Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN PRAKTIKUM PENYEHATAN UDARA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penyehatan Udara Semester Tiga Kelas Non-Reguler

Disusun oleh : 1. Joko Harjono 2. Khafid Anwar C 3. Lina Hanarisanty 4. Linda Anggraini P 5. Maria Pradnyayu 6. Nia Utami P07133110066 P07133110067 P07133110070 P07133110071 P07133110073 P07133110076 7. Okvendri Abrihari 8. Pratiwi Anggun M 9. Priestiana Mugi R 10. Ratna Purwanti 11. Rindy Astike D 12. Riza Nurita A P07133110079 P07133110080 P07133110081 P07133110082 P07133110083 P07133110084

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga tugas penyusunan laporan penyehatan udara dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini terwujud atas bimbingan, saran dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada: 1. Dr. Hj. Lucky Herawati, SKM.MSc, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta 2. Tuntas Bagyono, SKM,M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI Yogyakarta 3. Sri Muryani, SKM, M. Kes dan Sigid Sudaryanto, SKM, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Penyehatan Udara 4. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan dan doa 5. Teman-teman baikku yang selalu semangat memberikan dukungan dan bantuannya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan Laporan Penyehatan Udara ini. Harapan penulis semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, Desember 2011

Penyusun

PRAKTIKUM I UJI EMISI KENDARAAN BERMOTOR

Hari,tanggal

: Senin, 21 November 2011

Lokasi Praktik : Depan Laboratorium Rekayasa A. Tujuan 1. Untuk mengetahui dan menganalisis kandungan dari gas buangan kendaraan bermotor 2. Untuk mengetahui cara menguji gas buangan dari kendaraan bermotor roda dua yang berbahan bakar bensin 3. Untuk mengetahui dan membandingkan antara persentase gas buangan dengan baku mutu emisi sumber bergerak (kendaraan bermotor roda dua)

B. Landasan Teori Emisi adalah gas hasil dari pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. Dalam uji emisi sumber bergerak bertujuan untuk mengetahui berapa banyak kandungan (gas buang/partikulat) yang terdapat pada sumber bergerak seperti mobil dan motor. Dengan uji ini dapat diketahui layak atau tidaknya kendaran bermotor untuk beroperasi. Alat yang digunakan pada uji emisi sumber bergerak menggunakan alat autocheck. Autocheck dapat juga digunakan pada udara bebas untuk mengetahui kandungankandungan yang terdapat pada udara bebas. Dalam autocheck yang diperiksa antara lain kandungan CO2,CO,HC,O2 dan NOx yang terdapat pada kendaraan bermotor (motor). Pencemaran kendaraan bermotor saat ini makin terasa. Pembakaran bensin dalam kendaraan bermotor merupakan lebih dari separuh penyebab polusi udara. Disamping monoksida, juga dikeluarkan nitrogen oksida, belerang oksida, partikel padatan dan senyawa-senyawa fosfor timbal. Senyawa ini selalu terdapat dalam bahan bakar dan minyak pelumas mesin.

Rancangan mesin dan macam bensin ikut menentukan akan jumlah pencemar yang timbul. Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau tetapi sangat berbahaya. Kadar 10 bpj CO dalam udara dapat menyebabkan manusia sakit. Dalam waktu setengah jam 1300 ppm dapat menyebabkan kematian. Setiap lima liter bensin dapat menghasilkan 1-1,5 kg CO. Jika kita duduk di udara dengan kadar 60 bpj CO selama 8 jam, maka kemampuan mengikat O2 oleh darah kita akan turun sebanyak 15 %. Sama dengan kehilangan darah sebanyak 0,5 liter. Pencemaran paling buiruk ialah bahan bakar yang kualitas rendah dan murah, karena mengandung belerang yang tinggi. Jika konsentrasi SO2 naik, orang akan merasa terganggu. Kadar 6 bpj SO2 akan melumpuhkan dan merusak organ pernapasan. Pembakaran bensin akan lebih efisien jika kendaraan bermotor dilarikan dengan kecepatan yang konstan dan mengurangi frekuensi pengereman serta menstarter. Pemeliharaan mesin dan penyetelan mesin yang teratur akan menambah efisiensi kerja kendaraan bermotor. Pembakaran bensin yang tidak sempurna akan menghasilkan banyak bahan yang tidak diinginkan dan meningkatkan pencemaran.

C. Alat dan Bahan 1. Autochek 2. Kendaraan bermotor 3. Alat Tulis

D. Langkah Kerja 1. Menghubungkan autochek dengan sumber listrik. 2. Menghidupkan kendaraan bermotor dan kemudian menunggu selama 5 menit. 3. Menghidupkan autochek dengan menekan tombol on kemudian pilih gas. Akan muncul kategori CO2, CO, HC, O2 dan NO2.

4. Menekan enter dan memasukkan pipa autochek ke dalam knalpot kendaraan bermotor yang akan diuji emisinya. 5. Menunggu hingga autocheck berbunyi. 6. Setelah autochek berbunyi, maka mengeluarkan pipa autochek dari knalpot kendaraan. 7. Setelah itu akan muncul hasil dari uji emisi yang diuji. 8. Menekan enter tunggu hingga keluar print out hasil uji emisi yang didalamnya juga terdapat standar baku mutu

E. Hasil Pengamatan Baku Mutu Gas Buang Kendaraan Bermotor PARAMETER CO2 CO HC O2 AFR Hasil Uji Emisi Kendaraan Bermotor Plat nomor AB 6759 WE AB 2531 WT AD AB AD 6264 NJ Nama Pemilik Sri K Santika N Pratiwi Anggun M Tomi S Nopiyanto Jenis Kendaraan dan tahun Pembelian Supra X 125 R (2010) Yamaha Mio (2010) Honda Vario Combi Break (2011) Satria (1998) Honda Vario (2010) CO2 (%) 0,00 1,38 0,50 0,00 1,53 CO (%) 2,92 5,58 9,96 4,38 6,89 HC (ppm) 1917 2045 2376 3698 2186 O2 (%) 6,60 7,18 6,50 6,12 6,51 AFR 5,00 15,60 10,63 5,00 13,48 STANDARD GAS LIMID 0,00% 4,50% 2400 ppm 10,97% 5,00

F. Pembahasan Dalam praktik uji emisi sumber bergerak (kendaraan bermotor) dengan menggunakan autocheck kita dapat melihat mekanisme pelaksanaan uji emisi kendaraan, pemeriksan dilakukan satu persatu pada knalpot motor yang ingin diuji. Pada uji emisi sumber bergerak kita menguji kadar seperti CO2, CO, HC, O2 yang terkandung dari hasil pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor dalam uji emisi ini kendaran bermotor, yang meliputi : 1. Supra X 125 R, volume gas buang yang dikeluarkan semuanya tidak melebihi baku mutu gas buang kendaraan bermotor. Hal tersebut bisa dilihat dari data hasil uji emisi yang dibandingkan dengan baku mutu yang ada. Hasil uji emisi terhadap motor ini adalah CO2 menunjukkan angka 0,00 % ; sudah memenuhi standar baku mutu. CO menunjukkan angka 2,92 % ; sedangkan standar baku mutunya adalah 4,50 % ,sudah memenuhi standar baku mutu. AFR dalam uji emisi menunjukkan angka 5,00 ; artinya sudah memenuhi standar baku mutu yaitu 5,00. Untuk HC dan O2 angka hasil uji emisi masih berada di bawah angka baku mutu atau masih angka aman. 2. Yamaha Mio, volume gas buang yang dikeluarkan oleh motor ini ada yang melebihi baku mutu yaitu CO2, CO dan AFR. CO2 hasil uji emisi menunjukkan angka 1,38% ; padahal standar baku mutu adalah 0,00%. CO hasil emisi menunjukkan angka 5,58% ; sedangkan standar baku mutunya adalah 4,50%. AFR dalam uji emisi menunjukkan angka 15,60 ; artinya jauh dari standar baku mutu yaitu 5,00. Untuk HC dan O2 angka hasil uji emisi masih berada di bawah angka baku mutu atau masih angka aman. 3. Honda Vario Combi Break, volume gas buang yang dikeluarkan oleh motor ini ada yang melebihi baku mutu yaitu CO2, CO dan AFR. CO2 hasil uji emisi menunjukkan angka 0,50% ; padahal standar baku mutu adalah 0,00%. CO hasil emisi menunjukkan angka 9,96% ; sedangkan standar baku mutunya adalah 4,50%. AFR dalam uji emisi menunjukkan angka 10,63 ; artinya jauh melebihi standar baku mutu yaitu 5,00. Untuk O2 angka hasil uji emisi masih aman atau dibawah standar baku mutu, sedangkan untuk HC

angka menunjukkan 2376 ppm, artinya tidak melebihi baku mutu hanya saja masih terlalu tipis selisihnya dari angka standar yaitu 2400 ppm. 4. Satria, volume gas buang yang dikeluarkan oleh motor ini ada yang melebihi baku mutu yaitu HC. HC dalam dalam uji emisi menunjukkan angka 3698 ppm, yang artinya melebihi ketentuan baku mutu yaitu 2400 ppm. Untuk CO2, O2 dan AFR angka hasi uji emisi masih di bawah standar baku mutu sehingga masih aman. Sedangkan untuk CO angka hasil uji emisi menunjukkan 4,38% ; yang memiliki selisih tipis dengan standar baku mutu CO yaitu 4,50%. 5. Honda Vario, volume gas buang yang dikeluarkan oleh motor ini ada yang melebihi baku mutu yaitu CO2, CO dan AFR. CO2 hasil uji emisi menunjukkan angka 1,53% ; padahal standar baku mutu adalah 0,00%. CO hasil emisi menunjukkan angka 6,89% ; sedangkan standar baku mutunya adalah 4,50%. AFR dalam uji emisi menunjukkan angka 13,48 ; artinya jauh melebihi standar baku mutu yaitu 5,00. Untuk O2 angka hasil uji emisi masih aman atau dibawah standar baku mutu, sedangkan untuk HC angka menunjukkan 2186 ppm, artinya tidak melebihi baku mutu dari angka standar yaitu 2400 ppm.

