Anda di halaman 1dari 62

CARDIOPULMONARY

RESCUCITATION

PRESENTASI ILMIAH KLINIK & RB 24 JAM DR. NANCY


BEKASI TIMUR REGENCY BLOK L1 NO. 1 SETU, BEKASI
MEI 2013

Disusun oleh :
Dr. Bunga Listia
Paramita
Zr. Raksanari

Pendahuluan

Setiap menit terdapat + 4-6 orang meninggal di dunia karena


serangan jantung.

80% serangan jantung terjadi di rumah, sehingga setiap orang


seharusnya dapat melakukan resusitasi jantung paru (CPR).

RJP Kombinasi pernafasan buatan dan bantuan sirkulasi yang


bertujuan mencukupi kebutuhan oksigen otak dan substrat lain
sementara jantung dan paru tidak berfungsi memperkecil
kemungkinan cacat yang terjadi.

Keberhasilan RJP dimungkinkan oleh adanya interval waktu


antara mati klinis dan mati biologis, yaitu sekitar 4-6 menit.

Mati klinis periode dini suatu kematian yang ditandai


dengan henti nafas dan henti jantung / sirkulasi serta
terhentinya aktivitas otak yang bersifat sementara
(reversibel).

Mati biologis proses nekrotisasi semua jaringan,


dimulai dari neuron-neuron cerebral dan diikuti organorgan lain, seperti jantung, ginjal, dan hati.

Mati sosial Kerusakan otak yang hebat dan irreversibel


sehingga pasien tidak sadar dan tidak responsif, tetapi
EEG aktif dan beberapa refleks masih utuh. Pernafasan
bisa spontan atau dibantu dengan alat bantu nafas
(respirator). Kesadaran koma, kadang-kadang seperti
bangun dan membuka mata, tetapi tidak bisa kontak dengan
dunia luar.

RJP / CPR

Metode untuk mengembalikan fungsi


pernafasan dan sirkulasi pada pasien yang
mengalami henti nafas dan henti jantung.

Indikasi
Henti
Henti

Nafas

Jantung

Henti Nafas
Etiologi
Gejala

(Hiperkarbia, Hipoksemia)
Sumbatan Jalan Nafas :
Total
Parsial

Henti Jantung
Definisi
Etiologi ( Intrinsik &
Ekstrinsik)
Gejala
Tanda

RJP / PCR

DILAKUKAN

TIDAK
DILAKUKAN

Fase Resusitasi
FASE I
:
Tunjangan Hidup Dasar (Basic
Life Support)
Fase II
:
Bantuan Hidup Lanjut.
Fase III :
Pengelolaan pasca resusitasi
(Bantuan Hidup Terusmenerus)

RESUSITASI NEONATUS

PENJELASAN....

FASE I : Tunjangan Hidup Dasar


(Basic Life Support)
Circulation
Airway
Breathing

Circulation

Nilai sirkulasi darah korban dengan menilai denyut arteri besar (arteri
karotis, arteri femoralis).

Apabila terdapat denyut nadi maka berikan pernapasan buatan 2 kali.

Apabila tidak terdapat denyut nadi maka lakukan kompresi dada sebanyak
30 kali.

Posisi kompresi dada, dimulai dari melokasi proc. Xyphoideus, dan tarik garis
ke cranial 2 jari diatas proc. Xyphoideus, dan lakukan kompresi pada tempat
tersebut.

Kemudian berikan 2 kali napas buatan dan teruskan kompresi dada sebanyak
30 kali. Ulangi siklus ini sebanyak 5 kali.

Kemudian cek nadi dan napas korban, apabila:


Tidak ada napas dan tidak ada nadi : teruskan RJP sampai bantuan datang
Terdapat nadi tetapi tidak ada napas: mulai lakukan pernapasan buatan
Terdapat nadi dan napas: korban membaik.

