Anda di halaman 1dari 50

Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Tutorial Klinik


Universitas Mulawarman

Dengue Shock Syndrome


Oleh
Ozzy Mukti Yunandar
1810029032

Pembimbing : dr. William S. Tjeng, Sp. A


PENDAHULUAN
Di Indonesia, demam berdarah dengue (DBD) pertama kali
dicurigai di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru
diperoleh pada tahun 1970.Sejak tahun 1994, seluruh propinsi di Indonesia
telah melaporkan kasus DBD dan daerah tingkat II yang melaporkan kasus
DBD juga meningkat, namun angka kematian menurun tajam dari 41,3%
pada tahun 1968, menjadi 3% pada tahun 1984 dan menjadi <3% pada
tahun 1991. (Soedarmo, 2012)
Di Indonesia pengaruh musim terhadap DBD tidak begitu jelas,
namun secara garis besar jumlah kasus meningkat antara September sampai
Februari dengan mencapai puncaknya pada bulan Januari (Soedarmo, 2012)
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami namun terdapat 2
perubahan patofisiologi yang dominan, yaitu meningkatnya permeabilitas
kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya
syok.
LAPORAN KASUS
Identitas pasien
• Nama : An. M. A.
• Usia : 2 Tahun 3 Bulan
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Berat Badan : 10 kg
• Tinggi Badan : 96 cm
• Anak ke : kedua dari dua bersaudara
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Milono RT 17, Samarinda
LAPORAN KASUS
Identitas Orang Tua
• Nama Ayah : Tn. F • Nama Ibu : Ny. S
• Usia : 27 Tahun • Usia : 36 Tahun
• Pekerjaan : Wiraswasta • Pekerjaan : IRT
• Alamat : Jl. Milono • Alamat : Jl. Milono
RT 17 Samarinda RT 17 Samarinda
• Pendidikan terakhir : SMA • Pendidikan terakhir : SMP
• Pernikahan ke : pertama • Pernikahan ke : pertama

MRS tanggal 02 Agustus 2019 Pukul 21.50 WITA


LAPORAN KASUS
 Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada tanggal 05 Agustus 2019, di ruang
Melati kamar 09. Hetereoanamnesis oleh orang tua pasien

 Keluhan Utama
Demam mulai turun hari ke delapan
LAPORAN KASUS
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Abdul Wahab Sjahranie dengan keluhan demam sejak ± 5
hari sebelum masuk rumah sakit yang timbul secara tiba-tiba. Demam dirasakan naik turun
tetapi suhu tubuh terasa masih tinggi. Demam muncul terus menerus dan setiap sore hari
selalu meninggi. Keluarga pasien juga mengeluhkan BAB cair sejak ± 3 hari. Ibu pasien
mengatakan jika anak diberikan sufor selanjutnya anak akan BAB cair. BAB tidak ada
ampasnya, ada lendir dan berwarna hitam. Keluhan lain yang menyertai yaitu pasien tampak
lemas, enggan membuka mata, enggan makan minum, mata tampak cekung, luka pada
mukosa bibir, bintik bintik di badan, nyeri kepala, nyeri tangan dan kaki, muka dan tangan
tampak bengkak, kencing sedikit. Ibu pasien menyangkal ada keluhan nyeri perut, muntah,
sesak, mimisan, gusi berdarah, pucat, kuning, tidak ada air mata saat menangis. Ibu pasien
mengatakan bahwa tidak ada orang yang serumah ataupun tetangga yang mengalami hal yang
serupa.
LAPORAN KASUS
 Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat MRS sebelumnya
tidak ada.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita keluhan serupa sebelumnya.

 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Berat badan lahir : OT lupa
Panjang badan lahir : OT lupa
Berat badan sekarang : 10 kg
Tinggi badan sekarang : 96 cm
Gigi keluar : OT lupa Berdiri : 1 tahun
Tersenyum : OT lupa Gigi Keluar : OT lupa
Miring : OT lupa Berjalan : OT lupa
Tengkurap : OT lupa Berbicara : OT lupa
Duduk : 8 bulan
Merangkak : 10 bulan
LAPORAN KASUS
 Pemeriksaan Prenatal
Periksa di : Klinik bidan
Penyakit kehamilan : Tidak ada
Obat-obat yang sering diminum : Tidak ada
 Riwayat Kelahiran
Lahir di : Klinik Bidan
Ditolong oleh : Bidan
Usia dalam kandungan : Aterm
Jenis partus : Spontan
 Keluarga Berencana
Keluarga Berencana : Tidak ada
LAPORAN KASUS
Jadwal Imunisasi
Imunisasi BCG, Polio, Campak, DPT, Hepatitis B lengkap
Usia saat imunisasi

Imunisasi

I II III IV Booster I Booster II

BCG 1 bulan ////// ////// ////// ////// //////

Polio 1 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan - -

Campak 9 bulan ////// ////// ////// ////// //////

DPT 2 bulan 4 bulan 6 bulan ////// - -

Hepatitis B 0 bulan 2 bulan 6 bulan - - -


LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik

Dilakukan pada tanggal 05 Agustus2019

Keadaan Umum : Sakit sedang

Kesadaran : Komposmentis

Berat Badan : 10 kg

Panjang Badan : 96 cm

Tanda Vital : Tekanan Darah 80/50 mmHg

Nadi 116x/menit, reguler, lemah

Pernafasan 44 x/menit, reguler

Temperatur axila 36.6 oC


LAPORAN KASUS
Kepala/leher
Rambut : Warna hitam
Mata : Konjungtiva anemis (-/-),sclera ikterik (-/-), pupil isokor, diameter 3mm/3mm,
reflex cahaya (+/+), edema palpebra (-/-)
Hidung : Sekret hidung (-), pernafasan cuping hidung (-)
Mulut : Mukosa bibir tampak basah, sianosis (-), perdarahan (+), faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening submandibular (-)

Paru
Inspeksi : Tampak simetris, pergerakan simetris, retraksi supra sternum (-), retraksi
supraclavicula (-),
Palpasi : Pelebaran ICS (-), fremitus raba D=S
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Bronkovesikuler, Stridor (-), Ronki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tampak pada ICS 4 midklavikula sinistra
Palpasi : Iktus kordis teraba pada ICS 4 midklavikula sinistra
Perkusi : Normal pada batas jantung
Auskultasi : S1S2 kesan normal,murmur (-),gallop (-)
LAPORAN KASUS
Abdomen
Inspeksi : Flat, scar (-)
Palpasi : Soefl, nyeri tekan epigastrium (+), organomegali (-), turgor kembali cepat
Perkusi : Timpani, acites (-)
Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal

Ekstremitas
Ekstremitas superior : Akral dingin, pucat (-/-), edem (-/-), petekie (+)
Ekstremitas inferior : Akral dingin, pucat (-/-), edem (-/-), petekie (-)
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium 02/08/2019

Pemeriksaan Hasil (22:52:21) Nilai Normal


Leukosit 3.730/mm3 4.500 – 14.500/ mm3
Hemoglobin 13.3 g/dl 14,0 – 18,0 g/dl
Hematokrit 39.0 % 35,0 – 45.0%
Trombosit 23.000 / mm3 150.000 – 450.000/ mm3
Gula Darah Sewaktu 158 mg/dl 70 – 140 mg/dl

Natrium 122 mmol/L 135- 155 mmol/L


Kalium 5.3 mmol/L 3.6 – 5,5 mmol/L
Chloride 101 mmol/L 98-108 mmol/L
Ureum 50.9 mg/dL 19.3-49.2 mg/dL
Creatinin 0.5 0.5-1.1 mg/dL
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium 03/08/2019
Pemeriksaan Hasil (01:50:19) Hasil Hasil (09:27:13) Hasil Hasil Nilai Normal
(05:15:33) (16:27:55) (20:52:29)
Leukosit 2.370/mm3 3.460/mm3 4.470/mm3 9.120/m3 6.730 /m3 4.500 – 14.500/ mm3

Hemoglobin 11.4 g/dl 10.3 g/dl 10.7 g/dl 10.8 g/dl 9.0 g/dl 14,0 – 18,0 g/dl

Hematokrit 33.2 % 30.1 % 32.3 % 32.7 % 27.5 % 35,0 – 45.0%


Trombosit 15.000 / mm3 21.000 / mm3 10.000 / mm3 10.000/ mm3 15.000/ mm3 150.000 – 450.000/
mm3
GD Sewaktu - - - - - 70 – 140 mg/dl

Natrium - - - 129 mmol/L - 135- 155 mmol/L

Kalium - - - 4.5 mmol/L - 3.6 – 5,5 mmol/L

Chloride - - - 103 mmol/L - 98-108 mmol/L

APTT Pasien 48.5 - - - - 24,0 – 36,0 detik

PT Pasien 13.2 - - - - 10,8 – 14,4 detik

INR 0.98 - - - - -
Albumin - - - - - 3,5 – 5,5 g/dL

NS1 Negatif - - - - Negatif


LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium 04/08/2019

Pemeriksaan Hasil Hasil Hasil Hasil Hasil Nilai Normal


(02:56:28) (08:07:18) (15:42:32) (16:27:55) (19:17:17)

Leukosit 6.360/mm 8.210/mm3 9.520/mm 9.120/mm 10.480 4.500 – 14.500/ mm3


3 3 3 /mm3
Hemoglobin 8.7 g/dl 8.7 g/dl 10.2 g/dl 10.8 g/dl 12.7 g/dl 14,0 – 18,0 g/dl

Hematokrit 26.5 % 26.8 % 30.4 % 32.7 % 38.9 % 35,0 – 45.0%


Trombosit 26.000 / 28.000 / 42.000 / 10.000/ 47.000/ 150.000 – 450.000/ mm3
mm3 mm3 mm3 mm3 mm3
GD Sewaktu - - 30 mg/dl - - 70 – 140 mg/dl
Natrium - - - - - 135- 155 mmol/L
Kalium - - - - - 3.6 – 5,5 mmol/L
Chloride - - - - - 98-108 mmol/L
APTT Pasien - - - - - 24,0 – 36,0 detik
PT Pasien - - - - - 10,8 – 14,4 detik
INR - - - - - -
Kalsium - - 7.6 - - 8.1-10.4 mg/dl
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium 05/08/2019

Pemeriksaan Hasil (02:51:21) Hasil (07:41:32) Nilai Normal


Leukosit 9.830/mm3 10.200/mm3 4.500 – 14.500/
mm3
Hemoglobin 12.5 g/dl 12.3 g/dl 14,0 – 18,0 g/dl
Hematokrit 36.7 % 36.7 % 35,0 – 45.0%
Trombosit 52.000 / mm3 76.000 / mm3 150.000 – 450.000/
mm3
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium 05/08/2019

Evaluasi Hasil
Eritrosit Normositik normokrom + mikrositik hipokrom, anisopoikilositosis
ovalosit (+), normoblast (-)

Leukosit Jumlah normal, L>PMN, limfosit atipik (+) monosit meningkat, sel
muda (-)

Trombosit Jumlah menurun, giant trombosit (+)


Kesan Trombositopenia ec suspek infeksi viral DD ITP
Saran Antibodi Antiviral, monitoring DL dan ADT
LAPORAN KASUS
Diagnosa Kerja : Dengue Shock Syndrome + Encephalopathy
Dengue + GIT bleeding
Penatalaksanaan di IGD
Menghubungi dr. Sp. A Menghubungi dr. Sp. A Menghubungi dr. Sp. A
02/08/19 (23.45) 03/08/19 (07.49) 03/08/19 (19.10)
Guyur IVFD RL 500 cc/3 jam, Cefotaxime 500 mg/8 jam/IV IVFD HES 100cc/kgbb/1 jam
cek DL dan SE ulang Loading RL 20 ml/kgbb lanjut 50 cc/1 jam
IVFD Futrolit 14 TPM secepatnya
Paracetamol syrup 3 x 1 cth IVFD HES 10 ml/kgbb/jam Menghubungi dr. Sp. A
Pesidii Syrup 3 x ½ cth Observasi TTV 03/08/19 (21.00)
Ranitidin 10 mg/12 jam/IV KIE keluarga Trombosit 150 cc 1 jam
Cek PT/APTT, NS1 FFP 100 cc 1 jam
Menghubungi dr. Sp. A Diet lunak, yang manis
Menghubungi dr. Sp. A 03/08/19 (10.33)
03/08/19 (02.40) Rehidrasi lagi RL 20 ml/kgbb
MRS PICU selama 15 menit
Loading RL 20 ml/kg SP Dopamin 150 mg dalam
secepatnya 50 cc D5% kecepatan 1
IVFD HES 10 ml/kg/1 jam cc/jam
setelah itu cek DL ulang Setelah 15 menit, rehidrasi
IVFD RL 7 ml/kg jika bagus RL 7 cc/kgbb
turun 3-5 ml/kg Cek DL 4 jam selanjutnya
Cek DL/4 jam
Pasang DC, OGT dan O2 NK
Monitor TTV
Penatalaksanaan di Ruangan

Visite dr. Sp. A 04/08/19 (10.00) Visite dr. Sp. A 05/08/19 (10.00)
Cek kalsium dan GDS Aff NGT
Tatalaksana lanjut Stop dopamin
Transamin 125 mg/8 jam/IV Aff Nasal Kanul
Neo K 2 mg/24 jam/IM IVFD RL 15 cc/jam
Transfusi PRC 100 ml/dalam 4 Cek DL/12 jam
jam Chloramphenicol tetes mata
Cek DL/4 jam
Pindah PICU Visite dr. Sp. A 06/08/19 (10.00)
Aff Kateter
Konsul dr. Sp. A 04/08/19 Aff infus
(15.00) Pasien boleh KRS sore
Bolus D10% 20 cc
Ca Glukonas 10 cc dalam 1 kolf
RL (1x) (Kecepatan 30 cc/jam)
TINJAUAN PUSTAKA
• Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Family Flaviviridae,
dengan genusnya adalah Flavivirus (Kemenkes RI,2015). Virus mempunyai empat
serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Selama ini
secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda tergantung dari serotipe
virus dengue (Kemenkes RI, 2015).

• Epidemiologi
Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang paling banyak
melaporkan kasus DBD. Pada epidemik tahun 2000, sekitar 82% pasien DBD yang
dirawat inap adalah orang dewasa, sedangkan semua kematian akibat DBD dialami
oleh anak-anak berumur diatas 5 tahun (Soedarmo, 2012).
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
• Etiologi
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue,
yang termasuk dalam group B arthropod borne virus (arbovirus) dan sekarang
dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus
dengan diameter 50 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat
molekul 4x106 (WHO,2011; Soedarmo, 2012)

Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang
semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue.
Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype
terbanyak
TINJAUAN PUSTAKA
• Patogenesis
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami namun terdapat 2 perubahan
patofisiologi yang dominan, yaitu meningkatnya permeabilitas kapiler yang
mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD
terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma kedalam rongga pleura dan
rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat dalam 24-28 jam (Soedarmo,
2012).

Beberapa kondisi yang ditemukan pada kasus DBD, sebagai berikut :


a.Volume Plasma
b.Trombositopenia
c.Sistem koagulasi dan fibrinolisis
d.Sistem Komplemen
e.Respon Leukosit
TINJAUAN PUSTAKA
• Patogenesis
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami namun terdapat 2 perubahan
patofisiologi yang dominan, yaitu meningkatnya permeabilitas kapiler yang
mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD
terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma kedalam rongga pleura dan
rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat dalam 24-28 jam (Soedarmo,
2012).

