Anda di halaman 1dari 51

Laporan Kasus

Kejang Demam
Pendahuluan
• Demam  kasus tersering menyebabkan orangtua membawa anak ke pelayanan kesehatan
(Lusia,2015).
• Demam tinggi  kejang pada anak
• Kejang demam  timbul pada saat demam, di sebabkan oleh proses diluar kepala
• 4-5% dari jumlah penduduk di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat
• Asia  6 – 9 %
• Di Indonesia, komplikasi  kejang berulang, epilepsi, h emiparese dan gangguan mental (IDAI, 2013)
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

Bangkitan kejang pada


kenaikan suhu tubuh (Suhu
rektal > 38 oC) yang
disebabkan oleh suatu
proses ekstrakranium.

Terjadi pada anak usia 6


bulan – 5 tahun.

27
Klasifikasi
Kejang Demam Simpleks Kejang Demam Kompleks
IDAI :
• Berlangsung singkat • Kejang berlangsung lama, >15
• Umumnya serangan berhenti menit
sendiri dalam waktu <15 mnt • Kejang fokal atau parsial satu sisiatau
kejang umum didahului dgn kejang
• Bangkitan kejang tonik-klonik parsial
tanpa gerakan fokal
• Kejang berulang 2 kali atau lebih
• Tidak berulang dalam waktu 24 dalam 24 jam, anak sadar
jam kembali di antara bangkitan kejang
*harus memenuhi semua krite ria *hanya dengan salah satu kriteria

berikut

28
Faktor Resiko

• Gangguan neurodevelopmental

• Riwayat keluarga kejang demam atau epilepsi


• Kejang demam pertama usia <18 bulan  resiko berulang
• Temperatur yang rendah saat kejang demam

• Kejang pertama berupa kejang demam kompleks

32
Patofisiologi

31
Manifestasi Klinik
Kenaikan suhu yang cepat

Berlangsung < 6 menit atau >15 menit

Kejang berhenti sendiri  anak tampak lelah,


mengantuk, tertidur pulas, dan tidak
memberikan reaksi apapun untuk sejenak

31
Diagnosis
Anamnesis
• jenis kejang
• kesadaran
• lama kejang
• suhu sebelum atau saat kejang
• frekuensi, interval, pasca kejang,
• penyebab demam diluar susunan saraf pusat

Pemeriksaan fisik
• suhu tubuh
• tanda rangsal meningeal
• tanda peningkatan tekanan intrakranial,
• tanda infeksi di luar SSP

31
Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan laboratorium
• Pemeriksaan cairan serebrospinal
• Elektroensefalografi (EEG)
• Pencitraan

31
Tatalaksana

- Tenangkan dan yakinkan orantua bahwa kejang demam memiliki


prognosis baik
- Bebaskan jalan napas

- Pakaian dilonggarkan
- Pasien dimiringkan agar lendir/cairan dapat mengalir keluar
- Farmakoterapi :

33
Tatalaksana

1. Antipiretik
Para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan.
Dosis Paracetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan 4
kali sehari dan tak lebih dari 5 kali.

34
Tatalaksana
2. Antikonvulsan

35
Tatalaksana
3. Antikonvulsan rumatan
Indikasi obat rumatan :
• Kejang lama > 15 menit
• Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental,
hidrocephalus.
• Kejang fokal
• kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam,
• kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
• kejang demam ≥ 4 kali per tahun.

36
Tatalaksana
3. Antikonvulsan rumatan (Pencegahan rekurensi kejang)
A. Kejang Demam Simpleks
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan resiko
berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan dia zepam rektal dosis 0,5 mg/kg
setiap 8 jam pada suhu > 38,5C.
B. Kejang Demam Kompleks
- Asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis
- Fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam 1-2 dosis.
- Pengobatan rumat diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap
selama 1-2 bulan.

37
Edukasi

• Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik


• Memberitahukan cara penanganan kejang
• Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
• Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek
samping obat.

