0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan66 halaman

Stroke Hemoragik: Diagnosis dan Tatalaksana

Dokumen ini membahas tentang stroke hemoragik, yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak dan seringkali terkait dengan hipertensi. Contoh kasus pasien berusia 63 tahun menunjukkan gejala penurunan kesadaran dan kelemahan anggota gerak, serta hasil pemeriksaan yang mengindikasikan perdarahan intraserebral. Penanganan meliputi medikamentosa dan fisioterapi, dengan prognosis yang diragukan.

Diunggah oleh

Abraar Roffa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan66 halaman

Stroke Hemoragik: Diagnosis dan Tatalaksana

Dokumen ini membahas tentang stroke hemoragik, yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak dan seringkali terkait dengan hipertensi. Contoh kasus pasien berusia 63 tahun menunjukkan gejala penurunan kesadaran dan kelemahan anggota gerak, serta hasil pemeriksaan yang mengindikasikan perdarahan intraserebral. Penanganan meliputi medikamentosa dan fisioterapi, dengan prognosis yang diragukan.

Diunggah oleh

Abraar Roffa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STROKE

HEMORAGIK
Preseptor
Dr. Intan Sahara Zein, SP. S

Muhammad Abraar Roffa


2306112082
BAB 1. Pendahuluan

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis yang disebabkan oleh per-
darahan ataupun sumbatan dengan gejala dan tanda yang sesuai pada bagian
otak yang terkena, yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.
Stroke hemoragik terjadi pada otak yang mengalami kebocoran atau pecah-
nya pembuluh darah yang ada di dalam otak, sehingga darah menggenangi atau
menutupi ruang-ruang jaringan sel di dalam otak. Stroke hemoragik umumnya di-
dahului oleh penyakit hipertensi. Hipertensi merupakan faktor resiko paling pent-
ing pada kejadian stroke hemoragik baik bagi laki laki ataupun perempuan.
BAB 2
LAPORAN KASUS
Ny. t 63 thn
IDENTITAS PASIEN
Aceh utara
IRT
KELUHAN UTAMA

Menikah Aceh Penurunan kesadaran


KELUHAN TAM-
BAHAN
Islam 14.38.03
Kelemahan anggota Gerak
kanan
3 Maret 2025 8 maret 2025
Riwayat Penyakit
Sekarang
PasPasien diantar oleh keluarga ke IGD RSU Cut Meutia dengan
Penurunan kesadaran secara tiba tiba 1 hari SMRS. Penurunan
kesadaran terjadi saat pasien sedang di kamar mandi, sehingga pasien
terjatuh. Selain itu, pasien juga mengeluhkan kelemahan anggota gerak
sebelah kanan sejak 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan nyeri
kepala hebat yang terasa seperti ditekan dan tidak membaik setelah
istirahat. Tidak ada muntah, tidak ada demam, dan tidak ada kejang.
01. Riwayat Penyakit Dahulu
•Riwayat gejala serupa: Keluarga mengatakan baru ini mengalami
keluahn tersebut
•Riwayat trauma : pasien terjatuh di kamar mandi karena penurunan
kesadaran dan kelemahan anggota gerak secara tiba-tiba
•Riwayat HT (+) , DM (-)

02. Riwayat penyakit keluarga


Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami hal serupa
dengan pasien.

03. Riwayat Penggunaan Obat


Pasien pernah mengonsumsi obat anti hipertensi, tetapi keluarga lupa nama
obatnya. Pasien mengonsumsi obat antihipertensi secara tidak teratur.
04. Riwayat Alergi
Obat : disangkal
Makanan : disangkal
Status Generalis
Normochepali Pembesaran KGB (-)

Konjungtiva anemis (-/-) Simetris statis dinamis, Stem


Sklera ikterik (-/-) fremitus kanan = kiri

Septum deviasi (-), sekret Vesikuler (+/+), Ronki (-/-),


(-/-), mukosa hiperemis (-/-)
Wheezing (-/+)

Distensi dinding abdomen(-),


Normoauricula Peristaltik, Nyeri tekan(-),
Timpani.

