UTS SOSIOLINGUISTIK
Nama : Eltari Junita Timur
Kelas/Semester : E/III
Nim : 1901010160
Komunikasi bahasa
• Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat
komunikasi atau alat interaksi yang hanya
dimiliki oleh manusia. Di dalam kehidupan
bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat
juga menggunakan alat komunikasi lain,
sebagai bahasa.
Hakikat bahasa
• Dalam membuka buku linguistik dari berbagai
pakar akan kita jumpai berbagai rumusan
mengenai hakikat bahasa. Rumusan-rumusan
itu kalau dibutiri akan menghasilkan
sejumblah ciri yang merupakan hakikat
bahasa.
• Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa itu, antara lain adalah bahwa bahasa itu sebuah sistem
lambang, berupa bunyi, bersifat arbiter, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
• Bahasa itu sebuah sistem , artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumblah komponen yang berpola
secara tetap dan dapat dikaidahkan.
• Sistem bahasa berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Artinya lambang-lambang itu
berbentuk bunyi yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa.
• Lambang bunyi bahasa bersifat arbiter . artinya hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang
tersebut mengonsepi makna tertentu.
• Bahasa itu bersifat produktif, artinya dengan sejumblah unsur yang terbatas namun dapat dibuat
satuan-satuan ujaran yanhg hampir tidak terbatas.
• Bahasa itu bersifat dinamis, maksudnya bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan
perubahan sewakutu-waktu dapat terjadi.
• Bahasa itu beragam, artinya meskipun sebuah bahasa itu mempunyai kaidah atau pola tertentu,
namun bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang
sosial dan kebiasan yang berbeda.
• Bahasa itu bersifat manusiawi artinya bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki
manusia.
Fungsi – Fungsi bahasa
• Fungsi bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat
untuk berkomunikasi dalam arti alat untuk
menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga
perasaan. Bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur
tingkah laku pendengar.
• Bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan
sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang diinginkan si
pembicara. Hal ini dapat dilakukan oleh si penutur dengan
menggunakan kalimat-kalimat perintah, imbauan,
permintaan maupun rayuan.
Hakikat bahasa
• Salah satu fungsi bahasa seperti yang dijelaskan diatas adalah sebagai alat
komunikasi atau alat interaksi. Komunikasi dalam websters New Collegiate
Dictionary (1981:125) dikatakan : communication is a process by which
information is exchange between individuals through a cammon system of
symbols, sign, or behaviour (kominikasi adalah proses pertukaraan informasi
antara individual melalui sistem simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum.
Maka kita mendapatkan beberapa komponen yang harus ada dalam
setiap proses komunikasi , yaitu :
• Pihak yang berkomunikasi yakni pengirim dan penerima informasi yang
dikomunikasikan , yang lazim disebut partisipan.
• Informasi yang diinformasikan
• Alat yang digunakan dalam komunikasi.
Bahasa dan masyarakat
• secara lingustik dan hakikat bahasa dilihat
sebahai alat komunikasi manusia serta
pembicaraan mengenai kelebihaan atau
keistimewaan bahasa sebagai alat komunikasi
dibandingkan dengan alat-alat komunikasi
yang lain.
Bahasa dan tutur
• Ferdinand de Saussure (1916) membedakan antara langage,
langue dan parolle :
• Langage mengacuh pada bahasa umumnya sebagai alat
komunikasi manusia.
• Langue mengacuh pada sebuah sistem lambang bunyi tertentu
yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu.
• Parolle merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk
ujaran atau tuturan yang dilakukan oleh para anggota
masyarakat dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan
sesamanya.
Bahasa dan Tingkatan Sosial Masyarakat
• Adanya tingkatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat
dari dua segi, pertama dari kebangsawanan dan kedua
dari segi kedudukan sosial, yang ditandai dengan
tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang
lebih baik pula.
• Sedangkan pada bahasa adalah dimana adanya hubungan
antara bentuk-bentuk bahasa tertentu yang disebut
variasi, ragam, atau dialek dengan penggunaannya untuk
fungsi-fungsi tertentu didalam masyarakat
Peristiwa tutur
• Peristiwa tutur (inggris: speech event) adalah
tejadinya atau berlangsungnya interaksi
linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih
yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan
lawan tutur, dengan satu pokok tuturan,
didalam waktu dan situasi tertentu
• Menurut Dell Hymes (1972) seorang pakar sosiolinguistik
terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur mempunyai delapan
komponen dan dibentuk menjadi akronim SPEAKING (diangkat
dari Wadhaugh 1970)
• S = setting and scene
• P = participants
• E = ends : purpose and goal
• A = act sequences
• K = key ; tone or spirit of act
• I = instrumentalites
• N = normal of interaction and interpretation
• G = genres
Tindak tutur
• Peristiwa tutur terorganisasi untuk mencapi
suatu tujuan.
• Tidak tutur dan peristiwa tutur meruakan dua
gejala yang terdapat pada suatu proses, yakni
proses komunikasi. Istilah dan teori mengenai
tidak tutur diperkenalkan oleh J.L. Austin
seorang guru besar di Universitas Havard pada
tahun 1956.
Menurut tata bahasa ada tiga jenis kalimat, yaitu :
• Kalimat Deklaratif adalah kalimat yang isinya hanya meminta
pendengar atau yang mendengarkan kalimat itu untuk
menaruh perhatiaan saja, tidak usah melakukan apa-apa,
sebab maksud si pengujar hanyau untuk memberitahukan
saja.
• Kalimat interogatif adalah kalimat yang isinya meminta agar
pendengar atau orang yang mendengar kalimat itu untuk
memberi jawaban secara lisan.
• Kalimat impertif adalah kalimat yang isinya meminta agar
pendengar atau orang yang mendengarkan kalimat itu
memberi tanggapan berupa tindakan.
Berbagai varian dan jenis bahasa
• Kridalaksana (1972) mendefinisikan sosiolinguistik sbagai cabang linguistik yang
berusaha menjelaskan ciri-ciri dan variasi bahasa dan menetapkan korelasi ciri-
ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial masyarakat.
• Hartman dan stork (1972) membedakan variasi berdasarkan kriteria :
• Latar belakang geografi dan sosial penutur
• Medium yang digunakan
• Pokok pembicaraan.
• Mudahnya untuk memahami ragam bahasa pertama kita bedakan berdasarkan
penutur dan penggunaannya. Yang dapat kita analisis dari enutur bahasa adalah
berdasaran idiolek, yaitu variasi bahasa yang bersifat perseorangan.
• Selanjutnya berdasarkan dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur
yang jumblahnya relatif, didasarkan pada wilayah atau daerah penutur tertentu.
Bilingualisme dan diglosia
• Istilah bilingualisme atau kedwibahasaan secara sosiolinguistik diartikan sebagai
penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang
lain secara bergantian (Makey 1962:12, Fishman 1975:73).
• Bloomfied (1973) mengatakan bahwa menguasai dua bahasa berarti menguasi
dua buah sistem kode , maka berarti bahasa itu bukan langue, melainkan parol
yang berupa berbagai dialek dan ragam. Mackey (1962:12) dengan tegas
mengatakan bahwa bilingualisme adalah praktik penggunaan bahasa secara
bergantian, dari bahasa yang satu kebahasa yang lain oleh seorang penutur.
• Berarti yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme itu sangat luas, mulai
dari pengertian langue sampe berupa dialek.
• Asal kata diglosia dari bahasa prancis diglossie yang pernah digunakan Mercais,
seorang linguis prancis. Menurut Ferguson diglosia adalah suatu situasi yang
relatif stabil, dimana selain trdapat sejumblah dialek-dialek utama dari suatu
bahasa, dialek utama itu bisa sebuah dilek standar, atau sebuah standar regional.
Alih kode dan campur kode
Appel (1976:79) mendefinisikan ahli kode sebagai “gejala peralihaan
pmakaan bahasa karena berubahnya situasi. Hymes mengatakan
ahli kode itu bukan hanya tenjadi antar bahasa, tetapi dapat juga
terjadi antar ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam
suatu bahasa.
Penyebab alih kode secara umum adalah :
• Penutur
• Pendengar
• Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga
• Perubahan dari formal ke non formal
• Perubahaan topik pembicaraan
• Kesamaan yang ada antara alih kode dan campur kode adalah digunakan dua
bahasa atau lebih, atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat
tutur. Thelander (1976:103) mencoba menjelaskan perbedaaan alih kode
dan campur kode. Katanya, bila didalam suatu peristiwa tutur terjadi
peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa
yang terjadi adalah alih kode. Tetapi apabila didalam suatu peristiwa tutur
klausa-klausa campur dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi
mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang selanjutnya , memang
ada kemungkinan terjadinya perkembangan dari campur kode kealih kode.
• Fasold (1984) menawarkan kriteria gramatika untuk membedakan campur
kode dan alih kode. Kalau seorang menggunakan satu kata atu frase dari
suatu bahasa, dia telah melakukan campur kode. Tetapi apabila satu klausa
disusun menurut struktur gramatikal bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi
adalah alih kode.
Interferensi dan integrasi
• Interferensi pertama kali digunakan oleh Weinreich (1953)
untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa
sehubung dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan
unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual.
• Integrasi (1968) menjelaskan bahwa integrasi adalah unsur-
unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan
dianggap sudah menjadi warga bahasa tersebut. Penerimaan
unsur bahasa lain dalam bahasa tertentu sampai berstatsus
integrasi memerlukan waktu dan tahap yang relatif panjang.
