Anda di halaman 1dari 53

Orang-orang di negeri ini, yang beruntung bisa mengenyam pendidikan, pastilah

mengetahui bagaimana kurikulum pendidikan sekolah-sekolah kita. Dalam dasawarsa


(sepuluh tahun) terakhir, banyak perubahan baru, atau bahkan hal baru, terutama pasca
Reformasi. Sejak saya lulus SD (2001), kemudian lulus SMP (2004), sampai akhirnya lulus
SMA (2007) dan sekarang jadi mahasiswa di UGM, saya sudah banyak mengalami berbagai
macam kurikulum dan berarti saya adalah pelaku dan ‘produk’ dari semua itu.
Ada yang namanya kurikulum tahun 1994, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), serta untuk metode pembelajarannya, ada SCL
(Student Center Learning), dan segera katanya akan ada STARS (Student, Teacher,
Aestetic, Rulers Sharing). Semua punya tujuan sama: agar kualitas pendidikan di Indonesia
meningkat, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Yah, yang saya tegaskan di sini adalah: saya bukan guru, bukan pula dosen, yang tahu
secara langsung positif/negatifnya kurikulum yang berubah-ubah itu. Yang bisa saya
rasakan adalah metode pembelajarannya.
Hari-hari baru kuliah saya di UGM banyak hal yang menarik. Betapa sejak awal upacara
penerimaan mahasiswa baru, di universitas, di fakultas, kami diterangkan banyak hal
tentang metode pembelajaran yang ada di UGM saat ini. Bahkan sampai hari-hari awal
kuliah (perkenalan dosen, bahkan jam kosong), dosen-dosen kembali menerangkan
metode-metode pembelajaran itu.
Intinya hanya satu: agar siswa/mahasiswa aktif dalam KBM; mahasiswa aktif mencari tahu
ilmu pengetahuan; dan dosen hanya sebagai pembimbing.
Untuk saat ini, mungkin itu masih berupa mimpi-mimpi. Ironis sekali, dosen menjelaskan ini
itu ini itu, ealah, yo caranya saja masih dosen oriented. Dosen ngomong panjang lebar
tentang SCL tad, tapi mahasiswa cuma didiamkan saja, suruh mendengarkan thok, dan
jelas, mahasiswa terkantuk-kantuk! Sampai saat ini pun, saya masih kuliah dengan metode
yang tidak jauh berbeda dengan SMA, hanya saja fasilitasnya lebih lengkap.
Mungkin memang SDM pengajarnya yang masih kurang siap. Untuk materi, alhamdulillah
sudah cukup lengkap, namun cara penyampaiannya itu lho, masih sama saja. Yah, tapi
untuk pengajar yang masih muda, beberapa sudah cukup baik dalam mengajarnya.
Lumayan lah.
Belum lagi masalah kurikulum pelajar sekolah yang digonta-ganti namanya (padahal isinya
juga sama saja!). Justru malah membingungkan siswanya sendiri. Alah, paling hanya akal-
akalan pejabat disana untuk jadi proyek-proyek! dan ujung-ujungnya adalah uang proyek!

Sekolah bertaraf Internasional?


Ini lebih membingungkan lagi. Mungkin terjebak istilah-istilah ‘keren’. Saya sekolah di SMA
1 Jogja, yang mana angkatan saya adalah angkatan pertama kelas bertaraf Internasional.
Bahkan sampai mendapat sertifikasi IGCSE dari Cambridge. Yah, sungguh peningkatan yang
sangat baik. Tapi itupun perlu dievaluasi kembali, apakah tujuan dari bertaraf internasional
tadi? sekedar mengejar kurikulum? mengejar standar fasilitas? atau hanya mencari
sertifikat? Perlu diketahui, bahwa angkatan pertama tersebut, yang kini di luar negeri,
hanya 7-9 orang, dari sekitar 30-an siswa kelas Internasional. Yang lain, akhirnya sekolah di
lokal-lokal juga, tetap jadi mahasiswa lokal.
Kenapa harus pakai kurikulum pendidikan bangsa lain (dalam hal ini Inggris/Amerika)?
itulah yang perlu dipertanyakan. Padahal kurikulum nasional saja sudah cukup lengkap dan
baik. Ini namanya juga penjajahan! Bagaimana nasib bangsa Indonesia, bahkan
pendidikannya pun dijajah? Pendidikan ala barat sedikit-sedikit akan masuk ke otak pelajar
bangsa ini! Apa kata dunia?
Dan anehnya, malah banyak sekolah-sekolah, yang meniru, dan dengan bangga
menyatakan sekolah/kelas Internasional. Padahal guru-gurunya pun masih tidak bisa
berbahasa Inggris! Masih untung kalau itu hanya kelas khusus, coba kalau satu sekolah
mau ‘distandardkan’?

Sekolah berbasis teknologi informasi?


Ini sebenarnya juga sebuah ‘istilah keren’ untuk menarik siswa saja. Apa sih artinya sekolah
berbasis Teknologi Informasi (IT)? Coba dipikir bagaimana cara mengajarnya? pakai
komputer? atau istilahnya, e-learning?
Banyak sekolah katanya akan segera menuju era pembelajaran e-learning. Siswa bahkan
akhirnya tidak perlu ke sekolah, karena materi pembelajaran bisa diakses di Internet. Hanya
ada kelas virtual. Siswa bisa belajar dari rumahnya masing-masing.
Tentunya kita menyambut baik teknologi yang bisa membuat hidup lebih praktis. Tapi,
apakah itu yang namanya pendidikan? Saya kira itu sangat tidak baik dan saya katakan:
berbahaya! Pendidikan di sekolah tidak hanya proses transfer ilmu dari guru ke murid saja.
Ada nilai-nilai lebih di sekolah, yaitu pendidikan afektif dan psikomotorik siswa. Di
sekolahlah siswa dibentuk menjadi manusia, bukan robot! Berinteraksi dengan teman-
temannya langsung, berorganisasi dan bersosialisasi, berhubungan dengan orang-orang
yang lebih tua dan lebih muda, dsb.
Teknologi (komputer, dsb) memang bisa sangat membantu proses transfer ilmu, tapi tidak
selamanya itu BENAR. Adakalanya kita masih butuh papan tulis dan kapur! (Whiteboard kali
ya?)
Teknologi informasi, komputerisasi, dsb, itu hanyalah sarana bantu pendidikan nomor dua,
bukan yang utama. Lebih baik yang dikomputerisasi adalah administrasi/manajemen
persekolahannya. Itu pun SDMnya harus benar-benar disiapkan secara matang.

Akhirnya
Hati-hati dengan istilah-istilah keren itu tadi! Tanyakan! Agar kita tidak terjebak dan
dipermainkan oleh orang-orang yang sok keren itu tadi! Ujung-ujungnya, hanya uang yang
akan masuk ke kantong mereka!

Metode active learning digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mempelajari setiap topic
secara aktif. Dalam hal ini guru diarahkan menjadi fasilitator. Metode ini akan didukung oleh
sistem belajar moving class yaitu suatu sistem dimana ruang kelas dibagi menurut sentra-sentra
aktivitas yang dapat digunakan oleh siswa secara bergiliran sesuai dengan jadwal yang sudah
ditentukan. Kelebihan dari system moving class ini adalah anak dapat belajar lebih bervariasi,
memberikan anak untuk bereksplorasi dengan percobaan aktivitas yang dilakukan
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna,
sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah
tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode
pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model
pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat
memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat
pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam
strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003)
mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran
(target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat
yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif
untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak
titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard)
untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil
perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang
paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan
teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan
ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan
siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya,
dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa
dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi
pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan
diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran
dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery
learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat
dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya
digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi
merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a
way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2)
demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7)
brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.
Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan,
penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak
membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan
penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian
pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada
kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif.
Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode
yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan
metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat
dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat
berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung
banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang
tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak
menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu.
Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing
guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang
bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus
juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran
sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut
dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan
bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara
khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau
bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi
Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok
model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi;
(3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati
demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan
dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat
divisualisasikan sebagai berikut

Metode pembelajaran yang akan dilaksanakan tidak hanya bertumpu


pada kuliah mimbar namun lebih memprioritaskan:
Model kuliah di lapangan
Studi kasus
Peragaan

Bertemu tokoh
Pemutaran film
Permainan, dll
1. PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam
lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan
pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada
prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan
Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang
akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi
belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan
dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan
tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa
memerlukan persyaratan yang berbeda pula.

Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan
tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia
mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi
belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan
mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini
berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang
dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)

Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik
lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi
(dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan
metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang
efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi
tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.

Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa
mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran
merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh
berikut:

Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para
mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para
mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai
metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad
dan Raka Joni.
3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari,
sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk
didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan
menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan
strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat
memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya.
Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan
sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.

KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR

Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan:


1. Expository dan Discovery/Inquiry :
“Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi,
hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang
diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan
siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur
discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi
serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran.

Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula
dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik - discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai
strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar.

Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada
pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana
yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:

Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan
dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan : Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti
lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya.

Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia merigemukakan aturan umum dan
mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.

Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin
membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dan sekolah ke rumah masing-masing dan
menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah.

Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk
menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan
melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry
bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi
ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya
masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum
mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji
cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.

Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu
mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya
paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Discovery dan Inquiry :
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery
(penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip.
Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan
sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip
misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai”
Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry
mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang
eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis
data, membuat kesimpulan, dan sebagainya.

Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik
untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi.
DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi.
guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud
diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran
dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau
pertanyaan
2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran,
misalnya SMP kelas III)
3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis
dengan jelas.
4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan
konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa,
yang diharapkan dalam kegiatan.
8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada
kegiatan yang dilakukan siswa.
9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak
berjalan Sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi:
1. Menemukan masalah
2. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
4. Perumusan keterangan yang diperoleh
5. Analisis proses inquiry.
3. Pendekatan konsep :
Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah “concept” (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun
dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu
saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu
sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok
tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok
tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa
sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yang dinamakan “konsep”.

Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah “konsep”, yang ditunjukkan
melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti : bundar, merah, halus,
rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu
menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain
konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui
definisi/batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya iklim, massa, bahasa atau konsep
matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut
dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses
menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui
kemampuan kognitif
4. Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan
belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan
siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep
kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa.
Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered).

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka
kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun
sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan
taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan
keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta
dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah
yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.

Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar
mengajar yang memungkinkan terjadinya:
○ Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
○ Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
○ Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional,
tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan
kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan
mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian
mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.

Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang
dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati.
Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar
karena memang sengaja dirancang untuk itu.

Prinsip-prinsip CBSA:

Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada
kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-
mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi
sebagai berikut:

a. Dimensi subjek didik :


○ Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada
siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca
nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa
tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
○ Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak
lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar
mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
○ Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu
keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
○ Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu
keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
○ Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk
guru.
b. Dimensi Guru
○ Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi
siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
○ Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
○ Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
○ Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat
kemampuan masing-masing.
○ Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan
multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa
untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
○ Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta
kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
○ Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam
proses belajar-mengajar.
○ Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
d. Dimensi situasi belajar-mengajar
○ Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa
maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
○ Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
Rambu-rambu CBSA :

Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur
dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk
menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari
beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah
suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan
ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang
guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.
a. Berdasarkan pengelompokan siswa :
Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta
materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula
yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat
atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih
efektif.

b. Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :


Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan
siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang,
akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar
berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.

c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan :


Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan
pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi
mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada
disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan
kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi
pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.

e. Berdasarkan domein-domein tujuan :


Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai
berikut:

Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan
aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.

Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi


kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai.
Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih
komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan
dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well
dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut :
a. Rumpun model interaksi sosial
b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik
c. Rumpun model modifikasi tingkah laku.
T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi
belajar-mengajar, sebagai berikut:
1. Pengaturan guru-siswa :
○ Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh
seorang guru atau oleh tim
○ Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka
secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.
○ Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok
kecil
(antara 5 - 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).

2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :


Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah
ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar
yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus
pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung.
Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan
dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan
ditempuh.

3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :


Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin
menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa.
Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada
siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga
siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru.
Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi
ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau
hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan
(discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.

4. Proses pengolahan pesan :


Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak
dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu
kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar
yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang
bersifat induktif.
Pemilihan strategi belajar-mengajar

Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran
secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru
harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu
tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun
sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang
harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif.

Langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut; Pertama menentukan tujuan dalam arti
merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa,
dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun
tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan
kwalifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih
sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah.
Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan
dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal.

Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi
perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa
belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih
lemah.

Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah:


1. Efisiensi :
Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan
lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis
binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien
ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta
memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal
cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain
mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository
tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan.
Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya
sekedar menghafal.

Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide
kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan
susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari
lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat
kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk
beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya
siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga.
Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.

Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang
dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa
untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan
menyelidiki.

2. Efektifitas :
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan
merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus
dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan
jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau
tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada
strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang
dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka
strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.

3. Kriteria lain :
Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat
keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif
dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif.
Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan
campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki
siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya.

2. METODE-METODE MENGAJAR SECARA PERORANGAN


Perlu diketahui bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode
yang lain. Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing
masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan
kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang
dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum
tentu berhasil dibawakan oleh guru lain.

Adakalanya seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok
babasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode, penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya
pada awal pengajaran, guru memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian
menggunakan contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini
bukan hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi.

Seorang guru yang pandai berpidato dengan segala humor dan variasinya, mungkin tidak mengalami
kesulitan dalam berbicara, ia dapat memukau siswa dan awal sampai akhir pengajaran. Akan tetapi bagi
seorang guru bicara, uraiannya akan terasa kering, untuk itu ia dapat mengatasi dengan uraian sedikit
saja, diselingi tanya jawab, pemberian tugas, kerja kelompok atau diskusi sehingga kelemahan dalam
berbicara dapat ditutup dengan metoda lain.

Winarno Surakhmad dalam bukunya “Pengantar interaksi belajar mengajar” menggolongkan metode
metode itu menjadi dua golongan ialah: Metode interaksi secara individual dan secara kelompok. Namun
perlu diketahui bahwa kiasifikasi tersebut tetap fleksibeL

METODE CERAMAH

Ceramah adalah penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Alat interaksi yang
terutama dalam hal ini adalah “berbicara". Dalam ceramahnya kemungkinan guru menyelipkan
pertanyaan pertanyaan, akan tetapi kegiatan belajar siswa terutama mendengarkan dengan teliti dan
mencatat pokok pokok penting, yang dikemukakan oleh guru; bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan
siswa.

Dalam lingkungan pendidikan modern, ceramah sebagai metode mengajar telah menjadi salah satu
persoalan yang cukup sering diperdebatkan. Sebagian orang menolak sama sekali dengan alasan bahwa
cara sebagi metode mengajar kurang efisien dan bertentangan dengan cara manusia belajar. Sebaliknya,
sebagian yang mempertahankan berdalih, bahwa ceramah lebih banyak dipakai sejak dulu dan dalam
setiap pertemuan di kelas guru tidak mungkin meninggalkan ceramah walaupun hanya sekedar sebagai
kata pengantar pelajaran atau merupakan uraian singkat di tengah pelajaran.

Kalau kita teliti lebih lanjut, sebenarnya alasan-alasan tersebut di atas tidaklah sama sekali salah, tatapi
juga tidak sama sekali benar. Hal yang sebenarnya adalah bahwa dalam situasi-situasi tertentu, metode
ceramah merupakan metode yang paling baik, tetapi dalam situasi lain mungkin sangat tidak efisien.
Guru yang bijaksana senantiasa menyadari kondisi-kondisi yang berhubungan situasi pengajaran yang
dihadapinya, sehingga ia dapat menetapkan bilamanakah metode ceramah sewajamya digunakan, dan
bilakah sebaiknya dipakai metode lain. Tidak jarang guru menunjukkan kelernahannya, karena ia hanya
mengenal satu atau dua macam metode saja dan karenanya ia selalu saja menggunakan metode
ceramah untuk segala macam situasi. Kelemahan ini juga merupakan salah satu sebab mengapa metode
ceramab dikritik orang, dan sering dirangkaikan dengan sifat verbalistis (kata-kata tetapi tidak mengerti
artinya).