Pada pasien henti jantung bantuan sirkulasi pasientidur terlentang pd alas yg datar & keras :
- pukulan pd sternum (precordial thump)
- kompresi jantung luar
Pukulan pd sternum :
Lokasi : bgn tengah separuh bawah tulang sternum
Dari ketinggian 20-30 cm (8-12 inci)
- menghentikan fibrilasi ventrikel
- merangsang jantung yg berhenti utk berdenyut kembali
Kompresi jantung (masase jantung) luar :
Posisi penolong berada di samping dan menghadap pasien.
Bila ps di atas tempat tidur, penolong berdiri. Bila di lantai,
penolong berlutut.

Dada depan dalam keadaan terbuka (telanjang)


Penolong membungkukkan badan hampir tegak lurus
(antara tungkai & badan).
Satu pangkal tangan penolong diletakkan di 1/3 bawah
sternum ( 2 jari cranial sambungan sifosternum).
Tangan yg lain diletakkan di atas tangan pertama.
Penekanan dilakukan dg pangkal telapak tangan, kedua
telapak tangan saling bertindihan, jari-jari direntangkan
lurus & tidak menyentuh dinding dada, lengan lurus,
kedua bahu penolong tepat di atas sternum pasien.
Tekanan vertikal ke bawah 4-5 cm, laju 80-100 X/men
Kompresi <====> relaksasi.
Pada saat relaksasi, kedua tangan tidak boleh diangkat
dari dada pasien.

Kompresi jantung luar : nafas buatan = 30 : 2, baik 1


orang penolong ataupun 2 orang penolong
Kompresi jantung luar :
- harus dilakukan secara halus & berirama
- menghasilkan tekanan sistolik 100 mmHg & MAP
40 mmHg
pada arteri karotis
- tidak boleh terputus lebih dari 7 detik setiap
kalinya, kecuali
pada : - intubasi endotrakea
- transportasi (naik/turun tangga)

Sesudah 5 siklus (2 menit) evaluasi


Periksa denyut nadi karotis :
- (--) RJP dilanjutkan.
- (+) periksa pernafasan :
- (+) pemantauan ketat
denyut nadi & pernafasan.
- (--) nafas buatan 12 X/men,
pantau nadi & nafas

Airways Control

Posisikan korban dalam keadaan terlentang pada alas yang keras


(ubin), bila diatas kasur selipkan papan. Periksa jalan napas korban
sebagai berikut :
membuka mulut korban
masukkan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah)
lihat apakah ada benda asing, darah, (bersihkan)

Head tilt - chin lift

Jika kita mencurigai adanya patah atau fraktur tulang leher/servikal,


maka pakai cara jaw trust, lalu buka jalan napas.

Bila korban tak sadar, bernafas spontan dan adekuat letakkan


dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi.

Breathing
Look
Feel
Listen

TIDAK
DIGUNAKAN
LAGI

Ventilasi Mulut ke Mulut


Penolong

hendaknya mempertahankan
sikap kepala dan leher korban
memencet hidung korban dengan satu
tangan atau menutup lubang hidung
pasien dengan pipi penolong 2 kali
ventilasi dalam raba A. Karotis/
A.Femoralis

Ventilasi Mulut ke Hidung


Ventilasi Mulut ke Stoma Trakeostomi
Resusitator

Jika di rongga mulut / faring ada lendir, cairan atau benda asing:
- Kepala dimiringkan ke satu sisi
- Mulut dibuka paksa
- Lidah & rahang dipegang satu tangan
- Jari telunjuk & tengah tangan lain dimasukkan ke dalam satu
sisi
mulut ps belakang faring keluar melalui sisi mulut lain
gerakan menyapu. Benda asing jangan masuk lebih kedalam
Bila gagal - hentakan abdomen (abdominal
thrust/grk.Heimlich)
- hentakan dada (chest thrust)
- Hentakan abdmen/dada 6-10 kali
- Buka mulut sapuan jari
- Reposisi ps ventilasi buatan
Bila gagal: - pasang pipa jln nafas :
oro/nasofaringeal/endotrakea
- krikotirotomi (pungsi memb. krikotiroid dg jarum
>>)
Bila sumbatan di bronkus - sedot melalui pipa endotrakea
- bronkodilator

Teknik pada bayi dan anakanak

Prinsip BHD pada bayi dan anak adalah sama dengan pada
orang dewasa, namun dengan modifikasi teknik, yaitu :
Ekstensi kepala yang tidak berlebihan
Pada bayi dan anak kecil, ventilasi mulut-ke-mulut dan
hidung lebih sesuai
Pemberian ventilasi harus lebih kecil volumnya
dan frekuensi ventilasi harus ditingkatkan
menjadi 1 ventilasi tiap 3 detik untuk bayi dan 1
ventilasi tiap 4 detik untuk anak-anak.

