LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGANCRONIC KIDNEY DESEASE (CKD) DI RUANG HEMODIALISA (H.

D) RSUD SIDOARJO

DI SUSUN OLEH :

TOTOK PRIBADI

PROGRAM PROFESI NERS STIKES BAHRUL ULUM TAMBAK BERAS JOMBANG 2012

LEMBAR PENGESAHAN Laporan Pendahuluan “ Cronic Kidney Desease (CKD) Di Ruang Hemodialisa (HD) RSUD SIDOARJO Telah di periksa dan di sahkan pada Hari : Tanggal : Mahasiswa ( ) Mengetahui Pembimbing Ruangan Pembimbing Akademik ( ) ( ) Kepala Ruangan ( ) .

III. ETIOLOGI 1. Gout menyebabkan nefropati gout. Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga (yang diduga mengarah ke penyakit ginjal genetik). 1995: 812). 5. biasanya berlangsung dalam beberapa tahun (Lorraine M Wilson. Riwayat batu yang menyebabkan penyakit ginjal glomerular.LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK (CHRONIC RENAL FAILURE) I. 1990: 349). Riwayat edema yang mengarah ke penyakit ginjal glomerular. PENGERTIAN Gagal ginjal kronik merupakan penurunan faal ginjal yang menahun yang umumnya tidak riversibel dan cukup lanjut. 3. II. 4. PATOFISIOLOGI Penurunan fungsi nefron  Mekanisme kompensasi dan adaptasi asimptomatik  BUN dan creatinin meningkat  Penumpukan toksin uranik  Gangguan gagal ginjal kronik simptomatik Hematologis Neurologis Gastrointestinal Sistem syaraf pusat Endokrin Kardiovaskuler 1 . SLE yang menyebabkan nefropati SLE. 2. (Suparman. Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat. Diabetes Mellitus yang menyebabkan nefropati DM. 6.

Kuning. Pada Wanita Gangguan Menst. Ensepalopati metab.. Miopati Hipertensi Odema Ggn.ovulasi aminorhe Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Gangguan.Glomerulo Nepritis Kronik Obstruksi dan Infeksi Neprotik Diabetik Nepritis Hypertensi Nepritis Lupus Penurunan fungsi glomerulus Iskemi dan infeksi nefron nefron ginjal Angiopati sehingga Jaringan ginjal < O² dan nutrisi Vaskularisasi jar. Burning Feet sindrom.Metab . Gatal Eritropoitin < Defisiensi besi Hemolisis Kelemahan otot Perubahan proses pikir > Renin AngiotensiAldosteron Arterisklerosis dini Ggn Elektrolit dan kohesifikasi metastatik Pada Laki produksi testosteron dan spermatogenesis kurang. Ginjal < Kerusakan jaringan dan Nefron ginjal Gagal Ginjal Kronik Pencernaan Kulit Hematologi Syaraf dan Otot Kardiovaskular Endokrin Ggn. D Anoreksia Mual Muntah Bau Mulut Stomatitis Parotitis Pucat.Metab.Tolerasi glukosa Ggn.Seksual Ggn. lemak Ggn.protein Ureum > daripada air liur Cegukan Gastritis >Urokrom Gatal ekskariosis Urea Frost Anaemia Ggn Fungsi dan Trombositopeni Ggn Fungsi leukosit Restless Leg sindrom. Interigas kulit Resiko cedera (Profil darah abnormal) Penurunan Curah Jantung 2 .Metab Vit.

