Anda di halaman 1dari 27

EXPERIMENTAL DESIGN

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:


BAYU SETO
(15/391608/PEK/21054)
DINA PUSPASARI
(15/391618/PEK/21064)
M. AMRULLAH REZA PUTRA TARA
(15/391649/PEK/21095)

Purposes of Study
Exploratory

Lab Experiment

Causal

Descriptive

Field Experiment

Lab Experiment

Mengendalikan secara ketat variabel lain yang mungkin


mengkontaminasi atau mengacaukan hubungan antara variabel
independen dan variabel dependen;

Setelah menetapkan tingkat pengaruh antara variabel independen


dan variabel independen, peneliti dapat menggunakan 2 konsep
untuk mengendalikan variabel lain, yaitu:
Control
Manipulation

Control & Manipulation

Control
Pengendalian

terhadap
contaminating
factor
mempengaruhi jumlah variasi pada variabel dependen

yang

Manipulation
Merancang

tingkatan-tingkatan yang berbeda pada variabel


independen untuk menilai dampaknya terhadap variabel
dependen

Controlling Contaminating Exogenous or


Nuisance Variable

Matching Group
Membagi

subjek penelitian ke dalam beberapa


berdasarkan controllable variable yang dipilih;

kelompok

Variabel

Independen merupakan kausa tunggal atas Variabel


Dependen

Randomization
Membagi

subjek penelitian ke dalam beberapa kelompok melalui


metoda pembagian acak;

Error

atau bias yang dikarenakan controllable variable adalah


sama untuk tiap kelompok

Internal & External Validity of


Lab Experiment

Internal Validity
Keyakinan

atas hubungan sebab-akibat antar variabel;

Peneliti

menjadi subjek penelitian pada eksperimen psikologi


atau departemen di kampus

External Validity or Generalizability


Keyakinan

atas pengaruh yang sama jika hasil eksperimen lab


digeneralisasi pada pengaturan organisasi

Untuk

menguji hubungan kausal di organisasi, maka lebih baik


melakukan eksperimen lapangan

Field Experiment

Eksperimen yang dilakukan pada lingkungan alamiah yang


aktivitasnya berjalan normal, namun ada beberapa kelompok yang
diberikan perlakuan khusus;

Pada eksperimen lapangan:


Validitas

Eksternal mengacu pada tingkat generalisasi dari hasil


studi kepada pengaturan, orang, atau kejadian lain;

Validitas

Internal
pengaruh kausal

Validitas

mengacu

pada

tingkat

keyakinan

eksternal tinggi dan validitas internal rendah

pada

Trade-Off between Internal and


External Validity

Jika validitas internal tinggi, maka validitas eksternal harus


rendah;

Untuk menentukan jenis validitas, peneliti biasanya menguji


hubungan kausal pada lab setting, dan mencoba menguji
hubungan kausal pada eksperimen lapangan;

Faktor yang Mempengaruhi


Validitas Eksperimen

Sejauh mana hasil


ekperimen tidak bias?
Biasanya faktor-faktor
tersebut dikenal dengan
uncontrollable variable
Dapat mempengaruhi
validitas eksternal
maupun internal

1. History Effect
(Sejarah)
2. Maturation Effect
(Kematangan )
3. Testing Effect
4. Selection Bias Effect
5. Mortality Effect
6. Statistical Regression
Effect
7. Instrumentation Effect

1. History Effect (Sejarah)

Peristiwa yang terjadi di waktu lalu/certain event yang dapat mempengaruhi hubungan causaleffect antara independent variable dan dependent variable
Contoh: Sebuah bakery ingin mempelajari efek dari penambahan bahan roti terbaru yang
diekspektasikan dapat memberikan nutrisi lebih pada anak dibawah umur 14 tahun dalam kurun
waktu 30 hari. Sayangnya, selama 20 hari berjalan ada musibah wabah penyakit flu yang
menyerang beberapa anak tersebut. Wabah ini dapat disebut uncontrollable variable yang telah
mengganggu
cause-effect
.
t3
Timehubungan
t1
t2 dari ekperimen tersebut
Independent
Variable
New
Ingredients