Perubahan,pergeseran dan pemertahanan
bahasa
• Wardhaught (1970:189) terjadinya perubahan bahasa itu tidak
dapat diamati , sebab perubahan itu yang sudah menjadi sifat
hakiki bahasa, berlangsung dalam waktu yang relatif sama,
sehingga tidak mungkin diobservasi oleh seseorang yang
mempunyai waktu yang reltif terbatas. Perubahan bahasa lazim
diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya
itu direvisi, kaidanya menghilang atau munculnya kaidah baru.
• Adapun pergeseran bahasa menyangkut masalah
penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok
penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari suatu
masyarakat tutur ke masyarakat tutur lainnya.
Sikap bahasa dan pemilihan bahasa
• Sikap adalah reaksi kejiwaan, yang biasanya termanivestasi dalam bentuk
tindakan perilaku. Anderson (1974;37) membagi sikap atas dua macam yaitu
: sikap kebahasan dan nonkebahasaan, seperti sikap politik, sikap skeptis dan
sikap keagamaan.
• Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka
panjang, sebagian mengenai bahasa, mengenai objek bahasa, yang
memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara
tertentu yang disenanginya.
• Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Falsold dapat dilkukan
berdasarkan tiga pendekatan disiplin ilmu, yaitu berdasarkan pendekatan
sosiologi, psikologi sosial dan antropologi.
• Pendekatan sosiologi dapat dilakukan dengan melihat adanya konteks
institusional tertentu yang disebut dengan domain , dimana satu variasi
bahasa cendrung lebih tepat untuk digunakan dari pada variasi lain.
• Pendekatan psikologi sosial tidak meneliti struktur sosial
, seperti domain-domain, melainkan meneliti proses
manusia seperti motivasi dalam pemilihan suatu
bahasa untuk digunakan pada keadaan tertentu.
• Sedangkan antropologi bisa dilihat dari perluasan
penggunaan bahasa indonesia dari , hanya untuk
komunikasi antara suku, menjadi digunakan juga sebagai
alat komunikasi intra suku, selain karena sifat-sifat
inheren bahasa indnesia itu sendiri juga karena
dorongan motivasi dan tujuan sosial tertentu.
Bahasa dan kebudayaan
• Berdasarkan definisi-definisi kebudayaan dikelompokan menjadi enam :
• Definisi yang deskriptif, yaitu definisi yang menekankan pada unsur-unsur kebudayaan .
• Definisi historis, definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara
kemasyarakatan.
• Definisi normatif, definisi yang menekankan hakikat kebudayaan sebagai aturan hidup
dan tingkah laku.
• Definisi psikologis yaitu definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam
penyesuaian diri kepada lingkungan, pemecahan persoalan dan belajar hidup.
• Definisi struktural, yakni definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu
sistem yang berpola dan teratur.
• Definisi yang genetik , yakni definisi yang menekankan pada terjadinya kebudayaan
sebagai hasil karya manusia.
Perencanaan bahasa
• Haugen (1959) mengemukakan perncanaan berbahasa adalah pengertian
usaha untuk membimbing perkembangan bahasa ke arah yang diinginkan
oleh perencana. Tujuan kebijaksanaan bahasa adalah dapat
berlangsungnya komunikasi kenegaraan dengan baik, tanpa menimbulkan
gejolak sosial dan emosional yang dapat menggangu stabilitas bangsa.
• Kalau sasarannya adalah bahasa atau korpus bahasa maka sasaran itu
menjadi bermacam-macam, antara lain : pengembangan sandi bahasa
dibidang pengaksaraan, peristilahan, pemekaran ragam wacana. Kalau
sasaran perencanaan itu adalah khalak masyarakat, maka perencanaan itu
antara lain, dapat diarahkan kepada golongan penutur asli atau bukan
penutur asli, kepada yg masih sekolah, guru, dll.
Pembakuan bahasa
• Halim(1980) mengatakan bahwa bahasa baku
adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui
oleh sebagian warga masyarakat pemakainya
sebagai ragam resmi dan kerangka rujukan norma
bahasa dan penggunaannya.
• Sedangkan ragam bahasa tidak baku adalah ragam
bahasa yang tidak dilembagakan dan tidak ditandai
oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma-norma
bahasa baku.
• Fungsi bahasa baku (Gravin dan Mathiot,1956;785-787) mempunyai
fungsi lain yang bersifat sosial politik, yaitu :
• Fungsi pemersatu
• Fungsi pemisah
• Fungsi harga diri
• Fungsi keranga acuan
Sering kali bahasa baku harus meminjam unsur leksikal dari kosakata
tidak baku karena memang diperlukan, maka hal itu tidak menjadi
soal, unsur leksikal itu bisa saja diperlukan sebagai unsur pinjaman
atau serapan, artinya aturan mengenai unsur serapan dapat
dikenakan kepada tidak baku.