Anda di halaman 1dari 81

SIMPLISIA DAN EKSTRAK

Amri Bakhtiar
MATERI
1. Definisi simplisia
2. Pembagian simplisia
3. Teknologi pembuatan simplisia
4. Tahapan pembuatan simplisa
5. Pemeriksaan mutu simplisa
6. Definisi ekstraksi
7. Uji mutu ekstrak
Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah
yang pergunakan sebagai obat
yang belum mengalami
pengolahan apapun juga dan
kecuali dikatakan lain simplisia
merupakan bahan yang telah
dikeringkan.
Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa
tanaman utuh, bagian tanaman, atau eksudat
tanaman.

Yang dimaksud dengan eksudat tanaman ialah


isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman
atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari
selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan
cara tertentu dipisahkan dari tanamannya.

Contoh : Folium, Herba, Flos, Cortex, Radix,


Lignum, Fructus, Semen. Eksudat: Gummi
arabicum, tragacan
Simplisia Hewani
Simplisia hewani yaitu simplisia yang
dapat berupa hewan utuh, bagian
dari hewan atau zat berguna yang
dihasilkan hewan, tetapi bukan
bukan berupa zat kimia murni.
Contoh : hormon, enzym, tulang
Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan atau mineral yaitu
simplisia yang berupa pelikan atau
mineral yang belum diolah atau
telah diolah secara sederhana, akan
tetapi belum atau bukan berupa zat
murni.

Contoh : CaCO3, kaolin


BUDIDAYA PASCA PANEN

KUALITAS
SIMPLISIA

KANDUNGAN PENAMPILAN EFEK


KIMIA FISIS TERAPI
Pembuatan Simplisia
 Bahan baku

 Dasar pembuatan

 Proses pembuatan
Bahan Baku
 Tumbuhan liar

 Tanaman budidaya (GAP)


Tumbuhan liar
Adalah tumbuhan
Yang tumbuh sendiri di
hutan,pekarangan ,
pagar-pagar, atau di
tempat lain.

Tumbuhan liar kurang


baik dijadikan sumber
simplisia .
Tumbuhan liar
o Persediaan terbatas.
o Mutu tidak seragam
o Permintaan banyak
bisa tanaman
mengalami kepunahan
Tanaman Budidaya

Jenis tanaman diketahui


dengan jelas
Umur panen tanaman dapat
ditetapkan
Lingkungan dapat diatur
Tanaman Budidaya
 Jenis tanaman diketahui dengan jelas
 Umur panen tanaman dapat ditetapkan
 Lingkungan dapat diatur
 Mutu simplisia dapat terjamin.
 Persediaan bisa tergantung kebutuhan.
 Mutu bisa seragam .
 Kandungan bioaktif bisa ditingkatkan.
 Penyakit tanaman bisa diawasi.
 Gen tanaman bisa dikontrol
Teknologi Pembuatan simplisa
 Pengeringan
 Fermentasi
 Memerlukan air
 Perlakuan khusus
Pengeringan Simplisia
Fermentasi Cokelat
Perlakuan khusus (Gambir)
Tahapan Pembuatan
 Pengumpulan bahan baku
 Faktor yang mempengaruhi
 Bagian tanaman yang digunakan
 Umur dan waktu panen
 Lingkungan tempat tumbuh
Panen
• Bunga :
diambil dan dikumpulkan sesaat setelah terjadi
penyerbukan/pembuahan. Kadang-kadang diambil pada waktu
bunga belum mekar. Untuk yang mengandung minyak atsiri
sebaiknya di panen sebelum mekar

 Buah :
dikumpulkan pada saat buah telah tua tetapi belum masak

 Biji :
Pada saat buah telah masak
.
Panen
 Daun :
dipanen waktu proses fotosintesis masih aktif, yaitu pada waktu
hampir berbunga .

 Kulit batang dan kayu :


dipanen pada saat tanaman telah cukup umur.

 Umbi lapis :
Panen dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksimal dan
pertumbuhan bagian atas tanah berhenti.
Panen
• Rhizoma-Radix :
Panen setelah selesai proses vegetatif. Pada tumbuhan terdapat
zat penumbuh yaitu auxin.

Jika pertumbuhan telah selesai berarti tumbuhan sudah cukup


tua.

Pada zingiberaceae umumnya di anggap cukup tua bila


umurnya kurang lebih setahun / 8 bulan.
Panen
• Rhizoma :
dipanen saat sudah tua/kering karena kadar amylumnya tinggi,
kadar minyak atsiri tinggi, kadar air rendah.

Sebagai tanda dimana rhizome dapat diambil baik: daun-daun


sudah layu dan kering.

• Herba :
dipanen ketika tumbuhan sedang mencapai tumbuh optimum.
Lebih baik lagi kalau tumbuhan sedang berbunga .
Bunga
Panen daun
Pegagan (Centella asiatica)
Buah Makasar /Malua
Biji pala
Kulit Manis
Kulit kina
Akar
Rimpang
Cara Panen atau pengumpulan
 Kulit batang
Batang utama dan cabang dikelupas dengan ukuran
panjang dan lebar tertentu; untuk kulit batang yang
mengandung minyak atsiri atau golongan senyawa
fenol digunakan alat pengelupas bukan logam .

• Batang
Cabang dengan diameter tertentu dipotong-potong
dengan panjang tertentu pula.
Cara Panen atau pengumpulan
 Kayu
Batang atau cabang, dipotong kecil atau diserut
setelah kulit dikelupas.

• Daun
Pucuk yang sudah tua atau muda dipetik dengan
tangan satu persatu.

• Bunga
Kuncup atau bunga mekar, mahkota bunga atau daun
bunga, dipetik dengan tangan.
Cara Panen atau pengumpulan
 Pucuk
Pucuk berbunga dipetik dengan tangan (mengandung
daun muda dan bunga)

• Akar
Dari bawah permukaan tanah, dipotong dengan
ukuran tertentu.

• Rimpang (Rhizoma)
Dicabut, dibersihkan dari akar, dipotong melintang
dengan ketebalan tertentu.
Cara Panen atau pengumpulan
 Umbi lapis
Tanaman dicabut, umbi dipisah dari daun dan akar
dengan memotongnya, kemudian dicuci.

• Buah
Masak, hampir masak , dipetik dengan tangan.

• Biji
Buah dipetik, dikupas kulit buahnya menggunakan
tangan, pisau atau digilas, biji dikumpulkan dan
dicuci.
Pasca Panen
 Sortasi basah
 Pencucian
 Perajangan
 Pengeringan
 Sortasi kering
 Pengepakan dan penyimpanan
 Pemeriksaan mutu
SORTASI BASAH
 TUJUAN : Untuk memisahkan cemaran (kotoran dan bahan
asing lain) dari bahan simplisia.

 Pembersihan simplisia dari tanah dapat mengurangi jumlah


kontaminasi mikrobiologi.
PENCUCIAN
 TUJUAN : membersihkan / menghilangkan tanah dan
kotoran lain yang melekat.

 Frazier (1978):
- Pencucian satu kali mengurangi jumlah mikroba 25%
jumlah mikroba awal
- Pencucian tiga kali jumlah mikroba tertinggal 47%

 Air harus bersih : mata air, air sumur, PAM

 Air harus bebas dari bakteri Pseudomonas, Proteus,


Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter,
Escherichia coli.
PERAJANGAN
 TUJUAN : Mempemudah proses selanjutnya, untuk
pengeringan, penggilingan, pengepakan

 Tanaman yang baru dipanen, sebelum dirajang terlebih


dulu dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari.

 Perajangan dapat dilakukan dengan pisau atau mesin


perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau
potongan dengan ukuran tertentu.
PENGERINGAN
 TUJUAN : Untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu lebih
lama.

 Suhu pengeringan tergantung pada simplisia dan cara


pengeringan

 Pengeringan dapat dilakukan pada suhu 30 0 – 90 0 (terbaik


60 0).

 Untuk simplisia mengandung bahan aktif tidak tahan panas


atau mudah menguap, pengeringan dilakukan pada suhu
serendah mungkin atau dengan cara pengeringan vakum.
Sortasi kering
Tujuan :

untuk memisahkan benda asing, seperti bagian tanaman


yang tidak diinginkan dan pengotor lain yang masih ada
atau tertinggal pada simplisia kering.
Pengepakan dan penyimpanan
 Pengepakan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah
dikeringkan.

 Jenis kemasan yang digunakan dapat berupa plastik, kertas


maupun karung goni.

 Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk


yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit penanganan,
dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun
dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk
dan rupa yang menarik.

 Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya
menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang
digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi,
nama/alamat penghasil, berat bersih, metode penyimpanan.
Pengepakan dan penyimpanan
 Penyimpanan simplisia dapat dilakukan di ruang biasa (suhu kamar)
ataupun di ruang ber AC.

 Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan


berventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara
yang lembab dan panas.

 Perlakuan simplisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat


menurunkan jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia
tanaman obat (Berlinda dkk, 1998). Dosis ini tidak merubah kadar air
dan kadar minyak atsiri simplisia selama penyimpanan 3 - 6 bulan.

 Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhatikan adalah


cara penanganan yang tepat dan higienes. Hal-hal yang perlu
diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia.
Parameter standar mutu simplisia
 TUJUAN : simplisia memenuhi syarat sesuai Farmakope
Herbal Indonesia, Materia medika Indonesia, Farmakope
Indonesia dan United state pharmacopeia dan buku resmi
yang disetujui pemerintah.

 MAKSUD : keseragaman komponen aktif, keamanan,


kegunaan / khasiat agar sediaan obat selalu tetap bermutu
dan berkhasiat

 SEDIAKAN contoh-contoh simplisia pembanding


Parameter standar mutu simplisia
1. Organoleptik
2. Makroskopik
3. Mikroskopik
4. Uji histokimia
5. Parameter non spesifik
- Kadar air
- Kadar abu total
- Kadar abu tak larut asam
- Cemaran residu pestisida
- Cemaran logam berat
- Cemaran mikroba
6. Parameter spesifik
- Kadar sari larut air dan Kadar sari larut alkohol
- Kadar zat aktif/zat identitas/ profil kromatografi
Organoleptik
 Pengamatan dilakukan dengan mempergunakan
organ-organ termasuk perasa, bau, peraba.
 Pemeriksaan meliputi :
 Bentuk dan ukuran
 Warna luar dan bentuk permukaan
 Warna dalam
 Bau dan rasa.
 Cara ini terutama di lakukan terhadap organ
tumbuh-tumbuhan misal : Folia, Cortex, Lignum
MAKROSKOPIK :
Menggunakan kaca pembesar atau tanpa alat, untuk mencari
kekhususan morfologi, ukuran dan warna simplisia yang diuji.

Setiap ciri morfologi diamati dan disesuaikan dengan


persyaratan dalam monografi materia medika Indonesia atau
farmakope herbal Indonesia.
Mikroskopis
Dilakukan pemeriksaan : - irisan
- serbuk
Guna : - penyusun / komposisi fragmen
- karakteristik
Informasi : - kebenaran simplisia
- adanya pengotoran fragmen
- penggantian / pemalsuan
Pengamatan : Di bawah mikroskop dengan pembesaran dengan
pembesaran 10 kali atau lebih.
Pereaksi yang digunakan :
- Air untuk melihat serbuk amilum pada radix, semen dan
fructus.
- Kloral hidrat : untuk melihat serbuk-serbuk pada umumnya.
- Aqua-iod : untuk melihat amilum, NaoH/KOH untuk melihat
lignum dan FeCl3 untuk melihat tanin.
Uji Histokimia
untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang
terdapat dalam jaringan tanaman.

Dengan pereaksi yang spesifik, zat-zat kandungan


tersebut akan memberikan warna yang spesifik pula
sehingga mudah dideteksi.

Pengujian ini biasanya dilakukan pada sayatan melintang


simplisia, tetapi dapat pula dilakukan pada serbuk.
EKSTRAKSI
Merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan
menggunakan pelarut.

Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan cara ekstraksi


tanaman obat dengan ukuran partikel tertentu dan menggunakan
medium pengekstraksi (menstruum) yang tertentu pula.

Ekstrak yang diperoleh sesudah pemisahan cairan dari residu


tanaman obat disebut micella.

Micella ini dapat diubah menjadi bentuk obat siap pakai seperti
ekstrak cair dan tinktura atau produk antara yang selanjutnya
diproses menjadi ekstrak kering.
Faktor –faktor yang mempengaruhi dalam pembuatan
ekstrak untuk keperluan farmasi :
1. Jumlah simplisia yang akan diekstraksi.
Jumlah ini akan digunakan dalam perhitungan dosis
obat.
2. Derajat kehalusan simplisia.
3. Jenis pelarut yang akan digunakan
4. Suhu/suhu penyari akan menentukan jumlah dan
kecepatan penyaringan
5. Lama waktu penyarian
6. Proses ekstraksi
Tahapan proses ekstraksi
1. Penetrasi cairan penyari ke dalam sel bahan
2. Mengembangnya sel
3. Kontak dan pelarutan kandungan kimia oleh cairan penyari
4. Difusi kandungan kimia keluar sel

Cairan penyari : Pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa yang


berkhasiat atau zat aktifnya.
Kriteria cairan penyari yang baik :
- Selektivitas
- kemudahan bekerja dalam proses ekstraksi
- ekonomis
- ramah lingkungan
- keamanan
Ekstraksi dengan menggunakan pelarut :

1. Maserasi

Proses penyarian simplisia menggunakan pelarut


dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan
pada temperatur kamar (ruangan).
Cara penyarian yang sederhana
Serbuk simplisia direndam dalam cairan penyari.
2. Perkolasi

 Ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang


umumnya dilakukan pada temperatur kamar.