gastritis erosiva. gangguan fungsi trombosit. VII. 5. gangguan lekosit.IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Obstruksi traktus urinarius. bekas garukan karena gatal. disebut gagal ginjal kronik. burning feet syndrome. Kulit Berwarna pucat. GEJALA DAN TANDA 1. 3. 2. 5. edema. Gangguan perfusi ke ginjal. vomiting. disebut gagal ginjal terminal. Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal (batu a/ obstruksi) 3 . Endokrin Gangguan toleransi glukosa. gangguan irama jantung. libido. Gangguan elektrolit. 2. < 5 ml/mnt. 3. gangguan metabolisme vitamin D. dengan pembagian sebagai berikut: 1. maka GGK dapat di klasifikasikan menjadi 4. gangguan metabolisme lemak. ensefalopati metabolik. Gastrointestinal Anoreksia. gangguan seksual. 4. 75-26 ml/mnt. Hipertensi. fektor uremicum. echymosis. 25-5 ml/mnt. trombositopenia. 3. disebut insufisiensi ginjal berkurang. disebut insufisiensi ginjal kronik. 100-76 ml/mnt. V. 2. urea frost. Hematologik Anemia normokrom. restless leg syndrome. KLASIFIKASI Sesuai dengan test kreatinin klirens. hiccup. nyeri dada dan sesak nafas. gatal-gatal dengan eksoriasi. VI. Syaraf dan otot Miopati. Infeksi traktus urinarius. nausea. 2. 6. 4. Kardiovaskuler Hipertensi. KOMPLIKASI 1. 4. fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki. Radiologi Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan menilai derajat dari komplikasi yang terjadi.

Hipokalsemia dan Hiperfosfatemia : terjadi karena berkurangnya sintesis 1. serta sisa fungsi ginjal. dan hipoalbuminemia. ekskresi ). 3. Hiperkalemia : biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunnya diuresis. 4. 6. 7. efusi 10. kepadatan parenkim ginjal. Pemeriksaan Radiologi tulang untuk mencari osteodistrofi (terutama untuk falanks jari). 9. radiologi jantung untuk mencari kardiomegali. Renogram untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri. Fosfatase lindi meninggi akibat gangguan metabolisme tulang. DM. gangguan elektrolit (hiperkalemia). 5. EKG untuk melihat kemungkinan :hipertropi ventrikel kiri. misalnya : usia lanjut. Pemeriksaan Pielografi Retrograd bila dicurigai obstruksi yang reversibel. dan jumlah retikulosit yang rendah. biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin lebih kurang 20 : 1. pengobatan steroid. luka bakar luas. USG untuk menilai besar dan bentuk ginjal. Ureum dan kreatinin : Meninggi. Pemeriksaan perikardial. IVP (Intra Vena Pielografi) untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu. tanda-tanda perikarditis. kandung kemih serta prostat. Anemia normositer normokrom. yang terkhir ini dianggap sebagai bendungan. parenkim. dan Tes Klirens Kreatinin yang menurun. umumnya disebabkan gangguan metabolisme dan diet rendah protein. aritmia. kalsifikasi metastasik.Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa. kemungkinan adanya suatu Gagal Ginjal Kronik : Laju Endap Darah : Meninggi yang diperberat oleh adanya anemia. demam. dan Nefropati Asam Urat. Hipoalbuminemis dan Hipokolesterolemia. lokasi dari gangguan (vaskuler. Pemeriksaan Laboratorium yang umumnya dianggap menunjang. pada diet rendah protein. antomi sistem pelviokalises. Ingat perbandingan bisa meninggi oleh karena perdarahan saluran cerna. ureter proksimal. Biopsi ginjal : 12. Perbandingan ini berkurang : Ureum lebih kecil dari Kreatinin. terutama Isoenzim fosfatase lindi tulang. 11. Pemeriksaan radilogi paru untuk mencari uremik lung. dan obstruksi saluran kemih.24 (OH)2 vit D3 pada GGK. 4 . 8. tebal parenkim ginjal. Hiponatremi : umumnya karena kelebihan cairan.

Persiapkan program hemodialisis. PENATALAKSANAAN 1. 9. akibat gangguan metabolisme karbohidrat pada gagal ginjal. hormon somatotropik dan menurunnya lipoprotein lipase. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam.- Peninggian Gula Darah . BE yang menurun. 4. disebabkan. Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi. 5. Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal. - Asidosis metabolik dengan kompensasi respirasi menunjukan pH yang menurun. peninggian hiormon inslin. semuanya disebabkan retensi asam-asam organik pada gagal ginjal. 10. (resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan ferifer) - Hipertrigliserida. 8. Transplantasi ginjal. 7. Tentukan dan tatalaksana terhadap penyebab. Diet tinggi kalori rendah protein. VIII. HCO3 yang menurun. 3. 5 . Jaga keseimbangan eletrolit. PCO2 yang menurun. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK. 2. akibat gangguan metabolisme lemak. 6. Kendalikan hipertensi.