G. Kesimpulan Dari hasil pemeriksaan uji emisi sumber bergerak (motor), kami mendapatkan kendaraan tersebut masih banyak menghasilkan gas buang yang volumenya melebihi baku mutu gas buang kendaraan bemotor. Berikut kesimpulan dari kelima motor yang dilakukan uji emisi : 1. Supra X 125 R 2. Yamaha Mio 3. Vario Combi Break 4. Satria 5. Honda Vario : Lulus Uji Emisi : Fail On CO2, CO dan AFR : Fail On CO2, CO dan AFR : Fail On HC : Fail On CO2, CO dan AFR

H. Saran 1. Kendaraan bermotor sebaiknya diuji emisi secara periodic untuk mengetahui kadar gas buangan 2. Diperlukan rekayasa knalpot untuk mengurangi jumlah polutan karena gas buangan kendaraan bermotor agar ramah lingkungan 3. Mengganti bahan bakar bensin (kadar Pb tinggi) dengan pertamax 4. Pengecekan atau perawatan mesin kendaraan bermotor secara berkala atau rutin.

PRAKTIKUM II PEMERIKSAAN KUALITAS FISIK UDARA RUANG ( Suhu dan Kelembaban, Intensitas Cahaya, Kebisingan ) I. Pengukuran Suhu dan Kelembaban Hari,tanggal Lokasi A. Tujuan 1. Agar mahasiswa terampil menggunakan atau mengoperasikan alat 2. Agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran suhu dan kelembaban 3. Agar mahasiswa dapat menentukan kriteria suhu dan kelembaban ruang berdasar persyaratan : Senin, 28 November 2011 : Lab.Hyperkes

B. Landasan Teori Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata rata dari pergerakan molekul molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda benda lain atau menerima panas dari benda benda lain tersebut. Dalam sistem dua benda, benda yang kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih tinggi. Dasar pengukuran suhu adalah alat pengukur suhu disebut termometer. Termometer dibuat dengan mendasarkan sifat sifat fisik dari suatu zat (bahan), misalnya pengembangan benda padat, benda cair, gas dan juga sifat merubahnya tahanan listrik terhadap suhu. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu suhu yang tinggi disebut Pyrometer, misalnya Pyrometer radiasi, digunakan untuk mengukur suhu benda yang panas dan tidak perlu menempelkan alat tersebut pada benda yang diukur suhunya. Suhu tidak berdimensi sehingga untuk mengukur derajat suhu, pertama tama ditentukan 2 titik tertentu yang disesuaikan dengan suatu

sifat fisik suatu benda tertentu. Kemudian diantara dua buah titik yang telah di tentukan tersebut di bagi bagi dalam skala skala, yang menunjukan derajat derajat suhu. Skala skala tersebut merupakan pembagian suhu dan bukan satuan daripada suhu. Dengan demikian suhu 30C tidak berarti 3 x 10C, dan 10C berarti skala derajat C ke sepuluh. Skala Suhu Titik es adalah suhu dimana es murni mulai mencair di bawah tekanan dari luar 1 atmosfer standar (normal) yaitu tekanan yang dapat menahan berat sekolom air raksa setinggi 76 cm atau 1013,250 mb. Sedangkan yang dimaksud titik uap adalah suhu dimana air murni mulai mendidih dibawah tekanan dari luar 1 atmosfer standar. Skala suhu yang biasa digunakan yaitu : 1.Skala Celsius, dengan titik es 0C dan titik uap 100C dan dibagi menjadi 100 bagian (skala). 2.Skala Fahreinheit, dengan titik es 32F dan titik uap 212F, dibagi menjadi 180 bagian (skala). Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30 C (86 F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0 C (32 F). Kelembaban udara dalam ruang tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan. Pengaturan kelembaban udara ini didasarkan atas prinsip

kesetaraan potensi air antara udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruang tertutup dimasukkan larutan, maka air dari larutan tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi air larutan. Demikian pula halnya jika hidrat kristal garam-garam (salt cristal bydrate) tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup maka air dari hidrat kristal garam akan menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air (Lakitan, 1994). Higrometer adalah sejenis alat untuk mengukur tingkat kelembapan pada suatu tempat. Biasanya alat ini ditempatkan di dalam bekas (container) penyimpanan barang yang memerlukan tahap kelembapan yang terjaga seperti dry box penyimpanan kamera. Kelembapan yang rendah akan mencegah pertumbuhan jamur yang menjadi musuh pada peralatan tersebut. Higrometer juga banyak dipakai di ruangan pengukuran dan instrumentasi untuk menjaga kelembapan udara yang berpengaruh terhadap keakuratan alat-alat pengukuran.

C. Alat dan Bahan 1. Sling Psychrometer 2. Chart Psychrometer 3. Stop watch 4. Alat tulis

D. Langkah Kerja 1. Membasahi ujung benang sampai pada ujung termometer basah 2. Memutar sling psychrometer hingga benang menjadi basah uap selama 15 menit ( dilakukan 3x pengulangan ), pada saat memutar dilakukan di atas kepala 3. Membaca suhu pada termometer basah dan kering 4. Menambahkan suhu basah dan kering kemudian dibagi 2, sebagai suhu ruang 5. Mencocokkan dengan grafik suhu kelembaban

6. Cara membaca grafik : a) Menghitung / mengkonversikan suhu dari termometer (Celcius) menjadi suhu Fahrenheit b) Garis mendatar pada grafik menunjukkan suhu kering c) Garis diagonal menunjukkkan suhu basah d) Perpotongan antara suhu basah dan kering merupakan kelembaban e) Mengikuti garis melengkung sehingga diketahui kelembaban

E. Hasil Pengamatan Data suhu dan kelembaban : 1 titik dengan 3x pengulangan Dalam skala Celcius Suhu Pengulangan Suhu Suhu ruang ( ) basah (x) kering (y) 1. 2. 3. Rata-rata 270 C 27 0 C 260 C 300 C 29,50 C 290 C

28,50 C 28,250 C 27,50 C 28,08 0 C

26,66 0 C 29,5 0 C

Dalam skala Fahrenheit ,dengan rumus : = (9/5 x suhu 0C ) + 32 Pengulangan Suhu basah 1. 2. 3. Rata-rata 80,60 F 80,6 0 F 78,80 F 800 F Suhu kering 860 F 85,10 F 84,20 F 85,10 F

Dari pembacaan Chart Psychrometer dapat kita ketahui bahwa : Pengulangan Relative humidity (% ) 1. 2. 3. Rata-rata 78 82 78 79,33 Spesifik humidity (grains/lb) 150 154 140 148 41 42 39 40,66 Dew (0F) point

F. Pembahasan Suhu udara sangat berperan dalam kenyamanan bekerja karena tubuh manusia menghasilkan panas yang digunakan untuk metabolisme basal dan muskuler. Namun dari semua energi yang dihasilkan tubuh hanya 20 % saja yang dipergunakan dan sisanya akan dibuang ke lingkungan. Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu KepMenkes. No.261 bahwa
0

sesuai

suhu

yang dianggap nyaman untuk

suasana bekerja 18-26 C maka suhu rata-rata ruangan pada ruang kelas hyperkes belum memenuhi standar yaitu 28,08 C. Selain itu, suhu udara ruang kerja yang terlalu dingin dapat menimbulkan gangguan kerja bagi karyawan, salah satunya gangguan konsentrasi dimana pegawai tidak dapat bekerja dengan tenang karena berusaha untuk

menghilangkan rasa dingin tersebut. Kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang dari 20 % dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir membran, sedangkan kelembaban tinggi akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Hasil pengukuran rata-rata kelembaban relatif pada ruang kelas hyperkes 79,33 % .Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu sesuai KepMenkes No.261 dimana kelembaban ideal berkisar 40-60 %, maka kelembaban ruangan pada ruang kelas hyperkes belum memenuhi standar . Pada saat dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban dengan menggunakan sling psychrometer

seharusnya pada saat memutar sling psychrometer dilakukan di atas kepala menurut petunjuk penggunaan, tetapi dalam prakteknya tidak demikian. Selain itu, pembacaan pada Chart psychrometer mengalami kesulitan dalam hal penentuan hasil, kurang akurat dan tepat. Dalam praktik ini dilakukan pengulangan pengukuran suhu dan kelembaban sebanyak 3x, sehingga data yang diperoleh lebih valid karena bisa diambil perhitungan rata-rata. G. Kesimpulan Setelah dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban dan diulang sebanyak 3x dapat disimpulkan bahwa hasil suhu rata-rata ruang kelas di Lab. Hyperkes adalah sebesar 28,08 0C dan untuk kelembaban rata-ratanya adalah sebesar 79,33 %.

II.

Pengukuran Intensitas Cahaya

Hari,tanggal Lokasi A. Tujuan

: Senin, 28 November 2011 : Ruangan di Lab.Hyperkes

Mahasiswa dapat melakukan pengukuran pencahayaan dan menghitung tingkat pencahayan

B. Landasan Teori Cahaya adalah salah satu bentuk energi yang memungkinkan melihat segala sesuatu yang ada disekitar kita.Cahaya termasuk gelombang elektromagnetik, tidak memerlukan medium penghantar gelombang. Gangguan akibat pencahayaan yang tidak adekuat : 1. gangguan kenyamanan 2. meningkatnya kecelakaan 3. menurunnya produktivitas Gangguan akibat ultra violet yang berlebihan : 1. conjunctivitas 2. inflamasi kornea 3. necrasis retina 4. katarak CANDLE/CANDELA ( Cd ) : Satuan intensitas sebuah sumber cahaya . Banyaknya cahaya yang dipancarkan oleh nyala lilin standart (massa = 1/6 pound, cepat pembakaran 7,8 gr/jam) LUMEN ( lm ) : Banyaknya flux cahaya yang diperlukan un-tuk menerangi bidang seluas 1 ft2 dengan kekuatan 1 Fc Intensitas cahaya adalah besaran pokok fisika untuk mengukur daya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu per satuan sudut. Satuan SI dari intensitas cahaya adalah Candela (Cd). Dalam bidang