 Proses terdiri dari :


o tahapan pengembangan bahan
o tahap maserasi antara
o tahap perkolasi sebenarnya (penetasan/penampungan
ekstrak), terus menerus sampai diperoleh ekstrak yang
jumlahnya 1-5 kali bahan
3. Soxhlet

 Ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru yang umumnya


dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin
balik

 Prinsip :
o uap cairan penyari naik ke atas melalui pipa samping
o diembunkan melalui pendingin tegak
o cairan akan turun melalui tabung yang berisi serbuk simplisia
o Cairan penyari sambil turun akan melarutkan zat aktif serbuk
simplisia.
Pengelompokan ekstrak
1. Ekstrak air
Menggunakan pelarut air sebagai cairan pengekstraksi. Hasil
ekstraksi dalam bentuk ekstrak ini dapat digunakan langsung
atau digunakan tidak langsung.
a. Decoctum (dekok)
b. Coque (penggodokan)
c. Infusum (infus)
d. Seduhan
e. Maserasi
f. Perkolasi
Pengelompokan ekstrak
2.Tinktura
Sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi.
3. Ekstrak cair
4. Ekstrak encer
5. Ekstrak kental
6. Ekstrak kering
7. Ekstrak minyak
8. Oleoresin
Parameter mutu ekstrak
1. Parameter standar umum (non spesifik)
2. Parameter standar spesifik
Parameter non spesifik
 Rendeman
 Susut pengeringan
 Kada abu
 Kadar air
 Sisa pelarut
 Residu pestisida
 Cemaran logam berat
 Cemaran mikroba
Rendemen
 Jumlah golongan senyawa terekstraksi dengan pelarut
yang digunakan atau jumlah
 Mengacu pada buku standar yang ada
 Tergantung dari metode ekstraksi yang digunakan
(sinambung/ tidak) dan pelarut yang digunakan
Kadar air
 Penetapan dengan cara destilasi atau Titrasi Karl-
Fischer
 Jika sampel tidak mengandung minyak menguap,
maka susut pengeringan (Loss on drying) sama dengan
kadar air
 Susut pengeringan menggunakan pemanasan pada
100-105oC sampai berat konstan
 Batas kadar air bervariasi tertinggi 15%
Kadar Abu
2- 4 g sampel dipijar dalam wadah krusible pada
temperatur sekitar 450oC

Jika karbon masih tersisa, karbon dipisahkan dengan


melarutkan di air. Selanjutnya residu dipijar kembali
dengan penambahan asam sulfat dan dipijar pada 600oC
Residu Pestisida
Tanaman obat dapat juga tercemar oleh pestisida.
Hal ini bisa terjadi antara lain akibat pestisida yang
masuk ke dalam tanaman dan terus menumpuk
sampai tanaman itu dipanen, baik lewat akar, kulit
batang maupun daun tanaman herba. Tanaman
obat yang pada waktu dibudidayakan dan
dirawatnya memakai pestisida secara intensif,
mungkin saja produk herbalnya tercemar oleh
residu pestisida.
Metode : TLC, GC, Spektro
Batas residu pestisida
Pestisida Konsentrasi (mg/kg)
Aldrin dan dieldrin 0.05
Klordan 0.05
DDT 1.0
Endrin 0,05
Fonofos 0,05
Malathion 1,0
Parathion 0,5
Permetrin 1,0
Pyrethrin 3,0
Batas mikroba (USP 37 tahun 2014)
1. Serbuk dari simplisia tumbuhan
 Angka total mikroba aerob : < 10 5 cfu/g
 Angka total kapang khamir : <10 3 cfu/g
 Bile tolerant bakteri gram negatif : <10 3 cfu/g
 Salmonella spp dan E.coli : Negatif/10 g
2. Serbuk dari ekstrak tumbuhan
 Angka total mikroba aerob : < 10 4 cfu/g
 Angka total kapang khamir : <10 3 cfu/g
 Salmonella spp dan E.coli : Negatif/10 g
Batas mikroba (USP 37 tahun 2014)
3. Tinktura
 Angka total mikroba aerob : < 10 4 cfu/g
 Angka total kapang khamir : <10 3 cfu/g
2. Ekstrak cair
 Angka total mikroba aerob : < 10 4 cfu/g
 Angka total kapang khamir : <10 3 cfu/g
3. Infusum dan dekok
 Angka total mikroba aerob : < 10 2 cfu/g
 Angka total kapang khamir : <10 cfu/g
4. Seduhan
 Angka total mikroba aerob : < 10 4 cfu/g
 Angka total kapang khamir : <10 3 cfu/g
 Salmonella spp dan E.coli : Negatif/10 g
Sisa pelarut
Dilakukan pemeriksaan di Gas kromatografi.
Persyaratan untuk sisa pelarut alkohol : < 0.005%

Cemaran logam berat


merupakan bahan berbahaya yang sama sekali tidak
diperbolehkankan ada dalam simplisia. Pengujian ini sangat
penting untuk menjamin keamanan dari bahan baku
maupun produk jamu jadi yang siap dikonsumsi.
Metode : atomic adsorption spectroscopy (AAS)
Parameter spesifik
1. Uji identitas
meliputi : deskripsi tata nama, nama ekstrak, bagian
tanaman yg digunakan, dan nama indonesia tanaman .

2. Organoleptis
penggunaan panca indera dalam mendeskripsikan
bentuk, warna, bau, dan rasa guna pengenalan awal yang
sederhana.
Parameter spesifik
3. Uji kandungan kimia ekstrak
a. Pola kromatogram
bertujuan memberikan gambaran awal komposisi kandungan
kimia berdasarkan pola kromatogram yang khas (analisis finger
print). Metode yang biasa digunakan : KLT atau HPLC

b. Kadar kandungan kimia tertentu


suatu kandungan kimia baik berupa senyawa identitas (marker),
senyawa kimia utama, maupun kandungan kimia lainnya,
ditetapkan kadar kandungan kimianya secara instrumental
dengan metode kromatografi. Metode yg digunakan :
densitometri, HPLC, atau GC
Parameter spesifik
4. Uji penetapan kadar sari

Metoda kuantitatif untuk menentukan jumlah


kandungan senyawa dalam simplisia yang dapat tersari
dalam pelarut tertentu.

Penetapan kadar sari dapat dilakukan dengan dua cara


yaitu kadar sari yang larut dalam air dan kadar sari
yang larut dalam etanol.
Tipe Ekstrak
Ekstrak Terstandar (Tipe A):
Senyawa aktif terstandarisasi
Ekstrak Terkuantifikasi (Tipe B):
Terstandarisasi terhadap komponen yang
menyebabkan aktivitas farmakologi
Ekstrak Lain (Tipe C):
Ekstrak terstandarisasi terhadap komponen utama
(senyawa penanda)/Senyawa marker
Ekstrak terstandar
Senna folium
 Asal: Cassia senna
 Kandungan senyawa aktif:
 Sennoside (A dan B)
 Glicoside
 Pengawasan Mutu Ekstrak:
 Karakteristik mikroskopik
 Pengujian kandungan senyawa aktif menggunakan asam asetat
98%/air/etil asetat/propanol (1:30:40:40)
 Standardisasi: dikarakterisasi oleh TLC dikuantifikasi dgn
bantuan HPLC
Ekstrak terkuantifikasi
Ginkgo billoba
 Kandungan:
 Flavonoid: flavone dan flavonol, biflavon, glikosida
 Terpen lakton
 Pengawasan Mutu Ekstrak:
 Flavonoid: etil asetat/as format/asa asetat glac/air, deteksi dgn
difenilboriloksietilamin
 Biflavon: kloroform/aseton/as format, deteksi
difenilboriloksietilamin
 Terpen lakton: toluen/ aseton, deteksi dgn reagen asam asetat
 Standarisasi: HPLC menentukan kadar aglikon quercetin,
kaempferol dan isorhamnetin (hsl hidrolisis glikosida) dan GC
(menentukan kadar terpen lakton)
Ekstrak Lain
Passiflorae herba
 Passiflora incarnata
 Bekerja pd SSP
 QC:
 Karakterisasi mikroskopik, bentuk stomata (anomositik)
 Kandungan: glikosida flavon, minyak atsiri, glikosida sianogenetik
 Senyawa yg menyebabkan efek farmakologi blm diketahui
 Flavonoid memiliki aktivitas biologis senyawa penanda
 Standarisasi:
 TLC: ekstrak metanol dibdgkan thd rutin dan hyperosida
(kualitatif)
 Spektrofotometri atau HPLC
Sediaan Obat Tradisional
Infus > 15 menit, penangas air
Dekok > 30 menit, penangas air
SIRUP
Tingtur
Aloe (Lidah buaya)
Daftar Pustaka
 Materia Medika Indonesia
 Farmakope herbal Indonesia
 Cara Pembuatan Simplisia
 Teknologi bahan alam