Pukulan

punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi


di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada
lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang,
kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong. Pukulan
punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban
telungkup melintang di atas paha penolong dengan kepala lebih
rendah dari badan, dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak
telentang di atas lantai.

Karena

jantung terletak sedikit lebih tinggi dalam rongga toraks pada


pasien-pasien muda, kompresi dada liar hendaknya diberikan dengan 2
jari pada 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum
pada bayi dan pada dengan pertengahan bawah sternum pada anak.
Penekanan sternum 1,5 - 2,5 cm efektif untuk bayi, tetapi pada anak
diperlukan penekanan 2,5 -4 cm pada anal yang lebih besar,
hendaknya digunakan pangkal telapak tangan kompresi dada luar.

Selama

henti jantung, pemberian kompresi dada luar harus minimal


100 x /menit (bayi )dan 80 x /menit (anak-anak). Perbandingan
kompresi terhadap ventilasi 30: 2..

Fase II : Bantuan Hidup Lanjut

Upaya memperbaiki ventilasi dan


oksigenasi korban dan pada
diagnosis serta terapi gangguan
irama utama selama henti jantung

D : "Drugs and Fluid


Adrenalin (0,01- 0,1- 0,5 1 mg/ml)
Dosis : - dewasa 0,5-1,0 mg
- anak 0,01 mg/kgBB
Cara pemberian : - intravena
- intratrakeal (melalui ETT)
- intrakardial
Adrenalin diencerkan 10X dg akuades
Natrium bikarbonat (Bila henti jantung lebih dari 2 menit).
Cara pemberian intravena.
Dosis awal 1 mEk/kgBB.
Diulang tiap 10 menit dg dosis 0,5 mEk/kgBB, sampai
timbul denyut jantung spontan atau mati jantung.

Sulfat Atropin:
Mengurangi tonus vagus, memudahkan konduksi atrioventrikuler
dan mempercepat denyut jantung.
Paling berguna dalam mencegah arrest pada keadaan sinus
bradikardi sekunder karena infark miokard, terutama bila ada
hipotensi.
Dosis : mg, iv. Bolus dan diulang dalam interval 5 menit s.d.
denyut nadi > 60 /menit, dosis total 2 mg
Lidokain:
Efektif menekan iritabilitas mencegah kembalinya fibrilasi
ventrikel
Efektif mengontrol denyut ventrikel prematur yang multi fokal
dan episode takikardi ventrikel.
Dosis : 50-100 mg, iv sebagai bolus, pelan-pelan dan bisa
diulang
bila perlu.
Dapat dilanjutkan dengan infus kontinu 1-3 mg.menit,
biasanya tidak lebih dari 4 mg/menit, berupa
lidocaine 500
ml dextrose 5 % larutan (1 mg/ml).

E : EKG
Diagnosis elektrokardigrafis
untuk mengetahui adanya
fibrilasi ventrikel dan
monitoring

KURVA EKG

Gelombang P
Gelombang QRS
Gelombang T
PR Interval
Segmen T

ST Segmen

T
Q

PR interval

QT Interval

GAMBAR EKG NORMAL


Irama
: Teratur
HR
: 60 100 x/menit
Gelombang P
: Normal, setiap

gel. P

selalu
diikuti gel.QRS, T.
Interval PR
: Normal ( 0,12 0,20
detik )
Gelombang QRS : Normal ( 0,06 0,12 )
Irama

abnormal = Aritmia / Disritmia

Ventrikel Fibrilasi
Irama
: Tidak teratur
Frek. ( HR ) : Tidak dapat dihitung.
Gel. P
: Tidak ada.
Interval PR : Tidak ada.
Gel. QRS
: Tidak dapat dihitung, bergelombang
dan tidak
teratur.
Dua macam VF
VF kasar ( Coarse )
VF halus ( Fine )

a.
b.

