Anda di halaman 1dari 23

MANAJEMEN RISIKO PADA PERUSAHAAN INDUSTRI PERBANKAN

OLEH KELOMPOK 14:


AGUNG WIRAHADI KUSUMA OCTAVIANUS SUMARDANA IDA BAGUS PUTRA WIDYANTARA IDA BAGUS EKA WIRANATA (1006205158) (1006205151) (1006205152) (1006205166)

Fakultas Ekonomi Universitas Udayana 2012

MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN PADA INDUSTRI PERBANKAN

Saat ini, perbankan di Indonesia sudah melakukan analisis-analisis dan teknik yang berkaitan dengan upaya untuk mengurangi kerugian yang timbul dimasa mendatang melalui proses pengelolaan risiko kredit seperti analisis kredit. Kegiatan demikian merupakan salah satu proses dalam pengendalian risiko. Namun demikian pendekatan dalam pengendalian risiko masih menggunakan teknik dan pendekatan konvensional, sehingga efektivitasnya masih

dipertanyakan, belum efektif dan perlu diuji kembali konsistensi penerapannya. Dengan diterapkannya perhitungan kebutuhan modal minimum yang dihitung berdasarkan risiko secara internasional melalui rekomendasi yang dikeluarkan Basel Committee on Banking Supervision (i.e. Basle Accord 1988), maka perkembangan risk management / manajemen risiko, semakin pesat untuk mengembangkan perhitungan risiko yang lebih akurat (modelling). Kondisi demikian didasarkan kepada diperbolehkannya Bank-bank dalam menghitung kebutuhan modal minimum dengan menggunakan internal model khususnya risiko pasar (Amandemen Basle Accord, BIS, 1996), dengan persyaratanpersyaratan tertentu.

1. Basel I The Basel Committee on Banking Supervision dibentuk dalam rangka untuk menyusun dan menetapkan aturan main yang berlaku dalam banking regulation. Ada tuga tujuan utama yang ingin dicapai oleh The Basel Committee on Banking Supervision dalam mengembangkan Basel I Accord, yaitu: a) Memperkuat kelayakan usaha dan stabilitas international banking system b) Menciptakan kerangka dasar yang adil dan tidak berpihak dalam rangka mengukur kecukupan modal bank-bank yang aktif menjalankan internasional kegiatan operasional perbankannya secara

c) Memiliki kerangka acuan yang dapat diterapkan secara konsisten. Basel Commitee merekomendasikan diterapkannya suatu sistem yang dapat membantu bank menghitung besaran risiko aset tertimbang. Besarnya modal minimum yang wajib dipertahankan ditetapkan sebesar angka presentase tertentu terhadap jumlah risiko aset tertimbangnya. Berdasarkan Basel Accord I, semua kontrak instrumen yang terdapat pada sisi aktiva dalam neraca bank (didefinisikan sebagai asset class) dikelompokan menjadi lima kelompok. Kelima kelompok itu masing-masing dengan kategori angka 0%, 10%, 20%, 50% dan 100%. Persyaratan modal menurut Basel I: a) Modal bank terdiri dari dua unsur, yaitu: Tier I yang meliputi saham yang telah dikeluarkan dari portepel dan disetor penuh serta cadangan yang telah dialokasikan. Tier II, yang meliputi cadangan yang tidak dialokasikan, cadangan yang terbentuk dari penilaian kembali aset/aktiva, cadangan umum, cadangan penghapusan pinjaman dan pinjaman subordinasi. b) Unsur-unsur modal yang dicakup dalam Tier 2 tidak boleh melebihi 50% dari jumlah seluruh modal bank. c) Terdapat unsur-unsur yang tidak dicakup dalam pengertian modal, yaitu: goodwill, investasi yang tidak dikonsolidasikan dalam perusahaan keuangan dan perbankan, investasi dalam permodalan pada perusahaan keuanagn dan perbankan lainnya dan investasi sevagai keikutsertaan minoritas dalam lembaga-lembaga yang tidak dikonsolidasikan. Basel I menetapkan bahwa minimum target capital ratio sebesar 8 % yang wajib dipertahankan bank.

Adapun penetapan Risk Weight Assets menurut Basel I, terdapat dalam tabel dibawah ini: Bobot Risiko 0% Kas Tagihan kepada pemerintah dan Bank Sentral Tagihan lainnya kepada pemerintah negara-negara OECD Tagihan dengan agunan surat berharga yang diterbitkan atau dijamin oleh pemerintah negara-negara OECD 0,10%, 20% atau 50% Tagihan kepada domestic public sector entities, diluar pemerintah pusat, pinjalam yang dijamin lembaga-lembaga tersebut Jenis Tagihan

(national discretion) 50%

Tagihan kpd atau yang dijamin oleh multilateral development banks

Tagihan keopada bank-bank di negara-negara OECD Tagihan kepadaatau yang dijamin oleh non domestic OECD public sector entities, di luar pemerintah pusat.

Uang tunai yang masih dalam proses penagihan Pinjaman yang dijamin sepenuhnya oleh mortgage on residential property yang akan digunakan atau disewakan oleh debitur.

100%

Tagihan kepada sektor swasta Tagihan kepada bank-bank di luar negara-negara OECD > 1tahun Tagihan kepada Pemerintah pusat negara-negara non OECD Tagihan kepada perusahaan komersial yang dimiliki masyarakat umum

Tanah, bangunan dan peralatan serta aktiva tetap lainnya Real estate dan investasi lainnya (termasuk non consolidated investment participation pada perusahaan lain).

Instrumen permodalan yang diterbitkan oleh bank lain (kecuali

dikeluarkan dari modal) Aktiva lainnya.

2. Market Risk Amandement Kepekaan bank terhadap risiko berbeda-beda dalam lingkup maupun dalam segi intensitasnya. Perbedaan itu di samping sebagai cermin dari perbedaan kepekaan manajemen juga sebagai akibat dari perbedaan tingkat operasional masing-masing bank. Atas dasar itu, langkah antisipatif dalam menanggulangi risiko juga telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Disamping itu, kegiatan operasional perbankan baik dalam lingkup nasioanal, maupun global telah terus mengalami perkembangan yang pesat. Basel I dianggap kurang mengandung risk sensitivity yang tajam, sehingga The Basel Commitee meningkatkan tingkat sensitivitasnya yang melahirkan dasar pemikiran Market Risk Amandement. Pendekatan yang digunakan adalah twin-track dimana Basel Committee dapat menerima internal quantitative model yang diterapkan oleh masing-masing bank, sepanjang telah didasarkan pada ukuran-ukuran kualitatif standar yang telah dipublikasikannya, Pendekatan ini menilai seberapa jauh penerapan quantitative model tersebut cocok dan adakah kualitas proses implementasinya juga mendukung.

3. Basel II Basel II dibuat berdasarkan struktur dasar the 1988 accord yang memberikan kerangka perhitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko (risk sensitive) serta memberikan insentif terhadap peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko di bank. Hal ini dicapai dengan cara penyesuaian persyaratan modal dengan risiko dari kerugian kredit dan juga dengan memperkenalkan perubahan perhitungan modal dari eksposur yang disebabkan oleh risiko dari kerugian akibat kegagalan operasional. Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan, dengan menitikberatkan pada perhitungan permodalan yang berbasis risiko, supervisory review process, dan market discipline. Framework Basel II

disusun berdasarkan forward-looking approach yang memungkinkan untuk dilakukan penyempurnaan dan penyesuaian dari waktu ke waktu. Hal ini untuk memastikan bahwa framework Basel II dapat mengikuti perubahan yang terjadi di pasar maupun perkembangan-perkembangan dalam manajemen risiko. Basel II Accord menghasilkan pola pengawasan perbankan berbasis resiko dengan risk sensitivity yang lebih tajam. Perbankan menjadi lebih peka

mengendalikan risk - based capital-nya sesuai dengan regulasi berbasis risiko yang telah ditetapkan. Risk sensitivity yang lebih tajam terbentuk oleh unsur pendukung, yaitu a) Luasnya cakupan rasio Basel I hanya meliputi unsur risiko kredit dan traded market risk melalui market risk amandement, sedangkan Basel II telah memperluas liputan tersebut dengan memasukan unsur operational risk. b) Dalamnya cakupan rasio Basel I hanya menggunakan risk weight sederhana yang berbedabeda tergantung pada jenis aset bank dalam menghitung ATMR, sedangkan Basel II mengembangkan beragam risk weight yamg lebih luas terutama didasarkan pada kualitas peminjam, syaratsyarat pinjaman, dan kualitas barang agunan. Di samping itu juga diperkenankan setiap bank untuk memilih dua cara pendekatan dalam menetapkan besarnya risk weight yang akan digunakannya, yaitu dengan pendekatan: The Standardized Approach dan The Internal Rating Based Approach. Adapun 3 pilar utama dalam Basel II antara lain: a) Minimum Capital Requirements (Bank Menaged) CAR = Total Capital / {Credit Risk + Market Risk + Operational Risk} = minimum 8% b) Supervisory Review Prosess (Regulator Managed)

Setiap bank memiliki proses internal untuk menilai kecukupan modalnya Otoritas pengawas bertanggung jawab menge- valuasai kelayakan proses tersebut. c) Market Discipline (Market Managed) Market Discipline Disclosure Standard Transparancy

