Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN AKHIR

KEGIATAN PENYUSUNAN LAPORAN LALU


LINTAS HARIAN RATA-RATA (LHR)
LAPORAN AKHIR

BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

 Perubahan fisik yang terjadi begitu cepat dengan pola kehidupan kota besar
memberikan pengaruh dalam perkembangan perkotaan Tangerang Selatan
secara keseluruhan yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana fisik
seperti jalan, sekolah, perkantoran dan perdagangan mulai dari skala kecil,
sedang dan besar. Semakin maraknya fasilitas diatas dan fasilitas umum
lainnya, dibeberapa ruas jalan terjadinya kemacetan dan kepadatan
didaerah permukiman
 Survey Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) merupakan perhitungan jumlah
arus lalu lintas yang melewati suatu ruas jalan untuk mengetahui volume
lalu lintas dan fluktuasinya yaitu jumlah arus lalu lintas (demand) jam
puncak (peak Hours) dan demand di luar jam puncak (Off Peak Hours)
pada suatu ruas jalan, selain itu dengan survey Lalu Lintas Harian Rata-
Rata (LHR) dapat melihat karakteristik lalu lintas dan mengukur tingkat
pelayanan suatu ruas jalan (Level Of Service). Oleh karena itu, diperlukan
Studi Penyusunan Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR), sehingga dalam
merencanakan, mendesain dan pengoptimalan ruas jalan dapat dilakukan
dengan baik.
MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah;


 Untuk mengetahui Jumlah Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) dan tingkat
pelayanan ruas jalan (Level Of Service) di Wilayah Kota Tangerang
Selatan.

Adapun Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk:


 Mengetahui jam puncak lalu lintas pada ruas-ruas jalan di wilayah Kota
Tangerang Selatan.
 Mengetahui fluktuasi lalu lintas dan karakteristik lalu lintas.
 Mengetahui kapasitas jalan.
 Mengetahui kinerja ruas jalan.
 Sebagai informasi bagi pengambilan keputusan dalam mengambil
kebijakan terkait merencanakan, mendesain serta pengoptimalan suatu
ruas jalan.
HASIL KELUARAN (OUTPUT)

Hasil keluaran (output) yang diharapkan dari Pekerjaan Penyusunan


Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) ini adalah:

1. Volume Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR).


2. Karakteristis lalu lintas.
3. Fluktuatif lalu lintas dan komposisi kendaraan.
4. Penampang melintang lokasi survai.
5. Analisis kinerja lalu lintas berupa penentuan V/C ratio dan tingkat
pelayanan jalan (Level Of Service atau LOS).

Keluaran tersebut adalah bentuk langkah kongkrit data lokasional


yang menunjukan kinerja lalu lintas sebagai bahan pemecahan
masalah guna mengoptimalkan kinerja ruas jalan pada lokasi yang
bersangkutan.
METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam pengumpulan data dari 34 (tiga puluh empat ruas) dilakukan pendekatan
dan metodologi antara lain:
1. Pengumpulan Data Sekunder/informasi yang ada dari instansi terkait berupa
peta jaringan jalan, inventarisasi jalan dan fungsi serta kewenangan jalan
serta data-data dukung lainnya.
2. Pengumpulan Data Primer berupa survey pendahuluan/inventarisasi ruas
jalan, survey volume lalu lintas terklasifikasi dan survey kecepatan
kendaraan.
3. Pengambilan data survey perhitungan lalu lintas pada masing-masing ruas
jalan mewakili karakteristik lalu lintas pada saat hari kerja dan hari libur
(sabtu/minggu).
4. Melakukan input data, rekapitulasi dan tabulasi hasil survey serta melakukan
pengolahan dan analisis data hasil survey baik data sekunder maupun data
primer. Penyajian data-data hasil survey dapat dilakukan dengan
menggunakan grafik/diagram dan kinerja ruas jalan diplot dalam satu peta
jaringan jalan.
5. Melakukan analisis kinerja lalu lintas atau tingkat pelayanan jalan
(Level Of Service atau LOS) berupan penentuan V/C ratio dan
kecepatan kendaraan.
BAGAN TAHAPAN METODOLOGI