optika dan fotometri (fotografi), kemampuan mata manusia hanya sensitif dan dapat melihat cahaya dengan panjang gelombang tertentu (spektrum cahaya nampak) yang diukur dalam besaran pokok ini. Alat ukur cahaya (lux meter) adalah alat yang digunakan untuk mengukur besarnya intensitas cahaya di suatu tempat. Besarnya intensitas cahaya ini perlu untuk diketahui karena pada dasarnya manusia juga memerlukan penerangan yang cukup. Untuk mengetahui besarnya intensitas cahaya ini maka diperlukan sebuah sensor yang cukup peka dan linier terhadap cahaya. Sehingga cahaya yang diterima oleh sensor dapat diukur dan ditampilkan pada sebuah tampilan digital. Tingkat pencahayaan suatu ruangan dapat mempengaruhi produktifitas kerja kita. Biasanya, kita ingin mendapatkan kenyamanan dalam sebuah ruangan. Kenyamanan tersebut dapat ditentukan dari tingkat suhu dan tingkat pencahayaan yang kita harapkan. Bila suhu ruangan dapat kita ukur dengan termometer, maka tingkat pencahayaan dapat diukur dengan lux meter. Kebutuhan pencahayaan berbeda di setiap ruangan. Aktifitas dan pekerjaan yang dilakukan akan mempengaruhi kebutuhan pencahayaan ruangan. Misalnya, kita hanya butuh cahaya yang untuk membaca, maka kita tidak perlu menyediakan cahaya yang dibutuhkan untuk menggambar arsitek. Namun, ruang baca membutuhkan tingkat pencahayaan lebih besar dibandingkan ruang tidur. Demikian halnya, ruang komputer membutuhkan tingkat pencahayaan lebih besar dari pada kamar mandi. Tujuan penggunaan lux meter adalah agar tingkat pencahayaan ruangan sesuai dengan fungsi ruangan. Fungsi ruangan yang dimaksud adalah jenis aktifitas yang dilakukan di dalam ruangan tersebut. Bila tingkat pencahayaan ruangan telah sesuai dengan fungsinya, dan ruangan tidak terlalu terang dan tidak terlalu redup untuk suatu pekerjaan tertentu, berarti efisiensi energi untuk penerangan telah dicapai. Badan Standarisasi Nasional telah membuat standar tingkat pencahayaan rata-rata. Hal ini telah tertuang dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 03-6197-2000 tentang

konservasi energi pada sistem pencahayaan. SNI tersebut menyebutkan tingkat pencahayaan yang dianjurkan untuk masing-masing fungsi ruangan. Lux meter digunakan untuk mengukur tingkat iluminasi. Hampir semua lux meter terdiri dari rangka, sebuah sensor dengan sel foto, dan layer panel. Sensor diletakkan pada sumber cahaya. Cahaya akan menyinari sel foto sebagai energi yang diteruskan oleh sel foto menjadi arus listrik. Makin banyak cahaya yang diserap oleh sel, arus yang dihasilkan lebih besar. Kunci untuk mengingat tentang cahaya adalah cahaya selalu membuat beberapa jenis perbedaan warna pada panjang gelombang yang berbeda. Oleh karena itu, pembacaan merupakan kombinasi efek dari semua panjang gelombang. Standar warna dapat dijadikan referensi sebagai suhu warna dan dinyatakan dalam derajat Kelvin. Standar suhu warna untuk kalibrasi dari hampir semua jenis cahaya adalah 2856 derajat Kelvin, yang lebih kuning dari pada warna putih. Berbagai jenis dari cahaya lampu menyala pada suhu warna yang berbeda. Pembacaan lux meter akan berbeda, tergantung variasi sumber cahaya yang berbeda dari intensitas yang sama. Hal ini menjadikan, beberapa cahaya terlihat lebih tajam atau lebih lembut dari pada yang lain. C. Alat dan Bahan 1.Lux meter 2.Alat tulis D. Langkah Kerja 1.Menentukan titik sampling yang baik, jarak dari dinding minimal 1 meter 2.Meletakkan/pegang sound level meter pada ketinggian 1-1,2 meter 3.Mengarahkan sensor ke sumber cahaya 4.Menghidupkan lux meter dengan menggeser tombol switch on/off yang telah dikalibrasi dengan membuka penutup sensor 5.Membawa alat ke tempat titik pengukuran yang telah ditentukan, baik pengukuran untuk intensitas penerangan setempat atau umum.

6.Mengatur range sesuai kuat pencahayaan 7.Membaca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu beberapa saat sehingga didapat nilai angka yang stabil. 8.Mencatat hasil pengukuran 9.Matikan luxmeter setelah selesai dilakukan pengukuran intensitas cahaya.

E. Hasil Pengamatan No Ruang (lux) kelas Ruang Bpk.Urip (lux) 1. 2. 3. 4. 5. 31,41 23,38 22,36 36,11 39,1 34,86 34,79 29,44 33,48 30,37 32,588 Ruang Reaction Time (lux) 53,1 110,2 118,4 30,66 32,13 68,898

Rata2 30,472

F. Pembahasan Pemeriksaan tingkat pencahayaan dilakukan pada tiga ruang berbeda yang terdapat di Lab. Hyperkes diantaranya ruang kelas, ruang reaction time, dan ruang dosen Bpk.Urip . Karena luas masing-masing ruangan kurang dari 5 x 8 m maka diambil 5 titik pemeriksaan dan setiap ruangan memiliki tingkat pencahayaan yang berbeda-beda. Setelah dilakukan perhitungan tingkat pencahayaan pada tiga ruang yang telah ditentukan apabila dibandingkan dengan baku mutu yang ada menurut Menkes/SK/XI/2002 yang menyatakan bahwa tingkat pencahayaan ruang yang baik adalah sebesar 100-300 lux maka ketiga ruang yang diperiksa tingkat pencahayaan nya belum memenuhi standar baku mutu karena hasilnya di bawah 100 lux.

G. Kesimpulan Setelah dilakukan pengukuran tingkat pencahayaan di tiga ruangan yang ada pada Lab. Hyperkes dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata pencahayaan yang tertinggi terdapat pada ruang reaction time sebesar 68,89 lux dan nilai rata-rata pencahayaan yang paling rendah adalah ruang kelas sebesar 30,472 lux. Sedangkan untuk ruang satunya yaitu ruangan dosen Bpk.Urip tingkat pencahayaan sebesar 32,58 lux.

III.

Pengukuran Kebisingan

Hari,tanggal A. Tujuan

: Senin, 28 November 2011

Mahasiswa terampil melakukan pengukuran tingkat kebisingan

B. Landasan Teori Kebisingan adalah semua suara/bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Kwalitas suatu bunyi ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi dinyatakan dalam jumlah getaran perdetik ( Hertz,Hz ), sedangkan intensitas atau arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang disebut desibel ditulis dBA atau dB(A). Untuk mengukur kebisingan di lingkungan kerja dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sound Level Meter. Ada tiga cara atau metode pengukuran akibat kebisingan di lokasi kerja. 1. Pengukuran dengan titik sampling Pengukuran ini dilakukan bila kebisingan diduga melebihi ambang batas hanya pada satu atau beberapa lokasi saja. Pengukuran ini juga dapat dilakukan untuk mengevalusai kebisingan yang disebabkan oleh suatu peralatan sederhana, misalnya Kompresor/generator. Jarak pengukuran dari sumber harus dicantumkan, misal 3 meter dari ketinggian 1 meter.

2.

Pengukuran dengan peta kontur Pengukuran dengan membuat peta kontur sangat bermanfaat dalam

mengukur kebisingan, karena peta tersebut dapat menentukan gambar tentang kondisi kebisingan dalam cakupan area. Pengukuran ini dilakukan dengan membuat gambar isoplet pada kertas berskala yang sesuai dengan pengukuran yang dibuat. Biasanya dibuat kode pewarnaan untuk menggambarkan keadaan kebisingan, warna hijau untuk kebisingan dengan

intensitas dibawah 85 dBA warna orange untuk tingkat kebisingan yang tinggi diatas 90 dBA, warna kuning untuk kebisingan dengan intensitas antara 85 90 dBA. 3. Pengukuran dengan Grid Untuk mengukur dengan Grid adalah dengan membuat contoh data kebisingan pada lokasi yang di inginkan. Titiktitik sampling harus dibuat dengan jarak interval yang sama diseluruh lokasi. Jadi dalam pengukuran lokasi dibagi menjadi beberpa kotak yang berukuran dan jarak yang sama, misalnya : 10 x 10 m. kotak tersebut ditandai dengan baris dan kolom untuk memudahkan identitas. C. Alat dan Bahan 1. Sound level meter 2. Alat tulis 3. Stop watch 4. Formulir Bis 1 5. Formulir Bis 2

D. Langkah Kerja 1. Menentukan titik sampling yang baik, jarak dari dinding pemantul 2-3 meter 2. Mengecek baterai sound level meter dengan memggeser tombol power 3. Meletakkan sound level meter pada ketinggian 1-1,2 meter dan mengarahkan mikrofon ke sumber suara 4. Menghidupkan SLM dengan tombol switch on/off 5. Stel respon F (fast) pada jenis kebisingan kontinue dan S pada kebisingan fluktuatif 6. Selanjutnya mencatat angka yang muncul pada display setiap 5 detik terakhir 7. Mencatat dan memasukkan pada formulir bis-1 8. Melakukan pengukuran selama 10 menit,(120 angka) 9. Melakukan pengelompokan hasil pengukuran dengan formulir bis-2

10.

Menghitung tingkat kebisingan dengan rumus sebagai berikut:

L= Keterangan : L = Tingkat kebisingan X = Batas bawah kelas yang mengandung modus P1 = Beda frekuensi kelas modus dengan kelas di bawahnya P2 = Beda frekuensi kelas modus dengan kelas di atasnya C = Lebar kelas

E. Hasil Pengamatan Formulir Bis- 1 (pengulangan I) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

67,8 65,7 66,0 64,4 58,0 47,9 54,0 47,3 72,7 46,8 67,0 53,0 63,4 59,8 46,5 57,9 60,3 57,1 68,6 61,8 61,3 54,6 58,8 64,4 54,7 47,9 58,9 64,7 59,8 64,0 58,1 67,7 56,4 59,4 51,1 62,2 71,1 68,9 57,8 51,8 52,1 70,4 51,0 67,8 53,1 45,9 78,0 61,2 61,1 55,0 64,1 64,9 62,9 58,7 61,8 56,3 53,2 69,1 60,6 59,6 64,8 62,7 58,1 51,8 60,9 58,6 50,6 64,7 62,3 57,6 63,1 59,0 60,5 61,3 49,1 53,7 54,7 65,5 60,8 49,0 66,9 64,6 68,7 51,6 58,7 52,0 59,7 58,7 56,5 60,8

10 53,7 64,4 67,9 58,0 51,4 52,7 57,7 59,5 61,5 49,7 11 61,7 53,3 58,4 51,5 61,0 49,7 53,0 62,8 65,1 60,4 12 63,0 64,9 64,8 58,7 59,4 61,4 62,6 53,1 60,1 69,8

Formulir Bis- 1 (pengulangan II) 1 1 2 2 3 4 5 6 7 8 9 10

65,6 61,1 69,7 64,8 64,4 57,4 61,4 60,8 57,3 58,8 62,2 50,9 71,4 56,2 63,7 66,3 59,6 62,5 64,8 68,5

3 4 5 6 7 8 9

64,4 61,3 66,3 63,8 72,0 65,9 70,1 66,6 59,8 64,9 61,0 72,5 63,9 59,7 64,3 58,4 61,7 61,3 64,9 66,0 69,5 61,3 64,6 61,6 63,9 67,6 59,8 72,1 66,3 57,5 61,7 59,1 62,7 57,3 63,3 67,5 67,8 62,0 55,6 71,4 59,7 61,5 59,4 65,7 61,5 59,4 65,1 70,0 55,2 63,3 55,6 57,1 66,0 66,1 59,3 64,0 64,3 55,4 63,0 68,0 60,4 59,9 67,4 57,8 65,5 53,7 73,6 53,7 51,0 55,0

10 62,0 65,4 65,2 63,0 65,9 55,0 55,8 63,4 66,1 51,5 11 49,7 65,9 71,7 59,2 61,6 65,1 59,5 67,6 61,9 52,9 12 71,4 63,7 63,4 51,2 65,7 69,3 60,2 57,5 62,5 54,3

Formulir Bis- 1 (pengulangan III) x 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

73,6 64,0 67,3 51,9 70,3 68,7 66,3 67,8 67,8 70,5 70,0 53,1 52,4 68,3 52,8 61,5 67,1 54,3 65,5 69,5 65,8 75,0 50,0 54,0 48,4 83,4 61,7 66,5 62,8 59,9 64,8 75,3 61,7 68,6 64,7 71,9 58,1 69,3 58,7 57,0 62,1 69,3 65,8 63,5 58,0 56,1 64,7 50,6 58,1 58,2 71,3 63,9 70,4 61,2 67,4 57,5 58,8 52,4 60,2 58,7 73,3 73,4 72,5 70,4 65,6 61,4 61,9 52,4 51,7 69,6 60,3 61,7 52,7 67,5 58,5 55,7 61,9 64,9 61,4 68,6 58,0 66,1 73,8 61,9 68,2 55,9 69,2 54,6 65,4 71,3 61,0 76,2 59,9 60,5 59,5 52,1 63,5 69,2 56,8 59,6 51,0 67,0 57,7 62,4 65,4 67,6 70,7 65,3 59,7 66,7 70,4 60,8 59,9 56,5 65,8 68,3 60,1 52,0 57,3 52,9

Formulir Bis- 2 (pengulangan I) Kelas Interval 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 7 23 24 36 24 5 1 5,83 % 19,16 % 20 % 30 % 20 % 4,16 % 0,83 % Jumlah Prosen Jumlah Kumulatif 7 30 54 90 114 119 120 Prosen Kumulatif 5,83 % 25 % 45 % 75 % 95 % 99,16 % 100 % -

Formulir Bis- 2 (pengulangan II) Kelas Interval 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 1 8 29 43 29 10 0,83 % 6,66 % 24,16 % 35,83 % 24,16 % 8,33% Jumlah Prosen Jumlah Kumulatif 1 9 38 81 110 120 Prosen Kumulatif 0,83 % 7,5 % 31,66 % 67,5 % 91,66 % 100 % -

Formulir Bis- 2 (pengulangan III) Kelas Interval 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 1 16 22 28 33 16 3 1 0,83 % Jumlah Prosen Jumlah Prosen

Kumulatif Kumulatif 1 0,83 % 14,16 % 32,5 % 55,83% 83,33 % 96,66 % 99,16 % 100 %

13,33 % 17 18,33 % 39 23,33 % 67 27,5 % 13,33% 2,5 % 0,83 % 100 116 119 120

Analisis tingkat kebisingan : Pengulangan I L= = = 62 Pengulangan II L= = = 72 Pengulangan III L= = = 65,63 x5 x5 x5

Rata-rata tingkat kebisingan : = 62 + 72 + 65,63 3 = 66,54 F. Pembahasan Tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas dapat menyebabkan dampak negatif terhadap tenaga kerja. Dengan kata lain, kebisingan berpotensi menimbulkan pendengaran. Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja, yaitu nomor KEP. penyakit akibat kerja. Misalnya, terganggunya fungsi

51/MEN/1999, Nilai Ambang Batas (NAB) adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Dalam kepmen tersebut, khususnya pada Pasal 3 dinyatakan bahwa NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 desi Bell A (dBA). Tingkat kebisingan yang diperiksa = 66,54 dB yang berarti masih memenuhi standar baku mutu. Dalam praktik pengukuran tingkat kebisingan diperlukan kerja sama antara dua orang praktikan, untuk praktikan satu bertugas melakukan pengamatan terhadap sound level meter dan melihat waktu sedangkan praktikan yang lain bertugas mencatat hasil pengamatan yang ada. G. Kesimpulan Setelah dilakukan pegukuran kebisingan dan juga pengulangan pengukuran sebanyak 3x ,rata-rata tingkat kebisingan di ruang kelas adalah sebesar 66,54 dB, yang berarti bahwa masih memenuhi standar baku mutu seperti yang disebutkan di atas, dalam artian tingkat kebisingan di ruang kelas masih aman, tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan. Dan tingkat kebisingan tertinggi terjadi pada saat pengulangan pengukuran kedua sebesar 72 dB.

PRAKTIKUM III PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN ANGKA KUMAN DI UDARA Hari dan tanggal : Senin, 05 dan 07 Desember 2011 A. Tujuan 1. Agar mahasiswa terampil melakukan pengambilan sampel kuman udara 2. Agar mahasiswa terampil melakukan pemeriksaan sampel kuman udara

B. Landasan Teori Udara bukan merupakan habitat kuman, namun sel-sel kuman yang terdapat di udara merupakan kontaminan besar. Kuman adalah

mikroorganisme atau jasad hidup yang sangat kecil ukurannya sulit diamati tanpa alat pembesar, berukuran beberapa micron dan meliputi : bakteri, jamur, alga, protozoa. Pertumbuhan kuman di dala ruangan dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan seperti : suhu, kelembaban, cahaya. Angka kuman adalah angka yang menunjukkan banyaknya kuman yang ada di udara dalam ruangan yang diperoleh dengan cara pengukuran menggunakan nutrient agar. Pemriksaan angka kuman di udara untuk mengetahui banyaknya angka kuman di dalam suatu ruangan. Sedangkan pengambilan sampel udara untuk menentukan kandungan mikroorganisme (kuman) memerlukan peralatan khusus. Secara umum, peralatan tersebut terbagi menjadi dua, yaitu : bentuk padat (solid impingement device) dan bentuk cair (liquid impingement device). Prinsip pengoperasiannya dengan mengalirkan udara yang terukur volumenya pada suatu alat, kemudian dilakukan pemaparan dengan kecepatan aliran tertentu selama 15 menit, dan alat dimatikan. Sampel diambil dengan pipet steril dan kemudian dimasukkan ke dalam petridish, selanjutnya ditambahkan media agar cair dan dilakukan pengeraman pada incubator suhu 370 selama 2x24 jam. Jumlah koloni kuman yang terbentuk dihitung dengan koloni counter sel yang merupakan bagian dari alat tersebut dan dilengkapi dengan kalkulator. Dengan cara menekan ujung detector pada

agar strip, maka akan terbaca jumlah koloni kuman yang terbentuk pada display calculator.

C. Alat dan Bahan 1. Pengambilan sampel kuman udara : a. Alat : 1) Midget impinge steril 2) Air pump 3) Stopwatch/ penghitung waktu 4) Pipet ukur 10 ml steril 5) Propipet b. Bahan : 1) NaCl Fisiologis (0,85%) 2) Kertas label 3) Alkohol 70% 2. Pemeriksaan sampel untuk angka kuman udara : a. Alat : 1) Lampu Bunsen 2) Korek api 3) Inkubator 4) Coloni counter 5) Cawan petri 6) Pipet ukur 10 ml steril b. Bahan : 1) Plate Count Agar (PCA) 2% cair 2) NaCl 0,85 % 3) Kertas label 4) Kertas payung

D. Langkah Kerja 1. Pengambilan sampel kuman udara : a. Mengusap tangan dengan alcohol 70% b. Menghubungkan air pump dengan midget impinge steril yang sebelumnya dimasukkan NaCl 0,85% sebanyak 15 ml ke dalam impinger steril c. Mengatur kecepatan aliran pada air pump dengan menekan tombol on dan memutar pada kecepatan aliran dengan memutar tombol sampai bola menunjuk angka 1 lpm d. Inlet pad midget impinge diletakkan setinggi 1 meter dari atas lantai, dan paparkan selama 15 menit. e. Setelah 15 menit, air pump dimatikan. 2. Pemeriksaan Angka Kuman Udara : a. Menyiapkan cawan petri steril sebanyak 4 buah untuuk masingmasign sampel. b. Memberi kode pada cawan petri dengan kertas label angka sampai angka 4. Cawan dengan kode 4 digunakan sebagai control. c. Menggoyang sampel uji hingga sampel homogeny. d. Mengambil 3 ml sampel dengan pipet ukur 10 ml steril. Kemudian memasukkan ke dalam cawan petri kode 1 sampai 3 masing-masing 1 ml. Sedangkan cawan petri kode 4 dilakukan pengisian 1 ml larutan NaCl 0,85%. e. Menuangkan PCA 2% yang sebelumnya telah dilakukan pencairan dan pada suhu hangat-hangat kuku secukupnya pada masing-masing cawan petri. f. Melakukan pengeraman pada incubator untuk seluruh sampel dan control pada suhu 370 selama 2x24 jam dalam posisi terbalik. Selain itu, 4 buah cawan petri sebelum dimasukkan ke dalam incubator dilakukan pembungkusan dengan kertas paying dan diikat dengan tali kenur serta member keterangan kepemilikan pada kertas payungnya. g. Setelah dieramkan, hitung jumlah koloni dengan coloni counter.

E. Hasil Pengamatan Setelah dilakukan pengeraman selama 2 hari (05-12-2011 sampai 0712-2011), dan dilakukan perhitungan didapatkan data sebagai berikut :

Jumlah koloni kuman : 1. Cawan petri 1 2. Cawan petri 2 3. Cawan petri 3 4. Cawan petri 4 (control) = 839 = 1017 = 817 = 189

Analisis Data : 1. Rata-rata jumlah koloni kuman = koloni

Keterangan : A : Jumlah koloni kuman cawan 1 B : Jumlah koloni kuman cawan 2 C : Jumlah koloni kuman cawan 3 D : Jumlah koloni kuman cawan 4

= = 702 koloni 2. Jumlah koloni kuman per m3 CF/m3

= 702 CF/m3

F. Pembahasan Berdasarkan hasil dari praktikum Pemeriksaan dan Pengambilan Sampel Kuman di udara yang dilakukan di Laboratorium Dasar Mikrobiologi, yang dilakukan pada hari Senin (05-12-2011) dan Rabu (0712-2011), diperoleh hasil bahwqa jumlah kolini kuman Laboratorium Dasar Mikrobiologi adalah 702 CF/m3. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kondisi Laboratorium Dasar Mikrobiologi tidak memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1405/MENKES/SK/IX/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, yangh menyatakan bahwa udara ruangan memenuhi syarat mikrobiologi (angka kuman) yaitu kurang dari 700 koloni/m3 udara dan bebas kuman pathogen. Hal ini mungkin disebabkan system sirkulasi udara pada Laboratorium ini yang kurang baik, sehingga suplai udara segar dari luar tidak dapat masuk secara sempurna. Dikarenakan juga letak ventilasi yang tidak menggunakan cross system. Dan posisi Laboratorium Dasar Mikrobiologi yang tidak menguntungkan, yaitu berada di antara ruangan-ruangan lain, menyebabkan kurangnya cahaya pada ruangan tersebut. Padahal cahay dapat

memperngaruhi pertumbuhan kuman di udara. Karena bakteri dapat tumbuh baik pada kondisi kurang cahaya ataupun gelap. Agar angka kuman di udara pada ruangan tersebut dapat memnuhi persyaratan angka kuman udara, sebaiknya dilakukan tindakan sebagai berikut : lant system ai dibersihkan dengan antiseptic, memelihara system ventilasi agar dapat berfungsi dengan baik dan karyawan yang sedang menderita penyakut yang dapat ditularkan melalui udara tidak diperkerjakan sementara waktu. Oleh karena itu agar udara dalam ruangan baik, harus memperhatikan design dan lokasi ruangan, sistem ventilasi ruangan dan manajemen polutan.

G. Kesimpulan Dari hasil praktikum didapatkan hasil bahwa jumlah koloni kuman di Laboratorium Dasar Mikrobiologi adalah 702 CF/m3. Hal ini menunjukkan angka kumanudara di Laboratorium Dasar Mikrobiologi tidak memenuhi persyaratan Kepmenkes RI No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Indutri yang seharusnya < 700 koloni/m3. Harus dilakukan perbaikan sistem ventilasi, agar udara segar dari luar dapat masuk ke dalam ruangan. Membuka jendela, membersihkan lubang ventilasi secara periodic dan melakukan perawatan AC ruangan.

PRAKTIKUM IV DESINFEKSI RUANGAN Hari , tanggal A. Tujuan 1. Agar mahasiswa dapat melakukan dan memahami desinfeksi ruangan 2. Agar mahasiswa dapat melakukan perhitungan desinfeksi : Senin, 12 Desember 2011

B. Landasan Teori Desinfeksi adalah upaya menurunkan jumlah mikroorganisme . Desinfeksi ruangan adalah upaya menurunkan jumlah mikroorgasni di udara dalam suatu ruangan dan menggunakan zat zat tertentu. Dalam proses desinfeksi ada 2 cara yaitu cara fisik (desinfeksi ruangan dengan pemananasan) dan cara kimia (desinfeksi ruangan dengan perubahan bahan kimia). Metode desinfeksi ruangan dapat dilakukan dengan menggunakan radiasi sinar ULV dan Ozontek. Bahan untuk desinfeksi disebut desinfektan. Desinfektan ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah adanya infeksi atau pencemaran oleh jasad renik, seperti bakteri terutama balteri patogen dan virus . bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas ,funfgsi serta target mikroorganisme yang akan dimatikan. Efektivitas desinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, yaitu lama paparan, suhu, konsentrasi desinfektan, pH dan ada tidaknya bahan pengganggu. pH merupakan faktor penting dalam menentukan efektivitas desinfektan sebagai contoh senyawa penganggu yang dapat menurunkan efektivitas desinfektan adalah senyawa organik. Jenis jenis bahan kimia penggunaan chlorin dilarang. Sedangkan virkon, mikrozoid, cidex masih digunakan karena kandungan didalamnya yang berupa fenol. Virkon merupakan bahan desinfektan yang memiliki spektrum luas terdapat aktivitas bakteri dan virus serta jamur. Virkon berbentuk serbuk (powder), bau enak seperti bau jeruk , warna merah muda , cara penggunaan

virkon diencerkan dengan air serta dengan perbandinagn 1 % . Satu liter campuran virkon dan air digunakan untuk ruangan yang memiliki 30 35 m3. Kelemahan dari virkon ini ruangan akan menjadi basah dan licin sehingga ada waktu kontak selama 2 jam . Selain itu, akan menimbulakan residu ( bekas) berwarna putih . Untuk mikrozoid dalam bentuk cairan , dapat langsung digunakan tanpa campuran apapun, tetapi harga mikrozoid mahal.

C. Alat dan Bahan 1. Alat a. Fogger/ ULV b. Roll kabel c. Koran

d. Isolasi e. Gelas ukur 1 Liter f. Pengaduk g. Timbangan h. APD (sarung tangan, masker , topi) i. Alat tulis dan sumber listrik j. Penggaris 2. Bahan a. Virkon b. Air

D. Langkah Kerja 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan 2. Mengukur volume ruangan ( p x l x t ) untuk menentukan jumlah virkon yang dibutuhkan dan kebutuhan air untuk pelarut 3. Menutup ventilasi yang ada dengan koran secara rapat dan menyeluruh

4. Memberikan catatn peringatan di depan pintu masuk ruanagn yang akan di desinfeksi . contoh Dilarang masuk karena ruangan sedang di desinfeksi 5. Mencampurkan virkon yang sudah ditimbang dengan air yang sudah disesuaikan 6. Memasukkan campuran air dan virkon ke dalam ULV/Fogger 7. Menggunakan APD 8. Melakukan pengkabutan , dengan langkah sebagai berikut : a. Menyambungkan alat fogger / ULV ke sumber listrik roll kabel b. Meletakkan ULV/ fogger pada meja beroda atau mengangkat secara manual dengan kedua tangan. c. Menekan tombol on d. Mengarahkan ULV/Fogger ke arah luruh ,kanan,kiri ,atas , bawah dengan jarak Fogger/ ULV dan tembok 1m e. Berjalan mundur ke arah pintu f. Waktu desinfektan 2 jam , setelah ruangan dapat digunakan kembali g. Jangan lupa untuk dimatikan dahulu sebelum dilakukan desinfeksi ruangan

E. Hasil Pengamatan 1. Perhitungan a. Volume ruangan sansur Panjang = 9,05 m Lebar = 6,30 m

Tinggi = 3,40 m Volume ruangan = P X L X T = 9,05 X 6,30 X 3,40 = 193,85 m3 b. Jumlah air dan virkon yang dibutuhkan : Volume ruangan : 193,85 m3 , efektivitas : 35 m3

Maka : jumlah air yang dibutuhkan = 193, 85 m3 35 m3 = 5,53 Liter = 5,5 Liter = 5500 mL

Banyak virkon yang dilarutkan dengan air seesuai perbandingan yaitu 1 % = X 5500

= 55 gram Maka banyak virkon = 55 gram

F. Pembahasan Setelah dilakukan perhitunagn , banyaknya virkon yang diperlukan sebanyak 55 gram dan dilarutkan dalam 5,5 Liter air. ULV/Fogger yang digunakan untuk desinfeksi ruangan hanya cukup menampung 4 Liter campuran antara virkon dan air (kapasitas kotak cairan desinfektan ULV . setiap proses desinfeksi ruangan , campuran antara air dan virkon harus habis , dalam artian sekali pakai. Untuk itu perhitungan kebutuhan air dan virkon harus tepat dan sesuai dengan volume ruangan yang akan didsinfeksi. Kesalahn yang dilakukan adalah karena dengan tangan yang mengangkat ULV/Fogger saat desinfeksi setiap praktikan yang mengankat ULV/Fogger saat desinfeksi ruangan , tidak menggunakan meja beroda sehingga menyebabkan setiap praktikan yang mencoba hanya beberapa menit saja dan kurang meratn tidak ke segala arah karena cepat lelah mengangkat ULV, proses desinfeksi ruangan tidak efektif dan kurang merata. Selain itu, karena ULV/Fogger yang digunakn setting kecepatan keluarnya desinfektan tidak berfungsi, dan menyebabkan bahan kimia virkon yang sudah dilarutkan dalam air keluarnya sedikit sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan 4 Liter campuran

virkon dan air pada ULV/Fogger . pada akhirnya menyebabkan campuran virkon dan air dalam ULV /Fogger tidak habis bahkan sisa banyak.

G. Kesimpulan Dari hasil praktikum yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa bahan desinfektan yang digunakan untuk desinfeksi ruangan sansur adalah virkon sebanyak 55 gram dengan pelarut yaitu air sebnayak 5,5 liter dengan volume ruangan sansur = 193,85 m3 .

PRAKTIKUM V REKAYASA MODEL KNALPOT Hari/ Tanggal : Senin, 19 Desember 2011 A. Tujuan Mahasiswa dapat memodifikasi atau merekayasa knalpot yang ada menjadi knalpot yang ramah lingkungan.

B. Landasan Teori Tidak berbeda dengan desain knalpot pada umumnya, knalpot ramah lingkungan adalah knalpot standar yang dipasangi batubatu zeolit sebagai penyaring asap dan gas karbon. Batu zeolit berfungsi untuk mengurangi emisi dan karbon berbahaya. Batu zeolit ini mampu menarik dan menyaring gas karbon, ditaruh sebagai penyaring dan dipasangkan di dalam kipas yang sengaja dipasang pada knalpot. Mungkin dapat dibantu di bengkel untuk pemasangannya karena harus di las. Batu zeolit adalah batuan asam yang berbutir halus, berpori, serta berstruktur tiga dimensi. Hasilnya, mampu mengurangi karbon hingga 50 % lebih dengan diukur menggunakan media kertas sebelum dan sesudah pakai zeolit nampak perbedaannya. Setelah disaring pakai zeolit kehitamannya jauh berkurang. Sifat zeolit sebagai adsorben dan penyaring molekul, dimungkinkan karena struktur zeolit yang berongga, sehingga zeolit mampu menyerap sejumlah besar molekul yang berukuran lebih kecil atau sesuai dengan ukuran rongganya. Selain itu kristal zeolit yang telah terdehidrasi merupakan adsorben yang selektif dan mempunyai efektivitas adsorpsi yang tinggi. Kemampuan zeolit sebagai katalis berkaitan dengan tersedianya pusatpusat aktif dalam saluran antar zeolit. Pusat-pusat aktif tersebut terbentuk karena adanya gugus fungsi asam tipe Bronsted maupun Lewis. Perbandingan kedua jenis asam ini tergantung pada proses aktivasi zeolit dan kondisi reaksi. Pusatpusat aktif yang bersifat asam ini selanjutnya dapat mengikat molekul-molekul basa secara kimiawi. Sedangkan sifat zeolit sebagai penukar ion karena adanya kation logam alkali dan alkali tanah. Kation tersebut dapat bergerak bebas

didalam rongga dan dapat dipertukarkan dengan kation logam lain dengan jumlah yang sama. Akibat struktur zeolit berongga, anion atau molekul berukuran lebih kecil atau sama dengan rongga dapat masuk dan terjebak. Arang aktif merupakan senyawa karbon amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25- 1000% terhadap berat arang aktif. Karena hal tersebut maka karbon aktif banyak digunakan oleh kalangan industri. Hampir 60% produksi arang aktif di dunia ini dimanfaatkan oleh industri-industri gula dan pembersihan minyak dan lemak, kimia dan farmasi. Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu yaitu proses aktivasi seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki permukaan dalam yang luas.

C. Alat dan Bahan 1. Knalpot motor standar 2. Kawat kasa 3. Gunting besi 4. Kawat 5. Zeolit 6. K arbon aktif 7. Timbangan

D. Langkah Kerja 1. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan kami gunakan dalam praktikum. 2. Melihat kerangka knalpot motor yang akan kami modifikasi. 3. Membuat design alat penyaring dala knalpot yang kami sesuaikan dengan volume knalpot. 4. Memilih absorban yang akan kami gunakan yaitu campuran antara arang aktif dengan zeolit. 5. Memotong kawat kasa dengan ukuran yang kami sesuaikan dengan ukuran knalpot. 6. Membentuk kawat kasa sesuai dengan design yang telah kami buat. 7. Mengayak arang aktif dan zeolit dengan diameter yang lebih besar dari pada diameter kawat kasa. 8. Menimbang arang aktif dengan zeolit. 9. Memasukkan arang aktif dan zeolit kedalam kawat kasa yang telah kami bentuk. 10. Memasang alat penyaring yang telah jadi ke dalam knalpot motor standar.

E.Hasil Pengamatan Design alat penyaring 16,5 cm

4 cm

8 cm

Dengan ukuran knalpot 16,5 x 8 x 4 cm3 kami membuat alat penyaring dengan Berat zeolit Berat arang aktif : 90 gr : 48 gr

Jadi kami mendapatkan perbandingan arang aktif dengan zeolit adalah 1 : 2

F.Pembahasan Bentuk atau design dari alat penyaring yang kami buat, kami sesuaikan dengan bentuk rancangan dalam knalpot yang akan kami rekayasa. Absorben yang kami gunakan dalam alat penyaring adalah campuran antara arang aktif dengan zeolit dengan perbandingan 1:2. Cara mendapatkan perbandingan adalah dengan memenuhi bentukan kawat kasa dengan perkiraan banyaknya zeolit dengan perkiraan banyaknya arang aktif yang kami dapat adalah 90 gram zeolit dan 48 gram arang aktif. Arang aktif sangat efektif dalam mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif. Sedangkan zeolit untuk mengurangi emisi dan karbon berbahaya. Batu zeolit ini mampu menarik dan menyaring gas karbon, ditaruh sebagai penyaring dan dipasangkan di dalam kipas yang sengaja dipasang pada knalpot. Tujuan pengayakan dalam pembuatan alat penyaringan ini adalah supaya didapatkan diameter karbon aktif dan zeolit yang seragam. Alat ayak yang kami gunakan mempunyai diameter yang lebih besar dari kawat kasa. Hal ini bertujuan absorben yang akan kami gunakan tidak lolos dari kawat kasa apabila mendapat tekanan dari gas saat mesin kendaraan dihidupkan.

G.Kesimpulan Alat penyaring dengan dengan ukuran 16,5 x 8 x 4 cm3 membutuhkan zeolit dan arang aktif masing-masing sebanyak 90 gram dan 48 gram.

PRAKTIKUM VI PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIENT Hari,tanggal Lokasi Praktik Waktu : Selasa, 20 Desember 2011 : Jalan Godean Km. 4,5 : 07.30 Selesai

I.Pengukuran kebisingan

A. Tujuan 1. 2. Agar mahasiswa terampil menggunakan / mengoperasikan alat Agar mahasiswa terampil melakukan pengukuran tingkat kebisingan

B. Landasan Teori Sound adalah Sensasi psikologis yang dihasilkan dari usik-an gelombang yang mencapai telinga.Berupa gelombang mekanik longitudinal yang memerlukan medium penghantar (zat padat, cair, gas). Kebisingan adalah Bunyi yang tidak diinginkan dengan kualitas musikal yang tidak menyenangkan yang menyebabkan Gangguan psikologis :konsentrasi, istirahat, emosi Gangguan komunikasi Gangguan fisiologis :tempory permanent, Pengukuran, mengacu pada KepMenLH N0.49/MenLH/11/1996, 3 diantaranya adalah sebagai berikut: - Waktu pengukuran adalah 10 menit tiap jam ( dalam 1 hari ada 24 data) - Pencuplikan data adalah tiap 5 detik ( 10 menit ada 120 data) -Ketinggian microphone adalah 1,2 m dari permukaan tanah. Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan menyatakan pembagian wilayah dalam empat zona. Zona A adalah zona untuk tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan atau sosial. Tingkat kebisingannya berkisar 35 45 dB. Zona B untuk perumahan, tempat pendidikan, dan rekreasi. Angka

kebisingan 45 55 dB. Zona C, antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dengan kebisingan sekitar 50 60 dB. Zona D bagi lingkungan industri, pabrik, stasiun kereta api, dan terminal bus. Tingkat kebisingan 60 70 dB. Ada beberapa cara untuk mengurangi pengaruh kebisingan: mengurangi kebisingan pada sumbernya, membuat penghalang pada media penghantar, dan memasang penutup telinga. Peredaman kebisingan dapat dilakukan dengan menanam tanaman berupa rumput, semak dan pepohonan. Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang. Dengan menanam tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan. Dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95%. Tanaman selain dapat meredam kebisingan, pada saat tertiup angin dapat menghasilkan suara. C. Alat dan Bahan 1. Sound Level Meter 2. Formulir Bis 1 3. Formulir Bis 2 4. Formulir Bis 3 5. Stop watch 6. Alat tulis

D. Langkah Kerja a. Mengecek baterai sound level meter dengan memggeser tombol power b. Meletakkan sound level meter pada ketinggian 1-1,2 meter c. Menghidupkan SLM dengan tombol switch on/off d.Stel respon F (fast) pada jenis kebisingan kontinue dan S pada kebisingan fluktuatif

e. Selanjutnya mencatat angka yang muncul pada display setiap 5 detik terakhir f. Mencatat dan memasukkan pada formulir bis-1 f. Melakukan pengukuran selama 10 menit,(120 angka) g.Melakukan pengelompokan hasil pengukuran dengan formulir bis-2 h.Menghitung tingkat kebisingan dengan rumus sebagai berikut:

L= Keterangan : L = Tingkat kebisingan X = Batas bawah kelas yang mengandung modus P1 = Beda frekuensi kelas modus dengan kelas di bawahnya P2 = Beda frekuensi kelas modus dengan kelas di atasnya C = Lebar kelas

E. Hasil Pengamatan

Formulir Bis- 1 (pengulangan I)

1 1 2 3 4 5

10

77,7 71,8 78,1 69,4 75,9 74,3 83,7 75,8 81,2 73,6 78,1 84,3 76,3 74,6 77,6 75,9 75,9 68,6 78,2 79,0 76,8 85,1 77,6 75,7 75,2 73,5 76,7 76,7 77,0 68,5 78,3 76,6 75,4 75,9 73,1 76,0 76,7 73,8 79,1 79,0 74,0 81,0 77,7 78,5 75,5 81,1 80,9 73,9 76,1 79,6

6 7 8 9

73,2 78,5 76,9 73,8 77,7 79,7 78,8 82,1 74,7 73,3 71,6 87,5 73,8 77,4 72,0 76,1 89,0 80,2 78,8 75,8 66,8 78,6 80,7 77,5 78,6 79,1 74,1 73,8 70,1 78,6 69,8 76,7 84,2 77,5 74,5 87,9 70,5 76,6 73,5 80,7

10 67,1 75,1 76,7 75,0 73,9 82,0 70,8 79,0 90,1 80,9 11 66,7 77,5 79,1 77,8 70,6 82,2 79,8 82,1 71,3 77,1 12 70,8 76,3 75,8 77,8 72,7 81,6 79,1 80,3 69,0 75,3 Formulir Bis- 1 (pengulangan II) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 80,2 75,5 78,76 74,8 81,8 77,2 78,8 77,3 75,9 80,2 66,9 74,4 2 79,4 77,9 77,1 76,1 79,0 90,9 75,6 68,9 100,1 78,1 78,0 84,5 3 71,0 76,9 78,4 74,3 77,4 80,6 82,8 76,7 77,7 76,3 80,0 76,9 4 78,9 79,9 80,4 76,8 74,9 80,9 75,9 73,0 67,2 74,0 74,4 73,3 5 75,2 79,7 87,3 81,9 80,0 71,4 72,9 76,5 76,6 75,7 76,8 79,3 6 77,5 78,4 72,7 75,2 77,1 72,4 69,7 68,5 77,4 74,8 66,4 77,3 7 79,0 73,5 76,0 76,0 78,7 73,7 71,9 74,5 79,3 79,6 80,4 78,4 8 79,2 79,4 76,1 73,5 74,4 74,3 67,3 66,1 72,8 75,7 73,0 73,8 9 75,0 82,1 81,5 77,4 75,1 81,7 78,3 79,3 77,0 74,8 78,1 76,1 10 79,9 76,2 76,8 77,0 78,6 79,7 76,2 71,0 66,7 70,9 75,2 78,5

Formulir Bis- 1 (pengulangan III) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

71,0 75,6 76,9 70,6 76,7 81,3 74,2 77,8 72,0 75,1 76,8 74,4 87,9 78,7 76,5 80,2 79,0 78,9 80,4 74,3 79,1 74,3 77,7 81,0 77,5 71,3 76,0 74,9 76,0 68,4 77,7 77,1 77,3 87,9 83,7 76,6 85,3 76,0 73,6 73,5 78,0 76,2 73,3 77,8 75,0 75,9 69,8 75,3 76,4 78.0 74,4 74,2 71,1 77,6 79,1 76,1 74,3 76,4 74,2 75,6 72,8 77,4 73,4 76,4 73,7 77,5 70,0 73,4 69,0 76,6 68,8 77,8 73,0 80,3 68,3 80,6 74,9 76,4 66,0 73,8 76,8 76,1 72,6 80,3 75,9 80,4 75,1 78,1 75,5 77,4