38
Edukasi
Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang :
• Tetap tenang dan tidak panik.
• Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.
• Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di
mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
• Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
• Tetap bersama pasien selama kejang.
• Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
• Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

39
Edukasi

• Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik


• Memberitahukan cara penanganan kejang
• Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
• Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat
adanya efek samping obat.

38
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
• Nama : An. F
• Tanggal Lahir : 11 Mei 2017
• Jenis Kelamin : Laki - laki
• BB : 11,22 kg
• TB : 87 cm
• Alamat : Kedungjero - Peterongan - Jombang
• RM : 452338
• Nama ayah /U : Tn. A,25 tahun
• Pekerjaan : Karyawan Swasta
• Pendidikan : SMA
• Nama ibu/U :Ny. L,26 tahun
• Pekerjaan : IRT
• Pendidikan : SMA
• MRS : 26 Juni 2019 (01.30)

38
Anamnesis
• Keluhan utama:
• Kejang
• RPS :
• Pasien kiriman dari IGD RSUD Jombang datang dengan keluhan kejang.
Kejang sebanyak 2x. Pertama pukul 21.00, lama kejang ± 1 menit, kejang
seluruh tubuh, dan sehabis kejang pasien sadar. Kemudian pasien kejang
lagi pukul 21.30 ± 1 menit, kejang seluruh tubuh, setelah kejang pasien
tidak sadar. Diantara 2 kejang, pasien BAB 1x. BAB biasa. Sebelumnya
pasien mengalami panas badan sejak siang pukul 12.00. Panas terus-
terusan. Muntah 1x, muntah makanan. Batuk (-), pilek (-), diare (-). Saat di
IGD suhu badan 38,6.
38
ANAMNESIS

RPD : RPK :

- Alergi (-) - Tidak ada yang memiliki keluhan


- Riwayat Trauma (-) yang sama
- pernah dirawat karena demam (-)

5
ANAMNESIS
Riwayat ANC: Riwayat Imunisasi :

• Imunisasi lengkap
• Saat hamil ANC rutin di bidan, tidak
pernah sakit saat hamil.
• Riwayat tekanan darah tinggi saat
hamil (-)
• Konsumsi obat-obatan selama hamil
(-)

6
ANAMNESIS

Riwayat Tumbang : Riwayat Gizi :

Sesuai dengan teman sebaya ASI 0-6 bulan


MPASI sejak usia 6 bulan

7
PEMERIKSAAN FISIK

Kesan Umum : Cukup/composmentis


Status Gizi : Baik
Tanda-tanda Vital :
HR : 89 kali/menit
RR : 23 kali/menit
Suhu : 37,5°C
BB : 11,22 kg
TB : 87cm
9
ANAMNESIS FISIK
PEMERIKSAAN
Kepala/Leher:

• Kepala : bentuk kepala normal


• Rambut : hitam, lurus, tipis, tidak mudah dicabut.
• Mata : refleks cahaya (+/+), pupil bulat isokor +/+, Conju
ngtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), Mata
cowong -/-
• Hidung : sekret (-), pernafasan cuping hidung (-)
• Mulut : Mukosa bibir kemerahan, lidah kotor (-), gusi
berdarah (-)
• Pharynx : hyperemi (-). Tonsil hiperemi (-/-), tonsil T1/T1
• Telinga : cairan keluar dari telinga (-)
• Leher : Pembesaran kelenjar getah bening : - / -
10
ANAMNESIS FISIK
PEMERIKSAAN
Thorax:

• Pulmo :
– I: Bentuk simetris, gerak dinding dada simetris, retraksi (-)
– P: ekspansi dinding dada simetris
– P: sonor di semua lapang paru
– A: suara nafas vesikuler, Wh -/-, Rh -/-
• Cor :
– I: Ictus cordis tidak tampak
– P: Ictus tidak kuat angkat, thrill (-)
– P: Batas jantung dalam batas normal
– A: S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

11
ANAMNESIS FISIK
PEMERIKSAAN
Abdomen:

• I : Flat, simetris, distensi (-)


• P : Supel, Nyeri tekan (-), turgor normal
• P : Tympani di seluruh lapang abdomen, meteorismus (-)
• A : Bising Usus normal

12
ANAMNESIS FISIK
PEMERIKSAAN

Ekstremitas:

• Akral Hangat + Oedem


+ - -
+ + - -
• CRT < 2 detik

13
ANAMNESIS FISIK
PEMERIKSAAN
 
Pemeriksaan Neurologi

- GCS : 456

- Meningeal Sign: kaku kuduk (-),


brudzinsky I/II (-/-), kernig sign (-)

- Nervus cranialis: dbn

- Motorik:

- Sensorik: dbn

13
ANAMNESIS FISIK
PEMERIKSAAN

Ekstremitas:

• Akral Hangat Oedem


+ + - -
+ + - -
• CRT < 2 detik

13
ANAMNESIS
Status Gizi
 
Status Gizi

 Usia : 2 tahun 2 bulan

 Berat badan : 11,22 kg

 Tinggi badan : 87 cm

 Interpretasi : normal

13
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Darah Lengkap (Tgl : 25 Juni 2019)


• Hb : 11,8 g/dL
• Leukosit : 7,39 /mm3
• Hematokrit : 35,1 %
• Eritrosit : 4,79 106/ul
• Trombosit : 338.000 /mm3
• Kimia Darah
• GDS : 178 mg/dl
• Natrium : 138 mEq/l
• Kalium : 3,47 mEq/l
• Clorida : 104 mEq/l
18
RESUME

• An.F, laki – laki usia 2 tahun 2 bulan


• Kejang 2x
• Kejang pertama ± 1 menit, seluruh tubuh, dan setelah kejang pasien sadar.
• Kejang kedua ± 1 menit, seluruh tubuh, dan sehabis kejang pasien tidak
sadar.
• Sebelumnya demam (+) terus-terusan
• Riwayat vomiting 1x

19
• Pemeriksaan fisik : A/I/C/D -/-/-/- ; mata cowong (-); faring
hiperemi (-), ubun-ubun belum menutup; thorax dalam batas
normal; abdomen dalam batas normal; ekstremitas dalam
batas normal.
• Pemeriksaan penunjang : darah lengkap anemia, kimia darah
dalam batas normal
Problem • Kejang Demam
List

• Kejang demam kompleks


Initial Dx • Epilepsi

• DL
• Serum Elektrolit
Planning
• EEG
Planning Therapy
• Infus D5 1/4 NS 1000cc/24 jam
• Inj. Paracetamol 4 x 130 mg IV
• Inj. Diazepam 0,5 mg/kgBB IV kecepatan 3-5 menit jika terjadi kejang lagi

21
Monitoring

• Keluhan pasien dan gejala  bangkitan kejang berulang


• Vital sign

22
Edukasi
• Menjelaskan kepada orang tua atau keluarga pasien mengenai diagnosis pasien, yaitu
kejang demam.
• Menjelaskan penyebab terjadinya kejang demam, yaitu suatu bangkitan kejang yang
terjadi akibat demam yang dialami pasien sebelumnya.
• Menjelaskan mengenai pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan
• Menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan kepada pasien (memasang infus,
pemberian obat, pengambilan darah).

23
Prognosis

• Dubia ad bonam

24
Follow Up
TGL/JAM SUBJEK OBJEK Assesement Planning
Pasien kiriman dari GCS BB HR RR S   - Infus D5 1/4 NS
26/6 IGD RSUD Jombang. 456 11,22 kg 89 23 37,5
Kejang 2x, lama   1000cc/24 jam
01.30 K/L : a/i/c/d -/-/-/-. KGB membesar (-)
kejang ± 1 menit,   - Inj Paracetamol
kejang seluruh tubuh. Tho : simetris,ves +/+, rh -/- wh -/-,   10cc (k/p)
 
Sebelum kejang,
demam (+) terus- Cor : S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)   - Stesolid (k/p)
 
terusan, muntah (+). Abd : soefl, BU (+) KDK - Valproat 2x2 ml
  1x, BAB 1x.
H-1 Saat di IGD suhu Ext : HKM, CRT <2’’
badan 38,6.

