Anda di halaman 1dari 12

m.

Hafizh muttaqin
030.10.165
TERAPI ANTI JAMUR TOPIKAL PADA OTOMIKOSIS

Pendahuluan
Otomikosis merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktek THT. penyakit ini
didapatkan pada 9 27,2 % pasien. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi
peningkatan prevalensi otomikosis. Pityrosporum, Candida albicans, dan Aspergillus adalah
spesies jamur yang paling sering diidentifikasi sebagai penyebabnya. Prevalensi peyakit ini
juga dipengaruhi oleh wilayah geografis. Beberapa faktor predisposisi telah dilaporkan
meliputi infeksi bakteri sebelumnya, penggunaan alat bantu dengar atau prosthesis
pendengaran, trauma akibat garukan, berenang di kolam renang yang terkontaminasi,
spektrum yang luas terapi antibiotik, steroid dan obat sitostatik, neoplasia dan gangguan
kekebalan tubuh.
Pengobatan otomikosis biasanya membutuhkan penggunaan tetes anti jamur untuk
setidaknya tiga minggu untuk mencegah kekambuhan. Bahkan perawatan harus dilanjutkan
bahkan setelah gejala berkurang. faktor penting lainnya dalam manajemen adalah:
membersihkan telinga , menjaganya agar tetap memiliki ventilasi, dan mengobati otorhea.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang penggunaan anti jamur dalam
mengobati otomikosis.

Anatomi dan Fisiologi Telinga


Perdarahan Telinga Luar
berasal dari cabang-cabang A.karotis eksterna, yaitu A. Temporalis superfisial.
Cabang aurikular dalam dari A.maksilaris mendarahi kulit bagian anterior liang
telinga luar. Sedangkan bagian posterior dari liang telinga luar mendapat

perdarahan dari cabang aurikular dari A. Aurikularis posterior.


Pensarafan Telinga Luar
Dinding depan dan atas liang telinga luar disarafi oleh cabang aurikulo

temporal bagian ketiga dari n. Trigeminus. Dinding posterior dan bagian dasar dari
liang telinga luar mendapat persarafan dari cabang aurikular dari n.vagus. Dinding
posterior liang telinga luar juga mendapat persarafan dari serabut sensoris n.
Fasialis.

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran
dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong.
Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan
tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan
melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan
gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.
Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia
sel-sei rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pengfepasan ion bermuatan listrik
dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga
melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi
pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks
pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.

Otomikosis
Pengertian

Otomycosis digambarkan sebagai infeksi jamur pada liang telinga luar. Meskipun jarang
mengancam jiwa, penyakit ini adalah suatu hal yang menantang dan dapat
menimbulkan frustasi bagi pasien dan dokter spesialis THT, karena sering membutuhkan
pengobatan jangka panjang, tindak lanjut, dan sering terjadi kekambuhan. Otomycosis
dapat merupakan penyakit yang berdiri sendiri dan dapat juga ditumpangi oleh infeksi
sekunder.
Etiologi
Pityrosporum, Candida albicans, dan Aspergillus adalah spesies jamur yang paling sering
diidentifikasi sebagai penyebabnya, tidak menutup kemungkinan otomycosis disebabkan
oleh spesies jamur lain.
Prevalensi
Prevalensinya berkisar antara 9 % sampai 27,2 % pada pasien yang datang dengan tanda
dan gejala otitis externa dan sebesar 30% pada pasien dengan keluhan telinga berair. Dari
sudut geografis insiden otomycosis dilaporkan lebih tinggi pada negara beriklim tropis,
panas, lembab, dan berdebu. Otomycosis lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan
pria. dewasa daripada anak-anak. pasien yang mempuyai pekerjaan pada bidang
pertanian, dan berekonomi rendah.

Faktor Predisposisi
Penyimpangan anatomi seperti liang telinga yang sempit, kehadiran serumen yang
berlebihan atau tidak ada serumen sama sekali, trauma berulang, kelembaban,
kehangatan, dan pH basa pada liang telinga luar, berenang. Infeksi bakteri sebelumnya
atau infeksi jamur di sekitar telinga, pengobatan dengan terapi antibiotik jangka panjang
topical, penggunaan alat bantu dengar, dan gangguan kekebalan tubuh.
Gejala dan Tanda Klinis
Gejala otomycosis termasuk pruritis, rasa penuh pada telinga, otore, dan gangguan
pendengaran. Tampilan klinis aspergillosis dan kandidiasis pada saluran telinga sangat
berbeda. Aspergillosis ditandai dengan peradangan ringan dari saluran telinga dalam.
Lumen penuh dengan lembaran-lembaran keratin yang memiliki tampilan seperti kertas tisu
basah. Candida biasanya menyebabkan edema yang lebih besar dan maserasi saluran
telinga dalam. Lumen dapat diisi dengan bahan seperti tahu bercampur susu. Otomycosis
juga dapat menyebabkan perforasi membran timpani dan menyebar ke telinga tengah.
Pemeriksaan Penunjang
Untuk memastikan otomycosis, dapat dilakukan dua macam pemeriksaan yaitu kultur jamur
dan secara histopatologi, hasil dari kedua pemeriksaan ini juga dapat mengetahui jenis
spesies jamur penyebab.

Tatalaksana
Pengobatan untuk otomycosis adalah menghindari faktor predisposisi, pembersihan
kanal menyeluruh, pemberian solusio pengasaman dan pengeringan serta agen anti
jamur. Penggunaan tetes anti jamur setidaknya diberikan selama tiga minggu untuk
mencegah kekambuhan. Bahkan perawatan harus dilanjutkan bahkan setelah gejala
berkurang.

Komplikasi
Perforasi membran timpani dapat terjadi sebagai komplikasi otomycosis yang dimulai di
telinga dengan sebuah gendang telinga utuh. Lebih umum dengan otomycosis
disebabkan oleh Candida albicans. Selain itu meskupin jarang, jamur dapat
menyebabkan invasif otitis eksterna, terutama pada pasien immunocompromised.
Prognosa
Terapi anti jamur biasanya memberikan penyembuhan yang baik pada pasien yang
memiliki daya tahan tubuh baik. Meskipun begitu resiko terjadinya kekambuhan kembali
tetap tinggi jika infeksi asal tidak diobati dan fisiologi normal dari lingkungan liang telinga
luar tetap terganggu. Pencegahan kekambuhan kembali dilakukan dengan cara
menghindari faktor predisposisi seperti mengurangi kebiasaan mengorek telinga,
berenang, dan sebagainya.

Terapi Anti Jamur Topikal Pada Otomikosis


ada empat kelas utama obat untuk pengobatan infeksi jamur: polien, triazoles, analog
nukleosida, dan echinocandins.
Banyak peneliti yang percaya bahwa mengetahui agen penyebab otomikosis
sangatlah penting untuk memberikan terapi yang tepat. Identifikasi spesies penyebab
otomikosis juga direkomendasikan dalam pemilihan antimikosis. Namun sebagian
besar meyakini bahwa strategi terpenting dalam terapi ini adalah memilih terapi
spesifik untuk otomikosis berdasarkan keampuhan dan sifat obat tanpa mempedulikan
agen penyebabnya.
Hingga saat ini tidak ada obat yang disetujui FDA untuk preparat tetes telinga dalam
pengobatan otomikosis. Berbagai macam antimikosis telah digunakan dan dokter
berusaha membuktikan agen mana yang paling efektif dalam mengobati kondisi
tersebut. Disamping itu, terapi topikal dengan higien lokal yang baik juga ditekankan
dalam terapi otomikosis agar obat ototopikal dapat bekerja dengan sebaik-baiknya
setelah pembersihan sekret dan debris.1l,13l

Azole adalah agen sintetik yang mengurangi konsentrasi ergosterol, yang


merupakan sterol alami di dalam membran sitoplasma. Klotrimazol adalah azole
topikal yang paling banyak digunakan. Agen ini terbukti paling efektif dalam
pengobatan otomikosis, dengan efektivitas sebesar 95-100. Klotrimazol memiliki afek
antibakterial sehingga menguntungkan pada infeksi campuran bakterial dan jamur.
Dan dianggap tidak ada efek ototoksiknya. Ketokonazol memperlihatkan
keefektifan sebesar 95-100%. Flukonazol topical terbukti efektif dalam 90% kasus.
Mikonazol krem 2% juga menunjukkan rata-rata keefektifan sebesar 90%.
Nistatin adalah antibiotik makrolid yang menghambat sintesa sterol pada membran
sitoplasma. Banyak jamur dan ragi yang sensitive terhadap Nistatin, termasuk spesies
Kandida. Keuntungan utama dari Nistatin adalah tidak dapat diabsorpsi oleh kulit
yang intak. Rata-rata keefektifannya bervariasi dari 50% hingga 80%.
Amfoterisin B adalah golongan poligen. Walaupun agen ini telah digantikan oleh
yang lebih aman, namun masih digunakan untuk terapi infeksi jamur, tanpa
mempedulikan efek sampingnya.

Tolnaftat bekerja dengan menghancurkan hifa dan menghambat pertumbuhan


jamur yang menyebabkan infeksi kulit, termasuk tinea pedis (kaki atlet), tinea kruris,
dan cacing gelang. Obat ini direkomendasikan untuk kasus otomikosis berulang
karena sifatnya non ototoksik.
Beberapa tahun lalu Merkurokrom sebagai antiseptic topical digunakan untuk
pengobatan otomikosis. Seperti mertiolat (timerosal), Merkurokrom tidak lagi
direkomendasikan oleh FDA karena mengandung merkuri.
Gentian Violet disediakan sebagai solusio dalam air. Agen ini telah digunakan sejak
1940an untuk mengobati otomikosis, karena merupakan larutan aniline dengan
kerja sebagai antiseptic, anti inflamasi, anti bacterial, dan anti jamur. Agen ini masih
digunakan di beberapa negara dan masih direkomendasikan oleh FDA.
Keefektifannya dilaporkan mencapai 80%.

Pengobatan topical lainnya yang tersedia untuk mengatasi otomikosis meliputi


siklopiroks olamin, asam borat, dan 5-fluorositosin. Siklopiroks bekerja dengan
menghancurkan ikatan polivalen (Fe3+ atau Al3+) yang menyebabkan inhibisi enzim
terkait logam yang akan mempengaruhi degradasi peroksida di dalam sel jamur.
Asam borat merupakan asam lemah yang sering digunakan sebagai antiseptic, dan
ansektisida. 5-fluorositosin (disebut juga flusitosin) masuk ke dalam sel jamur dan
dikonversi menjadi fluorourasil yang selanjutnya bersaing dengan urasil dalam sintesa
protein dan RNA jamur.
Raymundo dan Sam mengatakan bahwa tidak didapatkan laporan pengobatan
tetes telinga untuk anti jamur yang menyebabkan ototoksik saat digunakan dalam
pengobatan otomikosis dengan membrane timpani yang intak. Meskipun begitu
keamanan penggunaannya dalam terapi otomikosis dengan membrane timpani
yang perforasi belum bisa dipastikan.

Causal agent
Aspergillus (species not specified)

Treatment
Clotrimazole

Itraconazole
Clotrimazole

Author
Ologe and Nwabuisi [17]
Bassiouny et al. [10]
Nong et al. [19]
Ho et al. [1]
Nong et al. [19]
Schrader (2003)

Aspergillus flavus

Itraconazole, terbinafide

Karaarslan et al. [24]

Aspergillus fumigatus

Miconazole
Amphotericin B
Acetic acid
Clotrimazole

Dyckhoff et al. [21]


Kintzel et al. [26]
Jackman et al. [3]
Jackman et al. [3]
Martin et al. [13]
Martin et al. [13]

Ketoconazole

Tolnaftate
Aspergillus niger

Borneol
Tolnaftate
Ciclopiroxolamine,
boric acid
Itraconazole
Mercurochrome

Chang and Li [7]


Damato [30]

Boric acid
Clotrimazole
5-Fluorocytosine
Itraconazole, terbinafide
Fluconazole
Amphotericin B
Thimerosal

del Palacio et al. [37]


Hoshino and Matsumoto [8]
Mgbor and Gugnani [4]
Mishra et al. [32]
Ozcan et al. [5]
Pradhan et al. [15]
Than et al. [38]
Karaarslan et al. [24]
Kurnatowski and Filipiak [2]
Ette et al. [27]
Tisner et al. [31]

Aspergillus terreus

Lanoconazole

Egami et al. [14]

Candida albicans

Ketoconazole

Cohen and Thompson [20]


Ho et al. [1]
Tisner et al. [31]
Ette et al. [27]
ODay (2004)
Jhadav (2003)
Schrader (2003)
Bassiouny et al. [10]

Thimerosal
Amphotericin B
Clotrimazole