Normal

Fibrilasi

ventrikel

Disosiasi

Asistol

elektromekanik

ventrikel

F = FIBRILLATION TREATMENT (terapi fibrilasi / defibrilasi )


dengan syok listrik (DC shock)

Syok listrik hanya utk fibrilasi ventrikel, bila sesudah kompresi


jantung luar, jantung masih belum berdenyut.
Utk asistol ventrikel / disosiasi elektro-mekanis, syok listrik tidak
bermanfaat.
Teknik defibrilasi :
Dg menggunakan alat DC shock / defibrilator, dg 2 elektroda
berbentuk pedal (paddle), menggunakan arus searah dengan
tombol pengatur satuan tenaga Joule (Wsec).
Pedal I diletakkan di dada kanan, kaudal dari klavikula kanan,
pedal II di iga (kosta) kelima kiri, antara grs midklavikular kiri
& garis aksilar depan kiri.

Dosis

awal : dewasa 200 J ; anak 100 J


; bayi 50 J ( 3 X )
Kompresi jantung luar/ventilasi = 30 : 2
10 X
Epinefrin intravena/intratrakeal
Kalau gagal syok listrik (dewasa 360J,
anak 200J, bayi 100J) 3 X berturutturut.
Fase 2 BHL-DEF ini berhasil bila
diperoleh sirkulasi spontan yang
adekuat.

Fase III : Pengelolaan pasca resusitasi


(Bantuan Hidup Terus-menerus)
G (Gauge) : melakukan monitoring terus-menerus
terutama system pernapasan, kardiovaskuler dan system
saraf.
H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak
dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut, sehingga
dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang
permanen.
H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada
perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu
antara 30 32C.

H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang


ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan,
karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan
perikemanusiaan.
I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu :
tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol
terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila
diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kejang.

Keputusan untuk mengakhiri upaya resusitasi


telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan
yang efektif
upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang
bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bda tak ada
dokter)
seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila
tak ada dokter sebelumnya)
penolong terlalu capai sehingga tak sanggup
meneruskan resusitasi
pasien dinyatakan mati

RJP tidak dilakukan pada :


1) Kematian normal
2) Stadium terminal suatu penyakit yang tak
dapat disembuhkan lagi.
3) Bila hampir dapat dipastikan bahwa
fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu
sesudah 1/2 - 1 jam terbukti tidak ada nadi
pada normotermia tanpa RJP.

DAFTAR PUSTAKA

American Heart Association. 2005. Part 4 Adult Basic Life Suppot in Circulation Jurnal.
American Heart Association. 2009. Cardiopulmonary resuscitaion. Diakses dari
http://www.americanheart.org/presenter.jhtml?identifier=4479

Andrey. 2008. Resusitasi Jantung Paru Pada Kegawatan Kardiovaskuler. Diakses dari
http://yumizone.wordpress.com/2008/11/27/resusitasi-jantung-paru-pada-kegawatan-kardiovaskuler/
Anonim. 2003. Resusitasi Kardiopulmonal (RKP)/Cardiopulmonary resuscitation (CPR). Diakses dari
http://www.jevuska.com/2008/12/08/resusitasi-kardiopulmonal.
Dar Ahmed B. 2008. Cardiopulmonary Resuscitation. Assocaiate Prof of Medicine. Chinkipora Sopore
Kashmir, India.
Muhiman, Muhardi. 2004. Anestesiologi. Jakarta: FKUI.
Sjamsuhidajat, R dan Jong WD. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi. Jakarta : EGC.
Stoppler, M.C. 2008. The Importance of CPR. Diakses dari
http://www.emedicinehealth.com/cardiopulmonary_resuscitation_cpr/article_em.htm
Wikipedia. 2009. Cardiopulmonary Resuscitation. Diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/
Cardiopulmonary_ resuscitation

Thank you for your attention

Any
Question?