10 74,1 73,3 67,9 75,0 64,3 75,8 74,0 76,3 78,2 76,3 11 75,3 75,7 66,5 78,0 67,9 71,7 76,3 73,0 68,7 79,6 12 78,8 73,5 64,4 73,9 73,6 76,7 79,3 75,5 79,0 74,2

Formulir Bis- 1 (pengulangan I)

Kelas Interval 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90-94 95-99

Jumlah

Prosen

Jumlah Kumulatif

Prosen Kumulatif 6,67% 30% 81,67% 95% 99,17% 100% -

8 28 62 16 5 1 -

6,67% 23,33% 51,67% 13,33% 4,17% 0,83% -

8 36 98 114 119 120 -

Formulir Bis- 2 (pengulangan II)

Kelas Interval 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89

Jumlah

Prosen

Jumlah Kumulatif

Prosen Kumulatif 7,5% 30% 86,67% 97,51% 98,34%

9 27 68 13 1

7,5% 22,5% 56,67% 10,84% 0,83%

9 36 104 117 118

90-94 95-99 100-104 105-109

1 1 -

0,83% 0,83% -

119 120 -

99,17 100% -

Formulir Bis- 2 (pengulangan III)

Kelas Interval 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90-94

Jumlah

Prosen

Jumlah Kumulatif

Prosen Kumulatif 1,67% 9,17% 38,34% 89,17% 97,5% 100% -

2 9 35 61 10 3 -

1,67% 7,5% 29,17% 50,83% 8,33% 2,5% -

2 11 46 107 117 120 -

Analisis tingkat kebisingan : Pengulangan I L= = = 76,625 Pengulangan II L= = = 76,635 Pengulangan III L= = = 76,188 Rata-rata tingkat kebisingan : L = 76,625 + 76,635 + 76,188 3 = 76.483 F. Pembahasan Praktikum ini kami lakukan di depan mini market indomaret,sisi utara jalan godean km 4,5 selama 30 menit yaitu pada pukul 08.00-08.30 WIB. Dilakukan oleh dua orang petugas, satu orang pencatat dan satu orang pembaca sound level meter. Sound level meter dibaca setiap 5 detik selama 10 menit dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Setelah mendapatkan data, data tersebut diolah sedemikian rupa hingga mendapatkan hasil tingkat kebisingan. Pada umumnya keseluruhan pemantauan tersebut diatas, sumber x5 x5 x5

bising utamanya adalah aktivitas dari kendaraan yang ada di jalan raya, kelemahannya adalah metode pengukurannya secara general tanpa memperhatikan tipe atau jenis bising utamanya, sehingga kelemahannya adalah tidak dihitungnya jumlah, jenis maupun kecepatan kendaraannya.

G. Kesimpulan 1. Tingkat kebisingan di jalan godean km 4,5 pada pagi hari di sisi utara jalan sebesar 76.483 dB. 2. Berdasarkan data tersebut bila dibandingkan dengan nilai ambang batas kebisingan lalu lintas yang termasuk dalam zona D sebesar 70 dB maka tingkat kebisingan di jalan godean belum memenuhi baku mutu yang ada.

II.Pengukuran kelembaban

A. Tujuan Mahasiswa dapat melakukan pengukuran kelembaban dan menghitung tingkat kelembaban

B. Landasan Teori Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atomatom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan menggunakan termometer. Suhu dapat diukur dengan menggunakan termometer yang berisi air raksa atau alkohol. Kata termometer ini diambil dari dua kata yaitu thermo yang artinya panas dan meter yang artinya mengukur (to measure). Variasi harian suhu permukaan selama 24 jam, suhu udara selalu mengalami perubahan perubahan. Di atas lautan perubahan suhu berlangsung lebih banyak perlahan lahan daripada di atas daratan. Variasi suhu pada permukaan laut kurang dari 1C, dan dalam keadaan tenang variasi suhu udara dekat laut hampir sama. Sebaliknya diatas daerah pedalaman continental dan padang pasir perubahan suhu udara permukaan antara siang dan malam mencapai 20C. Sedangkan pada daerah pantai variasinya tergantung dari arah angin yang bertiup. Variasinya besar bila angin bertiup dari atas daratan dan sebaliknya.

Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volum. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara untuk menampung uap air tersebut (pada keadaan jenuh) ditentukan oleh suhu udara. Sedangkan defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan uap aktual. Masing-masing pernyataan kelembaban udara tersebut mempunyai arti dan fungsi tertentu dikaitkan dengan masalah yang dibahas (Handoko,1994). Semua uap air yang ada di dalam udara berasal dari penguapan. Penguapan adalah perubahan air dari keadaan cair kekeadaan gas. Pada proses penguapan diperlukan atau dipakai panas, sedangkan pada pengembunan dilepaskan panas. Seperti diketahui, penguapan tidak hanya terjadi pada permukaan air yang terbuka saja, tetapi dapat juga terjadi langsung dari tanah dan lebih-lebih dari tumbuh-tumbuhan. Penguapan dari tiga tempat itu disebut dengan Evaporasi(Karim,1985). C. Alat dan Bahan 1. Sling Psychrometer 2.Chart Psychrometer 3.Stop watch 4.Alat tulis

D. Langkah Kerja 1.Membasahi ujung benang sampai pada ujung termometer basah 2.Memutar sling psychrometer hingga benang menjadi basah uap selama 15 menit ( dilakukan 3x pengulangan ), pada saat memutar dilakukan di atas kepala 3.Membaca suhu pada termometer basah dan kering

4.Menambahkan suhu basah dan kering kemudian dibagi 2, sebagai ruang 5.Mencocokkan dengan grafik suhu kelembaban 6.Cara membaca grafik :

suhu

a)Menghitung / mengkonversikan suhu dari termometer (Celcius) menjadi suhu Fahrenheit) b)Garis mendatar pada grafik menunjukkan suhu kering c)Garis diagonal menunjukkkan suhu basah d)Perpotongan antara suhu basah dan kering merupakan kelembaban e)Mengikuti garis melengkung sehingga diketahui kelembaban E. Hasil Pengamatan Data suhu dan kelembaban : 1 titik dengan 3x pengulangan

Dalam skala Celcius Suhu Pengulangan Suhu Suhu ruang ( ) basah (x) kering (y) 1. 2. 3. Rata-rata 250 C 24 0 C 250 C 260 C 250 C 290 C

25,50 C 24,50 C 270 C 25,66 0 C

24,66 0 C 26,660 C

Dalam skala Fahrenheit

Pengulangan Suhu basah 1. 2. 3. Rata-rata 770 F 75,2 0 F 770 F 76,40 F

Suhu kering 78,80 F 770 F 84,20 F 800 F

Dari pembacaan Chart Psychrometer dapat kita ketahui bahwa : Pengulangan Relative humidity (% ) 1. 2. 3. Rata-rata 95 91 72 86 140 130 130 133,33 39 37 37 37,66 Spesifik humidity Dew (grains/lb) (0F) point

F. Pembahasan Praktikum ini kami lakukan di jalan godean km 4,5 selama 45 menit yaitu pada pukul 08.00-08.45 WIB. Dilakukan oleh tiga orang petugas, apabila satu orang bertugas maka dua orang petugas lainnya bertugas mencatat hasil pemeriksaan. Setiap satu orang bertugas memutar Sling Psychrometer selama 15 menit dan dilakukan secara bergantian.Dilakukan pengulangan 3x supaya data yang diperoleh hasilnya lebih valid. Setelah mendapatkan data, data tersebut diolah sedemikian rupa sehingga mendapatkan hasil mengenai suhu dan kelembaban yang ada di jalan godean tersebut. Data suhu basah dan kering harus diubah dulu dalam Fahrenheit karena itu merupakan syarat pembacaan kelembaban pada Chart

Psychrometer sedangkan untuk suhu diperoleh dengan cara menjumlahkan

suhu basah dan kering dalam satuan derajat celcius dan membagi dua, dan selanjutnya dihitung nilai rata-ratanya. Pengukuran suhu dan kelembaban harus terhindar dari berbagai gangguan lokal maupun hal-hal lain yang mengurangi kemurnian suhu atmosfer. Beberapa gangguan yang perlu dihindarkan antara lain pengaruh radiasi langsung dari surya dan pantulannya oleh benda-benda di sekelilingnya, gangguan tetesan air hujan, tiupan angin yang terlalu kuat, pengaruh lokal gradien suhu tanah akibat pemanasan dan pendinginan permukaan tanah setempat.

G. Kesimpulan Setelah dilakukan pengukuran dengan menggunakan Sling Psychrometer pada pagi hari diperoleh hasil yaitu : 1. 2. Suhu rata-rata di jalan godean km 4,5 sebesar 25,660C Kelembaban rata-rata sebesar 86 %.

