Anda di halaman 1dari 37

ANATOMI

• Rongga hidung : berbentuk


terowongan6
• Pangkal hidung
• Dorsum nasi
• Puncak hidung
• Ala nasi
• Kolumela
• Nares anterior

6. Krouse JH. Allergic and Nonallergic Rhinitis. In: Bailey BJ,


Drake. 2010. Gray’s Anatomy for Students 2nd Edition. Johnson JT et al editors. Otolaryngology Head and Neck
Philadephia: Elsenvier. Surgery, 4th Ed Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2006. p. 351-63.
ANATOMI
• Kerangka hidung :7
• Tulang
1. Os nasal
2. Prosesus frontalis os maksila
3. Prosesus nasalis os frontalis
• Tulang rawan
1. Sepasangkartilago nasalis lateralis superior
2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior
3. Tepi anterior kartilago septum

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan Penerbit FKUI.
ANATOMI
• Nares7
• Septum7
• Ala nasi7
• Vestibulum7
• Konka7
• Meatus7
7 Universitas Indonesia. 2014.
Telinga Hidung Tenggerokoan
Kepala dan Leher Ed Ke 7.
Badan Penerbit FKUI.

Drake. 2010. Gray’s Anatomy for Students 2nd Edition. Philadephia: Elsenvier.
ANATOMI

Drake. 2010. Gray’s Anatomy for Students 2nd Edition. Philadephia: Elsenvier.

• Konka inferior7 • Meatus Inferior7


• Konka media7 • Meatus media7
• Konka superior7
• Meatus
• Konka suprema7
superior7
7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan Penerbit FKUI.
ANATOMI
Batas rongga hidung7
• Lamina kribiformis
• Os maksila dan palatum
• Os sphenoid

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung


Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan
Penerbit FKUI.

Drake. 2010. Gray’s Anatomy for Students 2nd Edition. Philadephia: Elsenvier.
ANATOMI
Atas7
• A. karotis interna  A.
oftalmika  A. etmoid
ant dan post
Bawah7
• A. karotis ekst  A.
maksilaris int  A.
palatina mayor dan
sfenopalatina

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung


Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan
Penerbit FKUI.

Drake. 2010. Gray’s Anatomy for Students 2nd Edition. Philadephia: Elsenvier.
ANATOMI
• Persarafan7
• N. oftalmikus (N. V-1)  N. nasosiliaris  N. etmoidalis
anterior
• N. maksila (N. V-2)  ganglion sfenopalatina

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan Penerbit FKUI.
DEFINISI RINITIS ALERGI
• Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rinitis and its
Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada
hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan
tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang
diperantai IgE.7

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan Penerbit FKUI.
IMUNOPATOGENESIS
• Sensitisasi7
• Provokasi7

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan Penerbit FKUI.
IMUNOPATOGENESIS7
• Fase cepat : segera  puncak 15-20 menit
• Fase lambat : 24-48 jam  puncak 4-8 jam
Mediator radang
• Histamin  gatal, bersin, hipersekresi, rinore
• Prostaglandin D2
• Leukotrien D4
• Leukotrien C4
• Sitokin
• Eosinofil
• Basofil

7 Universitas Indonesia. 2014. Telinga Hidung Tenggerokoan Kepala dan Leher Ed Ke 7. Badan Penerbit FKUI.
KLASIFIKASI8

8 WHO. ARIA, 2008. Management of Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma.
GEJALA8

8 WHO. ARIA, 2008. Management of Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma.
DIAGNOSIS8
Gejala yang mengarah ke rhinitis alergi
Rhinore anterior
Bersin
Hidung tersumbat
Konjungtivitis

Dokter Umum Dokter Spesialis THT

Kirim ke
Phadiatop atau Tes Spesialis Skin Prick Test
Multi Alergen THT

Positif Negatif
Negatif Positif + berhubungan
dengan gejala
Jika gejala kuat
Rhinitis berhubungan mengarah ke alergi
dengan alergi. : Tes serum
Bila membutuhkan Rhinitis Alergi spesifik IgE
informasi lebih atau
imunoterapi

Rhinitis tidak Negatif Positif


berhubungan + berhubungan
dengan alergi dengan gejala

Bukan Rhinitis Rhinitis Alergi


Alergi

Gambar 2.7 Alur Diagnosis Rhinitis Alergi


8 WHO. ARIA, 2008. Management of Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma.
TATALAKSANA8

8 WHO. ARIA, 2008. Management of Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma.
TATALAKSANA8

8 WHO. ARIA, 2008. Management of Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma.
Tabel 2.1 Antihistamin (Dewato, 2009)
Golongan dan Contoh Obat Dosis Dewasa Masa Kerja
Generasi 1
Etanolamin
 Difenhidramin 25-50 mg 4-6 jam
 Dimenhidrinat 50 mg 4-6 jam
Etilenediamin
 Pirilamin 25-50 mg 4-6 jam
 Tripelenamin 25-50 mg 4-6 jam
Piperazin
 Siklizin 25-50 mg 4-6 jam
 Meklizin 25-50 mg 12-24 jam
Alkilamin
 Klorfeniramin 4-8 mg 4-6 jam
 Bromfeniramin 4-8 mg 4-6 jam
Derivat fenotiazin
 Prometazin 10-25 mg 4-6 jam
Generasi 2
Astemizol 10 mg < 24 jam
Feksofenadine 60 mg 12-24 jam
Loratadin 10 mg 24 jam
Setirizin 5-10 mg 12-24 jam
Dewoto, Hedi. 2009. Histamin dan Antialergi dalam Farmakologi FKUI. UJakarta: Universitas Indonesia.
Tabel 2.2 Agen yang Digunakan pada Rinitis Alergi (Small et al, 2007)
Agen Kegunaan
Antihistamin H1 oral Mengurang bersin, rinore, gatal (mata, hidung, tenggerokan)