telapak tangan. paroksismal. Biodata Gagal Ginjal Kronik terjadi terutama pada usia lanjut (50-70 th). muntah. takhipnoe.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK I. dapat terjadi pada semua jenis kelamin tetapi 70 % pada pria. dispnoe. Keluarga: Adanya penyakit keturunan Diabetes Mellitus (DM). nadi kuat. oedema jaringan umum. tidak selera makan (anoreksi). Sekarang: Diare.4 : Bladder) Kencing sedikit (kurang dari 400 cc/hari). nadi lemah halus. tidak dapat kencing. infeksi saluran kemih. penggunaan obat-obat nefrotoksik. prostatektomi. 5. 4. piting pada kaki. Tanda : Hipertensi. muntah. oliguria. anuria (gagal tahap lanjut) 6 . Batuk produktif dengan / tanpa sputum. perdarahan. Pernafasan (B 1 : Breathing) Gejala : nafas pendek. Disritmia jantung. tidak dapat kencing. dyspnea. rasa lelah. rekasi anafilaksis. renjatan kardiogenik. kental dan banyak. Riwayat penyakit a. hipertensi. mulut terasa kering. Benign Prostatic Hyperplasia. 3. luka bakar. pucat. Tanda .kecendrungan perdarahan. PENGKAJIAN 1. gangguan irama jantung. Peningkatan suhu tubuh. Persyarafan (B 3 : Brain) Kesadaran : Disorioentasi. peningkatan frekuensi. Cardiovascular (B 2 : Bleeding) Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat. batuk dengan/tanpa sputum. 2. nadi cepat dan lemah. usia muda. apatis. gelisah. kulit coklat kehijauan. nafas cepat dan dalam (Kussmaul). gelisah. Body Systems : a. hipotensi ortostatik. b. friction rub perikardial. Palpitasi nyeri dada atau angina dan sesak nafas. letargi. mual. Dahulu: Riwayat penyakit gagal ginjal akut. kuning. Tanda vital: d. Keluhan utama Kencing sedikit. hipertensi. payah jantung. somnolent sampai koma. warna urine kuning tua dan pekat. c. gatal pada kulit. edema. Gejala : Penurunan frekuensi urine. b. dispnoe nokturnal. nafas berbau (ureum). c. Perkemihan-Eliminasi Uri (B.

Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan klien. Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone) Gejala : Nyeri panggul. kulit gatal. nausea. (pekat. Tanda: Perubahan warna urine. dehidrasi). c. berawan) oliguria atau anuria. merah. oliguria. Gejala . Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel) Anoreksia. kram otot. diare atau konstipasi. 7 . rambut tipis. intake minum yang kurang. demam (sepsis. berawan) oliguria atau anuria. penurunan tingkat kesadaran. anuria (gagal tahap lanjut) abdomen kembung. 6. (memburuk saat malam hari). e. dan mudah lelah. Pola aktivitas sehari-hari a. area ekimoosis pada kulit. kacau. ada/berulangnya infeksi. Pola Eliminasi Eliminasi uri : Kencing sedikit (kurang dari 400 cc/hari). warna urine kuning tua dan pekat. sendi keterbatasan gerak sendi. nyeri ulu hati. vomiting. Peningkatan berat badan cepat (oedema) penurunan berat badan (malnutrisi) anoreksia. kuku rapuh.abdomen kembung. tidak dapat kencing. b. defosit fosfat kalsium. oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien. fraktur tulang.pada kulit. jaringan lunak. mual muntah. Tanda : Gangguan status mental. (pekat. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Pada pasien gagal ginjal kronik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gagal ginjal kronik sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama. nyeri kaki. kejang. Pola nutrisi dan metabolisme : Anoreksi. Tanda: Perubahan warna urine. Gejala : Penurunan frekuensi urine. ketidakmampuan berkonsentrasi. kehilangan memori. fektor uremicum. muntah dan rasa pahit pada rongga mulut. sakit kepala. Tanda : Pruritus. Eliminasi alvi : Diare. merah. gastritis erosiva dan Diare f. coklat. bau mulut (amonia) Penggunaan diuretik. ptekie. hiccup. coklat. diare atau konstipasi. mual.

Kepala: Edema muka terutama daerah orbita. Lamanya waktu perawatan. Pola sensori dan kognitif. infertilitas. ansietas. tak ada harapan. penurunan rentang gerak. amenorea. Pola hubungan dan peran. Pola mekanisme/penanggulangan stress dan koping. takut. Klien dengan gagal ginjal kronik cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya trauma. karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah. Tanda : menolak. kecemasan. cemas. Pola tidur dan Istirahat : Gelisah. Gejala : Penurunan libido. j. tak ada kekuatan. 7. Gejala : kelelahan ektremitas. Pola Aktivitas dan latihan : Klien mudah mengalami kelelahan dan lemas menyebabkan klien tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal. i.d. tak ada kekuatan. f. Lamanya perawatan. gangguan tidur. 8 . Pola seksual dan reproduksi. Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. kehilangan tonus. Tanda : Kelemahan otot. perasaan tak berdaya. banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem). Pemeriksan fisik : a.. marah. gangguan kualitas maupun ereksi. perasaan tidak berdaya. Klien mampu melihat dan mendengar dengan baik/tidak. serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. klien mengalami disorientasi/ tidak. k. Gejala : faktor stress. kelemahan. mudah terangsang. perjalanan penyakit yang kronik. faktor stress. Pola tata nilai dan kepercayaan Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta gagal ginjal kronik dapat menghambat klien dalam melaksanakan ibadah maupun mempengaruhi pola ibadah klien. Pola persepsi dan konsep diri. e. mempertahankan fungsi peran). h. dapat menyebabkan klien tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif. tak ada harapan. perubahan epribadian. Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi seksual. mudah tersinggung dan lain – lain. g. mulut bau khas ureum. Gejala : kesulitan menentukan kondisi. malaise. (tidak mampu bekerja.

kongesti vaskuler. nadi perifer yang kuat. produksi/sekresi eritpoietin. akumulasi areum dalam kulit. gangguan frekuensi. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolik. pembatasan cairan. dan keluhan dispnea manunjukan adanya renal failure. Rencana: a. kalsifikasi jaringan lunak.100. b. 5. penurunan produksi Sel Darah Merah gangguan faktor pembekuan. Kaji adanya keluhan nyeri dada.b. catat bila ada perubahan tekanan darah akibat perubahan posisi. Evaluasi adanya edema. 9 . akaral dingin. konduksi jantung. Resiko tinggi terjadinya penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Ekstrimitas: Edema pada tungkai. Resiko tinggi terjadi perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan kurang/penurunan salivasi. penurunan turgor kulit. Perubahan proses pikir berhubungan dengan akumulasi toksin. gangguan frekuensi. konduksi jantung. frekuensi nadi antara 60 . Resiko tinggi terjadi cedera (profil darah abnormal) berhubungan dengan penekanan. hipoksia. irama. Tetapi ortostatik hipotensi juga dapat terjadi akibat dari defisit intravaskular fluid. Resiko tinggi terjadinya penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. nyeri dada. Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung. c. asidosis metabolik. 2. e. perubahan urea dalam saliva menjadi amonia. capilary refill time yang baik. R/ Adanya edema paru. akumulasi/penumpukan urea toksin. nadi. c. peningkatan kerapuhan vaskuler. iskemia jaringan) dan sensasi (neuropati ferifer). R/ Hipertensi yang signifikan merupakan akibat dari gangguan renin angiotensin dan aldosteron. turgor kulit menurun. Dada: Pernafasan cepat dan dalam. sirkulasi (anemia. kalsifikasi jaringan lunak. kongesti vaskuler dan keluhan dispnoe. II. Monitor tekanan darah. Perut: Adanya edema anasarka (ascites). perifer. irama. spatisitas otot. Kulit: Sianosis. Kriteria: tekanan darah sistole antara 100 – 140 dan diastole antara 70 – 90 mmHg . 4. 1. lokasi dan skala keparahan. Auskultasi suara jantung dan paru. ketidakseimbangan elektrolit kalsifikasi metastase pada otak. akumulasi/penumpukan urea toksin. 3. penurunan aktivitas. d. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL DAN INTERVENSI 1.