III.Pengukuran kepadatan lalu lintas

A. Tujuan Agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran tingkat kepadatan lalu lintas.

B. Landasan Teori R.J. Salter, 1976 menyatakan analisis arus kendaraan sepanjang ruas jalan dipengaruhi oleh tiga parameter yang sangat signifikan, yaitu kecepatan, kepadatan dan arus (volume) kendaraan. Kepadatan kendaraan menggambarkan ukuran kualitas pelayanan ruas yang ditujukan melalui aliran kendaraan. Arus atau volume kendaraan merupakan ukuran kuantitas dari aliran kendaraan atau permintaan pada suatu ruas jalan. Arus lalu lintas merupakan interaksi yang unik antara pengemudi, kendaraan, dan jalan. Tidak ada arus lalu lintas yang sama bahkan pada keadaan yang serupa, sehingga arus pada suatu ruas jalan tertentu selalu bervariasi. Walaupun demikian diperlukan parameter yang dapat menunjukkan kondisi ruas jalan atau yang akan dipakai untuk desain. Parameter tersebut adalah volume, kecepatan dan kepadatan, tingkat pelayanan dan derajat kejenuhan. Hal yang sangat penting untuk dapat merancang dan mengoperasikan sistem sistem transportasi dengan tingkat efisiensi dan keselamatan yang paling baik. Khristy C. Jotin dan Lall B. Kent menyatakan terdapat beberapa variabel atau ukuran dasar yang digunakan untuk menjelaskan arus lalu lintas. Tiga variabel utama adalah kecepatan (v) volume (q), dan kepadatan (k). Variabel lainnya yang digunakan dalam analisis lalu lintas adalah headway (h), spacing (s), dan occupancy (R). Kepadatan (destiny) atau konsentrasi didefinisikan

sebagai jumlah kendaraan yang menempati panjang ruas jalan tertentu atau lajur, yang umumnya dinyatakan sebagai jumlah kendaraan per kilometer atau satuan mobil penumpang per kilometer (smp/km). Jika panjang ruas yang diamati

adalah I, dan terdapat n kendaraan, maka kepadatan k dapat dihitung sebagai berikut, k= keterangan: k = kepadatan n = jumlah kendaraan pada panjang I = Panjang ruas jalan Kepadatan sukar diukur secara langsung (karena diperlukan titik ketinggian tertentu yang dapat megamati jumlah kendaraan dalam panjang ruas jalan tertentu), sehingga besarnya ditentukan dari dua parameter volume dan kecepatan, yang mempunyai hubungan sebgai berikut : k= keterangan : k = kepadatan rata rata (kend/km atau smp/km) q = volume lalu lintas (kend/jam atau smp/jam) v = kecepatan rata rata ruang (km/jam) Kepadatan merupakan parameter penting dalam menjelaskan kebebasan bermanuver dari kendaraan. C. Alat dan Bahan 1. Counter 2. Stopwatch 3. Alat tulis

D. Langkah Kerja 1. Menyiapkan alat dan bahan.

2. Meentukan dua titik jalur jalan yang akan dihitung kepadatannya, pisahkan roda dua dan roda empat. 3. Menghitung kendaraan yang melewati jalan tersebut selama satu jam, kemudian mencatatnya. 4. Menghitung rata rata hasil kendaraan.

E. Hasil Pengamatan

Jenis Kendaraan Tempat Roda dua Utara Jalan Jalan Godean 2887 unit/jam Selatan Jalan 1010 unit/jam Roda empat Utara Jalan 405 unit/jam Selatan Jalan 284 unit/jam 77 unit Ratarata/menit

Kepadatan lalu lintas kendaraan K= jumlah roda dua + jumlah roda empat 60 menit = 3897 unit/jam + 689 unit/ jam 60 menit = 77 unit/menit.

F. Pembahasan Data kepadatan lalu lintas mengambil lokasi studi pada Jalan Godean KM.4 yaitu depan Indomaret Godean dengan menggunakan counter pada jam 07.30 WIB 08.30 WIB, yaitu pada hari Selasa, 20 Desember 2011. Data diambil dengan waktu 60 menit, penggolongan jenis kendaraan yaitu kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat atau lebih. Berdasarkan distribusi jumlah kepadatan lalu lintas seperti yang disajikan pada tabel, dapat dilihat adanya variasi jumlah kendaraan bermotor dalam waktu maupun lokasi penelitian. Tingginya jumlah kepadatan kendaraan jalan Godean pada pagi hari disebabkan karena letaknya

yang strategis dimana jalan ini dekat dengan beberapa perkantoran, pusat perbelanjaan dan pusat pendidikan. Jalan ini merupakan pusat kota yang memiliki aktivitas yang tinggi dan dilalui oleh berbagai jenis kendaraan. Adapun kendaraan yang lewat pada jalan Godean ini adalah bus kota, angkot, mobil pribadi, truk, dan kendaraan roda dua.

G. Kesimpulan Dari hasil penelitian terhadap kepadatan lalu lintas di jalan Godean dapat diambil kesimpulan bahwa kepadatan lalu lintas pada jalan Godean termasuk padat dikarenakan didapatkan hasil 77 unit kendaraan/menit.

IV.Pemeriksaan H2S A. Tujuan Mahasiswa terampil memeriksa H2S Udara dengan metode mthylen blue dengan H2S in Air Tes Kit.

B. Landasan Teori Gas H2S adalah rumus kimia dari gas Hidrogen Sulfida yang terbentuk dari 2 unsur Hidrogen dan 1 unsur Sulfur. Satuan ukur gas H2S adalah PPM ( part per milion ). Gas H2S disebut juga gas telur busuk, gas asam, asam belerang atau uap bau. Gas H2S terbentuk akibat adanya penguraian zat-zat organik oleh bakteri. Gas ini dapat ditemukan di dalam operasi pengeboran minyak/ gas dan panas bumi, lokasi pembuangan limbah industri, peternakan atau pada lokasi pembuangan sampah. Gas H2S tersebut bisa menimbulkan bahaya bagi manusia karena bisa menyebabkan batuk-batuk, iritasi mata dan indera penciuman sudah tidak berfungsi, Pembengkakan mata dan rasa kekeringan di tenggorokan, Kehilangan kesadaran dan bisa mematikan dalam waktu 30 - 1 jam. Tergantung tingkat H2S (ppm) yang memapar pada manusia. Semakin banyak semakin berbahaya.Oleh karena itu pencemaran karena H2S harus benar-benar diperhatikan. Sifat-sifat gas H2S 1. tidak berwarna 2. berbau seperti telur busuk pada konsentrasi 0,01 ppm sampai 100 ppm. Baunya saja tidak dapat hilang dalam waktu 3 15 menitpada konsentrasi 100 ppm. 3. sangat beracun 4. dapat larut dalam cairan seperti crude oil dan air, segera lepas apabila cairan tersebut dipanaskan atau ter-agitasi.

5. sangat korosif terhadap logam tertentu. 6. lebih berat dari udara sehingga dapat berakumulasi menjadi konsentrasi berbahaya pada daerah rendah seperti pada lobang parit dan pompa, tetapi gas ini dapat segera menyebar oleh gerakan udara atau angin. 7. gas H2S mudah terbakar, jika terbakar mengeluarkan nyala biru dan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) yang juga merupakan gas beracun.peralatan yang mengandung gas H2S dapat juga mengandung kerak sulfide besi. Kerak sulfide besi ini akan teriksidasi jika terpapar keudara dan mungkin menimbulkan panas yang cukup (kerak tersebut sebagai sumber panas) untuk menyalakan bahan-bahan lain yang mudah terbakar. Akibat keracunan gas H2S adalah : membuat mata perih, menimbulkan gangguan system pernapasan bila dihirup, gas yang terhirup kedalam paru-paru akan dialirkan kedalam aliran darah, dalam jumlah kecil gas H2S (50-100 ppm) dapat menimbulkan pusing, batuk dan sakit kepala, tetapi dalam konsentrasi besar dari 300 ppm dapat mengakibatkan pingsan dan kematian segera karena kegagalan pernafasan, melemahkan atau menggagalkan sama sekali indera penciuman, pada konsentrasi mendekati 100 ppm, pemaparan terhadap gas H2S dapat menyebabkan hilangnya indera penciuman. Efek ini dapat menimbulkan rasa keamanan semu pada seseorang berkaitan dengan kondisi pemaparan. Orang tersebut akan mengira bahwa gas H2S sudah hilang, padahal tidak karena indera penciumannya sendiri sudah tidak berfungsi lagi. Faktor faktor yang berpengaruh pada paparan gas H2S 1. waktu paparan lamanya seseorang menghirup gas H2S pada konsentrasi tertentu (dalam hitungan jam atau menit). 2. frekuensi seberapa sering seseorang terpapar (misalnya tiap hari atau sekali 2 hari atau sekali seminggu). 3. intensitas berapa banyak dosis (konsentrasi) yang terpapar pada seseorang (dalam satuan ppm)

4. kerentanan seseorang kerentanan seseorang berbeda-beda tergantung pada fisiologis orang tersebut (umur dan daya tahan tubuh) dan apakah benar terpapar dalam beberapa jam sebelumnya terhadap gas H2S. C. Alat dan Bahan a. H2S in air tes kit (merk lamote) b. Midget Impinger c. Pompa sampling udara

D. Langkah Kerja a.Menuangkan 7 ml regen sulfida ke dalam midget

impinger.Menghubungkan Midget impinger dengan pompa sampling udara, selanjutnya menyalakan pompa sampling udara dengan menekan/menggeser tombol on b.Memaparkan/melakukan sampling selama 10 menit dengan kecepatan aliran udara 2 lpm c.Setelah sampling selesai, memindahkan larutan yang telah dipaparkan pada tabung uji dan menambahkan 0,5 ml reagen sulfida #2 dengan pipet 0,5 ml (0353) ke dalam larutan penyerap d.Menambahkan 0,5 ml reagen sulfida #3 dengan menggunakan pipet0,5 ml yang lain (0353) kemudian menggojoknya e.Menambahkan 4 tetes reagen sulfide #4, di campur, ditunggu selama 1 menit warna biru menunjukan adanya sulfide f.Menambahkan 1,0 ml reagen sulfide #5 dengan menggunakan pipet 1,0 ml (0305) dicampur g.Memasukkan tabung ke dalam komparator dan warna sampel dicocokan dengan indeks standar warna.

E. Hasil Pengamatan Setelah dilakukan pemeriksaan warna larutan pada tabung uji

menunjukkan warna kuning dan setelah dicocokkan dengan indeks standar warna tidak ada warna yang sesuai dengan warna pada komparator.

F. Pembahasan Pada saat pemaparan sampel dilakukan selama 10 menit dilakukan dengan cara : tangan sebelah kanan memegang midget impinger dan tangan sebelah kiri memegang pompa sampling udara dan mengangkat kedua tangan di atas kepala, dilakukan demikian karena kurangnya persiapan sarana untuk kegiatan tersebut. Karena pompa sampling udara yang digunakan agak rusak maka setelah dihidupkan dengan menekan tombol on tidak bisa digunakan harus secara manual dipancing dengan cara menyedot selang pada pompa sampling udara sasmpai bisa selain itu, kecepatan aliran pada pompa sampling udara tidak bisa mencapai 2 lpm hanya bisa 1 lpm.

G. Kesimpulan Setelah dilakukan pemeriksaan H2S dapat disimpulkan bahwa kandungan H2S yang terdapat pada jalan godean kurang dari satu dengan waktu sampling selama 10 menit dan warna sampel setelah dilakukan pemeriksaan H2S adalah kuning.

Waktu (menit) 10 20 30 60 90

NOMOR INDEKS WARNA KOMPARATOR 1 0,06 0,03 0,02 0,01 0,01 2 0,14 0,07 0,05 0,02 0,02 3 0,228 0,14 0,09 0,05 0,03 4 0,55 0,28 0,19 0,095 0,06 5 1,11 0,55 0,37 0,19 0,12 6 1,66 0,83 0,55 0,28 0,19 7 2,22 1,11 0,74 0,37 0,25 8 2,77 1,39 0,922 0,45 0,30