Dependent Variable
Children Nutrional
Value

Waba
h Flu

2. Maturation Effect/Kematangan
Manusia, Binatang dan benda lain sebagai subjek penelitian selalu mengalami perubahan,
perubahan manusia berkaitan dengan proses kematangan secara biologis maupun psikologis.
Perubahan seperti growing older, getting tired, emosi, getting bored dll. Hal ini dapat mengancam
internal validity.
Contoh: Manajer R&D ingin meningkatkan efesiensi karyawan selama 3 bulan dengan
menggunakan
teknologi
terbaru. t2
Setelah 3 bulan, t3
efesiensi meningkat, tapi sulit mengetahui
Time
t1
apakah penyebabnya adalah teknologi terbaru atau pengalaman yang didapatkan selama 3
Dependent
Independent
bulan tersebut.
Variable
Variable
Effeciency
Increases

Enhanced
Technology

Getting
Experiences
Doing job
faster

3. Testing Effect/Prosedur Test


Biasanya untuk menguji treatment, subjek diberi pretest sebagai ukuran pertama, lalu diberi treatment
setelah itu diberi post test sebagai ukuran kedua. Pengalaman pretest dapat mempengaruhi hasil post
test, subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban-jawaban yang salah pada waktu pretest dan
dapat diperbaiki pada waktu post test, oleh sebab itu perubahan tersebut bukan hasil treatment saja tapi
pengaruh dari pretest. Pretest dapat mempengaruhi internal maupun eksternal validity.
2 tipe testing:
a.

Main testing effect (mempengaruhi internal validity)


Ketika prior observation (pretest) mempengaruhi observasi selanjutnya (post test) .

b.

Interactive Testing Effect (mempengaruhi external validity)


Ketika pretest mempengaruhi reaksi partisipan terhadap treatment.

4. Selection Bias Effect


Pemilihan partisipan dapat mempengaruhi eksternal validity, mengenai bisa atau tidaknya digeneralisasi.
Dapat juga mempengaruhi internal validity, yaitu disebabkan oleh ketidaksesuaian dan ketidakcocokan
(unmatching) pemilihan subjek untuk eksperimen dan control group.
Contoh: Dalam menilai impact dari lingkungan kerja terhadap perilaku karyawan, setiap group
ditempatkan didalam suatu ruangan selama 2 jam dengan kondisi ruangan yang tidak nyaman, tapi ada
beberapa sukarelawan (volunteers) yang diberi insentif sebesar $x untuk berpartisipasi selama 2 jam.
Bias dalam pemilihan subjek dapat mengancam internal validity, oleh karena itu randomization dan
matching group sangat disarankan.

5. Mortality Effect
Ketika adanya perubahan komposisi di group, misalkan ada yang keluar dari eksperimen lalu akan
mempengaruhi hasil eksperimen dan mengancam internal validity
Contoh: dalam sebuah 4 group study ada 2 anggota group yang keluar dari masing-masing grup karena
berbagai alasan seperti sakit, kecelakaan dan meninggal dunia
6. Statistical Regression Effect
Atau Regresi ke arah nilai rata-rata (mean) ancaman ini terjadi ketika adanya nilai-nilai ekstrem tinggi atau
rendah dari hasil pretest (1st measures), cenderung tidak ekstrem lagi pada saat pengukuran yang kedua,
namun biasanya melewati nilai rata-rata. Perubahan yang terjadi ini bukan menunjukan hubungan causaeffect yang sebenarnya tapi merupakan perubahan semu oleh karena itu regresi ke arah nilai rata-rata ini
disebut juga regresi semu.
7. Instrumentation Effect
Muncul karena adanya perubahan instrumen pengukuran antara pretest dan posttest atau perbedaan cara
pengukuran. Hal ini dapat mengancam internal validity.
Contoh: Dalam sebuah organisasi instrumen effect dalam desain eksperimen dapat terjadi ketika pretest
dilakukan oleh ekperimenter, lalu diberikan treatment kepada group eksperimen dan post test dalam
mengukur kinerja dilakukan oleh mnajer berbeda.
Manajer pertama mengukur berdasarkan final output
Manajer kedua mengukur berdasarkan jumlah barang cacat/reject
Manajer ketiga mengukur berdasarkan banyaknya resource yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan
tersebut