Tujuan : Tidak terjadi cedera Kriteria : Tidak mengalami tanda-tanda perdarahan. produksi/sekresi eritpoietin. K). penurunan produksi Sel Darah Merah gangguan faktor pembekuan. takikardia. Hb. Thrombosit. peningkatan kerapuhan vaskuler. Observasi perdarahan terus menerus dari tempat penusukan. Evaluasi respon terhadap aktivitas. Faktor Pembekuan dan Protrombin. Rencana: a. Pemeriksaan Laboratorium Darah Lengkap. menekan produksi Sel Darah Merah. Kaji tingkat kemampuan klien beraktivitas.lab. lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan. Resiko tinggi terjadi cedera (profil darah abnormal) berhubungan dengan penekanan. h. Berikan sikat gigi halus. Pemeriksaan thoraks foto. Kreatinin klirens. R/ Mengalami kerapuhan kapiler. gunakan jarum kecil pada saat penyuntikan. BUN. R. Dalam batas normal. Awasi tingkat kesadaran dan prilaku. R/ Menurunkan resiko perdarahan / pembentukan hematoma. f. Pemberian transfusi. atau pada area mukosa. Serum kreatinin. R/ Stress dan abnormalitas hemostatik dapat mengakibatkan perdarahan GI track. e. 10 . c. dan respon jantung untuk mempertahankan oksigensi sel. Siapkan Dialisis 2. perubahan prilaku mental dan orientasi. nyeri dada. Pemberian obat-obatan anti hipertensi. Kolaborasi : g. d. R/ Dapat menunjukan anemia. menurunkan produksi eritropoetin./ Uremia. serebral. Perhatikan keluhan peningkatan kelelahan.R/ Hipertensi dan Chronic renal failure dapat menyebabkan terjadinya myocardial infarct. pencukur elektrik. Pada gagal ginjal kronik. memerlukan perubahan aktivitas (istirahat). e. Awasi haematemesis atau sekresi GI / darah feses. mukosa / kulit pucat. R/ Anemia dapat menyebabkan hipoksia. R/ Anemia menurunkan oksigenasi jaringan. hematokrit biasanya rendah. kelemahan. Kolaborasi dalam: Pemeriksaan laboratorium (Na. R/ Kelemahan dapat terjadi akibat dari tidak lancarnya sirkulasi darah. meningkatkan kelelahan. b. dispnoe. d.

/ Memperbaiki gejala anemi. Tujuan : Meningkatkan tingkat mental. i. R. R. asidosis metabolik.R. f. ketidakseimbangan elektrolit kalsifikasi metastase pada otak. tidak ada gangguan kognitif. Hemostatik (Amicar). 3. orang./ Memberikan perbandingan./ Menghambat perdarahan./ Meminimalkan rangsangan lingkungan. Radio dan kunjungan./ Meningkatkan penolakan terhadap kenyataan./ Mengurangi perdarahan mukosa./ Memperburuk kekacauan. 4. R. Rencana : a. Pemberian obat – obatan : Sediaan besi. R. Kaji luasnya gangguan kemampuan berpikir./ Komunikasi akan dipahami/diingat. Pemberian tambahan oksigen. R. tingkat mental pasien biasanya. Komunikasikan informasi dalam kalimat pendek. Kriteria : Klien mengenal tempat. g. hipoksia. R./ Efek sindrom uremik dapat terjadi dengan Kekacauan minor dan berkembang ke perubahan kepribadian./ Gangguan tidur dapat mengganggu kemampuan kognitif. R. Cimetidin (Actal). memori. R. e. b. R./ Mengatasi anemia simtomatik. Hindari penggunaan barbiturat/opiat. perhatikan lapang perhatian. c. Hadirkan kenyataan secara singkat dan ringkas. i. Pelunak feses./ Memberikan petunjuk untuk membantu pengenalan kenyataan. Berikan lingkungan tenang. orientasi. R./ Profilaksis menetralkan asam lambung. sianokobalamin. Orientasikan kembali terhadap lingkungan orang dan waktu. asam folat. R. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan 11 . Pastikan orang terdekat. d. Kolaborasi : h. Perubahan proses pikir berhubungan dengan akumulasi toksin. ijinkan menggunakan TV. tidak menarik diri. waktu. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur. R./ Perbaikan hipoksia dapat memperbaiki kognitif. R.

