Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan Pencitraan Medis Untuk memperoleh citra tubuh diperlukan energi, yang mampu menembus benda gelap tubuh

manusia. Cahaya tampak digunakan untuk pencitraan medis, namun di luar radiologi. Contoh citra cahaya tampak, dipakai dalam dermatologi (fotografi kulit), endoscopy, pathologi (mikroskopi). Dalam radiologi diagnostik, digunakan gelombang elektromagnet yang lebih pendek dari cahaya, misalnya pencitraan dengan sinar X (primadona mulai diketemukan sampai sekarang), MRI (magnetic resonance imaging), ultrasound. Kedokteran nuklir membuat citra organ tubuh dengan menggunakan energi yang dipancarkan oleh material radioaktif. Senyawa radioaktif dimasukkan ke dalam tubuh (melalui suntik ataupun saluran makanan), metabolisme atau interaksi fisiologi senyawa radioaktif dengan organ akan memberi informasi pada citra. Kualitas citra diagnostik tergantung pada kondisi akuisisinya, yang umumnya dibuat dengan kompromi. Sebagai contoh, kualitas citra sinar x tinggi dapat dibuat dengan dosis pasien tinggi, kualitas citra MRI bila waktu akuisisi lama, kualitas citra USG tinggi bila daya gelombang ultrasound tinggi. Oleh karenanya pembuatan citra medis memerlukan perimbangan antara kenyamanan dan keselamatan pasien dengan kualitas citra. Modalitas Pencitraan sinar X Radiografi, merupakan transmission imaging juga projection imaging. Distribusi sinar X transmisi dari tubuh pasien yang heterogen akan diterima detektor dan membentuk citra. Radiografi diperoleh dengan eksposi sinar X dalam bentuk pulsa, yang dipancarkan dalam waktu pendek (umumnya < detik). Fluoroskopi, dilakukan dengan eksposi sinar X kontinu, untuk memperoleh citra real time tubuh pasien. Fluoroskopi merupakan transmission imaging, detektor mampu produksi citra dengan

cepat dan berurutan. Fluoroskopi digunakan untuk memandu kateter ataupun tindakan invasif, melihat media kontras dalam sistem pencernaan, ataupun memandu tindakan bedah, dll. Mammografi, merupakan transmission imaging untuk radiografi payudara, menggunakan sinar X energi rendah. Computed Tomography (CT), dari kata graph (gambar) dan tomo (irisan), merupakan transmission imaging untuk menghasilkan citra dalam bentuk irisan tubuh. Bila dalam radiografi citra organ tampak tumpang tindih, dalam citra CT dapat dihindarkan.

Pencitraan Kedokteran Nuklir Kedokteran nuklir, merupakan emission imaging, material radioaktif memancarkan radiasi dari dalam tubuh pasien, diterima oleh detektor. Pencitraan kedokteran nuklir adalah suatu bentuk citra fungsional, memberi informasi kondisi fisiologi pasien. Sebagai contoh thallium cenderung terkonsentrasi pada jaringan sehat jantung, dan sedikit diserap dalam daerah jaringan yang infark dan ischemik. Daerah cold spot dalam citra menunjukkan status fungsi jantung. Dengan cara sama dan dengan berbagai material radioaktif dapat diperoleh berbagai fungsi organ. Radioisotop yang sering digunakan I dan Tc.

Nuclear Medicine Planar imaging, merupakan projection images. Citra dalam bentuk peta dua dimensi. SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography), untuk memperoleh citra dalam bentuk irisan. PET (Positron Emission Tomography), positron bermuatan positif, menghasilkan 2 foton dengan arah saling berlawanan (180). Umumnya radioisotop yang digunakan 18F dibuat dalam senyawa FDG (fluorodeoxyglycose). Sistem detektor PET lebih sensitif dibanding dengan yang digunakan oleh SPECT, dapat mendeteksi patologis sangat lemah. PET dikenal sebagai molecular imaging.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pencitraan memanfaatkan proton yang memiliki momen magnet. Dalam medan magnet 1.5 T proton akan menyerap energi gelombang radio dan terjadi resonansi pada frekuensi 63 MHz. MRI menghasilkan citra irisan tubuh, umumnya digunakan untuk neurologic imaging (head and spine) dan musculoskeletal application. Akuisisi citra MRI dengan kualitas tinggi memerlukan waktu lama sekitar 10 menit, sedangkan dengan CT hanya 10 sekon. Oleh karenanya MRI tidak bagus untuk anak kecil, untuk daerah anatomi yang bergerak (misalnya jantung). Karena menggunakan medan magnet tinggi, pemeriksaan terbatas (tidak diperkenankan pasien yang menggunakan pacemakers, internal ferromagnetic objects) Teknik akuisisi cepat dengan menggunakan lilitan spesial memungkinkan memperoleh citra MRI dalam waktu relatif singkat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk MR angiography (untuk mengamati aliran darah dalam arteri). Pencitraan Ultrasound Pencitraan dengan gelombang ultrasound berdasarkan pantulan dari batas antar organ dalam tubuh. Transduser bertindak sebagai penghasil gelombang ultrasound dan juga sebagai detektor. Interface atau batas antara jaringan dan udatra mempunyai daya pantul (echoic) tinggi, sehingga sedikit gelombang yang dapat menembus dari jaringan ke dalam cavity berisi udara seperti paru. Demikian pula untuk interface antara jaringan dengan tulang, sehingga pencitraan USG tidak efektif misalnya untuk brain imaging.