Melakukan
Pengumpulan Pelaksanaan Melakukan
Persiapan
Pengumpulan input data,
Data perhitungan Analisis
Data Primer rekapitulasi
Sekunder lalu lintas kinerja lalu
dan tabulasi
lintas/LOS
LAPORAN AKHIR

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
KLASIFIKASI JALAN

Klasifikasi jalan umum menurut statusnya (wewenang pembinaan) dikelompokkan


menjadi:
• Jalan Nasional : Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam
sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan
strategis nasional, serta jalan tol.
• Jalan Provinsi : Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau
antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
• Jalan Kabupaten : Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan
jalan primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang
menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota
kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan
lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah
kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
• Jalan Kota : Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder
yang menghubungkan antar pusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat
pelayanan dengan persil, menghubungkan antar persil, serta menghubungkan antar
pusat permukiman yang berada di dalam kota.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS TERHADAP LHR

Sebagai pengukur dari jumlah arus lalu lintas yang digunakan adalah “volume”. Volume
lalu lintas menunjukan jumlah kendaraan yang melintas satu titik pengamatan dalam
satu satuan waktu (hari, jam, menit). Sedangkan satuan volume lalu lintas yang
umumnya dipergunakan sehubungan dengan penentuan jumlah dan lebar lajur adalah
Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR). Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah volume
lalu lintas rata-rata dalam satuan hari.

Dalam perhitungan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR), semua nilai arus lalu lintas (per
arah dan total) dikonversikan menjadi satuan mobil penumpang (smp) dengan
menggunakan ekivalensi mobil penumpang (emp) yang diturunkan secara empiris untuk
tiap tipe kendaraan

Ekivalensi mobil penumpang (emp) adalah faktor konversi berbagai jenis kendaraan
dibandingkan dengan mobil penumpang atau kendaraan ringan lainnya sehubungan
dengan dampaknya pada perilaku lalu lintas (untuk mobil penumpang dan kendaraan
ringan lainnya, emp = 1,0). Sedangkan satuan mobil penumpang (smp) adalah satuan
arus lalu lintas dimana arus dari berbagai tipe kendaraan telah diubah menjadi
kendaraan ringan dengan menggunakan emp.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD FLUKTUASI
LALU LINTAS

Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah volume


lalu lintas rata-rata dalam satuan hari, sehingga
nilai LHR itu tidak dapat memberikan gambaran
tentang fluktuasi arus lalu lintas lebih pendek dari
24 jam. Arus lalu lintas bervariasi dari jam ke jam
berikutnya dalam 1 hari, maka sangat cocok jika
volume lalu lintas dalam 1 jam dipergunakan
untuk perencanaan. Volume dalam 1 jam dipakai
untuk perencanaan dinamakan Volume Jam
Perencanaan (VJP).
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
VOLUME DAN KOMPOSISI KENDARAAN

Arus lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang


melalui suatu titik pada ruas jalan tertentu per
satuan waktu, yang dinyatakan dalam kend/jam
(Qkend.) atau smp/jam (Qsmp). Pada MKJI 1997,
nilai arus lalu lintas (Q) mencerminkan
komposisi lalu lintas. Semua nilai arus lalu
lintas (per arah dan total) dikonversikan menjadi
satuan mobil penumpang (smp) dengan
menggunakan ekivalensi mobil penumpang (emp)
yang diturunkan secara empiris untuk tiap tipe
kendaraan.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
PEMBAGIAN TIPE KENDARAAN
Tipe Kendaraan Kode Karakteristik kendaraan
Kendaraan Ringan / Light LV Kendaraan bermotor beroda empat, dengan dua gandar berjarak
vihicle 2,0 -3,0 m (termasuk kendaraan penumpang, oplet, mikro bis, pick-
up dan truk kecil, sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).
Kendaraan Berat Menengah / Medium MHV Kendaraan bermotor dengan dua gandar, dengan jarak 3,5-5,0 m
Heavy Vehicle (termasuk bis kecil, truk dua as dengan enam roda, sesuai sistem
klasifikasi Bina Marga).
Truk Besar / Light Truck LT Truk tiga gandar dan truk kombinasi dengan jarak gandar (gandar
pertama ke kedua) < 3,5m (sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

Bis Besar / Light Bus LB Bis dengan dua atau tiga gandar dengan jarak as 5,0-6,0 m.

