Anda di halaman 1dari 8

Patofisiologi

CA Nasofaring
Nanda A. Armanda

Virus Epstein-Barr
Virus Epstein-Barr bereplikasi dalam sel-sel epitel dan
menjadi laten dalam limfosit B. Infeksi virus epstein-barr
terjadi pada dua tempat utama yaitu sel epitel kelenjar
saliva dan sel limfosit. EBV memulai infeksi pada limfosit B
dengan cara berikatan dengan reseptor virus, yaitu
komponen komplemen C3d (CD21 atau CR2). Glikoprotein
(gp350/220) pada kapsul EBV berikatan dengan protein
CD21 dipermukaan limfosit B3. Aktivitas ini merupakan
rangkaian yang berantai dimulai dari masuknya EBV ke
dalam DNA limfosit B dan selanjutnya menyebabkan
limfosit B menjadi immortal. Sementara itu, sampai saat
ini mekanisme masuknya EBV ke dalam sel epitel
nasofaring belum dapat dijelaskan dengan pasti.

Namun demikian, ada dua reseptor yang diduga


berperan dalam masuknya EBV ke dalam sel
epitel nasofaring yaitu CR2 dan PIGR (Polimeric
Immunogloblin Receptor). Sel yang terinfeksi oleh
virus epstein-barr dapat menimbulkan beberapa
kemungkinan yaitu : sel menjadi mati bila
terinfeksi dengan virus epstein-barr dan virus
mengadakan replikasi, atau virus epstein- barr
yang meninfeksi sel dapat mengakibatkan
kematian virus sehingga sel kembali menjadi
normal atau dapat terjadi transformasi sel yaitu
interaksi
antara
sel
dan
virus
sehingga
mengakibatkan terjadinya perubahan sifat sel
sehingga terjadi transformsi sel menjadi ganas
sehingga terbentuk sel kanker.

Gen EBV yang diekspresikan pada penderita KNF


adalah gen laten, yaitu EBERs, EBNA, LMP1, LMP2A
dan LMP2B. Protein EBNA1 berperan dalam
mempertahankan virus pada infeksi laten. Protein
transmembran LMP2A dan LMP2B menghambat sinyal
tyrosine kinase yang dipercaya dapat menghambat
siklus litik virus. Diantara gen-gen tersebut, gen yang
paling berperan dalam transformasi sel adalah gen
LMP1. Struktur protein LMP1 terdiri atas 368 asam
amino yang terbagi menjadi 20 asam amino pada
ujung N, 6 segmen protein transmembran (166 asam
amino) dan 200 asam amino pada ujung karboksi (C).
Protein transmembran LMP1 menjadi perantara untuk
sinyal TNF (tumor necrosis factor) dan meningkatkan
regulasi sitokin IL-10 yang memproliferasi sel B dan
menghambat respon imun lokal.

Genetik
Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk
tumor genetik, tetapi kerentanan terhadap
karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat
tertentu relatif menonjol dan memiliki agregasi
familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA
(human leukocyte antigen) dan gen pengode
enzim sitokrom p450 2E1 (CYP2E1) kemungkinan
adalah gen kerentanan terhadap karsinoma
nasofaring. Sitokrom p450 2E1 bertanggung
jawab atas aktivasi metabolik yang terkait
nitrosamine dan karsinogen.

Faktor Lingkungan
Sejumlah besar studi kasus yang dilakukan pada
populasi yang berada di berbagai daerah di asia dan
amerika utara, telah dikonfirmasikan bahwa ikan asin
dan makanan lain yang awetkan mengandung
sejumlah besar nitrosodimethyamine (NDMA), Nnitrospurrolidene (NPYR) dan nitrospiperidine (NPIP)
yang mungkin merupakan faktor karsinogenik
karsinoma nasofaring. Selain itu merokok dan
perokok pasif yang terkena paparan asap rokok yang
mengandung formaldehide dan yang tepapar debu
kayu diakui faktor risiko karsinoma nasofaring
dengan cara mengaktifkan kembali infeksi dari EBV.