0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
429 tayangan58 halaman

Pengembangan Alat Ukur

Dokumen tersebut membahas tentang kualitas data penelitian, terutama mengenai validitas dan reliabilitas. Validitas mengukur sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan reliabilitas mengukur seberapa konsisten hasil pengukuran dapat dipercaya. Beberapa metode untuk menguji validitas dan reliabilitas dijelaskan seperti content validity, criterion validity, construct validity, serta reliabilitas temporal, inter observer, dan

Diunggah oleh

Herlina Dwinanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
429 tayangan58 halaman

Pengembangan Alat Ukur

Dokumen tersebut membahas tentang kualitas data penelitian, terutama mengenai validitas dan reliabilitas. Validitas mengukur sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan reliabilitas mengukur seberapa konsisten hasil pengukuran dapat dipercaya. Beberapa metode untuk menguji validitas dan reliabilitas dijelaskan seperti content validity, criterion validity, construct validity, serta reliabilitas temporal, inter observer, dan

Diunggah oleh

Herlina Dwinanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kualitas Data Penelitian

Indang Trihandini

Kualitas Data
Pengembangan alat ukur dan
Pengukurannya
Pengembangan disain Penelitian

Tahapan Pengembangan
Alat Uji
Konsepsualisasi Alat Uji

Konstruksi Alat Uji

Uji coba Alat Uji

Analisis

Revisi

Konsepsualisasi Alat Uji


Langkah awal dalam pengembangan alat uji adalah
mengembangkan konsep dari hal yang ingin diuji.
Dalam langkah ada beberapa pertanyaan yg harus
diperhatikan:

Apa yg akan diukur oleh alat uji?


Apa tujuan alat uji tersebut?
Apakah alat uji ini diperlukan
Siapa yg akan menggunakan alat uji ini?
Siapa yg akan diuji?
Bagaimana ujian dilakukan?
Apakah diperlukan pelatihan khusus?
Siapa yg diuntungkan dg ujian ini?
Apakah ada kerugian bagi subyek dg melakukan ujian ini?

Konstruksi Alat Uji


Dalam konstruksi alat uji, ada
beberapa hal yg perlu diperhatikan:
Skala
Hanya benar/salah untuk tiap item
Likert

Cara penulisan item


Skoring dari alat uji

Uji Coba Alat Uji


Ujicoba harus dilakukan pada subyek yang
sama dengan subyek yang akan
menggunakan alat uji
Ujicoba harus dilakukan pada kondisi yang
sama dengan kondisi alat uji akan
dilakukan
Analisis
Kuantitatif: Item Analysis
Kualitatif

KUALITAS DATA

VALIDITAS
Menunjukkan sejauhmana suatu alat
(instrumrn) mengukur apa yang
seharusnya diukur (Ghiselli, 1981).
Sementara itu Azwar (2000) mengartikan
validitas sebagai sejauhmana ketepatan
dan kecermatan suatu alat ukur dalam
melakukan fungsi ukurnya. Isaac dan
Michael (1981) menjelaskan bahwa
informasi validitas menunjukkan tingkat
dari kemampuan test untuk mencapai
sasarannya. Dengan demikian validitas
mengukur ketepatan (akurasi).

RELIABILITAS
Seberapa besar variasi tidak sistematik dari
penjelasan kuantitatif dari karakteristik individu
jika individu yang sama diukur berkali kali (Ghiseli,
1981). Ukuran yang menunjukkan stabilitas dan
konsistensi suatu instrumen yang mengukur suatu
konsep dan berguna untuk mengukur kebaikan
(goodness) dari suatu pengukur (Sekaran, 2003).
Dengan demikian reliabilitas pada dasarnya
adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran
dapat dipercaya. Kepercayaan itu dalam bentuk
keandalan instrumen yaitu konsistensi hasil dari
waktu kewaktu jika suatu instrumen digunakan
pada subjek.

Contoh
Si A memiliki berat badan 68 kg pada saat
ditimbang dengan menggunakan timbangan
standar penelitian. Di sebuah mall si A
melakukan penimbangan dan hasilnya
beratnya adalah 75 kg. Karena kurang percaya
dengan hasilnya, si A melakukan penimbangan
lagi di timbangan yang sama di mall tersebut
dan beratnya tetap 75 kg.
Contoh di atas menggambarkan timbangan di
mall memiliki reliabilitas yang baik (hasilnya
selalu konsisten), tetapi validitas buruk (tidak
mengukur hal yang sebenarnya)

Reliabilitas
Temporal/intra observer reliability
Agreement/inter observer reliability
Internal Consistency

Temporal/intra observer
reliability
Pengukuran pada subyek yang sama
oleh orang yang sama pada waktu yang
berbeda menghasilkan hasil yang sama
Dapat diukur dengan test-retest
correlation coefficient
Masalah:
Jika pertanyaan yang sama diulang pada jangka waktu
pendek, ingatan dari respons yang pertama dapat
mempengaruhi respons yang kedua sehingga nilai r
cenderung tinggi
Perubahan pada subyek yang diukur dapat terjadi
bukan akibat kesalahan pengukuran (unreliability)
tetapi juga akibat perubahan pada faktor mendasar
yang diukur (instability).

Agreement/inter observer
reliability
Marginal homogeneity:

mengukur seberapa jauh 2 atau lebih


pengamat menghasilkan hasil yang sama
secara umum (distribusi tepi/marginal
distribution) pada saat mengelompokkan
individu yang sama. Diukur dengan Mc
Nemar test

Kesesuaian/Agreement:

mengukur seberapa jauh 2 atau lebih


pengamat setuju pada pengelompokkan
seluruh individu pada kelompok yang
diamati. Diukur dengan koefisien Kappa.

Inter observers agreement


u/ variabel
kategori/binomial

Pendekatan yg paling sederhana adalah


dihitung berapa % yg penilaiannya
sama
Tapi cara ini tidak memperhatikan penilaian
yg sama karena kebetulan saja (by chance)
Pehitungan yg lebih baik dg indeks Kappa,
yg sudah memperhitungkan penilaian yg
sama akibat kebetulan saja
Kappa: Observed Expected_ agreement

1 Expected _ agreement

Koefisien Kappa
Penilaian:

K=1 : Perfect agreement


K=0.80 - 0.99: Excellent agreement
K=0.60 0.79: Good agreement
K=0.40 0.59: Fair agreement
K < 0.40 : Poor agreement

Kappa
Expected agreement dihitung berdasarkan
hukum probabilitas u/ 2 kejadian yg saling
bebas:
P(A&B) = P(A)*P(B)

Denominator pada rumus Kappa adalah


kesesuaian potensial kedua pengamat yg
bukan karena kebetulan (potensial level of
agreement beyond chance)
Jadi Kappa merupakan rasio antara:
kesesuaian antar 2 pengamat yg bukan
karena kebetulan terhadap kesesuaian
potensial kedua pengamat yg bukan karena
kebetulan

Contoh: Kappa

Kesesuaian yg tampak: ((56+22)/90)*100% =


87%
Kesesuaian akibat kebetulan dihitung dari tabel
nilai ekspektasi jika kedua hasil pengamatan
tidak saling sesuai
Sama dg perhitungan nilai ekspektasi pd tabel chisquare

Contoh: Kappa
Tabel nilai ekspektasi:

Kesesuaian akibat kebetulan:


Hasil postitif: ((42.5/58)*(42.5/66))*100% =
47%
Hasil negatif: ((8.5/32)*(8.5/24))*100% = 10%
Total: 47% + 10% = 57%

Contoh: Kappa

Perhitungan Kappa:

0.87 0.57

0.70
1 0.57

Patokan interpretasi Kappa (Byrt, 1996):

93-100% : Excellent agreement

81-92% : Very good agreement


61-80%: Good agreement
41-60%: Fair agreement
21-40%: Slight agreement
1-20%: Poor agreement
< 0% : No agreement

Pendekatan Klasik u/ Var


Kontinyu
Kesesuaian antar pegamatan dilakukan
diuji dengan
Uji t
Korelasi

Masalah

Pada uji t rata-rata tidak berbeda tidak


menjadi kedua pengamat sesuai
Korelasi tiggi (bahkan sampai 1) tidak
menjamin kedua pengamat sesuai
Kedua uji statistik tersebut tidak dirancang
untuk menguji kesesuaian antar pengamat
& kurang teoat jika digunakan

Contoh
Data:

Kesesuaian Jelek

T-test menunjukkan tidak beda

T-test
Paired Samples Test
Paired Differences

Pair 1

Obs1 - Obs2

Mean
.20000

Std. Deviation
1.78885

Std. Error
Mean
.80000

95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
-2.02116
2.42116

df
.250

Sig. (2-tailed)
.815

Contoh
Data

Kesesuaian jelek

Korelasi = 1

Concordance correlation
Memperhitungkan kesesuaian, bukan
korelasi saja (Lin, 1989)
Rumus:
c

2rsx s y

s s x y
2
x

2
y

Bland & Altman Plot


Plot antara rata-rata nilai pengamat 1 & 2 dengan
beda nilai pengamat 1 & 2
Dihitung juga limit of agreement:

d 1,96* s
d 1,96* s

Interpretasi limit of agreement sangat tergantung


pada alat yang diukur
Pada Stata dapat dilakukan dengan perintah
concord

Hasil Stata
Concordance correlation coefficient (Lin, 1989, 2000):
rho_c
SE(rho_c)
Obs
[
95% CI
]
P
CI type
--------------------------------------------------------------0.998
0.001
85
0.997 0.999
0.000
asymptotic
0.996 0.998
0.000 z-transform
Pearson's r = 0.998
Reduced major axis:

Pr(r = 0) = 0.000
Slope =
1.007

C_b = rho_c/r = 1.000


Intercept =
-0.581

Difference = obsj_1 - obsk_1


Difference
95% Limits Of Agreement
Average
Std Dev.
(Bland & Altman, 1986)
--------------------------------------------------------------0.282
2.119
-3.871
4.436
Correlation between difference and mean = 0.099

-5

Difference of obsj_1 and obsk_1


0
5
10

15

Hasil Stata

50

100

150
Mean of obsj_1 and obsk_1

observed average agreement


y=0 is line of perfect average agreement

200

250

95% limits of agreement

Internal Consistency
Digunakan untuk mengukur apakah
sejumlah pertanyaan/pengukuran
mengukur hal yang sama
Contoh: pengetahuan tentang pencegahan
HIV/AIDS diukur dengan 10 pertanyaan
ya/tidak. Pengetahuan diukur dengan
menjumlahkan pertanyaan yang dijawab
secara benar. Internal consistency menilai
apakah 10 pertanyaan tsb mengukur hal
yang sama.

Internal Consistency
Internal consistency diukur dengan
menggunakan koefisien Cronbach
Alpha
Penilaian Cronbach Alpha sama
dengan penilaian pada koefisien
Kappa

Validitas
Validitas Internal
Content Validity
Criterion Validity
Construct Validity
Validitas Eksternal

Validitas Internal
Digunakan untuk menjawab pertanyaan
apakah penelitian sudah menggunakan
konsep yang seharusnya (actually).
1. Content Validity
2. Criterion-related validity
3. Construct validity
Validitas internal biasanya membantu
mengatasi kelemahan validitas eksternal.

Content Validity
Menggambarkan seberapa jauh kumpulan
variabel (item) yang menghasilkan indek
komposit menggambarkan satu konsep
tertentu
Contoh: kumpulan pertanyaan untuk
mengukur depresi
Face validity: seberapa jauh satu variabel
menggambarkan konsep yang ingin diukur
Penilaian content atau face validity lebih
judmental oleh expert bukan statistik

Criterion Validity
Menggambarkan seberapa jauh hasil satu
pengukuran sesuai dengan hasil
pengukuran lain dengan menggunakan
instrumen yang dianggap standar
Criterion validity dinilai dengan
membandingkan hasil satu pengukuran
dengan pengukuran menurut gold
standard

Criterion Validity
Sensitifitas:
Probabilitas hasil test menujukkan hasil positif
jika pada gold standar hasilnya positif
Spesifisitas:
Probabilitas hasil test menunjukkan hasil
negatif jika pada gold standar hasilnya negatif
Nilai prediksi positif:
Probabilitas diperolehnya hasil gold standard
positif jika hasil test positif
Nilai prediksi negatif:
Probabilitas diperolehnya hasil gold standar
negatif jika hasil test negatif.

Criterion Validity
Gold standard
Test

A+B

C+D

A+C

B+D

Jumlah

Jumlah

Sensitifitas: A/(A+C)
Spesifisitas: D/(B+D)
Nilai presiksi positif: A/(A+B)
Nilai prediksi negatif: D/(C+D)

Construct Validity
Menggambarkan seberapa jauh hasil
satu pengukuran sesuai dengan hasil
pengukuran lain yang secara teoritis
menggambarkan konsep yang diukur
Contoh: apakah skor depresi yang
dikembangkan dapat membedakan
orang depresi dengan orang tidak
depresi (menurut PPDGJ/ICD 10)

Validitas Eksternal
Bila data yang dicapai dapat
digeneralisasi kesemua objek, situasi dan
waktu yang berbeda.
1. Pemilihan sampel yang tidak bias.
2. Jumlah Sampel besar
3. Melibatkan banyak situasi
4. Periode waktu yang relatif panjang

Reliable
Not Valid

Valid
Not
Reliable

Neither
Reliable Not
Valid

Both
Reliable
and Valid

Langkah dalam melakukan uji validitas


dan reliabilitas internal adalah sebagai
berikut:

1. Cobalah item di lapangan kepada paling


sedikit 30 orang responden (batas sampel
besar dalam statistik)
2. Tabulasi data yang telah masuk
3. Ujilah validitas dan reliabilitasnya
-Uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan skor

item dengan skor total.


-Korelasi Rank Spearman jika data yang diperoleh
adalah data ordinal,
-sedangkan jika data yang diperoleh data interval kita
bisa menggunakan korelasi Product Moment.
-Sedangkan uji reliabilitas yang paling sering digunakan
adalah uji, Cronbach Alpha, Hoyt dan Spearman Brown

Contoh hasil uji validitas Contoh


hasil uji validitas
Validitas concurent (serentak)
Berikut hasil uji suatu instrumen terhadap dua kelompok
karyawan yang kehadiran bekerjanya baik dan kurang
baik tentang imej mereka terhadap perusahaan:

Contoh hasil uji validitas Contoh


hasil uji validitas

Validitas prediktif.
Berikut hasil uji suatu instrumen terhadap karyawan
pada saat masuk dan setelah bekerja

Correlations
seleksi
seleksi

kerja

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

1
.
10
.852**
.002
10

**. Correlation is significant at the 0.01 level


(2-tailed).

kerja
.852**
.002
10
1
.
10

Validitas konvergen
Berikut output uji korelasi

Validitas
diskriminan

Stabilitas
Reliabilitas

Test-retest
reliability
Pararel Form
reliability

Goodness

Konsistensi
Interitem consis
Tency reliability

Validitas
Validitas
Internal
Validitas
Isi
Validitas
muka

Validitas
Dg kriteria
Validitas
Prediktif

Validitas
Eksternal

Split half

Validitas
Konstruk

Validitas
Validitas
Validitas
Concurent Convergen Diskriminan

Validitas Penelitian
Validitas sampel pada penelitian
ditentukan oleh cara pengambilan
sampel
Cara pengambilan sampel dirancang
untuk meminimalkan
Bias
Confounding

Bias
Deviation of results or inferences from the
truth, or processes leading to such deviation.
Any trend in the collection, analysis,
interpretation, publication, or review of data
that can lead to conclusions that are
systematically different from the truth.
Last J: A Dictionary of Epidemiology, ed. by J. Last,
3rd Edition, IEA

Jenis Bias
Bias Seleksi
Terjadi jika sampel tidak
mencerminkan populasi target
Bias Informasi
Terjadi akibat distorsi informasi pada
saat pengumpulan data

Bias Seleksi
Definisi yg kurang tepat dari target
populasi
Terjadi jika kasus yang terkumpul pada
sampel tidak mewakili kasus di populasi

Competing risk bias


Healthcare access bias
Neyman bias
Berksons bias
Over matching
Dll

Bias Seleksi
Kerangka sampel yg kurang akurat
Terjadi karena kerangka sampel yang
digunakan tidak menggambarkan
populasi
Non random sampling bias
Telephone random sampling bias

Prosedur diagnostik yg berbeda


Terjadi jika pajanan mempengaruhi
prosedur diagnosis penyakit
Detection bias

Bias Seleksi
Missing subjects/Variables
Losses/withdrawal to follow up
Missing information in multivariate
analysis
Non response bias

Bias Informasi
Bias misklasifikasi
Salah melakukan klasifikasi penyakit/pajanan akibat
sensitifitas & spesifisitas alat ukur yang kurang
Differential misclassification
Non differential misclassication
Misklasifikasi terjadi akibat
Detection bias
Observer bias
Recall bias
Reporting bias
Hawthorne effect

Bias Informasi
Ecological Fallacy
Bias terjadi jika analisis dilakukan pada tingkat
ekologi (kec, kab, prop, negara) untuk membuat
kesimpulan pada tingkat individu
Dapat dihindari dengan analisis multilevel

Regression to the mean


Terjadi pada studi longitudinal yang variabel
dependenya berskala kontinyu. Hasil pengukuran
cenderung akan mendekati rata-ratanya pada
pengukuran berulang.
Dapat diminimalkan dengan menggunakan
kelompok pembanding

Confounding
Confounding = bias estimasi efek pajanan
terhadap penyakit akibat perbandingan tidak
seimbang antara kelompok terpajan dengan
kelompok tidak terpajan
Terjadi akibat adanya perbedaan risiko terjadinya
penyakit pada kelompok terpajan dengan
kelompok tidak terpajan
Risiko terjadinya penyakit berbeda meskipun
pajanan dihilangkan pada kelompok terpajan

Syarat Confounding

C merupakan faktor risiko D


C memiliki asosiasi dengan E

Contoh confounding
Kelompok gizi baik
BBLR+
Anemia +
18
Anemia 2
Jumlah
20

BBLR34
6
40

Jumlah
52
8
60

BBLR-

Jumlah

OR = (18*6)/(34*2) = 1,58

Kelompok gizi kurang


BBLR+
Anemia +
6
Anemia 34
Jumlah
40
OR = (6*18)/(2*34) = 1,58

2
18
20

8
52
60

Contoh confounding

Kelompok gizi kurang dan gizi baik


BBLR+
BBLRJumlah
Anemia +
24
36
60
Anemia 36
24
60
Jumlah
60
60
120
OR = (24*24)/(36*36)=0,44

Contoh confounding

Distibusi status gizi menurut anemia


Gizi kurang Gizi baik
Jumlah
Anemia +
8
52
60
Anemia 52
8
60
Jumlah
60
60
120

Contoh confounding
Hubungan status gizi dengan BBLR
BBLR+
BBLRJumlah
Gizi kurang
40
20
60
Gizi baik
20
40
60
Jumlah
60
60
120
OR = (40*40)/(20*20) = 4,00

Contoh confounding
Pada contoh, status gizi merupakan
confounder karena
Status gizi kurang merupakan faktor risiko BBLR
Distribusi status gizi tidak seimbang pada ibu
anemia dan ibu non anemia
Hasil analisis menunjukkan status gizi merupakan
faktor risiko BBLR

Pengontrolan Confounding
Pada Desain
Restriksi
Matching

Pada Pengumpulan Data


Confounding harus diukur

Pada Analisis
Analisis multivariat

Anda mungkin juga menyukai