Sianosis(-) akral hangat, oedema (-),


Deviasi lidah (-) sianosis (-)
STATUS NEU-
ROLOGIS
MOTORIK
PUPIL TRM GCS
1111/4444 KK (+)
Isokor 2mm/2mm, RCL
1111/4444 KS (-/-) E2M2V5
(+/+), RCTL (+/+)
LS (-/+)

SENSORIK
REF. FISIOLOGIS REF. PATOLOGIS OTONOM
Raba (tidak dapat
Bicep +2/+2 Babinski -/- Miksi (dbn), Defekasi di nilai )
Tricep +2/+2 Chadok -/- Oppenheim -/- (dbn), Hidrosis (dbn) Nyeri (+)
Achiles +2/+2 Gordon -/- Schaffer (-/-)
Pattela +2/+2
NERVUS CRANIALIS
N. XI
Otot leher dan bahu :
(-)
N.I N. V N. IX
Sulit di nilai Pengecapan : (-)
Sensasi wajah
Mengunyah Membuka
N.II mulut : (-)
N. VII
Visus : Normal Menutup mata N. XII
Lap. Pandang : (-)
Deviasi Lidah : Negatif

N. III,IV, VI N. X
Pergerakan bola
mata : N. VIII Ref. Menelan
Ref. Batuk :
Dalam batas normal Pendengaran dan Dalam batas normal
Keseimbangan : Dalam
batas normal
LABORATORIUM
3-16 Maret 2025
Pemeriksaan Radiologi
Foto Head CT Scan (3 Maret 2025)
Hasil:

- Tak tampak soft tissue swelling extracranial

- Pada widow tulang tak tampak diskontinuitas tulang

- Tampak Sulci dan gyri tak prominent

- Batas white matter dan gray matter samar

- Tampak lesi hyperdense pada corona radiata sinistra hingga lobus temporalis sinistra serta
meluas ke cisterna, densitas lk. 54 HU vlume lk. 37mL

- Sistema ventrikel menyempit

- Midline di tengah, tak terdeviasi

Kesan :
⁃ICH pada corona radiata sinistra hingga lobus temporalis sinistra serta
meluas ke cisterma, volume lk 37mL
Pemeriksaan Radiologi
Foto Thorax (5 Maret 2025)
Hasil:

- Tampak Konsolidasi pada pulmo sinistra

- Tampak sinus costofrenicus bilateral lancip

- Tampak diagfragma bilateral licin tidak mendatar

- Cor, CTR >0.55

- Sistema tulang yang tervisualisasi intact

Kesan :

⁃ Pneumonia
- Cardiomegaly
RESUME
Ny. T usia 63 tahun diantar oleh keluarga ke IGD RSU Cut Meutia dengan
Penurunan kesadaran secara tiba tiba 1 hari SMRS. Penurunan kesadaran terjadi saat
pasien sedang di kamar mandi, sehingga pasien terjatuh. Selain itu, pasien juga
mengeluhkan kelemahan anggota gerak sebelah kanan sejak 1 hari SMRS. Pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala hebat yang terasa seperti ditekan dan tidak membaik setelah
istirahat. Tidak ada muntah, tidak ada demam, dan tidak ada kejang. Keluarga
mengatakan baru ini mengalami keluahn tersebut. Riwayat operasi pada pasien
disangkal. Riwayat hipertensi (+) keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat
hipertensi sejak 10 tahun yang lalu. Riwayat Diabetes Mellitus disangkal dan riwayat
alergi obat disangkal. Riwayat keluarga dengan gejala serupa disangkal. Riwayat
hipertensi pada anak dan saudara-saudara pasien (+). Pasien pernah mengonsumsi
obat anti hipertensi, tetapi keluarga lupa nama obatnya. Pasien mengonsumsi obat
antihipertensi secara tidak teratur.
RESUME
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit berat
dengan kesadaran E2M2V5. Tanda-tanda vital pasien tekanan Darah: 183/109mmHg,
nadi: 71 x/i, pernapasan: 21x/i, suhu tubuh : 36 dan SpO2: 98%. Pada pemerik-
saan pupil didapatkan pupil isokor  2mm/2mm, RCL (+/+), dan RCTL (+/+). Pada
pemeriksaan TRM didapatan kaku kuduk positif. Pemeriksaan nervus cranialis sulit di-
lakukan pada pasien. kekuatan motorik pasien pada ektremitas atas dan bawah sebelah
kanan adalah 1111, sedangkan pada extremitas atas dan bawah sebelah kiri adalah
4444. Tidak didapatkan adanya atrofi otot dan tonus otot normal. Pada pemeriksaan re-
flex fisiologis normal dan reflex patologis tidak ada. Pada pemeriksaan sensorik sulit
untuk dilakukan pada pasien ini. Pada fungsi otonom pasien, pasien tidak BAB selama
dirawat di rumah sakit, pasien kencing dibantu dengan kateter, dan hidrosis normal.
RESUME
Dari hasil pemeriksaan didapatkan diagnosis klinis yaitu penurunan
kesadaran, hemiparese dex, krisis hipertensi, cephalgia. Diagnosis etiologi yaitu
ICH. Diagnosis topis yaitu Corona radiata sinistra hingga lobus temporalis
sinistra dan cisterna. Diagnosis patologis yaitu Hipertensi (pecah pembuluh
darah). Pasien diberikan tatalaksana medikamentosa IVFD Asering 20 tpm,
IVFD Manitol 10cc/H, IVFD Aminofluid/H, Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam, Inj. Citi-
colin 500mg/12jam, Inj. Ondancetron/12jam, Inj. Ketorolac/12jam, Inj. Omepra-
zole 40mg/12jam, Amlodipine 1x10mg. Keluarga pasien menolak tindakan be-
dah oleh spesialis bedah saraf.
Diagnosis
Diagnosis Klinis : Penurunan kesadaran, Hemiparese dex, Krisis hipertensi,
Chepalgia,Pneumonia
Diagnosis Etiologi: ICH
Diagnosis Topis : Corona radiata sinistra hingga lobus temporalis sinistra dan cisterna
Diagnosis Patologis : Hipertensi (pecah pembuluh darah)