Situasi di bawah ini sesuai untuk penggunaan metode ceramah:


a. Kalau guru akan menyampaikan fakta atau pendapat dimanatidak terdapat bahan bacaan yang
merangkum fakta yang dimaksud. Sebagai contob: di suatu kelas SMP, guru mengajarkan
Sejarah terbentuknya candi Borobudur. Di perpustakaan sekolah tidak tersedia bukti yang
menggambarkan sejarah candi tersebut. Maka tepatlah bila guru memberikan penjelasan
dengan metode ceramah.

b. Jika guru akan menyampaikan pengajaran kepada sejumlah siswa yang besar (misalnya
sekitar 75 orang atau lebih), maka metode ceramah Iebih efisien dari pada metode lain
seperti diskusi, demonstrasi atau eksperimen. Sebab dengan diskusi, guru harus mengatur
slswa berkelompok dengan mengubah susunan kursi, sudah tentu dibutuhkan kelas yang
besar. Juga guru akan mengalami kesulitan dalam mengawasi kelompok-kelompok yang
berjumlah besar. Demikian pula untuk penyelenggaraan demonstrasi atau eksperimen untuk
jumlah besar, selain alat-alat yang tidak mencukupi, pengelolaan pengajaran juga
mengalami kesulitan.

c. Kalau guru adalah pembicara yang bersemangat sehingga dapat memberi motivasi kepada
siswa untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Dalam keadaan tertentu, sebuah pembicaraan
yang bersemangat akan mcnggerakkan hati siswa untuk menimbulkan tekad baru. Misalnya
ceramah tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

d. Jika guru akan menyimpulkan pokok-pokok penting yang telah diajarkan, sehingga
memungkinkan siswa untuk melihat lebih jelas hubungan antara pokok yang satu dengan
lainnya. Misalnya, setelah guru selesai mengajarkan sejarah perjuangan bangsa, kepada para
siswa ia memberi tugas untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dikerjakan dirumah.
Kemudian pada pelajaran berikutnya, guru membicarakan bersama tugas yang telah
dikerjakan siswa, dan guru menyimpulkan garis besar sejarah tersebut.

e. Kalau guru akan memperkenalkan pokok bahasan baru. Dalam sebuah kelas, siswa telah
sampai pada bagian tata bahasa yang membicarakan tata kata. Untuk itu guru akan
menjelaskan perbedaan antara fonetik dan fonemik dengan berbagai contoh.
Kelebihan dan kelemahan metode ceramah :
Kelebihan :
a. Guru menguasai arah pembicaraan seluruh kelas :
Kalau kelas sedang berdiskusi, sangatlah mungkin
bahwa seorang siswa mengajukan
pendapat yang berbeda dengan anggota kelompok yang lain, hal ini dapat mempengaruhi
suasana dan diskusi jadi berkepanjangan bahkan sering menyimpang dari pokok bahasan.
Tetapi pada metode ceramah hanya guru yang berbicara, maka ia dapat menentukan sendiri
arah pembicaraan.

b. Organisasi kelas sederhana :


Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi guru adalah buku catatannya. Pada seluruh
jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling
sederhana dalam hal pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi
dimana guru harus mengatur alat-alat. Atau dibandingkan dengan kerja kelompok, dimana
guru harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas.
Kelemahan :
a. Guru tak dapat mengetahui sampai dimana siswa telah mengerti pembicaraannya. Kadang-kadang
guru beranggapan bahwa kalau para siswa duduk diam mendengarkan atau sambil mengangguk-
anggukkan kepalanya, berarti mereka telah mengerti apa yang diterangkan guru. Padahal anggapan
tersebut sering meleset, walaupun siswa memperlihatkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi
guru tidak mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu
segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanya jawab atau tes.

b. Kata-kata yang diucapkan guru, ditafsirkan lain oleh siswa. Dapat terjadi bahwa siswa memberikan
pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh guru. Kiranya perlu kita sadari bahwa
tidak ada arti yang mutlak untuk setiap kata tertentu. Kata-kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang
disetujui penggunaannya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata
modul, bagi siswa SLTP Terbuka dan mahaiswa UT diartikan sebagai salah satu bentuk bahan
belajar yang berwujud buku materi pokok. Sedangkan bagi para astronout, modul diartikan sebagai
salah satu komponen dari pesawat luar angkasa. Itulah sebabnya maka setiap anak harus
membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama
ada persamaan pendapat antara pembicara dengan pendengar, maksud pembicaraan akan
dimengerti oleh pendengar. Kalau guru menggunakan kata-kata abstrak seperti “keadilan”,
“kepribadian”, “kesusilaan”, mungkin bagi setiap siswa tidak sama pengertiannya, atau sangat kabur
mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam kalimat, akan
semakin banyak kemungkinan salah tafsir dari pembicaraan guru. Itulah sebabnya mengapa sering
terjadi siswa sama sekali tidak memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan guru. Oleh karena
itu bila guru ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi siswa, guru dapat
menyertakan peragaan dalam caramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang
sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan
tulis.
Mempersiapkan bahan ceramah yang efektif

Langkah-langkah di bawah ini dapat dipakai sebagai petunjuk untuk mempertinggi hasil metode ceramah:
a. Tujuan pembicaraan (ceramah) harus dirumuskan dengan jelas.

b. Setelah menetapkan tujuan, harus diteliti apakah metode ceramah merupakan metode yang sudah
tepat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Sering terjadi setelah melihat tujuan dan metode
ternyata untuk keperluan ini lebih tepat digunakan metode lain. Menyusun ceramah dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
○ bahan ceramah dapat dimengerti dengan jelas, maksudnya setiap pengertian dapat
menghubungkan pembicaraan dengan pendengar dengan tepat.
○ Dapat menangkap perhatian siswa
○ Memperlihatkan kepada pendengar bahwa bahan yang mereka peroleb berguna bagi kehidupan
mereka.

c. Menanamkan pengertian yang jelas. Hal inmi dapat dilaksanakan dengan berbagai jalan. Salah satu
diantaranya adalah : guru memulai pembicaraan dengan suatu ikhtisar/ringkasan tentang pokok-
pokok yang akan diuraikan. Kemudian menyusul bagian dari pokok bahasan yang merupakan inti,
dan akhimya disimpulkan kembali pokok-pokok yang penting dari pembicaraan itu. Jalan lain yang
dapat ditempuh misalnya, untuk setiap ungkapan sulit, terlebih dahulu dikemukakan contoh-contoh.
Atau guru terlebih dahulu mengemukakan suatu cerita singkat bersifat ilustratif, sehingga dapat
menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksud.

d. Menangkap perhatian siswa dengan menunjukkan penggunaannya. Siswa akan tertarik bila mereka
melihat bahwa apa yang di pelajari berguna bagi kehidupan. Sebuah teknik yang sering dapat
menguasai perhatian siswa pada awal ceramah sampai selesai adalah dengan menghadapkan
siswa pada pertanyaan. Dengan pertanyaan itu mereka diajak berpikir dan seterusnya mengikuti
pembicaraan guru.
METODE TANYA-JAWAB

Dalam menggunakan metode mengajar, tidak hanya guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya
dengan metode ceramah, melainkan mencakup pertanyaan-pertanyaan dan penyumbangan ide-ide dari
pihak siswa. Cara pengajaran yang seperti ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah: (1) metode tanya-
jawab, dan (2) metode diskusi.

Perbedaan pokok diantara metode tanya-jawab dengan metode diskusi terletak pada:
1. Corak pertanyaan yang diajukan guru.
2. Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa. Pada hakekatnya metode tanya jawab
berusaha menanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan,
dalam hal lain guru juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran siswa.
Melalui metode tanya-jawab guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktuaL Sebaliknya dengan
metode diskusi, guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berbeda sifatnya. Di sini
guru merangsang siswa untuk menggunakan fakta-fakta yang telah dipelajari untuk
memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban
yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban.
Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode tanya jawab mempunyai hubungan dengan metode
apakah yang sedang dipakai guru metode ini sering sukar dibedakan, tujuan dan teknik masing-masing
cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogianya dibedakan.

Metode tanya-jawab digunakan dengan maksud :


a. Melanjutkan (meninjau) pelajaran yang lalu
b. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
c. Memimpin pengamatan dan pemikiran siswa.
Kelebihan dan kelemahan metode tanya-jawab :

Kelebihan :
a. Kelas lebih aktif karena siswa tidak sekedar mendengarkan saja
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya sehingga
guru mengetahui hal-hal yang
belum dimengerti oleh para siswa
c. Guru dapat mengetahui sampai di mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang
diterangkan.
Kelemahannya :
a. Dengan tanya jawab kadang-kadang pernbicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila
dalarn mengajukan pertanyaan, siswa rnenyinggung hal-hal lain walaupun masih ada
hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalarn hal ini sering tidak terkendalikan
sehingga membuat persoalan baru.
b. Mernbutuhkan waktu lebih banyak.
METODE DISKUSI

Metode diskusi adalah cara penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif
pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia;
sedemikian kompleksnya masalah tersebut, sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu
jawaban saja, melainkan harus menggunakan segala pengetahuan yang kita miliki untuk mencari
pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban yang benar sehingga kita
harus menemukan jawaban yang paling tepat diantara sekian banyak jawaban tersebut.

Kecakapan untuk rnemecahkan masalah tersebut dapat dipelajari. Untuk itu siswa harus dilatih sejak
kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat karenanya
dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalarn hal ini diskusi merupakan jalan yang banyak
membeni kemungkinan pemecahan terbaik. Selain membeni kesempatan untuk mengembangkan
keterampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis, kita diajak untuk hidup
bermusyawarah, mencari keputusan keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan
untuk peranan kepemimpinan serta peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.

Penggunaan metode diskusi :

Seperti telah disinggung di atas bahwa metode tanya-jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi
berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru
berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan
pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat
banyak jawaban yang benar.

Pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk metode diskusi:


a. Menguji kemungkinan jawaban yang dapat dipertahankan lebih dari sebuah.
b. Tidak menanyakan “manakah jawaban yang benar” tetapi lebih menekankan kepada
“mempertimbangkan dan membandingkan”.
Misalnya : Manakah kiranya yang paling baik, pemecahan mana yang mungkin lebih berhasil,
manakah yang akan lebth membenikan manfaat.
c. Menarik minat siswa dan sesuai dengan taraf kemampuannya.
Peranan guru atau pemimpin diskusi:

Pimpinan diskusi dapat dipegang oleh guru sendiri, tetapi dapat juga diserahkan kepada siswa bila guru
ingin memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memimpin. Kecakapan memirnpin diskusi
memang harus dilatih, bila kita menginginkan keberhasilan suatu diskusi. Seseorang yang belum
berpengalaman dalam suatu diskusi dapat kebingungan, apabila terjadi pembicaraan yang jauh
menyimpang dari pokok persoalan. Dapat pula terjadi, seseorang yang senang berbicara akan
menguasai seluruh pembicaraan sehingga tidak memberi kesempatan kepada yang lain untuk
mengemukakan pendapat. Demikian pula bila diantara para peserta diskusi saling bertentangan
pendapat, bagi pemimpin yang belum terampil, tidak dapat mencarikan jalan tengah sehingga diskusi
berakhir tanpa adanya kesimpulan yang jelas. Bila siswa belum pernah mengenal tata cara diskusi,
mereka akan berbicara secara serempak atau spontan menanggapi bila ada suatu pendapat yang
menarik, juga sering beberapa siswa belum memahami persoalan, sehingga memberikan komentar yang
menyimpang dan berkepanjangan. Akibatnya suasana jadi menjemukan dan tidak dapat dilihat
kemajuan-kemajuan yang telah dicapai.

Pemimpin diskusi yang baik, akan sanggup dengan cepat mengambil tindakan-tindakan menghadapi
ketimpangan-ketimpangan tersebut di atas. Untuk itulah para siswa perlu dilatih untuk memperoleh
keterampilan memimpin yang pada hakekatnya dapat dipelajari. Prof. Dr. Winarno Surakhmad dalam
bukunya “Pengantar Interaksi belajar-rnengajar” mengemukakan tiga peranan ‘pemimpin diskusi ialah
sebagai:

a) Pengatur lalu lintas


b) dinding penangkis
c) penunjuk jalan.
Pemimpin sebagai pengatur lalu lintas :

Sebagai seorang pemimpin ia berhak:


○ Menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka
○ Menjaga agan tidak semua anggota berbicara serempak
○ Mencegah dikuasainya pembicaraan oleh orang-orang tertentu yang gemar berbicara
○ Membuka kesempatan bagi para anggota yang pemalu atau pendiam untuk menyumbangkan ide-
ide mereka.
○ Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap pembicaraan dapat ditangkap dengan jelas oleti
pendengar.
Dari peran tersebut, dapat kita lihat bahwa pemimpin akan belajar memahami sifat-sifat peserta. Ia akan
belajar bagaimana mendorong anggota yang pendiam untuk ikut serta, dan bagaimana mencegah
anggota yang senang berbicara dan membuka kesempatan bagi anggota lain secara merata. Di sini
pemimpin harus dapat mengatur pembicaraan dengan bijaksana sehingga tidak menimbulkan rasa
tertekan, marah atau rendah diri.

Pemimpin sebagai dinding penangkis :

Dalam:peran ini diibaratkan seseorang pemain tenis yang berlatih memukul bola ke dinding, selalu
memantul kembali. Demikian pula pemimpin diskusi senantiasa menerima pertanyaan-pertanyaan dan
para peserta dan dipantulkan kembali ke dalam kelompok. Dia sendiri tidak selalu menjawab langsung
setiap pertanyaan yang penting. Bila sudah memperoleh jawaban maka jawaban tersebut dilontarkan
kembali kepada para peserta untuk memintakan pendapat mereka. Pada suatu saat mungkin diskusi
mengalami jalan buntu, maka pada kesempatan ini pemimpin atau guru dapat bertindak sebagai
penasehat dan memberi jawaban sehingga soal-soal pokok yang sedang didiskusikan dapat di lanjutkan.

Pemimpin sebagai penujuk jalan :

Dalam suatu diskusi sering terjadi para siswa tidak menyadari struktur pokok diskusi mereka, atau tidak
memahami pokok masalah yang didiskusikan sehingga mudah timbul pertanyaan-pertanyaan yang
menyimpang dari garis pembicaraan. Mereka kehilangan pegangan dan tidak melihat hasil-hasil yang
dicapai. Atau tidak disadari bahwa telah tiba saatnya untuk menarik kesimpulan dan menetapkan
langkah-langkah. Kewajiban pemimpin diskusilah untuk memahami dengan seksama struktur diskusi
yang baik sehingga ia dapat menunjukkan jalan lurus bila tenjadi penyimpangan. Dengan demikian
pemimpin mempunyai kewajiban menuntun anggota dalam menentukan langkah-langkah pemecahan
masalah. Langkah-langkah yang perlu dipahami dan dipakai sebagai pedoman menuntun diskusi kelas
adalah:
○ Apakah masalah yang dihadapi?
Pemimpin perlu mengetahui dengan jelas permasalahan yang dihadapi. Bila penlu ditulis di papan
tulis sebelum diskusi dimulai sehingga peserta senantiasa melihat tujuan diskusi dimulai sehingga
peserta senantiasa melihat tujuan diskusi.
○ Soal-soal penting mana yang terdapat dalam masalah itu?
Kalau dalam diskusi terdapat pandangan yang berbeda, ada baiknya pandangan-pandangan
tersebut ditulis pula. Faedahnya, siswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya dan mencoba
memperbaiki sebelum diskusi dilanjutkan. Dapat terjadi seluruh peserta tidak mengetahui dengan
pasti faktor tertentu yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah. Faktor serupa ini terpaksa
dicari dari sumber-sumber lain atau dari nara sumber yang mengetahui.
○ Kemungkinan-kemungkinan jawaban yang bagaimana yang dapat dirumuskan oleh kelas terhadap
suatu masalah?
Selama diskusi pemimpin atau guru kelas meihat adanya sejumlah jawaban yang dianggap
menupakan jawaban yang setepat-tepatnya.
○ Hal manakah yang telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan?
○ Tindakan apakah yang sudah direncanakan? Siapakah yang melaksanakan dan bilamana?
Kebaikan dan kelemahan metode diskusi :

Kebaikan :
a. Siswa belajar bermusyawarah
b. Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetabuan masing-masing.
c. Belajar menghargai pendapat orang lain.
d. Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah.
Kekurangan/kelemahan :
a. Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b. Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian.
c. Membutuhkan waktu cukup banyak.
METODE KERJA KELOMPOK

Kerja kelompok dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar-mengajar dimana siswa dalam suatu kelas
dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu
tujuan pengajaran tertentu. Sebagai metode mengajar, kerja kelompok dapat dipakai untuk mencapai
barmacam macam tujuan pengajaran. Pelaksanaannya tergantung pada beberapa fäktor misalnya tujuan
khusus yang akan dicapai, umur, kemampuan siswa, serta fasilitas pengajaran di dalam keIas.

Penggunaan metode kerja kelompok :


a. Pengelompokan untuk mengatasi kekurangan alat-alat pelajaran :
Dalam sebuah kelas, guru akan mengajarkan Sejarah Mesir kuno; Ia tidak mempunyai bahan
bacaan yang cukup untuk tiap siswa. Maka untuk memberi kesempatan yang sebesar-besamya
kepada siswa, kelas dibagi atas beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi sebuah buku untuk
dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telab disediakan guru.

b. Pengelompokan atas dasar perbedaan kemampuan belajar :


Di suatu kelas, guru dihadapkan pada persoalan bagai mana melaksanakan tugas sebaik-baiknya
terhadap kelas yang sifatnya heterogen, yakin berbeda-beda dalam kemampuan belajar. Pada
waktu pelajaran matematika, Ia menemukan bahwa ada lima orang siswa tidak sanggup
memecahkan soal seperti teman-teman lainnya. Guru menyadari bahwa ia tidak mungkin rnengajar
kelas dengan menyamaratakan seluruh siswa, karena ada perbedaan dalam kesanggupan belajar.
Maka ia membagi para siswa dalam beberapa kelompok dengan anggota yang mempunyai
kemampuan setaraf kemudian diberi tugas sesuai dengan kemampuan mereka. Sekali-kali ia
meninjau secara bergilir untuk melihat kelompok mana yang membutuhkan pertolongan atau
perhatian sepenuhnya.

c. Pengelompokan atas dasar perbedaan minat belajar :


Pada suatu saat para siswa perlu mendapat kesempatan untuk memilih suatu pokok bahasan yang
sesuai dengan minatnya. Untuk keperluan ini guru memberikan suatu pokok bahasan yang terdiri
dari beberapa sub-pokok bahasan. Siswa yang berminat sama dapat berkumpul pada suatu
kelompok untuk mempelajari sub-pokok bahasan yang dimaksud.

d. Pengelompokan untuk memperbesar partisipasi tiap siswa :


Di suatu kelas, guru sedang mengajarkan kesusastraan. Ia memilih suatu masalah tentang lahirnya
sastra baru. Dikemukakanlah masalah-masalah khusus, satu diantaranya ialah mengapa ada
pendapat yang mengatakan bahwa kesadaran kebangsaanlah yang menjadi perbedaan hakiki
antara kesusastraan Melayu dengan kesusastraan Indonesia. Guru tidak mempunyai waktu yang
berlebihan, akan tetapi ia mengingjnkan setiap siswa berpartisipasi secara penuh. Untuk setiap
masalah diperlukan pendapat atau diskusi. Maka dipecahkan kesatuan kelas itu menjadi kelompok-
kelompok yang lebih kecil dengan tugas membahas permasalahan tersebut dalam waktu yang
sangat terbatas. Selesai pembahasan kelompok, setiap kelompok rnengemukakan pendapat yang
dianggap pendapat kelompok tersebut. Cara mengajar ini dimaksudkan untuk merangsang tiap
siswa agar ikut serta dalam setiap masalab secara intensif. Tak ada seorangpun diantara mereka
yang merasa mendapat tugas lebih berat dari pada yang lain. Pengelompokkan sementara dan
pendek semacam ini disebut juga rapat kilat.

e. Pengelompokan untuk pembagian pekerjaan :


Pengelompokkan ini didasarkan pada luasnya masalah, serta membutuhkan waktu untuk mem
peroleh berbagal informasi yang dapat menunjang pemecahan persoalan. Untuk keperluan ini pokok
persoalan harus diuraikan dahulu menjadi beberapa aspek yang akan dibagikan kepada tiap
kelompok (tiap kelompok menyelesaikan satu aspek persoalan). Siswa harus mengumpulkan data,
baik dari lingkungan sekitar maupun melalui bahan kepustakaan. Oleh karena itu proyek ini tidak
mungkin diselesaikan dalam waktu dekat seperti halnya rapat kilat, melainkan kemungkinan
membutuhkan waktu beberapa minggu. Jadi pengelompokkan disini bertujuan membagi pekerjaan
yang mempunyai cakupan agak luas. Kerja kelonipok ini membutuhkan waktu yang panjang.

f. Pengelompokan untuk belajar bekerja sama secara efisien menuju ke suatu tujuan :
Langkah pertama adalah menjelaskan tujuan dari tugas yang harus dikerjakan siswa, kemudian
membagi siswa menurut jenis dan sifat tugas, mengawasi jalannya kerja kelompok, dan
menyimpulkan kemajuan kelompok. Di sini jelas walaupun siswa bekerja dalam kelompok masing-
masing dan melaksanakan bagiannya sendiri-sendiri, namun mereka harus memusatkan perhatian
pada tujuan yang akan dicapai, dan menjaga agar jangan sampai keluar dan persoalan pokok. Lain
halnya dengan pengelompokkan untuk pembagian pekerjaan seperti tersebut di atas, tugas
kelompok di sini tidak penlu diselesaikan dalam jangka waktu panjang, guru dapat memilih
persoalan yang dapat didlskusikan di kelas.
Kelebihan dan kelemahan kerja kelompok :

Kelebihan :
a. Dapat memupuk nasa kenjasama.
b. Suatu tugas yang luas dapat segera diselesaikan.
c. Adanya persaingan yang sebat.
Kelemahan :
a. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah
diri dan selalu tergantung kepada orang lain.
b. Bila kecakapan tiap anggota tidak seimbang, akan rnenghambat kelancaran tugas, atau didominasi
oleh seseorang.
METODE DEMONSTRASI DAN EKSPERIMEN

Antara metode demonstrasi dan eksperimen sebenarnya berbeda, akan tetapi dalam praktek sering
dipergunakan silih berganti atau saling melengkapi.

Metode demonstrasi merupakan suatu metode mengajar di mana seorang guru, orang luar atau manusia
sumber yang sengaja diminta atau siswa menunjukkan kepada kelas suatu benda aslinya, tiruan (wakil
dari benda asli) atau suatu proses, misalnya bagaimana cara membuat peta timbul, bagaimana cara
menggunakan kamera dengan hasil yang baik, dan sebagainya. Sedangkan metode eksperimen ialah
suatu metode mengajar di mana guru bersama siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati
proses dari hasil percobaan itu. Misalnya, karena ingin memperoleh jawaban tentang kebenaran sesuatu,
mencari cara-cara yang lebih baik, mengetahui elemen/unsur-unsur apakah yang ada pada suatu benda,
ingin mengetahui apakah yang akan terjadi, dan sebagainya.

Dari kedua batasan tersebut dapat diketahui bahwa sebuah eksperimen dapat juga dijadikan
demonstrasi. Misalnya guru dengan beberapa orang siswa mengadakan eksperimen mengenai pengaruh
tekanan udara terhadap sebuab kaleng minyak tanah yang kosong, yang sudab dipanasi lebib dulu,
kemudian ditutup rapat-rapat dan segera disiram air dingin. Para siswa melihat peristiwa itu sebagai
demonstrasi. Dalarn hal ini eksperimen dapat dirangkaikan dengan demonstrasi. Metode ini sering juga
disebut metode ilmiah, sebab metode inilah yang dipakai untuk menguji hipotesis.
Penggunaan metode demontrasi dan eksperimen adalah :
a. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana cara mengatur sesuatu”
b. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana membuatnya"
c. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana bekerjanya”
d. Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana mengerjakannya”
e. Untuk menjawab pertanyaan “Cara manakah yang lebih baik”
f. Untuk menjawab pertanyaan “Terdiri dari apa”
g. Untuk mengetahui “kebenaran dari sesuatu”
Kelebihan dan kelemahan metode demonstrasi :

Kelebihan:
○ Perhatian siswa dapat dipusatkan, dan pokok bahasan yang dianggap penting oleh guru dapat
diartikan seperlunya.
○ Siswa ikut serta aktif bila dernonstrasi sekaligus dilanjutkan dengan eksperimen.
○ Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi sekiranya siswa hendak mencoba
menpelajari suatu proses dari buku bacaan.
○ Beberapa persoalan yang belum dirnengerti ditanyakan langsung saat proses itu ditunjukkan
sehingga terjawab dengan jelas.
Kelemahan:
○ Demontrasi menjadi tidak efektif bila tidak semua siswa dapat ikut serta, misalnya alat terlalu kecil
sedangkan jumlah siswa besar.
○ Bila tidak dilanjutkan dengan eksperimen ada kernungkinan siswa. menjadi lupa, dan pelajaran tidak
akan berarti karena tidak menjadikan pengalaman bagi siswa.
Kelebihan dan kelemahan metode eksperimen :

Kelebihan:
○ Siswa aktif mengalami sendiri.
○ Siswa dapat membuktikan teori-teori yang pernah diterirna.
○ Mendapatkan kesempatan melakukan langkah-langkah berpikir iImiah.
Kelemahan:
○ Akan kurang berhasil apabila alat-alat yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan siswa.
○ Kemungkinan tidak membawa hasil yang diharapkan bila siswa belum cukup pengalarnan.
○ Kadang-kadang ada eksperimen yang memerlukan waktu panjang sehingga tidak praktis
dilaksanakan di sekolah, lebih merugikan lagi bila untuk dapat melanjutkan pelajaran menunggu
basil eksperimen tersebut.
METODE SOSIODRAMA DAN BERMAIN PERANAN

Metode sosiodrama dan bermain peranan merupakan dua buah metode mengajar yang mengandung
pengertian yang dapat dikatakan bersama dan karenanya dalam pelaksanaan sering disilih gantikan.
Istilah sosiodrama berasal dari kata sosio = sosial dan drama. Kata drama adalah suatu kejadian atau
peristiwa dalarn kehidupan manusia yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, clash atau benturan
antara dua orang atau lebih. Sedangkan bermain peranan berarti memegang fungsi sebagai orang yang
dimainkannya, misalnya berperan sebagai Lurah, penjudi, nenek tua renta dan sebagainya.

Kedua metode tersebut biasanya disingkat menjadi metode “sosiodrama” yang merupakan metode
mengajar dengan cara mempertunjukkan kepada siswa tentang masalah-masalah hubungan sosial,
untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Masalah hubungan sosial tersebut didramatisasikan oleh
siswa dibawah pimpinan guru, Melalui metode ini guru ingin mengajarkan cara-cara bertingkah laku
dalam hubungan antara sesama manusia. Cara yang paling baik untuk memahami nilai sosiodrama
adalah Mengalami sendiri sosiodrama, mengikuti penuturan terjadinya sosiodrama dan mengikuti
langkah-langkah guru pada saat memimpin sosiodrama.

Guru memberi kesempatan kepada para pendengar (siswa lain) untuk memberikan pendapat atau
mencari pemecahan dengan cara-cara lain, kemudian diambil kesimpulan.

Dalam diskusi kemungkinan terjadi diskusi yang seru karena adanya perbedaan pendapat. Timbul
pertanyaan, apakah dalam keadaan yang sebenamya mereka juga berani berkata demikian? Sampai
dimanakah manusia dapat mengambil kesimpulan atau keputusan yang sama apabila dalam situasi yang
menekan. Permainan peranan ini menimbulkan sejumlah masalah yang perlu dicamkan oleh para siswa.
Perasaan mereka dapat diperkuat oleh pengalaman yang realistis itu.

Bila metode inl dikendalikan dengan cekatan oleh guru, banyak manfaat yang dapat dipetik, sebagai
metode cara ini : (1) Dapat mempertinggi perhatian siswa melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu
terjadi dalam metode ceramah atau diskusi. (2) Siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis,
tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama
manusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut
menangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya. (3) Siswa dapat
menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.

Sebaliknya betapapun besar nilai metode ini ditangan yang kurang bijaksana akan menjadi nihil. Pada
umumnya karena guru sendiri tidak paham akan tujuan yang dicapai, atau guru memilih metode ini
walaupun sebenarnya kurang tepat untuk tujuan tertentu. Dapat terjadi guru tidak menyadari pentingnya
langkah langkah dalam metode ini.

Kelebi/tan dan kelemahan sosiodrama :

Kelebihan:
○ Mengembangkan kreativitas siswa (dengan peran yang dimainkan siswa dapat berfantasi)
○ Memupuk kerjasama antara siswa.
○ Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama.
○ Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.
○ Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.
○ Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil kesimpulan dalarn waktu singkat.
Kelemahan:
○ Adanya kurang kesungguhan para pemain menyebabkan tujuan tak tercapai.
○ Pendengar (siswa yang tak berperan) sening mentertawakan tingkah laku pemain sehingga
merusak suasana.
METODE PEMBERIAN TUGAS BELAJAR DAN RESITASI

Metode ini mengandung tiga unsur ialah:


○ Pemberian tugas.
○ Belajar.
○ Resitasi.
Tugas, merupakan suatu pekerjaan yang harus diselesaikan. Pemberian tugas sebagai suatu metode
mengajar merupakan suatu pemberian pekerjaan oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan
pengajaran tertentu. Dengan pemberian tugas tersebut siswa belajar, mengerjakan tugas. Dalam
melaksanakan kegiatan belajar, siswa diharapkan memperoleh suatu hasil ialah perubahan tingkah laku
tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tahap terakhir dan pemberian tugas ini adalah
resitasi yang berarti melaporkan atau menyajikan kembali tugas yang telah dikerjakan atau dipelajari.
Jadi metode pembenian tugas belajar dan resitasi atau biasanya disingkat metode resitasi merupakan
suatu metode mengajar dimana guru membenkan suatu tugas, kemudian siswa harus mempertanggung
jawabkan hasil tugas tersebut. Resitasi sering disamakan dengan "home work" (pekerjaan rumah),
padahal sebenarnya berbeda. Pekerjaan rumah (PR) mempunyai pengertian yang lebih khusus, ialah
tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dikerjakan siswa di rumah. Sedangkan resitasi, tugas yang
dibenikan oleh guru tidak sekedar dilaksanakan di rumah, melainkan dapat dikerjakan di perpustakaan,
laboratonium, atau ditempat-tempat lain yang ada hubungannya dengan tugas/pelajaran yang diberikan.
Jadi resitasi lebih luas daripada home-work. Akan tetapi keduanya mempunyai kesamaan ialah:
○ Mempunyai unsur tugas.
○ Dikerjakan oleh siswa dan dilaporkan hasilnya.
○ Mempunyai unsur didaktis pedagogis.
Tujuan pemberian tugas :

Menurut pandangan tradisional, pemberian tugas dilakukan oleh guru karena pelajaran tidak sempat
diberikan di kelas. Untuk menyelesaikan rencana pengajaran yang telah ditetapkan, maka siswa diberi
tugas untuk mempelajari dengan diberi soal-soal yang harus dikerjakan di rumah. Kadang-kadang juga
bermaksud agar anak-anak tidak banyak bermain. Sedangkan menurut pandangan tugas diberikan
dengan pandangan bahwa kurikulum itu merupakan segala aktivitas yang dilaksanakan oleh sekolah,
baik kegiatan kurikulum itu merupakan segala aktivitas yang dilaksanakan oleh sekolah, baik kegiatan
kurikuler, maupun ekstra kurikuler.

Penggunaan metode resitasi :

Pemberian tugas belajar dan resitasi dikatakan wajar bila bertujuan:


○ Memperdalam pengertian siswa terhadap pelajaran yang telah diterima.
○ Melatih siswa ke arah belajar mandiri.
○ Siswa dapat membagi waktu secara teratur.
○ Agar siswa dapat memanfaatkan waktu terluang untuk menyelesaikan tugas.
○ Melatih siswa untuk menemukan sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas.
○ Memperkaya pengalaman-pengalaman di sekolah melalui kegiatan-kegiatan di luar kelas.
Kelebihan dan kelemahan :

Kelebihan :
○ Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar lebih banyak.
○ Memupuk rasa tanggung jawab.
○ Memperkuat motivasi belajar.
○ Menjalin hubungan antara sekolah dengan keluarga.
○ Mengembangkan keberanian berinisiatif.
Kelemahan :
○ Memerlukan pengawasan yang ketat, baik oleh guru maupun orang tua.
○ Sukar menetapkan apakah tugas dikerjakan oleh siswa sendiri atau atas bantuan orang lain.
○ Banyak kecenderungan untuk saling mencontoh dengan teman-teman.
○ Agak sulit diselesaikan oleh siswa yang tinggal bersama keluarga yang kurang teratur.
○ Dapat menimbulkan frustasi bila gagal menyelesaikan tugas.
METODE DRILL (LATIHAN)

Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah
dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata latihan mengandung arti bahwa
sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama
dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bila situasi belajar itu
diubah-ubah kondisinya sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih
disempurnakan.

Ada keterampilan yang dapat disempurnakan dalam jangka waktu yang pendek dan ada yang
membutuhkan waktu cukup lama. Perlu diperhatikan latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada siswa
tanpa pengertian, jadi latihan itu didahului dengan pengertian dasar.

Drill wajar digunakan untuk :


○ Kecakapan motoris, misalnya : menggunakan alat-alat (musik, olahraga, menari, pertukangan dan
sebagainya).
○ Kecakapan mental, misalnya: Menghafal, menjumlah, menggalikan, membagi dan sebagainya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
○ Tujuan harus dijelaskan kepada siswa sehingga selesai latihan mereka diharapkan dapat
mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan.
○ Tentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatihkan sehingga siswa mengetahui apa yang harus
dikerjakan.
○ Lama latthan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa.
○ Selingilah latihan agar tidak membosankan.
○ Perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan secara kiasikal
sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan secara perorangan pula.
Kelebihan dan kelemahan :

Kelebihan :
○ Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
○ Siswa siap menggunakan keterampilannya karena sudah dibiasakan.
Kelemahan :
○ Siswa cenderung belajar secara mekanis.
○ Dapat rnenyebabkan kebosanan.
○ Mematikan kreasi siswa.
○ Menimbulkan verbalisme (tahu kata-kata tetapi tak tahu arti).
METODE KARYAWISATA

Dengan metode karyawisata, guru mengajak siswa ke suatu tempat (objek) tertentu untuk mempelajari
sesuatu dalam rangka suatu pelajaran di sekolah. Berbeda dengan darmawisata, di sini para siswa
sekedar pergi ke suatu tempat untuk rekreasi. Metode karyawisata berguna bagi siswa untuk membantu
mereka memahami kehidupan ril dalam lingkungan beserta segala masalahnya . Misalnya, siswa diajak
ke museum, kantor, percetakan, bank, pengadilan, atau ke suatu tempat yang mengandung nilai
sejarah/kebudayaan tertentu.

Langkah-langkah pelaksanaan :
a. Persiapan :
Merencanakan tujuan karyawisata. Untuk menetapkan tujuan ini ditunjuk suatu panitia dibawah
bimbingan guru, untuk mengadakan survei ke obyek yang dituju. Dalam kunjungan pendahuluan ini
sudah harus diperoleh data tentang objek antara lain tentang lokasi, aspek-aspek yang dipelajari,
jalan yang ditempuh, penginapan, makan dan biaya transportasi, bila objek yang dituju jauh.

b. Perencanaan :
○ Hasil kunjungan pendahuluan (survei) dibicarakan bersama dalam rangka menyusun
perencanaan yang meliputi: tujuan karyawisata, pembagian objek sesuai dengan tujuan,jenis
objek sesuai dengan tujuan, jenis objek serta jumlah siswa.
○ Dibentuk panitia secara lengkap, termasuk ketua tiap kelompok/seksi.
○ Menentukan metode mengumpulkan data, mungkin berwujud wawancara, pengamatan
langsung, dokumentasi.
○ Penyusunan acara selama karyawisata berlangsung. Kepada para siswa harus ditanamkan
disiplin dalam mentaati jadwal yang telah direncanakan sehingga pelaksanaan berjalan lancar
sesuai dengan rencana.
○ Mengurus perizinan.
○ Menentukan biaya, penginapan, konsumsi serta peralatan yang diperlukan.

c. Pelaksanaan :
Siswa melaksanakan tugas sesuai dengan pembagian yang telah ditetapkan dalam rencana
kunjungan, sedangkan guru mengawasi, membimbing, bila perlu menegur sekiranya ada siswa yang
kurang mentaati tata tertib sesuai acara.

d. Pembuatan laporan :
Hasil yang diperoleh dan kegiatan karyawisata ditulis dalam bentuk laporan yang formatnya telah
disepakati bersama.
METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING)

Metode pemecahan masalah merupakan suatu metode pengajaran yang mendorong siswa untuk
mencari dan memecahkan persoalan-persoalan. Adakalanya manusia memecahkan masalah secara
instinktif (naluriah) maupun dengan kebiasaan, yang mana pemecahan tersebut biasanya dilakukan oleh
binatang.

Pemecahan secara instinktif merupakan bentuk tingkah laku yang tidak dipelajari, seringkali berfaedah
dalam situasi yang luarbiasa. Misalnya seseorang yang dalam keadaan terjepit karena bahaya yang
datangnya tak disangka, maka secara spontan mungkin ia melompati pagar atau selokan dan berhasil,
yang seandainya dalam keadaan biasa hal itu tak mungkin dilakukan. Dalam situasi yang problematis,
baik manusia maupun binatang, dapat menggunakan cara "coba-coba, salah", mencoba lagi (trial and
error) untuk memecahkan masalahnya. Akan tetapi taraf problem solving pada manusia lebih tinggi
karena manusia sanggup memecahkan masalah dengan rasio (akal), disamping memiliki bahasa. Oleh
karena itu manusia dapat memperluas pemecahan masalahnya di luar situasi konkret.

Dalam menghadapi masalah yang lebih pelik, manusia dapat menggunakan cara ilmiah. Cara ilmiah
untuk memecahkan masalah pada umumnya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a. Memahami masalah; Masalah yang dihadapi harus dirumuskan, dibatasi dengan teliti. Bila tidak,
usahanya akan sia-sia.
b. Mengumpulkan data; Kalau masalah sudah jelas, dapat dikumpulkan data/informasi/keterangan-
keterangan yang diperlukan.
c. Merumuskan hipotesis (jawaban sementara, yang mungkin memberi penyelesaian); dan keterangan
keterangan yang diperoleh, mungkin timbul suatu kemungkinan yang memberi harapan yang akan
membawa pada pemecahan masalah.
d. Menilai hipotesis; Dengan jalan berpikir dapat diperkirakan akibat-akibat suatu hipotesis. Kalau
ternyata bahwa hipotesis ini tidak akan memberi basil baik, maka dimulai lagi dengan langkah
kedua.
e. Mengadakan eksperimen/menguji hipotesis; Bila suatu hipotesis memberi harapan baik, maka diuji
melalui eksperimen. Kalau berhasil, berarti masalah ini dipecahkan. Tetapi kalau tidak berhasil,
harus kembali lagi dari langkah-langkah kedua atau ketiga.
f. Menyimpulkan; Laporan tentang keseluruhan prosedur pernecahan masalah yang diakhiri dengan
kesimpulan. Di sini kernungkinan dapat dicetuskan suatu prinsip atau hukum. Kesanggupan
memecahkan masalah harus diajarkan kepada para siswa, sebab pemecahan masalah secara
ilmiah (scientific method) berguna bagi mereka untuk memecahkan masalah yang sulit. Metode ini
selain dapat digunakan untuk mernecahkan masalah dalam berbagai bidang studi, juga dapat
digunakan untuk pemecahan yang berkaitan dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kelebihan dan kelemahan :
Kelebihan :
○ Mengajak siswa berpikir secara rasional.
○ Siswa aktif.
○ Mengembangkan rasa tanggung jawab.
Kelernahan :
○ Memakan waktu lama.
○ Kebulatan bahan kadang-kadang sukar dicapai

3. METODE-METODE MENGAJAR SECARA KELOMPOK


Metode-metode mengajar yang digunakan untuk kelompok yang jumlahnya besar, sedemikian besar
jumlahnya sehingga dibutuhkan teknik tersendiri untuk mengatasinya, sebab kelompok itu dipandang
sebagai massa dengan segala sifat yang menjadi ciri-ciri massa. Walaupun tidak selalu bahwa guru itu
menghadapi kelompok besar, namun kiranya perlu mengetahui beberapa diantaranya, karena mungkin
suatu saat ia membutuhkan. Metode-metode ini lebih banyak diterapkan untuk orang dewasa.

SEMINAR

Seminar merupakan suatu pembahasan masalah secara ilmiah, walaupun topik yang dibahas adalah
masalah sehari-hari. Dalam membahas masalah, tujuannya adalah mencari suatu pemecahan, oleh
karena itu suatu seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan yang merupakan
hasil pendapat bersama, yang kadang-kadang diikuti dengan resolusi atau rekomendasi.

Pembahasan dalam seminar berpangkal pada makalah atau kertas kerja yang telah disusun sebelumnya
oleh beberapa orang pembicara sesuai dengan pokok-pokok bahasan yang diminta oleh sesuatu panitia
penyelenggara. Pokok-pokok bahasan yang diminta oleh suatu penitia penyelenggara. Pokok bahasan
yang telah ditentukan, akan dibahas secara teoritis dan dibagi menjadi beberapa subpokok bahasan bila
masalahnya sangat luas. Pada awal seminar, dapat dibuka dengan suatu pandangan umum oleh orang
berwenang (yang ditunjuk panitia) sehingga tujuan seminar terarah. Kemudian hadirin (massa) dibagi
menjadi beberapa kelompok untuk membahas permasalahan lebih lanjut. Tiap kelompok dapat diserahi
tugas membahas suatu sub pokok bahasan untuk dibahas dalam kelompok yang biasanya juga disebut
seksi/komisi, di bawah pimpinan seorang ketua komisi (kelompok). Dari hasil-hasil kelompok, disusun
suatu perumusan yang merupakan suatu kesimpulan yang dirumuskan oleh suatu tim perumus yang
ditunjuk.

Pembahasan dalam seminar memakan waktu yang lebih lama karena sifatnya yang ilmiah. Apabila para
pembicara tidak dapat mengendalikan diri biasanya waktu banyak dipergunakan untuk pembahasan yang
kurang penting. Oleh karena itu dibutuhkan pimpinan kelompok yang menguasai persoalan sehingga
penyimpangan dari pokok persoalan dapat dicegah. Penyimpangan ini dapat diatasi bila setiap kali ketua
sidang menyimpulkan hasil pembicaraan sehingga apa yang akan dibicarakan selanjutnya sudah terarah.

PENGGUNAAN SEMINAR

Seminar akan efektif bila:


○ Tersedia waktu yang cukup untuk membahas persoalan.
○ Problema sudah dirumuskan dengan jelas.
○ Para peserta dapat diajak berfikir logis.
○ Problema memerlukan pemecahan yang sistematis.
○ Problema akan dipecahkan secara menyeluruh.
○ Pimpmnan sidang cukup terampil dalam mcnggunakan metode ini.
○ Kelompok tidak terlalu besar sehingga memungkinkan setiap peserta mengambil bagian dalam
berpendapat.
Kelebihan dan kelemahan :
Kelebihan :
○ Membangkitkan pemikiran yang logis.
○ Mendorong pada analisa menyeluruh.
○ Prosedurnya dapat diterapkan untuk berbagai jenis problema.
○ Membangkitkan tingkat konsentrasi yang tinggi pada diri peserta.
○ Meningkatkan keterampilan dalam mengenal problema.
Kelemahan :
○ Membutuhkan banyak waktu.
○ Memerlukan pimpinan yang terampil.
○ Sulit dipakai bila kelompok terlalu besar.
○ Mengharuskan setiap anggota kelornpok untuk mempelajari terlebih dahulu.
○ Mungkin perlu dilanjutkan pada diskusi yang lain.
SIMPOSIUM

Simposium adalah serangkaian pidato pendek di depan pengunjung dengan seorang pemimpin.
Simposium menampilkan beberapa orang pembicara dan mereka mengemukakan aspek-aspek
pandangan yang berbeda dan topik yang sama. Dapat juga terjadi, suatu topik persoalan dibagi atas
beberapa aspek, kemudian setiap aspek disoroti tersendiri secara khusus, tidak perlu dari berbagai sudut
pandangan.

Pembicara dalam simposium terdiri dari pembicara (pembahas utama) dan penyanggah (pemrasaran
banding), dibawah pimpinan seorang moderator. Pendengar diberi kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan atau pendapat setelah pembahas utama dan penyanggah selesai berbicara. Moderator
hanya mengkoordinasikan jalannya pembicaraan dan meneruskan pertanyaan-pertanyaan, sanggahan
atau pandangan umum dari peserta. Hasil simposium dapat disebar luaskan, terutama dari pembahas
utama dan penyanggah, sedangkan pandangan-pandangan umum yang dianggap perlu saja.

PENGGUNAAN SIMPOSIUM

Simposium dapat digunakan :


○ Untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari suatu topik tertentu.
○ Jika kelompok peserta besar.
○ Kalau kelompok membutuhkan keterampilan yang ringkas.
○ Jika ada pembicara yang memenuhi syarat (ahli dalam bidang yang disoroti).
Kelebihan dan Kelemahan :

Kelebihan :
○ Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil.
○ Dapat mengemukakan informnasi banyak dalam waktu singkat.
○ Pergantian pembicara menambah variasi dan sorotan dari berbagai segi akan menjadi sidang lebih
menarik.
○ Dapat direncanakan jauh sebelumnya.
Kelemahan :
○ Kurang spontanitas dan kneatifitas karena pembahas maupun penyanggah sudah ditentukan.
○ Kurang interaksi kelompok.
○ Menekankan pokok pembicaraan.
○ Agak terasa formal.
○ Kepribadian pembicara dapat menekankan materi.
○ Sulit mengadakan kontnol waktu.
○ Secara umum membatasi pendapat pembicara.
○ Membutuhkan perencanaan sebelumnya dengan hati-hati untuk menjamin jangkauan yang tepat.
○ Cenderung dipakai secara berlebihan.
FORUM

Yang dimaksud dengan forum adalah suatu gelanggang terbuka, dimana seseorang mendapat
kesempatan berbicara tentang masalah apapun. Pembicara dapat datang dari kelompok massa, dan
segera setelah selesai pembicaraannya ia harus kembali ke tempat semula. Jadi dalam forum tidak ada
anggota tertentu yang duduk terpisah dari pendengar, tetapi ditekankan pada pemberian kesempatan
bagi setiap orang untuk mengemukakan pikiran dan perasaan di depan khalayak.

Dalam forum tidak akan diambil keputusan, melainkan sekedar meransang pendengar untuk
mengemukan pemikiran baru, dimana sangat diperlukan pandangan berbagai orang. Seseorang yang
maju kedepan seolah-olah memberi kesan bahwa ia adalah seorang dan sekian banyak orang yang
sama-sama mencari suatu penyelesaian. Pada akhimya pimpinan forum harus mengemukakan ikhtisar
pembicaraan dan sering diikuti suatu seruan kepada massa.

PENGGUNAAN FORUM

Forum digunakan sebagai suatu metode pengajaran kelompok :


○ Untuk memberi kesempatan interaksi kelompok.
○ Pada saat diperlukan kombinasi antara maksud penyajian dengan reaksi kelompok.
○ Jika diinginkan pandangan/tanggapan dari pengunjung.
○ Kalau kelompok itu sangat besar.
Kelebian dan Kelemahan :

Kelebihan :
○ Menambah pandangan dengan reaksi pengunjung.
○ Dapat dipakai terutama pada kelompok yang besar.
○ Dapat dipakai untuk menyajikan keterampilan yang banyak dalam waktu singkat.
○ Pergantian pembicara menambah vaniasi.
○ Reaksi pengunjung mendorong pengunjung untuk mendengarkan dengan lebih banyak perhatian.
Kelemahan :
○ Membutuhkan banyak waktu.
○ Pribadi masing-masing pembicara dapat memaksakan pada mateni yang kurang tepat.
○ Tanggapan dari kelompok tertunda.
○ Sulit mengendalikan waktu.
○ Periode forum mudah terulur..
PANEL

Panel merupakan salah satu bentuk diskusi yang sudah direncanakan tentang suatu topik di depan para
pengunjung. Diskusi panel dibawakan oleb 3 - 6 orang yang dianggap ahli yang dipimpin oleh seorang
moderator.

Para panelis berdiskusi sedemikian rupa, sehingga para pengunjung dapat mengikuti pembicaraan
mereka.

Pengunjung hanya berfungsi sebagai pendengar, oleh karena itu pengunjung yang begitu besar
jumlahnya dianggap sebagai kelompok yang diajar oleh suatu regu guru. Tetapi panel tidak boleh hanya
sekedar merupakan pengajaran informatif, melainkan harus dapat merangsang cara berpikir massa
dengan memberikan berbagai perspektif.

Pelaksanaan panel dimulai dari perkenalan para panelis oleh moderator, kemudian disampaikan
persoalan umum kepada para panelis tersebut, untuk didiskusikan. Mereka seharusnya adalah orang-
orang yang pandai berbicara dengan lancar dan menarik. Moderator juga memegang penanan dalam
diskusi ini, sebagai pengatur jalannya pembicaraan dengan sekali-kali menyimpulkan apa yang
dikemukakan oleh para panelis. Perbedaan pendapat tidak menjadi persoalan, karena pada diskusi panel
tidak perlu dicapai suatu kesatuan pendapat atau keputusan. Bahkan perbedaan pendapat itulah yang
diharapkan dapat memberikan stimulus bagi pendengar untuk dapat berpikir lebih jauh. Pendengar tidak
hanya akan menelan pesan yang sudah jadi, melainkan dapat mengikuti proses pemikiran para panelis
jalannya diskusi. Setelah diskusi selesai, pendengar dapat membentuk kelompok-kelompok untuk
mendiskusikannya lebih lanjut. Akan tetapi selama diskusi panel, pendengar tidak diberi kesempatan
untuk mengemukakan pandangan.

PENGGUNAAN PANEL

Anda dapat menggunakan panel kalau :


○ Ingin mengemukakan pandapat yang berbeda-beda.
○ Ingin memberi stimulus para pendengar akan adanya suatu persoalan yang perlu dipecahkan.
○ Ada panelis yang memenuhi syarat.
○ Pembicaraan terlalu luas untuk didiskusikan dalam kelompok itu.
○ Ingin mengajak pendengar melihat “ke dalam” tetapi tidak menginginkan tanggapan secara verbal.
○ Ada moderator yang cakap, yang dapat menguasai segala aspek dan persoalan yang dibicarakan.
Kelebihan dan Kelernahan :

Kelemahan :
○ Membangkitkan pikiran.
○ Mengemukakan pandangan yang berbeda-beda.
○ Mendorong ke analisis lebih lanjut.
○ Memanfaatkan para ahli untuk berpendapat dan proses pemikirannya dapat membelajarkan orang
lain.
Kelebihan :
○ Mudah tersesat bila moderator tidak terampil.
○ Memungkinkan panelis berbicara terlalu banyak.
○ Tidak memberi kesempatan peserta untuk berbicara.
○ Cenderung menjadi serial pidato pendek.
○ Membutuhkan persiapan yang cukup masak.
MUSYAWARAH KERJA

Musyawarah kerja atau rapat kerja (raker) merupakan suatu pertemuan yang hanya dihadin oleh
sekelompok massa tertentu yang bergerak dalam bidang kerja sejenis. Dengan massa yang lebih
terbatas, raker dilaksanakan untuk saling bertukar pengalaman atau pengetahuan dalam bidang kerja
masing-masing, untuk mengevaluasi program-program kerja yang telah dilaksanakan atau untuk
mengadakan pembaharuan dalam bidang kerja tersebut.

Permasalahan yang akan dibahas, dipersiapkan jauh sebelumnya dengan menginventarisasi masalah
dari lapangan kemudian diklasifikasikan ke dalam aspek-aspek tertentu yang akan dibahas dalam
pertemuan tersebut. Bila perlu pada permulaan raker didahului dengan ceramah sebagai pengarahan
dari seorang nara sumber, di samping ada beberapa nara sumber lain yang sewaktu-waktu dapat
memberikan bantuan bila mengalami kesulitan. Peserta dibagi atas beberapa kelompok, yang masing-
masing dipimpin oleh seorang ketua kelompok. Hasil akhir sidang kelompok disampaikan pada sidang
pleno (lengkap) untuk mendapatkan tinjauan umum secara menyeluruh, untuk pada akhimya diambil satu
keputusan. Biasanya raker dilaksanakan selama beberapa hari (lima hari sampai seminggu), oleh karena
itu di tengah-tengah raker dapat disisipi acara karyawisata, pameran, demonstrasi, diskusi panel, dan
sebagainya.

PENGGUNAAN RAPAT KERJA


Rapat kerja digunakan untuk tiga hal pokok ialah :
○ Kalau dirasa ada kebutuhan untuk saling bertukar pengalaman.
○ Timbul kebutuhan untuk mengevaluasi program kerja yang telah ada untuk mengembangkan sesuatu
yang baru.
Kelebihan dan kelemahan :

Kelebihan :
○ Persoalan yang dihadapi dapat dipecahkan bersama.
○ Menambah pengalaman dan hasil kerja orang lain.
○ Mendapatkan perkembangan-perkembangan baru di bidang kerja.
○ Evaluasi program akan menjadi umpan balik untuk penyempurnaan kerja.
Kelemahan :
○ Rapat kerja memakan waktu lama sehingga seseorang harus meninggalkan pekerjaan cukup lama.
○ Kalau bidang yang dibahas selalu luas, sering tidak tuntas.
○ Membutuhkan persiapan sistematis untuk tiap bidang kerja yang akan dievaluasi.
○ Kadang-kadang tidak semua masalah yang diinventarisasi dapat masuk ke panitia jauh sebelumnya.
Dengan mengenal berbagai jenis metode mengajar secara kelompok seperti tersebut di atas, pada suatu
saat guru dapat melihat salah satu diantaranya bila ia akan menghadapi kelompok belajar yang
merupakan massa. Tidak tertutup kemungkinan bahwa guru tidak hanya akan mengajar di dalam kelas
saja, melainkan pada suatu waktu diminta untuk berinteraksi dengan kelompok yang lebih besar.

Meskipun saya telah diajari mengarang sejak kelas 1 SD, kemudian diperdalam lagi di SMP dan
SMA, namun mengarang tetap saja merupakan pekerjaan yang sulit bagi saya. Entahlah mengapa
begitu, padahal mengarang hanyalah memindahkan gagasan-gagasan kita ke dalam sebuah
susunan kalimat-kalimat. Dan begitulah bagi kebanyakan orang, mengarang adalah momok yang
menakutkan, dan pekerjan yang membosankan. Saya lalu bertanya, apakah saya yang salah atau
metodenya yang salah ?.
Saya baru suka menulis sejak saya menjadi Pengurus Harian JMMI. Saat itu, saya mengenal
internet, dan sering menuliskan reportase tentang kegiatan JMMI di milis FSLDK atau ke PR 4
ITS lewat email. Lalu, seperti kebanyakan anak muda lain yang suka membaca cerpennya Helvi
Tiana Rosa, sayapun mulai mengagumi tulisan-tulisannya, dan cara ia menulis, yang bisa
mengalir begitu saja dengan runtut. Cara ia menaruh titik, koma, jeda, sangatlah sempurna. Dan
sejak saat itu saya mulai belajar dari tulisan-tulisannya. Saya juga mulai menuliskan gagasan-
gagasan saya ke dalam kalimat-kalimat secara rutin, dan terus terang saya mulai merasa sangat
menikmatinya.
Mengapa dulu mengarang begitu sulit dan sekarang begitu menyenangkan ? Dulu bagi saya
pelajaran mengarang sangatlah menyusahkan. Kita hanya diajari membuat kerangka karangan,
inti paragraf, Menerangkan Diterangkan, Subjek Predikat Obyek, Eksposisi Narasi Argumentasi
dll, yang membuat setiap kita menuliskan kata, selalu saja dibatasi oleh kaidah-kaidah yang
menyulitkan. Namun, sekarang kaidah-kaidah itu tidaklah begitu saya fikirkan, karena yang
penting, adalah bagaimana tulisan saya bisa dinikmati orang lain. Karena saya melihat para
penulis seperti Hamka menulis secara mengalir begitu saja. Malahan, Emha Ainun Najib
mempunyai gaya karangan bebas, yang malahan menjadikannya enak untuk dinikmati.
Dari cerita mengarang yang saya ungkapkan panjang lebar tadi, sebenarnya saya hanya ingin
mengatakan bahwa seringkali dalam mempelajari sesuatu, kita hanya di sibukkan dengan
mempelajari kaidahnya, dan bukannya mempelajari inti persoalannya. Pada pelajaran
mengarang, kita malahan sering di ajarkan tentang induk kalimat dan anak kalimat, daripada
mengambil pena dan kertas dan memulai belajar mengarang. Pada pelajaran Bahasa Inggris, kta
hanya diajarkan tenses yang justru membuat banyak orang merasa bosan, dan bukannya
diajarkan bagaimana mulai berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris.
Dulu ketika saya belajar membaca Al Qur’an, pada tingkat terentu, saya diminta untuk
menghafalkan tajwid. Idghom mutajanisain, mutamatstilain, Idhar Syafawi dan lain-lain yang
menjadikan saya kesulitan untuk belajar tajwid. Akan tetapi ketika saya menyimak kaset muratal,
sambil membuka Al quran, maka sedikit demi sedikit, saya mulai bisa membaca dengan tajwid,
meskipun saya tidak begitu mengenal nama tajwid yang saya baca. Barangkali ini pulalah yang
menjadikan ustadz As’ad Humam membuat metode Iqra’ untuk belajar mebaca Al Qur’an. Dan
metode Iqra’ menekankan cara membaca a, ba, ta, na, ni, nu tanpa si santri tahu dulu nama-nama
hurufnya seperti alif, ba’, ta’, dan nun. Dan Iqra’ ternyata paling banyak dinikmati.
Akhirnya pula saya mulai berkesimpulan, bahwa belajar sambil praktik itu lebih efektif, lebih
mudah, dan lebih menyenangkan. Belajar sambil melakukan itu akan terasa lebih bisa dinikmati.
Saya bisa memahami, mengapa ditangan A Agym, banyak orang mulai tersedot untuk belajar
Islam, ternyata AAgym membangun metode belajar dengan mengamalkan. Sedikit memang yang
diajarkan, namun penekanan pada sisi pengamalan begitu besar. Seseorang akhirnya berfikir
bahwa belajar Islam itu mudah dan menyenangkan.
Dizaman Nabi, ada riwayat bahwa ketika turun ayat jilbab, maka orang Madinah ramai-ramai
mengenakannya, hingga yang belum mempunyai rame-rame menyobak korden hanya untuk
menutupi rambut dan dadanya. Demikian pula saat perintah pelarangan khamar turun, maka
orang mulai rame-rame memecahkan gentong-gentong khamr mereka. Simpel dan
menyenangkan.
KUMON adalah sistem belajar yang memberikan program belajar secara
perseorangan sesuai dengan kemampuan masing-masing, yang memungkinkan
anak menggali potensi dirinya dan mengembangkan kemampuannya secara
maksimal. Melalui pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, KUMON tidak hanya
membentuk kemampuan akademik saja, akan tetapi juga membentuk karakter
yang positif dan "life-skills" (ketrampilan hidup) yang akan berguna bagi masa
depan anak.

KUMON dapat diikuti oleh anak prasekolah, siswa SD, siswa SMP dan siswa SMA,
dengan segala tingkat kemampuan. Sistem belajar KUMON didukung oleh materi
bahan pelajaran yang tersusun secara sistematis dan 'step by step' sehingga tanpa
terasa pelajaran anak dapat maju ke bagian yang lebih tinggi.

Kumon dikembangkan pertama kali di tahun 1954 oleh seorang guru Matematika
SMA Jepang, Toru Kumon, yang awalnya ingin membantu pelajaran Matematika
anaknya. Kini Kumon telah menyebar di 45 negara di dunia dengan jumlah siswa
lebih dari 4.13 juta anak
Metode belajar aktif atau sekarang lumrah disebut sebagai metode PAKEM (pembelajaran
kreatif, aktif dan menyenangkan) saat ini mulai dirasakan pentingnya dikalangan praktisi
pendidik. Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi suasana kelas yang kaku,
membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat betah dan tidak menumbuhkan
perasaan senang belajar bagi anak didik. Alih-alih membuat anak mau menjadi pembelajar
sepanjang hayat yang terjadi malah kelas dan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi
siswa.
Dulu saya pernah mendengar sebuah lelucon mengenai metode belajar aktif di sekolah dasar.
Saya tidak ingat detailnya tetapi yang saya ingat dengan baik adalah dalam metode belajar aktif
yang terjadi adalah guru bermalas-malasan, sedangkan yang aktif justru muridnya. Murid
diminta untuk mencatat, menyalin dan dibebani banyak sekali pekerjaan rumah. Dengan
demikian ada kesalahan dalam menerjemahkan pendekatan pembelajaran. Tidak mungkin
tercapai nuansa PAKEM apabila siswa dalam hal ini malah terbebani sedangkan guru juga tidak
tentu arah dalam melaksanakan dan merencanakan pembelajaran dikelas.
Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik. Sebab ruh
dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif
baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting.
Guru sebagai pihak yang;
• merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di
dalam kelas.
• membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai
adalah belajar dengan bekerja sama)
• membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama
pembelajaran berlangsung.
• Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar
siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan
seimbang
• Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian
kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik)
• Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat
presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek
• Membuat portfolio pekerjaan siswa.
Siswa menjadi pihak yang;
• menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir
• melakukan riset sederhana
• mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang.
• memecahkan masalah (problem solving),
• belajar mengatur waktu dengan baik,
• melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar menerima
pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)
• mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action.
• Melakukan interaksi sosial (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan,
mendengarkan guest speaker)
• Banyak kegiatan yang dilakukan dengan berkelompok.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya.” (Qs. Al-Alaq : 1-5)

KabarIndonesia - TIDAK dapat dimungkiri bahwasanya menuntut ilmu merupakan


kewajiban bagi setiap muslim di mana dan kapan pun berada. Dengan menuntut ilmu,
manusia dapat memahami segala hakikat, dan ilmu tidak diragukan lagi merupakan pintu
gerbang peradaban. Pemahaman dan kemampuan mengaplikasikan ilmu telah membawa
manusia mengalami perubahan dalam roda zaman yang senantiasa berputar menampilkan
kemajuan. Dengan ilmu, manusia dapat pula menghancurkan kehidupan dan peradaban
manakala ilmu mengalami distorsi dalam aplikasi amalnya. Untuk dapat mendapatkan ilmu
ini kita harus melakukan proses belajar agar tidak dikatakan sebagai orang yang menyia-
nyiakan ilmu. Seseorang pernah berkata kepada Abu Hurairah ra, “Aku ingin belajar, tapi aku
takut menyia-nyiakan ilmu.” Abu Hurairah menjawab, “Cukuplah engkau dikatakan menyia-
nyiakan ilmu jika tidak mau belajar.”

Merujuk pada firman Allah SWT dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 terdapat hal penting sebagai
rujukan kita dalam belajar menuntut ilmu. Pertama, menuntut ilmu menempatkan Allah Swt
sebagai awal dan akhir tujuan setiap aktivitas belajar. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah
SWT merupakan keharusan yang mesti menjadi dasar berpijak kita. Dalam mempelajari
ilmu, kita tetap dituntut berpikir kritis dengan menelaah ilmu-ilmu yang bermanfaat dan
meninggalkan ilmu yang tidak memberikan kemanfaatan apapun. Kenyataan empiris yang
sering terjadi bahwasanya ilmu dipelajari tanpa pertimbangan baik dan buruk, sehingga
dalam penerapannya justru menyebabkan kehancuran. Dengan meneguhkan niat dan
mengakhiri langkah hanya tertujukan kepada Allah SWT kita akan tetap memperhatikam
batas-batas normatif yang telah digariskan Allah Swt.

Kedua, belajar harus dilakukan secara bertahap. Terciptanya manusia merupakan suatu
proses yang berkelanjutan hingga menjadi manusia dalam wujudnya yang sempurna. Hal ini
memberikan arahan kepada kita untuk belajar secara teratur dan berkesinambungan. Tanpa
proses bertahap, kita akan memiliki pemahaman parsial dan apa yang dipelajari tidak
memberikan kontribusi apapun dalam setiap amal kita.
Ketiga, dibutuhkan proses pengulangan dalam belajar. Dalam surat Al-Alaq, kata “bacalah”
tertulis tidak hanya sekali. Dengan sendirinya diharuskan melakukan pengulangan dalam
belajar sehingga kita memperoleh pemahaman yang baik dan apa yang kita pelajari
terekam kuat dalam diri kita. Belajar yang dilakukan secara instan bisa jadi hanya
mendapatkan kelelahan tanpa mendalami benar apa yang dipelajari.

Keempat, melakukan aktivitas membaca dan menulis. Kegemaran untuk membaca dan
mempelajari banyak hal akan menyebabkan kita memiliki wawasan dan pengetahuan lebih
luas. Membaca secara teratur hendaknya dilanjutkan dengan kebiasaan menulis.
Kemampuan untuk menyikapi fenomena kehidupan dan menuangkan ide, gagasan,
pendapat, pemikiran dan wacana dalam bentuk tulisan setidaknya mampu mengasah
pikiran dan pemahaman kita agar lebih berkembang dan bermanfaat bagi orang lain.
Pemikiran dan gagasan tertulis tersebut tetap dalam tuntunan Al-Qur’an dan Sunnatur-
Rasul, sehingga dengan sendirinya melakukan dakwah bil-qalam bagi tegaknya ajaran Islam
di muka bumi.
TIDAK sedikit para siswa kecewa, ketika hasil ulangan hariannya jelek. Padahal ia telah
belajar semalam suntuk. Feno-mena ini, perlu memperoleh penanganan segera oleh
para guru. Guru perlu memberi tahu cara belajar yang efektif, di samping dalam proses
pembelajaran yang dilakukannya menerapkan model pembelajaran yang aktif, inovatif,
kreatif, dan menyenangkan.
Banyak cara belajar yang efektif. Namun, apabila kita melihat cara belajar para santri
yang sedang menimba ilmu di pesantren, kita akan menemukan metode belajar yang
unik. Mereka selalu menghormati kitab yang dibacanya dan guru yang
mengajarkannya. Salah satunya termuat dalam “ta’alimul muta’allim” karya seorang
ulama’ besar yang bernama Syaikh Az–Zarnuji. Kitab tersebut merupakan kitab wajib
para santri di pesantren-pesantren, agar ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat dan
memberi keberkahan dalam hidupnya. Menurut Syaikh Az–Zarnuji, seorang siswa dapat
menerima materi pembelajaran yang diberikan guru dengan baik apabila menerapkan
metode “dzakain (pintar), hirshin (opén), isthibarin (menerima atau nrimo, sabar),
bulghotin (memiliki fasilitas), irsyadi ustadzi (dapat petunjuknya guru), thuli zamani
(harus lama waktunya)” yang dapat disingkat sebagai metode “PONDOK”.
Pintar (Dzaka’) = Tidak Mengulang Kesalahan yang Sama
Seorang siswa dapat menerima pelajaran apabila ia pintar dalam mengingat apa yang
diberikan oleh guru (Bahasa Jawa : titen). Artinya siswa perlu mengingat hal-hal yang
diberikan oleh guru dengan baik, termasuk kesalahan-kesalahan yang ada sehingga
tidak mengulang kesalahan yang sama dua kali. Sebagai ilustrasi apabila seseorang
menemukan tempat persembunyian kepi-ting (Bahasa Jawa : leng yuyu), orang
tersebut memasukkan salah satu jarinya dalam lubang tersebut, maka jari tersebut
akan digigit oleh kepiting tersebut. Namun, orang tersebut mengulanginya terhadap jari
yang lain, sehingga semua jari yang dimilikinya digigit oleh kepiting itu. Tindakan yang
dilakukan itu menunjukkan kebodohannya, karena mengulang kesalahan dua kali
bahkan lebih. Hal ini sering terjadi dalam pembelajaran matematika/lainnya. Misalnya
siswa disuruh menentukan nilai x yang memenuhi persamaan 2x = 4. Siswa tersebut
dapat menentukan x yang memenuhinya yaitu 2, langkah yang ditempuh adalah 2x = 4
x = 4 – 2 = 2. Tampak sekilas benar, namun hal ini salah. Setelah diingatkan oleh guru,
cara penyelesaian yang benar adalah 2x = 4 x = = 2. Apabila siswa disuruh
menentukan nilai x yang memenuhi 3x = 12, dengan cara x = 12 – 3 = 9, tentu siswa
tersebut melakukan kesalahan yang sama dua kali artinya siswa tidak niteni terhadap
yang disampaikan guru. Oleh karena itu, guru perlu memberikan penekanan terhadap
kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan siswa, sehingga siswa dapat belajar dari
pengalaman para siswa terdahulu. Pengalaman (orang yang sukses) adalah guru yang
terbaik.
Opén (Hirshin) = Rajin Penuh Semangat
Opén (hirshin) meliputi rajin dan penuh semangat dalam mencatat dan mengerjakan
tugas. Selama proses pembelajaran berlangsung, seorang siswa hendaknya mencatat
materi yang telah disampaikan oleh guru, termasuk hal-hal yang menjadi penekanan.
Dalam hal ini, guru perlu memberikan kiat mencatat yang baik dan efektif untuk dapat
dipelajari kembali sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu. Mata
pelajaran yang besifat hafalan, guru dapat memberi contoh cara membuat rangkuman
di rumah dengan memanfaatkan selembar kertas ukuran folio dibagi 4 bagian yang
sama sehingga menjadi 8 halaman. Setiap halaman berisi rangkuman yang dibuat oleh
siswa dengan bahasa yang mudah dipahaminya. Mata pelajaran yang bersifat hitungan,
guru dapat memberi contoh cara membuat buku saku yang berisi rumus, contoh dan
hal-hal yang dianggap perlu. Dengan cara demikian, siswa akan lebih mudah
mengingat kembali materi yang ada lebih cepat. Hal ini akan terasa manfaatnya apabila
dalam suatu waktu diadakan ulangan blok, dengan dua mata pelajaran atau lebih. Oleh
karena itu, agar lebih efektif, guru perlu menugaskan untuk membuat rangkuman/buku
saku yang secara periodik diadakan penilaian sebagai salah satu komponen penilaian
portofolionya.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, guru memberikan soal/tugas yang harus
dikerjakan siswa. Para siswa harus mengerjakan soal/tugas yang ada dengan baik,
apabila ada kesulitan hendaknya siswa langsung bertanya kepada guru/teman lainnya.
Dalam kesempatan ini, guru perlu membimbing siswa yang mengalami kesulitan. Guru
dapat menerapkan sistem siswa yang lebih pandai menjadi tutor bagi siswa yang lain
(model tutor teman sebaya).
Nrimo (Isthibarin) = Menerima dengan Sabar
Apabila siswa telah pintar (dzaka’) dan opén (hirshin) terhadap materi pembelajaran
yang ada, namun hasil yang diperoleh belum maksimal, maka seorang siswa harus
menerimanya dengan lapang dada (sabar) dengan terus mengevaluasi terhadap
kegiatan yang telah dilakukan. Tidak jarang, kita menjumpai seorang siswa patah
semangat, ketika hasil ulangannya belum sesuai harapan, meski sudah belajar sekuat
tenaga. Para siswa perlu dimotivasi bahwa mengubah kebiasaan yang lebih baik untuk
sukses membutuhkan kesabaran dan keuletan. Untuk dapat meningkatkan hasil belajar
diperlukan program nyata dan terencana melalui jadwal. Jadwal itu hendaknya berisi
kegiatan yang dilakukan setiap hari termasuk waktu untuk mempelajari materi pelajaran
yang telah diterima di pagi harinya maupun mata pelajaran yang akan dipelajari esok
harinya. Program yang terjadwal itu harus dilaksanakan secara disiplin. Di sini peran
guru, untuk selalu memotivasi para siswa untuk belajar lebih giat sangat diperlukan.
Seorang guru hendak-nya mempunyai sistem penilaian yang berkesinambungan,
sehingga dapat diketahui perkembangan prestasi peserta didiknya.
Memiliki Fasilitas (Bulghotin)
Untuk menunjang keberhasilan siswa dalam belajar diperlukan fasilitas pendukung
(buku dan lainnya) dan untuk mewujudkannya diperlukan dana. Untuk dapat
mewujudkannya, siswa diminta memperbanyak relasi dengan kakak kelasnya, sehingga
sebagian fasilitas yang diperlukan dapat terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya. Di
samping itu, siswa dapat dilatih dengan gerakan menabung sebagian uang jajan yang
diberikan orang tuanya, sehingga sewaktu-waktu membutuhkan buku/lainnya dapat
menggunakan tabungan itu.
Seorang guru hendaknya memanfaatkan sumber belajar yang ada dan mudah di
jangkau oleh siswa. Misalnya, dengan memanfaatkan perpustakaan atau buku digital
via internet (buku standar yang telah dibeli hak ciptanya oleh negara). Para siswa
didorong untuk mengakses internet terhadap buku-buku berkualitas dan
memperbanyaknya sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat meminimalkan
pengelua-ran yang ada. Oleh guru itu, diperlukan kreativitas guru, untuk dapat
memanfaatkan buku-buku yang murah, berkualitas dan terjangkau.
Dapat Petunjuk Guru (Irsyadi Ustadzi)
Dalam Bahasa Jawa, oleh petunjuking guru (Irsyadi Ustadzi) mengandung makna
seorang siswa harus selalu memperhatikan penjelasan guru, menghormati guru, dan
melaksanakan apa yang diperintahkannya dengan ikhlas. Hal ini sangat penting, sebab
sering kali oleh karena seorang guru mempunyai keterbatasan dalam hal tinggi
badan/suara, seorang siswa meremehkannya, sehingga siswa itu pasti tidak dapat
menyerap materi yang disampaikan. Kalaupun dapat ia serap, tetapi keberkahan
(kebermaknaan) dalam menempuh kehidupan di masyarakat kelak tidak ia dapatkan.
Oleh karena itu, para siswa hendaknya dididik tentang pentingnya keberkahan ilmu
melalui sikap positif terhadap guru yang mengajarnya dan buku yang dipelajarinya.
Namun demikian, seorang guru hendaknya juga meningkatkan keprofesionalannya
dalam pembelajarannya, baik penguasaan terhadap materi yang diajarkannya maupun
metode pembelajarannya. Guru hendaknya menampilkan sosok seorang yang dapat di
”gugu lan ditiru”.
Harus Lama Waktunya (Thuli Zamani)
Kesuksesan seseorang memerlukan beberapa tahap/rangkaian pencapaian. Tidak
mungkin kesuksesan dapat dicapai secara tiba-tiba. Kesuksesan dapat dicapai melalui
planning (perencanaan) yang matang. Untuk mewujudkan rencana yang ada,
diperlukan waktu yang cukup. Seorang anak yang baru lahir tidak mungkin langsung
bisa jalan, ia memerlukan beberapa tahap dan waktu yang cukup untuk bisa berjalan.
Begitu pula, seorang siswa untuk dapat me-nguasai materi pelajaran dengan baik,
membutuhkan waktu yang cukup untuk belajar. Kalau seorang siswa yang belum
terbiasa belajar dengan baik, ia memerlukan waktu yang lebih panjang dari pada siswa
yang sudah terbiasa belajar. Kalau satu kali membaca belum paham/hafal, maka harus
diulang lagi. Kalau belum paham/hafal juga, maka perlu diulang lagi, demikian
seterusnya. Hal ini juga berlaku terhadap mata pelajaran yang bersifat hitung-an. Kalau
satu kali mencoba mengerjakan soal belum dapat menyelesaikannya, maka perlu
dicoba lagi dengan memperhatikan konsep yang ada dan contoh penerapannya.
Dengan menerapkan metode belajar ala ”PONDOK” di atas diharapkan siswa dapat
memperoleh hasil yang optimal dan penuh berkah, sehingga dapat menjadi generasi
yang selalu mengenang dan menghormati guru yang mengajarnya. Itulah harapan
seorang guru tanpa tanda jasa
Masih ingat ketika kita masih di bangku sekolah? bagaimana bapak, ibu guru kita mengajar
kita? pasti ada yang lucu ada yang galak. Ada yang menerangkan dengan jelas ada yang
muter-muter. Namun adakah dari guru kita itu yang komunikatif dalam mengajarkan
pelajarannya?

Itu menurut aku kekurangan dari para guru kita. pembelajaran itu hanya searah yaitu dari
guru ke siswa saja. Tak ada yang komunikatif dan dua arah.

Suatu contoh aku melihat sebuah film tentang kehidupan sekolah di luar negeri. Sangat
mengasikan. Di situ ibu guru mengajar sangat komunikatif. Selalu di lemparkan pertanyaan
terlebih dahulu. Sehingga suasana belajar itu menyenangkan karena siswa merasa di
libatkan. Bahkan ketika ada pekerjaan rumah, kemudian ada salah satu siswa tidak
mengerjakan, guru itu tanya kepada siswa lainya. Guru itu bilang sama siswa lainya ” sisca
apakah pantas nona monic ini keluar dari kelas karena tidak mengerjakan PR dan boleh
masuk lagi setelah dia siap? ” ucap guru itu pada sisca. Sisca menjawab namun agak takut
juga karena bagaimanapun monic temanya juga, tapi dia harus berkata benar. Sisca
menjawab “pantas, dan boleh masuk lagi setelah siap.” Guru tadi berkata lagi anda sudah
mendengar nona monic. Dan pelajaran di lanjutkan lagi.

Dari gambaran tadi guru tidak otoriter. Dia selalu menggambung musyawarah dengan
komunikatif terhadap siswanya. Andaikata sisca tadi menjawab tidak pantas keluar dia
harus memberi alsan juga, kenapa tidak boleh keluar.

Bagaimana jika metode seperti ini di terapkan di indonesia, siapkah para guru. Atau
memang guru tidak mau di bantah, dan selalu benar sendiri? Berubahlah untuk kemajuan.
Terimakasih bapak-ibu guru.

Bismilahirrahmanirrahiim
Al Quran itu adalah kumpulan peraturan2 ALLAH untuk manusia.
Al Quran itu di turunkan kepada Nabi Muhammad swa selama 23 tahun, sedikit
demi sedikit sesuai keperluan Nabi berdakwah.

Al Quran itu adalah peraturan2 ALLAH yang lengkap, sempurna dari kitab2 Taurat
dan Injil.

Al Quran itu adalah mudah dimengerti karena untuk semua orang dengan tingkat
kecerdasan yang berbeda beda. Hanya ada beberapa ayat ALLAH saja dimana
ulama2 berbeda pendapat memahaminya. Tapi pada umumnya ayat2 ALLAH
mudah,jelas dan terang mana yang halal mana yang haram dll. Tidak ada keraguan
padanya.

Berbagi ilmu dan pengalaman;


Menurut pengalaman saya dalam mempelajari Al Quran bertahun tahun dan sampai
sekarang masih terus belajar memahami peraturan2 ALLAH itu. Saya ingin
membagi pengalaman saya ini kepada pemuda2 dan pemudi2 yang benar2 ingin
mengetahui DIIN ALLAH itu. Syariat Islam yang benar yang harus kita imani 100%.

Metode yang terbaik, efektif dan efisien adalah dengan cara


mengklarifikasi setiap ayat2 ALLAH kedalam bermacam hal; misalnya
seperti dibawah ini. .

Kumpulankan ayat2 ALLAH dalam suatu buku tentang;


1.Semua sifat2 ALLAH.
2.AL QURAN.
3.Semua Kebesaran ALLAH....Kejadian alam.
4.Kejadian manusia, sifat2 manusia, tujuan hidup manusia dll
5.Ekonomi,technologi dan science
6.Bersyukur. Rezeki,
7.Larangan2, makanan yang haram , halal dll
8.Perintah2 ALLAH yang wajib dikerjakan.
9. Warisan,wanita, anak2, orang tua, orang miskin,kaya dll.
10. Qualifikasi masyuk syurga, neraka. Berapa macam tingkat syurga.
11. Ayat2 ALLAH waktu peperangan, dan waktu damai.
12.Peringatan dan kabar gembira
13.Doa2
14.Hukuman ALLAH, atau azab di dunia, di kubur dan di akhirat.
15.Kemerdekaan beragama, hak azazi manusia, demokrasi,
16.Ayat2 tentang kematian
17.Tauhid, Shalat,puasa,haji, zakat, taqwa, tawakal dll
18. Pedoman bersahabat dgn non islam
19.Pedoman bergaul antara sekte2 islam
dll

Makin detail anda mengklarifikasi ayat2 ALLAH makin enak dibaca, mudah
dipahami, dan mudah di afalkan.

Kalau ada keinginan mempalajari bhs Arab baik sekali, tapi kalau tidak ada
keinginan jangan dipaksakan, tidak efisen, karena terjermahan2 Al Quran sudah
banyak di pasaran baik dalam bhs Indonesia maupun dlm bahasa Inggeris, dll.
yang di terjemahan oleh para ahli2 bahasa dan ahli2 agama.

Walau ada perdedaan satu sama lain, tapi tidak siknifikan. Kalau kita belajar bhs
Arab akan habis waktu 5-10 tahun belum tentu bisa seperti ahli2 bhs yang
profesional. Tafsiran2 Al Quran pun sudah banyak,bacalah tafsiran2 dari bermacam
macam mashab agar kita bisa membanding bandingkan mana yang terbaik dari
semuanya.

Dalam satu bulan, dua jam sehari, ada akan mendapat petunjuk dari ALLAH yang
sangat berarti bagi kehidupan anda berikutnya.

Kenapa demikian saya katakan,karena dengan metode seperti ini, pemahaman


ajaran islam saya jauh lebih baik dari sebelumnya..

Alhamdulillah ALLAH memberikan hidayah kepada saya hadiah yang sangat


berharga, saya bersyukur dan gembira menemukan ajaran islam yang benar. Al
Quran adalah buku petunjuk saya, buku pedoman hidup saya dalam sehari hari. Al
Quran adalah sumber inspirasi saya, Al Quran adalah sumber ilmu saya, Al Quran
adalah teman saya dalam berbicara atau berdialog dengan ALLAH pencipta
manusia.
Bagi pemuda2 dan Pemudi2 yang ingin mencoba metode yang efekstif dan efisien
ini insya ALLAH ALLAH akan berikan kemudahan2 kepada anda semua insya ALLAH.

Yaa ALLAH yaa Tuhan kami, berikanlah kepada kami ilmuMu yang seluas luasnya,
berikan kepada kami rezeki yang sebanyak banyaknya dan sembuhkan kami dari
segala sakit penyakit yaa ALLAH yaa Tuhan kami Yang Maha Berkusa di langit dan
di bumi, kepada siapa lagi kami bermohon yaa ALLAH yaa Tuhan kami kalau
bukanlah kepada Mu yaa ALLAH yaa Rabbi.amin

Bagi pemuda2 dan pemudi2 yang ingin mempunyai ilmu yang luas dan rezeki yang
banyak serta kesehatan yang prima,janganlah lupa berdoa kepada ALLAH seperti
diatas ini setiap shalat.

Kenapa?
1. Ilmu adalah sangat penting sekali,tanpa ilmu kita tidak bisa bertemu dengan
ALLAH dan tidak bisa sukses hidup di dunia ini, seperti orang2 tinggal dihutan2
saja.

2. Rezeki atau hadiah dari ALLAH adalah sangat penting untuk memakmurkan
keluarga,masarakat dan agama islam, dan untuk mempertahankan agama ALLAH.
Sebab kemiskinan adalah kufur, hukuman dari ALLAH,karena ALLAH tidak percaya
dan sayang kepadanya.

3. Kesehatan adalah sangat penting sekali dalam bekerja untuk ALLAH,bagaimana


kita bisa bekerja untuk memakmurkan bumi ALLAH ini kalau tubuh tidak
sehat,maka mintaklah kepada ALLAH terhindar dari segala sakit penyakit lahir dan
bathin.

Siapa2 yang tidak bermohon kepada ALLAH artinya orang2 itu adalah sombong,
karena dia tidak memerlukan pertolongan dari ALLAH untuk meraih ilmu,rezeki dan
kesehatan dari ALLAH. Bukankan semua milik ALLAH,maka mintaklah kepada Nya.
Berkerjalah sungguh2 kemudian ALLAH akan kabulkan insya ALLAH.

Semoga ada manfaatnya bagi pemuda2 dan pemudi2 yang benar2 ingin
mengetahui peraturan2 ALLAH untuk pedoman hidup kita

Siswa di kelas lima sedang belajar mengenai konsep mesin yang sederhana, mereka belajar
konsep kekuatan, gerak dan bekerja mengaanalisa sebuah mesin yang sederhana. Dari mesin
yang rumit mereka memepelajari kaidah mesin yang paling prinsip. Siswa mengoleksi,
mengatur, menghadirkan kembali data-data menggunakan program excel. Saat merancang mesin
sederhana mereka berperan sebagai perancang sekaligus mempegunakan prinsip perencanaan,
perakitan, uji coba sebelum mesin sederhana buatan mereka diluncurkan didepan teman-teman
kelas mereka.
Apabila ada pertanyaan mengenai ‘metode apa yang paling efektif untuk mengajar?’ jawabannya
bergantung pada tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, dan guru yang akan menggunakannya.
Tapi ada jawaban lain yang lebih baik dari itu semua yaitu ’siswa mengajarkan siswa lainnya’
dikutip dari Wilbert J. McKeachie, pengarang buku Teaching tips: Strategies, research and
theory for college and university teachers, Houghton-Mifflin (1998)
Illustrasi diatas serta kutipan dari buku merupakan gambaran dari dua metode mengenai
pembelajaran yang pertama adalah ilustrasi dari pembelajaran dengan berbasis proyek sedangkan
yang kedua adalah gambaran yang sederhana dan singkat mengenai pembelajaran aktif.
Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran aktif,kedua-duanya saling berkaitan.
Pembelajaran aktif merupakan ruh dari pembelajaran berbasis proyek.
Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM
atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan
mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar
MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat
pendidikan.
Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan
dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya
kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai
macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa
Menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan
ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll
Dua metode diatas mempertimbangkan aspek
a. Gaya belajar siswa
b. Taksonomi pembelajaran
c. Kecerdasan majemuk

VAK Visual Mencari gambar mesin sederhana dari Koran atau majalah
dan film
Auditory Mendengar dan melihat penjelasan dari pekerja konstruksi
yang menjelaskan bagaimana mereka menggunakan mesin
sederhana saat bekerja.
Kinesthetic Membuat mesin sederhana yang terbuat dari tanah liat.
Otak kanan Otak kiri Mengikuti langkah demi langkah petunjuk membuat mesin
dan Otak sederhana.
kiri Otak kanan Berdiskusi mengenai peran mesin sederhana dalam
kehidupan kita sehari-hari
Kecerdasan Logis matematis Membuat mesin sederhana dari mesin yang rumit
majemuk Membuat karangan atau pidato menjelaskan mengenai
bahasa
pentingnya mesin sederhana dalam kehidupan .
Membuat presentasi menunjukkan perbedaan penggunaan
Spasial
mesin sederhana.
Musikal Membuat lagu tentang mesin sederhana.
Tubuh dan Menggunakan benda-benda sederhana untuk menciptakan
kinestetis mesin sederhana.
Bekerja dengan kelompok membuat video tentang mesin
Antar pribadi
sederhana untuk siswa TK.
Dalam pribadi Membuat buku catatan harian mengenai pembelajaran.
alam Menemukan contoh dari mesin sederhana yang ada di alam,

Dalam dunia pendidikan kita sering membaca, membuat bahkan mempraktekkan


berbagai macam Metode pembelajaran; yang karena seringnya berubah-ubah
membuat pelaku pendidikan; dalam hal ini guru/pengajar menjadi jenuh. Dengan
dalih update (pembaharuan, penyempurnaan, atau istilah-istilah lain yang
sebenarnya sama), metode pembelajaran sering menjadi hal yang merepotkan
guru daripada membantu proses pembelajaran. Sebuah perubahan yang
berotasi seperti mode atau tren; yang kadang dianggap baru atau modern tapi
sebenarnya produk lama atau jiplakan metode lama. Baru tapi lama, kalau boleh
penulis memilih istilah; atau lebih ekstrim lagi metode pembelajaran kadaluwarsa
yang dibungkus dengan wadah /pembungkus (kurikulum?) baru. Akhir-akhir ini
memang ada tren metode pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, yang
dianggap baru atau modern; kata seorang rekan metode Quantum Teaching,
yang tidak membosankan. Dan metode buatan orang yang bingung dan resah itu
dianggap modern oleh beberapa rekan yang gila Barat; dan sebenarnya dia
resah dan bingung juga.Sebuah metode yang konon menggunakan musik,
permainan dan pemanfaatan media audio-visual; seperti pemutaran film.
Menurut beberapa praktisi pendidikan yang resah itu, dengan bermain,
memyanyi dan bergoyang ria akan membuat siswa tidak jenuh dan bosan; dan
penulis belum melihat praktek pembelajaran yang katanya hebat itu aplikasikan
di sekolah kita tercinta ini. Mungkin ada yang sudah mempraktekan dan hasilnya
bagus; nilai ujian yang didapat 10 semua; dan itu dianggap proses
pembelajarannya sukses. Sukses dunia, mungkin; puas dunia mungkin; tapi
kesuksesan dunia itu relatif. Di dunia ini, satu menit yang lalu mungkin kita
tertawa, sekarang sedih, tapi satu menit yang akan datang kita tidak tahu.
Metode Alternatif
Dalam Qur’an, ada sebuah metode pembelajaran yang dilakukan oleh Khidlir A.S
sebagai guru dan Musa A.S sebagai murid (surat Al Kahfi, silahkan buka
terjemahan dan tafsirnya), begitu pula metode pembelajaran yang dilakukan oleh
Allah dengan Adam A.S di surat Al Baqoroh; dan banyak ayat-ayat dalam Qur’an
yang mengungkap tuntas tentang metode pembelajaran. Menjadikan musik dan
permainan yang membuat hati mati dan lalai; serta pemutaran film yang jelas-
jelas membuka pintu zina mata dan telinga justru merusak kemampuan
konsentrasi peserta didik dalam belajar, terlepas tidak bolehnya kita
menggunakan metode tersebut secara syar’i. Lalu apakah kita harus menjejali
peserta, yang memang resah karena kurangnya amal agama itu denagn beban
pentransferan ilmu yang tidak manusiawi (kata mereka yang senang
memperturutkan syahwat)? Dalam fikih Islam, kita sah-sah saja menggunakan
canda atau permainan yang sehat; tidak dusta, tidak merendahkan orang lain,
tidak menggunakan kata-kata jorok atau niatnya hanya biar ditertawakan.
Begitupun permaian yang digunakan; tidak membiuka ikhtilat, merendahkan
oranglain, dan bukan permainaan seperti permainan orang-orang tidak
beragama seperti dadu, kasino, dll. Sebenarnya, keberhasilan sebuah
pembelajarn itu tergantung pada faktor guru; bagaimana ia memotivasi peserta
didik, dan faktor peserta didik; bagaimana membangkitkan motivasi belajarnya.
Penulis, dalam kesempatan ini, tidak akan membahas bagaimana guru
membangkitkan motivasi peserta didik dan bagaimana membimbing peserta
didik dalam membangkitkan motivasi belajarnya. Penulis hanya kan cerita sedikit
tentang jama’ah dari Utsmani University, India dan Heiderabat University,
Pakistan; yang terdiri dari para professor di bidang sains, teknik, kedokteran tapi
hafidz Qur’an. Ketika mereka berkunjung ke salah satu kos-kosan teman kami di
Solo dan dengar musik nasyid Raihan/Snada?, mereka berkata ”musik haram;
tilawah qur’an yes”. Saya mengamati mereka; siang da’wah malam tilawah
Quran dan Tahajud; mereka tidak stress atau jenuh, bahkan mereka orang-orang
yang cerdas; bahkan ada yang gealr pendididkanmya sampai tujuh. Allohu
akbar; Allah Mha tahu denag hamba-Nya. Lalu kenapa kita tidak bangga dengan
metode Quir’an, tapi malah bangga dengan metode orang resah (Quantum
Teaching, dan apa lagi; penulis kurang tahu)? Jawabnya adalah karena kita
resah, bingung; karena kurang amal dan mengkaji ayat-ayat Qur’an. Wallohu
’alam.

Metode Belajar Mengajar Di Indonesia

1.1. Latar Belakang

Beberapa guru banyak menghadapi kendala dalam pememilihan metode


pembelajaran yang cocok dan sesuai demi keberhasilan dalam proses belajar
mengajar, seperti diungkapkan seorang guru salah satu satuan pendidikan tingkat
menengah. Metode pembelajaran yang dilakukan adalah :

v Mentranfer atau menyampaikan semua materi

Menyampaikan semua materi yang ada, adapun bahan ajar yang digunakan bisa
berupa modul, hand out dsb. Kegiatan yang dilakukan guru adalah dengan
menerangkan kemudian guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk
menanyakan bagian – bagian yang dirasa kurang jelas.

v Merangkum
Memberikan tugas merangkum atau meringkas semua bahan atau materi yang
sudah diberikan untuk dikumpulkan sebagai tugas individu. Tujuan dari merangkum
ini adalah supaya siswa belajar kembali dan mengulang dirumah semua materi
yang sudah disampaikan di sekolah.

1.2. Perumusan masalah

Bertolak dari permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa


permasalahan yakni:

1. Metode pembelajaran yang cocok untuk diterapkan di Indonesia

2. Apakah ada pengaruh yang kuat antara metode pembelajaran yang digunakan
dengan keberhasilan proses kegiatan pembelajaran

1.3. Evaluasi perumusan masalah

Dengan melihat metode pembelajaran yang diterapkan guru tersebut, bisa dilihat
bahwa metode pembelajaran yang dilakukan masih sangat konvensional. Dalam
metode tersebut terlihat sekali sangat berorientasi pada guru atau teacher
centerred, dimana guru lebih aktif memberikan materi, sementara siswa lebih
banyak diam dan mencatat. Kebanyakan hasil dari belajar ini sangat membosankan,
siswa banyak yang mengantuk dan sedikit materi pelajaran yang dapat diserap oleh
para siswa.

Metode pembelejaran yang ada tersebut sudah saatnya dirubah. Adapun metode
pembelajaran yang sebaiknya diterapkan adalah :

v Metode pembelajaran Teacher Centerred harus dirubah menjadi Student


Centerred. Dalam metode pembelajaran ini semua aktivitas lebih berorientasi pada
siswa sedangkan guru sebagai pembimbing dan pengarah dalam aktivitas
pembelajaran.

v Metode CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif ) harus mulai diterapkan


Dalam metode pembelajaran ini para siswa diberi kesempatan untuk
mengungkapakan pendapat, dalam metode ini terjalin komunikasi 2 (dua) arah.

v Mengadakan evaluasi

Mengadakan pretes, memberikan ujian – ujian dari materi – materi yang sudah
diberikan, untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang sudah
diberikan. Evaluasi bisa dilakukan setelah tiga atau empat kali pertemuan. Evaluasi
ini dilakukan supaya para sisiwa terbiasa belajar secara rutin dan menghilangka
kebiasan belajar secara wayangan atau semalam suntuk hanya pada saat ujian
akan diadakan.

v Mengadakan latihan-latihan

Memberikan latihan- latihan dan pengerjaan soal – soal, memberikan pertanyaan –


pertanyan tutorial sebagai bahan latihan siswa.

v Menggunakan metode belajar diskusi atau kooperatif

Selain memberikan tugas individu, para siswa juga diberikan tugas kelompok,
memberikan suatu bahan atau materi untuk diselesaikan secara kelompok. Tujuan
dari metode ini adalah untuk membentuk sifat kerjasama antar siswa dan
mengurangi sifat individual.

v Mengulangi materi pelajaran

Dalam pertemuan terakhir sangat perlu seorang guru mengulas materi secara
global dan mengulangi materi yang dirasa sulit dan kurang dipahami oleh para
siswa. Materi yanh kurang jelas bagi siswa dapat diketahui dari hasil – hasil evaluasi
yang diadakan. Pengulangan materi sangat diperlukan supaya para siswa lebih siap
dalam mengahadapi ujian.

v Pendidikan mental, spiritual


Selain semua metode tersebut juga harus diimbangi dengan pembinaan sikap jujur
dalam setiap menghadapi ujian dan menanamkan sikap dan rasa percaya diri,
percaya akan kemampuan diri sendiri, sehingga kebiasan mencotek akan berkurang
dengan sendirinya.

Dalam setiap kegiatan pembelajaran keberadaan kurikulum sangat penting sekali,


kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Metode pembelajaran
yang baik hendaknya mempu memadukan antara kurikulum tradisional dan
kurikulum modern. Kurikulum tradisional diartikan sebagai sejumlah materi
pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikusasi murid untuk
mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan naik kelas
atau pemberian ijazah pada murid tersebut. Ciri – ciri dari kurikulum ini adalah :

· Aktivitas kelas berlangsug statis, kaku, intelektualis dan verbalistis

· Subject ceterred curriculum yakni mata pelajaran diberikan secara terpisah– pisah,

· Teacher centerred yakni kegiatan utama dalam proses belajar mengajar di kelas
diselenggarakan oleh guru.

· Book centered yakni semua kegiatan proses pembelajaran berpusat pada materi
yang terdapat dalam buku.

· Subject matter yakni kegiatan belajar ditekankan pada proses menghafal atau
mengingat materi pengetahuan.

Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada


pembetukan pribadi murid, baik berlangsung di dalam maupun di luar kelas atau
sekolah. Ciri – ciri dari kurikulum modern adalah :

· Kegiatan kelas bersifat dinamis,


· Child centered, kegiatan belajar mengajar di kelas lebih mengutamakan kreativitas
dan inisiatif murid.

· Community centered, bertujuan memajukan kehidupan bermasyarakat

· Batas – batas mata pelajaran ditiadakan atau integreted curriculum atau sekurang
– kurangnya diperkecil dengan mengelompokkan beberapa mata pelajaram yang
saling berhubungan (correlated curriculum).

· Proses belajar mengajar berlangsung praktis dan fungsional

Untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang baik diperlukan usaha


mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan
formal di Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat.

Metode pembelajaran yang efektif dan efisien dapat terwujud apabila didukung
dengan alat – alat pendidikan yang memadahi. Alat– alat pendidikan adalah suatu
tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan
untuk mencapai suatu tujuan di dalam pendidikan. Jadi alat– alat pendidikan tidak
hanya terbatas pada benda – benda yang konkrit saja, tetapi dapat juga berupa
nasehat, tuntunan, contoh, hukuman, ancaman dan sebagainya.

1.4. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulakn metode pembelajaran


yang sesuai adalah menggunakan metode CBSA yakni Cara belajar siswa aktif,
dimana kegiatan pembelajaran berorientasi pada siswa (student centered). Kegiatan
pembelajara tidak hanya sebatas mentransfer ilmu, untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan proses pembelajaran perlu sering diadakan evaluasi hasil belajar
dengan mengadakan berbagai latihan. Penilaian terhadap hasil proses
pembelajaran dapat diambil dari hasil kerja individu atau kelompok.

Keberhasilan metode pembelajaran itu sendiri sangat didukung dengan adanya


kurikulum yang memadahi, kurikulum yang diterapkan hendaknya mampu
mengintegrasikan kurikulunm tradisional dan kurikulum modern. Penerapan metode
pembelajaran yang efisien dan efektif sangat berpengaruh terhadap hasil proses
pembelajaran baik secara individu maupun secara kelompok dan pembentukan
manusia Indonesia seutuhnya.

Di dalam proses pembelajaran melibatkan beberapa aspek yang sangat


mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan proses pembelajaran yakni :

1. Sarana prasarana pendidikan

Yakni semua fasilitas yang diperlukan dalam mendukung proses pembelajaran, yang
berhubungan langsung maupun tidak langsung dalam proses pendidikan,
diantaranya fasilitas laboratorium, ketersediaan jaringan internet, perpustakaan,
dan sebagainya. Untuk mencapai hasil UNAS yang maksimal dalam proses
pembelajaran harus didukung fasilitas yang memadai. Dalam hal ini peran
pemerintah sangat dibutuhkan dalam pemerataan subsidi pendidikan, karena
bagaimanakah sebuah sekolah bisa mencapai hasil UNAS yang standard apabila
proses pembelajaran yang ada tidak standard dikarenakan fasilitas yang tidak
memadai.

2. Guru

Setiap guru harus memahami fungsinya, memahami pengetahuan dan


pemahamannya tentang kompetensi guru yang mendasari pola kegiatannya dalam
menunaikan profesi guru. Kompetensi guru tersebut yakni kompetensi pribadi,
profesi dan kemasyarakatan, yang berkenaan dengan kemampuan dasar teknis
edukatif dan administratif. Para ahli pendidik mempunyai kewajiban melakukan
pendampingan bagi siswa dalam proses pembelajaran. Mengajar tidak hanya
sekedar menyampaikan materi, tetapi mengajak siswa terlibat secara aktif sehingga
siswa bisa memahami dan mendalami materi yang disampaikan tidak hanya
menghafal, sehingga saat UNAS lupa. Seorang guru yang professional harus
memahami benar kemampuan anak didiknya sehingga materi yang disampaikan
dapat diserap sesuai kemampuan siswa, mengajak siswa berfikir dan berusaha
memperoleh umpan balik dari siswa.

Menurut Hilgard dalam teori belajarnya mengungkapkan belajar adalah proses


perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam
laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Proses pembelajaran tidak selalu
dilakukan di ruang kelas, tetapi bisa lebih variatif yang tentunya disesuaikan
dengan mata pelajaran, sebagai contoh pelajaran biologi sering dilakukan praktek di
laboratorium, pelajaran sejarah bisa dilakukan dengan mengunjungi museum-
museum, dan sebagainya.

Metode pembelajaran yang ada saat ini cenderung kaku, para guru menganggap
dirinya tahu segalanya dan siswa adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Guru
hampir tidak pernah mengajak para siswanya untuk berkomunikasi, mengutarakan
pendapatnya. Guru selalu menjejali para siswa dengan banyak materi dan tugas
yang tidak mereka pahami. Sebagai hasilnya para siswa merasa bosan, tidak suka
sekolah, lebih sering membolos dan tidak ada satu materipun dari sekolah yang
meresap di otak siswa. Belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hal
yang paling penting diperhatikan dalam belajar adalah menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan kemudian cara penyampaian materi yang
menyenangkan.

3. Siswa atau Murid

Murid adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun
psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui berbagai lembaga
pendidikan diantaranya sekolah. Keberhasilan dalam proses pembelajaran sendiri
sangat tergantung dari pribadi masing-masing siswa. Meskipun semua fasilitas
sudah memadai dan dididik oleh guru profesional, apabila siswanya sendiri pasif
dan tidak ada keinginan untuk maju, maka proses pembelajaran tidak akan
mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu pendekatan individu secara emosional
sangat diperlukan untuk keberhasilan proses pembelajaran.

Pendekatan emosional dibutuhkan untuk mengetahui permasalahan-permasalahan


para siswa yang dapat menghambat proses pembelajaran dan guru bisa membantu
para siswa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Teori Gestalt menganggap
bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku. Insight juga dipengaruhi
atau bergantung kepada pengalaman masa lalu dan persoalan-persoalan yang
dihadapi. Factor insight sangat mempengaruhi siswa dalam proses pembelajaran.

4. Orang tua

Orang tua adalah wali murid yang juga menjadi pendamping siswa di luar sekolah.
Peranan orang tua sangat penting dalam mendukung keberhasilan proses
pembelajaran. Pendampingan dan bimbingan orang tua bagi anak-anak sangat
diperlukan, pengawasan anak dalam belajar di rumah dan pengawasan dalam
pergaulan di masyarakat. Menurut aliran behavioristik, dalam proses pembelajaran
mementingkan pengaruh lingkungan. Rangsangan yang diperoleh dari lingkungan
keluarga dan masyarakat sangat mempengaruhi proses pembelajaran siswa.

5. Kurikulum Berbasis Kompetensi

Yakni kurikulum yang mengkondisikan setiap peserta didik agar memiliki


pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai–nilai yang diwujudkan dalam kebiasan
berfikir dan bertindak sehinga proses penyampaiannya harus bersifat kontekstual
dengan memeperitmbangkan factor kemampuan, lingkungan, sumber daya, norma
integrasi dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja. Sekolah yang baik mampu
mengkombinasikan kurikulum tradisional yang bersifat statis dengan kurikulum
modern yang bersifat dinamis.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode pembelajaran


yang baik harus memperhatikan beberapa aspek yakni:

1. Fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran.

2. Guru yang profesional yang mampu membe

3. Faktor insight dari siswa tersebut, yakni motivasi, kemauan dan kemampuan
siswa dalam belajar.
4. Orang tua sebagai wali dan pendidik di luar sekolah

5. Kurikulum yang memenuhi standard, yakni kurikulum yang sesuai dengan jenjang
pendidikan , efektif dan efisien.

Menurut penulis perlu ditinjau ulang cara penilaian UNAS. Masing-masing sekolah
mempunyai kualitas dan kuantitas berbeda, maka ketentuan penilain sebaiknya
diserahkan oleh masing-masing daerah, dengan adanya pengawasan dari pusat.
Penilaian UNAS berdasarkan ketentuan dari pemerintah pusat dapat dilakukan
apabila masing-masing sekolah sudah mempunyai standard proses pembelajaran
yang sama, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Dengan demikian
perolehan nilai dalam UNAS boleh dijadikan barometer keberhasilan proses
pembelajaran, dimana masing-masing sekolah bersaing secara sportif.

Kenali musuh dan diri sendiri,


maka Anda bisa bertempur ratusan kali
tanpa terancam kalah.
Kalau tidak mengenal musuh atau diri sendiri,
Anda pasti kalah dalam setiap pertempuran.

Begitulah sepenggal nasihat dalam The Art of War-nya Sun Tzu, ahli strategi dari Tiongkok
ratusan tahun lalu. Prinsip-prinsip dalam buku itu sekarang banyak diadopsi untuk meraih
sukses di kehidupan modern.

Tapi, apa hubungannya dengan dunia pendidikan? Mari kita lihat nasihat Sun Tzu tersebut
dengan perspektif berbeda. Pertama, "kenalilah musuh" dalam arti "tantangan" atau "kendala"
yang harus dihadapi. Dalam proses pembelajaran, seorang guru selalu dihadapkan pada
kenyataan bahwa potensi dan karakter siswa tidak sama. Bahkan, karakter kelas yang satu
berbeda dengan kelas lain.

Tantangan lainnya adalah sifat materi pelajaran itu sendiri. Untuk bisa tersampaikan dengan
baik, ada materi yang cukup dihafal, ada yang perlu pemahaman, ada yang perlu kemampuan
menghitung, ada yang perlu menggunakan "rasa". Atau, penggabungan antara hafalan,
pemahaman, dan kemampuan hitung. Padahal, tidak semua siswa punya kemampuan sama
dalam semua kategori di atas.

Kedua, kenali diri sendiri. Kita lihat kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran
yang tepat. Ibarat senjata, harus dipilih senjata mana yang paling cocok untuk menghadapi
situasi berbeda.

Ketiga, "pertempuran" adalah kondisi ketika guru berada di tengah siswa. Yakni, saat
melaksanakan proses pembelajaran. Metode yang digunakan, karakteristik siswa atau kelas
yang dihadapi, serta integritas seorang guru saling berkaitan. Pada akhirnya, itulah yang akan
menentukan keberhasilan proses pembelajaran.

Keempat, "tanpa terancam kalah" kita lihat sebagai kemenangan seorang pendidik. Yaitu,
mengantarkan siswa mencapai prestasi optimal. Hasilnya dapat dilihat ketika mereka terjun di
tengah masyarakat atau dunia nyata.

Seorang guru dituntut selalu inovatif dan kreatif dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan
modern. Banyak metode pembelajaran inovatif dan kreatif yang bisa digunakan sesuai jenis
materi, karakteristik siswa, dan fasilitas yang dimiliki guru atau sekolah.

Secara umum, pendidikan modern lebih mengutamakan pendekatan pada hal-hal berikut: (1)
Real world learning, menyesuaikan pada dunia nyata dan kebutuhan kemampuan mutakhir,
misalnya penggunaan IT; (2) Mengutamakan pengalaman nyata dan berpikir pada tingkat tinggi;
(3) Berpusat pada siswa sehingga siswa aktif, kritis, dan kreatif; (4) Memberikan pengetahuan
yang lebih dekat dengan kehidupan nyata; (5) Siswa lebih banyak praktik daripada menghafal;
(6) Learning bukan teaching, education bukan instruction; (7) Mengutamakan pembentukan
manusia seutuhnya; (8) Kemampuan memecahkan masalah; (9) Siswa yang acting, guru cukup
mengarahkan; (10) Hasil belajar terukur.

Satu hal yang juga menentukan keberhasilan pendidikan adalah integritas moral seorang guru.
Dulu guru diartikan bisa digugu dan ditiru. Artinya, bisa diteladani. Tujuan utama pendidikan
adalah menciptakan manusia seutuhnya. Tujuan besar itu tak mungkin tercapai jika seorang
guru tidak menguasai bidang studinya dengan baik, tidak menguasai metode pembelajaran
yang tepat, inovatif, dan kreatif, serta tidak mampu menciptakan dirinya sebagai teladan?
Sudahkah kita memenuhi kriteria itu