Sepeda Motor / MC Sepeda motor dengan dua atau tiga roda (meliputi sepeda motor
Motorcycle dan kendaraan roda tiga sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

Kendaraan Tak Bermotor /Un Motorized UM Kendaraan bertenaga manusia atau hewan diatas roda (meliputi
sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong sesuai sistem
klasifikasi Bina Marga). Catatan: Dalam manual ini kendaraan tak
bermotor tidak dianggap sebagai unsur lalu lintas tetapi sebagai
unsur hambatan samping.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD KAPASITAS JALAN

kapasitas menunjukan jumlah arus lalu lintas maksimum


yang dapat melewati penampang tersebut dalam waktu1 jam
sesuai dengan kondisi jalan.
Kapasitas jalan didefinisikan sebagai arus maksimum yang
dapat dipertahankan per satuan jam yang melewati suatu
titik pada suatu ruas jalan dalam kondisi yang ada. Besarnya
kapasitas jalan menurut MKJI 1997:

dimana :
C = kapasitas (smp/jam)
Co = kapasitas dasar (smp/jam)
FCw = faktor penyesuaian lebar jalur lalu lintas
FCsp = faktor penyesuaian pemisah arah
FCsf = faktor penyesuaian hambatan samping
FCcs = faktor penyesuaian ukuran kota
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD DERAJAT KEJENUHAN

Derajat kejenuhan di definisikan sebagai ratio arus lalu lintas


terhadap kapasitas jalan, digunakan sebagai faktor kunci
dalam penentuan prilaku lalu lintas pada suatu simpang dan
segmen jalan. Nilai derajat kejenuhan akan menunjukkan
apakah segmen jalan itu akan mempunyai suatu masalah
dalam kapasitas atau tidak. Besarnya nilai derajat kejenuhan
ditunjukkan pada rumus berikut :

Dimana : DS = Q/C
DS = Derajat Kejenuhan (Degree of Saturation)
Q = Volume lalu lintas yang melewati suatu segmen jalan
per satuan waktu (smp/jam)
C = Kapasitas jalan (smp/jam)
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD DERAJAT KEJENUHAN

Adapun interpretadsi dari hasil perhitungan Derajat


Kejenuhan adalah untuk mengkategorikan kondisi lalu lintas
pada suatu ruas jalan, yaitu :
> 0,75 = Macet
0,65 < < 0,75 = Kurang lancar
< 0,65 = Lancar

Nilai DS tidak boleh melebihi angka satu, karena jika nilai DS


lebih dari satu maka akan terjadi masalah yang serius karena
pada jam puncak rencana arus lalu lintas yang ada akan
melebihi nilai kapasitas jalan dalam menampung arus lalu
lintas. Nilai DS yang paling ideal adalah di bawah angka
0,75.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD TINGKAT PELAYANAN

AdapunKelancaran arus lalu lintas merupakan kondisi kinerja


pelayanan dari suatu ruas jalan. Kondisi kinerja ruas jalan ini
sering disebut dengan istilah “Level of Service (LoS)”. LoS ini
dapat dinilai melalui indikator V/C ratio. V/C ratio adalah
perbandingan antara volume ruas dengan kapasitas ruas
jalan tersebut. Volume satu ruas didapat dengan cara
melakukan survai pencacahan lalu lintas terklasifikasi atau
pergerakan antar zona yang membebani ruas jalan tersebut.
Untuk standar penilaian karakteristik tingkat pelayanan ruas
jalan yang dilihat dari V/C ratio
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
KARAKTERISTIK TINGKAT PELAYANAN
LAPORAN AKHIR

BAB 4
GAMBARAN UMUM LOKASI
PETA ADMINISTRASI
KOTA TANGERANG SELATAN
KONDISI WILAYAH

Kondisi Wilayah
Luas : 147,19 Km2 (UU 51 Th. 2008)
7 Kecamatan : Serpong, Serpong Utara, Pondok Aren, Ciputat, Ciputat
Timur, Pamulang dan Setu
54 Kelurahan : 49 Kelurahan + 5 Desa
Ekosistem Wilayah
Bagian Utara : Perumahan, Pemukiman, Perdagangan & Industri
Bagian Barat : Industri, Pusat Pengembangan Teknologi & Pertanian
Bagian Tengah : Pusat Pemerintahan, Perdagangan dan Jasa
Bagian Timur : Pusat Pendidikan, Pemukiman dan Jasa
Bagian Selatan : Pusat Pendidikan, Perdagangan & Jasa
Wilayah Kota Tangerang Selatan yang merupakan wilayah penyangga
ibukota negara memiliki 3 pintu masuk utama yaitu jalan Tol BSD – Pondok
Indah, Tol JORR II Cinere - Kunciran dan Kereta Rel Listrik. Secara
keseluruhan, regionalisasi transportasi antara DKI Jakarta, Kota Tangerang,
Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, serta daerah lain di
sebelah Barat Kota Tangerang Selatan (Kota Depok dan Kabupaten Bogor)
dicirikan oleh arus lalu lintas yang sangat padat.
LOKASI SURVEY LHR

Secara rinci dari Pekerjaan Penyusunan Lalu Lintas Harian Rata-Rata


(LHR) adalah pekerjaan dilaksanakan di wilayah Kota Tangerang Selatan,
yang terdiri dari 34 (Tiga Puluh Empat) ruas jalan. Ruas-ruas jalan
dimaksud, meliputi :

No Nama Jalan Wilayah Administrasi

Jl. Raya Serpong (Sinar Mas/Cilenggang –


1 Kecamatan Serpong
Simpang Empat Muncul).
2 Jl. Kapten Soebianto. Kecamatan Serpong
3 Jl. Kapten Soetopo. Kecamatan Serpong
4 Jl. Lengkong Wetan Kecamatan Serpong

Jl. Raya Cianter (Simpang Tiga Maruga –


5 Kecamatan Serpong
Simpang Tiga Exit tol BSD).
Lanjutan…….

No Nama Jalan Wilayah Administrasi


6 Jl. Astek. Kecamatan Serpong
Jl. Raya Serpong (Putar Balik BSD
7 Kecamatan Serpong Utara
– Simpang Tiga Gading Serpong).
8 Jl. Jelupang. Kecamatan Serpong Utara
9 Jl. Pondok Jagung Kecamatan Serpong Utara
10 Jl. Raya Pondok Aren Kecamatan Pondok Aren
11 Jl. Pondok Benda Kecamatan Pamulang
12 Jl. Bintaro Utama 3 Kecamatan Pondok Aren
13 Jl. Bintaro Utama 3A Kecamatan Pondok Aren
14 Jl. Pondok Jaya Kecamatan Pondok Aren
15 Jl. Pondok Kacang Kecamatan Pondok Aren
Lanjutan…….

No Nama Jalan Wilayah Administrasi


16 Jl. Raya Aria Putra Kecamatan Ciputat
17 Jl. Ki Hajar Dewantara Kecamatan Ciputat
Jl. WR. Supratman (Node Simpang Tiga
18 Kecamatan Ciputat
Kompas – Simpang Empat Plaza Bintaro)
19 Jl. Dewi Sartika Kecamatan Ciputat
20 Jl. Raya Jombang Kecamatan Ciputat
Jl. Bukit Indah Sarua (Simpang Tiga Maruga
21 Kecamatan Ciputat
– Simpang Tiga Bukit Indah)
22 Jl. Tegal Rotan Kecamatan Ciputat
23 Jl. Cenderawasih Kecamatan Ciputat
24 Jl. Merpati Raya Kecamatan Ciputat
25 Jl. Pahlawan Kecamatan Ciputat Timur
Lanjutan…….

No Nama Jalan Wilayah Administrasi


26 Jl. Kompas Kecamatan Ciputat Timur
27 Jl. Cirendeu Raya Kecamatan Ciputat Timur
28 Jl. Purnawarman Kecamatan Ciputat Timur
29 Ir. H. Djuanda Kecamatan Ciputat Timur
30 Jl. Padjajaran Kecamatan Pamulang
31 Jl. Raya Siliwangi Kecamatan Pamulang
32 Jl. H. Taif Kecamatan Pamulang
33 Jl. Puspiptek Kecamatan Setu
34 Jl. JLS Kecamatan Setu
STATUS JALAN
STATUS JALAN
LAPORAN AKHIR

BAB 5
HASIL SURVEY
DATA GEOMETRIK JALAN
DATA GEOMETRIK JALAN
DATA VOLUME LALU LINTAS
DATA VOLUME LALU LINTAS
DATA ARUS LALU LINTAS TERHADAP
FLUKTUASI LALU LINTAS
DATA ARUS LALU LINTAS TERHADAP
FLUKTUASI LALU LINTAS
DATA ARUS LALU LINTAS TERHADAP
KOMPOSISI KENDARAAN
DATA ARUS LALU LINTAS TERHADAP
KOMPOSISI KENDARAAN
LAPORAN AKHIR

BAB 6
ANALISA & PEMBAHASAN
Hasil Perhitungan Arus Lalu Lintas
Terhadap LHR
Hasil Perhitungan Arus Lalu Lintas
Terhadap LHR
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD FLUKTUASI
LALU LINTAS

Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah volume


lalu lintas rata-rata dalam satuan hari, sehingga
nilai LHR itu tidak dapat memberikan gambaran
tentang fluktuasi arus lalu lintas lebih pendek dari
24 jam. Arus lalu lintas bervariasi dari jam ke jam
berikutnya dalam 1 hari, maka sangat cocok jika
volume lalu lintas dalam 1 jam dipergunakan
untuk perencanaan. Volume dalam 1 jam dipakai
untuk perencanaan dinamakan Volume Jam
Perencanaan (VJP).
Analisa Arus Lalu Lintas
Terhadap Fluktuasi Lalu Lintas
Analisa Arus Lalu Lintas
Terhadap Fluktuasi Lalu Lintas
HASIL ANALISA ARUS LALU LINTAS TERHADAP
FLUKTUASI LALU LINTAS

Periode puncak atau waktu waktu sibuk pada ruas-ruas jalan


di Tangerang Selatan terjadi dengan waktu yang berbeda
pada setiap ruas jalan. Dari hasil pengamatan dan survey di
lapangan, rata-rata jam puncak banyak terjadi pada pukul :
18.00 – 19.00 = 26,5 %
06.00 – 07.00 = 23,5 %
17.00 – 18.00 = 17,6 %
Dari hasil survey dapat diketahui bahwa arus lalu lintas pada
setiap ruas-ruas jalan pada saat terjadi pada jam puncak
mempunyai jumlah kendaraan atau volume kendaraan yang
paling tinggi (dalam satuan kend/jam atau smp/jam). Hasil
tersebut akan digunakan sebagai nilai arus, Q untuk
menghitung dan mengevaluasi kinerja ruas jalan di
Tangerang Selatan.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
VOLUME DAN KOMPOSISI KENDARAAN

Arus lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang


melalui suatu titik pada ruas jalan tertentu per
satuan waktu, yang dinyatakan dalam kend/jam
(Qkend.) atau smp/jam (Qsmp). Pada MKJI 1997,
nilai arus lalu lintas (Q) mencerminkan
komposisi lalu lintas. Semua nilai arus lalu
lintas (per arah dan total) dikonversikan menjadi
satuan mobil penumpang (smp) dengan
menggunakan ekivalensi mobil penumpang (emp)
yang diturunkan secara empiris untuk tiap tipe
kendaraan.
KOMPOSISI KENDARAAN
KOMPOSISI KENDARAAN
HASIL ANALISA TERHADAP VOLUME
DAN KOMPOSISI KENDARAAN

Dari hasil pemantauan di lapangan dan hasil survey


volume lalu lintas, komposisi kendaraan yang
mendominasi pada wilayah Tangerang Selatan adalah
kendaraan bermotor roda dua (MC / Sepeda Motor). Untuk
jenis kendaraan yang lain seperti kendaraan ringan / LV
umumnya didominasi oleh kendaraan pribadi. Sedangkan
untuk kendaraan berat /MHV, kendaraan truk besar / LT,
atau Bus Besar / LB, terlihat hanya beberapa jenis saja.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD KAPASITAS JALAN

kapasitas menunjukan jumlah arus lalu lintas maksimum


yang dapat melewati penampang tersebut dalam waktu1 jam
sesuai dengan kondisi jalan.
Kapasitas jalan didefinisikan sebagai arus maksimum yang
dapat dipertahankan per satuan jam yang melewati suatu
titik pada suatu ruas jalan dalam kondisi yang ada. Besarnya
kapasitas jalan menurut MKJI 1997:

dimana :
C = kapasitas (smp/jam)
Co = kapasitas dasar (smp/jam)
FCw = faktor penyesuaian lebar jalur lalu lintas
FCsp = faktor penyesuaian pemisah arah
FCsf = faktor penyesuaian hambatan samping
FCcs = faktor penyesuaian ukuran kota
ANALISA TERHADAP KAPASITAS JALAN
ANALISA TERHADAP KAPASITAS JALAN
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD DERAJAT KEJENUHAN

Derajat kejenuhan di definisikan sebagai ratio arus lalu lintas


terhadap kapasitas jalan, digunakan sebagai faktor kunci
dalam penentuan prilaku lalu lintas pada suatu simpang dan
segmen jalan. Nilai derajat kejenuhan akan menunjukkan
apakah segmen jalan itu akan mempunyai suatu masalah
dalam kapasitas atau tidak. Besarnya nilai derajat kejenuhan
ditunjukkan pada rumus berikut :

Dimana : DS = Q/C
DS = Derajat Kejenuhan (Degree of Saturation)
Q = Volume lalu lintas yang melewati suatu segmen jalan
per satuan waktu (smp/jam)
C = Kapasitas jalan (smp/jam)
ANALISA TERHADAP DERAJAT KEJENUHAN
ANALISA TERHADAP DERAJAT KEJENUHAN
HASIL ANALISA TERHADAP
DERAJAT KEJENUHAN
Dari hasil perhitungan bisa dilihat bahwa pada saat ini
angka Derajat Kejenuhan pada ruas-ruas jalan di
Tangerang Selatan masih memenuhi standar yang
diisyaratkan, yaitu ± 0,75, dalam kategori kondisi lalu
lintas adalah “lancar” dan “kurang lancar”. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kapasitas jalan pada ruas-ruas jalan di
Tangerang Selatan, sudah memenuhi syarat untuk
melayani arus lalu lintas yang lewat. Tetapi ada beberapa
ruas jalan perlu mendapat perhatian khusus yaitu :
HASIL ANALISA TERHADAP
DERAJAT KEJENUHAN

Dimana ruas-ruas jalan tersebut dalam kategori


kondisi lalu lintas “macet” dengan harga Derajat
Kejenuhan > 0,75 atau mendekati angka 1. Dalam
hal ini ruas jalan tersebut sudah tidak memenuhi
syarat untuk melayani arus lalu lintas yang lewat,
sehingga perlu direncanakan alternatif pemecahan,
salah satunya yaitu dengan pelebaran jalan guna
meningkatkan kapasitas jalan, atau pengurangan
hambatan samping seperti pembatasan parkir dan
berhenti sepanjang sisi jalan atau dengan
melakukan pelebaran jalur dan bahu.
TEORI MANAJEMEN LALU LINTAS
ARUS LALU LINTAS THD TINGKAT PELAYANAN

AdapunKelancaran arus lalu lintas merupakan kondisi kinerja


pelayanan dari suatu ruas jalan. Kondisi kinerja ruas jalan ini
sering disebut dengan istilah “Level of Service (LoS)”. LoS ini
dapat dinilai melalui indikator V/C ratio. V/C ratio adalah
perbandingan antara volume ruas dengan kapasitas ruas
jalan tersebut. Volume satu ruas didapat dengan cara
melakukan survai pencacahan lalu lintas terklasifikasi atau
pergerakan antar zona yang membebani ruas jalan tersebut.
Untuk standar penilaian karakteristik tingkat pelayanan ruas
jalan yang dilihat dari V/C ratio

Adapun hasil perhitungan Tingkat Pelayanan ruas-ruas jalan


di Tangerang Selatan berdasarkan hasil Derajat Kejenuhan
ruas Jalan, adalah sbb :
ANALISA TERHADAP TINGKAT PELAYANAN
ANALISA TERHADAP TINGKAT PELAYANAN
HASIL ANALISA TERHADAP
TINGKAT PELAYANAN

Tingkat Pelayanan saat ini pada ruas-ruas jalan di Tangerang Selatan,


berdasarkan hasil analisis, mempunyai tingkat pelayanan rata-rata
yaitu :
Tingkat pelayanan C = 35,3 %
Tingkat Pelayanan A = 23,5 %
Tingkat Pelayanan B = 20,6 %
Tingkat Pelayanan D = 5,9 %
Tingkat Pelayanan E = 2,9 %
Tingkat Pelayanan F = 11,8 %
Secara umum tingkat Pelayanan pada ruas-ruas jalan di Tangerang
Selatan masih memenuhi standar yang diisyaratkan, dalam kategori
kondisi lalu lintas adalah “lancar” dan “kurang lancar”. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kapasitas jalan pada ruas-ruas jalan di Tangerang
Selatan, sudah memenuhi syarat untuk melayani arus lalu lintas yang
lewat. Tetapi ada beberapa ruas jalan perlu mendapat perhatian
khusus yaitu :
HASIL ANALISA TERHADAP
TINGKAT PELAYANAN

beberapa ruas jalan perlu mendapat perhatian khusus yaitu :

Ruas-ruas jalan tersebut dalam kategori kondisi lalu lintas “macet” dengan
harga Tingkat Pelayanan F (11,8 %) . Dimana kondisi tingkat pelayanan F
adalah : arus lalu lintas tertahan pada kecepatan rendah, sering terjadi
kemacetan, sehingga terjadi antrian kendaraan yang panjang. Dalam hal ini
ruas jalan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk melayani arus lalu
lintas yang lewat, sehingga perlu direncanakan alternatif pemecahan, salah
satunya yaitu dengan pelebaran jalan guna meningkatkan kapasitas jalan,
atau pengurangan hambatan samping seperti pembatasan parkir dan berhenti
sepanjang sisi jalan atau dengan melakukan pelebaran jalur dan bahu.
LAPORAN AKHIR

BAB 7
PENUTUP
KESIMPULAN

Adapun hasil dari kajian tentang ruas-ruas jalan tersebut adalah


sebagai berikut :

1. Periode puncak atau waktu waktu sibuk pada ruas-ruas jalan di


Tangerang Selatan terjadi dengan waktu yang berbeda pada setiap
ruas jalan. Dari hasil pengamatan dan survey di lapangan, rata-rata
jam puncak banyak terjadi pada pukul :
18.00 – 19.00 = 26,5 %
06.00 – 07.00 = 23,5 %
17.00 – 18.00 = 17,6 %
Dari hasil survey dapat diketahui bahwa arus lalu lintas pada setiap
ruas-ruas jalan pada saat terjadi pada jam puncak mempunyai
jumlah kendaraan atau volume kendaraan yang paling tinggi (dalam
satuan kend/jam atau smp/jam). Hasil tersebut akan digunakan
sebagai nilai arus, Q untuk menghitung dan mengevaluasi kinerja
ruas jalan di Tangerang Selatan.
KESIMPULAN

2. Dari hasil pemantauan di lapangan dan hasil survey volume lalu


lintas, komposisi kendaraan yang mendominasi pada wilayah
Tangerang Selatan adalah kendaraan bermotor roda dua (MC /
Sepeda Motor). Untuk jenis kendaraan yang lain seperti kendaraan
ringan / LV umumnya didominasi oleh kendaraan pribadi.
Sedangkan untuk kendaraan berat /MHV, kendaraan truk besar / LT,
atau Bus Besar / LB, terlihat hanya beberapa jenis saja.

3. Tingkat Pelayanan saat ini pada ruas-ruas jalan di Tangerang


Selatan, berdasarkan hasil analisis, mempunyai tingkat pelayanan
rata-rata yaitu :
Tingkat pelayanan C = 35,3 %
Tingkat Pelayanan A = 23,5 %
Tingkat Pelayanan B = 20,6 %
Tingkat Pelayanan D = 5,9 %
Tingkat Pelayanan E = 2,9 %
Tingkat Pelayanan F = 11,8 %
KESIMPULAN

Secara umum tingkat Pelayanan pada ruas-ruas jalan di Tangerang


Selatan masih memenuhi standar yang diisyaratkan, dalam kategori
kondisi lalu lintas adalah “lancar” dan “kurang lancar”. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa kapasitas jalan pada ruas-ruas jalan di
Tangerang Selatan, sudah memenuhi syarat untuk melayani arus
lalu lintas yang lewat. Tetapi ada beberapa ruas jalan perlu
mendapat perhatian khusus yaitu : Jl. Raya Serpong (Sinar
Mas/Cilenggang – Simpang Empat Muncul), Jl. Jelupang, Jl. Tegal
Rotan, Jl. Cenderawasih, Jl. Cirendeu Raya, Jl. H. Taif. Dimana
ruas-ruas jalan tersebut dalam kategori kondisi lalu lintas “macet”
dengan harga Tingkat Pelayanan D, E dan F. Dalam hal ini ruas
jalan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk melayani arus
lalu lintas yang lewat, sehingga perlu direncanakan alternatif
pemecahan, salah satunya yaitu dengan pelebaran jalan guna
meningkatkan kapasitas jalan, atau pengurangan hambatan
samping seperti pembatasan parkir dan berhenti sepanjang sisi
jalan atau dengan melakukan pelebaran jalur dan bahu.
KESIMPULAN

4. Dari hasil perhitungan bisa dilihat bahwa pada saat ini angka Derajat
Kejenuhan pada ruas-ruas jalan di Tangerang Selatan masih memenuhi
standar yang diisyaratkan, yaitu ± 0,75, dalam kategori kondisi lalu lintas
adalah “lancar” dan “kurang lancar”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
kapasitas jalan pada ruas-ruas jalan di Tangerang Selatan, sudah
memenuhi syarat untuk melayani arus lalu lintas yang lewat. Tetapi ada
beberapa ruas jalan perlu mendapat perhatian khusus karena mempunyai
Nilai DS di atas angka 0,75 bahkan melebihi angka 1, yaitu : Jl. Raya
Serpong (Sinar Mas/Cilenggang – Simpang Empat Muncul), Jl. Jelupang,
Jl. Tegal Rotan, Jl. Cenderawasih, Jl. Cirendeu Raya, Jl. H. Taif. Dalam hal
ini ruas jalan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk melayani arus
lalu lintas yang lewat, sehingga perlu direncanakan alternatif pemecahan,
salah satunya yaitu dengan pelebaran jalan guna meningkatkan kapasitas
jalan, atau pengurangan hambatan samping seperti pembatasan parkir dan
berhenti sepanjang sisi jalan atau dengan melakukan pelebaran jalur dan
bahu
REKOMENDASI

Ada beberapa ruas jalan perlu mendapat perhatian khusus karena


mempunyai Nilai DS di atas angka 0,75 bahkan melebihi angka 1,
yaitu : Jl. Raya Serpong (Sinar Mas/Cilenggang – Simpang Empat
Muncul), Jl. Jelupang, Jl. Tegal Rotan, Jl. Cenderawasih, Jl. Cirendeu
Raya, Jl. H. Taif. Selain itu ruas-ruas jalan tersebut dalam kategori
kondisi lalu lintas “macet” dengan harga Tingkat Pelayanan D, E dan
F. Dalam hal ini ruas jalan tersebut sudah tidak memenuhi syarat
untuk melayani arus lalu lintas yang lewat, sehingga perlu
direncanakan alternatif pemecahan, salah satunya yaitu :
1. dengan pelebaran jalan guna meningkatkan kapasitas jalan,
2. atau pengurangan hambatan samping seperti pembatasan parkir
dan berhenti sepanjang sisi jalan, menertibkan pedagang kaki
lima,
3. atau dengan melakukan pelebaran jalur atau bahu jalan
4. melakukan menertiban rambu-rambu lalu lintas serta marka-marka
jalan