Kortikosteroid Mengurangi pembengkakan mukosa dan sekresinya


intranasal Mengurangi nasal symtomp score dan hidung tersumbat
Mengurang sumbatan jalan napas bawah dan mengurangi
rawat inap kasus asma
Memperbaiki drainase pada rhinosinositis

Antagonis reseptor Berpengaruh besar terhadap asma


leukotrien Mengurangi bersin, rinore, gatal dan sumbatan pada
tenggorokan
Ipratropium bromide Mengurangi hidung berair
intranasal
Kromoglikat Mengurangi bersin, rinore dan hidung gatal
Dekongestan Mengurangi pembengkakan mukosa akut
Topikal nasal Mengurangi sensasi hidung tersumbat
lubricant Mengurangi pengerasan intranasal
Small at al. Rhinitis : An Executive Summary of a Practical and Comprehensive Approach to Assessment and Therapy. Journal of
Otolaryngology,2007. 36(1). p.1-27.
Tabel 2.3 Derajat Gejala TNSS (Ellis, 2013)
Skor Gradasi Keterangan
0 Absen Tidak terdapat gejala
Terdapat gejala, minimal dan
1 Ringan
dapat ditoleransi
Terdapat gejala yang cukup
2 Sedang mengganggu, tetapi masih
dapat ditoleransi
Gejala sangat berat dan tidak
3 Berat dapat ditoleransi, mengganggu
aktivitas
Ellis, A et al. A four-way, double-blind, randomized, placebo controlled study to determine the efficacy and speed of azelastine nasal
spray, versus loratadine, and cetirizine in adult subjects with allergen-induced seasonal allergic rhinitis. AACI. 2013: 9(16). p. 1-10.
19

ANAMNESIS
• Riwayat Penyakit Sekarang:
• Paisen mengeluhkan cairan keluar dari lubang hidung
kanan dan kiri sejak 5 hari yang lalu, cairan cair jernih dan
tidak berbau. Pasien mengeluhkan hidung terasa gatal,
sering bersin-bersin dan terasa tersumbat pasien
mengeluhkan mata kiri terasa gatal dan berair. Keluhan
cairan yang keluar dari lubang hidung, gatal, bersin-bersin
dan hidung tersumbat serta mata gatal dan berair
tersebut muncul jika pasien terpapar debu dan jika kondisi
lingkungan dingin.
• Keluhan lainnya disangkal yaitu seperti demam, nyeri
tenggorokan, sulit menelan, pusing berputar, mual,
muntah, batuk, nyeri telinga dan keluar cairan dari telinga.
Pasien menyangkal adanya riwayat hidung terbentur.
Pasien ada mengkonsumsi obat untuk mengurangi
keluhan gatal, bersin dan berair pada hidungnya yang
didapat dari dokter di Puskesmas dan tidak mengetahui
nama dan jenis obatnya, keluhan dirasakan berkurang
setelah meminum obat tersebut.
21

RIWAYAT PENYAKIT
• Riwayat Penyakit Dahulu
• Pasien mengaku keluhan serupa telah dialami sejak tahun 2000
muncul jika pasien terpapar debu dan udara dingin. Riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, hiperkolesterol disangkal, riwayat asma
disangkal. Riwayat alergi makanan disangkal, riwayat alergi obat-
obatan disangkal.

• Riwayat Penyakit Keluarga


• Pasien mengaku, di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan
seperti ini sebelumnya.

• Riwayat Sosial Ekonomi


• Pasien mengaku sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga,
tinggal bersama anaknya di asrama polisi, tidak merokok dan tidak
minum minuman beralkohol, jarang mengkonsumsi makanan
berminyak, makanan pedas dan minuman dingin.
22

PEMERIKSAAN FISIK
• Status generalis: CM, 110/80, HR 82x, RR 18x,
• Kepala: (I) Bentuk simetris, jejas pada wajah (-), benjolan (-)
(P) Teraba pulsasi a. temporalis, nyeri tekan wajah (-)
• Leher: (I) Bentuk simetris, jejas (-), benjolan (-)
(P) Teraba tiroid, kenyal, mobil, nyeri tekan (-)
(A) Stridor (-)
• Thorax: (I) Bentuk simetris, jejas (-), retraksi (-), ictus tidak terliat
(P) Nyeri tekan (-) teraba ictus cordis ICS IV midclavicula
(P) Sonor pada kedua hemithorax
(A) Suara napas normal, rhonki (-) wheezing (-) S1/S2 +/+
23