Beberapa kondisi yang ditemukan pada kasus DBD, sebagai berikut :


a.Volume Plasma
b.Trombositopenia
c.Sistem koagulasi dan fibrinolisis
d.Sistem Komplemen
e.Respon Leukosit
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
Manifestasi Klinis
TINJAUAN PUSTAKA
Manifestasi Klinis
TINJAUAN PUSTAKA
Diagnosis
Berdasarkan kriteria WHO 2011 untuk diagnosis Demam Berdarah Dengue:
a.Kriteria Klinis
1.Demam : Demam mendadak terus menerus 2-7 hari tanpa sebab yang jelas. Tipe
demam bifasik (saddleback).
2.Manifestasi perdarahan, salah satu tergantung:
• Uji torniquet (+)
• Petechie, ekhimosis ataupun purpura
• Perdarahan mukosa traktus gastrointestinal, epistaksis, perdarahan gusi
• Hematemesis dan melena
3.Hepatomegali
4.Nyeri kepala, mialgia, arthralgia, dan nyeri retroorbital
b.Kriteria Laboratorium
• Trombositopenia (trombosit < 100.000 /ul)
• Hemokonsentrasi ( Peningkatan Ht ≥20% atau penurunan Ht ≥20% setelah
mendapat terapi cairan).
• Efusi pleura / pericardial, asites, hipoproteinemi
TINJAUAN PUSTAKA
Pembagian Derajat Demam Berdarah Dengue
Derajat I
Demam diikuti gejala tidak spesifik.Satu-satunya manifestasi perdarahan adalah
tes torniquet yang positif atau mudah memar.

Derajat II
Gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan perdarahan spontan. Perdarahan
bisa terjadi di kulit atau di tempat lain.

Derajat III
Kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (<20mmHg) atau hipotensi, suhu tubuh rendah, kulit lembab dan
penderita gelisah.

Derajat IV
Syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diperiksa.
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
• Leukosit : dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemui
limfositosis relatif ( > 45% dari leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru
(LPB) > 15% jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.
• Trombosit umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3 – 8 akibat depresi
sumsum tulang
• Hematokrit yaitu kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya
penigkatan hematokrit ≥ 20 % dari hematokrit awal. Sering ditemukan mulai hari
ke 3
• Imunoserologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue :
IgM terdeteksi mulai hari ke 3 – 5, meningkat sampai minggu ke 3 dan
menghilang setelah 60 – 90 hari
IgG : pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14, pada infeksi
sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke 2 (Depkes RI. 2005)
TINJAUAN PUSTAKA
Pemeriksaan Penunjang
b. Pencitraan
Pada pemeriksaan radiologi dan USG kasus DBD, terdapat beberapa
kelainan yang dapat dideteksi yaitu, efusi pleura, efusi perikard, hepatomegali,
cairan dalam rongga peritoneum (Kemenkes RI. 2005)

c. Pemeriksaan Rumple leed test


Percobaan ini bermaksud menguji ketahanan kapiler darah dengan cara
mengenakan pembendungan kepada vena-vena, sehingga darah menekan kepada
dinding kapiler. Dinding kapiler yang oleh suatu sebab kurang kuat akan rusak
oleh pembendungan itu, darah dari dalam kapiler itu keluar dari kapiler dan
merembes ke dalam jaringan sekitarnya sehingga nampak sebagai bercak merah
kecil pada permukaan kulit (petechiae).
TINJAUAN PUSTAKA
Pemeriksaan Penunjang
d. Pemeriksaan lainnya :
Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahi infeksi virus
dengue yaitu (WHO, 2011):
- Isolasi Virus
- Deteksi Asam Nukleat Virus
- Deteksi Antigen Virus
- Pemeriksaan serologis : Haemagglutination-inhibition (HI), Complement
Fixation (CF), Neutralization Test (NT), Ig M capture enzyme-linked
immunosorbent assay (MAC-ELISA), danpemeriksaan Ig G ELISA indirect
TINJAUAN PUSTAKA
Pemeriksaan Penunjang
• Antibodi Ig M dapat terdeteksi pada 3
– 5 hari setelah onset, meningkat cepat
selama 2 minggu, dan menurun hingga
tidak terdeteksi pada 2 – 3 bulan.

• Antibodi Ig G terdeteksi rendah pada


akhir minggu pertama, meningkat
kemudian, dan menetap hingga
bertahun – tahun. Pada infeksi sekunder
virus dengue, titer antibodi meningkat
cepat. Antibodi Ig G terdeteksi pada
level tinggi, pada saat fase inisial, dan
menetap hingga beberapa bulan
TINJAUAN PUSTAKA
Diagnosis Banding
Diagnosis banding Demam Dengue terdiri atas ( WHO, 2011) :
• Infeksi virus golongan Arbovirus : Chikungunya
• Penyakit virus lainnya
Misalnya : Measles, Rubella, dan berbagai virus lainnya, seperti : Epstein barr virus,
Enterovirus, Influenza, Hepatitis A, Hantavirus
• Penyakit bakterial
Meningocuccaemia, Leptospirosis, Thypoid, Meliodosis, Rackettsial disease, Scarlet Fever
• Penyakit parasit : Malaria
Pada fase awal demam dari demam berdarah dengue, diagnosis banding meliputi infeksi
spektrum luas oleh virus, bakteri, dan protozoa, sama halnya dengan diagnosis banding dari
demam dengue. Adanya trombositopenia disertai dengan hemokonsentrasi membedakan
demam berdarah dengue dengan penyakit yang lainnya. Hasil yang normal dari ESR
(Erythrocyte Sedimentation Rate) dapat membedakan dengue dengan infeksi bakteri dan
syok septik (WHO, 2011).
TINJAUAN PUSTAKA
Diagnosis Banding
TINJAUAN PUSTAKA
Penatalaksanaan
• Rawat jalan
Antipiretik seperti parasetamol dengan dosis 10-15 mg/kgBB/dosis yang
dapat diulang setiap 4-6 jam bila demam. Hindarkan pemberian antipiretik berupa
asetil salisilat, antiinflamasi nonsteroid (non-steroid anti-inflammatory drugs,
NSAIDS) seperti ibuprofen. Upaya menurunkan demam dengan metode fisik
seperti kompres diperbolehkan, yang dianjurkan adalah dengan cara “kompres
hangat” (diseka dengan air hangat suam kuku/tepid spongei). Anak dianjurkan
cukup minum, boleh air putih atau teh, namun lebih baik jika diberikan cairan yang
mengandung elektrolit seperti jus buah, oralit atau air tajin. Tanda kecukupan cairan
adalah diurersis setiap 4-6 jam.
TINJAUAN PUSTAKA
Penatalaksanaan
TINJAUAN PUSTAKA
Penatalaksanaan
TINJAUAN PUSTAKA
Penatalaksanaan
TINJAUAN PUSTAKA
Penatalaksanaan
PEMBAHASAN
Anamnesis
Teori Kasus
- Demam mendadak terus menerus 2- - Gejala awal demam dirasakan 5 hari SMRS
7 hari tanpa sebab yang jelas. Tipe - Letargi (+)
demam bifasik - Nafsu makan dan minum menurun (+)
- Manifestasi perdarahan. - Nyeri sendi dan lutut (+)
- Nyeri kepala, mialgia, artralgia, dan - Ptekiea (+)
nyeri retroorbital - Epistaksis (-)
- Dijumpai kasus DBD baik di - Perdarahan mukosa (+)
lingkungan sekolah, rumah, atau - BAB hitam (+)
sekitar rumah. - Nyeri kepala (+)
- Mual dan muntah (+)
- Riwayat tetangga yang terkena penyakit
DBD (-)
PEMBAHASAN
Pemeriksaan Fisik

Teori Kasus
 Suhu biasanya tinggi (>390C), kadang suhu  Suhu tubuh 36.6oC per axila
mungkin setinggi 40-410C.
 TD 80/50 mmHg
 Hipotensi dengan rentang sistol dan diastol
yang sempit  Nadi 116 x/menit, lemah
 Nadi cepat dan lemah  Perdarahan spontan berupa petekie dan
 Perdarahan kulit seperti uji tourniquet (rumple
perdarahan mukosa serta perdarahan saluran
leede) positif, petekie, purpura, ekimosis, dan
perdarahan konjungtiva. pencernaan
 Perdarahan lain epistaksis, perdarahan gusi,  Akral hangat
melena, dan hematemesis.  CRT <2 detik
 Hepatomegali
 DBD grade III ditandai dengan demam diserai  Mata enggan membuka
gejala tidak khas dengan perdarahan spontan di  UO hanya sekitar 400 cc sejak dari IG hingga
kulit dan atau perdarahan lain ke ruangan (3 hari)
 Letargi
 Takipneu
 Nadi cepat dan lemah
PEMBAHASAN
Pemeriksaan Penunjang

Teori Kasus
 Leukosit normal, leukopenia atau  Terjadi leukopenia hingga hari ke 2
leukositosis
MRS, selanjutnya leukosit normal
 Trombositopenia
 Peningkatan hematokrit 20% atau hingga pulang
lebih dibandingkan nilai  Trombosit terus rendah hingga hari ke
hematokrit pada masa sebelum
3 MRS, namun hari ke 4 trend
sakit atau masa konvalesen
trombosit pada pemeriksaan serial DL
meningkat hingga 76.000 / mm3
 Hematokrit pertama kali diperiksa 39.0
% di IGD, terjadi inflasi selama 5 hari
MRS dimana nilai terendah pernah
27.5 % dan nilai tertinggi yaitu 38.9 %.
PEMBAHASAN Diagnosis
Teori Kasus
Demam
Demam mendadak terus menerus 2-7 hari tanpa sebab yang jelas. Tipe
 Demam 7 hari, hari ke 8 menurun
demam bifasik (saddleback).  Mialgia dan cephalgia
Manifestasi perdarahan, salah satu tergantung :
• Uji torniquet (+)  Trombositopenia
• Petechie, ekhimosis ataupun purpura
• Perdarahan mukosa traktus gastrointestinal, epistaksis, perdarahan gusi
 Ptekia, perdarahan mukosa dan
• Hematemesis dan melena
traktus gastrointestinal (+)
Hepatomegali
Nyeri kepala, mialgia, arthralgia, dan nyeri retroorbital  Mata cekung
Kriteria Laboratorium
 Trombositopenia (trombosit < 100.000 /ul)  Urin sedikit
 Hemokonsentrasi ( Peningkatan Ht ≥20% atau penurunan Ht ≥20% setelah
mendapat terapi cairan).
 Letargi
 Efusi pleura / pericardial, asites, hipoproteinemia  Takipneu
Tanda Shock
 Takikardi, nadi cepat dan kecil  Nadi cepat dan lemah
 Nadi tidak teraba & tekanan darah tidak terukur
 Takipneu
 Produksi urin menurun
 Tekanan nadi <20 mmHg atau hipotensi
 CRT > 2 detik
 Kulit dingin
 Produksi urin menurun
 Anak gelisah
PEMBAHASAN Penatalaksanaan

Teori Kasus
 Untuk cairan diberikan cairan maintenace  Dilaksanakan loading cairan yang hilang dan
seseuai dengan berat badan dan cairan loading maintenance dikarenakan syok hipovolemik
untuk mengganti yang hilang  PCT syrup 3 x 1 cth
 Transfusi dapat dilakukan jika shock belum  Pesidii syrup 3 x ½ cth
teratasi  Memasang DC, OGT dan O2 NK

 Untuk demam bisa diberikan dengan obat  SP Dopamin 150 mg dalam 50 cc D%%

penurun panas seperti paracetamol disesuaikan kecepatan 1 cc/jam

dengan berat badan  Cefotaxime 500 mg/8 jam/IV


 Transamin 125 mg/8 jam/IV
 Neo K 2 mg/24 jam/IM
 Transfusi trobosit 150 cc
 Transfusi FFP 100 cc
 Transfusi PRC 100 cc
 Bolus D10% 20 cc
 Ca Glukonas 10 cc dalam 1 kolf RL
KESIMPULAN
Telah dilakukan pemeriksaan pada pasien laki-laki usia 11 tahun
yang didiagnosis dengan Demam Berdarah Dengue Grade III dari
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang didapatkan
penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang telah sesuai dengan
literatur yang mendukung pada kasus tersebut.
TERIMA KASIH