Kaji keadaan kulit terhadap kemerahan dan adanya excoriasi. Jaga keadaan kulit agar tetap kering dan bersih. pelindung siku dan tumit. Berikan cairan sepanjang 24 jam dalam abatas yang ditentukan. R. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan penurunan saliva. Inspeksi kulit terhadap Perubahan Warna. Kriteria : kulit tidak lecet. R/ Sirkulasi darah yang kurang menyebabkan kulit mudah rusak dan memudahkan timbulnya dicubitus/ infeksi. Tujuan : Mempertahankan membran mukosa. R/ Deteksi adanya dehidrasi yang mempengaruhi integritas jaringan pada tingkat seluler. perhatikan kemerahan. 12 . sirkulasi (anemia. e. R/ Mencegah iritasi kulit dan meningkatkan evaporasi. iskemia jaringan) dan sensasi (neuropati ferifer). d. Anjurkan pada klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan kering yang menyerap keringat dan bebas keriput. f. beri bantalan pada tonjolan tulang . penurunan aktivitas. klien mampu mendemonstrasikan cara untuk mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit. b. turgor. penurunan turgor kulit. 5. perubahan urea dalam saliva menjadi amonia./ Deteksi untuk mencegah infeksi. R/ Mengurangi/ menurunkan tekanan pada daerah yang edema. c. perhatikan kelembaban. bau amonia berkurang/hilang. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit. yang dapat menimbulkan dekubitus. Kriteria : Mukosa lembab. Inspeksi rongga mulut.. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin. karakter saliva adanya inflamasi dan ulserasi. Rencana : a. g. R/ Menandakan area sirkulasi buruk. R/ Mencegah penekanan yang terlalu lama pada jaringan yang dapat membatasi ferfusi seluler.ekskoriasi. membran mukosa. sehingga dapat mengurangi iskemik jaringan. akumulasi areum pada kulit. daerah yang perfusinya kurang baik untuk mengurangi/menurunkan iskemia jaringan. Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit. ulserasi tidak ada. pemabatasan cairan.status metabolik. inflamasi. h. b. Ganti posisi tiap 2 jam sekali. Kolaborasi dalam pemberian foam dan tempat tidur angin. R/ Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan resiko cedera. R/ Kulit yang basah terus menerus memicu terjadi iritasi yang mengarah terjadinya dikubitus. Rencana : a.

R. dan menghindari produk pencuci mulut yang mengandung alkohol. c. Kolaborasi : f. dan membantu menyegarkan mulut yang tidak menyenangkan karena uremia. Kiproheptadin. R. Anjurkan hygiene yang baik setelah makan dan saat akan tidur. d. permen keras antara makan./ Alkohol. Anjurkan klien untuk menghentikan merokok. Pemberian obat-obatan sesuai dengan indikasi Antihistamin./ Menghilangkan gatal. berikan permen karet./ Menurunkan pertumbuhan bakteri. Berikan perawatan mulut sering cuci dengan larutan Asam asetik 25%. melumasi. R. e. 13 . R.R./ Mencegah kekeringan mulut./ Perawatan mulut menyejukan. mengiritasi mukosa dan efeknya mengeringkan.

Haznam M. 14 . F. FKUI. (1989) Nursing Care Plans. EGC. Doengoes. Suparman. Jakarta. (1994). (1999). Lynda Juall. Jakarta. Bandung. Jakarta. (1999). EGC. Jakarta. Sylvia Anderson. EGC. Jakarta. Pathofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Kompendium Diagnostik & Terapi Ilmu Penyakit Dalam Edisi II. (1988). (1982). RSUD Dr. Nursing Care Planning Guides for Children. (1990). Marylin E. Junadi. (1985). Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. Lynda Juall. Williams & Wilkins. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (1997). Surabaya. Editor: Setiawan.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Philadelphia. W. Soetomo. Smith. Jakarta: Price. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 6. Purnawan. (1992). Pedoman Diagnosis dan Terapi. Perawatan Anak Sakit. EGC.A Davis Company. USA. Cindy Grennberg. Carpenito. Baltimore. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Kapita Selekta Kedokteran. Ngastiyah. SMF UPF Anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful