Anda di halaman 1dari 17

Askep Hipertiroid

BAB I PEMBAHASAN A. DEFINISI Hipertiroid adalah suatu keadaan hipermetabolik disebut juga tirotoksikosis, terjadi akibat kelebihan sekresi tiroksin (T4) atau triiodotironin (T3). (Barbara, C. Long, 1996: 265) Hipertiroid adalah kadar HT dalam darah yang berlebihan. (Corwin, 2000: 263) Hipertiroidisme adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang merupakan akibat dari produksi hormone tiroid yang berlebihan. (Doenges, M. E, 2000: 708) Hipertiroid adalah keadaan di mana kadar hormone tiroid yang berlebihan dan terlalu aktif. (http://www.jkn perak.gov.my/bm/modules.php?) Hipertiroidisme adalah keadaan di mana produksi hormon tiroksin berlebihan. (Ranakusuma, A. B, 1992: 24-25) Hyperthiroidism is characterized by overactivity of the thyroid gland, hipersecretion of thyroid hormone, and increased body metabolism and heat production. (Luckman and Sorensons, 1993: 1809) B. ETIOLOGI Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negative HT terhadap pelepasan keduanya. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipofisis memberikan gambaran kadar HT dan TSH yang tinggi. TRF akan rendah karena umpan balik negative dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang tinggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan. (Corwin, J. E, 2000: 263) Lebih dari 90% hipertiroidisme adalah penyakit Graves dan nodul tiroid toksik. Ada berbagai hal yang menjadi penyebab hipertiroid, antara lain: Biasa Penyakit Graves Nodul tiroid toksik: multinodular dan mononodular toksik Tiroiditis Tidak biasa Hipertiroidisme neonatal Hipertiroidisme faktisius Sekresi TSH yang tidak tepat oleh hipofisis: tumor, nontumor (syndrome

resistensi hormone tiroid) Yodium eksogen. Jarang Metastasis kanker tiroid Koriokarsinoma dan mola hidatidosa Struma ovarii Karsinoma testicular embrional Pilyostotic fibrous dysplasia (Sindrom Mc-Cune-Albright) (Mansjoer, A, 1999: 594) C. KLASIFIKASI 1. Penyakit Graves- Graves ialah nama orang yang pertama menemui penyakit ini. Penyakit Graves merupakan penyebab tersering hipertiroidisme merupakan suatu penyakit otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini yang disebut immunoglobulin perangsang tiroid (Thyroid-Stimulating Immunoglobulin), meningkatkan pembenukan HT.Badan pesakit yang mengalami hipertiroidisme selalu akan mengeluarkan antibody, yang kemudian akan merangsang kelenjar tiroid untuk menjadi aktif. Penyebab penyakit Graves tidak diketahui, namun tampaknya terdapat predisposisi genetic terhadap penyakit otoimun. Penyakit Graves biasanya terjadi pada usia sekitar 30-40 tahun dan lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria. 2. Penyakit multi nodular goiter Keadaan di mana wujud nodul pada tiroid dan berfungsi sama ada secara aktif, normal atau tidak aktif langsung. 3. Adenoma toksik Wujud satu nodul saja pada tiroid tetapi nodul itu aktif dan mengeluarkan hormone berlebih. (Corwin, J.E, 2000: 264; http://www.jkn perak.gov.my/bm/modules.php?) D. ANATOMI PATOLOGI Kelenjar tiroid adalah salah satu kelenjar getah bening yang terletak di daerah leher, berdekatan dengan nervus laryngeus rekurrens dan kelenjar paratiroid. Kelenjar ini merupakan kelenjar terbesar dan terberat dibandingkan kelenjar lainnya.Terdiri dari dua bagian dengan berat kirakira 20-30 gram. Kelenjar tiroid ini kaya pembuluh darah dan terdapat sistem limfatik yang berada di dalam kelenjar. Terdapat kedua susunan saraf otonom, akan tetapi saraf simpatik lebih berperan. Sel yang mendominasi kelenjar ini adalah sel folikel. Hormon yang diproduksi adalah tiroksin (T4) dan triiodo-tironin (T3). Produksi hormon ini tergantung pada stimulasi dari tirotropin stimulating hormon (TSH) yang berasal dari hipofisis, di samping hormon ini kelenjar tiroid masih memproduksi tiroglobulin. Sifat hormon T3 dan T4 adalah meningkatkan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.

http://images.google.co.id/imgres? Fungsi utamanya adalah sebagai pemicu kelenjar-kelenjar lain agar berfungsi dengan baik, khususnya kelenjar yang berhubungan dengan pencernaan dn pertumbuhan. Gangguan yang timbul akibat kelenjar tiroid menjadi hiperaktif disebut thyrotoxocosis atau hiperaktif. Menurut para ahli, penyakit ini merupakan salah satu penyakit gangguan kelenjar getah bening yang paling banyak ditemukan. Penderitanya yang paling banyak adalah wanita berusia 20-40 tahun. Pada pemeriksaan laboratorium akan didapati peningkatan kadar hormone tiroid dalam darah.. (Ranakusuma, A. B, 1992: 23; ) http://www.jkn perak.gov.my/bm/modules.php? E. PATOFISIOLOGI Tiroid hiperaktif (hipertiroidisme) terjadi karena produksi hormon tiroid yang berlebihan. Pada sebagian besar pasien, hipertiroidisme terjadi akibat adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon tiroid yang berlebihan, tetapi juga ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Penyebab adanya antibodi tersebut belum diketahui, mungkin ada kaitannya dengan faktor keturunan. Produksi hormon tiroid yang berlebihan terjadi dengan sendirinya tanpa kendali dari TSH. Jenis hipertiroidisme ini disebut penyakit Graves. Pada penyakit Graves terdapat 2 kelompok gambaran utama, tiroidal dan ekstratiroidal, dan keduanya mungkin tidak tampak. Ciri-ciri tiroidal berupa goiter akibat hyperplasia kelenjar tiroid dan hipertiroidisme akibat sekresi hormone tiroid yang berlebihan. Gejala-gejala hipertiroid berupa manifestasi hipermetabolisme dan aktivitas simpatis yang berlebihan, manifestasi ektratiroidal berupa oftalmopati dan infiltrasi kulit local yang biasanya pada tungkai bawah. Jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limfosit, sel mast, dan sel-sel plasma yang mengakibatkan eksoftalmoa, okulopati kongestif dan kelemahan gerakan ekstra ocular. Goiter nodular toksik paling sering ditemukan pada pasien lanjut usia sebagai komplikasi goiter nodular kronik. Pada pasien-pasien ini hipertiroidisme timbul secara lambat dan manifestasi klinisnya lebih ringan daripada penyakit Graves. Penderita mungkin mengalami aritmia dan gagal jantung yang resisten terhadap terapi digitalis. Penderita dapat pula memperlihatkan bukti-bukti penurunan BB, lemah, dan pengecilan otot. Penderita goiter nodular toksik memperlihatkan tanda-tanda mata melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan mata berkurang akibat aktivitas simpatis yang berlebihan. Penderita hipertiroidisme berat dapat mengalami krisis atau badai tiroid yang bias membahayakan kehidupan. Apabila terdapat manifestasi klinis hipertiroidisme, maka tes laboratorium akan menunjukkan pengambilan resin triyodotironin/T3 dan tiroksin serum yang tinggi, serta kadar TSH

serum rendah. Selain itu TSH tidak dapat memberikan respon terhadap rangsangan oleh TRH, suatu tiroid releasing hormone dari hipotalamus. (Price, S. A, 1995: 1074-1075) G. MANIFESTASI KLINIS Pada umumnya gejala klinik berupa: 1. Gangguan kardiopulmoner seperti: Berdebar-debar Hipertensi sistolik Tekanan nadi meningkat Kadang-kadang disertai sesak nafas 2. gangguan gastrointestinal Selera makan semakin bertambah Berat badan mulai menurun Kerap buang air besar/diare Malabsorpsi Sering berpeluh/berkeringat karena metabolisme meningkat 3. Gangguan saraf dan neuromuskular oleh kelebihan tiroksin Emosi labil Rasa gelisah Susah tidur Hiperkinetik (banyak bergerak) Lumpuh kaki, terutama di kalangan laki-laki. Penglihatan terjejas karena saraf mata tertekan Menggeletar jari tangan Mata melotot/bola mata menonjol terjadi akibat pembengkakan otot dan jaringan lemak di sekitar mata. 4. Kelainan kulit Biasanya kulit menjadi hangat, lembab dan terdapat hiperpigmentasi Kelainan pada jari tangan dan kulit pada depan betis 5. Gangguan tulang, sering ditemukan fraktur terutama pada pasien lansia oleh karena reabsorpsi kalsium usus menurun dan resorpsi tulang meningkat. 6. Gangguan sistem reproduksi Sering ditemukan menstruasi tidak teratur, infertilitas akan tetapi setelah hipertiroidisme terkendali lagi sistem reproduksi bisa kembali normal. (http://www.jkn perak.gov.my/bm/modules.php?; Ranakusuma, A. B, 1992: 24-25; Semiardji, G, 2003: 4) H. KOMPLIKASI Hipertiroid yang menyebabkan komplikasi terhadap jantung, termasuk fibrilasi atrium dan kelainan ventrikel akan sulit dikontrol. Pada orang Asia dapat terjadi episode paralysis yang diinduksi oleh kegiatan fisik atau masukan karbohidrat da adanya hipokalemia dapat terjadi sebagai komplikasi. Hiperkalsemia dan nefrokalsinosis dapat terjadi. Pria dengan hipertiroid dapat mengalami penurunan libido, impotensi, berkurangnya