Quasi-Experimental Designs

Penelitian
ini
dapat
diartikan
sebagai penelitian semu (purapura). Tidak ada perbandingan antar
kelompok, tidak ada pengukuran
status variabel dependen seperti
sebelum experimental treatment dan
bagaimana setelah perubahannya.
Karena ketiadaan kontrol, studi ini
tidak punya nilai ilmiah dalam
menentukan hubungan sebab-akibat.
Tujuan: memperkirakan kondisi
eksperimen murni dalam keadaan
tidak
memungkinkan
untuk
mengontrol dan atau memanipulasi
semua variabel yang relevan.

Tiga
desain
experimental

quasi-

Pretest
and
Experimental
Design

Pretest
Only
with
Experimental and Control
Groups

Time Series Design

Posttest
Group

Pretest and Posttest


Experimental Group Design

Sebuah
experimental
group
(without a control group) yang di
berikan sebuah pretest, untuk
terkena
sebuah
treatment,
kemudian
diberikan
sebuah
posttest untuk mengukur efek
dari sebuah treatment.

O mengacu pada beberapa proses


dari observasi atau pengukuran.

X menggambarkan paparan dari


kelompok
pada
sebuah
experimental treatment.

X dan O pada baris diterapkan


pada spesifikasi kelompok yang

Table 10.2 Pretest and posttest experimental


group design
Group

Pretest
score

Treatment

Posttest
score

Experimental
group

O1

O2

Treatment effect = (O2 O1)

Posttest Only with Experimental and


Control Groups

Beberapa
experimental
design di siapkan dengan
experimental and a control
group, hal ini karena sudah
terlebih dahulu terkena
sebuah treatment bukan
setelahnya.
Efek dari treatment di
pelajari dengan mengukur
perbedaan dari hasilnya.

Table 10.3 Posttest only with


experimental and control groups
Group

Treatment

Outcome

Experimental
group

O1

Control group
Treatment effect = (O1 02)

O2

Time Series Design

Sebuah time series design merupakan


pengumpulan data pada variabel
yang
sama
pada
interval
reguler/berkala (minggu, bulan, atau
tahun). Biasanya digunakan peneliti
untuk menilai dampak dari sebuah
treatment dari waktu ke waktu.
Kunci utama dari time series
adalah sejarah: peristiwa peristiwa
tertentu yang dapat memberikan
dampak pada hubungan variabel
dependen-independen mungkin secara
tidak terduga terjadi ketika experiment
dalam proses. Masalah lain adalah
main and interactive testing effects,
mortality, dan maturation.

O1 O2 O3 O4 O5 X O6 O7 O8 O9 O10

True Experimental Design

Experimental designs yang memasukkan


kedua treatment & control groups dan
merekam informasi keduanya sebelum
the pre- & the posttest, dan kedua
kelompok telah dirandomisasi. Dengan
demikian kita dapat menduga history,
maturation,
main
testing
&
instrumentation
effects
yang
telah
dikendalikan.
Hal ini karena apapun yang terjadi pada
experimental group juga terjadi pada the
control group, dan dalam mengukur the
net effects (perbedaan antara the pre- &
posttest scores), kita dapat mengendalikan
faktor faktor yang mempengaruhi

Table 10.4 Pretest and Posttest Experimental and


Control Groups
Group

Pretest
Score

Treatment

Posttest
Score

Experimental
group

O1

O2

Control group

O3

Treatment effect = [(O2 - O1) (O4 - O3)]

O4

Solomon Four-Group Design

Untuk
menambahkan
kepercayaan
daam
validitas
internal
dalam
experimental
design,
disarankan
untuk
mempersiapkan dua experimental
groups dan dua control groups untuk
eksperimen.
Satu
experimental
group dan satu control group dapat
diberikan kedua the pretest dan the
posttest. Grup lain hanya akan
diberikan the posttest.
Efek
dari
treatment
dapat
dikalkulasikan dalam beberapa cara
yang berbeda. Desain ini mungkin
paling kompehensif dan dengan

Solomon four-group design


Group

Pretest

Treatment

Posttest

Experimental

O1

O2

Control

O3

Experimental
Control

O4
X

O5
O6

Salomon Four-Group Design and


Threats to Validity

Merupakan experimental design


yang paling mutakhir. Desain
pengendalian ini untuk semua
ancaman
pada
validitas
internal,
kecuali
mortality
(masalah semua experimental
designs) dan juga pengujian
efek interaktif. Untuk alasan ini
the salomon four-group design
sangat
berguna
ketika
pengujian interaktif diharapkan.
Jika E mirip maka hubungan
sebab akibat sangat valid.