24
TGL/JAM SUBJEK OBJEK Assesement Planning
27/6 Kejang (-) GCS BB HR RR S    
456 11,22 kg 94 18 36,0
  Demam (-) K/L : a/i/c/d -/-/-/-. KGB membesar (-)   - Infus D5 1/4
  Muntah (-)   NS 1000cc/24
Tho : simetris,ves +/+, rh -/- wh -/-,
 KDK jam  Aff
  Makan dan minum Cor : S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
mau (+) - Pro KRS
H-2 Abd : soefl, BU (+)
 
Ext : HKM, CRT <2’’
PEMBAHASAN
Teori Pasien

Anamnesis • Kejang demam  terjadi pada anak An.F berusia 2 tahun 2 bulan (26
usia 6 bulan sampai 5 tahun bulan)
(Airlangga University Press (AUP)
(2015).
• > 90% kasus kejang demam terjadi
pada anak berusia di bawah 5 tahun
• Bangkitan kejang demam terjadi
pada anak berusia antara usia 6
bulan sampai dengan 22 bulan,
insiden bangkitan kejang demam
tertinggi terjadi pada usia 18 bulan.

24
Anamnesis
Teori Pasien
• Kejang demam : bangkitan kejang Kejang sebanyak dua kali
yang terjadi pada ke­naikan suhu Tiap kejang ± 1 menit
tubuh yang disebabkan oleh suatu Kejang seluruh badan
proses ekstrakranium. BAB 1x
• Penyakit yang menyertai kejang Kejang kedua pasien tidak sadar
demam : demam. Riwayat Demam dan muntah 1x.
• Penyakit yang sering menyebabkan
rawat inap : diare dan gastroenteritis
(profil kesehatan indonesia tahun
2012 )

24
Anamnesis
Teori Pasien
• kriteria kejang demam kompleks (+) Kejang sebanyak dua kali
 berulang atau lebih dari 1 kali Durasi kejang ± 1 menit
dalam 24 jam. Kejang seluruh badan
Setalah kejang I  pasien sadar
Setelah kejang II  pasien tidak
sadar
Riwayat Demam dan muntah 1x.

24
Terapi
Teori Pasien
• Penggunaan antipiretik tidak Infus D5 1/4 NS 1000cc/24 jam
ditemukan bukti bahwa dapat Inj Paracetamol 10cc (k/p)
mengurangi resiko terjadinya kejang Inj. Ampicillin 3 x 600mg
demam, namun para ahli di Diazepam 10 mg rektal jika terjadi
Indonesia sepakat bahwa antipiretik kejang lagi
tetap dapat diberikan
• Dosis Paracetamol yang digunakan
adalah 10-15 mg/kg/kali

24
Teori Pasien
• Obat yang praktis  diazepam rektal Infus D5 1/4 NS 1000cc/24 jam
(level II-2, level II-3, rekomendasi B). Inj Paracetamol 10cc (k/p)
• Dosis : 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam Inj. Ampicillin 3 x 600mg
rektal 5 mg untuk anak dengan berat Diazepam 10 mg rektal jika terjadi
badan <10 kg dan 10 mg untuk kejang lagi
berat badan >10 kg. Valproat 2x2 ml
Teori Pasien
• Asam valproat sebagai antikonvulsan Infus D5 1/4 NS 1000cc/24 jam
rumatan efektif dalam menurunkan Inj Paracetamol 10cc (k/p)
risiko berulangnya kejang Inj. Ampicillin 3 x 600mg
• Kejang demam berulang 5,5 % pada Diazepam 10 mg rektal jika terjadi
kelompok yang diobati dengan asam kejang lagi
valproate dan 33 % tanpa Valproat 2x2 ml
pengobatan dengan asam valproat.
• Dosis : 15 – 40 mg/kg BB perhari
dalam 2 – 3 dosis
Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang :
• Tetap tenang dan tidak panik.
• Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.
• Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di
mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
• Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
• Tetap bersama pasien selama kejang.
• Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
• Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
TERIMA KASIH