4. Manajemen Risiko Perbankan Indonesia Usaha jasa perbankan mengandung beberapa unsur risiko mengingat kontrak antara Bank dengan nasabah mengikat dalam kurun waktu ke depan. Dengan demikian masing-masing pihak mempunyai moral hazard untuk tidak memenuhi kewajibannya di masa mendatang atau kondisi external (pasar) berubah ke arah yang merugikan Bank antara lain fluktuasi nilai tukar dan suku bunga. Kemungkinan tidak terpenuhinya kewajiban nasabah kepada Bank

maupun fluktuasi faktor external perlu dikendalikan untuk meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi di Bank. Proses dalam mengendalikan berbagai risiko dimaksud perlu diformalkan dalam management Bank. Risiko dapat berupa risiko kredit apabila nasabah tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank. Namun demikian masih banyak risiko-risiko lainnya seperti risiko nilai tukar, suku bunga dan operasional yang sering sekali dapat menyebabkan Bank mengalami kerugian yang cukup besar. Masih terdapat

beberapa risiko yang juga dapat menimbulkan kerugian bagi Bank seperti reputational risk, strategic risk, legal risk, political risk, country risk, namun quantifikasi dan management dari risiko dimaksud masih sulit dilakukan. Mengingat tidak setiap risiko selalu menjadi ancaman bagi Bank, maka setiap Bank akan melakukan identifikasi terhadap risiko-risiko yang mungkin timbul serta melakukan manajemen risiko sesuai dengan tingkat kompleksitas usahanya. Dalam menerapkan manajemen risiko, proses yang dilakukan meliputi: a. menyusun business plan tahunan untuk masing-masing business unit dengan mengacu kepada arahan dari top management berkaitan dengan

sasaran tahunan yang ingin dicapai maupun risiko yang perlu dipertimbangkan; b. menyusun proyeksi risiko yang dengan mengacu kepada business plan serta posisi modal yang diperlukan untuk mendukung dalam pelaksanaan business plan dimaksud. Apabila modal yang tersedia belum mencukupi maka dilakukan pembicaraan di senior management level untuk melakukan penyetoran modal atau melakukan revisi business plan. c. Menetapkan pendelegasian wewenang kepada setiap business unit yang terlibat untuk menerapkannya serta rambu-rambu yang perlu di patuhi berupa limit-milit risiko agar Bank dapat mengendalikan risiko secara keseluruhan sejalan dengan strategi Bank. d. business unit melaksanakan fungsinya dengan mematuhi limit-limit yang telah ditentukan. e. risk management unit melakukan monitoring atas risiko yang di eksposoleh masing-masing business unit maupun melakukan konsolidasi terhadap seluruh risiko serta memonitor posisi modal yang tersedia. f. apabila terjadi pelaksanaan yang menyimpang maka perlu dibicarakan pada risk management committee untuk mendapatkan keputusan maupun rekomendasi kepada manajemen puncak. Dalam penerapan risk management diperlukan prasarana antara lain risk assessment metodology, sistim informasi, internal control dan sumber daya manusia yang memadai untuk menjamin efektivitas risk management process itu sendiri. Dengan penerapan risk management diharapkan setiap langkah dari business unit akan dapat dimonitor oleh top management untuk koordinasi serta mengurangi moral hazard dari masing-masing business unit untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan keuntungan relatif tinggi (spekulasi) tanpa mengindahkan unsur risiko yang mungkin terjadi. Disamping itu, top management juga dapat melihat eksposur risiko secara konsolidasi bila dikaitkan dengan tersedianya modal Bank.

Bank wajib membentuk Komite Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Manajemen Risiko. Melalui peraturan Bank Indonesia Nomor 5/12/PBI/2003 tanggal 17 juli 2003, setiap bank umum di Indonesia harus menerapkan manajemen risiko terutama menyangkut persyaratan modal bank, sesuai dengan ketentuan yang dimuat dalam Basel II yaitu bank umum wajib memenuhi persyaratan modal minimum sebesar 8% (CAR 8%). Adapun ciri khas dalam menilai kecukupan modal antara lain a) Pengawasan dewan dan manajemen senior b) Assessment modal yang baik c) Assessment risiko yang komprenhensif, d) Monitoring dan pelaporan e) Review dan kontrol internal. Adapun mengenai penilaian tingkat kesehatan bank umum yaitu, pelaksanaan prinsip kehati-hatian yang menyangkut kewajiban antar bank, pengambilalihan tagihan, suku bunga dan penyediaan dana. Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitatif dan kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh pada kondisi dan kinerjanya. Faktor-faktor tersebut merupakan unsur-unsur CAMEL (Capital, Assets, Management, Earning capacity dan Liquidity). Dalam manajemen risiko perbankan, beberapa risiko yang harus diperhatikan adalah: a) Risiko kredit b) Risiko pasar c) Risiko suku bunga d) Risiko nilai tukar (valas) e) Risiko likuiditas f) Risiko operasional g) Risiko Hukum h) Risiko reputasi i) Risiko strategik j) Risiko kepatuhan

Kebijakan manajemen risiko yang terdapat dalam manajemen risiko di Indonesia mencakup : a) Pelaksanaan pengendalian risiko, yaitu berhubungan dengan

pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab komisaris, direksi serta manajemen. Merupakan suatu hal yang penting untuk melihat bagaimana dewan direksi dan manajemen senior memilih untuk melaporkan seluruh aktivitasnya kepada stakeholder. Hal ini secara signifikan akan menunjukkan bagaimana perusahaan dijalankan. Laporan tersebut menunjukkan prioritas, kebijakan, dan bagaimana kinerja perusahaan dari sudut pandang dewan direksinya. b) Penetapan risk limits, Kebijakan manajemen risiko harus meliputi penilaian (assessment) terhadap risiko yang berhubungan dengan masing-masing produk dari transaksi. Penilaian tersebut meliputi; metode yang cocok untuk mengukur risiko, kecukupan informasi yang dibutuhkan untuk menilai risiko (diambil dari sistem informasi manajemen bank), penetapan limit untuk total risiko, proses penilaian risiko dalam bentuk ranking system dan memastikan adanya pengendalian yang tepat untuk semua risiko misalnya review secara rutin. c) Informasi manajemen risiko dan analisisnya Proses analisis risiko harus mengidentifikasi seluruh karakteristik risiko bank (biasanya dimulai dengan membagi jenis bisnis yang diambil), sebagaimana risiko yang berhubungan dengan masingmasing produk dan aktivitas bisnis bank. Jadi, hal ini akan berhubungan dengan faktor risiko dan juga akan mempertimbangkan risiko-risiko lain (misal, performance risk dan confidentiality risk). d) Peluncuran produk dan jasa Bank harus mendokumentasikan proses dan prosedur pengenalan produk dan layanan baru, termasuk wewenang yang berhubungan dengan manajemen terkait.Dokumentasi tersebut harus meliputi ; sistem dan prosedur (berikut perubahannya) untuk penerapan produk dan layanan baru; pemberian wewenang untuk mengenalkan produk

10

dan layanan baru; laporan lengkap mengenai risiko yang berhubungan dengan produk dan layanan baru; metode untuk mengukur dan memonitor risiko yang berhubungan dengan produk dan layanan baru, penilaian risiko hukum yang berhubungan dengan pengenalan produk dan layanan baru; pernyataan terbuka untuk nasabah terhadap risiko produk dan layanan baru.

5. Ilustrasi Manajemen Risiko Perbankan Studi Kasus Bank Mandiri

A. Pedoman dari Bank Sentral Sebagai regultor, Bank Indonesia telah banyak memberikan petunjuk manajemen resiko dan good corporate governance (tata kelola perusahaan yang sehat) bagi perbankan Indonesia. Saat ini terdapat dua landasan bagi perbankan dalam menerapkan kedua aspek manajemen tersebut yaitu: 1. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 5/21/DPNP tanggal 29 september 2003, perihal penerapan Manajemen Resiko Bagi Bank Umum; 2. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004, perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Dokumen utama tersebut dapat dipandang sebagai adaptasi kesepakatan Basel yang berlaku bagi kegiatan operasional perbankan internasional. Dari sudut pandang tersebut, Bank Indonesia telah berhasil melakukan penyesuaian dalam menerapkan Basel Agreement tersebut sejalan dengan tingkat kegiatan operasional perbankan di Indonesia saat ini. Hal itu dapat dipahami mengingat jumlah bank nasional yang memiliki potensi berkembang dalam waktu dekat menjadi bank dengan jangkauan operasi internasional masih sangat terbatas, juga apabila dikaji dari gambaran proyeksi Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

11

B. Apa dan Mengapa Bank Mandiri Diperkirakan salah satu diantara bank yang memenuhi persyaratan sebagai bank berwawasan internasional menurut versi API adalah bank Mandiri karena Bank Mandiri per 30 Juni 2006 telah memiliki ekuitas (konsolidasi) sebesar Rp 23.855,4 milyar atau setara dengan USD 2,4 milyar. Dengan jumlah aset sebesar Rp255.278,5 milyar atau USD25,6 milyar. Hal tersebut membuat Bank Mandiri ditempatkan sebagai bank dengan permodalan yang terkuat di Indonesia karena memiliki aset terbesar di Indonesia. Selain itu, Bank Mandiri yang paling mendekati pemenuhan persyaratan sebagai bank dengan wawasan internasional pada tahun 2010, menurut versi API. Dengan posisinya yang sangat strategis ini, semua mata para bankir, pelaku ekonomi, serta para pengambil kebijakan di bidang moneter dan perbankan terarah pada apa yang dilakukan oleh Bank Mandiri. Beberapa hal yang dilakukan Bank Mandiri dalam pengelolaan manajemen resiko dan goor corporate governance antara lain: 1. Bagaimana Bank Mandiri telah melakukan tata kelola risiko secara terpadu seperti tercermin pada penetapan organisasi tata kelola risiko di bank itu? Di sini terlihat bagaimana pengimplementasian manajemen resiko dilakukan secara terpadu sesuai dengan tanggung jawab dan kompetensi masing-masing pihak terkait. Dimana Dewan Komisaris, Direksi, Risk & Capital Committee (RCC) berinteraksi dan bersinergi secara optimal. 2. Bank Mandiri juga telah menyusun profil resiko dalam suatu laporan Profil Resiko (LPR) dalam melakukan penilaian terhadap risiko komposit bank. Artinya bila resiko tersebut dipandang dari sudut pandang bank, maupun dari sudut pandang unit bisnis terkait. LPR ini digunakan sebagai laporan pada Bank Indonesia, disamping sebagai alat untuk mendeteksi jenis resiko apa dan terdapat pada unit yang mana. Dengan demikian, bank dapat memusatkan perhatiannya pada jenis-jenis resiko yang memiliki tendensi memburuk atau melebihi kebijakan toleransi bank pada resiko tersebut.

12

3. Bank Mandiri juga telah menerapkan sistem yang mendukung proses manajemen resiko, khususnya pada resiko pasar dan resiko kredit. Value at Risk (VaR) merupakan suatu sistem yang digunakan untuk mengukur resiko pasar, sedangkan untuk resiko kredit Bank Mandiri menerapkan sistem rating bagi nasabah korporasi dan komersial besar. 4. Untuk memelihara tingkat likuiditas, Bank Mandiri menetapkan kebijakan pengelolaan resiko likuiditas. Kebijakan tersebut adalah pemeliharaan cadangan likuiditas yang optimal, pengukuran dan penetapan limit resiko likuiditas, merancang analisis skenario dan contingency plan, penetapan strategi pendanaan dan mempertahankan kapasitas dana yang cukup dipasar.

C. Antara Risiko dan Visi Bank Mandiri Dalam menjalankan bisnis, bank senantiasa bersinggungan dengan resiko. Namun bila resiko itu dikelola dengan baik, dapat menghasilkan imbal hasil yang sesuai dengan resiko yang diambil dan memberikan retirn yang memadai bagi pemegang saham. Risiko yang dihadapi bank antara lain: resiko kredit, resiko pasar, dan resiko operasional. Dalam menjalankan manajemen resiko, Bank Mandiri menerapkan konsep keseimbangan dalam mengkombinasikan antara analisis resiko dan judgment dalam pengambilan keputusan.

D. Visi, Misi, dan Strategi Bank Mandiri Menghadapi Resiko Dalam mengimplementasikan manajemen resiko, Bank Mnadiri mendasarkan pada visi dimana risk management merupakan bagian dari proses bisnis yang dapat memberikan kontribusi melalui penerapan risk management untuk mencapai return yang optimal bagi stakeholder (pemegang saham, masyarakat, pemerintah, nasabah, dan pihak-pihak yang berhubungan dengan bank). Untuk mencapai visi tersebut, misi dari risk management adalah menciptakan mekenisme dan proses bisnis yang terintegrasi untuk

13

menghasilkan nilai tambah secara finansial melalui penerapan prinsip kehati-hatian, mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki risk awareness dengan kapabilitas tinggi dan berorientasi kepada bisnis, serta menjaga agar proses bisnis senantiasa terkendali dengan service level yang kompetitif. Agar visi dan misi tersebut dapat terlaksana, strategi yang digunakan adalah: 1. Membangun budaya kredit yang sehat yang mengacu pada prinsip kehati-hatian pada seluruh jajaran organisasi, dan menerpkan tata kelola perusahaan yang baik (goor corporate governance). 2. Membangun metode analisis kredit yang fokus kepada resiko dan imbal hasil. 3. Mengembangkan alat dan metode untuk melakukan monitoring resiko kredit secara lebih komprehensif. 4. Membangun sistem collection yang terintegrasi dengan proses kredit lainnya. 5. Membangun sistem analisis dan pengelolaan portofolio kredit yang up-to-date dan terintegrasi. 6. Mengembangkan kebijakan kredit yang berorientasi pada persaingan bisnis, namun tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian. 7. Meningkatkan kualitas manajemen resiko pasar untuk menjaga stabilitas posisi neraca bank dalam menghasilkan laba, termasuk di dalamnya mengeola manajemen suku bunga untuk posisi trading. 8. Mengembangkan sistem manajemen resiko operasional dengan tujuan akhir kemampuan untuk melakukan mitigasi resiko operasional, juga untuk memperoleh kemampuan menerapkan metode advance

measurement approach (AMA) dalam menghitung kecukupan modal, keduanya ditujukan untuk meng-cover resiko operasional. 9. Melaksanakan pengelolaan seluruh resiko secara terpadu (market, ckredit, operational)di dalam implementasi Enterprise Risk

Management (ERM) termasuk mengintegrasikan pengelolaan risiko anak-anak perusahaan.

14

10. Melakukan perhitungan alokasi modal dan perhitungan value added management (Basel II compliance) seperti risk adjusted return on capital dan economic value added (EVA). Dengan demikian, bank dapat mengidentifikasikan unit bisnis atau produk yang memberikan nilai tambah yang paling baik bagi bank E. Tata Kelola Resiko Secara Terpadu. Dalam mengimplementasikan manajemen resiko bank menerapkan pengelolaan secara terpadu. Tata kelola risiko bank secara terpadu merupakan tanggung jawab bersama dari Dewan Komisaris, Direksi, Risk & Capital Committee (RCC), Unit risk Management dan juga unit bisnis. RCC adalah suatu komite yang dibentuk bank, yang anggotanya adalah mayoritas direksi dan grup terkait dengan bisnis manajemen risiko. RCC membawahi dua sub comitee yaitu Komite Manajemen Risiko (KMR) dan ALCO (Komite aktiva pasiva). KMR membahas segala hal terkait dengan kebijakan manajemen risiko, sedangkan ALCO membahas hal mengenai kebijakan aktiva pasiva, dan penetapan suku bunga kredit dan dana. Dalam organisasi Bank Mandiri, Unit manajemen risiko merupakan bagian dari corporate support unit dan bersifat independent terhadap unit bisnis. Pemantauan pelaksanaan manajemen risiko menjadi tanggung jawab dari semua jajaran organisasi, mulai dari dewan komisaris sampai unit bisnis. Masalah kebijakan dimulai dari unit risk management yang mengajukan persetujuan pada komite manajemen risiko (apabila persoalan yang dibahas menyangkut masalah kebijakan manajemen resiko) atau komite ALCO (apabiala persoalan yang dibahas menyangkut masalah aktiva passiva atau penetapan suku bunga. Setelah memperoleh persetujuan komite, keputusan akhir dibahas pada komite kebijakan pada Dewan Komisaris untuk memperoleh persetujuan sebelum kebijakan tersebut dapat dilaksanakan Bank. Risiko secara bank-wide dikelola oleh grup di bawah Direktorat Manajemen Risiko, yaitu Market Risk Group (MRG) dan Portfolio & Operational Group. MRG bertanggung jawab dalam pengelolaan risiko pasar trading dan risiko likuiditas, dan pengelolaan asset & liability

15

sebagai posisi banking book dari bank. Sementara itu PORG bertanggung jawab dalam pengelolaan risiko kredit secara keseluruhan dari sisi kebijakan dan kualitas portofolio kredit bank, menyediakan perangkat metodologi pengelolaan risiko kredit, serta mengelola risiko operasional (termasuk risiko hukum, reputasi, strategik dan kepatuhan. Kedua grup ini juga bertanggung jawab dalam menilai dampak dari penerapan Basel II terhadap aktivitas bank serta melaksanakan implementasi dari kebijakan, system dan prosedur bank yang sejalan dengan ketentuan Basel II. Bank melihat bahwa pelaksanaan Basel II sebagai best practices yang dapat meningkatkan daya saing bank dalam industri Unit manajemen risiko melakukan proses identifikasi, mengukur dan memonitor serta mengelola risiko-risiko utama bank. Hal itu sejalan dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan bank dan disetujui oleh Dewan Komisaris.

F. Kebijakan dan Limit RCC menetapkan kebijakan manajemen risiko, prosedur kerja terkait manajemen risiko dan penetapan berbagai macam limit dalam rangka meminimalkan risiko. Kebijakan manajemen risiko bank merupakan payung bagi penyusunan kebijakan-kebijakan lainnya yang lebih spesifik dari unit bisnis dan unit risiko, seperti misalnya, kebijakan aktiva passiva, kebijakan treasury, kebijakan transaksi derivative, kebijakan kredit, dan kebijakan trading book. Dalam pengelolaan system limit, RCC menetapkan limit yang digunakan untuk memitigasi risiko likuiditas, risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko trading.

G. Profil Risiko Bank menyusun Laporan Profil Risiko (LPR) untuk menilai Risiko Komposit bank baik dari sudut pandang bank ataupun unit bisnis. LPR menilai delapan jenis risiko di dalam setiap unit bisnis dan system

16

pengendalian risiko terhadap kedelapan risiko tersebut, yaitu risiko pasar, risiko likuiditas, risiko kredit, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategic, risiko reputasi, dan risiko kepatuhan. LPR digunakan selain untuk memenuhi kewajiban laporan pada Bank Indonesia, juga digunakan sebagai alat deteksi bagaimana dan apa jenis risiko serta terdapat pada unit kerja bank yang mana. Dengan demikian bank dapat memusatkan perhatian pada jenis risiko yang dipandang mempunyai tendensi memburuk atau melebihi kebijakan toleransi bank pada profil tertentu. Profil risiko terdiri dari risiko melekat (inheren) dan penilaian kualitas control terhadap risiko. Dari dua ukuran tersebut diperoleh ukuran komposit yang merupakan total risiko bank.

H. Tenaga Profesional Bidang Risiko Bank mengandalkan kompetensi dan pengalaman dari tenagatenaga professional bank, yaitu untuk mempromosikan budaya risiko yang kuat yang sangat menghargai kedisiplinan dan efektivitas proses dan control manajemen risiko. Selain itu, juga untuk memenuhi standar manajemen risiko yang telah ditetapkna dalam rangka penilaian dan pengambilan risiko, dan menerapkan pengambilan keputusan bisnis yang sehat.

I. Risiko Kredit 1. Individual Credit Risk a. Kebijakan Perkreditan (Credit Policy) Untuk mengendalikan kegiatan kegiatan perkreditan, bank

menggunakan pedoman yang disebut dengan Pedoman Pelaksanaan Kredit dan kebijajan Perkreditan Bank Mandiri. Elemen Penting dari kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut : Proses Persetujuan Kredit Pemegang Kewenangan Memutus kredit Kolektibilitas Kredit Portofolio Guideline

17

b.Sistem Scoring dan Rating Pengukuran risiko kredit nasabah Bank Mandiri dilakukan dengan menggunakan sistem yang di dalamnya memuat beberapa parameter yaitu sistem scoring dan rating. Untuk debitur korporasi dan komersial digunakan Bank Mandiri Rating system (BMRS) untuk mengukur tingkat resiko kredit tiap debitur. Bank mandiri Rating System (BMRS) untuk Debitur Korporasi Large Comercial adalah sebagai berikut : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Bank Mandiri Rating AAA AA A BBB BB B C D E F G High Risk (Green) Medium Risk (Yellow) Low Risk (Green) Risk Type Definition World class Very good Good Average Bellow average Discenable Risk Substainable risk High Risk Default

Penerapan

sistem

scoring

untuk

kredit

segmen

konsumer

mmemungkinkan bank melakukan proses analisis kredit secara cepat dalam jumlah besar dengan tingkat Non Performing Loan yang relatif rendah.

Sistem Scorecard/ Scoring Rate untuk kredit Konsumer bank Mandiri No. 1 2 Bank Mandiri Scoring Accept Reject Definisi Credit score . highest cut off score Credit score < lowest off score

18

Grey Zone

Lowest cut off score < credit score < highest cut off score

2.Risk Based pricing Struktur suku bungan ank Mandiri mengunakan sistem tingkat suku bunga berdasarkan risiko (risk based pricing) dengan memanfaatkan sistem rating. Pada dasarnya tingkat suku bunga terdiri dari dari komponen Cost of Funds, Overhead Costs, Costs of Allocated

Capital dan Risk Premium. Tingkat Cost of Funds tergantung dari biaya dari seluruh Internet Bearing Liabilities. Untuk memantau pemberian suku bunga kepada debitur dilakukan komparasi antara Required Yield dan Portofolio Rate. 3. Risiko Portofolio Analisis dan Guideline Pengelolaan Resiko portofolio dilakukan untuk menghindari konsentraasi yang terlalu tinggi pada suatu industri, wilayah, segmen, kredit atau sektor ekonomi tertentu. Melalui Portofolio Guideline , sektor ekonomi digolongkan dalam kategori Hijau : Untuk sektor ekonomi yang mempunyai tingkat imbal hasil tinggi, sedangkan tingkat resikonya rendah Kuning : Untuk sektor ekonomi yang mempunyai tingkat imbal hasil dan tingkat resikonya rata-rata Oranye: Untuk sektor ekonomi yang mempunyai tingkat imbal hasil rendah, sedangkan tingkat risikonya tinggi. Dengan adanya Portofolio Guideline , Idiharapkan alokasi pada

sektor yang prospektif dapat ditingkatkan, sementara pada sektor kurang prospektif dapat dikendalikan perrtumbuhannya. Bank Mandiri juga menetapkan kebijaknsaan berkenaan dengan batas pemberian kredit, yaitu bahwa total eksposur pada subsektor

19

ekonomi terbesar tidak boleh melebihi 20 % dari keseluruhan portofolio. Bank juga menetapkan in-house limit yang merupakan pencerminan level dari resioko dalam suatu penyediaan dana kepada debitur.

J. Risiko Operasional Risiko operasional melekat pada aktivitas perbankan yang dijalankan setiap hari. Tigas operasional Risk Management (ORM) adalah memitigasi risiko dengan tingkat kerugian yang tinggi, walaupun kemungkinan terjadinya kecil. Implementasi dari ORM Tools di tingkat unit bisnis dilakukan melalui beberpaa fase diawalai dengan Risk Self Assesment dan Los Event Database. Risk Self Assesment Merupaka suatu proses terstruktur bagi manajemen dalam

mengidentifikasi dan menilai risiko untuk menyusun langkah mitigasi untuk risiko yang dikategorikan sebagai tidak dapt diterima. Bank telah melakukan uji coba proses metode RSA pada beberapa kantopr cabang dan Bills Processing Centers, yang selanjutnya digunakan untuk pembuatan Operational Risk Profile Loss Event Database (LED) Merupakan database kerugian operasional yang berisi informasi mengenai tingkat kerugian dan penyebabnya. Bank telah melakukan uji coba LED di tiga grup di kantor pusat dan kantor cabang di Kanwil IV Jakarta. Operational Risk Profile Melalui profil risiko ini dapat dilihat tipe risiko dan efektivitas sistem pengendalian daru tiap unit bisnis untk kemudian diidentifikasi tingkat risioko komposut. Penyusunan operational risk profile divalidasi dan diverifikasi oleh Internal Audit Group sebelum disampaikna ke Risk & Capital Commitee Operational Risk Informtion System

20

Dikembangkan Mandiri Operational Risk Information untuk mengelola risiko operasiomal secara efektif. Di masa mendatanag, sistem informasi ini dapat dengan mudah diakses oleh Direksi dan diharapkan menjadi sumber informasi yang lengkap da pentng guna mendukung proses pengambilan keputusan yang strategis. Regulatory Capital Dalam rangka mengantisipasi perhitungan ketentuan modal Bank Indonesia, risiko telah

dilakukansimulasi

untuk

operasional

(operational risk capital charge) dengan menggunakan pendekatan Basic Indicator. Seiring dengan usaha pemenuhan qualifying criteria Basel II, metode perhitungan akan dipertajam dengan menggunakan pendekatan dan Advance Measurement Approach.

K. Capital at Risk Capital at risk merupakan pengelolaan risiko terintegrasi dengan pengelolaan modal dan strategik bank. Hal ini untuk memastikan bahwa risiko dan tingkat imbal hasil bagi pemegang saham terkendali dan konsisten pada tingkat risiko yang diinginkan (risk appetite). Pengelolaan terintegrasi didukung oleh tingkat Capital at risk (CaR), scenario analysis, dan stress testing. CaR ini digunakan sebagai ukuran risiko sehingga dapat dilakukan komparasi antara aktivitas bisnis dan risiko yang berbeda. Bank mengaolkasikan ekuitas untuk mengcover risiko utama yang melekat pada kegiatan perbankan (risiko kredit kredit, risiko pasar dan risiko operasional) dalam upaya mempunyai tingkta penyangga modal yang cukup dalam rangka ekspansi bisnis dan pertumbuhan nonorganik. 6. Kesimpulan Bank merupakan sistem manajemen risiko dengan bekerja sama dengan unit bisnis sebagai partner kerja. Dengan demikian unit manajemen risiko mempunyai orientasi bisnis dan unit bisnis juga mempunyai orientasi manajemen risiko. Dengan cara demikian diharapkan penerapan manajemen risiko menjadi harmonis dengan upaya pengembangan bisnis dalam iklim kompetisi yang sedemikian tinggi di masa kini.

21

Dengan manajemen risiko seperti yang diuraikan di atas, bank dapat melakukan identifikasi unit bisnis atau produk mana yang memberikan nilai tambah terbesar bagi bank sehingga bank dapat mengonsentrasikan

pengembangan pada unit yang memberikan nilai tambah yang paling besar, atau dimana bank memiliki kekunngulan komparatif dibandingkan dengan pesaing. Dengan demikina, bank dapat melakukan alokasi modal dan sumber daya yang dimiliki secara lebih efisien, dalam upaya memberikan imbal hasil optimal bagi para stakeholders.

22

DAFTAR PUSTAKA

Darmawi, Herman. 2004. Manajemen Risiko. Jakarta : Bumi Aksara Djojosoedarso, Soeisno. 2003. Prinsip-prinsip Manajemen Risiko Asuransi. Jakarta : Salemba Empat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.224/KMK.017/1993 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.225/KMK.017/1993 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi Sumarni, Murti.2005. Metode Penelitian Bisnis. Yogyakarta: Andhi Salim,A. Abbas.2003. Asuransi dan Manajemen Risiko. Jakarta : Rajawali Siamat Dahlan. 2004. Manajemen Lembaga Keuangan. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Siamat, Dahlan. 1993. Manajemen Bank Umum. Jakarta: Intermedia

23