Anda di halaman 1dari 19

PERENCANAAN SISTEM

TRANSMISI TENAGA LISTRIK


Oleh : Kelompok 3
Hendra Rudianto

(5113131020)

Pryo Utomo

(5113131035)

Sapridahani Harahap (5113131037)


Taruna Iswara

(5113131038)

Teddy Firmansyah

(5113131040)

Pemilihan Sistem Transmisi


Transmisi tenaga listrik merupakan proses penyaluran tenaga listrik dari tempat
pembangkit tenaga listrik sampai ke saluran distribusi sehingga dapat disalurkan
sampai pada pengguna consumer listrik.
Dalam dunia kelistrikan, dikenal dua kategori arus listrik, yaitu arus bolak-balik
(Alternating Current/AC) dan arus searah (Direct Current/DC). Maka berdasarkan
jenis arus listrik yang mengalir di saluran transmisi, saluran transmisi terdiri dari:

Saluran transmisi AC

Saluran Transmisi DC

Pemilihan Tegangan
Transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat
lainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (Ultra High
Voltage / UHV), Tegangan Ekstra Tinggi (Extra High Voltage / EHV), Tegangan
Tinggi (High Voltage / HV),

Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi, adalah :

Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk
lainnya.

Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui


isolator-isolator, dengan sistem tegangan tinggi.

Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV, 70 KV dan


150 KV.

Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari klasifikasi


tegangannya:
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 200 KV 500 KV

Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas 500 MW.

Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat direduksi
secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien.

Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi tiang (tower)


yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas, memerlukan isolator
yang banyak, sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar.

Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET adalah masalah sosial,
yang akhirnya berdampak pada masalah pembiayaan, antara lain: Timbulnya
protes dari masyarakat yang menentang pembangunan SUTET, Permintaan ganti
rugi tanah untuk tapak tower yang terlalu tinggi tinggi, Adanya permintaan
ganti rugi sepanjang jalur SUTET dan lain sebagainya.

Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan
500 km.

2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 30 KV 150 KV

Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV.

Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana 1 sirkuit
terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar
netralnya digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali.

Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing
phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas
konduktor disebut Bundle Conductor.

Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling efektif adalah
100 km.

Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop voltaje) terlalu
besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah.

Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara ring
system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan akan
dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia

3. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 30KV 150KV

SKTT dipasang di kota-kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau Jawa), dengan beberapa
pertimbangan :

Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena sangat sulit mendapatkan
tanah untuk tapak tower.

Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari masyarakat, karena padat
bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi.

Pertimbangan keamanan dan estetika.

Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.

Jenis kabel yang digunakan:

Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross Link Poly Etheline
(XLPE).

Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak (oil paper impregnated).

Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan :

Single core dengan penampang 240 mm2 300 mm2 tiap core.

Three core dengan penampang 240 mm2 800 mm2 tiap core.

Pertimbangan fabrikasi.

Pertimbangan pemasangan di lapangan.

Jatuh Tegangan
Jatuh tegangan pada saluran transmisi adalah selisih antara tegangan pada
pangkal pengiriman (sending end) dan tegangan pada ujung penerimaan
(receiving end) tenaga listrik. Pada saluran bolak balik besarnya tergantung dari
impedansi dan admintasi saluran serta pada beban dan factor daya. Jatuh
tegangan relative dinamakan regulasi tegangan (voltage regulation) dan
dinyatakan oleh rumus :
(vs-vr)/vr x 100%,
Dimana :

vs = tegangan pada pangkal pengiriman

vr = tegangan pada ujung penerimaan


Untuk jarak dekat regulasi tegangan tidak berarti (hanya beberapa % saja),
tetapi untuk jarak sedang dan jauh dapat mencapai 5- 15 %.

Tegangan Transmisi dan Rugi-rugi Daya


Pada saat sistem tersebut beroperasi, maka pada sub-sistem transmisi akan
terjadi rugi-rugi daya. Jika tegangan transmisi adalah arus bolak-balik
(alternating current, AC) 3 fase, maka besarnya rugi-rugi daya tersebut adalah:
Pt = 3I2R (watt).(1)
dimana:

I = arus jala-jala transmisi (ampere)


R = Tahanan kawat transmisi perfasa (ohm)

arus pada jala-jala suatu transmisi arus bolak-balik tiga fase adalah :
I= P/3.Vr.Cos (2)
dimana:

P = Daya beban pada ujung penerima transmisi (watt)


Vr = Tegangan fasa ke fasa pada ujung penerima transmisi (volt)
Cos = Faktor daya beban

Jika persamaan (1) disubstitusi ke persamaan (2), maka rugi-rugi daya transmisi
dapat ditulis sebagai berikut :
Pt = P2.R/Vr2.cos2

Terlihat bahwa rugi-rugi daya transmisi dapat dikurangi dengan beberapa cara,
antara lain :

meninggikan tegangan transmisi

memperkecil tahanan konduktor

memperbesar faktor daya beban

Pertimbangan yang ketiga, yaitu dengan menaikkan tegangan transmisi adalah


yang cenderung dilakukan untuk mengurangi rugi-rugi daya pada saluran transmisi.
Kecenderungan itupun dapat terlihat dengan semakin meningkatnya tegangan
transmisi di eropa dan amerika.

Masalah Penerapan Tegangan Tinggi


Pada Transmisi
1.

Tegangan tinggi dapat menimbulkan korona pada kawat transmisi. korona ini pun akan
menimbulkan rugi-rugi daya dan dapat menyebabkan gangguan terhadap komunikasi
radio.

2.

Jika tegangan semakin tinggi, maka peralatan transmisi dan gardu induk akan
membutuhkan isolasi yang volumenya semakin banyak agar peralatan-peralatan
tersebut mampu memikul tegangan tinggi yang mengalir. Hal ini akan mengakibatkan
kenaikan biaya investasi.

3.

Saat terjadi pemutusan dan penutupan rangkaian transmisi (switching operation), akan
timbul tegangan lebih surja hubung sehingga peralatan sistem tenaga listrik harus
dirancang untuk mampu memikul tegangan lebih tersebut. Hal ini juga mengakibatkan
kenaikan biaya investasi.

4.

Peninggian menara transmisi akan mengakibatkan trasnmisi mudah disambar petir.


sehingga peralatan-peralatan sistem tenaga listrik harus dirancang untuk mampu
memikul tegangan lebih surja petir tersebut.

5.

Peralatan sistem perlu dilengkapi dengan peralatan proteksi untuk menghindarkan


kerusakan akibat adanya tegangan lebih surja hubung dan surja petir. Penambahan
peralatan proteksi ini akan menambah biaya investasi dan perawatan.

Penentuan Kabel Optimum


Konduktor adalah media untuk tempat mengalirkan arus listrik dari Pembangkit
listrik ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya, yang terentang lewat
tower-tower. Kawat Tanah atau Earth Wire (kawat petir / kawat tanah) adalah
media untuk melindungi kawat fasa dari sambaran petir. Kawat ini dipasang di
atas kawat fasa dengan sudut perlindungan yang sekecil mungkin, karena
dianggap petir menyambar dari atas kawat.

1. Bahan Konduktor
Bahan konduktor yang dipergunakan untuk saluran energi listrik perlu memiliki
sifat sifat sebagai berikut :

konduktivitas tinggi.

kekuatan tarik mekanikal tinggi

titik berat

biaya rendah

tidak mudah patah

Konduktor jenis Tembaga (BC : Bare copper) merupakan penghantar yang baik
karena memiliki konduktivitas tinggi dan kekuatan mekanikalnya cukup baik. Namun
karena harganya mahal maka konduktor jenis tembaga rawan pencurian. Aluminium
harganya lebih rendah dan lebih ringan namun konduktivitas dan kekuatan
mekanikalnya lebih rendah dibanding tembaga.
Pada umumnya SUTT maupun SUTET menggunakan ACSR (Almunium Conductorn
Steel Reinforced). Bagian dalam kawat berupa steel yang mempunyai kuat mekanik
tinggi, sedangkan bagian luarnya mempunyai konduktifitas tinggi. Karena sifat
electron lebih menyukai bagian luar kawat daripada bagian sebelah dalam kawat
maka ACSR cocok dipakai pada SUTT/SUTET. Untuk daerah yang udaranya
mengandung kadar belerang tinggi dipakai jenis ACSR/AS, yaitu kawat steelnya
dilapisi dengan almunium.
Pada saluran transmisi yang perlu dinaikkan kapasitas penyalurannya namun SUTT
tersebut berada didaerah yang rawan longsor, maka dipasang konduktor jenis TACSR
(Thermal Almunium Conductor Steel Reinforced) yang mempunyai kapasitas besar
tetapi berat kawat tidak mengalami perubahan yang banyak. Konduktor pada
SUTT/SUTET merupakan kawat berkas (stranded) atau serabut yang dipilin, agar
mempunyai kapasitas yang lebih besar dibanding kawat pejal.

2. Urutan Fasa
Pada sistem arus putar, keluaran dari generator berupa tiga fasa, setiap fasa
mempunyai sudut pergerseran fasa 120. Pada SUTT dikenal fasa R; S dan T yang
urutan fasanya selalu R diatas, S ditengah dan T dibawah. Namun pada SUTET
urutan fasa tidak selalu berurutan karena selain panjang, karakter SUTET banyak
dipengaruhi oleh faktor kapasitansi dari bumi maupun konfigurasi yang tidak
selalu vertikal. Guna keseimbangan impendansi penyaluran maka setiap 100 km
dilakukan transposisi letak kawat fasa

3. Penampang dan Jumlah Konduktor


Penampang dan jumlah konduktor disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan
disalurkan, sedangkan jarak antar kawat fasa maupun kawat berkas disesuaikan
dengan tegangan operasinya. Jika kawat terlalu kecil maka kawat akan panas
dan rugi transmisi akan besar. Pada tegangan yang tinggi (SUTET) penampang
kawat, jumlah kawat maupun jarak antara kawat berkas mempengaruhi besarnya
corona yang ditengarai dengan bunyi desis atau berisik.

Luas penampang Penghantar Fasa dan


Penghantar Netral

Kabel dan Ketentuan Tentang Tegangan


Pengenal dan Tegangan Kerja
1.

2.

Tegangan pengenal kabel dibedakan dalam tingkatan sebagai berikut :

Kabel Tegangan Rendah : 230/400 (300) V; 300/500 (400) V; 400/690 (600) V;


450/750 (690) V; 0,6/1 kV (1,2 kV)

Kabel Tegangan Menengah : 3,6/6 kV (7,2 kV); 6/10 kV (12 kV); 8,7/15 kV (17,5
kV); 12/20 kV (24 kV) dan 18/30 kV (36 kV)

Pada keadaan kerja terus menerus yang tidak terganggu, kabel tanah harus
mampu diberi tegangan kerja maksimum sesuai dengan tegangan tertinggi.

Luas Penampang Nominal Kabel dan


Kabel Tanah

The End