Prognosis
• Quo ad vitam : dubia ad Malam
• Quo ad fuctionam : dubia ad Malam
• Quo ad sanam : dubia ad Malam
TATALAKSANA
Medikamentosa Non Medikamentosa
Medikamentosa: Fisioterapi
IVFD Asering 20 tpm
IVFD Manitol 10cc/H
Latihan ringan
IVFD Aminofluid/H
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
Inj. Citicolin 500mg/12jam
Inj. Ondancetron/12jam
Inj. Ketorolac/12jam
Inj. Omeprazole 40mg/12jam
Amlodipine 1x10mg
25 JUNI 2024
03

Tinjauan Pustaka
Epidemiologi
Perdarahan intraserebral
Insidens penyakit stroke
menyebabkan 10-15% kasus
hemoragik di seluruh serangan stroke pertama kalinya.
dunia adalah sebanyak
4,1 juta orang per tahun. Dengan angka kematian selama
Lebih dari setengah se- 30 hari dari 35% menjadi 52%
mua kematian akibat dimana setengah dari angka ke-
stroke, matian tersebut terjadi dalam
yaitu 51% disebabkan 2 hari pertama
Oleh stroke hemoragik
Penderita stroke di Indonesia menurut hasil Riskesdas 2018
meningkat dibandingkan tahun 2013 dari : 7  10,9 per 1.000
penduduk.
Angka kejadian stroke hemoragik di Asia lebih tinggi diband-
ingkan di negara barat. Hal ini dapat disebabkan karena
tingginya angka kejadian hipertensi pada populasi Asia
Stroke Hemoragik adalah serangan terjadi pada
otak yang mengalami kebocoran atau pecahnya pembuluh
darah di dalam otak, sehingga darah menggenangi atau
DEFINISI menutupi ruang – ruang jaringan sel otak. Adanya darah
yang menggenangi dan menutupi jaringan sel otak, akan
menyebabkan kerusakan jaringan sel otak dan ini
menyebabkan kerusakan fungsi otak.
DUNIA INDONESIA
Menurut World Stroke Organization
Menurut Riskesdas 2018
2019

EPIDEMIOLOGI 13,7 Juta


Kasus Stroke Baru pertahun 10,9/1000
Penduduk Menderita Stroke

5,5 Juta
Kematian akibat stroke pertahun
KATEGORI STROKE HEMORAGIK

• ICH • SAH
Subarachnoid Hemorrhage (SAH)
adalah masuknya darah keruang
Intracerebral hemorrhage (ICH)
subarachnoid baik dari tempat lain
adalah perdarahan nontraumatik
(Sekunder), atau berasal dari
ke dalam jaringan otak.
rongga subarachnoid itu sendiri
(primer)
ETIOPATOGENESIS
Stroke hemoragik dibagi menjadi perdarahan intraserebral dan perdarahan sub-
arachnoid.
• Faktor resiko secara umum;
a. Unmodified risk factor; umur, jenis kelamin, ras, riwayat stroke dalam
keluarga
b. Modified risk factor; hipertensi, atrial fibrilasi, TIA, dislipidemia, obesitas,
merokok, caffein dll

Pada perdarahan intraserebral : e. Gangguan koagulasi


a. Hipertensi f. Antikoagulan
b. Aneurisma g. Vaskulitis
c. Malformasi arteroivenous h. Trauma, dan idiopatik
d. Neoplasma
ETIOLOGI

• Aneurisma • Arteriovenous
Malformation
1. Neurofibromatosis
2. Konsumsi tembakau
3. Tekanan darah tinggi Penyebab pasti belum diketahui
4. Kolesterol tinggi Umumnya dianggap lesi bawaan
ketika perkembangan janin
5. Penyalahgunaan alcohol
6. Degeneratif
Beberapa Lifestyle yang dapat menyebabkan stroke

1. Konsumsi kopi
Cara kerja kafein dalam tubuh dengan mengambil alih reseptor adinosin dalam sel saraf yang yang akan
memicu produksi hormon adrenalin dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Vasokontriksi dan
retensi pada pembuluh darah akan menyebabkan sulitnya darah untuk mengalir yang lama-kelamaan
akan mengakibatkan sumbatan
2. Merokok
Zat kimia yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan
mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.
3. Ketidakaktifan fisik
Ketidakaktifan fisik merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya serangan stroke, yang ditandai
dengan penumpukan substansi lemak, kolesterol, kalsium dan unsur lain yang mensuplai darah ke otot
jantung dan otak, yang berdampak terhadap menurunnya aliran darah ke otak maupun jantung
1. Hypertension Intracerebral Hemorrhage

Pada hipertensi kronik, akan terjadi remodelling vaskular pada pembuluh darah, termasuk
pembuluh darah otak, yang dapat menyebabkan kelemahan dinding pembuluh darah dan
menimbulkan mikroaneurisma yang dikenal sebagai mikroaneurisma Charcot-Bouchard
Biasa terjadi di percabangan a. lenticular striata di ganglia basal, cortex
2.Cerebral
Amyloid
Angiopathy
Intracerebral
Hemorrhage

terjadi akumulasi/pengendapan peptida β-amiloid di kapiler, arteriol, dan arteri berukuran kecil dan
sedang di korteks, leptomeninges, dan serebelum. Akumulasi ini akan menyebabkan gangguan di dinding
pembuluh darah, yang kemudian menyebabkan mikroaneurisma, dan bila pecah akan menyebabkan stroke
hemoragik
Molekuler Cedera Otak Sekunder pada Stroke Hemoragik
Kerusakan sawar darah otak pada stroke hemoragik diperantarai oleh tiga mekanisme kematian sel
terprogram, yaitu:
1.Necroptosis; adalah kematian sel yang mirip dengan nekrosis dalam hal gambaran morfologis,
seperti dipicu oleh ligan kematian atau rangsangan intraseluler dan dieksekusi secara tidak tergan-
tung caspase (caspase- independent). Secara morfologis, necroptosis dibedakan dari apoptosis den-
gan adanya sekumpulan sel yang mati, yang dapat ditandai dengan kerusakan dini integritas mem-
bran, pembengkakan sel dan organel, granulasi sitoplasma, fragmentasi kromatin, serta lisis sel.

2.Pyroptosis, adalah bentuk proinflamasi kematian sel. Secara morfologis, kematian sel pyroptosis
memiliki ciri nekrosis dan apoptosis. Perubahan morfologi meliputi ruptur membran sel seperti
nekrosis, pembentukan pori, pembengkakan sel, pelepasan kandungan intraseluler pro- inflamasi,
serta kondensasi nukleus mirip apoptosis dan fragmentasi DNA. Berbeda dengan apoptosis, sel py-
roptotic memiliki mitokondria integral dan pembentukan vesikel 'berbentuk balon', tetapi tidak ada
pelepasan sitokrom c.

3.Ferroptosis; adalah bentuk kematian sel yang ditandai dengan akumulasi zat besi intraseluler dan
radikal bebas (radical oxygen species/ROS) lipid. Manifestasi morfologi utama ferroptosis adalah
penyusutan volume sel dan peningkatan kepadatan membran mitokondria.
PATOFISIOLOGI
Faktor Resiko

Aneurism

Gangguan perfusi jaringan


Hematoma serebral ICH / SAH
serebral

Peningkatan TIK Iskemik/infark

Penurunan Kesadaran Deficit Neurologis

Edema Suplai O2 Jatuh


Paru menurun Lidah Hambatan Mobilitas
Fisik
Gangguan Gangguan Jalan nafas
nafas perfusi jar. terganggu
serebral
Menurut American Stroke Association, 2016:
Manifestasi Klinis Stroke:
• Kelemahan pada satu sisi tubuh secara mendadak
• Afasia/disartria Mendadak
• Gangguan penglihatan mendadak
• Gangguan berjalan, pusing, kehilangan keseimbangan men-
dadak
MANIFESTASI • Sakit kepala mendadak

KLINIS
Manifestasi Klinis Tambahan Stroke Hemoragik:
• Nyeri kepala berat
• Muntah proyektil
• Penurunan kesadaran
• Tanda rangsang meningeal (+) pada SAH
1. Gejala perdarahan intraserebral
Perdarahan intraserebral umumnya terjadi pada usia 50-75 tahun
. Perdarahan intraserebral umunya akan menunjukkan gejala klinis berupa:
a. Terjadi pada waktu aktif
b. Nyeri kepala, yang di ikuti dengan muntah dan penurunan kesadaran
c. Adanya riwayat hipertensi kronis
d. Nyeri telinga homolaterlal, afasia
MANIFESTASI e. Hemiparese kontralateral

KLINIS 2. Gejala perdarahan subarachnoid


Pada perdarahan subarachnoid akan menimbulakan tanda dan gejala klinis
berupa:
f. Nyeri kepala yang hebat dan mendadak
g. Hilangnya kesdaran
h. Fotofobia
i. Meningismus
j. Mual dan muntah
k. Tanda-tanda perangsangan meningeal, seperti kaku kuduk.
DIAGNOSIS

• Anamnesis
Adanya factor resiko, durasi & onset, tidak adanya riwayat trauma,
manifestasi klinis SH
• Siriraj Stroke Skor
1
(2,5 × K) + (2 × M) + (2 × N) + (0,1 × D) 2
- (3 × A) – 12.
1
apabila SSS > 1 berarti pasien
1
mengalami stroke hemoragik
apabila SSS < -1 maka pasien 1
mengalami stroke iskemik
Diagnos
a Bila sudah ditetapkan sebagai penyebabnya adalah
stroke, maka langkah berikutnya adalah menetapkan
1. Anamnesis stroke tersebut termasuk jenis yang mana, stroke
hemoragis atau stroke non hemoragis

Perbedaan stroke hemoragik dan stroke infark berdasarkan anamnesis


Algoritma Penilaian Stroke
Algoritma Stroke Gadjah Mada
Siriraj Stroke Score
(SSS)

Catatan : 1. SSS > 1 = Stroke hemoragik


2. SSS < -1 = Stroke non hemor-
agik
2. Pemeriksaan Fisik
DIAGNOSIS

• CT-Scan non kontrast

Lesi Hiperdens pada ICH


3. Pemeriksaan
Penunjang
DIAGNOSIS

• CT-Scan non kontrast

Lesi Hiperdens khas


berbentuk stellate pada SAH
Besarnya volume perdarahan dapat diestimasi dengan
menggunakan metode ABC .
Volume perdarahan (dalam cc) = (AxBxC)/2

A = diameter terbesar hematom pada salah satu poton-


gan CT scan (dalam cm)
B = diameter perpendikular terhadap A (dalam cm)
C = jumlah potongan CT scan yang terdapat hematom x
tebal potongan CT scan (dalam cm).

(poin C), yaitu:


 Potongan CT scan dihitung 1 bila luas
hematom pada potongan tersebut >75%
 Potongan CT scan dihitung 0,5 bila luas
hematom pada potongan tersebut 25-75%
 Potongan CT scan tidak dihitung bila luas
hematom pada potongan tersebut <25%
Volume perdarahan (dalam cc)
= (AxBxC)/2

= (4 x 3 x (1+1+0,5+0,5))
2
= ±18 cc
Tata laksana
Penatalaksana
an

Tata laksana stroke hemoragik dapat dibagi menjadi tata laksana umum dan
khusus.
 Tata laksana umum bertujuan untuk menjaga dan mengoptimalkan
metabolisme otak meskipun dalam keadaan patologis.
 Tata laksana khusus bertujuan untuk melakukan koreksi koagulopati
untuk mencegah perdarahan berlanjut, mengendalikan tekanan darah,
identifikasi kondisi yang membutuhkan intervensi bedah, serta
melakukan diagnosis dan terapi terhadap penyebab perdarahan.
Tata Laksana Khusus

1. Perawatan di Unit Stroke


2. Koreksi Koagulopati
a. Melakukan pemeriksaan hemostasis, antara lain pro-
thrombin time (PT), activated partial thrombin time (APTT), inter-
national normalized ratio (INR), dan trombosit, serta koreksi se-
cepat mungkin jika didapatkan kelainan.
b. Pasien dengan defisiensi faktor koagulasi berat atau
trombositopenia berat harus diberikan factor replacement
theropy atau trombosit (AHA/ASA kelas 1, level C).
3. Tekanan Darah
Rekomendasi AHA/ASA:
•Pasien dengan tekanan darah (TD) sistolik 150-220mmHg tanpa kon-
traindikasi penurunan tekanan darah akut, tekanan darah relatif aman jika ditu-
runkan
hingga sistolik 140 mmHg. Hal ini efektif memperbaiki keluaran fungsional.
•Pasien dengan tekanan darah sistolik. >220mmHg dapat dilakukan penurunan
tekanan darah secara agresif dengan antihipertensi IV secara kontinu disertai
pemantauan ketat.

4. Mempertahankan Cerebral Perfusion Pressure (CPP)


Pasien stroke hemoragik harus mempunyai tekanan darah yang terkontrol tanpa
melakukan penurunan tekanan darah yang berlebihan. Usahakan TD sistolik
<160mmHg dan CPP dijaga >60-70mmHg. Hal ini dapat dicapai dengan menu-
runkan TIK ke nilai normal dengan pemberian manitol atau operasi
5. Penatalaksanaan Bedah
a.Hematom serebelar dengan diameter >3cm yang disertai penekanan batang otak dan
atau hidrosefalus akibat obstruksi ventrikel
b.Perdarahan dengan kelainan struktur seperti aneurisma atau malformasi arte-
riovena (MAV).
c.Perdarahan lobaris dengan ukuran sedang- besar yang terletak dekat dengan korteks
(<1cm) pada pasien berusia <45 tahun dengan GCS 9-12

6. Pemberian Obat Antibangkitan (OAB)


digunakan untuk terapi bangkitan klinis pada pasien dengan stroke hemoragik

7. Pencegahan Berulang Perdarahan Intraserebral


Tata laksana hipertensi non-akut merupakan hal yang sangat penting untuk menu-
runkan risiko perdarahan berulang

8. Rehabilitasi Medik
Stabilasi Pernafasan Pemberian oksigen jika SpO2 <95%

Pantau Status Neurologis


Selama 72 jam
& TTV

Cairan kristaloid atau koloid IV


Stabilasi Hemodinamik
TERAPI
Meninggikan Kepala 30
derajat • Vitamin K
• Protamin
• Asam Traneksamat
Terapi Farmakologi • Nimodipim
• Anti Hipertensi

Terapi Suportif Manitol (untuk menurunkan TIK)


PEMBEDAHAN

• Kraniektomi Dekompresi
Pada ICH dengan penekanan brain stem atau hidrosefalus

Indikasi:
• Hematoma Cerebral >3cm dengan penekanan brain stem
• Perburukan Kondisi Neurologis
• Onset 4-96 jam pertama (waktu terbaik 21 jam pertama)
• Tidak membaik dengan obat dan untuk livesafing therapy
PEMBEDAHAN

• Endovaskular coiling (Operasi Clipping


Untuk mengurangi perdarahan ulang pada
aneurisma SAH
Rujukan dini untuk dilakukannya Endovaskular
coiling sangat dianjurkan
Prognosis stroke hemoragik dipengaruhi oleh banyak faktor. koma,
hematoma besar dengan volume lebih dari 30 ml, perdarahan intraventrikula,
perdarahan fosa posterior, usia lebih dari 80 tahun, hiperglikemia, penyakit
ginjal kronis dan leukositosis

Skor ICH untuk memprediksi kematian(Hemphill et all):


GCS 3-4 : 2 poin Perdarahan Intraventrikular (+) : 1 poin
GCS 5-12 : 1 poin Perdarahan intraventrikular (-) : 0 poin
Prognosis GCS 13-15 : 0 poin
Usia >80 tahun : 1 poin
Usia <80 tahun : 0 poin
Infratentorial : 1 poin
Supratentorial : 0 poin Mortalitas 30 hari Skor 0 : 0%
ICH >30ml : 1 poin Skor 1 : 13 %
ICH <30ml : 0 poin Skor 2 : 26 %
Skor 3 : 72 %
Skor 4 : 97%
Skor 5&6 : 100%
Prognosis

Prognosis jangka pendek pasien stroke hemoragik dapat diperkirakan


dengan menggunakan skor PIS. Selain itu, terdapat beberapa faktor
yang merupakan penanda prognosis buruk pada stroke hemoragik,
yaitu skor GCS yang rendah, volume PIS ≥30 ml,
terdapat ekspansi hematoma, PIS infratentorial, usia lanjut,
lesi substansia alba yang luas, gizi kurang, hiperglikemia, dan
penyakit ginjal kronis. Studi lainnya meneliti prognosis jangka
Panjang pasien stroke hemoragik selama 4 tahun, dan ditemukan
faktor prognosis yang buruk meliputi usia lanjut, terdapatnya ko-
morbiditas ≥3, komplikasi di rumah sakit, dan PIS berulang.
skor PIS (ICH Score) merupakan salah satu faktor prognostik untuk
tingkat mortalitas pasien dalam 30 hari setelah awitan
Komponen Skor Poin PIS
GCS 3-4 2
5-12 1
13-15 0
Volume PIS (mL) ≥30 1
<30 0
Perdarahan Ya 1
Intraventrikuler Tidak 0
Asal Infratentorial Ya 1
Tidak 0
Usia (tahun) ≥80 1
<80 0
Total skor PIS 0-6
04

Pembahasan
Pembahasan
Ny. T usia 63 tahun diantar oleh keluarga ke IGD RSU Cut Meutia dengan
Penurunan kesadaran secara tiba tiba 1 hari SMRS. Penurunan kesadaran terjadi saat
pasien sedang di kamar mandi, sehingga pasien terjatuh. Selain itu, pasien juga
mengeluhkan kelemahan anggota gerak sebelah kanan sejak 1 hari SMRS. Pasien
juga mengeluhkan nyeri kepala hebat yang terasa seperti ditekan dan tidak membaik
setelah istirahat. Tidak ada muntah, tidak ada demam, dan tidak ada kejang.
Keluarga mengatakan baru ini mengalami keluahn tersebut. Riwayat operasi pada
pasien disangkal. Riwayat hipertensi (+) keluarga pasien mengatakan pasien memi-
liki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu.
Pembahasan
Berdasarkan keluhan pasien, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh pendarahan di
otak akibat pecahnya pembuluh darah. Stroke hemoragik dapat dibagi lagi menjadi perdarahan
intraserebral (ICH) dan perdarahan subarachnoid (SAH). ICH mengeluarkan darah ke parenkim
otak, dan SAH mengeluarkan darah ke ruang subarachnoid. Stroke hemoragik dikaitkan dengan
morbiditas yang parah dan mortalitas yang tinggi Stroke Hemoragik merupakan akibat dari
pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menyebabkan pendarahan di sekitar otak.
Darah yang keluar kemudian terakumulasi dan menekan jaringan sekitar otak. Hal ini disebabkan
karena dua hal, yaitu anuerisma dan arteriovenous malformation. Anuerisma merupakan pembuluh
darah lemah yang membentuk balon yang jika dibiarkan akan menyebabkan ruptur dan berdarah
hingga ke otak. Sedangkan arteriovenous malformation merupakan sekelompok pembuluh darah
yang terbentuk secara abnormal dan salah satu satu dari pembuluh darah itu dapat mengalami
ruptur dan meyebabkan darah masuk ke otak, pada pasien ini terjadi karena adanya hipertensi
yang sudah berlangsung lama dan tidak tertatalaksana dengan teratur,adapun faktor faktor penye-
bab lainnya adalah aterosklerosis, kebiasaan merokok dan faktor usia.(6)
Pembahasan
Pasien mendapatkan terapi cairan infus Asering yang bertujuan sebagai
rehidrasi, menjaga keseimbangan elektrolit, resusitasi cairan, buffering asam-basa,
pemberian obat dan nutrisi, Penggunaan cairan ini sangat penting dalam berbagai
kondisi klinis untuk memastikan pasien mendapatkan cairan dan elektrolit yang
diperlukan untuk pemulihan dan stabilitas fisiologis. Kemudian pasien diberikan IVFD
Aminofluid untuk mendapatkan nutrisi dengan indikasi pasien penurunan kesadaran
dan tidak dapat diberikan nutrisi secara oral maupun enteral. Pasien diberikan IVFD
manitol 10cc/H untuk mengurangi tekanan intra kranial (TIK) dan Oedema cerebri
yang ada pada pasien. Kemudian pasien juga mendapatkan terapi Inj. Ceftriaxone
1gr/12 jam, Inj. Citicolin 500mg/12jam, Inj. Ondancetron/12jam, Inj. Ketorolac amp/
12jam, Inj. Omeprazole 40mg/12jam dan Amlodipine 1x10mg.
Pembahasan
• Injeksi Ceftriaxone pada pasien untuk mengatasi indikasi adanya
Penumonia yang di alami pasien, Ceftriaxone adalah antibiotik sefalosporin
generasi III yang bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri, se-
hingga menyebabkan lisis dan kematian bakteri (bakterisidal).
•Citicolin berfungsi untuk memperbaiki fungsi otak dan meregenerasi sel saraf
yang rusak akibat pendarahan yang terjadi di otak, mengurangi peradangan, dan
mempercepat pemulihan fungsi otak setelah stroke hemoragik, Citicoline (Cyti-
dine-5'-diphosphocholine/CDP-Choline) adalah senyawa endogen yang berperan
dalam sintesis fosfolipid membran sel saraf, produksi neurotransmitter, serta per-
lindungan dan regenerasi neuron.
Pembahasan

• Ketorolac adalah obat anti inflamasi nonsteroid, obat ini digunakan


untuk mengatasi nyeri. Obat ini digunakan dan direkomendasikan untuk pasien
yang mengalami nyeri sedang hingga berat.
•Ondancetron adalah obat antiemetik yang bekerja sebagai antagonis reseptor
serotonin 5-HT3. Obat ini digunakan untuk mengurangi mual dan muntah, dan di-
gunakan untuk mengurangi efek samping dari penggunaan manitol.
Pembahasan
• Omeprazole adalah obat yang termasuk dalam kelompok proton pump inhibitor (PPI).
Obat ini bekerja dengan menghambat produksi asam lambung di dalam sel parietal
lambung, Omeprazole bekerja dengan menghambat pompa proton (H ⁺/K ⁺-ATPase) di sel
parietal lambung, sehingga menurunkan produksi asam lambung. Pada pasien stroke
hemoragik, omeprazole mencegah tukak lambung dan perdarahan gastrointestinal.
• Amlodipine adalah obat antihipertensi dari kelompok Calcium Channel Blocker (CCB)
dihidropiridin yang bekerja dengan menghambat masuknya ion kalsium (Ca² ⁺) ke dalam
sel otot polos pembuluh darah. Obat ini digunakan untuk menurunkan tekanan darah
(hipertensi), mengurangi beban jantung, dan meningkatkan aliran darah.
05

KESIMPULAN
KESIMPULAN
Ny. T usia 63 tahun diantar oleh keluarga ke IGD RSU Cut Meutia dengan
Penurunan kesadaran secara tiba tiba 1 hari SMRS. Penurunan kesadaran terjadi saat pasien
sedang di kamar mandi, sehingga pasien terjatuh. Selain itu, pasien juga mengeluhkan
kelemahan anggota gerak sebelah kanan sejak 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan
nyeri kepala hebat yang terasa seperti ditekan dan tidak membaik setelah istirahat. Tidak ada
muntah, tidak ada demam, dan tidak ada kejang. Keluarga mengatakan baru ini mengalami
keluahn tersebut. Riwayat operasi pada pasien disangkal. Riwayat hipertensi (+) keluarga
pasien mengatakan pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu. Riwayat
Diabetes Mellitus disangkal dan riwayat alergi obat disangkal. Riwayat keluarga dengan ge-
jala serupa disangkal. Riwayat hipertensi pada anak dan saudara-saudara pasien (+).
Pasien pernah mengonsumsi obat anti hipertensi, tetapi keluarga lupa nama obatnya. Pasien
mengonsumsi obat antihipertensi secara tidak teratur.
KESIMPULAN

Berdasarkan keluhan pasien, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh


pendarahan di otak akibat pecahnya pembuluh darah. Stroke hemoragik dapat
dibagi lagi menjadi perdarahan intraserebral (ICH) dan perdarahan subarachnoid
(SAH). pasien mendapatkan terapi IVFD Asering 20gtt/i, IVFD manitol 10cc/H,
IVFD Aminofluid/H, Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam, Inj. Citicolin 500mg/12jam,
Inj. Ondancetron/12jam, Inj. Ketorolac amp/12jam, Inj. Omeprazole 40mg/12jam
dan Amlodipine 1x10mg.
Thank you

Anda mungkin juga menyukai