E = (O2 - O1)

E = (O2 - O4)

E = (O5 - O6)

E = (O5 - O3)

E = [(O2 - O1) (O4 - O3)

Major Thearts to Validity in Different


Experimental Designs
Tipe experimental design

Ancaman utama untuk validitas

Pretest and posttest dengan satu History, maturation, main


experimental group saja
testing, interactive testing,
mortality
Pretest and posttest dengan satu Interactive testing, mortality
experimental group dan satu
control group
Posttest saja dengan satu
experimental group dan satu
control group

Mortality

Salomon four-group designs

Mortality

Double-Blind Studies

Ketika kondisi ekstem care & rigor


dibutuhkan
dalam
experimental
designs,
dalam
sebuah
kasus
menemukan sebuah pengobatan baru
yang berdampak pada kehidupan
manusia, blind studies dilakukan
untuk menghindari bias apapun
yang mungkin ada.

Hal ini bertujuan untuk pengukuran


yang objektif.

Peneliti maupun penderita samasama tidak mengetahui, atau tidak


dapat membedakan obat apa yang
diterima dan diselidiki pada kedua

Ex Post Facto Designs

Ex Post Facto = sesudah fakta.

Hubungan sebab akibat terkadang


muncul melalui apa yang di sebut
the ex facto experimental design.
Disini tidak ada manipulasi dari
variabel independen dalam lab atau
lapangan, tetapi subjek yang sudah
terekpose pada sebuah stimulus dan
yang tidak terekpose dipelajari.

Penelitian ex post facto bertujuan


menemukan
penyebab
yang
memungkinkan perubahan perilaku,
gejala
atau
fenomena
yang
disebabkan
oleh
oleh
suatu

Simulation

Alternatif dari eksperimen lab


dan lapangan adalah simulation.
Simulation menggunakan sebuah
model-building technique untuk
menentukan
efek
dari
perubahan, dan berdasarkan
simulasi berbasis komputer.

Simulation
dapat
menjadi
gagasan dari sebuah eksperimen
dilakukan
pada
sebuah
pengaturan spesial yang sangat
mirip dan menggambarkan
lingkungan alamiah dimana
aktivitas biasanya dilakukan.

Isu Etika dalam Penelitian


Desain Eksperimental
1.

Memberikan tekanan pada individu untuk berpastisipasi pada ekseprimen


melalui paksaan, atau menerapkan tekanan sosial.

2.

Memberikan tugas kasar dan menanyakan pertanyaan yang merendahkan


martabat.

3.

Menipu subjek dengan sengaja menyesatkan mereka dari tujuan utama


penelitian.

4.

Mengekspos fisik dan stres mental partisipan.

5.

Tidak membiarkan subjek menarik diri dari penelitian.

6.

Menggunakan penelitian untuk kerugian partisipan.

7.

Tidak menjelaskan prosedur dari eksperimen.

8.

Mengekspos responden pada lingkungan berbahaya dan tidak aman.

9.

Tidak melakukan tanya jawab terhadap partisipan secara penuh setelah


eksperimen berakhir.

Manager Implications

Apakah
sangat
perlu
untuk
mengidentifikasi hubungan sebab akibat?
atau cukup jika korelasi akun dalam
variansi variabel dependen telah di
ketahui?

Apakah hal ini penting untuk menulusuri


hubungan sebab akibat, yang mana kedua
validitas internal dan eksternal lebih
dibutuhkan, atau keduanya dibutuhkan?

Apakah biaya merupakan faktor penting


dalam studi? Jika iya, apakah akan kurang
lebih penting dari yang dilakukan desain
eksperimental?

TERIMA KASIH