prosedur ini melibatkan pengangkatan isi bola mata—
termasuk retina, koroid, dan cairan vitreus—sambil mempertahankan sklera,
kapsul tenon, dan otot-otot ekstraokular.(1) Dengan menjaga struktur-struktur
penting ini, eviscerasi memungkinkan penempatan implan intraokular yang lebih
baik, sehingga hasil kosmetik dan pergerakan bola mata prostetik dapat optimal.
(5)
Secara epidemiologis, indikasi utama eviscerasi secara global adalah mata
yang buta dan nyeri akibat trauma atau infeksi, terutama endoftalmitis. Meskipun
data spesifik mengenai insidensi eviscerasi di Indonesia masih terbatas, tingginya
angka gangguan penglihatan dan kebutaan di negara ini—menempati urutan
kedua tertinggi di dunia—menunjukkan bahwa kasus-kasus oftalmik berat yang
memerlukan tindakan ablasi mata cukup signifikan(4). Penyakit seperti glaukoma
stadium akhir, trauma okular berat, dan endoftalmitis, yang umum ditemukan,
sering menjadi penyebab yang mendasari perlunya prosedur ini.
Dari sisi luaran klinis, eviscerasi dikenal memiliki tingkat keberhasilan
yang tinggi. Keberhasilan ini tidak diukur dari pemulihan penglihatan, melainkan
dari luaran kosmetik dan fungsional. Studi menunjukkan bahwa eviscerasi secara
konsisten memberikan hasil estetika yang superior dan motilitas (pergerakan)
prostesis yang lebih baik dibandingkan prosedur enukleasi, karena struktur otot-
otot ekstraokular dapat dipertahankan.(5) Dengan teknik bedah yang semakin
maju dan pemilihan implan yang tepat, risiko komplikasi pasca-operasi seperti

1
2

ekstrusi implan semakin menurun, menjadikan eviscerasi sebagai pilihan yang


aman dan efektif dalam manajemen pasien dengan mata yang tidak dapat
diselamatkan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Eviscerasi
2.1.1. Definisi Eviscerasi
Eviscerasi adalah prosedur bedah oftalmologi yang bertujuan untuk
menghilangkan isi intraokular, seperti retina, koroid, lensa, dan cairan vitreus,
sambil mempertahankan struktur luar bola mata, yaitu sklera, kapsul Tenon, dan
otot-otot ekstraokular yang melekat pada sklera.(1) Prosedur ini secara
fundamental berbeda dengan enukleasi, di mana seluruh bola mata, termasuk
sklera dan sebagian nervus optikus, diangkat sepenuhnya. Eviscerasi dilakukan
sebagai pilihan terakhir untuk mengatasi kondisi mata yang buta, nyeri, atau
mengalami disorganisasi akibat trauma berat atau infeksi, terutama endoftalmitis,
yang tidak dapat diselamatkan fungsinya.(3) Tujuan utama dari eviscerasi adalah
untuk meredakan rasa sakit, mengendalikan infeksi, dan menyediakan struktur
rongga mata yang utuh untuk penempatan implan intraokular, sehingga dapat
memberikan hasil kosmetik dan pergerakan prostetik yang optimal.(5)

2.1.2. Sejarah Eviscerasi

Sejarah eviscerasi merupakan bagian dari evolusi bedah ablasi mata yang
telah berlangsung selama berabad-abad. Meskipun enukleasi—pengangkatan
seluruh bola mata—diyakini sebagai prosedur yang lebih kuno, eviscerasi modern
pertama kali dideskripsikan pada tahun 1817 oleh seorang ahli bedah bernama
Beer.(2) Ia melakukan prosedur ini secara tidak sengaja ketika terjadi perdarahan
ekspulsif (perdarahan hebat) selama operasi glaukoma, yang mengharuskan ia
mengangkat seluruh isi bola mata. Pada tahun 1874, Noyes adalah individu
pertama yang mempublikasikan pengalamannya dan mempopulerkan eviscerasi
sebagai prosedur rutin untuk menangani kasus infeksi intraokular yang parah.(2)

3
4

Titik balik penting dalam sejarah eviscerasi terjadi pada tahun 1884 ketika
Mules memperkenalkan penggunaan implan berupa bola kaca berongga ke dalam
cangkang sklera yang dieviserasi.(2) Penemuan ini menjadi tonggak penting
karena memulai era pencarian implan ideal untuk menggantikan volume mata
yang hilang dan meningkatkan luaran kosmetik.

Sepanjang sejarahnya, eviscerasi sempat mengalami pasang surut


popularitas. Pada awalnya, prosedur ini sempat dihindari karena kekhawatiran
akan risiko oftalmia simpatik—suatu kondisi autoimun langka yang dapat
menyerang mata sehat.(2) Namun, dengan pemahaman yang lebih baik mengenai
patofisiologi dan teknik bedah yang terus berkembang, risiko ini kini dianggap
sangat minimal. Di era modern, dengan ketersediaan implan yang lebih canggih
dan biokompatibel, eviscerasi telah kembali menjadi prosedur pilihan utama bagi
banyak dokter bedah untuk kondisi tertentu, karena keunggulannya dalam
memberikan luaran kosmetik yang lebih baik dan pergerakan prostetik yang lebih
alami dibandingkan enukleasi.(5)

2.2 Indikasi dan kontra indikasi

2.2.1 Indikasi Eviscerasi


Berikut adalah beberapa indikasi utama dilakukannya eviscerasi, yang
umumnya dikelompokkan berdasarkan kondisi klinis:
 Mata yang Buta dan Nyeri ( Blind, Painful Eye ): Ini adalah indikasi paling
umum. Eviscerasi dilakukan untuk meredakan rasa sakit yang parah dan
kronis pada mata yang tidak memiliki harapan untuk pemulihan
penglihatan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh glaukoma neovaskular
stadium akhir dengan tekanan intraokular yang tidak terkontrol, glaukoma
sekunder akibat trauma, atau kondisi degeneratif lainnya seperti ftisis bulbi
(bola mata yang mengecil dan tidak berfungsi). Rasa nyeri seringkali
disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokular, peradangan kronis, atau
nekrosis jaringan.
 Endoftalmitis: Eviscerasi menjadi pilihan utama untuk kasus infeksi berat
di dalam bola mata. Prosedur ini memungkinkan pengangkatan seluruh
jaringan yang terinfeksi (retina dan koroid) secara efektif tanpa perlu
membuka sekat orbita, sehingga dapat meminimalkan risiko penyebaran
infeksi ke jaringan di luar bola mata(2).
 Trauma Okular Berat: Eviscerasi dilakukan pada kasus trauma yang
menyebabkan bola mata ruptur atau disorganisasi total dari struktur
intraokular. Dalam situasi ini, upaya rekonstruksi dianggap tidak mungkin
atau tidak akan menghasilkan penglihatan, sehingga eviscerasi menjadi
jalan terbaik untuk mencegah infeksi dan mempersiapkan rongga orbita
untuk prostesis.
 Kosmetik: Meskipun seringkali menjadi tujuan sekunder, eviscerasi dapat
dilakukan murni untuk tujuan estetika pada mata yang buta dan mengalami
deformitas, seperti atrofi bola mata atau stafiloma (penonjolan sklera).
Prosedur ini dapat mengembalikan volume rongga mata yang hilang dan
menyediakan dasar yang stabil untuk pemasangan bola mata prostetik
yang memiliki tampilan lebih alami.(1)

2.2.2 Kontra Indikasi Eviscerasi


Meskipun memiliki banyak keunggulan, eviscerasi tidak dapat dilakukan
pada semua kasus. Kontraindikasi yang paling penting dan mutlak adalah:
 Kecurigaan atau Konfirmasi Adanya Keganasan Intraokular:
Ini adalah kontraindikasi utama yang paling krusial. Jika ada kecurigaan
atau diagnosis tumor ganas di dalam mata, seperti melanoma koroid pada
orang dewasa atau retinoblastoma pada anak-anak, eviscerasi tidak boleh
dilakukan.(4) Eviscerasi akan meninggalkan cangkang sklera, yang
berisiko masih mengandung sel-sel tumor. Hal ini dapat menyebabkan
penyebaran (metastasis) sel kanker ke jaringan di sekitarnya. Dalam kasus
ini, enukleasi adalah prosedur yang wajib dilakukan karena pengangkatan
seluruh bola mata dan sebagian nervus optikus memastikan semua

5
6

jaringan tumor terangkat sepenuhnya, memberikan margin keamanan


onkologi yang lebih baik.
 Kecurigaan Simpati Oftalmia:
Meskipun sangat langka, oftalmia simpatik adalah peradangan autoimun
bilateral pada kedua mata yang terjadi setelah trauma tembus pada satu
mata. Prosedur eviscerasi secara historis dikhawatirkan dapat memicu
respons autoimun ini karena koroid yang mengandung antigen di
dalamnya tidak diangkat. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa
risiko ini sangat minimal dan sebanding dengan enukleasi, sehingga
pertimbangan ini tidak lagi menjadi kontraindikasi absolut, melainkan
sebuah kewaspadaan klinis.(2)

2.3 Anatomy yang relevan


Pemahaman anatomi mata sangat esensial untuk melakukan eviscerasi
dengan benar dan mencapai hasil kosmetik terbaik. Prosedur ini secara spesifik
berfokus pada pengangkatan isi bola mata sambil mempertahankan beberapa
struktur kunci yang bertanggung jawab untuk mobilitas prostesis dan dukungan
volume.
 Sklera:
Lapisan terluar bola mata yang berwarna putih, tebal, dan kuat. Sklera
berfungsi sebagai cangkang pelindung dan merupakan struktur yang
dipertahankan dalam operasi eviscerasi. Otot-otot ekstraokular yang
menggerakkan bola mata menempel pada sklera, dan keberadaannya yang
utuh sangat penting untuk transfer gerakan ke prostesis.
 Kapsul Tenon:
Lapisan jaringan ikat tipis yang melingkupi bola mata dari limbus (batas
kornea dan sklera) hingga ke nervus optikus. Kapsul Tenon memisahkan
bola mata dari jaringan lemak orbita dan berfungsi sebagai lapisan yang
membantu menahan implan. Mempertahankan kapsul ini selama eviscerasi
sangat penting untuk stabilitas implan dan motilitas pasca-operasi.(5)
 Otot-otot Ekstraokular:
Terdiri dari empat otot rektus (medial, lateral, superior, inferior) dan dua
otot oblik (superior dan inferior). Otot-otot ini menempel langsung pada
sklera dan bertanggung jawab atas semua gerakan mata. Karena otot-otot
ini tidak dilepas selama eviscerasi, mereka dapat terus menggerakkan
sklera yang dieviserasi, sehingga implan yang diletakkan di dalamnya
akan bergerak secara sinkron dengan mata sehat yang berlawanan.
 Koroid dan Retina:
Koroid adalah lapisan vaskular yang sangat kaya pembuluh darah, berada
di antara sklera dan retina. Retina adalah lapisan saraf sensitif cahaya.
Kedua lapisan ini, bersama dengan lensa, iris, dan badan vitreus, diangkat
sepenuhnya selama eviscerasi. Pengangkatan koroid sangat penting untuk
meminimalkan risiko oftalmia simpatik dan memastikan tidak ada jaringan
intraokular yang tersisa.
 Nervus Optikus:
Saraf optik yang mentransmisikan informasi visual ke otak. Pada
eviscerasi, saraf optik dipotong di bagian posterior bola mata, tetapi
sebagian besar sisa saraf dan struktur di sekitarnya dipertahankan, berbeda
dengan enukleasi yang mengangkatnya bersama bola mata.(1)

Figure 2. 1 Anatomi bola mata

7
8

2.4 Persiapan Pre-Opratif


Persiapan pra-bedah yang cermat sangat penting untuk memastikan
keamanan pasien dan keberhasilan operasi eviscerasi. Proses ini melibatkan
serangkaian evaluasi, pemeriksaan, dan perencanaan yang matang.

2.4.1 Evaluasi Pasien

 Anamnesis dan Riwayat Medis: Menggali riwayat penyakit mata


pasien, termasuk penyebab kebutaan atau nyeri, riwayat trauma,
infeksi sebelumnya, dan gejala lain yang relevan. Riwayat kesehatan
umum, seperti penyakit sistemik (diabetes, hipertensi), alergi, dan
riwayat penggunaan obat-obatan, juga akan dievaluasi untuk
mengidentifikasi potensi risiko pembedahan.
 Pemeriksaan Fisik Okular: Pemeriksaan mata secara menyeluruh
untuk menilai kondisi mata yang akan dioperasi, termasuk tekanan
intraokular, kondisi kornea, konjungtiva, dan adneksa mata.
Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk memastikan tidak ada tanda-
tanda tumor intraokular.

2.4.2 Pemeriksaan penunjang

 Ultrasonografi (USG) Mata: Jika media mata keruh (misalnya, akibat


perdarahan vitreus atau katarak padat) dan bagian dalam mata tidak
dapat divisualisasikan, USG mata adalah alat diagnostik utama. USG
dapat mendeteksi adanya massa intraokular atau disorganisasi struktur
mata(4).
 CT Scan atau MRI Orbita: Pemeriksaan pencitraan ini dilakukan
jika ada kecurigaan adanya tumor yang meluas ke luar bola mata atau
untuk mengevaluasi trauma orbita yang kompleks.(1)
 Pemeriksaan Laboratorium Rutin: Meliputi tes darah lengkap,
koagulasi (INR, PTT), fungsi ginjal dan hati, serta gula darah untuk
memastikan pasien dalam kondisi yang optimal untuk menjalani
operasi [3].

2.4.3 Pemilihan jenis anestesi


Pemilihan anestesi sangat bergantung pada kondisi pasien, preferensi
dokter bedah, dan jenis operasi yang direncanakan.(5)
 Anestesi Umum: Seringkali menjadi pilihan utama, terutama pada pasien
anak-anak, pasien yang sangat cemas, atau kasus infeksi aktif seperti
endoftalmitis, di mana diperlukan stabilitas penuh dan kontrol atas pasien.
Obat-obatan yang umum digunakan dalam anestesi umum meliputi:
o Induksi: Obat seperti Propofol atau Etomidate diberikan secara
intravena untuk membuat pasien kehilangan kesadaran dengan
cepat.
o Pemeliharaan: Anestesi dipertahankan menggunakan agen
inhalasi seperti Sevoflurane atau Isoflurane, atau infus intravena
terus-menerus dari obat seperti Propofol.
o Analgesik: Obat pereda nyeri seperti Fentanyl atau Remifentanil
sering diberikan untuk mengontrol nyeri selama dan setelah
operasi.
o Relaksan Otot: Obat seperti Rocuronium atau Vecuronium dapat
diberikan untuk melumpuhkan otot, memfasilitasi intubasi
endotrakeal dan memastikan imobilitas selama operasi.
 Anestesi Lokal dengan Sedasi: Metode ini dapat digunakan pada pasien
dewasa yang kooperatif. Anestesi lokal disuntikkan di sekitar mata untuk
memblokir rasa sakit dan sensasi. Untuk mengurangi kecemasan dan
ketidaknyamanan selama operasi, sedasi intravena diberikan. Kombinasi
ini memungkinkan prosedur berjalan dengan nyaman bagi pasien tanpa
perlu anestesi umum total, yang seringkali memiliki waktu pemulihan
lebih lama dan risiko lebih tinggi.(1)

9
10

2.5 Teknik Oprasi Eviscerasi


Teknik eviscerasi telah berkembang seiring waktu untuk mengoptimalkan
hasil kosmetik dan meminimalkan komplikasi. Tujuan utama tetap sama:
menghilangkan isi bola mata yang sakit sambil mempertahankan struktur sklera
dan otot-otot ekstraokular.

2.5.1 Macam Teknik Eviscerasi


Secara umum, ada beberapa variasi teknik eviscerasi yang digunakan,
namun semuanya memiliki prinsip dasar yang sama:
 Eviscerasi Konvensional: Ini adalah teknik dasar di mana insisi
melingkar dibuat di limbus (batas kornea dan sklera) atau di posterior
kornea, kemudian isi bola mata diekstrak melalui bukaan ini. Kornea
biasanya dipertahankan atau diangkat, tergantung pada kondisi dan
preferensi ahli bedah.
 Eviscerasi dengan Insisi Sklera Posterior (Posterior Scleral Incisions):
Beberapa ahli bedah membuat insisi tambahan pada sklera posterior dalam
bentuk radial atau "pizza-slice" untuk memfasilitasi penempatan implan
yang lebih besar atau untuk kasus dengan sklera yang sangat kaku.
 Eviscerasi dengan Penutupan Sklera 4-Petal (Four-Petal Scleral
Closure): Teknik ini melibatkan pembuatan empat flap sklera yang
kemudian ditarik ke dalam untuk membentuk ruang implan yang lebih
baik dan penutupan yang lebih kuat di atas implan. Ini adalah salah satu
teknik yang populer untuk mencapai motilitas prostetik yang superior.
 Eviscerasi Modifikasi ( Modified Evisceration ): Ini merujuk pada
variasi yang mungkin menggabungkan elemen dari teknik lain atau
menggunakan material pelapis seperti scleral patch atau dermis fat graft
untuk menutupi implan jika penutupan sklera asli kurang memadai.
2.5.2 Teknik Oprasi Evsicerasi dengan dengan Dermis Fat Graft dan 4
petal
Dalam beberapa kasus, terutama jika implan sintetik tidak disarankan
(misalnya, pada pasien dengan risiko tinggi ekstrusi implan atau riwayat infeksi
berulang), atau untuk mengisi volume orbita secara autolog, dermis fat graft
(DFG) dapat digunakan sebagai implan utama. Teknik ini menggabungkan
eviscerasi dengan penutupan sklera 4-petal untuk membentuk rongga yang ideal
bagi DFG. Berikut adalah langkah-langkah dasar prosedur ini:
1. Insisi Konjungtiva dan Diseksi:
o Setelah anestesi efektif, dilakukan insisi melingkar ( peritomy )
pada konjungtiva dan kapsul Tenon di dekat limbus (batas kornea
dan sklera).(1)
o Diseksi dilanjutkan hingga otot-otot rektus terekspos. Otot-otot ini
tidak dipotong, melainkan diidentifikasi dan dilindungi.

Figure 2. 2 Peritomy 2 mm dari limbus

11
12

2. Pengangkatan Kornea:
o Kornea diangkat dengan membuat insisi melingkar di limbus

menggunakan pisau bedah dan gunting kornea. Pengangkatan


kornea penting untuk memberikan akses penuh ke interior bola
mata dan memfasilitasi eviscerasi.

Figure 2. 3 Proses Ekstraksi Kornea


3. Eviscerasi Isi Bola Mata:
o Sebuah sendok eviscerasi atau kuret khusus digunakan untuk

secara hati-hati memisahkan retina dan koroid dari sklera, mulai


dari tepi insisi.
o Semua isi intraokular, termasuk iris, lensa, badan siliar, retina, dan
koroid, diangkat sepenuhnya. Penting untuk memastikan tidak ada
sisa jaringan uveal yang tertinggal di dalam cangkang sklera,
terutama di sekitar nervus optikus, untuk mencegah oftalmia
simpatik dan peradangan.(2)
o Rongga sklera kemudian dibersihkan secara menyeluruh dari sisa
jaringan atau perdarahan.

Figure 2. 3 Pemisahan koroid dari sklera


4. Pembuatan Flap Sklera 4-Petal:
o Empat insisi radial dibuat pada sklera, membagi cangkang sklera

menjadi empat "petal" atau flap. Insisi ini biasanya dibuat pada
posisi jam 12, 3, 6, dan 9, atau disesuaikan dengan posisi otot
rektus. InsisiFigure
ini tidak
2. 4boleh melewati
Ekstraksi area mata
isi bola insersi otot rektus untuk
menjaga integritas dan fungsi otot.(5)
5. Pengambilan Dermis Fat Graft (DFG):
o Insisi dibuat pada area donor yang kaya lemak subkutan, seperti

daerah bokong atau paha, untuk mengambil graft yang terdiri dari
lapisan dermis dan jaringan lemak di bawahnya. Ukuran graft
disesuaikan dengan volume yang dibutuhkan untuk mengisi rongga
sklera.(1)
o Area donor kemudian ditutup dengan hati-hati.

Figure 2. 5 Marker area pengambilan DFG

13
14

6. Penempatan Dermis Fat Graft:


o Dermis fat graft yang telah diambil kemudian dibentuk dan

dimasukkan ke dalam rongga sklera yang dieviserasi. Bagian


dermis diletakkan menghadap ke depan, sementara bagian lemak
mengisi volume di belakangnya.

Figure 2. 8 Peletakan DFG pada rongga


sklera

7. Penutupan Sklera di Atas DFG:


o Flap-flap sklera 4-petal yang telah dibuat kemudian ditarik ke

tengah dan dijahit di atas DFG menggunakan benang absorbable


yang kuat (misalnya, Vicryl 5-0 atau 6-0). Penjahitan dilakukan
secara berlapis untuk memastikan penutupan yang aman dan kuat
di sekitar graft.
8. Penutupan Kapsul Tenon dan Konjungtiva:
o Kapsul Tenon kemudian dijahit di atas DFG dan sklera, diikuti
dengan penutupan konjungtiva menggunakan benang yang lebih
halus (misalnya, Vicryl 6-0 atau 7-0).(5)
o Penutupan yang baik dari lapisan ini sangat penting untuk
mencegah komplikasi seperti prolaps graft dan untuk hasil
kosmetik yang optimal.
Figure 2. 9 Penjaitan sklera untuk menutup DFG
9. Pemberian Obat dan Penutup Mata:
o Salep antibiotik atau kortikosteroid topikal diaplikasikan, dan mata
ditutup dengan penutup mata yang menekan (pressure patch) untuk mengurangi
edema dan perdarahan pasca-operasi.(3)
Penggunaan DFG pada eviscerasi menawarkan keuntungan berupa bahan
autolog yang lebih biokompatibel dan berpotensi untuk menyatu lebih baik
dengan jaringan sekitarnya, meskipun ada risiko atrofi graft dari waktu ke waktu.

2.6 Perawatan pasca opratif


Perawatan pasca-operasi eviscerasi sangat penting untuk memastikan
pemulihan yang optimal, mencegah komplikasi, dan mempersiapkan pasien untuk
pemasangan prostesis akhir.
1. Penatalaksanaan Nyeri:
o Pasien mungkin mengalami nyeri sedang hingga berat setelah
operasi. Analgesik oral (misalnya, parasetamol, ibuprofen, atau
opioid ringan jika diperlukan) akan diresepkan untuk mengelola
nyeri [3].
o Kompres dingin dapat membantu mengurangi bengkak dan
ketidaknyamanan pada area orbita.
2. Pemberian Obat Topikal dan Sistemik:
o Antibiotik topikal (tetes mata atau salep) akan diberikan untuk
mencegah infeksi pada lokasi operasi.

15
16

o Kortikosteroid topikal juga sering diresepkan untuk mengurangi


peradangan dan pembengkakan.
o Antibiotik oral dapat diberikan, terutama pada kasus eviscerasi
akibat infeksi berat atau jika ada kekhawatiran infeksi pasca-
operasi.
o Anti-inflamasi non-steroid (NSAID) oral dapat diresepkan untuk
membantu mengontrol nyeri dan peradangan sistemik.
3. Perawatan Luka dan Penutup Mata:
o Pressure patch atau balutan mata yang menekan biasanya dilepas
dalam 24-48 jam pertama.
o Area mata harus dijaga kebersihannya dan pasien diinstruksikan
untuk menghindari menggosok mata.
o Pembersihan luka dengan larutan salin steril atau air bersih dapat
dilakukan sesuai instruksi dokter.
4. Aktivitas dan Pembatasan:
o Pasien akan disarankan untuk menghindari aktivitas berat,
membungkuk, atau mengangkat beban yang dapat meningkatkan
tekanan di kepala dan mata selama beberapa minggu pertama.
o Menghindari paparan debu, asap, atau iritan lainnya sangat penting
untuk mencegah iritasi atau infeksi.
5. Pemasangan Conformer dan Prostesis:
o Setelah beberapa minggu (biasanya 4-6 minggu), ketika
pembengkakan telah mereda dan penyembuhan jaringan sudah
baik, conformer (cangkang plastik transparan) akan dipasang di
rongga mata. Conformer membantu menjaga bentuk rongga dan
mencegah kontraksi jaringan.(1)
o Sekitar 2-3 bulan pasca-operasi, atau ketika rongga mata sudah
stabil, pasien akan dirujuk ke ahli prostetik untuk pembuatan dan
pemasangan bola mata artifisial (prostesis okular) yang permanen.
Implan DFG dapat memberikan gerakan yang sangat baik pada
prostesis karena terintegrasi dengan otot-otot ekstraokular.
6. Pencegahan Komplikasi:
o Pasien harus diedukasi mengenai tanda-tanda komplikasi seperti
infeksi (nyeri hebat, kemerahan, bengkak, keluar nanah), ekstrusi
implan (jika implan sintetik digunakan), atau atrofi graft (pada
DFG) yang dapat menyebabkan enophthalmos.(5)
o Pemeriksaan tindak lanjut rutin dengan dokter mata sangat penting
untuk memantau proses penyembuhan, mengevaluasi hasil
kosmetik, dan menangani potensi komplikasi sejak dini.
Perawatan pasca-operasi yang komprehensif dan patuh akan berkontribusi
besar pada hasil akhir yang sukses dan kepuasan pasien setelah eviscerasi.

2.7 Komplikasi
Meskipun eviscerasi adalah prosedur yang relatif aman, seperti halnya
setiap operasi bedah, ada potensi terjadinya komplikasi baik segera setelah operasi
maupun dalam jangka panjang. Pemahaman tentang komplikasi ini penting untuk
informed consent pasien dan manajemen pasca-operasi yang tepat.
1. Perdarahan:
o Perdarahan Intraoperatif: Dapat terjadi selama proses eviscerasi,
terutama jika ada jaringan vaskular yang tidak terekstrak dengan
sempurna atau saat memotong nervus optikus. Kontrol hemostasis
yang cermat sangat penting.
o Hematoma Orbita: Penumpukan darah di rongga orbita pasca-
operasi dapat menyebabkan pembengkakan signifikan, nyeri, dan
dalam kasus yang jarang, dapat menekan nervus optikus.
2. Infeksi:
o Infeksi Luka Operasi: Meskipun jarang, infeksi pada area jahitan
atau di dalam rongga sklera dapat terjadi, terutama pada kasus

17
18

eviscerasi karena endoftalmitis. Pemberian antibiotik profilaksis


dan menjaga kebersihan adalah kunci pencegahan.(2)
o Selulitis Orbita: Infeksi yang menyebar ke jaringan lemak di
sekitar mata, meskipun langka, merupakan komplikasi serius yang
membutuhkan penanganan antibiotik intravena segera.
3. Ekstrusi/Prolaps Graft (Khusus DFG):
o Ini adalah komplikasi spesifik pada penggunaan Dermis Fat Graft
(DFG). Graft dapat keluar dari rongga sklera jika penutupan tidak
kuat atau jika terjadi nekrosis pada bagian graft.(1)
o Manajemennya mungkin memerlukan penjahitan ulang atau revisi.

4. Atrofi Graft (Khusus DFG):


o DFG dapat mengalami atrofi (penyusutan volume) seiring waktu,
yang dapat menyebabkan enophthalmos (bola mata tampak cekung
ke dalam) dan hasil kosmetik yang kurang optimal.(1) Ini adalah
salah satu keterbatasan utama penggunaan DFG.
5. Nyeri Kronis:
o Meskipun tujuan utama eviscerasi adalah meredakan nyeri,
beberapa pasien mungkin mengalami nyeri kronis pasca-operasi
yang persisten, meskipun jarang.
6. Pembentukan Kista Konjungtiva:
o Kista dapat terbentuk pada konjungtiva akibat sisa-sisa sel epitel
yang terjebak selama penutupan luka. Umumnya bersifat jinak dan
dapat diangkat jika mengganggu.
7. Deformitas Rongga Mata dan Hasil Kosmetik Suboptimal:
o Enophthalmos: Bola mata prostetik terlihat cekung ke dalam,
yang bisa terjadi akibat atrofi DFG, implan yang terlalu kecil (jika
implan sintetik), atau kontraksi jaringan lunak orbita.(5)
o Upper Eyelid Sulcus Deformity: Cekungan pada kelopak mata
atas yang berlebihan, seringkali terkait dengan enophthalmos.
o Motilitas Prostesis Buruk: Gerakan prostesis yang tidak sinkron
atau terbatas dibandingkan mata sehat dapat terjadi jika otot-otot
ekstraokular tidak berfungsi optimal dalam mentransfer gerakan ke
implan/graft, atau jika ada perlekatan jaringan yang tidak
diinginkan.
8. Oftalmia Simpatik:
o Komplikasi autoimun bilateral yang sangat langka namun serius.
Meskipun risiko ini jauh lebih rendah pada eviscerasi dibandingkan
dengan trauma tembus yang tidak diobati, secara teoritis masih ada
karena koroid (jaringan yang kaya antigen) diangkat sebagian.(2)
Risiko ini lebih tinggi jika ada sisa jaringan uveal yang tertinggal.
9. Komplikasi Donor Site (Khusus DFG):
o Jika DFG digunakan, komplikasi dapat terjadi pada lokasi
pengambilan graft, seperti nyeri, infeksi, pembentukan hematoma,
parut hipertrofik, atau perubahan sensasi.(1)
Manajemen yang cermat dari komplikasi ini, serta komunikasi yang jelas
dengan pasien mengenai potensi risikonya, adalah bagian integral dari perawatan
pasca-eviscerasi.

2.8 Prognosis
Prognosis setelah eviscerasi pada umumnya sangat baik, terutama dalam
hal mencapai tujuan utama prosedur yaitu menghilangkan rasa nyeri dan infeksi
pada mata yang buta, serta menyediakan hasil kosmetik yang memuaskan.(5)
Sebagian besar pasien melaporkan perbaikan signifikan dalam kualitas hidup
setelah eviscerasi karena hilangnya nyeri kronis dan peningkatan kepercayaan diri
akibat rekonstruksi tampilan mata. Dengan teknik bedah yang tepat, penggunaan
dermis fat graft (DFG) yang sesuai, dan perawatan pasca-operasi yang teliti,
sebagian besar pasien dapat mencapai rongga orbita yang stabil dan fungsional
untuk pemasangan prostesis okular.(1) Gerakan prostesis yang baik seringkali
dapat dicapai karena otot-otot ekstraokular dipertahankan dan terintegrasi dengan

19
20

graft. Meskipun ada potensi komplikasi seperti atrofi graft atau kebutuhan akan
revisi, kemajuan dalam teknik bedah dan material graft terus meningkatkan luaran
jangka panjang. Secara keseluruhan, eviscerasi menawarkan solusi efektif dan
aman bagi pasien dengan mata buta dan nyeri yang tidak dapat dipertahankan,
memberikan harapan untuk perbaikan fungsi dan estetika yang signifikan.
BAB 3
KESIMPULAN
Eviscerasi adalah prosedur bedah okular yang efektif untuk manajemen
mata yang buta, nyeri, atau mengalami disorganisasi berat akibat trauma atau
infeksi seperti endoftalmitis, dengan tujuan utama meredakan gejala dan mencapai
hasil kosmetik yang optimal. Prosedur ini melibatkan pengangkatan isi bola mata
(retina, koroid, lensa, vitreus) sambil mempertahankan cangkang sklera, kapsul
Tenon, dan otot-otot ekstraokular, yang membedakannya dari enukleasi.
Kontraindikasi mutlak yang harus diperhatikan adalah adanya kecurigaan
keganasan intraokular.
Persiapan pre-operatif meliputi evaluasi medis menyeluruh, pemeriksaan
penunjang seperti USG mata untuk menyingkirkan tumor, serta pemilihan anestesi
yang sesuai (umum atau lokal dengan sedasi). Teknik operasi eviscerasi telah
berevolusi, dengan teknik penutupan sklera 4-petal sering digunakan bersamaan
dengan penempatan implan, seperti dermis fat graft (DFG), untuk memberikan
dukungan volume yang baik dan motilitas prostetik yang alami.
Perawatan pasca-operasi sangat krusial untuk mencegah komplikasi dan
memastikan penyembuhan optimal. Ini mencakup penatalaksanaan nyeri,
pemberian antibiotik dan anti-inflamasi, perawatan luka, serta pembatasan
aktivitas fisik. Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi perdarahan, infeksi,
ekstrusi atau atrofi graft (pada DFG), nyeri kronis, deformitas rongga mata, dan
yang sangat jarang, oftalmia simpatik.
Meskipun terdapat potensi komplikasi, prognosis pasca-eviscerasi
umumnya baik. Sebagian besar pasien mengalami perbaikan signifikan dalam
kualitas hidup, bebas dari nyeri kronis, dan mencapai hasil estetika yang
memuaskan dengan penggunaan prostesis okular yang bergerak. Dengan
pemilihan pasien yang tepat, teknik bedah yang cermat, dan perawatan pasca-
operasi yang komprehensif, eviscerasi menjadi pilihan yang berharga dalam
rekonstruksi okular.

21
22

DAFTAR PUSTAKA

1. Dutton, J. J. (2012). Atlas of Oculoplastic and Orbital Surgery. Jaypee


Brothers Medical Publishers.
2. Foster, D. S., et al. (2018). Ophthalmic Surgery: Principles and Practice.
Elsevier.
3. Khurana, A. K., et al. (2019). Comprehensive Ophthalmology. Jaypee
Brothers Medical Publishers.
4. Spencer, W. H. (2011). Ophthalmic Pathology: An Atlas and Textbook.
Saunders.
5. American Academy of Ophthalmology. (2020). Basic and Clinical Science
Course, Section 7: Oculofacial Plastic and Orbital Surgery. American
Academy of Ophthalmology.

Anda mungkin juga menyukai