jumlah sperma, dan ginekomastia. I. FOKUS PENGKAJIAN 1. Aktivitas / Istirahat Gejala : Insomnia, sensitivitas meningkat ; Otot lema, gangguan koordinasi ; Kelelahan berat Tanda : Atrofi Otot 2. Sirkulasi Gejala : Palpitasi, nyeri dada ( angina ) Tanda : Disritmia ( vibrilasi atrium ), irama gallop, murmur ; Peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat, takikardia ; Sirkulasi kolaps, syok ( krisis tirotoksikosis ) 3. Eliminasi Gejala : Urine dalam jumlah banyak , Perubahan dalam feses : diare 4. Integritas Ego Gejala : Mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik Tanda : Emosi labil ( euforia sedang sampai delirium ), depresi 5. Makanan / Cairan Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak ; Nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah Tanda : Pembesaran tiroid, goiter ; Edema non pitting terutama daerah pretibial 6. Neurosensori Tanda : Bicaranya cepat dan parau ; Gangguan status mental dan perilaku, seperti : bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma ; Tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak-sentak ; Hiperaktif refleks tendon dalam ( RTD ). 7. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri orbital, Fotofobia 8. Pernapasan Tanda : Frekuensi pernafasan meningkat, takipnea ; Dispnea ; Edema paru ( pada krisis tirotoksikosis ). 9. Keamanan Gejala : Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan ; Alergi terhadap iodium Tanda : Suhu meningkat diatas 37,4 C, diaforesis ; Kulit halus, hangat

dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus ; Eksoftalmus ; retraksi, iritasi pada lonjungtiva dan berair, Pruritus, lesi eritema ( sering terjadi pada pretibial ) yang menjadi sangat parah 10. Seksualitas Tanda : Penurunan libido, hipomenore, amenore dan impotent 11. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Adanya riwayat keluarga yang mengalami masalah tiroid ; Riwayat hipotiroidisme, terapi hormon tiroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadap pengobatab antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian ; Riwayat pemberian insulin yang menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung atau pembedahan jantung, penyakit yang baru terjadi ( pneumonia ), trauma, pemriksaan rontgen foto dengan zat kontras. J. PENATALAKSANAAN Pengobatan penderita hipertiroid dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan obat-obatan, pembedahan, maupun dengan menggunakan bahan radioaktif. Lamanya penanganan dengan obat-obatan bias sampai 12 bulan. Dengan pembedahan, hanya sebagian kelenjar yang diambil, sedangkan pengobatan dengan radioaktif tidak boleh dilakukan pada ibu hamil. Secara lengkap teknik pengobatannya yaitu: Beristirahat Untuk kasus-kasus yang ringan, cukup berobat jalan dengan observasi yang baik. Sedangkan untuk kasus-kasus yang berat, diperlukan istirahat total, lebih-lebih bila pasien direncanakan akan dioperasi. Makanan Pengaturan makanannya yaitu tinggi kalori, tinggi vitamin dan mineral serta cukup protein. Obat-obatan Apabila masalahnya berada di tingkat kelenjar tiroid, maka pengobatan yang diberikan adalah pemberian obat antitiroid yang menghambat produksi HT dan atau obat-obat penghambat beta untuk menurunkan hiperresponsivitas simpatis. Jenis obat-obatan yang biasanya diberikan di antaranya adalah: - Propiltourasi (PTU), 100 mg 3x sehari, sampai tercapai kondisi eutiroid (keadaan normal). Ini diberikan untuk menormalkan produksi hormone tiroidnya. - Fenobarbital yang berfungsi sebagai penenang atau obat tidur karena pasien biasanya gekisah dan tidak bias tidur. - Vitamin B kompleks diberikan karena kekurangan vitamin B adalah salah satu pemicu hipertiroid. Terapi yodium radioaktif Indikasi pengobatan dengan yodium radioaktif diberikan pada:

a. Pasien umur 35 tahun atau lebih b. Hipertiroidisme yang kambuh sesudah dioperasi c. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid. d. Tidak mampu atau tidak mau pengobatan dengan obat antitiroid e. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik Biasanya dilakukan pada penderita-penderita tertentu dan berusia di atas 40 tahun, yaitu apabila sering terjadi kekambuhan (relaps) setelah diterapi dengan obat-obatan, atau kekambuhan setelah operasi. Tindakan operasi Cara ini jarang dilakukan dokter karena beresiko tinggi. Komplikasi operasi yang mungkin terjadi ialah hipoparatiroid atau kadar kelenjar paratiroidnya menjadi rendah, paralysis (kelumpuhan) pita suara sehingga suara pasien menjadi hilang. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat sebagian ( bagian). Tetapi sebelum operasi dilakukan kadar hormon tiroid harus dinormalkan lebih dahulu dengan obat metimazol. Hal ini berguna untuk mengurangi resiko selama menjalani operasi. http://med.ege.edu.tr/alyidiz/ tirgrup/images/cer1.jpg Cara alami dengan membiasakan pola hidup sehat, terutama pada ibu hamil supaya janin sehat dan terhndar dari gangguan hipertiroid, sebaiknya hindari mengkonsumsi junk food dan berbagai macam makanan olahan (makanan kaleng, sosis, bakso, smoke beef, dll). Lebih baik memperbanyak buah dan sayur-sayuran. Bagi yang sudah menderita hipertiroid, pengaturan kembali pola makan tetap diperlukan, sebab beberapa penderita hipertiroid terbukti mengalami perbaikan dalam kondisinya dengan gejala tremor, berdebar-debar dan berkeringat setelah mengikuti pola makan food combainin. Menghindari stress yang tinggi, cukup tidur. (http://www.jkn perak.gov.my/bm/modules.php?) . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b.d Peningkatan beban kerja jantung 2. Kelelahan b.d hipermetabolik 3. Resiko tinggi terhadap kerusakan intergritas jaringan b.d kerusakan penutupan kelopak mata / eksolftalmus. 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolisme 5. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan INTERVENSI DAN RASIONALISASI 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b.d Peningkatan beban kerja jantung

Kriteria Hasil : mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisian kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritma. Intervensi : a. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan baring jika memungkinkan, perhatikan besarnya nadi Rasionalisasi : Hipotensi umum atau ortostatsik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi. b. Pantau CVP jika pasien menggunakannya Rasionalisasi : memberikan ukuran volume sirkulasi yang langsung dan lebih akurat dan mengukur fungsi jantung secar langsung pula. c. Kaji nadi atau denyut jantung saat pasien tidur Rasionalisasi : Memberikan hasil pengkajian yang lebih akurat untuk menentukan takikardia. d. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, pengisian kapiler lambat, penurunan produksi urine dan hipotensi Rasionalisasi : Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung. e. Timbang berat badan setiap hari, srankan untuk tirah baring, batasi aktivitas yang tidak perlu Rasionalisasi :Aktivitas akan meningkatkan kebutuhan metabolik / sirkulasi yang berpotensi menimbulkan gagal jantung. f. Berikan cairan melalui IV sesuai dengan indikasi Rasionalisasi : Pemberian cairan melalui IV dengan cepat perlu untuk memperbaiki volume sirkulasi tetapi harus diimbangi dengan perhatian terhadap tanda gagal jantung / kebutuhan terhadap pemberian zat inotropik. 2. Kelelahan b.d hipermetabolik Kriteria Hasil : Mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktivitas. Intervensi : a. Pantau tanda vital dan catat nadi baik saat istirahat maupun saat melakukan istirahat Rasionalisasi : Nadi secara luas meningkat dan bahkan saat istirahat, takikardia ( diatas 160 x / menit ) mungkin akan ditemukan. b. Ciptakan lingkungan yang tenang Rasionalisasi : Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif dan imsonia c. Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas dan meningkatkan istirahat ditempat tidurnya sebanyak-banyaknya jika memungkinkan

Rasionalisasi : Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme d. Diskusikan dengan orang terdekat keadaan lelah dan emosi yang tidak stabil ini Rasionalisasi : Mengerti bahwa tingkah laku tersebut secara fisik meningkatkan koping terhadap situasi saat itu dorongan dan saran orang terdekat untuk berespon secara positif dan berikan dukungan pada pasien e. Beriakn obat sesuai indikasi ( Sedatif ) Rasionalisasi : Untuk mengatasi keadaan gugup, hiperaktif dan imsonia 3. Resiko tinggi terhadap kerusakan intergritas jaringan b.d kerusakan penutupan kelopak mata / eksolftalmus. Kriteria Hasil : Mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus Mampu mengidentifikasi tindakan untuk memberikan perlindungan pada mata dan pencegahan komplikasi Intervensi : a. Observasi edema periorbital, gangguan penutupan kelopak mata, lapang pandang penglihatan yang sempit, air mata yang berlebihan Rasionalisasi : Manifestasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan berhubungan dengan tirotoksikosis yang memerlukan inetrvensi pendukung sampai resolusi krisis dapat menghilangkan simtomatologis. b. Evaluasi ketajaman mata Rasionalisasi : Munculnya gangguan penglihatan dapat memperburuk atau memperbaikai kemandirian terapi dan perjalanan klinis penyakit c. Anjurkan pasien mengguanakan kacamata gelap ketika bangun dan tutp dengan penutup mata selama tidur sesuai kebutuhan Rasionalisasi : Melindungi kerusakan korne jika pasien tidak dapa menutup mata denga sempurna karena edema atau karena fibrosis bantalan lemak. d. Instruksikan agar pasien melatih otot mata ekstra okular jika memungkinkan Rasionalisasi : Memperbaiki sirkulasi dan mempertahankan gerakan mata e. Berikan obat tetes mata metilselulosa Rasionalisasi : sebagai lubrikasi mata

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolisme Kriteria Hasil : Menunjukkan berat badan yang stabil disertai dengan nilai laboratorium yang normal dan terbebas dari tanda-tanda malnutrisi

Intervensi : a. Auskultasi bising usus Rasionalisasi : Bising usus hiperaktif mencerminkan peningkatan motilitas lambung yang menurunkan fungsi absorbsi. b. Catat dan laporkan adanya anoreksia, kelemahan umum, nyeri abdomen, munculnya mual muntah Rasionalisasi : Peningkatan aktivitas adrenergik dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin. c. Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang BB setiap hari serta laporkan adanya penurunan. Rasionalisasi : penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terapi anti tiroid. d. Dorong pasien untuk makan dan meningkatkan jumlah makan dengan menggunakan TKTP Rasionalisasi : Membantu menjaga pemasukan kalori cukup tinggi yang disebabkan adanya hipermetabolik e. Hindarai pemberian makanan yang dapat meningkatkan peristaltik usus ( Teh, kopi dan makanan berserat ). Rasionalisasi : Peningkatan motilitas saluran cerna dapat mengakibatkan diare dan gangguan absorbsi nutrisi f. Berikan obat sesuai indikasi : glukosa, vitamin B complex. Rasionalisasi : Diberikan untuk memenuhi kalori yang diperlukan dan mencegah atau mengobati hipoglikemia 5. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan Kriteria Hasil : Pasien megatakan mengerti tentang proses penyakit dan pengobatannya. Mengidentifikasi hubungan antara tanda dan gejala pada proses penyakit dan hubungan gejala dengan faktor penyebabnya Memulai perubahan pola hidup yang penting dan berpartisipasi dalam tindakan pengobatan Intervensi : a. Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa datang Rasionaliasasi : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menentukan pilihab berdasarkan informasi b. Berikan informasi yang tepat dengan keadaan individu Rasionalisasi : Berat ringannya keadaan, penyebab, usia dan komplikasi yang muncul akan menentukan tindakan pengobatan c. Identifikasi sumber stress dan diskusikan faktor pencetus krisis tiroid yang terjadi Rasionalisasi : Faktor psikogenik seringkali sangat penting dalam memunculkan / eksaserbasi dari penyakit ini d. Tekankan pentinganya perencanaan waktu istirahat Rasionalisasi : mencegah munculnya kelelahan, menurunkan kebutuhan

metabolisme. e. Tekanken pentingnya evaluasi medik secara teratur Penting sekali untuk menentukan efektivitas dari terapi dan pencegahan terhadap kompliaksi fatal yang sangat potensial terjadi.. DAFTAR PUSTAKA Barbara, C. Long.1996. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan ),Yayasan Ikatan Allumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran: Bandung Corwin, E,J, 2000, Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta Doenges, M,E,2000, Rencana Asuhan Kepeawatan pedoman Untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan pasien, EGC : Jakarta Luckman and Sorensons. 1993. Medical Surgical Nursing, Fourth Edition: America.

berkunjung

Jumat, 29 Mei 2009


Askep Ibu hamil dengan Hypertiroid
ASUHAN KEPEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI A. Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %, kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan. Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru, timbul dalam masa kehamilan. Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal. Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal, penyakit tulang atau tanpa gejala. 1. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat. 2. Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan - Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) - Partus prematurus - Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial, karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis. B. Etiologi Hipertiroid :

- Pembesaran kelenjar tiroid - Hiperfungsi kelenjar tiroid - Peningkatan metabolism basal 15-20 % C. Tanda dan gejala Hipertiroid : - Eksoftalmus - Tremor - Takikardia - Pembesarankelenjar tiroid - Hiperkinesis - Kenaikan BMR sampai 25 % - Aneroksia - Lekas letih - Kesulitan dalam menelan - Mual dan muntah - Konstipasi - Hiptonik obat D. Penatalaksanaan - Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah - Operasi tiroidektomi, lakukan pada trimester III E. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. F. Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan, tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %, bila keluhan menjadi ringan, diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu, yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya. ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Pemeriksaan Fisik : a. Kulit 1) Panas, lembab, banyak keringat, halus, licin, mengkilat, kemerahan. 2) Erythema, pigmentasi, mixedema local. 3) Kuku terjadi onycholosi terlepas, rusak. 4) Ujung kuku/jari terjadi Aerophacy, yaitu perubahan ujung jari tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. 5) Kalau ada peningkatan suhu lebih dari 37,8o C indikasi Krisis Tyroid.

b. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas mata membelalak / tanda Dalrymple. 2) Proptosis ( eksoptalmus ), karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit. 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. c. Cardio vaskuler. 1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung d. Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e. Gastrointestinal 1) Poliphagia nafsu makan meningkat. 2) Diare bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g. Sistem persyarafan

1) Iritabiltas gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h. Status mental dan emosional 1) Emosi labil lekas marah, menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ). 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan banyak minum ) j. Status reproduksi 1) Pada wanita : a. Hypomenorrhoe b. Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a. Kehilangan libido b. Penurunan potensi k. Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ). 2) Briut ( + ). 2. Pemeriksaan Diagnostik a. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 16 g. T4 4-11 g ) b. TSH serum menurun c. Tyroid radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. BMR meningkar e. PBI meningkat ( Normal :4 g - 8 g, hypertiroid > 8 g, hypertiroid < g) B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare, mual, nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun, diaporesis. Tujuan : nutrisi adekuat. Intervensi : a. Pantau masukan diet tinggi kalori, tinggi protein, tinggi karbohidrat, tinggi vitanin B. b. Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. c. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai.

d. Hindari stimulan : kopi, the, cola, atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. e. Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. f. Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari ; hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare. g. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. h. Timbang pasien setiap hari, pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama. i. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam. j. Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen ;tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen; tidak mengalami diare; masukan dan haluaran seimbang. 2. Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas. Tujuan : suhu normal 36,5oC 37,5oC. Intervensi ; a. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan. b. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis. c. Pertahankan lingkungan yang sejuk. d. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : - Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. e. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. g. Pantau tanda vital, tingkat kesadaran, halyaran urine setiap 2 sampai 4. h. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. Hasil yang diharapkan /evaluasi : a. Pasien sadar dan responsif b. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. 3. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. Intervensi : a. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. b. Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar

). c. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. d. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. e. Berikan peralatan yang dibutuhkan, kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. f. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea, takipnea, takikardia, keletihan. g. Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. h. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. b. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. 4. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil, peka rangsang, gugup. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. Intervensi : a. Kaji tingkat kesadaran, orientasi, afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. b. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. c. Berikan lingkungan yang stabil, tenang, tanpa stress, dan tidak merangsang. 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. 4) Hindari pergantian personel yang sering. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d. Rencanakan perawatan bersama pasien; berikan penjelasan yang jelas dan singkat. e. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif. f. Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. g. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. h. Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan ; hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus. i. Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam, kalender, gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ). j. Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan. Hasil yang diharapkan :

a. Pasien berorientasi b. Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. Menggunakan teknik reduksi stress Diposkan oleh Agung Hidayat di 02:16 Label: Askep Maternitas

0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini