Anda di halaman 1dari 12

Analisis Break Event Point

Dalam Sistem Penganggaran


NAMA KELOMPOK

• SEPTIAN HERU PRASETYO


• MUHAMMAD RISWANDHA KURNIAWAN
• SAKDIYAH
• HELMI AZIZATI MANEL
Pengertian Break Event Point
• Analisis break event adalah suatu teknik analisis
untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap,
biaya variabe, keuntungan dan volume aktivitas
penjualan
Asumsi dasar yang umum dipergunakan dalam analisis
breakeven, antara lain :
• Biaya dapat diklasifikasikan ke dalam komponen biaya variabel dan
biaya tetap
• Total biaya variabel berubah secara proporsiona dengan volume
produksi atau penjualan, sedangksan biaya varibel per unit adalah
konstan besarnya
• Total biaya tetap tidak menglami perubahan, meskipun ada
perubahan volume produksi atau penjualan sedangkan biaya tetap per
unit akan berubah karena adanya volume kegiatan.
• Harga jula perunit tidak berubah selama periode melakukan analisis
• Perusahaan hanya membuat dan menjual satu jenis produk, jika
membuat dan menjual lebih dari satu produk, maka perbandingan
penjualan antara masing-masing produk disebut sebagai sales mix
harus tetap konstan
• Kapasitas produksi pabrik relatif konstan
• Harga faktor produksi relatif konstan
• Efisiensi produksi tiddak berubah
Penentuan Break Event Point
Beberapa penentuan breakeven point :
• Pendekatan grafik
• Metode trial and error
• Pendekatan matematis
Cara menentukan breakevent point (BEP) secara pendekatan matematis :
Rumus matematik menetukan BEP adalah :
BEP (unit) = Total Biaya Tetap
Harga jual per unit – Biaya variabel per unit

BEP (unit) = Total Biaya Tetap


1- Total Biaya Variabel
Total Hasil penjualan
Penetapan besarnya brakeven point pada anggaran selain perhitungan dengan asumsi
seperti tersebut diatas juga harus dapat dihitung BEP jika :
a. Ada perubahan yang material dalam persediaan akhir(kuantum penjualan tidak
sama dengan kuantum produksi)
b. Nilai dari pendapatan/pengeluaran perlu mendapat perhatian karena dianggap
material dan penting

BEP dengan pendapatan/pengeluaran lain-lain :


Biaya Tetap + Pengeluaran – Pendapatan
1- Total Biaya Variabel
Total Hasil Penjualan
Biaya Tetap Keseluruhan
BEP Metode Direct Costing = 1 – Total Biaya Variabel
Total Hasil Penjualan
Perhitungan BEP
Perusahaan menghasilkan 2 barang yakni A dan B. Rencana untuk tahun 2003
adalah sebagai berikut :
1. Penjualan A = 5.000 unit @Rp 100
B = 2.500 unit @ Rp 200
2. Biaya Variabel A= Rp 60 per unit
B= Rp 80 per unit
3. Biaya tetap keseluruhan Rp 200.000 (terdiri biaya overhead Rp 80.000 dan
biaya operasi Rp 120.000)
4. Pajak penghasilan 50%
5. Product mix atas dasar perbandingan satuan unit dipertahankan tetap

Pertanyaan :
a. Tentukan BE perusahaan keseluruhan dari masing-masing produk, dalam
rupiah maupun unit fisik
Produk A Produk B Jumlah

Penjualan :
5.000*Rp 100 Rp 500.000
2.500*Rp 200 Rp 500.000 Rp 1.000.000

Biaya Variabel:
5.000*Rp 60 Rp 300.000
2.500*Rp 80 Rp 200.000 Rp 500.000
Contribution margin Rp 200.000 Rp 300.000 Rp 500.000
Biaya tetap Rp 200.000
Laba Rp 300.000

Sales mix = A:B = Rp 500.000: Rp 500.000= 1:1


Product mix = A:B = 5.000:2500 = 2:1
BEP Total = Total Biaya Tetap
1 – Total Biaya Variabel
Total Hasil Penjualan

= Rp 200.000 = Rp 200.000 =Rp 400.000


1- Rp 500.000 0,50
Rp 1.000.000

BE produk A :
Dalam rupiah = ½ * Rp 400.000 Dalam unit = Rp 200.000: Rp 100
= Rp 200.000 = 2.000 unit

BE produk B
Dalam rupiah = ½ * Rp 400.000 Dalam unit = Rp 200.000:Rp 200
= Rp 200.000 = 1.000 unit
b. Apabila 10% dari masing-masing barang tidak terjual, sedang untuk barang yang
tidak terjual diperlakukan dengan full costing, tentukan BE yang baru 10% tak tejual
artinya penjualan = 90% dari produksi, maka :

Produk A Produk B Jumlah

Penjualan :
90% * 5.000 * Rp 100 Rp 450.000
90% * 2.500 * Rp 200 Rp 450.000 Rp 900.000

Biaya Variabel:
90% 5.000 * Rp 60 Rp 270.000
90% 2.500 * Rp 80 Rp 180.000 Rp 450.000
Contribution margin Rp 180.000 Rp 270.000 Rp 450.000

Biaya tetap overhead 90% * 80.000 = 72.000


BE Total = Total Biaya Tetap
1- Total Biaya Variabel
Total Hasil Penjualan
= Rp 72.000 + Rp 120.000 = Rp 192.000 = Rp 384.000
1- Rp 450.000 0.50
Rp 900.00
BEP Produk A :
Dalam rupiah = ½ * Rp 384.000 = Rp 192.000
Dalam unit = Rp 192.000: Rp 100
= 1,920 unit

BEP produk B :
Dalam rupiaih = ½ * Rp 384.000 = Rp 192.000
Dalam unit = Rp 192.000 : Rp 200
= 960 unit
c. Seperti pertanyaan b, tetapi dengan metode direct costing ( variabel costing ) untuk
vtotal produk A+B ( BE perusahaan keseluruhan)

BE Total = Biaya Tetap Keseluruhan


1- Total Biaya Varibel
Total Hasil Penjualan
= Rp 200.000 = Rp 200.000 = Rp 400.000
1- Rp 450.000 0.50
Rp 900.000
d. Tetapkanlah breakeven point (BE) dengan memperhitungkan pendapatan dan
pengeluaran lain-lain, jika :
Other income(pendapatan lain-lain) Rp 40.000
Other expense (pengeluran lain-lain) Rp 10.000

BEP = Biaya Tetap + Pengeluaran – Pendapatan


1- Total Biaya Variabel
Total Hasil Penjualan
= Rp 200.000 + Rp 10.000 – Rp 40.000 = Rp 170.000 = Rp 340.000
1- Rp 500.000 0,50
Rp 1.000.000