• Abdomen: (I) Bentuk simetris, jejas (-), kelainan


pigmentasi (-)
(A) Bising usus normal
(P) Nyeri tekan (-)
(P) Timpani pada seluruh kuadran abdomen

• Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, ruam (-), jejas


(-)

• Neurologis :
• (N.V) m. masseter dan temporalis baik, sensorik wajah V1/V2/V3
baik dengan light touch
• (N. VII) wajah simetris, ekspresi wajah termasuk mengangkat alis,
menutup mata baik
• (N. IX, X, XII) lidah dan uvula di tengah pada cavum oris, deviasi (-
), gerakan lidah dan uvula baik, deviasi saat gerakan (-)
24
25
27

RESUME
• Paisen wanita 56 tahun dating dengan keluhan rinore (+/+)
sejak 5 hari yang lalu, cairan cair jernih dan tidak berbau.
Pasien mengeluhkan hidung terasa gatal, sering bersin-
bersin dan kongesti nasal (+/+), pasien mengeluhkan mata
kiri gatal dan berair. Keluhan rinore, gatal, bersin-bersin dan
kongesti nasal serta mata gatal dan berair tersebut muncul
jika pasien terpapar debu dan jika kondisi lingkungan dingin.
• Febris (-), odinofagia (-), disfagia (-) sensasi vertigo (-),
nausea (-), vomitus (-), batuk pilek (-), otore (-), otalgia (-).
Riwayat benturan pada hidung disangkal. Pasien ada
mengkonsumsi obat untuk mengurangi keluhan gatal,
bersin dan berair pada hidungnya yang didapat dari
dokter di Puskesmas dan tidak mengetahui nama dan
jenis obatnya, keluhan dirasakan berkurang setelah
meminum obat tersebut.
29

RESUME
Status generalis: CM, 110/80, HR 82x, RR 18x,

• Status Lokalis
• ADS : tidak ditemukan kelainan
• CN : mukosa edema, pucat, basah, hipertrofi
concha inferior
• NPOP : tidak ditemukan kelainan
• MF : tidak ditemukan kelaanan
• Leher : tidak ditemukan kelianan
30

DIAGNOSIS BANDING
• Rhinitis alergi
• Rhinitis vasomotor

DIAGNOSIS KERJA
• Rhinitis alergi
• Konjungtivitis os
• Tuli konduktif telinga kanan dan telinga kiri
31

USULAN PEMERIKSAAN
• Uji Kulit Cukit (Skin Prick Test).
• IgE serum total
32

PENATALAKSANAAN
• Edukasi : Hindari faktor pencetus
• Avamys nasal spray 1 dd 1 tetes hidung kanan kiri
• Cetirizine tablet 1 x 10 mg
33

PROGNOSIS
• Quo ad vitam : ad bonam
• Quo ad functionam : dubia ad bonam
• Quo ad sanactionam : ad bonam
34

PEMBAHASAN
• Dasar diagnosis rhinitis alergi dibuat berdasarkan gejala
klinik dan pemeriksaan THT terutama pemeriksaan
rhinoskopi anterior. Pasien mengeluhkan rinore (+/+)
sejak 5 hari yang lalu, cairan cair jernih dan tidak berbau.
Pasien mengeluhkan hidung terasa gatal, sering bersin-
bersin dan kongesti nasal (+/+), pasien mengeluhkan
mata kiri gatal dan berair. Keluhan rinore, gatal, bersin-
bersin dan kongesti nasal serta mata gatal dan berair
tersebut muncul jika pasien terpapar debu dan jika kondisi
lingkungan dingin.
35

Cont,
• Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior, ditemukan
mukosa edema, pucat, basah, terdapat hipertrofi concha
inferior. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas
kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Gejala
klinis yang dialami pasien terjadi karena Histamin yang
dilepaskan akan merangsang reseptor H1 pada ujung
saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada
hidung dan bersin-bersin. Selain itu histamin juga akan
menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet akan
mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler
meningkat sehingga terjadi rinore. Hipertrofi chonca
terjadi karena proses inflamasi kronis yang terjadi.
36

Cont,
• Pemeriksaan garpu penala merupakan pemeriksaan
sederhana untuk mengetahui adanya gangguan
pendengaran, pada pasien ini kesan terjadi tuli konduktif
pada telinga sebelah kanan kiri. Prinsip pengobatan
dengan mengedukasi pasien untuk menghindari faktor
pencetus dan mengkonsumsi antihistamin untuk
mengurangi gejala. Pada pengobatan konservatif yang
tidak efektif dan timbulnya komplikasi pembedahan dan
imunoterapi dapat menjadi pilihan.
KESIMPULAN
• Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala
bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar allergen yang diperantai IgE.
• Diagnosis pasti rhinitis alergi ditegakkan melalui
pemeriksaan tes serum spesifik IgE
• Pengobatan rhinitis alergi tergantung dari klasifikasi dan
berat ringannya gejala. Agen yang paling sering
digunakan adalah antihistamin, kortikosteroid dan
leukotrien inhibitor